Teguh Faluvie Profile picture
May 15, 2022 277 tweets >60 min read Read on X
LEWEUNG SASAR

Part 1 - Juru Kunci (kampung wetan tilas jajah)

...Kala matahari terbenam, mereka mulai masuk
mencari kemudahan, nyatanya akan pulang dengan kesengsaraan. Maka, tersesatlah sampai mereka mati, arwahnya gentayangan di leweung sasar...

@bacahorror @IDN_Horor
@bacahorror @IDN_Horor Matahari sore baru saja aku lihat perlahan turun, menyinari dedaunan hijau di ujung kampung, cahaya kuningnya benar-benar sangat indah dari bagaimana cara pencipta bekerja, bersamaan dengan itu, air kelapa muda yang baru saja melewati tenggorokan terasa begitu segar,
@bacahorror @IDN_Horor carangka (wadah besar terbuat dari rotan) sudah terisi rumput untuk makan domba-domba yang saat ini sedang aku angon di ujung kampung wetan tilasjajah, terdapat sebuah ladang rumput, namun sampai saat ini, aku belum terlalu paham kenapa warga
@bacahorror @IDN_Horor kampung tidak ada yang mau menginjak perbatasan ujung kampung, karena alasan yang menurutku aneh, walaupun benar adanya, ujung kampung ini satu-satunya jalan menuju leuweung sasar, yang berada di sebelah kulon (barat).
@bacahorror @IDN_Horor “Hanya Bah Mar saja kuncen leuweung sasar atau Si Jalu anak satu-satunya itu, yang berani ke ujung kampung” aku sering sekali mendengar ucapan itu dari warga kampung, walaupun rumah Abah Amar Bapakku, memang berada paling ujung, sedikit menanjak lokasinya,
@bacahorror @IDN_Horor itu juga peninggalan dari Kakek dan Nenek.
Setelah aku kumpulkan dua cangkang kelapa muda, yang baru selesai aku minum, perlahan aku berdiri, sambil memasukan golok pada serangka, pandanganku lurus pada domba-domba yang masih asiknya memakan rumput,
@bacahorror @IDN_Horor tidak biasanya sore ini aku sedikit meratapi hidup, apalagi usiaku sudah menginjak kepala dua, lebih empat tahun, hanya aku satu-satunya lelaki di kampung ini yang tidak memiliki teman sama sekali, hanya Ni Warsih saja Ibuku, teman ngobrol setiap hari dan Abah Amar Bapaku.
@bacahorror @IDN_Horor Alasan yang masuk akal, karena aku tidak sekolah, hanya tamat sekolah dasar, padahal itu hal yang wajar, karena banyak juga yang satu nasib denganku. Tapi, alasan yang tidak masuk akalnya, karena Abah Amar Bapaku adalah seorang “Dukun”,
@bacahorror @IDN_Horor anak muda seusia ku menyebutnya seperti itu, padahal semua urusan yang berkaitan dengan keamanan kampung ini selalu Abah yang berhasil mengatasinya, berbeda jauh dengan tamu- tamu yang sering datang ke rumah, Abah selalu menyebutnya saudara, sementara tamu itu memanggil Abah
@bacahorror @IDN_Horor dengan sebutan “Bah Kuncen”.
Jalu Kertarajasa, itu adalah namaku, sebuah nama yang pernah Ibuku ceritakan, dulu Ki Diman kakek lah yang bersikeras memberikan nama itu, walaupun tidak sesuai dengan hidup yang selama ini aku jalani, nama yang harusnya untuk orang paling berada,
@bacahorror @IDN_Horor malah diberikan kepada orang sepertiku.
“Doa itu bisa berupa nama…” hal terakhir yang Ibu katakan, ketika itu membahas tentang namaku.
“Ah sudahlah, memang sudah nasib, lagian Abah dan Ibu rajin ibadahnya juga, kenapa aku harus memikirkan soal nama Dukun itu…”
@bacahorror @IDN_Horor sambil berjalan dengan cepat, setelah carangka aku gendong berisikan rumput, kemudian mengiring domba- domba agar keluar dari ladang rumput ujung kampung ini, karena sore sudah semakin turun dengan cahaya awannya.
@bacahorror @IDN_Horor Berada di paling ujung kampung, sepulang mengangon domba-domba tentunya tidak ada lagi rumah-rumah warga yang aku lalui, hanya kebun-kebun saja yang sampai saat ini tidak pernah diurus, paling jika Ibu menyuruhku untuk belanja ke warung,
@bacahorror @IDN_Horor barulah aku turun dari ujung kampung wetan tilas jajah ini.
Tidak berselang lama, karena memang bisa di katakan aku ahli mengangon domba, enam domba sudah sudah aku masukan ke dalam kandang yang berada tepat di belakang rumah, terlihat cahaya satu-satunya di dalam rumah panggung
@bacahorror @IDN_Horor lampunya baru menyala, karena memang keterbatasan jarak membuat kampung ini pembagian listrik benar-benar dibagi rata, jika malah hari pasti akan dimatikan.
“Jalu… Abah itu nunggu di depan, tumben lagian sore sekali pulangnya…” ucap Ibu sambil membuka pintu dapur,
@bacahorror @IDN_Horor memberikan piring berisikan ubi rebus.
“Emang Abah tidak bepergian Bu?” tanyaku, sambil mengelap keringat.
“Tadi sore ada Pak Lurah kesini, anak bungsunya baru pulang main dari sungai asar tadi, tiba-tiba sakit… makanya itu Abah nunggu kamu, besok palingan -
@bacahorror @IDN_Horor - nganterin anyaman carangka, soalnya sudah banyak” ucap Ibu, yang usianya hampir sama dengan Abah.
“Lah kan Jalu juga ashar tadi Bu berangkatnya…” jawabku, sambil memakan satu persatu ubi rebus.
“Iyah Pas kamu pergi, Pak Lurah datang, maklum sudah tua usianya, -
@bacahorror @IDN_Horor - pas nanjak kesini jadi lama…” jawab Ibu.
Segera aku ke depan rumah, melalui samping, terlihat Abah sudah mengenakan sarung, sambil membereskan hasil anyaman carangka.
“Cepet mandi, ikut sama Abah, abis magrib ke rumah Pak Lurah, kasihan…” ucap Abah.
@bacahorror @IDN_Horor “Jurig Cai bah (setan air)?” tanyaku tiba-tiba.
Abah hanya mengangguk saja, sambil menepuk-nepuk sarungnya, terkena bekas kotoran bambu rotan.
“Teman-temanya main kelewatan batas di sungai, sampai perbatasan lewung sasar, jurig cai (setan air) ada yang ke usik…” ucap Abah.
@bacahorror @IDN_Horor Tidak lama adzan magrib berkumandang, Abah langsung berjalan ke saung samping rumah, memang terdapat bale yang cukup luas, biasa Abah gunakan untuk menerima tamu-tamu jauh, yang sampai saat ini aku tidak mengerti selalu datang ke rumah,
@bacahorror @IDN_Horor kemudian Abah mengantarnya sampai ujung kampung saja.


Di perjalanan menuju rumah Pak Lurah, memang cukup jauh apalagi rumah-rumah warga kampung ini belum berdekatan antara satu rumah dengan rumah lain, dipisahkan oleh kebun, beberapa kali warga yang melihatku sedang berjalan
@bacahorror @IDN_Horor di samping Abah, menatap heran dan aku pasti tahu apa yang dipikirkan mereka.
“Tumben turun, pasti ada yang kerasukan”
Namun beruntungnya di usiaku sekarang, Abah dan Ibu sudah banyak menjelaskan kenapa hal itu kerap warga kampung ini lakukan, jadi tidak membuatku terlalu heran.
@bacahorror @IDN_Horor “Jangan aneh-aneh, pokoknya yang Abah perintahkan, lakukan” ucap Abah, ketika sudah menginjak sebuah halaman rumah yang sangat luas, apalagi tidak terasa sampai adzan isya berkumandang, barulah aku dan Abah sampai.
Setelah beberapa kali ucapan salam abah katakan,
@bacahorror @IDN_Horor barulah pintu mewah perlahan terbuka, keluarlah Pak Lurah dengan wajah cemasnya.
“Hatur nuhun Bah Mar sudah bersedia datang…” ucap Pak Lurah, mempersilahkan masuk.
“Astagfirullah!” ucap Abah dengan sangat kagetnya.
Sementara aku hanya diam saja,
@bacahorror @IDN_Horor apalagi barusan Abah sudah mewanti-wanti kepadaku.
“Begitulah Bah Mar kondisinya, aneh untuk pindah dari kursi itu saja, istri saya sampai saudaranya tidak bisa memindahkannya…” ucap Pak Lurah.
Seorang anak kecil sedang duduk di kursi mewah, menggaruk-garuk kepalanya,
@bacahorror @IDN_Horor tingkahnya sama seperti kera, beberapa saat aku tatap, malah mencakar-cakar wajahnya sendiri, sambil matanya terus melotot sekuat tenaga.
“Bah tepuk Jalu sekarang kasihan…” ucapku. Pak Lurah langsung kaget mendengar ucapanku.
“Pak! Maaf ambilkan air saja satu wadah besar, -
@bacahorror @IDN_Horor - sama handuknya juga” ucap Abah cukup keras.
“Baik Bah Mar…” jawab Pak Lurah, sambil memanggil nama istrinya.
“Padahal barusan Abah bilang apa Jalu… apa kamu mau nantinya di cap seperti Abah di kampung ini” ucap Abah, berbisik di telingaku,
@bacahorror @IDN_Horor karena badanku hampir sama tingginya dengan Abah.
“Bah kasian maksudnya…” jawabku, sambil mengangguk. “Pelan-pelan…” ucap Abah.
“Bah Amar ini… barusan habis isyaan dulu, kenapa yah Bah saya anak saya ini? Saya kira bohong habis main dari ujung sungai kampung ini, -
@bacahorror @IDN_Horor - tau-tau begini, saya jadi percaya ujung kampung ini sebegitu bahayanya” ucap Bu Lurah.
“Terakhir liat apa emangnya Bu, anaknya bilang apa?” jawab Abah, sambil perlahan mendekat.
“Liat samak ngegulung, katanya Bah” sahut Pak Lurah.
“Pantesan tatapanya begitu, -
@bacahorror @IDN_Horor - wujudnya jurig samak, padahal siluman leweung (hutan)” ucapku dalam hati, sangat kasihan melihat anak kecil itu.
Aku mengikuti langkah Abah, mendekati anak laki-laki kecil yang langsung berjongkok seperti kera, ketika Abah dan aku semakin mendekat.
“Ki Langsamana, bantu Ki…”
@bacahorror @IDN_Horor Bisik Abah terus mendekat. Lagi-lagi nama itu aku dengar, membuatku semakin penasaran, apalagi Abah tidak pernah menjelaskan siapa nama
orang itu.
“Bismillah” dengan cepat terlihat Abah sangat fokus menatap mata anak kecil itu, handuk yang sudah di masukan ke dalam wadah
@bacahorror @IDN_Horor berisikan air, di basuhkan cukup kencang oleh Abah.
“Pelan-pelan Bah Mar, kasihan” ucap Bu Lurah.
“Jalu!” ucap Abah, tidak merespon apa yang dikatakan Bu Lurah.
“Lagi-lagi kamu! Bajigan! Kakek-kakek sialan!”
“Lawan saja!” Bisik Abah di telingaku.
@bacahorror @IDN_Horor Mataku sudah terpejam secara perlahan, Yang aku rasakan cipratan air dengan bau yang aneh aku cium dan mendarat di wajahku.
“Amar Adiwira, saya suka dengan anak ini, bolehkan saya bawa”
Perwujudan wanita dengan lidah yang sangat panjang sedang menjilati leher anak kecil itu,
@bacahorror @IDN_Horor sekelilingnya dedemit dari sungai itu sudah berkumpul cukup ramai sekali.
“Jalu, sekarang jangan terlalu lama” bisik suara Abah aku dengan dengan jelas sekali.
Tanganku sudah bergerak untuk memegang wajah anak kecil, yang sudah penuh dengan air, terasa sangat basah,
@bacahorror @IDN_Horor aku terus membacakan apa yang sudah Abah berikan.
“Baik saya pergi, jangan ganggu tempat saya, apalagi kamu hancurkan! Ampun”
“Sekarang!” ucapku pelan, sambil membuka mata, langsung mengelus dada anak kecil dengan perlahan.
“Mamah!!!!” teriak anak kecil sangat keras,
@bacahorror @IDN_Horor namun langsung Abah pijit beberapa bagian kakinya.
“Bah!” ucap Pak lurah dengan panik.
Langsung aku berjalan cepat keluar, mengikuti bau yang barusan aku cium, membuat beberapa orang yang ada di ruangan tengah rumah Pak Lurah melihat ke arahku dengan aneh.
@bacahorror @IDN_Horor Terlihat bayangan sosok mahluk dari sungai yang barusan merasuki anak Pak Lurah, sedang berdiri melihat ke arahku, namun setelah melihatku, perlahan membalikan badan, apalagi mengeluarkan bau yang membuatku cukup mual.


