Dapur Profile picture
Bodoh pangkal rajin

Sep 22, 2020, 23 tweets

A Thread about #WestPapua current issue

"Penggiringan Opini atas Kasus Tertembaknya Pdt. Yeremias Zanambani"

Baiklah...

Mari kita bedah adanya penggiringan opini yg dilakukan sekelompok jurnalis terhadap insiden tertembaknya Pdt Yeremias Zanambani di Ko Hitadipa, Intan Jaya.

Tertembaknya Pdt Yeremias Zanambani awalnya diberitakan oleh Jubi.co.id dan suarapapua.com.

Kedua media tsb selama ini dikenal sbg media corong gerakan Papua Merdeka (Free West Papua).

Pemred jubi adl @VictorMambor
Pemred suarapapu adl @ArnoldBelau

O..iya...mrk adalah sumber info utama @VeronicaKoman, @febrofirdaus, @Dhandy_Laksono dlm pemberitaan Papua. Kedudukan @VictorMambor sbg jurnalis AJI, juga memudahkan ybs menyebarkan berita kpd jurnalis AJI lainnya yg bekerja di @TirtoID , @jakpost @tempodotco

Dengan memanfaatkan status sbg "jurnalis OAP" , pemberitaan yg dilempar oleh @VictorMambor dan @ArnoldBelau sering dianggap "otentik" oleh media2 yg tidak punya jurnalis di Papua.

Pokok'e semua yg mrk sampaikan dianggap benar...yg lain salah. 😂😂😂.

Nahhh...saat ini mrk sedang melakukan orkestrasi penggiringan opini bhw pelaku penembakan Pdt Yeremias adl oknum TNI.

Sayangnya..."tidak ada kejahatan yang sempurna".

Orkestrasi mrk terlihat tidak kompak.

Let's see..

Dengan menggunakan "warga yang tidak mau disebut namanya" , @tempodotco menampilkan artikel yg isinya "drama" detik-detik meninggalnya Alm. Pendeta Yeremias. Kemudian kalimat "drama" itu diangkat sama @febrofirdaus dlm cuitannya.

Nah...lucunya..."drama" tersebut tidak sinkron dengan informasi yg disampaikan @ArnoldBelau di suarapapua.com. Di pemberitaannya yg menggunakan sumber "warga yang tidak mau namanya dimediakan" mengatakan bhw alm ditemukan Minggu pagi dlm keadaan meninggal.

Nah lhooo...jadi kalimat : "Mama, saya sudah ditembak bla..bla..bla.." itu cerita dari mana?? Apa baru dikarang-karang belakangan untuk mendramatisir insiden tersebut??A

Apalagi pada pemberitaan jubi dan suarapapua, si "sumber" jelas mengatakan bhw istri pendeta telah pulang lebih dahulu.
Tanpa ada embel2 "datang kembali melihat pak pendeta setelah mendengar suara tembakan"

Lho kok belakangan @tempodotco menulis bhw istri pendeta kembali ke kandang setelah mendengar suara tembakan.

Hayoooo...klen kalo mau dramatisir kompakan dulu lah..

Dari sini jelas "orkestrasi" mulai fals

Yang satu bilang :

"Pendeta ditemukan pada Minggu pagi dalam kondisi tidak bernyawa"

Yang satu bilang :
"Istri pendeta menyusul ke kandang dan menemukan pak pendeta masih hidup"

Ga tau mana yg bener...
Karena ke- 2 nya menggunakan sumbernya "tidak mau disebut namanya"

Enak dong ya jadi jurnalis...

Ketika mau ngarang2..cukup bilang "sumber yang tidak mau disebut namanya"

😁😁

Mari kita lanjutkan..

Sekarang mari menggunakan logika utk membedah kalimat ini.

1. Mungkinkah seorang istri memarahi suami yang dalam keadaan tertembak??

2. Mungkinkan seorang istri tega meninggalkan suami dalam keadaan tertembak??

Justru "drama" buatan @tempodotco ini menurut saya merupakan "pembunuhan karakter" terhadap ibu Pdt. Yeremias.

Tempo seakan menegaskan bhw sang istri tega meninggalkan suaminya dalam keadaan tertembak dan baru kembali esok harinya.

Luar biasa teganya..

Ada lagi yang ga matching nih..

Si suarapapua bilang..alm pendeta ditemukan dengan luka tembak dan luka sabetan benda tajam..

Tapi mengapa pada kalimat "drama" versi @tempodotco pak pendeta hanya mengatakan ditembak saat ditemui sang istri ???

Lagi2...ya bebas aja lah...kan itu menurut "sumber yg tidak mau disebut namanya"

Naaahhh...sepertinya "drama" karangan @tempodotco ini sengaja dibuat utk meyakinkan publik bahwa seakan-akan ada "saksi" yg melihat/mendengar bhw penembakan tsb dilakukan oleh oknum TNI.

Krn pd berita jubi & suarapapua sebelumnya jelas menggambarkan bhw sang pendeta sendirian.

Publik yg sudah cerdas tidak akan percaya klaim penembakan dilakukan oleh oknum TNI tanpa ada saksi mata yg menguatkan.

Makanya perlu dibuat scene tambahan berupa "drama" utk meyakinkan adanya "saksi" yg mengetahui peristiwa tsb.

Sayangnya..."drama"nya ga nyambung.

Naaahhh...drpd berandai-andai dan terjebak dalam "drama" karangan jurnalis...lebih baik kita ikutin aja hasil olah TKP yg dilakukan Polda.

Janganlah kita terpengaruh dengan "drama" yg belum tentu kebenarannya.

Lagi pula...menurut "sumber yg tidak mau disebut namanya"..selama ini hubungan pak Pendeta dengan TNI sangat baik. Bahkan tanah dimana lokasi Koramil akan dibangun di Hitadipa merupakan pemberian almarhum. Jadi menurut sumber tsb kecil kemungkinan alm ditembak oleh TNI.

Lagi2..menurut "sumber yg tidak mau disebut namanya"...justru kemungkinan besar pak Pendeta ditembak oleh teroris OPM karena kedekatan pak Pendeta dengan TNI.

Tapiii...sekali lagi kita ga perlu berasumsi ..cukup percayakan penanganan kasus ini kpd Kapolda dan Pangdam di Papua. Mereka adalah putra2 terbaik Indonesia berdarah Papua. Mrk pasti jg akan memberikan kinerja yg terbaik demi Papua.

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling