With Much Love Profile picture
Jul 1, 2021 2043 tweets >60 min read Read on X
Perlahan dia menurunkan tubuhnya bersamaan tenggelamnya ujung batangku kedalam lobangnya. Dia angkat kembali keatas tubuhnya sebelum kembali dia turun dan bleeeessss seluruh batangku ambles kedalamnya. Gesekan dan friksi antara kepala kontolku dan dinding memeknya membuat rasa
nikmat tiada tara. Lenguhan kami terdengar bersama
"Ooohhhh..........!" Gesekan pelan dan lembut terjadi saat Vira mengangkat pelan pantatnya dan menggoyang dengan memutar mutar ke kanan dan kekiri. Friksi makin terasa nikmat. "Addduuuuhhhh masss....enaaaakkk!!" katanya setengah
berbisik. Matanya terpejam, tanganku memegang kedua dadanya dan meremas remas susunya. Kadang terasa menggemaskan khususnya saat rasa nikmat terasa dari kepala batangku. Cairan meleleh dari dalam lobang Vira, goyangannya makin kuat. Batangku seperti mengaduk aduk lobang nikmatnya
"Terruuuusssss....terusssss......!!" desakku
Tanganku membantu pinggulnya untuk bergoyang, pantatnya naik turun secara teratur, batangku menusuk nusuk dalam, Terkadang pinggulnya maju mundur sehingga batangku seperti menampar dinding memeknya. Terdengar suara pahaku dan pahanya
bertepuk tepuk. Clitorisnya dia gesek gesekkan kekulitku.
"Mmmassss....masss......oohhh...massss.....ssttt......oohhhhh yaaaangg...terus sayang........"
Vira roboh.......nafasnya memburu....seperti sedang berlari mengejar nafsu. Kulit tubuhnya berkeringat, tanganku memeluknya.
Batangku kontolku masih terjepit didalam lobang memeknya. "Berhenti dulu..capek aku..!!" katanya setengah berbisik
Nafasku kembali kuatur, rasa nikmat persetubuhan terasa kuat. Vira menggulingkan tubuhnya kesamping.
Batangku terlepas dr lobang memek Vira masih meregang kencang.
Mataku tertutup menikmati rasa persetubuhan kami. Vira tergolek disampingku, matanya juga terpejam sementara nafasnya terasa berat satu2x.
Aku membuka mataku & melihat kesamping, Adrian & Naira memandangi kami. Entah apa yang tlh mereka lakukan ketika kami sdg sibuk bersenggama.
Mata Naira mengarah diantara selangkanganku, fokus pada batang yang masih menegang.
Vira meringkuk disampingku, aku belai rambutnya dan wajahnya. Matanya masih terpejam......... "Enak....?" tanyaku ingin tahu
"He....eh" jawabnya pendek sambil mengangguk pelan.
"Sudah selesai?"
tanyaku pelan ke telinganya. Dia menggelengkan kepalanya sebentar dan berbicara pelan.
"Mas belum keluar ya?" tanyanya pelan
"Belum...kamu balik putar menghadap mereka. Aku tusuk dari belakang!" kataku sambil membantunya membalikkan tubuhnya.
Tanganku memegang satu pahanya dan
mengangkatnya, aku memajukan pantatku kedepan dan mengarahkan batangku ke lobangnya.
Vira membantuku dengan memeganginya mengarah ke lobangnya. Sekali laki masuk batangku kedalam lobangnya. Batang kumasukkan hingga setengah dan kembali mengocoknya perlahan lahan. Tanganku meraih
buah dadanya dengan pelan. Seperti orang terbangun, Vira kembali liar, bergerak mengimbangi tusukanku. Batangku terasa kencang, mulut Vira menganga saat nikmat terasa.
"Ooohhhh......oooohhh........aaaagghghhh!!!!!
Suaranya berulang ulang sambil mengerang mendesis dan mengumpat
Ujung kepala kontolku terasa sensitive, seperti meregang tergesek gesek dengan bibir vagina dan dindingnya. Leher batangku seperti menggesek lobangnya dengan keras. "Massssss......masssss...teruss.....terus masss" Tangannya meraih pantatku dan mendorongnya maju masuk lebih dalam.
"Ooohhh" aku teriak kencang
Bola bolaku terasa erat dan menegang. "Aku mau keluar .........!!" kataku
"Cepat goyangnyaaaaa......terus massss...terussssss!"
Aku makin kencang menusukkan batangku kedalam vaginanya, dindingnya seperti berdenyut denyut menghisap batangku. Cairannya
meleleh kemana mana, erangannya makin keras saat tusukanku menghujami dinding bagian depannya.
"Aku ngga tahaaaaaannn........keluar!!" aku cabut tarik kebelakang sementara Vira memajukan badannya. Tangannya meraih batangku dan mengurutnya dengan lembut. "Crrootttt...crrooott"
semburan spermaku muncrat mengenai kulit pantatnya sementara nafasku tersengal sengal. Aku mengerang kenikmatan, tangannya terus mengurut batangku dngan kasih sayang. Mulutku mencari lehernya dan membenamkan wajahku disana. Naira dan Adrian termangu memandangi kami. Adrian geleng
geleng melihat prsetubuhan kami. Aku baru sadar saat pandanganku mengarah ke mereka. Vira berjalan ke kamar sambil mmegangi pantatnya yang berlumuran spermaku. Sementara tangan satunya menutupi dadanya. Mataku kembali trtutup, masih terasa denyutan lembut saat sisa sperma keluar.
Sekitar jam 3 sore kami keluar untuk makan di sebuah rumah makan di seberang kolam renang. Hujan telah berhenti, hawa segar terasa menerpa wajah kami. Vira telah nampak rapi dengan rambut di ikat seperti ekor kuda. Sementara Naira tidak kalah menarik tapi dengan wajah agak kesal
"Rumah makan Bangun Trisno" di Jalan Balaikambang terlihat sepi karena jam makan siang telah lewat. Meja dan kursi terlihat rapi dan terasa dingin.
Kami berempat duduk satu meja dan berbincang ringan.
"Siapa mau berenang?" pancingku sambil memandang kearah kolam renang yang
terlihat dari balkon rumah makan itu.
"Aku mau................." kata Naira menyahut "Tapi aku ngga bawa baju renang"
"Bisa sewa di dalam" kata Adrian
"Ngga deh kalau sewa" jawabnya
Pelayan datang membawa buku menu dan menanyakan apa yang ingin kami pesan.
"Mas, mau pesan apa?"
kata Vira dengan pelan, tangannya menyentuh lenganku lembut. Sementara lembaran menu dia baca, dia memberitahu bahwa dia mau makan sate lontong.
Aku mau soto ayam Lamongan dan teh manis. Adrian menanyakan apa yang Naira ingin makan. Dia ingin makan nasi rawon dengan sup dipisah.
Setelah menulis pesanan, pelayan pergi untuk menyiapkan makanan.
Aku mengambil krupuk udang yang berada didalam toples. Membuka plastiknya dan menggigitnya "Kriaaakk!.......enak" kataku otomatis
Suasana di meja agak canggung, Naira dan Adrian seperti sedang memikirkan sesuatu.
Vira mengambil secuil kerupuk udang dari tanganku dan memakannya. Karena terasa enak, dia mengambil sebagian lagi.
"Mbak Naira .......krupuknya enak!" kata Vira
"Aku males.... kita jalan jalan lagi setelah makan ya?" katanya
"Okay.......!" jawab Vira
Pelayan datang membawakan
soto ayam lamongan yang aku pesan. Kuahnya mendidih dan kepulan panas kuahnya terlihat. Semua memandang kearah sotoku yang ada di meja.
"Aku makan duluan ya?" kataku memberitahu
"Aku minta sedikit........" kata Vira menyela setelah sendokan pertamaku
Aku sendokkan dan meniupnya
sebelum menyuapkan sendokanku.
"Aduuuuh masih panas" katanya teriak. Nasinya dia tiup-tiup sambil menahan.
Kita semua ketawa melihat aksi Vira, tangannya memegang lenganku menahan panas makanan dimulutnya.
"Aku kira sudah tidak panas" jawabku ringan
"Lagi....!" katanya ringan
Pesanan Naira muncul bersamaan dgn pesanan Adrian. Nasi rames lengkap dengan serundeng & daging sapi. Sementara nasi rawon yg Naira pesan juga terlihat enak dengan kuah masih mengepul.
"Pesananku mana, mbak?" tanya Vira kepada pelayan
"Sebentar lagi mbak, masih dibakar satenya"
Aku menyuapki Vira soto ayamku beberapa kali lagi sebelum sate dihidangkan didepannya. Sepuluh tusuk sate dan potongan lontong tebal dilumuri saus kacang dan kecap manis. Taburan irisan bawang merah membangkitkan selera.
"Mas mau....?" tanya Vira sebelum makan
"Mau...nanti saja"
"Mbak Naira mau coba sateku, ...Mas Adrian?" kata Vira bergantian.
Naira menggelengkan kepala, sementara Adrian mengulurkan tangan kanannya dan mengambil setusuk saat mengatakan "Coba satu ya?"
Tangan Vira mengangkat piringnya mendekat kearah Adrian.
"Terima kasih, Vir" katanya
Aku mengambil satu sate dan mencoba merasakannya.
Dagingnya sangat lembut, aku curiga ini bukan sate ayam tapi sate daging kelinci. Saus kacangnya sedap dan lembut di mulut. Aku mengangkat tanganku untuk menarik perhatian pelayan. Pelayan yang melayani kami datang dan aku
memesan 30 tusuk sate dan 2 porsi lontong terpisah.
Adrian kaget dan tersenyum, Vira berceloteh bahwa dia mau lagi.
"Enak ya mas?" tanya Naira
"Iya....kamu harus mencobanya, Naira" kataku untuk pertama kalinya kepadanya.
Selagi menunggu sate, kami berbicara tentang apa yang akan
kami lakukan setelah makan. Adrian mau turun ke air terjun, Naira mau berenang, sementara Vira ingin jalan-jalan saja. Aku juga mau berenang.
"Ya sudah........Mas Arjuna temani Mbak Naira berenang. Aku jalan ke air terjun sama Mas Adrian"
"Iya......aku setuju" Naira menyahutnya
Sate dihidangkan sekitar 15 menit kemudian. Tangan2x kami berebutan memulai mengangkat sate yang terhidang. Naira tak mau ketinggalan, dia juga mengambil dan mencoba mencicipinya. Dia makan 4 tusuk secara keseluruhan dan beberapa potongan lontong yang dia cocolkan di saus kacang.
Kami sangat kenyang dan aku membayar seluruh makanan yang kami pesan. Adrian membeli rokok Sampoerna A mild dan menghisapnya saat kami berjalan menuruni tangga rumah makan. Vira mengambil kotak rokok dan mengambil sebatang. Kami semua kaget dengan apa yang dia lakukan. Dia tidak
pernah merokok selama dia berada di Solo. Entah keberanian darimana saat akhirnya dia meminta Adrian untuk menyalakan korek api untuknya. Kedua jari yang menjepit batang rokok terasa luwes.
"Kenapa mas.....kaget ya?" tanya Vira kepadaku
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya.
Diparkiran sepeda motor kami berpisah, Vira membonceng Adrian untuk berjalan turun ke Air Terjun. Sementara kami menyeberang ke tempat kolam renang umum tepat diseberang rumah makan Bangun Trisno.
Baru sadar diriku bhw nama rumah makan memiliki arti yang begitu indah. #ceritaseks
Bangun Trisno yang berarti Membangun Cinta, kami berjalan kearah loket dan menanyakan apakah mereka menjual baju renang wanita. Penjual tiket mengiyakan dan meminta kami untuk membayar tiketnya. Aku bayar 30 ribu untuk dua orang dan berjalan masuk ke sebuah toko di bagian kanan.
"Mas belikan aku baju renang ya?" tanya Naira
"Kamu pilih mana yang kamu suka" kataku sambil memilih celana renang buat aku.
Naira memilih beberapa baju renang model one piece dan menunjukkan kepadaku mana yang bagus.
"Aku tidak tahu, menurutmu mana yang cocok?"
#ceritadewasa
"Kalau yang pink bagaimana mas?" tanya Naira sambil mengepaskan ke tubuhnya.
"Bagus juga sesuai warna lipstick yang kamu pakai" kataku terus terang
Bibir Naira mengembangkan senyum manis, & berbalik kearah fitting room, aku membeli celana renang hitam. Naira keluar dari fitting
room, aku menoleh kearahnya.
"Bagaimana pas ukurannya?" tanyaku
"Iya pas......aku pakai sekalian ya, mas?" katanya meminta ijin.
"Iya.......tapi kamu pakai kaosmu dulu saat keluar toko?" kataku
"Okay........!" dia kembali masuk ruang fitting dan memakai kaosnya serta keluar.
Aku membayar apa yang kami beli dan berjalan kearah pengambilan kunci locker.
Setelah menerima kunci, kami memasuki tempat basah. Secara otomatis tanganku meraih lengannya, menjaganya spy tdk terpeleset.
Tangannya meraih tanganku, untuk pertama kalinya aku menyentuh tangannya.
Air kolam renang sangat dingin, pori pori kulitku mengecil reaksi saat menyentuh dinginnya air.
"Kamu yakin mau masuk ke dalam kolam?" tanyaku
"Iya...!" katanya percaya diri
"Duduk dibibir kolam sini. Masukkan kakimu supaya badanmu tidak kaget saat terbenam didalam air dingin.
Kembali tanganku ku ulurkan untuk membantunya duduk. Lantai terasa dingin, baju renang one piece yang dia pakai tidak menutupi seluruh pipi pantatnya.
"aaaauch........!" katanya saat terduduk dipinggir kolam.
"Cepat masukkan kakimu kedalam air!" kataku
Kami duduk berdampingan
dengan kaki menjulur kedalam air. Sambil gerak-gerakkan supaya suhu badan bisa menyesuaikan.
"Kamu bisa berenangkan?" tanyaku ingin tahu
"Tidak bisa...!" katanya
"Loooh...?" kataku kaget
"Kenapa minta berenang?"
"Aku ingin belajar....!"
"Hahahahaaa......" tawaku terlepas bebas
Dia tersipu saat mendengar aku tertawa lepas. "Kenapa?" tanyanya ingin tahu. Mas...bisa berenang kan?" tanyanya penasaran
"Bisa.......!" kataku
"Pas kalau begitu.........mas ajari aku berenang!"
Aku menceburkan badanku kedalam kolam, dan menenggelamkannya supaya seluruh badanku
menyesuaikan suhu air. Air berada tepat di atas dadaku. Kakinya menjulur kebawah, tenggelam sebagian didlm air. Kulitnya mulus & tidak bercacat, tak ada bekas luka dan goresan sama sekali dikulitnya. Sebuah tahi lalat berwarna agak coklat muda menghiasi paha dalam kaki kanannya.
Mataku tertangkap olehnya saat memandang ke spot itu. Otomatis tangan kanannya menutupi sambil dia mengangkat kaki kanannya. Apa yg dia lakukan justru memberiku akses utk melihat gundukan memeknya, karena akses kearah sana terbuka saat paha terangkat.
"Sudah sini turun ke kolam"
kataku sambil mengulurkan tanganku
"Aku takut tenggelam.......!" katanya sedikit manja
"Tidak terlalu dalam disini, hanya setinggi dadaku. Pas untuk belajar berenang" kataku meyakinkannya
Dia tidak beranjak.......sinar matahari muncul sesaat kemudian. Cahayanya menerangi sesaat
karena awan kemudian menutupi dan menghalangi cahayanya lagi. Aku pegang kaki kirinya pura pura akan menarik masuk kedalam kolam.
"Weeeiiiiii....jangaaaaaan!" katanya dengan kaget dan tertawa. Terus kupegang kakinya sambil menarik2x masuk.
"Jangaaan mass.....iya...iya aku turun!"
Badannya dia bungkukkan, dadanya condong kedepan, tangannya meraih pundakku untuk tumpuan. Aku memegang tangan satunya untuk membantunya turun.
"Dingiiiinnnn......!" katanya sambil menggoyangkan tubuhnya. Tangannya meraih badanku untuk memeluk karena dinginnya air. Air berada
Air tepat berada didagunya, sehingga dia harus jinjit supaya air tidak masuk ke hidungnya.
"Mas..terlalu dalam!" katanya
"Masukkan kepalamu sekalian ke dalam air, supaya rambutmu basah sekalian."
Dia melakukan apa yg kuperintahkan, kepalanya dia benamkan dan segera muncul sambil
mengatur nafasnya. Tangannya mencengkeram lenganku kuat-kuat. Tiba tiba dia melompat dan kakinya membelit tungkaiku.
"Maaaassss....agak kepinggir sana. Aku takut tenggelam. Dasar kolam sangat licin, aku takut terpeleset"
Aku meraih tubuhnya dan bergeser agak ke kanan.
"Sudah"
Dadanya menempel erat ketika dia menghimpitkan badannya. Tanpa komando batangku bangun bereaksi.
"Sekarang tanganmu berpegangan di pipa yang menempel di dinding kolam."
Dia lepaskan tangannya dari lenganku, aku membantunya mengatur tubuhnya supaya bisa mengapung.
"Gerakkan kaki
supaya badanmu naik" kataku memberi instruksi.
Baju renang one piece yg dia pakai memiliki potongan punggung yang rendah. Mataku melihat kulit mulusnya terpampang saat dia mulai mengapung.
"Kakimu kurang keras mengayuh" kataku sambil membetulkan gerakannya.
"Begini..?" tanyanya
"Iya terus.........perutmu dinaikkan" kataku sambil menyentuh bagian perut dan mengangkatnya naik hingga dibawah permukaan. "Jangan berhenti mengayuh! Wajah menghadap ke air, mata boleh dibuka" kataku
"Aku tidak bisa bernafas!" katanya
"Naikkan kepala kalau mau bernafas" tanganku
masih menempel diperutnya. "Terus kaki goyang!"
"Aku capek!" dia berhenti smbl mengangkat kepalanya. Wajahnya menghadap kearahku.
"Sdh berhenti dulu!" katanya sambil berusaha berdiri. Kembali tangannya meraih badanku.
Kembali kontak badan terjadi.
"Sekarang belajar meluncur!"
"Tunggu.....aku masih atur nafas. Cuuuup......cuuuup!" bibirnya mengecup kulit didadaku"
"Geliiii......" kataku pura pura tapi dalam hati senang.
Tanganku yang memegang punggunya mendorongnya pelan kearah pingging kolam.
"Sini.....aku tunjukkan bagaimana meluncur!" kataku
Aku lepaskan pegangan tangannya & menaruhnya di pipa dinding kolam.
"Lihat posisi kakiku yang ada didalam kolam. Tekuk satu dan jejakkan ke tembok. Saat meluncur nanti posisikan tanganmu begini" kataku sambil memberi contoh.
"Kenapa tangan harus begitu?"
"Supaya jauh luncurnya"
"Oh gitu ya?"
Lihat aku kasih contoh. Aku memposisikan untuk meluncur dan melakukannya dengan tenang.
"Kepala menghadap kedalam air ya" kataku saat aku kembali menghadap kearahnya "Sekarang kamu coba" kataku memberi perintah.
Aku berdiri agak dekat supaya dia tidak takut.
"Gerakkan kakimu seperti saat kamu belajar mengapung tadi. Satu......dua.....tiga......!!"
Dia meluncur kearahku, masih belum sempurna tapi dia mau mencoba. Aku memegangnya saat dia akan berhenti. "Bagus....!" kataku
Dia gelagapan karena belum bisa mengatur nafasnya. Mukanya
merah karena menahan nafas. Untung tanganku segera mengangkatnya. Kali ini kedua kakinya menjepit pinggangku.
"Aku hampir tenggelam........!" katanya sambil nafas terengah engah
"Tidak mungkin......" kataku sambil memeluknya "Sini aku gendong dipunggung" kataku sambil mengangkat
tubuhnya kebelakang.
"Mas mau apa?" tanyanya
"Aku mau ajak kamu berenang dibagian dalam sana" kataku sambil melangkah.
"Ngga aaaah.......aku takut tenggelam" teriaknya
"Tenang aku bisa menolongmu" langkahku perlahan lahan bergeser kearah selatan kolam yang lebih dalam. Batas air
naik ke dagu bawahku. Pelukan Naira makin kencang.
"Mas...aku takut" katanya
Tangannya memeluk erat leherku, kakinya mengencang menjepit pinggangku. Seperti naik kuda, dia naik turun berulang-ulang. "Aku taakuuttt.......kembali ke pinggir sana!"
Aku tersenyum dan nekat mau meneruskan, tapi lenganku dicubit dan dicakar. Aku akhirnya berjalan balik agak
kepinggir. Tanda merah cubitan tangannya membekas di tanganku. Rasa perih terasa karena ada kulit yang terpotong oleh kuku jarinya.
"Sakit....cubitanmu bikin perih!" kataku
Wajahnya menengok ke bekas cubitannya. "Rasain......disuruh ngajari renang kok mau kau tenggelamkan aku"
"Hahahahaha........" ketawaku tak bisa kubendung.
Tiba tiba bibirnya mencium wajahku.....
"Muaach..... maaf ya mas? Sakit?" katanya tiba-tiba
"Lagi.......!" kataku manja
"Muaach....." pipi kiriku dapat bagian. "Sudah....?" tanyanya
Batangku mengeras saat ciumannya terasa dipipi.
"Hujan tiba-tiba turun lagi, guntur menggelagar cukup keras. Belum ada 30 menit kami berada di dalam kolam. Petugas jaga meniup puluit memperingatkan kami untuk naik dan meninggalkan kolam. Beberapa diantara perenang naik & duduk di kantin.
"Kamu mau minum wedhang jahe?" tanyaku
"Tidak......lebih baik kita kembali ke kamar saja mas!" katanya menjawab
"Kenapa buru-buru?" tanyaku ingin tahu.
"Lebih enak bergumul di ranjang daripada di kolam renang." katanya sambil melirik kearahku.
Aku menaiki tangga keluar kolam, bau kaporit tercium menyengat dibadan
dan rambutku. Setelah berada diatas, aku membantu Naira menariknya keatas. Saat aku mengulurkan tanganku, mataku memandang gundukan payudara yang menyembul didadanya. Matanya memandangiku saat menatap gundukan itu.
"Suka dengan apa yang kamu lihat mas?" tanyanya sambil senyum2x
Aku tersenyum sambil mengangguk, "Bisa kamu ambil baju-baju yang ada di dalam locker? Aku mau pesan wedhang jahe untuk kubawa ke kamar" kataku sambil memberikan kunci locker kepadanya. Aku berjalan ke arah kantin dan memesan wedhang jahe untuk di bungkus. Saat mau bayar baru aku
sadar bahwa aku tidak membawa dompet.
Naira sedang berjalan ke arah ruang ganti saat aku melihatnya. Aku meminta celanaku dan mencari dompetnya. Aku agak kaget saat tak menemukan dompetku didalam kantong celana.
"Mas cari apa?" tanya Naira
"Dompetku......" kataku singkat
"Ini dikantong jacket" katanya cepat sambil memberikan jacket.
"Oh....iya..!" kataku lega
Aku mengambil celana dan baju serta jacketku, dan masuk kedalam ruang ganti pria. Aku keluar dan memberitahu kepada Naira bahwa aku pergi kekantin utk mengambil pesananku. Ketika Naira
menemuiku di kantin, pesananku telah selesai. Naira mengambil plastik berisi wedhang jahe.
"Mana celana renangmu mas?" tanyanya
"Ini didalam kantong jacket" kataku sambil menunjukkan kepadanya.
"Sini masukkan di kantong plastik ini?" tangannya mengulurkan kantong plastik berisi
baju renangnya dan celana dalam. Pikiranku langsung melayang berpikir bahwa dia tdk memakai celana dalam.
Perjalanan ke villa tidak memakan waktu lama ditengah hujan yg deras. Dia membuka pintu villa & aku mengekornya.
Bau kaporit air kolam masih menyengat. Aku segera kekamar
mandi diujung ruangan untuk bilas dan membersihkan rambutku. "Kamu punya shampoo?" tanyaku
"Ada, masuk saja ke kamar mandi, aku bawakan masuk" katanya
Aku lepas jaket yang basah dan menggantungnya di tali dekat kamar mandi. Kaos yang kupakai juga ku gantung disana. Aku melepas
celanaku didalam. Ada cairan lengket bening menempel dibagian dalam celana dalamku. Aku menyiramnya dengan air yang ada di bak air.
Airnya terasa lebih dingin dari air kolam renang.
Naira mengetuk pintu, aku membukanya. Pintu terdorong dari luar dan Naira melangkah masuk dgn
badan telanjang.
Aku tersenyum memandanginya, senang. Aku mengambil botol shampoo Head and Shoulder tapi tangan Naira lebih cepat. Dia meletakkannya di bibir bak mandi. Aku meraih tubuhnya dan menariknya ke arahku. Tubuhnya tidak menolakku, dengan melenggak lenggok dia mundur.
Batang kontolku bangun, saat tubuhnya masuk dalam dekapanku. Kulit tubuh telanjangnya menyentuh langsung tubuhku. Aku menundukkan tubuhku untuk mengulum bibirnya. Tangannya menangkap wajahku dan menariknya pelan kearah bibirnya. Pagutan lembut bibir bertemu, terasa lunak & basah.
Bibirnya terasa manis, lembut dan berbeda, aku menarik kepalaku mundur dan memandang bibir yang baru saja terlepas dari pagutanku. Mata kami bertautan sesaat sebelum aku melanjutkan lagi mengulum bibirnya. Matanya terpejam saat bibir kamu bertemu lagi, rasa lembut membangkitkan
percikan nafsu dan birahi. Lidahku menjalar menyentuhi bibir seksinya, sambil mengulum dan menghisap terkadang lidah kami bertemu. Perasaan melayang tinggi bersamaan rasa haus nafsu yang ingin terpuaskan. Tanganku melepas pipinya, turun ke dadanya. Dia menarik nafas dalam saat
tanganku menangkap putingnya. Aku menggenggam buah dadanya dan meraba gundukan daging yang menggelembung di dadanya.
"Ooohhhh.........!!" serunya lirih. Tanganku meraba raba dan menggenggam secara bergantian. Puting aku jepit dengan jari telunjuk dan jempolku, memilin lembut
ujungnya dengan pelan.
"Oooggghhh...... aaaaggghhh.....sstttt!!"
Erangan pelan dari mulutnya membuatku makin menggila. Aku mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya diatas bibir bak mandi. Leher jenjang aku jilat dari bawah keatas hingga ujung daun telinga. "Maaaaasss ....ssssttt"
Tiba tiba tangannya turun kebawah perutku, memegang batang kontolku dan mengurutnya pelan.
"Kamu bawa kondom tidak.....?" tanyanya diantara desahan mulutnya
Aku menggeleng...... "Aku beli dulu?"
"Jangan........jangan keluar didalam ya?" pintanya
Aku mengangguk, dia turun dari bak
mandi dan memutar tubuhnya membelakangiku. Dia membungkukkan badannya kedepan dan merenggangkan kedua pahanya. Tangannya dia tekuk diatas bibir bak mandi, tangan kanannya meraih batangku dan menariknya mendekat ke lobangnya.
Suasana sangat lengang, nafas kami terdengar ditelinga
kami. Seperti deruan berkejar kejaran, kami mencoba mengendalikan nafsu. Ujung batangku menyentuh lobang lumpur yang menghisap kedalam. Perlahan masuk kedalamnya, batangku terasa terbungkus sebuah daging dan menutupinya hingga mencengkeram. Terasa denyutan denyutan dari dinding
vagina. "Ohhhhh.......massssss..........." katanya saat batangku menyodoknya pelan. Pinggulnya ikut menggoyang pelan dan gesekan dinding vagina dan batangku terasa nikmat. Sementara tusukan lembut masuk maju, pantatnya dia mundurkan mengimbangi. Gerakan erotis pantatnya sangat
merangsang pandangan mataku. Tanganku meraih payudara yang menggantung dan menangkap putingnya yang mengeras.
"Terrruuuuusss...terusssssss.....ohhhhhh....sssstttt!!! ....Enaaaakkk...teruss masss....terussss......"
Batangku melesak masuk......dalam hingga menggesek gesek dinding
dalamnya. Penetrasi dalam membuatku menggelinjang senang, suara desahan yang keluar dari mulutnya membuatku mempercepat tusukan memaju mundurkan pantatku. Batangku mengeras.....mengaduk aduk vaginanya yang sangat basah. Rasa birahi dan nafsu berpadu membuat gerakan liar mengejar
nikmat. Tanganku meremas-remas daging teteknya.
"Ooohhh....ohhhh......." rasa nikmat memeknya mengikat. Aku melepas payudaranya dan mengangakat salah satu pahanya. Posisi baru, membuat gesekan di spot birahi yang lain.
"Ooohhhh.......ohhhh.....yeeesss...yessss.......maaasssss!"
Desahannya seperti permintaan..... "Teruuuussssstttt........ terusssss sayang...aduuuuhhh enaaaaaakkk sayaaangg ooohhhhhh....ampun......ampun.....terusss yaaaaangggg!"
Aku lepaskan paha yang aku angkat. Aku hentikan tusukanku, spermaku terasa mau muncrat.
"Berhenti dulu....!"
kataku sambil mengatur nafasku. Tubuh kami basah oleh keringat. Naira berdiri tegak, ada gesekan lembut hingga batangku terlepas dari memeknya. Dia berbalik menghadap kearahku. Tangannya meraih pundakku dan akhirnya melingkar di leherku.
Kamu mengatur nafas kami, matanya terlihat
membengkak oleh nafsu.
"Kamu suka mas.....?" tanyanya sambil menatap
"Iya........enak!" kataku sambil menunduk ke dadanya.
Aku meraih salah satu dadanya dan menghisap putingnya. Tangan kiriku merapat ke tengah selangkangan dan meraba lobangnya.
"Masssaampunnnnn.... Massss..."
Kepalanya mendongak.......teriakannya lepas.... "ooohhhhhh....agggghhhhh....massss aduhhhhhhh ampun........ampunnn.....ohhhhhh....."
Dia tarik lenganku untuk berdiri, sambil berhadapan tangannya meraih batangku. Aku posisikan dia diatas bibir bak mandi dan membuka kedua pahanya
Kutelusupkan masuk batangku......"Bleeeesssss....!!!
Aku tidak mau menahan lagi, birahi dan nafsuku menderu ingin terpuaskan.
"Na.....akuuu mau keluarrr......" kataku memperingatkan.
Batangku menegang, bola bolaku seperti dicengkeram.
"Keluarkan.....keluarkan........" serunya
seperti sebuah dorongan roket yang kuat, gerakanku membabi buta menusuk dan mencolek-colek dinding vaginanya. "Jangan...didalammm.......!" serunya
Aku gerakan maju hingga dalam dan denyutan batangku makin terasa.
"Aaaaaaahhh......aghhhhhh......." Aku cabut batangku dan tangannya
menangkapnya sambil mengocok seperti sudah pengalaman. Sentuhan tangannya dikepala batangku merangsangnya makin kuat. Seperti jet yang kuat, spermaku meluncur keluar deras. "Crootttt.....crooottt!"
Aku memeluknya sementara tangannya terus mengurut batangku. Urutan tangannya
menentramkan kebutuhan jiwaku.
"Oohhhhh.......oohhhhhh.......ssssssttttt ooohhh!" erangan keras keluar dari mulutku.
Letupan-letupan kecil masih keluar dari batangku. Tangan satunya menangkap bola-bolaku sambil merasakan hangatnya kulit bola.
Badanku terbenam dalam dekapannya.
Tangannya dengan lembut memegang batangku yang telah melembek. Mulutnya mencium pundak telanjangku.
"Terima kasih sayang......." bisikku
"Terima kasih juga sayang........" balasnya "Berdiri....tanganku masih berlumuran sperma" imbuhnya
#morningseks
Aku menegakkan tubuhku dan
membantunya utk membersihkan tangannya.
Badanku terasa ringan, setelah sperma muncrat keluar. Setelah mandi bersama & memakai baju, aku tergelepar tidur diatas ranjangku. Aku tdk sadar dimana Naira melepas lelahnya. Saat aku bangun sekitar jam 8 malam, kamar Villa terasa lengang.
Baru teringat saat ada suara motorku berhenti didepan halaman Villa. Aku bangun dan berjalan ke arah pintu.
Sebelum aku sampai dipintu, pintu itu terbuka. Naira melangkah masuk dan memandangku dengan tersenyum.
"Sudah bangun mas?" tanya, kedua tangannya membawa kantong plastik.
"Apa itu?" tanyaku
"Makanan........aku inisiatif beli makanan sebab aku tadi sempat lihat rumah makan tutup jam 8. Takutku ngga ada orang jual makanan, aku belikan sate lagi 30 tusuk sama lontongnya" kata Naira menjelaskan.
"Kamu tadi bisa tidur?" tanyaku
"Iya bisa sekitar 1 jam"
"Adrian sama Vira belum pulang?" tanyaku khawatir
"Belum......aku juga heran kenapa sampai larut begini belum datang." Naira menaruh makanan diatas meja dan membuka bungkusan sate serta lontong. Aku duduk dikursi dan makan bersamanya.
"Aku pesan teh manis panas ke pemilik Villa"
"Aku tadi beli minuman jahe apa masih bisa diminum ya?" tanyaku
"Sudah....jangan di minum, sudah terlalu lama tidak baik apalagi disimpan didalam plastik"
Terdengar ketukan di pintu, aku bangkit dari kursi untuk membukanya. Seorang anak perempuan sekitar 12 tahun membawa sebuah
baki dengan dua gelas teh panas diatasnya.
"Om..ini pesanan tehnya" kata anak itu "Bisa pesan nasi goreng atau mie goreng juga om, kwee tiaw medan juga ada." katanya
Aku mengambil baki dan membawanya masuk, anak perempuan itu berdiri menungguku.
"Berapa..?" tanyaku
"10 ribu Om!"
Aku mengeluarkan dompet dan mengambil selembar uang 10.000 dan memberikannya kepadanya. Anak itu mengambil uang & berjalan keluar setelah menutup pintunya dengan pelan.
Pikiranku kembali resah mengingat Vira belum kembali, setelah makan sate dan minum teh panas yang Naira pesan.
Aku berencana keluar mencari mereka tapi Naira keberatan ditinggal sendiri di kamar Vira. Aku berusaha meyakinkan bahwa di sini selama berada di kamar tidak akan ada masalah.
Vira akhirnya mengijinkan aku keluar untuk mencarinya. Aku tidak tahu harus mulai darimana mencarinya.
Timbul ide untuk ke pos polisi yang terletak tak jauh dari terminal bis. Aku akhirnya mengarah kesana dan melihat Vira dan Adrian sdng mendorong motornya. Wajah mereka nampak lelah, ternyata rantai motor putus dan ban belakang ada masalah. Wajah mereka lega saat mereka melihatku.
Mereka berdua terlihat sangat lemah. Aku merasa bersalah kepada Vira karena membiarkannya pergi dengan Adrian.
Kami berbincang bincang sejenak, aku mendengarkan penuturan mereka dan akhirnya memutuskan untuk memberikan Adrian motorku supaya dia bisa membawa Vira kembali ke Villa.
Seorang pengendara motor berhenti "Om ada masalah apa dengan motornya?"
Aku menoleh kepadanya, seorang pria sekitar 40 tahun dan paras wajah "Wong Ndeso" tersenyum.
"Ini pak rantai motornya putus" kataku menjawab
"Di samping kantor polisi ada bengkel, bawa kesana saja. #cerpen
Sini saya bantu dorong" katanya "Om naiki saja motornya!"
Aku melakukan apa yang dia katakan dan lelaki itu membantuku mendorong dengan kaki menjejak di palang dudukan kaki. Saat sampai di bengkel, pemiliknya sedang menutup pintu bengkel.
"Sudah tutup, kalau mau titip saja disini
besok pagi tinggal ambil dalam keadaan sudah selesai"
kata pria bermata sipit yang adalah pemilik bengkel "MAKMUR MOTOR"
"Titip saja om.....hemat waktu. Besok tinggal ambil" kata Wong Ndeso
"Masalahnya apa?" kata pemilik bengkel menanyakan
"Rantai putus sama ban belakang ada
ada masalah. Tolong di cek kan sekalian." kataku
"Ya.....sudah tinggal saja disini besok tinggal diambil" katanya
"Jam berapa bengkel buka Koh?" tanyaku
"Datang saja jam 10, motor sudah jadi kalau jam segitu"
Aku menyerahkan motor dan Wong Ndeso mengantarku kembali ke Villa.
Aku memberinya uang Rp 25.000 setelah sampai di Villa dan dia menerimanya dengan gembira.
"Terima kasih Pak" kataku tulus
"Saya yang harus berterima kasih, om mau dijemput besok untuk mengambil motor di bengkel?" tanyanya
"Tidak pak, ada teman yang bisa bantu" kataku menjawab
Pintu villa terkunci saat aku mengetuknya, Naira membuka pintu sementara Vira dan Adrian sedang makan.
"Kubawa ke bengkel sepeda motormu!" kataku sambil berlalu ke kamar mandi. Badanku terasa kotor dan dekil karena keringat setelah mendorong motor Adrian. Aku menyuruh Vira
Vira mengambilkan baju kaos dan celana dalam. Tapi tangannya kotor karena sedang makan tanpa sendok. Naira menawarkan diri untuk mengambilkannya.
Dia tersenyum saat tangannya memberikan bajuku kepadaku.
"Kami tadi mau ke Danau Sarangan setelah keluar dari air terjun" kata Vira
"Tapi tanjakannya terlalu tinggi, motor tak kuat nanjak hingga terputus rantainya."
"Kenapa kau tidak ajak kami, Adrian?" tanyaku
"Kalian sedang berenang, mana mau kalian keluar dr kolam?"
Aku berpikir sejenak dan mengiyakan apa yang Adrian bilang.
Kenapa tadi kamu tak memberi
tahu aku Vira, saat mau berangkat ke Sarangan?" tanyaku
"Hpku tidak ada signalnya mas. Aku tadi sdh berusaha menelepon tp tidak ada jaringan signal"
Aku terdiam dan bersyukur bhw mereka telah kembali dengan selamat. Aku tak bisa membayangkan kalau ada apa apa terjadi pada Vira.
"Aku mau tidur sama Mas Adrian....!" Suara Vira memecah kesunyian.
Aku menoleh ke arah Naira.
"Tidak masalah" sahut Naira sesaat setelah aku memandang kearahnya.
Dia bangkit berdiri dari kursi dan berjalan kearahku.
"Ayo mas....kita tidur" katanya sambil menarik tanganku.
Aku berdiri dari dudukku di lantai mengikuti tarikan tangan Naira.
"Kalian ngga bosan berada di kamar tanpa melakukan apapun?" tanyaku ingin tahu
"Aku capek mendorong motor!" kata Adrian
"Aku mau tidur juga!" sahut Vira
"Ya sudah.......kita tidur" kataku
#ceritaseks #chatsex
Aku membaringkan tubuhku dikasur dan mengeluarkan handphoneku, suasana sangat sunyi. Lampu diplafon dipadamkan, Naira berdiri lagi dan berjalan ke arah kamar mandi. 5 menit kemudian dia keluar sambil membawa sesuatu ditangannya. Aku tidak tahu apa yang dia bawa karena ruangan
gelap.
"Mas......?" katanya setelah dekat di pembaringan
"Kamu tidak sikat gigi?" katanya
"Aku tidak biasa sikat gigi sebelum tidur" jawabku
"Jangan cium aku kalau begitu!" guraunya sambil memandang kearahku.
"Ya.....aku sikat dulu ya?" kataku singkat sambil bangkit dari dipan.
"Yang bersih supaya gigi tidak berlobang...." imbuhnya.
Vira berbaring disamping Adrian, tangannya nampak canggung memeluknya. Mata mereka terpejam oleh rasa lelah setelah mereka mendorong sepeda motor. Aku lewat dan masuk kedalam kamar mandi. Sekembalinya dari sikat gigi, aku
melihat Naira sedang memegang handphoneku.
"Kamu sedang cari apa.......?" tanyaku
"Passwordnya apa mas.......?"
"3699...." jawabku singkat
Tangannya bergerak memencet keypad pelan-pelan.
"Aku mau dengarkan musik, bagaimana caranya?"
Aku berbaring disebelahnya dan mengambil
handphoneku dari tangannya.
"Kamu mau lagu apa...?" tanyaku
"Lagu cinta apa yang enak didengar.....?"
"Okay...dengar sambil tutup matamu, menikmati alunan musik dan lyricnya" kataku membisikkannya di telinganya
"Naira menarik nafas panjang dan dalam, punggungnya membelakangiku.
Aku menaruh Handphone ku diatas meja disamping tempat tidur. Lagu terdengar lirih dari speaker handphone, suaranya terdengar manis diteling.
"Strumming my pain with his fingers.....
Singing my life with his words.....
Killing me softly with his song...
Killing me softly ........
Aku menggeser tubuhku mendekat kepunggungnya. Tubuh kami rapat bersentuhan. Tangannya meraih tanganku dan melingkarkannya kedadanya.
Suara lagu terasa sangat romantis, semerbak bau shampoo harum tercium. Tiba-tiba teringat kembali nama rumah makan yang kami kunjungi siang tadi.
"BANGUN TRISNO" sebuah nama dengan philosophy yang sangat bagus. Tubuh kami terasa santai, rileks dan tenang, tangannya erat memelukkan tangaknku didadanya, diantara dua gunung yg menonjol didadanya.
"Mas..kamu sudah ngantuk?" tanyanya
"Belum...kenapa?"
"Aku mau cerita2x dulu"
"Mau cerita apa...?"
"Terserah mas mau cerita apa?"
"Aku tanya boleh...?"
"Boleh..!"
"Kamu tinggal sama siapa, dimana?"
Naira tidak langsung membalas pertanyaanku, dia menarik nafas dalam. Dia bergerak dan memutar tubuhnya ke arahku. Matanya menatap mataku dalam.
#ceritadewasa
"Aku tinggal sama mbah putri dari bapak. Bapak dan ibuku sudah meninggal waktu aku usia 10 tahun. Mas pernah dengar bis yang jatuh di jurang didaerah magetan? Bapak dan ibuku adalah dua dari beberapa penumpang bis itu. Mereka sedang mengunjungi adik ibu yang sedang menikah.
Aku anak tunggal mereka jadi aku tinggal hidup sama mbah putri. Ada rasa sedih menjalar saat suaranya bergetar menceritakan kejadian itu.
"Kamu cantik Naira.............!" kataku tiba-tiba
"Iya....banyak yang berkata sama seperti itu"
"Kamu bisa kenalan sama Adrian bagaimana?"
"Ada temanku yang mengenalkannya beberapa bulan lalu. Dia jualan majalah, aku bantu jual-jualkan."
"Kamu tidak takut ditangkap polisi, kalau jualan majalah seperti itu?" tanyaku
"Aku pernah di tangkap, tapi dilepas lagi setelah saudara bapak yang tentara datang mengambil aku"
"Kapan kamu melepas keperawananmu?" tanyaku agak berani
"Hmmm......waktu aku kelas satu SMA. Ada yang nawari aku uang 5 juta di Hotel Dana."
"Kamu tidak menyesal?"
"Tidak, aku butuh uang!"
"Siapa membantumu mencarikan pembeli?"
"Ada mucikari yg terus memintaku melayani om itu"
"Sakit...?"
"Apanya.....?"
"Saat pertama kali melakukannya...?"
"Iya sedikit.....dan ketagihan!!" katanya jujur dengan senyum yang dia tahan.
"Terus....sampai sekarang masih jualan"
"Masih sama om yang memperawani aku, paling tidak ketemu sebulan sekali"
"Sama yang lainnya...?"
"Aku pilih pilih......" katanya
"Kamu tidak punya handphone?" tanyaku
Naira menggeleng..... "Mas mau beri aku hp kah?"
"Kamu mau aku kasih hp bekasku.....?"
"Yang itu......?" sambil menunjuk HP pertamaku
"Iya.........!!" kataku pendek
"Mau sekali......mas mau kasihkan ke aku?"
"Iya tapi nanti setelah aku beli yang baru...." kataku menyela
"Kapan mau beli baru?" tanyanya mendesak
"Minggu depan........" kataku asal menjawab
"Aku ikut ya kalau nanti mas beli.......?" katanya cepat
"Kamu tinggal dimana........?" tanyaku ingin tahu
"Di daerah Balong....!"
"Masuk gang....?" tanyaku
"Iya ........mas kok tahu?" tanyanya curiga
"Gang berapa....? Gang 3, 4 atau 5?"
"Tunggu.....Mas kok bisa tahu tempat tinggalku?"
"Aku kerja bantu bapakku loper koran, kebetulan daerah situ adalah rute antaranku" jawabku
"Aku tinggal di gang 5"
"Ohh...dekat sama Bu Kusuma penjual jamu terkenal"
Matanya memandangku penuh selidik "Kok tahu?"
"Jauh atau dekat?" desakku ingin tahu
"Sebelahnya pas.......!"
"Oh yang pagar warna merah maroon itu ya?" kataku ingin tahu.
"Iya......benar!" katanya dengan heran
"Aku setiap hari
lewat daerah itu kok nggak pernah ketemu kamu ya?"
"Aku jarang keluar kalau dirumah, kasihan mbah putriku sendirian. Kadang ada teman atau tetangga yang datang tp mereka selalu masuk didalam. Maklum tidak ada halaman depan" katanya menjelaskan
"Mas sudah ngantuk..?" tanyanya lagi
"Belum.......!"
Naira tiba-tiba memelukku dan wajahnya dia dekatkan didadaku. Aku melingkarkan tanganku kepinggangnya dan menariknya keatas tubuhku.
Dia menggeliat sedikit liar karena geli saat pinggangnya aku tarik naik. Posisi badan diatas menempel ketat, dadanya terasa empuk
tanpa penghalang BH, baju tidur berbahan satin yang halus menggambarkan lekuk tubuhnya. Kepalanya masih bersandar dia dadaku. Dia mendongak kearah wajahku sambil bertanya apakah dia tidak berat berada diatas.
Aku hanya menggelengkan kepala, tanganku memeluk tubuh yang menindihku.
Perlahan aku elus kepalanya, turun ke badannya. Aku tak kuat menahan gejolak nafsuku.
"Ada yg bergerak2x di bawah perutku?" katanya lirih dengan senyum mengembang.
"Kamu lapar?" tanyaku dengan lagak bodoh.
"Bukan di perutku tapi dibawah perutku seperti ada ular"
"Oh..itu belut"
"Bisa ditangkap dan digoreng"
"Jangan....biarkan dia merayap dan masuk kedalam rumahnya. Dia satu2xnya peliharaanku, kalau bisa dijaga supaya tetap lestari....hehehehe" tawaku tak bisa kutahan. Mulutku mengecup kepalanya dan tanganku meraba-raba cuping telinganya.
"Geli mas..!"
Badannya menggeliat seolah menghindari belokan tajam. Aku menjadi gemas karena gesekan badannya saat menggeliat memicu gesekan nikmat di batangku. Aku menurunkan tanganku kearah pinggangnya, gelitik sebentar di area sensitive dan geliatnya menjadi.
"Oooouch ....masss...berhenti"
Suaranya menyalak tapi ada nada manja, tanganku menurun lagi kali ini mendarat di gundukan pantatnya. Sambil menekan turun pantatnya aku agak tarik keatas tubuhnya. Wajah yang awalnya selevel dadaku, kini sejajar dengan wajahku. Nafasku terengah terpancing oleh nafsu ingin
menggaulinya lagi. Aku tekan lagi pantatnya, bibirnya memaguti mulutku, dia sapu bagian mulutku dengan ujung lidahnya. Dia kecupi bagian luar mulutku dengan lidah dan bibir bergantian. Birahiku makin menggebu. Tanganku menggerayangi masuk kedalam celana pendek yg dia sedang pakai
Erangannya menjadi agak keras, vocalnya meninggi. Posisinya diatas membuatku leluasa meraba raba & menusukkan jariku diantara kedua pahanya. Ujung jari telunjukku menelusuri bibir vagina yang telah basah, bibirnya basah dan licin. Dia menegakkan badannya dan mengeluarkan gumpalan
buah dadanya. Tanganku lepas dari jepitan pahanya dan merengkuh salah satu payudaranya dan mengarahkan kemulutku putingnya yang telah mengeras.
"Hisap mas......." rintihnya agak keras. Badannya menekan kebawah dan kedua pahanya mengangkangi batangku yang telah mengeras.
Salah satu tanganku mencengkeram gundukan payudaranya yang satu dan memilin pelan puting susunya.
"Ooohhh........" teriaknya lirih
Aku menoleh kearah Adrian dan Vira yang berbaring berpelukan. Samar samar mataku bertemu dan bertatapan dengan matanya. Dia tersenyum melihatku,
Vira juga membuka matanya. Mereka berdua memandang kearah kami, sementara Naira sedang menikmati alur nafsunya.
Aku menggulingkan tubuhnya kesamping dan mengubah posisinya dibawahku. Badanku menindihnya seperti memaku tubuhnya. Kedua pahanya dia buka lebar menerima badanku.
Tangannya meraih kaos yang aku pakai dan menarik keatas ujung bawahnya. Aku juga membantunya melepas baju atasan yang dia pakai. Dadanya terbuka, kulit tubuhnya mulus dan terasa hangat. Celana yang aku pakai aku turunkan dan membantunya melepas celana yang dia pakai setelah itu.
Adrian sibuk dengan Vira di ranjang sebelah. Tangan dan mulut mereka sibuk berpagutan dan saling meraba. Aku tidak menghiraukan apa yang mereka lakukan tapi nampaknya mereka juga sedang menikmati kebersamaan.
"Aku mau diatas........" Naira memintaku.
Tanpa menunda aku baringkan
tubuhku dan mengangkat tubuh Naira untuk tegak, dia menolaknya. Dia menurunkan badannya hingga wajahnya bersejajar dengan batangku. Mulutnya meraih batang kontolku dan memasukkan kedalam mulutnya. Tangannya mengurut batang sedangkan bagian kepala batangku dia hisap pelan.
Aku menarik tangannya dan menghentikan hisapannya, takut tak akan bisa tahan lama. Dia menaikiku dan merenggangkan pahanya untuk mengangkang, tubuhnya membelakangiku. Perlahan lahan dia menurunkan tubuhnya dan kembali batangku masuk kedalam lobang sarangnya. Cuaca dingin berubah
saat batangku berada didalam lobangnya. Kehangatan meresap dari ujung batang dan dengan gerakan gemulai dia menaikkan badannya dan turun. Belahan pantatnya terlihat jelas didepan mata. Batangku menusuk2x kedalam lembah nikmatnya. Gerakan naik turun mengakibatkan batangku menampar
nampar dinding vaginanya.
"Aduuhhh masssss....." katanya mengerang mengaduh oleh rasa nikmat. Batangku terasa kaku dan keras aku sempat menoleh kesamping lagi melihat Adrian dan Vira bergumul. Baju mereka juga telah hilang, Vira berada dibawah sementara Adrian sedang mematukkan
batangnya kedalam. Vira nampak tidak begitu bergairah melayani Adrian. Tiba tiba Naira meregang dia melepas batangku dan memutar tubuhnya kearahku. "Aku capek diatas..." katanya lirih
Dia merobohkan tubuhnya kedepan dan mencoba mengatur nafasnya. Aku menusukkan batangku kembali
kedalam lobangnya dengan mengangkat pantatku. Tusukan pertama tidak masuk karena posisinya terlalu tinggi sehingga batangku meleset. Tangannya membantuku untuk mengarahkannya kedalam lobang.
Tusukan kedua masuk dan kepalanya menyentuh bibir lobang luarnya. Naira mendesis panjang.
Aku menyodok nyodokkan batangku semakin keras, sementara Naira memompa naik turunkan badannya. Jeritan lirih terdengar dari Adrian "Aku mau keluar...!"
Dia menggocok batangnya kedalam lobang Vira yang sedang berposisi seperti anjing. Tusukan batang Adrian semakin cepat dan tiba
dia terhenti sambil mencengkeram batangnya. Semprotan spermanya dia tampung ditelapak tangannya yang dia cekungkan. Vira menoleh kearahnya sambil membungkuk.
"Awas menetes" dia memperingatkan
Adrian turun dr tempat tidur dan berjalan kearah kamar mandi. Sementara Vira memandang
"Sini........!" kata Naira sambil melambaikan tangannya
Vira turun dari tempat tidurnya dan melangkah mendekat. Payudaranya bergantungan didada bergerak sangat menggoda. Dia rebahkan tubuhnya disisiku dan menciumiku dengan nafsu. Tangannya meraih dadaku dan meraba raba putingku.
Dua wanita sedang menggauliku. Vira memiringkan badannya turun dari atas badanku, Dia menarik Vira untuk mengganti posisinya. Kini Vira diatasku, tangannya meraih batangku dan memasukkannya ke lobang yang sedang menganga. Dia pacu pelan saat batang telah masuk semua. #ceritaseks
Seperti sdg memacu kuda, dia lontarkan badannya naik turun. Kedua tanganku meraih pantatnya, sementara Naira membantuku menghisap puting susunya. Vira meraung...gerakannya makin liar seperti berontak ingin lepas, tangan kananku meraih lobang Naira & meraba raba bibir kemaluannya.
Akses dia buka dengan membuka kedua pahanya, tanganku meraih ditengahnya dan jari tengahku menusuk kedalam lobangnya. Aku tidak bisa konsentrasi mana yang harus aku puaskan. Jari-jariku aktif menusuk nusuk, sementara batangku menusuk-nusuk lobangnya Vira. Keadaan memanas saat
Adrian keluar dari kamar mandi. Dia berjalan kearena dan nimbrung disebelah Naira dan mengulum buah dadanya. Vira meledak saat klitorisnya bergesekan dengan kulitku, batangku masih terus menghujam dan menampar menggesek dinding memeknya. Terasa dinding vagina berdenyutan semakin
kuat dan sering.
"Masssss aku mau......dapaattt!!" katanya tengah berteriak. Badannya mengencang, kepalanya mendongak dan tangannya menarik rambutnya.
"Aaaaaaghhhhhh........ooohhhh........" Akhirnya dia roboh dan tengkurap diatas badanku. Vaginanya basah dan licin, aku gulingkan
kesamping dan menarik tubuh Naira dan merebahkannya ke ranjang. Adrian membantuku menghisap puting susunya, saat Naira terbaring. Kedua pahanya dia buka dan aku menindihnya. Batangku mendapatkan akses masuk dengan leluasa. Pahanya dia angkat posisi mengangkang, aku menurunkan
batangku telah sangat kaku, keras & siap meletus.
Bertubi tubi tusukanku masuk hingga kandas. Jeritan dan lenguhan terdengar, peluh membasahi tubuh kami. Aku miringkan tubuhnya saat batangku terasa panas. Gesekan kulit genital kami terasa nikmat karena licinnya lobang vaginanya
batangku belum merasakan tanda tanda akan menyemprotkan sperma. Aku menggulingkan badannya kesamping dan menaikkan salah satu tungkai kakinya. Dengan sedikit miring, aku kembali masukkan kedalam lobang honey pot. Aku memacu nafsuku, aku menggesekkan leher penisku dipermukaan
lobang memeknya. Naira seperti tak bisa lagi menahan nafsunya. Serangan diputing susunya menambah cepat dia mencapai klimax. Lelehan cairan terasa diujung batangku. Aku terasa lelah oleh karena goyangan maju mundur namun batangku tak kunjung terasa akan menyembur. Keringat
membasahi badanku. Aku berhenti sejenak saat Naira telah mereda. Aku terguling diranjang dihimpit Naira dan Vira.
Mata Vira melihat frustrasiku. "Mau dibantu keluarkan?" tawarannya menenangkanku. Aku mendekatkan tubuhku dan memajukan bagian pantatku sementara Vira membantu
mengangkat pahanya tinggi. Tangannya meraih batangku dan memasukkannya kedalam memeknya.
Batangku terasa dihimpit lagi oleh dua bagian daging yang membentuk vagina. Aku mendorong pelan dan dalam, Vira kembali bergoyang. Saat aku menusuk kedepan, dia menggoyang mundur mepet.
Tiba tiba terasa tangan Naira melingkar didadaku, aku tidak tahu apa yang Adrian lakukan. Bibir Naira menempel di leherku dan naik ketelingaku.
Dia membisikkan kata yang membuat birahiku memuncak
"Keluarkan sayang......ayo keluarkan......oohhh keluarkan...jangan ditahan"
Bibirnya basah dengan suara hampir merintih. Denyutan kini muncul, batangku menegang saat bola-bolaku terasa akan menyemburkan lahar panas dari dalam magma. Mulut Naira terus mengucapkan "semprotkan, keluarkan dan ayo yang......."
"Vira menaikkan tensi goyangnya dan batangku
mengeras dan menampar nampar hingga Vira menggelepar. "Ooohhhhhhh.........agggghhhhh....ssssttttt ampun massss...ampunnnnnnn.....ampuuunnn oooooohhh" Aku tak kuasa lagi menahan cairan spermaku
Aku mencabut batangku "Aku mau keluar ....!!" teriakku
Tangan Naira bergegas menangkap
batangku dan mengocoknya dengan kencang. Kulit tangannya membuat gesekan erotis di atas kepala penisku. Rangsangan yang intens membuat ledakan dan semprotan dari lobang penisku berhamburan. Semprotan pertama mengenai tubuh belakang Vira, selanjutnya meleleh ditangan Naira.
Rasa lega saat sperma nyemprot terasa dan tangan Naira terus mengurut perlahan sambil mulutnya mengucapkan "oooohhhh......aaaaaaghhhh ssssss...ttt....terus sayang....terusssss......keluarkan semua"
Aku mengerang bersamaan tetesan terakhir yang mengalir keluar dari lobang itu.
Aku beranjak dari tempat tidurku sekitar 20 menit kemudian. Berjalan kekamar mandi ditemani Naira yang berjalan disampingku. Tangannya melingkar dipinggangku sementara tanganku berada dipundaknya.
Aku sempat melirik kearah dadanya yang berguncang saat dia berjalan. Dagingnya
menyentuh perutku saat bergoyang.
Persetubuhan threesome membuka wawasan baru, aku agak sangsi awalnya saat Naira langsung menghisap payudara Vira. Dan nampaknya Vira juga tidak ragu dan membiarkan Naira menjamah tubuhnya.
Aku membersihkan seluruh tubuhku dengan air yang terasa
sangat dingin. Sementara Naira berdiri disampingku. Agak aneh terlihat saat dia menceboki vaginanya dengan tubuh tetap berdiri.
Tatapan mataku ketubuhnya tertangkap oleh ujung matanya. Tangannya langsung berhenti dan mencubit lenganku.
"Kenapa lihat-lihat begitukah....? katanya
sambil tersipu malu.
"Kamu cantik.........!" aku memuji dengan tulus
"Gombal.....!" katanya dengan nada bergurau
"Kamu mau jadi istriku ketujuh?" candaku
"Ngga mau......!"
"Ke enam?"
"Ngga mau....!!"
"Keberapa.....?" desakku
"Enakan jadi pacar saja selamanya!"
"Kenapa.....?"
"Laki-laki kalau sudah dapat memek, suka bicara ngelantur" jawabnya ringan
Aku terdiam....tanpa membantah atau membalas untuk defence.
Kesalahan banyak pria adalah saat kebutuhan terpenuhi, mulut los banyak janji yang sulit mereka penuhi. Makanya banyak yang kecewa oleh janji2x
manis pria.
Aku keluar dulu dari kamar mandi. Vira & Adrian berada disatu tempat tidur lagi.
Aku melewati tempat tidurnya saat berjalan ke tempat tidurku. Kupakai baju celanaku dan berbaring dengan badan sangat ringan.
Naira menyusulku kemudian dan berbaring dengan tubuh rapat
kebadanku.
Kami tenggelam dalam tidur malam yg sangat nikmat. Keceriaan & persetubuhan yg kami lakukan hari itu membuat kami merasa wasted. Tdk ada mimpi indah mewarnai tidur kami. Sebab mimpi remaja & angannya telah berada didalam pelukanku.
Rasa tenang yang mengiringi tidurku.
ANNEKE, Pemilik Toko Emas
Aku mengantar Vira ke Stasiun Balapan petang itu, setelah dia berada di Solo selama hampir 3 minggu. Ada gumpalan sedih saat memandang kepergiannya, Wulan mengantar bersamaku. Dia berceloteh banyak hal dengan Vira. Wulan sangat berharap bisa pergi ke
Jakarta untuk berlibur. Vira menimpali keinginan Wulan dengan baik, bahwa dia akan membawanya ke banyak tempat di Jakarta kalau Wulan mau berlibur kesana.
Impian melihat Jakarta dengan segala kesenangannya bukan hanya milik Wulan, akupun juga menginginkan liburan kesana.
"Mas......aku jadi diberi tips untuk beli saham ya?" kata Vira. Tangannya memegang lenganku.
"Iya minta papamu untuk buka rekening trading supaya kamu bisa membeli saham yang bagus." kataku perlahan
"Mas Arjuna....kapan akan ke Jakarta?" tanyanya lagi
"Setelah Lulus SMA aku akan
kesana. Aku harus belajar Bahasa Jerman di Goethe Jakarta selama setahun sebelum aku berangkat kuliah disana."
"Mas tinggal dimana kalau di Jakarta nanti?" tanyanya ingin tahu
"Aku belum tahu tempat kursusnya di daerah mana, kalau dekat dengan rumahmu sebaiknya aku tinggal saja
disana" jawabku tangkas.
"Aku nanti ikut ya Mas kalau kamu kursus di Jakarta" kata Wulan antusias.
"Iya....kamu harus ikut supaya kamu bisa tahu juga tempat2x di Jakarta"
Selagi kami berbicara, loudspeaker yang berada diatas ruangan peron mengumumkan bahwa kereta Gajayana
segera tiba. Vira bergegas mengambil koper yang dia bawa dari Jakarta aku membantunya mengangkat satu kardus oleh-oleh yang dia telah beli dan akan berikan kepada teman dan tetangga. Mamanya telah mewanti-wanti untuk tidak membeli banyak tapi nampaknya punya banyak teman akrab.
Kereta datang dan segera aku membantunya boarding. Beberapa penumpang juga naik turun mengantar dan akan berangkat ke Jakarta. Aku meminta Wulan untuk tidak usah naik ke kereta karena banyak orang yang berdesakan. Beberapa porter membawa barang bawaan sehingga gerbong terasa
berisik. Kami menemukan seat yg tertera di karcis dan menaruh barang bawaan didalam kardus di rak diatas kepala.
Seorang lelaki duduk disamping tempat duduk Vira, dia nampak tenang dan berusia sekitar 30 tahun. Aku tersenyum dan dia membalas dengan senyum ramah.
"Hati-hati ya?"
"Terima kasih mas........" katanya sambil memeluk tubuhku. Pelukan erat disertai isakan tangis perpisahan terdengar. Dengan pelan aku memberitahu bahwa kita masih bisa berkomunikasi. Aku juga memberitahu bahwa 6 bulan lagi aku akan segera ke Jakarta dan bisa bertemu.
Beberapa
pengantar telah turun dari kereta. Aku melepas pelukannya dengan tenang sambil menepuk punggungnya. Dia jinjit dan mencium pipiku. Aku membalasnya sebelum aku pergi dan turun dari kereta.
Ada rasa sepi di relung hati saat melihat lambaian tangannya, perpisahan selalu menyisakan
kesedihan. Liburan sekolah sesaat telah mengubah hidupnya. Datang dengan status perawan, pulang dengan punya pengalaman. However, life must go on. It's not the final destination where we should stop. Masa muda penuh cinta dan cita dibumbui nafsu dan birahi terus berkobar.
Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan sehari sepulang dari Tawangmangu yaitu kursus mengemudi mobil yang aku ambil setelah aku mendapatkan bonus mobil dari Pak Santosa. Hari pertama membuatku gugup dan terus terang tidak tahu harus memulai dari mana. Mobil ajar yang digunakan
adalah Honda Jazz yang kurang lebihnya seukuran dengan Suzuki Swift mobil baruku. Aku sungguh beruntung memiliki instruktur kursus yang sabar dan mau menuntunku melalui langkah2x perkenalan bagaimana sikap dan berperilaku berkendaraan khususnya mobil.
"Mas Arjuna harus tenang!"
katanya pertama kali aku masuk kedalam mobil Jazz warna silver itu. Pengetahuan dasar tentang mobil dan memperkenalkan bagian2x mana yang fungsional terasa mudah dan tidak membutuhkan banyak konsentrasi.
Saat mobil mulai berjalan dengan bantuan dan tuntunan Mas Parto, aku agak
bingung. Sepertinya tidak tahu harus mengarahkan dan menggerakkan lingkaran kemudi mobil.
"Jalan saja lurus......tidak usah belok kanan atau kiri"
Mas Parto menginstruksikan secara pelan namun cukup tegas. Hari demi hari skill dan kemampuan bertambah hingga akhirnya mampu aku
kuasai menjalankan mobil Jazz sendiri. Memutari jalanan besar Selamet Riady dan Urip Soemoharjo serta beberapa jalanan sempit yang sulit bagi pemula seperti aku bisa ku lalui dengan baik. Rasa percaya diri makin tinggi saat aku akhirnya membawa pulang mobil Suzuki Swift dari
kantor Pak Santosa. Ada perbedaan yang sangat mencolok antara Honda Jazz and Suzuki Swift. Swift terasa lebih compact and pendek. Awalnya aku merasa agak kaku saat memegang kemudinya tetapi aku segera bisa menyesuaikan dengan keadaan mobil itu.
Perlahan dan dengan hati-hati aku
akhirnya sampai dirumah dan menunjukkan ibu mobil Suzuki Swift pemberian Pak Santosa. Ibu agak curiga siapa tahu ini sebuah jebakan tetapi aku akhirnya bisa meyakinkan saat aku juga memberitahu bahwa Bapak dan Ibu akan berangkat Haji tahun depan dengan ONH-Plus dengan penerbangan
kelas bisnis. Semua telah diaturkan sehingga ibu dan bapak hanya diminta menyiapkan dokumen yang diperlukan. Semuanya nampak lancar dgn tanpa kendala dan masalah. Reaksi bapak juga tidak beda dengan ibu awalnya, ada rasa was-was dan khawatir bahwa ini sebuah jebakan.
Aku menjelaskan sedikit apa yang aku telah kerjakan bersama dengan Pak Santosa kepada bapak, gambaran uang yang banyak dari hasil trading saham yg sebelumnya asing di kepala bapak, seolah menjadi sebuah titik jelas dikepalanya. Bapak hanya geleng2x kepala sambil tersenyum senang
langkah awal dengan membuka rekening trading di Bank Mandiri telah membuahkan pundi-pundi yang bisa mengantarkannya menunaikan rukun Islam ke lima.
Aku merasa senang bisa membuat orang tuaku bisa bahagia, impian semua anak saleh adalah membuatnya bangga dan bahagia.
Suatu siang Pak Haryadi menghubungi aku di hpku, beliau ingin bertemu aku di sebuah rumah makan di daerah Sriwedari. XO suki, sebuah restaurant yang asing bagiku, karena baru pertama kali aku mendengar kata itu. Jam menunjukkan sekitar jam 1:15 dan beberapa mobil terparkir di
depan restaurant aku mengenali 2 mobil diantara mobil-mobil itu. Pak Haryadi dan Pak Ah Long mengendarai 2 mobil berbeda. Pak Haryadi mengendarai Toyota Harrier sedangkan Pak Ah Long, si pedagang emas mengendarai sebuah Lexus. Mungkin Lexus yang dia kendarai adalah type satu satu
nya yang ada di Solo.
Waktu aku sampai disana, aku menelepon Pak Haryadi untuk memastikan bahwa beliau sudah ada didalam restaurant. Benar, saat aku menelopn dia menanyakan aku sudah sampai dimana. Aku memberitahu bahwa aku berada didepan restaurant.
"Masuk saja.....kami sudah
menunggu"
Aku memarkir Suzuki Swift di ujung kanan dan masuk setelah menguncinya. Pak Haryadi melambaikan tangannya saat melihatku melangkah masuk kedalam restaurant. Aku tersenyum dan melangkah kearah dimana mereka sudah duduk.
5 meja terpakai salah satunya sekelompok anak muda
sedang merayakan pesta ulang tahun. Mereka sekitar 17 atau 18 tahun seusiaku.
Pak Haryadi dan Pak Ah Long berdiri saat aku sudah dekat meja. Ada seorang wanita muda duduk disebelah Pak Ah Long. Dia juga berdiri saat melihat mereka berdiri. Senyumnya mengembang dengan gigi putih
rapi terpampang dengan gusi merah muda tersembunyi diatas rentetan gigi putihnya.
Pak Haryadi menyalami tanganku diikuti Pak Ah Long dan si wanita yang terakhir diperkenalkan sebagai istrinya Pak Ah Long. Sangat kontras dengan fisik Pak Ah Long yang agak loyo, istrinya masih
nampak segar dan dengan kulit masih terlihat kencang.
Aku merasa tak percaya bahwa wanita itu adalah istrinya.
"Anneke.....!" katanya saat tanganku memegang tangannya.
"Ooohh.....Cik Anneke?" kataku dengan nada agak keras
"Kita sudah pernah berbicara di telepon kan?" tanyanya
suaranya sangat bening terdengar ditelingaku, senyumnya sangat menular. Aku terkesima saat tangannya menyentuh kulitku. Kulit seorang wanita keturunan China, dengan pori-pori kecil sehingga tekstur kulitnya terasa halus dan lembut.
"Ayo duduk...." Pak Haryadi mendahului kami.
"Ada acara apa ini Pak...?" tanyaku setengah berbisik
"Itu loh Cik Anneke ingin kenalan sama kamu... Beberapa kali dia memberitahu kalau dia ingin sekali ketemu kamu.
Aku memandang kearahnya dan dia memberikan sebuah senyuman yang nampak sangat hangat. Pak Ah Long ikut tersenyum.
"Arjuna.......istriku penasaran kamu masih begini muda tetapi kamu sangat pintar membaca situasi dunia trading. Dia ingin juga belajar supaya diapun juga bisa seperti kamu." kata Pak Ah Long
"Kamu kuliah dimana...?" tanya Cik Anneke
"Saya masih sekolah kelas 12, tahun depan baru
kuliah." kataku
"Sekolah dimana....?" tanyanya ingin tahu
"SMAN 3"
"Oh.....Kamu kenal sama ponakanku Susanti?" tanya Cik Anneke
"Susanti....? Yang kulitnya putih dan agak kurus?" tanyaku memastikan
"Iya...bener itu anaknya kakakku tertua. Kamu mau kuliah dimana setelah lulus?"
"Saya belum putuskan tetapi secara serius saya mau belajar FINANCIAL ENGINEERING."
"Aku belum pernah dengar jurusan itu" kata Pak Haryadi.
Cik Anneke berdiri dari kursinya setelah Pak Ah Long memberi aba-aba kepadanya. 10 menit kemudian kembali dengan beberapa baki kecil berisi
makanan yang mereka sebut sebagai Suki. Berbagai bentuk makanan masih mentah sementara ditengah meja terdapat kompor dan panci yang sedang mendidih. Tangan Cik Anneke cekatan mengurus makanan2x tadi dan dengan chopsticks dia menjepit makanan2x itu dari bakinya dan memasukkan
kedalam panci.
Pak Haryadi dan Pak Ah Long menanyakan beberapa pertanyaan tentang kegiatanku sehari2x. Seperti seorang interrogator pertanyaannya menjurus bagaimana aku bisa mendapatkan informasi akurat tentang trading saham dan perdagangan emas berjangka. Aku bisa mengalihkan
dan menyelimurkan pertanyaan2x mereka. Aku selalu berusaha mereka mendapatkan jawaban2x mentah yang mereka harus pikir dan memutar kembali otak untuk menyimpulkan. Ada ajakan untuk berwisata bersama supaya mereka bisa belajar selagi menikmati kebersamaan. Dengan halus aku memberi
tahu bahwa aku bulan depan akan sangat sibuk persiapan Ujian Akhir sehingga tak akan punya waktu untuk pergi keluar kota.
"Nanti saja setelah Ujian Akhir selesai kita bisa merencanakan ke Genting Malaysia" kata Pak Ah Long
"Disana kita bisa menikmati alam dan judi siapa tahu
ada peruntungan disana juga." lanjutnya
"Saya belum punya passport!" kataku terus terang
"Wah harus segera buat, bukankah kamu ingin melanjutkan kuliah di luar negeri?" kata Pak Haryadi
"Pak Haryadi kenal orang yang bisa bantu buat?" tanyaku ingin tahu
"Sebaiknya tanya Pak San"
"Beliau yang membantu aku buat Passport semua keluargaku sebelum ke Australia 4 tahun lalu" jelasnya
"Oh baiklah.....!" jawabku singkat
"Ayo makan....sudah matang" kata Cik Anneke. Dia berdiri dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya yang bening kearah mejaku. Dia mengambil
mangkok kecil didepanku sambil mengambilkan suki yang masih mengepul ditengah meja.
"Awas panas.....!" katanya memperingatkan
Tangannya segera memberikan padaku sup dengan isi berbagai macam serta sayur hijau, uap panas mengepul dan aroma sup tomyam ala Thailand tercium nikmat.
Aku menunggu mereka untuk makan hidangan, aku merasa kagok dengan cara memakan makanan yang ada. Aku mengambil sendok bebek yang ada di dalam sup dan mulai memakannya. Mereka bertiga makan dengan sumpit dan dengan lincah memakan nasi mereka bergantian dengan sendok bebek untuk
menyendok kuahnya.
Baru pertama kali aku makan makanan seperti ini, ada lumpia kulit tahu dan beberapa jenis makanan yang mereka sebut Dim Sum. Semuanya sangat baru dimulutku dan semuanya enak. Aku memesan teh China oolong yang disajikan didalam sebuah teko kecil. Terasa pahit
dan sangat pas dengan sajian yang dimakan. Sambil makan dan berbincang tanpa diburu oleh kerjaan ataupun kegiatan lainnya. Aku sungguh menikmati apa yang disajikan sebagai makan siang hari itu.
"Terima kasih Pak sudah mengajak makan siang....!" kataku setelah selesai
"Sama-sama"
Sebelum aku meninggalkan restauran aku sempatkan melihat kesekeliling ruangan sambil melihat lihat berbagai photo makanan yang di pajang didinding ruangan itu. Semuanya nampak menggoda selera, ada tanda halal dari MUI terpajang disudut ruangan dibelakang meja cashier. Aku ingin
mengajak bapak-ibu dan Wulan makan bersama suatu saat nanti. Setelah menyelesaikan pembayaran, kami keluar dari restaurant bersama-sama.
"Mana motormu.....?" tanya Pak Ah Long sambil mencari motorku di tempat parkir.
"Didepan sana pak...." kataku sambil menunjuk kearah luar
Cik Anneke memakai baju kuning yang sangat pas dengan warna kulit tubuhnya. Badannya padat dan potongan baju yang dikenakan sangat serasi menutupi bentuk tubuhnya.
"Kamu suka berenang ...."tanyanya kepadaku saat menunggu didepan restaurant sementara Pak Ah Long menyalakan mobil
"Kadang-kadang saya berenang di Kolam Tirtomoyo" kataku menjawabnya
"Aku punya free pass berenang di Kusuma Sahid Prince Hotel. Nanti aku kirim ke rumahmu kalau kamu punya waktu"
"Hari Sabtu saja Cik kalau bisa, aku tidak ada kegiatan kalau hari Sabtu" kataku
"Ok..kontak hp ya?"
"Ma kasih Cik.....!" seruku karena dia harus melangkah mendekat ke mobil yang telah menunggunya.
Dia membuka pintu depan sebelah kiri dan tangannya sempat melambai kearahku dengan satu mata berkedip.
Tanganku melambai membalasnya dan tersenyum kepada Pak Ah Long dengan friendly.
Sekitar jam 3 sore aku sudah berada di rumah dan membuka laptopku sambil membaca beberapa artikel. Sebuah artikel ringan tentang seorang pemuda Jepang bernama Satoshi Nakamoto yang menemukan sebuah mata uang digital yang dia berinama BITCOIN. Dunia tidak menyambutnya dengan gegap
gempita namun artikel ini muncul di "EDISI AWAL" sehingga harus menjadi perhatianku. Aku berusaha mengingat dan menulis catatan ringan di Microsoft Words supaya artikel ini bisa tercatat sehingga aku bisa mempelajari ulang. Artikel lain menarik perhatianku yaitu harga minyak
sawit yang akan meroket beberapa hari kedepan. Aku mencatat di hp seberapa besar kenaikan harga minyak sawit dan perubahan harga dari besok hingga minggu depan. Segera aku mengirim info ini ke Pak Haryadi, semoga bisa langsung ditindak lanjuti info ini. Pak Haryadi sempat menanya
kan seberapa valid informasi yang aku berikan. Aku agak tersinggung saat beliau menanyakan ini sehingga aku melaporkan hal ini kepada Pak Santosa. Pak Santosa tidak membela aku, dia memberi pengertian bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah perdagangan dengan uang yang tidak
sedikit. Jadi wajar dan tidak perlu tersinggung untuk masalah sepele ini.
"Kamu masih muda dan beruntung, masih banyak yang harus kamu pelajari baik bersosialisasi dan berkomunikasi."
Kata-kata beliau ini ada benarnya sehingga aku berani menanyakan dimana untuk bisa belajar
seperti itu.
"Kamu harus sering-sering bergaul dan berteman dengan berbagai golongan dan strata ekonomi sehingga kamu bisa menempatkan diri. Untuk masalah bersikap dan bertutur kata serta membawa diri kamu harus belajar dengan ahlinya. Banyak-banyaklah pergi ke seminar supaya
kamu mendapat motivasi dan inspirasi oleh orang2x yg berhasil dibidangnya. Aku dengar kamu tadi siang makan bareng sama Pak Haryadi?"
"Iya tadi sama Pak Ah Long dan istrinya juga ada"
"Bagus...siapa mengajakmu makan?"
"Pak Haryadi.."
"Kamu tahu maksudnya apa beliau mengajakmu?"
"Tidak .........?"
"Supaya dia bisa mengenalmu lebih baik, jadilah orang yang terbuka dalam bergaul tetapi tetap teguh dalam berpendirian. Terbuka dalam berteman dan berusaha menerima kelebihan dan kekurangan, itulah makna dari bersosialisasi dan bergaul. Kunci utamanya jangan
mudah tersinggung dan memikirkan diri sendiri. Ini adalah kerja kolektif, dimana semua menyumbangkan sesuatu demi kebersamaan dan keuntungan asosiasi. Paham?"
"Iya Pak Santosa....saya sangat paham" kataku
"Iya harus begitu..."
"Terima kasih pak......"
"Sudah jangan dipikir ya?"
"Tidak pak.....saya tidak akan berpikir buruk." kataku dan mengucap salam sebelum aku menutup telepon.
Aku mencatat pula pergerakan saham harian dan mengirimkan segera informasi ke Pak Haryadi. Semua sangat detail sehingga tidak perlu mengolah lagi informasi yang aku berikan.
Fluktuasi harga saham memang agak cepat dan minim, tetapi semua terangkum padat sehingga masih ada margin keuntungan disetiap sesi perdagangan.
Sebulan setelah pulang dari Tawangmangu aku menyempatkan pergi ke rumah Naira di Jalan Balong. Jalan disitu sangat padat sehingga aku
harus parkir mobil diseberang jalan dekat pasar Gedhe.
Saat aku berdiri didepan pintu, seorang wanita tua melongok keluar dari jendela kaca. Wanita itu tersenyum kepadaku dan memberiku tanda untuk menunggu sebelum aku mengetuk pintunya.
"Assalamualaikum.......!" salamku lirih
"Wa'alaikumussalam...." katanya ramah. Tubuh tuanya terlihat masih kuat dan tegap.
"Maaf ibu......apakah Naira tinggal disini?" tanyaku
"Iya benar......siapa namamu nak?"
"Saya Arjuna ibu......" kataku menjawab pertanyaannya
Mata bening ibu ini sangat tulus, menatapku dengan
raut senang.
"Sini masuk......" katanya mengundangku
Aku masuk kedalam setelah melepas sneakers yang aku pakai.
"Tunggu dulu disini, dia sedang tidur sejak tadi"
Aku melihat ruang tamu dengan seksama, perabotan tua dari kayu jati menghiasai ruangan itu. Pernak-pernik batik dan
ukiran kayu juga terpajang di dinding tua ruangan itu.
Walaupun tua dan kuno, setiap sisinya tertata rapi dan bersih dari debu. Terdengar langkah ringan dari dalam rumah, langkah langkahnya menuju ke arahku.
"Mas Arjuna.....?" katanya kaget "Aku kira siapa?"
"Kamu kira siapa?"
"Penagih hutang......." katanya sambil senyum
"Kamu punya hutang sama siapa?" kataku mengikuti alur percakapannya
"Sama rentenir cinta.........yang suka menjajakan ke cewek cewek kesepian" katanya menambahkan
"Salah.......kalau itu bukan aku!" kataku sambil menatap tubuhnya.
"Kamu kok masih pakai seragam sekolah?" tanyaku ingin tahu
"Aku tadi pulang sekolah terasa ngantuk sekali, belum makan siang langsung tidur. Sekarang lapar, kamu bawa makanan apa?" tanyanya. Dia duduk dikursi kayu beranyamkan rotan diseberang meja.
"Kita pindah duduk sana mas..!"
tangannya menunjuk kesebelah kanan ke sebuah sofa berkulit coklat dengan gagang lengan besi yang kokoh. Dia berdiri mendahuluiku dan menghempaskan tubuhnya diatas sofa. Sofa yang terlihat kuno itu ternyata empuk sekali dan ngeper. Diluar dugaanku pernya sangat empuk sehingga
tubuh kami mental mentul.
"Mana eyang putri?" tanyaku
"Mungkin didapur mengambilkan teh buat kamu"
"Kenapa repot-repot?" tanyaku basa basi
"Ayo kita makan?" pancingku
"Ayo...makan apa?"
"Buah dada...!"
"Aku sudah punya kalau itu. Nih..." katanya, tangannya memegang dadanya.
Bibirnya tersenyum senang saat memeras kedua dadanya dengan kedua tangannya.
"Ganti baju sana, setelah itu kita berangkat" kataku
"Beneran....?" tandasnya "Ngga usah ganti baju, aku mau hemat cuci-cuci"
"Okay....pamit dulu sama eyang putri" kataku
"Eyang....?" kata Naira sambil
melangkah masuk kedalam rumah. Korden yang membatasi ruang tamu dan ruang keluarga terbang saat tubuhnya melewati. Mataku melirik masuk melihat kedalam bersamaan tubuh Naira yang masih mengenakan seragam sekolah.
"Tubuh remaja seusiaku memang nampak menggoda, balutan seragam
sekolah ditubuhnya menandaskan lekuk dan bentuk tubuhnya. Kulit halusnya sepenuhnya menjadi daya tarik mata untuk menikmatinya.
Tirai pembatas bergerak lagi saat tubuh Naira melewatinya lagi. Tangannya membawa sebuah dompet dengan ukuran agak besar & longgar. Ada aura kegembiraan
saat dia keluar dari ruang keluarga. Tangannya meraih lenganku dan menarikku keluar.
"Eyang sedang baring-baring ditempat tidur" katanya memberitahu saat kami berjalan keluar gang.
"Mana motormu...?" tanya
"Kita jalan kaki saja, dekat kok!"
"Memang mau makan dimana?"
"Centrum"
"Restaurant Centrum....?" katanya agak kaget
"Harus naik becak kesana.....!" serunya
"Iya....kita jalan dulu keluar baru naik becak!"
"Ada langganan becakku diluar......" katanya memberitahu
"Langganan becakku menunggu di sana!" kataku sambil menunjuk ke tempat parkir mobil.
Kami berjalan menyebrangi Jalan Balong, aku bantu buka pintu mobil untuknya.
"Mobil baru ya mas.......?" katanya
"Iya baru sekitar satu bulan........"
"Masih bau baru mas......Siapa saja yang pernah menaiki mobil ini?" tanyanya
"Banyak......bapak, ibu, adikku dan kamu"
Restauran Centrum telah buka sore itu, aku parkirkan mobilku disebelah kiri tempat parkir.
"Mas....." katanya sambil menoleh kearahku.
"Kenapa......?"
"Mas Arjuna pernah makan disini?"
"Belum....?"
"Aku takut harga makanannya mahal, uangku tidak cukup membayar makannnya"
"Aku bawa uang, aku tidak menyuruhmu membayar kan?" Aku membuka pintu mobil dan berjalan kearah pintunya dan membukakan pintunya.
"Ajari aku membuka pintu mobil ini dari dalam! Lain kali aku yang buka sendiri" katanya sambil tersenyum
"Tarik tuas ini pelan, pintu akan terbuka"
"Ok....coba aku masuk lagi!" katanya sambil duduk di passenger's seat
Dia menutup pintu dan jarinya menarik tuas yang telah aku tunjukkan. Pintu terbuka & dia melangkah keluar. "Gampang ternyata ya...?"
"Tangannya meraih tanganku dan aku membawanya melangkah kearah rumah makan.
Ruangan rumah makan sangat luas dengan meja bundar untuk 10 orang. Ada sebuah meja kecil dengan 4 kursi mengelilinginya.
"Aku rasa kita sebaiknya tidak akan makan disini mas........" katanya
"Kenapa....?" tanyaku
"Kita pesan take away saja supaya eyang juga bisa makan" katanya
Seorang waitress datang membawa buku menu dan memberikan satu kepadaku dan satunya ke Naira.
"Mbak.....? Kami mau pesan untuk take away bisa ya?"
"Bisa mbak.... Mbak mau pesan apa?"
"Sup asparagus, 5 burung dara goreng" kataku menyahut. "Kamu mau pesan apa?" tanyaku
#ceritaserem
"Burung daranya tidak terlalu banyakkah?" tanyanya sambil melihat kepadaku
"Mas, sup asparagus untuk berapa orang?" tanya waitress
"Tiga orang mbak!"
"Kalau begitu pesan yang medium saja ya? Medium untuk 4 orang"
"Iya....Kamu mau pesan apa?" tanyaku pada Naira
"Kwetiau sama
nasi goreng Jakarta saja. Ada Tumis Kailan mbak?" tanya Naira kepada Waitress
"Iya ada....mau satu?" tanyanya balik
"Iya mbak.......itu saja"
"Baik saya ulang pesanannya ya. Sup Asparagus, 5 burung dara goreng, Nasi goreng Jakarta, Ca Kailan sama Kwetiau?"
"Ya...benar" kataku
"Tunggu setengah jam ya?" kata waitress sebelum berlalu dari kami.
Naira menggeser kursinya kearahku, sentuhan tangan kami tak terhindar. Sengaja aku meraih tangannya, rambutnya terurai menutupi sebagain dadanya.
"Pesanan kita ngga terlalu banyak kah?" tanyanya
#CeritaJumatan
"Kalau tidak bisa habiskan sekaligus, bisa disimpan dan dimakan nanti" kataku
Waitress berjalan kearah kami sambil membawa kwitansi tagihan. Aku mengeluarkan dompetku dan membayar makanan yang kami pesan.
"Mahal sekali mas....?!" bisiknya "Lebih mahal ini dari uang sekolahku"
Aku diam saja, menggenggam jari tangannya.
"Sekali-sekali makan enak...." kataku menghiburnya
Kami pulang setelah pesanan kami selesai dibungkuskan. Eyang Putri senang makan sup asparagus yang aku pesan. Wajahnya terlihat berseri saat selesai menikmati makanan yang kami beli.
"Enak......sup apa ini namanya?" tanyanya dengan mata berbinar.
"Sup Asparagus Eyang...." jawan Naira dengan hormat.
Naira dan aku kembali duduk di Sofa di ruang tamu. Perut terasa kenyang dan membuat kami tenang. Aku menanyakan apa yang akan dia lakukan setelah dia selesai Ujian
Nasional karena kami akan menghadapi UN di akhir bulan April yang berarti tiga bulan lagi.
"Aku tidak tahu.....Aku harus tetap di Solo menjaga Eyang. Kami tidak punya saudara atau keluarga jadi sisa kami berdua. Mas Jadi ke Jerman?" tanyanya balik
"Rencana awal ke Jerman tetapi
aku tidak tahu kapan berangkatnya karena bapak dan Ibu akan berangkat naik Haji bulan Juni. Mau tidak mau aku harus berada dirumah menjaga adikku"
Aku harus les bahasa Jerman di Jakarta dan tinggal disana mungkin selama 9 bulan sebelum aku siap berangkat kesana."
"Enak ya mas"
"Apanya yang enak?" tanyaku
"Mas bisa merencanakan semua masa depan mas, ada orang tua yang mendukung dan menopang. Mas punya segalanya yang anak-anak muda inginkan"
"Iya benar...aku mensyukuri dengan apa yang aku terima dari Allah. Semuanya nampak baik & lebih dari yang pernah
aku pikir dan harapkan." jawabku
"Aku ingin kuliah tapi aku tidak tahu apakah aku bisa diterima di Universitas Negeri"
"Kamu mau kuliah jurusan apa?" tanyaku
"Aku ingin kuliah perhotelan atau Bahasa Asing. Bagus mana menurut Mas?" tanyanya meminta pendapat
"Mungkin perhotelan ya"
"Kenapa menurut mas bagus?"
"Kedua-duanya bagus, kamu bisa bekerja part time selama kuliah bila kamu belajar perhotelan dan bahasa asing. Kamu mau ambil jurusan apa kalau belajar perhotelan?" tanyaku
"Tata boga.........!!"
"Apa kamu suka memasak?"
Dia menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu jangan harap kamu belajar di tata boga. Kalau menurutku kamu harus belajar hotel management saja supaya kamu bisa belajar banyak tentang mengelola hotel. Apalagi kamu cantik bisa bertemu banyak orang dengan berbagai latar belakang"
"Kalau bahasa asing?"
#ceritaseks
"Bahasa Asing baik juga, kamu bisa mengajar dan mendapatkan uang saku apalagi kalau kamu suka mengajar sehingga kamu bisa punya les private, jadwal dan waktu kamu sendiri yang menentukan"
"Mas.....kenapa baru hari ini datang mengunjungi aku setelah sebulan lewat?" tanyanya ringan
"Banyak yang aku lakukan selama sebulan ini. Aku les mengemudi, aku juga les matematika dan pelajaran untuk UN. Aku les matematika di dekat sini sama Om Harry. Kamu tahu tidak?"
"Aku tahu......banyak murid2x tionghua yang les sama dia. Sudah lama kamu les disitu?"
"Dulu aku les,
tapi sempat berhenti. Aku baru mulai lagi sejak awal Januari ini supaya bisa kerjakan ujian UN. Huaaaahhh..." aku menguap tak bisa nahan ngantukku. Kulihat jam menunjukkan jam 6:30 tetapi suasana sudah gelap diluar.
"Ngantuk ya.?" tanyanya, Naira berdiri menyalakan lampu pijar
yang berada didepan pintu luar. Cahayanya menusuk masuk keruangan dimana kami duduk melalui jendela kaca. Sementara ruangan dimana kami berada agak remang.
"Sini..!" katanya memberikan pahanya sebagai bantal kepalaku. Tangannya menarikku untuk berbaring. Aku merasa agak canggung
takut Eyangnya keluar dari ruang dalam.
"Jangan takut, eyang biasanya jarang kesini kalau petang hari. Kalau dia datang kita akan mendengar suara sandalnya. Aku akhirnya membaringkan tubuhku diatas sofa dan menyandarkan kepalaku di pahanya. Tangan lembutnya menyentuh kepalaku.
Wajahku menengadah dan bisa memandang wajahnya secara langsung. Dagu dan kulit sekitar lehernya sangat menawan. Lama kami berpandangan sebelum akhirnya dia membungkukan badannya untuk mengecup keningku. Tangannya meraba-raba pipiku.
"Kamu tidak kangen sama aku?" tanyanya setengah
berbisik. "Sebulan kutunggu-tunggu tidak muncul-muncul. Aku kira hanya sampai di Tawangmangu saja dan tak ada kelanjutannya. Mas Arjuna ngga jadi beli handphone baru kah? Aku mau handphone mas Arjuna"
"Nanti dulu tunggu sampai Iphone 4 muncul, aku mau beli Iphone 4 baru aku beri
kan hp ini kepadamu" kataku menjawab.
"Kapan memangnya muncul?" katanya tak sabar
"Telkomsel sudah menawarkan program promo, kira kira 2 minggu hingga satu bulan sudah bisa di beli" jelasku
"Aku capek duduk begini, geser sedikit tubuhmu, aku mau berbaring juga disebelahmu?"
Aku bangun dari baringku, Naira berdiri sebentar dan berbaring didekat sandaran sofa. Aku berbaring disampingnya dengan agak berdesakan akhirnya kami mampu berbaring bersebelahan. Wajah kamu bersentuhan, tanpa pikir panjang aku mengecup pipinya. Tanganku memeluk tubuhnya berjaga
karena aku berada diujung sofa.
"Miringkan tubuhmu menghadap aku?" kataku agak keras
"Sssss....ssst......! Eyang dengar nanti" bisiknya sambil tangannya membungkam mulutku
Dia menggerakkan badannya dan memiringkan seperti perintahku. Ada sedikit space bagi tubuhku sehingga
aku bisa berbaring agak aman.
Aku menaruh tanganku dibawah kepalanya sehingga dia bisa menggunakannya sebagai bantal kepala.
Tungkai kakinya dia angkat satu dan menaruhnya diatas badanku, dia tarik badanku lebih merapat dengan kakingnya.
"Aku kepingin konthol......!" bisiknya
Aku memandang kearah matanya dan menatapnya dalam mencari kebenaran dari apa yang dia katakan.
Mulutnya mengecup bibirku, bibirnya terasa dingin oleh nafsu. Tangannya merayap kebawah pusarku dan menggenggam batang lehernya.
"Sudah berdiri......!" katanya pelan
#ceritaseks
"Sudah dari tadi...." kataku sambil mendesis
"Kenapa tidak kasih tahu aku kalau kepingin?" tangannya mencengkeram batangku dengan erat. "Bantu lepas celana dalamku gih....?" lanjutnya
Tanganku mengangkat rok seragam SMA yang masih dia pakai dan menangkap karet celana dalamnya.
Aku tarik kebawah celana dalamnya dan menurunkan. Pantatnya dia angkat membantuku untuk melepas celananya. Pantat mulusnya terlihat di keremangan ruangan yang makin redup. Suasana sangat mendukung, tak ada gangguan sama sekali. Kadang terdengar motor lewat didepan gang, terkadang
orang lewat yang membuatku kaget.
"Tenang......!" kata Naira. "Hanya orang lewat"
Celana dalam terlepas. Aku mendekatkan celana dalamnya dan aroma seks tercium dari celana dalam berbahan cotton berenda dibagian pinggir-pinggirnya.
"iiiiihhhhh.....kenapa dicium, bau tahu!" katanya
Dia mengambil celananya dan menaruhnya di saku roknya. "Mau duduk atau berbaring begini?" tanyaku
"Sogok dari belakang saja..!" dia bangkit dan membungkuk diatas sofa berpegas itu. Kedua sikunya dia tekuk di sandaran sementara pantatnya dia sodorkan kebelakang. "Cepat sedikit..!"
"Kenapa buru-buru?" kataku pelan. Aku membuka resleting celanaku dan memelorotkan hingga ke lutut. Matanya memandang kearah batangku saat celana dalam aku turunkan. Tangannya meraih kebelakang dan mengambil batangku sambil mengocoknya pelan.
"Hangat sekali ....sayangku!" katanya
Tangannya menarik batangku kedepan, tapi aku tidak mengindahkannya. Aku membuka pantat yang masih tertutup oleh rok seragam yang dia pakai. Aku membungkuk dan mencium pantatnya. Dia menggelinjang saat kulit pantatnya menyentuh bibirku. Lidahku menjulur menyentuhi pelan kulitnya.
Dia menggerakkan pantatnya kesamping, merasa geli oleh sentuhan lidahku. Dia melanggak-lenggokkan pantatnya kesamping. Tanganku meraba kebagian bawah selangkangannya. Sentuhan ringan dibagian gundukan memeknya membuatnya melenguh pelan seperti bisikan. Rabaanku makin berani, jari
menyentuh belahan basah dan menggosoknya keatas dan bawah dengan lembut. Erangannya terdengar lirih, mulutnya menganga dan kepalanya mendongak keatas.
"Masssss......sssstttt!" kesadaran akan suasana diruangan itu yang membuatnya menahan untuk tidak berteriak lepas. Gerakan jariku
makin intens bergerilya. Genangan air lendir lengket meleleh dan membasahi seluruh permukaan memeknya. Pantatnya dia gerakkan maju mundur seolah menggoyang batang. Dia mengarahkan jariku ditempat yang terasa gatal.
"Sudah masssss.......masukkan!" suaranya parau
Aku bangkit tegak
batangku keras, gagah perkasa dan siap menusuk. Dia memundurkan badannya kebelakang dan pantatnya menungging menantang. Aku membuka sedikit kedua pahanya, dan memajukan pinggulku untuk menusuk masuk.
"Aaaaagghhh........!" serunya pelan saat batangku menusuk masuk pelan. Seperti
sedang memberi peluang jalan, dia goyang sedikit sambil memiringkan pantatnya supaya batangku terakomodasi melalui jalur memeknya. Batangku terasa hangat terselubungi dinding vagina yang berlumeran lendir. Aku gosokkan maju pinggulku dan batangku menelusup kedalamnya. Rasa gatal
seperti tergaruk. Kepala batangku menusuk nusuk, masuk...masuk...masuk kedalam hingga keujung sleeep!!!
Tanpa di komando dia mulai menggoyang pelan kekanan dan kekiri, berputar seirama rasa gatal yang terasa. Aku menggosokkan kepala batangku, benturan dengan dinding vagina terasa
menggosok-gosok pelan dan tajam. Tiba tiba dia menegakkan badannya. Tangannya meraih lenganku dan menariknya mendekat.
"Kesini sedikit maju?" pintanya
Aku memajukan tubuhku, tanganku meraih dadanya. Mulut kami bertemu, terasa hangat oleh nafsu. Matanya membengkak pertanda sange.
"Masuuuukkkaaan dengan kerassss.......!" katanya disela sela pagutan bibir kami. Aku menekan keras maju pinggulku, dentuman keras terdengar saat kulit pantatnya dan pinggulku bertemu. "Smaaack...smaack...." seperti orang bertepuk tangan. Aku mengangkat salah satu pahanya, akses
masuk menganga agak lebar. Gesekan batang kepalaku yang mengeras makin terasa dengan dinding memeknya. Bibir vaginanya meremas remas batangku saat maju mundur, keluar masuk. Friksi yang timbul membuat gatal terasa nikmat.
"Aku mau keluar....." desahku.
"Sogok dengan keras....!"
"Keluarkan di lantai saja.....!" bisiknya Pinggulnya dia goyang kekanan dan kekiri. Mundur dan menggelinjal, nafas kami bersahut sahutan menginginkan terbebas dari desakan yang ingin keluar. Tanganku merengkuh tulang pelvisnya, aku tari kebelakang supaya badanku bisa maju menekan
Gerakan-gerakan erotisnya membuatku nanar, pantatnya berbentuk hati dengan lekukan manis dikedua sisi. Aku mencabut batangku saat sperma mendesak keluar dengan deras. Diantara deru nafas, tangannya mencengkeram batangku dan membantunya mengocok maju mundur. Semburan deras sperma
muncrat keluar. Tangannya sempat menangkap semprotan kedua. Sperma yang mendarat ditangannya dia usapkan ke atas kepala batangku. Tangannya terasa licin dan kepalaku mendongak keatas menikmati sensasi nikmatnya. Tiba tiba kepalanya maju dan mulutnya terbuka, kepala batangku masuk
kedalam rongganya.
"Oooohhhh........" aku tak kuasa menahan nikmatnya
Tanganku memegang kepalanya dan meraba raba wajahnya. "Oooohhh....terima kasih sayang" kataku
Birahi yang bergelora terasa teduh dimulutnya, rasa ngilu menjalar saat kepekaan menajam.
"Sudah..."bisikku pelan
Batangku yang perkasa dan berotot terlepas dari mulutnya dalam keadaan panjang tanpa urat kekar. Aku menarik tangannya untuk membantunya berdiri. Dia menolak, dia tarik naik celana dalamku dan membantuku merapikan celanaku setelah resleting aku tutup.
Aku memeluk erat tubuhnya
badannya terasa lemah.
"Sudah malam.....pulang dulu ya?" bisikku ketelinganya
"Kapan datang lagi?" tanyanya setengah berbisik
"Nanti aku mau ajak kamu berenang di hotel Sahid" kataku menjawabnya.
Aku lepas pelukanku dan menciumnya wajahnya. "Makasih sayang...terima kasih banyak"
Suaraku keluar dari mulutku. Aku seperti tak bisa mengenali suaraku sendiri. Entah apa yang aku pikirkan, "Sayang" begitu saja meluncur dari rongga mulutku.
Ada efek dari "Mbangun Trisno" termasuk apa yang baru saja kita lakukan adalah langkah dan tindakan mbangun trisno itu.
Aku keluar dari rumahnya hampir jam 8:30 malam. Waktu terasa begitu cepat, aku harus segera pulang. Ada miscall dari adikku Wulan jam satu setengah jam lalu. Aku sedang berbaring di sofa saat telepon berdering tapi aku sengaja silent sehingga tidak terdengar sama sekali. --0--
Akhir bulan January, aku bertemu Mas Reynaldy di depot Adem Ayem untuk makan siang. Dia ingin memastikan kesanggupanku untuk bergabung dengan grupnya membuat sebuah e-buletin trading yang dia wacanakan sejak lama. Sudah sejak lama dia ingin merekrutku untuk menjadi nara sumber
tapi aku selalu menolaknya. Aku tahu bahwa Mandiri Sekuritas memiliki mailing list yang memberikan deskripsi saham saham yang layak di beli dan di invest. Mailing list ini bagus bagi pemula tapi memang harus di olah lagi kalau ingin meraup keuntungan dalam bertrading. #ceritaseks
Sementara kami sedang berbincang-bincang ada sms masuk dari Pak Santosa. Beliau memberitahu bahwa asosiasi telah mentransfer ke rekeningku sejumlah uang sebagai bagian keuntungan trading bulan Januari itu. Aku membalas sms dengan mengucapkan terima kasih.
Pak Santosa ingin
meeting asosiasi diadakan hari minggu sebab beliau akan berangkat ke Eropa selama 2 minggu. Meeting akan diadakan di restaurant diamond. Aku baru dengar nama restaurant itu sehingga aku sempat menanyakan kepada Mas Reynaldi.
"Restaurant Diamond....? Ya tidak jauh dari sini!
Kalau dari sini ya kearah barat saja kurang lebih satu kilo. Letaknya ditengah antara jalan Anggrek dan Teratai. Sampean tahu toko baju Fashion Village tidak?"
"Ya tahu!" kataku menyahut
"Letaknya sebelum toko baju Fashion Village"
Aku mengangguk anggukkan kepalaku tanda tahu"
"Ping...!" Sebuah SMS masuk lagi, kali ini dari Cik Anneke yang memberitahu bahwa dia berada di Hotel Kusuma Sahid Prince di Jalan Sugiyopranoto. Dia menanyakan apa aku mau berenang. Aku membalas SMSnya menanyakan sampai jam berapa dia akan berada disana? Beberapa menit kemudian
SMS balasannya tiba memberitahuku bahwa dia belum tahu, memintaku segera kesana supaya dia bisa menunjukkan kamar hotelnya.
Aku agak aneh membaca SMS nya, mengapa dia mau nunjukkan no kamar hotel. Aku membalas bahwa aku akan segera kesana setengah jam lagi.
"Iya..kutunggu!" SMS
balasan terakhirnya kubaca.
"Mas Reynaldi......." kataku "Begini saja, tolong beri saya contoh bagaimana model dan bentuk artikel yang aku harus tulis untuk mailing list itu sehingga aku bisa dapat gambaran. Tapi aku tidak bisa menulis artikel teknis tentang trading sebab aku
tidak akan bisa memberi analisa dan prediksi saham yang matang untuk diperdagangkan."
"Iya..yang penting Mas Arjuna beri saham yang jelas akan bisa di unduh dan dinikmati hahahahah" katanya
"Saya harus ketemu seseorang Mas" kataku sambil berdiri.
"Iya..Mas Arjuna saya mengerti"
Aku berjalan ke mobilku sementara Mas Reynaldi mengambil sepeda "Cherokee" dengan warna hijau muda yang trendy yg dia parkir tepat didepan rumah makan itu. Saat aku masuk kedalam mobil, dia masih menunggu aku sambil melambaikan tangannya.
Aku mengarahkan mobilku ke utara menuju
Kusuma Sahid Hotel. Perjalanan kesana tidak macet karena hari sabtu agak lengang jalanan. Saat sampai diparkiran hotel, aku menelepon Cik Anneke. Dia memberi aba-aba untuk menunggunya di lobby hotel. Lobby hotel mencerminkan budaya Jawa yg sangat kental dan suasana sangat tentram
Saat aku masuk, dekorasi ruangan penuh dengan ukiran dan mebel kayu yang sangat indah. Kesan kuno tapi elegan tertangkap oleh indraku. Beberapa pilar penyangga atap yang tinggi dan kokoh berjajar nampak rapi dan kuat. Meja dikelilingi kursi-kursi pendek berukir diletakkan diatas
karpet-karpet berwarna biru muda. Aku berniat duduk disalah satu kursinya ketika aku mendengar namaku dipanggil. Aku mencari arah asal panggilan itu dan menemukan Cik Anneke melambaikan tangannya. Beberapa orang yang berada di lobby menoleh kearah Cik Anneke. Aku berjalan kearah
nya, senyum diwajahnya mengembang saat melihatku tersenyum kepadanya.
"Cik sedang apa saat aku telepon.....?" tanyaku
"Aku sedang nunggu kamu. Ayo ikut aku ke kamar?"
Tubuh Cik Anneke nampak elegan, anggun dengan baju satin yang sedang dipakainya. Nampak tinggi dan tungkai kaki
yang jenjang. Langkahnya tegap namun kalem, pandangan mata penuh percaya diri.
"Kamu pernah ke hotel ini?" tanyanya
"Belum......baru kali ini kesini"
"Kamu pasti tidak bawa celana renang! Aku sudah bawakan jangan kuatir" katanya sambil memandang kearahku
"Aku tadi sedang ketemu
Pak Reynaldi dari Mandiri Sekuritas, jadi tidak tahu kalau hari ini Cik Anneke mengundang renang. Mana anak?" tanyaku nyeletuk
"Ada..dia sedang sama babysitter" katanya tanpa memberitahu dimana mereka berada
Lorong panjang hotel berbelok ke kiri dan Cik Anneke membuka pintu kedua
sebelah kiri. Aku berusaha mengingat arah kekamar karena takut lupa. Ruangan hotel dimana Cik Anneke menginap terlihat luas, ada sebuah ranjang besar ukuran King Size ditengahnya. Didepan dipan ada sebuah meja dengan televisi diatasnya. Plasma TV yang saat itu sedang booming.
Ada sebuah travel bag warna biru diatas lantai.
"Celana renangmu ada didalam travel bag itu" katanya sambil menunjuk ke arah tas.
Aku tidak langsung mengambilnya, tapi duduk disebuah kursi yg terletak disudut ruangan dekat jendela. Korden kamar tertutup rapat sehingga penerangan
hanya dari lampu ruangan.
"Ayo cepat kamu ambil celanamu?" katanya sambil mengambil bath robe
"Cik Anneke tidak ganti baju dulu?" tanyaku
"Aku sudah pakai baju renang, nanti aku tinggal lepas baju luarnya."
Aku mengambil celana renang yg dia bawakan dan berjalan masuk ke kamar
kamar mandi sehingga aku bisa memakainya. Aku melepas celana panjang jeansku dan menggantungnya digantungan belakang pintu. Aku memakai celana renang merek speedo warna hitam garis kuning memanjang. Nampak ketat dan press body namun bahannya terasa nyaman. Aku melepas lagi celana
itu karena aku harus menanggalkan celana dalamku sekalian.
"Cik tak tinggal disini saja celana jeansku ya?" tanyaku
"Iyalah..masak mau dibawa ke kolam." katanya
"Aku melangkah keluar setelah mengenakan celana renang yang baru itu tanpa celana dalam.
Kaos yang aku pakai menutupi
batang penisku sehingga tidak terlihat kalau aku tidak memakai celana dalam. Cik Anneke memberikan aku satu bath robe dan kami berjalan keluar kamar menuju kolam renang. Hari sabtu kolam renang agak ramai. Ada beberapa orang dewasa di kolam besar, sedangkan di kolam kecil ada
sekitar 25 orang anak anak. Mereka sangat riuh saat berada didalam air. Beberapa orang dewasa mengawasi mereka dikolam renang. Cik Anneke berjalan disisi kanan kolam dan mencari tempat duduk untuk melepas baju luar yang dia pakai. Aku duduk disampingnya dan menunggu Cik Anneke.
Mataku tidak lepas dari gerakan tangannya dan menikmati setiap lekuk tubuh yang dibalut dengan baju renang model one piece warna hitam, kontras dengan warna kulitnya.
"Kamu masuk kolam dulu!" katanya sambil melihat kearahku
Aku melepas kaosku dengan mengangkat ujung bawah, tanpa
sadar lemperku terkekspose karena ketatnya celana renang yang aku pakai. Mata Cik Anneke tertuju kearah lemper yang menjoto dari selangkanganku. Aku terjun kedalam kolam tanpa pemanasan dan komando dari Cik Anneke.
Aku berenang satu lap panjang, air terasa sejuk dan bening.
Aku berhenti di ujung jauh kolam sambil mencari Cik Anneke. Dia tertawa saat melihatku sedang mencarinya. Tangannya dia lambaikan kearahku dan memintaku menunggunya ditempatku. Dia berenang dengan tenang dan kalem dan mencapaiku sesaat kemudian.
Wanita umur 29 tahun memang
berbeda, Cik Anneke lebih matang dan berkharisma.
"Cik, kenapa tidak ajak Pak Ah Long berenang?"
"Dia kena asam urat, sulit bisa bersenang-senang bersamaan. Dia lebih suka cari uang untuk anak istri. Karena dia pikir hanya dengan uang aku dan anakku bahagia."
"Berapa beda usia?
"Kamu tebak coba?" katanya
"30 tahun?"
"Ngga begitu jauh ya.......!"
"Berapa?" tanyaku
"26 tahun"
"Ketemu dimana?"
"Aku dijodohkan sama mak comblang"
"Terus kenapa mau?"
"Secara materi suamiku mapan, apalagi yang mau dicari selain materi"
"Cinta......?"
"Salah......kepuasan!"
"Kepuasan apa cik....?" tanyaku memancing
"Kepuasan hidup.......mau ini bisa terbeli, mau itu bisa juga, mau pergi wisata bisa, dalam negeri, luar negeri bisa kalau mau? Semua bisa kalau mau"
"Ada kepuasan lain yang belum tercapai?"
"Banyak, wanita punya banyak keinginan yang
tak terhitung. Bila satu keinginan terpenuhi, keinginan lain muncul. Sangat manusiawi bukan? Ayo sambil berenang kesana"
Kami menyeberang kesisi kolam dengan berenang, gaya dadanya sangat anggun. Dia berenang disisi kananku. Terkadang aku melengok dibawah air menikmati lekuknya.
"Lagi kesana ........!" katanya saat tangan kami menyentuh dinding kolam yang kami tuju. Aku mengikutinya kali ini, Dia punya nafas lebih panjang karena terbiasa berenang. Sementara aku tertinggal satu tubuh dengannya. Pantatnya kadang2x menjuntai diatas permukaan air, menyembul
dan bergerak menggiurkan. Dia sampai di sisi kolam dan aku menyusul kemudian.
"Kamu jarang berenang ya?" tanyanya
"Iya sangat jarang....terakhir waktu ke Tawangmangu bulan lalu, aku berenang di kolam Balaikambang."
"Kamu kesana sama siapa?"
"Ada teman yang kerja di Bandara"
"Suamiku bilang kamu ini hebat loh.....!" katanya membelokkan arah pembicaraan. "Suamiku yang menyarankan aku renang sama kamu"
"Hebat apanya cik? Pak Ah Long kok bisa saja. Aku masih sekolah di SMA, apa hebatnya"
"Hebat dong, orang sekelas Pak Santosa saja bisa mempercayai kamu"
"Kebetulan mungkin cik.."
"Bagaimana ceritanya kok bisa kenalan sama Pak Santosa?" tangannya menyentuh lenganku karena ada perenang lain yang tangannya mengayun hampir mengenai wajahnya.
Sentuhan ringan yang berefek panjang.
"Awalnya aku jual lukisan adikku, beliau yang membeli"
"Oh...kamu jual lukisan juga?" tanyanya "Aku kira kamu hanya main saham. Aku dengar kamu dapat transfer 240 juta bulan ini" katanya tiba-tiba
"Aku blm melihat rekeningku"
"Kamu kok bisa hebat bagaimana ceritanya?"
Aku memandang kearahnya, ingin mengetahui motif apa dia menanyakan
pertanyaan itu kepadaku. Beberapa saat yang lalu, Pak Haryadi dan Pak Ah Long sempat menanyakan pertanyaan yang sama. Aku curiga kali ini mereka mengirim seorang wanita untuk menggali asal muasal sumber informasiku. Aku menjawabnya dengan hati-hati dan tak terhanyut dengan alur
ajakan berenangnya.
"Aku suka membaca banyak majalah ekonomi. Terutama majalah yang mengupas tentang trading serta politik. Trading tak lepas dari gejolak politik serta gejolak dunia. Ada majalah ekonomi yang menjadi langgananku ada warta ekonomi, Swa, Investor dan banyak lagi.
Majalah berbahasa Inggris juga ada, aku juga nonton TV asing Bloomberg serta Reuters. Kalau kita sering membaca dan menonton pasti kita bisa membuat analisa-analisa jitu."
"Pantas, kamu hebat ya"
"Saya tidak pernah merasa hebat"
"Kamu beberapa hari lalu memberitahu tentang
kenaikan harga CPO atau minyak sawit. Asosiasi untung banyak, darimana kamu bisa tahu?"
"Begini cik, nanti aku tunjukkan di televisi kamar hotel"
"Okay ...janji ya?" katanya
"Cik berapa semalam kamar hotel disini?" tanyaku ingin tahu
"Kamu mau ngajak nginap pacarmu ya?"
"Pacarku tdk bisa diajak menginap, dia tinggal sama eyangnya yg sudah tua. Nginap sama Cik Anneke saja lebih enak!" kataku sambil bergurau
"Kalau aku nginap sama kamu, kita ngapain?" balasnya
"Aku ajari Cik Anneke membaca data. Cik Anneke ajari aku biology" kataku sambil ketawa
"Pikiranmu kotor.....!" katanya sambil mendorong tubuhku kedalam air tetapi tertawanya tidak menipuku. Aku menenggelamkan tubuhku, kepalaku masuk kedalam air. Dengan mata terbuka, aku bisa melihat pusar dan bagian bawah tubuhnya yang berada didalam air. Ingin aku memeluknya tapi
tak punya keberanian. Aku menghindar menjauhi tubuhnya, tapi dia mengikuti aku dari jarak dekat. Tangannya bersiap-siap mendorong kepalaku lagi. Aku sengaja berhenti dan berdiri & benar saja tangannya menekan kepalaku lagi masuk kedalam air. Tapi aku bisa menghirup sebentar udara
ketika tangannya menekanku kedalam air. Aku berusaha menghindar lagi dan menjauh masih saja dia mengikutiku. Aku pura-pura mengikuti permainannya, kali ini aku bersiap menarik tangannya saat dia menekanku kedalam air. Ketika aku akan mengeluarkan kepalaku keluar dari dalam air,
tangannya menekan pundakku. Aku menangkap tangannya dan menariknya, tenaga yang dia gunakan untuk menekanku, menjadi dorongan kuat sehingga tubuhnya terjerembab kedalam air. Cik Anneke limbung dan tubuhnya meluncur kedalam air. Aku tidak tahu apakah dia tidak siap atau bagaimana
dia meminum air kolam renang karena saat dia keluar dari air. Dia terengah-engah sambil mengatakan
"Kamu ini benar-benar jahat...kuminum air minum kolam berarti kuminum kencingku dan kencing perenang lain" Mulutnya menyembur-nyemburkan air seolah-olah dia mau mengeluarkan semua
air yg telah dia minum.
"Maaf...aku tidak sengaja!" kataku sambil memegang tangannya
"Awas kamu lakukan seperti itu lagi, tak akan kau kubawa kesini lagi!" katanya mengancamku tapi senyumnya tak bisa dia sembunyikan.
"Ayo kita naik?" katanya
"Jgn dulu cik, kita balapan renang
dulu saja."
"Ayo kita bertaruh.....yang kalah harus memijat yang menang" katanya
"Berapa lama mijatnya?"
"Satu jam...."
"Terlalu lama......setengah jam saja ya?"
"Okay.....setengah jam"
Kami berdua minggir disatu sisi kolam dan bersiap untuk adu cepat. Sementara aku bersiap, aku
berpikir lebih baik menang atau kalah. Apa untung ruginya kalau aku menang, apa untung ruginya kalau aku kalah. Akhirnya aku putuskan untuk mengalah saja.
"Satu, dua, tigaaaaa....!" dia berteriak memberi aba-aba
Aku meluncur cepat, disampingku Cik Anneke melakukan hal yang sama
nampaknya dia terobsesi memenangkan adu cepat ini. Aku berusaha keras membuntutinya dengan berusaha secepatnya, tapi memang Cik Anneke berenang lebih cepat. Dia mencapai kepinggir kolam dan menyentuh dindingnya sambil meneriakkan kemenangan.
"Yesssss......!!!" teriaknya
Dalam hatiku, aku menirukan "Yessss...." sambil membayangkan memijat-mijat badannya.
"Kamu kalah....!" katanya sambil menyiramkan air kearah wajahku. Ada rasa senang dan bangga saat dia melakukan itu. Dalam hati aku senang bisa kalah dan memenangkan keinginanku untuk menjamahnya.
"Setengah jam saja seperti janji awal" kataku sambil tersenyum. "Kapan...?
"Sekarang..!"
"Sekarang..? Kita sedang berenang?" protesku pura pura.
"Mau kapan lagi?" tanyanya, dia melangkah dikolam renang kearah tangga yang terbangun dipinggir kolam.
Tangannya meraih gagang tangga
tubuhnya terangkat saat kakinya menjejakkan ke anak tangga pertama. Pantatnya terangkat didepanku karena aku berada dibelakangnya. Aku melihat tubuhnya yang basah dan segera mengikutinya.
"Tunggu disini, aku mau order burger. Kamu mau apa?" tanyanya
"Sama Cik Anneke saja!"
Dia melangkah kearah Bath Robe yang dia bawa dari kamar hotel dan memberikan satunya kepadaku. Aku langsung memakai bathrobe warna putih itu & berdiri disamping baju yang aku lepas sebelum masuk ke kolam renang. Cik Anneke kembali kearahku dan memberitahu bahwa hamburger pesanan
akan segera dikirim ke kamar. Cik Anneke berjalan sambil membawa baju dan aku mengikutinya dibelakang. Kakinya telanjang dan basah oleh tetesan air dari baju renangnya yang masih basah.
"Cik ......?" kataku menghentikannya
"Ada apa?" tanyanya
"HPku tertinggal di dekat kolam"
"Kembali sana......Eeh bukannya kamu tadi lepas celanamu di dalam kamar mandi?" katanya mengingatkanku
"Oh iya......sorry lupa aku" katanya sambil berbalik melanjutkan jalan ke kamar hotel.
Cik Anneke membuka kamar hotel dan aku menyusulnya. Dia mengambil sesuatu dari travel bag
dan menaruhnya diatas bed. Sebuah botol berisi cream warna pink, botol itu berlabel "Body Shop" berstiker hijau. Aku menutup pintu kamar dan berjalan kearah botol itu dan membaca tulisan dibotol itu.
"Messaging Cream for soft skin"
Aku berpikir sejenak, nampaknya semua telah
direncanakan. Cik Anneke melepas bathrobe dan menggantungnya dilemari hotel. Sekarang dia hanya memakai baju renang hitam yang masih basah kuyub. Berjalan masuk kekamar mandi, aku merasa canggung tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Ternyata dia melepas baju renangnya, keluar
dengan balutan handuk besar membungkus tubuhnya. Mataku nanar melihat tubuh wanita berlilitkan handuk. Tubuhnya nampak segar dan mulus, kulit putih khas keturunan Tionghua. Dia berbaring tengkurap diatas ranjang king size dengan kedua paha merapat.
"Ayo mulai sesi pijatnya."
"Tunggu aku ganti celana renangku dulu"
"Jangan lupa pakai cream yang ada dikasur itu!"
Aku masuk kedalam kamar mandi dan melepas celana renangku, aku memeras celana itu dan menggantungkannya di gantungan dibelakang daun pintu. Aku memakai celana dalamku dan menggunakan handuk
aku menutupi bagian pinggang kebawah.
"Aku baru pertama kali memijat, sebaiknya mana dulu dipijat?"
"Dari bawah......terus keatas!" perintahnya
Tanganku mengambil botol cream dan menuangkan sedikit cream yang beraroma lembut itu keatas telapak tanganku. #ceritaseks
Aku usapkan melumuri kedua telapak dan menggosokkannya bersamaan. Aku ambil botol cream itu lagi dan menuangkannya kebagian telapak kaki dan betisnya. Aku taruh dan mengangkat kaki kanannya. Jariku mengurut pelan setiap jari kakinya perlahan dan menguat ketika sampai diujung jari
kakinya. Aku mengulangi beberapa kali hingga semua jari kakinya mendapat bagian. Ruas-ruas jari juga mendapat giliran hingga sampai di telapak kakinya. Aku mengurut turun telapak kaki dari atas hingga ke ujung jari. Mungkin Cik Anneke merasa nikmat sehingga secara refleks dia
mengeluarkan lenguhan panjang.
"Enak pijatanmu........" katanya memuji
"Iya tapi jari-jariku terasa lelah, aku bukan tukang pijat"
Tanganku menaruh kaki kanannya dan mengangkat kaki kirinya untuk memijat dengan urutan yang sama. Lima belas menit berlalu, sekarang pijatanku naik
ke betisnya. Urutan ringan dengan menggunakan telapak tangan serta tekanan di jempol keatas hingga kedaerah lutut, perlahan keatas dan menekan ringan. Keringatku keluar dari pori-pori kulit, karena tenaga yang aku gunakan untuk mengurutnya. Jari-jariku terasa mulai kaku karena
baru pertama kali memijat.
"Cik......kulit kaki Cik Anneke mulus. Tidak ada bekas luka atau bekas goresan"
"Mamaku menjaganya sejak kecil. Mulus ya?" pancingnya.
"Ya.....sangat mulus" tanganku mengurut naik kedaerah paha bawah. Kali ini gerakan pijatku memutar. Dengan masih teng
kurap, Cik Anneke melenguh saat pijatanku agak kuat dan menekan pahanya agak keras. "Ooohhhh....aduuh!"
"Urat disini agak kaku...." kataku mencari alasan.
"Enak.......!" sahutnya
Aku proses lagi beberapa kali mengulanginya. Hasilnya lenguhan lenguhan sejenis terdengar. Terkadang
tubuhnya menggeliat. Paha satunya aku proses dan lenguhan yang sama terdengar. Setelah beberapa saat, aku angkat naik handuknya yang menutupi paha atas dan pantatnya.
"Cik....aku angkat sedikit handuknya ya?" batangku mengeras menahan gejolak, belahan paha bagian atas adalah
perbatasan wilayah vital. Ingin sekali aku menggosok pelan bagian paha yang menyempal ke gundukan vaginanya. Mataku menatap kesempatan untuk mengintip bagaimana bentuk & ranum warna bibir vaginanya.
"Angkat saja...atau mau dilepas?" tanyanya
"Terserah..!"
"Kamu tukang pijatnya!"
"Lepas saja cik........handuknya kena cream pijat nanti"
"Kamu lepaskan .............!" katanya sambil mengangkat bagian tubuh atas dan dengan siku dia menahan. Handuk aku angkat dan dia membantuku melepas ikatan handuk diadanya. Tubuh putih teronggok tergeletak tengkurap diatas
kasur. Aku lanjutkan pijatan bagian atas paha. Tanganku menyaru naik pelan, pahanya dia buka memberi akses cepat sehingga terasa empuk paha atas yang terhubung dengan pangkalnya. Tidak terasa ada rambut yang tersentuh jari-jariku. Pantatnya terkadang terangkat mengantisipasi
pijatan dan urutan jari-jariku. Aku pindah kebagian paha satunya. Kembali dia agak mengangkangkan pahanya melebar. Sentuh lembut aku tekankan dengan telapak tanganku bergantian. Dia mengubah posisi pinggulnya, mengangkat pantatnya membiarkan aku menyentuh pinggir lobang vaginanya
"Ooooohhh............!! tanganmu nakal" bisikknya pelan
Batangku telah bocor, ada tetesan basah di lobang dan tinggal terlihat dicelana dalamku.
"Kling...klong..!"
"Apa itu.....?" tanyaku
"Oh...burgernya datang. Kamu ambil dompet didalam travel bag 20 ribu. Berikan ke waiternya"
Pijatanku terhenti dan melakukan apa yang dia perintahkan. Dompet Cik Anneke terlihat sangat bagus. Ada sebuah simbol LV dibagian luarnya. Aku mengambilnya dan mencoba membukanya.
"Bagaimana membuka dompet ini Cik?" tanyaku
"Halaaah begitu saja tak bisa! Sini...!" Dia mengangkat
tubuh bagian atas dan menyembul kedua gunung didadanya saat kedua tangan dia gunakan untuk membuka dompet. Dia mengambil uang 20 ribu dan memberikannya kepadaku.
"Kliiiiiiing ....kloooong!"
"Tunggu...." teriakku, langkahku kupercepat menuju pintu. Aku menengok kebelakang kearah
tubuh Cik Anneke, untungnya terhalang oleh tembok. Hanya kaki bagian betis tampak jelas bahwa dia sedang tengkurap.
"Pesanan 2 burger.....!" kata waiternya
Aku menerima kotak burger dan memberikan uang tips kepadanya. Menutup pintu sambil mencium aroma burger yang masih panas.
Aku menaruh kotak burger diatas meja didekat televisi & berjalan kembali kearah Cik Anneke yang masih pada posisi yg sama. Pantatnya terekspose & kembali birahiku menggelegak. Aku mengambil botol cream & menuangkan sedikit ke telapak tanganku untuk melumuri bongkahan pantatnya.
Saat tanganku menempel diatas permukaan pantatnya, dia menoleh kebelakang ke arahku.
"Naik diatas kakiku" katanya memberi perintah
Aku melakukan perintahnya dan menindih kedua kaki bagian paha bawah serta memijat pantatnya. Aku urut dengan telapak tangan, kulitnya kencang & tak
ada seleluit dibagian paha atau pantatnya. Garis2x penuaan juga belum nampak. Aku memijat satu persatu gundukan pantatnya, menoel dan mengurut keatas. Saat tanganku mengurut keatas, ingin aku mengintip lobang vaginanya.
"Sudah setengah jam cik.!" kataku saat pantat kedua selesai
Aku menepuk kedua pantatnya saat memberitahu setengah jam telah selesai. Tepukanku kepantatnya membuatnya menggelinjang sehingga dia menggoyangkan kakinya.
"Batang penismu menempel nyaman di pahaku" katanya setengah berbisik "Cuci tanganmu dulu" lanjutnya
#ceritaseks #sangeberat
Aku bangkit dari atas pahanya dan berjalan kearah wastafel kamar mandi dan mencuci bersih kedua tanganku. Ketika cream pijat terasa luruh oleh sabun dan air aku kembali kedalam kamar. Aku kira burger yg dipesan akan kita santap bareng. Tapi dugaanku salah, dia bangkit dari rebah
dan duduk disamping ranjang. Dengan dada terbuka polos, dia meraih tanganku dan menariknya mendekat. Tangannya mengambil batangku yang masih berada ditempatnya dan mengelusnya dari luar celana dalam yang aku pakai. Saat dia mengelus turun, celana dalam melorot kebawah, ujung
kepala penisku menoleh kearahnya dengan lelehan cairan bening dari lobangnya. Secara reflex, tanganku menempel kekepalanya. Terasa tidak elok sebenarnya, tapi dia tidak protes. Pinggangku ditariknya mendekat, kepalanya mendekat kebatang penisku, ujung lidahnya menjulur menempel
dan mengolesi kulit kepala penis dengan liurnya. Tanganku tergoda untuk mendorong kepalanya dan aku melakukannya karena birahi dan nafsu yang tak tertahankan. Tanganku turun kepipinya dan telinganya bergerak mengelus elus saat kepala penisku dia kulum.
"Ooooh ciiikkkk......!"
desahkan saat bibir dan lidahnya bergoyang mengupas kulit batangku. Kepalaku terasa keras reaksi atas sentuhan lembut bibir lidahnya. Tanganku mendorong kepalanya supaya lebih cepat menggoyang serta menyedot batangku.
Tiba-tiba aku teringat kata-kata Pak Santosa "Hati-hati
dengan istrinya Pak Ah Long" Aku bertanya2x apakah ini salah satu manipulasinya.
Tiba tiba tangannya meraih batangku kembali. Kali ini dia turunkan celana dalamku hingga ke lantai. Aku mengangkat kakiku satu persatu melepas celana dalamku. Dia menengadahkan kepalanya memandang
kearah mataku. Matanya menelisik kedalam mataku menilai dan mengukur aku. Aku mendorongnya ke atas tempat tidur dan dia terbaring. Aku menekuk lututku dan mengangkanginya. Mata kami terus bertatapan, tanganku meraih gundukan payudara dengan puting runcing dan empuk. Tatapannya
kearah mataku terus menusuk, ingin mengukur sampai dimana kemauanku.
"Kamu seperti lelaki yang sudah pengalaman" katanya setengah berbisik.
Aku dia saja tdk menyahut atau mengomentari pernyataannya. Tanganku terus memegangi & memilin kuncup putingnya. Matanya menebal oleh nafsu
Aku akhirnya membungkukkan tubuhku dan mendaratkan kecupan dipipinya. Dia menolehkan wajahnya kearahku dan bibirnya membalas mencium pipiku. Awalnya pelan dan lembut, nafas kami terekam ditelinga kami, dengusannya kian memburu. Hingga akhirnya kita tidak tahan untuk mengecup
bibir kami. Lidahnya dia julurkan dan menelusup kedalam rongga mulutku. Aku sempat begidik saat lidahnya terus menelusup dan menggerayangi rongga mulutku. Nafasku tak cukup menarik oksigen sehingga aku gelagapan. Aku angkat kepalaku untuk menghindari lidahnya. Aku menelusupkan
kepalaku kearah lehernya dan mengecupi kulit batang lehernya.
"Ooooohhh........." erangnya tiba-tiba terdengar reaksi atas kecupan bibirku dilehernya
"Jangan kau buat cupang.....jangan tinggalkan jejak!" katanya lirih.
Tanganku menggerayangi dadanya dan terus turun kebawah.
Lidahku ikut turun bersamaan jari jariku. Saat jariku menepi diantara pahanya, lidahku mencapai puting susunya. Dia tangkap kepalaku dgn kedua tangannya, sambil mengelus dan mendorong saat putingnya kuhisap, dia mendongak keatas seolah sedang butuh udara lebih banyak.
"aduuuuh!"
Jariku menemukan sumber cairan lengket dan menelusup jari tengahku kedalam. Menyogok nyogol dalam dan melumuri bagian batang jariku dengan cairan lengket yang keluar dari lobang vaginanya. Jariku menjadi licin dan lentur mengoles ngoles dan meraba dinding vaginanya. "Aaagggghhhh"
reaksinya saat mengangkat pinggul dan pantatnya. Kepalanya mendongak keatas, dada dia sorongkan kepadaku untuk kuhisap putingnya. Nafasnya menderu menahan nafsu.."Ampun..." desahnya mengeras
Aku turun lagi kebawah, pahanya dia buka saat wajahku berhadapan dengan lobang nikmatnya.
Lidahku menjulur dan ujungnya menyentuh bagian bawah pusarnya. Turun perlahan pelan......... sangat pelan
Tangannya meremas rambutku mendorong kebawah tiba-tiba dia mengangkat kedua kakinya dan dorongan kepalaku mengarah pada memeknya. Kepalaku terkunci saat mulutku menemukan
lobang vaginanya. Lidahku menari nari saat masuk kedalam lobang basah itu. Tanganku menarik dan membuka kedua bibir memeknya, aroma memek yang terasangsang keluar dari rongga. Aromanya menguat saat hidungku mendekat ke lobangnya. Bibirnya seksi tebal diluar lidahku menjilatinya.
"Ooohhhh.........oooooggghhhh...ampun....... sssstttt" Rambutku dijambak naik keatas. "Masukkan sekarang" perintahnya. Aku merangkak naik tangannya meraih torpedoku dan mengarahkannya kedalam sasaran tembak. Aku menekan turun pinggulku dan menggoyang pelan turun. Terasa kelapaku
menelusup turun kedalam lobang dan bibir vaginanya menjepit kepala dan batangku.
"aaaaaghh.....Pinggulnya dia gerakkan menghujam saat setengah batangku telah masuk.
"Diam.." katanya Pinggulnya mengulek ulek dari bawah dan dindingnya meremas remas batangku yang terselip didalam.
Dinding dan lobang memeknya berdenyut denyut kencang sehingga meninggalkan rasa nikmat yang berlebihan. Pinggulnya sangat aktif dan tidak diam, mulutnya mengindikasikan rasa nikmat yang dia ekpresikan dengan lenguhan dan desisan.
"Ooohhhh........!" dia terhenti matanya menghujam
kedalam tatapan mataku.
"Enak....?" tanyanya diantara dengusan nafasnya. Dia menutup pahanya sementara batangku masih tertancap didalam memeknya.
"Giliranmu menggoyang......!" katanya
Aku angkat naik pantatku dan menghujamkan turun masuk kedalam dengan gerakan pelan. Gesekan
terasa sekali. Dinding memeknya tergosok gosok saat batangku turun naik. Mulutku menghisap dan menjilat pelan lehernya. Lenguhan panjang terdengar dekat telingaku, mulutku menyumpalnya sehingga duel lidah tak terelakkan. Birahi memuncak saat lidak kami bertemu, percikan nafsu
memicu bara nafsu dan birahi. Keinginan untuk muncrat sangat rentan, jepitan pahanya membuat gesekan antara batang dan memeknya sangat kuat. Rasa nafsu ingin terpuaskan makin tak tertahankan.
"Aku mau keluar.!" bisikku dengan dengusan nafas keras.
"Tidak..!!" Dia menekan pantatku
dengan kedua tangannya untuk menghentikan goyanganku.
"Duduk......!! ganti posisi" katanya sambil mendorong tubuhku. Goyangan tubuhnya berefek karena membuat gesekan erotis di batang kontolku. Aku mengangkat tubuhku dan duduk seperti yang dia inginkan. Batangku terlepas, kepala
nya seperti bulatan mengkilat dan basah oleh cairan memeknya. Dia sempat memegang dengan gemas batangku sebelum membiarkan aku duduk diatas ranjang. Aku meluruskan kakiku, Cik Anneke menyusulku dengan duduk di pangkuanku setelah membuka & mengangkangi aku.
#ceritaseks #CeritaHot
Batangku menjulang, dia menurunkan pantatnya dengan bantuan tangannya dia mengarahkan batangku kedalam memeknya. Tanganku menyangga tubuhku, aku membuka pahaku supaya penetrasi bisa lebih dalam. Goyangan pantatnya berputar kekanan kekiri. Batangku menampar dinding vaginanya.
Yang terdengar bukan lenguhan tapi telah berubah erangan keras.
"Ooohhhhhh...yessssss.........agggghhhh.....aaghhhhh!" dia timpakan tubuhnya di pangkuanku sehingga kulit paha dan pantatnya beradu keras. "plok...plak....plok...plakk"
Matanya mendelik dan tertutup saat kenikmatan.
"Stop...........aku mau keluar!" kataku memperingatkan
"Jangan dulu.......!" katanya sambil mendesis. Dia berhenti dan duduk dikasur dengan kaki mekangkang dan kedua paha melebar.
"Maju sedikit......" katanya menarikku
Dengan sedikit menarik batangku kebawah supaya bisa selevel,
pantatnya dia majukan. Gesekan dengan lobang memeknya terasa makin intense. Namun posisi ini tak nyaman karena posisi kaki menghalangi gerakan sehingga tak bisa leluasa. Cik Anneke terlihat sangat menikmati.
"Tahaaaannn...begini posisinya" pintanya setengah memohon, suaranya
seperti orang sange. Batangku masuk dalam dan ujungnya menempel dinding rongga vaginanya. Pantas dia merasa sangat nyaman.
Aku menggerakkan pantatku maju mundur, saat maju pantatku teras menarik otot pinggul dan otot di jaringan bagian kelamin. Aku memaksakan gerakan itu karena
aku melihat Cik Anneke sangat puas. Kepalanya dia buang kebelakang sambil menengadah keatas. Sungguh aku merasa tak nyaman karena goyangan pantatku seperti menarik otot pelvis berulang-ulang. Aku tidak tahan, sperma seperti akan muncrat dan aku tak mau menahan terlalu lama.
"Keluar.....keluar......!! semburan sperma tak sempat aku semprotkan diluar. Seluruh cairan yang tumpah masuk kedalam liang vaginanya.
"Aaaahhhhhh.......oohhhh......!!!" Batangku berdenyut-denyut, vaginanya meremas remas kedutan.
"Cik Anneke sedang menstruasikah.....?" tanyaku
mataku memandang kebawah, melihat genangan sperma bercampur darah. Batangku telah keluar dari serambi rongga vaginanya. Dia tercekat & cepat dia menggunakan tangannya menampung tetesan sperma bercampur darah yang keluar dari dalam lobangnya.
Wajahnya nampak cemas, guratan kawatir
terpampang diraut dan rona wajahnya.
"Seharusnya belum waktunya" katanya memandang kebawah. Dia berdiri dan melangkah masuk kedalam kamar mandi, beberapa tetes spermaku yang telah bercampur darah terlihat di lantai kamar. Aku mengambil kertas tisiu dari kotak diatas meja untuk
mengelap tetesan itu. Aku membuang tisiu di keranjang sampah yang terletak dibawah wastafel. Cik Anneke sedang duduk di WC sambil membersihkan vaginanya.
"Kok bisa berdarah ya?" katanya setengah berbisik
Aku keluar lagi dan sprei putih yang menutupi kasur aku angkat dan lepas
karena genangan spermaku dan darah segar terlihat jelas. Aku membawanya masuk kekamar mandi dan memberitahu Cik Anneke untuk membantuku mencuci bagian yang terkena darah. Aku menggunakan sabun batang untuk mencuci bagian itu. Saat sperma dan darah telah tercuci bersih, aku
mengeringkannya dengan hairdryer. Suara bising dari hairdryer membuat gaduh suasana kamar mandi. Cik Anneke keluar dari kamar mandi sambil membantuku menarik ujung sprei sehingga mudah kering.
Cik Anneke yg membantuku memasang sprei sementara aku masuk kedalam kamar mandi untuk
cuci-cuci. Ada rasa kencing yang tertahan sesaat setelah berhubungan badan, sesuatu yang lumrah. Tetapi saat air kencing keluar dari salurannya, yg keluar adalah darah segar. Air kencingku bercampur darah, aku sangat kaget dan kecemasan merayap masuk dalam pikiranku. #ceritaseks
Aku memutuskan untuk tidak memberitahu Cik Anneke saat aku keluar dari kamar mandi. Cik Anneke sedang membuka bungkusan burger, wajah khawatirnya masih tergambar walaupun tertutupi sesaat.
"Mungkin terluka bagian dalam vaginaku sehingga berdarah. Aku tak punya penyakit kelamin"
katanya berusaha menenangkan aku setelah melihat kecemasan diwajahku.
"Aku percaya Cik Anneke..." kataku
"Makan dulu burgernya?" katanya sambil memberikan burger yang masih terbungkus kertas.
Aku membuka burger dan menggigitnya, rasa lapar setelah bersenggama membuatku makan
seperti orang kelaparan. Tubuh kami masih telanjang saat kami menyantap burger. Aku mencium leher belakangnya saat kepalanya menunduk untuk menggigit burger. Ukuran burger yang kami pesan cukup besar, aku menghabiskan burger itu duluan. Cik Anneke tak bisa menghabiskan burgernya,
dia menawarkan apakah aku mau menghabiskan sisanya. Daging burger panggang sangat enak, terasa gurih dengan lapisan keju & roti yg empuk. Aku mengangguk saat tawaran menghabiskan burgernya dia berikan. Cik Anneke duduk di kursi kayu dekat meja, dia memintaku duduk di pangkuannya.
Tangannya memeluk tubuhku dibagian perut dan melingkar dipinggangku. Bibirnya mencium lenganku sambil memainkan lidahnya.
"Aku puas........" katanya sambil menatap kearah mataku
Aku merangkulnya, aku dekatkan burger ke mulutnya.
"Gigit lagi....!" kataku
Dia membuka mulutnya dan
menggigit sedikit.
"Kamu romantis sekali sayang....!" katanya sambil mengunyah.
"Cik Anneke tidak suka orang romantis?"
"Suka...suka.... berarti orangnya perhatian."
Aku merangkul lehernya dan memeluk wajahnya mendekat, aku kecup ringan bibirnya.
"Mulutmu bau daging panggang!"
"Aku mau pulang" kataku
"Iya...aku juga harus segera kembali ke toko"
"Aku tidak jadi menginap disini malam ini, mungkin lain kali saja"
"Kapan...?" tanyanya
"Kalau Cik Anneke undang aku berenang lagi" kataku sambil tersenyum
"Kamu kok kelihatan cemas atau khawatir begitu sih?"
"Masa.....?" kataku mengelak
"Ya sudah pulang yuk....?" katanya
Aku berdiri dari pangkuannya, mengambil celanaku dan memakainya.
"Aku bawa celana renangnya ya Cik?" kataku meminta
"Iyalah...masa aku mau bawa, Pak Ah Long bisa menceraikan aku" katanya sambil ketawa lepas.
Dia melangkah ke arahku setelah aku selesai berpakaian, dengan tangan melingkar di leherku untuk menariknya mendekat ke wajahnya, bibirnya mengecupku pelan.
"Kapan ketemu lagi sayang..?" tanyanya pelan, matanya penuh harap. Aku harus konsentrasi Ujian Nasional akhir bulan april.
"Mmm...kok lama begitu?