“Sudah?” tanya Abah.
Aku hanya menganggukan kepala saja,
@bacahorror @IDN_Horor sambil menunjuk arah sungai dengan gerakan kepalaku.
Beberapa orang yang melihatku kembali terheran-heran, tidak memahami apa yang dimaksud Abah barusan.
“Mandikan saja air ini, kalau bisa buang saja baju yang dikenakannya sekarang, saya tidak bisa lama, -
@bacahorror @IDN_Horor - lain kali jangan pernah lagi anak ini ke sungai sana yah…” ucap Abah.
“Bah Amar, berarti selama ini benar adanya?” tanya Pak lurah.
“Titipan saja, saya hanya menjaga agar tidak semakin banyak orang datang ke leweung sasar, warga sini bukannya sudah tidak aneh Pak” jawab Abah.
@bacahorror @IDN_Horor “Ini Bah, buat Ni Warsih di rumah” ucap Ibu Lurah, sambil mengeluarkan amplop.
“Jalu! Ambil” ucap Abah.
“Makasih Bu” ucapku.
Bu lurah dan Pak Lurah begitu sangat terkejut dengan tingkahku, yang langsung mengambil amplop, walaupun seperti biasanya,
@bacahorror @IDN_Horor aku sudah tahu amplop selanjutnya di tanganku akan seperti apa, apalagi besok Mang Karni akan mengambil cerangka Abah, untuk di bawa dan di jual ke pasar. Setelah pamit, aku sudah berjalan kembali dengan Abah menuju rumah, bedanya badanku penuh dengan keringat,
@bacahorror @IDN_Horor sementara Abah hanya tersenyum-senyum sedari tadi.
“Benar, kebaikan akan mengalahkan apapun walaupun waktunya cukup lama” ucap Abah.
“Maksudnya Bah?” tanyaku.
“Sudah tidak terlalu penting Jalu” jawab Abah. “Bah Ki Langsamana itu siapa?” tanyaku perlahan.
@bacahorror @IDN_Horor Abah langsung menatap ke arahku dengan kagetnya, padahal sudah bukan yang pertama kali, aku bertanya nama itu.
“Sudahlah Jalu, belum saatnya nanti pelan-pelan, semua juga akan Abah kasih tahu kepadamu, uang itu berikan besok ke Mang Karni, agar disedekahkan pada yang butuh”
@bacahorror @IDN_Horor ucap Abah, karena Mang Karni salah satu orang kepercayaan Abah, berkaitan dengan usaha Abah sebagai pengrajin rotan.
Abah selalu menjawab sama setiap aku menanyakan nama barusan, anehnya aku juga tidak pernah bosan dengan rasa penasaran yang aku miliki,
@bacahorror @IDN_Horor terutama nama Ki Langsamana.
“Suatu hari Jalu, kamu jangan seperti Abah, hiduplah tenang… jangan berurusan dengan mereka, resikonya nama baik kamu, hidup kamu dan tahu apa yang paling bahaya?” ucap Abah sambil menepuk pundaku, seperti kebiasaannya.
“Nyawa! Jalu paham Bah…”
@bacahorror @IDN_Horor ucapku, yang sebenarnya selalu dilema, ketika Abah sudah mengatakan hal ini, apalagi menolong sesama manusia dengan sisi lain, membuatku merasakan ketenangan, sebanding juga dengan orang-orang yang malah berpandangan sebaliknya. Namun, memang di kehidupan ku sampai titik ini,
@bacahorror @IDN_Horor sudah banyak yang aku korbankan sebagai manusia yang seharusnya sama mempunyai kehidupan yang normal.

***

Sudah hampir satu minggu berlalu setelah kejadian malam itu, keadaan kampung benar-benar aman dari hal-hal yang perlu Abah selesaikan, artinya,
@bacahorror @IDN_Horor aku hanya begelut dengan aktivitasku, menembang bambu pagi hariya ketika Abah memberikan perintah dan mengangon domba ketika sore, ke ujung kampung wetan tilas jajah.
“Jangan terlalu sore kata Abah pulang dari ngangon Jalu…” ucap Ibu.
“Iyah Bu ini juga baru keluar domba nya”
@bacahorror @IDN_Horor jawabku, sambil mengikat dua tali carangka ke pundakku.
“Jalu!” teriak Abah dari depan.
Membuatku cukup kaget, apalagi ini pertama kali Abah berteriak sekencang barusan.
“Bah” ucapku.
“Memang sudah tidak lagi rumput di kandang?” tanya Abah, matanya merah sekali,
@bacahorror @IDN_Horor bahkan aku pertama kali melihat Abah seperti ini.
“Kosong Bah” jawabku, gemetar.
“Yasudah, dengarkan Ibu kamu bicara, jangan terlalu sore pulang, apalagi ini hari kamis” ucap Abah, sedikit menurun nada bicaranya.
Aku hanya menganggukan kepala saja,
@bacahorror @IDN_Horor apalagi ucapan terakhir Abah tidak benar-benar aku pahami.
“Sudah jangan diambil hati, itu cemas saja Abah…” ucap Ibu, sambil memasukan air minum dan arit yang hampir lupa aku bawa, ke dalam carangka yang sudah aku gendong.
@bacahorror @IDN_Horor Sepanjang jalan mengangon domba, agar berjalan seperti biasanya ke arah ujung kampung ini, membuat perasaanku tidak seperti biasanya, walaupun aku tidak mengerti kenapa rasa ini begitu saja hadir.
Enam domba, biasanya mudah sekali aku atur,
@bacahorror @IDN_Horor sore ini benar-benar sulit aku kendalikan, apalagi ini bukan domba Abah, melainkan domba Bapaknya Mang Karni, di titipkan kepadaku, nantinya ketika terjual atau melahirkan di bagi dua, bisa membuat tabunganku sedikit demi sedikit bertambah.
“Eh, Eh kok kesana be!” ucapku,
@bacahorror @IDN_Horor sambil mengarahkan pecut dari rotan, dulu Abah sengaja buatkan.
Bahkan aku sambil melepaskan tali cerangka dari gendonganku, untuk mengejar satu domba yang malah hampir lari masuk ke dalam jurang, untungnya keburu aku pegang, sambil melompat sekuat tenaga.
@bacahorror @IDN_Horor “Aneh” domba-domba yang biasanya sangat senang ketika akan menuju padang rumput ujung kampung ini, sekarang, semuanya malah berbalik ke arah rumah.
Setelah satu domba bergabung, aku memaksa domba agar tetap berjalan ke arah ladang rumput, walaupun aku perhatikan,
@bacahorror @IDN_Horor domba-domba itu sangat sulit sekali berjalan.


“Yasudah disini kalian makan yah” sambil melepaskan cerangka, mengeluarkan botol minum yang ibu bawa.
Biasanya tidak pernah domba-domba ini memakan di ujung ladang rumput, namun, kali ini sudah tidak bisa aku paksakan,
@bacahorror @IDN_Horor membiarkannya berada di awal padang rumput, walaupun terlihat sangat tidak nyaman, dari cara makannya domba-domba itu.
Segera aku berjalan ke bagian rumput yang akan aku arit, di bagian tengah, cukup jauh aku meninggalkan domba-domba,
@bacahorror @IDN_Horor beberapa kali aku ayunkan tangan yang sudah memegang arit, beberapa rumput terus aku masukan ke dalam cerangka, anehnya, ujung kampung yang dipisahkan dengan hutan bambu dan segala jenis tumbuhan yang berdiri tinggi itu selalu menarik perhatianku, “Tumben ada apa”
@bacahorror @IDN_Horor Sampai keringatku membasahi bagian punggung dan wajahku, carangka rotan sudah hampir penuh, bahkan rasa haus di tenggorokanku kini mulai terasa.
“Tidak bergerak dari tadi, di sana terus” sambil berjalan ke arah domba-domba, sementara keranjang yang tinggal sedikit lagi penuh
@bacahorror @IDN_Horor aku tinggalkan begitu saja, dengan arit yang aku simpan di atasnya.
Aku minum cukup banyak, bahkan tidak biasanya seperti ini, apalagi angin-angin menuju sore cukup membuatku nyaman beristirahat, sambil duduk aku melihat lurus ke perbatas kampung ini. Sambil kembali mengingat,
@bacahorror @IDN_Horor sore itu sebelum matahari tenggelam, beberapa bulan ke belakang Abah sudah mengantarkan orang lagi, tapi tidak tahu tujuannya kemana, tiap orang yang di antarkannya kesini, tidak pernah pulang jalan kampung ini lagi, terutama lewat ladang rumput, yang sekarang aku sedang duduk.
@bacahorror @IDN_Horor “Heh!”
Ketika aku melihat ke arah carangka berisikan rumput, tiba-tiba cerangka yang berdiri karena isi didalamnya hampir penuh, terjatuh begitu saja, padahal harus butuh angin yang kencang, untuk membuat cerangka itu terjatuh.
@bacahorror @IDN_Horor Bersamaan dengan itu, cahaya kuning sudah mulai muncul, namun baru pertama kali aku merasakan ketakutan sore ini ladang rumput, bulu pundakku berdiri begitu saja, angin seolah berhembus keluar dari perbatasan kampung ini, aku melihat dengan sadar,
@bacahorror @IDN_Horor cahaya itu anehnya tidak masuk ke dalam leuweung.
Hitungan detik, domba-domba berlarian ke arah rumah, aku langsung berdiri untuk mengambil carangka yang sudah berisikan rumput, tiba-tiba terdengar seperti suara raungan hewan buas yang sangat keras aku dengar,
@bacahorror @IDN_Horor pertama kalinya membuatku langsung terdiam, kemudian keluarlah dari dalam leuweung itu seorang manusia dengan wajah pucat.
“Hah! Siapa!” sambil terus berjalan ke arah carangka.
Manusia dengan jalan semakin perlahan, melihat ke arahku, wajahnya terlihat pucat sekali,
@bacahorror @IDN_Horor sementara angin semakin kencang berhembus, bulu pundakku terus berdiri.
“Jalu! Benhenti!!!”
Aku berbalik badan, sudah terlihat Kang Idim berdiri di ujung ladang bersebelahan dengan Abah, beberapa kali berteriak ke arahku.
“Berhenti Jalu, mudur!!!” teriak Kang Idim, sangat keras.
@bacahorror @IDN_Horor Badanku terasa lemas, penglihatanku menjadi samar- samar buram, nafasku seketika menjadi sesak sekali.
Terlihat Abah dan Kang Idim berlari menuju ke arahku, sementara manusia, dengan perawakan laki-laki tua dengan wajah pucat, semakin mendekat ke arahku.
@bacahorror @IDN_Horor “Sepertinya aku pernah melihat orang ini”

