Halo apa kabar kalian semua? semoga baik-baik aja ya! di bagian cerita kali ini mimin marsel akan menceritakan pengalaman mistis dari Bi Sri, setelah ia mencoba mendalami ilmu agama dan bertanya kepada sang Kiai apakah alam goib itu benar-benar nyata adanya? Semuanya berubah
ketika di suatu hari Bi Sri, dipanggil oleh pak Kiai untuk dibuka mata batin nya dan di bawa berkeliling ke "tempat-tempat" yang ramai. Nahh dari pada penasaran apa maksud tempat yang ramai, dan juga selama Bi sri dibuka mata batinnya apa saja sih penampakan
yang ia lihat? yuk kita langsung simak ke cerita nya ya guys! sebelumnya mimin akan bercerita dari sudut pandang Bi sri ya, biar kalian gak bingung.
Aku yang saat itu sedang menempuh ilmu agama di suatu padepokan di Jawa barat, banyak bertanya kepada guru spiritual ku tentang dunia goib. Bagiku mempelajari hal-hal tak kasat mata adalah sebuah kesengan tersendiri. Sewaktu aku SMA akunpun sempat mengalami beberapa
peristiwa misteri yang menurutku itu adalah pengalaman yang luar biasa. Oleh karena itu setelah aku lulus SMA aku berniat untuk mendalami ilmu agama sekalian untuk mempelajari ilmu kebatinan agar mata batin ku terbuka. Singkat cerita setelah aku bergabung di padepokan itu,
aku cepat mempelajari banyak ilmu agama dari mulai pendalaman kitab suci Al-Qur'an Hadits, Fiqih, sampai sejarah kebudayaan Islam. Diantara teman-teman ku, bisa dibilang aku paling menonjol dibidang penguasaan bahasa Arab, dan juga pelafalan Qur'an. Sebenar nya,
tak munafik mungkin disaat itu hatiku sudah tertutup dengan sifat takabur dan riya. Suatu waktu bahkan aku sampai pernah menemui Pak Kiai Hj. Hasan untuk meminta secara langsung mengajariku ilmu kebatinan. Aku tau sebenarnya caraku ini bisa dibilang
sangat tidak sopan. Aku seolah meminta diberikan Fadhilah (kelebihan) & Basyirah (mata batin) dengan cara menodongkan kepada Pak Kiai dengan tanda kutip "SAYA INI SUDAH LAYAK DAN PANTAS MENDAPATKAN ITU!" Pak kiai hanya tersenyum lembut. Ia sebenarnya sudah mengetahui
pikiran ku. "Adinda Sri, Bapak sudah tau dari awal adinda datang ke padepokan ini ada maksud dan tujuan tertentu, yang semata-mata bukanlah untuk mendalami ilmu agama. Bapak paham adinda sangat ingin mempelajari ilmu-ilmu kebatinan. Namun adahal yang harus Adinda pahami." Ucapan
Pak kiai ini mulai tertahan. Aku mencoba menerka-nerka apa yang akan ia katakan. Di hati ku ada rasa was-was bagaimana jika sejauh ini usaha ku sia-sia untuk mempelajari ilmu kebatinan. "Adinda harus khatam Al-Qur'an dan puasa mutih selama 40 hari. Selama itu pula
adinda harus yakin Allah akan meridhoi apa yang sedang Adinda Sri lakukan jika memang niat adinda sri ini baik. Adinda tak boleh berhenti berdzikir di malam tertentu untuk meminta syafaat dari Wali Sunan Gunung Jati (karena padepokan nya ini di cirebon ya gaes)." Mendengar itu
akupun merasa tertantang dan sekaligus sangat bahagia. Aku sudah menunggu saat ini, saat dimana aku ingin melaksanakan syarat agar segera mata batinku terbuka. Tanpa berfikir panjang aku langsung mengiyakan apa yang diminta oleh pak kiai. "adinda sri, adinda harus ingat
hanya adinda saja yang boleh mengetahui hal ini. Bapak hanya ingin menjauhkan sifat ain dari sahabat-sahabat mu!" Aku mengangguk dan langsung berpamitan menuju ke kamar asrama ku. Singkat cerita aku melakukan semua yang diperintahkan, tak pernah terlewatkan setiap sholat wajib