"Aku gatel kalau terlalu lama, siapa bantu menggaruknya?" tanyanya agak gusar
"Minggu depan hari sabtu lagi ya?" kataku
"Nanti aku telepon lagi saja kalau aku sudah check in. Handphone mu sudah tua, ganti yg baru. Nanti aku kirim"
"Aku nunggu Iphone 4" kataku
"Ada.....nanti aku suruh antar ke rumahmu"
"Ada....? gila cepat amat?"
"Aku titip orang beli di Singapore. Kirim SMS alamatmu nanti petang aku kirimkan"
"Aku tunggu ya?"
Aku menciumnya di bibir sambil memeluk dan mengangkat tubuhnya. #ceritabokep
Benar saja, sekitar jam 7:20 malam ada orang mencariku. Adikku Wulan memberitahu bahwa ada orang mau ketemu. Seorang lelaki berperawakan tinggi dan kurus memakai jaket biru membawa bungkusan plastik. Aku menemuinya ditempat biasa ibu bekerja. Dia tidak mau duduk, tangannya hanya
mengulurkan sebuah tas plastik dengan nama merek toko emas di daerah Coyudan.
"Ada titipan dari Cik Anneke" kata kurir itu.
"Oh ya...sampaikan terima kasih kepadanya. Tidak duduk dulu?"
"Maaf, saya harus segera mengantar barang lain" katanya sambil berpamitan.
"Aku membawa naik
tas plastik warna putih itu. Menaruhnya di atas meja kamarku. Badanku terasa lelah setelah seharian berada diluar. Aku tidur tanpa membuka barang kiriman Cik Anneke. Aku baru terbangun sekitar jam 3 pagi karena kebelet pipis. Hatiku kembali luruh dan perasaanku kacau saat kencing
yang terlihat adalah darah. Aku sangat sedih dan kepikiran terus. Aku tidak bisa melanjutkan tidurku, kubuka laptopku mencari informasi solusi masalahku.
Tidak kutemukan informasi yang tepat dan ini membuatku makin kalut. Aku melihat tas plastik dari Cik Anneke dan membukanya.
Bukan hanya sebuah Iphone 4 baru yang dia kirimkan kepadaku tapi juga jam tangan bundar serta tipis berlapis emas 18 karat berbalutkan tali kulit warna merah maroon. Jam tangan itu berada dalam sebuah kotak yang sangat luxurious, terlihat berkelas.
Aku mencoba memakai jam itu,
memang nampak keren. Ada sebuah pesan yang Cik Anneke selipkan didalam kotak Jam tangan itu. Saat aku membukanya, aku segera tersenyum. Pesan singkat yang tertulis sangat jelas "Buang Jam Tangan lamamu"
Aku memutuskan akan memberikan jamku pada Andi yang menggantikan ruteku.
Aku membuka Iphone 4 warna putih dari kotaknya. Lapisan plastik yang melindungi layar aku kupas. Di atas kotak ada nomor SIM Telkomsel baru. Nomor cantik tertera di sudut atas kanan dengan 5 nomor akhir 88888.
"Gila......!" kataku dalam hati
Aku segera mengaktifkan Iphone baruku
Hampir satu jam aku mengotak atiknya untuk daftar dan mengaktifkan iphone dan nomor baruku. "Kling......!" terdengar nada sms masuk memberitahukan Selamat Nomor Simpati anda telah berhasil di aktifkan.
Aku menggenggam hp baruku dan jam tangan kupakai, terlihat keren dan mantap.
Meeting asosiasi yang dijadwalkan hari minggu jadi diadakan di restaurant Diamond. Aku datang agak cepat dari jadwal yang ditentukan. Aku tetap berada di mobilku sambil melihat siapa saja yang datang. Ketika Pak Haryadi datang, dia masuk dengan seorang wanita berambut sepundak.
Tak berapa lama kemudian datang Pak Santosa, dia datang sendiri disusul Pak Ah Long dan beberapa anggota lainnya. Aku keluar dari mobil dan berjalan kearah pintu masuk. Membawa Iphone baruku dengan jam tangan baru kupakai. Aku lupa mengunci pintu mobil nampaknya sehingga aku ber
jalan kembali ke tempat parkir mobil. Tiba-tiba kepikiran untuk menelepon Cik Anneke mengucapkan terima kasih kepadanya. Aku masuk lagi kedalam mobil dan meneleponnya.
"Hallo sayang....!"
"Aku ada rapat di Restaurant Diamond, boleh kupakai jam tangan yg dikirim kemaren?" tanyaku
"Boleh......! Aku senang kalau kamu mau pakai pemberianku. HPnya sudah kamu pakai juga?" tanyanya
"Sudah.....terima kasih!"
"Sama - sama sayang....!"
"Ada Pak Ah Long, apa dia nanti tidak curiga?"
"Dia tidak tahu....pakai saja tidak usah kuatir"
"Okay.....tinggal dulu ya? Bye"
Ada 4 wajah baru didalam meeting asosiasi itu, semuanya berusia diatas 50 tahun keatas. Dari cara berpakaian dan berbicara, mereka nampak orang orang berpendidikan dan ber-uang. Banyak hal yang dibicarakan terutama masalah minyak sawit yang sempat di bicarakan oleh Cik Anneke.
Aku menyimak apa saja yang mereka bicarakan, tapi yang jelas mereka tergantung pada aku sebagai sumber informasi. Pak Haryadi mendominasi pembicaraan karena beliau adalah eksekutor sementara yang lainnya adalah investor dan pemilik modal. Aku duduk disamping Pak Santosa karena
beliaulah yang menginisiasi asosiasi ini berdiri. Aku seperti dibawah sayap beliau sehingga dia menjadi pelindungku.
"Bagaimana mobilmu?" tanya Pak Santosa
"Baik Pak San......." jawabku singkat
"Ada 6 investor baru di asosiasi kita......aku sedang memperjuangkan bahwa aku akan
mendapatkan 8% revenue & profit dari trading kita. Kita dapat keuntungan banyak saat kenaikan minyak sawit minggu lalu. Informasi yang kamu berikan tepat waktu" jelasnya
"Terima kasih Pak San" kataku sambil tersenyum
"Kami yang harus berterima kasih kepadamu, tanpa kamu asosiasi
tak akan bisa berbuat banyak. Apakah kamu juga melakukan trading sendiri?" tanya Pak San
"Iya..awalnya saya minta Mas Reynaldi membantu, tapi sekarang sudah tidak." kataku pendek
"Kamu butuh banyak biaya kala nanti kuliah di luar negeri. Keputusan tepat bila kamu trading sendiri"
Kami berbincang-bincang panjang lebar sebelum kami makan bersama. Pak Haryadi sempat ikut nimbrung berbicara dengan kami sebelum dia menarak lenganku setelah meminta ijin Pak Santosa.
Aku mengikuti langkahnya kesebuah sudut ruangan yang agak jauh dari keramaian.
"Kamu ada info
tidak tak tentang batu bara?" katanya sesaat kami berhadapan. "Begini..ada banyak investor yg menanyakan hal ini, coba kamu mengakomodasi info apa yang kamu bisa berikan tentang bisnis ini?"
"Ok Pak Haryadi, saya akan follow up tentang informasi mengenai hal itu. Ada yang lain?"
"Aku mau kenalkan sama Pak Suwika dan Pak Bernard, mereka ingin sekali ketemu kamu tapi jgn kamu berinisiasi untuk memulai usaha dengan mereka. Mereka orang baru di asosiasi, kita belum tahu motif dan tujuan mereka bergabung tetapi utamakan urusan asosiasi dari urusan dgn mereka"
"Baik, saya rasa saya tahu etiket berbisnis Pak Haryadi" kataku singkat & padat.
"Bukan begitu..aku hanya menyarankan"
Aku tersenyum ringan dengan timpalan kata-katanya kepadaku. Ada rasa benci atau tidak suka kepadaku dari nada suaranya. Aku tidak peduli & berjalan dibelakangnya
Dua orang yang sedang berdiri ditengah ruangan adalah yang Pak Haryadi tuju. Setelah dekat, kedua orang itu memperkenalkan diri sebagai Pak Suwika & Pak Bernard. Ternyata mereka berdua baku saudara, hubungan tepatnya adalah saudara ipar. Kami berkenalan & mereka berdua memberiku
bisnis card mereka. Mereka adalah pengusaha rokok tinggal di Kudus dan sedang expansi ke Pasuruan. Mereka menunggu aku memberi bisnis cardku kepada mereka, tetapi karena aku bilang bahwa aku tidak mempunyainya mereka meminta nomor HPku. Aku menelepon nomor mereka yang aku lihat
di kartu sambil menyimpannya langsung ke handphone baruku. Kami berbincang-bincang sejenak sebelum mereka minta undur diri karena mereka harus kembali ke Kudus hari itu juga. Pak Santosa sempat berbincang sebentar dengan mereka dan aku rasa cukup akrab dari gesture tubuh mereka.
Tiba tiba Pak Haryadi menyenggol tubuhku, aku menoleh kearahnya dan dengan gerakan seolah bertanya aku ingin tahu apa yang beliau mau.
"Kamu masih berapa lama lagi di Indonesia?" tanyanya
"Satu setengah tahun mungkin, kenapa pak?"
"Kalau kamu jadi berangkat, apa kira2x asosiasi
ini akan sama kala kamu masih disini?" tanyanya
"Harapannya masih sama" kataku pendek "Memang kenapa Pak Haryadi?"
"Kamu sebagai sumber informasi valid, kamu satu-satunya yang bisa membuat assosiasi ini berjalan. Kalau kamu cabut, berarti kredibilitas assosiasi akan terguncang."
"Apakah ada kira-kira solusi yang Pak Haryadi berikan?"
"Kamu rencana akan kuliah di Jerman, perbedaan waktu sangat jauh. Apa itu tdk akan menjadi kendala?"
"Bagaimana kalau kamu kuliah saja di Singapore? Tidak terlalu jauh sehingga kegiatan usaha asosiasi tetap bisa berlangsung.
"Saya sudah membandingkan biaya tinggal di Jerman dan di Singapore. Kuliah di Jerman gratis selama saya bisa masuk di universitas negeri. Sementara untuk kuliah di Singapore, biayanya sangat tinggi. Uang kos dan makan serta transportasi tidak murah. Tidak memungkinkan untuk bisa
membiayai diri kalau saya kuliah disana.
"Kamu pikir kita orang di Assosiasi ini akan membiarkan kamu kesulitan di Singapore? Kita akan rela membantu selagi assosiasi tetap berpenghasilan. Kau pertimbangkan lagi saja, aku juga sudah mencari informasi tentang jurusan yang akan
kamu ambil. Financial Engineering bisa kamu ambil setelah kamu menyelesaikan electrical engineering di Bachelor Degree baru kemudian melanjutkan di Master degree di Standford University, UCLA, NYU dan beberapa universitas di America. Kalau kamu kuliah di Jerman, sulit harus menye
suaikan lagi bahasanya. Coba kamu pikirkan lebih praktis mana kamu belajar di Singapore dengan medium bahasa pengantar Bahasa Inggris atau di Jerman menggunakan bahasa Jerman lalu melanjutkan ke America dengan bahasa Inggris. Kamu les bahasa di Jakarta buang waktu setahun."
"Sebetulnya saya juga kepikiran untuk kuliah di NTU Singapore lewat jalur beasiswa, tapi saya terlambat bergabung. Test beasiswa telah dilakukan desember lalu sehingga satu-satunya jalur yang harus saya tempuh jalur test."
Sebaiknya kamu persiapkan untuk mengikuti ujian IELTS
supaya kamu bisa diterima dengan lebih mudah. Atau bisa juga kamu belajar di Monash Universtiy cabang Singapore atau di MRIT. Nanti aku diskusikan dengan Pak Santosa supaya bisa diputuskan bentuk bantuannya. Yang penting kamu mau belajar di Singapore sehingga kegiatan assosiasi
bisa terus dilanjutkan.
Masalahku kencing darah aku bawa sampai berhari hari, aku menjadi sangat khawatir karena menghantui aku. Aku jadi murung dan wajahku terlihat sedih. Aku menyadari bahwa aku sedang menanggung sesuatu. Perubahan wajahku terbaca oleh ibu dan adikku Wulan.
"Mas..kamu punya masalah?"
Aku tidak menjawab pertanyaannya, tapi ketika ibu menanyakanku aku tidak bisa mengelak.
"Iya ada sedikit masalah bu, tapi aku coba atasi dulu sendiri. Kalau tidak bisa baru aku tanya ibu" jawabku berdiplomasi.
"Masalah apa toh mas?" tanya ibu mendesak. "Bapakmu tadi malam kaget
melihat laporan rekening di Bank Mandiri kok banyak sekali. Apa kamu merampok?"
"Tidak mungkinlah bu....!" jawabku sambil berlalu. Aku tidak ingin ibu tahu masalah itu. Tapi aku tidak yakin harus bicara dengan siapa. Aku akhirnya pergi ke Bandara untuk menemui Mbak Widya.
Aku sempat menelepon bapak menanyakan dimana beliau berada. Aku juga sempat memberitahu bahwa aku akan kebandara. Membawa beberapa majalah luar negeri yang akan dijual di bandara.
Bapak ternyata berada di daerah Pengging, Kartosuro sedang mengantar teman yang berminat membeli
tanah. Aku juga membawa hp lamaku yg akan aku berikan kepada Mbak Widya. Sementara untuk Naira aku berencana membeli yg baru untuk level entry.
Sesampai di Bandara sekitar 6:30 petang. Mbak Widya berdiri disisi kanan pintu kios. Saat aku berjalan ke arahnya dia menoleh kearahku
Tanpa di komando, dia tersenyum senang. Seperti biasa dia selalu memandang tanganku karena membawa sesuatu. Seperti biasa juga, pertanyaan selalu muncul dari mulutnya. "Itu apa mas?"
"Ini HP bekasku untuk kamu." jawabku
"Serius...?" tanyanya seperti tidak percaya
"Ayo kita tutup
kios ini sebentar, aku ingin minta tolong sesuatu?"
"Mas.....kok kelihatan ada masalah gitu?" tanyanya sambil memandang penuh selidik. Bergegas dia masuk kedalam kios untuk mengambil kunci rolling door. "Nanti kita kembali kesini kan?" tanyanya memastikan
"Iya...!"
#cerpen
"Jadi aku ngga perlu bawa tasku ya mas?" tanyanya
"Lebih baik bawa sekalian siapa tahu nanti kita kemalaman" kataku
Aku membantu menurunkan rolling door dan Mbak Widya mengunci bagian dalam, sementara pintu kedua aku turunkan setelah Mbak Widya berada diluar kios.
Aku berjalan
duluan kearah parkir. Mbak Widya nampak bingung mengira aku masih naik motor.
"Mas...parkir motornya disebelah sana!" katanya mengingatkan
"Aku naik mobil...!" kataku
"iiihh beneran naik mobil?" katanya memastikan, setengah berlari dia menyusul langkahku yang memang lebih cepat
Aku membukakan pintu untuk Mbak Widya dan berjalan mengelilingi bagian depan menuju pintuku.
"Mas.....tambah hebat!" katanya. "Cuman satu kekurangannya, bajunya kurang keren. Harusnya beli baju yang agak keren supaya pantas naik mobil"
"Iya...kumpul uang dulu supaya bisa beli"
"Mas...mau kemana?" tanyanya ingin tahu
"Kita ke Sindon dulu..lama tidak kesana!"
"Mas kenapa sebulan lebih tidak pernah ke Bandara, tidak kangen ya?" tanyanya, wajahnya memandang ke arahku.
"Aku les menyetir, pemantapan persiapan Ujian Nasional dan banyak lagi kegiatan lainnya"
Sesampai di Sindon, aku memberikan kunci pagar kepadanya. Aku bantu dia untuk membuka pintu mobil dan Mbak Widya keluar dan membuka pagarnya. Aku memasukkan mobil, hari sudah mulai gelap. Jam di tanganku menunjukkan pukul 6:55. Aku keluar mobil dan membuka pintu depan rumah.
Mbak Widya melangkah masuk & aku mengikutinya dari belakang. Kunyalakan lampu dan menaruh kunci mobil di meja. Setelah pintu kututup dari dalam, mbak Widya langsung melepas sepatunya. Aku duduk di dipan bambu yang biasa kita gunakan untuk bersetubuh. Mbak Widya duduk disampingku.
"Ada masalah apa?" tanyanya lembut tangannya memegang tanganku. "Mas kelihatan kurus dan terbeban masalah"
"Aku mau tanya ibu, tapi aku malu kalau memberitahu. Mau tanya bapak, aku juga takut beliau marah, makanya aku tanya Mbak Widya"
"Okay, sekarang ceritakan apa masalahnya?"
"Kencingku bercampur darah mbak?" kataku sambil menundukkan kepala, suaraku hampir tak terdengar oleh telingaku sendiri.
"Apa?" katanya memintaku untuk mengulangi. Tangannya memegang pundakku dan mendorongnya kebelakang dengan pelan.
"Kencingku bercampur darah!" kataku mengulangi
"Mas Arjuna kesakitan tidak kalau pipis? Perih...atau merasa menusuk?" tanyanya. Wajahnya nampak khawatir dan setengah tak percaya. "Mas habis jatuh kah?"
Aku berpikir sejenak seolah mengingat sebuah kejadian.
"Iya...aku terjatuh saat main basket disekolah"
"Sudah berapa hari?"
"Sejak hari Jum'at yang lalu" kataku
"Banyakkah darah yang keluar" tanyanya "Mas berhubungan sama siapa saja.....?" nada suaranya penuh selidik
"Sama Mbak Widya saja...." jawabku tapi mataku tak mengarah kepadanya
"Coba keluarkan.....bisa berdiri?" tanyanya
"Bisa...!"
#ceritaseks
"Orang bilang kalau sakit kelamin biasanya baunya busuk karena bagian dalamnya bernanah. Coba aku bau ada bau busuk tidak?" katanya. Aku berdiri dari dipan bambu dan melepas ikat pinggang. Tangannya membantuku untuk membuka kancing dan menurunkan resleting. Aku menurunkan celana
dalamku sekaligus. Batangku sudah berdiri, tangannya mengambil batangku dan mengendus2x lobang batangku.
"Tidak ada bau..! Mas merasa perih tidak saat pipis?"
Aku menggelengkan kepalaku. Berarti bukan penyakit kelamin, mas mau aku antar ke dokter?" tanyanya
"Iya..mauku begitu!"
"Tapi tunggu dulu...aku mau masukkan dulu ke lobang memekku, lama tidak dapat jatah. Gatel rasanya, kebetulan ada, aku mau memanfaatkan"
"Yakin....mbak tidak takut ketularan?" tanyaku
"Yakin......!!!" katanya sambil melepas rok dan celana dalamnya. Atasan yang dia pakai juga dia
lepas dan menaruhnya diatas sandaran kursi.
"Sini........!" kataku menarik lengannya.
Tubuhnya nampak lebih berisi, mungkin setelah menikah sehingga tubuhnya agak gemuk.
"Nanti kalau spermanya tumpah, mas cabut saja ya" katanya dengan nada meminta.
Aku mengangguk pelan "Iya"
"Mas lepas dong sekalian kaosnya" katanya sambil mengangkat kaos yang aku pakai. Mas berdiri disamping dipan, aku ingin mengulum batang panjang. Tangannya mencengkeram batangku, sambil mengocok pelan naik turun dia mendekatkan kepalanya ke arah batangku. Aku memegang kepalanya
mengarahkan bagian mana batangku yang ingin dia jilati, tanganku meraih teteknya dan mengelus lembut gundukan teteknya.
Kepala batangku tenggelam kedalam rongga mulutnya, ada suara "cepok" ketika kepala batangku terlepas dari mulutnya.
Saat matanya melihat lobang diatas kepala penisku, Mbak Widya berucap. "Iya mas..berdarah!" katanya sambil jarinya memainkan lendir yang semburat merah oleh darah.
Dia turun dari dipan dan berjalan kearah tas tangannya dan mengambil selembar tisiu. Dia meludahkan air liur yang bercampur lendir ketisiu itu.
"Masukkan saja langsung mas...?" katanya memerintahkan.
"Aku memegang selangkangannya dan meraba lobang memeknya. "Sudah basah!" kataku
"Jangan keluar didalam......!" pintanya
Aku memintanya untuk menungging dan membelakangiku. Mataku memandang belahan pantatnya dan mencolokkan batangku maju. Tangannya menjulur kebelakang membantu mengarahkan batangku supaya masuk langsung lobangnya.
"Iya dorong situ mas.....!"
Aku mengikuti perintahnya dan mendorong batangku ke lobang basah. Terasa peret dan sempit, aku harus menarik mundur pantatku sebelum aku tusukkan lagi ke dalam. Aku memegang pinggangnya supaya gerakanku menusuk lebih prima. Tubuhnya dia mundurkan mengimbangi tusukan batangku.
"Ooohh masss...!" teriaknya pelan. Batangku terasa seolah sedang menusuk sebuah daging yang terbelah. Bagian sekeliling batangku terbungkus daging hangat dan berlendir licin. "Teerrrusssss masss......terusss....!!"
katanya memberiku semangat. Aku naikkan satu kakiku keatas dipan.
Posisiku menusuk lebih sempurna, tusukanku makin dalam gerakanku makin kencang.
"Mbak Wid....enak sayang?" kataku
Wajahnya menengok kebelakang, pandangan kami bertemu. Mulutnya menceracau..."Ooohhhh...agghhh....putingku masss...tarik putingku!" pintanya
"Iyaaa ohhhh....aduuuuh!"
"Ceplok...ceplok....ceplok....suara paha kami beradu. Pantatnya yang nungging tiba -tiba dia gerakkan sedemikian rupa sehingga kepala penisku bergerak hingga berada di ujung lobang. Dia kembali putar kekanan dan kekiri dengan gerakan liar. Baru kali ini gerakan itu aku rasakan.
perasaanku dibawa ke awan kenikmatan sehingga suara desahanku tak tertahankan. "Oohhh Mbakkk.....!"
Kembali wajahnya menengok kebelakang, saat kepalaku menengadah. Nikmatnya tiada tara dan wajah sangenya membuatku senang, Putingnya aku pilin keras dan ku tarik "Ooooggh mass....!!
"Aku ngga kuat mbakkkkk.........aku mau keluar......goyang yang cepaaaatttt" gerakan putarnya menggoyang batangku dan kepala batangku berada ditepi lobang memeknya. Rasanya seperti di elus-elus dan dipijat pijat daging empuk. Sungguh liar dan penuh gairah. Tak lama denyutan keras
terasa, sperma terasa akan muntah. "Mbaak tak bisa kutahan...!" Kucabut batangku, dia membalikkan badannya tangannya meraih batangku. Dia kocok cepat naik turun hingga batangku berdenyutan keras. Semburan deras spermaku tak tertahankan. Semprotan kencang kedepan mengenai dadanya.
"Sperma putih yang biasanya terlihat, tidak lagi putih tetapi bersemburat warna merah. Mbak Widya kaget saat melihat warna merah yang keluar dari batangku.
"Maassss...!" tubuhnya mundur melihat warna darah keluar dari batangku. "Aku mengira kamu bohong tadi" Tangannya melepaskan
batangku. Sperma yg mengenai dadanya mengalir turun kebawah. Dia mengambil tisiu yang dia taruh dimeja & mengambilnya untuk membersihkan cairan sperma yang mengenai dadanya. Dia mengelapnya setelah agak bersih, dia dekatkan tisiu yg belepotan sperma ke hidungnya. "Bau sperma...!"
katanya ringan. "Ini bkn bau sperma yg terinfeksi, ini bau sperma spt biasa tapi ada luka disalurannya. Kita hrs pergi ke dokter sekarang. Ayo kita mandi dulu" ajaknya. Kekawatiranku agak reda. Tangannya kembali meraih batangku & mengocoknya pelan, lelehan sperma kembali keluar.
rasa lega terasa, beban cairan yang menggelambungkan bola batangku keluar semua.
Aku membungkukkan badanku mencium wajahnya.
"Sudah keluar semua sayang.....sudah....!" kataku bibirnya meraih mulutku dan kami berpagutan senang.
Mbak Widya mengantarkan aku ke Rumah Sakit Dr. Oen
dia yang mendaftarkan aku di praktek dokter specialist urologi, Dr. Setya. Tidak butuh lama bagi dokter untuk menemukan masalahku. Beliau memberi gambaran masalah yang aku hadapi dengan tenang & kebapakan.
"Tidak usah cemas dan khawatir, lapisan pembatas antara saluran kencing
dan saluran sperma terluka sobek saat anda jatuh dan nampaknya terseret sehingga bagian itu ketarik."
Beliau memberi aku 2 jenis obat yang harus aku minum selama seminggu. Tidak ada pantangan sama sekali yang harus aku lakukan. Makanan dan minuman seperti biasa tidak masalah.
Keluar dari ruangan dokter, perasaanku agak lega. Aku mampir ke Apotek Kondang Waras untuk membeli obat yang diresepkan Dokter Setya. Yang melayaniku adalah Rahmadi, anak pemilik apotek itu yang kebetulan siswa SMAN 3. Cerita tentang dia ada di
Kami sama2x
berniat belajar ke Jerman hanya saja kami beda kelas. Dia berada di kelas IPA3 aku berada di Kelas IPA1.
Dia membantuku mengambilkan obat dan aku membayarnya setelah obat kudapatkan. Mbak Widya menungguku di mobil. Aku berencana membawanya makan malam di warung lesehan Bu Mul
didaerah Banyuanyar, Banjarsari. Warung lesehan yang benar-benar nyaman untuk makan malam sederhana.
"Mbak Mau bungkus ayam atau makanan lain?" tanyaku setelah makan nasi sambel goreng cecek pedas.
"Iya mas....aku mau ayam goreng dada dan ikan lele goreng" jawabnya cepat.
"Iya sudah.....mbak pesan mau berapa" kataku
Dia berdiri dan berjalan kesamping warung lesehan itu untuk memesan. Aku agak kaget saat membayar, karena tagihan hampir 400 ribu rupiah. Ternyata Mbak Widya memesan setengah lusin ayam goreng dada dan lele goreng juga 6 ekor.
"Gila ini orang......memanfaatkan situasi" pikirku sambil tersenyum.
Aku mengantarnya pulang ke Colomadu setelah makan.
"Mas.....cepat sembuh ya!" katanya sebelum membuka pintu mobil sementara tangannya mengelus elus batangku.
Dia menutup pintu setelah mencium bibirku. Rumah yang dia tempati terlihat kecil dan gelap. Lampu yang menjadi penerangan setiap rumah belum menyala. Di melangkah menjauhi mobilku, aku mundur utk memutar dan pulang.
Obat yang diresepkan Dokter Setya sangat manjur. Darah yang mengucur setiap kali aku kencing berhenti setelah aku minum tiga hari. Aku merasakan kelegaan, Mbak Widya benar bahwa yang aku derita bukan penyakit kelamin. Rasa cemas dan khawatir yang tercermin di wajahku juga telah
sirna, keceriaan dan expresi sehat terpancar dari mata dan sikapku. Ibu merasa lega karena melihatku seperti biasa. Keceriaan remaja dan kerap ugal-ugalan muncul kembali.
Hari sabtu pagi saat adikku Wulan mau les Bahasa Mandarin sempat menanyakan kapan aku akan mengajarinya utk
trading. Aku telah menjanjikan untuk mengajarinya sebelum aku berangkat keluar negeri. Memang masih lama tetapi aku rasa perlu untuk tetap bisa mengajarinya.
"Iya nanti saja hari senin setelah pulang sekolah, hari sabtu begini pasar saham tutup."
"Mas..kamu mau kemana hari ini?"
"Saya mau ke rumah teman di Balong situ bu?" jawabku
"Cewek yo..?" desak ibuku
"Iya.." jawabku pendek
"Sekali-sekali dikenalkan sama ibu"
"Iya bu....nanti malam saya akan ajak bapak ibu dan Wulan makan malam. Dia akan aku ajak, tapi jgn dianggap serius sebab kita hanya berteman"
"Aku mau diantar ke Prodia kira kira bisa kapan ya mas?" tanya ibu
"Ibu mau diantar sekarang?" tanyaku
"Ya belum bisa mas.....aku masih banyak kerjaan!"
"Besok saja bu supaya tidak terburu-buru" kataku
"Besok hari minggu apa Prodia buka?"
"Buka bu, aku rasa karena itu lab umum"
"Ya sudah besok saja.....nanti malam jadi kan?" tanya ibu memastikan
"Iya....semoga jadi" kataku sambil terkekeh
"Loh piye toh kowe iki, aku arep ngabari bapak supoyo mengko ndang cepet mulih"
"Nggih bu, jam 7 malam nggih" kataku serius
"Yo....kudhu ngunu!"
Aku pamit keluar
untuk ke rumah Naira. Seperti biasa aku memarkir dibagian utara Pasar Gedhe. Si tukang parkir tahu kemana aku akan pergi, dia tersenyum saat melihatku berjalan kearah timur menuju Gang 5.
Aku mengetuk pintu depan dan Naira sendiri yang membukakannya.
"Mas.....tak tunggu tunggu!"
"Apanya yang ditunggu-tunggu? Handphone nya atau orangnya?" tanyaku menggoda
"Kedua-duanya.!" katanya terus terang
"Ya sudah...ayo kita ambil Handphonenya" kataku
"Sekarang..?"
"Iya.....atau bulan depan saja?"
"Ngga mau sekarang saja.....! Peluk dulu mas!" katanya dengan manja
Aku merangkulkan kedua tanganku ketubuhnya yang masih memakai seragam sekolah. Bau shampoo dan sabun tercium dihidungku. Rasa rindu terasa saat pelukanku dibalasnya dengan pelukan hangat tangannya. Dia gerakkan telapak tangannya mengelus punggungku. "Aku kangen berat sama kamu!"
bisiknya lirih. Wajahnya dia sembunyikan didadaku. Bibirku mengecup kepalanya.
"Eyang ada dimana?" tanyaku pelan
"Ada dibelakang, ada tetangga sebelah yang datang ngobrol" katanya
"Coba kamu tanya, eyang mau dibelikan makanan apa?" tanyaku "Supaya kita bisa belikan sekalian"
"Aku suka yang Eyang suka" katanya "Tunggu sebentar aku ambil dompetku sama pamit eyang"
Aku menunggunya diluar rumah, pintu terbuka dan Naira telah nampak lebih rapi dengan rambut telah tersisir.
"Nanti malam aku akan mengajakmu makan malam sama bapak & ibuku" kataku saat jalan
keluar gang.
Dia menoleh kearahku "Serius?" tanyanya
"Iya jam setengah tujuh aku jemput"
"Makan malam dimana? Aku harus pakai baju apa?" tanyanya agak gugup
"Tunggu...! Mas seriuskah mengajakku makan sama bapak dan ibu?" tangannya menahanku.
"Iya..ibu yang menyuruhku mengajakmu"
Aku menarik lengannya sementara pandangannya penuh dengan keheranan. "Coba ceritakan bagaimana sih awalnya"
"Jangan dianggap serius, ini acara makan malam biasa. Kita sangat jarang makan malam di luar dan tiba-tiba ibu menanyakan aku mau kemana. Aku jawab kalau aku mau kerumahmu"
"Memang Mas Arjuna pernah ceritakan namaku kepada ibu?" tanyanya ingin tahu
"Belum....tapi ibu ingin mengajakmu ikut makan" kataku. Aku mengarahkan mobilku ke Jalan Gatot Subroto dan berhenti didepan toko Erafon.
"Mas...mau belikan aku hp baru kah?" tanyanya gugup
"Iya ada hp
Samsung Ace 3 yang sangat bagus" kataku memberitahu "Ayo turun, kamu mau warna putih atau hitam" tanyaku sambil membuka pintu mobil.
Naira membuka pintu mobil sendiri dan turun mengikuti aku setelah menutup pintunya.
Seorang pelayan toko menyambut kami dan menanyakan jenis hp
apa yg ingin aku beli. Aku langsung nunjuk HP Samsung Ace, raut wajah Naira nampak gembira saat melihat contoh HP yang kusebut.
"Kamu suka ini tidak?" tanyaku menanyakannya
"Mas..yang ini kemahalan!" katanya sambil memandangku
"Iya tidak apa-apa, asal kamu suka dan mau memakainya
Kata-kata Cik Anneke aku tirukan seperti saat dia memberiku Iphone 4.
"Aku mau yg warna putih saja biar hanphone kita sama warna" katanya
Pelayan toko mengambilkan Samsung Ace & memberikannya kpada Naira.
"Mau disettingkan sekalian tidak?" tanya penjaga toko "Sudah punya nomor?"
"Belum, disini jual nomor juga kan?" tanyaku
"Ada mau pakai operator apa?" tanya penjual
"Aku mau pakai XL saja karena didaerahku jaringannya bagus" kata Naira
"Jangan sebaiknya kamu pakai Telkomsel saja, jaringan lebih luas" kataku
"Ya sudah.....ikut saran yang membelikan"
Penjaga toko mengeluarkan bundelan kartu Telkomsel dan memberikan kepadaku untuk memilih nomor.
"Kamu mau pilih nomor apa?" tanyaku
"Aku tidak tahu masalah nomor, Mas Arjuna saja yang pilihkan" katanya
"Ada nomor cantik tidak berakhiran 777?" tanyaku pada penjual
#ceritaseks
"Ada mas..kenapa tidak sekalian 888 harganya sama!" katanya
"Berapa harga kartu simnya?"
"150 ribu mas"
"Ya sudah aku ambil sekalian kartu yang triple 8"
Penjaga toko yang lain segera membuatkan kwitansi penjualan dan menyoronkannya kepadaku untuk kubayar. Sementara aku membayar
Penjual yang melayani penjualan tadi menyeting dan me register nomor Telkomselnya.
Sekitar 20 menit kemudian, Naira telah menenteng hp barunya dan kami meninggalkan toko erafon.
"Mas....terima kasih banyak!" katanya sambil mengecup tanganku yang sedang memegang kemudi.
"Sama2x"
Ada rasa senang bisa membelikan Naira sebuah handphone. Aku tahu dia pasti ingin segera menggunakannya & memencet-mencet untuk memainkannya. Handphone baru yang masih didalam kotaknya hanya dia pangku & masih berada didalam tas.
"Mas mau beli makanan apa?" tanyanya
"Tidak tahu,
Ada saran apa yang bisa kita makan bersama?" tanyaku
"Kita beli sup Kimlo saja ya atau soto sulung?" tanyaku
"Aku mau lodeh saja" katanya "Ada penjual lodeh enak di daerah Jurug tapi agak mahal karena ada tetelan daging sapi"
"Boleh kita kesana saja, aku ingin coba. Kamu tahu
jalan kesana kan?" tanyaku
Kami akhirnya membeli sayur lodeh, bawa pulang dan makan bersama eyangnya. Kami juga membeli sate kambing sepuluh tusuk yang kami habiskan bersama.
Suasana makan cukup gayeng, karena eyang sangat menikmati makanan yang kami beli. Selera humornya masih
tinggi. Ketika aku tanya apa tidak takut makan sate kambing dengan usia yang sudah sepuh. Jawabnya membuat kami ketawa. "Iwak wedhus iku paling enak, ora oleh di lewatke"
Satu porsi Lodeh ternyata hanya 25.000 tetapi sungguh banyak sehingga bisa disimpan untuk makan besok.
"Kamu harus sering-sering datang supaya aku bisa makan enak" kata eyang bercanda
"Iya eyang......semoga ada rezeki sehingga bisa membawakan eyang makanan" jawabku sambil tersenyum.
Naira meringkasi makanan dan piring ke dapur setelah makan. Eyang mencegahku untuk membantunya.
"Sudah kamu disini saja, tidak perlu laki laki bekerja di dapur, urusan dapur adalah bagain kita." kata Eyang sambil berjalan masuk kedalam. Korden pemisah ruangan terbuka saat beliau lewat untuk masuk. Aku duduk disofa pegas dan Naira berjalan keluar menyusul aku. "Aku boleh
buka hpku mas?" katanya meminta ijin.
"Aku harus simpan nomor hpmu supaya mudah mencari kamu" katanya
"Iya jangan nomorku saja yang disimpan, simpan juga nomor teman2xmu supaya tak putus tali silahturahim."
Aku memberitahu nomor handphoneku dan dia menyimpannya dengan pelan 2x
karena belum terbiasa.
"Mas aku telepon kamu ya?" katanya ceria
Bunyi nada dering Iphoneku tidak terlalu dan aku mengambilnya dari kantongku. Dia baru melihat Iphoneku yang jauh lebih baik dari HPnya.
"Handphonemu jauh lebih baik mas!" katanya
"Jelas.... harganya lebih mahal"
kataku menjelaskan.
Kami berbincang-bincang selama kurang lebih 2 jam sebelum aku pamit pulang & berjanji menjemputnya sekitar pukul 6.
"Peluk lagi aku sebelum pulang!" katanya memintaku
Aku memeluknya dengan merengkuh tubuhnya kedadaku. Tangannya kembali melingkar & mengelus
punggungku. Rasa teduh terasa dihatiku saat tangan halusnya mengelus-elus punggungku dengan lembut. Pelukanku erat ketubuhnya sebelum aku melepasnya untuk pulang.
Aku kembali ke Balong untuk menjemputnya sekitar jam 6 sore. Aku memberitahu melalui Handphone bahwa aku sudah menunggunya di tempat parkir biasanya.
"Hello Naira.....!"
"Mas.....panggilan telepon ini yang pertama aku terima. Jadi kita makan sama bapak dan ibu" tanyanya dengan
senang. "Aku sudah selesai mandi" sambungnya.
"Aku sudah ditempat parkir menunggu"
"Mas tidak masuk rumah?" tanyanya
"Aku nunggu disini saja sebab ada orang yang mau telepon aku. Nanti kalau kamu keluar rumah miscall aku saja ya supaya aku bisa mengarahkan mobil didepan gang."
"Ya sudah....tunggu ya mas!" katanya sebelum menutup percakapan.
Anak buah Pak Santosa yang bernama Ibu Diah menghubungi aku menanyakan tentang lukisan Wulan. Adikku sudah berulang-ulang memberitahu aku bahwa sudah ada 3 lukisannya yg telah jadi. Hanya saja aku selalu mengulur
waktu untuk mengantarkan ke kantor Pak Santosa. tepat Jam 6:15, HPku berdering dan nama Naira muncul di layar. Aku mematikannya & mengarahkan mobil ke depan Gang rumahnya. Naira berjalan keluar saat melihat mobilku sampai di bibir gang.
Baju panjang selutut yang dipakainya warna
biru muda seperti kepunyaan Princess Diana. Dia nampak anggun dengan sepatu trepes tipis serta rambut di ikat kebelakang. Gerak tubuhnya anggun saat berjalan, senyumnya mengembang manis saat dekat pintu mobil. Dia membuka pintu mobil dan bertanya "Kenapa memandangku seperti itu?"
"Kamu cantik, sayang......!" kataku dengan penuh kekaguman.
Rambutnya yang dia ikat seperti ekor kuda membuka pandangan jenjang lehernya. Sungguh leher yang indah untuk dinikmati, nyaman untuk diciumi.
"Sudah deh.......stop memandang aku seperti itu lagi!" katanya sembari duduk.
"Kamu nanti duduk sama ibu dibelakang, bapak biar duduk disampingku" kataku memberitahu
"Oh...iya. Aku kira Bapak sama Ibu sudah duluan di rumah makan" katanya "Aku merasa awkward ketemu bapak dan ibu."
"Tenang saja yang penting bapak dan ibu tidak menggigit" kataku
Aku mengarah
kan mobil pulang untuk menjemput keluargaku. Kami turun karena bapak belum siap, sementara ibu dan Wulan telah berada diruang depan. Aku kenalkan Naira kepada ibuku dan Wulan. Naira membungkukkan badannya saat bersalaman dengan ibu dan mencium tangannya. Pemandangan yang tidak
pernah aku dan Wulan lakukan saat bertemu seseorang. Ibu juga agak terkejut dengan sikap Naira begitu taklim kepada ibu. Ibu menyentuh pundaknya saat badannya membungkuk.
"Nama saya Naira bu" katanya setengah suara
"Kamu kok sudah seperti mantuku saja!" kata ibu tertawa.
Tiba tiba ibu memeluknya, entah apa yang membuat ibu menarik tubuh Naira dan memeluknya. Naira agak kaget saat pelukan ibu begitu hangat. Wulan yang berdiri disamping ibu langsung nyeletuk, "Ibu seperti sedang bertemu seorang putri"
"Hussshhh......" kata ibu sambil tersenyum
"Mbak namaku Wulan.." kata adikku tangannya dia ulurkan. Naira tdk mengambil tangannya yang terulur tetapi dia membuka kedua lengannya utk memberi pelukan kepada adikku.
"Wahh dapat bonus, aku!" kata Wulan lagi
Keduanya berpelukan hangat, sungguh suatu pemandangan yg mengharukan
"Bapak dimana bu?" tanyaku
"Bapak baru saja datang, sedang mandi sekarang"
"Wah satu jam lagi baru kelar" kataku mengomentari cara bapak mandi.
"Wulan sebaiknya kamu bawa ke atas, tunjukkan lukisanmu kepada Mbak Naira" kata ibu
Wulan dan Naira ke atas kekamar Wulan. #ceritaseks
Sementara mereka sedang berada di atas, ibu menanyakan tentang keluarga Naira. Aku memberitahu apa yang aku tahu, ibu merasa terharu saat tahu bahwa Naira tinggal dengan Eyang Putrinya sendiri. Kami berbicara panjang lebar tentang Naira dan hubunganku dengannya. Aku bilang bahwa
hubungan kami hanya berteman. Dia tak mau berpacaran denganku. Sejak awal dia menekankan hal itu. Ibu agak heran saat mendengar apa yang aku sampaikan.
"Kalau dari pembawaannya dia anak yang baik dan tahu adab dan unggah ungguh. Ibu suka dia" jelas ibu
Bapak Keluar dari kamar
wajahnya terlihat lelah namun rambutnya yang masih terlihat basah membuatnya segar.
"Mana temanmu?" kata bapak
"Diatas sama Wulan" kata ibu
"Ya kalau sudah, kapan kita berangkat?"
Aku menelepon nomor Naira dan dia mematikannya, sesaat kemudian pintu kamar Wulan terbuka. Bapak
mendongak keatas dan melihat Wulan dan Naira berjalan menuruni anak tangga. Naira langsung menyapa bapak dan membungkuk saat tangan bapak dia ulurkan kepadanya. Ciuman taklim ketangan bapak membuat bapak agak kaget juga. Ibu tersenyum saat bapak berjingkat akan menarik tangannya.
Sadar bahwa hormat diberikan kepadanya, bapak tersenyum dan pandangannya bertubrukan dengan ibu. Ada rasa senang dan penerimaan terbuka saat tangan terlepas.
"Kamu tinggal dimana nduk?" tanya bapak
"Saya tinggal di Balong, pak"
"Oh di gang berapa?"
"Gang Lima pak"
"Iya..iya"
Aku dulu punya teman di Gang Lima, tapi sudah lama meninggal kecelakaan. Namanya Pak Gunadi, apakah kamu kenal?"
"Itu nama bapak saya, benar beliau meninggal karena kecelakaan" kata Naira
"Oh..berarti kamu putri tunggalnya! Kamu tinggal sama siapa sekarang?"
"Dengan Eyang Putri"
"Ayo....toh. Wawancaranya ditunda dulu! Perutku wis lapar" kata Wulan nyeletuk.
Semua tertawa saat Wulan nyeletuk. Kami semua beranjak dari tempat kami berdiri dan berjalan menuju mobil Swift yang terparkir didepan rumah.
"Bapak mau nyoba nyetir mobilku?" kataku menawarkan.
"Ora wes, kowe wae sing nyetir" kata bapak sambil membuka pintu belakang.
"Bapak duduk didepan sama aku" kataku memberitahu
"Biar Naira saja yg duduk didepan sama kamu!" katanya ringan.
"Jgn pak..dibelakang terlalu sesak kalau bapak duduk bertiga nanti!"
"Ora popo wes iso kok!"
kata bapak setelah menutup pintu belakang.
Wulan duduk di ditengah, diantara bapak dan ibu.
"Aku seperti pelanduk diantara dua gajah" kata Wulan.
"Hahahaha" ibu tertawa "bener....... 2 gajah yang sudah lapar" kata ibu. Ada keceriaan yang dibawa Naira ditengah kami, ada sebuah
kebahagiaan yang aku rasakan yang berbeda. Wajah-wajah kami nampak senang, mata kami berbinar binar saat kami masuk di XO suki. Seorang pelayan restaurant membawa kami kesebuah meja, untuk pertama kalinya keluargaku berada di sebuah restaurant mewah.
"Mau pakai kuah ayam
atau Tom Yam?" tanya waitress
"Setengah-setengah mbak" kataku menjawab
"Baik...silahkan diambil pilihan sukinya?" katanya kepadaku
Aku berdiri dan mengajak Naira untuk memilih pilihan makanan di rak.
"Mas aku tidak bisa makan pakai sumpit" katanya ngaku
"Iya jangan pakai sumpit"
"Kamu ambil baki disana supaya bisa dipakai tempat kotak makanan ini"
Aku mengambil isian suki dan menaruhnya diatas baki yang diambil oleh Naira.
"Mas.....kamu sering makan kesini? tanya Naira ingin tahu
"Baru dua kali ini, ada yang pernah bawa aku kesini. Makanya aku sekarang
ajak kamu supaya bisa tahu"
Ibu datang melihat dan menanyakan makanan yang berada di atas rak. Seorang waitress membantu menjawab pertanyaan ibu. Ibu memilih 2 lumpia kulit tahu tim dan siomai udang.
Saat kami kembali dari memilih, kami kembali duduk. Siomai udang dihidangkan
beserta lumpia kulit tahunya. Kami menikmati apa yang ibu pesan. Lidah kami menari2x menikmatinya. Makanan ini asing dimulut lidah kami, tapi sungguh kamu semua suka.
"Mas.." kata Wulan "Iki jenenge opo?"
"XO Suki.." kataku "Enak..?"
"Iyo.! Aku arep ngajak guru Mandarinku rene"
"Yo..ajaken rene sekali-sekali, tapi larang loh iki" kataku memperingatkan
"Aku iso mbayar nganggo hasil penjualan lukisanku"
"Iyo..aku percoyo" kataku sambil ketawa
"Lukisanmu bagus sekali dik,sering terjual ya?"
"Mas Arjuno yg menjualkannya mbak. Kalau bukan dia ya ngga laku"
Pelayan restauran membantu kami memasukkan Suki kedalam kuahnya yang sedang mendidih ditengah-tengah meja. Aroma yang keluar dari panci sangat enak & membuat rasa lapar kami makin kuat. Aku berdiri mengangkat penutup panci saat uap panas mengangkat tutup pancinya. Dengan sendok
kuah yang cukup besar, aku menyendok suki dan melayani bapak dan ibu. Aku mengambilkan mereka secukupnya dan mengambil mangkok Naira dan Wulan bergantian. Mereka nampak sibuk saat makanan telah tersedia didepan mereka. Wulan menggunakan sumpit dengan cekatan karena guru Mandarin
nya sering mengajari menggunakan sumpit untuk mengambil kacang goreng. Wulan juga sering berlatih di rumah menggunakan sumpit. Aku dia ajari juga saat ibu masak Indomie, sehingga pelan-pelan kami tahu menggunakannya.
"Pak, mau nasi putih?" tanyaku
"Iyo...tak goleki kok ora ono?"
Aku memesan 2 nasi putih. Aku bagi nasi putihku dgn Naira sementara ibu mengambil sebagian punya bapak. Kenangan makan malam bersama ini sangat indah. Kami sungguh menikmati kebersamaan makan malam ini. Naira yg awalnya nampak canggung bisa larut hanyut dalam kesenangan keluarga.
Kami memesan teh Oolong yang kami minum bersama, saat kami melangkah keluar dari restaurant perut kami terasa penuh. Malam masih pagi, bapak menyarankan kami jalan2x di Slamet Riyadi sementara mobil masih terparkir di depan restaurant. Bapak & ibu bergandengan tangan sementara
Wulan, Naira dan aku berjalan dibelakang mereka. Tangan Naira memegang lenganku, Wulan berceloteh menceritakan kegiatannya kepada Naira.
"Mas.......!" katanya nadanya terdengar seperti menahan tangisan. Aku menoleh kearahnya, memang ada genangan airmata meleleh dipipinya.
"Kenapa?" tanyaku kepadanya
"Mbak Naira ada apa.......?" tanya Wulan sambil merangkulnya.
"Aku sangat senang bisa melihat dan merasakan keluargamu. Ada yang hilang dalam hidupku sejak bapak dan ibu meninggal. Tidak ada kehangatan dan kerekatan keluarga seperti yang kurasakan
malam ini."
"Mbak......suka bersama kami ya?" tanya Wulan
"Iya.....aku terharu sekali, kalian memperlakukan aku dengan hangat. Aku merasa aku seperti bagian keluarga ini"
Aku merangkulnya dan mengajaknya berjalan karena langkah bapak dan ibu makin jauh. Pegangan tangannya erat
dilenganku sementara tangannya yang satu menggandeng tangan Wulan. Kami berjalan sepanjang trotoar didepan stadion Sriwedari. Suasana malam minggu sungguh syahdu, kami berbincang-bincang sambil berjalan kebarat dan ketimur jalan raya paling lebar di Solo itu. Banyak orang duduk
lesehan menikmati sate ayam. Ada jg yng ngeteh dan kongkow diwarung wedhang ronde.
Sungguh pemandangan malam minggu yg sangat indah didukung cuaca cerah. Hampir satu jam kami berjalan jalan, perut kami telah mengecil dan isinya telah turun.
"Ayo kita pulang..sudah hampir jam 9"
kata bapak "Bapak harus berangkat pagi" imbuhnya
"Bapak mau kemana besok?" tanyaku
"Bapak mau ke Sragen ngantar orang!" katanya
"Bukannya besok bapak harus ke Prodia dulu?" kataku
"Prodia? Apa itu?" tanyanya kaget
"Saya besok antar ibu ke lab periksa darah, aku kira bapak ikut"
"Jam berapa?" tanya bapak
"Jam 7 pagi sudah buka pak!"
"Ya sudah aku ikut sekalian periksa"
"Jangan makan lagi kalau begitu pak, supaya hasil pemeriksaan akurat"
"Oh gitu ya.." kata bapak bergumam
"Knp mobil terasa berat ya" kataku sambil menoleh ke bapak yg duduk disampingku.
"Makanannya enak....bikin berat badan naik" kata ibu
Aku senang mendengar jawaban ibu. "Habis berapa makanan tadi?" tanya Wulan
Aku merengkuh kwitansi dan memberikan kepadanya. "Lihat sendiri, nanti kamu tak percaya kalau kuberitahu"
"Wulan mengambil cetakan bill dan kaget"
saat melihat tagihannya.
"Gendheng tenan......478 ewu" katanya
Ibu ingin melihatnya juga tetapi tak terlihat karena tidak memakai kacamata. Dia bertanya pada Naira yang duduk disampingnya.
"Iyo toh nduk, sakmono toh regane?" tanya ibu
"Inggih bu, 478 ewu"
"Wah...kowe kok nduwe
duit akehmen toh Mas?" kata ibu. Entah ibu serius atau hanya bergurau tapi ditelingaku ini sebuah kritikan untuk tidak bersikap royal dan boros.
"Bu ini kan acara syukuran, sekali sekali ya tidak apa-apa toh?" kataku
"Iyo....ibu iki senengane ngunu, aku maem enak ngene iki iso
cerito karo kanca-kancaku. Iki pengalaman supuyo ora ndesani" kata Wulan protes. "Mas ......kowe kudhu sering-sering nggowo aku ning restaurant supoyo aku oleh wawasan lan pengetahuan. Yo toh?" kata adikku
"Iyo....mengko tak ajak mangan beef steak. Uenaaak"
"Iyo tenan yo?"
"Nanging kowe kudu melu mbayar. Moh lek aku kudhu bayar kabeh" kataku
"Yooo gampang......Mbak Naira mengko sing mbayari aku. Mbak kowe kudhu melu yo?" kata adikku ceplas ceplos.
"Bapak mbok jak toh Mas......?" kata bapak sambil senyum-senyum
"Lek bapak melu, aku yo melu lah...."
kata ibu teriak senang
"Ibu oleh melu nanging ora oleh protes rego" katanya Wulan.
Bapak dan ibu turun didepan rumah, awalnya Wulan ingin ikut mengantar Naira. Tapi ibu menarik tangannya sehingga dia tidak jadi ikut. Naira pindah tempat duduk disampingku setelah berpamitan kepada
bapak dan ibu. Sperti saat kenalan, Naira berpamitan dengan cara yang sama salim taklim dengan penuh hormat.
"Hati-hati ya mas, jangan terlalu malam" kata ibu mengingatkanku
"Ya bu..saya akan cepat pulang" kataku menjawab
"Mas terima kasih ya? Aku juga mau diajak makan beefsteak
yg dibicarakan didalam mobil tadi" kata Naira dalam perjalanan pulang ke rumahnya.
"Tadi kamu sudah dengar sendiri Wulan mau traktir kamu kan?"
"Dik Wulan asal bicara, mana dia punya uang beneran?"
"Dia punya uang karena dia sudah punya penghasilan. Bapak ibu tidak pernah kasih
jajan kepada kami. Di kamarnya tadi kamu lihat lukisan-lukisannya kan? Ada berapa lukisan yang sudah selesai?"
tanyaku
"Entah 3 atau 4 mungkin, kenapa?"
"Katakan ada 4 lukisan, total ke 4 lukisan itu kalau dirupiahkan dia bisa mendapatkan minim 28 juta" kataku menjelaskan.
"Memang selama ini Dik Wulan sering jual lukisannya ya mas?"
"Lukisannya dijual di Eropa, Amerika dan Australia, selama disuatu negara disitu ada gallery batik punya Pak Santosa. Disitu juga terpampang lukisan Wulan."
"Mas......Dik Wulan hebat ya?" katanya kagum.
"Dia mau ikut
pertukaran pelajar setelah lulus SMP nanti ke Taiwan. Dia sudah persiapkan secara matang perjalanannya. Dia akan berada di sana selama 2 atau 3 minggu karena dia terpilih sebagai pemenang lomba pidato Bahasa Mandarin."
"Oh pantas dia mau traktir guru Mandarinnya"
"Iya benar...!"
Aku sudah sampai di parkiran Pasar Gedhe, kami turun dan berjalan masuk kedalam Gang V. Suasana sudah sepi, Mas masuk dulu ya?"katanya memintaku. Dia mengeluarkan sebuah kunci dari tas yang dia bawa dan memasukkannya ke dalam lobang.
Kami masuk dan menutup pintu serta menguncinya
dari dalam. Mas duduk dulu, aku mau tengok eyang putri didalam"
Aku duduk di sofa berkulit coklat yang empuk karena pegas yang tersembunyi dibagian dalam dudukan.
"Mas...aku bikinkan teh jahe hangat" katanya sambil meletakkan baki berisi dua cangkir kecil. Ruangan terasa agak
berangin, ada hembusan kipas angin dari ruang dalam.
"Mana Eyang?" tanyaku
"Sudah tidur....."
"Kenapa tidak ganti baju?"
"Iya nanti sekalian ganti baju tidur setelah cuci-cuci, tapi aku sudah lepas" katanya sambil mencondongkan badannya ke arahku.
"Lepas apa?"
"Celana dalam..!"
"Beneran?" kataku
Dia menganggukkan kepalanya dengan wajah senyum menggoda. Aku menggeser dudukku mendekat rapat kepadanya. Tanganku meraba lututnya dan merayap naik keatas pahanya.
"Mas sebaiknya cuci tangan dulu deh....!" katanya pelan sambil menahan tanganku.
"Dimana?"
"Diwastafel kamar mandi situ?" katanya
Aku berjalan kearah kamar mandi disebelah ruang tamu sebelah kiri. Aku mencuci tanganku dengan sabun dan membilasnya cepat. Aku dengar dengkuran lirih Eyang Putri dari kamarnya.
Berjingkat pelan kearah ruang tamu, Naira memandangku dengan
harap. Aku kembali duduk disampingnya, tangannya memeluk leherku dan menariknya kakinya dia angkat satu mengangkangi pangkuanku. Tanganku memegang pantatnya dan meraba dari depan menuju gundukan memeknya.
"Aku habis mens, birahiku sedang tinggi. Sudah kepingin sejak 2 hari lalu"
"Sudah selesai mens nya?"
Dia menganggukkan kepala, pandangan mata kami bertemu. Dia mendekatkan tubuhnya merapat dan memelukku erat.
Rabaan tanganku menyentuh bulu-bulu halus dibagian atas gundukan. Jari tengahku menjulur turun dari gundukan itu, menelusuk pelan masuk didepan
lobang memeknya.
"Aku sudah terasangsang sekali .......seharusnya tadi siang aku mau mas. Tapi mas buru-buru pulang"
"Aku tidak tahu kalau kamu sedang ingin.......!" kataku
"Buka celanamu...aku mau diatas" katanya
Aku menurunkan resletingku sementara dia berdiri diatas lututnya.
Posisinya tetap mengangkangi aku. Agak kesulitan aku menurunkan celana panjangku karena dia tidak mau mengubah posisinya. Setelah aku turunkan celanaku hingga ke lutut, kembali dia duduk dipangkuanku. Aku menarik keatas ujung bawah bajunya dan menelusupkan tanganku kedalamnya.
Tanganku menyentuh kulit pantatnya, halus dan lembut. Aku menelusuri retakan yang membelah bongkahan pantatnya. Dia menyenderkan kepalanya dipundakku merasakan dan menikmati gerakan jari-jariku menelurusi tempat nikmatnya.
"Ohhh massss...." mulutnya mendesah, bibirnya menempel di
kulit leherku. Dari mulutnya terasa hawa hangat penuh birahi saat dengusan dan desahan terdengar. Bibirnya mengecup saat rabaan jariku menyentuh area sensitivenya.
"Masss.......masukkan jarimu!" katanya setengah memohon. Jari telunjukku memutari lobang memeknya, ujung-ujungnya
seperti merasakan setiap sensitivitas alat vitalnya. Berdenyut berkontraksi meremas-remas.
"Masss.......masukkan sekarang!" katanya mengiba
"Aku mengangkat pantatnya dan memposisikan batangku kemulut memeknya. Batangku juga ingin merangsek masuk kedalam, menyodok hingga dala.
"Ooooogghhh........massss...!!!" Kepala batangku masuk kedalam, pantatnya dia putar searah jarum jam dan batangku menggeliat masuk sedikit demi sedikit. Leher batangku berbenturan dengan kulit lobang mulut vaginanya. Gesekan nikmat tak terbendung, dia mengangkat pelan pantatnya
mengulangi benturan nikmat yang kami rasakan. Mulutnya mendesah desah pantatnya dia gerakkan pelan, dia angkat dan turunkan sementara tangannya merangkul leherku sebagai pegangan. Dia maju mundurkan, gerakannya erotis dan batangku seperti tongkat keras nan panjang menelusup masuk
tenggelam. "Massss.......ooohhh...masss.......aaaaghhhh!" Klitorisnya dia garuk-garukkan kebagian batangku dengan cara memajukan pinggulnya hingga terasa mentok. Gerakan-gerakan liarnya membuat klitorisnya bergesek gesek dikulit batangku.
"Masyaallah........masssss enaknya mas!"
Aku menikmati manuver seksinya, dengan pelan dan lentur tubuh bagian bawahnya memutar-mutar, batangku terasa menyodok nyodok bagian dinding memeknya. Nafasnya makin pendek, gerakannya makin kencang. Desisnya makin liar.....
"Oooh massss...masssss...ooohh..sssssss ooohh!" katanya
Tubuhnya lemas nafasnya tak beraturan, vaginanya berdenyut denyut seperti meremas-remas batangku.
"Enaknya kontolmu sayang........enak sekali kalau keras!"
Tangannya meraba wajahku, suaranya seksi terdengar ditelingaku. Bibirnya dia sentuhkan kebibirku, aura birahi dan nafsu
terasa dari setiap dengusannya.
Pahaku basah oleh aliran yg meleleh dari lobang memeknya, terasa licin dan meler. Batangku juga basah terkena aliran langsung dari memeknya.
"Mas keluarkan sekarang..ibu menunggu terlalu malam nanti" katanya pelan ketelingaku.
"Ok kamu berdiri!"
"Ngga mau berdiri, aku ingin posisi begini saja. Penetrasi terasa kalau mengangkang begini."
"Bagaimana aku bisa bergerak kalau pangkuanku kamu tindih duduki? Ya sudah kamu goyang lagi?"
"Lututku lemes.......muacch" katanya sambil mengecup bibirku ringan.
Aku mengangkat badannya
kakinya dia angkat dan aku bergeser kesamping. Dengan lututnya dia menopang tubuhnya, aku berdiri dan memposisikan tubuhnya nungging. Kembali aku masukkan batangku kedalam memeknya.
Memeknya yang telah basah mengijinkanku menelusupkan batangku kedalamnya.
Badannya dia ayun
kebelakang, slurrpp batangku utuh dihisap kedalam. Aku meregang, kepalaku terdongak saat rasa nikmat terasa menyelimuti batangku. Dia kembali gerakkan pantatnya saat batangku kutarik keluar, leher batangku terasa mengganjal saat berada dipingging lobang memeknya, & itu sangat
nikmat, niiiikmaaatttt......
Aku sibakkan bajunya bagian bawah dan mencengkeram bongkahan pantatnya. Bentuknya indah teramat indah dengan kulit mulus dan bening. Sodokanku dia imbangi dengan ayunan tubuhnya kebelakang. "Massss keluarkan cepat.....!" katanya memohon #ceritaseks
Aku berusaha menahan desahanku, takut membangunkan eyang yg sdg tidur didalam. Seperti batang bergerigi, gesekan nikmat terasa makin intense.
"Keluarkan didalam......keluarkan didalam ....!" perintahnya
Aku meremas buah dadanya, memilin milin puting susunya. Dia menggelinjang
mengejang dan goyangannya makin menggila. Sodokanku seperti diputar petir menaboki bagian dinding memeknya. Tak terbendung semprotan spermaku muncrat, berdenyut-denyut seperti diperas. Memeknya berkedut-kedut saat memeras batangku.
"Jangan dicabut dulu.......jangan dicabut!"
Aku berusaha mengatur nafasku, dengan menarik nafas dalam dan menghembuskannya keluar pelan-pelan. Naira memajukan badannya pelan dan batangku terlepas dari lobangnya. Dengan sigap dia mengambil tisiu dimeja dan menerima lelehan spermaku dengan tangannya. Genangan sperma dia
dia lap dengan tisiu. Dia memberiku tisiu baru untuk mengeringkan batang penisku. Setelah dirasa keluar, dia berjingkat ke kamar mandi dan mencuci vaginanya. Beberapa menit dia kembali keluar, bergantian aku masuk kedalam kamar mandi untuk membasuh batangku dan kencing.
Saat berjalan keluar, Naira sedang bersandar di sofa dengan wajah kelelahan. Dia sibakkan rambutnya sambil mengibas ibaskan selembar kertas untuk mengatasi rasa panas setelah bersenggama.
"Tolong ambilkan tisiu lagi mas, spermamu masih mengalir keluar" katanya sambil menelusupkan
tisiu yang aku berikan kepadanya.
"Aku pulang dulu ya?" kataku
"Tunggu....."katanya lirih. "Aku masih mau mencium batangmu dulu" tangannya meraih kembali resletingku dan membuka celana dalamku dari bukaan resleting. Dia masukkan tangannya untuk memancing batangku. Noda basah
tetesan sperma masih menempel di celana dalamku. Saat tangannya memegang batangku dia sorongkan mulutnya kedepan. Saat bibirnya menyedot batangku, rasa ngilu nikmat membuatku menggelinjang senang.
"Sudah......" kataku sambil menolak kelapanya.
"Tunggu.....! Sebentar lagi...!"
"Aku tidak tahan......!" kataku sambil terus menolak kepalanya.
Dia tersenyum menang..... "Jangan pulang, bobok sini saja sama aku" katanya dengan mimik muka lucu.
"Sudah......sudah.....!" kataku
Tangannya kembali menarik keatas resleting celanaku setelah batangku dia masukkan.
"Enak sayang......?" tanyanya ringan
Aku memeluk tubuhnya sebelum aku melangkah keluar rumahnya.
CIK ANNEKE, PERTEMUAN KEDUA
Pertemuan kedua dengan Cik Anneke terjadi pada pertengahan bulan Februari tepatnya tanggal 15, sehari setelah Valentine's day. Aku yg mengajaknya duluan karena setelah beberapa hari chatting SMS dengannya dia memberi tanda sudah kangen. #sangeberat Image
"Cik....." kataku ditelepon suatu siang
"Ada apa sayang....?"
"Ada yang mau kenalan!" kataku memancing
"Kenalan sama kamu saja cukup, kenapa mau kenalan dengan yang lain" katanya menjawab ringan.
"Aku mungkin tidak jadi ke Jerman seperti rencana awal"
"Aku sudah dengar dari Pak
Ah Long, Pak Haryadi memberi masukan ya?"
"Iya benar..... menurut Cik Anneke bagaimana?"
"Aku setuju dengan idenya, Pak Santosa punya apartemen di Lucky Plaza yang dia kontrakkan, jumlahnya ada lebih 10. Mungkin kamu bisa menggunakan satu diantaranya. Hanya saja bukan di Lucky
Plaza karena disitu biasa dikontrakkan untuk para pasien yang berobat di Mount Elizabeth Hospital. Mungkin kamu di tempatkan di apartemen di gedung lain. Enak, aku bisa kunjungi kamu kalau aku kangen berat. Penerbangan hanya 2 jam 15 menit kita bisa ketemu. Aku datang hari Jum'at
malam kembali hari Minggu sore sudah cukup untuk melepas rindu, ya kan?. Tapi omong-omong siapa yang mau kenalan sama tante tua macam aku?" katanya
"Cik Anneke mau laki atau perempuan?" tanyaku ingin tahu
"Mmmm......apa maksudmu ini?" tanyanya ingin tahu
"Maksudku ingin belajar
seperti yang diajarkan Cik Anneke di hotel setelah berenang"
"Gila....kamu cerita apa kepada mereka?" tanyanya dengan suara agak keras
"Aku tidak cerita apa-apa"
"Terus, apa maksudmu tadi dengan kenalan?"
"Aku ingin mengajak mereka"
"Siapa mereka laki atau perempuan?" #ceritahot
"Laki dan perempuan......!" kataku pendek
"Tidak.....tidak ada orang lain yang tahu apa yang kita lakukan. Paham kamu?" tanyanya dengan tegas
"Okay....cik!" kataku
"Hari sabtu jam 2 siang, ketemu di hotel yang sama dan kamar yang sama"
"Okay Cik.. aku harus bawa apa? Kue coklat?"
"Kue coklat untuk apa....?" tanyanya
"Kan masih suasana Valentine's Day, masih bisa kita rayakan sama-sama!" kataku
"Oh iya...ya..... Ternyata hari sabtu tanggal 15 belas itu aku ada acara mengunjungi Panti Asuhan di daerah Jaten sana, kamu mau ikut bagaimana?" tanya Cik Anneke.
"Iya cik, aku tak ikut. Aku tidak pernah ke Panti Asuhan, siapa tahu dengan mengunjungi Panti Asuhan aku bisa belajar menghargai hidup."
"Ya..bener. Pasti nanti kamu akan lebih dewasa lagi setelah pergi ke Panti Asuhan" kata Cik Anneke
"Cik Anneke mau kesana sama siapa?" tanyaku
"Biasanya sama Pak Ah Long, tapi hari Sabtu depan beliau mau pergi ke Tasikmalaya jadi dia berhalangan datang. Tenang saja ....!" katanya
"Ketemu dimana Cik?" tanyaku ingin tahu
"Nanti kita kontak, ketemu di Palur saja didepan Notaris Pangestu" katanya "Kamu naik apa kesana?"
"Naik mobil cik....?"
"Apa kamu sudah bisa menyetir?"
"Iya sudah...baru saja belajar" kataku menjawab
"Ya sudah kalau begitu..... Sampai hari Sabtu nanti ya?"
Aku ingin sekali mengajak Naira untuk pergi ke Panti Asuhan, dia akan sangat senang bila dia bisa pergi kesana. Mungkin
nanti setelah aku melihat sendiri dengan Cik Anneke.
Aku membicarakan kegiatanku ini dgn ibu setelah menutup pembicaraan dengan Cik Anneke. Ibu sempat memandangku sesaat setelah aku mengutarakan niatku.
"Kamu harus bawa sesuatu yg bisa kamu bagikan kepada anak2x itu" kata ibu.
"Ibu punya ide aku baiknya membawa apa?" tanyaku
"Kamu bisa bawa beras, mie instant, makanan ringan, peralatan sekolah. Kamu sebaiknya mengajak Wulan ikut supaya dia tahu. Ajak juga Naira mungkin dia ingin juga terlibat kegiatan positifmu ini."
"Baik Bu....sebaiknya nanti saja
setelah kunjungan pertama dengan istri Pak Ah Long" kataku.
"Begitu juga tidak apa-apa supaya kamu tahu apa kebutuhan mereka sehingga kamu bisa memberi apa yang mereka benar benar butuhkan."
Naira dan aku makin intens berkomunikasi melalui SMS dan HP sehingga aku tahu apa yang
dia sedang lakukan begitu juga sebaliknya.
Aku memberitahu rencanaku berkunjung ke Panti Asuhan, dia langsung menawarkan diri untuk membantu apabila dibutuhkan. Aku berjanji mengajaknya saat aku mengunjungi kesana setelah kunjungan pertamaku dengan Cik Anneke. Begitu juga dengan
Wulan, dia sangat antusias ikut denganku.
Ibu sangat menaruh perhatian kepada Naira, seringkali ibu menanyakan keadaannya. Pertanyaan seputar siapa yang membiayai sekolah, siapa yang mensupport kebutuhan sehari-hari dan pertanyaan seputar kehidupan Naira. Ibu sempat menanyakan
apakah dia mau bekerja membantu ibu setelah lulus sekolah. Aku berjanji kepada ibu akan menanyakannya bila bertemu dengannya, apalagi setelah Ujian Nasional kita tdk akan punya kegiatan lagi di sekolah sehingga akan ada banyak waktu luang.
"Tdk usah dipaksa, tanya saja" kata ibu
Kegiatan belajarku makin intense, aku juga berencana sesegera mungkin mencari kelas IELTS Prep Class sehingga aku akan bisa mencapai target yang ditentukan bila mengikuti Ujian IELTS.
Aku sudah menanyakan ke beberapa teman yang pernah mengikuti ujian IELTS atau mock testnya.
Mereka mengatakan bahwa bagian yang paling sulit adalah Test Tertulisnya sementara untuk listening speaking dan reading bisa di pelajari sendiri. Beberapa teman menyarankan aku untuk belajar di LBB LIA, sementara Ahmady yang orang tuanya pemilik Apotek Kondang Waras menyarankan
belajar di IDP saja, karena mereka mempunyai test centre sehingga bahan dan materi ajar bisa disesuaikan dengan kebutuhan test. Guru-guru mereka juga berpengalaman sehingga memudahkan siswa memahami materi apa yang disampaikan dan di ajarkan.
Masuk akal juga, akhirnya aku ke IDP
dan resepsionis memberiku jadwal hari dan jam kursusnya. Aku memilih jam 6 malam karena aku bisa lebih leluasa membaca artikel2x yang aku perlukan di EDISI AWAL sehingga kebutuhan tentang informasi pasar saham terpenuhi.
Kegiatan kursus akan mulai di pertengahan maret selama 2
minggu karena paket yang aku ambil adalah paket intensive, setiap kali pertemuan adalah 3 jam sehingga diharapkan proses belajar akan efektif. Aku meninggalkan nomor HPku dan membayar biaya pendaftaran, receptionist berjanji akan menghubungiku sehari sebelum kelas mulai untuk
mengingatkan aku bahwa kelas akan dimulai. Persiapan Ujian Nasional telah berlangsung hampir 3 minggu, aku ikut persiapan Ujian Nasional di Primagama dan sebagian teman-temanku ikut bergabung. Ada 2 orang teman yang tumbang karena terlalu sibuk sehingga mereka sakit typhus.
Cik Anneke dan aku secara intensive berkomunikasi baik melalui sms maupun calling. Janjian hari sabtu pagi ke Panti Asuhan akhirnya memang terlaksana. Kita berjanji bertemu di depan Notaris Pujiastuti Pangestu didaerah Palur dalam perjalanan sehingga akan mempermudah ketemuan.
Karena ini pertama kalinya aku diajak ke Panti Asuhan, aku belum tahu jalan kearah sana. Cik Anneke telah sampai didepan pelataran parkir Kantor Notaris, dia memberitahu aku untuk segera menyusul. Aku mengira Cik Anneke akan pergi bersama beberapa orang. Saat aku melintas, aku
diberitahu untuk memarkir mobilku agak ke depan saja kira-kira 100 meter dari tempatnya parkir. Jalur Palur Karanganyar sangat ramai, mobil dan minibus melewati jalur itu. Aku memarkir mobilku secara paralel sehingga space parkir cukup. Beberapa saat kemudian mobil Cik Anneke
berhenti dibelakangku. Aku turun dari mobil dan membuka pintu mobil depan.
"Loh kamu duduk disini" katanya sambil menggeser tubuhnya.
"Maksudnya bagaimana sih?" tanyaku karena bingung
"Kita naik satu mobil saja. Ambil barangmu dari mobilmu"
Aku kembali ke mobil mengambil tasku
"Cik.....aku tidak pernah nyetir mobil CRV." kataku
"Ya nyoba.....sekarang kebetulan ada kesempatan." katanya memberi semangat.
Aku memutari belakang mobil menuju pintu sopir mobil CRV itu. Nampak sekali perbedaan antara mobilku dan CRV yang baru aku naiki ini. Posisi kursi aku
atur tetapi aku kesulitan karena aku tidak tahu tombol pengaturnya. Cik Anneke memberitahu aku dengan membungkukkan badannya sambil menyorongkan kursi yang secara otomatis bergeser. Bau wangi tubuhnya tertangkap nostril hidungku.
Tanganku secara tak sengaja menyentuh punggungnya
aku segera mengangkatnya. Setelah kursinya disetting agak mundur dan sedikit agak rendah, posisiku lebih terasa nyaman. Dasboard dan cabin CRV terlihat lebih nyaman dengan AC yang lebih dingin. Mobil bermesin 2,4 liter ini terasa halus dan meluncur dengan mulus. Gerakan kemudi
juga sangat ringan. Cik Anneke menyentuh lenganku,
"Aku kangen sama kamu....!" katanya sambil mencondongkan badannya ke arahku untuk mengecup pipiku. "Kamu kangen aku tidak?"
"Kenapa lama sekali baru bisa ketemu lagi?" kataku
"Kamu bilang sedang persiapan ujian nasional?"
Tangannya memegang pipiku, "Kamu suka HP yang aku kirimkan?"
"Iya suka.." kataku "Ini ada di kantong!"
Tangannya merogoh kantongku untuk mengambil HPku pemberiannya.
"Apa passcodenya?" tanyanya
"369369" jawabku pendek
"Aku mau foto selfie denganmu!" katanya mendekatkan diri.
Tangannya memegang hpku agak jauh dari kami berdua, dengan arah kamera depan menghadap kami. Dia menggerakkan dua jari menyilang di bibirnya.
"Kedepan sedikit kita akan belok kanan" katanya memberitahu. Aku agak melambatkan laju mobil dan belok kekanan saat aku melihat tidak ada
kendaraan memotong jalur kami.
"Lurus saja, sekitar 1,5 kilometer, nanti ada tanda nama Panti Asuhan yang kita akan tuju"
"Cik Anneke sering kesini?" tanyaku
Jalanan terasa sepi karena memang bukan jalur utama. Samping kanan dan kiri adalah sawah yang sedang di oleh tanahnya.
Luasnya hamparan sawah terlihat seperti tak berujung, hanya beberapa petani yang mengolah lahan sawah. Selebihnya sawah seperti sedang menunggu petani untuk menanam diatasnya.
"Aku hampir setiap bulan datang kesini, ada banyak anak yang harus dibantu disini"
"Cik Anneke bawa apa
dibagasi?" tanyaku ingin tahu
"Kamu nanti bisa lihat sendiri saat kita menurunkannya" katanya menjawab
Terlihat sebuah bangunan cukup panjang seperti sebuah sekolah dgn ruang kelas berjajar. Dibagian tengan terlihat sebuah tanah lapang.
"Bangunan bercat hijau muda itu adalah yg
kita tuju."
"Ada berapa anak yang mereka asuh disana Cik?" tanyaku
"Aku tidak tahu secara pasti, kurang lebihnya ada 89 anak dibawah usia remaja. Mereka anak-anak yang benar-benar butuh perhatian. Aku tidak tega kadang saat meninggalkan Panti Asuhan.
Selalu ada yang ingin aku
berikan kepada mereka setiap kali aku datang. Ini juga menjadi ajaran tentang menghargai hidup. Banyak yang miskin dan papa, tdk seberuntung kita. Itulah kenapa aku ngotot selalu datang kesini paling tidak sekali per tiga bulan. Kamu akan lihat nanti saat mereka menyambut kita."
Benar saja, saat kita sampai disana. Anak-anak sudah teriak
"Mama datang...mama datang....!" suara mereka bersahutan sehingga nampak riuh. Sebagian besar adalah anak anak dibawah 10 tahun. Anak yang laki-laki mendekati mobil saat Cik Anneke membuka pintu belakang. Seorang ibu
dengan seragam biru tua bertuliskan nama Panti Asuhan itu berjalan mendekati kami.
"Mama Anneke.....terima kasih!" kata ibu itu sambil datang memeluk Cik Anneke.
"Ayo kita bantu Mama menurunkan barang-barang ini" kata ibu itu, Ibu Warni nampaknya beliaulah pemimpin Panti Asuhan
Aku mengangkat beberapa kerdus Mie instant dan satu persatu anak menerima dan membawanya masuk kedalam gedung utama.
"Hanya ini saja Cik?" tanyaku
"Tidak, ditengah masih ada 3 karung beras"
Aku membuka pintu tengah dan tiga karung beras masing2x 25 kilogram terlihat. Aku agak
Aku agak kesulitan mengangkatnya sendiri. Ibu Warni melihatku kesulitan dan beliau langsung memanggil seseorang dari dalam gedung. Pria berkaos lusuh nampak ramah dan baik. Nampaknya dia tahu apa yang harus dia lakukan. Dia memanggil temannya yang segera datang untuk mengangkat
karung beras itu. Kami masuk bersama, dari kejauhan terdengar paduan suara anak-anak "Selamat Datang, selamat datang pada bapak dan ibu yang budiman. Kami perlu uluran tangan, supaya kami bisa bertahan. .............
Suara mereka nampak kompak dan terlatih, dengan gerakan tarian
sederhana. Itulah sambutan yang mereka berikan kepada semua pengunjung Panti Asuhan. Nampak wajah-wajah polos dengan mata bening memandang kami dengan penuh harapan. Ada kontak batin tercipta saat tangan kami bersalaman dalam penyambutan. Aku merasakan permohonan adopsi dari
dari pancaran mata mereka. Beberapa anak perempuan dengan baju seadanya membuatku trenyuh karena mereka memandangku dengan penuh harap. Tanganku tak kuasa untuk menarik dan memeluknya. Ruangan sederhana yang menjadi ruang penyambutan sangatlah sederhana.
"Mama....." celetuk
seorang anak lelaki kurus namun punya senyuman manis.
"Apa sayang.......?" tanya Cik Anneke
"Apa kabar....?"
Tak tahan aku mendengar suara tulusnya. Mataku berkaca-kaca mendengar ketulusannya.
"Baik sayang......kamu apa kabar Supri?"
"Baik mama......Aku mau tunjukkan gambarku"
"Kamu punya gambar apa......?" tanya Cik Anneke
"Tunggu ya mama.........aku ambil dulu" katanya riang
Sebuah penantian yang mengharukan, sesaat kemudian dia muncul dengan sebuah buku gambar murahan. Dia membuka sebuah gambar seorang wanita yang mirip wajah Cik Anneke dan mobil
yang terparkir didepan Panti Asuhan.
"Ini mama dan mobil mama...!" katanya
"Kamu pintar...aku sangat suka gambarmu" kata Cik Anneke sambil mengelus-elus kepala bocah itu.
"Mama...aku mau buku gambar sama pensil warna" katanya
"Supri....tidak bisa begitu!" mata Bu Warni melotot
Wajah polosnya berubah.... "Maaf ibu...maaf mama!" katanya menahan tangis.
Cik Anneke terdiam, nampaknya ada aturan ketat bagi anak panti ketika berinteraksi dengan pengunjung. Supri berangsut melangkah pergi sambil menundukkan kepalanya. Kami berbincang-bincang dengan ibu Warni.
Aku memberanikan diri untuk bertanya beberapa pertanyaan. Salah satunya adalah apa bisa mengirimkan beberapa guru les untuk mengajar mereka seminggu dua kali. Kira-kira guru pelajaran apa yang mereka butuhkan.
"Kami butuh pelatih menari untuk perempuan dan guru bahasa inggris
serta matematika."
Aku langsung menyanggupi utk mengirim guru bahasa Inggris, matematika & pelatih menari. Aku sangat concern dgn pendidikan dan ketrampilan karena itu adalah senjata untuk menjalani & bertahan hidup. Aku menjanjikan kegiatan kursus akan dimulai awal bulan April.
"Kenapa harus nunggu begitu lama?" tanya Cik Anneke
"Sekarang pertengahan bulan February, kenapa tidak awal maret?" lanjutnya
"Saya harus koordinasi dengan guruku dulu, beliau yang akan mengaturkan mahasiswa yang sedang praktek mengajar untuk membantu kursus disini. Semoga diberi
kemudahan supaya anak-anak disini bisa belajar dan langsung praktek."
"Ohhh begitu...apa kira-kira para mahasiswa itu mau mengingat jarak tempat yang begitu jauh?" tanya Ibu Warni.
"Kita lihat saja nanti ibu, yang penting kegiatan kursus disini bisa berlangsung paling tidak
ibu akan menyediakan tempat untuk proses belajar."
Setelah berbicara panjang lebar dengan ibu Warni mengenai kursus, kami kembali disuguhi paduan suara perpisahan.
"Terima kasih.....terima kasih kami ucapkan dari lubuk hati, kunjungan bapak dan ibu sungguh sangat berarti.
Terima kasih-terima kasih.......sampai jumpa lagi, perubahan hidup kami pasti akan terjadi."
Suara alunan lagu dengan lirik yang menyentuh hati, memberiku inspirasi untuk menjadi agen perubahan yang bisa memberi makna kehidupan. Tekadku bulat, hatiku mantap.
Kami meninggalkan
Panti Asuhan sekitar pukul setengah satu.
"Mau kemana sekarang Cik?" tanyaku segera setelah mobil kujalankan.
"Aku mau ke persawahan" katanya.
"Dimana?" tanyaku
"Karang Pandan mau?"
"Tdk terlalu jauh?" tanyaku balik
"Kamu sdg ditunggu orang kah?"
"Tdk..kita janji berenang toh?"
"Iya..masih lama toh? Sekarang baru setengah satu" katanya dengan santai. Aku membelokan mobil ke kanan di Jalan Raya menuju kearah Karanganyar. Suara mesin mobil nyaris tak terdengar dari dalam kabin saat mobil kupacu dengan kecepatan 100 km/jam.
"Kurangi kecepatan aku tidak mau
celaka gara2x kamu ingin test kecepatan mobil."
Aku segera mnurunkan kecepatan sesuai permintaannya, mobil terus meluncur keatas menuju Jalan Lawu.
"Didepan sana ada sebuah rumah makan, kita berhenti dulu disana." katanya memberitahu
"Soto Karang?" tanyaku saat papan billboard
tertangkap pandangan mataku.
"Ya....teman-teman bilang makan disini enak. Kalau sore hari makan di Pak Mul, tempatnya agak ke atas. Aku membelokkan mobil ke Soto Karang yang terkenal itu. Tidak salah, memang makanannya enak. Sup sotonya sedep dan sedap. Aku nambah satu mangkok.
Cik Anneke pesan soto dan tim ayam yang juga sangat enak. Dia menyodorkan tim ayamnya kepadaku untuk dibagi.
"Kamu coba makan ini, enak tidak?"
"Enak..enak sekali" kataku menjawab setelah mengecap enaknya tim ayam.
"Buat tim ayam begini harus ayam kampung. Supaya khasiatnya ada"
"Cik bisa buat tim seperti ini?" tanyaku
"Bisa......kamu mau? Aku bikinkan" katanya "Dirumah ada Mbok Ni yang sering masak, dia yang menyiapkan semua masakan. Masakan Indonesia, China, Jepang bisa dia buat. Pengalaman ikut mertua selama bertahun-tahun jadi bisa bahkan terampil"
"Di dalam mobil tadi ada tas cangklong merah" kataku
"Oh kameraku....aku mau memotret di sawah" katanya "Nanti aku tunjukkan saat sampai di tempat"
Kamu keluar dari rumah makan dengan perut sangat kenyang. Perut terasa sesak, "Ini tidak baik" kataku dalam hati "Terlalu kenyang"
Aku arahkan mobil ke sepanjang Jalan lawu menuju kearah Karang Pandan. Mobil menanjak dengan tenang "Belok ke kiri setelah pasar" katanya tiba-tiba
Aku membelokkan mobil ke kiri, jalanan agak kecil. Rumah penduduk dibangun disebelah kiri, sementara disebelah kanan hanya hamparan
sawah. Cuaca mendukung sehingga cocok untuk pemotretan atau hunting photo. Mobil melaju makin jauh kedalam, pemukiman rumah penduduk terlihat makin jauh. Kanan kiri adalah hamparan sawah luas. Beberapa batu karang teronggok ditengah sawah. Sebetulnya bukan batu karang, tetapi
batu cadas yang berbentuk seperti karang-karang sehingga nampak seperti batu karang. Itulah mengapa daerah sekitar disebut Karangpandan, karanganyar, karangmojo dan beberapa nama lainnya.
"Hentikan mobil di bawah pohon trembesi yang besar itu, kita memotret disana." katanya
Kami berhenti dan Cik Anneke mengeluarkan Photo gears-nya. Sebuah kamera DSLR merek Canon 5D dia keluarkan dari sebuah tas merah terang dengan lensa terpisah. Tangannya dengan lincah mengotak-atik sambil memasang sebuah lensa tele 400m warna putih. Kamera nampak gahar ditangan
dengan jari-jari yang mungil melingkar diujung dalam dan body kamera. Dia kalungkan tali kamera dan menutup semua tasnya setelah memasang filter di ujung lensa. Dia berjalan kearah tepi sawah sambil mengarahkan kameranya ke kerumunan burung-burung putih yang nampak sangat jauh.
Jarinya menekan tombol photo dan suara halus kamera 5D terdengar lembut. Motor penggerak didalam kamera berbunyi setiap kali tombil itu tertekan.
Topi bundar menutupi wajahnya, terlihat Cik Anneke seperti gadis Jepang atau Korea.
"Kamu tunggu disitu saja" katanya memberitahu
Dia berjalan agak jauh dari mobil, terkadang dia jongkok dan terkadang dia berdiri dengan menekuk lututnya. Pantatnya terdorong ke belakang saat membungkuk untuk memotret, sementara aku menunggu aku mengeluarkan iphoneku dan memotret dengan kamera iphone 4. Hasilnya lumayan bagus
dimataku, aku save photo-photo yang aku ambil dengan kamera iphoneku. Aku juga memotret beberapa photo Cik Anneke saat sedang memotret tanpa sepengetahuannya. Beberapa bahkan aku ambil saat dekat dengan wajahnya. Dengan silent mode, dia tidak merasa bahwa photo wajahnya sedang
aku ambil. Aku suka memotret benda benda kecil dan bunga-bunga yang tumbuh dipinggir pematang sawah. Kecil, putih dengan ujung warna kuning sedikit oranye. Sayang sekali aku tak punya kamera seperti punya Cik Anneke. Sekitar 45 menit berlalu, Cik Anneke telah berjalan agak jauh
dari tempat parkir. Tiba-tiba dia bertepuk tangan sambil mengayunkan tangannya kearahku, memintaku untuk datang mendekat. Dengan agak berlari, aku menghampirinya. Ternyata dia ingin menunjukkan kepadaku beberapa keong emas yang menempel di tanaman padi.
"Ambilkan beberapa dan
masukkan kedalam plastik, aku ingin menunjukkan kepada anakku keong emas ini"
Dengan agak berjongkok dan meletakkan lututku di tanah, aku mengulurkan tanganku untuk meraih beberapa keong emas itu. Kami berjalan kembali ke mobil, Kulit wajah Cik Anneke merona merah muda karena
cahaya matahari. Suasana sangat sepi, sepanjang jalan tak terlihat seorangpun. Hamparan sawah tak bertepi juga tak terlihat petani sama sekali. Kami masuk kedalam mobil, cik Anneke menunjukkan hasil bidikan kameranya kepadaku. Burung kuntul yang menjadi objek bidikan terlihat
sangat bagus. Baru kali ini mataku melihat hasil foto yang bisa terlihat sangat jelas dan gamblang walaupun objek foto berada jauh dari tempat photographer mengambil gambarnya.
"Cik...Photo-photnya bagus bagus cik" pujiku "Cik Anneke berbakat jadi photographer" #UnfoldYourWorld
"Ini bukan photographernya yang pintar atau berbakat, tapi karena kamera dan lensanya yang super bagus." katanya jujur. "Coba sendiri kamu yang memotret, burung yang diatas pohon itu?" katanya sambil menunjuk.
Aku mengambil kamera yang dia berikan kepadaku dan mengangkat yang
ternyata cukup berat. Hampir 3 kilogram total body kamera dan lensanya. Aku keluar dari mobil dan berjalan kearah depan mobil dan mengarahkan kamera ke burung yang ditunjuk oleh Cik Anneke.
Aku menekan tombol kamera 2 kali dan melihat hasilnya yang cukup bagus. Benar kata
Cik Anneke bahwa lensa dan kamera membuat photographer biasa menjadi seperti photographer profesional.
"Kamu agak goyang saat memotret, gambar yang kamu photo sedikit tidak fokus" katanya mengomentari hasil bidikanku.
Aku duduk kembali kedalam mobil dan menyalakan mesinnya.
Cik Anneke menutup pintu dan tangannya memutar tombol AC on.
"Kamu haus tidak?" tanya Cik Anneke
"Punya air botol?"
"Ada di belakang"
"Biar aku ambil" kataku
Aku membuka pintu dan berjalan kearah belakang mobil, membuka pintu belakang dan menemukan kerdus air botol yang telah
terbuka. Aku mengambil 2 botol dan kembali menutup pintunya.
"Kenapa pindah ketengah?" tanyaku ingin tahu
"Istirahat dulu disini"
Aku membuka pintu tengah dan masuk. Aku membuka satu botol air dan memberikannya kepada Cik Anneke.
"Airnya hangat......!" katanya setelah meneguknya
Aku mengeluarkan Iphoneku dan menunjukkan beberapa photo yg aku ambil.
"Gila, kapan kamu photo aku ini?" katanya heran tapi kedengaran senang.
"Tadi saat Cik Anneke sibuk photo"
"Kenapa aku tidak sadar, bagus loh photomu" jarinya sibuk menggeser layar gallery. Aku suka yang ini"
Dia menunjukkan photo di layar dimana dia sedang membidikkan kamera. "Aku rasa kamu lebih cocok jadi photographer model deh"
Tubuhnya bergeser mendekat saat Iphoneku ambil dari tangannya.
"Tunggu sebentar...!" katanya mempertahankan Iphoneku.
AC mobil membuat udara didalam mobil
semakin sejuk. Tangan kami berpegangan saat dia merebut Iphoneku.
"Tunggu....aku mau tunjukkan photo Cik Anneke lagi"
"Tidak....aku mau melihat-lihat sendiri!" katanya
Tubuh kami rapat, tanganku melingkar di lehernya, sementara dia bersandar ditubuhku.
"Tubuhmu bau" katanya
"Bau bagaimana....aku sudah mandi tadi"
"Bau ......seorang pejantan!" jawabnya tanpa menoleh kearahku.
"Cik Anneke juga bau...!" kataku
"Aku tadi juga sudah mandi.....!"
"Bau seorang putri yang ingin ditiduri...!"
"Nakal....!"
"Cik.....aku kangen!" kataku berbisik ditelinganya.
"Sini..aku peluk!"
Tangannya melingkar ditubuhku, jarinya merapat sehingga badanku terasa nikmat didekap.
Tanganku yang telah melingkar dipundaknya mengelus-elus rambutnya. Aku mengecup kepalanya dan jakunku naik turun terbawa nafsu.
"Lama aku ingin ini.....!" tangannya mengelus
batangku dari luar celana.
"Aku juga ingin.......!"
"Iya...? Kenapa tidak bilang?" tanyanya
"Aku malu minta gituan" kataku jujur
"Bilang saja kalau lagi kepingin."
"Kalau aku kepingin setiap hari?"
"Ya bilang.......!"
"Percuma kalau bilang tak bisa begituan!"
"Sini cium aku..!"
perintahnya. Tangannya yang meraba raba batangku meraih resleting celanaku.
"Buka dulu resletingmu, aku mau pegang titidmu"
"Titid itu untuk ukuran kecil......." kataku bergurau
"Totod......saja!" katanya ringan, tangannya membantuku menurunkan celana yang ku pakai.
Batangku
terhunus keluar dari celana dalamku, terlihat kekar dan keras serta berotot dipinggirannya.
"Kamu duduk agak mundur....supaya ada ruang"
Aku memundurkan badanku dan duduk menyamping supaya aku tahu bila ada orang lewat atau orang mendekat. Jarak pandang sangat jauh sehingga
karena cuaca memang tidak mendung. Tangannya telah memegang batangku. Secara kooperatif, jari jarinya mencengkeram, dia membungkukkan badannya dan mulutnya menciumi bagian kepala batangku.
"Aku rindu padamu..totod" bisiknya "Muach..muach"
Tanganku meraih kepalanya dan mendorong
pelan untuk menelan batangku.
"Kamu mau apa....?" katanya
"Aku mau ditelan batangku....!" kataku sambil mendorong kepalanya lagi
Mulutnya dia buka...batang coklatku tertancam masuk dimulutnya.
Lidah dan mulutnya terasa seperti vagina, dia menyedot batang kepalaku dengan halus.
Air liurnya seperti lendir sehingga batangku menjadi licin. Nyaris tidak ada gesekan dengan giginya.
"Ooogghhh cik......" aku melenguh nikmat, kepalaku mendongak keatas.
Tanganku meraba-raba pipinya, menelusuri bagian sisi dan telinganya. "Terus sayaaaaang......!" teriakku.
Dia menghentikannya dan memandang kearahku "Hmmmmm ...manis" katanya Mata sangenya terlihat membengkak.
"Lepas ......!" perintahku lirih
"Apanya.....?" tanyanya
"Celana dalamnya Cik Anneke" kataku
"Sudah dari tadi......." katanya menjawab
Tanganku meraih roknya dan mengangkatnya.
"Kapan melepasnya" tanyaku sambil tersenyum.
"Aku memasukkan batangku kembali ke dalam celanaku dan menutup resletingnya.
"Kenapa ditutup?" tanyanya agak heran
"Aku mau keluar ....!"
"Ngapain....?"
"Tunggu sebentar....!"
Aku keluar dari pintu samping kiri dan berdiri diluarnya.
Aku menarik kakinya satu dan menaikkannya ke kursi mobil.
"Cik Anneke berbaring saja.....!" kataku, tanganku mengangkat roknya dan membuka pahanya.
"Bagaimana kalau ada orang lewat?" katanya agak gugup sambil mengubah posisinya.
"Ya sudah Cik Anneke agak maju sini saja, sambil
miring supaya Cik Anneke bisa melihat situasi depan dan belakang mobil. Aku turunkan satu kakinya dan membuka kembali ujung baju bawahnya. Dgn agak gugup, dia membiarkan aku menciumi paha putihnya.
Tangannya memegang kepalaku saat lidahku mendekati pangkal pahanya.
#ceritacinta
Lobang vaginanya sudah berlendir, saat jariku membuka bibirnya. Lidahku menjulur dan menyentuh labianya. "Oohhh sayang...." tangannya menekan turun kepalaku. Lidahku menusuk lembut, menyentuh pelan. Tercium aroma memek, membuat nafsuku meninggi. Dia kembali membuka lebar pahanya
untuk memberiku akses. Paha putih terpapar sinar cahaya matahari, mulus kulitnya berkilau. Seperti Ken Dedes yang sedang turun dari kereta saat Ken Arok mengintip aura memeknya yang membuatnya terkesima. Cik Anneke seperti sengaja mempertontonkan kemolekan sumber birahinya.
"Jilat lagi......" katanya sambil mendorong kepalaku pelan. "Berikan Iphonemu........aku mau merekam apa yang kamu lakukan"
Tanganku merogoh kantong celanaku dan mengambil Iphoneku. Aku memberikannya kepada Cik Anneke setelah membuka passwordnya. Tangannya terampil membuka
kamera, dia setting ke video dan mengarahkannya ke wajahku. Jilatan lidahku membuatnya menggelinjang saat ujung lidahku menyentuh seonggok kacang yg sembunyi dibagian atas lobang memeknya.
Tangannya terus memegangi Iphone & mengarah ke pangkal paha yang sedang ku jilati.
"Ooohhh"
tangannya mendorong kepalaku agak miring supaya angel lidahku menjilati memeknya terlihat dan terekam.
"OOohhhh........aku terangsang sekali melihat video ini" katanya. Lidahku terasa kaku, mataku agak nanar. Aku hentikan jilatanku.
"Sudah....."katanya memberitahuku 'Masuk sini"
Aku masuk sementara tangannya menarik resletingku dgn tergesa gesa, saat aku duduk dia menarik celanaku. Aku mengangkat pantatku membantunya menurunkan celana hingga ke lutut.
Batang yang sudah meregang kembali terekspose.
Dia bergerak mengangkat salah satu kakinya untuk duduk
di pangkuanku. Dengan mengangkang, dia raih batangku untuk diarahkan ke lobang memeknya. Dia menurunkan badannya saat dia rasa batangku telah menyentuh permukaan lobangnya. "Majukan sedikit, kamu agak bersandar supaya penetrasi agak dalam. "
Aku menggeser pantatku maju, dan benar
batangku masuk lebih dalam. Dengan kedua lutut menopangnya, dia gerakkan tubuhnya naik turun.
"Oohhh yang gatal sekali....." katanya berbisik. Mulutnya menganga seakan menahan rasa panas dari dalam. "Ooohhhh yaaaanggg....ooohhh.....sayang....!"
Teriaknya nyaring ditelingaku.
Lobang vaginanya terasa hangat, hembusan nafasnya tak beraturan oleh nafsu dan birahi. Badannya bergerak naik turun menggesek-gesekkan memeknya ke batangku. Birahinya seperti tangisan kucing yang ingin dipuaskan. "Oohhh.....oohhhh.....ogghhhh" terdengar seperti tekad ingin puas.
Gerakan pantatnya menekan kebawah gesekan kepalaku menggaruk dinding memeknya, tanganku meraih kedua teteknya. Memilin-milin kedua putingnya dengan kedua tanganku masing-masing menempel, remasan ke gundukan teteknya yang tebal, membuatnya makin meraung keras ...Ooohhhhh!!"
badannya melengkung pinggulnya dia dorong kedepan naik turun secara membabi buta dan liar. "Oohhhhhh.......ooooohhhhhh........ohhhh sayaaaang....!! ssssss.....ssssttt......ohhhh.......ohhhhh terusssss....pilin putingku yang keras.......adduduuuuughhssssssttt....sttt ooohhhh!"
Tubuhnya ambruk menindihku yang bersandar dipunggung kursi. "Sudahhhh....legaaaa......." bisiknya lirih diantara endusan nafas dihidungnya. "Suddaaahh aku tidak kuat" katanya lirih lututku lemas......"
Cairan vaginanya melumuri batangku, meleleh turun hingga ke rambut jembutku.
Aku mengangkatnya utk turun dari pangkuanku. "Tunggu..aku mau batangmu tetap disitu" katanya
"Aku juga mau puas.!" kataku penuh nafsu. Kembali aku mengangkatnya, kali ini Cik Anneke mau beranjak. Dia angkat tubuhnya, perlahan lahan hingga batangku terlepas keluar dari lobangnya.
"Plok...." batangku yang kaku mengenai perutku.
Aku minta Cik Anneke untuk membelakangiku dengan posisi doggy. Tangannya meraih pintu sebagai penahan, dia agak maju untuk memberiku ruang. Sensasi ngeseks didalam mobil terasa, ditengah jalan dipinggir sawah yang sepi. Terik panas
tak terasa oleh AC mobil yang menyala. Aku dorong kepalanya menunduk sehingga pantatnya agak nungging sejajar dengan batangku, aku renggangkan kedua pahanya sehingga pantatnya membentuk seperti hati, sungguh indah. Perlahan aku majukan pantatku dan mengarahkannya kelobang nikmat
lobangnya masih basah oleh lendir licin, batangku masuk tanpa permisi. Hentakan kasar batangku menonjok masuk ..."Ssss.....stttt ooohhhh yaaaang, keras lagi....dorong sampai ujung..!! Lakukan dengan kasar....laggiiii"
Seperti mendapat ijin, aku dorong berulang ulang dengan keras.
Tanganku spanking pantatnya berulang ulang......
"Plaaak......plaak....!" suara tanganku mengenai bagian samping pantatnya.
"Ooooghhhh saayaaanggg....teruss terussss!" katanya mengiba...
Batangku mengobok obok kasar lobang dan rongga memeknya. Dia gerakkan pantatnya mengimbangi
sodokan batangku kedalam rongga memeknya. Goyanganya memicu friksi nikmat di kepala batangku. Aku mendesis desis, aku tarik rambutnya saat aku menusukkan masuk batangku. Rasa nikmat bercampur hangat memicu birahi tak terkendali. Erangan dari mulut Cik Anneke tak terkendali,
goyangannya terus membabi. Pukulan tanganku ke pantatnya memicu birahinya. Semburan spermaku tak terhindarkan. Teriakanku memberitahu bahwa aku akan keluar, pantatnya makin liar. Erangannya makin binal.
"Aku keluar.....aku keluar.....!" teriakku
Pantatnya dia goyang mundur, otot
otot vaginanya mengencang mengurut lembut batangku. Spermaku muncrat jauh kedalam, lepas bebas tanpa arah. Aku mencengkeram kedua pantatnya saat tetesan demi tetesan spermaku mangalir masuk.
"Jangan sampai menetes keluar spermamu sayang" katanya memberitahuku.
#CeritaMesum
"Iya...tolong ambilkan tissue satu" kataku
Tangannya mengulurkan tissue kearahku dan aku mencabut batangku. Tanganku membungkus batangku yang berlumuran cairan sperma yang telah bercampur dengan lendir vaginanya.
"Ooohhhhhh........." katanya
"Ambil satu lagi.......!" kataku
Dia sorongkan kotak tissue dan aku mencabut dua sekaligus. Aku tutupkan kedua tissue menutupi lobang memeknya. Tangannya menangkap tissue itu menggantikan tanganku.
"Sudah ...kamu keluar dulu supaya orang tidak curiga. Bawa kamera dan berjalan kearah depan mobil seolah-olah kamu
sedang memotret.
Aku merapikan diri sementara Cik Anneke tetap duduk dengan tangan masih memegangi tissue yang menempel di spermanya. Aku hendak keluar mobil saat tangannya menahanku.
"Cium dulu aku sayang....!" katanya dengan manja
Aku mencium bibirnya, dengan gemas dia gigit
bibir bawahku dengan giginya.
"Sakit..!" teriakku
"Sorry...aku gemas" tangannya mengelus elus batangku yang sudah tersimpan didalam celana.
"Sudah keluar dulu sana.....!"
Aku membuka pintu dan melangkah keluar. Aku membuka pintu depan untuk mengambil kamera. Seolah olah sedang
mencari bidikan, aku memotreat pemandangan hijau sawah yang terbentang didepan mata.
"Puas........" pikirku. Otot otot yang mengencang terasa melemas dan kendor. Aku duduk dipinggir sawah, ingin tidur diatas kasur.
Tiba-tiba klakson mobil CRV Cik Anneke menyalak, aku menoleh
kearahnya. Tangannya melambai kearahku. Aku berdiri berjalan kearah mobilnya. Cik Anneke sudah terlihat rapi.
"Ayo kita kembali ke kota....?"
"Sudah selesai memotretnya?"
"Sudah....sudah dapat burung kesukaanku" katanya sambil tersenyum kearahku.
Mata kami berpandangan lekat.
Pertemuan kedua dengan Cik Anneke berakhir ditmpat parkir mobilku. Dia menyerahkan Voucher menginap di Kusuma Sahid Prince Hotel sblm dia pergi meninggalkan aku.
"Jangan lupa bawa kartu kredit atau uang tunai sebesar 3,5 juta. Sbb receptionist meminta uang deposit seharga kamar"
pesannya singkat. Aku tidak pernah check in sendiri di hotel jadi aku agak bingung saat mendengar pesan yang diberitahukan kepadaku.
Aku menelepon Naira sesaat kemudian, menanyakan apa yang akan dia lakukan nanti malam. Aku mengajaknya untuk menginap bersamaku.
"Serius?"
"Iya.." kataku meyakinkan. "Aku jemput kamu sekarang ya?" kataku
"Aku masih berada disekolah, mas mau jemput aku disekolah?" tanyanya.
"Ini hari sabtu..kenapa masih berada disekolah" kataku heran
"Iya..hari ini ada pelajaran tambahan akutansi dan matematika."
"Pemantapan ujian?"
"Iya.....!" jawabnya.
"Selesai jam berapa?" tanyaku ingin tahu
"Setengah jam lagi......!"
"Okelah kalau begitu.....!"
"Mas sedang dimana ini, kenapa seperti dipinggir jalan raya"
"Aku di daerah Palur ini, aku baru saja ke Panti Asuhan"
"Sudah dulu mas, nanti lanjut lagi"
"Kamu dimana ini?" tanyaku ingin tahu
"Di toilet.....tidak mungkin aku jawab telepon didalam kelas"
"Oh...ya sudah. Setengah jam lagi aku kesana" kataku
Aku parkir didepan sekolahnya sambil menunggu dia keluar. Sekitar 15 menit kemudian, beberapa anak keluar dari gedung sekolah.
Banyak diantara mereka mengendarai sepeda onthel, beberapa mengendarai sepeda motor. Ada juga yang berjalan kaki berombongan. Iphoneku berdering, nama Naira muncul dilayar hpku. Aku pencet tombol tolak dan menulis sms memberitahu bahwa aku sudah berada didepan sekolah.
"Tunggu!"
Balasan sms kuterima.
Aku menunggu hampir 20 menit lagi baru kulihat Naira berjalan keluar gedung sekolah. Disebelahnya berjalan seorang perempuan yang berseragam sekolah yang sama. Perawakannya agak sintal berisi dengan kulit bersih & bening. Seragam yang dipakai bersih & rapi.
Mereka berjalan kearahku, Naira mengetuk kaca jendela setelah dekat.
"Mas..buru-buru kah?" tanya Naira
"Tidak ..kenapa?" tanyaku
"Temanku Rani mau ikut diantar pulang"
"Tinggal dimana?"
"Jagalan, daerah kandang pithik"
"Ayo.." kataku antusias. "Aku punya teman tinggal disitu"
"Siapa namanya?" Suara Rani sangat lembut.
"Cin Cin, orang keturunan Tionghua. Dia tinggal sama papanya saja, mamanya sudah lama meninggal"
"Ya ....aku tahu, itu tetanggaku mas. Rumahnya tidak terlalu jauh, hanya berjarak 20 meter."
"Mas, Rani ini kerja sebagai Caddy golf loh"
"Oh....ya sudah lama?" tanyaku ingin tahu"
"Baru 8 bulan mas, masih baru dan belum tahu banyak"
"Kita mau kemana sih mas.....?" tanya Naira
"Berenang di Kusuma Sahid Prince Hotel" kataku
"Aku boleh ikut mas?" Rani nyeletuk
"Boleh kalau mau....tapi nginap" kataku terus terang
"Kebetulan ada voucher menginap sampai besok, minta ijin bapak kalau boleh?" kataku
"Boleh mas..... Bapak jarang di rumah" jawabnya.
Aku belokkan mobilku ke kiri masuk didaerah Mesen dan lurus hingga pertigaan jagalan. Aku belok ke kanan hingga Prakter Dokter Lo yang terkenal.
"Aku harus bawa apa?" tanyanya
"Bawa baju renang......punya kan?" tanyaku
"Iya ada.! Rumahku sebelah kiri mas pagar warna hitam"
"Naira ...kamu ikut masuk yuk supaya mama percaya kalau aku akan pergi berenang dan menginap dirumahmu"
"Mas tunggu dulu ya?" kata Naira "Sebentar kok"
Aku berada didalam mobil sekitar 15 menit, mereka keluar dengan Rani telah memakai kaos polos putih & celana pendek. Perubahan penampilan langsung terlihat, kecantikan Rani tergolong diatas rata2x. Tidak heran dia bisa diterima sebagi Caddy Golf.
"Jadi hari apa saja kamu kerja"
"Oh iya, aku hrs bawa seragamku sekalian besok aku harus ke lapangan utk shift pagi" katanya tiba2x. "Maaf, tunggu sebentar lagi mas" katanya sambil keluar dari mobil lagi
"Mas...ngga marah toh aku ngajak teman?" tanyanya
"Cantik ya rumahnya?" kataku
"Bapaknya kerja di Pertamina
tapi istrinya banyak. Ibunya istri pertama, dia punya kakak yang sudah kerja di Pertamina Cilacap. Bapaknya jarang pulang, sering pulang ke istri kedua atau ketiga"
Rani kembali keluar dari rumah sambil menenteng sebuah travel bag warna biru muda. Seorang wanita setengah baya
berjalan mengikutinya.
"Siapa itu?" tanyaku
"Mbak Rah, pembantunya"
Rani kembali membuka pintu mobil sambil tersenyum dia memberi aba-aba bahwa dia siap pergi. Aku memutar mobil kearah keluar gang menuju rumah Naira. Sampai didaerah Balong, aku turunkan mereka didepan gang.
Kembali mereka berdua turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam gang 5.
Mereka berbicara sambil tertawa, Rani sempat menoleh kebelakang saat aku memandang kearahnya. Celana pendek yang dia pakai mengekspose kakinya yang seksi. Naira ikut menoleh kebelakang, wajah tersenyum dan
lidahnya dia keluarkan. Kembali mereka tertawa, entah candaan apa yg mereka ketawakan. Iphoneku berdering saat menunggu didalam mobil. Cik Anneke menelepon menanyakan apakah aku sdh check in dihotel. Aku memberitahu bahwa aku sedang dalam perjalanan ke hotel bersama teman-teman.
"Tidak usah kuatir untuk memberi uang deposit, aku sudah aturkan semua. Tinggal kamu ambil kunci di reseptionist sambil nunjukin KTP mu." Kata Cik Anneke. "Kalau mau makan, kamu pesan saja. Semua bill masuk ke kredit cardku" lanjutnya
"Cik Anneke tidak berenang sama kita?"tanyaku
"Tidak ..lain kali saja" jawabnya
"Naira dan Rani berjalan keluar dari Gang, mereka membuka pintu bersamaan. Sebuah travel bag kecil ditaruh dilantai mobil didekat Naira.
"Sudah semua....?" tanyaku
"Sudah..." kata Naira.
Aku mengarahkan mobil ke daerah Urip Sumoharjo mengambil
pesanan Black Forest di Holland Bakery. Aku berikan Naira tanda bukti pembayaran supaya dia mengambilnya. Rani ikut turun dan berjalan kearah toko. Kembali aku melihat gerakan pantatnya. Kali ini Rani tidak menoleh kebelakang sehingga aku leluasa mengamatinya. #CeritaJumatan
Baru beberapa saat mereka masuk, Naira kembali keluar dari dalam toko. Dia berjalan agak tergesa-gesa, aku membuka jendela sambil menanyakan ada apa.
"Mas, mbaknya minta KTP"
Aku mengeluarkan dompetku dan mengambil KTPku lalu kuberikan kepadanya.
"Mas...aku minta uang sekalian"
Aku memberikannya selembar 50 ribu rupiah dan dia kembali masuk kedalam toko. Rani dan Naira keluar sambil membawa sebuah tas besar berisi kotak roti pesananku.
"Maaaassss....romantis sekali pakai pesan roti coklat untuk rayakan valentine" kata Naira berseru saat duduk di mobil.
"Ayo kita harus cepat check in supaya tidak kemalaman" kataku memberitahu mereka.
Naira mengeluarkan sebungkus makanan, 3 buah resoles dan 3 buah lemper ayam. Satu resoles diberikan kepada Rani, Naira menyuapkan resoles kepadaku. Dia tidak membiarkan aku memegangnya sendiri
tanpa ragu dia juga menggigit resoles bekas gigitanku. Resoles Holland Bakery memang sangat enak, terasa lembut kulitnya dan isinya terasa bumbu mericanya. "Curang, mas kalau menggigit besar sekali" katanya
"Ya sudah, kamu habiskan semua sisanya" kataku sambil tertawa mendengar
protesnya.
"Ngga mau..aku tidak tega tapi kalau menggigit jangan banyak-banyak" katanya
Dia kembali menyuapiku potongan kedua resoles.
"Enak ya?" kataku
"Iya mahal sekali" katanya
"Berapa sepotong tadi?" tanya Rani dari belakang.
"Tujuh ribu lima ratus, lempernya delapan ribu.
Kami masuk di tempat parkir, aku berjalan duluan untuk check in dan mengambil kunci. Receptionist meminta KTPku dan mengembalikannya segera setelah memfotokopinya. Dia berikan kunci kamar 115 dan menjemput mereka. Kami berjalan masuk bersamaan, ruang lobby terasa agak lengang.
Setelah sampai di kamar Naira dan Rani segera masuk kekamar mandi untuk berganti baju renang secara bergantian. Jam telah menunjukkan jam 4 lebih, mereka memakai bath robe putih berjalan ke arah kolam renang.
Nanti kalau kamu ditanya penjaga, kasih tahu bahwa kamu dari kamar 115.
Aku keluar dari kamar sambil membawa dompet, handphone dan kunci kamar. Pengunjung kolam renang tidak terlalu banyak, sebagian besar orang2x dewasa lebih tua dari kamiSaat aku tiba, Naira dan Rani telah berada didalam kolam. Dari gerakan kaki dan tangannya, aku bisa tahu bahwa
Rani bisa berenang dengan baik. Sementara Naira berada di pinggir kolam berpegangan pipa yang tertanam sepanjang kolam.
"Dimana Bathrobe kamu taruh Naira?" tanyaku
"Disebelah sana dekat shower!" katanya sambil menunjukkan jarinya
Aku berjalan kearah yang ditunjuk dan menaruh
barangku disana setelah Naira mengangguk bahwa itu adalah tempat dimana dia menaruh bathrobenya.
Aku terjun kedalam kolam setelah membasuh badanku dibawah shower. Aku berenang mendekati Naira dan menyelam 2 meter sebelum memegang perutnya.
"Mas....Rani cantik ya?" katanya pelan
"Relatif...."kataku menjawab pertanyaannya
"Maksudnya relatif itu bagaimana?"
"Dari segi fisik dan wajah, dia memang cantik. Sementara dari segi lainnya, aku tidak tahu karena baru kenal. Kenapa kamu mengajaknya menginap di hotel?"
"Mas keberatankah?" tanyanya sambil memandangku
"Tidak..... kalau kamu suka dan senang. Aku tidak masalah. Cuma.....?"
"Cuma apa.....?" tanyanya penasaran