***

“Jangan dulu dipaksakan untuk bangun… minum saja ini"
“Abah seberani itu melepas Jalu… untung masih keburu”
“Kesalahan saya Kang, padahal saya sudah larang agar jika sore tiba, Jalu harus pulang, -
@bacahorror @IDN_Horor - saya juga tidak mengerti kenapa Akang tiba-tiba datang ke kampung ini”
“Ki Duduy yang menyuruh saya, anak laki-laki ki Langsanama, masih ingat Abah?”
Terdengar olehku suara Abah dan Kang Idim sedang berbicara, sementara badanku sangat lemas sekali, lagi-lagi nama itu
@bacahorror @IDN_Horor kembali aku dengar jelas.
“Bu, Ibu…” ucapku perlahan.
“Tidak apa-apa Ni biar saja yang kasih minum” sahut Kang Idim.
“Ini Ibu di sebelah Jalu, tahan yah” ucap Ibu perlahan.
Tiba-tiba Kang Idim membisikan sesuatu kepada telingaku, menyuruhku untuk mengikuti ucapannya,
@bacahorror @IDN_Horor setiap kata aku ikuti, sampai beberapa kali balikan di ulang terus menerus.
“Bismillah, hembuskan Jalu, sekarang!” ucap Kang Idim.
Setelah tarikan nafas yang dalam aku keluarkan secara perlahan, mataku langsung terbuka begitu saja.
“Sudah Bah jangan salahkan Jalu, -
@bacahorror @IDN_Horor - lagian anak ini tidak tahu menahu, salah Abah juga, tapi saya mengerti di posisi orang tua seperti apa resikonya” ucap Kang Idim.
Yang pertama kali aku lihat, Ibu langsung mengelap matanya, kemudian Abah terlihat sangat cemas, sama hal nya dengan Kang Idim yang sudah lama
@bacahorror @IDN_Horor aku kenal, karena beberapa kali sering datang ke rumah gubuk ini.
“Pasti masih terasa lemas, biarkan saja sampai Ki Duduy datang, beliau janji malam ini datang Bah” ucap Kang Idim.
Abah langsung berdiri dari duduknya.
“Pelan-pelan, Ibu boleh kasih tahu Jalu sekarang” ucap Abah,
@bacahorror @IDN_Horor sambil berjalan keluar.
“Tidak ada salahnya, tidak ada yang benar-benar siap juga Bah” jawab Kang Idim sambil berdiri mengikuti langkah Abah, menuju saung di samping rumah.
Aku belum mengerti apa yang di katakan Abah dan Mang Idim, apalagi kejadian sore tadi setelah aku ingat
@bacahorror @IDN_Horor membuat badanku terasa lemas kembali.
“Sudah tiga jam kamu ini tidak sadarkan diri Jalu” ucap Ibu, sambil membenarkan bantal, menyuruhku untuk kembali tertidur.
“Apa Bu yang sebenarnya terjadi, barusan Jalu ingat kejadian di ujung kampung ini, tapi rasanya lemas” ucapku,
@bacahorror @IDN_Horor melihat jam tua menempel di bilik rumah, sudah pukul 8 malam lebih.
“Kamu ingat setiap beberapa bulan ke belakang, ada tamu yang Abah antar ke ujung kampung itu, pernah denger leweung sasar juga dari cerita Abah, selain Ki Langsamana” ucap Ibu.
@bacahorror @IDN_Horor “Pernah Bu, masih ingat leweung sasar, satu-satunya leuweung yang tidak boleh Jalu ketahui, bahkan masuk ke perbatasan kampung ini juga Abah larang” jawabku, semakin terasa lemas di badan.
“Harusnya Abah bilang bukan tidak boleh, tapi belum waktunya, buktinya, -
@bacahorror @IDN_Horor - kejadiannya seperti ini” ucap Ibu perlahan.
Aku semakin bingung dengan ucapan Ibu, malam ini. “Kuncen, juri kunci, dari buyut turun ke Abah,
selanjutnya kamu, tau alasanya Ibu dan Abah masih menetap disini, padahal harusnya bisa pindah?” ucap Ibu.
@bacahorror @IDN_Horor Aku hanya menggelengkan kepala, apalagi lemas di badanku semakin terasa.
“Ketika matahari terbenam akan terlihat jelas dari rumah ini, nama kampung ini dulunya, kampung kulon (barat) tilas jajah, karena leuweung sasar hanya akan bisa masuk melalui kulon (barat), -
@bacahorror @IDN_Horor - karena tidak mau banyak manusia yang tersesat, maka oleh buyut kamu di ganti dari kulon (barat) menjadi wetan (timur), agar tidak banyak yang datang… di lanjutkan oleh Ki Diman, kakek kamu, selanjutnya Abah, dan pasti akan jatuh pada kamu juga” ucap Ibu menjelaskan.
@bacahorror @IDN_Horor Baru saja ibu selesai menjelaskan tiba-tiba terdengar Abah dan Kang Idim menjawab salam secara bersamaan, apalagi, tembok rumah hanya terbuat dari bilik.
“Ingat saja ucapan Ibu barusan, itu penjelasan penting di awal yang harus Jalu ketahui, memang hidup sulit Jalu, -
@bacahorror @IDN_Horor - tapi tidak pilihan” ucap Ibu.
Kepalaku benar-benar sakit, seperti di tusuk-tusuk oleh benda tajam, sangat sakit sekali, apalagi salahnya barusan aku malah mengingat sosok manusia yang aku ingat pernah berkunjung beberapa bulan ke belakang ke rumah ini,
@bacahorror @IDN_Horor namun penampakan wujudnya sore tadi benar-benar menakutkan sekali.
Terlihat Abah membuka pintu, menganggukan kepala kepada Ibu, Ibu langsung saja berdiri, berjalan ke arah Abah, masuklah seorang lelaki tua, lebih tua dari Abah, yang baru pertama aku lihat.
@bacahorror @IDN_Horor “Tidak usah takut, saya datang kesini untuk bersilaturahmi dengan kamu Jalu…” ucap Kakek tua, mendekat, setelah menutup pintu dengan rapat.
Badanku terasa sangat panas sekali, padahal barusan hanya lemas dan kepalaku saja yang sakit.
“Panggil saja Ki Duduy…” ucap Kakek tua,
@bacahorror @IDN_Horor duduk di sebelahku.
“Baik Ki” ucapku, langsung menerima salamnya, memaksakan badan untuk sedikit terangkat.
Ki Duduy langsung mengusap bagian kepalaku, seolah mengerti bagian itulah yang aku rasakan sakit, kemudian tangannya berpindah ke bagian dadaku.
@bacahorror @IDN_Horor “Ingat saja tidak apa-apa kejadian tadi sore, itu raungan dari perwujudan Ki Langsamana” ucap Ki Duduy, kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam celananya, seperti gelang namun aku tidak pernah melihat benda seperti itu, di tempelkan di atas dadaku.
@bacahorror @IDN_Horor Nafasku semakin tenang, mataku semakin terpejam. “Setelah ini belajarlah semuanya tentang leuweung sasar pada Abah kamu Jalu… sosok yang lebih mengerikan sudah menunggu kamu selanjutnya datang ke sana, untuk mencegah kedepannya terjadi lebih dari pada sekarang…”
@bacahorror @IDN_Horor terdengar suara Ki Duduy masuk ke dalam telingaku.
“Meong Hideung! (kucing hitam)” hanya itu yang bisa aku lihat dengan cepat dalam gelapnya malam ini.
“Persis sama cerita Ki Langsamana, Cucu Ki Diman dari kampung wetan tilas jajah akan sama segala kelakuannya,
@bacahorror @IDN_Horor namun kesetiaan nya yang sangat berharga, percayalah Jalu, kini cucu Aki, Digjaya Adiguna Gama berada dalam masalah, setelah orang yang kamu lihat barusan di ladang rumput, berhasil mempertaruhkan segalanya di leuweung sasar” masih terdengar jelas olehku ucapan Ki Duduy,
@bacahorror @IDN_Horor namun gelapnya mata terpejam seperti menarikku masuk, pada suatu lapangan tanah yang luas berwarna merah, hanya ada satu pohon tua.

***

“Bagun Jalu, sudah pagi…” ucap Ibu, sambil mengusap kepalaku.
“Bu, mana Ki Duduy” ucapku, perlahan membuka mata,
@bacahorror @IDN_Horor karena aku masih ingat ucapan-ucapan Ki Duduy, terus terngiang dalam kepala.
Abah langsung berjalan dari dapur, membawa air minum, seolah Ibu paham langsung berdiri dan kembali ke dapur.
“Maafkan Abah soal kemarin, ini minum” ucap Abah, sambil membangunkan badanku.
@bacahorror @IDN_Horor “Ki Duduy bicara panjang Bah, Jalu ingat cerita Ki Langsamana, semalam kucing itu Jalu lihat!” ucapku.
“Pelan-pelan saja… sudah minum dulu airnya” jawab Abah, seolah tidak percaya dengan ucapanku.
Segera aku habiskan semua air yang Abah berikan,
@bacahorror @IDN_Horor bahkan sampai tidak tersisa sedikitpun.
“Sore ini kita pergi ke leuweung sasar, orang-orang mengetahuinya sebagai bukit sasar, ada masalah genting, untuk memastikan satu orang, perintah dari Ki Duduy semalam” ucap Abah perlahan.
@bacahorror @IDN_Horor Bahkan udara pagi yang selalu dingin menusuk ke badanku tidak terlalu terasa, dibandingkan ucapan Abah pagi ini.
“Dulu Abah tidak pernah bicara hal ini” ucapku.
“Sudah waktunya, benar kata Kang Idim, Ki Duduy, jika kejadian ini awal semuanya untuk Jalu ketahui, -
@bacahorror @IDN_Horor -maka harus segera, sama halnya dulu Abah di ajak oleh Ki Diman” ucap Abah.
“Apa Ibu sudah mengetahui hal ini Bah?” tanyaku, karena sangat khawatir pada Ibu.
“Tahu dan harusnya mengerti ini sudah waktunya, sama halnya ketika Abah menikahi Ibu kamu Ni Warsih, -
@bacahorror @IDN_Horor - tidak akan mempunyai banyak anak, setelah anak pertamanya lelaki, itu sudah turun temurun, bahkan Ni Warsih jauh lebih paham hal ini” ucap Abah.
Aku hanya menganggukan kepala saja, memahami apa yang dikatakan Abah, sambil mengingat semua ucapan Ki Duduy semalam.
@bacahorror @IDN_Horor “Digajaya Adiguna Gama, iyah, semalam bilang sedang dalam masalah siapa itu Bah?” tanyaku.
Abah terlihat sangat kaget, dengan ucapanku, bahkan rokok yang sedang di hisapnya, langsung lepas jari jepitan jarinya.
“Jalu!” ucap Abah sangat keras.
@bacahorror @IDN_Horor Bahkan Ibu langsung masuk ke ruang tengah.
“Ada apa Bah, duh kaget” ucap Ibu.
“Tidak-tidak, sudah lanjutkan saja…” ucap Abah, langsung meminum cukup banyak kopi di dalam gelasnya yang barusan di bawanya.
Ibu langsung kembali ke dapur dengan terlihat sangat heran sekali,
@bacahorror @IDN_Horor begitu juga dengan aku.
“jadi yang kamu bilang Jalu, soal Ki Langsamana kamu lihat wujudnya?” bisi Abah perlahan di dekat telingaku, wajahnya sangat cemas, bahkan pertama kali melihat Abah sangat ketakutan.
Aku hanya menggelengkan kepalaku berkali-kali,
@bacahorror @IDN_Horor sambil dadaku berdetak cukup kencang.
“Kucing hitam, gelang yang tidak tahu namanya keluar dari saku Ki Duduy” ucapku perlahan.
Abah mengusap kedua wajahnya cukup keras, setelah menyimpan rokok di atas asbak rotan, kemudian menganggukan kepalanya.
@bacahorror @IDN_Horor “Bisa benar semua ucapan Ki Duduy, gelang itu padahal tidak di gunakannya sempurna, terbayang jika turun ke cucu lekakinya” ucap Abah.
Sekarang giliranku yang di buat tidak paham, dengan apa yang Abah ucapkan.
@bacahorror @IDN_Horor “Bah, Bah Mar… saya bawa yah ini” terdengar suara Mang Karni, sambil mengucapkan salam membuka pintu.
“Eh Karni, baru ada segitu, kalau mau di anter ke pasar boleh saja ambil, besok mungkin saya tidak di rumah, jadi tidak usah datang dulu kesini…” ucap Abah.
@bacahorror @IDN_Horor “Biasa yah Bah, siapa lagi yang kena gangguan bah?” tanya Mang Karni.
“Mau perjalanan saja sama Jalu, malem ini sesekali liat- liat rumah yah, Ni Warsih sendirian kasian” ucap Abah.
Anehnya wajah Mang Karni sangat ketakutan sekali. “Cuman sekalian bilang uang yang dari Bu Lurah
@bacahorror @IDN_Horor sudah Karni bagikan di pasar, sama yang butuh Bah… itu saja, kalau malam Karni belum tentu berani” ucap Mang Karni, anehnya langsung pamit keluar rumah, terlihat duduk di depan, sambil membakar rokok.
“Bah, nanti sore juga kamu paham, gunakan hari ini tidur yang cukup, -
@bacahorror @IDN_Horor - setiap waktu doakan buyut dan Aki kamu Jalu, biar selamat nanti sore!” ucap Abah kemudian berdiri untuk menemui Mang Karni.