maupun sholat sunnah dan mengaji ketika aku berpuasa. Ketika sedang berhalangan (ketika berhalangan puasa nya digantikan setelah selesai halangan y gaes), aku pun tetap merapalkan dzikir dan terus meminta syafa'at. Hingga suatu ketika pas di hari yang ke-39 aku melihat ada
sebuah cahaya terang di dalam kamar ku. Cahaya itu nampak tegak berdiri, kemudian terdengar suara yang menggema "Nak, ketika kamu membuka mata, tak hanya indera penglihatan mu saja yang terbuka melainkan mata batin mu kini sudah terbuka. Persiapkanlah dengan baik agar hatimu
senantiasa bisa melihat kebaikan diantara keburukan." seketika cahaya itupun lenyap, dan aku terbangun dari mimpi. Baru saja mata ini terbuka aku dibuat kaget dengan sesosok perempuan yang mungkin sebaya dengan ku. Ia berpakaian layaknya seperti manusia biasa,
namun yang agak sedikit membedakan kulitnya agak lebih pucat dan tidak memiliki garis diantara hidung dan bibir. Sosok itu hanya diam duduk di tempat tidur yang kosong (oh ya temen-temen, ini kebetulan kamar asrama ku cuma terisi aku aja ya, sebenarnya kapasitas nya bisa sampai
3 orang.) Sosok itu hanya diam tertunduk. Aku yang kemudian penasaran, mendekatinya dan mencoba menyapa walaupun agak sedikit ada rasa takut. "Assalamualaikum" sapaku. "waalaikumsalam" ia menjawab tanpa bibirnya bergerak sama sekali. Karena aku yang semakin ketakutan,
aku berlari keluar kamar untuk mencari Pak kiai. Saat aku berlari menuju sebuah lorong aku melihat ada banyak anak kecil sekitar berusia 7 tahun yang mengenakan baju koko namun agak sedikit lusuh. Anak-anak kecil itu setelah diamati mereka tidak berbicara satu dengan
yang lainnya, mereka tak juga memiliki ekspresi diwajahnya, dan yang agak sedikit membuat ku bergidik adalah kaki mereka tidak menginjak tanah! Aku berusaha berlari menuju ke ruang pak kiai yang berjarak sekitar 100meter di depan,
tetapi langkah ku terhenti dengan sosok kuntilanak tinggi besar yang sedang menyeringai. Kuntilanak itu memang tidak bersuara, bahkan ia mempersilahkan ku lewat dengan menjulurkan sebelah tangannya sebagai isyarat. Aku terus menutup mata dan berlari hingga akhir nya "brruuggg"
tubuhku seperti menabrak seseorang. Aku perlahan mencoba bangkit dan menajamkan pandanganku, ternyata orang yang ku tabrak barusan adalah Pak Kiai Hj. Hasan. Aku sangat gemetar dengan apa yang baru saja aku lihat, sosok sosok itu seperti nyata dan sangat menyeramkan!
"Bagaimana Adinda Sri?! apa kamu takut, dengan apa yang barusan kamu lihat?" tanya pak kiai lembut. "Pak, seperti nya saya sudah mulai takut pak, wujud mereka sangat menyeramkan! sungguh mereka ada dan nyata hidup berdampingan dengan kita !" Jawabku terbata-bata karena
rasanya lidah ini amat sangat kelu. Pak kiai hanya tersenyum dan berkata "Besok pagi, mintalah kepada Kusnayati agar kamu sendiri yang pergi ke pasar untuk membeli sayur. Nanti Bapak akan membimbing mu dari belakang." ucap pak kiai Hasan membuat ku penasaran.
Setelah sholat subuh, aku segera menemui kusnayati untuk meminta izin jika hari ini aku yang menggantikan nya pergi ke pasar. Sebelum pergi aku sempat menjumpai Pak kiai, yang kemudian menutup mata ku dengan tangannya dan terdengar mulutnya merapalkan sesuatu.
