Profile picture
, 90 tweets, 12 min read Read on Twitter
Kami berangkat menggunakan kereta. Selama perjalanan aku sulit tidur. aku dan Bagas saling bercanda, sampai Ayahku bilang "kalian ga tidur? ga capek? ayo gih tidur". aku dan bagas tetap ngeyel ga mau tidur karna kami sangat menikmati perjalanan menggunakan kereta itu.
Sepanjang jalan kami melihat sawah dan rumah-rumah yang sebelumnya kami belum pernah rasakan. Di kereta itu, Bagas dan aku terus bercanda sampai Ayah tegur lagi.. "hmm gini saja, Ayah mau cerita sesuatu.. supaya nanti kalian lekas tidur. ya.."
Ayah bercerita "jadi gini.. kalian tau dulu kakek kalian pernah ke kota yang sangat mewah? secara kasat mata memang pada dasarnya adalah sebuah hutan yang sangat lebat. Tapi kota itu sebenarnya jauh lebih berkembang dan sudah sangat modern dari kota-kota manapun"
"...Disana, tidak ada satu orang pun yang hidup susah. Tapi hanya orang-orang terpilih yang bisa masuk kota itu. Salah satunya kakekmu..", dengan bingung aku coba tanya "memang ada kota seperti itu?" Ayah jawab.. "hmm ada, di salah satu kota di Sulawesi tempat kakekmu"
"..kamu tau ga? warga di kota itu, pakaiannya serba kuning. dan konon terbuat dari emas. orang-orang disana, tidak punya garis pemisah diatas tengah bibir layaknya manusia normal. Dan akses kesana juga tidak mudah. Hmm.. dulu kakek juga berhasil karna ada yang bawa"
aku mulai bingung dan bertanya "Siapa yang bawa?..." ayah jawab "hmm.. baru cerita sebentar, itu Bagas sudah ketiduran. Gini saja, bulan depan Ayah rencana ada urusan ke satu kota yang tidak jauh dari kota yang ayah maksud itu. Nanti kamu ikut ya.."
"...sudah sekarang kamu tidur dulu".

aku putuskan untuk tidur didekat Ayah dan mencoba memejamkan mata. Tapi sangat susah dan mataku masih terus melihat ke arah jendela kereta. Sampai tidak terasa aku tertidur pulas juga pada akhirnya.
Keesokan paginya, kita semua sudah sampai. Aku, Ayah, ibu dan Bagas bergegas menyiapkan barang dan turun. Ternyata semalam kereta berhenti cukup lama di salah satu stasiun. Entah ada apa.
Sesampainya di stasiun Blitar, kami memutuskan menyewa angkutan kecil untuk ke tempat pakdhe
Angkutan umum itu di sewa oleh Ayahku sekaligus diantarkan oleh supir angkutan tersebut. Walaupun bangku nya sudah agak reot dan tidak ada pendingin, lumayan lah, untuk pengalaman. Aku sebelumnya tidak pernah naik yang seperti ini.
Sepanjang perjalanan Ayah ngobrol terus dengan supir angkutan itu. Kami melewati hutan-hutan dan pegunungan. Aku Mama dan Bagas malah tidur. Sampai kami tidak sadar sudah sampai ke tempat Pakdhe ku. Dan memang benar, kampungnya cukup jauh..
Aku melihat rumahnya lumayan besar tapi tidak terawat. Dan suasananya juga sunyi. Pintunya juga sepertinya sudah tidak layak. Kurang lebih mungkin gambarannya seperti ini...
Sesampainya disana, kita disambut oleh sosok wanita paruh baya menggunakan daster warna merah. Iya itu, Budhe ku. Dia menyambut dan menyuruh segera masuk. Budhe memeluk Ibu ku sambil menangis. Budhe bilang ia tidak menyangka suaminya harus diamputasi kedua kakinya.
