Bunuh diri tidak selalu didahului dengan depresi. Ngukur perilaku bunuh diri yah pake alat ukur bunuh diri, bukan alat ukur depresi. Terapi untuk depresi juga tidak selalu efektif untuk mengurangi perilaku bunuh diri.
Isu bunuh diri jauh lebih besar daripada depresi atau gangguan jiwa lainnya. Narasi bunuh diri yang penjelasannya berhenti hanya di depresi atau di gangguan jiwa secara umum adalah narasi yang terlalu menyederhanakan masalah yang kompleks.
Kita bahas satu per satu yah.
Kenapa bunuh diri bukan hanya ttg depresi/gangguan jiwa?
"Only people with mental disorders are suicidal" masuk ke MITOS bunuh dirinya WHO (2014).
who.int/mental_health/…
"FAKTA : perilaku bunuh diri memang indikasikan ketidakbahagiaan tp tdk selalu ttg gangguan jiwa. Banyak org dgn gangguan jiuwa (ODGJ) yang tidak memiliki perilaku bunuh diri & tidak semua org yg meninggal bunuh diri punya gangguan jiwa."
Tapi, bukan cuma itu, #SobatHidup...
Thomas Joiner & tim (2012) menganggap gangguan jiwa tingkatkan risiko bunuh diri, tp sbgn besar ODGJ tdk sampai ke tahap percobaan & kematian bunuh diri. Mereka bangun teori dmn pemikiran bunuh diri muncul krn proses isu interpersonal seperti kesepian & persepsi jd beban.
Perasaan kesepian (thwarted belongingness) & persepsi jd beban (perceived burdensomeness) yang berujung pada pemikiran bunuh diri ini dapat dilihat pengembangan teori ke alat ukurnya di sini :
coping.us/images/IPT2012…
Ada lagi teori dari Klonsky (2015) yg jelaskan kombinasi kehadiran rasa sakit & putus asa yg mencetuskan pemikiran bunuh diri, kurangnya keterhubungan memperparah proses ini & adanya kapasitas "berani mati" yg akan memungkinkan ke percobaan bunuh diri : www2.psych.ubc.ca/~klonsky/publi…
Dari sini, kita bisa lihat bahwa manusia bisa terluka dan putus asa karena banyak hal sehingga berpikir hidupnya tidak lagi layak untuk dijalani, sehingga memunculkan pemikiran bunuh diri. Penjelasan gangguan jiwa saja tidak cukup untuk menjelaskan perilaku bunuh diri.
Para suicidolog global mendorong move on dari pembahasan ttg gangguan jiwa di riset bunuh diri. Glenn,dkk, anggap riset gangguan jiwa-bundir itu terlalu bnyk jumlahnya tp tdk bnyk jelaskan & prediksi kehadiran bunuh diri, sehingga mereka lakukan riset ini onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.100…
Dari temuan itu juga, Rory O'Connor, seorang profesor suicidolog mengajukan usulan melihat bundir sebagai "fenomena transdiagnostik", melampaui gangguan jiwa individu & hrs pahami proses kombinasi faktor yg kompleks untuk penjelasan perilaku bunuh diri
frontiersin.org/articles/10.33…
Kita di Indonesia memang masih kurang riset u/ gangguan jiwa sbg risiko bundir, tapi yah kita bisa koq ngejar ketertinggalan bukti ilmiah terkait ini sambil tetap memperhatikan narasi edukasi yg dibawa di edukasi massa lainnya bhw bundir tdk sesederhana masalah gangguan jiwa ;)
Nah, terkait alat ukur, karena kita dah tau ada teori khusus utk bunuh serta bunuh diri tidak selalu bagian depresi, yah tentu lebih valid untuk ukur dengan gunakan alat ukur yg spesifik ke bahas risiko/perilaku bunuh diri, daripada sekadar pakai sub-skala depresi.
Pemakaian alat ukur depresi ini jg bisa terjadi, bkn krn krg pemahaman teori & ketersediaan alat ukur, saya pernah denger mahasiswa yg akhirnya takut alat ukur bunuh diri membahayakan ke partisipan, jd mending ukur depresi aja.
Ini ketakutan yg tidak berdasar jg anyway.
Cek di sini ttg pertanyaan bundir TIDAK picu pemikiran bundir : researchgate.net/publication/26…
Bukti lebih kuat di sini :sciencedirect.com/science/articl…
Kalau online survey ttg bundir gimana? Bikin distress gak? Ga ada peningkatan signifikan tuh di riset ini : sciencedirect.com/science/articl…
Karna isu bundir ini sensitif, tetap pastikan risetmu lalui proses komisi etik kesehatan & penuhi aspek2 etis khusus terkait riset bundir ini (ex : kasih tau kontak bantuan profesional) serta ada pertimbangan tambahan juga di masa COVID-19 ini : thelancet.com/journals/lanps…
Implikasi dari narasi outdated bunuh diri hanya tentang depresi pada akhirnya bisa diterjemahkan ke level praktik bahwa mengatasi perilaku bunuh diri yah cukup dengan intervensi depresi. Padahal langkah pencegahan & penanganan perilaku bunuh diri yah ada perbedaan dgn depresi.
Tidak ada bukti yang cukup kuat untuk psikoterapi depresi saja dapat mengurangi perilaku bunuh diri pada pasien depresi dewasa secara signifikan, meskipun cukup efektif dalam mengurangi keputusasaan.
sciencedirect.com/science/articl…
Intervensi perilaku dan psikososial yang langsung mengatasi perilaku bunuh diri ditemukan efektif mengurangi perilaku bunuh diri daripada intervensi yang berfokus pada depresi saja.
thelancet.com/journals/lanps…
Gimana dengan intervensi daring self-guided? Sama aja, lebih baik pakai intervensi yang langsung address perilaku bunuh diri
thelancet.com/pdfs/journals/…
Di level pencegahan, yah lebih jelas lagi kalau pencegahan bunuh diri itu mencakupi pembatasan kepada akses benda/tempat mematikan agar tidak ada pemikiran yang dilaksanakan ke percobaan bunuh diri. Kalau pencegahan depresi kan tidak mencapai ke titik itu.
Jadi jelas yah penting untuk kita membedakan pembahasan bunuh diri dengan gangguan jiwa semacam depresi. Tidak bisa selalu ditumpangtindihkan apalagi disamakan dari penjelasan teoritis, pengukuran, penelitian sampai praktik intervensinya.
Kita jg perlu gali makna lokal ttg bunuh diri agar bisa pahami fenomena bundir secara utuh. Secara historis-kultural, ada koq riwayat2 ttg bunuh diri u/ jaga kehormatan & patah hati dalam konteks Indonesia. Yah, kan jauh sblm penjelasan depresi lahir, prilaku bundirnya jg dah ada
Pemahaman lokal ttg bunuh diri jg penting. Di Jepang misalnya, mereka punya sikap "suicide beautification" yg juga turut kontribusi dlm risiko bunuh diri. Suicide beautification ini searah dgn suicide glorification ala Barat tp pny corak unik sendiri researchgate.net/publication/33…
So, demikianlah penjelasan lokal kita perlu digali u/ melengkapi penjelasan terkait bunuh diri agar lebih relevan dlm konteks kita. Pnjelasan depresi saja tdk cukup u/ menjelaskan perihal bundir ini. Semoga bisa mendorong kita semua perhatikan isu bundir dgn lebih komprehensif ya
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
