Budaya : Pakaian, Tarian, Praktik Hidup, atau Sistem Sosial?
Ketika kita bicara budaya, yang pertama terlintas di kepala kita mungkin adalah gambaran mental seorang perempuan yang sedang menari atau pakaian batik? Itu hanya wujud budaya materiil yang disebut artifak.
Wujud budaya tak hanya berupa artifak materiil. Wujud budaya yg lebih tinggi adalah aktivitas atau tindakan yang berpola di masyarakat, sperti aktivitas cium tangan kpd yg lebih tua, bekerja bakti membersihkan lingkungan sekitar, menjenguk tetangga yg terkena musibah -
atau bisa saja aktivitas suap menyuap antara rakyat dan pejabat publik juga termasuk bagian dari aktivitas budaya. Menurut J.J. Hoenigman, wujud tertinggi dari budaya adalah kumpulan ide, pikiran, nilai, norma, & sistem sosial yang berada di alam pikiran masyarakat. Sistem sosial
Feodal dimana manusia nya merasa bahwa ketika mereka menjadi pejabat publik, mereka seolah olah menjadi penguasa raja yang mesti dilayani dan dipenuhi segala permintaan nya. Wujud budaya mana yang harus kita lestarikan? Tarian, aktivitas suap menyuap, atau sistem sosial feodal?
Orang orang yg memiliki cara pandang pendek dan materiil menyangka bahwa yang budaya adalah hanya sebatas tarian, busana, dengan embel embel pakem nya. Terkadang menyoal itu dgn membabi buta. Tapi mrk tak sadar, ada wujud budaya lebih tinggi yg urgent untuk diperbaiki.
Yakni budaya suap menyuap, korupsi, dan sistem sosial yang feodal. Akal mereka tak mampu berfikir sejauh itu. Pokoknya, yang budaya ya tarian dan pakaian saja!
Lha ini kenapa hanya teriak teriak soal wujud budaya artifak materiil saja? Knp ga menyoal wujud budaya korup & feodal? Apa gembar gembor menyoal pelestarian wujud budaya artifak materiil, agar budaya korup dan feodal sepi dari pusat perhatian sehingga tetap lestari? 😁😁😁
• • •
Missing some Tweet in this thread? You can try to
force a refresh
Professor Mohammad Yamin : the first man with Pancasila
Prof. Mohammad Yamin, S.H. lebih populer dengan sebutan Moh Yamin merupakan sosok kelahiran Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat pada 24 Agustus 1903. Moh Yamin beragama Islam lahir dari pasangan ayah bernama -
Tuanku Oesman Gelar Baginda Khatib dan ibu bernama Siti Saadah.
Moh Yamin menempuh pendidikan di Hollandsh-Inlandsche School atau HIS Palembang. Kemudian, ia melanjutkan pendidikannya di Algemeene Middelbare School (AMS) di Yogyakarta.
Di AMS, Moh Yamin mempelajari terkait purbakala dan bahasa. Bahasa yang ia pelajari adalah bahasa Latin dan Kaei. Setelah lulus dari AMS, Yamin melanjutkan pendidikannya ke Leiden Belanda. Namun ia urungkan rencana itu karena Ayahnya meninggal dunia.
Sultan Hamid II : Arab-Indonesia dan Garuda Pancasila
Sultan Hamid II adalah sosok yang merancang lambang negara Indonesia ; Garuda Pancasila. Ia merupakan putra sulung dari Sultan Pontianak ke-6 Sultan Syarif Muhammad Al Kadrie. Dalam tubuhnya mengalir darah Arab-Indonesia.
Saat Sultan Hamid II menjabat sebagai Menteri Negara Zonder Portofolio dan selama jabatan menteri negara itu pula dia ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang, dan merumuskan gambar lambang negara.
Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dg nama Panitia Lencana Negara di bwh koordinator Menteri Negara Zonder Portofolio Sultan Hamid II dg susunan panitia teknis Muhammad Yamin sbg ketua, Ki Hajar Dewantoro, M. A. Pellaupessy, M Natsir, dan R.M. Ngabehi Poerbatjaraka.
Welfare state merupakan suatu bentuk pemerintahan di mana negara/ institusi melindungi dan memajukan kesejahteraan ekonomi dan sosial warganya, berdasarkan prinsip-prinsip kesempatan yang sama, distribusi kekayaan yang adil,
dan tanggung jawab publik kpd warga negara yang tidak mampu untuk dapat menjalani kehidupan minimal yang baik.
Zakat yang juga merupakan salah satu dari lima rukun Islam dan merupakan bentuk pajak penghasilan wajib sebesar 2,5% yang harus dibayar oleh semua individu yang
berpenghasilan di atas ambang dasar untuk menafkahi orang yg membutuhkan setahun sekali. Umar (584–644) sbg pemimpin negara waktu itu, mendirikan welfare state melalui pendirian Baytul-mal (perbendaharaan), yg digunakan untuk penyimpanan harta di setiap wilayah yg diperuntukkan
Di sebuah rak buku, sudut perpustakaan sekolah, terlihat sekumpulan buku buku yg nampak sudah begitu lawas dan berdebu. Seolah hampir hampir saja, tidak ada yang pernah menyentuh mereka. Satu diantara buku buku itu berjudul alam pikiran yunani, yg ternyata
adalah karangan dari salah satu dari banyak tokoh nasional paling populer saat itu. Saya cukup surprised bahwa ternyata tokoh yang lebih sering dikenal sebagai salah satu bapak proklamasi dan wakil presiden pertama dalam sejarah republik, ternyata adalah seorang penulis. Bukan
Bukan sekedar penulis biasa, tapi penulis buku ibu nya segala ilmu pengetahuan, yakni filsafat. Saya pun duduk di meja perpus paling pojok dekat jendela melanjutkan membaca. Lembar per lembar, saya baca dengan cermat. Semakin membaca, semakin terbawa oleh gaya tulisan beliau.
Agak jengah hari hari ini semakin lama ruang publik di isi oleh diskursus yg sedari dulu itu itu saja. Toleransi, relasi antar pemeluk agama, dan Isu isu primordial lainnya. Dibumbui glorifikasi tokoh politik dgn gimmick & drama local
wisdom nya.. Gimmick blend in sama people of the lower class.. Drama didhzolimi diawal kemudian dipilih..
Come on.. The future is shaped not by gimmicks and dramas but by projected vision through clear and intellect based ideas with multi, trans, inter disciplinary approach..
Masa depan itu dibentuk oleh visi. Visi yang jelas dari ide yg jelas pula. Ide yg berasal dari akal yg memahami pendekatan ilmiah thdp masalah. Kompleksitas masalah kontemporer tdk bisa dipecahkan oleh akal yg linier. Pendekatan trans, multi, & inter disiplin sgt diperlukan.
Sains adalah produk dari metodologi ilmiah. Metodologi ilmiah memiliki beragam aliran dan paradigma. Tak cuman satu. Setidaknya ada empirisme, postivisisme, positivisme logis, teori kritis, konstruksivisme dll. Jika melalui observasi panca indera,
disebut empirisme. Jika dapat dibuktikan secara logis, disebut positivisme logis. Dan seterusnya. Prinsip air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah adalah contoh sains dari paradigma empirisme. Dapat diamati oleh panca indera. Jarak antara bumi dan matahari disebut
382,500 km itu tidak empiris tapi secara matematis logis. Maka dapat disebut ilmiah. Dan seterusnya. Sains itu tidak harus selalu empiris. Tidak selalu harus dibuktikan oleh panca indera. Keilmiahan Tuhan dpt ditinjau dari paradigma positivisme logis melalui pembuktian matematis