Discover and read the best of Twitter Threads about #tolakpenjajahanbudaya

Most recents (24)

Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat, Ono Surono.

Banteng Jabar Prihatin Penyegelan Situs Batu Satangtung

Aksistensi Masyarakat Adat Karuhun Urang Sunda Wiwitan (AKUR) Cigugur Kabupaten Kuningan sebenarnya sudah diakui oleh Pemerintah.

Bandung, Gesuri.id
- DPD PDI Perjuangan Jawa Barat menyampaikan keprihatinan dan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Masyarakat Adat Karuhun Urang Sunda Wiwitan (AKUR) Cigugur Kabupaten Kuningan, komunitas adat-budaya di Jawa Barat dan seluruh Indonesia atas kejadian penyegelan pembangunan
Situs Batu Satangtung, Curug Goong di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan.

DPD PDI Perjuangan Jawa Barat telah mengundang Bupati Kuningan, Wakil Bupati Kuningan dan Ketua DPRD
Read 29 tweets
Tuanku Rao. Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak

Perang Paderi (Ada yang berpendapat kata ini berasal dari Pidari di Sumatera Barat, dan ada yang berpendapat kata Paderi berasal dari kata Padre, bahasa Portugis, yang artinya pendeta, dalam hal ini adalah ulama) di
Sumatera Barat berawal dari pertentangan antara kaum adat dengan kaum ulama. Sebagaimana seluruh wilayah di Asia Tenggara lainnya, sebelum masuknya agama Islam, agama yang dianut masyarakat di Sumatera Barat juga agama Buddha dan Hindu. Sisa-sisa budaya Hindu yang masih ada
misalnya sistem matrilineal (garis ibu), yang mirip dengan yang terdapat di India hingga sekarang. Masuknya agama Islam ke Sumatera Utara dan Timur, juga awalnya dibawa oleh pedagang-pedagang dari Gujarat dan Cina.

Setelah kembalinya beberapa tokoh Islam dari Mazhab Hambali yang
Read 55 tweets
Borobudur, candi Buddhis di Indonesia

BPS: Jumlah Buddhis di Indonesia Meningkat

Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Dalam sensus penduduk yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia berjumlah 237.641.326 orang. Dan
berdasarkan data sensus BPS diketahui bahwa jumlah umat Buddha di Indonesia pada tahun 2010 secara absolut adalah berjumlah sekitar 1.703.254 orang. Ini berarti dalam persentase sekitar 0,72% dari jumlah seluruh penduduk Indonesia.

Dibandingkan dengan sensus tahun 2000*, jumlah
umat Buddha pada tahun 2000 berjumlah 1.694.682 atau 0,84% dari jumlah penduduk Indonesia saat itu. Ini berarti umat Buddha mengalami penurunan dalam nilai persentase namun tetap mengalami peningkatan dalam jumlah nilai absolut.

Wilayah

Berdasarkan analisis
Read 16 tweets
Hindu Tamil di Medan

AGAMA Hindu Tamil yang ada di Medan memiliki kekhususan yang berbeda dengan agama Hindu pada umumnya yang ada di Indonesia. Agama Hindu Tamil berasal dari etnik Tamil, salah satu etnik terbesar yang mendiami sekitar teluk Benggali, India.

Agama ini
dikembangkan oleh komunitas etnik India di Medan yang leluhurnya berasal dari Tamil. Hindu Tamil saat ini bukan hanya ditemukan di Tamil India tetapi juga berkembang pesat di sejumlah wilayah di Srilanka, yang di sana menggunakan nama Tamil Nadu.

