Fauzan Al-Rasyid Profile picture
Master's degree in linguistics || Global Fact-Checking Network (GFCN) expert || Business inq.: 📞 +62 851-8306-5376

Jul 30, 2020, 21 tweets

Pagi! Kita sudah berada pada penghujung bulan Juli. Sebelum UTBK diubah menjadi dua gelombang, mungkin banyak di antara kalian yang hari ini sudah bernapas lega karena sudah diterima SBMPTN.

Sayangnya, gara-gara pandemi, UTBK diubah menjadi dua gelombang (dengan segala kelebihan dan kekurangannya, serta kehebohannya) dan kini kalian mesti bersabar menanti pengumuman. Rasanya mungkin seperti “terombang-ambing” dalam lautan ketidakpastian.

Sementara itu, banyak PTN yang akhirnya harus menyesuaikan seleksi mandirinya. Ada yang melaksanakan ujian secara daring, ada juga yang menggabungkan antara nilai UTBK dan rapor. Enggak ada yang menduga tahun ini akan “sangat menantang” terutama bagi calon maba angkatan 2020.

Meski begitu, saya pikir enggak ada yang lebih baik selain menjalani ini semua bersama-sama. Selama beberapa bulan terakhir ini, kalian semua kenal satu sama lain di dunia maya melalui akun-akun yang disebut “akun ambis” di Twitter.

Sampai akhirnya, kita semua mengenal apa yang disebut Ambisverse, suatu kata yang mungkin sedikit-banyak menyatukan sebagian besar angkatan 2020 di sini, di Twitter.

Akhir-akhir ini, saya juga mengikuti omongan-omongan, seperti “Ambisverse udah enggak sama, Ambisverse berubah, dsb.”

Saya cuma bisa bilang begini, pada akhirnya, menurut saya, kita enggak bisa berharap semua orang akan terus “ambis”, katakanlah, membahas soal terus tiap hari, berbagi catatan, dsb. “Puncaknya” memang telah lewat. Saya pikir itu terjadi pada tiga hari pertama pelaksanaan UTBK.

Setelah itu? Ya, masing-masing mulai membentuk “kelompok-kelompok” kecil. Ini sesuatu yang enggak terelakkan. Kenapa? Ya, karena yang sudah UTBK, “bebannya” sudah berkurang dan berusaha menjaga supaya tidak membahas soal apa pun.

Sementara, yang belum UTBK masih “deg-degan” dan berusah cari teman lain yang juga belum ujian dan mau belajar bersama.

Pada akhirnya, ini yang akan terjadi di kampus nantinya. Pertemanan di kampus berbeda dengan pertemanan semasa SMA.

Kamu mungkin bisa bergaul dengan seangkatan yang jumlahnya antara 200 hingga 300 orang. Namun nanti di perkuliahan, mungkin yang kamu “anggap” teman sungguhan enggak lebih dari 20 orang atau bahkan kurang.

Selebihnya? Ya … teman saja atau mungkin “kenal” saja. Di kuliah pun sebagian besar orang akan membentuk kerja kelompok dengan yang “itu-itu” saja (khususnya kalau dosen membebaskan memilih teman sekelompok).

Ini bukan sesuatu yang salah. Jadi, ketika pada akhirnya Ambisverse ini (dianggap) “berubah”, itu karena, pertama, puncak ujian telah lewat. Setelah ini, tiap orang akan mengambil jalan masing-masing, ada yang ambil ujian mandiri kampus A, B, C, dst.

Namun, saya pikir, ini semua adalah sesuatu yang patut dikenang. Apa pun yang terjadi, kalian semua adalah bagian dari seluruh perjuangan massal se-Indonesia ini. Apa pun pandangan kalian tentang “perubahan” ini, ini memang sesuatu yang enggak bisa dihindari.

Meski begitu, saya sendiri senang dan sangat bersyukur bisa dapat banyak teman baru dari jagat maya ini.

Ya, kita semua kan berteman (kecuali kalau sudah ada yang main “kapal-kapalan”, ini lain cerita #ehem ), dan kecuali kalau nanti ada yang “enggak sengaja” jadi mahasiswa Humas Vokasi UI, ya … kamu jadi mahasiswa saya, hahaha!

Teman-teman semua, Ambisverse, apa pun yang terjadi, kalian tetap satu, kalian semua orang-orang hebat yang berjuang sampai akhir. Namun, pada akhirnya, semua akan menempuh jalannya masing-masing, dan itu enggak masalah.

Yang jelas, jagalah pertemanan ini (dan “perkapalan” yang mungkin sedang diusahakan sebagian orang) karena dalam sebulan ke depan, kalian mungkin sama-sama mendaftar ulang di kampus dan jurusan yang sama, mungkin akan ada yang sekelas juga!

Saya selalu doakan yang terbaik untuk kalian semua. Saya percaya, Indonesia punya masa depan yang cerah ketika nanti, pada waktunya, kalian yang memimpin negeri ini. Saya yakin akan ada di antara kalian yang jadi petinggi-petinggi negara ini kelak.

Ketika itu terjadi, semoga nanti kalian teringat dan menoleh sejenak ke belakang, dan mengingat momen-momen ini, ketika ketidakpastian bertemu dengan persahabatan di dunia maya, dan itu karena kalian satu Ambisverse.

Sebagai penutup dan penyemangat, apa perlu saya bikin giveaway ini untuk mendukung produksi “dalam negeri”? Hahaha! 😎

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling