Hachisakusama

Creepypasta indonesia

@bacahorror #bacahorror @SimpleM81378523 Image
Kakek nenekku tinggal di Jepang. Setiap musim panas, orangtuaku akan membawaku kesana pada hari libur untuk mengunjungi mereka. Mereka tinggal di sebuah pedesaan kecil dan mereka memiliki halaman belakang yang cukup luas.

Aku suka bermain di sana selama musim panas.
Setiap kali kami tiba, kakek nenekku selalu menyambutku dengan tangan terbuka. Aku adalah satu-satunya cucu mereka, jadi mereka begitu memanjakanku.
Terakhir kali aku melihat mereka adalah ketika saat musim panas sewaktu aku masih berusia 8 tahun.
Seperti biasa, orangtuaku memesan tiket pesawat ke Jepang lalu kami berkendara dari bandara menuju ke rumah kakek dan nenekku. Mereka sangat senang melihatku dan tentu saja mereka selalu punya hadiah untuk diberikan kepadaku.
Orangtuaku ingin menghabiskan beberapa waktu berdua saja, jadi setelah beberapa hari, mereka melakukan perjalanan ke daerah lain yang ada di Jepang, dan meninggalkanku dalam pengawasan kakek dan nenek.
Suatu hari, aku sedang bermain di halaman belakang sementara Kakek dan nenekku berada di dalam rumah. Saat itu sedang musim panas dan cuaca lagi panas panasnya, aku sedang berbaring diatas rerumputan untuk beristirahat.
Aku memandangi awan-awan dan menikmati sinar matahari yang lembut disertai hembusan angin yang sepoi-sepoi. Pada saat aku baru saja akan bangun, aku tiba-tiba mendengar sebuah suara yang aneh.
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."
Aku terdiam sejenak, mencoba memikirkan suara apa itu, lalu mencari darimana sumber suara tersebut. Suaranya hampir seperti seseorang yang sedang berbicara sendiri. Seperti mereka hanya mengatakan, "Po... Po... Po", terus menerus dengan suara maskulin yang dalam.
Aku lalu melihat ke sekeliling, mencari sumber suara tersebut ketika tiba-tiba aku tertuju pada sesuatu yang ada di atas pagar tinggi yang mengelilingi halaman belakang rumah ini. Itu adalah sebuah topi jerami. Benda itu tidak tergeletak di atas pagar, tetapi berada di baliknya.
Dan disanalah suara itu berasal.
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."

Kemudian, topi itu mulai bergerak, seperti ada seseorang yang memakainya. Topi itu sempat berhenti pada sebuah celah kecil yang ada di pagar dan aku bisa melihat sebuah wajah sedang mengintip.
Rupanya itu adalah seorang wanita. Tetapi anehnya, pagar rumah kakekku sangatlah tinggi. Hampir setinggi delapan kaki.
Aku tentu saja terkejut mengingat berapa tinggi wanita itu.
Aku bertanya-tanya apakah dia mengenakan jangkungan atau semacam sepatu berhak sangat tinggi. Lalu, sepersekian detik kemudian, wanita itu berjalan pergi dan suara aneh itu pun ikut menghilang bersamanya, tak lama kemudian semua perlahan menghilang dari pandangan.
Merasa sangat bingung, aku bangun dari tempatku dan berjalan masuk ke dalam rumah.

Kakek dan nenekku sedang minum teh di dalam dapur. Aku duduk di meja dan setelah beberapa saat, aku menceritakan kepada mereka apa yang baru saja aku lihat.
Mereka tidak terlalu memperhatikanku sampai aku menirukan suara aneh wanita itu.
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."

Tak lama setelah aku mengatakan hal itu, mereka berdua tiba-tiba terdiam membeku.
Mata nenek mulai melebar dan ia menutup mulut dengan kedua tangannya. Wajah kakek pun nampak sangat serius dan ia tiba-tiba saja menarik tanganku.

"Ini sangat penting," katanya dengan nada kuat. "Kau harus benar-benar memberitahu kami... Seberapa tinggi dia?"
"Setinggi pagar kebun." Jawabku waktu itu, aku mulai merasa ketakutan.

Kakekku terus memborbardirku dengan pertanyaan-pertanyaan yang aneh.

