Ulak Rohim pulang ke kampung halaman karena mertuanya mulai sakit-sakitan. Namun pengalaman di rumah mertua itu menjadi pengalaman yang sangat tak menyenangkan.
RUMAH MERTUA
Dikisahkan oleh putra beliau puluhan tahun kemudian.
#ThreadHorror
@bacahorror
thread akan saya mulai pukul 7. boleh dilike dan diretweet dulu ya kawan-kawan.
Ulak Rohim adalah seorang pedagang di perbatasan Kapuas Hulu dan Malaysia. Kerja kerasnya di masa muda membuat Ulak Rohim dapat dikatakan sukses. Namun suatu waktu ia mendengar bapak mertuanya, Ai Ratong jatuh sakit.
Ai Ratong hidup bersama istrinya sejak anak semata wayangnya menikah dengan Ulak Rohim. Semua baik-baik saja sampai tiga tahun sebelumnya istrinya meninggal.
Sejak istrinya meninggal, ai Ratong sering jatuh sakit. Berkali-kali Ulak Rohim mengajak Ai Ratong untuk tinggal bersamanya, namun selalui ditolak. Ai Ratong tak mau meninggalkan rumahnya. Ia memilih tinggal sendiri ketimbang harus ikut Ulak Rohim.
Namun kali ini Ai Ratong sakit parah. Orang-orang di kampung mengirim utusan untuk memberi kabar pada Ulak Rohim. Selama Ulak rohim belum datang orang kampung bergantian membantu Ai Ratong, namun mereka mulai kewalahan.
Kini tubuh Ai Ratong sudah begitu lemah, badannya sudah renta, tersisa kulit yang membungkus tulangnya. Jauh berbeda dengan gambaran masa mudanya.
Ai Ratong muda adalah seorang yang luar biasa. Hartanya banyak, dihormati oleh siapa saja. Bisnis kayunya sukses besar.
Tapi yang tersisa dari kesuksesan itu kini hanyalah rumahnya yang besar dan luas. Seluruh hartanya ludes karena kebiasaannya main wanita. Harta yang tersisa kemudian ia habiskan untuk pengobatan istrinya di masa tua.
Mendengar kabar ayahnya yang sakit, Murni, istri Ulak Rohim langsung menyiapkan pakaian. Ulak Rohim memutuskan untuk menyerahkan pengelolaan usahanya pada asisten kepercayaannya.
Tak mungkin Murni dibiarkannya pergi sendiri. Jadilah mereka pergi sekeluarga, diajak pula putra mereka yang masih 7 tahun. Salam.
Beberapa waktu lalu, Salam membaca cerita ini. Ia menghubungi saya dan tertarik menceritakan kisah yang nyaris serupa.
Salam sekarang di Pontianak dan sudah berkeluarga.
Saat mereka sampai di Rumah Ai Ratong hanya ada seorang tetangga yang menjaga Ai Ratong. Ai Ratong hanya terbujur kaku di atas dipan yang diletakkan di ruang tengah rumahnya.
"Bapak!" Murni berlari ke arah bapaknya. Ai Ratong menoleh, ia sudah tak dapat berkata apa-apa. Murni menangis sesenggukan.
"Sebentar lagi Murni" kata Ai Ratong.
Murni tak paham maksud Bapaknya. Salam memeluk ayahnya erat. Itu bukan kakek yang ia kenal. Badannya kurus, kulitnya pucat, matanya dikelilingi bulatan kehitaman tanda jarang tidur.
Kesehatan Ai Ratong memang memprihatinkan. Ia sudah tak bisa diajak bercakap, kadang obrolannya ngawur. Kadang ia seperti berbicara sendiri. Dan ia hampir tak pernah tertidur. Setiap memejam, ia mengaku melihat mimpi buruk.
Ulak Rohim mengajak Salam ke kamar. Rumah itu benar-benar tak terawat. Seluruh ruangan dipenuhi debu. Salam bersin beberapa kali.
"Tunggulah di sini" kata Ulak Rohim. Ia lalu keluar hendak mencari sapu atau apapun yang bisa digunakan membersihkan ruangan.
Sementara itu Murni di luar berusaha bercakap dengan bapaknya.
Salam yang masih kecil itu tak ingat banyak. Yang ia ingat ketika ayahnya pergi, ia duduk di atas dipan kayu yang berderit. Kamar itu terasa lembab.
Lalu di tengah keheningan tiba-tiba ia mendengar suara siulan. Ia tak tahu darimana suara itu berasal. Namun karena penasaran ia berjalan ke arah jendela. Dibukanya jendela perlahan. Tak ada siapa-siapa. Namun ketika ia menoleh, ia melihat sekelebat bayangan melintas di dpn kamr.
Tak berapa lama berselang, Ulak Rohim datang. Ia membereskan kamar itu. Salam hanya mengamati ayahnya. Ia tak bercerita apa-apa. Mereka hanya saling diam.
Murni kemudian masuk ke kamar.
"Bagaimana bapak?" Tanya Ulak Rahim.
"Bapak menyuruhku kita pulang" kata Murni.
"Pulang bagaimana?"
"Bapak tak mau kita di sini"
Ulak Rohim keluar menemui mertuanya. Murni dan Salam mengikutinya dari belakang. Ulak Rohim mendekat.
"Pergi! Pergi dari sini!"
"Tapi Bapak sakit"
"Pergi!"
"Bapak ikut kami ya"
"Pergi!" Kata Ai Ratong sambil mencengkram tangan Ulak Rohim. Kukunya yang panjang melukai Ulak Rohim.
"Bapak! Berhenti!" Sergah Murni menarik tangan suaminya.
"Ada apa Pak? Kami datang ke sini untuk merawat bapak"
"Pak Nyebut pak" kata Ulak Rohim.