"Kalau kita begini.....?" kataku sambil menggenggam
dan menyelipkan jempolku diantara jari telunjuk dan tengah.
"Gampang....bisa diatur. Nanti kalau dia mau ikut biarkan"
"Huh.....?" kataku bengong. "Memang dia pernah begituan.....?"
"Pernah sama pacarnya, tapi sudah putus. Dia jadi Caddy golf sering juga dicharter sama pegolfnya lah. Cuma dia tidak bilang."
"Serius kau......!?" tanyaku penasaran
"Tidak....aku hanya bercanda!"
Aku berbalik untuk
dan berenang ke sisi kolam. Rani sedang berada disana saat aku sampai. Baju bagian dadanya melorot oleh semburan air dari samping dinding kolam. Kulit dadanya nampak bening dan bersih. Mataku sempat memandang sekilas, matanya menangkap arah pandanganku. Secara otomatis tangannya
membetulkan leher bajunya yang turun. Mulutnya senyum sesaat. "Pemandangan gratis biasanya hanya sebentar" gumamnya ringan
Aku tersenyum mendengarnya, "Yang gratis biasanya bikin penasaran" jawabku sekenanya
"Ran...setelah lulus SMA, mau melanjutkan kemana?" tanyaku basa basi.
"Cari suami saja mas..supaya ada yang menghidupi"
"Hm..realistis sekali!" katanya
"Ayo kita kesana, kasihan Naira sendirian" katanya
"Tunggu, kita baku lomba" kataku menantang
"Okay..kalau aku menang, aku dapat apa?"
"Aku traktir burger terenak di Solo" kataku "Kalau aku menang?"
"Mas minta apa.......paha atau dada?" katanya mempermainkan aku
"Tunggu paha dan dada apa dulu yang jelas....!"
"Dada ayam dong........!, masak dadaku?"
"Okay......let's begin the race"
"Good, on my count.....one, two, go" dia berteriak
Kami berenang ke seberang dan kali ini aku
harus menang, aku tidak mau mengalah. Aku ingin dada. Sekuat tenaga, secepat aku bisa. Rani bukan lawan yang mudah, dia berenang secepat dia bisa. Hanya saja aku lebih beruntung, saat kita sedang berlomba, perenang lain memotong jalurnya. Dia terhenti sejenak sebelum melanjutkan.
Aku menjangku Naira dulu, Rani menyusul kemudian. Dia ingin protes tetapi aku sudah mengantisipasinya. "Sorry Rani....You owe me breast" kataku
"What..? it's unfair" protesnya
"Nothing is unfair, it's just you are unlucky today"
kataku sambil ketawa.
Naira tidak paham apa yg kita
bicarakan dan dia hanya terdiam saat kita berbicara dengan Bahasa Inggris.
"Kalian bicara apa sih?" katanya menengahi
"Dia tadi aku tantang, aku traktir dia makan burger paling enak di Solo bila bisa mengalahkanku berenang. Sementara kalau kalah aku bisa milih antara dada atau
paha. Kamu lihat sendiri aku duluan sampai disini kan? Makanya aku klaim minta dada saja" kataku sambil ketawa menang
"Tdk bisa, tadi ada orang yang menghalagi ku saat berenang. Berarti tidak fair kan?"
"Sudaah...Rani kamu kalah. Berikan dia apa yg sudah kau janjikan" kata Naira
"Tidaak..harus kita ulangi, kamu berat sebelah" protes Rani sambil mendorong Naira kearahku. Tawanya sangat renyah saat mendorong Naira, aku tahu gurauan keduanya.
"Boleh..kali ini kita berenang di jalur panjang saja bolak balik" kataku menantangnya
"Boleh..ayo kita ulangi lagi"
Kami bergerak kearah kanan ujung kolam, Naira ikut dengan kami sebagai saksi. Setelah kami menempati posisi kami masing-masing Naira menghitung dengan keras. Tanpa menghiraukan perenang lain, kami siap siap meluncur.
"Satu......dua......tigaaaaaa!" teriak Naira dengan keras.
Rani tidak beruntung lagi kali ini, dia merasakan kakinya kramp dan tak bisa melanjutkan laju perlombaan. Dia teriak mengaduh dan aku segera menghentikan berenangku untuk menolongnya. Wajahnya agak pucat dan menahan rasa sakitnya. Aku membawanya ketepian dengan memeluknya.
"Luruskan kakimu....." perintahku
Aku pernah mengalami pengalaman yang sama, sungguh menyakitkan. Setelah sampai dipinggir, aku memintanya untuk bersandar di dinding kolam sementara Naira segera membantunya memegangi tangannya. Aku mengangkat kakinya yang cramp dan menekan tela
pak kakinya keatas.
"Iyaaa terussss......begitu" kata Rani. Aku memegangi kakinya sambil menekan bagian telapak depannya keatas.
"Jangan ditekuk dulu sebelum otot-ototnya mengendor" kataku. "Kamu tadi langsung nyebur ke kolam seharusnya tidak bisa begitu. Harus ada peregangan
supaya kejadian seperti ini tdk terulang."
"Iya lama tidak berenang, jd aku tadi tdk melakukannya. Papaku selalu memintaku melakukan peregangan sebelum berenang."
"Sdh..?" tanyaku ingin tahu
"Iya..sudah"
"Naira ayo aku ajari kamu renang?" kataku
"Iya aku dari tadi kau cuekin"
"Rani....kamu mau naik keatas?" tanyaku
"Tidak...aku disini saja. Aku gerakkan pelan-pelan supaya ototnya tidak menegang" jawabnya
"Bukan ototmu yang menegang, tapi ekornya Mas Arjuna yang menegang setelah menggendongmu tadi!" timpal Naira. "Sekarang dia mau dada, pasti tangannya
segera memegangi dadaku. Kamu yang janji memberinya dada, aku yang kau jadikan korbannya hahahahaha" lanjutnya
"Huuush...ribut sekali kamu" kataku "Ayo sudah pegang pipanya, angkat kakinya dan gerakkan.
Naira melakukan apa yang aku perintahkan, tanganku mengangkat bagian perutnya
supaya dia bisa mengambang ke permukaan.
"Kakimu tidak boleh tertekuk saat bergerak!"
"Ya...begitu Naira." kata Rani dari sampingnya.
Tanganku aku lepaskan, kembali tubuh Naira turun. Aku mengangkatnya lagi sedikit dibagian perutnya, hanya saja kali ini posisinya agak kebawah.
"Massss......kamu mau mengangkat atau mengelus memekku" kata Naira lirih. Rani yang mendengar ucapannya mengarahkan matanya mencari dimana tanganku berada. Aku mencubit perutnya, dia bergoyang kegeliaan dan melepas pegangan tangannya. Dia tenggelam dan tidak siap dengan nafasnya.
Air masuk kedalam mulutnya dan dia minum sedikit air kolam renang. "Cough....cough....cough.....!" suara batuknya terdengar saat tangan Rani membantu mengangkatnya. Wajahnya tersenyum melihat kelakuan Naira. Tiba-tiba tangan Naira memukul lenganku. "Kamu jahat mas...jahat sekali"
Jalan nafasnya terganggu karena sejumlah air yang masuk kehidungnya. Aku memukul bagian punggung atas pelan-pelan supaya air disaluran nafasnya keluar. "Cough...cough..." suara batuknya sangat keras, mendorong air keluar dari hidungnya. Kemudian dia memandang kearahku dengan muka
merona merah karena menahan nafas.
"aaaaaaa...aagghhh.....!" katanya lega.
"Arrrch.....arrrccchh......" tenggorokannya berusaha memancing air yang tersisa keluar dari saluran nafasnya.
"Buang airnya di saluran samping kolam," kataku menyarankan. Aku mengangkat tubuhnya supaya
dia bisa membuang ludahnya disana. Dia melakukan apa yang kuperintahkan.
Perasaanku tdk enak, kedua cewek ini tersakiti gara2x keinginanku. Aku peluk tubuh Naira dari belakang sambil membisikkan permintaan maafku.
"Maaf.." kataku, aku tdk sengaja.
"Kamu tdk minta maaf ke Rani?"
"Maaf Rani.....?" kataku
Satu tangan Naira memeluk Rani, sementara yang satunya memeluk pinggangku.
"Kamu perlu dihajar mas......!" kata Rani sambil mencubit pinggangku. Aku menggelinjang saat jarinya menempel di pinggangku. Aku menghindari cubitannya dengan menggeser tubuhku
secara relfex. Tubuhku menumbuk Rani yang disampingku, kakinya terinjak oleh kakiku.
"Massss.....addduuuuuh" teriaknya sambil berjingkat kesakitan.
"Sudah....sudah... kita naik saja" kataku
"Ya sudah mas naik dulu, aku mau belajar renang. Rani ajari aku berenang dulu" kata Naira
Suaranya seperti seorang komandan regu, saat meminta Rani mengajarinya berenang. Aku menaiki tangga kolam dan berjalan kearah pool bench dimana aku letakkan Iphoneku. Ketika aku duduk, Iphone yang aku setting silent terasa bergetar. Cik Anneke menelepon
"Hallo Cik Anneke.....?"
"Kamu sedang ngapain....? Aku telepon kamu berulang-ulang kenapa tidak ada jawaban" katanya agak ketus
"Aku masih dikolam renang, aku tidak dengar" kataku defend
"Aku mau tanya......bisa tidak kamu beri aku informasi saham yang bagus diperdagangkan?" katanya agak ragu-ragu.
"Cik Anneke..sedang dimana ini?" tanyaku
"Aku dikamar.....kenapa?" tanyanya balik
"Sama siapa...?" tanyaku lagi
"Sendiri...?"
"Kenapa Cik Anneke ingin tahu saham trading?"
"Aku mau tambahan income sendiri diluar penghasilan suamiku. Kasih tahu aku, supaya aku bisa dapat uang
sendiri" katanya
"Aku sebenarnya punya komitmen dengan asosiasi dimana Pak Ah Long didalamnya. Kalau aku beritahu orang lain, berarti aku telah melanggar komitmenku" jawabku
"Aku kasih persentasi lebih banyak daripada yang diberikan asosiasi." katanya tak mau kalah.
"Sebaiknya kita ketemu saja cik, tidak bisa bicara di Handphone." kataku
"Ok...kita bisa ketemu besok siang" kata Cik Anneke
"Boleh kita atur pertemuan besok pagi supaya kita bisa bicara lebih leluasa" kataku
"Kami berbincang-bincang agak lama sebelum akhirnya kami mengakhirinya.
Ketika aku menutup percakapan, tanpa sengaja aku menoleh kearah Naira dan Rani, pandangan kami bertubrukan. Mereka naik tangga dan keluar dari kolam, aku berdiri & memberikan bathrobe yang mereka bawa dari kamar utk menutupi tubuh mereka dari pandang orang.
"Siapa telepon mas?"
"Salah satu bosku..!" kataku menjawab
"Bos..memang Mas Arjuna sudah kerja?" tanya Rani
"Sudah.." kata Naira mewakiliku sambil tersenyum.
"Mbak.." kataku saat seorang waitress lewat. "Bisa minta menu cafe nya?"
"Bisa ..tunggu sebentar nggih?" katanya sambil membungkukan badan
dengan sopan. Dia berjalan kearah meja dan mengambil menu. Menu cafe yang hanya selembar kertas yang telah dilaminating itu diberikan kepadaku.
Naira dan Rani mendekat ingin melihat makanan apa saja yang terdaftar di menu.
"Mas mau pesan apa?" tanya Rani
"Kita makan yang ringan
saja ya sebab masih jam 5 lebih"
"Makan ringan itu apa coba.......?" tanya Naira
"Aku mau makan tenderloin saja sama garlic bread" kataku
"Aku juga deh......." kata Rani
"Jangan sama......" kata Naira "Pesan yang lain jangan tenderloin lagi supaya kita bisa baku tukar"
"Good idea.!" kata Rani "Aku mau ribeye steak saja"
"Aku mau super cheese burger saja"
Aku berjalan ke arah waitress yang sedang berdiri didekat desktop. Aku menyampaikan pesanan kami dan sepitcher lemon tea.
"Mbak billnya digabung dengan room 115 ya?" kataku sambil menunjukkan
kunci kamar.
"Oh iya....baik mas, tunggu setengah jam lagi ya" katanya sambil berlalu.
Aku beritahu Rani dan Naira untuk bilas dulu supaya rambut mereka tidak rusak oleh kaporit yang dicampurkan didalam kolam renang.
Mereka segera ketempat penyiraman dan keluar setelah beberapa
saat kemudian.
Rambut mereka basah kuyub saat mereka berjalan kearahku. Mata mereka merah karena lelah atau karena air kolam. Tapi mereka nampak senang.
Lemon tea hangat yang aku pesan disajikan duluan. Kami meminumnya dengan santai.
"Kenapa hangat?" tanya Naira
"Kalau dingin
kamu akan terkencing-kencing setelah keluar dari kolam" kataku memberitahu
"Tenderloin steak......?" kata waiter yang mengantar makanan.
"Ya.....punyaku!' kataku
"Ribeye ......?" katanya lagi
"Mau dituangkan sekalian saucenya?" tanya waiter
"Tidak....biar aku tuang sendiri"
"Super Chees Burger.....? Pesanan sudah keluar semua ya?" kata waiter memberitahu dengan nada bertanya.
"Sudah ya mas.......?" tanya Rani dengan suara khasnya.
"Iya....sudah. Terima kasih" kataku kepada waiter yang segera beranjak pergi. "Awas hotplate .....!" kataku kepada Rani
"Maksudnya.....aduuuuhhhhh....!!!!!" teriaknya setelah aku memberitahu.
"Terlambat....." teriakku
"Awas piringnya panas.....!" kataku menjelaskan
Rani mengibas-ibaskan kedua tangannya.......sambil meniupi jari telunjuk dan jempolnya yang memegang hotplate didepannya saat ingin
memegang piring untuk menuang sauce steak yang kental itu.
"Kenapa kamu tidak kasih tahu aku lebih awal mas....?
"Kukira kamu sudah tahu...." kataku "Sini coba kulihat tanganmu?"
Dia ulurkan jarinya kearahku, aku memegang tangannya didepan Naira yang diam saja tanpa emosi.
"Tidak apa-apa....!" kataku sambil meniupnya
Aku menuang sauce steak ke hotplatenya, terdengar suara mendesis dari piring panas disertai kepulan asap yang tebal. Aroma sauce steak yang gurih tercium di hidung kami.
Aku memindahkan hotplatenya kedekatnya untuk mempermudah Rani
menikmati ribeye steak nya.
Aku tuangkan punyaku dan kepulan asap juga muncul dari hotplate yang tersiram sauce. Naira menggeser kursinya kedekatku.
"Mas...aku mau coba punyamu?" katanya
"Iya.....tapi masih panas" kataku menjawab
"Rani nampak kikuk, kelihatannya dia belum pernah
makan steak diatas hotplate dengan pisau dan garpu. Aku mengarahkannya bagaimana memegang pisau dan garpunya. Agak malu dia mengakui.... "Ini baru pertama kali aku makan steak" katanya
Tangan Naira meraih kentang goreng di hotplateku, dia mengambil satu dan memasukkannya kedalam
mulutnya. Kali ini dia yang kepanasan. Dia keluarkan batang kentang itu dari mulutnya dan dilepehkan diatas piringnya.
"Masih panas......!" katanya dengan lidah menjulur.
"Aku bilang sabar .....masih panas!" kataku "Potong dulu burgermu, kita makan burger dulu selagi nunggu steak
dingin. Sini biar aku yang memotong." Dengan menggunakan pisau dan garpu yang kupegang, aku memotong burger keju itu menjadi 4 bagian. Daging dan rotinya sangat empuk. Aku mengambil satu dan memberikannya ke pada Rani. Rani menerimanya dengan kedua tangannya. Jarinya menekan
roti hingga agak mengecil dan menggigitnya.
Aku mengambil satu dan mendorong sisanya yang berada diatas piring kearah Naira yang telah menunggu. Daging sapi terasa sangat juicy dan gurih.
Rani yang telah menggigit bagiannya sedang mengunyah sambil mata tertutup menikmati burger
seharga 125 ribu itu. "Gila......luar biasa enak!" katanya
Naira juga menikmati burger yang dikunyahnya. "Enak sekali" komentnya pendek.
Biji biji wijen yang berada diatas roti bergogrokan saat aku menggigitnya, gurih dan berlendir gurih dagingnya. Mulut kamu mengeluarkan suara
kecapan nikmat.
Seperempat burger bikin aku kenyang" kata Rani
Tangannya mengambil pisau dan garpu serta mengiris daging ribeye didepannya. Tekstur dagingnya terbilang sangat lembut sehingga terlihat potongannya tanpa serabut. Dia masukkan potongan di garpunya kedalam mulut.
tanpa saus terlalu banyak, daging terasa gurih.
"Lumuri dulu dengan sausnya supaya kaya rasa...!" kataku
"Iya...ya... aku lupa" jawabnya
"Naira......hak....buka mulutmu?" kataku sambil menyuap potongan pertama tenderloin steak ku.
Potongan yang sudah kelumuri sauce nampak sangat
menggiurkan. Naira sangat suka, sambil mengunyah dia mengambil potongan batang kentang dihotplateku.
Aku memotong daging & aku lumuri sauce serta sauce sambal pedas delmonte. Benar-benar nikmat, lidah bergoyang.
"Ra..kamu mau coba punyaku?" tanya Rani
"Coba sepotong..?" jawabnya
Kami berada di cafe itu hingga jam 6: 20 menikmati dan ngobrol apa saja. Kami berjalan kembali ke kamar dengan suasana mulai gelap. Para perenang telah kembali ke kamarnya atau pulang, sementara petugas kolam mengumpulkan handuk-handuk yang telah digunakan oleh para perenang.
"Ayo kita kembali ke kamar......!" kataku
Mereka mengikutiku, perut kami terasa sangat kenyang. Langit mulai nampak gelap, dan suasana temaram dalam perjalanan kembali ke kamar. Aku membuka kamar hotel dan masuk kedalam kamar mandi. Aku memutar kran air panas dan dingin bersamaan
setelah menyumbat lobang bathtub. Kembali keluar untuk mengambil celana dalamku.
"Katanya mau mandi?" tanya Rani
"Aku sedang mengisi bak mandinya......." kataku
"Aku ikut......!" Naira nyeletuk.
"Aku juga ikut....!" Rani menyahut
"Mana cukup untuk bertiga" kataku ngga percaya
Bathtub hotel ruang eksekutif yang kami tempati
ternyata sangat besar untuk ukuran satu orang. Untuk bertiga......? mungkin bisa. Aku kembali masuk kedalam kamar mandi. Naira dulu menyusul dibelakangku. Dia melepas baju renangnya setelah aku melepas celana renangku. Dengan
bertelanjang bulat, aku masuk kedalam bak mandi tapi lompat keluar saat terasa air didalam bak mandi terlalu panas. Aku putar bagian air panas untuk mengecilkan kucuran air panasnya. Naira mendekatiku dari belakang. Tangannya menyentuh pantatku & menaboknya ringan. "Plaaaak..!"
"Gilaaaaa...kalian telah telanjang!" teriak Rani saat masuk kedalam kamar mandi.
Kamar mandi beruap karena air panas yang mengucur dari kran air. Aku mencelupkan jari-jari tanganku untuk merasakan kehangatan air didalam bak.
Rani tanpa malu juga melepas baju renangnya, dia duduk
diatas toilet bowl untuk pipis, suara mendesis keluar bersamaan air seni yang keluar dari lobangnya.
"Sssssss............." Naira dan aku tertawa saat suara itu terdengar ditelinga kami.
"Tidak lucu.......!" teriak Rani protes. Tapi dia tertawa juga, geli mendengar suara kami.
Aku masuk kedalam bathtub dan duduk merendamkan tubuhku. Posisiku menghadap ke pintu kamar mandi. Rani masih duduk diatas toilet bowl, bagian dada telah terbuka. Kedua tangannya menutupi payudaranya. Naira menyusulku dan duduk didepanku sambil menyandarkan badannya yang telah
telanjang ketubuhku. Hangatnya air dan tubuhnya bersatu dalam dekapanku. Tanganku melingkar ke pundaknya, merangkul tubuhnya. Telapak tanganku memegang kedua payudaranya. Sementara mataku memandangi Rani yang tangannya masih memegangi kedua teteknya.
"Mass...jgn pandang begitu!"
Dia memutar tubuhnya untuk mencari tombol penggelontor, tangannya terulur saat akan menekan tombol itu. Salah satu payudaranya terlepas, mataku tak lepas dari bulatan yg menggantung didadanya.
Dia mengambil sprayer untuk menceboki memeknya, kedua payudaranya terlihat. "Masss...!"
"Sudah pegang punya Naira....masih saja melihat kepunyaanku" katanya sambil menceboki lobang memeknya.
Tanganku meremas remas daging tetek Naira sementara jari-jariku memilin putingnya dengan lembut dan pelan. Suasana sangat tenang dikamar mandi, perasaan tubuh sangat santai
pengaruh air hangat yang terus mengucur dari dalam kran. Batangku menegang dan terasa agak sakit karena tubuh Naira menindih bagian depan badanku. Tangannya meraih batangku dan menggenggamnya, mata terpejam merasakan sentuhan tanganku didadanya.
"Lepaskan tanganmu......" bisikku
Tangannya yang melingkar dia lepaskan, dia hanya memegangi pahaku. Rani masuk kedalam bathtub, posisinya menghadap kearah Naira dan aku.
"Mana bisa begitu Rani.....! Posisimu terbalik!" kata Naira saat merasakan Rani masuk kedalam bak mandi.
"Sini kamu harus bersandar kebadanku"
Daging memeknya sangat tebal terlihat saat dia memutar. Tangannya sempat menutupi bagian itu tapi mataku cukup jeli untuk melewatkannya.
Akhirnya dia bersender juga ketubuh Naira. Tangan Naira memeluknya, tangannya memegang kedua payudaranya. Naira meraba-raba, gerakan tangannya
memutari gelembung daging dadanya. Tanganku turun ke selangkangan Naira, pahanya terbuka dan aku mengarahkannya langsung ke memeknya.
"Addduuuuuh massss....." desahnya.
"hahahaha....gila kita bertiga ini" kata Rani lirih
Suasana sangat mendukung, perut kenyang dan tenaga penuh.
Tangan Naira terus meremas remas tetek Rani, mulutku merangsek ke leher Niara saat badanku agak membungkuk. Aku hisap pelan tanpa meninggalkan cupang, dia mendongakkan kepalanya memberiku akses untuk bisa menelusuri batang lehernya.
"Ooohhh masssss......ganas sekali bibirmu"
Jari-jariku terus menyusuri bibir vagina yang telah licin, ingin kutelusupkan kedalam lobangnya tapi aku menahannya. Takut air didalam bak mandi itu kotor. Dia menoleh kearahku & mulutnya menghisap bibirku. Tangannya terus meremas remas Tetek Rani. Nampaknya Rani juga terhanyut
pusaran nafsu yang timbul oleh rangsangan tangan Naira didadanya. Mulut kami berpagutan penuh nafsu, lidah kamu menjulur dan bersentuhan, percikan birahi membakar tubuh kami.
"Berdiri...kamu duduk dibibir bathtub" kataku
"Begini saja....!" katanya protes
"Tidak....sebentar saja"
Aku mengangkat tubuhnya dan mendudukkan tubuhnya ditepi bathtub. Aku buka kedua pahanya, tanganku menelusup memegang kenop diatas lobang memeknya dan menggosok pelan. Dengan menggunakan jari tengah tangan satunya, aku telusupkan masuk dengan mudah karena licin.
"Ooohhh....masss"
Rani berlutut disampingnya, pantatnya terlihat indah saat aku menoleh kebagian belakang tubuhnya. Jariku menusuk-nusuk masuk kedalam memek Naira. Smentara jariku tanganku satunya mengusap usap clitorisnya. "Teruuuussss masss......terusss......ohhh sayangggg terussssssmasssss!"
Rani yang berlutut disampingnya, memegang puting teteknya, tubuhnya condong kedepan dan mulutnya meraih puting sebelah kiri. Tangan Naira memeluk kepala Rani, mengelus elus penuh birahi.
"Lobang memekmu sangat merangsang .....Naira" kataku kedua pahanya aku renggangkan mulutku
maju untuk menghisapnya. Bibir vaginanya sangat lembut saat tersentuh oleh lidahku, mulutku maju jilatan ujung lidahku memutar mutar keseluruh permukaan memeknya.
"Aaaaagghhhh.........ooohhhhh...masssss.......!"
Dua jari aku masukkan kedalam lobangnya, maju mundur, keluar masuk
sambil lidahku terus menjilati klitoris yang menggantikan jariku. Desahan Naira makin tinggi......suaranya parau penuh nafsu. Rangsangan kuat dari puting dan vaginanya terus dia rasakan. Tiba-tiba dia menjambak rambutku disertai lengkingan tinggi. "Maaasssss.....ohhh...mass s!!!"
Pantatnya dia maju mundurkan, kedua pahanya dia buka lebar-lebar. Tangannya mencengkeram rambutku dengan kasar dan kulit kepalaku terasa sakit.
"Oooghhhhh....agggghhhh.....ohhhhh..." makin meninggi dan akhirnya loyo melepaskan rambut kepalaku.
"Rani.....enaaaaak sekali" katanya
matanya tertutup rapat, dengusan nafasnya terkontrol pelan. "Ammpuuunnnn enaknya....!" kata Naira
"Terima kasih sayaaaaaang...." katanya sambil turun kedalam bak mandi lagi.
"Kamu kesana dekat Mas Arjuna" kata Naira mendorong tubuhnya kearahku. Air didalam bak mandi terjaga
hangatnya karena kran terus kunyalakan. Tubuh Rani terasa berbeda, tubuh sintalnya lebih menggairahkan, ukuran dadanya juga agak lebih besar dengan daging yang padat. Aku memeluk tubuhnya yang membelakangiku.
"Aku sudah terangsang melihat Naira.." katanya lirih
Mulutku menghisap
daun telinganya, lidahku menjulur & melumat cuping telinganya. Tangannya meraih kepalaku, dia memutar sedikit kearah kanan dan mulutnya mencari mulutku. Pertama kali kami berciuman, bibirku menghisap lidah yang dia tawarkan saat menjulur. Terasa manis oleh sauce steak yang masih
menempel dibagian langit rongga mulutnya dan permukaan lidahnya. Naira mengulurkan jarinya keselengkangan Rani. Jarinya menari-nari didaerah sensitivenya. "Oohhhhh....!" katanya saat mulut kami terlepas. "Aku mau ini......" katanya sambil memegang batangku. Dia berdiri, tangannya
terulur membantuku untuk berdiri. Dgn membungkuk kedepan, tubuhnya tepat diatas kepala Naira yang masih berada didalam bak. Aku berdiri dibelakangnya & memposisikan batangku. Tangannya menjulur kebelakang meraih batangku yg menegang serta mengarahkan batangku kedalam lobangnya.
Aku menyodok kedepan pelan, lobangnya menjepit batangku dan terasa sangat sempit.
"Pelaaaann pelan mass.." rintihnya badannya bergetar saat batangku melesak pelan masuk. Dia menghela nafasnya saat, batangku kutarik pelan keluar. "Masyaaaalllaaahh......enaaaaknya!" saat batangku
kembali masuk. Tangan Naira terus menstimulasi puting teteknya. "Naira......gesek geseeekkk clitorisku"
rengeknya..... Tangan Naira menjulur kearah selangkangan Rani. Tangannya menyentuh2x permukaan memeknya yang lobangnya penuh dengan batangku. "Iyyaaaa terussss...teruss Nairaa"
Kembali kutekan lagi maju pantatku, batangku menelusup lebih kedalam lagi. "Ooohhh masssss......tusuk lagi lebih kencang" teriaknya
Suaranya sedikit terdengar memohon "Tekaaannn mass tekaaaan .......tekan lagiiii.....!"
Doronganku keras menghujam masuk, kepala penisku terasa
seperti dielus elus daging lunak yang berlendir licin. Friksi dengan daging vaginanya sangat terasa. Aku guncang tubuhnya, sementara clitorisnya terus digosok-gosok oleh Naira.......teriakan nafsu terus melengking.
"Aku mau keluar .....!" kataku
"Jangan......aku ngga mau.....!
"teriak Naira" Aku belum dapat bagian, aku marah besar!" ancamnya
Aku mencabut batangku, kepala Rani menoleh kebelakang melihat batangku yang terhunus dari lobangnya. Wajahnya nampak kecewa tapi tak bisa protes.
Naira bangkit sementara Rani kembali masuk kedalam genangan air.
Batangku terpapar oleh udara kamar mandi, tangan Naira meraih batangku. "Jangan kamu kocok...!"
Kataku memperingatkan saat aku merasakan tangannya meraih batangku. Mulutnya meraih bibirku, badannya merapat kepelukanku. Tiba-tiba dia mengangkat tubuhnya dan kedua tungkai kakinya
melingkar dipinggangku. Aku memegang pantatnya dan menjaganya supaya tidak turun. Vaginanya menempel dikulit perutku, terasa hangat dan berlendir.
"Masukkan maaaassss......" bisiknya
Aku melihat kearah Rani, dia sedang melihat batangku yg akan menelusup kedalam memek Naira.
tangannya sibuk meraba raba memeknya. Matanya terpejam merasakan gerakan tangannya memutar-mutar bergerak dipermukaan vaginanya.
Aku telusupkan batangku kedalam lobang memek Naira dan mengangkat naik turun badannya. Gesekan tubuhnya sangat pas mengenai batangku. Batangku seperti
diserut dan diremas saat tubuhnya kuangkat dan kuturunkan. "Oooh Nairaaaa.....!" desahku
"Tahan dulu.....tahan dulu......" katanya penuh rangsangan. Batangku terasa di ujung kenikmatan, gesekan gesekan kepala batangku digerus gerus oleh daging memeknya, sangat intens dan nikmat.
Apalagi saat pantatnya dia goyang-goyang kekiri dan kekanan. Batangku seperti diperas.......terasa nikmat.....terasa terbang ....... Akhirnya aku tidak kuat,
"Nairaaaaaa......aku tak tahan....aku mau keluar sekarang." kataku memberitahu
Dia biarkan gerakan pantatku menusuk-nusuk
masuk saat salah satu kakinya berada diujung bibir bathtub, tusukan panjang kedalam memeknya terasa sangat intens dinding vaginanya menjepit rapat....
"Mmsss.s...oohhh ...ooooohhhh ....ooohh" katanya melenguh
Aku mencabut setelah menyodok nyodokkan batangku kedalam beberapa kali
Dia berjongkok saat semprotan pertama keluar, tangannya meraih batangku dan membantunya mengocok. Semprotan kedua mendarat dimukanya. Rani memandang saat semua terjadi, tangannya sibuk terus dgn selangkangannya. Aku merasa lega....otot otot tubuhku mengendor ringan. Aku menghela
nafas panjang menikmatan kelepasan.
"Sudaaaahh......sudaaahhhh....." kataku. Gumpalan sperma meleleh turun dari tubuh Naira.
"Rani...cabut penyumbat bathtub" perintahku
Aku matikan kran air dan menarik naik tombol shower. Air mancur dari atas kepala, membasahi. Rani mendesak
berdiri diantara aku dan Naira untuk mendapatkan semburan air dari shower. Pantatnya mengenai batangku yang sudah loyo. Tanganku melingkar di perutnya sambil jari-jariku mengelus elus kulit dibawah pusarnya.
Naira sibuk keramas Rani menyabuni tubuhnya. Tanganku sempat memegang
memeknya sebelum dia teriak "Naira..... Mas Arjuna nakal" katanya
Aku melepaskan tanganku, Naira meraih botol sampo dan meraih kepalaku membaluri rambutku dengan sampoo. Aku duduk dipinggir bathtub sambil menunggu Naira selesai mengosok-gosok sampo sambil membilas rambutku dengan
air, rambutku di pocak pocak. Tanganku meraih badannya yang berdiri didepanku. Tangannya menolak tubuhku saat aku menariknya mendekat kearahku.
Rani selesai duluan dan dia melangkah keluar dari bak mandi. Aku dan Raina menyusul setelah kami selesai salaing menyabuni.
Raina mengeringkan badannya dgn handuk besar, sementara satu handuk satunya telah digunakan oleh Rani. Dia menggunakan handuknya sebagai kemben untuk menutupi ketelanjangannya.
Badannya sangat proporsional sehingga cocok diklasifikasikan sebagai seorang babe. Raina mengeringkan
rambutnya dengan hairdryer yang tersedia didalam kamar mandi. Dia memberikan handuk yang baru saja dipakainya kepadaku untuk mengeringkan tubuhnya.
"Rani, kamu tidak keringkan rambutmu?" tanya Naira
"Iyaa...gantian. Aku tadi tidak tahu kalau ada hairdryer di kamar mandi" jawabnya
Aku berjalan keluar kamar mandi, melihat Rani duduk dikursi dekat meja televisi. Aku taruh handuk yang aku barusan pakai di punggung kursi dimana Rani duduk. Dengan bertelanjang aku mengambil celana dalamku. Mata Rani memandang kearah batangku yang sudah loyo. Tangannya menyentuh
punggungku dan menggosoknya. Setelah aku memakai celanaku, aku berbaring dengan hanya memakai celana dalam. Posisiku miring mata terpejam, menikmati sisa sisa rasa nikmat setelah bersenggama.
Raina keluar dengan rambut agak kering, badan telanjang berjalan kearah tempat tidur.
"Mas..capek?" tanya Naira
"Kenapa tidak pakai baju?" kataku bertanya
"Rambutku masih basah.." katanya menjawabku
"Rambut basah tidak ada hubungannya dengan tidak pakai baju" jawabku lemas.
"Aku mau beritahu kamu, ingat pesanku.. Kamu boleh ngeseks dengan Rani tapi selama aku ada
Jangan bermain dibelakangku, itu menghianati aku"
Rani sedang berada didalam kamar mandi dan suara hairdryer sangat bising. Aku percaya dia pasti tidak mendengar percakapan ini.
"Ok.." kataku menyenangkan, tanganku menyentuh pipinya. Dia mencium pipiku dan bergerak untuk bangkit
Rani mematikan hairdryer, suara bising langsung lenyap. Sama seperti Naira, Rani bertelanjang berjalan keluar dari kamar mandi. Tubuhnya lebih semok dan berlekuk. Ada timbunan lemak yang membentuk vagina gemuk dan sebagian pinggul dan pantatnya. Aku menikmati apa yang kulihat di
depanku. Tapi aku sangat lelah, aku perlu tidur.
"Kalian mau apa sekarang?" tanyaku
"Pakai baju....." jawab Naira
"Aku mau berbaring disampingmu" jawan Rani
"Sini......!" kataku sambil merentangkan tangan kananku
Tanpa menunggu komanda selanjutnya, Rani mendekatiku. Tubuhnya
menaiki tempat tidur dan terbaring disampingku. Aku menariknya lebih mendekat ketubuhku sampai menempel. Aku angkat salah satu kakiku, dan menaikkannya diatas pinggangnya, terasa empuk.
Batangku tak bergerak sama sekali, layu setelah menyemprotkan sperma di kamar mandi.
"Mas aku
makan lagi" kata Naira sambil memandangku. Dia telah memakai kaos dan celana dalam. Pahanya yang jenjang terlihat menawan.
"Disitu ada room service, kamu pilih apa yang kamu suka dan pesan melalui telephone. Disitu ada nomor khusus yang bisa di hubungi untuk pesan makanan"
"Rani ....kamu juga mau makan tidak?" tanya Naira.
"Tidak.......aku nanti minta kamu saja" jawabnya
Naira sibuk memilih makanan dari daftar menu, menelepon dan memesan.
Rani yang dari tadi membelakangiku, merasa mengantuk juga.
"Mas ....pakai selimut ya? AC nya sangat dingin!"
"Kamu tarik selimut yang berada dibawah kaki itu" kataku
"Mas angkat kakimu....!" pintanya
Aku angkat kakiku dan dia menarik selimutnya menutupi badan kami. Badanku terasa hangat, selain memeluk tubuhnya selimut menutupi langsung tubuh kami dari hembusan AC. Naira mengotak atik
HPnya, entah apa yg dia lakukan.
"Siapa nama lengkapmu Rani?" tanyaku. Badannya masih membelakangiku, pantatnya yg semok masih menempel dibatangku. Tanganku mencengkeram salah satu teteknya.
"Maharani Koen Rahadirja" katanya "Memang knp sih mau tahu nama panjangku"
"Penasaran"
"Kamu punya Handphone tidak?" tanyaku
"Aku sebenarnya punya, tapi rusak gara-gara dibanting mamaku saat marah" katanya.
"Kenapa mamamu bisa lepas kontrol?"
"Karena aku tidak mendengar saat mama memanggilku, terlalu fokus dgn hp heheheheh" katanya sambil terkekeh.
"Jadi sepi..?"
"Mas...mau belikan aku handphone?" tanya Rani
"Tidak...!" kata Naira menyahut "Awas kalau berani membelikan Rani HP"
"Kalau begitu berikan hp yang kamu pegang itu ke Aku, kau minta hp baru ke Mas Arjuna"
"Tak usah ya...!"
"Ngga enak jadi istri muda, ijinnya sulit kalau punya mau"
"Cari laki lain yang bisa langsung kasih kamu, ini lakiku" katanya. Naira yang tadinya duduk dikursi, naik ke kasur dan menelusup diantara aku dan Rani. Rani protes kenapa dia tidak disisi sebelah satunya.
"Tidak...kamu saja yang sebelah sana! hahahah" kata Naira sambil tertawa
Rani bangkit akan pindah, tiba tiba dia menjerit.
"Adddduuuuuuh" teriaknya keras mengagetkan aku
"Kenapa..?" Tanyaku
"Naira mencubit pinggangku!" katanya, tangannya memukul paha Naira sebagai balasan.
"Weiittt berani balas..?" Teriak Naira sambil mencubit pantat saat dia pindah
"Aduughh....Naira! Jahat sekali kau ini!" teriak Rani geram
"Eeehhhh...baik aku sama kamu na. Aku tidak keberatan ajak kamu kesini berenang, dapat bonus lagi sama Mas Arjuna" Naira menjawab ketus.
"Iya...iyaa...kamu baik. Tapi lebih baik kalau handphonemu kauberikan juga ke aku"
"Tunggu lima bulan lagi, aku berikan HP ini ke kamu kalau Mas Arjuna kasih yang baru. Kamu baru melayani sekali sudah mau HP, kemoncolen kamu"
Aku tertawa saat mendengar jawaban Naira. Rani telah berada disisi kananku tangannya mengelus pantatnya yg dicubit Naira. Dia gulingkan
tubuhnya disisi kananku dan menelusupkan tubuh telanjangnya dibalik selimut putih.
"Kling...klong....room service" terdengar seorang wanita berbicara didepan pintu kamar.
"Tunggu....." kataku menjawab
"Siapa mas.....? tanya Naira
"Pesanan makanmu sudah datang!"
Naira bangkit.
"Kamu ambilkan uang 10 ribu dari dompetku. Berikan uang itu sebagai tip" kataku memberi instruksi
Naira mengambil dompetku dan mengeluarkan uang selembar 10 ribu. Dia berjalan dan membuka pintu kamar. Tangannya menjulur untuk menerima sebuah baki makanan. Pelayan mengambil uang
yang disodorkan oleh Naira sambil mengucapkan terima kasih. Naira menutup pintu dan berjalan ke meja. Rani menarik tubuhku supaya aku menghadap kearahnya.
Aku mengubah posisiku dan tanganku memeluk tubuh montoknya. "Sudah...aku mau tidur" kataku setengah berbisik. Aroma makanan
tercium seluruh ruangan.
"Naira.....apa yang kamu pesan?" tanya Rani setelah mencium bau uap makanannya.
"Nasi goreng Yangco....!" jawabnya
"Mau coba......?" tanya Naira
"Mau......!"
"Datang kesini....!" katanya
"Nanti saja...kamu kasih sisa. Aku sedang sibuk sama Mas Arjuna"
"Nasi gorengnya enak....... kalau kuhabiskan jangan marah" kata Naira
"Mas......." bisik Rani
Aku membuka mataku sejenak. "Kenapa?"
"Kamu tidak lapar?"
"Tidak.....nanti saja makan jam 9 malam"
"Kenapa tunggu lama sekali masih 2 jam lagi?"
"Aku masih kenyang....ngantuk" jawabku
tanganku menyentuh payudaranya.
Badannya bergeser kedepan dan agak keatas. Putingnya dia arahkan ke mulutku. "Sedot mas.....!" bisiknya
Satu tanganku tertindih gumpalan daging payudara sementara tangan satunya menuntun puting yang diarahkan kemulutku. Dadanya disorongkan lagi.
Aku membuka mulutku dan puting mungil tersedot diantara bibirku.
"Gigit putingku pelan...!" katanya sambil mendesis lirih
"Aku tadi belum puas sudah disuruh berhenti Naira. Memekku masih terasa gatal.
Tanganku kuturunkan menyentuh selangkangannya. Jariku menyusuri bagian mulut
memeknya, terasa basah kuyub dan licin.
"Aku capek dan masih loyo.." kataku jujur dan tak ingin mengecewakan.
"Pakai jarimu mas..." katanya melas
Tangannya meraih tanganku dan menggosok -gosokkan kedalam lobang naik turun serta maju mundur kedalam lobangnya.
"Rani nafsumu
terlalu besar" kata Naira
"Menjelang mens biasanya seperti ini!" katanya beralasan.
Aku masukkan 2 jari kedalam lobangnya, sementara mulutku disumpal putingnya.
"Massss....pakai batangmu....." katanya, tangannya meraih batangku sambil mengocok bagian kepalanya. #ceritaseks
Suara dan kocokan tangannya meremas dan menggesek kepala otongku, membuatnya berdiri perlahan. Otot-otot terasa kaku dan ketat.
"Oral dulu supaya cepat bangun" kataku
"Maksud.....?"
"Jilati dulu supaya bangunnya cepat" kataku
Rani bangkit dengan cepat dipicu oleh rasa penasaran
dan nafsunya yang tak tertahan.
Mulutnya dengan rakus mengulum kepala batangku, bibirnya menghisap kuat setiap kali berada di ujungnya. Ujung-ujung syaraf rangsangan yang berada dibagian kepala batangku bereaksi. Naira membelakangiku, dia tidak melihat apa yang Rani lakukan.
Tapi dia sadar bahwa temannya sedang terbakar oleh nafsunya. Suara mulutnya saat menghisap terdengar "Sluuurp..sluurrpp ..." agak keras. Kepalanya naik turun sementara tangannya mengurut-urut batangku.
"Sudah......" katanya penuh harap
Dia berbaring dan memposisikan diri dengan
kedua paha terbentang. Aku cepat menindihnya & segera tangannya membantu batangku masuk kedalam lobangnya. Aku menekan pantatku kedalam memeknya, terasa longgar dan mampu mengakomodasi batangku secara sempurna. Aku gerakkan pantatku naik turun. Sementara dia menggerakkan pinggul
nya setiap kali gerakan batangku menusuk masuk. Erangan dari mulutnya merupakan hadiah terindah ditelingaku, sementara kehangatan rongga memeknya yang ketat menjepit rapat batangku.
"Aku diatas saja mas..!" teriaknya. Dia menggulingkan tubuhku dan segera dia mengangkangi batangku
Batangku tak mampu mempertahankan kekerasannya, saat dia menduduki bagian pangkal batangku. Terasa geli dan sedikit sakit saat tertindih.
"Mas loyo kah........?" teriak Rani
"Iya.....jangan kamu tindih pangkal batangku
Dia menggunakan lututnya sebagai penyangga, batangku yang
sudah berada di dalam memeknya, dia urut-urut kembali dengan jepitan dinding vaginanya.
Batangku kembali terangsang, bergerak hidup dan kembali agak mengeras. Pinggulnya dia goyang goyang, maju mundur sehingga batangku menampar dan menabok dinding memeknya.
"Ayo mass....ayoo...!"
Suara Rani seperti mengiba, batangku mengeras lepas, menyodok nyodok sesuai gerakan pinggulnya.
"Ampunnnn.....gatalnya!" teriaknya lepas Clitorisnya dia gosok gosokkan dipangkal batangku yang berjembut.
Jariku meraih kedua puting dan aku merangsang dengan memilin dan menariknya.
"Oooooggggghhhh........!" Rani ambruk menelungkup diatas tubuhku. Payudaranya menempel kenyal didadaku. Batangku kembali mengecil perlahan lahan, kering tak mengeluarkan sperma. Keluar dari lobangnya melesat pelan-pelan.
Kejadian memalukan terjadi saat mengurus check out, Naira dan Rani telah berada didalam mobil. Aku mengembalikan kunci kamar, receptionist berkomunikasi dengan petugas kebersihan kamar untuk memeriksa perlengkapan kamar. Dari komunikasi terdengar bahwa salah satu handuk besar
tidak ditemukan. Rasa malu dan jengkel terbaca oleh resepsionist. Aku mengatakan kepadanya untuk memasukkannya kedalam tagihan oleh karena rasa malu. Aku tidak yakin entah Naira atau Rani yang mengambil perlengkapan mandi itu. Secara kualitas, handuk itu memang bagus dan tebal
apalagi ada tulisan Kusuma Sahid Prince Hotel. Hotel terbaik pada zamannya. Aku meninggalkan meja reseptionist & berjalan kearah mobil. Rani tlh menstater mobil & menyalakan AC nya.
Aku memberitahukan kejadian yg terjadi di meja receptionist kepada mereka.
"Maaf..aku yang bawa"
kata Naira dengan wajah malu. "Aku kira bisa dibawa pulang" Rani memandangi wajah Naira.
"Maaf mas.......!" kata Naira
"Lain kali tanya dulu....jangan asal ambil supaya aku tidak malu. Wajah dan mata receptionist menusukku penuh tuduhan "PENCURI" " Kataku agak keras dan kasar.
Aku mengantar mereka satu persatu, wajahku nampak jelas sangat kecewa dengan kejadian ini. Aku drop Naira duluan karena arah terdekat adalah rumah Naira. Aku hentikan mobil di depan gang dan dia turun sambil berpamitan. Rani yang duduk dibelakang minta pindah kedepan. #ceritaseks
Rani berusaha menetralisir keadaan dan perasaanku dengan mengatakan bahwa mungkin dia khilaf. Tapi dari kejadian itu, aku memutuskan untuk tdk menyampaikan tawaran ibuku untuk meminta membantunya bekerja.
Dalam hati aku berkata "Cukup Naira..!"
No more chance, modal kepercayaan
adalah asal muasal kekayaan. Aku merasa dikhianati. Pertemuan dgn Rani adalah pertama dan terakhir kali. Naira meneleponku beberapa kali, aku menjawab setiap kali dia menelepon tetapi hatiku sdh terlanjur dingin. Krn landasan hubungan yang tlh rusak karena hilangnya kepercayaan.
CIK ANNEKE, PERTEMUAN KETIGA.
Pertemuan dengan Cik Anneke aku batalkan hari itu, kita sepakat ketemu 3 hari lagi kebetulan bertepatan dgn tanggal merah. Aku meneleponnya setelah mengantar Naira & Rani sebelum aku sampai di rumah.
"Hallo....?" Jawab Cik Anneke dgn masih ngantuk Image
"Sorry Cik......aku membangunkan ya?" tanyaku
"Tidak juga, aku sudah bangun sejak 15 menit lalu. Kenapa....?"
"Bisa bicara sebentar di telepon....?
"Bisa.....Pak Ah Long kalau minggu pagi pergi ke Stadion Manahan berolah raga sama teman gowesnya"
"Aku mau tanya tentang rencana
Cik Anneke trading saham melalui perusahaan apa?" Tanyaku
"Mandiri sekuritas.....!" jawabnya
"Cik Anneke sudah buka account disana kah?"
"Belum....kenapa?"
"Begini...aku menyarankan untuk tidak buka account disana. Aku kenal sama Kepala Cabang Mandiri Sekuritas di Solo. Aku takut
nya ada kecurigaan Pak Haryadi akan tahu sebab Pak Haryadi dan Pak Reynaldi baku teman, apalagi dengan Pak Santosa."
"Maksudmu aku harus cari sekuritas yang lain saja ya?" katanya ingin memastikan
"Iya....!"
"Kamu kasih rekomendasi dong, mana sekuritas yang baik?"
"Trimegah..!"
"Dimana lokasi kantornya?"
"Di Novotel........!" kataku
"Tapi kamu setuju kan?" desaknya
"Setuju tentang apa?" kataku pura pura tidak tahu
"Setuju kalau kamu beri aku info saham trading?"
"Nanti hari Rabu kita ketemu cik.....kita bicarakan lebih lanjut supaya kita saling paham"
"Okelah nanti kita janjian lagi ketemunya, aku buka rekening di Trimegah saja ya?"
"Iya....kalau Cik Anneke buka besok, hari Kamis setelah kita ketemu Cik Anneke bisa langsung mulai trading" kataku menjelaskan
"Okelah....sampai nanti hari Rabu?"
Aku menutup percakapan ditelepon
setelah mendengar suara "muaaaach" dari Cik Anneke"
Sesampainya di rumah, aku membawa turun sekotak roti coklat yang tidak sempat kami makan di hotel. Coklatnya agak meleleh dan harus segera disimpan di dalam fridge.
"Kamu tadi malam tidak tidur di rumah?" kata ibu
"Tadi malam
ada acara Valentine's Day bu." kataku menjawab
"Harusnya kamu telepon, seharian tidak terlihat sama sekali." ibu melihat kue blackforrest yang aku bawa. Aku memberikannya kepada Ibu
"Ini untuk ibu........" kataku
Ibu terlihat senang, kue coklat adalah makanan kesukaannya.
"Aku mau tidur ya bu.......!" kataku sambil berlalu "Jangan bangunkan aku bu........aku harus kerja siang nanti" kataku
"Ya......!" jawab ibu singkat
Tidurku sangat nyenyak, kamarku terasa senyaman kamar hotel berbintang. Tanpa suara ribut maupun suara kendaraan berlalu lalang.
Kegiatanku hari Minggu adalah menyiapkan informasi saham untuk Pak Haryadi. Aku hanya butuh 30 menit untuk memperoleh data trading di pasar saham serta pasar komoditi atau pasar logam mulia.
Aku trbangun sekitar jam 3 sore karena perut sangat lapar. Saat aku turun ke dapur untuk
makan, ibu dan Wulan tidak ada dirumah. Ruangan di lantai bawah terlihat gelap. Ibu telah menyiapkan makanan untukku, Oseng-oseng daun pakis campur bunya pepaya kesukaanku. Gorengan ikan pindang dan tahu juga tersedia diatas meja dapur.
Mobilku tidak ada diluar, sedangkan mobil
box bapak terparkir ditepi seberang jalan. Aku menelepon bapak di nomor HPnya menanyakan apakah bapak pakai mobilku. Ibu yang menjawab, karena bapak sedang mengemudi. Ibu memberitahu bahwa mereka sedang kearah XO Suki bersama guru Mandarin Wulan.
"Hanya berempat ya?"
"Berlima, Lǎoshī mengajak salah satu saudaranya. Kamu mau ikut? Sini menyusul, atau bapak pulang menjemputmu?" kata ibu
"Tidak ....aku punya kerjaan belum selesai" jawabku
Aku naik ke kamarku setelah makan makanan yang telah ibu siapkan. Menyelesaikan apa yang menjadi tugasku
untuk assosiasi. Aku juga harus belajar untuk menyiapkan diri untuk Ujian Nasional. Ulangan harian dan ujian Midsemester digabung, menyusul ujian akhir sekolah pada awal Maret. Kegiatanku terasa padat. Ujian praktek dilaksanakan pada pertengahan maret hingga akhir maret.
Sementara Ujian Nasional diadakan pada awal April, semua nampak berderetan. Aku masih ikut Bimbel dan les matematika di Om Harry, jadwalku sangat padat dan melelahkan. Sementara Les Persiapan IELTS segera dimulai juga.
Untuk menjaga stamina, ibu merebuskan aku rempah-rempah
China yang ibu pesan di Toko Obat China Sari Alam. Ibu berkonsultasi dengan Sinshe yg praktek disana. Wulan ikut dengan ibu saat konsultasi sehingga dia bisa praktek bahasa Mandarin dengan Sinshe Kho.
Rempah-rempah yg ibu masakkan adalah akar-akaran dan daun yg tlh dikeringkan.
Ada juga larutan ginseng yg direndam dlm cairan diletakkan didalam botol besar sebagai campuran. Agak mahal tetapi memang bagus utk menjaga kesehatan & stamina tubuh.
Jadwal yang padat dan kegiatan yg banyak terasa menguras tenaga namun rempah2x yang ibu buat sangat membantu.
Ternyata dampak dari keputusanku untuk berpisah dengan Naira sungguh buruk. Aku merasakan kesepian, SMS yg biasa aku lakukan dengannya terputus. Disisi lain, aku juga bisa fokus dengan studiku sehingga aku bisa belajar lebih baik tanpa ada gangguan sama sekali. Belajarku giat, Image
karena aku punya impian besar untuk berhasil dengan study di perguruan tinggi. Aku membaca banyak artikel-artikel di koran dan majalah berbahasa Inggris yang aku download dari berbagai website. Salah satu website yang aku aku suka adalah id1lib.org/s/playboy%20ma… ada banyak majalah
dewasa gratis yg tidak terbit di Indonesia karena sensor berat. Kebiasaan mendownload majalah serta membaca artikel-artikelnya membuatku mengetahui banyak tentang pasar saham baik lokal maupun international. NYSE dan Nasdaq di New York, JEG Jepang, STE Shanghai China. Pergerakan
saham-sahamnya menjadi acuan dalam perdagangan pasar saham global. Angka-angka yang dihasilkan sungguh membuat kekaguman dan keputusasaan bila kita salah perhitungan.
Hari senin aku menyempatkan diri bertemu dengan guru Bahasa Inggrisku, Mr. Davis. Aku perlu bantuannya untuk
mencarikan mahasiswa yang sedang praktek untuk mengisi kursus di Panti Asuhan, Jaten. Aku juga berbicara dengan guru matematika Ibu Olivia untuk meminta bantuannya. Setelah menceritakan apa yang rencanakan dengan mereka, mereka setuju membantuku. Hanya saja untuk masalah biaya
kursus mereka memintaku untuk berbicara secara langsung dengan calon guru yang akan mengajar di Panti Asuhan. Mr. Davis sempat menyarankan untuk pergi ke Panti Asuhan bersama calon guru yang akan mengajar disana supaya mereka bisa mengetahui tempat dan membuat jadwal mengajar.
"Mr. Davis, kalau bisa mohon dicarikan mahasiswa yang tinggal didaerah Jaten, palur atau tasik madu supaya calon guru tidak terlalu jauh untuk mencapai tempat mengajar." kataku. Hal yang sama juga aku minta kepada Ibu Olivia. Ada sekitar 6 mahasiswa yang praktek mengajar Bahasa
Inggris dan 8 mahasiswa matematika. Mereka datang setiap hari selama 3 bulan sehingga aku bisa bertemu dengan mereka saat Mr. Davis dan Ibu Olivia menetapkan tanggal pertemuan. Mereka antusias saat aku menawarkan program mengajar di Panti Asuhan itu. Tapi mereka juga mengeluh
karena jarak tempuh menuju lokasi. Tapi mereka akan membuat pengumuman di dinding kampus untuk mencari orang yang tertarik dengan tawaranku ini.
Mereka meminta nomor teleponku supaya bisa langsung berbicara bila ada yang tertarik. Solusi muncul ketika salah satu mahasiswa
mengatakan bahwa ada salah satu temannya yang sdg PKN di SMP Negeri 1 Jaten. Sayangnya dia tak memiliki nomor teleponnya tapi berjanji akan menyampaikan tawaran ini kepadanya. Aku agak lega setelah mendengar solusi itu. Aku harus segera menindaklanjuti supaya apa yang aku ingin
lakukan dengan anak-anak Panti Asuhan bisa terlaksana. Sungguh suatu impian yang baik bila aku bisa membantu anak yang kurang beruntung dengan memberi mereka pengetahuan melalui pengiriman mahasiswa untuk mengajar Bahasa Inggris dan Matematika. Niat baikku ternyata diberi jalan
kemudahan. Banyak yang ingin terlibat tetapi dana memang terbatas sehingga ketika akhirnya ada 2 mahasiswa bahasa Inggris dan 2 mahasiswa matematika yang bersedia, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di hari Sabtu berikutnya. Aku akan mengajak Wulan untuk ikut denganku ke sana
supaya dia juga bisa mengetahui berbagai jalan hidup manusia dan bisa mensyukuri apa yang dia punya.
Aku pulang sekitar jam 3:30 sore dgn perut sangat lapar. Ibu kembali menanyakan tentang Naira saat aku tiba. Aku memberitahu bahwa aku belum membicarakannya sehingga belum tahu.
Hatiku sempat berdesir oleh rindu saat ibu menyebut nama Naira. Terdengar sebuah lagu dari radio yang sedang didengarkan ibu.
"Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia....
Hapuskan memoriku tentangnya...
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia...
Ku ingin ku lupakannya..
Perasaanku pada Naira memang sangat kuat, terkadang ingin kesana membawa makanan untuk eyang putrinya. Tapi tidak......keputusan telah aku ambil.
Aku beranjak keatas setelah makan siang. Aku bersiap untuk pergi ke Les Matematika di tempat Om Harry dan lanjut ke Primagama.
Jam 9 malam aku telah berada di rumah dengan badan agak lelah. Pak Haryadi meneleponku malam itu sekitar jam 9:30 menanyakan kabarku. Terasa agak aneh dengan pertanyaannya karena baru kemaren aku mengirimkan daftar saham trading.
"Kamu bisa keluar sebentar tidak?" katanya
"Kemana Pak.....?" tanyaku
"Angkringan dekat rumahmu didekat Sriwedari..."
"Wah terlalu malam Pak" kataku "Saya baru saja sampai rumah"
"Oh ya sudah, aku mau kenalkan ke kamu konsultan pendidikan luar negeri. Pak Santosa beritahu aku untuk memperkenalkan kamu ke Pak Dani supaya
beliau ini membantumu untuk mempersiapkan kelanjutan kuliahmu di Singapore. Atau sebaiknya kamu datang saja ke kantornya kalau ada waktu, kalau bicara di telepon mungkin kurang jelas."
"Iya baiknya begitu pak, sebab waktu saya sangat mepet."
"Ya sudah nanti aku sms nama dan
alamat kantor Alfa & Omega education." kata Pak Haryadi dengan sabar.
Hari selasa kegiatan sekolahku juga padat seperti hari senin. Aku bisa tidur siang selama satu setengah jam setelah pulang sekolah karena tidak ada les matematika. Aku pergi ke Primagama lagi untuk kursus
intensif jam 6 sore hingga 8:30.
Cik Anneke meneleponku sebelum aku tidur, dia memberitahukan sebuah alamat di Kompleks Perumahan Solo baru tempat kita ketemu besok.
"Jangan sarapan dulu sebelum berangkat, aku sudah menyiapkan makanan. Bawa celana renang yang dulu kubawakan"
pesannya kepadaku. Aku mengira rumah yang kita gunakan sebagai pertemuan punya kolam renang pribadi. Aku mengiyakan saja sambil menanyakan jam berapa besok ketemu.
"Jam 10..jangan terlambat ya?" kata Cik Anneke
Aku menyempatkan browsing dan membaca artikel di website
EarlyEditian.com setelah bangun pagi keesokan harinya. Aku mencatat beberapa saham dengan margin keuntungan 23% yang akan diperdagangkan besok pagi. Suara kesibukan pagi telah dimulai dilantai bawah. Para pengantar koran sedang mengatur koran-koran yang akan mereka antar.
Aku mengirim email catatan saham untuk besok yang menguntungkan ke Pak Haryadi. Dan membuat salinan untuk aku berikan kepada Cik Anneke nanti. Daftar berisi 5 saham unggulan itu aku print dan aku lipat dan kumasukkan kedalam dompetku.
Aku menyempatkan turun sejenak berbincang
dengan ibu. Kembali ibu menanyakan tentang Naira, aku memberitahu bahwa aku belum bertemu lagi dengannya. Ibu merasakan ada kejanggalan tetapi tidak berani menanyakan lebih lanjut.
Ibu membuatkan aku teh manis hangat, dan klepon warna hijau yang menggiurkanku, tapi aku tidak
memakannya.
"Biar keleponnya untuk Wulan saja" kataku "Ibu tolong beritahu Wulan, bahwa aku akan mengajaknya ke Panti Asuhan hari sabtu nanti"
"Ya....semoga tidak lupa." kata ibu sambil mencatat disebuah kertas tempel.
Aku berangkat mandi sekitar jam 8:30 untuk bersiap siap.
Dengan membawa celana renangku serta baju dan celana ganti aku turun tangga. Aku mengambil kunci mobil yang ku gantung di samping pintu kamar ibu.
"Kamu mau kemana mas...? Pagi-pagi kok sudah ganteng dan rapi." tanya ibu.
"Saya ada janjian sama bosku bu" kataku
"Kenapa harus bawa
tas segala?"
"Bosku mengajak berenang dan menyuruhku membawa baju ganti"
"Kamu tidak sarapan dulu?"
"Tidak bu...sarapan sudah disiapkan katanya"
"Kasih kabar kalau mau menginap, jangan keluyuran lupa rumah"
"Nggih bu, pareng rumiyen bu" kataku berpamitan.
"Bawa botol air minum"
"Oh iya......!" kataku kembali ke dapur
Aku mengambil botol minum yang setiap hari aku bawa ke sekolah. Mengisi air dari dalam kendi dan melangkah keluar.
Ini pertama kalinya aku ke Solo Baru, komplex perumahan terbesar di kota Solo. Terletak didaerah selatan kota sehingga aku
jarang main-main didaerah sana. Secara pikiran dan angan-angan aku tidak pernah membayangkan seperti apa komplex Solo Baru. Jadi gambaran rumah dan arsitekturnya tidak pernah ada di benakku.
Melewati jalanan lurus kearah selatan, aku melihat ruko dan bangunan pusat bisnis baru
berjajar rapi dan teratur. Setiap bangunan dihiasia tanaman hijau yang asri dan sejuk. Beberapa dealer mobil juga terdapat didaerah sana. Dealer Mobil Honda yang sangat megah dibangun didaerah sana juga. Aku terus kearah selatan & disambut sebuah Gapura besar bertulisakan Selamat
datang di Wilayah Solo Baru, kota idaman di selatan kota Solo. Aku mengarahkan ke jalan masuk komplex dan dihentikan satpam saat akan melewati pos penjagaan. Aku menurunkan kaca jendela disambut ucapan selamat pagi dengan cara sangat sopan.
"Bapak mau kemana?"
Aku mengulurkan
HPku dan membuka SMS dimana Cik Anneke tlh mengirimkan alamat yg aku harus tuju.
"Oh...rumah Bu Citra." kata satpam itu makin sopan. "Terus sj di jalur ini kemudian belok kekanan lurus lagi sekitar 50 meter. Rumahnya menghadap ketimur nomor 10. Rumah paling besar di cluster itu"
"Okay....terima kasih pak?"
"Nggih sami-sami......" katanya sambil membungkuk
Aku mengarahkan mobilku seperti yang ditunjukkan security. Memang benar rumah yang aku tuju adalah rumah paling besar. Halaman depan sangat luas dengan bangunan yang sangat menonjol karena design
arsitekturnya sangat elegan. Aku hentikan mobilku dan melongok untuk mencari nomor rumahnya. Di ujung kanan tertempel sebuah nomor Block J no 10. Aku menelepon Cik Anneke dan dia mengangkatnya saat dering pertama.
"Kamu dimana sayang....?"
"Aku sudah didepan" jawabku
"Tunggu
pintu pagar aku bukakan!"
Tanpa ada yang membuka, kedua pintu pagar bergerak sendiri terbuka. Aku agak heran, "Bisanya rumah di sini secanggih ini" pikirku dalam hati.
Aku belok kiri dari jalan Utama dan masuk kedalam pekarangan rumah itu. Disisi kanan dan kiri rumah itu terlihat
kecil namun juga mewah. Kluster perumahan yang sangat mewah. Aku parkirkan mobilku disamping mobil CRV Cik Anneke. Aku keluar sambil menenteng tas travel bagku yang kecil.
Pintu utama dibuka sedikit, hanya tangan Cik Anneke yang terlihat ketika mengayun memberi tanda aku.
Halaman depan yang begitu luas dengan tanaman yang agak rimbun didepan untuk menghalangi pandangan langsung dari luar pagar nampak asri. Koleksi tanaman yang terlihat mahal, jarang ditemui di rumah-rumah biasa. Sebagian halaman dilapisi aspal cair sebagai jalur mobil sehingga
menambah ke elokan rumah itu.
Marmer dilantai teras sangat bersih, sepatuku terlihat lusuh dan dekil. Aku malu melihat kedekilanku, ingin aku sembunyikan supaya tidak terlihat. Aku melepas sepatuku dan berjalan kearah pintu yang tingginya lebih 2 meter itu. Dengan ukiran khas
Jepara dan handle besi warna kuning emas, rumah ini terasa sangat mewah.
"Cik.....rumah siapa ini?" tanyaku saat aku melangkah masuk
Cik Anneke menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Ruang tamu sangat luas dengan sofa mewah dan nampak serasi dengan tata ruang serta interior Image
designnya. Ruang yang begitu besar tidak membutuhkan banyak listrik karena jendela-jendela yang menghiasi dinding dirancang begitu besar. Rumah eco-friendly yang dirancang oleh para architect yang peduli dengan lingkungan. Tidak ada photo tergantung diruangan itu. Hanya lukisan
ikan ikan Koi yang bergerombol di kolam dengan sisik berwarna warni. Lukisan khas Orang China atau Jepang yang biasa di jual di toko-toko furniture berkelas.
Cik Anneke sendiri memakai rok agak pendek yang memamerkan tungkai kakinya yang mulus. Kaos yang dipakainya warna kuning
serasi dengan warna kulitnya.
"Kamu duduk disini dulu." kata Cik Anneke
Aku duduk disebuah kursi dengan meja lonjong memanjang, jelas dari sentuhan permukaannya yang licin aku dan finishing yang mengkilat aku bisa menduga ini adalah sebuah meja kayu yang mahal.
Aku letakkan tas
ku di kursi disebelahku.
Cik Anneke masuk kedalam sebuah kamar dan berbicara dengan seseorang.
"Arjuna sudah datang!" katanya pelan. Dari nada bicaranya sepertinya Cik Anneke terdengar segan atau respek.
"Sebentar lagi....aku sedang nunggu berita dari Jakarta. Kamu keluar dulu
temani Arjuna kebelakang sambil melihat2x kolam" suaranya bukan suara orang tua. Tetapi suara bening seorang wanita muda.
Pintu terbuka lagi, Cik Anneke berjalan keluar sambil tangannya melambai kearahku untuk mengikutinya.
"Ikut aku yuk..! Tinggal tasmu disitu"
#KuliahOnline
Aku menggeser kursi yang aku duduki dan berdiri, aku berjalan kearahnya dan dengan langkah tenang aku mengikutinya. Cik Anneke membuka sebuah pintu masuk kedalam ruang penghubung antara ruang tamu dan ruang keluarga. "Gila..! rumah ini sangat mewah!" Lantai mengkilat seperti kaca
dengan sentuhan warna yang kalem. Batu granite yang melapisi lantai sangat terawat dan hasil polesan batu granite nya bak cermin yang mantul.
"Cik...rumah ini mewah sekali" kataku saat berjalan disebelahnya. Didinding sebelah kiriku tergantung sebuah photo pribadi seorang wanita
wanita muda dengan rambut keriting panjang sepundak dengan warna coklat emas. Sungguh cantik dan mempesona.
"Sss..sstt... Ini rumah Bu Citra" tangannya menunjuk kearah foto itu.
"Kenapa masih muda sekali begitu kaya?"
"Istri muda seorang pengusaha kaya di Jakarta"
"Orang mana?"
"China semarang tapi sudah lama tinggal di Solo sejak menikah, mungkin lima atau 6 tahun"
"Ooh....belum punya anak?"
"Tidak mau punya anak.....jadi istri simpanan ribet" katanya dengan pelan. "Ini ruang makan.....!"
"Kenapa tidak ada pembantu atau pelayan?"
"Ada.....mereka ada Image
dibangunan belakang terpisah. Mereka dipanggil jika dibutuhkan saja. Supaya privacy terjaga dan tidak sampai bocor"
"Kaya sekali ya cik.....!"
"Kamu tahu lantai yang kamu injak ini adalah batu marmer Italy yang di impor langsung sama suaminya."
Kami berjalan, pandanganku menoleh
kesamping kanan. Terbentang sebuah jendela kaca dengan ukuran sangat besar hingga ke lantai. Diluar jendela terlihat birunya air kolam renang.
Cik Anneke tidak berbelok ke arah kolam tetapi lurus kebelakang melewati meja makan. Sebuah dapur terpisah dari ruang makan dengan pintu
tersendiri utk menghubungkannya supaya makanan & hidangan bisa tersaji dengan efektif.
"Aku mau tunjukkan kebun belakang!" kata Cik Anneke
"Suaminya kerja apa cik?" tanyaku penasaran
"Importer senjata dan keperluan TNI" katanya lirih "Kalau dia datang ke Solo pakai jet pribadi"
Tembok pemisah dngan kebun belakang terlihat dari dalam rumah, karena sebuah jendela kaca terpasang ditembok itu. Cik Anneke membuka pintu dan kami melangkah keluar. Dinding tembok yang tinggi & tebal berdiri mengelilingi rumah, tingginya sekitar 8 meter sehingga tetangga sebelah
tidak bisa menengok kedalam area rumahnya. Rumput khusus yg tumbuh di halaman belakang seperti rumput yang ditanam di padang rumput. Kontur tanah dibuat sedemikian rupa menyerupai padang golf mini.
Disamping tembok yang mengitari rumah itu, ditanami tanaman hias yang berdaun
tebal dan lebar. Udara berhembus sejuk karena tanaman-tanaman yang kebanyakan berdaun lebar dan panjang.
Ada sebuah gasebo yang kayu terlihat disamping kiri, dengan kanopi beratap tembus pandang yang panjang, teradapat satu set sofa dan meja bar serta perlengkapannya.
"Disini
kita sering menghabiskan malam" kata Cik Anneke
Kami duduk di sofa sambil menikmati keindahan taman belakang. Tubuh Cik Anneke satu meter dari sisiku. Roknya naik hingga setengah paha saat dia duduk dan naik lagi kalau dia angkat satu kakinya dan dinaikkan ke paha satunya.
Jakun leherku bergerak saat mataku memangsa paha mulusnya.
"Bu Citra umur berapa?" tanyaku
"Coba tebak?"
"34" kataku pendek
"Salah.......27 tahun"
"Suaminya?"
"63 tahun"
"Gila....beruntung sekali!" kataku
"Siapa.....?"
"Kedua-duanya....!" kataku sambil melihat kearahnya
Pandangan kami bertemu, saat dia menolehkan kepalanya kedepan, mataku kembali turun kearah pahanya. Ingin aku meraba & menciuminya. Paha dengan bentuk dan struktur yang seksi dibungkus kulit ranum dan daging empuk membuat jakunku naik turun menelan ludah. Aku mengeluarkan Iphone
dan settingan kamera selfie.
"Jangan memotret disini....dilarang keras!" kata Cik Anneke memperingatkan aku
"Oh...maaf aku tidak tahu"
"Sudah kuberitahu loh ya.....jangan sekali-sekali memegang handphonemu selagi kamu di rumah ini." katanya dengan agak tegas.
"Ok aku akan ingat"
kataku lirih.
Tiba-tiba terdengar suara dering Hp dari dalam kantong Cik Anneke.
"Bu Citra .......!" katanya "Hallo...? .....Okay saya masuk lagi" imbuhnya sambil mematikan hpnya.
Kami berjalan masuk melalui pintu yang telah kita lewati tadi. Aku menutup sambil menguncinya.
Cik Anneke berjalan dengan agak cepat, dari belakang aku mengikutinya. Pantatnya bergoyang bergantian naik turun. Pinggulnya bergerak indah seolah sedang menari. Mataku mawas sambil tak lepas menikmati.
"Kamu duduk disana tadi?" kata Cik Anneke
Lalu dia membuka pintu yang sama
saat aku menunggunya.
"Cik Anneke & Bu Citra berbincang-bincang namun suaranya tidak terdengar jelas. Beberapa saat kemudian pintu terbuka, keduanya muncul, wanita yang dipanggil Bu Citra berjalan disebelah kanan sambil membawa kertas ditangannya.
Sebuah pulpen terjepit ditangan
kirinya.
Aku berdiri dari kursiku saat melihat Ibu Citra mengulurkan tangan kanannya untuk menyalamiku.
"Panggil saja aku Mbak Citra......!" katanya membuka pembicaraan. "Begini ....Cik Anneke sudah cerita tentang kamu mengenai bakatmu memprediksi saham trading yang bagus.
"Kebetulan aku sama teman-teman mau menginvestasikan kumpulan dana kami dan siapa tahu bisa berkembang kalau dapat bocoran saham bagus dari kamu."
"Sebenarnya aku punya komitment dengan asossiasi dimana Pak Ah Long juga menjadi salah satu anggotanya"
"Aku sudah dengar, sebisa
mungkin kita tidak akan sangkut-pautkan apa yang kita lakukan dengan asossiasi tersebut. Kita juga tak usah nyebut-nyebut itu lagi supaya pikiran tidak terganggu." kata Mbak Citra.
"Modal yang terkumpul untuk trading berapa?" tanyaku agak ragu karena tiba-tiba kenapa aku
menanyakan hal itu.
"Modal awal terkumpul sekitar 10 miliar, kita akan gunakan semua dana untuk trading saham. Persentase yang akan kita tawarkan adalah 7,5 percent keuntungan untuk kamu. Kalau setuju, kita akan mulai trading besok.
"Boleh tidak kalau aku minta lebih, katakan
10 percent sekalian?" kataku sambil memandang kearah mereka berdua. "Berapa anggota yang akan ikut dalam kelompok ini?" tanyaku
"Kita berlima dengan modal 2 miliar per orang."
Otakku langsung berhitung berarti sisa keuntungan 90% akan dibagi menjadi 5 orang.
Margin keuntungan
sangat besar.
"Cik Anneke sudah buka account di Trimegah?" tanyaku
"Sudah.......besok bisa mulai" katanya antusias.
"Permintaanmu 10 persent akan kita pertimbangkan, besok kita akan beritahu jawabannya. Bisa kamu tuliskan nomor rekeningmu?" tanya Mbak Citra sambil menyodorkan
kertas dan pulpen. Aku menuliskan nomor rekening atas namaku di BCA dgn nama lengkap dan no Hpku.
Aku menyodorkan kembali kearahnya, tangannya menerima kertas yang baru saja aku tulisi.
Bau harum hand and body yang dipakai Mbak Citra sangat lembut dan mengusik kelakianku.
Dia berdiri dan menuju sebuah meja yg terdapat interkom diatasnya.
"Bu keluarkan semua makanan dimsum nya!" Suaranya sangat tegas
Dia letakkan gagang telepon dan kembali berjalan masuk kekamar dimana tadi dia berada.
"Kamu tunggu disini!" Kata Cik Anneke kepadaku. Dia bergegas
masuk kekamar yg sama dan menutup pintunya. Aku berdiam dimeja sambil melihat kesekeliling ruangan.
"Ayo kita makan dulu....!" Ajak Mbak Citra. Perutku terasa lapar saat mendengar kata makan.
Aku berdiri dan berjalan mengikuti mereka.
"Arjuna...make yourself at home!" Katanya
ringan sambil memandang sepintas kearahku. Mataku sempat menangkap senyum yg mencairkan rasa tegangku.
"Aku sudah siapkan 5 nama saham yg akan trading besok."
"Tunggu, kita makan dulu. Nikmati apa yg ibu siapkan" katanya.
Meja makan sdh disiapkan sedemikian rupa, makanan
terhidang dalam tempat2x bundar berukuran kecil terbuat dari bambu. Ada lebih 15 jenis makanan diatas meja. Ada Xiaolongbao, mantao, onde-onde, xiaomai dan beberapa lainnya yang tidak pernah ku makan sebelumnya.
"Ini piring buatmu?" kata Cik Anneke memberikannya padaku
"Jangan terlalu kenyang, sebentar lagi kita akan berenang" kata Cik Anneke.
Kami makan tanpa diburu oleh jadwal, sungguh santai suasana hari itu. Aku mengambil 3 jenis makanan &menyantapnya. Yang aku suka adalah sebuah makanan dengan isi telur ikan. Rasa gurih telur ikan sangat
enak. Ingin aku mengambil lagi, tapi aku terhalang oleh rasa sungkanku.
"Kamu bawa celana renang?" Kata Mbak Citra
Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.
Disana tempat ganti" katanya sambil menunjuk kearah ruangan disebelah kanan.
"Celanaku masih didepan kutinggalkan di kursi"
"Ambil sekarang....!" kata Cik Anneke
Aku berlari kedepan dimana aku meninggalkan tasku, mereka berdua berbicara sambil tertawa cekikikan. Aku tidak dengar apa yang mereka ketawakan, tetapi aku rasa mereka membicarakan tentang fisikku.
Aku tidak perduli dan kembali membawa tasku.
"Kamu sebaiknya minum dulu, ada jasmine teh yang harus kamu coba. Dulu kamu Oolong tea, yang ini agak pahit bagus untuk menggelontor lemak makanan."kata Cik Anneke saat aku kembali. Dia menuangkan teh dari poci kesebuah cepuk kecil. Aku duduk sambil menyesep teh yg masih panas.
Rasa teh terasa sangat berbeda. Ada rasa getir tapi tercium harum bau melati yang sangat lembut. Efeknya sangat menentramkan, Cik Anneke dan Mbak Citra juga minum dari poci yang sama.
"Jadi berenang sekarang?" tanyaku
"Ya....!" kata Mbak Citra "Ganti celana dulu sana?"
Kolam renang yang berada disamping kanan rumah terletak dibawah balkon sehingga terik matahari tidak mengenai air. Air terasa dingin bertolak belakang dengan cuaca menjelang tengah hari. Musik terdengar dari speakers yg terpasang diplafon tepat diatas kolam.
Suasana agak meriah
dengan terdengarnya musik yang dimainkan melalui speakers. Aku turun duduk di samping kolam dan memasukkan kakiku sambil menggoyang-goyangkan sebagai pemanasan.
"Arjuna...kamu mau minum milkshake coklat atau vanilla?" tanya Cik Anneke dari dalam. Aku menoleh kearahnya, dia telah
memakai baju renang model bikini warna kuning.
"Milkshake coklat saja....!" teriakku
Cik Anneke mengangkat jempolnya, sambil berlalu kearah dapur. Milkshake coklat yang kupesan keluar, dibawa dengan sebuah baki berisi 3 gelas milkshake. 2 warna pink mungkin berasa strawberry
milkshake.
Dia menaruh diatas meja dekat pembaringan kolam. Dia berjalan ke pinggir kolam dan masuk dengan menceburkan badannya. Bawaannya senyum dan gembira, Cik Anneke berenang ke arahku.
"Mana Mbak Citra....?" tanyaku
"Dia menyusul nanti..." jawabnya
Kolam ini lebih bagus
dari kolam yang di Hotel Sahid" kataku
"Iya jelas.....ini baru 2 tahun sedangkan yang di hotel itu sudah puluhan tahun. Kamu suka berenang disini?"
"Iya.....Disini tidak ada orang, lingkungan tertutup tidak ada orang yang melihat kita"
"Cium dong........" pintanya
Aku mendekat
mencondongkan tubuhku dan meraih lehernya. Ciumanku mendarat di pipinya.
"Cium bibir.....!" katanya lagi
Aku maju lebih sedikit lagi, kepalaku menoleh kekanan dan ke kiri sebelum aku menghisap bibirnya. Lidahnya dia julurkan. Bibirnya terasa manis dan berasa strawberry. Tanganku
meraba dadanya dan menelusup kedalam bikini yang menutupi teteknya.
"Jangan disini...!" katanya pelan. Tanganku ditepis dengan halus. "Ayo kita berenang dulu kesana"
Cik Anneke berenang menjauh, aku mengikutinya dibelakang.
"Berapa panjang kolam ini?" tanyaku
"20 meter dengan"
"Lebar?"
"Mungkin 8 meter"
"Ayo kita lomba lagi?" ajaknya
"Berapa lap?" tanyaku
"6 lap?"
"Ada hadiahnya tidak kalau aku yang menang?" tanyaku
"Ada..! Kalau kamu menang kita main di kolam ini"
Aku memandangnya dengan serius, tidak percaya apa yang aku dengar.
"Sungguh?" tanyaku
"Kau lihat kesekeliling, hanya kita berdua disini. Kita mau berbuat apa saja bisa"
"Kenapa harus pakai lomba cepat, kalau hanya mau bersenggama di kolam renang?"
"No pain, no gain" Tak ada usaha tak ada hasil" katanya sambil tangannya meraba ke selangkanganku
Tanganku meraih
tangannya. "Kau memang penggoda......Cik Anneke!"
"Masaaaaak.....?" katanya dengan suara manja
Aku menarik tangannya mendekat kearahku dan berusaha memeluknya. Tangannya menepis dengan menahan didadaku. "Eeeitttt.....tunggu dulu"
Aku tak peduli, aku melangkah mendekat ketubuhnya
aku pagut leher putihnya. Sekali lagi dia berusaha mendorong tubuhku kebelakang dengan kuat. Tetapi pegangan tanganku ke tubuhnya lebih kuat. Kulit lehernya putih dan halus, bulu kumisku yang tumbuh di bawah hidung membuat tanda merah merona. Rambut-rambut halus yang ada dileher
belakangnya berdiri oleh rasa geli karena gesekan kumisku di kulit lehernya. Lidahku menjulur, menjilati leher dan bagian belakang telinganya. Desahan lirih keluar dari mulutnya. Kamu.......oohhhh nakal.....!"
Tanganku yang masih memeluk tubuhnya mengendor dan aku turunkan untuk
memeriksa memeknya. Celana yang terdiri dari kain segitiga dengan tali mengikat pinggulnya sangat mudah dilalui. Tanganku cepat menjalar kedalam selangkangannya dgn menguak bagian pinggir celana yang terbuat dari bahan stretchy yg lentur. Jariku menelusup ke pinggir bibir memek
pinggulnya bereaksi, dia mundurkan pinggulnya sehingga kontak langsung dengan jariku ke lobang memeknya terasa.
"Beberapa hari aku kepingin beginian..!" bisiknya lirih
"Masih mau adu cepat berenang..?" bisikku balik sambil menghisap cuping telingannya
"Nggaa...langsung sajaaa!"
suaranya seperti sedang mengantisipasi tusukan jariku.
"Aku ingin jilati memek.......bisa duduk ditepi kolam sana?" kataku sambil mendorong tubuhnya
Tanpa ada penolakan, dia menurut dan kita berjalan kesisi kolam yang agak dangkal.
Aku mengangkat tubuhnya dan mendudukkan ditepi
kolam. Tangannya menarik tali pengikat celana bikini dan terpaparlah vagina Ken Dedes yang membuat Ken Arok mimpi basah.
Bibirnya indah masih terawat dengan rapi, aku mendorong pelan pahanya supaya agak mengangkang, aku tarik lebih ketepi supaya aksesku mudah. Tangannya meraih
kepalaku dan mendorongnya masuk. Ujung lidahku menempel dibagian lobangnya. Kepalanya lari mendongak saat rasa nikmat dia rasakan. Tangannya terus menempel dikepalaku, menyetir arah spot kenikmatan yang dia inginkan. Lidahku menari nari, rasa puas membuatnya bersuara mengerang
dengan rasa nikmat yg dia selalu impikan. Kedua tanganku menahan kedua pahanya supaya tetap terbuka. Jempolku menahan clitoris yg mengintip dibagian atas memeknya. Ketika ku gesek dengan kulit jempolku, reaksinya mengejang dan menggelinjang.
"Ooohhhh...."lidahku terus menjilati
sementara jempolku terus menyiksa clitorisnya. Erangannya makin kuat, dorongannya dibelakangku makin kuat. "Ooggghhhhhh.....ampun.....ampun......."
Cairan bening kental mengucur dari kemaluannya, hidungku basah oleh cairan memeknya. Aroma memeknya segar dan merangsang.
Jari-jarinya menjambak rambutku ketika kutusukkan lidahku kedalam daging merah muda yang tersembunyi dibalik bibir vaginanya. Dia sorong kepalaku kedalam supaya lidahku menusuk lebih jauh. "Aagggghhhh.....aggggghhhhhh....aagghhhhh" suaranya menggema. Pahanya menjepit kepalaku
pinggulnya mengejang-ngejang pahanya naik turun. Dia ambruk kebelakang terkapar dengan paha terbuka dan pinggul seperti orang gemetar. 2 bulu jembutnya tersangkut di lidahku. Terasa mengganggu sehingga aku meludahkannya disebelahnya.
"Kenapa.....?" tanyanya sambil memiringkan
tubuhnya.
"Jembut nyangkut di mulut" kataku
Dia terkekeh saat aku mengatakannya. Sekali lagi aku meludahkannya, tetap saja tak mau keluar.
"Sini aku bantu.....!" katanya menawarkan.
Aku melompat naik ketepi kolam, tanpa malu kedua pahanya masih tetap terbuka. Memeknya sangat
merangsang di mataku. Aku membuka mulutku dan tangannya meraih kedalam untuk mengambil jembut yang nyangkut di dalam mulutku.
"Tidak terlihat......!"
"Sebelah kiri....!" kataku tidak jelas
"Tunggu sebentar.....ya ada satu nyangkut digigi"
Tangannya menarik 2 jembut sekaligu
"Kamu tidak jijik.....?" tanyanya kepadaku
"Tidak........kenapa?" tanyaku "Aku suka kalau Cik Anneke bisa keluar. Teriakan dan desahan membuatku bernafsu"
"Masaaaaak........!" katanya sambil mendesah panjang
"Ngeri kalau terlalu panjang.....!" kataku sambil tertawa
"hahahah....!"
"Mau apa lagi sekarang.......?" tanyaku lirih
"Tindih aku.....?" katanya. Matanya memandang kearahku, sementara aku menoleh kesekeliling kolam mengawasi siapa tahu ada orang melihat kita.
"Tenang ...tidak ada orang lain"
"Mbak Citra kemana?" tanyaku
"Dia ada di kamar depan tadi"
"Nanti kalau dia keluar bagaimana.....?"
"Aku tidak tahu......yang penting aku sudah dapat yang ku mau"
"Cik Anneke egois....kalau begitu"
"Biarkan....! Cepat lepas celanamu"
"Bener tidak apa-apa disini?" kataku was-was
Aku melepas celana renangku, dan menaruhnya disampingku.
Batangku melotot dengan kepala keras seperti mengerang. Tangan Cik Anneke meraihnya dan mengocok pelan. Jempolnya meraih kepala batangku dan bergerak-gerak disekitar lobangnya yang mengeluarkan lendir licin.
"Sini..masukkan!" katanya, suaranya seperti sedang memohon.
Aku bangkit
dari dudukku dan menindih tubuhnya. Kedua pahanya telah dia buka saat menerima badanku.
"Badanmu berat sekali sayang.....lantainya keras. Ngga enak!" katanya komplain
Aku menahan tubuhku dengan melipat siku sebagai tumpuan. Sementara tubuh bagian bawah melekat sambil menusukkan
batangku.
"Sayaaannggg......jangan cepat keluar. Aku ingin menikmati dan dipuaskan....." katanya
Aku menelusupkan batangku saat tangannya menempelkan batangku di mulut memeknya.
"Oohhhh......." suara kami bersamaan keluar dari mulut kami. Perasaan nikmat terasa ......perlahan
batangku menusuk masuk, kepala batangku merasakan kehangatan dari daging memeknya. Pinggulnya dia goyang kekanan sedikit, memberi akses supaya batangku masuk lebih dalam.
"Ooohhh sayaaaaang......puaskan aku! Aku ingin bisa seperti ini setiap hari" ucapannya membuatku melayang.
"Kamu ingin batangku Ciiiik...?" tanyaku sambil memandangi wajahnya.
Matanya sayu penuh nafsu, birahi telah membakarnya. Goyangan pinggulnya seperti menggesek gesek batangku dengan daging yg membentuk dinding vagina. Batangku seperti dikocok kocok. Mata kami bertemu berpandangan
penuh nafsu, bibirnya mendekat dan mengecup serta menjulurkan lidahnya. Pantatku naik turun, perlahan sambil menggoyang supaya gesekan batangku mengorek-ngorek spot gatelnya.
Lidah kami duel, percikan birahi dan nafsu membakar setiap gesekan badan batang dan vagina lembutnya.
"Aku mau keluar.....!" kataku lirih
"Goyang lebih cepat.....goyang terusssss....." katanya
Aku berhenti sejenak, tak ingin senggama kita cepat berakhir. Aku angkat badanku, mengubah posisiku jongkok didepannya. Aku mengangkat kedua pahanya dan menusukkan maju batangku kedalamnya.
Berubah posisi membuat batangku menggaruk bagian memek yang berbeda. Spot yang tergaruk membuatnya meronta-ronta....Ooooohhh yessss!"
Desahannya membuat telinga senang.....terus yang....tusuk lebih dalam. Dia bangkit dengan meneku sikunya sambil melihat gerakanku menusuk-nusuk.
Matanya melihat saat batangku timbul tenggelam, masuk keluar dari dalam lobangnya. Rangsangan makin membara. Gesekan nikmat terasa berulang-ulang. Dari dalam bola bolaku sperma telah mendidih.
"Aku keluar sekarang.......sekarang......!" kataku berteriak. Suaraku seperti menggema
kedalam ruangan rumah besar itu. Aku tidak pedulu, masih dengan terus menusuk makin kencang spermaku menyembur kedalam lobang memeknya. Tubuhnya menggelepar saat tusukan-tusukanku makin liar. Kedua kakinya lemas, semprotan spermaku meletup2x kedalamnya. Tanpa melepas batangku
dari lobang vaginanya, kembali aku menindih tubuhnya. Kedua pahanya terkulai dilantai, matanya tertutup lemas dengan nafas seperti sedang memacu rindu.
"Enak sayang.....?" tanyaku pelan
Dia hanya senyum sebagai jawaban.
"Enak tidak.....?" tanyaku mendesaknya
"Enak sekali....!"
"Aku lega.....Cik Anneke suka" bisikku merasakan batangku mengecil
"Jangan dicabut dulu......! Kenapa kamu semprotkan didalam spermamu?" tanyanya lirih
"Tidak tahu.......sayang kalau dibuang diluar" jawabku
"Jangan begitu kalau sama cewek lain, kalau hamil bisa jadi perkara"
"Oh....kalau Cik Anneke hamil berperkara tidak?" tanyaku, batangku akhirnya keluar dari lobang nikmatnya
"Ooooogghhh.." teriak kecilnya saat batangku meloncat keluar. "Sebaiknya jangan sampai hamil"
"Sudah ya...aku cuci-cuci dulu" kataku sambil mengangkat tubuhku.
"Aku juga..!"
Aku mengulurkan tanganku untuk membantunya bangkit.
"Citra melihat kita dari balik korden jendela sebelah sana" katanya pelan "Jangan menoleh..pura-pura tidak tahu"
Aku mengambil celana renangku, & berjalan kearah kamar mandi tempatku mengganti baju tadi. Cik Anneke mengikutiku
dari belakang. "Pantatmu sangat seksi..!" katanya
Aku membuka ruang ganti, ada sebuah wastafel panjang dengan dua sink, 3 bilik dgn shower untuk bilas setelah berenang. Aku membuka salah satu bilik dan membuka kran air shower. Cik Anneke berdiri dibelakangku, tangannya melingkar
dari belakang meraih batangku yang sudah layu.
Mulutnya mengecup pundakku.
"Nanti kalau kamu di Singapore, aku mau kesana mengunjungimu. Kita sewa apartemen sendiri supaya kita bisa bersama tanpa terganggu seperti disini"
Tangannya meraih batangku dan membersihkan bekas lendir
memeknya. Dia menyempatkan jongkok didepanku, setelah memutar tubuhku. Dia masukkan batangku kedalam mulutnya dan menghisapnya pelan.
"Aku mau lagi ......ini bikin ketagihan!" katanya
"Sudah...kepala batangku sensitive kalau sudah keluar. Tunggu 3 jam lagi nanti bisa berdiri"
"Cik..Bulu jembutmu di cukur gitu loh biar rapi" kataku. "Ngga enak nyangkut-nyangkut di mulut. Apalagi kalau sampai kesekel jembut, rasane mau muntah"
Dia bangkit berdiri dan mencium pipiku. "Iya...nanti kalau mau ketemu lagi tak gundulu memekku"
"Janji ya....?"
"Iya janji..!"
Cik Anneke melompat dan melingkarkan kedua kakinya kepinggangku, aku yang tak siap menahannya hampir terjatuh menopang berat badannya. Bulu2x jembut yang tumbuh disekitar memeknya menggelitik kulit bagian atas batangku.
Kepalanya dia letakkan diatas pundakku sambil memeluk erat
leherku. "Aku ingin bisa begini lama-lama, bagaimana caranya?" bisiknya. "Aku merasa bebas dan lepas"
Air terus mengucur membasahi tubuh kami, aku ingin menurunkan tubuhnya, tapi dia protes. Payudaranya mengganjal empuk terasa didadaku. Ingin aku menghisap ujung putingnya.
"Badanmu berat cik....capek aku" kataku sambil menggigit cupang telinganya, sementara jariku menggelitik didaerah kemaluannya.
Dia merasa geli dgn gelitikanku & melonggarkan tungkai kakinya, turun dari gendonganku.
Tangannya mencari sabun & mencuci memeknya dibawah air pancuran
Aku keluar dari bilik shower sambil mententeng celana renangku. Ada handuk berada di rak yang tergantung diatas wastafel. Aku meminta ijin apakah aku bisa menggunakan handuk itu kepada Cik Anneke yang sedang melangkah keluar dari bilik juga.
Bagian bikini atas telah dia lepas,
dengan bertelanjang bulat dia melangkah mendekat kearahku. Handuk yang aku gunakan cukup besar, dia menggunakan sebagian handuk yg kupegang untuk mengeringkan rambutnya.
"Payudaramu cantik Cik, Toge kenapa berbeda dgn payudara ibu-ibu yang sudah punya anak?" tanyaku ingin tahu
"Aku tidak menyusui anakku, otot-otot payudaraku masih bagus karena tidak memberi susu ke bayiku dulu"
"Kenapa?" tanyaku ingin tahu
"Karena aku tidak ingin payudaraku melorot seperti ibu-ibu lain yang kamu katakan tadi"
"Tapi omong-omong Mbak Citra tadi tahu kita begituan
di pinggir kolam?" tanyaku dgn suara agak lirih.
"Aku rasa begitu....."
"Tidak marah.....?"
"Tenang saja.......dia tidak akan marah"
Aku memakai celana yang kupakai saat datang, celana jeans dan kaos giordano putih berbahan Lycra.
Aku menaruh handuk yang baru kami pakai
disebuah tempat seperti bak terbuat dari anyaman rotan. Kami kembali berjalan keluar ruang ganti setelah selesai memakai baju kami.
"Aku lapar lagi...." ucapku
"Makan lagi...ada bubur sumsum dan jenang mutiara. Aku ambilkan ya?"
Aku duduk dimeja makan lagi, menunggu bubur sumsum
yang ditawarkan Cik Anneke.
Semangkok kecil campuran sumsum dan mutiara merah muda dihidangkan didepanku. Juruh coklat yang manis bercampur dengan bubur yang gurih membuat lidahku bergoyang senang.
"Enak.....?" tanya Cik Anneke
Aku mengangguk sambil mencecap nikmatnya bubur.
Cik Anneke menyodorkan aku sebotol aqua untuk ku minum setelah makan bubur sumsumku. Tiba-tiba HPnya menyala. Aku menyuruhku diam disitu sementara dia segera beranjak kedepan. Beberapa langkah dia memutar memintaku untuk ikut sementara tangannya terus memegang hpnya ditelinga.
Aku berdiri dan berjalan mengikutinya. Cik Anneke membuka pintu kamar dimana Mbak Citra berada sementara aku berjalan ke meja dimana kami duduk.
Mbak Citra dan Cik Anneke keluar dari kamar, mereka tersenyum saat memberitahukan bahwa aku mendapat komisi 10 persen dari margin
keuntungan yang didapat.
"Siapa yang akan mengoperasikan trading besok?" tanyaku
"Untuk sementara aku, sebab Cik Anneke sibuk di toko anggota yang lain punya kesibukan masing-masing. Hanya aku yang pengangguran jadi aku punya banyak waktu luang." Mbak Citra menjawab
"Sudah tahu
caranya menggunakan trading program?" tanyaku ingin tahu. "Sudah download programnya?"
"Itulah yang ingin aku tanyakan?" jawabnya
"Loh bagaimana belum tahu...padahal besok mau trading?"
"Coba bantu aku bagaimana step by step prosedurnya?"
Aku melihat kearah Cik Anneke, dia
menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kedua pundaknya.
"Siapa yang daftar ke Trimegah?" tanyaku
"Aku yang daftar" Mbak Citra mengaku
"Sudah dapat email pemberitahuan dan konfirmasi?" tanyaku
"Sudah..."
"Coba buka dulu emailnya?" kataku sambil berdiri. Aku berjalan memutari
meja dan menarik kursi yang ada disebelahnya.
"Aku duduk disini ya mbak?" kataku tanpa menunggu jawabannya. Mbak Citra agak bergeser ke samping memberi aku space utk melihat ke arah laptopnya.
"Boleh kubaca mbak email dari Trimegah?" kataku
"Boleh...ini kamu geser"
Aku mengangkat
laptopnya yang tipis namun terlihat mahal. Aku letakkan didepanku dan membaca email dari Trimegah. Sebuah link diberikan untuk mendownload program/applikasi tradingnya. Jari-jariku mengetik dengan cepat dan menemukan alamat website untuk mendownloadnya. Segera setelah terdownload
aku membukanya serta membantu utk meregristasi. Saat aku sedang sibuk membantu meregristasi, kembali telepon Cik Anneke berdering. Dia mengangkatnya sambil berjalan agak menjauh.
"Aku harus pulang sekarang..!" katanya memberitahu kami
"Ok..sampai besok, aku mau dengar kabar baik"
kata Cik Anneke sambil mengambil tas yang dia selalu bawa. "Arjuna..bantu ajarin Citra sampai bisa?" katanya sebelum menutup pintu depan.
Aku melambaikan tanganku sambil tersenyum. Stlh applikasi trading terbuka, aku meminta Mbak Citra memasukkan membuat nama akun & paswordnya.
"Tolong diingat ingat supaya tidak lupa atau sebaiknya disimpan di note HP atau laptop supaya tidak terlupakan. Isi nomor HP yang bisa dihubungi bila lupa password?" kataku
Tangan Mbak Citra menyentuh keyboard dengan agak lambat, tampaknya dia kurang terbiasa menggunakan laptop.
Setelah membantu registrasi, aku membuka applikasi. Ternyata tampilan format & interface nya sangat berbeda dengan format yang digunakan oleh Mandiri Sekuritas. Aku mengotak atik beberapa kali supaya aku familiar dengan format tradingnya.
Aku tidak kesulitan mempelajari aplikasi
trading punya Trimegah. Aku membuka kembali emailnya dan membaca lebih lanjut. Ternyata Trimegah punya aplikasi game bagi pemula sehingga pengguna yang belum tahu bisa terbiasa dengan aplikasi itu. Mbak Citra berada disampingku, matanya memandang kearah jemariku yang memencet
tuts keyboard. Terkadang dia melihat kewajahku, entah apa yang dia pikirkan.
"Kamu belajar komputer dimana?" tanyanya memecah keheningan
"Disekolah ada pelajaran komputer"
"Kenapa kamu bisa mengetik begitu cepat tanpa melihat tombol tutsnya?" katanya penasaran
"Mungkin karena
terbiasa menggunakan laptop jadi mudah mengingat tanpa melihat tuts di keyboard." jawabku sekenanya
"Mbak...aku kira mbak harus latihan, nampaknya tidak bisa langsung trading besok" kataku
"Harus bisa, aku tidak mau menunda nunda" katanya tegas "Ajari aku sampai bisa hari ini"
"Aku lapar dari tadi belum makan nasi" kataku jujur
"Tunggu sebentar lagi, Ibu pembantu sdg menyiapkan makanan" katanya
"Kenapa Mbak Citra minta dipanggil Mbak bukan thacik atau Cie-cie?" tanyaku tanpa memandang kearahnya
"Suamiku orang Jawa, dia memintaku untuk dipanggil mbak"
"Kenapa di ruangan ini tak ada photo keluarga?" kataku lagi
"Kamu ini kok cerewet sekali ya?" katanya sambil terkekeh. "Kamu lihat suamiku?"
Dia mengambil handphonenya dan mengeluarkan gambar dari gallery. Seorang berpakaian putih dan bercelana hitam berdiri dengan nampak gagah.
Dia tunjukkan kepadaku, "Ini suamiku umurnya 64 tahun. Ganteng tidak?" tanyanya
"Sudah tua ya.....?" kataku ringan
"Memang sudah tua...... tapi dia kaya raya. Namanya ada di Panama Papers" katanya menjelaskan
"Apa itu Panama Papers?" tanyaku ingin tahu
"Aku sendiri tidak jelas"
Aplikasi permainan simulasi yang kutemukan di website Trimegah aku buka, disitu ditunjukkan step by step cara membeli dan menjual saham. Dengan permainan simulasi ini ini para pialang saham atau trader pemula bisa belajar seolah olah sedang trading beneran.
Ternyata permainan
simulasi di website ini cukup efektif. Sambil memainkannya aku mengajari beberapa istilah yang sering digunakan dalam perdagangan saham. Hal ini aku lakukan supaya Mbak Citra tahu dan terbiasa dengan istilah2x itu. Langkah pertama dalam membeli saham dan memasukkan nilai beli.
Serta memasukkan nilai jual. Langkah langkah mudah ini ternyata perlu diulang beberapa kali untuk membuatnya mengerti dan paham.
"Kamu harus sabar ya......!" katanya sambil menepuk lengan atasku. Sikap manjanya kepadaku membuatku hanyut. Tapi aku tetap menjaga supaya aku tidak
memulai sesuatu yg aku tak sanggup menjalaninya.
"Kamu mau melanjutkan kuliah di Singapore ya?"
"Rencananya sih begitu"
"Aku nanti tanya siapa kalau kamu jauh sekali disana"
"Bisa melalui telepon toh...?"
"Mahal telepon ke Singapore...!"
"Ya nanti aku yang telepon Mbak Citra
jawabku sekenanya.
"Memang kamu tahu nomor teleponku?" tanyanya lagi
"Tidak tahu, tapi kalau minta pasti dikasih toh?"
Tipe wajah Mbak Citra agak lonjong, dagunya sangat menarik karena seperti sarang lebah. Kulit wajahnya halus dan menawan. Giginya terawat baik dan rambutnya
keriting dengan cat yang serasi dengan kulit wajahnya.
Wajahnya dipoles dengan make up tipis dan lipstick warna muda. Wanita cantik memang mahal perawatannya. Sugar daddy Mbak Citra memang tajir dengan membelikan rumah sedemikian besar dan para pelayan yang merawat rumah ini
bersih dan rapi.
"Kamu sudah lama kenal Cik Anneke?" tanyanya tiba2x
Sebelum aku menjawab terdengar suara seperti telepon berdering, ternyata bunyi intercom. Mbak Citra berdiri untuk mengangkatnya. "Iya terima kasih bu." sambil meletakkan gagang intercom Mbak Citra mengatakan
"Ayo .......makanan sudah siap, kita lanjutkan lagi belajarnya setelah makan"
Baju warna merah menyala yang dipakainya terlihat mahal, terbuat dari bahan berenda-renda. Kulit tubuhnya sangat kontras dengan warna dress yang dia pakai. Indah, mahal dan classy, itu adalah tangkapan
image tentang Mbak Citra. Harus bau semerbak keluar dari tubuhnya, entah kentutnya apa juga seharum bau tubuhnya. Yang jelas beda dengan Cik Anneke, beda dengan Mbak Widya dan wanita2x yang bergaul denganku.
Gerakan tubuhnya gemulai, aku membayangkan gerakannya di tempat tidur.
Mbak Citra berjalan duluan didepan sementara aku mengikutinya dari jarak sekitar 3 meter dibelakangnya. Gerakan tubuhnya dinamis dan goyangannya tidak dibuat buat. Gemulai seperti sedang menari, pandanganku dari belakang tertuju pada pinggulnya yang ramping dengan belokan tajam
digelembung pantatnya.
"Kamu suka makan sup merah?" tanya Mbak Citra
"Suka asal halal.....!" kataku
"Halal so pasti, tidak ada yang makan yang tidak halal"
"Siiip aku suka...." jawabku
Harum bau uap dari dalam panci mengundang rasa laparku untuk meneguk air liurku.
"Kamu duduk
disitu, aku ambilkan mangkok dan nasi"
"Jangan terlalu banyak nasinya....!" pintaku
"Kenapa....?" tanyanya
"Aku masih mau makan dimsum tadi.....!"
"Sudah diringkas.....nanti hari Sabtu aku siapkan lagi"
"Ya....sungguh?" kataku sambil berpikir dia mengharapkan aku datang lagi.
"Ya ...datang saja sekitar jam 2, bawa celana renang lagi ya" katanya "Kamu bisa bawa pacarmu juga kalau mau"
"Blom punya pacar.." kataku jujur
"Bohong..!" katanya sambil senyum
"Betul...belum punya!" kataku berusaha meyakinkan
Dia memberikan mangkok kosong, tanganku menerimanya.
Tangannya tetap terulur kearahku "Aku tidak percaya......berikan Iphonemu. Aku cek bener tidak ucapanmu"
Aku memberikan iphoneku setelah membuka passwordnya. Dengan cekatan dia membuka buka Iphoneku.
"Aku ambil supnya sendiri ya?"
"Ambil....sedikit dulu, baru dirasakan enak atau
tidak. Baru ambil lagi bila enak supaya tidak mubazir kalau tidak habis"
"Iyaaaa......" kataku singkat
"Gilaaaaaa......videomu kok beginian sih?" katanya dengan nada kaget dan tidak percaya.
Aku mengangkat wajahku kearahnya dan mata kami bertatapan.
"Video apa sih....?" kataku
berusaha tetap tenang.
"Gila bener nih anak......!" katanya sambil tertawa
"Terusss sayaaangg......iyaaaa....terusssss....!" suara Cik Anneke terdengar karena suaranya dia besarkan.
"Iya....aku lupa hapus." kataku dengan wajah agak merah menahan malu karena tertangkap basah.
"Ini diambil dimana?" tanyanya ingin tahu
"Outdoor.....didaerah karangpandan."
"Siapa yang mengambil videonya....?"
"Menurut Mbak Citra siapa?"
"Cik Anneke ya......?"
"Sudah.....!" kataku sambil tanganku menjulur ingin meraih hpku yang dia genggam.
"Tunggu sebentar...." katanya
Tubuhnya berkelit dan mundur selangkah saat tanganku ingin mengambil hpnya. "Belum selesai kulihat semua"
"Sudah.....tidak ada lagi" kataku
"Ada .....foto-fotonya belum aku lihat" katanya
Aku melanjutkan makanku tetapi akhirnya aku berhenti, berdiri dan mendekatinya.
Aku takut, dia mengirimkan photo-photo itu ke HPnya.
Aku berjalan sementara dia terus menggerakkan jari-jarinya membalik-balik gallery Iphoneku.
Saat sudah dekat, dia duduk dianak tangga menuju lantai dua.
"Gilaaaa...aku merinding..!!" katanya sambil menunjukkan photoku yang sdg
menjilati selangkangan Cik Anneke yg sdg mekangkang. Aku duduk disampingnya melihat apa yg sedang dia lihat di iphoneku.
"Kamu ini seperti seorang Budak Nafsu.... !! Dilema wanita seperti kita adalah apabila mencari pasangan kaya tapi tua. Secara materi kami cukup tapi secara Image
batin kami lapar, haus & tak tersentuh. Kamu harus hati-hati menjaga rahasia Cik Anneke. Dia pasti tak ingin gambar & video ini menyebar karena akan menghancurkan keluarganya. Kamu tahu?"
"Iya ..aku tahu & paham!"
"Knp masih kamu simpan disini"
"Aku kadang masih lihat saat sepi"
Tapi itu sangat berbahaya, kamu harus bisa melindungi orang yg mengasihi kamu. Kamu bisa bayangkan kalau kejadian ini terjadi bukan aku yg melihatnya, tetapi temanmu yang suka pamer. Terus dia sebarkan dan upload di sebuah website. Kamu dan Cik Anneke yang akan dipanggil polisi,
orang seluruh Indonesia akan menonton pertunjukan yang bersifat pribadi ini. Banyak kejadian yang telah terjadi seharusnya kamu mawas diri, jangan terjadi denganmu" katanya Mbak Citra.
"Benar...Cik Anneke sudah memberitahu kamu, jangan sekali-sekali memotret atau mengambil gambar
apapun selama kamu di rumah dan lingkungan ini" lanjutnya.
"Aku tidak memotret apapun, aku tahu konsekwensinya" kataku sambil memandang kepadanya. "Bagus....aku tidak melihat ada foto rumah ini di hpmu. Ayo kita lanjutkan makan lagi" lanjutnya
"Aku sebaiknya hapus sekarang saja"
"Itu adalah yang terbaik yang harus kamu lakukan. Disatu sisi kamu memberikan rasa aman dan jauh dari rasa was was, itulah yang wanita inginkan. Rasa aman dari seorang yang dipercaya itu yang dicari semua wanita."
"Ok Aku mengerti" kataku. Jari2xku memencet delete setiap gambar.
Kami melanjutkan makan kami, sambil berbicara tentang trading saham yang akan Mbak Citra lakukan besok.
"Sebaiknya Mbak Citra pergi ke kantor Trimegah besok karena ini masalah uang besar. Aku sudah tuliskan harga beli dan harga jual. Bila timingnya tepat dan sesuai, margin
kentungan bisa antara 18-23%.
"Kamu kok bisa seyakin itu?" katanya penuh keraguan
"Bisa....karena aku sudah pengalaman" kataku meyakinkan
"Kalau meleset bagaimana?"
"Tidak mungkin meleset!"
"Berarti kalau modalku 10 milyar transaksi besok akan menghasilkan 1 milyar lebih?"
"Kalau terjual sekaligus, jelas antara 1, 8 milyar hingga 2,3 milyar" kataku sambil mengunyah makanan.
"Aku tidak percaya......!"
"Coba besok jangan beli saham semua modal. Belikan saja 2 milyar supaya transaksi bersih terjual semua yang sudah dibeli. Sehingga keuntungan antara
360 juta hingga 460 juta."
Pandangannya menatapku dengan heran.
"Kenapa bisa?" tanyanya ingin tahu
"Karena ini yang kami lakukan di assossiasi, aku tidak tahu berapa besar modal yang mereka mainkan. Aku mendapat 5 persen dari setiap perdagangan."
"Ajari aku dong?"
#ceritaseks
"Kan sudah kuberitahu saham apa saja yang harus dibeli dan dijual besok" kataku
"Maksudku kenapa bisa sampai tahu?"
"Belajarnya harus step by step, tidak bisa sekaligus" kataku sambil memandang bibirnya. Wanita ini sungguh sempurna. Bukan saja warna kulitnya, wajah ayunya tetapi
secara keseluruhan nampak indah sempurna. Gerakannya yang lembut dan gemulai, jakunku naik turun bukan karena sedang menelan makanan tetapi membayangkan rasa manis bibirnya dan geliat pinggulnya.
"Ok..step by step" katanya lagi
Semangkok kecil ice cream dihidangkan saat, mangkok
sup merah yang aku makan habis.
Ini Ice Cream Godiva yang sangat terkenal, kamu harus mencobanya. Aku menyendok segumpal dengan sendok plastik yang dia berikan. Rasa ice cream yang sangat lembut larut diatas lidahku.
"Enak.....?" tanyanya
"Sangat enak...!"
"Dimana beli? Aku mau
belikan untuk adikku"
"Tidak ada di Solo, ini dikirim dari Jakarta. Hanya kota-kota besar di dunia yang mempunyai outlet ice cream ini. Aku akan beri 1 lagi yang bisa kamu bawa pulang"
"Thank you...!" ujarku singkat
"You're very welcome....!" katanya dengan intonasi sangat bagus
Setelah selesai dengan Ice Cream yang dia berikan, kami kembali kedepan. Karena makanan akan segera diringkasi oleh pembantu.
Diruang tamu, aku mengambil tasku dan mengeluarkan daftar nama saham yang akan aku berikan kepadanya.
"Ini daftar nama saham yang harus dibeli besok"
"Aku masih bingung..kamu tidak buru-buru pulang kan?"
"Tidak...!"
Mbak Citra kembali menyalakan Laptopnya dan membuka website resmi Trimegah.
"Ayo ulangi stepnya dari awal lagi" katanya
"Bisa tidak kita di taman belakang saja? Perutku terasa sesak bila harus duduk setelah makan
"Tunggu, biar diringkas dan dibersihkan semua meja dan ruangan makan" kata Mbak Citra
Kami ngobrol lagi beberapa saat kemudian, Mbak Citra memberi aba-aba untuk pindah ke taman belakang. Aku mengajarinya lagi dari awal langkah2x permainan karena dia telah lupa. Faktor usia atau
tdk terbiasa membuat seseorang tidak tahu dan tidak pengalaman. Aku tinggal disana kurang lebih 2 jam lagi sebelum aku pamitan utk pulang. Mbak Citra memberiku semangkok ice cream yg ukurannya sedikit lebih besar.
"Kok ini lebih besar?" tanyaku
"Iya supaya kamu bisa makan lagi"
"Thanks Mbak..!"
"Jadi sebaiknya aku ke kantor Trimegah ya besok?" tanya Mbak Citra lagi.
"Sebaiknya begitu, supaya hasilnya maksimal. Seandainya besok tidak ada ulangan aku mau datang kesini besok"
"Iyaaaa...itu yang aku mau. Besok pulang jam berapa?"
Hari Jum'at pulang jam 11"
"Oh kalau begitu aku telepon saja deh kalau aku ada pertanyaan."
"Okay...bye....!" kataku berjalan ke arah mobil.
"Jangan lupa hari sabtu datang, bawa celana renang"
Aku naikkan 2 jempolku pertanda ingat dan setuju.
MBAK CITRA, LANGKAH AWAL HUBUNGAN JANGKA PANJANG.

