Bahkan ramainya beranda medsos macam Putri Ariani, goodbye Twitter, Syiah, Puspom TNI & UU ITE, tak mampu membendung hasrat saya mengulas siapa sosok Karyoto sbnrnya. Banyak yg mengira ia seputih bersihnya pasir Savanna.
Meski lebih muda, ia lulus seangkatan dgn Firli Bahuri di Akpol 1990. Mereka berdua tercatat ada di satu satuan reserse alias polisi rahasia. Sejak 2020-2023, dia juga sekantor dgn Firli di Gedung Merah Putih, Kuningan, Jaksel.
Satunya jadi Dep. Penindakan KPK, satunya lagi sbg Ketua. Karyoto & Firli memang pinang dibelah 2, apalagi dlm urusan melawan hukum. Jejak Karyoto masuk rapor merah setidaknya sejak menjadi penyidik di KPK pada periode 2004-2008.
Di thn-thn itu, dokumen rahasia KPK pernah dibocorkan ke Polri oleh Karyoto. Kebetulan, di masa itu ialah puncak saling sikut antara KPK & Polri, yg dipantik peristiwa penangkapan Komjen Suyitno Landung sbg terdakwa kasus pembobolan BNI Rp 1,7 triliun.
Suyitno adalah senior Karyoto di satuan reserse. Kasus itu sendiri bermula dari laporan KPK yg diungkap ke publik, meski akhirnya ditangai internal Polri. 2016 silam, kontroversi lain Karyoto, dia pernah tak diloloskan menjadi Dir. Monitoring KPK.
"Banyak sumber masukan terbuka & tertutup tentang seorang calon," ungkap Saut Situmorang, Wakil Ketua KPK periode 2015-2019, mengenai alasan lembaganya tak bisa merekrut Karyoto.
Setahun sblmnya, Jan. 2015, ketika menduduki Dirkrimum Polda Yogya, bekerja sama dgn seorang petinggi parpol, dia terendus menyiapkan skenario kriminalisasi utk Abraham Samad & Bambang Widjojanto, 2 pentolan KPK saat itu.
Baru saja ditetapkannya Komjen Budi Gunawan atas kasus rekening gendut oleh lembaga antikorupsi saat itu memicu sejumlah anggota Polri bergerak mengamankan pimpinan mereka. Istilah peristiwa ini dikenal dgn "Cicak vs Buaya Jilid 3".
Feb. 2015, sebulan setelahnya, sembari membawa surat panggilan dari Bareskrim utk pejabat KPK, juga utk meminta data kasus besar, ia bertandang ke lembaga antirasuah itu.
Pada thn itu pula, Karyoto disebut mendesak diberikan CD rekaman pemeriksaan suatu kasus lain yg sdg ditangani KPK. Pengawas Internal KPK kemudian menyanksi pegawainya yg berkontak dgn Karyoto dlm perkara itu.
Kontroversi lain Karyoto adalah kesertaannya terkait kasus tambang pasir ilegal di sekitar Gunung Merapi & Kali Opak di Yogya. Di Okt. 2019, Kali Opak dinormalisasi dgn menyedot pasir oleh Kepolisian Perairan Yogya.
Kebutuhan membangun dermaga kapal polisi air dibuat alasan saat itu. Proyek ini disahkan 3 bln usai Karyoto menjabat Wakapolda DIY. Dlm proyek ini, ia melibatkan perusahaan Muhammad Suryo, PT Surya Karya Setiabudi.
Sejak 2016, Surya Karya juga disebut terlibat melakukan aktivitas pengerukan pasir ilegal di Sungai Bebeng, Magelang. Sblmnya, Karyoto dikenal jadi pembeking Suryo dlm kasus serupa di kawasan Merapi.
Menurut warga sekitar, nama Karyoto memang terkenal di kalangan penambang pasir. Kasus ini mencuat ke publik ketika ramai penolakan atas penambangan dgn cara menyedot lantaran dpt merusak hutan bakau, juga menganggu usaha pertanian & peternakan warga.
Lagi pula, kala didesak warga, Polisi Perairan Yogya & Surya Karya tak bisa menunjukkan surat izin normalisasi. Kasus ini juga sdh dikonfirmasi Tri Bayu Adji, Kepala Balai Besar Sungai Serayu-Opak semasa itu.
Menurut Bayu, aktivitas penambangan 200 rb kubik Surya Karya tak berizin, sbb sekali pun tak pernah meminta surat rekomendasi teknis. Surat ini adalah pintu masuk utk mendapat izin penambangan dari Dinas Penanaman Modal & Pelayanan Terpadu Satu Pintu Jateng.
Setelah melayangkan surat teguran, Bayu mengaku sering mendapat panggilan telepon dari seorang polisi, yg memaksa Balai Besar supaya tak ikut campur dlm urusan ini. "2-3x ditelpon orang yg mengaku Brigjen Karyoto," ujar Bayu waktu itu.
Bersama Karyoto, Suryo lalu bertandang ke Balai Besar di 27 Mar. 2017. Berdasar pengakuan pegawai Balai Besar yg menjamu mereka, krn Bayu sdg tak ada di tempat, Karyoto bahkan marah-marah & mengancam.
Perkara surat izin itu akhirnya digugat Surya Karya, meski belakangan sdh dicabut. "Kegiatan ini bukan domain Balai Besar," kata Layung, kuasa hukum Surya Karya, kpd awak media ketika itu.
