mwv.mystic Profile picture
Jun 15, 2024 300 tweets >60 min read Read on X
PALASIK MAYIK
PART 2

Ilmu hitam peminum air bekas mandian jenazah dari Sumatera Barat

utas
@IDN_Horor @ceritaht @bacahorror Image
Ini adalah lanjutan dari part 1. Buat yang baru bergabung, part 1 bisa dibaca terlebih dahulu di utas ini

Makan malam hari itu benar benar terasa berbeda. Tidak ada cerita Kanda, tidak ada juga Ros yang selalu memastikan semua anggota keluarga cukup makan. Malam ini untuk pertama kalinya Taufik dan Fajri makan hanya berdua dalam kesunyian.
Kehadiran orang tua mereka hanya berasal dari sayur nangka basi yang mereka kunyah lalu telan sambil terus berdoa.
Rumah itu tidak memiliki radio apalagi televisi untuk mengusir suasana sepi. Biasanya, celotehan Fajri bersama Kanda dan suara pekerjaan dapur Ros yg tidak pernah selesai sudah cukup untuk memberikan kesan ramai. Meskipun semikian, keduanya masih bisa menikmati makan malam itu.
Tidak ada rasa jijik dan mual. Fajri bahkan memastikan ia tidak menyisakan satu sendokpun kuah di wajan. Ia menyerok dasar dan pinggiran wajan itu seolah tidak rela sedikitpun masakan ibunya itu terbuang sia sia selain ke dalam perutnya.
Setelah makan, kondisi badan keduanya cukup bertenaga. Setidaknya cukup untuk membuat mereka terlelap malam ini dan tidak menahan sakit di perut yang sejak kemarin malam tidak makan apapun selain air mineral gelas.
“Mau tidur dimana?” tanya Taufik ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.

“Sama abang boleh?..” tanya Fajri.

“Boleh. Fajri duluan aja ke kamar ya. Abang bersih bersih dulu sebentar” ujar Taufik sambil mengemasi piring piring bekas makan mereka.
Fajri mengiyakan dan masuk ke kamar Taufik yang tepat berada di sisi kiri ruang tengah.
Taufik menyalakan lampu dan berjalan ke arah dapur. Saat tiba di pintu antara dapur dan ruang tengah, ia kembali merasakan kesunyian yg sama, bahkan saat itu terasa lebih sunyi lagi setelah-
-Fajri tidak bersamanya. Walaupun rumah mereka sudah kembali terang seperti semula, namun tetap itu tidak mengurangi kegelapan dalam dirinya karena kehilangan yang sangat berbekas.
Taufik memandangi lantai tempat ibunya terakhir memberikan pelukan padanya dan Fajri. Ia bisa mengingat saat ibunya mencium kening mereka kemarin malam dan pergi menuju ruang tengah dengan keberaniannya, lalu tidak terlihat lagi hingga sekarang.
Ia juga memandangi tumpukan kain lembab yang kemarin ia dan Fajri angkat masih berada di sudut ruang dapur. Jika saja ia tidak mengangkat jemuran kemarin, mungkin ia tau apa yang sebenarnya terjadi.. atau lebih baik, ia juga berakhir sama seperti ayah dan ibunya hadapi..
Seperangkat alat makan yang baru saja ia gunakan segera Taufik bilas di bak tampungan air. Dengan menggunakan serabut kelapa yang diberi sabun tombak, Tufik mencuci seluruh piring, wajan dan gelas lalu menaruhnya di rak piring.
Dadanya lagi lagi terasa sesak saat melihat dua buah piring dan gelas yang terakhir ibu dan ayahnya gunakan malam tadi sudah berada di rak piring bersih. Warga yang datang siang tadi sudah terlebih dahulu membersihkan piring itu tanpa seizin Taufik.
Sudah sekian kalinya Taufik mengela nafas dan coba mengatur emosinya yg sebenarnya sulit dibendung. Air mata selalu ia cegah mengalir keluar dari ujung matanya. Ia sebenarnya tau bahwa hal seperti ini akan tiba, karena manusia tidak akan lepas dari kematian termasuk orang tuanya.
Namun ia tidak menyangka bahwa hal itu akan terjadi secepat ini dan dan ia langsung kehilangan keduanya sekaligus dengan cara tidak wajar.

Ketika Taufik masih sibuk dgn pekerjaan menyucinya, Ia mendengar suara langkah seseorang yang berjalan di tanah berlumpur di samping rumah.
Taufik seketika menghentikan gosokan serabutnya dan menyimak suara yang terdengar cukup jelas karena kondisi rumah benar benar hening malam itu.

“Tap.. Cak .. tap..Cak.. tap...Cak..”
Taufik mengenali sekali suara sendal yang tersangkut di lumpur itu. Suara “cak” dihasilkan dari usaha pengguna sendal itu menarik sendalnya dari lumpur basah.

Seseorang itu berjalan menjauhi posisi Taufik, suaranya bergerak dari sisi luar yang sejajar dengan dapur menuju ke-
-bagian depan rumah.

Taufik hendak memeriksa keluar untuk melihat siapa orang yang lewat di sebelah rumahnya itu. Karena sebenarnya aneh, rumah ini adalah rumah paling ujung di desa ini dan di balik dinding dapur itu adalah jalur tanah berlumpur yang jarang dilalui orang.
Namun tiba tiba..

“AYAAAHHHH!!” Fajri berteriak kegirangan dari arah kamar.

Taufik tersentak dan meninggalkan pekerjaannya untuk memeriksa ke ruang tengah. Memastikan bahwa Fajri tidak mengigau atau justru suara tadi adalah halusinasinya saja.
Tetapi ketika ia baru saja sampai di pintu pemisah dapur dengan ruang tengah, tirai penutup kamar mereka tersibak dan Fajri keluar dari baliknya.

Fajri dengan riang berlari dari kamar ke ruang depan sambil berteriak kegirangan memanggil ayahnya.
“FAJRI!” panggil Taufik mencegah tindakan adiknya itu.

“AYAAHH!! AYAAH!!” panggil Fajri ketika sudah sampai di hadapan pintu yang dikunci dengan grendel besi bagian atasnya.
Taufik tersentak kaget mendengar panggilan yang Fajri ucapkan. Ia bergegas menjemput adiknya itu agar kembali ke kamar serta menghentikan perilakunya.

“Jri.. udah yuk. Ayah ga pulang. Abang udah selesai, ayo tidur” ujar Taufik dari ruang tengah.
“abang bukain pintu buat ayah, Fajri ga sampai” pinta Fajri sambil menjinjit berusaha meraih grendel besi yang berada dua kali lipat dari tinggi tubuhnya.

Taufik menghela nafas iba. Ia yakin sebegitu rindunya Fajri dengan ayahnya meskipun baru satu hari keduanya tidak bertemu.
Ditambah lagi Fajri sudah begitu kelelahan hari ini sehingga mengkhayal seperti ini.

Taufik dengan lembut memegang tangan adiknya itu dan menariknya agar segera beranjak dari pintu.
“Jri, udah yuk ke kamar, istirahat.. ayah belum pu..”

“Naak.. Anak ayah...”
Jantung Taufik seakan berhenti berdetak. Tubuhnya terpaku sambil masih memegangi tangan Fajri.

“Iya ayah sebentaaar” ujar Fajri lagi membalas panggilan itu tanpa ragu.
Pandangan Taufik berpindah pindah antara Fajri dan pintu di depannya. Ia yakin ia tidak salah mendengar suara tadi. Dan Fajri juga menjawab panggilan suara yang terdengar seperti ayahnya itu.
Langkah Taufik yang semula hendak membawa adiknya ke kamar tertahan. Ia mematung di posisinya tanpa tau apa yang harus ia lakukan.

“Bang, bukain pintunya, ayah pulang” pinta Fajri sekali lagi dengan wajah penuh harap.
Taufik menggeleng lemah pada adiknya. Ia masih dalam keyakinan bahwa suara yang ia dengar bukanlah suara ayahnya dan ia hanya salah dengar.

“Jri.. Fik..” panggil suara itu lagi.. dan kali ini memanggil namanya dan Fajri.
Taufik menelan ludah. Ia menarik Fajri ke belakang tubuhnya dan memberikan gestur menyuruh adiknya itu agar mundur lebih jauh lagi. Lalu dengan perlahan, Taufik mendekat ke arah jendela yang berada di samping pintu depan.
Dengan berjinjit, Taufik melangkah mendekati jendela untuk menyibak gorden kuning yang menghalanginya untuk melihat keluar. Ia tidak mungkin membuka begitu saja rumah ini saat malam hari dalam keadaan tidak ada satupun orang dewasa bersama mereka. Rumah ini masih memiliki banyak-
-barang berharga yang bisa jadi incaran orang jahat.

Sementara Taufik berjalan mengendap, Fajri hanya memperhatikannya dari belakang.

“Taufik.. ko ayah naak” (Taufik.. ini ayah naak) ujar suara dari balik pintu itu.
Taufik tidak menjawabnya. Karena saat itu ia sudah sangat dekat dengan jendela, bahkan kini tangannya sudah memegang ujung gorden dan hanya tinggal menyingkapnya dgn tiba tiba, agar orang yg ia duga adalah orang iseng di depan pintu rumahnya tidak memiliki cukup waktu untuk lari.
“satu.. dua.. tiga!” hitung Taufik dalam batinnya.

SRAK!

Kosong. Tidak ada orang atau apapun saat itu di depan pintu rumah mereka. Taufik memaju mundurkan wajahnya dari kaca untuk memastikan benar benar tidak ada orang diluar sana.
“Tuh kan Jri..”

“HAHAHAHAHA AYAAAAH!” dari belakang Taufik, Fajri tiba tiba saja bersorak dan lari ke arah dapur.

“HEI FAJRI!” cegah Taufik lagi, namun Fajri berlari dengan sangat cepat ke dapur.

“Ayaah, ayaaah, ayaaaah” ujar Fajri di depan pintu belakang berpalang kayu.
Tangan Fajri terangkat seolah bersiap menyambut pelukan Kanda sebagaimana biasanya ayahnya itu lakukan sepulang kerja.
Taufik terenyuh. Sepertinya ia sudah sangat salah memilih untuk tinggal berdua saja dengan Fajri walaupun hanya satu malam. Ia tidak tau titik lelah dan rindu Fajri bisa berakibat seperti ini.
Taufik mulai berpikir, mungkin memang pindah dan tinggal dengan Om Suja adalah pilihan terbaik untuk keduanya.. dan cepat atau lambat, Fajri juga sudah harus tau apa yang terjadi. Tapi tentu tidak dengan bahasa frontal yang akan semakin memperburuk mentalnya.
“ayaah, ayaaah, ayaaah” panggil Fajri berulang ulang masih di posisi yang sama.

“Fajri.. udahlah dek.. ayah gaakan pulang malam ini..” ujar Taufik sambil berjalan ke arah dapur.

“Ayah...hm..” Fajri tiba tiba berhenti memanggil ayahnya.
Fajri tertunduk sambil menghadap pintu belakang. Melihat itu Taufik khawatir ucapannya sudah melampaui batas dan sudah seharusnya ia meminta maaf.

“Eng.. Jri bukan begitu maksud abang tapi ayah bakal..”
DUGH!