Aku, Abah dan Ibu sudah duduk di depan teras depan rumah yang biasa Abah gunakan untuk membuat kerajinan tangan dari bambu rotan,
@bacahorror @IDN_Horor perlahan matahari sudah terlihat akan turun dari sebelah kulon (barat).
“Orang yang tiga bulan datang kesini, ternyata tekadnya tidak main-main Jalu, dia sudah berhasil melakukan perjanjian di leweung sasar, leweung dimana semua orang akan tersesat selama hidupnya,-
@bacahorror @IDN_Horor - sebentar lagi, matahari akan tengelam, kita harus mulai berjalan” ucap Abah.
“Benar Bah, sudah waktunya” ucap Ibu, sambil meneteskan air matanya.
“Ibu masuk rumah sekarang! Sampai Abah dan Jalu belum pulang jangan sesekali membuka pintu siapapun yang datang!” ucap Abah,
@bacahorror @IDN_Horor dengan tegas.
“Bu…” ucapku.
“Sudah jalu, ini memang harus seperti ini” jawab Ibu benar-benar air matanya sudah membasahi pipinya.
“Ayo Jalu!” ucap Abah, sambil berdiri.
Ibu kemudian masuk ke dalam rumah, apalagi kuning cahaya langit memang jelas terlihat dari sini,
@bacahorror @IDN_Horor setiap perubahan yang awan sore berikan.
“Bah, domba-domba” ucapku.
“Sudah Abah mandikan tadi siang, biarkan saja” jawab Abah, melangkah menjauh dari rumah, anehnya aku baru sadar, melihat keadaan rumah seperti ada yang berbeda, seperti banyak sosok yang melindungi rumah.
@bacahorror @IDN_Horor “Bah!” ucapku, ketika melihat ke arah rumah.
“Belum saatnya itu hanya sepintas yang kamu lihat” ucap Abah yang mengerti maksud ucapanku.
Aku terus berjalan mengikuti Abah, menuju ladang rumput atau ujung kampung wetan tilas jajah ini, ketika dari kejauhan batas kampung,
@bacahorror @IDN_Horor aku ingat kejadian kemarin sore.
“Orang itu, Abah antarakan sampai sana, sudah beberapa kali abah jelaskan, bahwa keluar dari kampung ini berjalan lurus akan menemukan leuweung sasar, jika melewati semua rintangannya, ke sebelah barat” ucap Abah sambil behenti,
@bacahorror @IDN_Horor sementara cahaya sore sudah semakin mengeluarkan warna kuning ke emasanya.
Aku hanya mengangguk saja, apalagi aku belum tahu, nama orang itu siapa, padahal tiga bulan ke belakang aku sendiri yang menerima ucapan salamnya ketika bertamu ke rumah.
Kemudian Abah berjalan kembali,
@bacahorror @IDN_Horor menyuruhku jalan di sebelahnya, bukan lagi di belakangnya.
“Kala matahari terbenam, mereka siapapun yang sudah paham, akan mulai masuk mencari kemudahan, nyatanya akan pulang dengan kesengsaraan. Maka, tersesatlah sampai mereka mati, arwahnya gentayangan di leuweung sasar!”
@bacahorror @IDN_Horor ucap Abah tiba-tiba dengan perlahan, sementara aku mendengarnya sangat jelas.
Tiba-tiba angin yang kemarin begitu kencang kembali datang, sementara aku semakin mendekat ke ujung perbatasan kampung wetan tilas jajah. Baru saja matahri benar- benar tengelam,
@bacahorror @IDN_Horor banyak sekali mata merah bermuculan menampakan wajahnya, aku sangat kaget.
“Bah!” ucapku keras.
Karena banyak wajah-wajah yang pucat hanya berdiam. “Dari sini masih jauh, ini hanya bagian kecil yang gagal masuk tersesat di dalam perjalan menuju leuweung sasar!” ucap Abah.
@bacahorror @IDN_Horor “Yang Ki Duduy bilang, Cucunya bermasalah dengan orang yang datang kesinikan Bah?” tanyaku, sambil mengikuti Abah berhenti dari langkahnya.
Anehnya, sosok jelmaan manusia hanya diam saja dari cahaya tenggelamnya matahari, tidak bergerak,
@bacahorror @IDN_Horor hanya memandang mengerikan ke arahku dan Abah.
“Cucunya Ki Duduy, punya hubungan serius dengan salah satu anak yang orang tuanya berhasil keluar dari leuweung sasar, namanya Suganda. Malah sekarang, anak keduanya sedang disiapkan untuk meneruskan kesesatanya di leuweung sasar, -
@bacahorror @IDN_Horor -Abah hanya bisa memastikan, sisanya kamu Jalu!” ucap Abah perlahan.
Tiba-tiba dengan serentak suara tertawa perempuan terdengar sangat kencang, mata-mata merah yang awalnya aku lihat seperti titik-titik, kini menampakan wujud aslinya,
@bacahorror @IDN_Horor seolah menunggu kedatangan Abah sebagai kuncen leweung sasar dan aku anaknya.
“Semakin masuk, kamu akan semakin tahu! Kenapa mereka seperti itu, bahkan tertahan, sebelum sampai di leuweung sasar” ucap Abah.

(Bersambung…)
@bacahorror @IDN_Horor Selanjutnya, akan menentukan perjalanan Jalu sebagai penerus juru kunci leuweung sasar, yang ternyata malah akan jadi kejutan, kenapa Abah Mar dan Ni Warsih yang menerima sesuatu di luar nalarnya! Apakah mengganti nama menjadi Budi adalah pilihan bijaksana dari Kang Idim?
@bacahorror @IDN_Horor Atau ada satu kejadian yang memaksa hal itu dilakukan.
Sampai berjumpa di Part 2, cerita ini kemungkinan hanya beberapa Part saja, tapi semoga bisa menjadi pelengkap kekosongan dan menjawab pertanyaan di judul sebelumnya.
@bacahorror @IDN_Horor Terimakasih sudah membaca cerita ini sampai selesai. Kita akan berjumpa lagi Part 2 – Sasar (Kilas balik gerbang gaib) sudah bisa teman-teman baca duluan.

Typing to give you a horror thread, thanks for supporting me.

klik link.

karyakarsa.com/qwertyping/leu…
LEWEUNG SASAR

Part 2 – Kilas Balik Gerbang Gaib

…Gerbang dimana manusia mulai masuk, setelah itu tidak pernah pulang dengan utuh, darah daging adalah pilihan tumbalnya, walaupun akhirnya akan tetap sama, kembali kesini... Perhatikan sosok itu…

@bacahorror @IDN_Horor Image
@bacahorror @IDN_Horor Hanya suara gesekan sandal pada dedaunan dan tanah yang sedang aku injak saja, suaranya terdengar jelas, tidak lagi aku dengar suara yang keluar dari mulut Abah, semakin masuk ke dalam leuweung (hutan).
@bacahorror @IDN_Horor Bahkan, baru pertama kali aku melihat di balik Abah yang selalu berusaha terlihat tenang, kini wajahnya penuh dengan kecemasan.
Apalagi sama denganku, keringat sudah mulai terasa bercucuran, sementara cahaya malam sudah menemani aku sedari tadi berjalan semakin dalam,
@bacahorror @IDN_Horor di leuweung (hutan) yang bahkan aku tidak tahu namanya ini.
Sosok-sosok yang sebelumnya menyambut kedatangan aku dan Abah, tidak aku lihat lagi.
“Disana…” ucap Abah perlahan.
Hanya pohon-pohon yang besar yang bisa aku lihat sekarang, jauh semakin dalam,
@bacahorror @IDN_Horor ternyata leuweung ini menyimpan banyak hal yang baru aku lihat.
“Ingat Jalu, dari padang rumput kampung kita, kaki hanya bisa berjalan lurus, untuk sampai leweung sasar, sudah dengar suara air?” ucap Abah, sambil berhenti.
“Sudah Bah, pelan Jalu dengarnya…” jawabku,
@bacahorror @IDN_Horor sambil memastikan itu benar-benar suara air, karena bertabrakan dengan suara angin.
“Kebanyakan mereka yang masuk kesini, tersesat disana…” ucap Abah perlahan, sambil menunjuk salah satu batu besar, sambil jari-jari tangannya terus bergerak, seperti sedang menghitung sesuatu.
@bacahorror @IDN_Horor “Batu Bah?” tanyaku heran, padahal barusan sama sekali aku tidak melihat batu.
Abah hanya mengangguk perlahan, sambil tersenyum.
“Abah dulu pertama kesini, sama halnya dengan kamu sekarang, banyak yang tidak bisa diterima oleh nalar dan akal, tapi nyatanya, -
@bacahorror @IDN_Horor - jika manusia sudah dari hati kecilnya ingin menduakan pencipta, disini, maka akan dipermudah langkahnya… ingat-ingat tempat ini, salah satu patokan dari kampung kita menuju leuweung sasar, satunya lagi dari sebelah kulon (barat)” ucap Abah, sambil kembali berjalan.
@bacahorror @IDN_Horor Aku hanya menganggukan kepala, kembali berjalan di samping Abah, anehnya di belakang seperti ada desis suara ular yang terdengar kencang, apalagi di leuweung (hutan) yang memang sangat wajar, jika keberadaan binatang itu di tempat seperti ini.
@bacahorror @IDN_Horor “Kalau penasaran, balikan saja badan kamu” ucap Abah tiba-tiba.
Tidak pikir lama, apalagi Abah sudah membalikan badanya terlebih dahulu, segera aku mengikutinya.
Ular berukuran biasa pertama aku lihat diam di atas akar yang cukup besar, namun matanya menyala sangat merah,
@bacahorror @IDN_Horor di balik akar itu baru aku menyadari, banyak sekali sosok-sosok yang menampakan wujudnya sangat menjijikan, karena wajahnya banyak yang tidak utuh, bahkan masih bercucuran darah segar.
“Bah!” ucapku kaget.
“Gerbangnya disini, tidak akan mengganggu pada kita, tapi, -
@bacahorror @IDN_Horor - ujian masuk berhadapan dengan mereka yang datang, yang kamu lihat, adalah mereka yang tertahan mencoba kembali ke kampung kita, tapi tidak sudah tidak bisa, tipu daya mereka kuat penghuni disini, akan tetap sama mencari siapa korban selanjutnya…” ucap Abah menjelaskan.
@bacahorror @IDN_Horor “Jadi selama ini bukan hanya cerita Bah? 4 jam menuju leuweung sasar dari kampung itu?” tanyaku semakin heran.
“Waktu dari sini bisa lebih cepat, jika masuk dari kulon (barat) akan lebih lambat…” jawab Abah, sambil kembali berjalan, setelah menepuk pundakku dengan tiba-tiba.
@bacahorror @IDN_Horor Berbarengan dengan kaget yang aku rasakan, karena Abah menepuk pundakku, aku melihat perlahan begitu saja sosok-sosok penampakan mahluk itu menghilang.
“Patokannya, semakin suara air terdengar jelas, itu semakin dekat Jalu, ingat itu…” ucap Abah.
@bacahorror @IDN_Horor Benar saja ucapan terakhir Abah, tidak lama aku berjalan, suara air semakin terdengar jelas, namun aku tidak merasakan keanehan lagi, apalagi aku berjalan bersebelahan dengan Abah, di bawah pohon-pohon besar, cahaya yang diandalkan hanya melalui terangnya bulan.
@bacahorror @IDN_Horor “Kalau sore kemarin Kang Idim tidak datang, kemudian malamnya Ki Duduy tidak bertamu ke rumah, mungkin tidak tahu kapan lagi Abah akan pergi kesini, tapi, mau bagaimana juga, Ki Diman kakek kamu Jalu, adalah orang yang selalu menanti -
@bacahorror @IDN_Horor - kunjungan dari Ki Langsanama bapaknya Ki Duduy, hal itulah yang membawa Abah kesini…” ucap Abah sambil duduk di antara dua batu besar sekali, pandangan Abah tiba-tiba seperti kosong, memikirkan sesuatu yang sangat berat.
@bacahorror @IDN_Horor Batu sebelahnya yang berukuran kecil Abah bersihkan oleh kedua tanganya, lalu menyuruh aku duduk.
“Abah pernah bilang, Ki Langsamana di kampung wetan tilasjajah ini sering melakukan aktivitas spiritual, menyendiri…” ucapku, setelah menyimpan baik-baik ucapan Abah sebelumnya.
@bacahorror @IDN_Horor “Iyah benar, seharusnya Ki Langsamana bisa sekali menenggelamkan semua makhluk di leuweung sasar ini, tapi, dari cerita Ki Diman… Ki Langsamana hanya bilang, ada dan tidak adanya tempat ini, urusan manusia tersesat adalah urusan hati dan imannya kepada pencipta, -
@bacahorror @IDN_Horor - bukan urusan tempatnya…” ucap Abah, sambil menghembuskan nafasnya sangat panjang.
“Maka dari itulah, Ki Diman dari dulu sampai di turunkan semuanya kepada Abah, dan malam ini akan di turunkan kepada kamu, tempat ini harus tetap di jaga” ucap Abah bergetar suaranya,
@bacahorror @IDN_Horor melihat ke arahku dengan tatapan tajam.
“Bah!” ucapku.
“Tidak ada pilihan Jalu, kecuali…” jawab Abah.
Dari arah belakang, terdengar gesekan langkah manusia berjalan.
Abah langsung membalikan badanya dengan cepat, sebuah gerakan yang baru aku lihat,
@bacahorror @IDN_Horor apalagi di usianya yang tidak muda lagi.
“Itu siapa Bah?” ucapku.
Seketika bulu pundak berdiri begitu saja, perasaan takut perlahan datang.
“Jangan bicara apapun! Paham!” ucap Abah.
Aku hanya mengangguk, sambil terasa detak jantung berdetak semakin kencang.
@bacahorror @IDN_Horor Seorang laki-laki yang pernah aku lihat tiga bulan ke belakang, sedang berjalan dengan sangat gagahnya ke arah dimana aku dan Abah sedang duduk.
“Amar Adiwira, Bah Amar… terimakasih, atas ucapan dan nasihat larangan ketika saya bertamu minta di antarkan ke gerbang sasar, -
@bacahorror @IDN_Horor - akhirnya, apa yang saya mau, berhasil”
Anehnya tidak mendekat sama sekali, bahkan berdiri di belakang batu besar, semakin jelas, wajah laki-laki itu sangat pucat sekali.
“Bagus! Bagus tidak bicara, tidak sebijaksana ketika sore itu, tidak membentak saya! Ha-ha-ha”
@bacahorror @IDN_Horor sambil berteriak, sangat kencang.
Abah dan aku hanya diam tidak menjawab ucapan laki-laki yang semakin kesini, aku mencium bau darah amis masuk ke dalam dua lubang hidungku sangat tajam, tangan Abah kembali seperti menghitung sesuatu, menatap tajam ke arah laki-laki itu.
@bacahorror @IDN_Horor Seketika, di balik gelapnya malam diterangi cahaya bulan malam ini, sosok-sosok mahluk bermata merah kembali aku lihat, namun kini perawakan nya sangat besar, jauh lebih besar, dari sosok yang berada perbatasan, ketika aku keluar dari kampung tilas jajah.
@bacahorror @IDN_Horor “Pantas!” ucap Abah dengan tegas, sambil lima jari dan tangan kanan bergetar.
“Iyah memang aku pantas! Pikir kamu aku tidak bisa akan keluar, paham maksudku! yang terhormat kuncen leuweung sasar, anak Ki Diman!” bentak laki-laki, yang baru aku ingat namanya, Suganda.
@bacahorror @IDN_Horor Anehnya Abah hanya membalas bentakan Suganda dengan tersenyum, tanpa berkata apapun lagi, namun malah tatapannya sekarang tajam ke arahku.
“Anak muda! Iyah anak muda yang tidak akan berguna lagi sebagai keturunan Ki Diman, percuma!” ucap Suganda.
@bacahorror @IDN_Horor Abah langsung menepuk bandanku, agar berada di belakang badan Abah.
“Sudah jangan ikut campur lagi urusan aku Amar! Percuma!” ucap Suganda.
Seketika angin yang kencang begitu saja datang, menerpa pohon-pohon yang besar yang berada di sekitarku, membuat Abah, Aku dan Suganda
@bacahorror @IDN_Horor benar-benar kaget.
“Langsamana!” ucap Suganda dengan keras.
Wajah pucatnya kini perlahan mengelupas, daging-dagingnya keluar begitu saja, bersamaan dengan itu darah segar sudah aku lihat dengan jelas.
Suganda langsung berbalik badan, kembali berjalan, anehnya, tiba-tiba
@bacahorror @IDN_Horor ada satu anak kecil yang mengikuti langkah Suganda, malah tangan anak kecil itu langsung menerima tangan Suganda.
“Benar, benar…” ucap Abah, menggelengkan kepalanya berkali-kali.
“Maksudnya Bah…” ucapku.
“Sudah menyatu, sekarang pilihannya ada di kamu Jalu, -
@bacahorror @IDN_Horor - Suganda sudah berhasil bersekutu dengan kerjaan yang ada leweung sasar ini di taneuh bereum, kamu meneruskan pun percuma…” ucap Abah sangat cemas sekali.
“Jalu masih tidak paham Bah” ucapku.
“Abah kira, dulu ucapan Ki Diman salah, bahwa akan ada orang yang lebih parah, -
@bacahorror @IDN_Horor - masuk ke kerajaan ini, tapi benar ternyata ada, ayo pulang!” ucap Abah.
Perlahan aku paham setelah penjelasan singkat Abah.
“Berarti benar adanya Bah, cucu Ki Duduy sedang dalam masalah!” ucapku tegas.
“Tadi dengar Suganda bilang satu nama, -
@bacahorror @IDN_Horor - setelah angin kencang, malah sangat keras” ucap Abah.
“Iyah Bah dengar” jawabku.
“Semoga tidak sampai terikat oleh satu ikatan yang sah saja, itu akan semakin sulit” ucap Abah perlahan, sambil mengeluarkan sesuatu dalam saku bajunya.
@bacahorror @IDN_Horor Plastik hitam berisikan seperti pasir, abah keluarkan lalu di taburkan di depan dua batu besar ini, anehnya secara tiba-tiba suara derasnya air sungai kini aku dengar langsung.
“Ini batasnya!” ucap Abah.
“Maksudnya Bah?” tanyaku.
@bacahorror @IDN_Horor Tiba-tiba, dari arah lurus barusan Suganda dan anak kecil itu berjalan, terdengar seperti sorakan dan ketawa sangat kencang aku dengar, bahkan aku langsung menutup kedua telingaku dengan sangat rapat.
“Buka mulut kamu Jalu!” ucap Abah keras.
@bacahorror @IDN_Horor Aku yang kaget, langsung membuka mulut, tiba-tiba Abah mengeluarkan air dalam botol kecil, meminumkannya dengan cepat kepadaku.
“Tahan!” ucap Abah.
Seketika air itu masuk ke dalam tenggorokan dengan sangat dingin, badanku terasa sangat lemas sekali.
@bacahorror @IDN_Horor “Maafkan Abah, ini demi kebaikan hidup kamu, agar tidak berurusan lagi dengan kampung dan leuweung ini… ingat pesan Abah, tinggilah adab kamu dari pada ilmu kamu…” ucap Abah, sambil mengelus kepalaku.

