Panglarangan : Mantra Pengikat Roh Pendatang di Tanah Kalimantan.
Bab 10 : Keanehan Yang Mencurigakan
Jangan lupa Reply, Rt dan Qrt yak, biar semangat nih up nya 😁
Cc @IDN_Horor #bacahoror #bacahorror #Ceritaserem #ceritahoror #kalimantan #santet #borneo #malamjumat
Aku terduduk dengan perasaan cemas. Lututku gemetaran sementara jantung berdegup kencang. Tubuhku telah banjir keringat dan nafasku tersengal.
Aku ingin bangkit tapi tenagaku sudah benar-benar habis. Aku mundur perlahan-lahan sembari menggeser pantat di atas tanah.
Aku mundur sangat hati-hati supaya tidak menimbulkan bunyi. Di dalam hati aku mulai berdoa memohon perlindungan.
Di hadapanku, peti mati itu hanya diam tergeletak. Darah segar merembes sedikit demi sedikit dari sisi penutupnya, seperti air yang meluber dari bak mandi.
Pekatnya kabut membuat bentuknya terlihat samar, menyatu dengan gelap malam. Hanya aroma busuk bangkai uyang membuatku tahu bahwa di depanku ada benda yang sangat menakutkan.
Sreeek…
Aku terbelalak, peti mati itu mandadak berdiri.
Braak…
Terdengar suara benturan amat keras. Tutup peti itu terbuka, jatuh menghempas tanah. Debu-debu beterbangan, dedaunan kering berhamburan. Detik berikutnya adalah pemandangan yang sangat mengerikan.
Jasad anak buah Ateng Kayau tiba-tiba terlempar dari dalam peti dengan bentuk tak sempurna dan jatuh beberapa meter di sampingku. Dagingnya koyak dan jasadnya berlumuran darah. Bau busuk semakin menyeruak membuat perutku menjadi mual.
"Mas Ancah, nang kene! Mas Ancah!"
Teriakan Pakde kembali bergema. Suara mesin mobil terdengar meraung-raung dari ujung sana. Aku menghela napas lega, harapanku untuk keluar dari perkebunan sawit ini dalam keadaan hidup masih ada. Kukumpulkan sisa tenaga, kupaksakan berdiri lalu meraih senter yang tergeletak.
Rasa takut membuat tenagaku perlahan pulih. Aku lari terpincang di antara rerumputan, di bawah barisan pohon pawit yang menjulang. Tujuanku adalah cahaya lampu mobil yang temaram di balik kabut.
Di belakang, entah apa yang terjadi. Suara gesekan antara peti kayu tua dan tanah terdengar menjauh. Aku tidak berani berspekulasi. Aku berlari dan terus berlari dalam keadaan kalut. Sesekali aku berjinjit untuk mengurangi rasa sakit karena kaki yang terkilir.
Mulutku tak berhenti memanggil-manggil Pakde agar mereka mengetahui keberadaanku. Aku nekat melompati parit dan berhasil mencapai tepi jalan dengan pipi mendarat duluan. Menahan perih, aku merangkak, meraba-raba tanah latrit yang keras.
"Mas, ayo!"
Aku mendongak. Kulihat wajah Pakde yang cemas penuh debu dan keringat. Segera kuraih uluran tangannya dan berdiri perlahan. Sekitar 10 langkah di depan, kulihat mina Kurik berdiri di tengah jalan. Tangan kirinya berlumur darah, sedangkan tangan kanannya menggenggam dohong.
Bulu-bulu ayam berserakan di atas tanah, di atas kubangan darah. Bulu-bulu itu sebagian menempel di tangan dan bajunya.
Ia lantas melangkah sembari membersihkan bulu ayam dan darah yang ada di tubuh.
Mungkin, ia baru saja menyembelih seekor ayam dan melemparnya sehingga kambe raung tadi tidak jadi mengejarku.
Aku dan Pakde segera menyusul, berjalan menuju mobil yang terparkir di depan. Kupercepat langkah, berjalan di samping mina Kurik yang tampak gusar.
"Mina…Terima kasih mina telah menyelamatkanku," kataku pelan.
Cuiih…!
Ia tak menjawab, justru meludah ke samping. Wajahnya kusut, tak sudi menatapku. Wanita paruh baya ini terus melangkah tanpa menghiraukanku.