Menurut penelitian Kementerian
Agama (2012) suku Tamil yang ada di Medan tidak langsung berasal dari Tamil, tetapi peranakan di Pulau Andaman dan Nikobar yang merupakan tetangga jauh kepulauan Weh di Aceh. Kini etnik India itu banyak ditemukan di kota Medan dengan tetap mempertahankan tradisi leluhurnya,
Read 13 tweets
Benturan Ideologi : Kunti

Pada Januari 1918 Surat Kabar Djawi Hiswara dibawah kepemimpinan Martodharsono memuat tulisan yg berjudul "Pertjakapan antara Marto dan Djojo" oleh Djojodikoro. Artikel tersebut memicu kemarahan HOS Tjokroaminoto karena memuat sebuah dialog "Gusti
Kandjeng Nabi Rasoel minoem A.V.H. Gin, minoem opium dan kadang soeka mengisep opium." yg dimaksud dg Kandjeng Nabi disini adalah Nabi Muhammad. SAW.
Pada Februari di tahun yg sama, HOS Tjokroaminoto menghimpun solidaritas muslim seluruh Hindia Belanda untuk turun ke jalan, tak
kurang dari 150 ribu orang di berbagai titik di seluruh Jawa dan sebagian Sumatera melakukan demonstrasi dan protes menuntut pemerintah Hindia Belanda menghukum pimred Djawi Hiswara Martodharsono dan penulis artikel Djojodikoro. Demikian sejarawan Takashi Shiraisi menulis dalam
Read 16 tweets
Orang asli Indonesia yang telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka dan jauh sebelum agama datang. (edy/detikcom).

"Penghayat itu sebenarnya agama. Ya karena pada dasarnya istilah agama itu sendiri adalah berasal dari kata Bahasa Kawi. Jadi asli frasa agama itu untuk sistem
keyakinan yang ada di dalam negeri sebetulnya, yang dari bumi Nusantara," kata anggota Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI), Engkus Ruswana sebagaimana dikutip dari website MK, Minggu (7/5/2017).

Hal di atas disampaikan dalam sidang pada 6
Desember 2016 lalu. Engkus menyatakan hal itu saat menjawab pertanyaan hakim konstitusi Patrialis Akbar. Sebab Patrialis mencecar pemahaman agama dalam konsep Penghayat Kepercayaan. Belakangan, Patrialis ditangkap KPK.

Pada dasarnya istilah agama itu sendiri adalah berasal dari
Read 7 tweets
Merapal Tuhan di Alam Batin

Agama Sunda lawas yang berkeyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mengagungkan keesaan dengan berlaku baik dan cakap dalam hidup. Mengekspresikan kekuasaan Tuhan melalui perenungan dalam batin.

Sayup suara gamelan berkumandang lirih. Suara seseorang
mengetes mic bersisian dengan suara gamelan dan hilir mudik orang-orang melempar komando. Sesekali denting gamelan berganti lagu-lagu wajib nasional seperti "Garuda Pancasila", "Bangun Pemudi Pemuda", dan "Satu Nusa Satu Bangsa".

Sementara itu, anak-anak kecil riuh rendah
bermain dan berlarian menjelang pukul tujuh malam. Ibu-ibu dengan kebaya putih dan kain batik berlatih sekali lagi sebelum tampil. Sementara sebagian besar pria datang dengan pangsi hitam (pakaian adat Sunda) dan ikat kepala. Sebelum pukul setengan delapan malam, Bale Pasewakan
Read 62 tweets
Foto: sinarharapan.co

Tokoh Penghayat Kepercayaan: “Sudah Mati pun Kami Masih Didiskriminasi”

Masyarakat pada umumnya menganggap hanya ada enam agama di Indonesia: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan terakhir Konghucu. Padahal di luar itu sebenarnya ada banyak
agama lokal –atau sering dikenal dengan istilah kepercayaan– yang telah berkembang jauh sebelum ‘agama-agama impor’ datang ke Indonesia.

Dalam data yang dicatat Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2003, ada 245 aliran kepercayaan yang terdaftar, dengan jumlah penganut
mencapai 400 ribu jiwa lebih.

