Kadang kita bermimpi indah ketika sedang tidur, sampai jadi ingin terus berada di dalamnya, gak mau bangun lagi.
Tapi jangan sampai terjebak di dalamnya, sampai lupa harus menjalani kenyataan.
Aline, akan bercerita kisah aneh hidupnya terkait mimpi, di sini, di Briistory..
***
“Ma, aku berangkat dulu ya,”
“Iya sayang, tiati. Kamu telat lagi deh, kakak udah jalan dari tadi tuh.”
“Iya ma, ngantuk banget tadi aku.”
Masih mengantuk bukan tanpa alasan, tapi emang semalam lagi-lagi aku terjaga karena mimpi yang aku alami.
Mimpi yang sering kali membuat aku gak bisa tidur lagi sampai pagi menjelang, mimpi yang sangat menakutkan.
Hmmm, bukan hanya sekadar menakutkan, mimpi-mimpi ini membuat aku berpikir keras, coba mencerna, coba meyakinkan diri, coba untuk mencari tahu, coba untuk memastikan apakah ini benar mimpi atau kenyataan, coba mencari jawaban pasti apakah aku sedang di alam mimpi atau nyata.
Iya, seperti itu, sebegitunya.
Menakutkan? Sangat, kadang aku sampai menangis sesegrukan, tapi gak bisa berbuat apa-apa, gak tahu harus bagaimana.
***
Aku Aline, mahasiswi angkatan 2016 salah satu perguruan tinggi di Jakarta.
Anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara, aku anak kedua. Hidup di dalam keluarga yang sangat berkecukupan walau belum bisa dibilang konglomerat, orangtuaku pengusaha sukses.
Yah begitulah, aku terbilang hidup bahagia, kehidupan di dalam dunia nyata.
Kenapa aku garis bawahi kalimat “Kehidupan di dunia nyata”? Hmmm..
Tapi, kebahagiaan yang aku alami kadang rusak oleh pergulatan dengan dunia mimpi, pergulatan yang harus aku jalani sendirian, gak bisa berbagi dengan orang lain, pun dengan orang terdekat.
Kenapa gak bisa berbagi?
Karena kemungkinannya sangat besar kalau aku akan dianggap halu akut, atau malah bisa dianggap stress/depresi.
Ya sudah, balik lagi, aku masih akan terus coba untuk menghadapinya sendirian.
“Pokoknya gini deh Lin, lo harus pecaya sama gw, gw akan bilang sama lo apakah yang sedang lo jalanin ini kenyataan atau mimpi. Gitu aja ya? gw sahabat lo, gak akan boong, gw akan bantu lo dalam hal ini.”
Melissa, sahabatku satu-satunya, teman dekat yang aku punya, dia bilang begitu. Aku pegang omongannya, aku selalu bercerita kepadanya setiap kali baru mengalami mimpi aneh.
Melissa salah satu dari dua orang yang aku ceritakan tentang hal ini, satu orang lainnya adalah Mama.
“Kamu lupa berdoa sebelum tidur kali, coba perbanyak doa, minta Tuhan untuk membuat tidur kamu lebih damai, gak diganggu oleh mimpi buruk.”
Itu omongan Mama ketika aku menceritakan tentang mimpi-mimpi itu.
Intinya, aku masih harus menghadapi semuanya sendiri.
All alone..
***
Aku masih ingat pada satu peristiwa aneh, terjadi ketika masih kelas dua SMP. Mungkin ini awal mula aku merasakan kejanggalan runutan waktu akibat dari mimpi.
Runutan waktu? Iya, sangat susah aku menjelaskannya, lebih enak aku menceritakannya saja.
Jarak rumah dan sekolah gak tarlalu jauh, tapi aku harus satu kali naik angkot untuk sampai di rumah atau sekolah.
Pada suatu hari yang cuacanya sudah hujan sejak pagi, aku sedikit merasa gak enak badan, agak demam.
Aku sudah merasakannya sejak sebelum berangkat, tapi walaupun begitu aku tetap bersekolah.
Sesampainya di sekolah, setelah bertemu dengan teman-teman, aku sedikit lupa dengan demam yang aku alami, suasana riang di kelas membuat aku jadi gak merasa sakit, lupa aja.
Tapi, seiring dengan bergulirnya hari, ternyata demamku masih ada, malahan semakin siang aku semakin merasa gak enak badan. Akhirnya aku bilang ke Ibu Guru.
“Ya sudah, kamu pulang aja Lin, istirahat di rumah. Masih bisa pulang sendiri? Perlu diantarkah?” Begitu kata Bu guru ketika itu.
“Gak usah Bu, aku masih bisa pulang sendiri.” Jawabku.
Ya sudah, setelah meminta ijin akhirnya aku pulang, sendirian, tanpa ada yang mengantar.
Di depan gerbang sekolah aku menunggu angkot, lalu angkot datang, aku naik.
Kira-kira 15 menit kemudian aku sampai juga di rumah.
“Kamu kenapa nak? Masih demam ya? kan mama bilang tadi gak usah sekolah, tapi kamu maksa berangkat.”
Kebetulan Mama masih ada di rumah, dia menyambutku dengan wajah cemasnya.
“Ya sudah, kamu ganti baju lalu makan trus minum obat, setelah itu istirahat, tidur, gak usah mainan HP atau nonton TV lagi.” Begitu mama bilang.
Aku nurut, mengikuti semua omongannya. Aku ganti baju, makan, minum obat, kemudian langsung masuk kamar, istirahat, lalu tidur, tidur yang sangat nyenyak.
Kenapa aku menceritakannya sangat detail? Karena memang aku mengingatnya, dan masih sangat mengingatnya sampai detail terkecil, ingat setiap runut waktu yang aku jalani.
Kenapa begitu? Karena kejadian setelahnya akan sangat mengagetkan..
Setelah minum obat dan tertidur di dalam kamar (tidur yang sepertinya cukup lama), akhirnya aku terbangun juga.
“Alin, bangun Lin. Bu Iroh udah dateng tuh.”
Suara Melissa membangunkan, dia bilang begitu sambil menggoyang-goyangkan badanku.
Terkesiap, terbangun dari tidur, aku kaget, karena tiba-tiba ternyata terbangun di mejaku, aku sedang duduk di kursi dalam kelas.
“Kenapa lo Lin? Baru mimpi apa lo? Hehe, buruan cuci muka sana, biar seger.” Kata Melissa lagi.
Iya, tiba-tiba ternyata aku terbangun di dalam kelas, di sekolah, padahal beberapa jam sebelumnya aku sudah pulang dan tidur di rumah.
Aku yakin kalau beberapa saat sebelum bangun, aku memang pulang ke rumah, aku sangat yakin, karena semuanya begitu nyata, sama sekali bukan mimpi, aku yakin!
Perlahan aku pegang keningku, ternyata sama sekali gak demam, badanku gak merasakan keanehan apa-apa, aku merasa sehat.
Aku masih sangat ingat semua detail terkecilnya, ketika pulang naik angkot, ketika sudah sampai rumah ketemu mama, makan dengan lauk apa, minum obat apa, aku masih ingat semua, karena ya itu tadi, semuanya sangat nyata, bukan mimpi, seharusnya bukan mimpi.
Kalau memang itu semua mimpi, lalu mimpinya dimulai dari mana?
Sejak saat itu, beberapa kali aku mengalami kejadian yang sama, berbaur antara mimpi dan kenyataan.
***
Tapi gak selamanya aku gak bisa membedakan mana mimpi mana kenyataan, ada kalanya aku sadar kalau sedang bermimpi. Kalau sudah begini, aku jadi bisa mengendalikan mimpiku layaknya ketika aku di dunia nyata.
Contohnya begini..
Hobiku bersepeda, nyaris setiap hari aku menyempatkan diri untuk bersepeda, ke mana saja.
Nah, singkat saja ya, intinya waktu itu aku sadar kalau sedang berada di alam mimpi. Di mimpiku itu aku sedang bersepeda, menyusuri Jakarta.
Seperti biasa, aku ingat detailnya, karena nyaris sama dengan kenyataan, tapi (sekali lagi) aku sadar kalau saat itu sedang bermimpi, pokoknya begitu.
Setelah puas bersepeda, aku lalu pulang.
Ketika sudah sampai di jalan dalam komplek perumahan tempat aku tinggal, dari kejauhan aku melihat ada keramaian.
Keramaian? Iya, keramaian.
Keramaian itu terjadi persis ada di depan rumahku, banyak orang, ada tenda juga, keramaian layaknya pesta. Ketika melihat itu semua, aku langsung menghentikan laju sepeda, berhenti seketika itu juga.
Setelah cukup lama diam memperhatikan itu, aku lalu memutar balik, gak jadi pulang, aku menjauh dari rumah.
Kenapa aku menjauh?
Ada alasannya..
Aku banyak mendengar cerita, katanya kalau kita mimpi melihat ada keramaian di rumah, itu pertanda kalau ada anggota keluarga yang akan meninggal, seram kan.
Aku takut kalau nantinya akan ada keluarga yang meninggal, makanya gak jadi pulang, memutuskan untuk menjauh dari rumah.
Sebegitu nyatanya mimpi yang aku alami, sampai-sampai aku bisa mengendalikan semuanya, layaknya hidup di dunia nyata, nyaris gak ada beda.
***
Pernah juga aku mengalami kejadian yang menurutku menyeramkan.
Peristiwa ini terjadi sekitar tiga tahun yang lalu.
Pada suatu malam, sekitar jam satu aku terbangun dari tidur, terjaga karena suara ponsel berdering, ada nama “Melissa” tertera di layarnya.
“Lo kaya gak bisa besok aja sih Mel. Gila lo ya, jam berapa ini, ganggu orang tidur aja deh.” Aku ngomel-ngomel menjawab telpon dari Melissa.
“Hehe, sori sori, gw gak bisa tidur nih, pusing mikirin Gavin.”
Gavin adalah pacar Melissa. Dia memang begitu, selalu curhat kalau sedang ada masalah dengan Gavin.
Ya sudah, selanjutnya dia mulai cerita panjang lebar, kami berbincang.
Lagi-lagi, aku ingat setiap detail yang kami perbincangan, aku ingat setiap topik lucu yang kami tertawakan, aku ingat semuanya, sampai ketika jam berapa kami selesai berbincang pun aku masih ingat.
“Udahlah ya, kebelet pipis gw, lanjut besok aja di kampus yak.” Begitu aku bilang.
Sekitar jam dua kami sudahi perbincangan.
Aku yang sudah sangat ingin buang air kecil, langsung beranjak ke luar kamar menuju kamar mandi.
Setelah selesai dari kamar mandi, aku kembali ke kamar.
Tapi..
Tapi betapa terkejutnya ketika sudah berada di dalam kamar, berdiri diam disamping tempat tidur, aku melihat ada orang yang sedang tidur di atas tempat tidur.
Tercengang kaget, karena orang yang sedang tidur itu adalah aku! diriku sendiri!
Aku sedang melihat tubuhku sendiri sedang tidur.
Lemas aku melihat itu semua, ada apa lagi ini?
Aku berdiri diam melihat diri sendiri tengah terbaring tidur, sedang terbaring mengenakan pakaian yang sama, dengan posisi yang sama juga dengan ketika sebelum terbangun tadi, semuanya sama.
Ada dua aku di dalam kamar!
Ketika tengah terpana aneh ketakutan, tiba-tiba ponsel berbunyi, ponsel yang letaknya ada di sebelah aku yang sedang tidur.
Kemudian aku yang sedang tidur terbangun karena bunyi ponsel itu.
“Lo kaya gak bisa besok aja sih Mel. Gila lo ya, jam berapa ini, ganggu orang tidur aja deh.” Aku ngomel-ngomel menjawab telpon.
Seketika itu juga, aku yang baru datang dari kamar mandi, langsung terduduk lemas.
Aku melihat diri sendiri yang sedang melakukan kegiatan yang aku lakukan satu jam yang lalu, persis seperti itu.
Bingung? Apa lagi aku..
Itulah salah satu kejadian terseram yang aku alami terkait mimpi.
***
Lanjut ke kisahku selanjutnya,
Pada suatu hari, seperti hari-hari biasanya, aku bangun pagi.
Setelah melamun sebentar, aku lalu ke luar kamar untuk mandi.
Selesai mandi, aku kembali masuk kamar, berpakaian bersiap ke kempus.
Setelah selesai semuanya, aku kembali ke luar kamar, kali ini untuk langsung berangkat kuliah.