"Kamu pergilah ke pasar, jangan takut dengan apa yang kamu lihat! teruslah berjalan dan beristighfar jika dirasa ada penampakan-penampakan sosok menyeramkan." Aku yang sudah mengerti instruksi dari Pak kiai langsung bergegas ke pasar karena harus cepat-cepat berbelanja sblm
jam 6pagi. Baru saja berjalan keluar dari padepokan, aku dikagetkan dengan penampakan sosok hitam tinggi besar yang berdiri disamping pohon benda. Aku mempercepat langkahku, dan kemudian aku merasa di depan ada seorang ibu-ibu yang berjalan.
" Assalamualaikum, permisi bu. Mau kepasar juga, bu? " sapa ku. Karena pagi itu masih agak gelap aku tidak begitu jelas melihat wajah si ibu, saat ibu itu menengok ternyata yang ku lihat adalah sebelah wajah nya hancur mengeluarkan darah segar!! "Neng, tolong cariin
mata sama gigi ibu neng! Ibu ga bisa pulang kalau belum ketemu mata sama gigi ibu!" mata ku langsung terbelalak melihat wajah ibu yang rusak! "astagfirullah aladzim!" teriak ku. Namun ku dengar dari telinga ku "Dinda Sri, jangan takut, teruslah berjalan dan tetaplah
berdzikir agar hatimu tenang." aku kemudian menghiraukan apa yang baru aku lihat, hingga sampailah aku di pasar. Di pasar terlihat sangat ramai. Tidak hanya manusia saja berlalu-lalang namun terlihat juga banyak makhuk tak kasat mata memenuhi pasar. yang membedakan
antara manusia dan makhluk seperti itu adalah ketika berjalan makhluk itu dengan mudah menembus tubuh manusia ataupun tembok. Kepalaku hampir dibuat pusing dengan kondisi keadaan pasar yang saat itu memang penuh sesak. Aku mencoba untuk duduk menarik nafas, tiba-tiba aku
dikagetkan dengan tepukan di bahu. "Neng, gak apa-apa?" saat aku menoleh ternyata yang aku lihat kepala anjing dengan tubuh wanita. Aku langsung berteriak, dan juga membuat wanita itu ikut kaget. "Kenapa neng? Ibu liatin neng kayak ga sehat? Neng kesini sama siapa?"
Aku mencoba mengatur nafas, dan menjawab pertanyaan wanita berwajah anjing tersebut. "Gak apa-apa kok bu, saya cuma agak sedikit lemas aja kurang enak badan. Saya kesini sendiri bu, tempat saya dekat kok bu di Padepokan Pak Haji Hasan." jawab ku sedikit berbohong.
Wanita itu tak lama pamit untuk belanja lagi, meninggalkan aku yang masih terduduk sendiri. "Apa yang barusan aku lihat tadi ya ?! kenapa wajahnya anjing hitam?!" aku membatin. Tak lama ada suara Pak kiai yang menggema ditelinga "Dinda Sri, yg kamu lihat tadi adalah
orang yang bersekutu dengan iblis, hingga wajahnya menyerupai anjing." Aku terhenyak, bagaimana bisa suara pak kiai terdengar sampai sini?! Aku memfokuskan pikiran ku untuk tak mau banyak bertanya karena hari sudah semakin siang, perlahan aku membeli apa yang
dicatat oleh Kusna di secarik kertas. Ketika aku melangkahkan kaki menuju tukang daging, tangan dan kaki ku seperti terseret-seret oleh jenis lelembut yang bentuknya menyerupai tuyul! Aku sempat mengikuti dua lelembut tuyul itu, dan aku seperti terhipnotis berdiri di tempat
yang sebenarnya tak ingin aku tuju. "Neng mau beli apa? kok malah ngelamun ?!" tanya situkang dagang ikan yang melihat ku keheranan. Aku tidak menjawab pertanyaan nya, hanya saja fokus ku memperhatikan dua tuyul yang kini sedang berjoget-joget kegirangan karena bisa
menarik "calon pembeli". Aku sangat takut sekali, dan setelah pandanganku menatap sekeliling pasar ternyata ada banyak demit yang digunakan untuk menarik minat pembeli. Ada banyak bermacam-macam aura bercahaya merah, kuning, hijau yang malang melintang di jalan pasar. sebenarnya