***
@bacahorror @IDN_Horor “Sudah ayo Jalu berdiri… tidak banyak waktu kita disini, takutnya malah ada orang sekitar yang melihat, anaknya Bah Amar dan Ni Warsih datang ke kuburan ya…” ucap Bah Idim, sambil menepuk pundak.
Aku cukup paham dengan kecemasan Bah Idim yang sudah menjadi Bapak angkatku,
@bacahorror @IDN_Horor setelah Bah Amar dan Ni Warsih kedua orang tuaku meninggal, tidak lama sejak kejadian pertama kali aku masuk ke leuweung sasar.
“Bah! Kenapa panggil nama itu lagi” ucapku kaget, sambil melihat Bah Idim, sudah menetes begitu saja ari matanya,
@bacahorror @IDN_Horor di bawah langit malam yang akan segera berganti dengan pagi.
“Pesan terakhir Bah Amar, panggil nama anakku ketika berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir… sudah ayo Bud!” ucap Bah Idim, menarik tanganku.
“Baik Bah” jawabku, dengan hati yang sebenarnya masih bergetar,
@bacahorror @IDN_Horor sambil mengelapkan tangan yang kotor bekas memegang tanah kuburan Abah dan Ibuku.
Segera aku berdiri, menutup kepalaku dengan kupluk jaket, mengikuti Bah Idim yang sudah berjalan dengan cepat, melewati beberapa nisan kuburan, di kampung wetan tilas jajah.
@bacahorror @IDN_Horor “Satu jam lebih lagi adzan subuh bakalan berkumandang, semoga kita tidak telat keluar dari sini…” ucap Bah Idim, semakin cepat langkahnya, dengan nafas yang terdengar kecapean, karena usianya sudah tidak seperti dulu lagi.
“Abah sudah dapat tanahnya?” ucapku sangat cemas,
@bacahorror @IDN_Horor karena semenjak aku berada di kuburan Abah dan Ni Warsih, Bah Idim pergi ke gubuk tua yang sudah hancur, bekas peninggalan Ibu dan Abah.
Bah Idim hanya mengangguk saja, sambil perlahan tanganya memegang badanku.
“Ada, tapi Abah tidak tahu apa-apa, wasiat Bah Amar saat itu, -
@bacahorror @IDN_Horor - hanya bilang, kasih ke Jalu… ini pindahkan saja ke saku celana kamu…” ucap Bah Idim, memberikan plastik hitam.
Seketika, ingatanku seperti di tarik ke beberapa tahun belakang, dimana pertama kali Abah Amar pernah menaburkan pasir.
“Bud!” bentak Bah Idim.
@bacahorror @IDN_Horor “Bah maaf, ayo…” ucapku.
“Sudah ingat sesuatu?” tanya Bah Idim.
“Semoga saja Bah, walaupun belum terlalu yakin” jawabku.
Keluar dari ujung kampung wetan tilas jajah, sampai depan kampung cukup memakan waktu yang lama, bukan karena luas sekali kampungnya,
@bacahorror @IDN_Horor melainkan jalanya yang tidak mungkin aku lalui mengendarai sepeda motor, takutnya malah mengundang kecurigaan warga kampung, karena aku sudah meninggalkan kampung ini, setelah Ni Warsih meninggal.
Terlihat Bah Idim bercucuran keringat, karena harus berjalan cukup jauh,
@bacahorror @IDN_Horor aku sudah melihat motor tua Bah Idim yang terparkir, sengaja aku sembunyikan.
“Satu minggu lagi Gama akan menikahi Dewi, Indra sudah dapat banyak informasi di rumah itu, hampir sama dengan Abah, besok kamu temui…” ucap Bah Idim, sambil mengatur nafasnya.
@bacahorror @IDN_Horor “Lasmi… nama itu tidak pernah Budi dengar Bah…” ucapku, sambil memberikan botol minuman.
“Nanti saja, ayo cepat yang penting keluar dulu dari kampung ini” ucap Bah Idim.
Segera aku menyalakan motor, setelah Bah Idim aku bonceng, motor bebek tua segera aku pacu kecepatannya,
@bacahorror @IDN_Horor karena angin pagi benar-benar terasa.
“Anak Suganda, orang yang terakhir kamu lihat di gerbang bukit sasar bareng dengan Bah Amar, sekarang namanya bukan leuweung sasar lagi Bud, saking banyak dicari semua orang, setelah beberapa orang pintar mengetahui, -
@bacahorror @IDN_Horor - bahwa kekayaan Suganda di dapatnya dari situ” ucap Bah Idim dekat sekali di telingaku.
Seketika aku ingat semua ucapan Suganda, kembali ingat perbatasan itu, juga keterkaitan dengan plastik, yang ada di saku celanaku saat ini.
“Budi paham Bah!” ucapku.
@bacahorror @IDN_Horor “Bagus, Ki Duduy sedang menunggu kabar dari kita Bud…” jawab Bah Idim.
Beruntungnya ketika suara adzan subuh sudah terdengar jelas, aku dan Bah Idim sudah keluar jauh dari kampung wetan tilas jajah. Apalagi perjalanan masih jauh untuk kembali ke rumah Bah Idim,
@bacahorror @IDN_Horor laju motor tua segera aku pelankan, apalagi udara dingin pagi ini cukup menusuk kulitku.
“Kenapa berhenti” ucap Bah Idim, terlihat kedinginan.
Segera aku membuka jaket yang aku gunakan, aku pindahkan ke badan Bah Idim.
“Pake dua Bah biar tidak dingin, -
@bacahorror @IDN_Horor - abah sudah banyak keluar keringat dari tadi di kampung itu, bisa jadi kalau kedinginan sampai rumah malah sakit” ucapku.
Bah Idim hanya menggelengkan kepalanya saja, seolah tidak percaya dengan apa yang aku lakukan.
“Bud!” ucap Bah Idim.
“Ayo Bah sudah tanggung ini, -
@bacahorror @IDN_Horor - sebentar lagi habis turunan ini…” jawabku, kembali menaiki motor bebek.
Dengan hanya mengunakan kaos tipis, aku lalui jalanan dingin menuju pagi, dingin yang awalnya menusuk kulit normal manusia sepertiku, perlahan terasa mati rasa kulitku.
@bacahorror @IDN_Horor Sudah hampir satu jam lebih, barulah motor sudah terparkir di depan rumah Bah Idim, apalagi yang aku cemaskan sekarang Indra, adik tiriku.
“Apa Budi pagi ini juga kesana Bah?” ucapku.
“Malam saja, terlalu beresiko, mending nyalakan api di belakang…” ucap Bah Idim.
@bacahorror @IDN_Horor Aku tidak bisa menolak apapun perintah Bah Idim, karena dari sosok laki-laki tua yang semenjak kehilangan istrinya karena dipanggil terlebih dahulu oleh sang pencipta, Bah Idim adalah guru dan orang tua bagiku.


“Tidak tahu akan seperti apa jadinya…” ucapku,
@bacahorror @IDN_Horor sambil menyalakan api, setelah berjamaah subuh dengan Bah Idim, kemudian menyimpan plastik berisikan pasir ke dalam kamarku, di rumah sederhana ini.
“Indra, siapa namanya?” ucap Bah Idim, cukup keras berbicara di handphone, sambil berjalan ke halaman belakang rumah.
@bacahorror @IDN_Horor “Hati-hati, jangan terlalu dekat, setau Abah, tiga tahun kebelakang yang namanya Dendi tidak pernah terlihat dekat dengan Galuh suaminya Lasmi, malam ini Budi kesitu” ucap Abah, sambil menghembuskan nafas yang panjang sekali.
@bacahorror @IDN_Horor Aku hanya menengok saja, kemudian menyiapkan segala alat untuk pekerjaanku membuat anyaman dari rotan, yang dulu pernah Bah Amar ajarkan kepadaku.
“Dendi namanya Bud, siang ini coba kamu telaah siapa anak itu dan ada hubungan apa dengan Galuh suaminya Lasmi” ucap Bah Idim.
@bacahorror @IDN_Horor “Sebegitu bahayanya Bah?” ucapku.
“Lasmi iyah, kamu belum pernah saja datang ke rumah itu, semenjak malam itu kalau kamu ingat, Ki Duduy datang ketika kejadian sore di ladang rumput, Lasmi sudah mulai Bud di persiapkan Suganda…” jawab Bah Idim.
@bacahorror @IDN_Horor “Ingat! Malam pertama kali berjumpa dengan Ki Duduy mengeluar gelang Bah” jawabku.
“Makanya Abah langsung menjaga rumah itu di tahun itu juga melamar, hanya untuk memastikan… ternyata benar itu adalah kakaknya Halimun Dewi, yang akan Gama cucunya Ki Duduy nikahi…” ucap Bah Idim
@bacahorror @IDN_Horor “Sekarang?” ucapku.
“Jangan, nanti saja siang kalau tidak sore, malamnya tetap harus pergi ke rumah itu, temui Indra” ucap Bah Idim, penuh kecemasan.


