Terowongan Paledang, sebuah terowongan kecil di dekat Stasiun Bogor arah ke Sukabumi ini sekarang mungkin hanya terlihat sebagai terowongan pendek biasa.
Namun, sebelum direnovasi dan ditinggikan seperti sekarang, terowongan ini menyimpan sejarah peristiwa kelam yang terus membayang bayangi penduduk yang ada di sekitar lokasi tersebut, keluarga korban, serta para saksi mata.
Tepatnya pada tahun 2000 lalu, jembatan ini menjadi saksi bisu tewasnya belasan orang yang menumpang di atap kereta akibat tidak memperhitungkan celah yang sangat kecil antara jembatan dengan atap kereta.
Kengerian peristiwa itu masih terekam jelas pada diri Dayan, satu diantara sedikit penumpang atap yang berhasil selamat, meski ia harus kehilangan orang orang yang begitu berharga baginya.. butuh lebih dari 20 tahun, hingga akhirnya Dayan mau menceritakan lagi hari kelabu itu..
Januari, tahun 2000
Pagi itu suasana lebaran yang jatuh tiga hari sebelumnya masih sangat terasa di salah satu kawasan perumahan Bekasi. Dayan, saat itu berkumpul dengan teman teman di dekat rumahnya seperti biasa, mengobrol, makan dan sesekali tertawa.
Hingga salah satu teman Dayan berinisiatif mengadakan camping, untuk mengisi waktu senggang mereka saat momen libur lebaran tersebut.
Awalnya dari sebelas orang yang berkumpul saat itu, Dayan adalah satu satunya yang ragu dan menolak untuk ikut. Namun Omen, sahabat paling dekat Dayan saat itu meyakinkannya bahwa ia harus ikut kegiatan tersebut.
Akhirnya Dayan ikut dan sebelas orang itu sepakat untuk camping di Gunung Gede, Sukabumi.
Dayan dan teman temannya menyiapkan segara peralatan saat itu juga. Mereka membawa tas keril, perlengkapan memasak, beras, gitar dan lain lain.
Setelah semua anggota menyiapkan barang bawaan masing masing, mereka berkumpul lagi dan kembali mengobrol ngobrol dulu sejenak.
Salah satu teman Dayan yang membawa gitar saat itu juga sempat memainkan gitarnya dan menyanyikan lagu yang riliknya ia ubah.
“naik, naik, ke puncak gunung.. naiik ga turun turuun” dendangnya, yang dibalas tawa oleh teman teman yang lain.
Setelah tidak ada lagi yang ditunggu, mereka bersebelas yang terdiri dari Dayan, Omen, Jucung, Iyap, Agay, Ajay, Eksi, Bes, Bokir, Sega dan Kopral memulai perjalanan mereka dari Stasiun Pondok Kopi (saat ini Klender Baru) menuju Manggarai.
Dari Manggarai mereka harus berpindah kereta ke arah Bogor. Saat itu juga sempat terjadi insiden ketika kaki salah satu rombongan itu terjatuh ke peron, beruntung meskipun saat itu ada kereta yang lewat, rekannya itu tidak mengalami cedera apapun.
Beberapa waktu kemudian kereta tujuan Bogor akhirnya tersedia dan singkat cerita mereka tiba di stasiun Bogor. Dari stasiun Bogor Dayan dan teman temannya harus menaiki kereta relasi ke Sukabumi.
Namun ternyata kereta Bogor-Sukabumi siang itu mengalami kendala hingga mengakibatkan penumpukan penumpang di stasiun Bogor.
Barulah menjelang sore, kereta tujuan Sukabumi memasuki peron. Penumpang yang sudah menumpuk lantas menyerbu gerbong kereta tersebut.
Saat itu transportasi kereta memang belum serapi dan setertib saat ini. Penumpang baik legal maupun ilegal bisa menumpang di atap kereta. Hal ini bahkan jadi pemandangan yang biasa kala itu.