"Dimana dia berdiri? Kapan ini terjadi? Apa yang kau lakukan? Apakah dia sudah melihatmu?"
Aku mencoba menjawab semua pertanyaan sebisaku. Ia lalu bergegas pergi ke lorong dan menelepon. Aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan. Aku melihat ke arah Nenekku dan tubuhnya terlihat gemetar.
Kakekku kembali ke dalam ruangan lalu berbicara kepada nenekku.

"Aku harus keluar sebentar," katanya. "Kau tinggal di sini bersama anak itu. Jangan lepaskan pandanganmu darinya sedetikpun."

"Apa yang terjadi, Kakek?" Tangisku.
Dia melihatku dengan ekspresi sedih di matanya dan berkata, "Kau telah di sukai oleh Hachisakusama."

Bersama dengan itu, ia bergegas masuk ke dalam truknya dan pergi.

Aku berbalik kearah nenekku dan dengan hati-hati aku bertanya kepadanya, "siapa Hachisakusama?"
"Jangan khawatir," katanya dengan suara gemetar. "Kakek akan melakukan sesuatu untukmu. Kau tidak perlu khawatir."

Saat kami duduk di dapur dengan gugup sambil menunggu kakekku kembali, dia menjelaskan apa yang sedang terjadi.
Dia menceritakan kepadaku bahwa ada makhluk berbahaya yang menghantui daerah ini. Mereka memanggilnya dengan nama "Hachisakusama" karena postur ganjil tingginya.

Dalam bahasa Jepang sendiri, "Hachisakusama" artinya "Si Tinggi Delapan kaki".
Ia berwujud seperti seorang wanita yang sangat tinggi dan ia mengeluarkan suara seperti, "Po... Po... Po..." dengan suara maskulin yang dalam.

Wujudnya terkadang berbeda, tergantung siapa yang melihatnya.
Beberapa orang mengatakan ia terlihat seperti seorang wanita tua kurus kering berpakaian kimono, dan yang lain mengatakan ia adalah seorang gadis dengan kain kafan berwarna putih.

Satu hal yang tidak berubah dari makhluk ini adalah tingginya dan suara yang dia buat.
Pada zaman dahulu, ia pernah ditangkap oleh para biksu dan mereka berhasil mengurungnya di sebuah reruntuhan bangunan di pinggiran pedesaan. Mereka menjebaknya dengan menggunakan 4 patung relijius kecil yang disebut "Jizo" yang mereka pasang di empat penjuru mata angin.
Seharusnya makhluk itu tidak bisa pergi dari sana. Entah bagaimana caranya, makhluk itu akhirnya bisa lolos.

Terakhir kali makhluk itu muncul adalah 15 tahun yang lalu. Nenekku berkata bahwa siapapun yang melihatnya pasti ditakdirkan untuk mati dalam beberapa hari.
Semuanya terdengar tidak masuk akal, aku sendiri tidak yakin siapa yang harus kupercayai.

Ketika kakek akhirnya kembali, ada seorang wanita tua yang datang bersamanya.
Dia memperkenalkan dirinya sebagai "K-san" dan ia menyerahkan kepadaku selembar perkamen kusut dan berkata, "Ini, ambil dan peganglah." Lalu, dia dan kakekku pergi ke atas untuk melakukan sesuatu. Aku ditinggalkan sendirian di dapur bersama nenekku lagi.
Aku ingin ke kamar mandi. Nenek pasti mengikutiku, beliau bahkan tidak membolehkanku menutup pintunya. Aku mulai merasa benar-benar ketakutan dengan semua kegilaan ini.
Setelah beberapa saat, kakek dan K-san akhirnya mengajakku ke atas dan membawaku ke dalam sebuah kamar. Jendela-jendelanya sudah ditutupi oleh kertas koran dan banyak rune kuno dituliskan pada kertas-kertas itu.
Ada mangkuk kecil berisi garam di empat sudut ruangan serta sebuah patung Buddha kecil yang di tempatkan di tengah-tengah ruangan tepat di atas sebuah kotak kayu. Di sana juga terdapat sebuah ember berwarna biru cerah.
"Untuk apa ember itu?"tanyaku.