Fajri membenturkan kepalanya ke palang kayu pengunci pintu belakang itu dengan keras.

“Fajri???? HEH KAMU NGAPAIN??!!”

DUGH! DUGH! DUGH! DUGH!

Fajri terus membenturkan kepalanya bertubi tubi.

“HEH!!! FAJRI! BERHENTI!!!”
“LIHAT ABANG JAHAT AYAH!! ABANG JAHAT!! AYAH!!!” teriak Fajri sambil terus membenturkan kepalanya.

Taufik menjerit dan langsung berlari ke arah Fajri. Ia memeluk kepala adiknya itu dari depan dan merelakan tulang dadanya menjadi pemisah antara kepala Fajri dgn pintu kayu itu.
“JRI! Gausah sampai begini!” bentak Taufik sambil menahan nafas karena rongga dadanya terus disundul oleh Fajri.

Meskipun abangnya sudah kesakitan, Fajri tidak menurunkan kecepatan dan kekuatan benturannya. Dada Taufik pada akhirnya ngilu karena benturan kepala adiknya sendiri.
“JRI!! DEK!! UDAH!!” teriak Taufik sambil menahan kepala adiknya.

Merasa cara pertamanya tidak berhasil menenangkan Fajri, Taufik membungkukkan badannya dan memeluk tubuh adiknya itu dengan erat.
“FAJRI! DENGARKAN ABANG! JANGAN NYAKITIN BADAN KAMU SENDIRI! ABANG TAU KAMU KANGEN AYAH, TAPI..”

“hooammm..”
Tiba tiba pintu kamar Taufik terbuka.. dan dari balik tirai, Fajri dengan wajah mengantuk keluar sambil menguap.
Kemunculan Fajri dari kamar membuat Taufik tidak menyelesaikan kalimatnya. Matanya terbelalak dan nafasnya tercekat. Fajri harusnya ada di pelukannya sekarang.. tapi kenapa ada Fajri lain disana?
Taufik mencoba menggerakan tangannya yang masih memeluk badan dan kepala adiknya. Ia bisa merasakan kepala dan badan itu masih ada di pelukannya. Bahkan lewat ujung matanya, ia bisa melihat telinga adiknya yang sejajar dengan matanya.
Tapi.. kalau yang ia peluk ini juga nyata, lalu mana Fajri yang sebenarnya..

“Kenapa bang?..” tanya Fajri yang terbangun karena suara berisik abangnya.

Namun Taufik tidak menjawab. Ia terpaku dalam keadaan masih memeluk Fajri yang kini tidak lagi memanggil manggil ayahnya.
Peluh Taufik menetes. Ia menelan ludahnya dan mengembuskan nafas panjang. Perlahan ia memundurkan kepalanya agar ia bisa melihat wajah Fajri yang sedang dalam pelukannya.

“Abang tau semuanya tapi abang biarkan ayah dan ibu mati..” bisik Fajri dan..

Krek!
Leher Fajri di pelukan Taufik tiba tiba terkoyak dan menggantung ke sisi punggungnya. Wajah Fajri membiru dengan urat urat menerawang dari balik kulitnya. Mata dan mulutnya dialiri darah kehitaman yang terus menetes keluar..
Kita lanjut NANTI MALAM JAM 20.15 wib. Bantu like dan retweet sampul part 2 diatas yaa.

Ebook part 2-5 sudah tersedia di Karyakarsa. Yg mau baca duluan, bisa akses ebooknya melalui link dibawah.
karyakarsa.com/Mwvmystic/part…
“AARGHHHHAH!!” Taufik menghempaskan tubuh Fajri yang ada di pelukannya dan tersentak mundur hingga membentur pintu kayu.

Fajri yang melihat abangnya tiba tiba histeris segera berlari menghampirinya dengan panik.
“BANG??!! BANG??!!!” panggil Fajri sambil berusaha menenangkan Taufik yang menutup wajahnya menggunakan tangan.

“AAARGHH!! AAARGH!! PERGI!!!” Ujar Taufik masih histeris sambil menepis bantuan Fajri dengan tangan dan kakinya.
Kepala dan lengan Fajri terkena pukulan itu. Namun Fajri tetap mendekati tubuh Taufik dan berusaha memeluk tangan abangnya. Saat ia berhasil memeluk lengan Taufik, Fajri merasakan aura panas dari kulit Taufik seperti orang demam.
“Abang ini adek! Bang! Bang! Ini Fajri bang!” ujar Fajri sambil berusaha membuka tangan Taufik yang terus menutupi mata dan kepalanya.

Perlahan Taufik akhirnya membuka matanya. Ia mendapati Fajri dengan wajah khawatir sedang berjongkok di depannya. Tangan kecilnya memegangi-
-lengan Taufik, sementara beberapa bagian wajahnya memerah terkena pukulan Taufik tadi.
“Bang?.. ini Fajri. Udah sadar? Abang mimpi apa?...” panggil Fajri sekali lagi dengan polosnya.

“Jri?..” Taufik masih dalam keraguannya.
Fajri menggangguk.
“Ya Allah.. Astaghfirullah..Fajri maaf..” Taufik segera memeluk Fajri karena sadar sejak tadi ia tanpa sengaja sudah memukul tubuh adiknya itu karena ketakutan. Ia tidak tau apa yang baru saja terjadi dan ia lihat tadi. Semua terasa begitu nyata baginya.
“Abang kenapa?.. ngigau? Tadi Abang teriak teriak di dapur sampai Fajri kebangun.. kirain kenapa..”

Taufik mengawasi sekeliling. Fajri yang berleher patah tadi sudah menghilang entah sejak kapan. Namun yang pasti, Fajri asli sejak awal tidak melihat kemunculan Fajri yg lain.
Ketika ditanya, Fajri mengaku bangun karena suara teriakan Taufik di dapur. Ketika ia keluar kamar, ia melihat Taufik dalam keadaan duduk meringkuk sebelum tiba tiba histeris dan menutupi wajah dengan tangannya.
“Ah iya, berarti tadi abang ketiduran terus mimpi” elak Taufik tidak ingin membuat adiknya takut.

“Lagian tidurnya di dapur.. Abang ayo istirahat.. besok Fajri bantu beres beresnya” ajaknya sambil menguap kecil.
Taufik mengangguk dan bangkit. Dengan bergandengan tangan, keduanya kemudian tidur di kamar hingga pagi tiba.
Tubuh yang lelah dan jam tidur yang kurang membuat kedua anak itu tidur hingga hampir siang. Mereka baru bangun setelah sebuah ketukan terdengar dari arah pintu sekaligus memanggil nama keduanya.
Taufik adalah yg pertama bangun karena panggilan itu dan membutuhkan waktu beberapa saat untuk kesadarannya kembali secara penuh. Ia melihat jam yg sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.

“yaa, sebentar..” jawabnya setengah berteriak.
Taufik keluar kamar dengan perasaan hampa.
Ia masih berharap apa yang ia alami sejak kemarin adalah mimpi dan pagi ini bangun dengan aroma kopi hitam ayah dan tumisan bawang merah ibu di dapur yang menyiapkan sarapan untuk mereka.

“Fik? Jri? Om bawa sarapan buat kalian” panggil Suja dari luar.
Taufik lalu membukakan pintu setelah memastikan wajahnya tidak sekusut itu di cermin. Namun garis garis seprei yang masih membekas di wajahnya tidak bisa menyembunyikan bahwa ia baru saja bangun.

“eh Om..”

“Baru bangun ya?”

“he’eh..” jawab Taufik singkat.
“Yaudah gapapa. Tadi om juga udah titip ke anak anak yang satu sekolah sama kamu dan Fajri buat minta izin absen kalian berdua” jelas Om Suja.

Sekolah, Taufik bahkan baru sadar ia masih punya kewajiban itu di hari Selasa ini.

“Terima kasih om” balasnya.
“Iya. Fajri mana? Masih tidur?” tanya Suja sambil melepaskan sepatunya.

“Masih om. Kecapekan..” jelas Taufik sambil membuka pintu lebar lebar dan mengajak Suja masuk..
Suja lalu berjalan ke belakang dan mengambil tiga buah piring serta tiga buah sendok lalu membawanya ke meja makan. Ia lalu mengeluarkan tiga plastik lontong pical kuah kacang dan sejumlah gorengan.

“Ini, sarapan dulu” ujar Suja sambil menyodorkan piring dan plastik makanan.
Taufik mengangguk dan berterima kasih lalu membuka sendiri bungkusan itu. Di hadapannya, Suja juga melakukan hal yang sama.

“Bagaimana semalam? Tidur kalian cukup?” tanya Suja sambil mulai mengunyah.

“Cukup om..”

“Aman kan? Fajri ga kenapa napa kan?”
“Gapapa kok Om, tapi memang berasa agak sepi aja..”

Suja menahan kunyahannya dan mengusap rambut anak sahabatnya itu.
“sabar ya Fik..”

“Iya om” jawabnya singkat.

“Jadi.. kamu dan Fajri jadi pindah ke rumah Om kan?” tanya Suja.
Taufik terlihat ragu. Ia memandangi sekeliling rumah yang penuh kenangan ini. Meskipun baru beberapa bulan disini, namun baru disinilah ia merasa memiliki kehidupan bersama keluarganya secara utuh. Karena dahulu ada Inyiak (kakek) yang ibunya rawat dan sering menyita waktu-
-kebersamaan mereka berempat karena harus bergantian menjaga beliau di kamarnya.

“Jujur saya masih berat om..” Taufik mengakui.

“kenapa?.. kamu kan sudah merasa gimana sepinya rumah ini kalau cuma ada kamu dan Fajri kan?..”
“Iya.. tapi bukan itu masalahnya..” Taufik menunduk sambil menyerok nyerok kuah kacang di pinggiran piring..

“lalu?..”

“..Fajri masih mengira ayah sama ibu akan pulang..”
Suja mengusap wajahnya karena bingung, memang semua orang mengatakan bahwa Kanda dan Ros kabur dari rumah itu sehingga ada peluang bahwa keduanya kembali. Namun mustahil rasanya jika mereka masih punya muka dan keberanian untuk masuk ke kampung ini lagi.
“Iya.. tapi kan betul kata kamu. Kalau ayah pulang, dia pasti ke rumah om. Terus nanti kalian bisa..”

“ayah gaakan pulang kok om. Ayah sama ibu kan dibunuh” ujar Taufik lalu membalikkan sendoknya dan bangkit dari duduknya.
“saya bangunkan Fajri dulu. Nanti sarapannya saya lanjut, gak terbiasa sarapan pakai makanan berat soalnya” Taufik lalu masuk ke dalam kamar.
Suja tertunduk. Seleranya untuk makan lontong pical seketika hilang, sama seperti Taufik. Sementara itu sayup sayup terdengar suara Taufik di dalam kamar yang sedang membangunkan Fajri.

“Hah udah jam sembilan?? Kita terlambat dong bang?” panik Fajri.
“Kita ga sekolah dulu. Udah diminta izin absen sama anak satu sekolah sama kita” jelas Taufik.

Tak lama, Taufik keluar bersama Fajri yang masih meregangkan badannya.
“Sarapan dulu Jri” tawar Suja sambil menepuk nepuk kursi di sebelahnya.
“Oh Om Suja, iya om” ujarnya sambil terlebih dahulu mencium tangan Suja.

Setelah Fajri duduk disana, obrolan Taufik dan Suja tertahan. Mereka tidak ingin Fajri terlibat dlm pembicaraan yg cukup berat itu. Meskipun sebenarnya umur Taufik jg belum bisa dikatakan dewasa saat itu.
“Gimana tidur semalam? Aman?” tanya Om Suja membuka bahasan agar sarapan pagi itu tidak terasa canggung.

“Aman Om. Tapi abang tuh ngigau di dapur sampai teriak teriak” ujar Fajri sambil terkekeh.
Pandangan Suja lantas tertuju pada Taufik.
“Semalam panas. Saya tiduran di lantai terus mimpi karena kecapekan. Udah karena itu aja” tutupnya seolah tidak mau membahas lebih dalam.

“Mimpi apa sih bang sampai teriak teriak begitu??” ledek Fajri.
“Liat kamu dikejar anjing. Kayaknya juga bukan mimpi sih itu. Gambaran masa depan kayaknya” ledek Taufik balik dengan ketakutan terbesar adiknya itu.

“Abang!” ancam Fajri dengan kepalan tangannya.

Taufik tersenyum dan sedikit terkekeh.
Melihat keduanya sudah mulai ceria, Suja juga ikut tertawa, Namun Taufik segera menghentikan candaannya begitu Suja bergabung tawa dengan mereka.

“Udah. Habisin aja makannya jangan lama lama” perintah Taufik pada Fajri.
Suja yang menyadari itu segera memotong tawanya dengan sangat canggung. Setelah itu, meja makan itu kembali sunyi hingga Fajri menyelesaikan suapan terakhirnya.

“kenyaaang” ucapnya sambil menepuk nepuk perutnya yang penuh.
“alhamdulillah. Sini piring piringnya biar om yang bersihin. Kalian mandi atau istirahat dulu aja” ujar Suja sambil mengemasi piring kotor di meja dan membawanya ke dapur.

Taufik tidak mencegah hal itu. Ia tetap duduk di meja makan sambil memotong motong mie kuning yang ada di-
-lontong picalnya menjadi kotak kotak kecil tanpa memakannya. Sementara Fajri selonjoran di lantai sambil memainkan mobil mobilan dari kulit semangka yang ia buat beberapa hari lalu.
Fajri memang sudah biasa bermain sendiri. Bahkan sejak masih tinggal di kampung Ros, ia hanya memiliki satu atau dua teman yang adalah pasien tetap bulanan ibunya. Ia terdidik untuk bisa bermain dan menikmati mainannya sendirian hingga berjam jam lamanya.
Begitupun di sekolah barunya, Fajri masih belum memiliki teman dekat karena kesulitannya dalam bergaul.

Ketika ketiganya sedang sibuk dengan pekerjaan masing masing, tiba tiba dari arah depan rumah terdengar suara salam seseorang.

“Assalamualaikum” ujar suara itu.
“waalaikumsalam” jawab Taufik dan Fajri hampir bersamaan.

Fajri hampir saja bersorak karena mengira orang yang berdiri di depan pintu adalah ayahnya karena kesamaan baju seragam mereka. Namun ternyata orang itu adalah karyawan koperasi yang sama dengan tempat Kanda bekerja.
Pria berambut klimis itu lalu melangkah masuk dan melihat lihat rumah itu bersama Badar di belakangnya.

“Misi ya dek” sapanya sambil berjalan lagi ke ruang tengah hingga melongoh ke dapur.
Setelah melihat lihat, pria itu mengeluarkan secarik kertas dan menulis sesuatu di kertas itu. Suja yang baru saja selesai membereskan cuciannya sadar ada orang lain yang berdiri memunggunginya di ruang tengah.
“Maaf pak, ado apo yo?” (maaf pak, ada apa ya?) tanya Suja tertuju pada Pak Badar.
Pria berbaju dinas itu refleks berbalik dan menyalami Suja.
“Pagi pak. Maaf, awak Rudi dari koperasi, disuruah kantua untuak maliekan rumah dinas bang Kanda ko” (Pagi pak. Maaf, saya Rudi dari koperasi, disuruh kantor buat lihatin rumah dinas bang Kanda ini) ujarnya memperkenalkan diri.
“Baa tu pak? Tapi Kanda sadang ndak di rumah..” (Kenapa pak? Tapi Kanda sedang tidak dirumah) jawab Suja mencoba menutupi yang sebenarnya terjadi.
“Ambo lah danga kabanyo dari Pak Badar ko pak. Kok iyo baitu, pusat nio capek malatakkan pangganti bang Kanda untuak Jorong ko bia data tataok masuak” (saya sudah dengar kabarnya dari Pak Badar ini pak. Kalau keadaannya memang begitu, dari pusat ingin cepat menaruh pengganti-
-bang Kanda untuk Jorong ini agar data tetap masuk) jelas Rudi.

Tatapan Suja mendadak terlihat ragu.
“oo.. yolah” (oo baiklah) jawab Suja pada akhirnya.
“Tapi pak, maaf sabalunnyo, apak siaponyo bang Kanda? Adiaknyo?” (Tapi pak, maaf sebelumnya, bapak siapanya bang Kanda? Adiknya?) tanya Rudi.
“Oo, bukan pak. Ambo kawannyo sajo. Disiko mangawanan duo anak baliau sarapan” (Oo, bukan pak. Saya cuma temannya. Saya disini cuma menemani dua anaknya dia makan) jelas Suja sambil menunjuk Taufik dan Fajri di ruang tengah.

“Hmm..” Rudi bergumam.

“Baa pak?” (kenapa pak?)
“Ambo mohon maaf bana pak.. nan rumah ko kan rumah Dinas untuak karyawan koperasi kami.. nah salain mancari pangganti, ambo ditugaihan pulo untuak manyerah tarimokan rumah ko ka karyawan nan baru..”
(saya mohon maaf sekali pak.. rumah ini kan rumah dinas untuk karyawan koperasi kami.. selain mencari pengganti, saya kesini juga ditugaskan untuk serah terima rumah ini ke karyawan baru untuk dia tempati..) jelas Rudi dengan gestur segan.
Taufik masih berada di mejanya, namun ia memasang pendengarannya dalam dalam dan menyimak obrolan dari ruang depan itu.

“Tu baa anak anak ko pak?..” (lalu bagaimana anak anak ini pak?..) tanya Suja.
“Ambo mohon maaf bana, karano ambo hanyo manjalanan tugaih.. tapi untuak adiak adiak tu ndak bisa lai tingga disiko lai doh pak..” (saya benar benar mohon maaf karena saya cuma menjalankan tugas.. tapi adik adik ini tidak bisa lagi tinggal disini) ujar Rudi.
Pak Badar yang berdiri di belakang pria itu mengangguk seolah mengonfirmasi itu.

“Angku patang mangecek ka maagiah tampek tingga untuak anak anak Kanda ko kan? Untuanglah yo jadi ndak paralu wak mancari cari lai”
(Kau kemarin bilang akan kasih tempat tinggal buat anak anak Kanda ini kan? Untunglah kalau begitu, kita tidak perlu mencari cari lagi) ujar Pak Badar.

Suja memandangi Fajri yang kebingungan dan Taufik yang bermuka datar sambil masih mengaduk aduk picalnya di meja.
“..buliah agiah tenggang wakatu pak?.. nan tampek tingga lah lai, tapi adiak adiak ko alun amuah pindah lai doh..” (..boleh minta tenggang waktu pak?.. tempat tinggal untuk mereka sebenarnya sudah ada, tapi adik adik ini masih belum mau pindah..) ujar Suja.
Pria berseragam koperasi itu terlihat berpikir sambil membolak balikan buku catatan yang ia bawa.

“Paliang lakik Minggu pak, Senin urang nan baru nan ka maisi lai” (Paling cuma bisa sampai Minggu pak. Senin orang yang baru akan mulai mengisi rumah ini) jelas Rudi.
Tidak ada pilihan lain, Suja akhirnya mengangguk setuju dan berjanji akan mempersiapkan semuanya.

“Oh iyo iko ciek li pak” (Oh iya sama satu lagi pak) pria itu lalu memberikan secarik kertas berisi tabel barang barang rumah pada Suja.
“iko daftar inventaris kantua nan ado di rumah ko. Nan iko tataok batinggan yo pak. Ka bapakai jo patugaih baru” (ini daftar inventaris kantor yang ada di rumah ini. Yang ada di daftar itu tetap ditinggal ya pak. Akan digunakan sama petugas baru nantinya) jelas Rudi.
Suja menerima kertas itu dan membaca daftar barang barang itu lengkap dengan jumlahnya. Ia sesekali menoleh ke barang yang ada di daftar tersebut hingga akhirnya ia sadar hampir 80% perabotan rumah ini adalah fasilitas bawaan koperasi pusat dan bukan milik Kanda pribadi.
“..ko umpamo sadoalah isi rumah ko pak..” (ini namanya semua isi rumah pak..) ujar Suja.
Pria tadi hanya mengangguk pelan membenarkan.

“Tapi alhamdulillah dari nan ambo liek, ndak ado nan kurang doh. Itu nan pantiang, soalnyo kok ndak adoh, mangganti dulu adiak adiak ko”
(Tapi alhamdulillah dari yang saya lihat, tidak ada barang yang kurang. Itu sebenarnya yang penting, soalnya kalau kurang, adik adik ini harus menggantinya) jelas pria itu.

Selain memeriksa keadaan rumah, Rudi juga memberikan amplop santunan dari pusat kepada keluarga Kanda.
“statusnyo di kantua kami baranti dek maningga pak. Jadi anak anaknyo dapek santunan, semoga bamanfaaik” (status Kanda di kantor kami berhenti karena meninggal pak.. Jadi anak anaknya dapat santunan, semoga bermanfaat) ujar Rudi dengan ramah sambil mengusap kepala Fajri.
Taufik dan Fajri yang menerima amplop itu mengucapkan terima kasih dan menyalami tangan Rudi.

Setelah beberapa saat, Rudi pamit undur diri dari rumah itu. Pak Badar yang menemaninya juga ikut berpamitan. Ia berkata akan kembali Minggu siang untuk serah terima kunci dan-
-memeriksa sekali lagi ketersediaan barang barang inventaris.

Sambil keduanya berjalan menjauh, Suja masih bisa mendengar obrolan mereka..

