Hantu sandah merupakan salah satu hantu khas kalimantan tapi kurang populer dibandingkan kuyang. Sandah merupakan salah satu jenis kuntilanak dengan ciri khas wajah selebar nyiru.
Konon, wajahnya yang lebar merupakan kutukan karena telah mengguna-gunai / menundukan suaminya dengan cara yang kotor.
Kata orang, semasa hidup hantu sandah memberi makan/ minum suaminya menggunakan minyak perunduk yang dicampur darah haid, pakaian dalam-.
dan lainnya ke makanan atau minuman suami.
Suami yang terkena minyak perunduk akan tunduk pada istri, tidak bakal tergoda wanita lain dan hanya fokus bekerja. Bahkan si suami akan lupa mengurus diri seperti orang hilang akal.
Namun, aku takkan menceritakan perihal yang terjadi dengan paman. Tapi kisah nyata di dusunku sewaktu kecil.
Dokumen Pribadi
Sewaktu kecil, aku tinggal di sebuah dusun di pedalaman kalimantan. Dusun ini dibuka oleh bapak sewaktu muda, sekitar awal tahun 80an.
Sewaktu muda bapak memang kerja serabutan, mulai dari mencari kayu (ilegal logging), mencari gaharu, menjaga sarang burung walet,
dan terakhir mendulang emas.
Awalnya bapak mendulang emas di hutan, di sebuah sungai kecil yang disebut sungai Ucang. Di daerah ini dulu ada perusahaan kayu tapi entah kenapa berhenti operasi.
Jadi bapak bekerja bersama tiga orang saudaranya di bawah bukit dimana ada beskem pekerja yang yang ditinggalkan. Jaraknya sekitar 30 menit jalan kaki ke lokasi mendulang emas. Yang jelas lokasinya di tengah belantara entah berantah.
Sebagai tempat tinggal, bapak bersama adik dan abangnya membuat pondok. Tanpa diduga, daerah sekitar mereka mendulang ternyata berlimpah emas. Bapak dan saudaranya akhirnya membuat lubang tambang tradisional.
Ilustrasi. Bentuknya persis seperti ini.
Hasil melubang ternyata lebih besar dari mendulang. Kabar kelompok bapak yang menemukan emas di sekitar sungai Ucang segera menarik orang lain untuk mengadu rejeki. Para pengadu nasib berdatangan dari berbagai aliran sungai.
Baik dari Barito, Kahayan dan Kapuas. Bahkan tak sedikit dari Jawa dan Sumatra.
Seiring waktu, area tersebut berubah jadi pemukiman hingga terbentuklah sebuah dusun yang disebut Tosah Raya. Di area hilir sungai juga terbentuk dusun baru yaitu Tosah Kurik.
Bapak tidak lagi menjadi penambang, tapi pembeli emas. Emas dibeli dari para penambang, dilebur lalu dijual di Banjarmasin. Kalo tidak salah sekitar Rp. 8 ribu pergram, lalu dijual di Banjarmasin Rp.12 ribu pergram.
Bapak juga buka toko kelontong, menjual berbagai sembako serta peralatan kebutuhan tambang tradisional. Ibu yang tingggal di kecamatan juga diajak tinggal di dusun ini.
Bapak yang dulunya bekerja serabutan kini menjelma menjadi seorang saudagar.
Secara perlahan fasilitas penunjang berdiri di dusun ini. Ada gereja, SD, dan Langgar. Sayangnya, untuk SD cuman ada gedungnya, gak ada guru yang mau bertugas di tengah hutan seperti itu.
Suatu hari, ada istri seorang penambang yang meninggal, sebut saja Isnah. Ia dimakamkan di pemakaman umum yang ada di dusun tosah kurik. Jaraknya sekitar 30 menit jalan kaki melewati hutan dan menyebrangi sungai.
Waktu itu aku masih kecil, sekitar 5 tahunan. Jadi cerita ini aku tahu dari pengalaman orang tua serta orang-orang dusun yang heboh selama bertahun-tahun.
Keanehan terjadi di pemakaman pagi itu. Jasad istri penambang tadi tidak mau dihadapkan ke arah kiblat.