Wanita tidak pernah menjadi kuat ketika mereka terus menerus mengurung diri dengan rasa cemas akan kekurangannya. Image
Sepulangku dari Mbak Citra sore itu, aku mengajak Wulan dan ibu belanja di Toserba Luwes di Jalan Urip Sumoharjo guna membeli keperluan untuk kubagikan anak-anak Panti Asuhan. Makanan ringan serta alat tulis serta tas sekolah dengan tokoh disney yang menarik. Niatan untuk
memberi mereka yang papa dan berkekurangan didukung sepenuhnya oleh ibu. Ibu yang mengaturkan seluruh barang yang akan aku bawa kesana. Mobil swiftku untungnya masih muat membawa barang-barang itu. Naira yang seharusnya ikut dengan kami, telah aku batalkan. Aku mengeluarkan uang
cukup banyak untuk barang yang aku akan bawa kesana. Tetapi itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan telah aku terima.
Ibu berpesan untuk selalu meluangkan dan menyisihkan waktu dan uang bagi yang berkekurangan. Bahkan mengingatkan aku dan Wulan untuk mengingat sebuah ayat
yang berbunyi: Siapakah yg mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yg baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dgn lipat ganda yang byk. & Allah menyempitkan & melapangkan (rezeki) & kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.
"Mas.....bagaimana besok kalau kita pergi ke sekolah? Apakah kita akan membawanya juga?"
"Ya tidaklah......kita simpan saja dulu barang-barang ini di Mobil boxnya bapak. Sebaiknya kita pakai mobilnya bapak saja saat mengantarnya"
"Siapa yang menyetir mobil bapak kesana?"
"Minta tolong bapak pasti mau" kataku dgn yakin
"Kamu tidak bisa begitu mas, kamu harus menanyakan dulu kepada bapak sebab kamu tahu sendiri bapak sangat sibuk. Kadang pagi2x sudah berangkat keluar kota"
"Baik bu, nanti saya akan tanyakan kepada bapak semoga bisa membantu kita.
Sekitar jam 10:30 besok harinya, sekolah selesai lebih cepat karena bertepatan hari Jum'at. Aku buru-buru berjalan kearah dimana mobilku terparkir. Saat aku membuka pintu, Hp yang aku taruh didalam kotak dashboard berdering. Aku mengira bapak atau ibu yang menelepon, ternyata Cik
Anneke yang tercantum dilayar hp.
"Hallo Cik..?"
"Kenapa kamu tidak angkat telepon, Citra telepon kamu berulang ulang!"
"Aku baru saja keluar sekolah..."
"Coba kamu telepon dia, nampaknya ada kesulitan"
"Okay....saya telepon"
"Dia miscall berkali kali, telepon dia di nomor itu"
Aku membuka recent call yang masuk, dan benar ada 15 panggilan masuk dengan nomor yang sama. Aku menelepon balik dan dijawab pada deringan pertama.
"Maaf...aku kira kamu sudah pulang sekolah?" katanya sambil tertawa. "Aku kalut tidak tahu dari mana aku harus mulai. Datang kesini
sekarang, ajari aku lagi"
"Kenapa tadi tidak jadi ke Trimegah?"
"Aku tadi terlambat bangun tahu? Aku baru bangun 15 menit lalu hahahahaha" katanya sambil tertawa lepas.
"Aku lapar.....mau pulang dulu" kataku
"Tidak....aku juga belum makan, kamu makan disini saja" katanya
Mengarahkan mobilku ke SMP negeri 8 untuk menjemput adikku. Untungnya dia telah berdiri didepan sekolah sehingga aku tidak perlu menunggu terlalu lama.
"Mas...lukisanku sudah jadi, kapan mau diantar ke Pak Santosa"
"Nanti kalau sudah agak luang, kamu tahu sendiri aku sgt sibuk"
"Iya...biasanya haris Sabtu mas tidak sibuk, mungkin Mas bisa antar besok"
"Besok kita akan ke Panti Asuhan, mungkin setelah dari Panti Asuhan aku bisa antar"
Wulan turun didepan rumah, aku juga turun tetapi mesin mobil masih tetap menyala. Aku berjalan masuk untuk pamitan kepada
ibu. Ibu menanyakan aku mau kemana. Aku menjawab bahwa aku akan ke Solo Baru membantu orang trading karena baru mulai. Berarti tidak cepat pulang karena nanti kamu harus belajar di Primagama.
Aku mengarahkan mobilku ke Selatan kota dan jalanan sangat padat karena banyak orang
pergi ke Mesjid untuk Jum'atan.
Aku menelepon Mbak Citra ngabari bahwa aku sudah sampai. Pintu pagar secara otomatis terbuka, aku masuk kedalam dan memarkir mobilku ditempat yang sama seperti kemaren.
Mbak Citra membukakan pintu depan sebelum aku memencet bel pintu. Wajahnya
memang terlihat baru saja bangun tetapi terlihat segar dan tidak berminyak.
"Kok sudah terlihat cantik..!" kataku memuji
Bibirnya merekah saat aku mengatakannya. "Kamu kok terlihat kusam. Mandi dulu sana gih?"
"Aku tidak bawa baju dan handuk, mana bisa mandi tp tidak ganti baju"
"Ada.....aku carikan, kamu mandi sana" jarinya dia gunakan menutup hidung sementara tangan satunya mengibas-ibas didepan hidungnya. "Bau..!"
Aku nyengir tapi tidak tersinggung. "Handuk...?"
"Iyaaaaa...sana masuk dulu ke kamar mandi!"
Aku berjalan kearah kamar ganti baju didekat
kolam renang.
"Weeii...mau kemana?"
"Mandi kan...?" kataku
"Mandi di kamar depan saja" katanya memberitahuku
Aku berjalan kearah kamar depan yg dimasuki Cik Anneke kemaren. Sebuah kamar dgn fasilitas lengkap. Sebuah televisi besar berada diatas meja dengan berbagai assessories
yang biasa ditemukan di kamar wanita. Bau harum semerbak tercium hidungku, bau yang keluar dari cairan di sebuah botol dengan lidi kayu yang terendam didalamnya. Sejenis parfum ruangan yang terlihat sangat mahal, dengan hembusan udara AC kamar itu terasa sangat nyaman. Pintu
kamar mandi terbuat dari kaca tebal sekitar 8 mili dengan stiker salju untuk menutupi penglihatan. Aku masuk & melepas baju sekolah yg kupakai.
Aku menyalakan shower dan mengatur air hangatnya. Badan terasa segar, jejeran botol shampoo dan sabun cair terlihat dirak yg tergantung
ditembok. Suara hexos fan yang berada di plafon terdengar lembut menghisap uap air yang keluar dari shower.
Sebuah kemewahan yang baru pertama kali aku dapatkan, mandi disebuah kamar mandi mewah dengan berbagai sarana yang mahal. Bau shampoo dan sabun yang jelas sangat mahal.
"Sudah selesai belum....?" teriak Mbak Citra dari balik pintu kaca. Bayangan tubuhnya terpantul jelas ketika dia sedang berdiri disana. Tangannya nampak sedang membawa handuk.
"Sebentar....!" kataku, setelah mematikan shower aku berjalan ke pintu dan menyorongkan tanganku untuk
mengambil handuk. Handuk putih yang dia berikan kepadaku sangat lembut dan empuk. Jauh beda dengan handuk yang aku pakai dirumah.
"Kaosnya ada diluar diatas kursi" katanya sambil beranjak dari depan pintu.
Aku memakai celanaku dan beranjak keluar setelah menggantung handuk yang
kupakai di gantungan yang terdapat didinding kamar mandi. Aku menemukan sebuah kaos merah maroon polos dengan nama merek dibagian dada kanan "BALENCIAGA"
"Gila......" pikirku saat kaos yang aku kenakan terasa nyaman dan halus. Aku mengaca di cermin saat akan keluar. Baju kaos
yang aku pakai membuatku nampak keren. "Pasti Kaos mahal ini" pikirku lagi.
Aku berjalan keluar dari kamar depan dan mencari Mbak Citra diruang tamu. Dia tidak ada disana, aku duduk di kursi yang aku duduki kemaren sambil membuka iphoneku.
"Arjuna.....makanan sudah siap!"
suaranya terdengar dari dalam.
Aku berjalan keruang makan kemaren & menemukan Mbak Citra sedang menyendokkan nasi kepiring yg kemudian diberikannya kepadaku.
"Segini cukup..?"
"Kebanyakan ini...!"
Dia mengambil piring dan mengambil nasi dari piringku.
"Segini..?" tanyanya lagi
"Iya cukup..."
"Kamu ambil sendiri sayur & lauk mana yg kamu suka."
Rasa laparku mengamuk, perutku terasa kopong. Aku mengambil sayur cha sawi hijau campur tahu & udang.
"Ini apa mbak...?"
"Cumi-cumi goreng..! Coba saja enak kok?"
"Warnanya hitam menakutkan..!"
"Coba dulu..
enak kok!" katanya
Aku mengambil satu dan menaruh disendokku. Aku mencicipinya, rasa gurih menyelimuti lidahku. Tekstur daging juga empuk namun kenyal saat digigit.
Aku mengambil sedikit lagi dan sepotong empal sapi yang digoreng agak kering.
Sebuah makan siang yang sangat
langka. Aku memakannya sesopan mungkin.
"Kamu ngga suka sambel?" tanyanya halus
"Suka...."
"Itu ada sambal lombok goreng kesukaanku.....harus dicoba"
Aku mencolek sedikit sambalnya dan segera merasakan sambal yang sangat galak. Aku tersedak gegara rasa pedasnya yang nendang.
"Pelan-pelan toh...!" katanya "Ngga ada yang memburu, nikmati saja" Dia mengambilkan aku segelas air putih hangat yang langsung kuteguk setengahnya. Mbak Citra duduk disampingku saat kami menikmati makan siang kami.
"Jangan sungkan ...kalau mau nyoba lainnya bisa ambil sendiri"
"Cukup..ini sudah terlalu banyak" kataku
Tangan Mbak Citra menjulur mengambil empal daging sapi dan menaruhnya di piringku.
"Kenapa bisa empuk begini daging sapinya?" tanyaku
"Ini daging sapi impor Australia, teksturnya empuk dan seratnya halus sehingga enak untuk dibikin empal"
Aku menganggukkan kepalaku paham. Semuanya baru dimulutku, rasa enak dan terkesan mahal. Piringnya pun tebal dan terlihat berkelas. "Enaaaaak....." kataku sambil mengelus perutku. Aku berdiri ingin menyingkirkan piring yang baru saja kupakai di dapur basah tetapi dilarang oleh
Mbak Citra.
"Taruh saja disitu.....Taruh....!" katanya sambil menarik tanganku
"Mbak....berapa harga kaos ini, bahannya bagus dan terasa nyaman dipakai."
"Coba tebak...?" katanya sambil tersenyum
"Aku tidak tahu...!"
"Itu Kaos aku beli di Singapore, kalau dirupiahkan harganya
5 jutaan."
"Balenciaga....? 5 juta....? Boleh kubawa pulang nanti?"
"Boleh...aku berikan kepadamu"
"Terima kasih mbak......" kataku tulus
"Iya sama-sama.....sudah kenyang? Mau minum lagi tidak?"
"Boleh kubawa segelas kedepan?"
"Dikamar depan ada kulkas, ambil sebotol aqua sana"
"Aku tidak mau dingin....!"
"Disamping lemari putih itu ada kerdus aqua, kamu ambil satu"
Aku berjalan kearah lemari yang ditunjuk dan mengambil sebotol aqua.
"Mbak Citra mau ....?"
"Tidak....aku suka minum dingin"
Aku berjalan kedepan sambil menenteng sebotol aqua, mbak Citra
menyusulku sepuluh menit kemudian.
Aku berdiri disamping meja, sambil mengelus perutku yang kekenyangan.
"Aku kekenyangan.....perutku terasa sesak"
"Kamu terlalu cepat mengunyah, makanmu seperti diburu waktu"
"Kebiasaan .......!"
"Harus dirubah kebiasaan makanmu supaya baik"
Aku tersenyum mendengar kata-kata untuk mendebatku. Pilihan katanya pas dan tepat sasaran.
"Masih ada waktu dua jam sebelum perdagangan sesi kedua dimulai, Mbak Citra mau apa sekarang?" tanyaku
"Sebaiknya aku ganti baju dulu saja ya" katanya sambil beranjak ke pintu kamar.
"Aku pinjam laptopnya kalau begitu supaya aku bisa masukkan nama saham di buying list hari ini? Aku juga ingin tahu sudah berapa harga saham yang harusnya terbeli hari ini"
"Jangan.....kamu harus ajari aku, jangan kamu masukkan sendiri. Kamu tidak ngajari kalau kamu mau masukkan
sendiri. Kamu harus tunjukkan step by stepnya."
"Okay...kalau begitu, aku tunggu mbak Citra. Jangan lama-lama ya supaya ada waktu untuk belajar sebelum sesi kedua dimulai"
"Okay....tunggu sebentar"
Besok adalah hari Sabtu, tidak ada trading saham besok. Mbak Citra keluar dengan
membawa laptopnya masih dengan memakai baju yang sama.
"Sebaiknya kamu membaca atau melakukan sesuatu yang lain selagi menungguku. Tapi jangan memulai dengan program trading itu"
"Okay...aku tunggu Mbak Citra"
Kembali dia berjalan ke kamar depan dan menutup pintu. Aku membuka
laptop & membaca sebuah artikel menarik di thejakartapost.com
Sebuah artikel yg membahas tentang forex trading, perdagangan valuta asing yang masih sangat awam bagiku. Artikel ini menyebut tentang sebuah aplikasi bot yang bisa membantu dalam forex exchange. Investor tidak
perlu beresiko kalah dalam perdagangan terlalu besar. Kehandalan bot aplikasi ini adalah kemampuannya dalam menganalisa pergerakan perdagangan. Dia akan berhenti saat menang 1 persent dan akan berhenti kala kalah 1 persent.
Artikel ini juga memuat wawancara pembuat bot aplikasi
forex ini yang secara meyakinkan sanggup mendulang kemenangan hampir 10 persent setiap bulannya. Dengan demikian modal investasi diharapkan akan bisa kembali dalam waktu setahun kurang.
Sebuah nomor telepon dan kontak person tertera dibawah artikel. Aku tertarik untuk mengetahui
tawaran yg ditulis di artikel itu. Aku sangat berniat untuk menginvestasikan uang ku di keranjang investasi lain. Apalagi bentuk transaksinya menggunakan mata uang dolar. Mengingat posisi politik dan ekonomi Indonesia yg tidak stabil, alangkah baiknya aku pegang dollar sebagian.
Aku mencatat nomor telepon dan nama contact person yang bisa dihubungi, Net 78 itu adalah nama perusahaannya.
Aku langsung meneleponnya saat itu juga untuk menanyakan bagaimana cara investnya. Panggilan teleponku dijawab saat dering ke tiga. Penerima menanyakan nama, dan
nomor telepon yang bisa dihubungi. Seorang telemarketer akan menghubungiku secepatnya. Aku memberikan apa yang dia minta dan menutup teleponku setelah percakapan selesai.
Sekitar 15 menit kemudian panggilan telepon masuk, suara seorang wanita yang terdengar smart dan energik menyapaku. Penjelasan detail tentang investasi forex ini sangat menarik karena ternyata ada pembagian keuntungan dari setiap anggota yang kita rekrut. Bisnis skema ponzi
yang umumnya diterapkan di usaha MLM ternyata bisa diaplikasikan di bisnis keuangan seperti ini. Pembagian dari 50 : 50, 60:40, 70:30, 80:20 hingga 90:10
tergantung dari jumlah uang yg diinvestasikan. Setelah penjelasan panjang lebar, aku diminta untuk mendownload sebuah aplikasi
dengan petunjuk dan nama yang dipinjamkan untuk melihat secara langsung transaksi forex yang sedang berlangsung. Pikiranku langsung bisa menerima bagaimana system bot yang dibangun bisa mempermudah perdaganan forex yang sangat aman dan menguntungkan. Aku menanyakan berapa yang
harus aku investasikan untuk mendapatkan pembagian keuntungan 90:10.
"Begini...sebaiknya anda membuka dulu 500 dolar. Kemudian anda membuka lagi account lain dengan besaran modal yang lebih besar dengan demikian, anda telah membangun sebuah jaringan downline. Keuntungan downline
akan masuk sebagian ke upliner. Semakin banyak downline yang anda bangun, maka semakin banyak keuntungan yang anda akan raup. Sampai sejauh ini apa anda paham?" tanya telemarketer
"Iya sangat paham.......yang jadi masalah adalah harga bot nya sangat mahal 20% dari modal" kataku
"Bapak, bot ini tidak dibayar di awal transaksi. Harga Bot akan diminta saat bapak menghentikan investasi bapak, saya rasa bapak nanti akan mengerti bagaimana menguntungkannya bisnis investasi ini bagi para investor seperti anda"
"Baik.....kalau begitu saya bicara dengan siapa?"
"Saya Andrea pak...... dan saya akan menjadi pembimbing bapak. Mohon disimpan nomor hp saya supaya mempermudah komunikasi. Tapi boleh tanya, bapak dari kota mana?"
"Solo, mbak....!"
"Bapak adalah investor pertama di kota Solo. Bila anda bisa merekrut downline maka kesempatan anda
utk menjadi area leader sgt besar. Silahkan bapak pertimbangkan dulu" katanya bijak
"Okay..saya akan kabari dalam beberapa hari lagi"
"Terima kasih Pak Arjuna atas waktunya, selamat siang"
"Sama2x mbak, terima kasih"
Saat percakapanku selesai, Mbak Citra masih belum juga keluar.
Aku berjalan ke arah kamarnya dan mengetuk pintunya.
"Mbaaaaak......" kataku pelan. Tidak terdengar jawaban dari dalam. Aku mengetok lagi pintunya sambil memanggilnya beberapa kali. Tetap tidak ada jawaban dari dalam. Aku membuka daun pintunya dan mendorong pelan. Aku melongok
kedalam dan melihat Mbak Citra sedang berbaring ditempat tidurnya. Aku menarik kembali pintu dan menutupnya pelan.
Aku kembali duduk dikursi dan kembali membaca beberapa artikel dari The Jakarta Post. 10 hingga 15 menit kemudian kembali aku berdiri dan mengetuk pintu kamarnya.
Kali ini aku bertekad membangunkannya. Aku buka saat tak ada jawaban dari dalam. Aku melangkah masuk dan mendekatinya.
"Mbak Citra...?" kataku tanganku memegang lengannya yang tertutup selimut. "Mbaaak...kok tidur sih?"
Matanya terbuka ...terlihat merah muda seperti orang yang
benar-benar habis tidur.
"Sorry...aku ketiduran lagi" katanya sambil menggulingkan tubuhnya kekiri. Aku kurang tidur semalam jadi terasa ngantuk sekali sehabis makan."
"Jadi tidak belajar tradingnya...?" tanyaku
"Sudah mulai ya?"
"Belum....10 menit lagi"
"Mana laptopnya....?"
"Masih diluar...."
"Ya sudah bawa sini saja....!" katanya "Kamu pergi ke Primagama jam berapa?"
"Kelasku mulai jam 5 sore, aku harus pergi jam 4"
"Sisa 2 jam kalau begitu....!"
Aku keluar kamar untuk mengambil laptop dan membawanya masuk kedalam kamar.
Mbak Citra masih berada
dikasurnya saat aku masuk. Aku menutup pintu dan menaruh laptopnya diatas meja.
"Sini..!" katanya sambil menepuk disampingnya
Aku berjalan kearahnya dan memberikan laptop kepada Mbak Citra. Aku masih segan duduk dikasur disampingnya. Dia memandangku dan menepuk kembali kasur
disampingnya "Sini duduk....!" katanya lagi
"Celanaku kotor......!" kataku ragu-ragu
"Lepas.....hahahahaha!" katanya sambil tertawa
"Sungguh.....?" kataku menggodanya
"Lepas kalau berani........!"
Aku membuka gesper ikat pinggangku dan menurunkan resleting celanaku. Aku biarkan
celanaku melorot hingga kelantai dan menariknya supaya kakiku terlepas, kaos yang kupakai menutupi bagian celana dalamku karena kaosnya agak panjang.
Aku membungkuk untuk mengambil celanaku dan melipatnya. Aku taruh diatas lantai sebelum aku duduk diatas kasur disampingnya.
Tubuhku membentur samping badannya saat aku duduk mengira kasur yang akan kududuki keras seperti kasurku. Ternyata aku keliru, kasurnya empuk dan lembut sehingga saat tubuhku duduk badanku seperti ambles masuk.
"Laki-laki......!" katanya sambil tersenyum
"Kenapa.....?" tanyaku
ingin tahu.
Tiba-tiba tangannya mendorong tubuhku "Kamu berdiri lagi dan jalan dimeja situ, ambilkan kertas daftar saham yang kamu berikan kemaren"
Sebuah meja dengan warna coklat tua yang agak besar terletak dipinggir dekat meja televisi. Mejanya teratur rapi dengan tumpukan
buku serta kertas-kertas yang aku tidak tahu kertas apa saja yang ada didalam tumpukannya.
"Didalam laci kiri paling atas buka saja" katanya
Aku membukanya & melihat kertas yang aku berikan kepadanya kemaren, mengambil dan segera kembali duduk disampingnya kali ini dengan lebih
hati-hati.
"Okay....buka aplikasinya" kataku
Tangannya dia keluarkan dari dalam selimut dan membuka aplikasi yang terpampang difrontpage laptopnya.
"AC nya terlalu dingin.....!" kataku
"Masukkan kakimu di dalam selimut supaya tidak kedinginan"
Aku membuka dengan mandorong turun
selimut tebalnya yang empuk. Tak sengaja mataku memandang paha putihnya sekilas dan menarik selimut itu setelah aku masukkan kedalamnya.
"Dekat sini.....!" katanya
Aku bergeser kesamping kedekat tubuhnya. "Masukkan username dan passwordnya" kataku
"Jangan lihat passwordnya.....!"
Aku menutup mataku dan saat password tlh diisi Mbak Citra menekan tombol enter. Perubahan harga saham bergerak cepat, karena ini adalah perdagangan akhir pekan.
"Coba ketik saham Adaro" kataku
Tangannya menekan keyboard dan enter. "Salah.!"
"Nama saham hanya 4 huruf, ketik Adro"
Kembali mbak Citra mengetik ADRO dan muncul lah nama saham dan harga. Harga telah naik 10 rupiah dari yang aku tulis kemaren.
"Beli saham itu di harga sekarang saja!" kataku "Tulis dipermintaan di kolom sini dan jumlah lot yang kita minta."
"Harga sekarang adalah 1110, 1000 lot,
terus?"
"Enter......!"
Saham terbeli dengan harga itu dan angka berubah.
"Sekarang pasang harga jual di harga 1180 di kolom ini" kataku. Tangannya bergerak memencet tombol-tombol di keyboard. Gerakannya agak lambat karena belum terbiasa sementara harga terus bergerak naik. Saat
tombol enter dia tekan, harga naik hingga 1070 dan sesaat kemudian saham yang dia baru saja dia beli terjual sebanyak 500 lot, dan 10 menit kemudian sahamnya telah terjual semua.
"Cik ...terjual semua sahamnya!" kataku otomatis
"Addduuuuh....!" teriakku kesakitan saat tangannya
mencubit lengan atas bagian belakang. "Panggil aku mbak...!" katanya
Aku melihat kearah lengan belakangku yang terlihat merah. Tanganku mengisik-isik kulit yg dicubit berulang-ulang supaya sakitnya cepat hilang. Tiba tiba tangan lembutnya menempel.
"Sorry...sakit ya?" tanyanya
"Aku tadi reflex.....maaf ya?" katanya "Sini lihat....."
Tangannya menarik lenganku kearahnya. Bekas cubitannya memang terasa sakit, kulitku berubah merah darah karena terjadi gumpalan darah dibawah permukaan kulit.
"Gilaaaa......kenapa begini parah!" teriaknya
Dia bangkit dan
melangkah kearah sebuah kabinet gantung disebelah lemari. Dia mengeluarkan sebuah dos warna kekuningan dan tube seperti pasta gigi tapi ukurannya lebih kecil. Dia kembali ke kasur dan melipat kakinya seperti orang bersimpuh. Mataku melihat kearah kakinya yang terlipat dengan paha
sangat putih. Celana pendek yang dia pakai tertarik keatas sehingga paha terlihat montok dengan warna kulit mengkilat, pertanda pemiliknya sehat.
Dia buka tube bermerek "thrombophob" dan mengoleskan sedikit dikulit bekas cubitannya.
Sementara dia mengoleskan, aku kembali melihat
kearah laptop dan mengetik 4 saham lainnya yang harganya segera berubah.
"Kita terlambat membeli, seharusnya tadi di sesi pertama perdagangan. Transaksi pertama tadi telah untung 7 juta belum dipotong pajak"
Mbak Citra tidak menjawab, dari ujung mataku aku melihat dia sedang
memandang kearahku. Aku menoleh kearahnya "Ada apa mbak?"
"Aku dari tadi minta maaf tidak kamu tanggapi.....? Aku sudah sorry.....juga kamu diam saja!"
"Iya...tidak apa-apa. Kulitku memang sensitif mudah sekali memar. Sudah aku tidak apa-apa kok!"
"Maaf ya....?" katanya mengiba
"Iyaaa...sudah kumaafkan!" kataku lagi sambil melihat kearah monitor laptopku. Dia tarik tangan dengan cara mendekapnya ke dadanya.
"Tunggu aku pasang harga jualnya dulu supaya hari ini juga terjual!" kataku sambil mengetik dengan cepat.
Wajahnya dia dekatkan ke pundakku sambil
nyandar manja.
"Kenapa wanita ini begitu manja....duuhhh" kataku dalam hati.
Setelah ke empat saham telah terpajang untuk dengan harga jualnya. Aku taruh laptop dipangkuannya sambil mengatakan bahwa aku telah selesai.
"Berbaring sini...?" pintanya
Aku menggeser pantatku kedepan
membaringkan badanku. Tangannya menarik bantal untuk kupakai landasan kepalaku.
"Barang-2x yg ada dikamar ini sangat mewah bahkan bantalnya sekalipun terasa nyaman"
"Kamu suka...?"
"Suka..! Suatu hari nanti aku ingin punya rumah spt ini, besar, mewah & bagus"
"Pasti kamu bisa"
"Masih sakit lenganmu yang kucubit tadi?" tanyanya
"Tidak......sakit sudah hilang tinggal tanda merahnya, kemudian berubah jadi biru terus hijau baru hilang setelah itu"
"Mbak......cerita dong bagaimana bisa bertemu sama bapak?" tanyaku
"Kamu mau tahu....?"
"Aku dulu kuliah di
Jakarta, kampusnya terletak di sekitar Senayan City. Aku sering jalan-jalan ke PIK & disana teman gengku sering kumpul. Suatu malam kita lagi ngumpul di sebuah restaurant Italy yg baru buka. Anaknya bapak yang punya restaurant itu, saat kita ngobrol-ngobrol ajudan bapak memberi
aku sebuah kertas yang diselipkan ketanganku. Nomor telepon bapak tertulis dikertas itu. Tanpa sepengetahuan teman2xku aku telepon keesokan harinya. Bapak yang menjawab, cerita panjang lebar dan bertemu seperti orang pacaran. Aku diajak ke Singapore, Malaysia, Hong Kong, & Eropa
"Pergaulan bapak sangat luas, setiap kali kami ke luar negeri ada saja orang yg meminjamkan limosin untuk kami gunakan. Aku dibelikan rumah ini sekitar 6 tahun lalu. Aku tidak pernah lulus kuliah karena cukup uang dan tak perlu kerja."
"Terus..?"
"6 bulan lalu bapak kena stroke"
"Oh....!?
"Uang masih dikirim secara otomatis melalui system di bank tapi komunikasi terputus" kata Mbak Citra
"Mbak dapat kabar dr siapa kalau bapak terkena stroke?"
"Ada ajudan bapak yg ngabari, bapak sdg dalam perawatan Dr. Terawan di RSPAD Jakarta. Ini fotonya, mau lihat?"
"Boleh?"
"Boleh....ini?" katanya sambil mengulurkan sebuah Ipad mini kepadaku. Foto Mbak Citra dan bapak yang sedang bepergian ke luar negeri terekam dalam banyak album dengan judul berbeda-beda. Foto-fotonya tertata rapi penuh hiasan dan editan.
"Aku harus belajar mencari uang
aku tidak tahu kapan dan apa yang terjadi bila bapak tiada. Aku selama ini bergantung kepadanya untuk memperoleh uang dan perlindungan. Ada rasa ngeri saat tahu bapak sakit. Ini foto terakhir saat bapak terkena stroke." tunjuknya kepadaku
Seolah ada perubahan mencolok saat lihat
foto terbarunya. Pria yang nampak gagah garang di foto album saat travelling sementara foto sakitnya pria itu berubah nampak tua dengan bentuk mulut yg tidak normal. Wajahnya seolah ditarik kebawah separuhnya.
Mbak Citra sesenggukan terdengar menangis, mungkin mengingat masa
indah saat mereka bisa bersama. Kaki kami terkadang bersentuhan saat salah satu kami bergerak. Selimut menutupi bagian kaki kami, aku memberikan kembali Ipad yg dia tunjukkan kepadaku dan dia taruh diatas meja disamping dipan.
"Kadang aku rindu sentuhan seorang lelaki" bisiknya
suaranya tak terdengar jelas namun masih bisa tertangkap oleh telingaku. Aku menoleh kepadanya dan ingin melingkarkan tanganku ke lehernya.
"Sini aku peluk..?" kataku menawarinya
Dia bergeser mendekat kearahku, dia taruh kepalanya dilenganku yg tadi dia cubit. Kakinya dia angkat
dan timpakan diatas kakiku. Tangannya melingkar didadaku
"Kamu lelaki kedua!" katanya pelan
"Ya.....ndak apa-apa!" kataku sambil tersenyum
Pelukannya mengencang dan kakinya menarik tubuhku kearah tubuhnya.
"Aku gemas melihat kamu cuek sama aku!"
"Mana aku berani memulai....?"
"Kamu harus jantan seperti bapak, dia mau berusaha memulai dulu"
"Mmmm.....okay!" kataku "Muach....!" ciumku melayang ke bagian atas kepalanya
Dia mendongak keatas melihat kearah mataku, ada pancaran suka sebagai reaksi atas kecupanku dikepalanya. Tangannya mengelus elus dadaku
kesamping kanan dan kekiri. Mulutnya dia tempelkan di samping dadaku.
"Rasanya tentram ada yang menemaniku hari ini. Kamu harus ketempat les jam 4 ya hari ini?"
"Kelasku selesai Jam 5, paling tidak perjalanan kesana perlu satu jam karena aku tidak mau terlambat"
"Sisa satu jam"
"Mana laptopnya....? Aku mau periksa sahamnya hari ini"
"Nanti saja.......!" katanya tangannya berhenti mengelus elus dadaku.
"Ganti posisi...dari tadi kakiku ketindih!" kataku sambil mengubah posisi menghadap kearahnya. "Gantian aku yang peluk!"
Tanganku melingkari tubuhnya,
dadanya menempel didadaku sementara wajahnya sembunyi dileherku. Hembusan nafasnya membuat leherku terasa hangat ditengah dinginnya AC yg bertiup dari sebelah atas kepala.
"Maaf ya..tadi aku cubit terlalu keras"
"Iya..mau berapa kalikah mau minta maaf?"
"Aku menyesal tapi gemes!"
"Hadap kesana..membelakangiku?" kataku memintanya
"Ngga mau...belum puas memandangi kamu"
"Ayolah....aku mau peluk dari belakang"
Dia menggerakkan badannya memunggungiku, tangannya mencari tanganku dan dia lesakkan ditengah dadanya.
"Tentram sekali begini....wanita paling suka
dipeluk seperti ini" katanya seperti bergumam.
Pantatnya menonjol kebelakang bersentuhan dngn batangku secara langsung.
Saat dia bergerak, pasti terasa gundukan batangku menonjol menempel bagian daging pantangnya. Celana yang dia pakai terbuat dari kaos agak tebal dengan potongan
agak tinggi sehingga terasa sekali pancaran kehangatan tubuhnya. Aku naikkan kakiku menindih kakinya.
"Ada yang keras mengganjal di pantatku" katanya sambil bergurau "Hangat lagi....!"
"Sudah....itu gula-gula, jangan dihiraukan!" kataku
Aku menyibakkan rambutnya dan mendekatkan
hidungku ketengkuknya. Bibirku mengecup kulit belakang lehernya
"Kamu bikin aku merinding..!" katanya begidik
"Berarti minta lagi....?" kataku mengulangi kecupan dibagian belakang lehernya.
"Ooohhhh..! kamu nakal kalau kamu teruskan!"
"Suka nakal atau diam..?"
"Nakal!" sahutnya
Tanganku yang dia pegang diantara dua gundukan aku tarik dan kubuka telapak tanganku untuk meraup salah satu gundukan dagingnya.
"Oohhhh....Kamu mau apa?" katanya kaget dengan keberanianku.
Aku tidak menjawabnya, mulutku mengecupi lehernya yang samping, lidahku menjulur menyapu
sambil menekan kekulit lehernya dengan lembut. Sementara tanganku terus mengelus elus dan meremas payudaranya, jariku terkadang melingkari ujung putingnya yang telah mengeras.
"Ooohhh......oghhhh.... lama aku tak merasakan ini!" desahnya "Terussss......sayaang!" katanya pantatnya
dia gesek-gesekkan kebelakang, mengenai batangku. Mulutku sibuk mengecupi daging lehernya, terkadang aku sedot lirih supaya tidak menimbulkan cupang.
Aku memasukkan tanganku kedalam kaosnya dari bagian bawah dan masuk naik merayap menyentuh buah dadanya yang telah mengeras.
"Kamu memang nakaaaaalll sayaaaang..!" erangnya
Jari telunjukku dan jempolku bertemu diujung putingnya memilin milin pelan sambil menikmati desahan mulutnya.
"Aku ingin dicupang di dada..!" katanya memohon
Aku mengangkat ujung kaosnya dan menaikkan untuk melepaskan dari tubuhnya
Tubuhnya menggeliat membantuku untuk melepas kaosnya. Tubuhnya berbau harum walaupun aku tahu dia belum mandi. Aku menarik kesamping tali BH berwarna biru muda yang dia pakai. Ujung puting menyelinap keluar setelah kedua tali terlepas dari pundaknya. Dengan rakus aku hisap salah
salah satunya pelan dan panjang sambil menariknya seolah bayi yang sedang memainkan puting ibunya.
Tangannya meraih kepalaku mengelus sambil mendesah desah......."Ooh sayang.......agggghh" nafasnya tersengal. Tanganku meraih puting satunya dan memilin perlahan. Mulutnya mengecupi
pipiku dengan nafas tertahan pelan.
"Terus sayang....terussss...teruss...ooh! Kamu punya kondom tidak....?" tanyanya dengan suara ragu-ragu
Aku menggeleng....
"Aku beli kondom nanti supaya kalau kamu datang kita bisa bersatu. Hari ini jangan dulu" katanya
"Bisa tahan?" tanyaku
dalam hati.
Aku melepas mulutku dari putingnya dan menghisap bagian samping teteknya untuk membuat cupang. "Hisap bagian atas sini" katanya sambil jarinya menyentuh bagian ketiak mulusnya. Mulutku dengan buas mengarah kesana dan menghisap kulitnya.
Tubuhnya menggelinjang kekanan
dan kekiri. Aku berlutut disampingnya tanganku menjulur keselatan kebawah titik pusarnya. Jariku menyelinap masuk melalui karet yang menahan celana pendeknya.
"Ooohhhhhh.........aaaggghhhhhhhhh!" erangnya memanjang saat jariku menempel lobang memeknya.
"Oohhh...awas....keluar!"
Seperti semburan air kencing yang keluar dari lobang memeknya, tanganku basah dan celana yang dia pakai juga basah kuyup. Sementara pinggulnya bergetar liar, mulutnya mencari mulutku dan menghisap lidahku kedalam rongga mulutnya. Tangannya memegangi tanganku dan menekannya kearah
memeknya. Aku ingin menariknya tapi nampaknya dia merasa perlu tanganku disana. Aku menggosok pelan permukaan memeknya tetapi justru menarik trigger orgasme baru.
"Aaaaaaampunnnnnnn...!" erangnya "Ooohhhhh!"
semburan kedua muncrat lagi, airnya terasa lebih kuat dari yang pertama
"Ambilkan handuk yang kamu pakai tadi.....!" katanya setelah mereda
Aku beranjak dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi dimana aku gantung handuk putih yang aku pakai.
Aku memberikan handuk kepadanya menarik lepas celananya, dengan mengangkat pantatnya dia membantuku
mempermudah melepaskannya.
Pemandangan bening lobang memeknya pink dengan bibir indah yang masih rapi dan berkulit bersih.
Aku meminta handuknya untuk membantu mengelapnya, tapi tanganku ditepis.
"Jangan masih sensitive, bisa keluar lagi kalau tidak hati hati"
Air yang muncrat
dari memeknya tidak berbau. Tidak seperti air kencing yang berwarna kuning. air yg keluar berwarna putih cair dan tidak lengket.
Mbak Citra menaruh handuk yg kuberikan untuk menutupi bagian pinggang kebawah. Dia berusaha mengatur nafasnya yang terengah engah.
"Pantas cik Anneke
suka sama kamu, karena kamu pintar" bisiknya disela sela nafasnya. Aku berbaring disampingnya tangannya kembali memelukku.
"Hausku terobati......!" tangannya meraba gundukan batangku dari luar celana dalam. Dia memegangi dengan gemas. Tangannya menyelusup masuk dan memegang erat
batangku yang kekar dan kokoh"
"Ooohhh....." serunya lirih tangannya mencengkeram batangku dengan gemas. Dia genggam dan kocok pelan hingga keujung kepala batangku.
"Sudah hampir jam....." bisikku ke telinganya
Dia menengok kearah jam dinding digital dengan angka merah menyala.
"Hari ini jangan pergi les ya......disini saja sama aku" katanya memohon. Wajahnya melas terangsang dan penuh permintaan. "Sekali ini saja ya...!?" tangannya menurunkan celana dalam dengan karet yang ketat.
"Celanamu terlalu kencang dan agak kekecilan, kamu jangan pakai lagi ini
tidak baik untuk aliran darah. Nanti kucarikan yang lebih baik dengan bahan yang bisa menyerap keringat dan karet yang bagus" katanya
Aku mengangkat pantatku meliukkan pinggulku guna membantunya melepas celana dalamku. Aku mengangkat kakiku & mengeluarkannya dari lobang celana.
Seperti orang sedang kelaparan, mulutnya mendekat kebatangku dan menyosor batangku.
"Batangmu punya aroma kejantanan......." katanya sambil memandang kearah mataku.
"Kejantanan ada aromanya ya...? Baru tahu aku...!"
"Iyaaaa....hanya betina yang bisa mendeteksinya"
Dia masukkan
batangku kedalam rongga mulutnya dan dengan pelan menghisap panjang. Lidahnya dia putar-putar disekitar lobang kepalaku.
Sementara tangannya memegangi bola-bolanya.
"Jangan diremas bolanya.....bisa mati aku" kataku memperingatkan
"Aku tahu sayang......!"
Aku mendorong kepalanya
dengan agak cepat, aku raba teteknya dan meremas remas lembut putingnya.
"Sudah.....!" katanya "Sudah puas....!" wajah cantiknya nampak sange dengan lipatan mata menebal bagian kantong matanya. Dia berbaring disampingku. Dia menarik tubuhku keatas untuk menindih tubuhnya.
"Jangan keluar didalam..." bisiknya
"Kenapa banyak rambu-rambu yang harus dipatuhi..?"
kataku protes
"Rambu-rambu memang harus dipatuhi supaya langgeng"
"Rambu-rambu dibuat untuk dilanggar supaya nikmat"
"Hahahahahaha......! Dasar badung!"
Aku menindihnya "Badanku berat?" tanyaku
"Tidak....." mulutnya mencium bibirku. Terasa haus dan lapar dan ingin dipuaskan.
Tangannya memegang batangku dan membantu mengarahkan batangku kelobang nikmatnya.
Perlahan aku turunkan badanku, batangku amblas perlahan masuk kedalam. Aku menarik lagi dengan mengangkat pantatku
mendorong lagi hingga masuk paling dalam. Pinggulnya meliuk, mulut kami berpagutan, lidah kami bertautan dengan nafsu dan birahi. Erangan dan goyangannya memicu nafsuku. Suara pertemuan selangkangannya dan batangku memicu suara tepukan berulang ulang.
"Ooh sayaang..ohh sayaang!"
Mulutnya megap megap....
"Teruussssssss......terusssss.....terussss.....goyangannya makin liar. Tusukanku kedalam rongga vaginanya makin keras dengan kecepatan maksimal.
"Cabuutttt.......!" teriaknya tiba-tiba
Aku mengangkat pantatku dan semburan dari memeknya kembali meluncur.
Aku masukkan lagi setelah reda, aku genjot lagi dan mimik wajahnya seperti menahan lagi.
"Caaaabuuttttt......!" teriaknya sambil pinggulnya gemetar berguncang. Mimik wajahnya terlihat rupawan saat orgasme mengguncang.
Aku merasa capek berada diatas dengan menahan tubuhku dengan
siku tanganku. Aku berguling kesamping tubuhnya dan mengangkat satu kakinya, aku telusupkan batangku dari belakang dan tangannya kembali membantuku untuk mengarahkannya. Tanganku meraba raba memeknya dengan leluasa sementara batangku menusuk-nusuk masuk.
Rangsangan ke klitorisnya
yang memicu air orgasmenya keluar. Aku raba berulang ulang hanya kali ini aku tidak mencabut saat dia teriak. Batangku seperti dibasuh air hangat yang menyumber keluar dari memeknya. Guncangan pinggulnya saat dia orgasme memicu rasa nikmat dikepala batangku.
"Aku mau keluar..!"
teriakku ditelinganya.
"Jangan...jangannnn...jangannn keluar"
"Spermaku sudah diujung, tusukanku semakin kencang. Birahi tak terhalang, payudaranya berguncang guncang saat tusukanku kedalam vaginanya keluar masuk dengan kencang. Aku cabut batangku dan kusorongkan keatas, sambil
mengocoknya cepat. Mbak Citra memandang kearah bawah dimana batangku terlihat dari posisinya. Semprotan pertama muncrat keatas dgn teriakannya yang terlihat kaget, spermaku menempel di perutnya. Tangannya mengoleskan sperma keseluruh permukaan kulitnya. Dia duduk dan mendekatkan
wajahnya kearah batangku. Dia kembali memasukkan batangku kedalam mulutnya. Dia hisap keras sehingga batang kepalaku terasa ngilu.
Tanganku menarik kepalanya. "Suddaaah.....ngilu dan geli" kataku
Dia tidak melepas batangku, tapi membiarkannya mengecil didalam rongga mulutnya.
Aku bangkit setelah beberapa menit terkapar oleh lelah setelah berhubungan badan. Aku menarik tangannya, untuk kekamar mandi membersihkan diri.
"Aku ngantuk lagi...!" katanya manja
"Ayo cuci-cuci dulu baru kembali tidur..!"
"Gendong......?"
"Aku juga capek, aku tuntun saja ya?"
Dia berdiri dan terlihat loyo, aku rangkul tubuh telanjangnya dan menyiraminya saat di kamar mandi.
"Aku mau mandi sekalian....!" katanya memberitahuku
"Ya sudah....aku juga mau mandi lagi"
Sifat manjanya membuat aku kerasan, aku dibuat seperti sangat dibutuhkan dalam hidupnya.
Tangan lembutnya menyabuni tubuhku mengeringkan badanku saat kami telah selesai mandi.
"Masih ada waktu, aku berangkat ke Primagama ya?"
"Tidak.......hari ini saja. Aku tidak mau ditinggal dulu"
jawabannya agak keras tapi nada manjanya yang bikin aku tidak tega. Aku mengalah.
Tangannya dengan cepat meringkasi tempat tidur dan mengeringkan air yang keluar dari memeknya. Seprei yang basah dia ganti dan memintaku segera berbaring setelah selesai menggantinya.
"Ngga usah dipakai celana dalamnya......! Berbaring saja disitu dan pakai selimut supaya tidak
kedinginan"
"Aku harus pulang jam 8" kataku
"Iya.....nanti aku bangunin sebelum jam 8 malam"
Aku tertidur pulas setelah berbaring sesaat, aku bangun kurang lebih pukul enam sore.
"Mbak Citra tidak berada di kamar saat mataku terbuka. Kamar dalam keadaan temaram, cahaya matahari
telah meredup, suara burung sore yang berkicau hendak pulang kesarangnya terdengar riuh. Aku mencari HP ku yang tadi ada di kantong celana sekolahku. HP kutemukan diatas meja sementara celana panjang telah raib. Aku melihat dan memeriksa telepon masuk, sebuah nomor telepon tak
dikenal meneleponku sekitar setengah jam lalu.
Aku meneleponnya balik, ternyata peneleponnya adalah calon guru yang akan mengajar di Panti Asuhan. Dia memperkenalkan diri bernama Rosminten asal Blitar sekarang sedang menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiya yang kebetulan
kampusnya dekat panti asuhan tersebut. Kamu bicara panjang lebar dan berjanji ketemu di Panti Asuhan besok pagi. Saat kami berbicara di telepon, mbak Citra membuka pintu dan masuk kedalam kamar. Celana dan baju seragamku berada ditangannya dalam keadaan telah disetrika. Saat aku
menutup telepon Mbak Citra bertanya siapa yang menelepon. Aku memberitahu tentang rencana yg akan aku lakukan besok. Tadi ada miscall & aku telepon balik, ternyata calon guru yang akan mengajar di Panti Asuhan.
"Ada Sesi foto-foto lagi di tepi sawah?" tanyanya, ada candaan tapi
terdengar juga nada cemburu yang menyertai candaannya.
"Ngga ada kecuali Mbak Citra yang jadi modelnya?" kataku membalasnya.
Dia menaruh bajuku di meja samping tempat tidur. "Sudah di cek hasil trading hari ini?" tanyanya
"Aku baru bangun terus ngecek hpku." jawabku
Aku berdiri
dengan menggenggam batangku supaya tidak bergantungan berjalan ke kamar mandi untuk buang air kecil. Aku basuh dengan air hangat supaya tidak bau kencing batangku.
Dengan masih menggenggam batangku, aku berjalan keluar mencari handuk yang aku pakai tadi.
"Cari apa.....?" tanya
mbak Citra sambil melihat tanganku yang menggenggam batangku.
"Handuk.....!"
"Ambil handuk baru di lemari atas itu...!" katanya sambil menunjuk
"Ambil saja yang warna biru muda, ukurannya agak kecil"
Aku membuka lemari dan mencari handuk sesuai warna yang diberitahukan. Setelah
mengelapnya aku menggantung handuknya di gantungan handuk didekat pintu kamar mandi. Aku mengambil laptop & memeriksa hasil transaksi trading hari itu. Masih ada tersisa 100 lot saham BBRI sdang saham lainnya telah terjual habis. Ada tambahan keuntungan 32 juta dari hasil trading
"Total profit hari ini adalah 39 juta, masih ada saham BBRI 100 lot bisa dijual hari senin bila harga baik"
Aku kembali taruh laptopnya di meja dan mencari celana dalamku.
"Cari apa lagi.....?" tanyanya
"Celana dalamku....."
"Tunggu ...belum kering!"
"Di luar ada siapa mbak?"
"Tidak ada....! Kenapa?"
"Siapa yang mencucikan baju seragamku?"
"Aku tadi cuci dan keringkan sekaligus saat kamu tidur. Aku setrika sekalian tapi celana dalammu terbuat dari bahan kaos agak tebal jadi belum kering.
"AC nya tidak bisa disetel suhunya kah? Aku kedinginan"
"Tidak bisa, ini sudah 27 derajat. Sembunyi lagi situ dibawah selimut"
Matanya masih tertuju pada gantungan yang ada di selangkanganku. Saat aku kembali berbaring, dia ikut duduk dikasur disampingku.
"Aku mau ikut ke Panti Asuhan besok boleh?"
"Boleh....tapi tak bisa semobil"
"Kenapa?"
"Aku bawa barang banyak, aku sudah belanja kemaren setelah pulang dari sini."
"Ya sudah ngga jadi kalau begitu...! Tapi kamu jadi kesini lagi besok toh?"
"Iya kan janjinya jam 4" godaku
"Tidak....jam 2 janjinya!" katanya sambil merebahkan badannya di kasur, tangannya
meraih pipiku, menepuk nepuk beberapa kali.
"Kamu harus potong rambut, modelnya diganti jangan seperti ini lagi"
"Memangnya kurang bagus ya?" tanyaku
"Bagus sih...tapi kurang tepat. Besok waktu kamu datang kesini ada hair stylist langgananku yang akan potong kamu"
"Terserah"
"Iya.....terserah aku toh? Nanti aku minta hairstylist merancang supaya kalau rambutmu panjang tidak kumel seperti ini." jari-jarinya memegangi rambutku, sentuh tangannya menentramkan jiwa mudaku.
"Jadi waktu aku tidur tadi, Mbak Citra cuci bajuku sama setrika?"
"Iya ...kenapa?
"Tidak capek.....? Kenapa tidak suruh pembantu yang mengerjakan?"
"Kan harus segera selesai..." katanya
"Memang bisa langsung selesai nyucinya?"
"Aku punya mesin cuci sendiri, dryer sendiri. Setelah dicuci langsung dikeringkan dengan mesin satunya"
"Kenapa sih harus dicuci....?"
"Aku mau melihat kamu terlihat bersih dan rapi. Lihat bajumu sekarang terlihat lebih putih" katanya menunjuk baju seragamku yg telah dia cuci.
"Pakai apa supaya bisa bersih begitu..?"
"Ada sabun khusus untuk baju putih, dan tehnik pencucian juga harus khusus"
"Mbak Citra capek?"
"Tidak.....kalau kamu peluk. Sini peluk aku"
Aku bergeser mendekati tubuhnya, melingkarkan tanganku untuk merengkuh tubuhnya.
Aku memposisikan diri dibawahnya dan memeluk tubuhnya dengan kepalaku berada didadanya.
Payudara yang menggelembung didepanku terasa empuk dan melekat di
wajahku. Tangannya mengelus-elus kepalaku lagi sambil mendekapku didadanya.
Bibirku mencari cari dan menggigit gigit putingnya. Dia menghindar dengan memundurkan dadanya saat bibirku menembukan tonjolan yang terlihat dari luar kaos yang dia pakai. Aku mendorong tubuhnya dari
punggung sehingga dia tdk bisa menghindar saat aku menemukan ujung pentilnya. Nampaknya dia tidak kehilangan akal, dia mendorong kepalaku sampil menepis mulutku dengan telapak tangannya.
Aku melepas tanganku yang mendorong punggungnya untuk mencengkeram tangan yg menepis mulutku.
"Weeeeeiiiiiii......tungguuuuuu....!!!" katanya menjerit. "Kamu terlalu kuat......aku tidak bisa menahanmu hahahahah. Jangan perkosa akuuuuu ampuunnnn!" tubuhnya menggeliat saat tanganku memakunya diatas kasur.
"Sudah sayaaangg....sudaaaahh!" katanya dengan tidak berdaya. Aku
menindihnya dan melepas tangannya. Mulutku mencium bibirnya sementara tangannya memeluk tubuh telanjangku dengan erat.
"Sini aku buat cupang di dadamu" kata Mbak Citra
Aku merendahkan dadaku diwajahnya dan bibirnya mengecup pelan dan menghisap kulit disamping putingku. Tanda
merah hasil cupangnya terlihat jelas.
"Kenapa bisa tandanya begini jelas?" wajahnya nampak cemas.
"Coba cupang yg aku buat tadi bagaimana?" tanyaku
Dia menarik keatas ujung bawah kaosnya & terlihat bagian atas kulit payudaranya terlihat merah muda bekas kecupang.
"Kulitmu tipis
mudah memar" katanya
"Aku mau bikin yang lebih merah" kataku sambil mendekatkan bibirku kekulit dekat ketiaknya.
"Aku geliiiii...jangan disitu" katanya sambil menghindar.
"Dimana.....mau dibikin?" tanyaku
"Di bawah pusar.....!" katanya sambil menunjukkan tempat dimana aku harus
menghisapnya.
Saat aku baru saja menempelkan bibirku, tangannya telah memegang kepalaku. "Oooogghhh geli..!
Geliiiiiiii sekali....sayang Sudah jangan dipaksa aku nanti bocor lagi. Aku tidak mau mengganti sprei lagi"
"Sudah disini saja...di tetekku" katanya sambil tangannya
mengangkat BHnya. Tetek gemuknya menyembul dengan puting pink khas tetek keturunan China.
Dia menggunakan tangannya untuk menggenggam susunya dan menyorongkannya kemulutku. Seperti bayi yang sedang lapar, aku sedot putingnya dan menjilatinya hingga mengeras. Tangannya mengelus
elus wajahku. "Kamu makan dulu disini ya sebelum pulang nanti. Ibu sudah masakkan sup Tom Yam"
"Aku tidak lapar, aku mau nyusu saja sampai jam 10"
"Hahaha susuku langsung nyonyot dagingnya"
ketawanya terdengar seru. "Muach..muach.! batangmu sdh berdiri lagi?"
Aku menganggukan
kepalaku.
Mau dikeluarkan lagi?"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Kamu jangan pulang malam ini ya?"
Aku tertawa mendengar permohonannya. "Besok masih ada hari, kita bisa ketemu lagi"
"Aku tidak mau ditinggal........!" katanya mengiba
"Besok saja aku menginap.....!"
"Bisa...?"
"Biasanya sih bisa......asal aku melapor kepada ibu."
"Iya ....ya...kamu pamitan pada ibu bahwa kamu akan menginap. Aku siapkan makanan enak besok."
"Aku nanti tinggal saja kaosnya disini. Supaya bisa dicuci dan dirawat. Harganya terlalu mahal, kalau dicuci biasa molor2x nanti"
Bunyi intercom menyela bincang-bincang kami. Mbak Citra menjawab panggilan intercom dan mengajakku makan malam.
"Mbak Citra .....ambilkan celana dalamku dulu"
"Kamu disini saja, aku bawakan makanmu disini."