aku tak paham apa yang terjadi, namun pandanganku seperti terganggu saat melihat ada beberapa toko di pasar yang di depannya ditunggu oleh sesosok hewan seperti monyet. Dengan sisa tenaga, aku berhasil keluar dari pasar yang sangat penuh dengan interaksi makhluk
tak kasat mata itu. Aku berkali kali istigfar dengan apa yang baru aku lihat, dan dengan langkah yg gontai aku kembali ke padepokan. Aku segera berjalan menuju dapur dan mengantarkan semua belanjaan kepada Kusnayati. Saat aku ingin menemui Pak kiai,
aku mendengar suara mengaji yang sangat merdu. Aku yang penasaran kemudian mengintip ke arah ruang aula, dimana sumber suara itu berasal. Saat ku lihat ternyata yang mengaji adalah seorang kakek-kakek berambut putih panjang dan berjanggut panjang. Kakek itu sangat
khusyuk mengaji sehingga ia tidak memperdulikan aku sedari tadi mengintip dibalik jendela. Tiba tiba kakek yang tadi aku lihat sedang mengaji di dalam ruang aula sekarang sudah tidak nampak pada tempatnya! Aku baru tersadar jika ternyata kakek itu
bukanlah manusia! "Dek, kenapa kamu hanya melihat orang mengaji? apa kamu tidak ingin ikut mengaji juga?" tanya si kakek , sudah berdiri di depan mata ku. Belum sempat aku menjawab, kakek itu kembali menghilang!! "Adinda Sri, jangan takut, sosok itu tidaklah jahat."
Suara Pak haji hasan mengagetkan ku. Pak haji kemudian mengajakku berjalan-jalan sambil berbincang apa saja yang baru aku lihat. Aku kembali menceritakan dari mulai sosok perempuan pucat yang duduk di tempat tidur kamar ku, Pak kiai menjelaskan jika memang di pondok
ini pernah ada santriwati yang meninggal karena sakit. Santriwati ini tidak mau dibawa berobat karena takut menjadi beban untuk keluarganya, hingga akhirnya ia ditemukan telah meninggal. yang kedua mengenai beberapa anak kecil menggunakan baju koko itu sebenarnya
memang dari bangsa jin. Mereka selayaknya seperti dinda Sri, yang juga menimba ilmu keagamaan di padepokan ini. Di padepokan ini ada banyak santri dan santriwati dari sejenis jin. Bentuknya pun beragam, ada yang memang menyerupai kuntilanak, gunderwo atau seperti
manusia pada umumnya. Kemudian Pak kiai menjelaskan jika diluar pondok ada beragam bentuk jin yang usil. salah satunya Gunderwo penunggu pohon benda dan juga sosok arwah penasaran korban tabrakan.
Pak kiai kemudian menambahkan jika dirinya sebenarnya mengikuti ku dari belakang secara tak kasat mata. Pak kiai juga melihat apa yang kulihat ketika di pasar. " Seperti yang sudah bapak bilang, wanita berwajah anjing itu adalah wanita yang menggunakan pesugihan. Di pasar seperti
gerbang pembuka antara manusia dan alam goib sudah tidak bisa dibedakan. Ironi sekali memang, manusia yang diciptakan oleh Allah SWT sebegitu sempurna nya masih saja mau melakukan perjanjian-perjanjian gaib yang mengikat. demit yang berbentuk seperti tuyul adalah arwah janin yang
digugurkan, sehingga mereka dipakai oleh sebangsa Jin untuk memperalat manusia. Sedangkan warna-warni aura cahaya yang saling melintang di sepanjang jalan di pasar itu adalah bentuk ketidak percayaan manusia kepada dirinya maupun Allah, sehingga mereka menuangkan air air
yang sudah dijampi-jampi ataupun taburan garam. Niat nya hanya satu, jika si calon pembeli menginjak area yang sudah di taburi garam atau disirami air dari berbagai macam orang pintar, maka mereka akan jadi mengeluarkan uang untuk membeli barang yang dijajakan.