“Beko kok nio baganti warna caik dalamnyo buliah pak?..” (Nanti kalau mau diganti warna cat dalamnya boleh pak?) tanya Pak Badar.
“Buliah pak, tapi biayanyo ndak kami nan manangguang biasonyo doh..” (Boleh pak, tapi biayanya bukan kami yang menanggung biasanya..) jawab Rudi sambil menaiki motor lalu membonceng Pak Badar dan pergi.
Suja memandangi Taufik yg masih tanpa ekspresi mengaduk aduk makanannya. Ia tau Taufik mendengar semua percakapannya dgm pria tadi dan tau apa konsekuensi beserta waktu tenggat yg diberikan. Suja memilih membiarkan Taufik memutuskan sendiri apa langkah yg akan diambil nantinya.
“Taufik sudah dengar kan?.. tinggalah disini sampai Sabtu. Nanti Minggu baru kita pindah ke rumah Om. Sama nanti minta tolong barang barang ini kalau ada isinya dikeluarkan” ujar Suja sambil menyodorkan kertas berisi list barang barang dari pria tadi.
***

Hari demi hari berlalu dan hari Sabtu akhirnya tiba. Taufik bersama Fajri sudah menyisihkan semua hal yang menjadi milik mereka dan hanya terkumpul dua kardus besar. Umumnya barang barang yang mereka bawa adalah pajangan foto, pakaian, obat obatan serta peralatan Ros dari-
-ruang bidan dan beberapa peralatan makan. Sementara barang barang besar seperti meja makan, kasur dan lemari yang ada di rumah itu ternyata merupakan inventaris kantor ayahnya.
Namun, ada satu ruangan yang masih belum mereka periksa dan sentuh sama sekali, yaitu kamar orang tua mereka. Taufik sengaja menjadikan kamar ini sebagai yang terakhir ia rapikan karena tidak ingin ruangan itu berubah lebih cepat.
Hari itu, mau tidak mau keduanya harus membersihkan dan menyimpan benda benda di dalam kamar Kanda dan Ros.

“Assalamualaikum...” ucap Taufik sambil melangkah masuk diikuti Fajri.

Hening. Di dalam, sebuah lampu berwarna kuning masih menyala sejak hari kepergian keduanya.
Baju dinas Kanda dan tas kerjanya serta dua buah kaus kaki yang terakhir ia gunakan masih berserakan di atas kasur seperti yang biasa ayahnya lakukan.
Aroma kamar yg begitu khas itu membuat Taufik dan Fajri merasa kedua orang tuanya masih berada di dalam kamar itu, bersembunyi dan menunggu kedua anak mereka datang lalu keluar memberikan kejutan untuk mereka.

Namun tentu itu hanya dalam pikiran imajinasi Taufik dan Fajri saja.
---batas, kita lanjut besok jam 20.20 wib yaaa---
“Ini lemari gabisa kita bawa. Coba kamu periksa isinya ya. Abang liat liat yang lain” perintah Taufik.

Fajri segera membuka lemari baju itu dan memindahkan pakaian ibu dan ayahnya ke kardus yang sudah ia persiapkan.
Sementara itu Taufik merapikan baju baju bekas pakai yang digantung di belakang pintu dan di dinding kamar.

Pandangan Taufik lalu tertju pada tas yang biasa ayahnya bawa untuk bekerja. Ketika ia melihat daftar inventaris, tas tersebut bukanlah benda yg harus dikembalikan, dan-
-itu berarti ia bisa memilikinya, hitung hitung untuk sekolah.

Taufik membuka tas itu utk mengetahui apa isinya. Di dalam hanya ada berlembar lembar kertas kosong, sebuah buku catatan berisi daftar kreditur dan jumlah angsuran, serta beberapa coretan yg Taufik tidak mengerti.
Taufik mengembalikan semuanya kembali ke dalam tas dan menaruhnya di ujung ruangan untuk nantinya ia kumpulkan bersama barang barang lain yang akan ia bawa ke rumah Om Suja.
Setelah selesai dengan tas, ia lalu beralih ke pakaian dinas ayahnya. Nama “Iskandar Malik” masih melekat di bagian saku baju itu.

Taufik lalu merogoh saku sang ayah dan mendapati beberapa koin rupiah, jumlahnya persis sama dengan nominal yang akan Taufik dan Fajri terima-
-setiap paginya untuk uang saku sekolah mereka.

Senyum tipis tersungging di bibir Taufik membayangkan kebiasaan keluarga mereka dipagi hari. Kanda selalu meminta Taufik untuk mengambilkan uang jajan untuk Taufik sendiri dan Fajri dari saku baju dinas yg ia pakai dihari kemarin.
Taufik biasanya tidak mengambilnya langsung, melainkan mengantarkan bajunya ke hadapan ayahnya, lalu ayahnya sendiri yg akan merogoh saku bajunya dan menyerahkannya kepada anak anaknya meskipun Taufik tau betul di saku mana uang itu berada.
Tanpa terasa air mata mengalir dari ujung mata Taufik..
..
“bang, udah segini aja” ujar Fajri dengan setumpuk kain di dalam kardus yang ia kumpulkan dari lemari.

Taufik menyeka air matanya.

“oh lumayan ya. Yaudah, ayo kita bersih bersih..”
Taufik dan Fajri segera membersihkan sudut sudut kamar itu dengan sapu dan pel. Yang tersisa di dalam hanyalah sebuah dipan dan lemari baju saja.

Setelah selesai, Taufik lalu memimpin doa bersama Fajri untuk kedua orang tuanya.
“Ya Allah, dimanapun ayah dan ibu berada sekarang, jika mereka masih ada, berikanlah mereka kekuatan dan keselamatan.. “ ujar Taufik.

“aamiin..” sambung Fajri.

“..dan jika mereka kini sudah tiada, tempatkanlah mereka di tempat terbaik disisi-Mu..” tambah Taufik.
Fajri menarik nafas panjang lalu mengembuskannya.

“..aamiin...” sambungnya.
Selama beberapa hari tinggal berdua di rumah itu, Taufik berhasil mengajarkan Fajri tentang kemungkinan terburuk yang terjadi pada kedua orang tua mereka. Tanpa membuat Fajri kehilangan seluruh asanya, Taufik menjelaskan dua kemungkinan yang ada.
Pertama, orang tua mereka diluar sana sedang pergi demi keselamatan mereka dan akan kembali disaat yang tepat, atau memang kebersamaan mereka berakhir ketika malam itu dan mereka berdua harus meneruskan hidup sesuai dengan apa yang selama ini diamanatkan Kanda dan Ros.
Taufik lalu mengangkat barang barang itu hingga semuanya terkumpul di ruang tengah. Lalu saat sore harinya, Suja datang ke rumah itu disusul oleh pria yang berasal dari koperasi kemarin dan Pak Badar beserta seorang pria muda yang baru pertama kali Taufik lihat.
“Alah sadonyo ko diak?” (sudah semuanya ini dek?) tanya pria itu sambil menunjuk beberapa kardus di ruang tengah.

“Iya pak, sudah” jawab Taufik.

“Parmisi apak pareso ka dalam dulu dih” (Permisi bapak periksa ke dalam dulu ya) ujar Rudi itu sambil mengeluarkan lagi catatannya-
-dan memeriksa satu persatu daftar barang inventaris yang harus ditinggal.

Pak Badar saat itu menunggu di ruang depan sambil mengisap rokok. Sementara pria muda yang Taufik tidak kenal itu mengikuti kemana Rudi tadi pergi.
“Sip. Langkaok sadonyo pak, diak” (Sip. Lengkap semua pak, dek) ujar Rudi sambil menutup buku yang ia bawa.

“alhamdulillah” jawab Suja.
Taufik lalu menyerahkan kunci rumah itu ke tangan Rudi. Lalu secara estafet, kunci itu diserahkan ke pria muda yang tadi mengikuti Rudi saat memeriksa ke dalam.
“Nah, iko awak sarahan kunci rumah dinaih ko ka abang yo. Mohon bapakai saelok eloknyo. Untuak pelaporan sagalo macam, samo jo nan pelatihan patang” (ini saya serahkan kunci rumah dinas ini ke abang ya. Mohon dipakai dengan sebaik baiknya. Untuk pelaporan dan segala macamnya,-
-sesuaikan saja dengan pelatihan kita kemarin) jelas Rudi kepada pria muda tadi.

“Jadih pak.. tarimo kasih” (baik pak.. terima kasih) ujar pria itu sambil menerima kunci rumah dinas.
“ambo izin dulu yo pak, bang. Anak ambo sakik di rumah, jadi ndak bisa lamo lamo. Assalamualaikum” (saya izin pulang dulu ya pak, bang. Anak saya lagi sakit di rumah, jadi tidak bisa lama lama. Assalamualaikum) pamit pria koperasi lalu pergi dengan motornya.
Senyum pria muda tadi mengembang yang kemudian juga merembet ke Pak Badar.
“Berumah baru kita pak! ahahha” gelak pria muda itu sambil memain mainkan kunci di depan wajahnya.
“hahaha, tapi kerjamu harus benar Yos. Nanti kalau diganti sama pemuda yang lain, bingung lagi kamu cari kerjaan” nasehat Pak Badar pada anaknya itu.
Pak Badar dan Yos seakan tidak sadar atau justru sengaja merayakan itu di hadapan Taufik dan Fajri yang tampak bersedih karena harus meninggalkan rumah yang menjadi sisa kenangan terakhir mereka dengan kedua orang tuanya.
Suja membaca situasi itu dan segera mendorong pelan Taufik dan Fajri untuk pergi keluar rumah itu. Ketika mereka sampai di ambang pintu, barulah Pak Badar mengucapkan terima kasih pada Suja sekali lagi karena sudah mempermudah urusannya.
Taufik dan Fajri lalu melangkah keluar rumah itu dengan kepala tertunduk. Mereka naik ke sepeda peninggalan Kanda dan dibonceng Om Suja. Ketiga orang itu lalu pergi meninggalkan rumah itu diiringi suara tawa dan rasa syukur dari Yos dan Pak Badar di dalam.
Kedatangan Taufik dan Fajri di kediaman Suja disambut oleh Bustamar Rajo Pusako Alam. Kakek tua renta itu sudah menunggu keduanya di teras dengan beberapa buah roti sebagai temannya mengobrol.
Taufik dan Fajri turun dari sepeda dan langsung menyalami tangan renta Bustamar. Ini kali keduanya mereka bertemu setelah pertemuan pertama kali saat keluarga itu pindah ke Jorong Tangah.

“Inyiak lupo, nan gadang ko sia namo?” (kakek lupa, ini yang besar siapa namanya?)
“Taufik kek..”

“Ah iyo Taufik. Nan iko? Fadli? Fahri?” (Oh iya Taufik. Yang Ini? Fadli? Fahri?) tanya Bustamar sambil menebak nebak disisa ingatannya.

“Fajri kek..” jawabnya ragu.
“Taufik jo Fajri yo. Maap inyiak lah tuo tu agak payah maingek namo, tapi nan wajah lai takana.. haha” (Taufik dan Fajri ya. Maaf kakek udah tua, jadi agak susah mengingat nama, tapi kalau dari wajah tetap ingat haha) canda Bustamar.

Taufik dan Fajri tersenyum kecut.
“Yah, titip sabanta paja paja ko yo. Ambo ambiak siso barang di rumah Kanda” (Yah, titip sebentar anak anak ini ya. Saya ambil dulu sisa barang di rumah Kanda) pesan Suja.
Sepeninggal Suja, Bustamar mempersilakan Taufik dan Fajri duduk di bangku yang ada di sebelahnya. Bustamar juga menyodorkan roti roti dan teh manis yang sudah sejak awal ia siapkan.
“Kalian kuaik kuaik dih. Inyiak paham bana baa rasonyo ditingga rang gaek. Inyiak dulu lah tingga baduo jo adiak inyiak sajak kami SD baru. Dimaso tu kami dapek makan sahari sakali sajo lah alhamdulillah, acoknyo kami bapuaso..”
(Kalian kuat kuat ya. Kakek paham sekali bagaimana rasanya ditinggal orang tua. Kakek dulu sudah tinggal berdua sama adeknya kakek sejak kami baru SD.. Waktu itu kami makan sehari sekali saja sudah alhamdulillah, tapi seringnya kami berpuasa..) cerita Bustamar.
Fajri yang memang suka mendengarkan cerita akhirnya terbawa dengan cerita masa lalu Bustamar itu.