Dengan menggunakan baki, mbak Citra membawa masuk beberapa piring dan
mangkok serta nasi. Dia harus mondar mandir beberapa kali sampai semua makanan yang dibuat terhidang di atas meja kamar itu.
"Makanannya selalu enak begini, bisa bikin gemuk dan malas keluar" kataku memuji
"Enak ya..... jangan pulang disini saja"
"Seandainya bisa begitu...?"
"Daging sapi yang dimasak bacem terasa sangat enak, kamu coba gih...?" tangannya menjulur dan dengan garpu dia menusuk dan menaruhnya dipiringku.
"Jangan terlalu banyak makan nasinya, makan sup dan dagingnya yang banyak"
"Iya...cukup sudah ini. Aku langsung pulang ya setelah ini"
KUNJUNGAN KEDUA KE PANTI ASUHAN.
Dengan bantuan mobil bapak, kami akhirnya bisa membawa bingkisan alat tulis dan makanan ringan yang kami telah bungkus dan masukkan kedalam tas-tas sekolah dengam gambar tokoh-tokoh Marvel ke Panti Asuhan. Koordinasi dengan Bu Warni, Kepala Panti Image
kunjungan kami terbilang sukses. Para calon guru yg akan mngajar jg terlibat saat pembagian bingkisan. Saat anggota panti menerima, mereka diminta untuk satu 2x naik ke panggung yg mereka biasa gunakan untuk acara spt ini. Wulan mndapat pengalaman manis saat kunjungan pertamanya.
Saat kami baru masuk kedalam lingkungan Panti Asuhan, sambutan paduan suara yang aku dengar saat kunjungan pertamaku dengan Cik Anneke kembali terdengar. Para calon guru yang berjumlah 4 orang terkesima dengan semangat anak-anak menyanyi dalam penyambutan. Wulan melihat seoran
anak perempuan sekitar 4 atau 5 tahun yang bernama Intan. Dengan memakai baju yang sangat sederhana, tatapan ke arah adikku, Wulan tidak pernah berkedip. Binar matanya seperti binar Intan yang cemerlang. Wajahnya bulat dengan mimik manis dan bersahabat penuh harap. Tangannya yang
mungil selalu bertepung tangan saat menyanyi.
"Mas..aku ingin membawa adik itu pulang" katanya iba. Rasa ibanya sangat besar dan tangisnya tak terbendung melihat Intan dengan wajah rupawan memandanginya penuh harap.
"Kamu bisa merawatnya?" tanyaku "Kamu harus bicara dengan ibu"
"Membawa anak pulang dari Panti Asuhan memang baik dan besar pahalanya. Namun itu berarti sebuah tanggung jawab yang tak akan lepas dari kita. Kita harus memberi dan mencukupi semua kebutuhannya baik kebutuhan jasmani dan kebutuhan rasa aman."
"Aku mau telepon ibu sekarang"
Wulan memberitahuku. Dia beranjak dari tempat pertemuan itu dan menelepon dengan handphonenya.
Tidak kurang akal saat mengetahui bahwa tidak ada jaringan operator langganannya, dia menggunakan telepon koin yang tersedia ditembok luar Panti Asunan.
Acara pembagian bingkisan
berlanjut setelah aku berbicara diatas panggung memberitahu anak-anak tentang program kursus matematika & Bahasa Inggris yang akan segera dimulai Bulan Maret. Aku meminta mereka untuk belajar giat dengan motivasi tinggi supaya kakak2x pembimbing senang & puas. Menerima bingkisan
dari kami anak-anak tidak hanya merasa senang, mereka juga antusias saat tas yg mereka terima berisi makananan ringan dan alat tulis. Ibu Warni, seorang kepala Panti yang tegas dengan jiwa kepemimpinan yang kuat. Saat pembagian, anak-anak selalu memilih warna dan tokoh Marvel
yang mereka idolakan. Kami tak bisa memenuhi permintaan mereka memilih yang mereka suka dan mau. Tentu saja anak menangis dan merasa tidak puas, hanya dengan tatapan dan wajah tegasnya. Anak-anak sadar apa akibat bila mereka tetap menangis dan merajuk. Mereka menerima apa yang
kami bagikan tanpa menggerutu. Dengan jumlah anak asuh sekitar 80 orang anak, Ibu Warni termasuk seorang teladan dan pemimpin yang layak diberi penghargaan. Aku juga telah menyiapkan bingkisan untuk beliau & beberapa orang yang mengasuh dan menjaga anak-anak ini. Kami berbincang
bincang di ruangan Kepala Panti bersama kakak2x pengajar serta meminta bantuannya mengkoordinasi tempat dan waktu supaya proses mengajar anak-anak lancar.
Wulan masuk kedalam ruangan dan duduk disebelahku, wajah sedih saat menangis karena rasa iba yang besar telah sirna. Ibu akan
menelepon Ibu Kepala Panti untuk membicarakan prosedur pengangkatan anak asuh." katanya berbisik kepadaku.
"Ibu Warni, bolehkan saya berbicara dgn adik Intan?" tanya Wulan saat pembicaraan tentang kursus tlh berakhir.
"Intan..? Rupanya suka dan jatuh hati sama si kecil itu ya?"
"Iya ibu......" jawab Wulan dengan sopan.
Ibu Warni berbicara dengan salah satu staffnya untuk memanggil Intan. Beliau juga meminta seorang staff lain untuk membawa para calon guru melihat kelas yang akan digunakan untuk kursus. Nampaknya para guru-guru muda ini sangat antusias
untuk segera memulai kursusnya. Seperti seorang pendekar yang barus saja menyelesaikan latihannya di puncak gunung, saatnya dia mempraktekkan ilmu kanuragan yang dia telah pelajari.
Para guru-guru muda ini juga antusias untuk berbagi ilmu dan pengetahuan dengan anak-anak Panti.
Intan datang dan sambil senyum kepada kepada kami. Dia menghampiri Ibu Warni dan mencium tangannya dengan sopan. Lalu pandangannya dia lempar kearah Wulan, dengan agak malu dia mengucapkan "Mbak nama saya Intan".
Wulan merasa ibanya kembali muncul, dia tidak bisa menahan haru dan
dia ulurkan tangannya kearah Intan. Seperti paham isi hati Wulan, Intan mendekat kearahnya. Wulan melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh mungilnya. "Kenapa Mbak menangis....?"
Mendengar pertanyaannya, tangis Wulan makin pecah. Tak disangka anak sekecil ini mampu hidup
tanpa kasih sayang dan cinta yang cukup dari kedua orang tua kandungnya.
Isak tangis Wulan agak panjang, Intan yang dipeluknya hanya diam dan membalas pelukan Wulan. Tangan kecilnya memegang jari telunjuk Wulan.
Ibu Warni nampak paham dengan situasi seperti ini, beliau hanya
tersenyum karena pemandangan seperti ini sering terjadi apabila ada kunjungan dari para dermawan & pendonor.
"Adik saya Wulan tadi berbicara dengan ibu saya, beliau ingin menanyakan prosedur adopsi Intan" kataku
"Oh...begitu?" katanya agak kaget "Boleh ..nanti saya akan siapkan"
"Anak yatim harus disantuni, anak miskin harus di tolong, anak yang kurang beruntung harus di bantu. Yang berkekurangan harus di beri supaya bisa mandiri dan membantu yang lain" kata2x bapak terngiang saat aku meminta ijin meminjam mobil boxnya.
Para guru kembali masuk keruangan
Kepala Panti dan berbicara tentang program yang akan mereka lakukan. Nampaknya guru yang akan mengajar Bahasa Inggris tidak hanya dua, mungkin bisa lima atau enam karena banyak relawan yang antusias untuk membantu mengajar. Metode yang mereka ingin terapkan adalah outdoor class
terinspirasi dengan kegiatan di kampung Inggris Pare, Kediri. Aku cukup kaget dengan antusias mereka, nampaknya bukan sisi finansial yang ingin mereka kejar tetapi sisi menyumbangkan ilmu dan pengetahuan.
Ibu Warni juga terkejut dengan rencana mereka. "Wah koordinasi harus bagus
supaya berhasil." kata beliau.
"Kami mohon bantuan ibu serta bimbingannya, doa dan dukungan ibu supaya program ini berhasil juga kami harapkan" Kata Mbak Yani mahasiswa jurusan matematika yang terlihat cerdas.
"Iya..tentu kita akan selalu komunikasi supaya program ini berhasil"
"Berapa lama program ini berlangsung?" tanyaku
"Kita akan membaginya beberapa level, level dasar 1 sampai 5 semua sudah terprogram dan nanti rencana pengajaran akan saya lampirkan disetiap laporan kepada Mas Arjuna" kata Mbak Yani lagi, nampaknya dia yang paling tegas untuk
dalam memimpin kelompok mahasiswa ini"
"Wah kalau begitu kita harus bikin kaos seragam, supaya makin semangat belajar mengajarnya. Kira-kira perlu cetak kaos tidak?" tanyaku memberi ide.
"Boleh......kami sudah siapkan nama kursusnya."
"Waaahh koordinasi kalian memang hebat" seru
Bu Warni. "Apa nama kursusnya nanti.....?"
"Jaten English Conversation Club atau JECC, tidak ada kata Panti Asuhan disini supaya tidak memberi kesan negatif." Kata Mbak Ratna dengan senyum khasnya.
"Baik...coba di carikan tukang kaos dan mengukur ukuran masing-masing anak supaya
bisa pas dan menarik. Para pengajarnya harus punya seragam juga ya supaya kompak dan semangat" kataku
"Siap......dengan dukungan Mas Arjuna, kami siap bergerak cepat"
Setelah beberapa saat kami berbincang-bincang, kami akhirnya meminta ijin untuk meninggalkan tempat. Wulan dan
intan nampaknya seperti kakak adik yang tak terpisahkan. Mereka sedang berjalan-jalan disekeliling lingkungan Panti saat kita selesai berbincang-bincang.
Mbak Yani sempat meminta ijin berbicara denganku berdua, selain meminta nomor telepon dia ingin memastikan anggaran pembuatan
kaos tersedia saat informasi harga kaos ada.
Aku meyakinkan bahwa uang ada & memintanya untuk tidak khawatir. "Kami ikhlas membantu dan senang bisa terlibat program ini Mas Arjuna. Kami seperti diberi tantangan utk berkreasi"
"Baik mbak..silahkan beri kabar bila ada permintaan"
Mbak Yani dan temannya meminta ijin setelah kami berbicara, dengan mengendarai sepeda motor mereka masing-masing mereka meninggalkan Panti Asuhan.
Wulan memberi Intan sebuah pelukan saat mereka harus berpisah. Disaksikan Ibu Warni, kami meninggalkan tempat & berjanji untuk terus
berkomunikasi dan menjali silahturahmi.
"Mas.....apa kira-kira bisa adik Intan kita asuh?" tanyanya
"Kita harus berdiskusi dengan ibu sebelum memutuskan untuk mengasuh seseorang. Tidak bisa gegabah karena ini menyangkut nyawa seseorang dan tanggung jawabnya tidak kecil."
"Aku
kasihan saat melihat Intan pertama kalinya. Pandangannya menghujam ke hatiku seperti mengetuk ngetuk untuk membawanya pulang. Aku ingin memeluknya, membawanya pulang & melimpahi dengan kasih sayang. Aku tidak tega meninggalkannya, sorot matanya selalu kearahku seperti menantiku
lama hingga aku merasa akulah yang dinantikan selama ini untuk memeluknya." tangisannya kembali muncul dan haru aku mendengar isak tangisnya yang tulus.
"Iya..aku bantu meyakinkan ibu, apalagi aku akan segera berangkat ke Singapore pasti ibu akan kesepian bila rumah kosong tanpa
aku. Tapi apa kamu kira kira bisa membantu ibu mengurusinya?"
"Kadang aku juga kesepian, saat masih ada Mbak Elvira aku punya teman yang kuajak bicara. Sekarang mbak Vira sudah kembali ke Jakarta, rasa sepi sering datang. Kalau ada adik Intan mungkin bisa mengurangi rasa sepi itu
Kasihan juga ibu sering sendirian saat aku pergi les atau sedang persiapan ujian. Mungkin dengan adanya adik Intan, ibu juga ada hiburan." kata Wulan menjelaskan
Kami berhenti di Holland Bakery dan mengajak Wulan untuk ikut turun supaya bisa memilih apa yang dia inginkan. Saat
kami berada didalam toko, Iphoneku menyala. Mbak Citra menanyakan apakah aku masih berada di Panti Asuhan. Aku bilang bahwa aku berada di Holland Bakery and bertanya apakah ada yang dia inginkan.
"Jangan belikan aku apa-apa, dan jangan makan apa-apa. Langsung kesini saja aku
sudah sediakan makanan" katanya memberitahu. "Cepat kesini yaaang"
"Iya aku sedang tunggu adikku memilih"
Wulan nampaknya membeli cukup banyak makanan. Dia mengambil beberapa pudding kismis yang dia sukai dan beberapa roti coklat serta roti sobek.
Aku membayarnya segera setelah
kasir memberikan kwitansinya kepadaku. Kami keluar dengan 3 kardus penuh makanan.
"Kamu beli untuk siapa saja?" tanyaku
"Aku mau memberikan kepada Zhōngwén lǎoshī, dia orang baik mau mengajariku dengan sabar. Aku juga mau memberi tetangga sebelah karena sering membantu ibu"
"Mas.....hari ini kamu mau kemana?" tanya ibu saat kami sampai dirumah.
"Hari ini aku mau training saham bu, mungkin agak malam pulangnya. Ada apa bu?" tanyaku
"Kamu ini sekarang jarang dirumah, kamu sudah mau pergi kuliah di tempat yang jauh. Waktumu kamu habiskan diluar begitu
lama sementara untuk ibu kau tidak sisakan."
"Besok malam aku mau ajak ibu makan, beritahu bapak supaya bapak cepat pulang untuk makan malam bersama"
Ibu tersenyum mendengar ajakanku "Aku senang kamu ini pintar bergaul, pintar menyenangkan hati orang. Kamu mau kemana sekarang?"
"Aku janji sama boss di Baki."
"Baki....kok jauh sekali, kamu tahu jalan kesana?"
"Saya pernah kesana bu, hanya saja kalau nanti selesainya agak terlambat aku lebih baik menginap"
"Ya tapi janji besok jadi ajak ibu dan bapak pergi makan malam bersama? Kamu tidak ajak Naira?"
"Tidak bu, aku tidak cocok sama dia"
"Kenapa tidak cocok?"
"Prinsip kami berbeda, aku tidak suka prinsip hidupnya"
"Tapi apa kamu putus komunikasi juga?"
"Iya bu.....bikin berat kalau narik terus" kataku
"Ya sudah...jangan sampai kamu menyakiti hati wanita, itu tidak baik"
"Bu, aku terlambat janjian kalau tidak pergi sekarang"
"Ya sudah kamu berangkat sana"
Aku berjalan keatas membawa tasku untuk kusimpan di kamar dan berganti baju. Aku juga membawa baju kaos dan celana panjang untuk ganti.
Aku lari turun tangga dan pamitan kepada ibu sebelum
keluar. Mbak Citra meneleponku lagi saat aku berada Pasar Gading.
"Hairstylistnya sudah datang, dia sedang nunggu kamu" kata Mbak Citra
"Iya..aku sudah dekat mungkin 30 menit lagi. Jalanan agak macet."
"Kenapa lama sekali..?"
"Kalau tidak bisa nunggu suruh pergi lain kali
datang lagi?"
"Tidak bisa begitu.....!"
"Kalau tidak bisa, ya tunggu. Aku tidak bisa terbang"
"Iya sayaaaang....jangan marah-marah! Hati-hati dijalan jangan ngebut"
"Okay.....sudah dulu ya, macet sekali" kataku
"See you soon!"
Kota Solo makin macet saat malam minggu tiba.
Khusus hari Sabtu atau akhir pekan, jalanan penuh dengan bis wisata entah ingin membeli batik di pasar klewer atau makan makanan khas setempat. Tourist lokal maupun turis asing selalu ingin mengunjungi keraton Surakarta Hadiningrat. Udara yang panas bikin sesak nafas tetapi spt
tak dirasakan oleh para penarik becak yang sedang mangkal ditepi jalan atau sedang mengayuh becak dengan penumpang diatasnya. Kehidupan warga Solo yang tentram serasa tak pernah ada masalah. Perasaan nrimo ing pandum nampaknya sangat melekat di hati setiap warga. "Urip kuwi ora
usah ngoyo, melu miline banyu"
Aku membunyikan klakson mobilku saat sampai didepan gerbang rumah Mbak Citra. Tapi nampaknya ukuran rumah yang terlalu besar menjadi masalah apalagi pintu rumahnya selalu tertutup rapat.
"Mbak...aku sudah digerbang, tolong bukakan pintunya dong?"
kataku ditelepon
"Oohh...okay"
Pintu terbuka secara otomatis dan aku memasukkan mobilku disebelah kiri sebuah mobil karimun kotak warna hijau metalik.
Dibagian kaca belakang ada sebuah tulisan "Salome Hair Salon". Aku keluar membawa tas laptopku dan berjalan kearah pintu depan.
Pintu terbuka saat aku hampir mengetuknya. Mbak Citra membentangkan kedua lengannya & maju hendak memelukku. Aku yg sedang membawa tas laptop tak bs membalasnya. Pelukannya ketubuhku sangat erat, dia ingin mengangkatku yg tentu saja tak akan kuat.
"Kamu langsung kebelakang saja
Hairstylistnya sudah nunggu kamu dari tadi" Mbak Citra mengambil tas laptop dari tanganku dan membawanya masuk kedalam kamarnya.
Dia menyusulku setelah aku duduk dikursi potong yang nampaknya milik si hairstylist.
"Mmm....kamu mau model seperti cowok-cowok korea?" tanya Wawan
"Bentuk mukamu cocok dengan potongan rambut seperti itu" gerakannya sangat feminine sementara wajah & bentuk tubuhnya terlihat aneh.
Aku tidak banyak cakap dan sedikit menjawab. Dia segera sibuk menggerakkan gunting & memangkas bagian-bagian yang dianggap perlu. #GoPaydiNetflix
Mbak Citra mondar mandir menyiapkan sesuatu di meja makan sehingga dia tdk banyak berbicara saat rambutku dipangkas. Wajahku nampak asing saat rambutku telah dibentuk dengan pola potongan yang berbeda.
"Perlu tiga atau 4 hari untuk penyesuaian dengan style rambut baru. Kamu akan
nampak lebih ganteng dan trendy. Dia memberikan sebuah cermin kepadaku untuk melihat hasil guntingannya. Setelah beberapa saat dia bertanya
"Bagaimana suka tidak?"
"Okay......suka! Bagus...!" kataku saat melihat hasil guntingannya.
"Okay tunggu sebentar, aku selesaikan yang di
bagian belakang." katanya sambil mengambil cermin yang dia berikan kepadaku tadi.
Kembali dia merapikan apa yang dia katakan belum selesai, kali ini dia menggunakan wireless clipper untuk merapikan bagian-bagian pinggirnya. Kulit bagian pinggir terasa bersih saat clippers memang
kas rambut2x yang tumbuh disisi pinggir kepalaku. Sesaat kemudian kembali, dia meminjamkan cerminnya. Dia memegang satu cermin untuk menunjukkan bagian belakang. Aku merasa perutku berteriak lapar dan ingin segera diisi.
"Aku minta air putih..." teriakku saat Mbak Citra lewat.
"Sabar ya sayang...aku selesaikan makanan ini dulu baru kuambilkan minummu"
"Okay...guntingnya selesai..!" kata Wawan. Tangannya sibuk membersihkan rontokan rambut yang nyangkut di kaosku dengan sikat warna coklat. Gerakannya yang gemulai terkadang memicu senyumku.
Dia masukkan
peralatan potongnya dengan cekatan. Tiba tiba terdengar bunyi telepon dari sakunya.
"Halloooo tunggu bosku....aku segera meluncur kesana. Tidak .....sudah selesai. Aku segera kesana"
"Wan...kamu mau ikut makan dulu?"
"Tidak bos....aku sudah ditunggu customer!"
"Berapa...?"
"Seperti biasa saja kali 2.....!" kata Wawan cepat
Mbak Citra memberikan amplop sambil berkata "Lebihnya untuk beli bensin"
"Xie-xie Nǚ lǎobǎn"
"Iya...sama sama. Maaf tadi nunggu terlalu lama ya?"
"Tdk masalah Nǚ lǎobǎn..telepon lagi kalau perlu ya?"
"Thank you...Ko?" kataku
"Sama-sama bosku.... Sudah dulu na?" katanya sambil tersenyum
Aku mengantar Wawan berjalan kearah pintu depan dan menutupnya setelah dia berlalu dengan mobilnya. Pintu terbuka setelah Mbak Citra memencet sebuah tombol yang menembel ditembok. Dengan bantuan kamera yang mengarah
kepintu gerbang dia bisa mengetahui siapa yang datang dan pergi.
Aku loyo karena menahan lapar, Mbak Citra menungguku kembali dengan kedua lengan terbuka saat aku berjalan kearah meja makan.
"Sini sayang....beri aku pelukan hangatmu!"
Aku tidak hanya memeluk, aku mencium pipi
dan bibirnya.
Pelukannya tetap erat seperti tak mau terlepas.
"Aku kangeeeen sama kamu..!" bisiknya
"Sungguh..?"
"He eh..Ayo makan..!!"
Tangannya meraih tanganku dan membawaku ke meja makan.
"Aku lupa bawa celana renang, tadi buru buru.!"
"Ada celana renang bisa kamu pakai.."
Aku duduk dimeja makan yang penuh makanan, ada sate, dan kepiting serta udang yang dimasak sedemikian rupa, yang jelas sangat menggugah selera.
"Jangan terlalu makan nasi banyak2x, makan saja sayur dan lauknya supaya lebih banyak gizi" kata Mbak Citra. Tangannya sibuk mengupas
udang yang nampak merah. Sesekali dia menyuapkan udang yang telah dikupas ke mulutku.
"Mbak Citra makan juga..aku bisa kupas sendiri!"
"Tidak apa-apa..aku suka kupaskan kamu"
"Aku tidak pernah makan kepiting, apanya yang dimakan dari kepiting?"
"Sebentar aku lupa crab crackernya
Dia berdiri & membuka sebuah laci kabinet mengambil sebuah alat mirip tang, hanya saja yg digunakan adalah bagian tengah sebagai peremuk cangkang kepiting.
"Coba bantu patahkan capit kepiting yang besar itu"
Aku mematahkan dengan agak kesulitan, setelah itu aku berikan kepadanya
"Begini caranya...kamu lihat!"
Aku melihat bagaimana Mbak Citra meremukkan cangkang kepiting dan terlihatlah serat warna putih yang adalah daging kepiting.
"Buka mulutmu.......?" katanya sambil memasukkan daging kepiting.
"Gurih ya...?" kataku setengah bertanya "Mahal ya....?"
"Aku dapat kiriman dari Semarang, aku tidak tahu berapa harganya. Kamu suka tidak?"
"Aku suka........"
"Hanya saja kalau makan kepiting tidak boleh terlalu banyak, kandungan cholestrolnya tinggi, bisa menimbulkan penyempitan pembuluh darah di jantung."
"Sudah kalau begitu?"
"Hahahah kamu belum makan seberapa kok sudah?"
"Aku senang melihat kamu makan seperti ini.....aku rasanya puas bisa menyediakan makanan kamu makan lahap sekali. Makan sayur asamnya, aku ambilkan" katanya sambil berdiri mengambilkan sayur asam dimangkok. Tangannya belepotan minyak
dari cangkang kepiting yang dia pegang. Dia jilati jari-jarinya sementara dia terus mengupaskan kepiting dan dagingnya dia taruh diatas sebuah piring kecil.
Tangannya sesekali menyuapkan daging kepiting yang besar kemulutku, sementara untuk dirinya dia makan daging kecil.
"Bagaimana acara di Panti Asuhan tadi?" tanyanya ingin tahu
Aku menceritakan sambil makan, sesekali dia memberi komentar dan saran. Berbicara dengan Mbak Rita sungguh berbeda, pemahaman & pengertiannya membuatku merasa nyaman. Saat aku menceritakan tentang Intan dan adikku Wulan
Mbak Citra langsung berceletuk "Sebuah keputusan yang sangat tergesa-gesa. Sebenarnya tidak mudah mengadopsi seorang anak apalagi dari Panti Asuhan. Ada berbagai banyak perihal hukum yang harus ditaati. Termasuk surat ijin yang akan dikeluarkan oleh dinas sosial mengenai dasar
hukum pengangkatan anak. Terkadang kita biasanya melewatkan hal itu, birokrasi terlalu panjang yang membuat orang ogah mengadopsi anak secara formal. Mereka biasanya melakukannya dibawah meja atau illegal. Aku pernah ingin adopsi anak di Bandung, tetapi aku batalkan karena ribet"
"Kenapa tidak pingin punya anak sendiri?" tanyaku penasaran
"Bapak sudah tak sanggup untuk begituan sejak awal, kemampuannya bergantung pada viagra. Sementara untuk minum Viagra, seseorang tidak boleh punya sakit jantung. Beruntung ada kamu sekarang.....You are my strong hero"
"Ada saja.......!"
"Memang.....you are my star, my hero, my protector and my love. I am addicted to you" katanya dengan sangat fasih.
"Where did you study English?"
"Don't you remember that I used to be a student of an International University near Senayan City?"
"Aku tidak tahu
kalau Mbak Citra kuliah di sebuah Universitas International." kataku
"Makanmu sudah sayang...?" tanyanya
"Iya sudah, Terima kasih sayang.." kataku menirukan suara sayang yang dia ucapkan.
"Sama -sama..!"
"Mbak..apa yang membuatmu kangen?"
"Penis tebal dan gemuk yang membuatku
terasa gatal terus....!" katanya sambil menggosokkan punggung tangannya keselangkanganku.
"Kabar Cik Anneke bagaimana...?"
"Hush...no more talk about any other women while we are together. It will ruin my mood, okay?"
"Oooppss...okay, my apology"
"Forgiven...!" katanya senyum
"Wanita memang sulit dimengerti dan dipahami...!" gumamku
"Tidak....sangat mudah kok, pelan-pelan kita saling belajar supaya bisa saling paham"
Aku mencuci tanganku di wastafel dengan sabun cair yang tersedia kemudian ingin membantunya tapi tangannya menyuruhku untuk menyingkir.
"Ini pekerjaan perempuan....sana kamu keruang depan atau ke samping kolam" katanya memberitahu
Aku berjalan kearah depan dan membuka laptopku, aku beberapa kali membaca sebuah artikel tentang ekonomi nasional khususnya export batubara ke China.
Sekitar 20 menit aku membaca,
Mbak Citra datang membawa sebuah cangkir berisi minuman warna coklat.
"Apa ini.....?" tanyaku kepadanya
"Ini adalah minuman mahal untuk kesehatan paru-paru dan pernafasan. Kamu pernah dengar tidak sarang burung walet?"
"Tidak pernah........mahal?"
"Sangat mahal.....hanya orang
keturunan China yang biasanya mengkonsumsi minuman ini. Kamu lihat wajah anak2x keturunan Tionghua biasanya punya kulit putih mulus?"
Aku mengangguk "Seperti Mbak Citra kulitnya putih mulus. Termasuk dileher & kulit tubuhnya sangat mulut. Pantat dan bagian lipatan memek terlihat
sangat mulus dan putih." kataku jujur dan terus terang.
"Husssshhhh......jorok!" katanya sambil ketawa
"Aku pingin menjilati memek kalau ingat dan bicara tentang hal ini"
"Plaaak!" Tangannya memukul ringan lenganku. "Sudah jangan bicara itu lagi nanti aku kepingin."
"hahahaha..."
"Kamu jadi nginap disini nanti malam?" tanyanya
Aku mengangguk, "Sekarang mau apa?" tanyaku
"Kita berenang satu jam lagi supaya makanan benar-benar turun"
"Mbak Citra tadi ngapain saja seharian?" Aku tadi keluar beli celana dalam mu dan kaos. Aku juga beli celana pendek supaya
kamu leluasa berada disini"
"Mana.....?"
"Apanya....?"
"Barang belanjaannya...?"
"Sedang disetrika sama mbak Atun. Tunggu sebentar lagi kalau selesai dia akan membawa turun semua barang yang tadi aku beli."
"Mbak Citra beli apa untuk mbak sendiri?"
"Baju renang untuk siang ini"
"Baju renang warna apa..?" tanyaku
"Coba tebak..!"
"Kuning..!"
"Betul sekali....kok tahu?" tanyanya
"Warna favourite Mbak Citra adalah kuning.....!"
Dia memandangku sejenak, "Kamu kok tahuuuu?"
"Warna kuning cocok dengan kulit Mbak Citra....!"
"Selain Kuning apalagi coba tebak?"
"Putih......."
"Kamu memang hebaaaaat..." katanya. Kembali tangannya merangkul badanku.
"Ayo kita berenang sekarang.....?" ajakku
"45 menit lagi supaya matahari agak turun. Jam 4 sore nanti sudah agak reda panasnya."
"Terus mau apa sekarang.....?"
"Ayo kita baring-baring saja?"
"Aku belum mandi..!" kataku
"Kalau begitu mandi dulu sebentar, aku juga mau mandi jg, gerah..udaranya panas" katanya
Aku menutup laptop & memasukkannya kedalam tasku. Mbak Citra telah berjalan duluan ke pintu kamar saat aku selesai manarh tas laptopku.
"Bawa saja masuk kamar..!"
Aku menuruti apa yang dia perintahkan, Mbak Any berdiri di lemari untuk mengambil baju gantinya.
"Kamu coba pakai kaos ini setelah mandi...." katanya sambil melemparkan sebuah kaos dengan tulisan cukup besar dibagian depannya "HUGO BOSS". Aku masuk ke kamar mandi setelah menaruh
tasku diatas meja. Shower kunyalakan, air hangat mengalir dari shower mengenai kepala dan tubuhku. Mbak Citra berjalan masuk kedalam kamar mandi saat aku dibawah pancuran shower.
Tubuhnya telah telanjang polos, mendesak maju kearah pancuran dan berdiri tepat didepanku. Tangannya
nakal menyenggol batangku yang sudah mulai bangun. Kehadirannya didalam kamar mandi memprovokasi batangku menggeliat. Tangan sengaja menyenggol beberapa kali sedang matanya sengaja memancing kearahku, ingin tahu apa reaksiku.
Aku matikan shower dan merangkulnya dari belakang.
Tubuhku melengket dipunggungnya, batangku menempel erat dibelahan pantatnya yang tambun.
Bibirku mengecupi lehernya, dia memiringkan kepala memberiku akses untuk meneruskan kecupanku.
"Aku mau bikin merah-merah disini.." bisikku sambil tanganku menunjuk spot yang ingin kucupang.
"iiiiiisssshhhhh...ibu nanti bagaimana reaksinya kalau melihat cupangnya, si Atun juga bisa minta jatah kalau melihatnya. Jangan disitu deh......!" protesnya manja.
Tangannya memegangi batangku yang telah mengeras, "Ayo kita cepat mandi supaya bisa baring-baring di kasur" ajaknya
Tangannya cepat mengambil sabun dan membantuku menyabuni seluruh badan tanpa terkecuali. Dia menyuruhku untuk melakukan hal yg sama kepadanya. Bagian dada adalah tempat yang paling aku suka, daging sintalnya yang padat terasa kenyal saat disabuni, memantul kekanan dan kekiri saat
dilepas. Wajahnya terlihat senang saat aku mempermainkan putingnya yang empuk. Tanganku juga menjelajahi bagian selatan pusarnya dan bermuara di lobang memeknya.
"Sudah basaaaaaah....." kataku sambil meniupkan nafasku ditelinganya. Dia menghindar karena merasa geli. Aku jongkok
sambil menggosoki kakinya. Dia mengangkatnya satu persatu saat telapak kakinya aku sabuni.
"Kamu tambah ganteng setelah rambutmu dipotong begini" katanya
Mbak Citra mengambilkan handuk besar spt yg ada di hotel-hotel untuk mengeringkan tubuh kita. Dengan telaten dia melayaniku
mengeringkan tubuhku. Sementara saat aku akan membantunya, dia melarangku.
"Sudah sana....ngga usah pakai baju dulu"
"Rambutku masih basah.....!"
"Kembali kesini, aku bantu keringkan pakai hair dryer"
Aku kembali masuk kedalam kamar mandi, desing suara hairdryer Dyson Supersonic
terdengar sangat bising ditelingaku. Tapi dalam hitungan satu menit saja, rambutku 90 persen telah kering. Aku keluar lagi & duduk diatas kasur, AC ruangan non-stop tidak berhenti sekalipun tidak ada orang didalamnya tetap menyala. Suhu kamar terjaga dingin dan bau harum ruangan
semerbak tak pernah berubah. Setelah rambutku benar2x kering baru aku baringkan tubuhku kekasur empuknya.
"Yaaaaaang.......kesini dulu lagi?" katanya sambil tangannya mengayun memanggilku. "Sikat gigi dulu gih.....supaya tidak amis. Setelah makan seafood biasanya amis kan?"
Dia memberikan aku sebuah sikat gigi dengan bulu sikat yang halus. Bagian kepala sikat kecil sehingga bisa menyelinap masuk kedalam rongga & celah dibagian belakang mulut.
Mbak Citra keluar dengan rambut telah kering, aku mengikutinya setelah membilas sikat gigiku dan menaruhnya
didalam sebuah tempat sikat yang ada diatas wastafel kamar mandi.
"Mbak hari senin bagaimana..?" tanyaku
"Maksudnya bagaimana..?"
"Mbak bisa trading sendiri kan?"
"Iya nanti kamu ajari aku sekali lagi, supaya hari senin aku bisa trading sendiri"
"Mbak Citra ngga pernah serius."
"Kan belajarnya harus step by step....."
"Iya...tapi bagaimana bisa kalau mbak Citra tidak serius, kemaren saja waktu trading mbak bangun terlambat"
"Ya mau bagaimana lagi kalau keadaannya begitu..?"
"Itulah aku bilang, Mbak Citra tidak serius belajarnya.."
"Ya nanti aku serius"
"Sungguh ya....!" kataku menegaskan
"Iya....sungguh! Sudah sini...!" tangannya menepuk kasur disampingnya. "Aku capek nungguin kamu dari tadi, nyiapin makanan dan potong rambut."
"Kok ngga terlihat rambutnya dipotong...?" kataku
"Ada dipotong bagian poninya"
Tangannya kembali
meraih batangku, dengan gemas dia kocok perlahan berulang-ulang. "Aku kangen sama titidmu....semalam ingin disogok dengan ini. Sekarang kamu marahi aku tidak belajar serius" Badannya bangkit dari baringnya dan merangkak kearah batangku. Dia letakkan kepalanya dipahaku sementara
mulutnya mengecupi batangku berulang ulang. Hidungnya seperti kelaparan mengendusi bau batangku. Aku tarik bagian pinggul untuk mendekat ke arahku. Tanganku menjangkau pahanya yang empuk, lidahku menjulur kebagian atas lututnya. Kulit pahanya sangat halus dengan pori-pori hampir
tak terlihat oleh mata, mulus & lembut. Batangku menegang sebagai reaksi atas cumbuannya ke batangku. Mbak Citra ini seorang pemuja, ketika dia menemukan apa yg dia cari. Dia akan memujanya untuk tetap bisa memilikinya. Termasuk yg satu ini, aku tidak jengah tapi dipuja dilayani
secara berlebihan terkadang membuatku agak risih.
Disatu sisi, aku menikmati dan senang, disisi lain aku seperti terpenjara bila terus menurutinya.
"Mbak..cukur rambutmu yang disini? Aku suka kalau gundul..!" kataku
"Iya nanti kamu yang bagian mencukur supaya bisa sesuai maumu"
Jari-jariku menggerayangi pangkal pahanya yang mulus, jilatanku mengarah ketempat jari-jariku bergerilya. Sementara Mbak Citra masih sibuk dengan batangku, aura sange terpancar dari wajahnya. Mulutnya terus mengecupi & menciumi batangku. Dari kepala hingga kepangkalnya naik turun
Aku menaiki tubuhnya dengan posisi terbalik, batangku menggantung diatas wajahnya tepat didekat mulutnya. Aku memposisikan wajahku didekat memeknya. Tanganku tak lagi leluasa menyentuhi memeknya karena sikuku menopang badanku.
"Oh sayaaaangg....." desahnya panjang saat jilatanku
mengenai seonggok daging yang berada dibagian atas lepitan bibir memeknya.
"Tunggu.....aku ambil handuk supaya tidak membasahi seprei lagi" Dia lepas batangku dan merunduk sambil keluar dari himpitan tubuhku. Dia membentangkan handuk putih diatas sprei dan dia membaringkan diri
diatas handuk yang baru saja dia bentangkan. Kembali keposisi semula, kali ini dia agak membuka kedua pahanya. Jariku mencengkeram kedua pahanya supaya mudah mengakses. Tangannya kembali mencengkeram batangku, kali ini dia masukkan kedalam mulutnya. Aku merasa melayang, dia mela
kannya dengan tanpa emosi, halus tanpa mengenai giginya. Jilatanku kembali membuatnya bereaksi. Dengusan nafas kami terdengar, terkadang jeritan dan goyangan gemulai pinggulnya saat dia merasa kenikmatan. Kadang dia mengangkat pantatnya supaya jilatanku mengenai spot nikmatnya.
Tiba-tiba pahanya menjepit kepalaku, pantatnya dia angkat. Memeknya dia tempelkan ke mulutku, aku hampir tak bisa bernafas saat aku rasakan air mancur keluar dari lobangnya. Dia lepas batangku dari mulutnya saat dia mendesaaaah kerasss "Ooohhhhh....yeeeesss....yessssss......!!!"
Seperti tangisan dan rasa nikmat, suaranya terdengar meraung......"Yess.....sayang...yesss........pahanya dia buka, kepalaku terlepas dari jepitannya. Lobang hidungku terkena sedikit semprotan memeknya.
Aku berusaha mengeluarkannya dengan menutup salah satu lobang hidungku dan
meniupkan hembusan keluar dari hidung. Pinggulnya gemetar dengan goyangan sangat kencang dan liar. Jariku kumasukkan ke lobangnya dan membantunya untuk keluar lagi. Aku tusuk tusukkan berulang-ulang sambil meraba bagian atas dinding vaginanya. Benar saja, kembali guncangan keras
terjadi diikuti semprotan air pancuran dari memeknya. Teriakannya makin kerassss....yeesss.....yesss..terusss yaaaaang!"
Aku lakukan berulang 3 kali lagi sampai dia terlemas. Otot-otot pinggulnya seperti mengejang dan lelehan cairan dari lobang memeknya menyemprot ke lantai dan
membasahi handuk diatas sprei.
"Cukkkkuuuuuppp yaaaanggg...sudaaaah...sudaaah!" katanya lemas.
"Sini gantiaaaan.....!" katanya sambil memegang batangku.
"Tidak.......keringkan dulu memek dan singkirkan handuknya yang basah. Aku tidak nyaman kakiku kena handuk basah disitu"
"Patuh!!" itulah yang dia lakukan apa yang ku minta.
Segera dia melakukannya dan mengganti handuk kering untuk jaga-jaga siapa tahu dia keluar lagi.
Aku membaringkan tubuhku sementara dia sibuk mengelap lantai dengan handuk yang telah basah.
Dia bawa handuknya kekamar mandi dan
siram diatas wastafel dengan air panas.
Dia keringkan tubuhnya dengan handuk yang kita pakai tadi. "Aku ngantuk..!" kataku
"Jangan tidur dulu..aku mau main-main batangmu"
Dia posisikan dirinya didepan batangku sambil berbaring kembali dia memegangi dan mengocok batangku perlahan.
"Keluarkan yaaaang..?" katanya sambil memandang kearahku. Ujung batangku diarahkan kemulutnya yang menganga terbuka. "Ayoo yaangg..keluarkan sekarang, semprotkan kemulutku"
"Ngga mau..! Aku mau semprotkan kedalam memek saja kalau boleh?"
"Husshh nanti kamu punya anak bagaimana?"
"Mbak Citra yang merawat, kan Mbak maminya!" kataku
"Jangan beresiko...!"
"Katanya Mbak ingin punya anak....!"
"Iya...tapi papinya masih kecil begini, nanti tak bisa cukupi beli makan"
Aku memegang kepalanya dan mengelus elus wajah cantiknya. "Mbak Citra, you're a special lady"
pikirku.
"Ayoooo....yaaaaang keluarkaaaaan .....!" suara manjanya menggugah kelakianku.
"Sudah sini.....!" kataku sambil menarik tubuhnya supaya sejajar denganku. "Tetekmu cantik mbak..... aku suka memeganginya"
Kulit punggungnya putih dan mulus, tak ada bintik2x bekas jerawat
"Angkat satu pahamu.....mbak" tanganku membantunya
Aku telusupkan batangku kedalam memeknya dan dengan mudah lobangnya terbuka menerima tusukan pelanku. "Adddduuuuuuh sayaaaang.....aku ketagihan terus kalau begini. Bagaimana kalau kamu nanti tinggalkan aku kuliah di Singapore?"
"Mbak Citra pindah kesana juga.....!"
"Boleh.....?" tanyanya
"Mau......?" tanyaku balik
Mulutnya dia mainkan sedemikian rupa hingga aku merasa gemas, saat tusukan batangku melesak masuk lebih dalam. Dadanya dia sorong kedepan supaya pantatnya bisa menungging kebelakang. Tubuhnya
menggeliat dan dia goyangkan pinggulnya mengakomodasi ruangan saat tusukanku kembali kucabut. Saat kudorong lagi, kembali dia menggeliat sambil mendesah panjang. "Aaaaamppuuuun sayang, terussss.....terussss sayangku.....terusssss!" katanya
"Aku mau keluarkan didalam....!" kataku
didekat telinganya.
"Jangan sekarang yaaa...jangaaann sekarang..! Kamu lepas lagi saja, pakai kondom supaya tidak tumpah kedalam."
"Aku tidak mau kalau pakai kondom...! Batangku terasa seperti diikat" Bibirku menggigit daun telinganya, suaraku aku buat mendesah.
"Ayo tooohh..?"
desakku, "Kali ini saja.....?"
"Jangan sayaaanggg...keluarkan saja seperti kemaren. Nanti baru pasang spiral atau minum pil kb supaya bisa leluasa" katanya sambil menengok kearahku. "Tahan yaaa.....beberapa hari lagi supaya tidak hamil" katanya
Aku menggoyang pantatku maju mundur
tanganku mencengkeram puting teteknya dan memilin agak keras. "Ooohhhh yaaaaanggg....jangan didalam ya kalau keluar.....janjiiiii yaaa yaaaagggg!" katanya setengah menangis. Suaranya gemeteran saat orgasme kembali menerjang, aku tidak mencabut batangku justru kupacu lebih cepat.
Batangku mengeras, air seperti mendesak batangku keluar dari lobang memeknya, getar pinggulnya memicu rasa nikmat dan ingin aku muncratkan spermaku. "Mbaaaaaaaak Aku mau keluaaaaar.....!" kataku kerasss........
"Tahannnnn sayaang ....tahaannn terussss kocok terusss kocokkkkkk"
Rasa nikmatku tak tertahan....keinginan muncrat tak bisa kutarik. Aku tak ingin mencabut batangku dari lobang sempitnya sempratan pertama muncrat kedalam. Aku goyang lebih kencang sambil teriakkan "Mbaaak tumpaaaaaah.....tumpaaaah didalam......."
"Terussss...terusss sayang...!!"
Pantatku terus kupacu, dinding vaginanya terasa menghimpit batang kerasku. Tubuhnya menggeliat geliat menikmati sodokan kuat batang kerasku. Nafasnya tersengal-sengal seperti tertahan.......Batangku terlepas saat dia ingin membalikkan tubuhnya menghadap kearahku. Nafas kami tak
beraturan, pandangan matanya tertuju padaku
"Nakaaaaaaaaaal.....!" katanya sambil memegangi pipiku, kepalanya dia telusupkan kedalam dadaku dengan manja. Tertidur kami berdua hingga jam 7 malam.
Ruangan kamar telah gelap karena cahaya matahari telah tenggelam. Tubuh mbak Citra yang tadi kupeluk sebelum kuterlelap telah tiada. Aku buka mataku perlahan sambil menyesuaikan pandanganku. Kelebatan wajah puas Mbak Citra saat bersenggama teringat kembali.
Senyum kepuasan nampak Image
tergambar jelas dalam bayangan pikiranku. Tiba-tiba pintu kamar terbuka lirih, suara langkah mendekat tertangkap telingaku. Dia menaiki kasur dan merangkak mendekatiku. "Yaaang....bangun gih, air kolam renang masih hangat katanya mau renang tadi."
Aku pura-pura menggeliat bangun
mataku mencari wajahnya ditengah temaram ruangan kamar tidur itu. "Enak tidurmu yaang?" tanyanya
"He eh....kamu kok ngga tidur?"
"Aku tidur tadi, baru bangun 30 menit lalu. Aku siapkan makan tapi aku kira kamu mau renang dulu. Ayo renang sama aku...." Ajaknya, tangannya menjulur
kearah dadaku dan mengelus elus dengan tangan lembutnya.
"Nyalakan lampu kamar Mbak?" kataku
"Tutup matamu dulu sebelum kunyalakan lampunya supaya tidak sakit pandanganmu"
"Iya sudah.....!"
"Click...!" terdengar saklar lampu dinyalakan.
Dengan mengriyipkan mata, aku berusaha
melihat kearahnya. Mbak Citra memakai baju warna putih, dengan terlihat sexy dibagian dadanya. Baju yang dipakainya hampir tak mampu menyembunyikan gundukan didadanya.
"Apa yang kamu lihat..?" tanyanya saat kembali mendekat di kasur
"Mbak Citra nampak cantik & sexy" kataku tulus
Mataku mengarah pada kedua payudara indahnya yang terpampang sebagian.
"Tangannya menjulur kearahku, ayo bangun, ayo kita berenang satu jam saja"
"Aku tak bawa celana renang"
"Pakai celana dalam saja, tidak ada orang melihat. Makanan juga sudah siap, setelah renang kita bisa
langsung makan malam.
"Mau nonton bioskop setelah makan?" tanyaku
"Tidak.....aku mau diajari lagi tradingnya supaya aku bisa kerjakan sendiri senin nanti" katanya
Tangannya menarikku bangun dan aku memakai celana dalamku. Mbak Citra memberiku bath robe untuk kupakai berjalan ke
kolam. Setelah melepasnya kembali, aku taruh bathrobe diatas di poolside bench dan menyebur kedalam kolam.
Mbak Citra menyusul beberapa menit kemudian dengan memakai bikini berwarna putih dengan polkadot hitam kecil2.
Aku sedang berenang keujung kolam sehingga tidak bisa melihat
dia masuk kedalam air.
"Arjuna....ayo kita adu cepat berenang?" katanya saat aku sampai di ujung kolam.
"Boleh......Mbak kesini, kita mulai dari sisi kolam ini."
"Tunggu..!" teriaknya
"Air kolam masih terasa hangat walaupun jam telah menunjukkan jam 7 lebih. Hanya sebagian
lampu yang menyala dipinggir kolam sehingga suasana sungguh nampak temaram. Benar benar terasa private pool dengan dikelilingi tembok tinggi. Tak mungkin ada yang akan menengok ke area kolam.
"Siap...?" tanyanya
"Iya siap...mau berapa lap?" tanyaku percaya dari
"Lima lap saja!"
jawabnya ringan. "Aku takut ada yang kehabisan nafas kalau lebih dari 5 lap"
"Okay kita mulai...." tantangku "On my count...one, two three...!"
Aku menendang dinding kolam untuk meluncur cepat. Aku rasa Mbak Citra melakukan yang sama. Gerakannya lincah dan cepat, aku tersentak
terlalu memandang ringan kemampuannya. "Aku harus berenang lebih cepat" pikirku
Tanganku dan kakiku mengayuh kedalam air, berusaha mengimbangi kecepatan Mbak Citra. Gerakannya kalem tapi sungguh efektif dan efisien.
"Apa yang dia takutkan ternyata beneran, aku kehabisan nafas tak
mampu menyelesaikan 5 lap sekaligus. Sementara dia terus berenang hingga selesai lap yang ke 5. Nafasnya masih cukup panjang & mampu mengatur ritmenya dengan normal.
"Bagaimana sayang..?" katanya sambil tersenyum
"Aku ngaku kalah..!" kataku
"Kenapa Mbak Citra bisa begitu baik?"
"Karena aku tidak pakai baju...." katanya dengan tertawa mengikik.
Aku maju untuk memeriksa kebenaran kata-katanya. Tanganku meraba kebadan bagian depan dan memang, baju renangnya telah dilepas tanpa sepengetahuanku.
"Hahahahaha.......!!" tawanya keras penuh kemenangan
"Gila..!"
"Kenapa....? Kok kedengaran kaget?" tawanya kembali terdengar hanya kali ini agak pelan
"Air kolam ini banyak mengandung kaporit, kalau masuk kedalam lobang bagaimana?"
"Lobangnya sudah kututup, tenang saja" katanya tersenyum "Lepas celana yang kamu pakai"
"Ngga deh....!"
"Lepas
tidak ada orang melihat atau datang. Ngapain malu...?"
"Sini aku bantu....!" katanya sambil menyelam.
Tangannya dengan cepat menggaet karet pengencang celana dalam yang aku pakai dan menurunkannya dengan cepat. Ketika muncul, dia lempar celana dalam yang kupakai kepinggir kolam.
"Enak juga ya punya private pool...!"
"Kerja yang baik supaya bisa punya rumah besar lengkap dengan fasilitas"
"Iya...aku pingin punya rumah seperti ini"
Mbak Citra mendekat dan memelukku, enaknya bisa berenang denganmu hari ini.
"Batangmu masih bisa berdiri tidak...?" katanya
"Bisa nanti setelah makan....." kataku dengan ringan
"Aku mau sekarang......"
"Batangku masih terasa kaku....nanti saja setelah makan atau mau tidur" kataku
"Sekarang.....!" katanya sambil melompat dan melingkarkan kakinya kepinggangku.
"Nanti deh...ngga nyaman main disini"
"Ya sudaaaah nanti saja setelah makan......" katanya
"Aku mau makan sekarang.......!"
"Boleh......ada rawon sama kerupuk udang"
"Air kolam juga sudah mulai dingin, ayo kita bilas dulu sekalian dan mandi. Enak kalau badan bersih baru kita makan, iya kan?"
Kita keluar dari kolam
dengan bertelanjang badan. Aku mengambil bathrobe yang kupakai & berjalan masuk kedalam kamar depan. Mbak Citra menyusulku setelah aku masuk kedalam kamar mandi.
Setelah makan malam dgn rawon, kami berjalan jalan di kompleks perumahan Solo Baru. Perut kami terasa sangat kenyang
sehingga jalan malam membantu menurunkan makanan yang kami santap malam itu. Udara terasa sejuk, tangan Mbak Citra menggandeng lenganku sepanjang jalan. Rumah2x dikanan kiri tertata rapi dengan berbagai macam tanaman dan ukuran kebun. Kami kembali kerumah sekitar jam 9:30 malam.
"Aku baru pertama kali ini jalan2x diseputar kompleks, ternyata nyaman juga bisa berjalan dimalam hari. Tak ada orang yg melihat kita, hanya satpam dan pedagang bakso"
Malam itu kami melakukan apa yg kami lakukan disiang hari sekali lagi. Kami terkapar lelah setelah bersenggama.
Janjiku pada ibu aku penuhi, aku mengajak bapak dan ibu serta Wulan makan malam bersama.
Aku pernah menjanjikan untuk makan steak, makanan yang belum pernah mereka makan.
Aku mengarahkan mobilku ke daerah Mojosongo dan berhenti disebuah restaurant yang menghidangkan steak enak. Image
Ibu ternyata senang dengan model guntingan rambutku, aku terlihat lebih dewasa dan macho. Adikku Wulan juga bilang bahwa aku kelihatan seperti bintang Korea.
Aku hanya tertawa sambil malu menjadi pusat perhatian mereka.
"Apa saja yang kamu kerjakan kemaren?" tanya bapak tiba2x
"Biasa pak, ngajari orang trading saham."
"Kamu harus hati-hati kalau bergaul jangan sampai kamu salah jalan. Beberapa teman bapak cerita anak-anak muda pada pakai narkoba."
"Saya jauh dari itu pak, pergaulanku dengan orang2x dewasa yang telah berkeluarga dan pengusaha"
"Hasilnya bagaimana......?" tanya bapak lagi
"Bagus pak..... untuk kelompok yang saya latih kemaren punya modal trading 10 miliar. Hari pertama trading hanya untung 39 juta karena terlambat memulai trading. Saya dapat bagian 10 persen dari setiap keuntungan trading. Perkiraan
sebulan dari kelompok ini, saya akan dapat pembagian keuntungan 300 hingga 700 juta."
"Tidak mungkin...!" kata bapak. "Kamu tidak kerja mendapatkan uang segitu, kok elok tenan kowe!"
"Bapak dan ibu akan berangkat haji dengan ONH Plus, insha allah akan naik pesawat ditempat duduk
kelas bisnis karena saya sdh minta aturkan dengan menambah biaya untuk tempat duduk itu. Perjalanan ke Tanah Suci dari embarkasi Solo tidak menggunakan pesawat yang bapak dan ibu naiki. Bapak dan ibu harus berangkat dari Jakarta dengan pesawat komersial khusus."
Seorang waitress mendatangi meja kami dengan membawa 4 buku menu.
"Mbak, menu favourite disini apa ya?" tanyaku
"Tenderloine steak, itu best seller"
"Bapak dan ibu mau makan apa?" tanyaku
"Kamu saja yang pilihkan?" kata bapak
"Wulan, kamu mau pesan apa?"
"Rib Eye Steak itu apa?"
"Oh itu steak daging sapi yang dagingnya diambil dibagian tulang iga." jawabnya sopan
"Aku coba itu saja mbak?"
"Baik, minumnya apa?"
"Aku mau jus apokat saja"
"Mbak dua tenderloin steak untuk bapak dan ibu. Aku mau serlion steak saja ya. Semuanya masak matang mbak"
"Minumnya...?
"Bapak ngersakne ngunjuk nopo pak?"
"Biasa saja, teh manis hangat...!"
"Ibu...minum apa?"
"Aku minum teh tawar panas"
"Aku minta milkshake chocolate, mbak"
"Mbak aku ganti minumannya, aku mau minum sama Mas Arjuna, Milkshake coklat"
"Oh ya....saya ulangi pesanannya ya? 1 sirloin
2 tenderloin dan 1 rib eye. Minumnya 1 teh tawar panas, 1 teh manis panas dan 2 milkshake coklat.
"Iya benar....." kata Wulan
"Ditunggu pesanannya ya sekitar 30 menit" kata pelayan sambil minta diri.
"Kita tadi bicara apa ya?" tanyaku
"Bapak ingin tahu kenapa harus ONH Plus dan
kelas bisnis" kata ibu mengingatkan
"Perjalanan naik haji itu sebuah perjalanan yang panjang. Penerbangan kesana memerlukan kurang lebih 20 jam naik pesawat. Bapak dan ibu bisa bayangkan bagaimana tidak melelahkan untuk pergi kesana. Bapak dan Ibu telah bertekad untuk beribadah
ditanah suci, harapannya ketika sampai disana. Badan tidak sakit atau capek. Bapak dan ibu dilayani oleh para petugas dengan maksimal. Makanan yang disajikan selama acara makanan terbaik. Semua ada harga dan biaya yang harus kita bayar. Yang penting ibadah lancar dan mabrur.
Saat bapak dan ibu sedang dipesawat, bapak dan ibu bisa ngaso dan istirahat. Bapak ingin minum teh, bisa tinggal meminta pramugari untuk mengambilkan."
"Berapa bapak harus bayar untuk pelayanan seperti itu" tanya bapak
"Pak, semua sudah dibayar sama Arjuna. Kita berdua tinggal Image
ikut manasyik haji dan berangkat."
"Tiket business biasanya 4 hingga 5 kali lipat harga kelas ekonomi.tapi pelayanan dan kenyamanan serta makanan yg disediakan sungguh berbeda. Bapak tinggal diam, semua disediakan, kasarnya begitu gambarannya"
"Lah kamu dapat uang darimana?
Itu bukan uang sedikit loh?" tanya bapak
"Bapak tadi waktu aku bicara tentang hasil trading saham, bapak tidak percaya. Sekarang jawaban dari pertanyaan bapak ini adalah biaya naik haji telah lunas terbayar." kataku
"Embuh wes...tak syukuri wae. Kami berterima kasih kamu sudah
menyenangkan hati orang tua. Aku bangga bisa mengerti ini dan terus terang teman bapak tidak ada yang percaya kalau bapak dan ibu akan berangkat naik haji tahun ini. Tidak pernah daftar, tidak pernah antri tetapi tiba tiba bisa berangkat."
"Ibu sudah dapat info, bahwa bapak & ibu
harus vaksin Meningitis sebelum berangkat paling tidak 2 -3 minggu sebelumnya."
"Kenapa tidak vaksin sekarang saja?" tanya bapak
"Memang sebaiknya jauh-jauh hari sebab vaksin meningitis ini bisa beraksi selama 2 tahun." kata ibu
Pesanan kami datang, seorang pelayan lain yang
menyajikan. Didadanya terpampang nama "Reza",
"Rib Eye Steak?" tanyanya
"Sini mbak....!" jawab Wulan
"Awas mbak piringnya panas, mau dituangkan sekalian sausnya?"
"Boleh...!" jawabnya
"Zzzzzssss.........." uap panas muncul dari hotplate yang disiram saus steak. Bapak dan ibu
agak kaget saat melihatnya.
"Panas yo.....?" katanya dengan heran
"Wulan pegang tatakan kayunya kalau mau memindahkan piringnya" kataku memberitahu
"Tenderloin steak....?"
"Untuk bapak dan ibu....!" kataku
Dengan sopan Reza menuangkan saus satu persatu, begitu juga punyaku.
"Bagaimana ini cara makannya?" tanya ibu
"Garpu dipegang dengan tangan kiri, sementara pisau di tangan kanan untuk mengiris" kataku memberitahu
"Mas Arjuna kok tahu dari mana?" tanya Wulan
"Aku pernah diajak bosku makan disini"
Kentang goreng, sepotong roti dan irisan tomat ada
disekeliling daging steak yang kami makan. Bapak dan ibu terlihat sangat suka dan menikmati steaknya.
Adikku Wulan juga senang dengan apa yang dimakannya. Semua senang dan puas saat kami meninggalkan restaurant.
"Ibu mau kemana lagi sekarang?" tanyaku
"Aku mau jalan-jalan di
Sriwedari seperti dulu setelah makan suki" kata ibu menjawab
"Mas...nanti kamu antarkan aku ke restaurant tadi ya. Aku mau ajak guru mandarinku makan disitu juga" kata Wulan dengan antusias.
"Iya...nanti aku antar. Aku harus fokus belajar untuk Ujian Nasional"
"Sabtu depan bisa?"
"Tidak bisa hari sabtu dik, mas punya acara" kataku "Baiknya hari minggu saja supaya jadi acara keluarga. Atau mau makan lainnya supaya bapak dan ibu bisa ikut nimbrung"
"Ngga seru kalau bapak dan ibu ikut nimbrung, aku tidak bisa berlatih berbicara bahasa mandarin"
"Nanti bisa
diatur, kita duduk terpisah supaya kamu bisa lebih leluasa" kataku
"Begitu juga baik......" kataku
Adikku Wulan sangat tertarik belajar Bahasa Mandarin, tekadnya adalah bisa melanjutkan belajar di China atau Taiwan. Dia juga ingin belajar Pinyin: Hànzì serta kultur bahasa daerah
Berkali kali tekad dan impiannya diutarakan kepadaku, aku berharap bisa mendukungnya sampain keinginannya terwujud.
Komunikasi dengan Cik Anneke agak tersendat sejak kehadiran Mbak Citra.
"Hari senin pagi aku mendapat SMS dari Cik Anneke ngabari kalau dia yang yang ngerjakan
trading sebab Mbak Citra pulang ke Semarang. Keluarganya sedang terkena musibah sehingga dia harus pulang kesana.
"Aku baiknya bagaimana..?" tanya Cik Anneke
Aku kemaren sudah kasih Mbak Citra 5 nama saham dengan harga beli dan jualnya. "Cik Anneke sudah diberikan catatanya?"
"Iya, sudah diberikan kepadaku."
"Cik Anneke harus pergi ke kantor Trimegah meinta untuk mengajari supaya tidak salah trading mulai jam 9 pagi, sebaiknya Cik Anneke datang setengah jam sebelum trading dimulai"
"Okay kalau begitu, aku tak siap-siap pergi kesana. Kamu tidak bisa
terima telepon kalau disekolah? Pikirku kalau aku nanti tidak mengerti bisa tanya kamu langsung"
"Tidak bisa...hp aku sembunyikan di parkiran."
Kasih kabar saja nanti jam 2 setelah selesai sekolah"
kataku memberitahu
"Bisa tidak ketemu setelah sekolah selesai?"
"Ketemu dimana?"
"Di kantor Trimegah....!"
"Kenapa mau disana terus?" tanyaku heran
"Ohh...ngga perlu ya?"
"Tidak usah disana terus, kalau saham sudah terbeli, tinggal pasang harga jual maka dia akan terjual sendiri dengan harga yang dipasang. Hanya saja harus dipantau karena harganya fluktuatif.
Terkadang harga yang kita pasang keluar dari range harga jual. Staff Trimegah pasti mau membantu kalau ada masalah"
"Kenapa kamu tidak ajari aku saja?"
"Aku juga heran, kenapa bukan Cik Anneke saja yang trading sehingga bisa cepat mengertinya. Cik Anneke, sorry aku sdh masuk
gerbang sekolah. Aku tutup dulu ya?"
Kabar dari Cik Anneke aku terima lagi setelah pulang sekolah, sebenarnya aku yang meneleponnya duluan. Beliau sudah dirumah saat menerima teleponku. Dia ngabari kalau trading hari itu sudah selesai. Untung hari itu adalah 230 juta. Suaranya
sangat senang saat memberitahu jumlah yang dia dapatkan.
"Aku besok harus kesana lagi......!"
"Loh kenapa.....?"
"Citra belum bisa pulang, dia tertahan di Semarang"
"Ada masalah apa sih sebenarnya?" tanyaku
"Kenapa kamu tidak telepon untuk menanyakan?"
"Aku takut mengganggu..!"
"Tidaklah kalau mau menanyakan keadaanya saja"
"Okay kalau begitu, aku telepon"
"Kapan kabar nama saham aku dapatkan lagi untuk trading besok?" tanya Cik Anneke dengan antusias
"Nanti malam, aku sedang sibuk ngerjakan PR dan belajar ulangan untuk besok"
"Ya sudah..sms saja ya?"
Petang harinya aku menelepon Mbak Citra, Dia mengangkat saat dering pertama berbunyi.
"Kamu dimana sayang......kenapa baru telepon aku?"
"Aku dari tadi mau telepon tetapi aku harus pergi kesekolah dan ini baru selesai les."
"Kamu dimana sekarang......?" tanyanya
"Dimobil....."
"Mau kemana....?"
"Mau pulang dari tempat kursus. Kenapa tidak memberi kabar aku kalau Mbak Citra pergi ke Semarang?"
"Aku buru-buru, mama koma sejak kemaren malam. Aku ditelepon berulang-ulang tapi tak terjawab. Aku matikan hp kemaren saat sama kamu dan lupa menyalakan lagi"
"Kapan kembali ke Solo?" tanyaku ingin tahu
"Aku tidak tahu, mami kelihatannya tidak bisa lama. Dokter bilang kemungkinan kecil bisa pulih. Nanti kalau bisa kamu datang kesini hari Sabtu ya?"
"Aku belum pernah pergi ke Semarang, tidak tahu jalan kesana"
"Kamu naik travel hari
Jum'at malam aku nanti yang pesankan ticket travelnya. Aku siapkan juga kamar hotel yang dekat dengan rumah supaya aku bisa menemui kamu mudah"
"Berapa lama perjalanan ke Semarang?" tanyaku
"Hanya dua jam saja dari Solo, semoga bisa ya?"
"Aku nanti bicara dulu sama ibuku, semoga
bisa kesana" kataku
"Sekarang kamu pulang dulu, telepon aku setelah sampai rumah. Okay?"
"See you..?"
"Hati-hati dijalan sayang, muaaach" suaranya seperti sedang menahan rindu.
Aku mampir ke Gramedia dalam perjalanan pulang untuk membeli keperluan lukis Wulan. Beberapa canvas
dan Cat minyak yang dipesan Wulan aku belikan. Aku juga singgah di warung sate kambing Pak No yang terkenal. Aku membeli sepuluh tusuk untukku makan malam.
Saat sampai di rumah, aku meminta Wulan untuk membantuku menurunkan canvas dan cat minyaknya. Mencium bau sate dari mobil,
dia langsung teriak, "Aku juga mau makan sate!" katanya dgn senang
"Aku kasih separuh nanti, siapkan makanku kalau sudah menyimpan canvas2x itu. Aku tak mandi dulu ya?"
"Cepat ya mas..aku sudah lapar"
"Ibu kemana?"
"Keluar sama bapak, ada orang mau kontrak rumah kita di Gandekan
"Sudah lama pergi....?"
"Baru saja, calon pengontraknya baru saja telepon, untung bapak baru pulang juga jadi langsung berangkat lagi"
Aku mandi cepat dan segera turun untuk makan malam. Wulan dan aku makan bersama malam itu.
Sayur asem yang dimasak ibu sangat enak, sate kambing
yang aku beli sangat pas dimakan dengan nasi panas.
"Enak ya mas.....!" katanya singkat
Aku hanya mengangguk setuju dengan apa yang dia katakan.
Wulan meringkasi piring-piring yang aku gunakan setelah kami selesai makan. Dia menolak kubantu mencuci saat aku menawari membantunya.
Aku keatas dan masuk kedalam kamarku, aku menyiapkan saham trading besok dan mengirimkannya ke Cik Anneke dan Pak Haryadi.
Aku menelepon Cik Anneke setelah mengirimkan saham trading besok, tapi teleponku tidak dijawab"
Aku telepon Mbak Citra juga, tapi nampaknya dia sedang sibuk.
Terdengar nada sibuk, saat nomornya kutelepon. Aku membuka buku pelajaran karena besok ada ulangan fisika. Aku harus mereview beberapa rumus yg Om Harry guru lesku berikan.
Saat aku sedang belajar, Wulan mengetuk pintu.
"Mas...aku bikin peach gum hari ini, kamu coba enak tidak?"
"Apa itu peachgum?" tanyaku saat membuka pintu.
Wulan membawa sebuah mangkok berisi minuman aneh yang dia buat.
"Coba dulu sedikit, kurang manis tidak?"
Aku mencoba menyendok dan mencicipi apa yang ada didalam mangkok. "Enak..!" kataku
"Masih kurang manis tidak?"
Aku menggeleng
Wulan menutup pintu dari luar, aku kembali kekursiku untuk membaca kembali catatan fisika bahan ulangan besok.
"Ke Semarang..?" kata hatiku. "Kenapa tidak, aku blm pernah kesana."
Hpku berdering, Mbak Citra yang menelepon.
"Kenapa lama sekali menelepon?"
"Aku tadi mandi, makan
dan sekarang baru saja selesai belajar untuk ulangan besok. Tadi bicara dengan siapa di telepon?" tanyaku
"Adikku laki-lagi sedang di Hong Kong, perusahaan sedang mengirimnya ke Hubei untuk melihat barang yang akan di impor ke Indonesia. Aku meneleponnya ngabari dia tentang mami"
"Mami keadaanya bagaimana sih?"
"Tidak bisa bergerak, karena koma. Pembantu menemukan mami tergeletak di kamar mandi jadi ada kemungkinan mami terjatuh"
"Kasihan, bisa minta fotonya mami?" kataku
"Iya...aku kirimi foto keluargaku ya?"
"Sudah dengar belum hasil trading hari ini?"
"Belum...!" Kenapa....?" tanyanya serius
"Hari ini profit mencapai 200 juta lebih" kataku
"Bagus....kalau begitu!" katanya terdengar senang "Kalau begitu biar Cik Anneke saja yang akan memproses tradingnya. Aku sisa terima hasilnya"
"Begitu juga bagus...tapi apa tidak lebih baik
mbak Citra juga belajar?" kataku
"Menurutmu begitu...?"
"Tidak tahu...Mbak Citra pernah bilang ingin punya penghasilan sendiri"
"Aku kira cukup dari hasil trading ini, masih ada juga deposito"
"Tapi kalau mau ikut ke Singapore ya harus punya kegiatan yang menambah income" kataku
mengingatkan bahwa dia ingin ikut denganku.
"Iya juga siiiihhhh........ Kamu jadi ke Semarang kan? Aku harus bookingkan hotel room segera. Sebab sekarang Semarang sedang sibuk, banyak konferensi dan pertemuan dokter bedah seluruh Indonesia. Kalau tidak booking sekarang kamu tidak
dapat kamar" katanya
"Aku belum bicara dengan ibu, beliau sdg ngurusi rumah yang akan dikontrak orang. Nanti kalau sudah datang aku akan minta ijin. Hari jum'at berangkat berarti kan?"
"Iya...kamu tinggal kasih tahu mau jam berapa berangkat supaya travel bisa menjemput dirumahmu"
"Aku kasih kabar nanti setelah bicara dengan ibu, mungkin baru besok siang ada kesempatan bicara jadi besok malam semoga sdh ada kabar."
"Kamu tahu apa yang ingin aku lakukan nanti kalau kamu jadi datang ke Semarang?"
"Tidak tahu..coba ceritakan sekarang" kataku
"Aku ingn hisap
batangmu hingga kering" katanya sambil mendesah manja
"Tidak Jijik?" katasku setengah berbisik seolah olah takut ada orang disekelilingku
"Jijik .......?" tanyanya
"He eh.....?"
"Tidak ......aku selalu ingin dekat, memegangi, menciumi, menjilati dan menghisap batang gemukmu"
"Serius....?"
"Iya serius.....kamu kangen aku tidak?"
"Iya kangen juga lah......"
"Besok pulang sekolah jam berapa?"
"Jam 2 ....kenapa?"
"Aku mau telepon kalau sekolah telah usai"
"Aku ingin bisa telepon kamu sambil melihat wajahmu"
"Aku dengar ada aplikasi facetime milik apple"
"Ohh sungguh....?"
"Iya tapi kecepatan internet di Indonesia belum bisa mendukung, jadi percuma kalau adapun internet belum menunjang" jelasku
"Kamu sedang ngapain sayang.....?"
"Sedang belajar untuk ulangan besok, ada ulangan fisika. Aku hanya mau review saja sih supaya ingat!"
"Kamu serius sekali kalau belajar ya?"
"Aku harus serius, tidak mudah bisa masuk di Nanyang Technology University di Singapore. Aku malu kalau sampai tidak diterima. Aku taruh dimana mukaku, banyak yg mendukungku baik secara moral maupun financial. Mbak Citra mendukungku tidak?"
"Aku mendukungmu sayang.....! Kamu harus bisa berhasil didunia pendidikan supaya mudah dalam menjalani hidup"
"Sebetulnya bukan masalah pendidikan saja, pergaulan dan keberuntungan juga berpengaruh."
"Kamu orang yang beruntung Arjuna, dikelilingi orang-orang yang hebat."
"Termasuk Mbak Citra...!" kataku "Mbak aku lanjutkan dulu belajarku ya. Nanti kalau sudah selesai baru aku telepon lagi"
"Iya.....belajar baik-baik ya sayang? Bisa tidak nanti setelah belajar kamu telepon aku lagi"
"Okay..tunggu satu jam lagi baru ku telepon"
Percakapan kusudahi
dia mengirim sebuah mms photo keluarga. Terlihat jelas, foto diambil saat perayaan Sincia karena banyak ornamen sincia terpajang & terlihat disekitar photo.
Foto mami & papinya terlihat bahagia & wajahnya bukan wajah orang susah.
"Kenapa Mbak Citra kok mau jadi istri simpanan?"
dalam hati aku bertanya-tanya. Malam itu aku telepon dia sebelum aku tidur. Nampaknya dia sedang sibuk, entah mengapa tetapi kedengaran suara isak tangis seseorang dari belakang. Saluran telepon terputus sepihak shingga membuatku penasaran. Aku tinggal tidur setelah menyetel hpku
dengan mode silent. Keesokan paginya baru aku mendapat kabar bahwa adiknya yang baru pulang dari Hong Kong telah datang. Tangisan yg kudengar semalam adalah tangisan adiknya. Siangnya aku memberitahu ibu bahwa aku akan ke Semarang, aku membuat alasan bahwa ada undangan dari orang
Semarang untuk belajar trading saham. Awalnya ibu khawatir, tetapi setelah tahu bahwa transportasi & akomodasi telah dipesan, ibu memberiku ijin untuk pergi. Aku juga meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja. Ibu meminta nomor telepon hotel dimana aku akan menginap. Aku berjanji
akan memberitahukan kepada ibu setelah panitia mengkonfirmasi.
Hari itu aku sangat sibuk dengan ujian dan tugas. Aku absen pergi ke Primagama karena banyaknya tugas yg harus aku selesaikan. Disela-sela tugas aku mencari info nama travel yg akan aku gunakan untk ke Semarang. Image
Karena ini baru pertama kali naik Travel, aku juga meminta informasi jam-jam keberangkatan. Informasi yang kudapatkan juga sangat berarti krn penumpang harus berada di pool travel paling tidak satu jam sebelum keberangkatan. Ada pilihan 3 jenis armada dengan harga yang berbeda.
Ternyata aku tidak perlu ke Pool utama, sebab aku bisa ke pool cabang di Slamet Riyadi yg kebetulan dekat dengan rumah.
Cik Anneke telepon aku sekitar jam 6 sore, memberitahu bahwa trading hari itu tidak bisa maksimal karena beberapa saham tidak habis terjual. Masih ada ratusan
lot saham yang belum terjual. Aku memberitahu kemungkinan jumlah lot yang terbeli terlalu banyak sehingga tidak bisa terserap habis oleh pembeli. Aku memberitahu bahwa itu normal, hanya butuh kesabaran sampai semua terjual habis. Harga saham yang dibeli adalah harga terendah
sehingga aku memintanya utk tidak terlalu kuatir. Aku menyuruhnya untuk memasang secepatnya harga jual yang sama hari ini disesi awal perdagangan besok.
Cik Anneke memintaku untuk segera mengirim daftar saham untuk besok tetapi aku belum menyiapkannya. Aku berjanji aku mengirim
kannya setelah makan malam.
Sementara dengan Pak Haryadi aku tidak memiliki, masalah sama sekali karena beliau trader lama dan berpengalaman. Beliau tahu takaran dan daya beli investor pada hari-hari tertentu. Tradingnya selalu tuntas dan sahamnya tak pernah menginap.
TRAVELLING PERTAMA KE SEMARANG.
Sekitar jam 8:30 malam, mobil travel yang aku tumpangi sampai di travel pool di Jalan Atmodirono. Hanya tersisa 3 penumpang termasuk aku yang turun sampai di pool. Yang lainnya telah turun terlebih dahulu sebelum masuk kota. Mbak Citra berjanji Image
akan menjemputku di pool ini saat aku sampai di Semarang. Hujan rintik2x turun sejak mobil memasuki kota Semarang. Seekor Anjing berbulu putih berbaring melingkar, menghangatkan badan karena udara yang berhembus membawa hawa dingin. Beberapa calon penumpang sedang menunggu mobil
yang akan membawa mereka ke beberapa kota baik di Jawa Tengah atau Jawa Barat. Aku melihat ke arah jam yang menempel di dinding ruangan disebelah kiri. Aku merasa lapar dan perutku terasa kosong. Belum ada tanda tanda Mbak Citra datang menjemputku. Aku ingin meneleponnya memberi
tahu bahwa aku telah sampai tetapi niatku kuurungkan. Seorang bapak tua medorong gerobak penuh dengan roti melewati pool travel sambil berteriak dengan suara khas. "Rotiiii.......!"
Aku berdiri dengan membawa serta rangselku dan berjalan hendak melihat roti apa saja yang dijual.
Tiba-tiba terdengar dering iphoneku, aku mengeluarkan iphoneku dari kantong celana. Ternyata Mbak Yani, guru Bahasa Inggris yang menelepon.
"Hallo Mbak Yani...?" sapaku
"Selamat malam mas, maaf mengganggu? Saya ingin mengundang Mas Arjuna untuk ikut hadir di acara English Camp
Hari Sabtu dan Minggu apa kira-kira Mas Arjuna bisa menyempatkan waktu ikut berpartisipasi?"
"Wah maaf sekali Mbak Yani, posisiku sekarang ada di Semarang sampai hari minggu sore. Kenapa baru sekarang undangannya?"
"Oh...Mas sedang di Semarang ya? Maaf mengganggu"
"Saya juga baru
sampai 10 menit lalu."
"Baiklah kalau begitu, lain kali saya akan berikan undangannya lebih cepat. Ada acara apa Mas di Semarang?"
"Hanya jalan-jalan bertemu teman. Acaranya apa saja?"
"Banyak...ada talent show, camp fire dan banyak deh"
"Baiklah....lain kali saya ikut deh"
Percakapan kami terhenti setelah aku menutup telepon. Aku merasa jauh setelah percakapan ditelepon tadi, ada rasa terasing dari ketenganan kota Solo. Aku berjalan keluar dari ruangan pool dan melangkah mendekat Pak Tua yang dengan setia menunggu pembeli.
"Pak....ada roti semir?"
"Ada om.....roti coklat meses juga ada!" katanya
Penjual yang bernama Pak Thurmuzi itu menunjukkan beberapa roti.
"Silahkan dipilih, mau yang mana....?"
"Roti semir saja pak satu....?" kataku
"Lima ribu.....!" katanya sambil memberikan roti panjang berisi cream.
Aku membayar dan
kembali masuk kedalam ruangan pool. Teleponku berdering lagi saat aku sedang makan roti.
"Mbak Citra..?"
"Kamu dimana..?"
"Aku di ruangan pool..!"
"Aku masuk di ruangan pool kok tidak melihat kamu?"
"Tunggu..!" kataku sambil menghampiri petugas di pool itu.
"Mbak ini jalan apa?"
"Ini Jalan Atmodirono Raya no 50" kata petugas dengan sopan.
"Terima kasih.....!" kataku
Aku memberitahu Mbak Citra lokasi pool travel dimana aku berada. Ternyata dia salah tempat menjemputku, aku diminta untuk menunggunya sekitar 30 menit lagi.
Mendengar suara Mbak Citra membuat
ku senang, rasa terasing yang tadi mengintip terpudarkan oleh suara indah Mbak Citra.
Sebuah mobil travel datang dan berhenti didepan pool, petugas memberitahu dengan meneriakkan "Tasikmalaya...tasikmalaya..."
Beberapa penumpang berdiri dan melangkah kearah mobil travel yang baru
saja sampai. Tinggal aku dan 3 orang lain yang masih berada didalam ruangan pool.
"Mas mau kemana toh?" tanya petugas
"Saya nunggu jemputan mbak, apa mau segera tutup" tanyaku was-was
"Belum.....kantor tutup jam 11 mas"
"Oh.....untung kalau begitu, jemputan saya agak terlambat"
Sebuah Harrier dengan plat AD berhenti didekat pool. Lampu didalam kabin dinyalakan dan terlihat Mbak Citra melambaikan tangan dengan wajah tersenyum di lemparkan kearahku. Rasa lega terasa, aku ternyata tidak diabaikan. Aku berdiri dan berpamitan dengan mbak petugas pool.
"Masuk.....!" katanya saat aku berdiri didekat pintu dengan kaca jendela terbuka. Wajahnya menyiratkan sebuah kerinduan. "Rambutmu sudah agak panjang dan kamu terlihat macho..!" katanya memuji
"Aku lapar sekali...." kataku memberitahu
"Aku drop kamu di hotel malam ini, kamu makan
di kamar hotel. Aku pesankan makanannya sebab aku harus segera kembali ke rumah sakit"
"Jadi Mbak Citra mau langsung ke rumah sakit setelah mengantar aku ke hotel?"
"Iya...mami tidak ada yang menjaga saat ini, aku tadi keluar tanpa sepengetahuan siapapun"
"Ya sudah...ngga apa2x"
"Kapan kita ketemu.....?" tanyaku ingin tahu
"Besok pagi, segera setelah aku meninggalkan rumah sakit aku akan segera ke hotel. Cium dulu aku!" kataku sambil mencondongkan badannya.
Bibirku menempel di pipinya dengan mengecup "Muaach" aku membisikkan kata rindu kepadanya"
"Sama"
Jawabnya sambil matanya melirik kearahku. "Aku ingin batangmu masuk kedalam memekku. Aku kangen ini....." katanya sambil tangannya meremas batangku dengan gemes.
Mbak Citra memundurkan mobil dan meninggalkan kantor pool travel. Mobil Harrier berwarna putih nampak sangat gagah
suara mesin bervolume 3000 CC tdk terdengar hingga kedalam kabin mobil. Tangan kami berpegangan sementara Mbak Citra terus mengemudi.
"Aku agak lama di Semarang..!" katanya
"Oh..?"
"Mami perlu orang untuk menjaga & merawatya. Papi sudah terlalu tua kalau harus menjaga sendiri"
"Kasihan ya......"
"Aku pulang ke Solo 2 minggu sekali."
"Janji.....?"
"Iya janji.....aku tidak bisa lama-lama jauh. Aku pingin sekali kamu ada di Semarang"
"Seandainya aku sudah selesai ujian nasional, aku mau tinggal di Semarang"
"Sudah jangan dipikir, kamu harus konsentrasi
ujian nasional supaya tidak sampai gagal.
Mobil memasuki sebuah hotel dengan tempat parkir yang sangat luas, seorang petugas satpam mengarahkan ke area lobby untuk dropping penumpang dan barang. Pintu lobby terbuka saat mobil berhenti disamping kanan pintu. Hembusan angin dingin
AC keluar dari dalam. Dengan menenteng tas rangselku, aku berjalan kesamping. Mbak Citra bertanya kepada seorang bellboy apakah bisa parkir sebentar di area itu. Dengan mengangguk sopan, dia memberitahu dengan syarat tidak terlalu lama"
Mbak Citra membantuku untuk check in,
dan mengantarku ke kamar setelah menerima kartu kamar hotel. Kamar yang aku tempati berada di lantai 8 no 18.
"Aku pesankan sekalian makanan untuk makan malam baru aku pulang" katanya memberitahuku sesaat setelah melangkah masuk kamar.
Dia berjalan kearah telepon dan memencet
nomor.
"Kamu mau makan apa?" tanyanya
"Nasi goreng saja deh.....terlalu lama kalau pesan lainnya."
"Kamu tidak mau makan steak?"
"Tidak.......!"
Seseorang menjawab panggilannya dan Mbak Citra memesan beberapa jenis makanan.
"Kenapa pesan banyak?" tanyaku
"Tidak banyak hanya 3"
Setelah meletakkan gagang intercom, aku memeluknya dari belakang. Rasa rinduku memeluk tubuhnya seperti melebur dengan kehangatan tubuh yang kepeluk.
"Aku kangen......." bisikku dari belakang
"Huuussshhh....aku tidak bisa malam ini! Aku harus cepat kembali ke rumah sakit"
Pelukanku tidak mengendor meskipun tangannya berusaha melepaskan pelukanku. Mulutku mengecupi pundaknya yang terekspose karena baju bagian pundaknya sedikit terbuka.
"Kamu tahan dulu...sampai besok!" bisiknya
Aku memutar tubuhnya menghadap kearahku, tangannya melingkar keleherku.
"Kamu tahu ...aku sangat ingin bersamamu malam ini, tapi keadaan belum memungkinkan. Tunggu sampai besok ya...!! Aku tidak bisa malam ini"
"Aku mengerti....paling tidak peluk aku dulu!" bisikku sambil menarik tubuhnya kearahku.
Tangannya meraih pantatku dan mendorongnya kearahnya
Kedua tanganku memeluk tubuhnya dengan erat, tubuh hangatnya merambat kearah tubuhku. Batangku mengencang dan menempel dibagian perutnya dengan tonjolan keras.
"Kamu sedang birahi juga ya?" katanya sambil tangannya memegang batangku. "Sudah aku harus cepat keluar dari kamar ini"
"Kenapa.....?"
"Aku takut kalau tidak keluar sekarang, semua bisa jadi runyam." katanya sambil mengecup pipiku.
"Kling-klong...!! Room service....!"
"Makananmu sudah datang......siapkan uang 10 ribu. Kasih pelayannya tips" katanya sambil berjalan kearah pintu. Aku mengambil uang
dan memberikan kepada Mbak Citra. Seorang pelayan wanita membawa masuk sebuah tray dengan makanan pesanan diatasnya. Mbak Citra memberikan uang tips dan berjalan keluar setelah memberikan uangnya, sementara pelayan menaruh makanan diatas meja.
"Terima kasih ...." kataku
Pelayan
berjalan keluar & menutup pintu kamarnya.
Aku duduk disebuah kursi & menikmati makanan yang dipesan Mbak Citra.
Pak Haryadi meneleponku saat aku sedang makan, aku tdk menjawab telepon panggilannya. Aku baru meneleponnya setelah aku selesai makan.
"Selamat malam Pak Haryadi....
Maaf tadi saya sedang sibuk, apa yang bisa saya bantu?" kataku basa basi
"Besok kan hari sabtu, kita rencana ada rapat di kantor PMS. Bisa tidak kamu datang sekitar jam 11. Rencana akan ada investor yang tertarik menanamkan dana mereka. Sebaiknya kamu bisa datang sebab kamu yang
lebih tahu tentang pasar saham"
"Wah kalau besok saya tidak bisa Pak Haryadi, posisi saya sedang diluar kota. Kalau hari minggu jam 4 sore kira-kira bisa tidak? Saya usahakan hadir kalau hari minggu."
"Iya...aku memberitahu terlalu mendadak tapi coba aku tanyakan dulu siapa tahu
mereka bisa. Nanti kukabari segera setelah aku dapat kepastian. Okay gitu dulu ya...!" kata Pak Haryadi.
Aku kemudian menelepon ibu, memberitahukan bahwa aku sudah sampai di Semarang. Ibu sudah tidur dan terbangun saat telepon diluar kamar berdering. Bapak belum pulang jadi Wulan
menemani ibu tidur dikamar. Terkadang aku sedih saat mendengar suara ibu ditelepon. Suaranya seperti suara orang yang lelah bekerja. Walaupun pekerjaannya tidak mengandalkan fisik, tetapi kerjaan ibu sangat panjang. Bangun pagi sejak jam 4:30 setiap pagi hingga jam 4 sore
setelahnya baru bisa istirahat. Perjuangan ibu sangat nyata setiap hari dan itu membuatku tersadar, perjuangan seorang wanita seperti tiada akhir. Selalu ada yang perlu diselesaikan, bahkan dalam tidurnyapun wanita selalu memikirkan apa yang harus dilakukan supaya anak-anaknya
tercukupi dan terjaga keselamatannya.
Aku tidur setelah selesai berbicara dengan ibu. Tidurku terasa pulas dan tanpa gangguan. Semua terasa nyaman dan tenang, suasana kamar terasa sangat mendukung hingga aku tidak terjaga sama sekali selama tidurku. Aku terbangun sekitar jam 8.
Satu hal yang hampir tak pernah aku lakukan selama hidupku kecuali saat-saat sakit atau sangat lelah. Kebiasaan bangun tidur saat subuh sebagai pengantar koran telah terpatri dan melekat secara otomatis. Kebiasaan yang kubawa saat aku berada dirumah selalu membuatku sadar waktu
harus bangun dan bekerja.
Aku nyalakan teleponku untuk mengecek apakah ada miscall dari Mbak Citra. Yang ada justru miscall dari Cik Anneke 2 kali.
"Aku harus cepat mandi dan bersiap siapa tahu Mbak Citra akan segera tiba." pikiranku mengingatkanku.
Dan itulah yang aku lakukan.
Setelah mandi aku menyempatkan waktu menelepon Cik Anneke selagi aku jalan ke restaurant di lantai 3.
"Kamu dimana sayang....? Aku telepon kamu beberapa kali tak kamu jawab. Aku kira kamu sedang sakit atau terjadi sesuatu di jalan. Jangan kamu bikin seperti ini lagi ya?" katanya
dengan suara kalut.
"Aku baru bangun tidur, maaf aku tidak sengaja bikin khawatir" kataku
"Kamu dimana sekarang...?"
"Aku sedang diluar kota, aku pulang hari minggu besok"
"Pantas suamiku bilang meeting dengan investor di cancel karena kamu sedang diluar kota"
"Maaf cik, nanti
kutelepon lagi aku sedang ditunggu sepupuku."
"Oh okay...kamu jaga diri ya, hati-hati ya sayang. Kenapa kamu tidak kasih kabar kalau mau ke luar kota"
"Sudah...nanti sambung lagi" kataku sengaja supaya terdengar agak buru-buru.
Makan pagi di hotel bintang lima sangat berkesan.
Makanan disajikan secara bebas, aku tinggal memilih apa yang aku suka. Ada masakan ala barat roti, selai, mentega dan cereal. Ada juga makanan khas Indonesia seperti pecel, soto kudus dan sayur tumpang. Berbagai jenis minuman dari teh, kopi dan juice juga tersedia. Hotel ini
ini nampaknya hotel yang populer di Semarang karena tamu hotel nampak sangat banyak & meja dan kursi yang tersedia hampir penuh. Aku memutuskan untuk makan di meja bar dengan kursi tinggi tanpa sandaran.
Seorang pria duduk disampingku dengan suara agak keras berbicara di telepon
Pembicaraannya santai, sehingga terdengar lucu saat tertawa. Aku tak bisa menahan tertawaku saat dia terpingkal2x. Aku sempat tersedak saat aku berusaha menelan makanan sementara tawanya tiba-tiba menggelegar dengan suara lucu. Nampak dia sadar bahwa tawanya membuatku tersedak,
dia menoleh kearahku & meminta maaf. Dia menutup teleponnya dan percakapan ringan antara kami dimulai disela-sela makan pagiku. Dia tinggal di Bogor tetapi asal Semarang, pulang untuk menghadiri perkawinan keponakannya. Sebaliknya dia juga menanyakan kepadaku apa yang aku lakukan
secara basa basi aku menjawab bahwa aku sedang bertemu dgn beberapa investor dari semarang.
Mungkin suaraku tidak meyakinkan sehingga dia tidak menanyakan lebih lanjut tentang investasi apa yang aku lakukan.
Percakapan kami berakhir saat teleponnya berdering, dia pamit keluar
sementara aku terus malanjutkan sarapanku. Jam menunjukkan hampir jam 9. Belum ada tanda-tanda Mbak Citra datang atau memberitahu bahwa dia akan datang. Aku kembali merasa seperti tersesat atau hilang. Ingin keluar melihat-lihat kota tapi terikat dengan penantian mbak Citra yang
akan datang. Aku ingin telepon tetapi merasa tidak enak. Setelah makan dan menikmati jajanan yang disediakan, aku keluar dari restaurant dan berjalan kembali naik kekamarku.
Aku kekamar mandi untuk buang air besar saat Mbak Citra menelepon.
"Kamu dimana sayang?"
"Kamar mandi"
"Sudah sarapan belum......aku mampir dulu beli lumpia Semarang."
"Mbak, jangan beli banyak-banyak nanti tidak kemakan"
"Iya......jangan kuatir. Aku hanya beli 15 saja. Kamu tadi makan apa sayang? Kamu kangen tidak sama aku?"
"Aku tadi mau telepon, tapi aku takut mengganggu"
Mbak Citra datang sekitar 30 menit kemudian. Wajahnya terlihat lelah kurang tidur, baju yang dipakainya semalam masih menempel ditubuhnya.
"Mbak Citra ngga tidur cukup semalam?" tanyaku "Aku mau peluk?"
"Eeiittt...jangan dekat-dekat dulu. Aku dari rumah sakit sebaiknya aku mandi
dulu. Dia meletakkan sebuah tas dan plastik berisi makanan lumpia yang masih terlihat panas karena uapnya terlihat di plastik kresek yang membungkus kotak putih bertuliskan lumpia.
Mbak Citra masuk kedalam kamar mandi dan suara aliran air terdengar dari dalam kamar mandi.
Aku teringat untuk mencukur bulu jembutnya, mungkin pagi ini aku akan mencukurnya. Di kamar mandi hotel tersedia toiletries kit, salah satunya adalah pencukur kumis. Ada shaving cream yang ditempatkan di sebuah tube kecil dalam satu tas kecil bersama sabun, shampoo, shower cap
sikat gigi dan pasta gigi serta kebutuhan toiletries lainnya. Aku masuk kedalam kamar mandi dan melihat tubuh telanjangnya. Kulit tubuhnya sangat halus dan membuatku ingin segera menyentuhnya.
"Kenapa masuk ke kamar mandi....?" katanya sambil menutupi buah dadanya dan segitiga
selangkangannya.
"Kenapa harus ditutup.......?" tanyaku mendekat sambil menepis tangannya yang menutupi dadanya.
"Aku mau ambil shaver ....." kataku sambil mematikan shower
Aku mencondongkan badanku kedepan dan mencium pipinya. "Cepat keluar.....aku sudah tidak tahan menunggu"
"Tunggu sebentar lagi....!" katanya sambil tersenyum
Tanganku memukul pelan pantatnya, terdengar suara "plak" saat telapak tanganku menyentuh kulit pantatnya yang basah.
"Addduhhhh.....!" suaranya saat berseru. "Nakal...!
"Katanya Mbak Citra suka yang nakal....!" kataku menyengir
Aku keluar dari kamar mandi, Mbak Citra menyusulku sesaat kemudian dengan handuk melilit menutupi tubuh basahnya.
Aku berdiri dari kasur saat dia muncul dari kamar mandi.
"Kesini mbak.!"
"Tunggu, aku keringkan dulu rambutku"
Kembali dia masuk kedalam kamar mandi, tetapi pintunya
tidak ditutup.
Aku berjalan kearahnya dan menyusulnya masuk kedalam kamar mandi.
Suara hairdryer mendesing sangat nyaring, udara panas keluar dari semburan udara yang keluar dari hairdryernya.
"Setiap hari harus mengeringkan rambut pakai hairdryer?" tanyaku
"Iya toh....aku harus
keramas setiap hari supaya rambut tertata baik. Rambut harus dikeringkan supaya mudah diatur dan dibentuk. Bandingkan dengan yang tidak di hairdrying, rambut akan terasa kusut & tidak beraturan sekalipun sudah di sisir."
Tanganku memeluknya dari belakang, hanya saja aku tak bisa
mendekatkan kepalaku kearah pipinya. Kedua tangannya sibuk menyisir dan memegang hairdryer, tanganku leluasa menguliti dan melepas handuk yang melilit ditubuhnya.
"Weeeiiii.....nakaaaaaalll!!!!" katanya berseru
Dari pantulan cermin yang tergantung diatas wastafel, tubuh mulusnya
sangat menggairahkan dengan dua gundukan payudara yang penuh didadanya. Tanganku segera memegang dan menggerayangi gundukan empuk itu.
"Kamu ngga tahan ya......?" kepalanya menengok kearahku saat hairdryer telah dimatikan. Tangannya turun meraba-raba batangku yang telah mengeras.
Aku balikkan tubuhnya kearahku dan mengangkat tubuhnya keatas meja wastafel.
"Aku takut meja wastafel ini roboh..!" bisiknya
Aku renggangkan kedua pahanya & mendekatkan tubuhku untuk mendekapnya. Tangannya menolakku, mengangkat ujung bawah kaos yang aku pakai guna melepaskannya.
Dia berikan kaosku yang sudah terlepas untuk ku gantung, tubuh kami segera menyatu skin to skin.
Kami saling mencumbu dan memuaskan rindu, tanganku menggerayangi puting dan payudaranya,
"Ohhhhh sayang ................" suara desahnya sangat kental dengan birahi. Matanya terpejam
menikmati remasan tanganku didadanya, jari-jariku memilin pelan berulang ulang. Dia mengangkat kepalanya mendongak keatas, bibirku menempel dilehernya yang mulus. Ingin aku menghisap kulit lehernya dan membuat cupang disana. Tangannya mengelus-elus wajahku, sambil terus mendesah
panjang dan dalam. Ruangan terasa panas oleh uap udara dari nafas kami. Cermin terlihat berembun, tubuh kami berkeringat dengan peluh menetes dari pori-pori kulit kami.
"Lepas celanamu sayaaaaang......lepas cepat!" bisiknya seperti tertahan.
"Jangan disini.....!" kataku sambil
menarik tangannya keluar dari kamar mandi. Aku mengambil handuk yang baru yang masih kering dan membawanya masuk kedalam kamar. Handuk yang aku bawa masuk, aku bentangkan diatas kasur dan mendorong tubuhnya untuk berbaring diatasnya. Aku meraih shaver dan cream yang aku taruh
diatas kasur sebelum aku masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu mau apa......?" katanya setengah kawatir.
"Aku mau cukur rambut kemaluan Mbak Citra."
"Ampuuuuunnn kamu serius toh waktu itu?"
Dia diam, aku naikkan kakinya diatas kasur dengan membukanya lebar-lebar.
Tangannya menutupi
permukaan vaginanya, saat aku mengeluarkan sedikit shaving cream.
"Tunggu dulu.......!" katanya "Nanti kalau memekku kepotong bagaimana?"
"Aku akan hati2x ....janji....!" kataku meyakinkan
"Cium dulu sebelum digunduli......" pintanya, tangannya meraih kepalaku dan membimbingnya
mendekat lobang ditengah selangkangannya. Memeknya telah berlendir, basah kuyub dengan cairan licin dan lengket. Lidahku menyentuh diatas lobangnya, jauh dari lobang & clitorisnya. Aku menggodanya dengan menjilati bagian kulitnya sambil menekan lidahku. Dia merasa geli, tangannya
kembali memegang kepalaku, sambil agak menjambak rambutku dengan keras, dia mengarahkan lidahku untuk menjilati memeknya.
Aku bersikukuh dengan membelokkan lidahku, mengenai bibir luar dan jauh dari lobangnya. Dia menekan kepalaku, kedua pahanya dia angkat & menimpakannya diatas
kepalaku. Dia tekan sambil mengunci
"Yaaaaaanggg....ohhhh yaaaa situ...disitu....!" katanya saat jilatanku mengenai tengah lobang memeknya. Tangannya menarik rambutku keras dan mendorong dan menekannya kebibir dan lobang memeknya. "Ooohhhh sayaaanggg ...ohhhh sayang....teruss!"
Hidungku tergencet dan aku susah bernafas, aku menggunakan tanganku untuk melepaskan himpitan kakinya. Setelah agak mengendor, aku mendorong kedua pahanya untuk membuka. Kemudian telusupkan jari telunjukku kedalam memeknya. Daging empuk vaginanya membuka dan jariku masuk dengan
mudah. Kulit jariku menyentuh area halus dan lembut serta basah lobang kemaluannya. Pantatnya dia angkat dan pinggulnya dia gerakkan sedemikian rupa hingga membuat gerakan erotis.
"Ooooooohhh....sssss...tttt jilat lagi...jilattt lagi sayang"
Tangannya meraih kepalaku lagi,
mendorongnya mendekat kearah memeknya. "Tunggu...lidahku kaku habis menjilati....sabar ya!"
"Ayooooo....cepat sayaang....!"
Tangannya mendorong dengan agak keras, sementara jariku terus menusuk-nusuk pelan. Aku melengkungkan jari telunjukku dengan ujung menghadap keatas. Dinding
memeknya aku sentuh-sentuh pelan dengan gerakan maju mundur. "Terrrruuuuss.ooohhhh.....teruss ooooohhh" suaranya melengking keras. Aku jilati klitoris dan menusuk nusuk bersamaan. Tiba-tiba jeritannya makin melengking saat pinggulnya dia gerakkan dan pantatnya dia dorong keatas.
"Wusssshhh....crrroooootttt.......crooottt....!" semburan air dari lobang memeknya nyemprot keatas tanpa bisa ditahan. Getaran pinggulnya seperti gerakan liar otomatis orgasme yang membawanya ke sebuah kenikmatan ragawi. Setelah agak mereda kembali aku masukkan jariku dan menusuk
nusukkannya secara berulang-ulang. Kembali dia melenguh keras....sangat keras "Oooohhhhhhh.......lagi.....lagiiiiii oooooohhhhh.....ssssstttt.....sssttt....oohhhhhh" semprotan kedua semakin kencang, semburannya agak menjauh dari kasur. Getarannya pinggulnya sangat kuat, wajahnya
terlihat puas yang tertahan. Tubuh bagian atasnya juga bergetar efek dari goyangan liar otot-otot pelvis saat mencapai puncak.
"Mau lagi.......?" tanyaku saat gelinjang tubuhnya mereda.
Seperti sedang menahan dan mengatur nafasnya, dia menggelengkan kepalanya. Aku ambil keset
lantai yang ada didalam kamar mandi untuk mengeringkan lantai. Sebagian karpet yang berada dibawah dipan basah juga oleh semprotan orgasmenya.
Aku mengambil face towel dan mengelap paha dan memeknya.
"Jangaaaannnn...masih sensitive!" katanya memberitahuku. Tangannya menahan
tanganku untuk membersihkan memeknya.
Dia mengambil handuk yang aku pegang dan mengelap kering sisa sisa semburan air orgasmenya.
Dia memberikan handuknya kembali kepadaku, dan aku membantu mengelap kakinya yang masih basah oleh cairannya sendiri.
"Sini......." katanya memohonku
setelah aku mencuci tanganku dan mengembalikan handuk kecil yang kugunakan untuk mengeringkan badannya.
"Lepas celana.....!"
Aku melepas celanaku dan celana dalam yang aku pakai, ada lendir basah lengket yang menempel dicelana dalam.
"Sudah basaaah......!" katanya dengan mimik
wajah sange. Tangannya dijulurkan ingin meraih batangku. Aku ingin menindihnya tapi aku kalah cepat, karena dia telah bangkit dulu dan mencengkeram batangku. Dengan berdiri diatas kedua lututku, aku menahan tubuhku dengan memegang kedua pundaknya. Lidahnya dia julurkan, ujungnya
menyentuh kepala batangku. Aku melenguh terasa gatal. Dengan jarinya dia mengelap cairan kental yang keluar dari lobang batangku. Gesekan ujung jarinya saat mengelap terasa nikmat. Batangku menegang dan mengeras, nampaknya itu yang dia suka. Mulutnya dia buka dan batangku dia
masukkan dengan lembut, mulut dia katubkan. Hisapan lembut dan pelan terasa meresap, batangku bereaksi menegang. Matanya memandang keatas melihat reaksiku. "Suka.....?" katanya lirih setelah melepas sesaat batangku.
Tangannya memegang batangku dan mengocoknya naik turun.
Aku sangat ingin segera memasukkan batangku kedalam lobangnya. Aku mendorong tubuhnya supaya dia berbaring di kasur, tetapi dia menolaknya.
"Sebentar..aku belum selesai!" katanya sambil menghindari tanganku
"Sambil berbaring saja kalau begitu?" pintaku
"Tunggu...sayang" katanya
matanya melekat di batangku, mulutnya dengan leluasa menikmati batangku. Tangannya mengocok batangku perlahan dan terlihat sangat menikmati. Kantong matanya menebal karena sange, posisiku tidak memberiku kesempatan untuk mencium atau menikmati tubuhnya. Akhirnya aku tidak tahan
juga. Dengan sedikit agak kuat, aku akhirnya mendorong tubuhnya hingga dia terbaring. Tangannya masih tidak mau lepas dari batangku. Terpaksa aku menuruti maunya, mulutnya kembali disumpal dengan batangku.
"Aku bisa semalaman begini......!" katanya
"Tidak capek....?"
"Sudah...!"
"Kenapa.....?" tanyanya
"Aku mau keluar...." jawabku
"Keluarkan....!"
Aku menggeleng....
"Aku ingin menindih badan Mbak Citra, aku tidak tahan untuk menggoyang" bisikku
Aku memposisikan tubuhku sejajar dan memintanya untuk membuka kedua pahanya.
"Buka sedikit aku tak tahan"
"Jangan buru-buru keluar......!" katanya setengah memohon
Tubuh hangatnya menempel dan menyatu dengan tubuhku, hawa hangat seperti mengalir, tubuhku menghimpitnya dan batangku mencari lobang nikmatnya. Sambil mencari-cari pantatku naik turun berusaha menembus lobang nikmatnya.
"Keatas sedikit sayaaang...." katanya dengan suara mendesah
Aku angkat sedikit keatas pantatku dan menusuk masuk pelan.
"Ooh...aah..." saat ujung batangku melesak masuk memeknya yang telah basah. Bibir memeknya menyempit seolah menahan laju batangku. Kulit kepala batangku terasa
sensitive dan rasa nikmat seperti menjalar seirama goyangan pinggulnya. Akses masuk kedalam lobangnya terasa sangat mudah. Piston masuk keluar dengan lubrikasi cairan vaginanya menimbulkan rasa nikmat tiada tara.
"Sayaaang...enak sekali " bisikku ketelinganya.
Mulutku menjilati
cuping telinganya, desahan yang keluar dari mulutnya makin keras.
"Masukkan lebih dalam..Oohh....ohh..sstt"
Kedua kakinya dia angkat tusukanku kedalam vaginanya makin dalam. Batangku terasa amblas masuk tak tersisa. Goyangan pinggulnya menimbulkan friksi nikmat, "Goyang lagi..!"
Suaraku seperti sebotol bensin yang membakar birahinya, sementara aku menyodok nyodok masuk, dia menggoyang pinggulnya dengan liar. Gerakan kami seperti gerakan memuaskan nafsu, batangku menggosok gosok dinding memeknya. Tiba-tiba dia menegang dan jari2x tangannya mencengkeram
lenganku. Teriakannya nyaring mengagetkan aku
"Ooooohhh...ohhhhh....teruss...terus ohh!" seperti air bah keluar dari lobang bendungan, air menyembur keras dari dalam vaginanya.
Gerakan binal pinggulnya membuat batangku keluar berbarengan dengan semburan air dari dalam lobangnya.
Suaranya seperti merintih, tangannya tiba2x menangkap tanganku & menyorongkannya ke memeknya. Aku masukkan jari tengahku untuk mengocok & mencolok menuntaskan orgasmenya.
"oohh....ohh...ooh.aahh " suaranya meninggi saat cairannya muntah lagi.
"Wanita ini seperti tak pernah lelah"
kataku dalam hati.
"Sini....." katanya
"Tidak mau.....basah semua. Tunggu aku ambil handuk, aku akan keringkan dulu" kataku
Aku beranjak dari tempatku dan berjalan kekamar mandi untuk mengambil handuk. Ternyata Mbak Citra menyusulku masuk kedalam kamar mandi.
Tangannya memelukku
dari belakang, payudara kenyal menempel dipunggungku.
"Kenapa ikut kesini?" tanyaku penasaran
"Aku ingin ditusuk dari belakang!" katanya
Dia menarikku didepan wastafel, dia mencondongkan tubuhnya kedepan didepan cermin yang menempel diatas wastafel.
Pemandangan erotis tubuhnya
menjadi bumbu nafsu dan birahiku. Tangannya menjulur kebelakang mencari batangku dan menuntunnya ke lobangnya.
"Masukkan lagi cepat.....!" perintahnya pelan
Aku menyodokkan perlahan, tanganku meremas daging bokongnya. Gesekan dengan daging empuknya terasa berbeda, aku menikmati
posisi ini. Kepala batangku terasa menggesek gesek daging empuk yang nikmat. Aku merasa tak tahan untuk tidak menyemprotkan spermaku. Sodokanku makin kencang. "Aku mau keluar...!" tanganku mencengkeram keras daging pantatnya, dia mengimbangi dengan mendorong tubuhnya kebelakang.
Gesekan semakin intense, batangku menegang, mengeras"
"Keluarkan didalam....keluarkan didalaaaam!" teriaknya. Suaranya memicu ledakan yang kuat, batangku menyemprotkan benih kedalam rahimnya. Denyutan-denyutan nikmat menyertai setiap semprotan yang keluar dari batangku.
Mbak Citra memandang aku dari dari pantulan cermin didepannya. Rasa puas tersirat dari wajahnya. Aku menyandarkan tubuhku kebadannya yang condong kemuka.
"Enaaaak sayaaaaang......" bisiknya lirih saat batangku keluar dari lobangnya. Tetesan sperma menyertai keluar dari lobangnya.
"Kenapa kita hidup ya..?" tanya Mbak Citra saat kami berbaring bertelanjang badan setelah mandi ulang bersama.
"Setiap insan punya tujuan dan maksud dari penciptaan dan hidup yg harus dijalan." mataku memandang kearah matanya. Pelukanku ketubuhnya menghangatkan tubuhnya setelah
mandi bersama & dinginnya ruang kamar hotel.
"Kamu punya tujuan hidup?" katanya lirih, jarinya menyentuh kulit dadaku dan melingkari putingku.
"Aku punya alasan untuk hidup, ada orang yang bertanya hal-hal sederhana seperti ini. Tapi aku punya tujuan baru dalam hidup. Aku diberi
kemudahan untuk hidup, maka aku juga harus berusaha menghidupi yang hidup."
"Menghidupi yang hidup.....?"
"Ada anak-anak di panti asuhan yang sedang berjuang untuk hidup. Hidup mereka tak menentu karena mereka hidup dari sokongan para penderma. Aku sangat terbeban dengan mereka
yang masih kecil. Secara mereka sangat bergantung pada belas kasihan orang-orang yang seharusnya memenuhi kebutuhan bukan saja jasmani tetapi juga rohani, kasih sayang dan sentuhan"
"Aku juga bergantung denganmu, aku nanti mau ikut kamu ke Singapore supaya aku bisa menghidupi
kamu"katanya dengan mimik serius.
Puting didadaku mengencang saat jari-jarinya menowel-nowel ujungnya. Terasa gundukan gundukan kecil yang lembut mengitari putingku. Ternyata ada reaksi syaraf yang memicu rangsangan dari puting pria. Hal yang sama juga berlaku bagi puting wanita.
"Boleh......?" tanyanya kepadaku, matanya memandang langsung kemataku.
"Boleh apa.....?" tanyaku ingin tahu
"Boleh aku ikut kamu tinggal di Singapore?"
"Boleh......aku suka kalau Mbak Citra mau"
"Aku hampir seminggu di Semarang, terus terang aku merasa kesepian jauh dari kamu"
"Kan kita bisa telepon kapan saja...."
"Rasanya lain kalau bicara ditelepon, kamu merasakan bedanya tidak kalau kita bisa dekat seperti ini dibandingkan telepon."
Jelas beda iya...., tapi aku senang kalau Mbak Citra bisa tinggal denganku di Singapura. Paling tidak aku tidak akan
mikir apa yg aku makan kalau sudah pulang dari kuliah. Aku juga tidak perlu memikirkan mencuci dan menyetrika bajuku"
"Aku dgn senang hati melakukannya" bisiknya sambil mengecup kulit dadaku.
"Tadi malam bisa tidur di rumah sakit?" tanyaku
"Iya bisa...tapi aku tidak bisa nyenyak"
"Besok aku harus pulang jam 12, krn jam 4 aku akan ada rapat. Pak Haryadi telepon aku, sebetulnya pagi ini rapat dijadwalkan tetapi krn aku berada diluar kota rapat ditunda besok. Aku tunggu telepon Pak Haryadi apa jadi rapat atau tidak besok sore"
"Aku ngantuk...kita tidur yuk?"
Dengan masih berpelukan, aku melingkarkan tanganku ketubuhnya. Kulit badannya yang halus dan rambutnya yang harum membuatku terbuai dan lelap dalam tidur.
Kedua daging payudaranya menempel hangat diperutku sementara wajahnya melekat erat di dadaku.
Kami pulas hingga sekitar
jam satu siang. Aku bangun terlebih dahulu saat tubuhnya bergerak hendak pindah posisi. Sementara Mbak Citra masih terlihat pulas dengan mata tertutup rapat. Rasa lapar menggerus perutku, dengan lambung berbunyi kemrucuk. Aku sentuh mengelus rambutnya dengan tanganku, menyibak
helaian rambut yang menutupi sebagian diwajahnya. Bibirnya mengatup dan sangat menantang untuk dikecup. Tanganku terasa lelah ditindih kepalanya sejak kita mulai tidur.
"Mbak....bangun, aku lapar!" kataku pelan tanganku mengusap wajahnya dengan pelan dan lembut. Matanya sedikit
terbuka saat tanganku kembali mengelus rambutnya.
"Aku masih mengantuk......." katanya pelan, dia menggulingkan tubuhnya kesamping, badannya memunggungiku. "Peluk aku dari belakang!" tangannya meraih tanganku dan meletakkannya didadanya. Wanita paling suka posisi seperti ini.
MENCUKUR JEMBUT
"Aku lapar mbak......" kataku lagi.
"Iyaaa.......sebentar lagi, aku masih belum puas tidurku. Peluk lagi yang lebih erat, pegang tetekku supaya tidak jatuh" katanya sambil tertawa
Bagian tubuh yang paling sensitive Mbak Rita ada didalam memeknya, disitu tombol Image
pemicu orgasmenya hingga muncrat keluar. Clitorisnya tidak terlalu sensitive, puting payudaranyapun juga tdk sensitive. Tetapi wanita suka bila payudaranya dinggenggam saat dipeluk dari belakang.
Aku beruntung, wanita yg kupeluk ini punya payudara padat & nikmat bila digenggam.
Aku yang menggenggamnya sering gemas dan terangsang, putingnya tidak terlalu besar dengan warna pink. Nyaman ditowel dan dihisap, aku suka menyembunyikan wajahku diantara gundukan kedua payudaranya. Sambil mendengar degup jantung dan deru nafas nafsunya setelah orgasme, terdengar
sangat berbeda. Aku merasa hidup sungguh berarti bila bersamanya. Dia membutuhkanku, mendambakanku, mau melayaniku & mengurusku.
Mbak Citra membalikkan tubuhnya menghadap kearahku, tubuhnya merapat kedadaku & kakinya ditimpakan satu kepinggangku.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Kok tahu aku sedang memikirkan sesuatu?"
"Perasaan dan insting wanita sangat peka, jadi jangan mempermainkan perasaannya" matanya memandang kearahku. Wajahnya terlihat cantik dengan mata menyelidiki seperti itu.
"Aku lapar......!" kataku sambil tersenyum
Senyumku menular, Mbak
Citra tersenyum membalas senyumanku. Tangannya meraih pipiku dan menarik kepala bagian belakangku kearah dadanya.
"Mimik susu dulu supaya bisa menahan rasa laparnya gih"
Aku bergeser kebawah dan memajukan kepalaku kearah dadanya. Tangannya dengan lembut mengelus elus kepalaku
saat mulutku menghisap dan memainkan puting payudaranya.
"Sudah satunya.....!" katanya sambil menyorongkan gundukan empuk payudara kanannya. Aku hisap puting satunya dan memainkannya dengan lidah. Kadang aku hisap sambil menarik kebelakang.
"Sakiiiiittt.......!!" katanya sambil
memukul pundakku. Tanganku menempel dipantatnya, memegangi kulit mulusnya, bergerak mengarah kelobang nikmatnya. Tersentuh pelan, rambut-rambut yang tumbuh disekitaran bibir memeknya.
"Aku akan cukur rambutnya setelah makan!" kataku
"Cukur sekarang saja.....!"
"Kenapa.....?"
"Kamu mau makan atau tidak...?"
"Iya....!"
"Orang kalau mau dapat makan harus kerja dulu, kalau sudah dapat uang baru bisa beli makan. Ayo cukur sekarang......!" Mau atau tidak....? Aku bisa berubah pikiran kalau tidak mau sekarang!" matanya memandang kearahku sambil menantang.
"Mana shaver sama creamnya kemaren" kataku
"Itu dibawah tempat tidur" katanya
Aku bangkit dari tempatku & melangkahi tubuhnya untuk turun dari kasur. Aku menemukan shaver dilantai bersebelahan dengan cream cukurnya.
"Sini..!" kataku sambil menarik kakinya.
"Tunggu aku mau pipis"
Aku mengambil tas kresek yang ada diatas meja, membelahnya separo supaya lebar. Aku menaruhnya diatas kasur supaya rambut kelaminnya tidak berceceran. Mbak Citra kembali keluar setelah pipis.
"Bagaimana posisinya?"
"Mbak berbaring menyilang dan disini pantatnya supaya rambutnya
tidak berceceran." Kataku memberi petunjuk sambil menepuk bagian pinggir kasur.
"Kenapa sih harus dicukur...?" tanyanya
"Jembutnya sering rontok kalau dijilati, masuk kedalam tenggorokan. Mbak ngga suka kalau aku keselek jembut toh?"
"Keselek jembut...? Hahahaha..."tawanya keras
"Aku suka melihat vagina gundul, terlihat bersih dan rapi" kataku "Vagina Mbak Citra bentuknya cantik, bibirnya juga bagus"
"Ada-ada saja kau ini..!"
"Beda dengan Vagina Cik Anneke!"
"Aku tidak mau kamu sebut2x wanita lain kalau sedang begini, sayang!"
"Ooops iya..maaf aku lupa"
Tanganku mengeluarkan cream cukur dan mengoleskan ke bagian pinggir memeknya. Aku oleskan perlahan-lahan dan merata.
"Ohh...kamu niat merangsang atau niat mencukur!" kakinya bergerak ingin menutup kedua pahanya.
"Tungguuuu...harus diolesi cream supaya tidak terluka saat dicukur"
Tanganku kembali mengoleskan cream dibagian pinggir selangkangannya. Kulit dibagian pinggir vaginanya mempunyai lipatan agak tebal sehingga agak mempermudah untuk mencukur bulu-bulu jembutnya. Hanya saja dia selalu bereaksi saat kulitnya diolesi cream. "Jangan goyang...aku sudah
akan mencukurnya. Sengaja aku mulai mencukur bagian samping vaginanya. Kulitnya sangat sensitive, aku tidak ingin ada goresan atau terpotong saat aku mencukurnya. Aku menarik kesamping pahanya supaya bisa memberi celah utk mencukur.
"Aku terangsang pakai posisi begini sayang...!"
Dengan tangan kiri aku mencukur bagian pinggir daging memeknya. Perlahan lahan dari luar aku tarik kesisi dalam, aku lakukan berulang ulang. Kulit jariku sering menempel dibagian permukaan lobang memeknya. Ada lelehan cairan vagina yang melekat dijariku, daging merah mudah
terpampang saat aku menekan bagian vaginanya supaya aku mudah mencukur sampai permukaan kulitnya. Terlihat akar2x jembut tertimbun kulit beningnya. Lobang merahnya menantang untuk dijilati, tapi aku menahan nafsuku. Setelah bagian samping kiri sudah terlihat bersih, aku pindah
kebagian samping satunya. Lobangnya bereaksi dan dagingnya bergerak seperti dubur ayam mengenyot enyot saat telur baru saja keluar. Ada kontraksi otot dan urat didalam vaginanya, itu terlihat jelas saat dia mengangkang seperti ini.
"Masih lama.....?" tanyanya sambil agak gemetar.
"Baru sebagian kanan, sekarang bagian kiri. Buka lebar kaki kiri sayang" kataku sambil mendorong paha kirinya. Dengan patuh dia membukanya. Aku olesi cream cukur disekitar pinggiran pangkal pahanya dimana agak lebat tumbuh jembut keriting hitamnya.
"Mbak....?"
"Kenapa sayang...?"
"Perih tidak....?" tanyaku
"Aku mau batangmu setelah selesai cukur....aku minta upahku membiarkanmu mencukur bulu-buluku" katanya setengah merengek.
"Iyaaa......" jari kelingkingku menggesek gesek lobang memeknya untuk menggoda.
"Ooohhh saaayaaaanngggg eanaaaakkkkk! Jangan nakal"
kedua pahanya mengatup, bereaksi atas tindakan jari kelingkingku yang mengusap usap lobangnya.
"Tunggu dulu.....!" kedua tanganku menahan kedua pahanya. Kembali aku mengoleskan cream dibagian samping kiri dan kembali serius mencukur bulu jembutnya. Gerakanku agak hati hati saat
mencukur dibagian daging labia mayora. Ada sebagian rambut yang tumbuh dibagian lipatan dalam. Aku terpaksa menekan kembali daging memeknya agak keras sambil memintanya utk tidak bergerak. Pinggulnya menggeliat, meliuk kesamping supaya jariku masuk kedalam lobangnya. Aku tekan
pelan sambil menggerakkan pisau cukurnya.
"Sudah......" kataku
"Sudah sini......!" katanya tidak tahan
"Beluuuummmm.......maksudku bagian kiri sudah. Sekarang bagian atas yang harus dicukur"
"Nanti bagian atasnya......!"
"Tidak....kerja harus tuntas ...!" kataku menyela.
Aku kembali mengoleskan cream cukur diatas bagian memeknya, bagian ini agak lebar dan banyak rambut tumbuh diatasnya. Medan cukurnya lebih mudah daripada bagian samping kanan dan kiri. Aku mulai mencukur dari bawah keatas. Sambil menekan jariku kearah vaginanya untuk mempermudah
pisau silet mencukur rambut-rambutnya.
"Ooohhhhh........sssssstttttt......tekan lagi sedikit turun!" katanya sambil menggeliatkan pantat dan pinggulnya.
"Iyaaa tunggguuuuu......! sudah hampir selesai....!"
"Masukkan sedikit jarimu seperti tadi....!"
"Katanya tidak boleh nakal?"
"Boleh sekarang...nakal sedikit. Masukkan jarimu seperti tadi....Oohhhhh.....ohhhhhh.iyaaaa....iyaaaaa.....begitu sayang......gosokkan...lebih dalam.....ohhhhh aggggggghhh oggggghhhhh......" wajahnya seperti menahan sesuatu. Pinggulnya gemetar kencang dan air menyembur keluar.
"Crit......! Crit......!!"
Untung kasurnya aku tutupi dengan tas kresek.
"oohhhhhh....ooohhhhh...enak sayang....!"
Aku melanjutkan lagi mencukurnya kali ini tanpa menekannya takut tambah lama selesainya.
"Oohhhh yaaaaaanggg lagiiii....lagiii sedikit lagiii...!"
"Sudah...sudah!"
"Lagiiiiiii....aku mau lagiiiii seperti tadi....!" permintaannya tak berhenti.
Aku tekan lagi sedikit....pinggulnya meliuk liuk, pantatnya dia angkat berlawanan dengan jariku yang menekannya. Aku gosokkkan jari kelingkingku diatas lobangnya, matanya melotot kenikmatan, wajahnya
menahan dengan pandangan sange berat. "Oooh.....oggggggghhhhhh......ohhhhh.......sayaaaangggg......sayangggg....ooohhhhhterusssss terusss goooossooookkk terusssss sayang....terussss ssaaayaaaang kamu menyiksaku ......gosoooookk terusssss sayaangku .....sayangku.......ooohhh
Kali ini air yang keluar seperti air bah yang ambyar keluar dengan jumlah yang banyak pecaaaaaaaah!"
Aku tutupi permukaan lobangnya dengan telapak tanganku supaya airnya tidak menyemprot kemana mana...matanya mendelik merasakan kenikmatan puncak. "Ooohhhhhh.....ohhhhhhh" jeritnya
Aku tersenyum senang melihatnya berguncang spt terkena serangan ayan. Ada rasa puas bisa membuatnya kepuncak kesenangan orgasme. Setelah mereda, nafasnya masih tersengal seperti ada yg mengganjal. Mbak Citra tersenyum kearahku dengan kedua lengan terbuka memintaku untuk mendekat.
Aku menuntaskan cukuran bulu-bulu kelaminnya hingga bersih. Memeknya gundul dan bersih, licin seperti anak baru lahir.
"Ayo kita cuci dulu sebelum kuciumi" kataku bangkit sambil menarik kedua tangannya.
"Ngga mau....! Aku mau batangmu dulu...." katanya meminta lagi.
"Sekarang?"
Dia menganggukkan kepalanya dengan manja......
Batangku berdiri melihat reaksi dan mimik wajahnya saat kepalanya mengangguk angguk pelan.
Tangannya meraih batangku, mulutnya terbuka siap untuk menelan batang panjangku. "Ampuuuunnn....!" pikirku. Bagian kepala batang dia masukkan
dan hisap pelan dengan gerakan kepala maju mundur.
"Sudah.....!" kataku
Dia menggelengkan kepalanya dengan batangku masih didalam rongga mulutnya. Aku memandang kebawah, melihat mulutnya dan tangannya sibuk mengocok dan menghisap batangku bersamaan. Tanganku mengelus kepalanya,
mulutku mendesis nikmat.
"Ayo kita ke kamar mandi" ajakku
"Aku mau ditindih....!" katanya saat melepas batangku
Dia mengubah posisinya dan berbaring ditengah kasur sambil merenggangkan kedua pahanya. Dia mengangkat kakinya saat aku telah berada diatas tubuhnya. Tangannya meraih
batangku dan mengarahkannya kelobang memeknya. Perlahan aku tusukkan kedalam dan menelusup masuk saat dia menggoyangkan pinggulnya. Memeknya telah basah oleh rangsangan dan batangku terasa disedot sedot saat didalam. Aku tarik keluar dan masukkan lagi perlahan lahan, Mbak Citra
mengerang panjang saat batangku masuk lagi kedalam. Permainan diatas ranjang berjalan hingga 15 menitan sblum akhirnya kami terkapar senang. Nafas ngos-ngosan & badan terasa lemas karena menahan lapar. Dia peluk tubuhku & menelusupkan wajahku kedadanya diantara kedua payudaranya.
Sambil makan lumpia di dalam mobil, kami berihtiar untuk mencari makan di luar. Waktu hampir menunjukkan jam 3 sore. Rasa lelah dan letih setelah bergulat ditempat tidur, akhirnya kami bisa menghirup nafas lega.
Mbak Citra sudah nampak seger setelah mandi dan menyisir rambutnya.
"Aku akan bawa kamu kesebuah rumah makan legendaris di Semarang. Semoga kamu suka" katanya
"Apa yang Mbak Citra suka, aku pasti suka"
Rumah Makan OEN, terletak di jalan Pemuda. Suasana Gedung rumah makan terasa tentram dengan iringan musik yang lembut. Para pelanggan disuguhi
masakan Indonesia dan Eropa ala jawa. Seorang pelayan wanita memberikan kami menu dan Mbak Citra memesan Gado-gado, sementara aku masih melihat lihat halaman menu. Akhirnya pilihanku jatuh pada bestik lidah sapi. Aku memesan teh manis hangat, Mbak Citra memesan Es Campur.
Ketika pelayan telah pergi, aku melihat kesekeliling ruangan rumah makan itu. Suasananya dipelihara sedemikian rupa supaya pelanggan merasa berada ditempat berbeda. Meja kursi yang digunakan adalah meja kursi jaman dulu, entah tahun berapa. Tapi masih nampak gagah dan kokoh,
bersih terpelihara. Terlihat cat meja sebagian terkelupas, dinding restoran dihiasi photo-photo dengan bingkai unik dan tua. Terpampang beberapa foto pemimpin negeri ini yang pernah singgah dan menyantap masakannya. Beberapa Jendral yang menjadi Pangab dan Kapolri berjejer rapi.
Makanan dihidangkan cepat diatas meja, gado-gado yang dimakan Mbak Citra nampak enak dan segar. Sayuran hijau dengan kerupuk blinjo bertaburan diatasnya. Bestik lidah sapiku memiliki aroma menggiurkan, ini adalah menu andalan Rumah Makan Oen Semarang. Ternyata rumah makan Oen
punya cabang dibeberapa kota, termasuk disemarang ini, jogja dan malang. Semua memiliki ciri khas dan menu andalan. Makanan yang aku santap memang enak betulan, bumbu sausnya sangat kental & enak. Daging lidah sapi terasa kenyal dan enak, membayangkan kenyalnya memek Mbak Citra.
"Mbak......" kataku "Coba sedikit ini....!" tangan kiriku mengulurkan potongan daging lidah yang aku tusuk dengan garpu.
Mbak Citra membuka mulutnya dan menggigit lidah sapi yang diujung garpu. Dia mengunyahnya perlahan sambil menikmati kuatnya bumbu saus. "Enak....!" katanya
"Daging memek Mbak Citra juga enak seperti itu." kataku setengah berbisik
"Hussssh......!" katanya sambil menoleh kekanan dan kekiri seolah-olah takut ada yang mendengar.
"Beneeeerrr.....!" kataku sambil tersenyum
"Sudaaah.......! Kalau bicara begituan jangan ditempat umum!"
"Okay....tapi enaknya sama dan terasa kenyal didalam mulut. Aku tidak bisa lupa dan tiba-tiba teringat" kataku lagi.
Dia tersenyum saat melihat mimik wajahku serius. Makanan kami lahap hingga piring bersih dan minuman kami teguk hingga ludes. Kami meninggalkan rumah makan dengan
perut kenyang. Mbak Citra mengajakku melihat komplek perumahannya, terasa apik dan terkesan elite. Kami tidak mampir dan singgah, kami hanya memutari dan keluar lagi setelah menunjukkan lokasi rumahnya. Sambil cerita panjang lebar, kami memutari kota semarang dan melewati gedung
lawang sewu yang menjadi ikon wisata di Semarang. Aku tidak tertarik masuk kedalamnya, tidak ingin berfoto ria disana. Kami kembali ke kamar hotel setelah putar2x keliling kota.
"Aku harus pulang" kata Mbak Citra
"Tidak nginap disini saja sama aku?" tanyaku
"Aku harus jaga mama"
"Masuk dulu kalau begitu, satu jam lagi baru boleh pulang" kataku
Kami turun dan berjalan ke kamar bersamaan. Kamar hotel sudah rapi kembali, 2 botol aku ukuran sedang telah disediakan sebagai complementary hotel untuk tamunya.
Handuk-handuk basah telah diganti dan sprei juga
seprei baru. Aku mandi lagi sebelum menggeletak di kasur, Mbak Citra menyusulku setelah melakukan hal yang sama. Tanpa sehelai benang menutupi tubuh kami, kami berpelukan dalam tidur.
Mbak Citra meninggalkan kamar hotel sekitar jam 9 malam, dengan rasa berat sambil menciumku
berulang ulang.
"Aku besok pulang sendiri saja Mbak?" kataku
"Tidak....besok pagi kita bisa sarapan bersama sebelum aku antar ke travel."
"Jangan terlambat ya...!"
"Iya...aku langsung kesini dari rumah sakit"
Kembali dia memelukku eras dan bibirnya mencium bibirku dengan nafsu.
"Sudah.....aku pergi" katanya sambil melepaskan tubuhku. Dia berbalik menuju pintu tanpa menoleh kearahku setelah pintu kamar terbuka.
"She is addicted to me"
Ruangan terasa sepi tanpa hadir tubuhnya disini atau apakah aku yang kecanduan tubuh dan kehadirannya.
Sebuah panggilan telepon masuk saat aku hampir terlelap tidur. Nomor teleponnya berawalan dengan +46 dan segera aku menjawab sambil bertanya tanya.
"Arjuna......?" terdengar
suara yang sangat familiar ditelingaku.
"Pak San......?" tanyaku memastikan bahwa yang berbicara adalah benar-benar Pak Santosa.
"Iya...bagaimana kabarmu?"
"Saya kaget melihat nomor telepon panggilnya, Pak San berada dimana sekarang?"
"Aku sekarang ada di Stockholm, kamu mau
dibelikan apa sebelum aku pulang?" tanya Pak San
"Saya tidak mau apa-apa Pak San, yang penting Pak San kembali dengan selamat"
"Pak Haryadi sudah meneleponmu lagi, belum?" tanyanya ringan
"Belum Pak San......" jawabku
"Besok jadi ada meeting jam 4 sore, jangan kamu terlambat"
"Oh baik ...Pak San" kataku dgn tanggap.
"Begini...ketika aku akan berangkat ke luar negeri, aku mengundang kamu dan para rekan serta pamit bahwa aku akan berangkat. Hal yang sama seharusnya kamu lakukan, paling tidak beritahu Pak Haryadi bahwa kamu akan berangkat ke Tawangmangu
Sragen, Surabaya atau mau kemana saja. Supaya rekan-rekan bisa menjadwal atau mengetahui kegiatan kamu apabila sedang diperlukan."
"Maaf Pak San...saya tidak sadar akan hal semacam ini. Saya mohon maaf"
"Iya tidak apa-apa, hanya saja aku membawa kamu masuk dalam sebuah lingkaran
dengan anggota dan individu yang memiliki komitmen jelas. Kamu juga harus memiliki visi yang sama supaya tidak berbenturan kepentingan antar pribadi. Belajarlah untuk berdiri dan mengambil sikap supaya kejadian seperti ini tidak terjadi lagi dimasa depan. Seumpama kamu beritahu
Pak Haryadi sebelumnya, investor yang datang tidak akan terhambat jadwal dan kegiatannya. Mengerti kamu, Arjuna?"
"Iya Pak..saya mengerti dan paham."
"Ya sudah....tidurlah kalau begitu"
Bak terkena tamparan keras, aku tersadar akan kesalahanku namun juga menjadi sebuah pelajaran
berharga bagaimana orang seharusnya bertindak dalam sebuah assosiasi. Aku termenung sesaat menyadari hal sederhana ini. Dalam hati aku bersyukur Pak Santosa tidak meledak keras dalam mengucapkan kata-katanya. Bimbingannya sangat lembut dan kebapakan tetapi sarat dengan muatan,
aku jadi segan setelah percakapan ditelepon kami tutup. Sadar bahwa kesenangan yang aku kejar telah melupakan kepentingan assosiasi dimana aku berdiri.
Saat aku terbangun keesokan paginya, badanku terasa ringan. Istirahatku lebih dari cukup. Aku terbangun jam setengah tujuh pagi, aku terkaget saat mendengar tetangga kamar membuka pintunya. Anak-anaknya berteriak senang saat mereka akan pergi ke restaurant untuk sarapan.
Aku bergegas mandi supaya terlihat rapi saat Mbak Citra datang. Bell pintu kamar berbunyi saat aku melangkah keluar kamar mandi. Dengan berbalutkan handuk, aku mengintip dari lobang pintu. Mbak Citra berdiri diluar dengan wajah nampak lelah kurang tidur.
"Sudah mandi?" tanyanya
saat aku membukakan pintu. "Semalam kurang nyenyak tidurku sayang" lanjutnya
"Mbak Citra sudah mandi belum?" kataku ingin tahu
"Belum...Aku juga mau mandi dulu deh" katanya sambil belok ke kamar mandi. Dia berikan tas cangking yang dia bawa kepadaku dan melepas bajunya didepanku.
"Taruh disitu tasku ...!" katanya sambil menunjuk diatas bangku tempat menyimpan kopor. "Masuk lagi kekamar mandi setelah itu"
Aku melakukan yang dia perintahkan.
"Mbak Citra sedang berdiri dibawah shower yang sedang menyala, dia menarik tanganku untuk mendekat. Untung aku punya
kesempatan untuk melepas handukku.
"Aku sabuni punggungmu ....tanganmu tak sampai kebelakang untuk menyabuni punggung. Kadang bau keringat tercium dari daerah punggung" jelasnya.
Aku terpaksa membilas lagi tubuhku, aku mengambil sabun dan membantu menyabuni badannya. Aku keluar
kamar mandi dengan membawa handuk. Aku mengeringkannya dan Mbak Citra menyusulku kemudian.
"Mbak mau jadi sarapan tidak?" tanyaku ingin tahu
"Tidak...aku mau tidur dalam pelukanmu"
"Jadi..?" tanyaku ingin konfirmasi
"Nanti saja setelah tidur baru sarapan"
"Sarapan sampai jam 10"
Rambutnya dia keringkan dengan hairdryer dan dia bungkus dengan handuk kering. Tubuh telanjangnya kembali berbaring dikasur. Mata terpejam dalam dekapanku, selimut menutupi tubuh kami hingga daerah dada. Pelukanku menghangatkan suasana pagi setelah kami mandi. Tepat jam 10 kami
terbangun, restaurant telah selesai menyajikan sarapan itu berarti tak ada kesempatan untuk mengambil makanan hotel yang enak pagi ini. Aku agak kecewa, tapi apa boleh buat demi Mbak Citra.
"Bangun mbak....! Sudah jam 10" bisikku ketelinganya
"Tungguuuu......sebentar lagi kamu
mau sudah mau pergi."
Telepon diatas meja berdering, aku menjawabnya. Ternyata petugas receptionist hotel ingin memastikan bahwa aku akan check out hari ini. Dia juga memberitahu bahwa batas waktu check out jam 12 siang. Aku mengiyakan pertanda aku tahu dan paham.
Aku menutup
telepon dan meletakkan gagangnya ditempatnya.
"Cepatnya waktu berlalu saat dekat denganmu yang?"
katanya. Aku duduk dipinggir dipan disamping kanannya. Tangannya mencengkeram batangku sambil mengocok pelan naik turun. Matanya tertuju di kepala batangku, tidak ada agresivitas
seperti sehari sebelumnya. Entah sudah bosan atau lelah, tangannya tidak diam.
"Aku pulang ke Solo dua minggu lagi, kamu jangan pergi kemana-mana kalau aku pulang"
"Iya.....aku tahu"
"Jangan telepon aku..., aku saja yang telepon kamu"
Batangku mengeras, tangannya terus bergerak
naik turun dan mengencang.
"Aku mau lagi......" katanya, suaranya hampir tak terdengar tapi dia telah bangun untuk duduk dipangkuanku. Kedua pahanya mengangkangi kedua pahaku dan dia turun sambil mengatur batangku untuk dia tindih masuk kedalam memeknya.
Kami berdua menarik nafas
dalam saat lobang manisnya mencengkeram batang kemaluanku. Perlahan masuk batangku amblas sedikit demi sedikit. Dadanya melekat diwajahku, dia sorongkan payudaranya kemulutku.
"Jangan bergerak aku ingin menikmati moment ini" katanya dengan desahan lirih.
Batangku tersimpan dalam
kepalanya mencium dinding vagina yang masih setengah basah. Terasa erat dan ngegrip lobangnya, terasa sekali sesak dan padat. Tanganku membelai punggungnya sementara mulutku menghisap terus puting payudaranya. Bergantian dan pelan, lehernya juga tak lepas dari ciumanku. Desahnya
mengeras saat sampai didekat cuping telinganya.
"Aku ketagihan......ketagihan menikmati batangmu sayang. Aku tidak bisa jauh darimu Oooohhhhhhh!"
Perlahan dia goyang pinggulnya, gesekan batangku menabrak dinding lorong hangat dengan lipatan daging yang lembut. Batangku terasa
diurut hingga hanyut. Ledakan spermaku tak terhindarkan saat goyangannya semakin hebat. Semprotan keras dari lobang memeknya memberi tanda aku bahwa dia telah mencapai klimaksnya. Giliranku menumpahkan lahar kental sesaat stelah dia memulai kepuncaknya. "Aku mau keluar sayaaaang"
Batangku mengeras kepalaku menegang"
"Tahaaaannnn....taahaaaannnn goyangannya menggila, badannya condong kebelakang pinggulnya menggosok gosokkan lobangnya kebatangku. Tak kutahan lama saat percikan birahi memompa sperma dari dalam bola testisku. Tubuhnya menggelepar kebelakang
lututnya tertekuk. Semprotan deras keluar dari batangku, denyutan demi denyutan memuntahkan lahar nikmat yang membawa kehangatan dalam lorong panjang memeknya. Kubawa pulang kehangatan ini dan mengingatnya dalam mobil travel yang membawaku ke Solo. Selamat tinggal Semarang.
UJIAN NASIONAL VS UJIAN NAFSU
Rumah adalah tujuan yang aku tuju setiba dari Semarang. Ibu & Bapak sedang berada dirumah saat aku sampai. Aku membawa lumpia yg dibelikan Mbak Citra saat berada dihotel tapi hanya 2 yang aku makan. Sisanya aku simpan didlam fridge supaya tahan lama. Image
Ibu berdiri dari kursi plastik saat Travel yang ngedrop aku berhenti didepan rumah. Aku hanya membawa sebuah rangsel dan sebuah tas plastik yang berisi lumpia tadi.
Aku memberikan tas plastik kepada ibu untuk digoreng sambil memberitahu bahwa aku tidak sempat beli oleh-oleh.
Ibu menerima bungkusan lumpia dengan senang dan membawanya masuk ke dapur.
"Pak......!" kataku sambil mencium tangannya.
"Kamu kelihatan capek sekali, kamu istirahat sana"
"Tolong bangunkan jam 3 pak, saya ada rapat di kantor Pak San jam 4 sore ini." kataku
"Ya, kamu tidur sana,
nanti ibu yang bangunkan. Jangan terlambat membangunkan bu" kataku. Untungnya dalam perjalanan dari Semarang tadi aku bisa tidur, walaupun tidak begitu nyenyak, cukup memberiku energi.
Ibuku menepati janjinya dan membanungkan aku tepat jam 3 sore. Aku punya cukup waktu untuk
mandi & merapikan diri sebelum bertemu Pak Haryadi dan para investor yang akan kita temui.
Aku datang lebih awal dari semua yang hadir, Pak Haryadi datang berikutnya, kita punya waktu sekitar 20 menit untuk berbicara panjang lebar siapa saja investor ini. Mereka adalah generasi
kedua konglomerat Indonesia yang ingin memperluas jaringan usaha. Melihat assosiasi ini berkembang dan mungkin dari pihak Sekuritas memberikan penilaian baik tentang assosiasi kami mereka tertarik untuk bergabung.
Ada delapan orang investor yang hadir dan mereka ternyata belum
begitu tua, usia mereka sekitar 40 hingga 45. Melihat aku berdiri disamping Pak Haryadi mereka nampaknya mafhum bahwa aku menjadi ikon keberhasilan assosiasi ini. Saat penandatanganan investasi selesai, aku merasakan tangan2x konglomerat yang halus dan kokoh. Dana besar akan
akan terkucur bila semuanya berjalan mulus. Pak Haryadi dengan sangat antusias memberikan tanggapan setelah penandatanganan selesai. Karena Pak Santosa masih di Eropa, sebagai ketua beliau mendelegasikan penandatanganan pada Pak Haryadi.
"Jangan pulang dulu setelah ini selesai"
bisik Pak Haryadi kepadaku.
"Baik pak..!" kataku menjawab
Sekitar satu jam kemudian, kami duduk diteras belakang kantor Pak San dimana dulu mobil Swift yang aku naiki diberikan kepadaku.
Pak Haryadi memegang sebuah kotak, yang aku tidak tahu apa isinya. "
Pak Santosa mengirimkan
paket kepadaku dan menitipkan kotak ini untukmu." katanya sambil memberikannya kepadaku.
"Terima kasih Pak Haryadi....!" kataku sambil membungkuk hormat.
"Jangan berterima kasih pada kami, itu adalah hasil jerih payahmu dalam bekerja. Uang kuliah & akomodasi selama kamu belajar
di Singapore nanti sudah kami persiapkan. Kamu tinggal menjalani perkuliahan dan fokus belajar. Assosiasi menanggung semua sesuai instruksi Pak San." jelasnya
"Saya meminta maaf atas masalah yang saya timbulkan kemaren pak. Saya tidak memberitahu kalau saya akan keluar kota"
"Tidak masalah..cuma jangan diulangi lagi supaya kita tidak membuang waktu & tenaga" katanya
Kami berpisah setelah selesai percakapan itu.
Dua minggu sejak kepulanganku dari Semarang, Mbak Citra tidak jadi pulang ke Solo. Dia harus ke Jakarta saat suaminya kritis. Seorang ajudan
yang biasa menjadi perantaranya mengabari bahwa suaminya meninggal. Dia diminta ke Jakarta untuk menghadiri pemakaman & menerima warisan peninggalan.
Dalam hatiku ini pasti warisan dalam jumlah besar karena suaminya adalah salah satu orang yang terdaftar di Panama Papers.
Tetapi komunikasi dengan Mbak Citra terus tersambung, baik melalui telepon atau SMS. Aku tidak bisa menghubunginya karena nomor yang dia pakai memblokir semua panggilan kecuali nomor2x khusus yang sudah di program.
Menjelang Ujian Nasional, aku ditelepon untuk fokus menghadapi
ujian dengan tenang. Mbak Citra memberi semangat dan memberikan aku kaos kaos mahal dari Jakarta. Celana jeans dan kemeja yang bagus serta bermerek dari luar negeri.
Sayangnya dia tidak mau memberitahu dimana dia sekarang. Masih di Jakarta atau sudah kembali ke Semarang, didalam
teleponnya selalu mengatakan rindu dan ingin berhubungan intim seperti saat berada di Semarang. Terkadang sambungan phone sex sering kita lakukan untuk menuntaskan keinginannya.
Aku hanya ikut bertartisipasi untuk memuaskan birahinya saat phone sex berlangsung. Aku tidak ingin
bermasturbasi didepan kamera telepon saat sex phone berlangsung. Aku bilang bahwa ruanganku terbuka takut ketahuan bapak dan ibuku.
Terkadang dia ditengah sex phone, aku diminta kekamar mandi sambil menunjukkan batangku yang dirindukannya. Nampaknya urusan warisan tidak bisa
cepat. Di akhir bulan april urusannya belum selesai. Awal Mei adikku Wulan mengikuti Ujian Nasional SMP, selama beberapa hari aku mengantarnya ke tempat bimbingan belajar dan les mandarin karena aku tidak ada kegiatan sama sekali setelah UN. Les persiapan IELTS juga sudah aku
jalan, Hasil test IELTSku adalah band 7.5 cukup untuk mengikuti ujian masuk di NTU Singapore. Hanya saja aku belum tahu testnya apa saja. Aku les matematika dengan Om Harry, beliau memberitahuku untuk pergi ke Singapore saja ambil persiapan test khusus masuk NTU karena faktor
bahasa yang digunakan sebagai media pengantar. Aku menelpon Pak Haryadi setelah Om Harry memberitahukan hal ini kepadaku.
Pak Haryadi mengagetkan aku saat memberitahu bahwa test masuk ke NTU = Nanyang Technology University telah ditutup.
Ada rasa kecewa yang sangat dalam.
"Begini....kamu jangan dulu kecewa. Ada universitas di Australia yang buka kampus cabang di Singapore. Kamu bisa pilih salah satunya antara Monash university atau RMIT pendaftaran sudah dibuka dan syarat tidak begitu berbelit. Kamu coba dulu pelajari mana yang menurutmu sesuai
dengan keinginanmu. Kalau kamu mau belajar teknologi, kamu bisa belajar di RMIT. Kamu bisa belajar 2 satu setengah tahun disana lalu lanjut ke Melbourne Australia. Menurutku ini opsi terbaik" kata Pak Haryadi
"Apakah kamu sudah ikut ujian bahasa IELTS?
"Sudah..nilai saya band 7,5
baru kemaren hasil testnya keluar" jelasku
"Hasil test IELTS hanya valid selama dua tahun, sebaiknya kamu cepat pikirkan dan diskusikan dengan orang tua. Untuk masalah biaya beritahu bapak & ibu bahwa biaya sudah ditanggung. Jadi mereka tidak khawatir atau was-was"
#ceritadewasa
"Ambil kata saya memutuskan untuk kuliah di RMIT, kira kira mulai perkuliahan kapan pak?" tanyaku
"Menurut informasi yang aku peroleh, 1 oktober adalah awal perkuliahan jadi kalau memang kamu mau nanti staffku yang akan mengantar kamu untuk pendaftarannya"
"Baik Pak nanti saya
akan pertimbangkan terlebih dahulu. Saya telepon bapak kalau saya telah ambil keputusan."
"Jangan terlalu lama supaya pengurusan dokumen pendidikan serta Visa Mahasiswa segera di urus. Kamu apa sudah punya passport?"
"Belum pak..."
"Ya sudah kalau begitu biar diuruskan sekalian
passportmu supaya mudah urusan selanjutnya. Tinggal kamu siapakan saja dokumen yang diperlukan untuk mengurus passport. Nanti aku kirimkan apa saja yang harus kamu siapkan"
"Baik pak...kalau begitu saya tunggu ya?" kataku
Sepuluh menit kemudian aku menerima SMS dari Pak Haryadi
yang memberitahukan apa saja yg harus aku siapkan untuk membuat passport.
Aku meminta ibu utk membantuku menyiapkan dokumen apa saja untuk membuat passport.
"Ibu sudah siapkan, 3 hari lalu adikmu Wulan meminta hal yang sama. Hari ini dia akan foto passport, kamu kok kalah cepat?"
"Wulan jadi berangkat kapan Bu?" tanyaku
Akhir bulan Mei, dia sudah harus berada di Jakarta sesuai jadwalnya tapi adikmu minta minggu depan dia mau berangkat karena mau ketemu sama Elvira. Elvira memintanya untuk menginap disana sebelum berangkat ke Taiwan."
"Bu, baru saja saya
berbicara dengan bosku, saya jadi kuliah di Singapore. Tanggal 1 Oktober perkuliahan akan dimulai. Minta doa restunya ya bu?"
Ibuku menoleh kearahku, wajahnya memerah, matanya basah menahan sedih dan senang.
"Kamu kesini!" katanya
Aku mendekati ibuku yang berdiri dari kursinya.
Beliau memelukku dan tangisnya mulai pecah. "Sejak kecil kamu tidak pernah menyusahkan ibu, aku tak mengira perjalanan hidup begini cepat. Akhir-akhir ini kamu tidak punya waktu untuk ibu. Dulu biasanya meminta ibu untuk mengambilkan makanan dan meminta ini itu, sekarang kamu
sudah besar dan akan meninggalkan ibu. Pasti ibu merestuimu nak. Ingat ibu saat kamu jauh nanti, ingat ada yang selalu menunggu telepon atau suratmu. Bapak dan ibu selalu memohon Allah supaya kamu diberikan kemudahan dalam menjalani hidup. Sesulit apapun, kamu bisa menjalani dgn
mudah dan berhasil. Kamu harus giat dan baik kepada sesama. Jangan punya niatan buruk dan jelek pada orang yang berbeda dengan kamu. Tunjukkan jati dirimu sebagai insan Indonesia yang mau maju, mau membantu sesama sekalipun beda agama atau kepercayaan. Jangan memandang latar
belakang mereka. Insan Indonesia yang berbudi luhur, yang mau menyatu dan tidak membeda-bedakan. Bapak dan Ibu juga berterima kasih kepadamu, bulan depan kami sudah akan berada di Jakarta untuk mengikuti persiapan ibadah haji. Kamu telah siapkan semuanya sedemikian rupa, itu sgt
membanggakan ibu. Kalau ibu bercerita kepada teman-teman bahwa keberangkatan ini kamu yang mengusahakan, mereka tidak ada yang percaya. Tidak ada teman bapak yang percaya juga saat bapak memberitahu bahwa kami akan berangkat ibadah haji."
"Semua berkat didikan bapak dan ibu"
"Mas......!" kata Wulan
"Kenapa.....?"
"Mbak Vira minta dibelikan oleh-oleh dari Solo"
"Ya...nanti dibelikan. Dia minta dibawakan apa dari Solo?"
"Dia minta roti mandarjn di toko Orion, katanya dulu waktu pulang kembali ke Jakarta mas bawakan untuk mamanya"
"Oh ya...aku ingat"
"Kamu rencana mau berangkat kapan?" tanyaku ingin tahu
"Aku sudah beli tiket pesawat, berangkat tanggal 19 pagi jam 10."
"Ok, kita belanja tanggal 18 siang supaya bisa packing sekalian"
"Mas.....kapan lukisanku diantar ke Pak Santosa? Aku perlu uang untuk sangu ke Taiwan" katanya
"Ya nanti sore aku antar ke kantor Pak San, kebetulan aku ingin ketemu beliau. Aku mau bawakan sesuatu Pak San kira-kira apa ya?" tanyaku meminta pendapat Wulan
"Orang kaya tidak mengharapkan sesuatu dari kita kecuali rasa hormat" kata Wulan menjawab ringan
Kata katanya juga,
ada benarnya tetapi manusia mana yang tidak suka diberi. Hampir semua orang suka mendapat pemberian, anya saja pemberian dengan barang yang tepat memang sulit ditemukan. Aku mau memberi makanan tetapi aku tidak tahu makanan kesukaannya. Aku ingin memberi barang, tapi aku tidak
tahu barang apa yang dia suka. Memikirkan apa yang ingin aku berikan, aku teringat sebuah kotak yang diberikan Pak Santosa melalui Pak Haryadi. Aku belum membuka kotak itu, aku berusaha mengingat dimana kuletakkan kotak itu setelah aku menerimanya dari Pak Haryadi.
Aku turun
tangga dan berjalan ke mobilku yang kuparkir di depan rumah. Aku buka pintu bagasi & menemukan kotak itu berada disamping travel bag. Aku mengambilnya dan membawanya masuk. Ibu menanyakan apa yang aku bawa. Aku berhenti didepan meja ibu dan duduk di hadapannya sambil memberitahu
bahwa kotak ini pemberian bosku yang aku lupa buka.
"Loh kenapa bisa lupa?" tanda ibu sambil memandang kearahku. "Jangan lupa kebaikan seseorang yang diberikan kepada kita"
"Iya ...nanti saya akan bertemu beliau semoga beliau ada waktu menemui saya" kataku "Saya akan sampaikan
ucapan terima-kasih langsung" tanganku membuka kotak, mata ibu melihat dan menunggu apa yang ada didalam kotak itu. Diatas kotak kardus berwarna putih itu ada tulisan ber emblem ROLEX.
"Apa itu Rolex?" tanya ibu
"Aku tidak tahu bu......" jawabku
Aku membuka penutupnya dengan
perlahan dan terlihat sebuah kotak berisi buku kecil dan sebuah sertifikat berisi informasi produk, nomor seri, jenis dan rantai. Di sisi lain sertifikat itu tertulis nama toko yang menjual produk itu. Kemudian tertulis juga nama pembeli "Santosa Amirullah". Asal negara pembeli
dan tanggal pembelian. Semuanya nampak asli dan sempurna dimataku. Terdapat satu helai sertifikat garansi dan jaminan didalam booklet serta sebuah buku manual dari pabrik berwarna kecoklatan. Aku menaruh booklet itu diatas meja, tanganku meraih kotak hitam yang terdapat dibawah
booklet yang aku ambil.
Tersembullah sebuah jam tangan dengan papan penunjuk jam berwarna hitam dan jarum berwarna putih. Terdapat nama ROLEX di bagian bawah pejunjuk jam 12. Saat aku ambil, aku merasakan bahwa jamnya berbobot lebih berat dari jam-jam pada umumnya.
"Jam tangan
kok tidak modis begini......!" kataku sambil menaruh kembali kedalam kotaknya. "Biarkan bapak saja yang memakainya bu!" kataku kepada ibu "Hush.....hargai pemberian bosmu, hargai perasaan bosmu yang sudah mengutamakan dan mengingatmu saat beliau jauh dari kamu tapi masih mau
mengingat bahwa kamu ada. Tidak mudah mengingat seseorang yang bukan apa apanya dan membelikan, menyempatkan untuk mencari sebuah hadiah atau bingkisan." kata ibu dengan bijak. "Coba kamu pakai dulu, bosmu bukan orang sembarangan. Tidak mungkin memberikan sesuatu tanpa melihat
nilai dari orang itu. Paling tidak pasti bosmu ingin melihat kamu berada di tataran seperti dia. Itu adalah jalan bagimu, kamu diangkat bahasa jawanya di lanting supaya kamu naik. Kamu paham Arjuna?"
"Ya bu, saya paham" kataku. Tanganku sibuk memakai jam pemberian Pak San dan ibu
membantuku mengepaskannya. Jam tangan Rolex berada dipergelangan tanganku sebelah kanan.
"Gagah.......hanya saja rantainya perlu dipotong supaya tidak terlalu panjang. Dan ingat nak, memakai jam tangan itu harus di pergelangan tangan kiri bukan kanan" ibu mengingatkan aku.
"Kenapa bu.....?" tanyaku ingin tahu "Sebenarnya, tidak ada aturan baku mau dipakai di pergelangan mana jam tangan seharusnya, tetapi tangan kanan itu adalah tangan dominan yang bergerak dan melakukan banyak kegiatan sehingga akan menghambat gerakan dan apa yang kita lakukan.
Maka tangan kirilah seharusnya jam tangan harus pakaikan."
Di sore harinya, saat mendengar cerita ibu bahwa aku mendapat jam Rolex dari Pak San, bapak langsung berteriak.
"Itu jam mahal harganya jutaan rupiah. Mana barangnya?" tanya bapak.
"Arjuno yang simpan diatas, coba
kupanggilkan" kata ibu
Aku turun tangga sambil membawa Jam Rolex pemberian Pak San untuk kutunjukkan kepada bapak.
"Kowe bejo nak...........! Iki jam ora kanggo anak wingi sore. Iki jam tenanan. Ojo nganti ilang"
"Rantainya terlalu panjang pak.......!" kataku
"Aku antar kamu ke
toko sekarang untuk dipotongkan" kata bapak dengan antusias. Tangannya memegangi jam yang beliau ambil dari kotak yang aku pegang. Matanya mengawasi dengan jeli setiap detailnya. Kepalanya menggeleng-geleng sambil tersenyum senang. "Rezekimu guedhe...!"
Aku yang punya jam tidak
seantusias bapak. Tapi melihat antusias bapakku aku jadi makin tersihir dengan sikap beliau mengenai jam tangan ini. "Bapak tidak istirahat dulu" kataku
"Sudah minum teh manis buatan ibu, ayo berangkat saiki!" katanya
Aku mengambil kunci mobilku dan berangkat ke toko jam
setelah pamitan dengan ibu"