Mata Ai Ratong melotot.
"Kalian jangan di sini. Biar bapak saja" katanya.
"Pergi!!!!" Tiba tiba nada suaranya naik.
Murni mundur.
"Bagaimana ini?" Tanya Murni.
"Kita biarkan saja dulu" kata Ulak Rohim.
Mereka lalu bergegas meninggalkan Ai Ratong ke kamar. Salam masih ingat, suara teriakan itu bukan suara kakeknya lagi.
Ini pada nyimak kan ya?
"Besok kita bawa Bapak ke kecamatan. Dari sana Kita bawa bapak ke Rumah sakit" kata Ulak Rohim.
"Bapak tidak mau. Mak Idah bilang warga sini sudah sempat membawany"
"Lalu?"
"Bapak mengamuk dan minta dipulangkan"
"Lalu ada kejadian yang membuat waga membawanya pulang"
"Apa itu?"
Begini kejadiannya.
Suatu Sore keadaan Ai Ratong memburuk. Sejak pagi sudah berteriak dan meronta-ronta. Warga yang menjaganya ketakutan. Kepala kampung pun dipanggil.
Disepakatilah Ai Ratong akan dibawa ke kota. Tangan dan Kaki Ai Ratong diikat dengan sarung agar tak meronta. Ia diletakkan di atas tandu yang dibuat dari selimut. Maka dibawalah ia oleh 5 orang menuju kota.
Mereka baru keluar kampung saat Ai Ratong menggeram dengan keras. Tandu itu terasa begitu berat. Keempat orang yang mengangkat tandu oleng.
Ai Ratong yang tak berdaya itu malah seperti melompat dari atas tandu. Ia berdiri menghadap kelima orang yang membawanya.
"Bawa aku pulang, sekarang!!!" Sergahnya.
Kelima orang itu ternganga.
Suara itu terdengar berat. Tak seperti suara manusia kebanyakan. Mereka saling tatap. Lalu sekian detik kemudian, Ai Ratong tumbang. Mereka memutuskan membawanya pulang.
Oke kita balik ke hari kedatngan Ulak Rohim dan Keluarga. Karena rumah benar-benar tak terurus, mereka memutuskan untuk membereskan rumah. Rohim bermain sendiri sementara ibu dan ayahnya beberes.
Saat sedang bermain ia beberapa kali melintasi Ranjang tempat Ai Ratong berbaring. Ia melihat kakeknya telentang dengan tatapan kosong dan mulutnya yang tampak komat-kamit.
Namun sayup-sayup Salam mendengar kakenya berbicara. "Jangan usik mereka, urusanmu dengan aku saja"
Malam datang. Walau terus ditolak dan diusir, Murni telaten merawat ayahnya. "Penyakit tua" begitulah orang umum menyebut penyakit seperti ini. Biasanya orang tua akan bertindak aneh dan tak kita mengerti. Karena kesadarannya tak sama lagi.
Pukul 12 malam ketika mereka tertidur, Ulak Rohim terbangun. Ia mendengar suara langkah kaki di luar. Suara itu semakin dekat dan semakin dekat. "Siapa itu?" Pikirnya. Tak mungkin itu Ai Ratong.
Ulak Rohim memberanikan diri keluar. Kamar itu hanya ditutupi tirai berwarna maroon. Sekelebat di balik tirai ada bayangan orang lewat. Ulak rohim menyibak tirai dan tak melihat siapapun. Namun di lantai ia menemukan belas tapak kaki yang basah.
Ulak Rohim mengikuti langkah kaki yang menuju ruang tengah itu. Namun langkah kaki itu mengarah ke ranjang Ai Ratong.
Ulak Rohim sungguh kaget melihat Ai Ratong sedang menggelepar dan tangannya mencekik lehernya sendiri.
"Udah Pak, jangan Pak" seru Ulak Rohim berusaha menarik lepas tangan Mertuanya.
Dengan sekuat tenaga Ulak Rohim menyentak tangan Ai Ratong membuat cekikan itu lepas.
Murni yang mendengar suara ribut di luar terbangun dan menemui Ayahnya. Tampak Ulak Rohim terengah-engah.
"Bapak kenapa?"
"Bapak mencekik dirinya sendiri"
"Kok bisa?"
"Aku juga tak mengerti Murni. Aku tak mengerti" kata Ulak Rohim.
"Pergilah" kata Ai Ratong menangis.
"Bapak kenapa?" Tanya Murni.
"Pergilah"
"Murni tidak akan pergi. Murni akan jaga bapak di sini"
Malam itu Murni menggelar tikar dan tidur di samping dipan bapaknya.
Kita jeda sejenak.
Ketika shubuh Marni terbangun Bapaknya masih terjaga. Tatapannya kosong menatap langit-langit rumah.
Siang berjalan dengan baik-baik saja. Ai Ratong terus menyuruh Marni pergi namun Marni tak memedulikannya. Disuapinya bapaknya, dibersihkan badannya, serta dirawat sebaik yang ia bisa. Barangkali waktu bapaknya tak lama lagi, ia ingin melakukan yang terbaik yang bisa ia lakukan.
Namun malam itu kejadian aneh terjadi lagi. Sekitar pukul dua belas Ai Ratong berteriak-teriak histeris.
"Mereka datang, mereka datang". Seru Ai Ratong.
Marni berusaha menenangkan bapaknya. Namun begitu melihat Murni, Ai Ratong kian histeris.
"Ini urusanku, kalian pergilah!"
Ulak Rohim adalah seorang pedagang di perbatasan Kapuas Hulu dan Malaysia. Kerja kerasnya di masa muda membuat Ulak Rohim dapat dikatakan sukses. Namun suatu waktu ia mendengar bapak mertuanya, Ai Ratong jatuh sakit.
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