Sontak para warga pun bingung. Berkali-kali jasadnya dihadapkan kearah kiblat, tapi balik lagi. Si jasad hanya terbaring kaku menghadap langit-langit.
Tentu saja para pelayat terheran-heran dan terperangah.
Warga yang tidak tahu mesti berbuat apa akhirnya memutuskan Isnah dikubur tanpa menghadap kiblat.
Kabar kematian Isnah yang janggal kemudian menyebar. Tersiar dugaan kalau ia telah berbuat durhaka pada suami.
Warga juga menjadi khawatir jangan-jangan Isnah bakal bangkit jadi hantu dan bergentayangan meneror warga kampung.
Maka dari itu hanya sedikit warga yang berani datang saat tahlilan.
Dan benar saja, selesai saat tahlilan malam ketiga, saat ibu-ibu beres-beres di dapur, mereka merasa ada yang janggal.
Mereka merasa ada seorang ibu dengan tampilan aneh ikut mencuci piring. Saat ditegur, wanita tadi menoleh dengan wajah pucat.
Ibu-ibu langsung teriak, karena yang ikut bantu ternyata adalah Isnah. Mereka langsung lari dan teriak-teriak. Bahkan ada yang pingsan.
Saat para bapak-bapak lari ke dapur, ternyata Isnah sudah tidak ada. Tapi ibu-ibu itu yakin yang mereka lihat adalah Isnah.
Apalagi yang melihat ada lebih dari 5 orang. Menurut para ibu tadi, yang paling mengerikan sewaktu Isnah menggoyangkan kepala, terdengar bunyi tulang kepala retak.
Kreek…kreek…
Ternyata kepala Isnah melebar kekiri dan kanan hingga selebar nyiru. Makanya ada yang pingsan. Orang-orang pun bubar dengan rasa takut masing-masing. Setelah itu gak ada lagi yang berani datang tahlilan.
Sejak kejadian itu, orang-orang takut keluar rumah selepas magrib. Teror ketuk pintu menghantui orang kampung setiap tengah malam diiringi suara geraman.
Isnah juga beberapa kali menampakan diri, tapi tidak mengganggu.
Kadang, Isnah datang ke rumahnya. Menjenguk anak-anaknya dari balik jendela. Kalau anaknya tidur, Isnah kemudian menghilang.
Pernah suatu malam, sekelompok penambang emas pulang kemalaman.
Saat menyeberangi sungai, mereka terheran ada seorang perempuan yang nyuci baju malam-malam. Awalnya mereka tidak curiga, karena menduga seorang ibu biasa yang kebetulan baru sempat mencuci di saat malam.
Mereka pun menyeberangi sungai tanpa rasa khawatir. Saat sudah berada beberapa meter di samping ibu tadi, barulah bulu kuduk mereka merinding hebat. Ternyata yang sedang mencuci adalah Isnah.
Setelah sampai di seberang, mereka langsung lari terbirit.
Ibu juga pernah didatangin. Ceritanya ibu sedang beres-beres usai sholat isya. Saat itu bapak masih tenggelam dalam dzikir.
Saat hendak ke dapur, ibu kaget karena ada yang ngetuk pintu sambil bilang, "cil…handak bayar utang."
Sewaktu buka pintu, ibu langsung menjerit. Di depannya ada wajah pucat yang sangat lebar, tersenyum, rambut menjuntai menyentuh tanah dan biji mata sebesar bola kasti.
Ternyata di depannya ada hantu Isnah yang menjulurkan tiga lembar daun nangka. Ibu langsung menjerit lalu pingsan. Bapak pun bergegas menolong ibu. Setelah tersadar, ibu cerita kalau ia baru saja didatangi Isnah.
Iparnya Isnah juga mengaku pernah diganggu. Waktu itu ia sedang tidur tapi tiba-tiba sesak napas. Saat buka mata, ternyata Isnah duduk di wajahnya. Hampir saja ia mati sesak napas kalau suaminya tidak segera datang ke kamar.
Ditanya kenapa sesak napas, katanya hantu Isnah duduk di wajahnya.