"Itu untuk buang air kecil dan buang air besar." Jawab kakek.

K-san mendudukkanku di tempat tidur dan berkata, "Sebentar lagi matahari akan terbenam, jadi dengarkan aku baik-baik. Kau harus tinggal di dalam kamar ini sampai besok pagi.
Kau tidak boleh keluar dalam keadaan apapun sampai pukul 7 besok pagi. Nenekmu dan kakekmu tidak akan berbicara kepadamu atau memanggilmu sampai saat itu. Ingatlah, jangan pergi dari kamar ini apapun alasannya. Aku akan memberitahu orangtuamu apa yang sedang terjadi."
Dia berbicara dengan nada yang teramat sungguh-sungguh dan yang bisa kulakukan hanyalah diam sambil mengangguk-anggukkan kepalaku.

"Kau harus mengikuti perintah K-san baik-baik," kakek memberitahuku. " Dan jangan pernah melepaskan perkamen yang dia berikan kepadamu.
Dan jika terjadi sesuatu, berdoalah kepada Buddha. Dan pastikan kau mengunci pintu ini ketika kami pergi."

Mereka berjalan menuju lorong dan setelah mengucapkan selamat tinggal kepada mereka, aku menutup pintu kamar dan menguncinya.
Aku menyalakan TV dan mencoba untuk menontonnya, namun aku begitu gugup, aku merasakan sakit pada perutku. Nenek meninggalkan beberapa makanan ringan dan bola-bola nasi untukku, namun aku tidak bisa memakannya.
Aku merasa seperti berada di dalam penjara dan aku sangat depresi serta ketakutan. Aku berbaring di atas tempat tidur dan menunggu. Sebelum aku tiba-tiba mengantuk, lalu tertidur.
Ketika aku terbangun, saat itu baru saja pukul 1 dini-hari.
Tiba-tiba saja, aku menyadari ada sesuatu yang mengetuk-ngetuk jendela kamar-ku.

"Tap, tap, tap, tap, tap... "

Aku merasakan darah mengalir dari wajahku dan jantungku seperti berhenti berdetak.
Dengan putus asa aku mencoba untuk menenangkan diriku, aku memberitahu diriku sendiri kalau itu hanyalah suara angin atau mungkin suara ranting pohon. Aku lalu membesarkan volume TV untuk meredam suara ketukan tersebut. Pada akhirnya, suara tersebut akhirnya berhenti sama sekali.
Pada saat itulah aku mendengar kakek memanggilku.
"Apa kau baik-baik saja di sana?" Tanyanya. "Kalau kau takut kau tidak perlu tinggal di sana sendirian. Aku bisa masuk dan menemanimu."
Aku tersenyum dan bergegas untuk membukakan pintu, namun kemudian, aku menghentikan langkahku. Sekujur tubuhku terasa merinding. Suara itu terdengar seperti suara kakek, namun entah bagaimana, rasanya berbeda. Aku tak bisa menjelaskannya, aku hanya tahu kalau itu bukan kakekku...
"Apa yang kau lakukan?" Tanya kakek. "Kau boleh membuka pintunya."

Aku menoleh ke arah kiriku dan sebuah perasaan dingin merayapi tulangku. Garam di mangkuk perlahan-lahan berubah menjadi hitam.
Seketika aku mundur dari pintu. Seluruh tubuhku gemetar ketakutan. Aku jatuh berlutut di hadapan patung Buddha dan mencengkram erat-erat lembaran perkamen yang ada di tanganku. Dengan putus asa aku mulai berdoa untuk meminta pertolongan.
"Tolong selamatkan aku dari Hachisakusama..." Raungku.
Kemudian, aku mendengar suara di luar pintu yang berkata,
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."
Ketukan jendela mulai terdengar kembali. Aku dikuasai oleh rasa takut dan aku berjongkok di depan patung, setengah menangis dan setengah berdoa selama sisa malam itu. Rasanya seperti tidak akan berakhir, namun akhirnya ternyata hari sudah pagi. .
Semua garam di 4 mangkuk itu benar-benar menjadi hitam pekat.
Aku memeriksa jam tanganku. Sudah pukul 7.30 AM. Dengan hati-hati aku membuka pintu. Nenek dan K-san sedang berdiri di luar menungguku. Ketika ia melihat wajahku, nenek mulai menangis
"Aku senang sekali kau masih hidup," katanya.