Namanya manusia jika mau berusaha pasti Allah beri jalan dan kemudahan, begitu pun penjual, pasti pula akan ada pembeli. Namun kini hati manusia telah tertutup dengan hawa nafsu ingin sukses dengan cepat , sehingga menghalalkan berbagai macam cara." ungkap Pak kiai hasan
sambil tangannya terus berdzikir. Pak kiai melanjutkan ceritanya menceritakan sosok kakek yang mengaji di ruang aula. " Kakek itu memang sebangsa jin putih. Ia berumur ratusan tahun. Kakek jin telah berada di wilayah ini jauh sebelum padepokan ini dibangun. Menurut
pengakuan nya, ia adalah pengikut dari salah satu wali cirebon sewaktu beliau menyiarkan agama Islam di Nusantara. Bahkan, si kakek mengaku sebelumnya ia bukanlah jin muslim, melainkan hanya jin penunggu hutan biasa. Kakek itu awalnya ingin mencobai ilmu dari sunan gunung jati,
namun belum apa-apa ia seolah dibuat tak berdaya dengan kharomah yg dimiliki oleh sang wali Allah. Saat ini tugas beliau adalah menjadi seorang muazin bangsa jin, dan juga mengajarkan ilmu agama bagi santri maupun santriwati golongan jin. Ia juga yang menjaga padepokan ini
dari segala bentuk gangguan jin yang kafir." Entah mengapa aku menjadi merasa malu. Aku sebelumnya selalu merasa diri ini pantas dan layak untuk bisa mendapat kelebihan dari Allah, aku berdoa dan meminta seolah-seolah ingin mendobrak pintu surga dengan tangan ku sendiri,
kini sangat tertampar di relung hati. Aku membandingkan diriku dengan kakek jin berumur ratusan tahun yang masih sangat bersahaja dan rendah diri. Kakek itu selalu memuliakan nama Allah dengan selalu membaca Qur'an dan menjadi manfaat bagi sesama jin. Aku
bisa mengaji, namun aku tak bisa untuk mengaji hati ku sendiri. Aku bisa melafalkan Qur'an namun tidak bisa mengingat kebaikan orang yang pernah menolong ku. Aku menyadari apa yang ku lakukan adalah sebuah kesia-siaan, dan aku tidak pantas mendapat kan kelebihan ini. Aku kemudian
meminta Pak kiai untuk menutup kembali mata batin ku. Cukuplah dua hari pengalaman ku melihat dan berinteraksi dengan makhluk-makhluk tak kasat mata. Dari sini aku belajar untuk TIDAK MEMAKSAKAN KEHENDAK, aku belajar untuk TIDAK TAKABUR dan juga aku belajar jika selayaknya
manusia hidup di dunia hanya sementara dan jangan pernah bersekutu dengan iblis untuk mendapatkan kemudahan. Dengan senang hati Pak kiai menutup kembali mata batin ku. Sungguh itu adalah pengalaman yang seumur hidup takkan pernah aku lupakan. Akhir cerita aku keluar dari padepokn
pesantren binaan Pak kiai Haji Hasan setelah 2 tahun menimba ilmu disana, dan aku langsung mengabdikan diriku menjadi guru mengaji di kampung halaman sesaat setelahnya. Aku merasa bahagia karena bagiku yang terpenting bukanlah memiliki keistimewaan di mata manusia,
namun keistimewaan dimata Allah karena didalam hidup sudah bisa menjadi syafa'at bagi orang lain. :: pentup :: Nah mungkin itu saja cerita yang bisa mimin sampaikan , semoga yang baik dari cerita ini bisa diambil sebagai pelajaran. Mimin mau mengucapkan terimakasih bagi semua yg
sudah meluangkan waktu membaca thread-thread horor mimin, gak lupa juga mimin meminta maaf jika ada banyak kesalahan maupun kekurangan dalam setiap penulisan thread. Akhir kata wabillahi taufiq wal hidayah wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatu

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Sang Penulis Malam