Sayangnya masih banyak terjadi diskriminasi terhadap agama-agama asli Nusantara ini. Tak satupun dari 245 kepercayaan tersebut boleh dicantumkan di Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Masalah ini berawal saat Sidang MPR tahun 1978 yang memutuskan bahwa
Read 60 tweets
Sanggar Ngesti Kasampurnan yang dirobohkan (Foto: kabar17.com)

Sanggar Dirobohkan, Pengikutnya “Diagamakan”

[Sumowono, Ungaran –elsaonline.com] Pasca sanggarnya dirobohkan, pengikut Penghayat Kepercayaan Ngesti Kasampurnaan terpaksa kini memeluk agama.
Pengikut yang jumlahnya kurang lebih 30 orang itu kini memeluk agama resmi negara atas saran dari aparat desa setempat.
”Waktu itu pengikut NK (Ngesti Kasampurnaan-red) ada sekitar 30 orang. Beberapa hari setelah sanggarnya dirobohkan mereka dipanggil ke kelurahan dan dusuruh
memeluk agama (agama resmi negara-red),” tutur Pengurus Ngesti Kasampurnaan pusat, Heri Mujiono saat mengikuti Focus Group Discussion (FGD) Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA), (6/10/14) di Hotel Puri Garden, Semarang.

Seperti diketahui, kasus ini bermula pada awal Maret 2012
Read 26 tweets
ADAKAH SALAM PEMERSATU SUKU BANGSA NUSANTARA???

Buddha dengan Namo Budhaya
Hindu dengan Om Swastiastu
Yahudi dengan Shalom
Kristen dengan salam selamat sejahtera
Islam dengan salamnya assalamu'alaikum yang berarti keselamatan
#BudayaNusantara
#NusantaraBukanKhilafah
Dan berikut agama & kepercayaan lain dengan salam kebajikan & sebagainya yang pada intinya ialah keselamatan, kesejahteraan & segala kebaikan hidup kita.
Namun salam agama tersebut biasanya difungsikan hanya untuk satu golongan pemilik salam tersebut dan tidak diperkenankan bahkan sangat di larang (diharamkan) di ucapkan pemeluk agama lain sesuai isi ajaran agamanya masing - masing.
Read 10 tweets
SANDINGAN

Jika hanya mengomentari dgn mata, maka orang akan menganggap; ini sesajen itu musyrik, syirik! Dosa!

Sandingan adlh sewadah pisang ayu, kelapa, gula, kopi, bunga sekar kubur, sari (uang), dll sesuai daerah masing, yg biasa diletakkan di pinggir pelaminan dll
Untuk apa?
Coba tanyakan ke orang kampung.

Wartawan : Pak, apa itu sesajen?

Sesepuh : Bukan. Ini sandingan.
Wartawan : Pak, itu makanan untuk jin?

Dialog :
Sesepuh : Bukan. Itu nanti akan dimakan orang.

Wartawan : Pak, biar apa pakek gitu-gituan?
Sesepuh : Uri-uri budaya. Ngikut kebiasaan mbah-mbah.

Wartawan : Lah, iya, Pak! Itu buat apa?

Sesepuh : Biar selamat. Acara lancar.

Wartawan : Loh, jadi Bapak lebih percaya pada pisang daripada Allah?

Sesepuh : Kami percayanya hanya pada Allah.
Read 8 tweets
Toris, Kepala Desa Tantetarima. Foto: Agus Mawan/ Mongabay Indonesia

Saat zaman kolonialisasi Belanda, kata Hamid, nenek-nenek moyang mereka harus berlari masuk hutan, sebagian lain terpaksa tunduk dan mengikuti ajaran Nasrani yang dibawa Belanda.

“Saat itu, nenek-nenek kami
dianggap ateis, kafir, atau animisme oleh Belanda.”

Di Dusun Tampaun, Rantetarima, ada perkampungan tua, terletak di hutan belantara. Menurut cerita, kata Hamid, di sanalah nenek mereka dulu sebelum terusir.

Era penjajahan pun usai. Jelang transisi Orde Lama ke Soeharto,
Undang-undang Nomor 1/PNPS (Penetapan Presiden) tahun 1965, tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, terbit. Saat itu, hanya lima agama diakui: Islam, Kristen, Budha, Hindu, Katolik, belakangan, Kong Hu Cu juga diakui.

UU yang diklaim dapat membendung ateisme
Read 11 tweets
Perlawanan Kultural Sunda Wiwitan

“Kami dilahirkan sebagai orang Sunda bukan atas pilihan dan kehendak kami, ditakdirkan sebagai masyrakat Nusantara juga bukan pilihan kami, tetapi kehendak Sang Hyang Maha Kersa, maka izinkan kami hingga akhir kami menutup mata kembali padaNya
dalam “keutuhan” menjaga tradisi leluhur kami, sembari mengejar “kebutuhan” administrasi negara.” Demikian ungkap penganut agama Sunda Wiwitan, Dewi Kanti, dalam Workshop Media Monitoring and Religious Intolerance yang diselenggarakan Freedom House di Jakarta, Minggu (18/03/2012)
kemarin.

Sunda Wiwitan merupakan salah satu kepercayaan spiritual asli nusantara yang sudah lama berada di tanah air. Bahkan sebelum agama-agama “impor” datang, Sunda Wiwitan telah ada dan secara turun temurun dituturkan dan dilestarikan dari generasi ke generasi hingga kini.
Read 9 tweets
Bertaruh Nyawa Demi Keyakinan

Mempertahankan keyakinan sebagai penghayat Sunda Wiwitan tidaklah mudah. Selain mengalami diskriminasi, nyawa harus siap dipertaruhkan.

Seperti masa DI/TII dan PKI. Saat itu, selain suhu politik yang memanas, masyarakat Indonesia penganut agama
kepercayaan ketar-ketir menyelamatkan diri. Kabar penyiksaan dan pembunuhan sejumlah komunitas kepercayaan di sejumlah daerah selalu sampai di telinga penghayat.

“Kami menyebutnya di PKI-kan. Bagaimana para penghayat itu disiksa, dibunuh, bahkan dikubur hidup-hidup,” ujar
penghayat Sunda Wiwitan yang juga anak tetua adat Sunda Wiwitan Cigugur Kuningan, Dewi Kanti kepada INILAH, belum lama ini.

Di tengah ketakutan ini, tetua adat Pangeran Jatikusuma mendapat petunjuk spiritual untuk menyelamatkan generasi. Yakni berteduh di bawah cemara putih yang
Read 24 tweets
Dewi Kanti Rela Tak Punya Akta Nikah

IRA Indra Wardhana menjadi korban tindakan diskriminatif terhadap kaum penghayat. Dia menganut penghayat Sunda Wiwitan. Banyak pihak yang menganggapnya sesat.

Tak hanya Ira, diskriminasi menjadi makanan sehari-hari penghayat Sunda Wiwitan
lainnya. Seperti yang dialami Dewi Kanti Setianingsih (39). Sejak menikah 2002 silam hingga sekarang, dia dan suaminya tak memiliki akta nikah. Alasannya klasik, karena Dewi Kanti penghayat Sunda Wiwitan.

Dampak tak memiliki akta nikah ini sangat luas. Dewi Kanti tak berhak
atas berbagai tunjangan seperti tunjangan kesehatan dari kantor suaminya. Meski faktanya sudah menikah, lantaran tak memiliki akta nikah, sang suami dianggap masih bujang sehingga perusahaan tak berkewajiban memberikan tunjangan istri.

Begitu pun saat nanti hamil dan melahirkan,
Read 28 tweets
Diskriminasi Membuat Sejumlah Umat Buddha Tidak Memiliki Akta Nikah Sampai Tua

Di beberapa tempat, perlakuan diskriminasi paling terasa salah satunya dalam hal pengurusan surat-surat kependudukan. Di Temanggung, Jawa Tengah, perilaku diskrimasi tersebut membuat sejumlah pasangan
umat Buddha status pernikahannya tidak diakui oleh negara secara resmi, bahkan sampai anaknya telah dewasa.

buddhazine.com/diskriminasi-m…

#buddha #tolakpenjajahanbudaya #gerakannasionalbudayanusantara
Ini yang mendorong Darwanti memilih mengabdikan dirinya sebagai Pegawai Pembantu Pencatatan Perkawinan Buddha (P4B) di wilayah Temanggung walaupun dengan upah yang sangat kecil.

Darwanti adalah putri asli Temanggung yang lahir pada tanggal 5 Januari 1965 di Dusun Mruah, Desa
Read 21 tweets
Sesaji sudah dihaturkan, upacara sedang berjalan sepertiga ketika terdengar suara suara lantang berseru "bubar..bubar..bubar!"