Budhe sudah tidak punya uang lagi untuk hidup. Ibu ku juga menangis. Ayah mencoba menenangkan. Aku dan Bagas malah kebingungan sendiri.
Kemudian Budhe memelukku dan Bagas juga. Budhe sangat kaget melihatku sudah besar. Kemudian ia mencium keningku dan mengambilkan air putih.
Ia memberikan air putih kepada kami semua. Kemudian Budhe mengantarkan kami ke kamar Pakdhe ku. Disitu aku sangat deg-degan dan takut. Karna aku belum pernah melihat Pakdheku sebelumnya, aplagi ia mengalami kecelakaan dan bagian tubuhnya di amputasi.
Sesampainya di kamar Pakdhe, Ibu dan Ayah langsung menangis dan memeluk erat Pakdhe ku. Pakdhe terbaring di tempat tidur menggunakan selimut putih. Ibu menangis sangat kencang sambil memeluk Pakdhe.
Aku juga ikut terharu dan sedih melihatnya. Sampai akhirnya Pakdhe membuka selimutnya. Dan aku melihat kaki Pakdhe sudah tidak ada. Kulit tangannya juga terkelupas dan sesekali mengeluarkan darah. Aku sebenarnya merasa tidak tega melihatnya.
Pakdhe kemudian memanggilku. Aku mendekati Pakdhe dan menangis. Ia mencium keningku dan memelukku sangat erat. Pakdhe juga senang melihatku sudah semakin besar. Terakhir Pakdhe melihatku saat masih bayi. Pakdhe bilang supaya aku disini menikmati suasana pedesaan yang indah
Setelah itu, Budhe mengajakku dan Bagas keluar rumah dan kita bertiga menuju sungai. Sementara ibu dan Ayah masih di kamar dengan Pakdhe. Kita berjalan kaki menyusuri hutan. Aku yang baru pertama kali melihat pemandangan seperti ini merasa sangat senang
Ditengah perjalanan, Budhe mengeluh sakit kepala. Aku menyuruh Budhe berhenti. Tak lama kemudian Budhe memegang erat kepalaku dan aku berteriak kencang.. Budhe terus memegang ujung kepalaku dengan erat
Melihat itu, Bagas menangis sangat kencang. Dan tak lama Budhe malah jatuh pingsan. Aku dan Bagas bingung dan berteriak meminta pertolongan. Aku memeluk erat Bagas karna aku tidak tau lagi harus berbuat apa. Aku melihat sekelilingku hanya pepohonan.
Aku dan Bagas memutuskan untuk duduk di dekat tubuh Budhe. Kami hanya menangis dan sesekali mencoba membangunkan Budhe. Pengalaman hari pertama yang sungguh tidak mengenakkan bagiku.
Tak lama kemudian Budhe terbangun...
Aku dan Bagas langsung memeluk Budhe dengan sangat erat. Aku meminta Budhe untuk pulang saja. Tapi Budhe menolak dan memaksa melanjutkan perjalanan ke sungai, tapi Budhe meminta ijin untuk istirahat sebentar.
Kami bertigapun memutuskan untuk Duduk dan menunggu sampai Budhe sudah siap lagi untuk melanjutkan perjalanan. Sampai akhirnya Budhe terbangun dan mengajak kami untuk lanjut berjalan ke arah sungai. Suasana yang menyenangkan itu tiba-tiba berubah menjadi tidak seru lagi.
Aku yang tadinya tertawa saat itu hanya diam saja dan menggandeng Bagas. Tak lama setelahnya, aku melihat Sungai yang sangat besar dan arus airnya sangat deras. Disana aku dan Bagas sangat senang.. kami belum pernah melihat ini sebelumnya.
Saking senangnya... kami tidak sadar bahwa Budhe hilang. Aku berteriak dan Budhe tidak kunjung ada. Bagas tiba-tiba memanggilku dan melihat Budhe menuju satu rumah kecil di dekat sungai itu.
