Beberapa concern gue soal cancel culture:

1. Masyarakat jadi lebih woke. Lebih aware. Dapet public course bahwa ada yg lazim dan ada yg gak.

Dan ini bagus.

Dari hal yg keliatannya sepele, misalnya: oh cewek tuh gak seneng toh disuit2in. So, stop doing things like that.
2. Tapi imbas dari nomor 1 ini, akhirnya semua jadi "pakar."

Semua jadi polisi.

Semua jadi jaksa.

Dan semua jadi hakim.

Balik ke jaman jahiliyah, di mana orang2 udah pada pegang batu, pengen ngerajam pelaku kejahatan tertentu.
3. Padahal kita sbg negara, udah punya lembaga dan institusi2 hukum.

Dan gue ngomong ini sbg orang yg anti sama rejim jokowi loh.

Tapi gue pikir poin ini penting. Kenapa?

Karena apa alternatifnya? Public court?
Gue ngerti banget kalo kasus2 pelecehan seksual itu susah dapet buktinya. Dan itu bakal berat di pengadilan.

Tapi...

Sekali lagi, alternatifnya apa?

Publik sbg polisi, jaksa, dan hakim? Gak deh. Gue pernah liat maling disiram bensin dan dibakar massa.
Agak2 mirip misalnya yg dulu pernah gue bilang:

Media mainstream memang kaya tai kucing. Jauh dari sempurna kaya institusi2 hukum kita.

Tapi kalo lo tawarin alternatifnya kaya berita2 dari fesbuk, ya mending gak usah deh.

Mau cari yg lebih baik malah dapet yg lebih ancur.
Setidaknya kalo di media mainstream, alamat redaksinya jelas. Penulis artikelnya jelas. Sumber yg dikutip juga jelas.

Jadi kalo ada apa2, bisa diminta pertanggung jawaban.
Lembaga penegak hukum jg sama.

Yg dituduh dan menuduh diminta keterangan. Bukti2 digelar. Jaksa ajukan argumen2. Pengacara membela klien mereka. Hakim menimbang.

Proses semuanya ini bisa diamati. Dan kalo pun tidak puas, bisa naik banding.

Gak langsung disiram bensin.
4. Ini poin yg menurut gue agak kontroversial:

Tiap kejahatan itu punya beban masing2. Not every crime is equal.

Tapi kalo ngeliat gelagatnya, semua dimasukin ke 1 karung yg sama.

Pelecehan = pemerkosaan.

Keduanya dianggap sama2 keji.

Apakah mencuri > membunuh?
Untuk membandingkan sesuatu yg enak kaya makanan emang gampang. Pilih es krim atau gado2, misalnya.

Tapi gimana membandingkan hal2 yg gak enak, yg menimbulkan trauma buat si korban.

Pilih dilecehin atau diperkosa?
Diperkosa atau dibunuh?
Ini tentunya pembahasan serius di dalam ruang2 kelas kuliah. Bukan lalapan untuk media sosial yg gampang terpelatuk.

Ditanya begitu malah ntar dituduh gak simpatik sama korban. Atau dibilang mendukung kejahatan tsb.
Makanya di UU gak setiap kejahatan punya ancaman hukuman yg sama.

Untuk kejahatan A, ancamannya 5 taun penjara misalnya.

Untuk kejahatan B, ancamannya seumur hidup misalnya.
Sorry abis boker. Balik lagi:

5. Pembentukan stigma dari stereotype

Gue tau banget dan baca jurnal2/statistik2 soal kejahatan2 seksual.

Kesimpulannya rata2 sama:
- persentase yg ketauan & dijatuhi hukuman gak gede > ketauan tp gak dijatuhin hukuman > gak ketauan/gak dilaporin
- not to mention di jaman sekarang yg non teokrasi sekali pun, perempuan masih butuh "4 saksi" alias susah utk menang di pengadilan.

Karena hal2 spt ini, gue maklum/wajar ngeliat adanya backlash terutama dari kaum perempuan tiap ada kasus pelecehan yg diangkat di sosmed.
Tapi imbasnya apa...

Terbentuk stigma, bahwa di kasus kejahatan seksual, SUDAH PASTI bahwa pelakunya (most likely cowok) melakukan kejahatan tsb.

Dan SUDAH PASTI bahwa korbannya benar adalah korban.

Men are violent. Women are victims.
Ini yg kadang gue bilang kalo kita kudu bisa misahin antara (kasus2) individu -A- dan hal2 yang sudah terbentuk menjadi pattern (systematic) -B-.

Karena A belum tentu klop masuk ke B.

Terutama kasus2 yang masih ongoing atau belum sampe ke kesimpulan/ si hakim ketok palu
Ini pernah gue omongin sama salah satu aktivis perempuan yg kebetulan berdarah Chinese.

Gue bilang sama dia "bisa gak stereotype men are aggressors itu disamain kaya stereotype Chinese people are rich because to many pribumis (gue pribumi btw), they cheat the system?"
Jadinya memang ada 2 schools of thought:

1. Stereotype becomes stereotype because it follows the pattern thus it's true

2. Stereotype becomes Stereotype because people want it to be true for whatever reasons (ie: they can cling/rely to it).
Ada memang kasus2 di mana si korban berbohong -misalnya kasus Jussie Smollett yg bohong katanya digebukin white racists sampe ini jd bahan stand up Dave chapelle karena sempet viral dan orang2 pd belain si jussie-

Tapi tentu kasus2 kaya gini gak banyak. Persentasenya kecil.
Balik lagi kaya gue bilang di atas.

Kata kuncinya: ONGOING CASE.

Kalo masih ongoing, apalah kita ini. Paling cuma bisa denger she said he said.

Gak punya tool dan power kaya polisi. Gak dateng ke tkp. Gak interogasi pihak2 yg terlibat.
Cuma denger atau baca 1 kasus di twitter bangsa 15 menitan, lalu langsung act out kaya polisi, jaksa, dan hakim. Ngerangkap.

Di tiap2 kasus kaya gini, posisi paling ideal memang menunggu dan menyimak.

Yg pasti umumnya kita maunya yg salah dihukum. Dan dihukum dengan adil.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with SatGas t0iLet

SatGas t0iLet Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(