@Kemenag_RI @mohmahfudmd @jokowi

#NusantaraBukanKhilafah
#TolakPenjajahanBudaya
#BudayaNusantara
#NusantaraBerbudaya
Suara lantang yang memecah kedamaian saat semua khusuk merapal doa dan mantra sesuai kepercayaannya. Ada banyak komunitas, budaya, dan iman hadir di sore itu. Kasogatan, Hindu Budha, Sunda wiwitan, Garuda Mukha, Muslim, Katholik, Kristen, dan Kejawen.
Suara lantang yang beradu dengan gema genta, saat kami khusuk berdoa untuk leluhur dan negara.

Kapolres meminta kami menyelesaikan doa sebelum massa semakin ricuh. Kami menutup prosesi, padahal Ida Sri Bagawan sudah hadir.
Read 7 tweets
(foto: dok. Komnas Perempuan)

Hadir sebagai pembicara adalah dua orang seniman wanita, yaitu Dewi Candraningrum dan Dolorosa Sinaga.  Dewi Kanti, penyintas diskriminasi masyarakat adat dan penghayat sunda wiwitan, dan Samsidar, aktivis HAM juga hadir sebagai pembicara.
Menurut Dewi Kanti, negara belum bisa melayani kebutuhan masyarakat adat, khususnya dalam hal administrasi negara. Hal ini berdampak pada legalitas pengakuan negara terhadap eksistensi masyarakat hukum adat, termasuk di dalamnya wanita adat. Namun, Komnas Perempuan telah menjadi
pendamping, motivator, dan mengawal perjuangan hak wanita adat secara konstitusional.

“Komnas Perempuan telah berperan menguatkan kapasitas perempuan adat untuk mengenali hak nya sebagai warga negara dan melanjutakan advokasi perjuangan dengan cara yang konstitusional. Disinilah
Read 5 tweets
PENGHAYAT kepercayaan dan agama lokal menunjukkan KTP milknya di Kota Bandung, Rabu 20 Februari 2019.*/ARIF HIDAYAH/PR

Ketua Budi Daya Engkus Ruswana menyatakan, beberapa kebijakan pemerintah pusat yang menyokong keberadaan penghayat kepercayaan merupakan langkah awal.
Dibutuhkan kerja lebih besar lagi agar semangat kesetaraan itu sampai ke level terbawah.

“Tentang pencantuman penghayat di KTP, misalnya, masih banyak pejabat daerah yang belum paham prosedurnya. Atau bahkan masih takut melakukannya. Hal ini yang harus segera diubah,” tutur
Engkus pada Sarasehan Nasional Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Bandung, Selasa 22 Oktober 2019.

Menurut Engkus, harus ada sosialisasi dan dialog yang terus menerus tentang keberadaan dan peran penghayat di lingkungan terkecil. Penting bagi kelompok
Read 8 tweets
Anggota DPR RI: Warga yang Kosongkan Kolom Agama di KTP Sama Saja dengan Komunis

KUNINGAN (voa-islam.com)—KH Asep Maoshul Affandy, anggota Komisi II DPR RI meminta agar masyarakat yang tidak menganut agama resmi di Indonesia untuk tidak diberikan Kartu Tanda Penduduk
(KTP).

Kiai asal Tasikmalaya, Jawa Barat ini ini mencontohkan JAI (Jemaah Ahmadiyah Indonesia) yang kebetulan banyak penganutnya di Kuningan. Jika ingin mendapatkan KTP, mereka mesti berintegrasi dengan agama. Sebab menurutnya, Ahmadiyah bukan Islam. Sedangkan Islam sudah jelas
rasulnya yakni Muhammad SAW.