Aku turun ke bawah dan terkejut melihat ayah dan ibuku sedang duduk di dapur. Kakek masuk dan berkata, "Cepatlah! Kita harus berangkat."
Kami berjalan ke pintu depan dan di sana sudah ada sebuah mobil van hitam besar yang sedang menunggu di parkiran. Beberapa pria dari desa sedang berdiri mengelilingi mobil van tersebut, mereka menunjuk ke arahku dan berbisik, "Itu anaknya. Itu anaknya."
Mobil van itu memiliki 9 tempat duduk dan mereka menaruhku tepat di tengah-tengah, dikelilingi oleh delapan pria. K-san duduk di kursi pengemudi. "Kau berada di tengah kesulitan. Aku tahu kau mungkin khawatir. Tundukkan saja kepalamu dan tutup matamu.
Kami tidak bisa melihatnya, tapi kau bisa. Jangan buka matamu sampai kami berhasil mengamankanmu dari sini."

Kakek mengemudi di depan dan mobil ayahku mengikuti di belakang. Ketika semua orang sudah siap, konvoi kecil kami mulai bergerak.
Kami berkendara cukup pelan... sekitar 20 km/jam atau kurang. Setelah beberapa saat, K-san berkata, "Di sinilah semua mulai sulit," dia mulai ber-komat-kamit membaca doa.
Saat itulah aku mulai mendengar suara itu lagi.
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."
Aku mencengkeram perkamen yang diberikan K-san kepadaku dengan erat-erat sementara Aku tetap menundukkan kepalaku, tetapi sejenak muncul keinginan untuk mengintip keluar. Ketika aku melakukannya, Aku melihat sebuah gaun putih yang berkibar di tiup angin.
Rupanya, Ia bergerak mengikuti mobil van. Tingginya benar-benar delapan kaki. Ia berada di luar jendela van, namun ia terus melangkah bersama kami.

Tiba-tiba, tanpa ada aba-aba dia membungkuk dan mengintip ke dalam van.
"Tidak!" teriakku seketika terkesiap.
Pria di sampingku lalu berteriak,
"TUTUP MATAMU!"

Aku segera berusaha keras untuk menutup mataku dan mengencangkan genggamanku pada lembaran perkamen. Lalu, mulai terdengar suara ketukan di jendela.
"Tap, tap, tap, tap, tap..."
Suara itu semakin lama semakin keras.
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."