Aku juga tak ambil pusing. Yang penting, masalahku dengan Ateng Kayau sudah beres dan kambe raung itu sudah menghilang.
*****
Mobil kembali melaju di atas jalan latrit, dan aku sudah di balik kemudi.
Dibyo berada di kursi tengah, gantian dengan Pakde yang duduk paling belakang. Ia rupanya sudah membaik, inhaler cadangan membuat nyawanya tidak jadi melayang.
Dalam kecepatan tinggi, kami terkesiap saat melihat di sebelah kanan jalan.
Mobil Ateng Kayau rupanya terperosok ke dalam parit. Kap depannya penyok, mengeluarkan asap putih dan bunyi berdesis. Serpihan kaca berserakan hingga ke badan jalan,
sementara separuh tubuh Ateng Kayau tergeletak di kap mobil sedangkan bagian pinggang hingga kaki tertahan di kursi supir. Sepertinya preman itu mengalami kecelakaan, bisa jadi karena dikejar kambe raung. Aku bersyukur, akhirnya preman itu mati mengenaskan.
Mobil melaju melewati perkebunan sawit yang luas membentang. Kabut asap perlahan menipis seiring malam yang kian larut. Sejauh mata memandang, tidak ada satu pun tanda-tanda kehidupan. Bahkan tidak terdengar suara hewan-hewan malam, entah burung hantu ataupun serangga.
Kebakaran hutan dan lahan membuat binatang lari mengungsi, sebagian lagi mati terpanggang dilalap api.
Blok site demi blok site perkebunan sawit telah terlewati, tak ada satu pun lalu lalang kendaraan.
Di kiri dan kanan jalan, pohon-pohon sawit yang sudah panen tinggi menjulang, berbaris berjajar dengan rapi. Sudah lebih dari dua jam kami membuang waktu di tempat ini sementara waktu untuk tiba di pelabuhan semakin tipis.
Sepanjang jalan, semua orang tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tidak ada yang bicara, semua trauma dengan apa yang telah dilewati.
"Berapa sisa waktu kita untuk tiba di pelabuhan?"
Pertanyaan mina Kurik akhirnya membuka obrolan.
Kuperhatikan jam digital di dashboard, sudah menunjukan pukul 23.05 WIB. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum bicara.
"Kita akan telat sekitar satu jam dari rencana awal. Tapi kupastikan kalian akan tiba sebelum kapal berangkat."
Jawabanku tidak membuat mina Kurik tenang.
Aku tahu ia khawatir. Rasa gelisah jelas sekali terlihat di wajahnya.
"Jika kalian gagal ke Jawa, kukembalikan semua uang kalian," lanjutku.
Mina Kurik melirikku sinis. Pernyataanku barusan tetap saja tidak membuatnya percaya.
"Mina, terima kasih telah menyelematkanku."
Mina Kurik menghela napas, tatapannya lurus kedepan.
"Hanya kau yang tahu jalan keluar dari perkebunan ini. Jika tidak, kau sudah kutinggalkan agar mati dimangsa kambe raung."
"Raung?" Aku menoleh, "apa itu kambe raung? Belum pernah aku melihat yang mengerikan seperti itu."
Awalnya mina Kurik enggan menjawab. Namun, bukan hanya aku yang penasaran. Orang-orang yang duduk di kursi belakang juga rupanya ingin tahu. Dengan berat hati akhirnya mina Kurik bicara.
"Kambe raung, hantu peti mati. Dahulu, ketika orang Dayak meninggal dunia peti matinya tidak dikubur, melainkan digantung di atas pohon di tengah hutan. Setelah beberapa tahun, tulangnya diambil kemudian diadakan ritual Tiwah, upacara kematian terakhir.
Tulang-tulang itu disimpan di rumah kecil yang disebut Sandung, yang dibangun di depan rumah keluarga yang meninggal."
"Terus, kenapa bisa bergentayangan seperti itu?"
"Orang-orang tertentu, meninggal membawa harta benda yang berharga.
Peti matinya diberi mantra agar tidak ada yang mencuri. Raung tidak akan mengejar jika kita tidak masuk ke wilayahnya. Namun, ada juga orang jahat penganut ilmu hitam menggunakan raung untuk mencelakai orang lain," jelas Mina Kurik.