“Memang ayahnya kakek kemana?” tanya Fajri.
“Ayahnyo inyiak pai maninggaan kami, kiceknyo mah pai karajo, tapi sudah tu ndak tantu lai dima rimbonyo. Induaknyo inyiak maningga dek sakik” (ayahnya kakek pergi meninggalkan kami, katanya mau pergi bekerja, tapi setelah itu kami tidak tau lagi dimana dia. Ibunya kakek-
-meninggal karena sakit) kenang Bustamar.

“Ayahnya kakek jahat ya..” ucap Fajri spontan.

“heh! Hush!” Taufik menyiku tangan Fajri karena ucapan yang kurang sopan itu.
“Ahahaha.. mungkin iyo tadanganyo bantuak tu. Tapi nan inyiak jo adiak inyiak yo ndak parnah kami maraso dandam jo baliau do. Kami tau ayah pasti sadang barusao kareh di rantau. Antah a nan di lakuannyo, tapi kami yakin ayah ka pulang.. dan wakatu tu tibo, kami ndak nio dalam-
-kondisi bantuak urang lamah” (Ahahaha.. mungkin kedengarannya memang begitu. Tapi kakek dan adik kakek tidak pernah merasa dendam sama ayah. Kami tau ayah kami sedang berusaha keras di rantau. Entah apa yang beliau lakukan disana, tapi kami saat itu yakin ayah akan pulang..
..dan saat waktu itu datang, kami tidak mau dalam keadaan lemah) jelas Bustamar.

Taufik yang sedari tadi duduk tanpa minat bergabung dengan obrolan itu juga ikut tertarik menyimak.

“Tapi ayahnya kakek akhirnya pulang?” tanya Fajri.

Bustamar tersenyum.
“sayangnyo indak. Sampai anaknyo ko lah jadi inyiak urang, ndak ado sakali alah jo kami basobok liak. Tapi salamo tu lo ayah inyiak taruih maajan inyiak banyak hal” (Sayangnya tidak. Sampai anaknya ini sudah jadi kakek kakek, tidak ada sekalipun kami setelahnya bertemu lagi.-
-Tapi selama itu juga ayah kakek terus mengajarkan kakek banyak hal) jelas Bustamar.

“Loh tadi katanya ga ketemu lagi kek?” potong Taufik yang sudah merasa janggal dengan kalimat Bustamar.
“Ayah inyiak yo indak maajaan liwaik muluiknyo ko doh. Tapi dek inyo pai tu, kami anak anaknyo jadi labiah maharagoi wakatu, labiah kuaik, labiah bisa babakti ka induak kami, nan tapantiang, kami jadi bisa tagak di kaki kami surang. Kok ndak batinggan dek ayah, gakti ndak ka ado-
-gai Bustamar ko jadi Rajo Pusako doh” (Ayah kakek memang tidak mengajarkan lewat mulutnya. Tapi dengan dia pergi itu, kami anak anaknya jadi belajar cara menghargai waktu, menjadi lebih kuat, bisa lebih berbakti dengan ibu kami, dan yang terpenting, kami bisa berdiri diatas-
-kaki kami sendiri. Kalau kakek dulu tidak ditinggal ayah, mungkin tidak ada Bustamar yang menjadi Rajo Pusako ini) bangganya.
Taufik dan Fajri tertegun dengan ucapan Bustamar itu. Fajri, yang belakangan sempat terpikirkan bahwa ayahnya jahat sudah meninggalkan dia dan abangnya berdua saja dirumah, peralahan melunak. Ia tidak tau alasan sang ayah, dan iapun juga masih menolak anggapan serta kabar berita-
-yang tersebar menganai ayahnya. Tapi yang ia ingat, ayah dan ibunya adalah orang tua yang baik dan begitu sayang dengan dia dan abangnya.

Cerita Inyiak Bustamar membuat Fajri sadar, ia baru ditinggal seminggu dan terlalu cepat membuat kesimpulan bahwa orang tuanya jahat tanpa-
-tau apa yang keduanya lakukan diluar sana.

Setelahnya, Bustamar menceritakan pengalaman pengalaman menariknya ketika berjuang mencari uang dan makan sejak usia anak anak.
Ia menceritakan bahwa ia harus meladang dan jadi yang paling muda, menerima untuk disuruh menjadi apapun dengan mengharap upah, dan yang paling berkesan menurutnya adalah saat ia berhasil menyekolahkan adiknya hingga tamat SLTA dari uang yang ia kumpulkan.
Ia banyak berkorban dan mengalah, karena ia menaruh harapan besar agar adiknya bisa menjadi orang yang sukses meski tanpa ada sosok ayah dan ibu bersamanya.
Taufik dan Fajri tanpa sadar mulai memakan hidangan di meja dan menyeruput teh hangat sambil menyimak cerita yang begitu menyentuh itu.
“Ah itulah, puncak cinto saorang abang laki laki, samo jo apo nan ayahnyo agiah ka inyo. Lai batua tu Taufik?” (Nah itulah, puncak cinta seorang abang laki laki adalah dengan dia menjaga adik adik dan keluarganya sebagaimana peran ayahnya dulu) tutup Bustamar.
“Beruntung sekali adiknya Inyiak. Pasti dia bangga” komentar Fajri.

Bustamar hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.

Tak lama, Suja sudah kembali dengan 4 kardus terikat di depan dan belakang sepedanya.
“iko nyo barang barang anak Kanda ko? Ado nan lain lai?” (ini saja barang barang anak Kanda? Atau ada yang lain?) tanya Bustamar.

Suja menggelang.
“lah sadonyo ko” (ini udah semuanya) jawabnya.
“yolah.. bantu bantu si Suja maangkek barang Fik” (yasudah.. bantu bantu si Suja angkat angkatin barang Fik) perintah Bustamar pada Taufik yang segera ia lakukan.
Dengan pindahnya seluruh barang milik Taufik dan Fajri, keduanya resmi menumpang tinggal disana. Mereka menempati sebuah kamar yg berada di bagian paling belakang rumah, tepatnya di sudut dapur. Ruangan yang biasanya digunakan utk menyimpan beras dan peralatan persawahan.
“semoga betah ya. Maaf cuma sesederhana ini” ujar Suja sambil menempatkan barang barang milik Taufik di sudut ruangan.

“gapapa om. Ini sudah cukup, justru kami yang minta maaf karena sudah merepotkan..” ujar Taufik.
“tidak. Sama sekali tidak merepotkan. Anggap aja Om sebagai pengganti ayah ya. Kalau ada apa apa dan butuh hal lain, jangan segan bilang” ujar Suja.

Taufik dan Fajri mengangguk serta berterima kasih.

“Oh iya, sebentar, salam sama istri om dulu ya. Dia di kamar depan” ajak Suja.
Taufik dan Fajri menurut. Om Suja membawa mereka ke sebuah kamar berpintu kayu yang tertutup yang ada di ruang tengah.

Tok tok

“Wen?..”  panggil Suja sambil melangkah masuk terlebih dahulu ke dalam, sementara Taufik dan Fajri menunggu di luar.
“Ya?” jawab Weni yang sedang berbaring miring  karena perutnya yang sedang hamil 8 bulan sudah sulit untuk diajak kompromi tidur telentang.

“Anak anak Kanda sudah datang, ayo kenalan dulu..” ajak Suja.
Mendengar nama itu, eskpresi Weni langsung berubah.

“ck. Terserahlah” ketus Weni tanpa menghadap Suja.

“Kan mereka mau tinggal disini.. mereka mau kenalan dulu sama kamu..” rayu Suja.

“Bilang aja aku lagi tidur” ujar Weni kesal.
Suja menghela nafasnya dan tidak bisa berbuat apa apa. Hingga kemarin, Weni masih belum merestui kepindahan dua anak itu ke rumahnya. Kalau bukan karena Bustamar ayahnya merestui, mungkin ia akan mengusir anak anak Kanda dari rumahnya.
“Ante lagi tidur ternyata. Nanti aja salamannya ya” ujar Suja berbohong ketika keluar kamar itu.

“Oh iya om gapapa” jawab Taufik yang sebenarnya sejak tadi mendengar percakapan keduanya di dalam.
“yaudah, kalian kalau mau mandi dulu boleh, itu kamar mandinya disana. Kalau mau makan, itu lauknya dibawah tudung saji tadi om masak goreng nila sama..”

“kita mau istirahat aja om di kamar” ujar Taufik.
“...ooo boleh boleh. Mau tidur juga gapapa. Nanti makan malam abis maghrib ya, kita sama sama makan di tengah sini” pesan Suja.

Taufik mengangguk paham dan menggandeng Fajri ke kamar belakang yang menjadi kamar mereka berdua. Di dalam, mereka hanya berbaring sambil melihat-
-langit langit kamar yang menembus langsung ke atap.

Pandangan Taufik menerawang jauh. Cerita cerita dari Nyiak Bustamar tadi begitu berkesan baginya. Mungkin apa yang inyiak katakan itu benar. Bersedih terus menerus dan mengutuk keadaan akan semakin membuatnya lemah.
Justru ini adalah momentum untuk dirinya menjadi lebih kuat dan lebih dewasa lagi sebagai diri sendiri sekaligus sebagai seorang abang bagi Fajri.
Sementara itu Fajri terus membolak balikkan badannya di kasur kapuk yang disediakan oleh Suja. Aneh rasanya tidur di kasur yg berbau seperti tubuh orang tua itu. Ditambah lagi ada beberapa bagian kasur g sudah berlubang dan ditambal seadanya menggunakan jahitan kain bekas.
“Jri..” panggil Taufik.

“ya bang?..”

“kita ga boleh bikin ayah sama ibu kecewa. Kalau mereka pulang nanti, kita harus sudah lebih kuat dan mandiri ya” ajak Taufik.

Mata Fajri berbinar.
“Iya bang!” jawabnya semangat.
---kita lanjut besok atau lusa ya (siapa tau ada yg ngajak nyate besok malam)

Ebook part 2-5 tersedia bagi yg berminat. Pembelian bisa melalui karyakarsa, atau manual via DM akun ini.
karyakarsa.com/Mwvmystic/part…
Hari demi hari Taufik dan Fajri lalui sebagai anak angkat Suja dan Bustamar. Kedua pria itu berhasil menghadirkan sosok yang mengayomi layaknya ayah dan seorang yang lemah lembut serta penyayang seperti seorang kakek.
Sebagai timbal balik sudah dibolehkan tinggal dan dibiayai makan serta pendidikan, Taufik dan Fajri mengerjakan banyak pekerjaan rumah tanpa diminta.
Sejak hamil, Weni memang benar benar drop dari segi kesehatan dan kemampuan fisiknya. Tubuhnya lemas dan mengalami nyeri di sendi sendinya. Beruntung, Suja sebagai suami bersedia mengerjakan seluruh pekerjaan rumah disela sela pekerjaannya sebagai pengoperasi mesin eler, yaitu-
-mesin penggiling padi yang berguna memisahkan bulir beras dengan sekamnya.