Tapi, betapa terkejutnya aku, ketika melihat ternyata ada Papa sedang duduk di kursi meja makan.
Awalnya aku hanya berdiri diam, terkesima melihat Papa sedang berbincang santai dengan Mama, tapi kemudian aku buru-buru lari mendekat ke Papa, lalu memeluknya erat-erat.
“Loh loh loh, kamu kenapa Alin sayang? Hehe.” Tanya Papa.
“Aku kangen Pa, kangen banget.” Gak sadar, air menetes bergulir dari ekor mata, aku menangis.
“Papa juga kangen, Padahal Papa udah seminggu di rumah ya, hahaha.” Begitu Papa bilang.
Selanjutnya kami makan bersama di meja makan, sambil berbincang.
Selama itu juga aku tanpa lelah menatap wajah Papa yang sangat aku sayang ini, aku benar sangat kangen kepadanya.
Setelah itu, aku berkegiatan seperti biasanya, ke kampus, kuliah, hang out, pulang, seperti kehidupan normal.
Pasti ada pertanyaan, kenapa pagi itu aku begitu kaget melihat Papa? Kenapa sampai sebegitu senangnya bertemu Papa? Kenapa aku sampai menangis dipelukan Papa? Kenapa aku kelihatan lebay?
Gak lebay, ku memang benar kangen Papa, aku memang merindukan kehadiran Papa.
Karena, sebenarnya Papa sudah gak ada, beliau meninggal karena sakit, ketika aku masih SMU. Sejak saat itu Mama seorang diri menjalankan perusahaan yang beliau miliki.
Iya, di “kehidupan”-ku yang lain Papa sudah meninggal, makanya aku sangat senang dan bahagia ketika ternyata ada beliau di meja makan. Aku bisa melihatnya lagi, memeluknya dengan erat, bermanja, aku bahagia Pa..🥲
Tapi, beberapa hari kemudian semua bahagia akan lenyap tiba-tiba, kesedihan kembali melanda.
Kenapa? Begini..
Seperti biasa, pada suatu hari aku bangun pagi lalu bersiap ke kampus.
Dalam perjalanan menuju kamar mandi aku melirik meja makan, ini kebiasaan yang aku lakukan nyaris setiap habis bangun tidur.
Kali ini meja makan dalam keadaan kosong, gak ada Papa atau Mama. Tapi aku masih belum yakin, ingin memastikan semuanya, lalu mencari Mama.
“Papa mana Ma? Belum pulang ya.” Tanyaku ketika sudah bertemu Mama di kamarnya.
Seketika itu juga, Mama langsung mendekat lalu memelukku.
“Kamu lagi kangen Papa lagi ya Nak?, pulang kuliah nanti coba sempatkan mampir ke makamnya ya, kunjungi.” Begitu kata Mama.
Aku langsung lemas mendengarnya, jadi tersadar kalau diri sedang berada di dalam kenyataan, kehidupan di mana aku sudah kehilangan Papa, kehidupan di mana Papa sudah gak ada. Aku kembali sedih.
Aku sangat berharap untuk bisa terus hidup di dalam mimpi, di mana Papa masih ada.
Tapi ya itu tadi, aku sering kali bingung, mana yang mimpi dan mana yang nyata, sangat bias.
Gak ada yang bisa aku lakukan, selain harus terus menjalani semuanya, menjalani dua sisi dimensi hidup yang harusnya sangat berbeda, seharusnya.
Karena menjalani hidup seperti ini, aku juga jadi sering seperti mengalami dejavu, dalam artian sebenarnya.
Aku sering seperti pernah menjalani runutan hidup yang tengah aku jalani, seperti sudah menjalani satu rentang kehidupan dua kali, malah pernah ada yang tiga kali.
Seram? Aku kadang sangat ketakutan.
Tapi ya mau gimana lagi.
***
Hai, balik lagi ke gw ya, Brii.
Selesai cerita tentang keanehan dalam kehidupan teman kita Aline.
Semoga ada hikmah yang bisa diambil.
Tetap sehat, supaya bisa terus merinding bareng.
Semoga mimpi indah malam ini, tapi jangan lupa balik lagi ke kenyataan.
Salam,
~Brii~
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
