9 Catatan 75 Tahun Kemerdekaan Indonesia
(A Thread)
Sejak diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, kemerdekaan masih meninggalkan sejumlah catatan. Apa saja catatan itu? Gusmin mencatat setidaknya ada 9 catatan besar. Sebuah pekerjaan rumah untuk kita semua. #DirgahayuIndonesia
1. Intoleransi
Kasus intoleransi masih terus tinggi, terutama intoleransi atas nama agama. Kasus Ahmadiyah Cikeusik, Gereja Singkil Aceh, Masjid Tolikara Papua, Syiah Sampang, Gereja Yasmin, adalah beberapa catatan kasus yang terjadi.
Baru-baru ini, masyarakat adat di Kuningan dan keluarga Syiah di Solo mengalami kasus intoleransi tersebut. Di titik ini, kerjasama semua pihak menjadi instrumen penting untuk menyelesaikan berbagai kasus intoleransi secara adil.
2. Ketimpangan ekonomi
1 persen orang di Indonesia menguasai 50% aset nasional. Data ini menunjukkan ketimpangan yang sangat besar. Parahnya, ketimpangan dipertontonkan dengan sangat jelas.
kumparan.com/kumparannews/1…
Di media, kita bisa melihat tayangan di mana ada rakyat yang kesulitan makan di sisi lain ada sebagian lainnya yang mengumbar kemewahan.
3. Perusakan Lingkungan
Presiden Jokowi pernah mengatakan bahwa pembangunan harus memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan. Nyatanya, ada banyak pembangunan yang masih mengorbankan lingkungan.
Pabrik semen di Kendeng, PLTA di Poso, pembangunan bandara di Yogyakarta, perebutan lahan tani di Urut Sewu Kebumen adalah beberapa kasus yang pernah terjadi. Di Kalimantan, pembakaran hutan membuat banyak spesies langka seperti Orang Utan kehilangan tempat tinggalnya.
4. Hak Asasi Manusia
Di masa lalu, kita masih memiliki banyak catatan mulai kasus Munir, 1965, Kedungombo, pelenyapan aktivis ’98 dan lain sebagainya. Di masa kini, masih ada banyak kasus di mana HAM kerap dilanggar dalam penanganan sebuah aksi.
Penanganan kasus Novel Baswedan, pembangunan pabrik semen, penanganan demo mahasiswa Papua, menjadi contohnya. Kasus mahasiswa Papua di Jawa Timur bahkan merupakan kasus rasisme.
mediaindonesia.com/read/detail/32…
5. Undang-undang yang pro-rakyat
Sepanjang 2019-2020, terdapat banyak aksi menuntut pengesahan dan pembatalan rancangan undang-undang. RUU Penghapusan Kekerasan Seksual menjadi RUU yang sangat ditunggu pengesahannya.
Sementara RUU Cilaka atau Omnibus sangat ditentang. Ajaibnya, RUU PKS dihentikan pembahasannya, dan Omnibus Law dikebut untuk disahkan. tirto.id/penarikan-ruu-…
6. Pemberantasan Korupsi
Saat UU KPK revisi diajukan, aliansi masyarakat sipil menolak keras karena dianggap akan menggerogoti agenda pemberantasan korupsi. Namun DPR kemudian mengesahkan. Terbukti kini pemberantasan korupsi mengalami banyak hambatan.
Di sisi lain, setelah pegawai KPK dijadikan ASN, independensi pegawai jadi diragukan. Sebuah kemunduran.
republika.co.id/berita/qevkna3…
7. Oligarki dan Dinasti Politik
Sistem politik di Indonesia tidak ‘mewajibkan’ adanya oposisi. Meski keberadaan pihak yang berseberangan dengan pemerintah sangat diperlukan agar jadi control yang baik.
Periode kedua Jokowi ini semakin rumit karena dua kandidat yang bertarung justru menjadi satu kekuatan di pemerintahan. Sementara partai yang jadi pengawas semakin kecil suaranya.
Selain itu, fenomena dinasti politik ditampilkan di segala level.
Orang-orang yang berhubungan secara garis darah dengan pemegang kuasa memilih untuk melanggengkan kuasa dengan bertarung di jalur politik. Misalnya Bupati yang habis masa jabatan mengajukan istri atau anaknya sebagai calon. Dan lain sebagainya.
8. Pemanfaatan frekuensi publik
Pada dasarnya, frekuensi adalah milik publik yang harus dikelola untuk kepentingan rakyat. Hanya saja, di Indonesia frekuensi justru dimanfaatkan oleh pemilik media untuk mengeruk keuntungan dan menjalankan agenda politiknya.
Era konglomerasi membuat media-media di Indonesia hanya dikuasai segelintir orang, membuat kontrol informasi rawan dimanipulasi.
tirto.id/8-konglomerat-…
9. Pendidikan Tidak Merata
Dari Sabang sampai Marauke, pendidikan masih terpusat di pulau Jawa. Menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Era pandemi membuka mata kita di mana ketimpangan di bidang pendidikan begitu nyata.
Dari sisi infrastruktur, pengajaran online sangat menyulitkan siswa, khususnya dari luar pulau Jawa. Ada yang harus berjalan berkilometer hanya untuk sekadar cari sinyal. Belum lagi persoalan kualitas kurikulum dan pengajar.
Sembilan catatan di atas menjadi renungan buat kita semua. Tentu saja, ada banyak prestasi yang sudah ditorehkan dalam waktu 75 tahun ini. Kita selalu berharap yang terbaik bagi bangsa dan negara. Mari kita upayakan sembari terus berdoa.
Apa catatanmu di hari kemerdekaan ini?
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