“Bud jangan sampai Dendi salah satu penghuni kosan di belakang rumah itu mengetahui, kamu kakaknya Indra… ini alamatnya -
@bacahorror @IDN_Horor - bawa kertas ini” ucap Bah Idim, sambil memberikan sobekan kertas bertuliskan dimana rumah dan Indra berada.
Sementara aku sudah bersiap dengan pakaian lusuh untuk lebih mempermudah nantinya, bahkan mungkin seperti orang gila dengan melepas ikat rambut panjangku,
@bacahorror @IDN_Horor hanya menganggukan kepala saja, memang setelah kepergian Bah Mar dan Ni Warsih kejiawaanku seperti apa yang pernah Bah Idim katakan, “Sedikit terganggu” ada kaitanya dengan ilmu-ilmu dulu, yang pernah Bah Mar turunkan.
“Ini bawa, cukup untuk dua kali naik angkutan umum ke kota, -
@bacahorror @IDN_Horor - Indra sudah Abah bilang juga…” ucap Bah Idim, semakin cemas.
Padahal gelapnya malam ini yang dikeluarkan oleh awan hitam, sama sekali tidak membuatku cemas, malah sangat penasaran dengan rumah dan satu nama, yaitu Lasmi.
@bacahorror @IDN_Horor Setelah waktu yang Bah Idim rasa tepat, lebih dari jam 8 malam memperkirakan angkutan umum terakhir menuju kota, aku berangkat, di antarkan oleh wajah Bah Idim yang semakin cemas.
“Sudah hampir tiga minggu Indra disana Bud! Pastikan semuanya baik-baik saja” ucap Bah Idim,
@bacahorror @IDN_Horor setelah menerima salamku.
Sayangnya Indra hanya dibekali oleh perlindungan yang selalu Bah Idim panjatkan, yaitu doa, hal itu yang sebenarnya tidak membuat aku terlalu khawatir seperti Bah Idim.
Dengan penampilan lusuh, sudah beberapa kali di jalanan besar kampung ini,
@bacahorror @IDN_Horor beberapa angkutan umum enggan untuk berhenti, namun aku tetap berjalan kaki ke arah kota, sambil terus melambaikan tangan pada setiap angkutan umum yang aku lihat, untungnya jalanan cukup lurus, sehingga bisa dari kejauhan mobil angkutan umum bisa aku lihat.
@bacahorror @IDN_Horor Tiba-tiba satu mobil pickup terlihat mengedipkan dua kali lampu berwarna kuningnya ke arahku, setelah satu angkutan umum tidak berhenti lagi, seperti sebelumnya.
“Mobil pengantar sayur…” ucapku dalam hati, mobil itu langsung menepi ke sebelah kiri,
@bacahorror @IDN_Horor setelah melewati aku terlebih dahulu.
Di belakang mobil pickup sudah banyak bekas kayu-kayu dan plastik, namun yang membuatku kaget ada hal yang mungkin tidak di sadari oleh pengemudi.
“Kang mau kemana, dari kejauhan saya melihat udah dua mobil angkot di cegat tidak berhenti yah”
@bacahorror @IDN_Horor ucap supir mobil pickup, seorang laki-laki usianya tidak jauh seperti Abah Idim.
“Kota Pak, boleh saya numpang di belakang…” jawabku, sambil menyibakan rambut panjang yang sangat berantakan.
“Ayo naik, di depan saja, jangan di belakang dingin”
@bacahorror @IDN_Horor “Kotor Pak, terimakasih saya di belakang saja” jawabku.
“Ya sudah nanti bilang saja kalau mau turun yah”
Aku hanya mengangguk sambil naik ke belakang mobil pick up.
“Satu arah dengan jalan yang Bah Idim bilang, yakin, pasti satu arah, ini mobil pengantar sayur” ucapku dalam hati.
@bacahorror @IDN_Horor Sepanjang perjalan aku terus mengabaikan apa yang aku lihat, yang membuatku sangat curiga dengan air yang berceceran yang ada di dalam bak mobil ini, sebuah air liur.
“Bisnis sampai segini, kasihan sopir ini” ucapku.
Tidak lama memasuki kota, laju mobil yang awalnya cukup kencang
@bacahorror @IDN_Horor tiba-tiba kini mulai perlahan, apalagi beberapa patokan alamat yang Bah Idim katakan, sudah terlewati begitu saja. Benar saja, mobil pick up yang sedang aku tumpangi tiba-tiba menepi dengan perlahan.
“Kenapa Pak?” tanyaku, masih berada di dalam bak mobil.
@bacahorror @IDN_Horor “Sebentar Kang, ini tumben tiba-tiba kepala saya berat, takut celaka” sambil memijat-mijat pundaknya.
Segera aku turun, untuk memastikan keadaan supir yang sudah memberikan aku tumpangan ini.
“Astagfirullah!” ucapku dalam hati, benar-benar keget, ketika melihat di samping supir.
@bacahorror @IDN_Horor Sosok perawakan hitam, berbadan gemuk sekali, dengan lidahnya yang menjulur panjang, dengan sangat menjijikan terus menerus mengeluarkan air liurnya, sesekali melihat ke arahku sambil tersenyum.
“Jangan ikut campur…” dengan suara terbata-bata, mulutnya semakin terbuka lebar,
@bacahorror @IDN_Horor air liurnya semakin menetes.
Aku berusaha tidak mendengarkan ucapan sosok yang malah sekarang ikut memijat pundak supir, air liurnya semakin menetes banyak.
“Sini itu air minumnya!” bentakku.
“Untuk apa Kang?”
@bacahorror @IDN_Horor Segera aku paksa ambil, botol air minum yang berada di depan setir mobil, setelah tutupnya terbuka, langsung paksa agar di minum oleh supir, apalagi sedari tadi pertama masuk ke dalam mobil bak melihat air liur, perasaanku sudah curiga sekali, dan terbukti.
@bacahorror @IDN_Horor Hanya tertawa terbahak-bahak saja seperti sangat senang sosok hitam besar itu, namun tidak lama menjadi suara kesakitan yang aku dengar.
“Uh bisa dingin yah Kang airnya”
“Bapak lelah saja, saran saya kalau mengemudi, apalagi malam begini sering minum Pak” jawabku,
@bacahorror @IDN_Horor memberikan alasan yang masuk akal.
“Bisa celaka kalau di biarin” ucapku dalam hati, berjalan ke depan mobil kemudian tanpa bicara lagi masuk melalui pintu samping kiri mobil.
Supir tua ini terlihat heran sekali, setelah satu botol berisikan air habis masuk tenggorokanya.
@bacahorror @IDN_Horor “Aneh beneran kang tumben”
“Ini saya sebenarnya mencari alamat ini Pak, kalau satu jalur dengan tujuan Bapak alhamdulillah, kalaupun tidak, turunkan saya dimana saja, asal satu arah Pak” ucapku, mencoba mengalihkan pembicaraan,
@bacahorror @IDN_Horor walaupun air liur bekas dari sosok itu sudah terinjak sandal yang aku gunakan.
“Saya Sugeng Kang… maaf untuk keperluan apa yah kalau boleh tahu Akang mau ke rumah ini” ucap Pak Sugeng sambil terlihat semakin heran, memberikan kembali kertas yang sudah di bacanya.
@bacahorror @IDN_Horor “Bapak tau alamatnya?” tanyaku.
“Tahu Kang, pasti terlewati alamat rumah barusan, tapi…” ucap Pak Sugeng langsung terhenti.
“Adik saya tukang kebun di kosan belakang, besok mau gantian Pak…” ucapku perlahan.
“Pantesan…” jawab Pak Sugeng, sambil melihat ke arahku.
@bacahorror @IDN_Horor Namun, seperti menyimpan sesuatu dari raut wajahnya, selain kecemasan, ada hal lain yang aku rasakan.
Mobil kembali melaju, terlihat badan Pak Sugeng orang baik yang memberi aku tumpangan malam ini sudah jauh lebih segar, apalagi sosok itu sudah keluar dari dalam mobil
@bacahorror @IDN_Horor ketika aku masuk dan duduk di depan sekarang.
“Rumah belanda tua itu tidak tahu siapa yang punya, halamannya luas, rumahnya bagus, tapi sayang Kang… banyak orang yang sudah melihat penampakan…” ucap Pak Sugeng, sambil menyetir.
“Bapak bisa tahu?” tanyaku,
@bacahorror @IDN_Horor padahal sore tadi ketika selesai beribadah, aku merasa memang ada hal janggal di rumah itu.
“Saya pulang ke daerah ujung wilayah rumah itu Kang… ini sebentar lagi sampai” ucap Pak Sugeng.
“Pantas saja Bapak bisa bilang seperti tadi” jawabku, barulah muncul perasaan,
@bacahorror @IDN_Horor biasanya akan ada sesuatu yang datang.
“Disana rumahnya Kang” ucap Pak Sugeng sambil menunjuk, tapi kepalanya hanya menatap ke depan setelah mobil ke sebelah kiri jalan.
“Terimakasih banyak Pak yah…” ucapku, sambil mengambil tangan kanan Pak Sugeng, kemudian menciumnya,
@bacahorror @IDN_Horor bersalaman, untuk menempelkan kulitnya di kulit tanganku, karena aku sangat cemas dengan sosok hitam jahat berupa kiriman barusan.
Pak Sugeng sangat kaget dengan tingkahku, sambil terlihat tatapan nya semakin terlihat heran.
@bacahorror @IDN_Horor “Aneh Kang kok di bawah sandal saya dan di sebelah saya malah banyak kaya air liur yah” ucap Pak Sugeng tiba-tiba, padahal baru saja aku turun.
“Cuci saja nanti… tidak apa-apa kok itu…” jawabku.
Pak Sugeng terlihat badanya bergetar, seperti mengalami ketakutan yang dirasakannya
@bacahorror @IDN_Horor setelah satu kali klakson dibunyikan mobil Pak Sugeng kembali melaju.


Dari ujung jalan sebelum aku menyebrang untuk masuk ke dalam halaman luas itu, terlihat gerbang rumah sudah tertutup, apalagi aku tidak mempunyai alat komunikasi yang bisa digunakan untuk menghubungi Indra.
@bacahorror @IDN_Horor “Bener sudah berisik… mulai terdengar” bulu pundaku berdiri begitu saja, apalagi dari semua cerita Bah Idim, memang ini bukan sembarang rumah jaman dulu, dari mulai teriakan-teriakan berganti dengan tangisan-tangisan sudah aku dengar semakin jelas.
@bacahorror @IDN_Horor Beberapa kali memastikan jalanan kosong, dengan berjalan cepat aku menyebrang, tanpa berlama-lama setelah kembali memastikan tidak ada satu orangpun yang melihatku, gerbang yang hampir seukuran dengan tinggi badanku, aku panjat dengan cepat.
“Assalamualaikum…” ucapku dalam hati,
@bacahorror @IDN_Horor tiba-tiba dari arah kaca jendela rumah tua itu sudah terlihat mata-mata yang merah melihat ke arahku, berdiam dan tersenyum di dalam rumah itu, seperti senang dengan kedatanganku malam ini.
“Leuweung sasar… hampir mirip” ucapku sambil menganggukan kepala,
@bacahorror @IDN_Horor kemudian berjalan perlahan, untuk ke belakang rumah, sudah terlihat bagunan dengan 4 kamar yang cukup bagus, namun satu kamar paling belakang yang aku yakini adalah kamar Indra.
“Kuat sekali” ketika berjalan perlahan, melewati panjangnya bagunan rumah tua, yang kata Bah Idim,
@bacahorror @IDN_Horor Lasmi anak Suganda pemiliknya ini.
Terus saja suara tangisan dan ketawa keras aku dengar jelas, mengiringi langkahku melewati bagunan tua, namun tetap aku abaikan, apalagi aku belum tahu apa-apa dengan kedatanganku ke rumah ini, hanya dititipi beberapa nama, Galuh, Dendi
@bacahorror @IDN_Horor dan Lasmi saja oleh Bah Idim.
Satu kali ketukan keras pada kamar paling ujung, yang lampunya masih menyala sudah aku lakukan, sementara kamar-kamar yang lain sepertinya penghuni kosan sudah beristirahat malam ini.
“Bud!” ucap Indra sangat kaget.
@bacahorror @IDN_Horor “Bagus sudah terbiasa jugakan akhirnya nyebut nama Ndra…” jawabku sambil tersenyum.
Indra langsung mencium tanganku, begitu juga aku mencium tangan Indra, karena mau bagaimanapun Indra tetap anak guruku, Bah Idim.
“Masuk Bud…” ucap Indra, sambil menengok ke kanan dan ke kiri.
@bacahorror @IDN_Horor “Di luar saja sudah, aman orang-orang sudah pada tidur lelap” ucapku, sambil duduk di salah satu kursi.
Anehnya, seperti ada tarikan dari angin yang menerpa badanku ketika baru saja duduk.
“Bagaimana bisa kamu pastikan hal itu?” tanya Indra, sambil duduk di sebelahku.
@bacahorror @IDN_Horor Aku hanya tersenyum saja, padahal aku memastikannya dengan melihat semua lampu kamar sudah tidak menyala saja.
“Itu Bud, pohonya!” ucap Indra serius sambil menunjuk ke arah satu pohon cukup besar.
“Ndra!” jawabku, bulu pundakku langsung berdiri dengan cepat,
@bacahorror @IDN_Horor detak jantungku berdetak semakin kencang.
“Beberapa hari kebelakang, Dendi, Teh Lasmi, ataupun Pak Galih setiap tengah malam, selalu menyiram pohon dan bebatuan di sekitarnya itu” ucap Indra menjelaskan.
“Bahaya!” jawabku perlahan, sambil terus menatap ke arah pohon,
@bacahorror @IDN_Horor terutama batu-batu yang seperti pertanda sebuah kuburan.
“Abah juga di rumah berkata sama seperti kamu Bud!” ucap Indra.
Aku hanya mengangguk saja, apalagi aku melihat sosok anak kecil memegang boneka coklat sedang berdiri di samping pohon, dengan rambut yang terurai panjang,
@bacahorror @IDN_Horor satu pohon yang aku ingat-ingat hampir sama dengan yang ada di perbatasan leuweung sasar atau sekarang disebutnya bukit sasar oleh Bah Idim, agar sedikit menyamarkannya namanya.
“Beda lagi Bud anehnya kalau pagi di dalam rumah biasa saja, aku bersih-bersih pagi… -
@bacahorror @IDN_Horor - tapi satu ketika, pernah kaya ada suara anak ketawa, di dalam gudang rumah itu” ucap Indra.
Aku masih saja menatap semakin tajam ke arah pohon, apalagi selanjutnya sosok yang aku ingat, pernah ada di perbatasan kampung wetan tilas jajah kembali aku lihat.
@bacahorror @IDN_Horor “Bud! Kamu dengarkan!” bentak Indra.
“Ndra! Jangan sesekali kamu dekati pohon itu…” ucapku perlahan, apalagi kini dari kejauhan sudah ada juga wanita tua berjalan bolak balik, dari kiri ke kanan dan seterusnya dengan perawakan bungkuk,
@bacahorror @IDN_Horor salah satu sosok yang sangat kuat aku rasakan, bahkan sejauh ini, berusaha berkomunikasi denganku, namun tetap aku tolak.
Indra terlihat hanya diam saja, setelah ucapan terakhirku, malah terlihat melamun setelah menatap ke arah pohon besar.
@bacahorror @IDN_Horor “Ndra Masuk! Ayo Masuk! Sekarang!” bentakku.
Beruntungnya pintu kamar Indra masih terbuka, setelah tangannya aku pukul cukup keras barulah Indra sadar, dan masuk dengan cepat.
“Jangan dulu keluar sebelum aku suruh” ucapku sedikit keras, untungnya tidak ada satu lampu kamar kosan
@bacahorror @IDN_Horor yang menyala, artinya tidak ada yang merasa terganggu dengan kerasnya suaraku barusan.
Nenek tua bungkuk sudah berjalan perlahan ke arahku, terasa sekali tenaganya cukup kuat aku rasakan, sedari tadi meminta berkomunikasi denganku.
“Saran saya, mending sudah jangan ikut campur! -
@bacahorror @IDN_Horor -Dari manapun asal kamu, sebaiknya kamu diam! Paham!”
Anak kecil yang dari kejauhan terlihat cantik, semakin mendekat pada Nenek Tua bungkuk wajah aslinya aku lihat, sangat hancur, penuh dengan darah, bagian tanganya dan kakinya apalagi lebih mengerikan.
@bacahorror @IDN_Horor Aku tidak menjawab hanya sekuat tenaga menahan serangan dari Nenek Tua bungkuk yang sekarang sudah berhenti langkahnya, tidak jauh dari aku duduk.
“Ternyata… ayo!” ucap Nenek Tua, dengan suara yang serak, memainkan rambut panjangnya, menarik anak kecil, berbalik badan,
@bacahorror @IDN_Horor kembali berjalan ke arah pohon tua.
Dalam hatiku terus saja mengucapkan apa yang sebelumnya pernah Bah Amar dan Bah Idim ajarkan.
“Tahu akhirnya Nenek Tua itu, aku berasal dari mana” ucapku, sambil menarik nafas cukup dalam, mengeluarkanya dengan perlahan.
@bacahorror @IDN_Horor Pohon yang sangat besar itu hanya bergetar saja, anehnya tidak adapun angin besar yang menerpa, membuatku cukup kaget sekali dengan apa yang pertama aku lihat.
Dari dalam kamar, terdengar Indra seperti sedang berbicara, mungkin melalui handphone.
@bacahorror @IDN_Horor “Ndra!” ucapku, sambil masuk kamarnya.
“Ini Bah, Budi…” ucap Indra, sambil memberikan handphone kepadaku.
“Bah…” ucapku.
“Ki Duduy sedang di rumah Abah ini ada, jangan dulu di lawan, takutnya malah reaksi berdampak menyebar ke keluarga Suganda, lagian bukan bagian kita Bud! -
@bacahorror @IDN_Horor - dengarkan ucapan Abah ini, jangan bertindak apapun…” ucap Abah perlahan.
“Sulit benar Bah, kuat sekali, anak kecil itu siapa lagi?” tanyaku, semakin penasaran.
“Indra juga sudah bilang, akhir-akhir ini Lasmi sering datang ke rumah itu, inga-ingat semua posisi rumah itu…”
@bacahorror @IDN_Horor ucap Abah Idim, kemudian begitu saja mematikan telepon.
Indra aku suruh tertidur di atas kasurnya, sambil kupijat bagian badanya, karena hampir saja bisa di tarik oleh Nenek Tua barusan, kemudian Indra menceritakan semua posisi rumah tua yang ternyata benar Lasmi pemiliknya.
@bacahorror @IDN_Horor “Apa yang membuat kamu mau Ndra melanjutkan tugas Bah Idim?” tanyaku penasaran, karena memang aku jarang sekali bicara panjang dengan Indra selama berada di rumah Bah Idim.
“Abah cerita, Ki Langsanama cukup berjasa besar pada keluarga besar Kakek, pernah menyelamatkan -
@bacahorror @IDN_Horor - pelarian Kakek sebagai orang sakti di jamannya, walaupun Kakek Indra bukanlah orang baik… tapi berakhir setelah taubat dan mengikuti semua ajaran juga perintah Ki Langsamana, begitu juga yang merubah Bah Idim… makanya hutang budi yang besar itu, waktunya sekarang… -
@bacahorror @IDN_Horor - ketika cucunya Ki Duduy, Pak Gama akan masuk dalam masalah besar Bud…” ucap Indra perlahan menjelaskan, sambil duduk bersila di atas kasur.
“Kamu percaya cerita itu? Bahwa Ki Langsamana benar adanya” ucapku perlahan, walaupun dalam hati besar dan kecil ku merasa tidak pantas
@bacahorror @IDN_Horor mengucapkan hal ini, karena hanya ingin mendengar jawaban dari Indra.
“Lihat, begitu juga dengan tangan kamukan Bud! Rasanya sulit untuk tidak percaya kepada orang tua seperti Bah Idim…” jawab Indra, menunjukan seluruh bulu lengan dan pundaknya yang sudah berdiri begitu saja.
@bacahorror @IDN_Horor “Iyah benar Ndra” jawabku, sambil mengusap kedua lenganku, karena merasakan aura yang datang begitu besar malam ini di dalam kamar Indra.
“Mungkin kita sama Bud… walaupun kamu lebih duluan hidup, tapi kisah Ki Diman kakek kamu dan Bah Amar Bapak kamu, -
@bacahorror @IDN_Horor - pernah Abah Idim ceritakan juga, berjasa besar Ki Langsamana, apalagi kisah perjalannya yang hanya berpindah-pindah tempat untuk menolong…” ucap Indra.
Ucapan Indra membuat badanku bergetar, perasaanku berkecamuk, bukan karena marah, melainkan kembali mengingat semua
@bacahorror @IDN_Horor pepatah almarhum Bah Amar dan Ni Warsih yang pernah di berikan kepadaku.
“Meong…”
“Meong… Meong…”
Tiba-tiba terdengar suara kucing, bahkan baru pertama kali aku mendengarnya, dengan suara yang sangat berat, aku dan Indra seketika saling menatap.
@bacahorror @IDN_Horor “Belum pernah ada kucing Bud sebelumnya disini” ucap Indra, langsung bergerak dari duduk bersilanya.
Namun dengan cepat aku tahan agar Indra tidak langsung berdiri, apalagi di luar yang awalnya sedari tadi terdengar suara tangisan dari arah rumah tua milik Lasmi,
@bacahorror @IDN_Horor setelah suara kucing itu, yang aku yakini bukan sembarang binatang, kini tiba-tiba kembali hening.
“Bud! Soal Dendi?” ucap Indra.
“Anak itu kasihan tidak tahu apa-apa hanya diberi tugas oleh suaminya Lasmi saja, tapi hati-hati, aura kamarnya sudah bukan seperti kamar normal -
@bacahorror @IDN_Horor - pada umumnya, anak itu bisa berbuat kalap, hati-hati sama Dendi!” ucapku, karena merasakan hal yang beda, kamar Dendi sudah dijaga sosok yang diperintahkan Lasmi.
“Jadi apa yang harus aku perbuat Bud?” tanya Indra semakin cemas.
@bacahorror @IDN_Horor “Tenang saja, aku bakal sering berkunjung kesini… setelah tahu seperti ini Ndra… Sudah kamu istirahat besok berkerjakan beres-beres rumah, coba nanti besok cipratkan air ini sedikit saja ke tembok gudang di dalam rumah itu, Bah Idim tidak mengetahuinya, -
@bacahorror @IDN_Horor - ini inisiatif aku saja…” ucapku, sambil mengeluarkan botol kecil dalam saku celana, kemudian memberikannya kepada Indra.
“Sampai habis ini Bud?” tanya Indra, yang masih terlihat bingung sekali.
“Iyah, sudah kamu istirahat…” ucapku, sambil menjatuhkan badan,
@bacahorror @IDN_Horor di samping kasur lantai di kamar kosan Indra.
Indra hanya mengangguk saja setelah menerima botol, kemudian melakukan hal yang sama denganku, karena badanya sudah cukup aku pijat, perlahan mata Indra sudah terlelap, sementara aku masih cemas,
@bacahorror @IDN_Horor tidak mungkin untuk meninggalkan Indra dalam keadaan seperti ini, apalagi sosok di luar, tepatnya di bawah pohon tua itu, sampai sekarang masih memperhatikan ke kamar ini, jelas karena kedatanganku malam ini juga, ke tanah milik Lasmi.
“Suganda benar-benar gila, -
@bacahorror @IDN_Horor - tapi bagaimana bisa Gama tidak mengetahui hal ini…” sambil menatap atap kamar Indra, penuh dengan terheran-heran, tapi bagaimanapun juga, Gama tetap keturunan Ki Langsanama, semua kemungkinan bisa terjadi, di luar perkiraanku malam ini.
@bacahorror @IDN_Horor “Ndra… Ndra bangun Ndra, ini ada orang gila tidur di depan kamar kamu…”
”bentar Hen”
Terdengar olehku suara penghuni kosan yang baru saja bangun mengetuk kamar Indra, padahal sedari adzan subuh, setelah shalat di kamar Indra, memang aku sengaja tidur di lantai depan kamar,
@bacahorror @IDN_Horor agar bisa keluar dari halaman ini tanpa membuat curiga.
“Lah iyah tumben Hendra itu ada orang gila” sekarang salah satu penghuni kosan perempuan yang aku dengar suaranya.
“Jangan Hen, iyah ini Teh Dian, Indra juga kaget, tapi jangan di siram air gitu, pelan-pelan saja”
@bacahorror @IDN_Horor Segera aku terbangun, mataku terbuka, satu perempuan dan laki-laki penghuni kosan sangat kaget ketika melihat wajahku yang tertutup sebagian oleh rambut panjang, termasuk juga Indra.
Aku tidak bicara lagi, hanya tertunduk, kemudian berjalan dengan perlahan ke arah depan,
@bacahorror @IDN_Horor membuat dua orang penghuni kosan terperanga melihat tingkahku pagi ini, termasuk Dendi yang hanya membuka pintu melihat ke arahku dengan tajam, kemudian menutup pintunya kembali.
“Kasihan kamu Den” ucapku dalam hati, sambil tersenyum, melihat tingkah Dendi yang aku yakini bakal
@bacahorror @IDN_Horor sampai informasinya kepada Lasmi, itu membuatku cukup senang.
“Sudah Hendra, Teh Dian, sama Indra saja buka gerbang depan nya” ucap Indra, sambil berlari menyusul langkahku.
Namun karena aku tidak mau membuat para penghuni kosan curiga, kupercepat langkahku,
@bacahorror @IDN_Horor bahkan aku kembali memanjat gerbang, seperti kejadian semalam ketika masuk halaman.
Sebenarnya aku cukup kaget, rumah tua yang aku rasakan bisa berubah seketika suasana nya di pagi hari, namun lagi-lagi untuk kedua kalinya, ada anak perempuan,
@bacahorror @IDN_Horor memperhatikan aku di dalam rumah itu, rambutnya yang terurai dengan wajahnya yang pucat kembali aku lihat.
Sementara Indra hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat ke arahku yang sedang berjalan perlahan, aku hanya melemparkan senyum saja kepada Indra.
@bacahorror @IDN_Horor “Hati-hati…” gerakan mulutku pada Indra.
Indra hanya mengangguk saja tanpa menjawab apapun lagi.