Kedatangan Taufik dan Fajri membuat pekerjaan Suja menjadi jauh lebih ringan. Semula Taufik dan Fajri hanya membantu menyapu dan mengepel, namun belakangan keduanya juga bersedia membantu pekerjaan-
-lainnya seperti mencari semak untuk sapi peliharaan Bustamar, dan bahkan mencarikan kayu bakar untuk keperluan memasak di rumah itu di kebun belakang.

Namun meski sudah membantu pekerjaan rumah dan berusaha mengabdi, Taufk dan Fajri sama sekali tidak bisa meluluhkan hati Weni.
Ia masih menghindari kedua anak Kanda itu kapanpun dan dimanapun. Ia akan selalu menghindar atau berpindah dari suatu ruangan ke ruangan lain jika Taufik dan Fajri tiba. Begitu pula saat di meja makan, Weni akan membawa makanannya ke kamar dengan alasan ada pekerjaan di dalam,-
-atau bahkan mengubah waktu makannya menjadi sebelum atau sesudah anggota rumah itu makan.
Taufik mengira hanya butuh waktu sampai Weni mau menerimanya. Ia tidak ragu untuk memanfaatkan semua kesempatan membantu Ante Weni untuk mendapatkan restunya untuk tinggal disini, namun sejauh ini belum ada satupun yang berhasil.
Weni selalu membuang muka atau mengucapkan terima kasih dengan intonasi ketus ketika Taufik ataupun Fajri membantunya melakukan sesuatu. Bustamar yang sadar perilaku buruk anaknya ini sudah berkali kali mencoba untuk menegur, namun Weni tetap keras hati karena sejak awal ia-
-menolak mengadopsi dua anak itu.
Beberapa kali Taufik merasa tersinggung dengan perilaku Weni. Namun ia hanya memendamnya sendiri. Terkadang, jika ada Suja atau Bustamar yang juga melihat perilaku Weni kepada Taufik maupun Fajri, keduanya akan menasehati Taufik untuk bersabar.
“namonyo ibu ibu sadang hamil, yo agak hoyak saketek..” (namanya ibu ibu lagi hamil, memang agak goyang sedikit..) canda Bustamar.
Setelah satu bulan tinggal di rumah ini, Taufik dan Fajri sudah mulai terbiasa dengan polanya. Bangun pagi, menanak nasi, bersiap sekolah, pulang, menemani Bustamar mengobrol atau mendengarkan ceritanya, mengerjakan pekerjaan rumah, mencari pakan sapi, belajar, lalu kembali-
-bersiap tidur. Kegiatan itu berulang secara terus menerus setiap harinya.

Di sekolah, Taufik yang memang murid pindahan baru belum memiliki banyak teman. Pada 2 bulan pertamanya berkesekolah di SLTP itu, sebenarnya sudah ada beberapa orang yang mulai dekat dengannya.
Namun kasus yang menjadi buah bibir mengenai ayah dan ibunya pada akhirnya membuat orang orang ragu berteman dengannya.

Hal yang lebih tidak mengenakkan lagi terjadi pada Fajri. Teman teman sekolahnya yang belum terlalu paham adab menanyakan pertanyaan pertanyaan yang membuat-
-Fajri tidak nyaman, bahkan ia pernah menangis karena kesal dan mengadukannya pada Taufik sepulang sekolah.

“Kamu pernah liat kepala ibu ayahmu lepas ga?”

“Kamu beneran anak palasik kan?”

“kata ibuku ayah sama ibu kamu palasik yang kabur ya?”
Dan berbagai macam pertanyaan polos namun menyakitkan lainnya dari siswa siswi sekolah dasar tempat Fajri bersekolah.
Namun hal seperti itu memang hanya ada di sekolah saja. Karena jika di Jorong, tidak ada orang yang berani mengusik apalagi mempertanyakan hal hal aneh pada mereka. Alasannya, apalagi kalau bukan karena keberadaan Bustamar di rumah tempat mereka tinggal.
Segala kegelisahan dan keraguan masyarakat seolah olah tidak akan terjadi selama Bustamar berada di sekitar kedua anak ini.

Sayang, masa masa mereka merasa semua akan kembali normal itu ternyata hanya berlangsung singkat.
Beberapa peristiwa terjadi dan mulai mengancam ketenangan mereka di rumah itu. Dan itu semua bermula dari Weni..
Hanya menghitung hari dari hari perkiraan melahirkan anak pertama Weni dan Suja. Perut Weni sudah sangat membesar dan ia semakin kepayahan. Untuk berjalan, ia seringkali meminta untuk dipapah.
Dari keadaanya, jelas Weni mengalami masalah kesehatan lebih kompleks dari ibu hamil lainnya. Namun satu satunya bidan di kampung itu, Ros, sudah menghilang sehingga Weni hanya mengandalkan obat obatan kampung untuk pengobatannya.
Salah satu bawaan kehamilannya adalah rasa mual, pusing, keram kaki serta rasa haus yang sulit hilang dan sering muncul ketika dini hari. Biasanya Weni menyiapkan satu buah teko berisi air penuh dan gelas di dalam kamar. Namun malam itu Weni lupa untuk mengisinya dan didera haus-
-yang amat ketika jam baru menujukkan pukul sebelas malam.

“bang?..” panggil Weni hendak meminta diambilkan air, namun tidak ada suara jawaban.

Weni baru teringat malam itu Suja menghadiri acara rapek sumando di salah satu rumah warga yang baru saja menikah.
Mau tidak mau, Weni harus mengisi teko itu sendiri ke dapur, karena meminta tolong ayahnya, Bustamar, akan sama susahnya.
Dengan tertatih Weni berjalan keluar kamar. Satu tangannya ia gunakan berpegangan ke dinding serta tangan lainnya membawa teko kosong.
Weni berjalan menuju dapur secara perlahan. Kepalanya sebenarnya pusing, namun rasa haus yang begitu menyiksa tenggorokannya membuatnya tidak memiliki pilihan.

Saat baru beberapa langkah, tiba tiba saja seseorang memegangi tangan Weni yang sedang membawa teko.
“hati hati tante, biar saya bantu” Taufik yang menyusul Weni dari belakang coba membantunya berjalan.

Melihat kehadiran Taufik, Weni justru merasa risih. Selama ini ia terus menghindari kontak dgn Taufik. Namun malam ini, tangan Weni justru dipapah oleh Taufik.
“Udah gausah, ante bisa” ujar Weni sambil sedikit menarik tangannya.

Namun Taufik sama sekali tidak bergeming. Ia masih memegangi tangan Weni dan menatap lurus ke arah tujuan mereka, dapur.

“Udah, gausah dipapah” ujar Weni lagi.
Tetapi bukannya melepas, kini Taufik menarik tangan Weni menuju ke dapur dengan sedikit memaksa. Weni yang merasakan itu segera menahan tangannya sambil mencoba melawan dengan bertahan di posisinya berdiri, sementara Taufik sudah ada di depan Weni dan terus memaksanya berjalan.
“Taufik!” bentak Weni.

Taufik masih menggenggam pergelangan tangan Weni dengan erat dan menariknya ke dapur tanpa mengucapkan kata apapun.

“Lepaskan Taufik!” perintah Weni dengan nada membentak.

Taufik tiba tiba saja berhenti dengan kondisi masih berpegangan dengan Weni.
“Lepaskan?” tanya Taufik.

“IYA!” bentak Weni geram.

Namun tiba tiba kepala Taufik berputar seratus delapan puluh derajat dari yang semula menghadap dapur, kini ia berhadap hadapan dengan Weni.

“Dilepas disini aja tante?...”
Mulut Taufik lalu menyemburkan darah dan lehernya terus dipaksa berputar untuk yang kedua kalinya. Suara gemeretak tulang lehernya terdengar, disusul dengan kulit di lehernya yang terkoyak dan darah segar mengalir dari daging lehernya yang terbuka.
“AAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!’ Weni menjerit dengan sangat kencang.

Bustamar yang sudah terlelap lantas tersentak bangun. Dengan sisa tenaganya, ia berusaha bangun untuk memeriksa apa yang terjadi di luar.
Di belakang, Taufik dan Fajri juga tersentak bangun akibat teriakan Weni dari ruang tengah.

“WEN! BAA KAU WEN??” (WEN! KENAPA KAMU WEN??) Bustamar mencoba memastikan sebelum ia sampai ke posisi Weni yang sedang duduk meringkuk menempel dinding.
“AAAA!!! AAAAAAA!! AAAAAAA!!!” Weni masih menjerit histeris.

Taufik dan Fajri yang terlebih dahulu sampai di posisi Weni. Mereka mencoba menenangkan tante Weni. Namun tangan mereka ditepis dan dimaki.
“PAI KALIAN PALASIK!! PAI KALIAN DARI ANAK DEENN!!!!” (PERGI KALIAN PALASIK!! PERGI KALIAN DARI ANAK SAYA!!!) jeritnya yang seketika membuat Taufik dan Fajri terhenyak.
Bustamar akhirnya tiba disisi Weni dan segera menenangkan putrinya itu. Weni masih terus meraung raung dalam pelukan ayahnya. Sementara Taufik dan Fajri hanya bisa meratap lemas setelah mendapat ucapan itu dari Weni.
“Lah, iko bia inyiak nan mauruih. Angku baduo, lanjuiklah lalok..” (sudah, ini biar kakek yang urus. Kalian berdua, lanjutkanlah tidur kalian) perintah Bustamar pada Taufik dan Fajri.
“..ayaah.. suruah paja paja tu pai ayah... inyo palasik yah.. anak Weni yah.. anak Weni..” (..ayaah.. suruh anak anak itu pergi saja yah.. dia itu palasik yah.. anak Weni yah.. anak Weni..) ujar Weni meraung dengan suara sesak dan peluh berceceran.
“Lah lah.. ndak adoh doh, Wen salah liek sajo tadi tu” (sudah sudah.. nggak ada.. yang kamu lihat tadi itu hanya salah liat) ujar Bustamar.

Taufik dan Fajri akhirnya undur diri dan kembali ke kamar mereka. Namun Taufik tidak bisa mematuhi perintah Bustamar untuk kembali tidur.
Dadanya sesak dan terus mengulang ulang perkataan Weni tadi dalam kepalanya.
Sementara Fajri yang terlihat memejamkan mata, nyatanya juga hanya berpura pura.

Kalimat “anak palasik” selalui menghantuinya tanpa ia tau apa maksud panggilan itu terus melekat padanya.
Setelah malam itu, ketakutan Weni sudah sampai di tahap yang berbeda lagi. Jangankan bersentuhan atau semacamnya, sekarang setiap Weni akan keluar kamar untuk ke dapur dan sebagainya, Taufik dan Fajri harus masuk dulu di dalam kamar mereka hingga Weni selesai.
Hal ini adalah hasil kesepakatan antara Suja dan Weni, dimana Weni meminta Suja mengusir anak anak itu dari rumah, sedangkan sebaliknya, Suja dan juga Bustamar menolak atas dasar kemanusiaan. Perdebatan hingga akhirnya kesepakatan ini dibuat berlangsung cukup runyam.
Intinya, Weni tidak berkenan lagi melihat dan dilihat kedua anak itu di rumah ini lagi dan Suja harus bisa memastikan itu.
“Nyiak.. Tante Weni benci sama Fajri dan abang ya..?” tanya Fajri siang itu di teras menemani hobi Bustamar : melamun sambil melihat lalu lalang warga yang melintas di depan rumahnya.
“Banci baa lo?.. indak. Inyo tu agak takuik baa baa dek hamil. Fajri lai tau? Urang hamil jo anak bayi tu banyak nan ka manggaduah. Nah dek itu Weni salaku induaknyo agak risau” (benci gimana?.. enggak.. dia itu agak ketakutan saja karena sedang hamil. Fajri tau? Orang hamil dan-
-anak bayi itu ada banyak gangguannya. Nah karena itu, Weni yang mau jadi ibu lumayan risih) jelas Bustamar.
“..tapi tante Weni sampai ketakutan begitu liat kami. Dan kami dibilang palasik.. sebenarnya palasik itu apa Nyiak?” tanya Fajri yang kini sudah terbuka dengan Bustamar setelah keduanya sering berbagi cerita.
Bustamar mengetuk ngetuk ujung rokoknya ke asbak hingga abu yang sudah menumpuk berguguran. Ia lalu menghisap rokok itu sekali lagi dan mengeluarkan asapnya melalui hidung.
“intinyo kok di nagari awak Minang ko, palasik tu samacam ilmu hitam. Ilmu jahek lah. Nan bisa mancalakoan urang lain, tarutamo anak bayi atau anak ketek” (intinya di negeri Minang ini, palasik itu semacam ilmu hitam. Ilmu jahat lah. Yang bisa mencelakai orang lain, terutama-
-anak bayi atau anak kecil) jelas Bustamar.

“tapi kenapa ayah sama ibu dibilang palasik?.. ibu sama ayah bukan orang jahat. Ibu malah sering kasih orang orang obat” sanggah Fajri.
“Fajri, palasik tu ndak bisa nampak di badan ko doh. Kok Fajri yakin ayah jo ibu urang elok, bararti urang urang tu nan salah tu. Nyo awak kan nan paliang tau takah ma gaek wak surang, yo ndak?”
(Fajri, palasik itu tidak bisa keliatan dari bentuk badan. Kalau Fajri yakin ayah sama ibu Fajri orang baik, berarti orang orang itu yang salah. Kan kita yang paling tau tentang orang tua kita sendiri, ya kan?) ujar Bustamar sedikit menenangkan pikiran Fajri.
“iya nyiak”

“nah.. itu”

“tapi nyiak..”

“angku nio tau ndak palasik tu apo jo macamnyo?” (kamu mau tau tidak palasik itu ada apa saja macamnya?) potong Bustamar sebelum Fajri menanyakan pertanyaannya.
“maksudnya nyiak?”

“aaa dangaan ko lah, nan palasik ko ado limo lo modenyo, macam macam lo parangainyo, dari nan remeh sampai nan ngeri´ (nah, dengerin ya, palasik itu ada lima macamnya dan macam macam juga kelakuannya, dari yang remeh sampai yang mengerikan) Bustamar-
-menunjukkan kelima jarinya sebagai alat peraga.

“Nan patamo, mode palasik nan paliang tuo, palasik sawah namonyo. Urang nan mamakai iko ko, ciri cirinyo inyo bajalan baputa puta di pamatang sawah urang, tu bisuak mati padi padi urang deknyo, tapi nan sawah inyo makin rancak”
(Yang pertama itu model palasik paling tua, namanya palasik sawah. Orang yang pakai ilmu ini, ciri cirinya dia akan jalan berputar putar di pematang sawah orang, lalu besoknya padi di sawah itu mati, sedangkan padi di sawah milik dia sendiri justri semakin bagus) ujar Bustamar.
Fajri menyimak dengan serius.

“Palasik nan kaduo, namonyo palasik samba. Iko palasik nan lamak ka badan surang ndak lo marugian urang bana do. Inyo ko maambiak raso dalam makanan. Nah kok Fajri makan goreang ayam misal, tapi lah dimakannyo dulu dek palasik samba, ndak adoh-
-rasonyo samo sakali ayam tu lai. Kan galia tu, awak nan mangunyah, inyo nan dapek lamak” (palasik yang kedua, namanya palasik sambal [indo:lauk]. Ini palasik yang cari keuntungan di badan sendiri, tapi tidak terlalu merugikan orang. Dengan ilmunya, dia bisa mengambil rasa dalam-
-makanan. Contohnya kalau Fajri makan ayam goreng, tapi sebelumnya sudah dimakan dulu oleh palasik sambal, ayam itu udah gaada sama sekali rasanya. Kan curang kalau begitu, kita yang capek ngunyah, tapi dia yang dapat rasa enaknya) jelas Bustamar sambil terkekeh.
Fajri tersenyum dan sedikit tertawa mendengar penjelasan palasik samba yang menurutnya aneh itu.

“nan katigo, iko nan paliang banyak. Palasik anak namonyo. Kok nampak nyo anak bayi, dibaco bacoannyo dari jauah sambia dicaliaknyo mato anak tu, ah bisuaknyo damam anak tu. -
-Kuniang badannyo. Baun busuak ciriknyo. Kok nan parah bisa maningga dek sakik tu. Ciri ciri paliang mudah, urang nan punyo ilmu ko ndak ka amuah gai mandukuang anak ketek doh. Soalnyo kok tadukuang dek nyo bayi tu, ndak bisa dipakai ilmu palasiknyo ka anak tu lai doh”
(yang ketiga, ini yang paling banyak. Palasik anak namanya. Kalau dia melihat ada bayi, dia akan baca bacain bayi itu dari jauh sambil ngeliatin mata anak itu, lalu besoknya anak itu akan demam. Badannya kuning. BABnya busuk yang tidak wajar. Bahkan kalau parah, penyakit-
-penyakit itu bisa sampai buat dia meninggal. Palasik anak ini, ciri ciri paling mudahnya, orang yang punya ilmu ini tidak akan mau menggendong anak bayi. Karena kalau sudah dia gendong, anak bayi itu tidak bisa lagi dia jadikan korban) jelas Bustamar lagi.
“Kalau anak kecilnya sakit sakit, keuntungan buat palasiknya apa Nyiak?” tanya Fajri.

“Badannyo bugar. Sehat. Ado lo kicek urang jadi awet mudo wajahnyo ko” (Badannya jadi bugar. Sehat. Ada juga yang bilang dia jadi awet muda wajahnya) jelas Bustamar.
“yang ini baru jahat Nyiak” komentar Fajri.

“Eh alun lai, ko makin kamari makin parah mah. A nan kaampek, palasik kuduang namonyo. Ko sacaro bantuaknyo, iko nan paliang ngeri wak mancaliaknyo Jri. Inyo ko asanyo dari palasik anak nan manambah ilmunyo. Kok palasik anak masih-
-babantuak urang, palasik kuduang ko alah balain bantuaknyo. Nyo sarupo kapalo jo isi paruik tabang tabang!” (Eh masih belum. Ini yang berikutnya malah makin parah dari yang tiga tadi. Yang keempat itu palasik kuduang [indo : potong]. Secara bentuk, dia ini yang paling ngeri-
-kalau dilihat Jri. Dia ini asalnya adalah pengguna palasik anak yg meningkat ilmunya. Kalau palasik anak masih berbentuk manusia, palasik kuduang udah berbentuk lain. Dia menyerupai kepala dan isi perut yg terbang!) Bustamar memasang wajah ketakutan utk menggambarkan sosok itu.
“Hii!” Fajri mengerenyit membayangkan deskripsi itu.

“Cubo bayanganlah, ado kapalo tabang tabang jo isi paruik. Baa ndak takuik urang tu??? Kalau masih jadi palasik anak biaso inyo pakai tatapan mato tu mambuek sakik, palasik kuduang ko dimakannyo anak baru lahia tu”
(Coba kamu bayangkan. Ada kepala terbang sama isi isi perutnya. Gimana orang tidak takut?? Kalau masih jadi palasik anak biasa, dia pakai tatapan mata untuk membuat anak targetnya sakit, kalau palasik kuduang ini dia akan memakan anak baru lahir itu)
“Kalau begitu mati anaknya nyiak??”

“Indak..” (tidak)

“fuh..” Fajri lega.

“Ntah mati antah kama, tapi ndak adoh nyo nampak li doh (Entah mati atau kemana, tapi anaknya paling ga keliatan lagi)

“Inyiak!”

“ahahaha..”
“nah nan kalimo, iko nan paliang jarang ado tapi nan paliang babahayo lo. Namonyo palasik ma..” (Yang ke lima, ini yang paling jarang ada tapi juga yang paling berbahaya. Namanya palasik ma..)
“Yah, makan lah siap. Weni makan siap awak makan, jadi awak dulu nah” (Yah, makan sudah siap. Weni makannya setelah kita makan, jadi kita duluan, ayo) ajak Suja dari ambang pintu dan memotong obrolan Bustamar.
“naah makan wak lu nah. Litak inyiak ha. Beko sambuang” (Ayoo makan dulu kita. Kakek lapar. Nanti kita sambung ceritanya) ujar Bustamar sambil membenarkan lagi posisi sarung dan mematikan sumbu rokoknya.
“tanggung Nyiak” rengek Fajri.

“beko bekoo. Makan luu. Dingin nasi ndak lamak lai doh” (nanti nanti. Makan dulu. Ga enak makan kalo nasinya dingin) ujar Bustamar.
“Taufik, ngapain duduk sendirian disini? Ayo makan juga” ajak Suja pada Taufik yang bersandar di dinding yang berada di belakang Bustamar dan Fajri sejak tadi.

“Iya Om..” jawabnya sambil bangkit ke ruang tengah.
Keempatnya lalu berkumpul di meja makan. Suja sudah menyiapkan satu dandang nasi hangat dan beberapa lauk. Ia juga menyodorkan piring kosong untuk ketiga orang itu makan. Namun tiba tiba..

“AH! ABANGG!!” pekik Weni dari dalam kamar.
“WENI?!” Suja dengan panik segera mendatangi suara itu.

“Sakit bang! Aduh.. aduh..” ujar suara Weni dari dalam.

Diluar, Bustamar sudah menghentikan suapannya dan menyimak apa yang terjadi, dan sesuai dugaannya Suja keluar dari kamar dengan tatapan panik.
“Yah, titip Weni ciek yah. Ambo ka tampek Nek Utiah, lah kontraksi paruiknyo. Bantuaknyo lah ka malahiaan lai” (Yah, titip Weni ya. Saya mau ke tempat Nek Uyiah dulu, perutnya sudah kontraksi. Sepertinya sudah akan melahirkan) ujar Suja dengan tergesa.
“ah iyo iyo, hati hati” balas Bustamar.

Bustamar bangkit dari duduknya dan dengan perlahan menuju ke kamar anaknya.
“Makan lah kalian dulu. Beko kok sudah, masuak ka dalam biliak dulu yo” (selesaikan makan kalian dulu. Kalau sudah, masuk ke kamar dulu ya) pesan Bustamar.
Fajri dan Taufik paham dan mempercepat agenda makannya. Setelah selesai, mereka kembali ke kamar dan mengurung diri, tujuannya tentu saja agar Weni merasa aman dan tidak histeris lagi kalau ia keluar kamar jika dibutuhkan.
Taufik dan Fajri tidak tau apa yg terjadi diluar sana. Suara yang terdengar ke kamar mereka hanyalah suara teriakan Weni dan suara seorang wanita yg Taufik duga adalah Nek Utiah. Hingga setelah 2 jam.. sebuah suara baru lainnya muncul dan itu adalah teriakan tangis seorang bayi.
---batas, InsyaAllah kita selesaikan Part 2 ini besok, dimulai dari jam 20.30 wib---
“Alhamdulillah..” ucap Taufik refleks ketika mendengar suara tangisan itu.