"Jam mahal ini Pak......." kata tukang jam didaerah Singosaren Plaza sambil memandang bapak dan aku. Baju lusuh bapak tidak mencerminkan kepemilikan barang mahal.
"Iya ini jam anakku pemberian bosnya!" kata bapak jujur
"Bisa lihat kotaknya?" tanya
pemilik toko
Aku menyerahkan kotaknya dan tangan pemilik toko cekatan melihat sertifikat yang berada didalamnya.
"Belinya di toko Jam agen resmi Rolex di Eropa. Oooohhhhhh.........punya Pak Santosa!" kata pemilik toko Jam itu dengan keras. "Kamu apanya Pak Santosa?" katanya
memandang kearahku.
"Saya teman kerjanya....!"
"Orang istimewanya.....hahahahaha!" katanya dengan suara renyah.
Dia membantuku mengepas rantai dan memotongnya sesuai ukuran tanganku.
"Simpan potongan rantainya ini, jangan sampai hilang. Sertifikat dan booklet yang ada didalam
kotak juga jangan sampai terpisah. Jam tangan Rolex harganya tidak pernah turun. Simpan baik-baik jangan sampai lecet atau kotor" pemilik toko memberi saran kepadaku.
"Berapa koh....?" tanyaku
"Tidak usah bayar.......kalau kamu nanti mau jual jamnya, jual ke aku saja ya!"
"Saya tidak akan jual pemberian bos, koh!"
"Hahahahahaha.....bagus, berarti kamu bisa menghargai sebuah pemberian"
"Kok kenal dengan Pak San......?" tanyaku
"Beliau itu langganan sudah sejak lama, koleksi jamnya puluhan. Bahkan beliau punya sebuah jam langka merek Richard Millie
Tourbillon RM 56-02. Kalau dirupiahkan bisa seharga 10 milliar lebih. Jangan cerita ke orang lain hal pribadi ini"
Aku tersenyum sambil mengangguk. "Koh namanya siapa?"
"Panggil saja namaku Koh Ah Chuan, kamu siapa?" tanyanya balik
"Arjuna.." tangan kuulurkan utk menyalaminya.
"Selamat malam Pak San...!" kataku saat aku melangkah masuk kedalam ruang kantornya. Mata Pak San melihat kearah pergelangan tanganku. "Saya belum mengucapkan terima kasih atas pemberian Jam Rolex yang bapak kirimkan.
"Kenapa lukisan adikmu terlambat dikirim...?" tanya Pak San
"Maaf Pak....saya sibuk belajar untuk Ujian Nasional dan Wulan juga" kataku jujur
"Sebenarnya masih ada dua dirumah yang hampir selesai, mungkin dalam 2 atau 3 hari lagi bisa dikirimkan"
"Oh ya...jangan lupa dikirimkan sekalian sebab pengiriman container ke Eropa akan berangkat.
Bisa kamu kirim nanti setelah selesai. Aku bayar sekalian" kata Pak San
"Bisa pak...." kataku
"Kamu suka Jam yang kamu pakai?" tanya Pak San tiba-tiba.
"Suka pak, cuma agak berat ditangan karena belum terbiasa. Saya baru buka hari ini, kelupaan saya taruh didalam bagasi mobil
setelah Pak Haryadi berikan bulan lalu."
"Kok bisa pas rantainya......?"
"Saya pergi ke Singosaren Plaza, ke toko jam Koh Ah chuan.
"Cerita apa dia sama kamu.......?"
"Cerita kalau Pak San, langganan lama"
"hahahahaha.........iya benar. Kok bisa bicara tentang aku bagaimana?"
"Saya bawa sama kotaknya dan didalamnya ada nama Pak San sebagai pembelinya" jawabku
"Kaget dia.....?"
"Awalnya tidak percaya, kenapa saya bawa jam mahal ke tokonya"
"Bisa saja Ah Chuan .....!"
"Pak San...ada desas desus tentang adanya masalah ekonomi global, diperkirakan mulai
di kwartal ketiga tahun ini. Mungkin kita harus sedikit mengerem supaya tidak terjadi kebuntuan atau investasi yang salah sasaran."
"Oh kenapa bisa..?"
"Secara global permintaan akan minyak lambat laun akan berkurang karena semakin banyaknya negara-negara yang mengadopsi sumber
energi yang ramah lingkungan. Kedua perlambatan gerak ekonomi nasional karena masalah trade dispute antara negara-negara eropa dan asia yang dipicu oleh sentimen negatif minya sawit. Nampaknya ada kampanya secara global menyudutkan pengembangan kawasan kebun kelapa sawit. Mereka
menuduh bahwa negara kita merusak dan menghancurkan kawasan hutan serta lingkungan hanya untuk membuka lahan perkebunan sawit ini."
"Terus langkah kita seharusnya bagaimana?"
"Wait and see.......jangan sampai gegabah menginvestasikan dana dipasar minyak mentah"
"Kira-kira Pak
Haryadi bisa menembus pasar saham Amerika tidak Pak..?" tanyaku
"Kenapa...tiba-tiba mau masuk ke pasar saham Amerika?"
"Ada banyak saham teknology yang sekarang berniat melantai di NYSE, mereka segera IPO dalam waktu dekat. Saya rasa bila Pak Haryadi bisa membeli saham IPO
teknology tertentu, kita akan meraup banyak keuntungan untuk jangka menengah."
"Coba aku telepon Haryadi utk datang kesini" kata Pak San
Pak Haryadi datang kira-kira 20 menit kemudian. Secara gamblang aku menceritakan issue global yang akan berpengaruh dengan kegiatan investasi
kedepan. Pak Haryadi menanyakan hal yang sama saat aku berbicara dan aku menceritakan sesuai pengetahuan dari website "EARLYEDITION.COM" yang aku selalu baca. "Bisa.......kenapa tidak?" kata Pak Haryadi meyakinkan aku tentang kemampuannya untuk membeli saham IPO tehnology
dari NYSE.
"Bagus kalau begitu, akan ada IPO saham Facebook"
"Kamu yakin ini bagus...? Ini bukan uang kecil loh?" kata Pak Haryadi
"Sekarang Pak Haryadi sebaiknya mencari info dulu kapan saham facebook akan di IPO. Pastikan kita investasi dalam jumlah besar. Jangan meragukan
yang ini Pak, Facebook kedepan akan menjadi sebuah raksasa teknology yang tak akan ada bandingnya kecuali oleh Google."
Mata Pak Haryadi memandangiku dengan ekpresi tidak percaya. Tetapi Pak San memiliki pandangan berbeda, beliau terlihat percaya dengan apa yang aku utarakan.
"Ayo kita keluar makan, sudah hampir jam makan malam" kata Pak San sambil berdiri dari kursi empuknya.
"Maaf Pak......saya harus pulang karena saya tadi janjian dengan ibu" kataku merasa sungkan.
"Oooh gitu ya.......!" kata Pak San menyahut
"Saya juga begitu Pak San, mohon ijin
pulang juga" kata Pak Haryadi
Kami berjalan bersama keluar dari ruangan kantor Pak San.
"Kamu punya ide gila darimana itu tadi" kata Pak Haryadi "Itu investasi sangat besar dan riskan. Kita tidak punya informasi valid tentang pasar saham global apalagi America"
"Maaf Pak, saya
tadi hanya memberitahukan apa yang saya tahu, kalau dirasa membawa manfaat bisa ditindak lanjuti. Kalau bapak merasa bahwa mengambil tindakan yang saya beritahukan beresiko tinggi, tidak usah dilanjutkan eksekusinya" kataku dengan sopan "Iya tapi apa coba untungnya membicarakan
hal seperti ini yang belum tentu akan ditindak lanjuti." "Pak San tadi mengundang bapak karena beliau memandang ada masalah global yang akan mempengaruhi kondisi ekonomi dalam negeri sementara saham IPO Facebook yang tertarik adalah Pak Santosa, mungkin beliau tertarik untuk
menginvestasikan dana disana. Maaf kalau hal ini tidak mengenakkan Pak Haryadi" kataku
Kami berpisah di pelataran Parkir depan Batik Gallery dimana Pak San mengantor. Saat aku berada di dalam mobil handphone ku berdering.
"Mas Arjuna...!" teriak Elvira
"Iya kenapa..?" tanyaku
santai