***

7 hari kemudian

Setelah kepulangan dari rumah Lasmi di kota yang sekarang menyimpan Indra disana sebagai penjaga kosan mengantinkan Bah Idim,
@bacahorror @IDN_Horor bahkan kabar pernikahan Gama sudah di gelar, apalagi setelah Bah Idim beberapa kali pulang dari rumah Ki Duduy di kampung, aku masih sibuk dengan aktivitasku membuat anyaman dari rotan, agar bisa sedikit demi sedikit mempunyai penghasilan,
@bacahorror @IDN_Horor membantu segala kebutuhan di rumah Bah Idim.
Sebenarnya, sudah banyak sekali gangguan tiap malam yang datang ke rumah ini, apalagi aku yakin kedatanganku ke rumah Lasmi beberapa hari kebelakang yang menjadi penyebabnya, namun aku tidak bisa bertindak apapun,
@bacahorror @IDN_Horor sebelum Bah Idim memerintah kepadaku, apalagi pesan Bah Amar “Tinggilah adab kamu dari pada ilmu kamu” yang selalu aku pengang menjadi prinsip dalam hidup ini.
“Sudah mulai Bud?” ucap Bah Idim, sambil berjalan ke dapur, di mana tempat aku dan bambu-bambu rotan berada.
@bacahorror @IDN_Horor “Lagi Bah ini” jawabku, apalagi hari baru saja pagi.
“Gama dan Dewi jadi pindah ke rumah itu” ucap Bah Idim perlahan.
Aku benar-benar kaget, apalagi aku tahu betul bagaimana kondisi rumah itu.
“Kapan Bah!” tanyaku kaget.
@bacahorror @IDN_Horor “Jangan gegabah, gelang gengge peninggalan Ki Langsamana sudah bersama Gama, sebenarnya tidak harus terlalu cemas, tapi benar seperti apa yang dikatakan Ki Duduy, Gama belum paham semuanya…” ucap Bah Idim.
“Lalu Bah?” tanyaku sangat kaget, apalagi mendengar satu nama benda -
@bacahorror @IDN_Horor - yang menjadi cerita jaman dulu, kental sekali bagaimana gelang gelang yang dipakai Meong Hideung (kucing hitam) selalu menemani Ki Langsamana.
“Apa benar adanya…” ucapku dalam hati.
Bah Idim hanya mengelangkan kepalanya berkali-kali, sambil jari tanganya terus bergerak,
@bacahorror @IDN_Horor seperti sedang menghitung sesuatu.
“Harusnya malam barusan Gama sudah mendapatkan kecurigaan di rumah Suganda, hari ini pasti pindah ke rumah bekas Lasmi, sudah, pergi sekarang ke rumah itu… mau bagaimanapun juga bakalan terjadi Bud, -
@bacahorror @IDN_Horor - apa yang sudah lama di cemaskan beberapa tahun kebelakang oleh Ki Duduy, semenjak tahu cucunya berhubungan dengan anak Suganda!” ucap Bah Idim.
Segera aku berdiri dan bergegas mengganti pakaian, apalagi aku tahu betul Gama dari cerita Bah Idim orangnya seperti apa.
@bacahorror @IDN_Horor “Bud! Jangan gegabah, tugas kita hanya membantu, rasanya tidak punya adab kita, tidak percaya kepada Gama, namun kecemasan tetaplah kecemasan, pastikan semuanya baik-baik saja” ucap Bah Idim, sambil mengerutkan kulit dahinya.
@bacahorror @IDN_Horor Tidak lama dering telpon terdengar, Bah Idim langsung berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumah.
“Yang benar Ndra… Tunggu jangan bertindak apapun… Budi sebentar lagi akan sampai kesana…” ucap Bah Idim terdengar keras.
“Bah?” ucapku semakin cemas.
@bacahorror @IDN_Horor “Di rumah itu sudah masuk juga temannya Dewi istrinya Gama, namanya Rina, bahaya ini!” ucap Bah Idim.
“Maksudnya Bah?” tanyaku.
“Takutnya malah bakalan terjadi hal-hal di luar keinginan kita… segeralah sampai kesana sebelum Gama mengalami hal-hal aneh di rumah itu, -
@bacahorror @IDN_Horor - bisa-bisa hilang nyawanya Rina… masuk ke dalam rumah yang sedang menunggu tumbal berikutnya, karena Lasmi sudah pulang dari bukit sasar Bud? Apa kamu bisa merasakannya?” ucap Bah Idim.
“Untuk melenyapkan siapa saja yang ikut campur urusan mereka” jawabku perlahan.
@bacahorror @IDN_Horor “Kemungkinannya nyawa Uminya Gama, atau Rina… ini bakalan terjadi, sesuai ucapan Ki Duduy” ucap Bah Idim perlahan.
Aku langsung terdiam, apalagi aku mengetahui betul bagaimana Suganda datang ke leuweung sasar hari itu, aku yang menyambutnya sebagai tamu,
@bacahorror @IDN_Horor Bah Amar yang mengantarnya dan sekarang bagian aku yang harus membereskannya, bersama Gama, walaupun bukan hal yang mudah.
“Pergi sekarang!” ucap Bah Idim.

(Bersambung…)
@bacahorror @IDN_Horor “Aku sayat balik bagian lehernya, sekarang!”
“Budi!”
“Balas budi sekarang waktunya, Jalu!”

Part 3 – Balas Budi, sudah bisa teman-teman baca duluan, klik link langsung.

karyakarsa.com/qwertyping/l-1…
@bacahorror @IDN_Horor “Ingat luka ini… luka yang membawa kesengsaraanku!”
“Kamu hanya anak muda, lihatlah bijaksananya Langsamana seperti apa membiarkan aku
diam, di dalam leweung sasar, anak sialan!”
“Kubur sekarang!”

Part 4 Tamat, baca duluan, klik link langsung.

karyakarsa.com/qwertyping/lew…
@bacahorror @IDN_Horor Terimakasih sudah membaca cerita ini sampai selesai. Kita akan berjumpa lagi di Part 3, teman-teman bisa bantu retweet dan likenya agar yang lain kitu baca juga cerita ini.

Typing to give you a horror thread, thanks for supporting me.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Teguh Faluvie

Teguh Faluvie Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @qwertyping

Feb 26
GAJI PERTAMA, NYAWA TERAKHIR!

“Warung kelontong itu tidak pernah sepi pembeli. Aku sering melihat pocong meludah diantara tumpukan karung beras. Para pekerja tidak bisa pulang, terkecuali tanpa membawa nyawa...”

[A Thread]

WARUNG POCONG Image
Di sebuah rumah teramat sederhana bertembok bilik dan berlantai tanah. Seorang perempuan muda yang baru saja tamat sekolah SMP sedang duduk melamun di atas kursi bambu reyot. Perempuan itu tidak bisa melanjutkan sekolah karena terhalang masalah ekonomi.
“Rika.. Ka..”
Lamunan perempuan bernama Rika sontak buyar. Ketika Galih sahabatnya berlari mendekat.
“Santi mau telepon, barusan ada sms masuk,” ucap Galih sambil mengatur nafas.
“Aduh Lih, aku sebenarnya belum bicara sama Emak, tapi dari pada aku tidak sekolah, mending kerja...”
Read 52 tweets
Oct 31, 2024
KAMPUNG KASARUNG

Diatas tanah kampung Jayamati, semua dipertaruhkan. Terdapat harga setimpal untuk kesepakatan, sekalipun itu kesesatan dan kematian.

"A THREAD"

[ Part 7 Tamat ]

@bacahorror @IDN_Horor
#bacahoror Image
Selamat datang kembali di Kampung Kasarung bagian akhir, berarti sudah menunggu cerita baru yang akan segera hadir. Mohon doa agar semua lancar.

Untuk teman-teman yang belum baca part sebelumnya dari cerita Kampung Kasarung ini, silahkan klik tautan di bawah.
Read 26 tweets
Oct 24, 2024
KAMPUNG KASARUNG

Diatas tanah kampung Jayamati, semua dipertaruhkan. Terdapat harga setimpal untuk kesepakatan, sekalipun itu kesesatan dan kematian.

"A THREAD"

[ Part 6 ]

@bacahorror @IDN_Horor
#bacahoror Image
Hallo selamat datang kembali di Kampung Kasarung, mohon maaf sebelumnya cerita ini baru kembali berlanjut, karena ada satu kesibukan dan mohon doanya agar semua berjalan lancar.
Untuk teman-teman yang belum baca part sebelumnya, silahkan klik tautan.

Part 1
x.com/qwertyping/sta…

Part 2
x.com/qwertyping/sta…

Part 3
x.com/qwertyping/sta…

Part 4
x.com/qwertyping/sta…

Part 5
x.com/qwertyping/sta…
Read 28 tweets
Oct 4, 2024
Permainan yang nggak pernah bakal gw ulang seumur hidup! Sampai gw trauma kalau denger ANAK-ANAK HITUNG 1.. 2.. 3.. SAMPAI 10, saat mereka main PETAK UMPET!

Gw masih ingat di kasih makan dalam wadah batok kelapa, yang ternyata itu cacing hidup!

"A THREAD"

#bacahoror Image
Image
Cerita ini adalah kiriman sender melalui DM, dia dapat teror setelah melanggar sesuatu ketika main petak umpet, ‘DIPIARA’ istri guru ngaji berhari-hari dan ‘TEROR’ yang ngeri! Bayangin dia dikasih makan cacing! bagian paling bikin gw mual!
Yuk langsung aja. Saya disini hanya membagikan cerita yang sudah dirapikan sedikit, atas kesepakatan dengan sender, agar lebih nyaman dibaca.
---------
Read 62 tweets
Sep 18, 2024
KAMPUNG KASARUNG

Diatas tanah kampung Jayamati, semua dipertaruhkan. Terdapat harga setimpal untuk kesepakatan, sekalipun itu kesesatan dan kematian.

"A THREAD"

[ Part 5 ]

@bacahorror @IDN_Horor
#bacahoror Image
Selamat datang kembali teman-teman di Kampung Kasarung, kita akan memasuki Part 5. Tapi sebelum itu ada informasi penting yang harus teman-teman ketahui, pre order buku Kampung Jabang Mayit, diperpanjang!
Teman-teman yang belum ikut memesan Buku Kampung Jabang Mayit , kini bisa ikut kembali dari tanggal 16-20 September 2023. Kolaborasi dengan @djomuhammad di terbitkan oleh @bukune berikut tautan pre order, bisa langsung klik!

🛒 linktr.ee/kampungjabangm…Image
Read 32 tweets
Sep 5, 2024
KAMPUNG KASARUNG

Diatas tanah kampung Jayamati, semua dipertaruhkan. Terdapat harga setimpal untuk kesepakatan, sekalipun itu kesesatan dan kematian.

"A THREAD"

[ Part 4 ]

@bacahorror @IDN_Horor
#bacahoror Image
Selamat datang kembali teman-teman di Kampung Kasarung, mohon maaf beberapa minggu kebelakang harus absen karena ada beberapa kesibukan yang tidak bisa dilewatkan, serta kesehatan yang sedikit terganggu. Semoga upload kali ini seperti biasa dapat menemani kamis malam kalian.
Kini kita akan memasuki Part 4. Tapi sebelum itu ada informasi penting dulu yang harus teman-teman ketahui. Tepat tanggal ini, mulai tanggal 3-9 September, Buku Kampung Jabang Mayit sedang dalam Pre Order.
Read 38 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(