Festival kampung, salah satu rangkaian Haul Gus Dur Kesepuluh di Yogyakarta, resmi dibuka di Desa Guwosari, Pajangan, Bantul. Agendanya nobar film dan diskusi tentang pernikahan dini.
Pemateri diskusi ada tiga orang. Pertama, kepala desa Guwosari, Mas Masduqi Rahmat. Kedua, dari puskesmas Pajangan Siti Markasanah. Ketiga, Ghozi Ahmad dari Gusdurian Jogja.
Mas Duki menyampaikan kegelisahan dengan tingginya angka pernikahan dini yang diikuti dengan angka perceraian. di kampungnya. Banyak yg bercerai karena berawal dari menikah dini.
Ia menyampaikan salah satu alasan mengapa dirinya yg millennials (kelahiran 1991) maju sebagai lurah adalah ingin menekan angka pernikahan dini dan perceraian yg disebabkan karenanya.
Mas Duku menutup presentasinya dengan quote Gus Dur. Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan manusia berarti merendahkan penciptanya #HaulGusdur
Bu Siti Markasanah menyampaikan materi ttg Kehamilan Tak Dikehendaki (KTD). Ia menyinggung soal usia minimal pernikahan. Di UU kita, saat ini usia minimal 19. Tapi bagi Bu Markas, usia baiknya di atas 20 tahun.
Bu Markas bercerita pernah menangani pasien yg melahirkan saat akan ujian sekolah. Ternyata orang tuanya tidak tahu kalau dia hamil. Ia berkisah berapa susahnya pasien tsb. Beberapa waktu setelah melahirkan, sang anak langsung berangkat sekolah.
Beberapa risiko kehamilan remaja: keguguran, kurang bulan, kelahiran sulit, berat badan lahir rendah, dll. Sementara dampaknya mulai gangguan kejiwaan hingga anemia!
Mas Ghozi menyampaikan materi dengan judul "Nikah Dini, Masalah atau Maslahah?". Ia mengawali dengan survei apa yang terbesit di pikiran pemuda ketika mendengar kata "nikah".
Salah satu peserta mengatakan "tanpa cinta tak akan ada pernikahan yang membahagiakan" uwuwuwuwuw ❤️❤️❤️
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