"Aku misscall 10 kali kenapa baru diangkat....!" kata Elvira dengan jengkel
"Aku baru saja keluar dari rapat"
"Kapan Mas Arjuna ke Jakarta?" tanyanya
"Nanti saja sebelum berangkat Singapore" kataku
"Katanya mau ke Jerman?"
"Iya batal, karena terlalu jauh dari ibu"
kataku beralasan "Wulan mau kesana, kamu kapan ujian semester"
"Hari Jum'at ini ulangan terakhir setelah itu liburan sampai akhir July." katanya
"Kamu mau kemana selama liburan"
"Mama tak mengijinkan aku pergi kemana-mana. Aku disuruh les memasak dan buat kue" katanya
"Iya itu
cocok bagimu"
Selagi kami berbincang-bincang, ada panggilan masuk dari Pak Santosa.
"Vira, kita lanjut lagi pembicaraannya nanti malam. Ada bosku telepon"
"Hallo Pak San....?" kataku semangat
"Aku sudah transfer uang ke rekeningmu untuk 5 lukisan ya!" kata Pak Santosa. "Segera
antarkan yang dua setelah selesai"
"Baik Pak San.....!" kataku
"Oh ya......begini kamu jangan ambil hati apa yang dikatakan Pak Haryadi saat kita berbicara tadi. Kalau nanti misalnya Pak Haryadi tidak menindaklanjuti untuk membeli saham IPO Facebook, aku akan mencari agen di
Jakarta untuk bisa membelikan saham itu."
"Baik Pak, kalau begitu saya minta tolong sekalian ikut dibelikan." kataku
"Baik....aku beri kabar nanti" kata Pak San berjanji sebelum menutup telepon.
Aku meninggalkan tempat parkiran setelah menutup percakapanku dengan Pak Santosa.
Aku mampir ke Bank BCA Slamet riyadi untuk menarik uang hasil penjualan lukisan Wulan. Aku agak kaget saat melihat saldo di rekeningku begitu banyak. Ada sekitar 930 juta rupiah, aku tidak sadar ternyata Cik Anneke telah mengirimi aku persentasi dari keuntungan jual saham lebih
dari 600 juta. "Fantastis....!" pikirku