"Jadi, kau yang memanggil kambe raung tadi?"
Mina Kurik menggeleng, "raung gentayangan… keluarganya tidak ada yang mengurus. Peti matinya dibiarkan terbengkalai di hutan. Karena itu, ia gentayangan mencari mangsa. Raung itu memakan daging manusia, dengan harapan mereka bisa hidup lagi jadi manusia."
Aku menelan ludah berkali-kali mendengar penjelasan mina Kurik. Seketika bulu tengkukku berdiri tegak. Rasanya tak masuk akal dan sulit dinalar. Akan tetapi, apa yang kami alami barusan juga bukan mimpi. Aku menarik napas, mencoba menjaga kewarasanku.
"Jadi…karena itu kau melarangku keluar dari aspal. Aku pernah mendengar, orang Dayak bisa mengirimkan sihir kepada siapa saja selama incarannya menjejakan kaki di atas tanah."
Mina Kurik lagi-lagi bungkam. Aku tahu ada sesuatu yang mereka sembunyikan.
Sepertinya dugaanku sebelumnya semakin jelas. Pertama hantu api, lalu kambe raung. Orang-orang ini telah berbuat sesuatu yang membuat tetua Dayak marah. Dan kini, kemarahan itu telang mengintai kami dari balik gelap malam, menyatu bersama kabut asap yang selalu mengiringi.
Kulirik spion tengah, kulihat Bude, Dibyo dan Pakde terdiam membisu. Mereka terlihat gamang. Wajah mereka cemas seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Dibyo menggenggam erat kalung rosario dengan tangan gemetar dan wajah pucat.
"Siapa preman-preman tadi? Kenapa mereka mengejarmu?"
Mina Kurik mengalihkan pembicaraan. Kini ia mencoba menyudutkanku.
"Orang bayaran yang disuruh untuk membunuhku. Alasannya, kau tahu sendiri," jawabku apa adanya.
Mina hanya bergumam tak jelas dan aku pun tak peduli. Kutambah kecepatan, mobil bergetar melewati jalan tanah kuning yang tak mulus. Setelah melewati beberapa persimpangan dan belokan, kami akhirnya kembali ke jalan utama.
Para penumpang tersenyum lebar. Wajah mereka terlihat sangat lega saat mobil kembali melaju di atas aspal. Gurat harapan juga terpancar jelas di wajah mereka yang sedari tadi risau.
"Ingat, jangan lagi melakukan kesalahan! Semoga perjalanan kita tidak ada halangan hingga tiba di pelabuhan," ujar mina seraya melirik ke arahku.
Aku hanya mengangguk sambil terus berkonsentrasi pada jalan.
Meski kabut semakin tipis dan jarak pandang bertambah luas, jalanan yang sepi tetap saja memaksaku harus memacu mobil dengan hati-hati. Garis putih putus-putus di tengah jalan jadi satu-satunya pemandu agar tidak terperosok ke dalam jurang.
Mobil terus bergerak di malam yang semakin larut. Suara dering telepon di laci dashboard tiba-tiba mengagetkanku. Hampir saja aku lupa bahwa tadi menyimpan handphone di situ. Aku sedikit lega. Akhirnya ada sinyal, pertanda sebentar lagi ibukota kabupaten tetangga.
Suara dering terus berbunyi hingga mina Kurik menjadi jengah.
Kupelankan mobil dan membuka laci untuk meraih handphone. Mina Kurik berdehem saat melihat ada belati di situ tapi tak kugubri. Nama yang tertera di layar seketika membuyarkan konsentrasiku.
Panggilan kutolak dan handphone kukembalikan ke tempat semula.
"Siapa? Ada hal penting?"
"Gak, mina. Bukan siapa-siapa," jawabku berbohong.
Sebenarnya yang menelpon adalah Atak Pelanduk.
Dugaanku, ia telah tiba di perbatasan dan menunggu kedatangan kami untuk menjalankan rencana rekayasa perampokan.
… berkentang…
Membeli paku di pasar keramat
Pakunya bagus tak punya karat
Para pembaca pasti sepakat
sampai bertemu di malam jumat.
Btw, bab 11-12 sudah tersedia di @karyakarsa_id . Monggo yang ingin investasi kuota buat saya 😁🙏
Jelai Ekot berdiri di hadapan tumpukan mayat orang-orang Sirau yang menggunung—beralas daun-daun kering, ranting-ranting patah serta susunan kayu bakar.
Ia setengah putus asa dan setengah gila. Bau busuk yang menusuk hidung tak ia hiraukan. Tatapannya kosong memandang ribuan lalat yang beterbangan. Di antara tumpukan jasad korban keganasan perang itu, terbujur kaku mayat ayah, ibu serta saudara-saudaranya.
Putir Sameh selesai melantunkan doa-doa, Jelai Ekot maju ke depan. Ia tarik kedua mandaunya dari pinggang—sepasang mandau kembar, lebih pendek dari ukuran biasa—lalu ia adu seperti menggesek batu asah. Baja mantikai itu mendecit seperti tikus lantas terperciklah api.
Menurut keterangan tetangga kos korban, Novi (20) sempat mendapat ancaman setelah melaporkan ulah mesum bapak kos. Sesudah itu, mahasiswi cantik itu ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan.
Keterangan ibunya di seberang telpon membuat Andi semakin bertanya-tanya. Ia teramat yakin bahwa kekasih adiknya itu telah berbohong sebab tak mungkin bisa mengumpulkan uang begitu banyak dalam waktu singkat.
Dua letusan pistol di belakang kepala, membuat tengkorak sang driver ekspedisi berlubang tembus ke dahi. Lelaki yang mencari nafkah demi anak istri itu tewas bersimbah darah di tangan oknum Polisi kemaruk berpangkat Brigpol.
-Utas-
Rabu siang 27 November 2024, Haryono (37) mengemudikan mobil Daihatsu Sigra melintasi jalan trans Kalimantan Palangkaraya- Kasongan dengan kecepatan sedang.
AC mobil telah disetel full, tapi Haryono tetap saja bercucur berkeringat. Tangannya yang memegang setir gemetar hebat sementara jantungnya berdetak tidak karuan.
Jambri rupanya tak bisa berharap banyak pada aparat kepolisian yang lamban. Dengan segenap tekad, ia bergerak melakukan penyelidikan hingga akhirnya berhasil meringkus pembunuh anak dan cucunya.
-Utas-
Kamis (10/10/24) sekira pukul 09.00 WIB, Jambri dilanda gelisah. Sedari pagi, anak perempuannya yang bernama Vina belum juga datang. Pesan whatsapp yang ia kirim hanya centang satu.
Padahal, anak pertamanya itu sudah berjanji akan datang pagi-pagi sekali untuk membantu ibunya membuat kue. Selain itu, Jambri dan istrinya juga sudah tak sabar hendak bertemu cucu mereka.
Mansur (57) alias Terosman alias Kete membunuh majikannya Dasrullah (45) dengan sadis. Sesudah itu kelamin korban dipotong, diiris-iris, direbus, dikasih garam dan bawang lalu dijadikan lauk makan nasi.
-Utas-
Mansur adalah lelaki yang dikutuk kemiskinan. Keadaan yang demikian membuatnya jadi bengis, sadis dan penuh amarah menyala.
Jauh sebelum jadi pembunuh,-lalu menyantap kemaluan korbannya,- Mansur hanyalah buruh upah tani. Hasilnya pas-pasan.
Sehari makan nasi, dua hari makan angin. Begitulah setiap hari.
Jika ada panggilan, ia membantu menanam atau menuai padi. Jika tidak ada, Mansur menjadi pencuri kelas teri. Apapun ia curi demi mengganjal perut anak dan istri.
Kamis 26 September 2019 adalah hari yang kelam bagi KM (17). Jam menunjukan pukul 07.30 pagi, KM menggali lubang sedalam 30 sentimeter menggunakan cangkul dan linggis di pekarangan pondoknya yang reot.
Di belakang, sang ayah Robendi (43), mengawasi dengan mata merah menyala.
“Barake! Mun jida, ikau ji pateikuh! (Cepat! atau kamu yang kubunuh!)” ancam Robendi dengan suara menggelegar.
Dengan tangan gemetar, remaja pria itu memasukan jasad adik sekaligus keponakannya ke dalam lubang galian.
Sesekali ia meringis, babak belur di sekujur badan akibat gebukan ayah kandung belum sepenuhnya pulih.