Saat kami teriakkan namanya.. Budhe menoleh dan memberikan tanda agar kami tunggu disitu saja. Aku dan Bagas pun menurutinya dan kami bermain didekat sungai. Tapi sebenarnya aku juga berpikir, kenapa Budhe tidak khawatir kami terbawa arus atau bagaimana nantinya..
Sekitar 1 jam kemudian Budhe keluar dari rumah itu dan mengajak kami kembali pulang. Aku dan Bagas sebenarnya masih ingin bermain tapi Budhe bilang sebentar lagi sepertinya akan hujan, jadi kami harus pulang. Aku melihat Budhe membawa bungkusan kecil berwarna hitam digenggamannya
Sesampainya di Rumah Budhe,
aku dan Bagas langsung mencari Ayah dan menceritakan apa yang kami alami selama perjalanan. Dan Budhe bilang kami berbohong. Darisitu aku sebenarnya sedikit kesal dengan Budhe. Namun Ayah hanya tersenyum dan menyuruhku untuk Makan.
Aku menuju dapur dan melihat mama sedang menyiapkan makanan untuk kami. Bagas dan Aku makan dengan sangat lahap karna memang kami benar2 lapar. setelah Makan, Mama menyuruhku dan Bagas untuk tidur siang karna memang kami terlihat sangat lelah.
Aku bangun sore harinya. Aku buka jendela di kamar kecil itu. Aku lihat diluar sudah mulai gelap. Aku menengok ke samping dan bagas masih terlelap. Aku putuskan keluar dan mencari Ibu. Tapi ternyata Ibu tidak ada. Akhirnya aku putuskan untuk kembali ke kamar dan tidur lagi.
Aku terbangun malam hari. Dan kali ini aku sendirian di kamar.
Bagas tidak ada. Suasana desa yang sangat gelap dan suara jangkrik sangat jelas terdengar. Aku putuskan untuk bangun dan keluar kamar. ternyata Ibu masih tidak ada. Akhirnya aku kembali masuk ke kamar.
Aku melihat Bagas di kamar dan dia tanya sekarang jam berapa. Aku balik tanya dia darimana saja. Dia bilang dari kamar mandi. Aku naik ke tempat tidur dan bilang ke Bagas bahwa Ibu dan Ayah tidak ada di Rumah. Bagas bilang dia juga tidak tau kemana mereka.
Bagas mengira mungkin mereka sedang keluar ke tetangga atau keliling desa karna mungkin kangen sudah lama tidak berkunjung. Aku pun berpikir itu masuk akal. Namun masalahnya aku merasa lapar dan ingin makan lagi.
Aku berjalan menuju dapur dan meninggalkan bagas di Kamar sendirian. Aku mendengar ada suara wanita bernyanyi tembang jawa.. seperti suara Budhe. Aku mengintip keluar dan melihat Budhe bernyanyi sambil menaburkan bunga dan bubuk (seperti garam) di Belakang rumah.
Suara Budhe menyanyikan dengan sangat merdu...
(kalian harus dengarkan agar paham dengan cerita selanjutnya)
Suara yang dikatakan Budhe..
Seperti...
ini...
Selesai bernanyi, Budhe kembali menabur-naburkan Bunga dan kemudian menoleh kearahku. Aku kaget dan cepat-cepat menutup jendela. Aku bergegas kembali ke kamar dan di depan pintu Kamar aku melihat Ibu. Ibu berkata supaya aku segera Tidur karna sudah larut malam.
Aku bertanya ibu darimana, dia bilang dari berkunjung ke rumah tetangga. Aku minta tidur dengan Ibu malam itu. Ibu pun mengiyakan. Aku berjalan menuju kamar di dekat kamar pakdhe. Aku bertanya ke Ibu, dimana Ayah.. kata Ibu Ayah malam ini tidur dengan Pakdhe.
Akhirnya aku putuskan untuk segera masuk kamar dan di dalam kamar aku ingat bahwa Bagas masih sendirian di kamar tadi. Aku bergegas kesana ingin bertanya ke Bagas apa dia mau tidur disana atau dengan Ibu. Saat aku hendak keluar, ibu bilang sekalian ambilkan air di dapur.