...................................................................

Aku memberikan uang sebanyak 15 juta rupiah kepada Wulan setibaku dirumah. Dia melihat kearah jam tanganku saat aku menyodorkan uang itu kepadanya.
"Ini untuk sekalian
pembayaran 2 lukisan yang belum aku bawa kesana." kataku memberitahu Wulan. Dia tersenyum saat melihat segepok uang yang aku berikan kepadanya.
"Makasih ya Mas......!" katanya sambil mengambil uangnya dan menghitungnya. "Aku tidak pernah memegang uang sebanyak ini"
"Jangan kamu
habiskan semua uang itu, sebaiknya kamu simpan siapa tahu kamu ada perlu untuk kuliahmu yang akan datang."
"Ya ...aku tahu. Ibu yang menyimpankan semua uangku" katanya "Berapa ini mas?"
"Kamu hitung sendiri!" kataku
"Bapak tadi telepon Mas Arjuno tetapi tidak tersambung. Mas
sudah telepon balik belum?" tanya Wulan
"Oh ....aku tinggal HPku dimobil tadi" kataku "Ya aku telepon segera!"
"Hallo pak.....?" kataku di telepon
"Ajak Wulan keluar, bapak ada di angkringan sama ibu."
"Angkringan mana pak...?" tanyaku
"Di Banjarsari, Angkringan Omah Lawas"
"Oh yang disebelah kiri jalan itu ya?"
"Iyo.....kidule Bank Danamon" kata bapak menjelaskan
Wulan senang mendengar percakapanku, dia bergegas mengambil HP dan tasnya. Wajahnya mengembangkan senyum saat tahu bahwa kita akan nongkrong di angkringan.
"Kamu mau beli tas yang lebih
baik?" tanyaku saat berada di mobil
"Aku mau beli tapi harganya mahal"
"Berapa .....?" kataku ingin tahu
"2 juta setengah" kata adikku
"Murah kalau hanya segitu, aku belikan besok" kataku sombong
"Jangan bercanda.......!" katanya sambil memandang kearahku yang sedang menyetir.
"Kamu lihat jam tanganku ini" kataku menunjuk. "Kamu baca mereknya apa!"
Adikku membungkuk dan mendekatkan kepalanya untuk melihat merek yang ada dipapan jam.
"ROL...EX" katanya seperti mengeja. "Kenapa jam tanganmu ini mas?"
"Coba kamu tebak harganya berapa" tanyaku
"1 juta......!" katanya
"Salah........terlalu jauh!"
"500 ribu.....!" katanya sambil memandang ke arahku, mengira jawabannya benar.
"Kamu tanya bapak saja langsung nanti. Hanya bapak yang tahu berapa harganya"
"Berapa........?"
"Ojo kaget yooo.....!?" kataku " Satus yuto luwih"
"Ora percoyo aku.........!"
"Terserah lek kowe maedho....!"
"Duitmu kok akeh tenan mas.......?"
"Oh iya.....Ibu jadi mengadopsi Intan......?" tanyaku
"Ya jadi .......Ibu Warni selalu telepon ibu untuk meminta dokumen dan keperluan lainya"
"Oh kamu kok tahu progressnya......?"
"Ibu kan selalu cerita......nanti setelah pulang dari Haji kira kira masalah adopsi dik Intan akan selesai. Sebetulnya awal bulan Juni depan adik Intan sudah bisa tinggal dengan kita. Tapi ibu mengatakan setelah pulang dari ibadah Haji lebih baik supaya tidak ada gangguan dalam
menyiapkan ibadah besar ini."
Bapak dan ibu sedang ngobrol dengan 6 orang mengelilingi sebuah meja bundar. Aku mengenal mereka karena mereka adalah para tetangga kami yang tinggal di Gandekan. Aku dan Wulan menyalami mereka satu-persatu mereka mengatakan hal-hal baik.
"Kamu sekarang sudah besar, Jun" kata Pakde Jiwo
"Nggih Pakde, makanku paling banyak....!" kataku disambut tawa oleh semua tetangga
"Pak.......opo bener jam e mas Arjuno regane luwih satus yuto?" tanya Wulan didepan para tetangga.
Bapak hanya tersenyum sambil mengangguk, merasa
tak nyaman menjawab pertanyaan wulan secara gamblang.
"Opo iyo ......?" tanya ibu heran
Para tetangga melihat jam yang aku pakai, salah satunya berucap dengan heran "Weleh....jam tangan regone satus yuto? masyaalloh?"
Yang lain tertawa saat mendengar pernyataan tadi.
"Aku ora bermaksud pamer, Wulan ora dhuwe dur.!" kataku
Ibu memegangi tanganku sambil memandangi jam itu. "Bejone anak lanangku iki!" kata ibu dengan bangga.
"Yo wes pantes, Arjuna memakai barang mahal. Raga dan postur tubuh serta warna kulit sangat mendukung. Sebenarnya kalau
tidak kenal sejak kecil, aku tidak percaya kalau Arjuna ini anakmu" Kata Mbah Karso. "Ora memper babar blas. Nanging yo ngunu kuwi, kersane Allah nyat kudhu Arjuna iki anakmu. Percoyo ora percoyo iki kasunyatan"
"Yo ono mempere karo ibune, Mbah! "sahut budhe Sarwo. "Carane
mesem lan ngguyu memper persis"
"Klink.....!" suara sms masuk terdengar. Aku mengambil handphoneku dari celanaku. Sebuah SMS dari Mbak Citra masuk, mengabari bahwa besok jam 4 sore akan datang ke Solo. Secara spontan aku tersenyum saat membaca SMS nya. Aku tidak menyangka bahwa
semua mata tertuju kepadaku. Saat aku tersenyum, mereka tertular senyumku.
"Ada kabar apa?" tanya Wulan. "Itu pasti kabar dari pacarnya, bu" lanjutnya. "Senyumnya, senyum bagaimana gitu!"
"Bosku besok datang, aku diminta menjemputnya di bandara" kataku beralasan
"Aku ikut mas...
.....!" sahut Wulan.
"Huuush........jangan!" kata ibu
"Ini adalah pertemuan nostalgia" kata Pakde Jiwo tiba-tiba. Sejak kalian pindah ke Jalan Flores, pertemuan seperti ini baru sekali terjadi. Aku mau kalau pertemuan seperti ini diadakan sebulan sekali. Ora usah di rumah makan
atau angkringan mahal seperti ini. Cukup dirumah saja bergiliran."
"Sebetulnya aku mengundang Pakdhe dan mbah sekalian ini punya tujuan. Aku dan istriku mau pamit, bulan depan kami mau berangkat ibadah Haji."
"Oh.......yo itu adalah kewajiban sebagai umat. Kudhu nglampahi ibadah
Haji lek wes sanggup. Kita para teman dan sahabat merestui semoga ibadah haji bisa berjalan lancar dan tanpa kendala" kata budhe Sarwo. Yang lainnya manggut-manggut setuju dengan apa yang diuangkapkan oleh Budhe Sarwo
Aku kebagian mengantar semua tetangga dari Gandekan ini ke
rumah masing-masing. Aku hanya ngedrop didepan klinik Dokter Tjipto dekat kelurahan Gandekan.
"Arjuna, maturnuwun yo nak! Tak dungakne awakmu seger waras, tambah berkah lan panjang umur, opo sing mbok citak-citakne bakal terkabul"
"Amin, Maturnuwun Mbah!" kataku sambil memegang
tangan wanita yang dihormati ibu bapakku. Akupun juga tunduk taklim menghormati beliau. "Ugi mekaten kagem Mbah Sarwo sak keluarga" kataku membalas doanya
Setelah menutup pintu, aku melanjutkan perjalanan pulang.
"Klink.....!" SMS masuk lagi dari Mbak Citra. "Besok jemput di
bandara, pesawat Garuda landing jam 4 sore"
"Okay.....!" balasan segera kukirim sambil menambahkan gambar tersenyum dan hati. Perasaan rindu tiba tiba melanda, rasa ingin memeluknya tiba-tiba mendesak dihati. Lama sudah penantian panjang selama beberapa bulan ini. Aku tumpahkan
rasa rinduku dalam nyanyian yang tiba-tiba terasa ingin terucap. Ingin terekspresikan dengan cara dan daya serta kata-kata dalam lagu tanpa syair dan kata-kata tapi sungguh bermakna didalam jiwa.
Aku tiba-tiba merasa sentimentil, cengeng & ringkih, selama ini aku merindukannya.
Aku tumpahkan dalam senandung yang tiba-tiba berdengung lirih & terdengar ditelingaku. Senandung rindu yang entah mulai bertunas kapan tetapi rindu itu kian melilit, mencekik ingin bersua & menumpahkan rasa ingin memeluk, ingin mencurahkan isi hati yang penuh kerinduan.
........
Aku berdiri didepan pintu kedatangan menunggu Mbak Citra. Ada perasaan senang & deg-degan saat menunggu kedatangannya. Waktu telah menunjukkan jam 3:55, tidak banyak orang menunggu di pintu kedatangan. Aku bingung kenapa bisa tidak ada begitu banyak penjemput di pintu kedatangan.
Sepertinya ada yang salah, aku heran dengan keadaan ini. Aku membuka sms dari Mbak Citra dan membacanya sekali lagi permintaannya untuk menjemput di bandara.

Sangat jelas bahwa pesawatnya akan landing jam 4 sore tetapi kenapa tidak nampak ada tanda-tanda pesawat akan landing.
Tepat jam 4 sore belum ada pengumuman dari operator memberitahukan kedatangan pesawat Garuda dari Jakarta.
Aku berjalan kearah layar yg memberitahukan jadwal kedatangan pesawat dari Jakarta. Terbaca di papan pengumuman bahwa tidak ada pesawat Garuda mendarat di Solo jam 4 sore.
Yang ada adalah Jam 3:15 & Jam 6 sore, aku memandang jam tangan Rolex yang aku pakai & jarum menunjukkan jam 4:08.
"Kamu sedang nunggu siapa?" tanya sebuah suara yang aku sangat kenal
Aku menoleh kearah suara yang bertanya kepadaku. Mbak Citra berdiri dibelakangku dengan senyum
indah di wajah cantiknya. Matanya berbinar2x telah mengerjaiku sejak dari tadi.
Aku melangkah mendekat kearahnya, membentangkan ke2 tanganku untuk memeluknya. Mbak Citra melangkah maju menyambut tanganku. Tubuhnya terlihat agak gemuk dr sebelumnya saat kita bersua di Semarang.
"Aku dari tadi memandangimu dari sebelah sana, kamu begitu fokus dengan pintu kedatangan. Mondar mandir seperti orang bingung." katanya "Aku kangen kamu Arjunaku"
"Mbak Citra terlihat lebih cantik dan agak gemuk" kataku berbisik saat kami berpelukan.
"Iya aku stress mikirin mau ketemu kamu. Aku tidak bisa lama disini. Aku harus kembali ke Jakarta besok jam 1 siang. Ayo kita cepat pulang, pembantu sudah menyiapkan makanan untuk kita. Aku lapar sekali"
Aku mendorong sebuah kopor warna merah dengan ukuran cukup besar. Kopor
bertuliskan "PRESIDENT" itu terasa ringan saat ditarik atau di dorong. Tangan Mbak Citra menggandengku dalam perjalanan keluar pintu kedatangan. Aku memintanya untuk tidak keluar dulu supaya aku bisa mengambil mobil dan menjemputnya didekat pintu kedatangan.
"Cepat ya, hati-hati
sayang!" katanya mengingatkan.
Segera aku berlari ke tempat parkir mobilku dan mengarahkan ke depan pintu kedatangan. Dengan dibantu seorang porter, Mbak Citra menyerahkan uang sebesar 25 ribu rupiah untuk pertolongan si porter mengangkat kopornya. Sementara kopor yang dia bawa
ke kabin, dia masukkan ke mobil di belakang tempat dudukku.
Badannya condong ke arahku dan tangannya menarik tubuhku mendekat kearahnya. Ciuman lembut dia tanamkan dibibirku, tangan kanannya mengelap bekas lipstick yg menempel di bibirku. "Aku sangat rindu kamu!" katanya sambil
memandang ke arah mataku.
"Aku juga kangen banget..!" katanya membalas kata2xmataku jg memandang kearah matanya. Pandangan kami bertemu & saling bercerita arti rindu sebenarnya.
Tangannya tiba2xmeraih batangku yg tlh tegang. "Iya aku yakin sekarang..!" katanya sambil tersenyum.
Tangannya meraba-raba batangku dari luar celana jeansku sepanjang perjalanan kerumahnya.
Pintu pagar rumahnya terbuka setelah Mbak Citra menelepon pembantu yang mengurus rumah besarnya saat dia di Jakarta.
"Mbak Citra kenapa harus tinggal begitu lama di Jakarta" tanyaku saat
kami sedang turun dari mobilku.
"Tunggu......kita masuk dulu ya, nanti aku akan ceritakan!" katanya
Kami masuk kedalam rumah dan pintu depan aku tutup setelah kami berada didalam. Mbak Citra bergegas masuk kedalam kamar depan yang biasa kami gunakan. Ruangannya rapi dan kasurnya
telah dibersihkan dengan sprei warna putih bersih.
"Kunci pintu kamarnya.....!" kataku saat masuk dan menutup pintu.
Mbak Citra melepas bajunya dan celananya dengan buru-buru seperti sedang mau mandi. Pantatnya yang menghadap kearahku nampak halus dan mulus. Dia berbalik
kearahku, mataku disambut dengan dua buah dada yang penuh dan menggairahkan. Mataku nanar dan lapar saat memandang kedua gundukan dadanya.
"Lepas baju dan celanamu juga.........!" pintanya saat mendekat kearahku. Tangannya menarik ujung bawah kaos yang kupakai dan mengangkatnya
untuk membantuku melepasnya. Lalu tangannya meraih ikat pinggang "TOMMY HILFIGER" pemberiannya, menariknya erat-erat dan melepaskan pengaitnya, kancing jeans juga dibuka dan resleting dia turunkan dengan cepat sambil menurunkan badannya jongkok didepanku. Kedua lututnya menjadi
tumpuan menopang tubuhnya supaya tetap berada diposisi seperti itu.
Batangku keluar dan tegang perkasa didepannya. Aku melangkah dari lobang celana ku hingga terlepas semua. Batangku digenggam dengan erat sambil mengocoknya pelan naik turun, mulutnya membungkam kepala batangku.
Tanganku memegang kepalanya sementara mbak Citra terus mengulumi kepala batangku. Lidahnya membuat batangku mengeras saat lidahnya melilit dan menghisapnya bergantian. Matanya memandang kearahku untuk mengetahui rasa nikmat yang dia buat dan lakukan untukku. Matanya penuh nafsu
dan birahi, aku menarik lengannya untuk segera berdiri. Mbak Citra enggan melepaskan batangku, mulutnya terus menghisap batangku dengan rakus.
"Gantian.......sayaaaang "kataku penuh nafsu, suaraku seperti mengiba terdengar ditelingaku sendiri. Tanganku menarik naik lengannya
dengan agak memaksa. Akhirnya Mbak Citra berdiri, aku memintanya duduk di tempat tidur dan mendorong tubuhnya untuk rebah sementara kedua tanganku berusaha membuka kedua pahanya. Daging vagina yang telah aku cukur jembutnya tidak tumbuh lagi rambutnya. Tidak ada tanda-tanda bekas
cukuran.
"Aku pergi ke salon untuk waxing....!" katanya memandangku sambil tersenyum. "Kamu suka......?" tanyanya sambil tersenyum
Aku mengangguk sambil memandangi daging gemuk bergunduk diantara selangkangannya. Daging Vaginanya terlihat bersih dan terawat, aku mendekatkan
mulutku untuk mengecupnya. Mbak Citra bergerak saat sentuhan lidahku mengenai lobangnya. Lobang memeknya telah basah, mengantisipasi rasa nikmat yang telah lama tidak dirasa.
"Ooohhhh...sayaaaang..!" katanya sambil mengangkat pinggulnya dan menggerakkannya secara erotis
saat lidahku menyusuri lobang memeknya. Lidahku lincah dan lahap menjilati sekujur lipatan-lipatan daging nikmat yang membuatnya mendesis dan melenguh. Tangannya menjambak rambutku dan mendorongnya ketengah selangkangannya. Dia menggosok-gosokkan memeknya ke wajahku dengan penuh
emosi dan nafsu. Rasa dendam sexual selama ini hanya bisa dia salurkan melalui phone sex seperti tersalurkan. "Oohhhhhh......terusssss.....aggggghhhhhh......ooooooooosssshh.....terusssss sayang"
Lidahku terasa kaku dan kelu, menusuk dan menjilati lobangnya. Dia naikkan kakinya
dan menindih kepalaku sambil menekan kepalaku untuk menempelkan wajahku, tanganku menahan kedua pahanya yg menghimpit kepalaku dari samping sehingga aku sulit bernafas. Dia goyang dan tekan keatas pinggulnya, sementara kakinya yang menekan punggungku menekan kebawah, dia lakukan
berulang ulang hingga lenguhan panjang terdengar keras dari mulutnya.
"Ooooooooooooohhhhh oooooohhhhh .....afffggggghhhh........ooohhhhh...!" dia terkapar dengan paha terhempas, nafasku lega saat kedua pahanya melepas himpitan kepalaku. Dia menarikku keatas untuk menindihnya,
kedua paha tetap mengangkang, tangannya meraih batangku dan mengarahkannya ke lobang yang telah menantinya.
"Aku tidak bisa lama.......Spermaku telah tersimpan penuh disana" kataku sambil menusuk-nusuk masuk kedalam lobang vaginanya. Perasaan nikmat menyelimuti batangku, kepala
batangku mengeras dan membuat senang Mbak Citra yang sedang mengejang dan menggelinjang. Kedua kakinya melingkar dipingganku dan telapak kakinya berada di atas pantatku sambil mendorong pantatku kebawah. Persetubuhan kami penuh emosi, rasa lapar dengan penuh nafsu terpendam ingin
dipuaskan. Aku tak mampu menahan rasa nikmat yang terus makin memuncak. Penantian panjang telah berakhir, kucuran dan semprotan tak bisa tertahan. Meluncur keluar deras dan penuh kehangatan. Pekikan puas dan dengusan nafas bersamaan keluar dan terdengar saat tubuhku ambruk
ditubuhnya.
Tangannya meraih tubuhku melingkar dan merengkuhku dengan hangat. Batangku masih tertancap merasakan denyutan denyutan lembut yang keluar dari otot-otot dinding vaginanya yang mencengkeram lunak batangku. Bibir kami bertautan dengan penuh rindu sambil menjulurkan
lidah dan saling menghisap, nafsu dan birahi mereda saat emosi telah mereda. Batangku keluar saat Mbak Citra bergerak karena menahan berat badanku. Tangannya menyekop sperma yang tumpah keluar bersamaan dengan keluarnya batangku. Bergegas Mbak Citra bangkit dan berjalan ke kamar
mandi untuk membersihkan yang tumpah. Untung sperma tidak sampai membasahi kasur, beberapa tetesan sperma terlihat diatas lantai. Aku mengambil tissue untuk mengelap dan mengeringkannya.
Aku menyusul setelah tetesan sperma kubersihkan.
"Kita sekalian mandi, aku merasa dekil"
HAMIL
Kami mengerang dengan rasa puas membanjiri raga kami, tubuhku masih berada diatas badannya menindih dengan tonase penuh. Nadiku serasa berhenti saat deru aliran darah memompa batangku kedalam lobang memeknya. Mulut dan bibirnya berada dan menempel dileherku, menghisap Image
saat orgasme melanda kami. Denyutan batangku saat memompa keluar cairan spermaku terasa kuat, seperti tali kekang yang menyendal-nyendal. Sementara lorong memeknya seperti meremas remas batangku, denyutannya seperti empot-empotan yang menghisap.
"Ooohhh....saayaaaangku.......!"
pinggulnya dia tarik kedalam, otot memeknya mengkeret dan meremas batangku yang masih berada dilorong memeknya yang lembab dan licin.
Tangannya melingkar dipunggungku erat seolah tak membiarkan tubuhku terangkat. Kakinya masih terangkat tak membiarkan spermaku meleleh keluar.
Persetubuhan kedua lebih lama dari yang pertama, rasa puas setelah penantian panjang mengumpulkan seluruh energy dan sperma untuk tercurah kedalam lobang memeknya.
"Aku lapar.............." bisikku ketelinga Mbak Citra
"Iya......aku juga!"
"Jam berapa sekarang mbak?" tanyaku
"Aku tidak tahu sayang........, jam dinding tidak terlihat"
Aku mengangkat pantatku dan menggulingkan tubuhku kesamping, tapi dia menahan tubuhku untuk tetap berada diatas. Tangannya menahan pantatku untuk tetap tidak bergerak.
"Aku mau cabut keluar batangku.......!" kataku
"Jangan dulu....aku mau merasakan nikmatnya batang didalam sana sampai keluar sendiri!" katanya perlahan
Aku mencium matanya yang berada tepat dibawahku.
"Kamu tahu kenapa Cik Anneke tidak menemuimu sejak kamu bertemu disini?" katanya perlahan.
"Tidak tahu.....tapi setiap hari
aku berbicara sama Cik Anneke tentang saham yang harus di beli. Selebihnya aku tidak tahu, aku tidak pernah berbicara tentang yang lainnya."
"Cik Anneke sedang hamil" katanya tiba-tiba
"Hamil....?" tanyaku, mataku seperti menerawang jauh.
"Kenapa......? Dia punya suami toh....?"
"Kira-kira bayinya siapa.......?" tanyaku setengah berbisik
"Ya belum bisa diketahui bayinya siapa sampai nanti waktu lahir" kata Mbak Citra
"Trus kalau mbak Citra hamil bagaimana?" batangku masih didalam memeknya. Secara refleks aku mencabut batangku dari memeknya.
"Pluuuuk....!" terdengar saat batangku keluar dari jepitan kedua bibir memeknya.
"Tidak akan hamil, aku memakai kontrasepsi...!" katanya sambil memandang kearahku. Tangannya meraih kepalaku dan menariknya kearah dadanya. Kulit payudara yang empuk dan halus menempel diwajahku.
"Sudah ....ayo bangun!" katanya mengajakku berdiri untuk makan.
Aku menelepon ibu memberitahu bahwa aku tidak pulang malam itu. Aku akan mengantar bosku ke bandara keesokan siangnya. Ibu memintaku untuk hati-hati jangan sampai terhanyut narkoba atau melanggar hukum.
Kami makan malam bersama, setelah bersenggama 2 kali sejak jam tadi, badanku terasa lemes dan perlu energy tambahan. Selagi makan, Mbak Citra menceritakan bahwa suaminya mewariskan sejumlah uang yang dia tak pernah sangka. Sebuah kawasan pergudangan yang disewa-sewakan didaerah
Cikarang-Bekasi. Ada 600 bangunan gudang yang dibangun suaminya dan sebagian besar gudangnya telah disewa oleh berbagai perusahaan nasional dan asing. Sebuah perusahaan konsorsium sedang menawar untuk mengambil alih kawasan itu dengan nilai fantastis. Pejabat Notaris yang
membacakan warisan yang diterima Mbak Citra, telah menunjuk seseorang kepercayaannya untuk mengurus perjanjian jual beli dengan sebuah perusahaan multi-nasional, perusahaan konsorsium yang akan mengambil alih kawasan pergudangan ini telah menghubunginya melalui seorang kurator.
Mbak Citra tidak menceritakan jumlah uang yang akan diterima dengan penjualan kawasan pergudangan ini. Tetapi dari nada suaranya, jumlahnya akan sangat besar.
"Kenapa Mbak Citra tidak kelola sendiri kawasan pergudangan itu?" tanyaku
"Tidak mudah....! aku tidak pintar dan perlu
keahlian orang untuk bisa mengelola kawasan yang begitu besar. Aku lebih suka pegang uang dan hidup nyaman seperti sekarang ini. Aku tak perlu memikirkan banyak hal." jawabnya
"Mbak punya rencana apa setelah hasil penjualan diterima?" tanyaku
"Ikut kamu ke Singapore, aku tidak
mau jauh-jauh dari kamu" katanya dengan penuh keyakinan
"Mbak Citra datang lagi kapan?" tanyaku
"Kamu nanti yang akan datang ke Jakarta....!" katanya
"Adikku akan berangkat ke Jakarta tanggal 18 Mei, kalau aku ikut ke Jakarta. Nanti aku bisa tinggal dimana?" tanyaku ingin tahu.
"Aku belum pernah ke Jakarta"
"Adikmu akan tinggal dimana?" tanya Mbak Citra
"Adik akan tinggal bersama om dan keluarganya"
"Sebaiknya kamu tinggal saja dengan om sehari atau dua hari kemudian aku jemput kamu tinggal sama aku di Cikarang" katanya memberitahu rencananya kepadaku.
Aku mengantar Mbak Citra ke bandara keesokan harinya. Tepat jam 10 pagi, pesawat ke Jakarta yg ditumpangi take off. Sebelum aku pulang, aku sempatkan mengunjungi Mbak Widya di kios Majalah bapakku. Mbak Widya senang sekali saat melihatku.
"Mas...kapan kita bisa ke Sindon lagi?"
katanya
"Nanti kalau ada waktu. Aku baru selesai ujian nasional. Sekarang persiapan study ke Singapore jadi masih sibuk. Minggu depan aku akan ke Jakarta mengantar adik Wulan kesana. Mungkin saat aku pulang dari Jakarta, kita bisa mampir sebentar ke sana. Mbak Widya kok belum
hamil? Kukira dulu pernah hamil?"
"Iya aku kira sudah hamil karena sudah terlambat hampir 2 bulan tetapi hasil tes negatif"
"Ya sudah ........aku pulang dulu ya?"
"Kok cepat sekali mau pulang?"
"Aku tadi habis mengantarkan bosku kembali ke Jakarta, aku mampir kesini sebentar"
Aku merasa kasihan melihat Mbak Widya, aku membelikannya makanan dan pulsa serta sedikit uang saku sebelum aku pulang.
"Mas aku mau cium boleh?" katanya sebelum aku pergi
"Ya sudah sana......kebelakang rak majalah" kataku
Mbak Widya segera berjalan kearah belakang Rak majalah,
spot yang kami selalu gunakan untuk berciuman. Aku menyusulnya sesaat kemudian setelah melihat ke sekeliling dan tidak ada perhatian atau orang yang curiga apa yang akan kita lakukan.
"Muuuuuacccchhh........!" bibir kami ketemu. Tanganku meraih payudaranya dan meremas pelan.
Tangannya membalas dengan meremas batangku"
=====================================
"Selamat Pagi Pak San......?" kataku saat aku berbicara di telepon.
"Arjuna, selamat pagi. "Kenapa pagi-pagi sekali sudah telepon?" katanya kaget
"Ternyata saham Facebook akan segera IPO tanggal 8
delapan belas mei ini" kataku
"Oh begitu.....?" Terus......?"
"Saya ingin tahu apakah Pak Haryadi jadi akan membeli saham itu?" tanyaku
"Sudah......Arjuna, alokasi dana kita untuk saham itu hampir 400 miliar. Pak Haryadi sudah mengatur dengan pialang di Jakarta."
"Desas-desus
yang beredar saham itu diperkirakan di buka dengan harga dikisaran $38 per sahamnya. Tanggal 18 mei itu adalah hari Jum'at, kita belum tahu reaksi pasar secara normal , tanggapan investor adalah euphoria sesaat sebab mereka gencar mendengung-dengungkan serta mengkampanyekan
keistimewaan saham teknology yang besar ini. Kemungkinan reaksi pasar baru terlihat setelah seminggu kemudian. Entah pasar normal akan merespon secara positif atau negatif terlihat setelah seminggu kemudian"
"Jadi apa saranmu.......aku ikut kamu saja sebab terus terang intuisiku
tidak begitu baik dibidang ini. Kamu beritahu aku, apa yang harus aku katakan untuk dieksekusi Haryadi"
"Kita wait and see reaksi pasar hingga satu minggu setelah Initial Public offering. Bila reaksi pasar positif kita akan ketinggalan tetapi tidak akan banyak. Dan bila reaksi
pasar negatif, harga pasti akan turun. Kita akan alokasikan 1/4 dana yang kita alokasikan untuk membeli di harga tersebut."
"Maksudmu kita tunggu reaksi seminggu setelah IPO kan? Kita tidak membeli harga saat IPO?. Begini saja aku akan undang Hariyadi datang kesini sekarang.
Kamu bicara langsung sama dia didepanku. Hariyadi ini selalu ngotot kalau tidak ada aku. Kamu bisa datang sekarang?
"Bisa Pak.....!" kataku "Saya akan kesana sekarang"
Sekitar setengah jam kemudian aku sudah berada di kantor Pak Santosa, Pak Haryadi datang sekitar 15 menit
kemudian. Wajahnya cerah dan nampaknya cukup istirahat.
"Begini Haryadi.........Arjuna mempunyai teori baru. Sebaiknya kamu dengar sendiri apa katanya"
Seperti saat menjelaskan kepada Pak Santosa, aku mengawali bahwa tanggal 18 Mei itu adalah hari di mana IPO saham Facebook
dilempar ke pasar. Tanggal 18 itu tepat hari Jum'at sehingga respon pasar pastinya akan sangat positif. Itu karena pengaruh kampanya dan promosi secara bertubi-tubi yang dilakukan team marketing perusaahan yang membantu IPO itu dilakukan. Kita sebaiknya menahan jangan membeli
saat IPO, kita akan membeli setelah reaksi pasar mereda. Entah itu akan positif atau negatif maka kita akan tetap mengeksekusi dengan dana 15% hingga 20 % dari alokasi dana yang telah disiapkan.
"Kenapa kita tidak membeli di hari H saat IPO dilaksanakan saja supaya kita bisa
mendapatkan harga terbaik?" Kata Pak Haryadi
"Harga terbaik adalah saat pasar memuntahkan saham itu setelah mencicipi kepahitan karena mereka termakan kampanya besar-besaran yang dilakukan perusahaan yang membantu IPO."
"Tetapi apakah kamu yakin harga itu akan turun?" kata
Pak Haryadi
"Kita berspekulasi pak, harga akan turun setelah Euphoria berakhir"
"Apakah tidak terlalu riskan?"
"Pak kita telah bekerja sama sekian lama, perkiraan dan analisa yang saya berikan kepada Pak Haryadi selalu tepat dan tidak sekalipun meleset"

"Okay kalau itu maumu..!"
kata Pak Haryadi
"Maaf Pak Haryadi, jangan ini jadi kemauan saya semata tetapi ini keputusan diambil atas suara bersama"
"Baiklah kalau begitu, kamu tidak punya pilihan atau keberatan setelah mendengar penjelasan Arjuna?"
"Selama ini, dia tidak pernah meleset Pak Santosa. Saya
rasa untuk apa mendebat sesuatu yang selama ini kita percayai"
"Satu lagi Pak San, saya mau minta ijin akan berangkat ke Jakarta untuk mengantar adik."
"Oh....kapan?"
"Tanggal 18 mei juga, adik akan pergi ke Taiwan seminggu sesudahnya untuk mengikuti program pertukaran pelajar
selama 2 minggu disana"
"Maksudmu........adikmu yang melukis itu?" tanya Pak San ingin tahu.
"Iya benar Pak San, adik saya hanya satu itu saja" kataku
"Pintar ya.....?" pujinya
Aku merasa bangga walaupun aku bukan yang dipuji tetapi perasaan sebagai kakak yang memiliki adik
pintar memang membuatku bangga.
Kami mengakhiri pertemuan singkat itu dengan makan siang bersama di kantor Pak Santosa. Pak Haryadi dan aku meninggalkan kantornya sekitar jam 1:15 siang.
"Pak Haryadi..jangan mengambil posisi untuk beli sebelum saya beri aba-aba pak?"
"Dana sudah
siap, kapanpun kamu bilang beli, aku akan suruh beli. Tapi apa menurutmu ini akan layak beli"
"Pak Facebook adalah perusahaan teknology yang siap menggebrak dan membuat pasar saham meledak. Kira-kira alokasi dana sebesar 400 miliar itu bisa bertahan berapa lama sampai kita bisa
mengunduh hasilnya?"
"Kita lihat saja nanti, kalau tidak ada tekanan dari dalam dan kebutuhan mendesak, dana ini bisa agak lama"
"Baiklah kalau begitu, semoga aman dan tidak terjadi tekanan"
Kami berpisah di parkiran.
==========================
"Mbak Yani selamat siang.......?
" kataku saat menjawab panggilan teleponnya
"Mas Arjuna......saya mau minta tolong boleh?" katanya tiba-tiba
"Oh bantuan apa mbak..?" bisakah saya minta uang les 10 bulan didepan.
"Maksudnya uang les untuk seluruh guru atau kepunyaan Mbak Yani saja?"
"Kepunyaanku saja Mas...!"
"Oh tidak masalah...mbak mau di transfer atau mau ketemu?" tanyaku
"Mas Arjuna sedang dimana sekarang?" tanyanya
"Aku sedang dirumah....!"
"Kalau begitu saya datang kerumah saja Mas..." katanya
"Iya boleh.." kataku sambil memberikan alamat rumahku.
Aku memberitahu ibu perihal
kedatangan Mbak Yani. Ibu menyarankan untuk menelepon Bu Warni, Kepala Panti Asuhan untuk meminta informasi tentang kegiatan kursus disana. Aku melakukan apa yang disarankan ibu.
"Selamat siang Bu Warni, apa kabar?" kataku menyapa melalui telepon
"Selamat siang, ini Mas Arjuna
bukan?" tanya Bu Warni. Nampaknya beliau telah hafal dengan suaraku.
"Betul Ibu, saya Arjuna. Saya ingin tahu bagaimana perkembangan kursus Bahasa Inggris dan Matematika disana?" tanyaku
"Oh Kursusnya sangat bagus Mas Arjuna, guru-gurunya baik dan sangat kreatif khususnya
Miss Yani. Nampaknya dia yg menjadi guru utama disini, dia yang mengkoordinir semua kegiatan disini."
"Apakah ada saran atau kritik yang mungkin bisa disampaikan karena sesaat lagi saya akan bertemu Mbak Yani"
"Tidak Mas Arjuna, semua berjalan sesuai program awal" kata ibu Warni
"Baik ibu, terima kasih atas informasinya. Omong-omong bagaimana kabar adik Intan?"
"Minggu lalu dia tertular cacar air dari penghuni panti lainnya, tetapi sekarang sudah baikan. Tinggal bekas cacarnya saja yang belum kering dan menunggu hingga mengelupas sendiri"
Kami bercakap-
cakap sebentar saat sepeda motor terdengar berhenti diluar rumahku.
"Arjuna........Arjuna......!" teriak ibu dari bawah.
Aku menutup percakapan dengan Ibu Warni sebelum menjawab teriakan ibu. Aku turun tangga dan melihat Mbak Yani sedang berbicara dengan ibu dimeja kerjanya.
Mbak Yani berdiri saat melihatku dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Aku memberikan uang sebesar yang dia minta dan duduk sebentar ngobrol dengannya.
"Mas........? Aku mau minta tolong lagi" katanya dengan suara lirih
Ibu berdiri dan berjalan ke dapur untuk membuatkan
minuman untuk Mbak Yani. Sambil berjalan ibu ikut mendengar pembicaraan kami.
"Minta tolong apa lagi mbak?" kataku sambil tersenyum
"Adikku baru saja lulus SMA, dia ingin sekali bisa melanjutkan kuliah tetapi ada kendala biaya. Mas bisa carikan pekerjaan di kota, siapa tahu
adikku bisa kerja setahun untuk bisa menabung dan melanjutkan kuliahnya tahun depan"
Ibu datang dan mendengarkan apa yang dikatakan Mbak Yani.
"Suruh datang adikmu kesini, dia bisa bantu ibu kerja. Biar nanti ibu yang akan bayar biaya kuliahnya"
"Oh.....sungguh bu?" kata Mbak
Yani dengan nada sangat senang.
"Siapa nama adikmu?" tanya ibu ingin tahu
"Qomariah Sulistyani...anaknya rajin dan cekatan bu. Semoga Ibu cocok dan Sulis bisa membantu ibu meringankan pekerjaan ibu disini" katanya dgn penuh harap dan kelegaan.
"Besok akan saya bawa kesini ibu....
terima kasih banyak" kata Mbak Yani sambil mencium tangan ibu dan berpamitan.
"Mengapa ibu langsung menerima adiknya untuk bekerja disini?" kataku penasaran
"Kamu tidak tahu bagaimana perasaannya saat sedang membutuhkan sesuatu. Kamu lihat perubahan wajahnya saat ibu menawarkan
pekerjaan untuk adiknya"
"Ibu akan minta dia tidur dimana?" tanyaku
"Terpaksa kamu tidur dikamar Wulan, sementara Wulan dan Sulis biar tidur satu kamar sampai kamu berangkat ke Singapore" kata ibu menjelaskan
"Ruangan gudang bisa dibersihkan untuk menampung dia ibu, biar aku
minta narto membersihkannya sekarang." kataku "Wulan belum tentu mau tidur satu ruangan dengan orang yang belum dikenal.
"Begitu juga baik, nanti kamu pindahkan satu springbed yang ada dikamarmu kesana"
"Baik ...........bu!, aku cari Mas Narto sekarang ya?" kataku meminta
persetujuan dan pamit
Dengan naik sepeda motor, aku pergi ke Jagalan untuk mencari mas Narto. Dia sedang nongkrong dipinggir jalan dengan tetangganya saat aku datang.
"Mas Arjuna, mau kemana?" tanyanya saat melihatku
"Ibu mau minta tolong mas?" kataku
"Sekarang?"
"Iya......!"
"Ya mas, aku kesana sekarang!"
"Ed, ayo ikut aku....!" kata mas Narto mengajak salah satu temannya.
======================
Artikel yang kubaca di earlyedition.com sangat mencengangkan. Terindikasi bahwa saham Facebook telah dinaikkan harganya dari nilai semestinya. Akan
terjadi sebuah pengambilan keuntungan besar-besaran saat IPO saham Facebook dibuka. Artikel ini mengupas tuntas praktek penggelembungan harga awal yang ditawarkan. Tetapi nampaknya hal itu dianggap lumrah di lantai bursa saham.
Tanggal 16 malam aku komunikasi dengan Cik Anneke
melalui SMS. Aku mengirimkan daftar saham yang akan dibuat trading keesokan harinya. Aku juga memberitahu bahwa aku akan ke Jakarta untuk mengantar adikku.
"Bisa tidak kita bertemu besok pagi jam 10?" kata Cik Anneke
"Bisa Cik, aku sudah agak leluasa sekarang. Ibuku ada yang
membantu pekerjaannya sekarang. Mau bertemu dimana?" tanyaku
"Di Solo Paragon, nanti aku jemput kamu saat kamu sudah di mall" katanya singkat
"Aku belum pernah ke Paragon sejak dibuka. Ini bagian hotel atau apartemennya" tanyaku ingin tahu.
"Aku beli apartemen tipe satu kamar
disini" kata Cik Anneke
"Oh..Okay Aku akan SMS Cik Anneke kalau sudah sampai di Mallnya" kataku
=============================
Kedatangan Sulis dirumah membawa perubahan besar khususnya bagi ibu. Ibu bisa tetap beraktifitas melakukan pekerjaan lain sementara Sulis bisa membantu
pekerjaan yang membutuhkan ketrampilan menggunakan komputer. Ibu mengajarinya apa yang harus dikerjakan saat ibu berangkat naik haji.
Sulis seperti yang digambarkan Mbak Yani memang orang yang cekatan dan rajin. Pagi-pagi jam lima saat ibu sudah bangun, ibu tidak perlu
membangunkannya. Dia sudah berada didapur memasak nasi dan membersihkan ruangan. Kita tidak perlu tenaganya untuk membantu ibu bersih-bersih, tetapi dia mau melakukannya tanpa diminta.
Kamarku dibukanya saat aku sudah keluar dan jendela yang menghadap ke Jalan Flores juga dibuka
supaya sirkulasi udara baik. Aku memberinya uang 150 ribu setiap bulan karena membantu ibu melakukan hal ini. Kamar Wulan juga dibersihkan 3x seminggu. Awalnya dia menolak menerima uangku, aku memaksanya dengan mengatakan bahwa aku dapat bonus tambahan dari bosku.
Ibu sangat
senang bisa mendapat tenaga baru, pekerjaan yg terbengkalai dapat teratasi dengan hadirnya Sulis. Semua nampak rapi sama seperti saat Elvira ada disini. Dia juga wanita yang sangat aktif dengan berbagai kegiatan yg dia lakukan karena terlatih untuk melakukan pekerjaan membantu
mamanya mengurusi rumah kos dan katering. Didesanya Sulis membantu pekerjaan rumah tangga dirumah, ibunya dan bapaknya harus bekerja di pabrik di wilayah Sragen yang memang sedang booming disana. Banyak sawah-sawah telah berubah pabrik pabrik disepanjang jalan Solo Sragen.
Kebiasaan bekerja dengan giat terasah dan menjadi sebuah kebiasaan.
"Sulis......kamu mau kuliah dimana?" tanya ibu
"Saya mau ikut Mbak Yani kuliah di Universitas Muhammadiyah dengan jurusan yang sama" katanya dengan sopan.
"Boleh ibu memberi saran?"
"Boleh ibu, demi kebaikan
saya mau mendengar dan menerimanya" kata Sulis
"Apa alasanmu harus kuliah di Universitas itu?" tanya ibu
"Karena saya ingin seperti Mbak Yani......."
"Kamu tidak ingin lebih baik dari Mbak Yani kah.....?"
"Kalau bisa, saya ingin lebih baik ........." katanya menjawab
"Kalau kami
ingin lebih baik, ibu menyarankan kamu kuliah saja di Akademi Bahasa Asing di IEC. Kampusnya dekat sini, kamu bisa naik motornya Arjuna kalau berangkat dan pulang kuliah. Nanti kusuruh Arjuna mengantarkan kamu melihat-lihat kampusnya supaya kamu dapat gambaran. Kamu tidak usah
mengambil keputusan sekarang untuk memberi ibu jawaban, kamu pertimbangkan dulu sebelumnya selagi kita menunggu pembukaan pendaftaran.
"Iya ibu....saya akan rundingkan dulu sama Mbak Yani" kata Sulis menjawab. "Iya...rundingkanlan supaya kamu bisa mendapatkan perbandingan. Kalau
kita kuliah, kita itu sebenarnya bukan hanya mempersiapkan diri untuk bekerja tetapi juga bergaul dan mencari pasangan hidup. Kita bisa menambah wawasan secara luas dengan perspektif yang dewasa dan tidak terkungkung oleh dalil dan doktrin agama. Kita seringkali terbelenggu oleh
doktrin dan dalil-dalil yang mengikat kita sehingga kita jadi selalu mikir. Tetapi pandangan ini akan berubah dengan cara pandang berbeda bila kita bergaul dan berada dilingkungan yang plural."
"Saya mengerti tentang hal itu bu, kadang saya juga berdebat tentang hal semcam ini
dengan Mbak Yani"
"Makanya coba nanti Arjuna akan aku suruh mengantarmu kesana, dengan harapan kamu bisa mendapat sebuah gambaran lebih jelas. Ada majalah-majalah berbahasa inggris yang bapak jual. Dulu Arjuna menghabiskan waktu berjam-jam membaca majalah-majalah itu. Sekarang
kamu lihat sendiri nilai IELTS nya 7,5." kata ibu membanggakan
"Majalah yang mana ibu.....?" tanya Sulis
"Ada majalah politik dan majalah ekonomi serta ada majalah cosmopolitan. Kamu bisa baca asal hati-hati jangan sampai terlipat karena itu akan dijual di Bandara" kata ibu
memberitahu "Kamu pernah dengar tidak British Council?" tanya ibu
"Tidak pernah dengar ibu, apa itu British Council?"
"Ya nanti ibu akan tunjukkan, British Council adalah sebuah organisasi yg dibentuk sebagai upaya memberi dukungan pendidikan dan budaya oleh Pemerintah Inggris.
Banyak kegiatan yang sering dilakukan dan disponsori oleh British Council. Kamu pasti suka bisa bertemu dan berlatih bahasa Inggris dengan orang asing dan expatriat yang tinggal di Solo. Maka kamu harus bergaul dan menambah wawasan supaya bisa menambah ilmu."
"Apa yang ibu ceritakan ini lebih menarik dari yang Mbak Yani ceritakan" katanya jujur.
"Ibu ini sudah tua sulis, usia ibu juga sudah tidak muda lagi. Cara pandang ibu lebih kebanyak aspek daripada anak-anak muda seusia Mbak Yanimu" kata ibu menjelaskan.
Sulis mengangguk dan tersenyum setuju dengan pernyataan terakhir ibu.
"Tapi Bu, saya kira biaya kuliahnya akan lebih mahal dari Universitas Muhammadiyah, ibu apa tidak keberatan?" tanya Sulis
"Kita lihat saja nanti, kita bandingkan supaya kita bisa lebih jelas melihatnya.
Dari segi waktu kamu akan lebih hemat kuliah di IEC sebab lokasi kampusnya dekat rumah. Laboratorium bahasa juga ada bahkan ada dosen native speakernya.
Yg ke2 adalah ada tawaran pekerjaan bagi mahasiswa berprestasi dengan perusahaan-perusahaan yang memiliki kerja sama dgn IEC.
Yang ke-3 adalah kamu akan berada dilingkungan pendidikan dengan latar belakang pluralisme, kamu bisa belajar dengan mereka yang memiliki latar belakang budaya dan ras serta warna kulit berbeda. Kamu tidak akan terpaku menilai orang lain dan mudah mmerendahkan mereka yg memiliki
agama yang berbeda. Esensi hidup adalah menerima perbedaan, dan tumbuh berkembang dengan berbagai insan dengan latar belakang berbeda. Ibu tumbuh dan besar serta mendidik anak dengan budi luhur dalam pluralisme, memahami perbedaan dan menerima mereka apa adanya.
=============
Pertemuan dengan Cik Anneke akhirnya terwujud sehari sebelum aku berangkat ke Jakarta. Cik Anneke menemuiku di Mall Paragon yang saat itu belum banyak tenants yang menyewa space untuk membuka toko-tokonya. Auditorium dan Hall untuk pameran sangat luas, pameran perumahan sedang
diadakan dengan menawarkan konsep minimalis. Aku berdiri disebuah stand perumahan Graha Familiy Residents saat tangan Cik Anneke menepuk pundakku.
Saat aku menoleh kebelakang, Cik Anneke pura-pura melakukan sesuatu dan berjalan menjauh dariku, aku berjalan mengikuti langkahnya
dari jarak sekitar 5 meter. Dia menuju sebuah jalan tembus menuju sebuah lift khusus penghuni apartemen. Saat kami berada didepan pintu lift, Cik Anneke menoleh kearahku & tersenyum tanpa mengatakan sepatah katapun. Begitu juga saat berada didalam lift, aku juga diam saja karena
dia tidak mengajakku berbicara.
Lift berhenti di lantai 17 dan Cik Anneke melangkah keluar dari dalam lift. Aku mengikutinya dari belakang dan dia membuka sebuah apartemen dan aku mengikutinya melangkah masuk.
Dia memegangi pintu dan membiarkan aku masuk lalu menutup pelan pintu
apartementnya. Ruangan sebuah apartemen yang memiliki design interior yang sangat simple tapi keren. Penataannya sangat harmonis, tiba tiba tanganku ditarik & Cik Anneke menarik leherku dan mengalungkan lengannya disana sambil melompat dan menggelayut ditubuhku.
Tanganku secara
otomatis merengkuh tubuhnya, dengan pelan aku raih kedua pantatnya untuk menahan tubuhnya.
"Lama sekali aku tidak ketemu kamu! Kamu tidak kangen sama aku?" tanyanya dengan mata memandang lurus kearahku
"Cik Anneke sulit dihubungi..!" kataku pendek
"Aku hamil..........." katanya
tiba-tiba. Matanya menyelidiki kedalam mataku, menunggu reaksiku setelah mendengar pernyataannya.
"Anakku...?" tanyaku.
"Mungkin...kamu tidak kaget?" matanya penuh selidik
"Tidak...karena lambat atau cepat pasti akan terjadi. Kita tidak pernah menggunakan kondom saat berhubungan
fisik" kataku
"Terus bagaimana.......?"
"Cik Anneke mau ikut aku ke Singapore?" tanyaku
"Ngapain disana.....?"
"Hidup sama aku disana"
"Terus suamiku bagaimana......?"
"Minta ijin ke suami supaya diijinkan melahirkan di Singapore"
"Ayo mandi dulu........?" katanya tiba-tiba
"Aku sudah mandi...sebelum kesini"
"Aku mau mandi sama kamu sebelum berbaring di kasur" katanya
"Trading saham hari ini bagaimana?" tanyaku
"Jangan dulu pikirkan trading dulu hari ini. Aku sedang malas memantau pergerakan saham. Aku sudah setting penjualan setelah terbeli saham
yang kamu infokan"
Aku menurunkan badannya dan tangannya segera menarik ujung bawah kaos yang aku pakai untuk membantu melepasnya.
Saat kaosku terlepas, tubuhnya langsung memelukku dan menempelkan wajahnya kedadaku. Tangannya meraih putingku dan memainkan ujung jarinya menowel
putingku berulang-ulang. Tanganku meraih kepalanya mengelus rambutnya. Dia mendongak menengadahkan kepalanya memandangku, ciuman bibir tak terhindarkan. Bibirnya terasa dingin dengan hembusan nafas hangat penuh nafsu. Seperti sedang lapar bibirnya menghisap lidahku dan melumeri
dengan air liurnya.

Tanganku menarik baju yang dikenakan, resleting dipunggungnya aku buka dan baju dress yang dia pakai melorot turun tersisa BH dan Celana dalamnya yang menutupi alat vitalnya.
"Kok belum terlihat ada tanda-tanda kehamilan" tanyaku saat membuka pengait BH yang
ada dipunggungnya.
"Masak........payudaraku sudah agak membesar dan perutku sudah terasa agak kencang. Apa mungkin karena baru 12 minggu jadi belum begitu nampak"

Tanganku ditariknya masuk ke kamar mandi dan kami berdiri bersama dibawah guyuran shower. Kepalanya memakai sebuah
shower cap untuk menghindari air membasahi rambutnya. Tangannya menyabuni punggungku dan seluruh badanku. Tangannya agak lama berada diselangkanganku & sibuk menyabuni bola-bola diujung bawah batangku.
Batangku telah menegang kencang dengan kepala seperti meradang. Kami keluar
dari kamar mandi dengan badan telah kering dihanduki. Cik Anneke menggunakan handuk untuk menutupi badannya sambil keluar kamar mandi. Dia taruh handuknya diatas punggung kursi setelah aku lepas ikatan ujung handuk dibagian dadanya.
Aku baringkan dia diatas kasur dan melebarkan
kedua pahanya sebelum aku mendekati lobang memeknya dengan lidahku menjulur menyentuh bagian pinggir dekat selangkangannya. Kulit-kulit yang menutupi lobang vaginanya terasa sensitive saat ujung lidahku menyentuhnya. Reaksinya dengan desisan panjang dan tangannya meraih kepalaku.
"Ooohhh...terus sayang, lama sekali kamu tidak melakukannya kepadaku seperti ini" katanya penuh desahan panjang.
Tanganku meraih gundukan didadanya dengan puting yang telah mengeras. Jilatan lidahku membuatnya mengerang panjang, jari-jariku meraih putingnya dan ujung jariku
memilin pelan. Erangan panjang terus terdengar dari mulutnya.
"Ohh sayang..ohh.." teriaknya seperti menahan beban. Tangannya meronta-ronta meraih kepalaku dan wajahnya melihat kebawah dimana aku sedang berusaha memuaskan dahaganya. Bentuk memeknya masih indah dengan lipatan halus
dan lapisan daging -daging merah muda yang saling bertumpuk membentuk gundukan daging indah. Kelentit yang menonjol diatas lobang kewanitaannya makin sensitive. Cairan meluber kemana-mana hingga keluar dari lobang memeknya.
Ekpresi wajahnya terlihat sangat bernafsu sehingga
erangan & desisan saling bersahutan mengekspresikan birahi yang dirasakan. Pinggulnya dia angkat seperti menyuapkan memeknya kemulutku. Lidahku masuk dan tanganku melepaskan kedua puting susunya, kupegang kedua pahanya supaya membentang terbuka. Salah satu jariku masuk melengkung
keatas menggerus lorong hangat yang membentuk dinding berdaging empuk. Pantatnya dia angkat seolah menuntun bagian mana yang harus digaruk.
Tiba-tiba rambutku ditarik keatas agak kuat. Aku sempat mengaduh dan tangannya segera melepaskan setelah badanku agak terangkat. Kedua
pahanya segera diangkat dan melingkarkan kakinya untuk menarik tubuhku menindihnya. Mulutku masih berlepotan dengan cairan memeknya saat aku ingin menciumnya. Cik Anneke menghindari mulutku karena masih terlihat cairan memeknya menempel disana. Aku tak peduli dan terus mengejar
bibirnya hingga akhirnya terlumat kedua bibirnya.
Tangannya menjulur kebawah mengurut batangku yang telah menegang dan memasukkannya kedalam lobangnya. "Welcome home......!" bisiknya "Welcome back to mama.....!"
Batangku mengulik ulik kedalam dan mendorongnya perlahan-lahan
kedalam.
"Hati-hati badanmu menimpa janin yang ada didalam sayang...! Jangan ditimpa langsung diatas perutku. Bertumpulah di lutut dan siku" katanya mengingatkan aku.
Batangku seperti palu kaku, kuras dan kokoh menyogok dalam, menggaruk keatas dan kesamping saat pinggulku
kugerakkan memutar. Sementara pinggulnya mengimbangi sodokanku dengan dia naikkan keatas. Benturan bagian tubuh vital kami makin intens, suara kecepokan terdengar dari lobang enaknya.
"Saaaaaaayaaaaaang.....ohhhhhh..........saaaaayang......terusssss....terus" suaranya mengiba.
Desahan dan erangan bergantian terdengar.
Batangku terasa gatal, kutenggelamkan dalam jauh dari permukaan lobangnya. Ujungnya mengaduk aduk bagian dalam vagina yang lama tak tersentuh. Erangan seperti tangisan, mengaduh aduh terasa enak terdengar seperti nyanyian kenikmatan.
Didorong oleh kata Terrruuuusssss .....terusssss...ohhhh.aggaaahhhhhh terussss!" pantatnya menggelinjang dan pinggulnya tergetar saat batangku menusuk dalam.
Tiba-tiba goyangannya terhenti, matanya memandang kearahku dengan senyum seperti menahan rasa nikmat yang menjalar
keseluruh tubuhnya. Denyutan kuat seperti remasan pelan terasa dari sepanjang lorong memeknya.
"Keluarkan didalam........keluarkannnn sayanggg......!" katanya memohon tangannya mendorong-dorong pantatku sementara kedua kakinya dia angkat tinggi tinggi membantuku untuk mengetap
spermaku. Terasa denyutan kejantananku saat mengeras aliran spermaku membuncah dengan kepala batang mengeras dan berotot. "Keluarkan......cepattttt keluarkaaaaaaa...... Ooohhhh.....enaknya batangmu... keras sekali ooooohhhhhh.....aaagghhhhh......!" katanya setengah menjerit
"Keluarkaaaaaaaaan.....!"
Seperti terkena sihir, kata-katanya seperti sebuah komando kedutan makin cepat dan kulit kepalaku terasa sangat sensitive.
"Crrrottttt......crroooooot.......luapan dan semburan tersemprot dari dalam batangku. Nadiku berhenti, nafasku tersengal mataku
seperti berkunang-kunang karena derasnya darah terpompa dari jantungku. Perasaan terasa ringan dan lega. Aku ambruk diatas badannya, tubuhku menindihnya secara penuh.
"Jangan ditindih......?" katanya sambil memiringkan tubuhnya sehingga tubuhku terjungal kesamping. Nafas kami
terengah-engah menikmati post coitus yang menyenangkan. Tubuhnya melekat ketubuhku dengan posisi kepalau didadanya. Puting payudaranya berada didekat mulutku, aku masukkan kedalam dan menyedotnya dengan pelan. Tangannya menarik kepalaku untuk menempel kedadanya. Hidungku mencium
kulit dadanya.
"Enak sayang.........!" katanya memberitahuku. "Berapa lama kamu akan di Jakarta? Bisa tidak kamu memberitahuku saat kamu akan pulang ke Solo. Aku ingin menjemputmu di bandara dan membawamu kesini lagi"
"Aku hanya seminggu disana mungkin, orang tuaku akan pergi
berhaji bulan depan jadi aku harus berada dirumah menggantikannya." kataku memberitahu
"Bagaimana sama Citra........?" tanyanya tiba-tiba
"Dia mau ikut aku ke Singapore" kataku jujur
"Terus kalau dia di Singapore, aku bagaimana kalau kamu memintaku ke Singapore juga?" katanya
sambil tertawa
"Sudah jangan bicarakan orang lain." aku menyela. Bagaimana dengan trading semua lancar?" tanyaku
"Aku transfer uang hampir 250 juta ke rekeningmu bulan lalu"
"Terima kasih........" kataku
"Apa rencana yang akan dilakukan assossiasi kedepan?" tanyanya ingin tahu
"Dalam waktu dekat akan membeli saham facebook besar-besaran. Dana yang disiapkan adalah 400 miliar"
"Gilaa..." katanya kaget
"Mau coba ikut beli?" tanyaku
"Aku tidak tahu broker saham luar negeri" katanya jujur
"Kita bukan kelasnya, sedikit-sedikit saja cukup untuk beli BH baru"
SAMBUTAN ELVIRA
"Pak San, saya baru saja sampai di Jakarta" pesan singkat aku kirimkan kepada Pak Santosa. Pesan yang sama aku kirimkan kepada Pak Haryadi. Ini pertama kalinya aku ke Jakarta, ini juga pertama kalinya aku bepergian naik pesawat. Untungnya tidak ada masalah sama Image
SAMBUTAN ELVIRA

"Pak San, saya sudah sampai di Jakarta" pesan singkat aku kirimkan kepada Pak Santosa. Pesan yang sama aku kirimkan kepada Pak Haryadi. Ini pertama kalinya aku pergi ke Jakarta, ini juga pertama kalinya aku bepergian dengan pesawat. Untungnya tidak ada masalah
sama sekali saat penerbangan. Aku dan Wulan, adikku, merasa lega saat pesawat touch down & mendarat dengan sempurna.
Ada panggilan telepon masuk dari Pak Haryadi tetapi aku tidak mengangkatnya karena aku masih sibuk mencari tempat dimana aku harus mengklaim koporku & kepunyaan
Wulan. Wulan membawa kopor besar karena dia akan tinggal agak lama di Taiwan.
Kami mengikuti penumpang pesawat yang sama penerbangan kami untuk mengetahui arah dimana kita bisa mengambil kopor-kopor kami. Bandar Udara Soekarno Hatta sangat besar, jauh lebih besar daripada bandar
udara Adi Soemarmo Solo. Kita harus berjalan cukup jauh untuk sampai di carousel tempat pengambilan bagasi.
Wulan sibuk menelepon Vira yang sudah menunggu lama dibandara. Kebetulan dia sedang libur selama 2 minggu sehingga dia akan bisa menemani kami selama kami di Jakarta.
Akhirnya kami sampai di carousel pengambilan bagasi dan segera mengambil koper-koper kita. Kami mencari exit dan tidak tahu harus lewat mana dan nanti ketemu sama Elvira dimana kami tidak tahu.
Mata kami mencari-cari tanda exit bertuliskan di papan hijau dengan tulisan putih.
Diluar hujan deras mengguyur kota, seorang gadis dengan tangan melambai-lambai kearah kita terlihat dari luar kaca. Aku tidak menyangka bahwa itu adalah Elvira, Wulan yang duluan mengenali bahwa perempuan yang melompat-lompat itu adalah Elvira.
Aku melempar senyum kearahnya dan
melambaikan tanganku membalas lambaiannya. Wulan tersenyum juga dan kami segera beranjak keluar dari gate kedatangan. Elvira melompat-lompat kegirangan begitu juga Wulan.
"Mbak Elvira tambah cantik.........!" celetuk Wulan. Mereka berpelukan seolah-olah tak mau lepas. Elvira
memandang kearahku, menatap mataku mengirimkan sebuah pesan yang aku tak paham apa yang dia ingin sampaikan. Setelah pelukan mereka terlepas, baru kemudian dia beralih memelukku.
"Mas Arjuna tambah ganteng....!" katanya. Pelukannya yang dia berikan juga sangat erat. Payudaranya
menempel didadaku saat tangannya merangkul leherku sambil menggantungkan tubuhnya sambil jinjit.
"Kamu juga tambah cantik dan pesolek........!" kataku. "Lihat Wulan, Vira sudah pakai make up"
"Di Jakarta sudah umum anak-anak seusiaku sudah kenal make up. Mas Arjuna ....kaosmu ini
mahal sekali. Aku mau juga dibelikan satu!" katanya sambil menggandeng tanganku.
"Kamu belum tahu berapa harga jam tangan yang dia pakai?" kata Wulan tiba-tiba sambil menunjuk jam tanganku.
"Apa ini Rolex.....?" tanya Elvira

"Kamu kok tahu.......?" tanya Wulan heran
"Teman-teman papa banyak yang membicarakan tentang jam ini kalau mereka bertemu. Bisa lihat mas, aku ingin lihat kenapa kok bisa sangat mahal" katanya.
Aku mengangkat tanganku dan menunjukkannya kepada Vira. Dia melihat dengan seksama bentuk dan papan penunjuk waktunya.
"Oh yang ini namanya Rolex Oyster Perpetual edisi Explorer" kata Elvira sambil melihat plat jam dengan seksama. "Kita ketempat parkiran disebelah sana...!" katanya sambil menunjuk kesebuah gedung parkir berwarna putih.
Aku ngabari Mbak Citra bahwa aku baru saja sampai di Jakarta
melalui SMS. Tapi sayangnya SMS ku tidak berbalas.
Elvira membuka bagasi mobil Nissan Elgrand yang sangat mewah interiornya. Dibandingku, mobil yang dia kemudikan jauh lebih bagus.
"Mbak Vira, kamu sudah bisa menyetir juga?" kata Wulan heran
"Di Jakarta sudah umum anak seusiaku
menyetir mobil. Kamu tahu tidak anaknya Ahmad Dhani umur berapa saat dia nabrak di jalan tol?"
"Tidak....?" Wulan menjawab
"Tiga belas tahun, lah aku tahun ini sudah masuk 17. Ojo nggumun lek kowe ning Jakarta" kata Vira memberitahu
"Vira, mobilmu bagus sekali..!" kataku jujur
"Baru bulan lalu dibelikan mama, ini mobil mama untuk belanja. Mobil Papa sebuah sedan BMW kamu lihat sendiri nanti. Mobilnya jauh lebih mewah dari mobil ini"
Aku duduk di belakang sementara Wulan duduk dikursi penumpang disamping Elvira yang sedang mengemudi turun dari gedung
parkir di lingkungan bandara.
Aku tidak tertarik dengan kota Jakarta dengan gedung-gedung tingginya, aku sedang berusaha menghubungi Pak Haryadi setelah dia miscall tadi.
"Hallo Pak Haryadi, selamat siang....!" kataku menyapa
"Arjuna, kamu sudah sampai di Jakarta?" tanyanya
"Bagaimana dengan berita tentang IPO saham Facebook. Ya Pak hari ini sudah dibuka dengan kisaran $38 20 cent. Tunggu aba-aba saya ya pak. Untuk hari ini rasanya tidak memungkinkan untuk menebus saham itu."
"Iya....iya......aku menunggu komandomu, dana sudah siap tinggal eksekusi
saat ada momen tepat Kamu akan berapa lama tinggal di Jakarta?" tanya Pak Haryadi
"Paling lama seminggu Pak, saya kabari lagi kalau saya akan ekstend tinggal di Jakarta."
"Kamu tinggal dimana di Jakarta....?" tanya Pak Haryadi
"Saya tinggal di rumah Om, Pak Haryadi. Di daerah.."
"Jakarta barat...!" sahut Vira
"Didaerah Palmerah, Jakarta Barat Pak" kataku
"Oh gitu ya ....Jangan lupa kirimi terus kabar saham yang harus ditradingkan. Jangan sampai terlambat ya" kata Pak Haryadi mengingatkan.
"Baik Pak Haryadi saya akan selalu ingat tugas dan kerjaan saya"
Mobil memasuki sebuah gang pendek sekitar 30 meter. Rumah dengan ukuran yang cukup besar dibangun dibagian kanan dan kiri gang. Tepat di rumah paling ujung terdapat sebuah gerbang besi warna coklat tua bertuliskan "Rumah Kos Tiara".
"Beep...beeep...!" Elvira membunyikan klakson
mobilnya.
Seorang bapak membukakan pintu gerbang dari dalam. Wajahnya tersenyum ramah, wajah lelaki tulus khas Jawa yang sering kita temui di desa-desa.
"Itu Pak Paijo, tukang kebun dan yang membersihkan tempat kos" kata Vira memberitahu kami.
Aku membuka jendela saat mobil
melewati Pak Paijo yang dengan sabar mengumbar senyumnya, walaupun orang didalam mobil belum tentu membalas senyumnya.
"Pak Paijo.........!" kataku saat aku melewatinya.
"Iya........saya Pak Paijo!" katanya menjawab
Jendela kututup dan mobil belok kekiri masuk hingga kebelakang
di pelataran parkir mobil yang kira-kira bisa menampung 25 mobil.
"Vira rumahmu besar sekali......!" kataku
"Kan untuk rumah kos, ada 60 kamar yang disewakan disini. Wulan nanti tidur sekamar sama aku. Mas Arjuna kamu tidur di salah satu kamar kos" kata Vira memberitahu padaku
"Pak.......!" Panggil Vira dari kejauhan. "Ada kopor yang harus di keluarkan dari mobil"
"Iya Mbak Vira.........!" katanya sambil berlari kearah mobil.
"Omku ternyata adalah orang yang berhasil di Jakarta." pikirku "Bapakku pasti bangga punya adik yang berhasil seperti omku ini.
Bapak dulu yg membiayai kuliah adiknya hingga selesai. Bapakku selalu cerita bahwa omku ini orangnya ulet dan giat. Istrinya juga orang yang tidak bisa diam dirumah. Dia selalu punya ide untuk mengerjakan dan bekerja. Tidak heran mereka sekarang berhasil dan lihat rumah sebesar
ini bisa dibangun di Jakarta.
Rumah induk terpisah dari kamar kos kosan, ada sebuah dinding penyekat dimana sebuah lorong kecil yang menghubungkan kedua bangunan itu. Rumah kos berada di bagian luar sementara rumah induk berada dibelakang.
"Mas Arjuna kamu tidur disini ya....!"
katanya menunjukkan kamarku.
Pintu kamar telah terbuka, aku melongok masuk dan didalamnya terdapat sebuah tempat tidur ukuran 120x200 dengan kasur pegas bagian dinding atas tergantung sebuah AC split bagian indoornya merek daikin. Aku masuk kamar berukuran 3x4 meter cukup luas.
Aku membuka pintu disudut kanan, sebuah kamar mandi sempit ukuran 1,5 x2 meter.
"Berapa bayar uang kos untuk kamar ini sebulan?" tanyaku
"Gratis.......buat Mas Arjuna" jawab Vira diplomatis. "Ayo Wulan kita ke rumah induk dan melihat kamar kita"
"Aku bagaimana.....?" tanyaku
saat melihat mereka pergi.
"Mas ikut kesini, ada mama sedang kerja di dapur memasak...!" katanya sambil berhenti menungguku.
"Pak Paijo....kopor kecil diletakkan di kamar Tiara A1 ya?"
Pak Paijo mengangkat jempolnya sambil tersenyum dan kepala mengangguk.
"Kopor besar ditaruh
diruang tamu saja, biar nanti Mbak Mia yang mengangkatnya ke kamarku"
"Ya Mbak Vira.." kata Pak Paijo menjawab
Kami melewati lorong yang berujung pada sebuah ruangan keluarga dengan sofa & segala furniture yang terlihat mewah, walaupun tdk semewah perabotan di rumah Mbak Citra.
Perabotan dirumah Mbak Citra nampak mewah, modern dan minimalis yang memang sesuai dengan karakter & gaya hidup zaman sekarang.
Kami naik kelantai 2 dimana terdapat hanya 2 kamar namun dengan ukuran yang sangat besar. Ukuran dikamar Vira kurang lebih 5 x 6 meter dengan perabotan
lemari dan meja rias serta pernak-pernik hiasan yang sangat mewah bagi ukuran orang udik sepertiku.
Foto ulang tahun Vira dipajang diatas dinding yg terletak tepat di atas televisi. Kedua orangtuanya mengapit dgn suasana kegembiraan yang terpancar dari wajahnya. Aku membayangkan
adikku Wulan semoga juga bisa merayakan ulang tahunnya yang ke 17 nanti seperti apa yg aku lihat di perayaan Vira.
"Kamu buka kopormu dan atur baju-bajumu dilemari sini" kata Vira membuka sebuah pintu lemari dengan 3 rak yg telah dikosongkan.
"Mbak Vira...kamarmu cantik sekali"
kata Wulan, nada suaranya sangat jujur dan tulus saat mengucapkannya tanpa ada perasaan iri atau cemburu. "Mas Arjuna........buatkan aku kamar seperti ini supaya aku bisa melukis lebih nyaman" kata Wulan.
"Kamu mau?" tanyaku menggodanya
"Iya aku sangat mau........!" kata Wulan
"Iya nanti kita buat rumah yang cantik seperti punya Vira..." kataku berjanji "Mana mamamu .... kita harus ketemu untuk permisi"
"Mas Arjuna ini bicara kok seperti orang luar saja...!" katanya "Mas....aku mau digendong" lanjutnya sambil melompat ke punggungku.
"Ooucchhh.....!"
kataku kaget melihat perubahan ulahnya. Tanganku meraih kebelakang untuk mengangkat pantatnya.
Wulan sibuk membongkar kopornya dan menaruh baju-bajunya yang dia bawa kedalam lemari dan merapikannya.
"Ayo jalan keluar sana...aku mau tunjukkan kamar sebelah punya papa!" katanya.
Tubuhnya melonjak-lonjak seperti sedang naik kuda. Aku berjalan sesuai perintah joki yang menunggangiku. "Belok kanan....hap...happ....!" Aku belok kanan dan berjalan kearah pintu yang tertutup itu. "Buka pintunya...!" kata Vira memberi instruksi lagi
Kamar tidur orang tua Vira
lebih besar dari kamar tidur Vira dengan perabotan yang jauh lebih mewah dengan korden dan pernak-pernik aksesoris yang classy.
"Turunkan aku..!" katanya lirih tiba-tiba
Aku menurunkan tubuhnya dan tangannya tiba-tiba membalikkan tubuhku. Aku memutar tubuhku dan tangannya telah
meraih leherku serta membungkukkan badanku dan memberikan ciuman dibibir. Aku agak kaget tapi menikmati perlakuannya kepadaku.
"Aku kangen sekali setelah pulang dari Solo. Sekarang aku sudah punya pacar calon dokter specialis kandungan yang mas sapa saat mengantar aku dikereta.
Ingat.....?" tanyanya
"Dimana dia sekarang....?" tanyaku
"Dia sedang keluar kota selama 2 minggu karena dia sedang praktek juga. Aku akan menikah setelah lulus SMA" katanya terus terang"
"Dia tinggal dimana kalau sdg di Jakarta?" tanyaku lagi penasaran
"Dia kos disini juga tapi
dibagian laki-laki dibangunan lain sebelah sana" jarinya menunjuk dibangunan seberang. Itu juga kos-kosan papa tapi khusus laki-laki. Disana hanya 30 kamar.
Tangannya meraba batangku dari luar celana.......
"Nanti malam aku mau mampir dikamar Mas Arjuna, jangan dikunci pintunya
dari dalam" katanya. "Aku kangen sama ini.....!"
"Ayo kita turun sekarang......!" ajakku dengan sedikit was-was. Takut ada yang datang tanpa sepengetahuanku.
"Tunggu dulu.......nanti malam jangan dikunci dari dalam pintunya!" katanya lagi sambil memegang tanganku.
Aku hanya
mengangguk mengiyakan sebagai jawaban permintaannya.
Wulan telah merapikan baju-bajunya. Dia menaruh kopor besarnya diujung kamar.
"Mas Arjuna......!" kata Wulan. "Aku mau dibelikan kopor yang agak baik sebelum ke Taiwan"
"Memangnya kenapa dengan kopor mu itu?" tanyaku
"Rodanya
macet mas.......aku kesulitan mendorong kopornya kalau nanti jalan begitu jauh sepanjang lorong bandara"
"Ya sudah nanti kalau ada waktu kita pergi ke Mall" kataku
"Ayo sekarang saja selagi ada mobil" Kata Vira
"Jangan......nanti saja kalau sudah ketemu mama dan papamu" jawabku
"Ya sudah ....ayo kita turun" katanya "Mama mungkin sudah siapkan kita makanan"
Kami mengikuti Vira turun kelantai bawah dan menuju pintu penghubung ke ruang makan. "Hallo tante..............!" Aku dan Wulan menyapa bersamaan.
"Eeeehhh.....kamu sudah besar Arjuna, Kamu Wulan ya?
Tangan tante kotor, sudah kalian duduk sini tante sudah siapkan makanan buat kamu. Vira bilang kalau kamu suka makan Salmon Mantae ala Jepang itu ya?"
"Vira, siapkan piring, mama mau ikut makan sama kalian sebelum katering diedarkan" katanya dengan sikap riang. Wulan, kamu hebat
ya. Tante dengar kamu mau ke Taiwan ya?"
"Mah ...Mas Arjuna memakai jam rolex" kata Vira tiba-tiba "Papa kalah ..ngga berani beli" sambungnya.
"Hush....Papa memikirkan biaya studimu yg akan mahal kalau jadi kuliah" kata tante
"Aku tidak mau kuliah...aku mau langsung nikah saja.
Enak jadi istri dokter!" katanya dengan senyum
"Kapan Mbak Wulan akan menikah.......?" tanya Wulan menyahut
"Bulan depan......!"
"Bulan depan bapak sama ibu tidak bisa hadir, mereka akan ibadah haji" kata Wulan
"Maksudku tahun depan, dik" kata Vira mengoreksi
"Oh.....bapak sama
ibu mau pergi Ibadah Haji..?" kata tante tiba-tiba. Ada perubahan wajah yang sangat kentara. Suaranya juga agak bagaimana saat mengatakan Ibadah Haji"

"Iya Tante....kebetulan ada teman Mas Arjuna yang menguruskan Ibadah Haji-Plus"
"Wuaaah Haji-Plus bukan harga yang murah loh..?"
imbuhnya lagi dengan wajah tidak senang
"Berapa lama antrinya...Om dan Tante sudah antri Ibadah haji regular sejak 5 tahun lalu kok juga blm dapat jatah"
"Bapak dan ibu naik pesawat di kursi first class tante. Tiketnya utk pesawat saja sangat mahal. Terus hotel tempat tinggalnya
tidak terlalu jauh dari tempat ibadahnya."
"Uhuk...uhuk...uhuk........" Tante terbatuk-batuk mendengar penjelasan Wulan. Aku hanya bisa melihat perubahan mimik wajahnya saat Wulan bercerita tentang hal itu. Sementara Wulan tidak menunjukkan rasa iri atau cemburu. Vira memiliki
sifat spt bapaknya adik bapak.
"Mah minum..." kata Vira mengambilkan gelas dan air untuk mamanya.
Sambil makan kami merasakan kecanggungan ....khususnya dari pihak tante. "Sudah punya rumah besar dan begini bagus kok masih juga cemburu dan iri mendengar keberhasilan orang lain"
pikirku dalam hati. "Pantas ibu tidak pernah saling telepon dengan wanita ini"
Salmon mantai yang dihidangkan memang sangat enak. "Enak sekali makanannya tante, aku suka" kata Wulan polos.
Terdengar langkah kaki bersepatu mendekat kearah kami. Papa Vira telah pulang dari Sholat
Jum'at. Wulan dan aku berdiri memberi salam kepada beliau. "Hallo om..maaf saya tak mengabari bahwa saya ikut ke Jakarta sama Wulan"
"Kamu sudah besar Arjuna...gagah dan ganteng!" katanya "Jadi kamu sudah selesai Ujian Nasional, rencanamu apa setelah lulus?"
"Saya mau kuliah di
RMIT Om?" kataku pelan
"RMIT dimana itu? Surabaya....? Kenapa tidak kuliah di Jakarta saja?" tanyanya nerocos
"RMIT kampus pusatnya di Melbourne Om, tapi saya mau kuliah yang di Singapore saja" kataku
"Singapore........?" katanya dengan nada agak kaget. "Mahal biaya kuliahnya
itu, biaya hidupnya saja pastinya mahal itu"
"Saya tidak ikut membayar, saya tidak tahu berapa biayanya" kataku
"Oh.......? Terus siapa yang membayar dan membiayaimu?" desaknya ingin tahu
"Saya dapat beasiswa om........."
"Vira...lihat masmu Arjuna, dia mau kuliah di Singapore."
katanya sambil memandang kearah Vira. "Kalau tidak salah syaratnya harus punya nilai toefl ya?" katanya menoleh kepadaku lagi.
"Tidak Om, sekarang mereka punya standard sendiri namanya IELTS."
"Oh..bukan toefl lagi ya? Apa tadi katamu?"
"IELTS, International English Language Test
System"
"Hebat bener kamu ........!"
"Pah lihat jamnya dong.......!" kata Vira
"Memangnya jam apa....?"
"Rolex pa......!"
"Berapa dulu waktu beli jammu itu? 5 juta....?" tanya tante dengan nada agak sinis.
"Saya tidak beli tante, ada kenalan saya yang membelikannya saat dia
jalan-jalan ke Eropa"
"Coba kamu lepas, Om mau lihat" kata adik bapakku dengan rasa penasaran.
Aku melepaskannya dan mengulurkannya ke arahnya, tangan kanannya mengambil jam tangan yang aku ulurkan kepadanya.
"Loh ini produk asli loh.....bukan palsu mah." Kata omku dengan tenang
matanya memandang ke arah tante lalu kearah jam rolex yang ada ditangannya. "Bagus ya.......! Om juga pingin punya jam seperti ini"
"Mas dan Mbak juga akan berangkat naik haji bulan depan, Kita kalah duluan pah" kata tante menyindir, suaranya sungguh tak enak didengar.
Wajah
ceria saat pertama kali menyambut kami hanya sebuah kepura-puraan karena merasa telah berhasil dan bisa pamer pencapaian suami dan dirinya. Aku merasa tidak nyaman tinggal disitu lagi. Aku sungguh merasa lebih nyaman tidak ketemu baik tante maupun omku.
"Sudah...kita belanja
sekarang yuk?" kata Vira
"Belanja.......?" sahut tante "Belanja apa, baru datang kok sudah mau belanja" tanya nya dengan nada sedikit tinggi.
"Ma...kenapa suara mama seperti itu?" kata Vira dengan nada jengkel.
"Mama kan hanya mau tanya Vira...... kan kalian baru saja datang.
Mosok langsung mau belanja-belanja" katanya defensive
"Mereka baru pertama kali disini Mah...aku mau ajak mereka ke tempat 2x yang tidak ada di Solo, bolehkan pah?" tanya Vira
"Apa mereka tidak capek, baru datang sudah kamu ajak keluar. Memang kamu mau ajak kemana?" tanya papanya
"Ke MOI karena Wulan perlu beli Koper......!" katanya Vira
"Ya sudah sana, kalau beli kopor sekalian yang bagus supaya tidak beli-beli lagi" kata tante menyarankan, sekali lagi suara dan pilihan katanya sangat menusuk dan penuh sarcasme.
"Om, tante kami keluar dulu ya?" kataku
"Wulan juga berpamitan dengan sopan. Kami bertiga keluar dari ruang makan.
"Kamu ini kenapa sih Mah.......kenapa kata-katamu tidak enak sekali kepada mereka. Kamu tidak tahu apa, berulang-ulang kali aku menceritakan bahwa aku bisa kuliah dan lulus karena kebaikan bapaknya. Bila
bapaknya tidak membiayai aku kuliah, aku ini akan jadi apa. Masku sendiri rela dan tulus membiayaiku sementara dia menerima hanya jadi peloper koran."
"Pyaarrrr......" suara piring pecah terdengar. Dan makian keras dari mulut om terdengar sangat pedas. Kata-kata omku terdengar
ketelinga kami saat memarahi istrinya. Perasaanku tidak enak, rasanya aku ingin mencari hotel atau tempat penginapan supaya tidak membebani keluarga omku. "Tante kok nampaknya kurang suka dengan kehadiran kita ya.....?" kata Wulan didalam mobil.
"Mama biasanya tidak seperti itu
dik Wulan, entah kenapa hari ini kok seperti kehilangan kontrol"
"Mas Arjuna, bagaimana kalau kita tinggal di Hotel atau penginapan supaya kita tidak membebani tante dan om serta mbak Vira" kata Wulan dengan nada takut. "Terus terang bapak dan ibu tidak pernah marah sampai
bersuara seperti itu. Aku tidak merasa nyaman kalau suasana seperti ini"
"Huuush jangan....!!!, Tidak boleh begitu. Muka papa tidak ada harganya dimata Pakdhe. Maafkan mama..... Wulan, mungkin mama sedang capek" Vira berkata tenang. Dia tetap mengemudikan mobilnya dengan kalem
Mungkin pekerjaan terlalu banyak sedangkan Vira tak membantu" kataku menyela.
"Ini hari Jum'at, memang aku tidak membantu setiap hari Jum'at, sabtu dan minggu" balasnya
"Kamu pernah ke Singapore Vira....?" tanyaku, aku ingin mengubah arah pembicaraan. Jangan sampai Wulan stress
gara-gara ulah dan kata-kata tante.
"Belum pernah....... Aku dari dulu ingin bisa kesana. Teman-temanku sering kesana tapi Papa tak pernah mengijinkan aku. Apalagi mama, hanya kerja...kerja....dan kerjaaaa terus. Tidak bisa menikmati hidup!"
"Nanti kalau kamu sedang liburan
sekolah kamu perge ke Singapore saja. Kamu bisa tinggal di apartemen sama aku. Tinggal beli ticket sama biaya makan" kataku memberi saran
"Iyaaaaaaa..benaaar.....!" katanya sambil teriak. "Ide cemerlang Mas......" kata Vira semangat
"Aku ikut ya Mbak.....?" Wulan terdengar melas
merasa tertinggal oleh wacana berlibur.
"Iya boleh....Bulan Desember ya kita kesana....... dik!"
"Iya mbak....aku nabung dulu supaya bisa berangkat bersama"
"Tapi lihat situasi dulu ya........ aku belum tahu apartemen dimana aku akan tinggal jadi aku tidak bisa memberi harapan-
harapan terlalu muluk" kataku
By the way, kita tidak jadi ke MOI ya, kita langsung ke Grand Indonesia saja. Mall terbesar di Indonesia dengan jumlah pengunjung terbanyak setiap tahunnya.
"Mbak, kenapa tidak jadi ke MOI?" tanya Wulan
"Terlalu jauh, takutnya macet" kata Vira
memberi alasan.
"Tapi Grand Indonesia bagus ya?"
"Ya......jauh lebih bagus daripada MOI, ini terbagus se Indonesia" jawabnya "Setelah lelah putar-putar di Grand Indonesia kita bisa jalan ke Plaza Indonesia.
Perjalanan ke Grand Indonesia tidak terlalu macet, sekitar 20 menit
mobil telah masuk kedalam area mall dan kami turun setelah mendapatkan tempat parkir. Kami masuk kedalam area mall di lantai 1 dan mataku melihat gedung mall yang begitu megah. Lantai mall sangat indah, dengan lapisan entah batu marmer atau batu granit yang memiliki corak dan
motive garis yang sungguh bagus dan terlihat sangat mewah. Jajaran toko-toko dengan barang-barang branded yang tak pernah kulihat di Solo sebelumnya.
Aku berjalan dibelakang Vira dan Wulan yang sedang berceloteh dan berbincang-bincang entah tentang apa yang mereka sedang
bicarakan. Mataku memandang keindahan mall dan toko-toko yang menjual berbagai jenis pakaian. Kami melewati outlet "HUGO BOSS" dimana aku memiliki 2 t-shirt dengan warna merah dan 1 buah polo shirt warna biru muda pemberian Mbak Citra.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with With Much Love

With Much Love Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @Lovewhisperer4

Mar 21, 2022
Cerita Pendek kedua adalah tentang aku, ya aku yg dinamakan bapakku Sarah. Aku tdk suka menceritakan kesedihan wanita, aku adalah bagian dari mereka yg beruntung dan berhasil. Baik dalam hal percintaan maupun dalam hal keuangan.
Baca tentang aku, hidupku & semua keberuntunganku. Image
SARAH ABDULLAH

Usia wanita bagi beberapa orang sangatlah pendek, usia berharga mereka dikitaran 20 tahunan. Tidaklah mengherankan bila wanita seringkali merasa was-was bila di usia itu tidak memiliki pacar yang serius atau yang membimbing mereka kepada status perkawinan.
Aku tidak mengalami masa-masa seperti ini. Walaupun secara finansial aku dari keluarga yang tidak kaya, namun hidupku selalu beruntung. Kisah hidupku layak dijadikan sebuah cerita bahkan film pendek yang mungkin layak dikonsumsi oleh para pembaca dewasa.
Read 37 tweets
Feb 3, 2021
Dia menggunakan mesin perambah lain. Dia buka browser microsoft bing, dan menuliskan kata kunci "Nonton deflower" Ternyata browser ini lebih manjur. Banyak sekali tersedia film pemecah keperawanan dengan actor yang sangat terkenal dan ratusan gadis yang perawannya dia pecahkan.
salah satunya adalah http://164.68.111.161/watch/17107943.html
ada puluhan film berdurasi pendek yang tersedia.
Kami segera memilih salah satu film dan melihat bagaimana aktor rusia itu dgn terampil dan tenang menusukkan belalainya kedalam vagina perawan.
Vira dan aku tercekat
dan terpaku dengan setiap detik film itu. Tangan Vira mencari tanganku dan melingkarkannya ketubuhnya.
"Periksa dulu ...pintu sudah dikunci apa belum?" katanya
Aku berdiri dengan cekatan mmeriksa selot kunci pintu ternyata belum diselot. Aku menyelot perlahan supaya tidak berisik
Read 617 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(