Husnuddan
Jika dicermati, dlm al-Qur'an amat banyak kelompok ayat yg di satu sisi menerangkan Hukum A (sebut begitu) sbg mainstream syariat buat kita, tetapi di sisi lain selalu tersedia pintu "pengecualian".
Pintu ini bagaikan "selebrasi" Kemahakuasaan Allah Swt di hadapan apa pun, trmasuk hukum² minstream itu.
Ia seyogianya berfaedah begini buat kita:
1. Allah lah Sang Maha Kuasa atas segalanya.
2. Sekokoh apa pun ilmu/pemahaman manusia adlah nisbi di hadapan KuasaNya.
3. Menjdi pintu husnuddan dan raja' kita kpd Allah Swt dan segala kejadian yg kita alami atau kita lihat pd orang² lain.
Begini misalnya:
Dikatakan dlm al-Baqarah bhw sedekah akan dibalas berlipat², bahkan tak terbatas. Jadi bersedekahlah agar dimurahkan rezeki.
Tp dlm al-Kahfi, dikatakan bhw Allah lah yg meluaskan dan pula menyempitkan rezeki hamba-hambaNya (trmasuk ahli sedekah).
Jadi bisa saja seorang ahli sedekah tidak dibikin kaya oleh ketetapan Allah Swt kepadanya. Mungkin wujud balasanNya dlm rupa lain, msl bahagia, keluarga, sahabat, ilmu, marwah, dll. Wallahu a'lam.
Di surat an-Nur dikatakan hukum sekufu. Mukmin akan bersama mukmin, fasik bersama fasik, dll.
Tp dlm at-Tahrim dikatakan bhw istri Nabi Nuh As dan Nabi Luth As kufur. Istri Fir'aun itu salehah.
Kesekufuan tk berjalan sebagaimana mainstream pd mereka. Dan bs terjd pd siapa pun.
Dlm al-Isra' dikatakan siapa membaca al-Qur'an akan disapih dgn tembok pemisah dgn orang kufur/maksiat.
Tp dlm sjrah awal Islam, Kanjeng Nabi Saw pernah berkumpul ditolong banget oleh sosok non ini, Mut'im bin Adi.
Dlm surat ar-Ra'd kita didorong tuk berikhtiar keras tuk mengubah nasib. Kemajuan kita disokong gerak kerja kita dgn keras.
Tp di ujung ayat yg sama, 11, dikatakan tidak ada yg bs mencegah jk Allah Swt berkehendak negatif/gagal pdnya pula.
Saya kira, di hadapan keterangan² begini, hal terbaiknya buat hati kita ialah menyatakan n meyakininya sbg bukti² kemutlakan Kuasa Allah Swt atas segalanya. Sehingga lahirlah ketawakalan, ketawadhuan, dan kesyukuran padaNya. Itu satu, secara rohani.
Dua, ia seyogianya menyemburatkan optimisme (raja') sekaligus takut (khauf) kita padaNya, bhw segala hal amat sgt bisa diterjadikanNya. Jk kini kita ahli ngaji Qur'an, amat bs di suatu masa kita dijadikan ahli maksiat, dgn kuasaNya.
Pun sebaliknya.
Raja' atas karunia dan pertolonganNya; khauf atas azabNya (sbutlah msl krn kita sombong krn merasa ahli ibadah, merasa lbh luhung dr orang lain).
Asas ini lalu melahirkan tunduk belaka dgn serendahnya di hati kita kepadaNya.
Tiga, ini seyogianya jg memancarkan selalu husnuddan kepada karuania-karuniaNya, baik buat diri maupun liyan.
Husnuddan bhw di balik ketetapan Allah pd suatu hal mengandung kemaslahatan tertepat saat ini, tp mungkin saja kita blm bs memahaminya saat ini.
Pun husnuddan bhw esok hari n tahun mungkin sekali kita kan diperjalankanNya ke level lbh tinggi, luhur, sukses, dan sejenisnya. Rasa husnuddan yg lalu jd sifat diri ini kan meruahkan kejembaran di hati n pikiran kita, beriring dgn kerja ikhtiar kita.
Kpd liyan, husnuddan ini kan menolong kita tuk tidak ngejudge rendah situasi apa pun pd mereka. Selalu bs kita hamparkan husnuddan atas kuasaNya tuk msl menjadikan orang² yg blm menetapi syariat di suatu masa kan dituntunNya ke jalanNya.
Dgn pemahaman demikian, kiranya hidup diri n liyan beserta segala ketetapan realitasnya akan sgt ringan tuk dijalani dan diposisikan positif selalu. Walhasil, buahnya is kesyukuran atas karunia-karuniaNya, dlm wujud yg selaras/tidak dgn keinginan diri.
Wallahu a'lam bish shawab.
Urip ki ming sak dermo ngelakoni kersane Gusti Allah Swt. Sbb Gusti Allah iku Tuhan lan awak dewe ming kawulo. Itu rohaniahnya.
Lahiriahnya, syariatnya, bekerjalah dgn lebih, lebih, dan lebih lagi. Sampai akhir hayat.
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