Aku menuju kamar bagas, aku melihat dia sedang tidur. Aku bangunkan dia dan bertanya dia mau tidur dimana. Bagas bilang tidur disini saja. Kemudian aku keluar dan matikan lampu kamar bagas itu. Aku tutup rapat pintunya. Dan menuju dapur lagi mengambilkan air yang diminta Ibu.
Sejujurnya aku tipe anak yang sangat mudah penasaran. Jadi pikirku ambil air sekalian kalau ketemu Budhe aku mau tanya tadi dia sedang apa... sesampainya di dapur aku dikejutkan oleh suatu hal.
Seseorang memanggil namaku dan mengajakku untuk makan. "mas.. mas.. ayo makan sama aku. katanya lapar tadi"
aku langsung merinding dan gemetaran karna saat aku menoleh...
AKU LIHAT BAGAS SEDANG MAKAN DAN DUDUK DI MEJA MAKAN.
Aku hampiri Bagas dan bertanya kenapa dia disitu. Dia bilang bahwa dia memang disitu dari beberapa saat lalu. Dan budhe yang memberinya makanan. Di kepalaku aku masih mengingat jelas bahwa Bagas di kamar sedang tidur.
Aku kemudian berlari ke kamar Bagas dan aku nyalakan lampunya. aku jelas lihat dia sedang tidur. Aku kembali ke dapur dan melihat Bagas sudah tidak ada di Dapur. Aku memutuskan kembali ke kamar ibu dan tidur.
Aku memeluk ibu dengan erat. Dan aku terlelap. Beberapa jam setelahnya aku terbangun dan aku melihat ibu tidak ada disampingku. Aku memutuskan untuk bangun dan mencari ibu diluar kamar. Aku lihat dari jendela, diluar masih gelap.. tapi sepertinya hampir subuh.
Aku menuju kamar Bagas. dan aku melihat Ibu, ayah dan bagas tidur disana. Aku membangunkan Ibu dan Ibu bilang ia tidak berani membangunkanku karna aku terlihat nyenyak.
Ibu bilang.. dia dan Ayah baru saja kembali dari rumah pak RT setelah berkumpul dengan beberapa tetangga seharian disana dan langsung tidur dengan Bagas.
Aku bercerita pada Ibu dan ibu bilang mungkin aku mengigau. Aku putuskan untuk mengajak Ibu ke kamar di sebelah kamar pakdhe agar tidur disana denganku karna kamar Bagas sudah tidak muat sepertinya dipakai tidur kami berempat.
Keesokan paginya..
Aku terbangun dan keluar kamar. Aku melihat ada Budhe dan Ibu sedang ngobrol berdua. Dan di meja makan aku lihat Ayah dan Bagas sedang sarapan. Kemudian ibu menyuruhku untuk mandi dulu kemudian sarapan.
Aku bergegas mandi dan setelah itu aku sarapan. Usai sarapan, aku pergi keluar bermain bersama Bagas. aku bermain didepan rumah Budhe. aku melihat Budhe seperti mengubur sesuatu.. sekilas aku lihat seperti mengubur bungkusan plastik.
Dari beberapa hal yang aku alami semalam. Aku seperti menyadari ada yang aneh dengan Budhe. Aku bilang ini semua ke Ibu. dan Ibu bilang bahwa dia sebenarnya memikirkan hal yang sama. Ibu berkata bahwa aku tetap tenang saja nanti Ibu ceritakan sesuatu.
Aku kemudian kembali bermain dengan Bagas diluar. Kemudian Budhe mengajak kami ke sungai lagi. Tapi aku menolaknya. Budhe bilang akan memberiku hadiah disana. aku tetap menolak.. namun Bagas malah mengiyakan dan memilih ikut Budhe. Aku melarang Bagas tapi dia tetap ngeyel.