Ada ketukan di seluruh jendela di sekeliling kami. Semua pria di dalam van kaget dan pada akhirnya, mereka bergumam sendiri.
Mereka tidak bisa melihat si Tinggi Delapan kaki dan mereka juga tidak bisa mendengar suaranya, namun mereka bisa mendengar ketukan di jendela. K-san mulai berdoa keras-keras dan semakin keras sampai ia hampir seperti berteriak. Ketegangan di dalam van benar-benar tak tertahankan
Setelah beberapa saat ketukan itu akhirnya berhenti dan suaranya mulai menghilang.
K-san menoleh ke arah kami lalu berkata, "Kurasa kita sudah aman sekarang."
Semua pria yang ada di sekelilingku menghela nafas lega. Mobil van itu menepi di pinggir jalan dan semua pria mulai keluar. Mereka memindahkanku ke dalam mobil ayahku. Ibuku memelukku dan air mata mengalir di pipinya.
Kakek dan ayahku menunduk pada para pria itu dan mereka pergi berjalan pulang. K-san berjalan ke jendela dan memintaku menunjukkan lembaran perkamen yang ia berikan padaku. Ketika aku membukanya, aku melihat lembaran itu berubah menjadi benar-benar hitam.
"Kurasa kau akan baik-baik saja sekarang," katanya. "Tapi untuk meyakinkannya, peganglah benda ini untuk sementara." Dia memberikan kepadaku selembar perkamen baru.
Setelah itu, kami berkendara menuju ke bandara dan kakek melihat kami sudah aman di dalam pesawat. Ketika kami sudah lepas landas, orangtuaku menghela nafas lega.
Ayahku lalu memberitahuku kalau ia pernah mendengar soal "Si Tinggi Delapan kaki" sebelumnya. Bertahun-tahun yang lalu, temannya telah di sukai olehnya. Bocah laki-laki itu menghilang dan tidak pernah terlihat lagi sampai saat ini.
Ayahku berkata kalau ada orang-orang lainnya yang pernah di sukainya dan masih beruntung bisa hidup untuk menceritakannya. Sebagai konsekuensinya mereka semua harus pergi meninggalkan Jepang dan menetap di luar negeri. Mereka tidak pernah bisa kembali ke kampung halaman mereka.
Dia selalu memilih anak-anak sebagai korbannya. Mereka bilang itu karena anak-anak masih bergantung kepada orangtua dan anggota keluarganya. Ini membuat mereka mudah diperdaya ketika ia berpura-pura sebagai keluarganya.
Dia berkata bahwa para pria yang berada di dalam van semuanya memiliki hubungan darah denganku, dan itulah mengapa mereka duduk mengelilingiku dan mengapa ayah dan kakekku berkendara di depan dan di belakang. Itu semua di lakukan untuk mencoba membingungkan Hachisakusama.
Butuh beberapa waktu untuk menghubungi mereka dan mengumpulkan mereka semua, itulah sebabnya mengapa aku di kurung di kamar semalaman.
Dia memberitahuku bahwa benda kecil yang di sebut patung Jizo (benda dimana seharusnya ia tetap terperangkap) telah rusak dan itulah jawaban bagaimana dia akhirnya bisa lolos.
Hal itu membuatku merinding. Aku senang akhirnya kami bisa pulang ke rumah.
Semua itu terjadi lebih dari 10 tahun yang lalu. Aku belum bertemu kakek dan nenekku lagi sejak saat itu. Aku belum mampu menginjakkan kakiku lagi di negeri itu. Setelah itu, aku pasti menelepon mereka setiap beberapa minggu dan berbicara dengan mereka melalui telepon.
Selama bertahun-tahun, aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa itu hanyalah sebuah urban legend, bahwa semua yang telah terjadi hanyalah sebuah lelucon yang sulit dipahami. Namun, terkadang aku tidak terlalu yakin.
Kakekku meninggal dua tahun yang lalu. Ketika dia sakit, dia tidak mengizinkanku untuk menjenguknya dan dia juga meninggalkan perintah ketat dalam surat wasiatnya bahwa aku tidak boleh menghadiri pemakamannya. Itu semua sangat menyedihkan.
Kemudian, Nenekku menelepon beberapa hari yang lalu. Dia berkata bahwa dia didiagnosa mengidap penyakit kanker. Dia sangat merindukanku dan ingin bertemu denganku untuk terakhir kalinya sebelum dia meninggal.

"Apa kau yakin, nenek?" Tanyaku. "Apakah aman?"
"Sudah 10 tahun," katanya. "Semua itu telah terjadi lama sekali. Semuanya sudah terlupakan. Kau sudah dewasa sekarang. Aku yakin tidak akan ada masalah."

"Tapi... tapi... bagaimana dengan Hachisakusama?" Kataku.
Selama beberapa saat setelah aku mengatakan hal itu, ada keheningan yang panjang di ujung telepon. Lalu, aku mulai mendengar suara maskulin yang dalam.
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."
Source : Creepypasta.wiki

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with CreepypastaIndonesia

CreepypastaIndonesia Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @CreepypastaInd1

9 Jun
Subjected to Be Beating

Creepypasta Indonesia

@bacahorror #bacahorror Image
Dia telah terkunci di dalam lemariku sejak 5 hari yang lalu. Aku takut terakhir kali aku kelaparan, aku tidak bisa menjelaskan bagaimana perut-ku dengan jelas, jadi kali ini aku ingin meyakinkan bahwa aku pasti bisa. Aku juga ingin menyimpan dia dengan cara yang paling sederhana.
tidak dengan cara yang paling tidak masuk akal seperti yang pernah kulakukan kepada yang lain sebelumnya.

Kadang-kadang aku mendapat komplain karena aku sedikit tidak realistis dengan beberapa dari mereka, yang kadang-kadang hal itu dapat menghilangkan moodku. Oh baik-lah.
Read 25 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(