Melihat begitu sesak dan padatnya penumpang, baik di dalam maupun di atap kereta membuat Dayan ragu untuk naik kereta tersebut dan hendak berganti moda transportasi bus. Tapi karena beberapa temannya sudah terlanjur naik, Dayan mau tidak mau akhirnya menaiki kereta itu.
Mereka terpisah menjadi 2 kelompok, 9 orang menumpang di atap kereta termasuk Dayan dan Omen, sedangkan 2 orang, Kopral dan Bes berada di dalam gerbong.
Ketika naik ke atap, Omen yang membantu Dayan naik mengingatkannya untuk memilih milih tempatnya duduk karena ada beberapa cipratan noda merah yang sepertinya adalah darah kering.
Pihak stasiun Bogor saat itu sebenarnya sempat melarang para penumpang atap dan meminta mereka untuk turun. Beberapa orang mengindahkan himbauan itu, sementara sisanya tatap bertahan di atas kereta hingga kereta berjalan meskipun cuaca saat itu gerimis.
Penumpang di bagian atap didominasi oleh orang orang yang sepertinya juga mau melakukan kegiatan alam. Menurut Dayan, ada banyak penumpang atap yang juga membawa tas keril dan terlihat berpenampilan seperti kelompok pecinta alam. Kereta akhirnya melaju menuju Sukabumi..
Biasanya, dalam rombongan penumpang atap kereta, terdapat orang orang yang bertugas sebagai komando, mereka biasanya adalah para penumpang yang ada di atap gerbong pertama dari arah laju kereta.
Tugas mereka adalah memberitau hambatan di depan dan memberikan aba aba untuk penumpang di atap gerbong gerbong belakangnya untuk bersiap. Biasanya yang menjadi penghalang adalah talang besi dan jembatan.
Kalau yang diteriakkan adalah “jembatan”, penumpang lain harus bersiap menunduk setengah badan, jika “talang” penumpang harus benar benar serendah mungkin. Dayan dan teman temannya bergantung pada aba aba ini karena mereka tidak tau bagaimana jalur kereta ini di depan.
Namun naas, menurut pendapat Dayan, sepertinya penumpang atap gerbong depan diisi oleh “anak anak baru” yang tidak mengetahui tata cara memberikan komando..
“Jembatan!” teriak orang dari arah depan yang diestafetkan ke orang orang hingga sampai ke gerbong belakang.
Semua orang memasang posisi siap dengan merundukkan setengah badannya, namun tiba tiba saja..
TANG! TANG! TANG!
Terdegar suara sesuatu yang menghantam benda logam dengan sangat keras. Beberapa orang di depan roboh. Komando memberikan arahan yang salah karena ternyata yang ada di depan adalah sebuah talang. Dayan sempat merunduk namun tidak dengan Omen disisinya.
Kepala Omen terhantam talang besi dengan sangat keras hingga besi itu “tercetak” di kepalanya. Omen roboh dan langsung meninggal seketika akibat hantaman talang pertama itu. Namun sebelum Omen jatuh dari atap, Dayan berhasil memegangi tubuh temannya itu.
Satu tangan Dayan ia gunakan untuk menjaga tubuh Omen agar tidak jatuh, satu tangan lagi ia gunakan untuk berpegangan pada kawat di atap kereta. Dayan sempat melihat ke gerbong belakang dan mendapati penumpang yang ada di atap sudah berkurang dari sebelumnya.
“Jembatan!” tiba tiba terdengar teriakan itu lagi dari arah depan dan kembali terdengar suara benturan yang sangat keras dari arah depan hingga ke belakang.
Para penumpang diatas sudah menjerit ketakutan. Beberapa orang sudah tergeletak tanpa nyawa setelah kepalanya membentur talang kereta. Sebagian lagi jatuh, antara memang kehilangan kesadaran atau sengaja.
Namun sayang beberapa yang jatuh pada akhirnya terpantul kembali ke arah rel dan terlindas kareta akibat sisi kiri dan kanan jalur tersebut berisi dinding miring yang jaraknya tidak begitu jauh dari lebar kereta.
Belum selesai sampai disana, kini di hadapan Dayan ada jembatan pertama yang bercelah sangat kecil. Dayan akhirnya mengambil keputusan berat untuk melepas Omen karena tidak mungkin ia bisa selamat dengan posisi seperti itu.
Dayan dengan menahan tangisnya melepas tubuh sahabatnya itu hingga terjatuh dari kereta dan Dayan merayap ke sisi membulat kereta untuk mendapatkan ruang sedikit lebih lebar ketika kereta melewati jembatan.
Saat sedang merayap, tepat di atas jembatan itu Dayan melihat seorang wanita aneh berbaju merah yang melambai lambai ke arah mereka. Setelah kejadian ini, Dayan diberi tau, sosok itu mengalihkan perhatian sisa penumpang di atap.
Hitungan detik sangat berharga saat itu, dan karena mereka melihat ke arah wanita tadi, banyak orang yang tidak sempat merunduk dan akhirnya tubuhnya “tersangkut” karena tidak berhasil melewati jembatan.
Jembatan pertama yg dikenal dgn jembatan Paledang hampir menyapu bersih orang orang yg ada di atap. Hanya sedikit yang masih bertahan. Bahkan gitar yang teman Dayan bawa saat itu hancur begitu juga tas keril yg ia bawa, hingga beras berterbangan ke gerbong di belakangnya.
Dayan terus bertahan pada posisi itu meski tangannya sudah berdarah karena berpegangan pada kawat. Hingga akhirnya ia sadar kaca kereta yang berada di kakinya adalah sebuah jendela. Dayan mencoba berayun masuk ke dalam gerbong kereta dan berhasil.
Dengan wajah panik dia berteriak
“BERHENTIIN KERETANYA! DIATAS BANYAK YANG MATI!” namun wajah ketakutan itu bukan hanya terlihat dari Dayan saja, melainkan juga dari wajah para penumpang di dalam gerbong.
Saat itu Dayan sadar saat melihat ke sekelilingnya, kaca kaca gerbong disana sudah terciprat darah darah segar dari para korban diatas. Dan para penumpang gerbong dari tadi menyaksikan orang orang berjatuhan dari atas dan terlindas kereta tanpa bisa berbuat apa apa..
Kereta pada akhirnya berhenti di Batu Tulis. Dayan langsung keluar dan berjalan menyusuri rel yang ia lalui sebelumnya. Mayat mayat bergelimpangan di sepanjang rel itu dengan kondisi yang mengenaskan. Banyak yang tubuhnya sudah terpotong potong dan berceceran.
Warga sekitar saat itu juga sudah banyak yang tumpah ruah ke jalur kereta untuk mengevakuasi korban dan mengambil ceceran tubuh korban yang terpencar pencar.
Dayan dan beberapa temannya yang masih selamat mencari keberadaan teman temannya yang tidak ada lagi di kereta.
Pertama, Dayan berhasil menemukan jasad Omen yang sebelumnya ia lepas. Lalu mereka juga menemukan Ajay yang jatuh di talang kedua. Saat ditemukan Ajay masih bernafas, namun dari mulutnya terus mengeluarkan busa. Sayang saat menuju RS PMI, Ajay meninggal dunia.
Selain itu jasad Sega juga ditemukan meninggal dunia pada salah satu sisi jalur kereta. Dan terakhir jasad Eksi juga ditemukan. Total, dari 11 orang rombongan Dayan, 4 orang diantaranya meninggal dunia.
Para korban segera dievakuasi ke RS PMI, dan sebagian lagi dievakuasi di sebuah mesjid yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Rombongan Dayan sendiri bertemu dengan seorang ibu yang menampung ia dan rombongannya di rumahnya.
Ibu ini juga yang akhirnya menenangkan rombongan Dayat dan membelikannya tiket kereta perjalanan tadi, karena tiket mereka saat itu dipegang oleh Ajay yang menjadi korban jiwa tragedi tersebut.
Ibu tersebut juga menggeledah tas Dayan dan teman temannya dan mengeluarkan hal hal yang bisa mempersulit urusan mereka nanti dengan kepolisian, seperti senjata tajam yang mereka bawa untuk persiapan di gunung gede nanti yang bisa saja disalah artikan sebagai alat tawuran.
Mereka ditampung di rumah itu hingga pihak kepolisian datang. Mereka diperiksa dan digeledah. Setelah tidak ditemukan hal mencurigakan dan terkonfirmasi mereka adalah penumpang kereta tersebut, mereka akhirnya meminta untuk ke RS PMI Bogor dan menghubungi keluarga korban.
Dayan menelpon keluarganya di rumah dan mengabari ia dan teman temannya mengalami musibah. Pada pukul 1 dini hari, keluarga Dayan dan teman temannya tiba di RS PMI dan langsung memeriksa kamar jenazah.
Salah satu yang hadir adalah abang dari Omen, sahabat Dayan. Dayan saat itu langsung mengungkapkan permintaan maafnya karena tidak bisa menyelamatkan adiknya,
“Bang.. maaf gue gabisa jagain adek lu.. gue udah coba pegangin Omen tadi bang.. tapi keadaanya tadi.. gue terpaksa.” Cerita Dayan sambil tidak bisa menahan tangisnya di hadapan abang Omen yang sudah terasa seperti keluarganya sendiri itu.
Akhirnya jenazah Omen, Eksi, Sega dan Ajay dibawa pulang dan dimakamkan. Saat pemakaman, Dayan terus menerus pingsan, terutama saat prosesi pemakaman sahabatnya, Omen, orang yang jadi alasan ia ikut ke rencana camping itu, namun justru menjemput kematiannya disana..
Kehilangan 4 orang tadi benar benar membuat wajah perumahan tempat tinggal mereka berubah. Meski masih dalam suasana lebaran, keadaan yang semula riang dan ramai berubah sepi..
Dayan menolak untuk keluar rumah, begitu juga dengan keenam temannya yang lain. Mereka baru akan berkumpul lagi saat tahlilan keempat korban.. bagaimanapun kedekatan mereka bersebelas yang harus berakhir dengan tragis itu benar benar membekas lama.
Beberapa hal ganjil sempat terjadi sebelum dan sesudah kejadian, hal ini disampaikan sendiri oleh Dayan setelah diberitau oleh orang orang di kawasan rumahnya. Sega, salah satu korban tewas, tepat pada hari kejadian sempat pulang ke rumahnya.
Selain itu saat hari tahlilan, Eksi datang ke rumah Jucung dan menanyakan keberadaan Jucung kepada ibunya..
“Bu, Jucung mana?” tanyanya.
“Lah, lagi pada tahlilan. Lu ga ikut?” ujar ibu Jucung.
Eksi saat itu juga pergi dan barulah ibu Juncung sadar Eksi adalah salah satu korban meninggal dunia.
Terlepas dari hal hal diluar nalar yang terjadi pasca tragdi tersebut baik di perumahan tempat keempat korban tinggal dan di lokasi kejadian, trauma yang dialami Dayan serta teman temannya terus membekas selama berbulan bulan setelahnya.
Dayan bahkan selalu menunduk ketika melewati jembatan atau apapun, padahal ia mengendarai mobil atau transportasi lainnya.
Ia juga trauma untuk menaiki kereta api untuk waktu yang lama. Bayang bayang Omen disaat saat terakhirnya juga masih terus membekas dan tidak pernah bisa Dayan lupakan hingga hari ini..