Sang Penulis Malam Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @PenulisMalam94

4 Jun
Halo apakabar semua? semoga kalian dalam keadaan yang baik-baik aja ya! Di cerita kali ini masih dengan kisah mimin marsel yg menjadi saksi bagaimana kedahsyatan pengaruh susuk untuk orang yang mau meninggal. Nah daripada makin penasaran, yuk mending kita langsung ke cerita ya~
Aku Marsel, dan aku akan menceritakan sedikit pengalaman ku bersama Alm. Ayah tiriku, sebut saja Pak Dedi sewaktu beliau masih hidup. Pak Dedi adalah sosok lelaki yang sangat bertanggung jawab. Pak Dedi menikahi mama ku saat aku masih duduk di bangku SMP kelas 1. Karena pembawaan
Read 57 tweets
2 Jun
Keesokan harinya , Bi sri tak sengaja bertemu dengan kokom saat membeli sayur keliling. Mereka berdua saling menyapa dan entah mengapa kokom membuka percakapan pagi itu yang membuat bi sri agak sedikit bergidik. "Eh bi Sri tau kan Pardi baru meninggal ?? masa sih
bi semalem habis di urus jenazah nya sama bapak , Pardi dateng, bi ke rumah !! Saya tadinya ga percaya, cuma apa iya si bapak bohong ?! " ucap kokom semangat. " Lho emang gimana ceritanya kom? " tanya bi sri penasaran. " Jadi kata bapak , pas bapak mau masukin jenazah
Read 23 tweets
1 Jun
Ketika mereka ber4 sedang membasuh diri di sumur tua, Beno mengucapkan sesuatu " Aku pasti bisa kaya raya ! Bosan rasanya selalu terinjak injak menjadi orang miskin !! " ucap beno sambil mengepalkan tangannya penuh amarah. " Lho ben, bukannya ibu mu itu punya usaha
meminjam-minjamkan uang di kampung ?! pasti duitnya banyak dong Ben ! Kenapa ga minta modal aja dulu Ben ? " tanya Didit penasaran. " Sudah Dit! Bukannya dikasih modal aku malah di marah marahi dan diumpat dengan kasar. kata ibu Aku ini anak tidak berguna, hidup pun
Read 25 tweets
1 Jun
Halo semuanya, Apakabar kalian?? semoga sehat sehat aja ya!! Nah kali ini mimin marsel masih akan mbawakan sebuah cerita dari kampung mimin yg berlatar tahun 2014' an awal deh .. Daripada berlama lama intro yuk langsung keceritanya yaah~
Pagi itu Bi sri ( adik nenek yang paling kecil ) meminta tolong Mang Pardi ( bukan nama sebenarnya ) untuk memperbaiki mesin sanyo air yang mampet. Terlihat wajah mang Pardi tak seperti biasanya ketika ia diberi tugas. ( oh ya mang pardi ini tukang serabutan di kampung ku
Read 25 tweets
30 May
Hallo guyss apakabar kalian ? Semoga sehat sehat aja ya!! Nahh kali ini adalah bagian sekuel cerita dari Lift Angker Univ Swasta di Bandung yang mana kisah ini adalah kisah nyata dari mimin marsel . Kalau kalian belum liat part awalnya, sebaiknya di baca dulu yaa gaes,
karena antara cerita lift angker dan kesurupan kuntilanak ini related . Okay tanpa harus berlama lama yuk kita langsung masuk ke ceritanya yaa!
Read 25 tweets
30 May
Hallo guys , apakabar kalian? semoga sehat sehat aja ya.. kali ini masih di bagian cerita mimin fitri dari kisah lanjutan ( MELANGGAR PINGITAN ) SEPASANG KEKASIH YANG MENINGGAL . Nah biar ga berlama lama intronya yuk deh langsung masuk cerita ya guys~
Mbok Jemiatin atau akrab disebut mbok Jem kembali bercerita kepada 3 pemuda yaitu Herman, Sutoyo ( kakek dari mimin fitri ) , dan Jaka. " Kalian harus berhati - hati. Di kampung kita dan kampung sebelah seperti ada teror sepasang pengantin yang meninggal karena
Read 27 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(