Akhirnya Bagas dan Budhe berangkat kesana.. aku kembali ke Rumah dan melihat Ibu dan Ayah dikamar Pakdhe ku. Ibu bilang seharian kemarin ia berusaha mencari kendaraan yang bisa dan bersedia membawa Pakdhe ku ikut bersama kami.
Mengingat kondisi Pakdhe saat itu, ibu pikir kita akan kesulitan membawanya. Ibu ingin pakdhe agar berobat ke Kota saja dan tinggal bersama kami untuk sementara waktu. Aku kemudian menghampiri ibu..
Ia bilang, Pakdhe ku ternyata memanggil ibu kesini untuk meminta pertolongan. ia berkata bahwa Budhe ku sepertinya sudah ikut semacam pesugihan. Dan Pakdhe baru bercerita kemarin ke Ibu dan Ayah. Pakdhe juga merasa bahwa ia kecelakaan sampai di amputasi bukan tanpa alasan.
Pakdhe bilang memang mereka sangat kesulitan secara ekonomi selama tiga bulan ini. Sawah yang biasa dikerjakan Pakdhe sudah hancur dimakan hama. Budhe yang hanya ibu rumah tangga itu sepertinya sudah menyerah..
Tak lama kemudian, Budhe dan Bagas kembali. Bagas terlihat sangat ceria dan dia bilang dia tadi bermain dengan banyak anak kecil di sungai. Dan dia juga merasa senang bisa ke sungai hari itu .
Malam harinya,
Aku kembali melihat Budhe menabur kan garam dan Bunga di belakang rumah. aku menghampirinya dan dia bilang, ini harus dilakukan setiap hari. Aku bertanya kenapa? aku juga bertanya bahwa aku dengar bahwa Budhe ikut pesugihan?
Aku tanya kalau Budhe ikut pesugihan artinya apakah Budhe sedang dengan hal gaib?
Budhe membisikanku "Jangan percaya apa yang kau dengar sampai kau melihatnya sendiri".
Budhe kemudian berkata sesuatu padaku..
Dia memintaku mendengarkannya karna ini sangat penting.
Ia berkata seperti ini....
Setelah itu Budhe memberikanku secarik kertas. Ia bilang jangan pernah dibaca..
Budhe juga bilang, sebentar lagi aku akan menjadi anak yang pintar. Karena bisa membuktikan apa yang aku dengar. Budhe bilang, "apakah kamu bisa melihatnya?"
Sosok itu terlihat jelas dibelakangku. Tangannya panjang kakinya pun panjang. Aku berteriak dan memeluk Budhe. Ia bilang namanya adalah Jelma.
Lalu Budhe memelukku erat masuk ke dalam Rumah. Budhe bilang sebaiknya memang aku membawa Pakdhe bersama ku. Karena urusan Budhe dengan Pakdhe sudah cukup. Ia kini harus menyelesaikan ini semua sendiri.
Aku kemudian bergegas ke kamar dan sampaikan ini ke Ibu. Ibu bilang memang besok pagi sudah berencana membawa Pakdhe. Kemudian aku tidur di kamar dengan Ibu. Sementara Bagas sedang bersama Ayah.
Aku tidur sambil memeluk Ibu dengan erat. Aku ingin hari ini segera berakhir dan segera pagi. Tak lama kemudian aku sudah tertidur. Dan keesokan paginya, aku keluar kamar dan melihat rumah sudah sangat ramai.
Ternyata Pakdhe meninggal pagi itu. Aku bingung apa yang membuatnya meninggal sangat mendadak. Apa ini berhubungan dengan ritual yang Budhe jalankan semalam atau memang pakdhe sudah tidak bisa menahan sakit..
Ibu juga terlihat menangis. Ayah terlihat memeluk bagas. Kemudian Ibu dan Ayah mengurus pemakaman sampai dengan tuntas.