Yang terakhir adalah cerita om Sinaga. Ia baru pulang dari hulu kampung mau ke tosah kurik. Sewaktu lewat depan rumah kami, ia heran kenapa ada orang masak emas malam-malam.
kenapa ada orang masak emas malam-malam. Karena bapak pembeli emas, orang sering masak emas di depan rumah kami. Bapak nyediain tempat berupa cerobong, mirip cerobong asap.
Masak menggunakan kompor minyak tanah dan emas dimasak menggunakan air keras hingga kering.
Om Sinaga kemudian hendak menegur tapi tidak jadi. Ia sadar yang ia lihat adalah hantu Isnah. Rambutnya menjuntai menyapu tanah. Bahunya berguncang karena sesenggukan.
Om Sinaga mundur pelan-pelan tapi segera deg-degan. Kepala Isnah berputar 180 derajat. Wajahnya perlahan melebar membuat om Sinaga merinding. Tanpa pikir panjang om Sinaga langsung kabur sambil teriak minta tolong.
Setelah malam ke-40, tidak ada lagi gangguan Isnah. Pada pertengahan 90an, dusun Tosah Raya dan Tosah Kurik ditinggalkan penduduk karena emasnya sudah habis. Sejak itu keluarga bapak bangkrut dan kamipun jatuh miskin.
The Real Horor.
Cukup sampai di sini ceritanya, terima kasih. Tabe 😇🙏
• • •
Missing some Tweet in this thread? You can try to
force a refresh
"Ritual Pesugihan Sate Gagak di Makam Massal Korban Kerusuhan"
Sebuah kisah dari seorang kawan yang kini mendekam di penjara.
@IDN_Horor @bacahorror @P_C_HORROR
#bacahoror #threadhoror #ceritaserem #malamjumat
-Bismillah, kita mulai...
30 menit menuju pukul 12 malam, kami berlima harap-harap cemas. Sejak magrib, kami memang berkumpul di sini, di komplek kuburan massal korban peristiwa berdarah belasan tahun silam.
Semakin malam, udara terasa semakin dingin, sementara suara serangga, burung hantu dan hewan-hewan malam semakin riuh. Pohon-pohon yang mengelilingi kumpulan nisan tanpa nama ini bergoyang pelan tertiup angin, membuat suasana malam ini terasa semakin meresahkan.
Pak Wardoyo tersungkur bersimbah darah. Pinggangnya robek dengan luka mengangga. Ia menjerit kesakitan lalu terguling ke sungai. Ternyata Galih telah datang dengan sebuah mandau. Ia mengibas mandau ke sana kemari membuat yang lain gelabakan.
“Dibyo, lari!!!”
Galih menarik lenganku, kami berdua lantas berlompatan di atas batu, meninggalkan mereka yang terbengong di belakang. Sesampainya di pinggir sungai, kami berdua berlari sekencangnya hingga keringat membasahi tubuh.
Sontak kami menjadi kaget mendengar apa yang diucapkan oleh Retno. Terlebih lagi bu Lastri dan Pak Wardoyo, mereka benar-benar kebingungan. Mereka bersikeras bahwa baru pertama kali ke Kalimantan dan selama ini tak tahu keberadaan Retno dimana.
Semua menjadi jelas tatkala Retno menceritakan apa yang telah terjadi sebenarnya. Kala itu baru seketar enam bulan Retno berada di pedalaman Kalimantan dan bekerja di sebuah Bank milik pemda.
Bilah mandau melesat di samping, menggores pelipis dan membelah kuping kananku jadi dua.
Aku menjerit sejadinya hingga suaraku serak. Rasa perih terasa menjalar ke seluruh badan. Hampir saja aku terkena serangan jantung demi melihat darah membasahi pipi, leher, dan baju.
Rupanya pak Wardoyo berhasil menarik lenganku, sepersekian detik sebelum mandau melibas kepala dan mengeluarkan isinya.
Mandau hanya menghujam tanah persis di samping kepala, mengiris kuping jadi dua. Berhasil berdiri, aku gelabakan menjauh sambil memegang kuping yang terbelah.