“Anaknya Om Suja udah lahir bang??” tanya Fajri.

Taufik mengangguk.
Hari itu adalah hari paling bahagia pasca pernikahan Suja dan Weni. Penantian lima tahun mereka berbuah manis dengan lahirnya seorang anak perempuan lucu yang keduanya beri nama Fitri Sujeni.
Suja maupun Weni menangis haru bersamaan dengan teriakan tangis Fitri saat itu. Bustamar juga tidak kalah sumringahnya. Akhirnya ia punya cucu kandungnya sendiri setelah orang orang seangkatannya bahkan sudah ada yang punya cicit.
“Alhamdulillah nak. Aman, langkaok sadonyo. Pandarahan ndak bana lo doh.. lah, salamaik yo lah jadi ibu jo ayah baru” (alhamdulillah nak, Aman, lengkap semuanya. Pendarahannya juga tidak terlalu banyak.. sudah, selamat ya sudah jadi ayah dan ibu baru) ujar Nek Utiah, dukun anak-
-yang dipanggil Suja untuk membantu persalinan Weni sambil bersiap siap untuk pulang.

“Nek.. bisa enek buekan panangka palasik?..” (nek.. bisa nenek buatkan penangkal palasik?) pinta Weni yang nafasnya masih naik turun setelah mengejan hampir selama dua jam.
“Beko sajo lah tu. Anak kan baru lahia baru. Simpan inyo di dalam rumah, sudah aman itu. Batehan urang nan bisa maliek.. apolai, iko rumah Pusako Alam. Ndak ka bagak gai palasik tu naiak doh” (Nanti aja bikin penangkalnya. Anakmu kan baru lahir. Simpan dulu dia di dalam rumah,-
-dengan itu dia sudah aman. Batasi orang yang bisa melihat dia. Apalagi, ini rumahnya Pusaka Alam. Tidak akan berani palasik masuk kesini) ujar Nek Utiah sambil tersenyum.

“...tapi nek..”

“Yo nak Weni?” (Ya nak Weni?)
“anak bayi ko bamasuakkan ka dalam rumah bia tahinda palasik kan?..” (anak bayi ini dimasukkan dalam rumah biar terhindar dari palasik kan?) tanya Weni.

“Iyo, rumah tu nan paliang aman” (Iya, rumah itu yang paling aman) jawab Nek Utiah.
“..tu ba'a kalau palasik tu justru adonyo di dalam rumah ko?.. kama Fitri ko ka baandokan?..” (Lalu kalau palasik itu justru adanya di dalam rumah?.. kemana Fitri harus disembunyikan?..) tanya Weni dengan air mata berlinang.
....

Di sebuah lereng perbukitan yang rimbun, jauh dari Jorong Tangah..

“Husjek!” ujar seorang pemburu babi agar anjing peliharannya berlari lebih kencang lagi.
Anjing miliknya dengan lihai melompati batang batang kayu yang rebah dan tidak melepaskan pandangannya dari babi-
-hutan yang terlihat panik dan bergerak tidak tentu arah.

“PINTEH ILIIAAA!!!” (Awasi bagian hilir!) pekik salah seorang pemburu babi lainnya untuk memberi tau koordinat arah larinya babi hutan pada yang lain.
“Capek! Capek! Capek! Kaja tu ha!” (cepat cepat cepat! Kejar itu!) perintah seorang pemburu lainnya pada anjing miliknya.

Babi hutan itu berlari begitu cepat dan beberapa kali hampir menabrak anjing pemburu yang mencoba memotong jalan.
Namun pada salah satu sudut hutan, tiba tiba saja babi hutan itu terperosok ke dalam sebuah lubang yang agak dalam.

Hal ini lantas membuat orang orang bersorak. Anjing anjing yang daritadi berlari mengepung babi itu sontak meloncat ke dalam lubang itu dan mulai menggigitinya.
Babi itu masih mencoba meronta meskipun kaki dan beberapa bagian tubuhnya mulai terluka karena gigitan anjing para pemburu.
Para pemburu babi mengitari lubang itu sambil tertawa puas. Suara pekik kesakitan sang babi menjadi hiburan bagi mereka yang menyukai kegiatan ini.
“Agiah! Agiah! Hahaha!” ujar mereka sambil sesekali menimpuki babi tadi dengan batu.

Tetapi ternyata babi itu tidak menyerah. Ia tiba tiba saja berhasil memanjat dinding lubang tadi dan lanjut berlari dengan keadaan sudah luka luka.
Orang orang yang tadi sudah hampir merayakan tertangkapnya buruan mereka, seketika harus mulai berlari lagi mengejar babi itu.
“Haih! Kok tau nyo bisa mamanjek, rancak den badia nyo tadi tu!” (Haih! Kalau tau dia bisa manjat, lebih baik saya tembak dia tadi!) keluh seorang pemburu yg menenteng senapan angin pada temannya.

“...” rekannya yang ia ajak bicara hanya diam mematung sambil melihat ke lubang.
“Oi, manuang jo ang, tasapo ang hah??” (Oi, bengong aja kau, kesambet hah??) tegur pria bersenapan tadi.

Pria yang ia ajak bicara menggeleng.
“gakti angku a guno urang manggali lubang di tangah tangah hutan ko?..” (menurutmu apa tujuan orang yang menggali lubang di tengah-
-tengah hutan begini?..) tanyanya ketika sadar lubang itu cukup rapi dan mencurigakan.

“antah, pamburu lain ka manjebak binatang di hutan ko mungkin?” (entahlah, pemburu yang lain membuatnya untuk perangkap hewan hutan mungkin?) jawab pria bersenapan.
Pria yang berdiri di tepi lubang tadi menyipitkan matanya. Ia lalu berjongkok dan mendekat ke salah satu sisi lubang.

“kamari lah ang..” (kesini kau) panggil pria tadi.
Pria bersenapan itu lalu mendekat dan melihat ke arah tunjuk pria tadi.
“ang paratian.. apo tu..” (coba kamu lihat, apa itu..) tunjuknya pada salah satu sisi dinding lubang itu.

Pria bersenapan tadi memicingkan matanya dan mencari apa yang dimaksud rekannya itu. Sampai akhirnya ia sadar ada sesuatu yang mencuat keluar dari timbunan tanah..
Semula ia mengira itu adalah umbi akar yang kurus. Namun setelah ia sadar..

Itu adalah telapak dan jari jari tangan manusia yang tertimbun tanah..
...

PART 2 PALASIK MAYIK
-SELESAI-

Bersambung ke Part 3 Minggu depan (Kamis malam) dengan postingan baru.

Bagi yg mau membaca duluan dan support penulis, bisa akses ebooknya di Karyakarsa. Saat ini sudah tersedia Part 1-5 :

Terima kasih

karyakarsa.com/Mwvmystic/p-70…

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with mwv.mystic

mwv.mystic Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @mwv_mystic

Feb 2
Tau ga, dulu Menteri Agama RI pernah ngegali area sekitar prasasti Batu Tulis Bogor buat cari harta karun yang konon bisa lunasin hutang negara. Tapi dia ngelakuin itu cuma berlandaskan omongan dukun yang dia percaya.

sebuah utas Image
Selama ini, kita mendengar banyak masyarakat umum yang menjadi korban penipuan dukun atau paranormal yang mengaku dapat melakukan ini dan itu.

Rendahnya pengetahuan, himpitan ekonomi dan sugesti kuat seringkali jadi alasan para korban mudah terpikat janji manis para dukun.
Tapi gimana kalau korban penipuan dukun adalah seorang Menteri Agama Republik Indonesia yang masih menjabat? Dan parahnya lagi ia sampai merusak situs peninggalan sejarah demi mencari harta terpendam yang dijanjikan sang dukun?
Read 16 tweets
Feb 1
Wanita di kiri bawah foto ini adalah nenek Asyani. Ia bersimpuh, menangis dan memohon ampun kepada hakim agar tidak dipenjara karena dituduh mencuri 7 batang kayu jati "milik" Perhutani.

sebuah utas Image
Nenek Asyani atau yang bernama asli Muaris adalah seorang lansia 63 tahun yang tinggal di Jatibanteng, Situbondo, Jawa Timur. Sehari hari, beliau bertahan hidup sebagai tukang pijat.
Nenek Asyani membuka praktek itu di rumahnya, sebuah rumah petak 6x5 meter sederhana bantuan dari pemerintah kabupaten karena pada 2004 dahulu nenek Asyani menjadi korban banjir bandang parah di dusun asalnya, Secangan.
Read 12 tweets
Jun 18, 2025
Tubuhnya tak besar, wajahnya murah senyum dan ramah. Namun ia berhasil mengalahkan dan mengusir Hercules, preman paling ditakuti kala itu, dari Tanah Abang.

Inilah kisah Bang Ucu Kambing, Panglima Perang Betawi yang legendaris.

sebuah utas Image
Hercules atau yang bernama asli Rosario de Marshall belakangan kembali diperbincangkan setelah organisasi yang ia pimpin dan bentuk, GRIB JAYA mengalami masalah dengan terlibat beberapa keributan.
Hercules sendiri bukanlah nama yang baru, ia sudah sejak dulu terkenal sebagai salah satu pimpinan preman paling ditakuti di Jakarta pada era 90an.
Read 19 tweets
Mar 19, 2025
Rizkil Watoni, seorang ASN yang BD akibat depresi setelah diperas oknum polisi belasan hingga puluhan juta agar kasus salah pahamnya tidak dibawa ke persidangan.

sebuah utas infografis Image
Image
Image
Read 9 tweets
Feb 2, 2025
TRAGEDI KEBAKARAN KERETA BAWAH TANAH DAEGU

Akibat satu orang depresi mencoba melakukan b*n*h diri, 192 nyawa orang lain melayang

a thread Image
Image
Image
Image
Image
Read 10 tweets
Oct 28, 2024
Setelah memotong kemaluan korban hidup hidup dan menampung d4rahnya untuk diminum, pelaku memut1l4si dan menjual daging korban dengan kedok daging sapi. Salah satu pembelinya bahkan sudah mengonsumsinya sebagai olahan rendang hati.

a thread Image
M. Delfi adalah seorang pemuda yang tinggal bersama ayahnya, Basri Tanjung, di Kabupaten Siak, Riau. Sehari hari, ia bekerja serabutan. Terkadang ia membantu ayahnya berjualan sate, kadang mengambil upah sebagai buruh bangunan. Image
Hingga akhirnya ia menjadi karyawan sebuah usaha isi ulang galon. Saat usianya masih sangat muda, 19 tahun, pada Februari 2013 ia menikah dengan Dita yang juga berumur sama dengannya. Namun pernikahan ini kandas hanya 8 bulan setelahnya tanpa sempat memiliki keturunan.
Read 21 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(