Malam harinya, aku melihat Budhe menangis terisak. Aku tau Budhe mungkin sangat sedih. Aku tanyakan ke Budhe, ia hanya berkata "kenapa diambil secepat ini. kenapa tidak sesuai..."
Aku pun bingung dan hanya berusaha menenangkan Budhe. Kemudian Ayahku datang dan bilang ke Budhe bahwa ia pamit besok akan kembali ke kota kami. Budhe pun mengiyakan dan kemudian memeluk Ayahku dengan erat.
Besok paginya, kami pun bersiap untuk kembali ke kota..
Aku melihat diluar banyak keluarga dari Budhe untuk ikut berbelasungkawa. Suasana masih sangat duka sehingga sesekali aku juga ikut meneteskan air mata dan sangat terpukul dengan kejadian ini.
Namun mengingat kami sudah menjadwalkan untuk kembali hari itu, maka Ayah dan Ibu berpamitan dengan Budhe dan keluarga yang lain. Aku sebenarnya tidak melihat raut kesedihan di wajah mereka, tapi aku yakin mereka hanya ingin menguatkan Budhe agar tidak larut dalam kesedihan.
Saat kami sudah keluar rumah, aku ingat jam tanganku tertinggal, aku lari kembali ke kamar dan mengambilnya.. dan aku mendengar saudara-saudara Budhe itu bilang ke Budhe "kenapa cepat sekali.. sampai aku bingung uang sebanyak ini mau kita apakan.."
Aku langsung mengerutkan dahi dan bingung dengan perkataan itu. Apa sebenarnya mereka sudah bersama-sama sengaja ikut pesugihan ini.. tanpa pikir panjang aku langsung keluar dan mengajak Ibu agar segera pulang.
Kita berjalan menuju rumah pak RT dan di rumah beliau sudah ada angkutan yang siap mengantarkan kami ke stasiun. kami pun bergegas untuk menaiki angkutan tersebut dan menuju stasiun kereta.
Sesampainya di stasiun, setelah peejalanan jauh yang kami tempuh, Ayah langsung membeli tiket kereta dan kami mendapatkan kereta malam hari menuju Surabaya.
Kami beristirahat di stasiun sambil menunggu malam hari...
Jadwal keberangkatan kami pun tiba.. kami memasuki kereta dan beberapa saat kemudian kereta berangkat...
Seperti biasa karna perjalanan yang jauh Ayah menyuruh aku dan Bagas untuk tidur.. dan tidak tau kenapa, berbeda dari saat berangkat, malam itu aku langsung tertidur di kereta. Mungkin karna kelelahan...
Aku terbangun dan melihat jam tanganku menunjukan pukul 11 malam. Aku kemudian mengambil air mineral ditasku. Saat aku merogoh isi tas, aku menemukan gulungan kecil kertas yang Budhe berikan padaku kemarin.
Aku lihat sekelilingku,
Ayah, Ibu dan Bagas sedang terlelap. Aku membuka kertas itu dan isinya seperti ini...
ꦭꦶꦁꦱꦶꦂꦮꦼꦔꦶ
wêngi sêpi durung bisa
Ojo tangi
Awas jo ngetoro…
Aku lagi bang wingo..
Dadyo wujud jelma sebarang…
Aku langsung menutup itu setelah membaca itu...
.
.
Sebentar.. apa kalian membaca tulisan tadi?
Karena aku baru ingat Budhe sepertinya bilang...
.
.
Siapapun yang membaca itu, Jelma akan mengantarkan dan menemani tidur nya malam ini.
.
.
Aku memejamkan mata.. Dan menatap atap kereta.
Aku tidak lagi mendengar, tapi menatap.
.
Jelma...
pulanglah...
.
.
- End.
Missing some Tweet in this thread?
You can try to force a refresh.

Like this thread? Get email updates or save it to PDF!

Subscribe to IG : NRSREY
Profile picture

Get real-time email alerts when new unrolls are available from this author!

This content may be removed anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!