Kisah haru sekaligus memilukan ini disampaikan langsung oleh Dayan di video Youtube channel @RJL5_official dengan judul "Persahabatanku Berakhir di Terowongan Paledang".
Versi lengkap dan detail cerita dari narasumber bisa kalian tonton pada link berikut :
Semoga kisah ini menjadi pelajaran akan pentingnya keamanan bagi semua orang apapun transportasi yg ia gunakan. Kita doakan semoga para korban diterima disisi-Nya..
• • •
Missing some Tweet in this thread? You can try to
force a refresh
Tau ga, dulu Menteri Agama RI pernah ngegali area sekitar prasasti Batu Tulis Bogor buat cari harta karun yang konon bisa lunasin hutang negara. Tapi dia ngelakuin itu cuma berlandaskan omongan dukun yang dia percaya.
sebuah utas
Selama ini, kita mendengar banyak masyarakat umum yang menjadi korban penipuan dukun atau paranormal yang mengaku dapat melakukan ini dan itu.
Rendahnya pengetahuan, himpitan ekonomi dan sugesti kuat seringkali jadi alasan para korban mudah terpikat janji manis para dukun.
Tapi gimana kalau korban penipuan dukun adalah seorang Menteri Agama Republik Indonesia yang masih menjabat? Dan parahnya lagi ia sampai merusak situs peninggalan sejarah demi mencari harta terpendam yang dijanjikan sang dukun?
Wanita di kiri bawah foto ini adalah nenek Asyani. Ia bersimpuh, menangis dan memohon ampun kepada hakim agar tidak dipenjara karena dituduh mencuri 7 batang kayu jati "milik" Perhutani.
sebuah utas
Nenek Asyani atau yang bernama asli Muaris adalah seorang lansia 63 tahun yang tinggal di Jatibanteng, Situbondo, Jawa Timur. Sehari hari, beliau bertahan hidup sebagai tukang pijat.
Nenek Asyani membuka praktek itu di rumahnya, sebuah rumah petak 6x5 meter sederhana bantuan dari pemerintah kabupaten karena pada 2004 dahulu nenek Asyani menjadi korban banjir bandang parah di dusun asalnya, Secangan.
Tubuhnya tak besar, wajahnya murah senyum dan ramah. Namun ia berhasil mengalahkan dan mengusir Hercules, preman paling ditakuti kala itu, dari Tanah Abang.
Inilah kisah Bang Ucu Kambing, Panglima Perang Betawi yang legendaris.
sebuah utas
Hercules atau yang bernama asli Rosario de Marshall belakangan kembali diperbincangkan setelah organisasi yang ia pimpin dan bentuk, GRIB JAYA mengalami masalah dengan terlibat beberapa keributan.
Hercules sendiri bukanlah nama yang baru, ia sudah sejak dulu terkenal sebagai salah satu pimpinan preman paling ditakuti di Jakarta pada era 90an.
Rizkil Watoni, seorang ASN yang BD akibat depresi setelah diperas oknum polisi belasan hingga puluhan juta agar kasus salah pahamnya tidak dibawa ke persidangan.
Setelah memotong kemaluan korban hidup hidup dan menampung d4rahnya untuk diminum, pelaku memut1l4si dan menjual daging korban dengan kedok daging sapi. Salah satu pembelinya bahkan sudah mengonsumsinya sebagai olahan rendang hati.
a thread
M. Delfi adalah seorang pemuda yang tinggal bersama ayahnya, Basri Tanjung, di Kabupaten Siak, Riau. Sehari hari, ia bekerja serabutan. Terkadang ia membantu ayahnya berjualan sate, kadang mengambil upah sebagai buruh bangunan.
Hingga akhirnya ia menjadi karyawan sebuah usaha isi ulang galon. Saat usianya masih sangat muda, 19 tahun, pada Februari 2013 ia menikah dengan Dita yang juga berumur sama dengannya. Namun pernikahan ini kandas hanya 8 bulan setelahnya tanpa sempat memiliki keturunan.