Akhirnya kebenaran mulai terungkap! Siapa menyebar hoax? @andreasharsono @kopiganja @harisfirdaus
Sabtu sore (3/6) saya menerima informasi dari dua nakes di Sarjito, dalam waktu hampir bersamaan, oksigen di Sarjito krisis. Keduanya meminta bantuan agar itu disuarakan. Salah satunya mengirim surat permintaan bantuan dari direksi Sarjito ke berbagai instansi.
Kemudian saat itu jg saya membuat status alert. Info yg sama juga saya sampaikan melalui pesan pribadi ke sejumlah pihak terkait….
Sempat pantau upaya pencarian oksigen ini sampai malam….dg cemas krn tangki oksigen dr Kendal baru datang esok harinya. Kira-kira kondisi malam itu kurang lebih seperti diceritakan keluarga korban berikut. Pasti jd pukulan berat nakes jaga..
Subuh2 terima kabar buruk. Ada 63 korban jw sejak Sabtu pagi hingga Minggu dinihari itu. Segera meminta rekan @harisfirdaus di Yogya utk konfirmasi ke RS, baru menulis. Diakui memang ada 63 korban namun belum dipilah penyebab klinisnya persis di tulisan: kompas.id/baca/ilmu-peng…
Sedih sih dan turut berbelasungkawa atas korban. Juga respek pada nakes jaga di RS malam itu. Nggak kebanyang gimana horornya. Hanya saja, soal oksigen ini sebenarnya sudah sempat saya teriakin sejak dua minggu sebelumnya agar benar2 dijaga.
"Agak" sedih ketika malah dituduh nyebarin hoaks. Biarin deh, risiko. Pelajarannya sekarang RS dan nakes kewalahan,mari dukung mrk dengan jaga prokes dan jangan jadi beban. Selain kita tentu berharap kecukupan O2, dll utk faskes bs dipenuhi
Penyangkalan fakta dg menuding media yg menjalankan fungsi “watcdog” sebagai “hoax” ini sudah dua kali saya alami dlm dua tahun terakhir. Keduanya akhirnya terbukti siapa yg hoak? Salah satu elemen dasar dari jurnalisme adalah menyampaikan fakta dan melayani kepentingan publik.
Di negara yg medianya saat menjalankan tugas jurnalisme utk menyampaikan fakta dan suara rakyat dihambat, dituding hoaks, atau bahkan didoxing dan diserang buzzer, adalah ancaman bg demokrasi. Bukankah media “yg benar” adalah pilar penting demokrasi?
Tentu media bs keliru. Tp ada mekanisme, mulai dari ralat, dll. Pasti ada konsekuensi. Tp, tidak dg melabeli hoaks apalagi sampai mendelegitimasi. Kalau media yg dlm bekerja diikat kode etik tdk ada lagi, apa rakyat disuruh percaya sama buzzer yg bahkan sosoknya kabur?
Ada kode etik yg jelas dalam kerja jurnalistik. Salah satunya adalah disiplin verifikasi agar bisa menyampaikan fakta. Berikutnya independensi, agar bs menjalankan fungsi watcdog. Ada jg pagar api yg memisahkan kepentingan jurnalistik dan bisnis, dan banyak hal lagi
Utk jalankan kode etik itu tdk mudah. Banyak jurnalis berhadapan dg kepentingan industri medianya sendiri krn bias ekonomi politik. Di sini harusnya tugas Dewan Pers dll. Tetapi sekali lg, menghancurkan media dan menggantinya dg buzzer sama dg merubuhkan pilar demokrasi.
Hari ini Dirut Sardjito dr.Rukmono, SpOG (K) dipindah tugas ke RSJ Magelang. Apakah berarti masalah selesai? Entah, tp yg jelas fakta2 yg sedang saya kumpulkan semakin menguatkan tragedi pada Sabtu malam Minggu itu. Yg paling penting mesti ada perbaikan krn krisis belum berakhir
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