“Di agama itu kan ada perbedaan akidah dimana ada Islam dan non Islam. Ada juga perbedaan khilafiyah, dimana di Indonesia itu ada NU, Muhammadiyah, Persis. Di luar negeri enggak ada tuh NU, Muhammadiyah dan Persis,” terang legislator dari Partai
Read 8 tweets
Dipunahkan oleh Politik

Tak jauh dari petilasan Ario Penangsang, di desa Jipang, Cepu, Kabupten Blora, yang dialiri Bengawan Sore, sebuah gereja berdiri. Rupanya, penduduk desa itu dulunya adalah pemeluk agama lokal, Kejawen. Tahun 1965, pemerintahan Orde Baru lahir. Keluar
ketentuan baru untuk mencantumkan agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri tahun 1974, kolom agama di KTP harus diisi dengan memilih salah satu dari lima agama pilihan pemerintah. Pilihannya hanya Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha saja.
Kejawen yang dianut warga Jipang tak ada dalam pilihan. Tak mengisi, bisa dicap komunis atau PKI. Cap PKI tentu akan membuat hidup mereka sulit. Anak mereka tak bisa jadi PNS dan TNI jika ada cap PKI. Warga desa Jipang yang buta politik wajib mengisi kolom agama itu.
Read 6 tweets
Tahun 65-66, pada masa pembantaian PKI, sejumlah orang-orang Ansor (NU)
dengan mendompleng militer masuk ke Bali terutama di daerah Jembrana,
mereka orang-orang Islam ini dengan senang hati ikut membantai ribuan
orang-orang Bali PKI, karena menganggap orang-orang Bali layak
dibunuh
karena kafir.(tidak beragama)..saya mempunyai saksi Hidup yang bercerita
pada saya saat masih mahasiswa di bandung, namanya Pak Nyoman Sirna Mph.
Saat itu kebetulan ia berusaha melindungi beberapa orang yang
dikejar-kejar orang-orang militer dan Ansor ini ..200 ribu orang
yang
tidak berdosa, dan sama sekali tidak tahu tentang politik di bantai di
Bali...cerita gelap ini tidak pernah di buka karena sangat melukai dan
merupakan trauma mendalam bagi rakyat bali, dan juga di luar bali
terutama di Jawa Timur (korban terbesar setelah bali)..sampai
Read 5 tweets
Fenomena ini menarik karena ''masjid'' disimbolkan sebagai bagian dari sebuah sistem dalam pemerintahan Jawa. Sayangnya, harmoni keraton, masjid, dan pasar itu ''rusak'' setelah ada pemberontakan PKI pada 1965 (Johns, 198).
Robert R. Jay dalam bukunya, Religion and Politics in Rural Central Java, menunjukkan bukti-bukti menguatnya ortodoksi Islam setelah munculnya pemberontakan PKI. Asumsi Jay ini muncul setelah ia melihat dua masjid di Kelurahan Kebonsari, Jawa Timur. Keberadaan dua masjid ini,
tulis Jay, merupakan indikasi cukup jelas mengenai kekuatan ortodoksi dan komunitas.

Di Desa Tegalroso, Magelang, sebelum tahun 1965, hanya ada satu masjid dan tiga langgar. Masjid itu berada di Dusun Playon, sedangkan tiga langgar ada di Dusun Calonan, Petung, dan Gambas.
Read 13 tweets
BUD JAWA DILARANG HIDUP DI TANAH JAWA MOHON MAAF SAYA JUJUR
1.
Wanita di kerudungin kemudian dicadarin.
Artinya ? Sanggul dn kebaya perlahan tapi pasti akn hilang dari tnh Jawa. Hampir smua wanita Jawa yg sdh kerudungan tak akn mau atau tak "enak hati" saat disuruh pakai sanggul.
2.
Musik dan Nyanyi dilarang.
Walau saling bertentangan tapi ada gerakan mengharamkan musik dan pelarangan wanita menyanyi. Apa akibatnya? Gamelan, Campursari,tayub, ludruk,kethoprak, wayang akan tinggal cerita.
3.
Adat istiadat dan tradisi dilarang.
Akhir-akhir ini banyak yg berceramah tentang pelarangan selamatan, bersih desa, sedekah bumi, sedekah laut dll. Suka tidak suka akan terus menggerogoti pada keberadaan kebudayaan Jawa.
Read 6 tweets

Related hashtags

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!