Kabar ditangkapnya Kabasarnas yg memantik kekisruhan KPK & TNI sepertinya lebih hot diulas, ketimbang membahas linimasa medsos macam polwan cantik yg selingkuh, atau gosip pertemuan Gregoria Mariska Tunjung & Angga Yunanda di 18 Agustus.
TNI bergerak menuju Gedung Merah putih, Kuningan, Jaksel, sore tadi, usai mendengar berita miring yg menjerat anggota mereka. Dgn sigap & penuh geram, rombongan pimpinan Danpuspom TNI Marsda Agung Handoko itu hendak meminta klarifikasi KPK terkait status tersangka personelnya.
Nyaris panas, dlm audiensi itu TNI menuding KPK salah prosedur. Seharusnya, penetapan tersangka pada militer aktif oleh penegak sipil tak dibolehkan. Mereka merujuk ke Pasal 10 UU 14/1970 Tentang Kekuasaan Kehakiman.
Sungguh menyedihkan di Kamis ini, saat surplus APBN yg dibangga-banggakan Jokowi justru jadi alarm bahaya, kita malah sibuk dgn ramainya linimasa seperti Puan Maharani, Cinta Laura, berapa aja, #ceritaserem & Daddies.
Sept. thn kemarin, di depan raut wajah anggota Banggar DPR RI, dgn antusias tinggi, pemerintah menyodorkan target pertumbuhan ekonomi di akhir 2023 sebesar 5,3%.
Dlm rapat Paripurna saat itu pemerintah meyakinkan, RI tak akan terseret situasi ekonomi dunia yg tengah terombang-ambing. Target sebanyak itu melampaui prediksi Bank Dunia.
Tulisan ini bukan membahas tren Twitter macam Cak Nun, Nanakoot yg bau kencur, Alshad, Rio Dewanto & Bu Susi. Tapi, mengulas kembali bagaimana Windu jadi broker ulung. Bukan main, salah satu pembekingnya adalah Karyoto.
Muhammad Suryo berusia 39 thn. Ia pengusaha di banyak sektor. Pria asal Yogyakarta ini mengenal Windu Aji Sutanto usai Pilpres 2014 lalu. Dia juga yg mengenalkan Windu ke pejabat kepolisian. Kebetulan, Suryo punya banyak teman di institusi itu.
Irjen Karyoto adalah salah seorang yg dikenalkan kpd Windu. Kala itu, nama pertama masih menjabat Wakapolda DIY. Jenderal bintang 2 itu mendapat tugas baru sbg Kapolda Metro Jaya, menggantikan Komjen Mohammad Fadil Imran pada 27 Mar. lalu.
Saya enggan mengulas tren Twitter Xvideos, Xwitter, Justyn Vicky & Sheila. Saya masih tertarik dgn pembahasan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yg disinyalir menerima suap & menyalahi wewenangnya.
Sejak pagi, 18 Juli kemarin, Kejaksaan menunggu Airlangga Hartarto. Kejagung memanggil Menko Perekonomian itu utk mendengar penjelasan dia mengapa kebijakan ekspor bisa terbit saat kelangkaan migor membuat ibu-ibu rumah tangga hingga pedagang menjerit.
Sampai gelap langit melarut di hari itu, hingga pintu di tiap sudut Kejagung dikunci, bau badan Airlangga tak juga terendus. Menjelang pkl 21.00 di hari yg sama, Kejagung memastikan Ketum Golkar itu tak memberi alasan seucap pun atas mangkirnya dari pemeriksaan.
Singkirkan sejenak kabar Keisya, Jerome Polin, Agus Harimurti & Afung. Sbb, ada yg lebih penting, yakni terbentuknya korupsi memang selalu dimulai dari maladministrasi, & bisa jadi Airlangga ikut punya peran di dlmnya.
Perubahan harga minyak goreng, karena pasokannya terbatas di lapangan, sejatinya sdh berlangsung sejak 2019. Namun, pemerintah benar-benar baru meresponsnya di awal 2022, menggunakan Permendag No. 1, 3, 6, 8, 11 Thn 2022. Itu pun langsung tercium skandal.
6 Apr. 2022 lalu, di 5 kota, puluhan penyidik Kejagung menyisir rumah Indrasari Wisnu Wardhana, Dirjen Perdagangan Luar Negeri & gedung Kemendag, serta PT Mikie Oleo Nabati industri di Bekasi.
BEHIND THE SCENE TERHENTINYA PETUALANGAN BINAL WINDU
[Utas]
Semoga ramainya linimasa dgn tren sekunder macam Plaza Semanggi, Jawa, Suzy & malam 1 tak memalingkan kabar ditangkapnya Windu Aji terkait tambang ilegal. Ada cerita unik di balik penangkapan dia dgn Akbar Faisal.
Dua-duanya dulu pernah berkarib, jadi teman sepanggung mengajak khalayak memberi suara utk Jokowi saat Pilpres 2014. Mereka jadi timses saat itu. Mereka ialah Windu Aji Sutanto & Akbar Faizal.
Sblm masuk timses, nama pertama ialah pebisnis lumayan sukses. Ia punya bisnis tambang pasir di Bangka Belitung & pengolahan emas di Bandung.