Membahas kelanjutan yang kemarin ya, mungkin sudah banyak yg bahas, tapi gak ada salahnya sedikit bercerita ya apalagi saya sempat merasakan jaman ketika pagebluk sempat sambang ke desa saya dulu.
sebelumnya saya minta maaf terlebih dahulu baru bisa menulis setelah menjalani isolasi mandiri, meski pun hasil swab saya negatif, badan saya sempat nge-drop selama satu minggu. maklum, punya badan yg gak terlalu kuat.
Dan selama satu minggu, saya tidak tinggal diam, saya melakukan pengamatan di beberapa lokasi dan daerah serta menghubungi orang-orang yg menurut saya perlu, dan berikut yang sudah saya kumpulkan berdasarkan apa yang sedang terjadi di beberapa kota, semuanya merujuk pada Lampor.
Jadi begini, apa yg terjadi saat ini mengingatkan saya dengan peristiwa yang kurang lebih sama dengan apa yang pernah menimpa kelaurga saya dulu, yaitu, maraknya kemunculan sosok ghaib yg disebut orang-orang dengan panggilan Lampor.
padahal saya lebih suka menyebut mereka dengan panggilan Pagebluk, karena mereka tidak mewakili satu bentuk ghaib, melainkan beberapa bentuk yg biasa kita temui jauh di atas gunung, banyak spekulasi dalam kepala saya saat ini, salah satunya merebaknya wabah.
untungnya apa yg saya dengar dari orang-orang yg ada diluar daerah belum saya temui hingga detik ini, tidak tahu nanti malam, karena ada kala-nya saya juga tertarik dan ingin mencari tahu penyebab dari fenomena yg sedang terjadi ini.
balik ke pengalaman saya, Lampor adalah salah satu pagebluk yg biasa singgah ketika wabah sedang merebak, alasannya satu, karena mereka begitu menyukai aroma dari kematian manusia, mereka bukan memilih secara acak, melainkan dipancing oleh si kematian itu sendiri.
ya, Lampor bisa tahu bakal dari siapa yg harus mereka jemput, karena itu, setiap kali Lampor tiba ke suatu tempat, ia digambarkan sedang memikul keranda mayat atau penduso kalau orang jawa menyebutnya, ia akan membuat suara gaduh, agar orang-orang terbangun dari tidur-nya,
mereka yg tidak dapat bangun ini lah, yg akan Lampor tunggui semalaman, mereka biasa dikenali dengan beberapa pertanda, munculnya suara dares (burung hantu) yg sekelibat terbang memutari rumah, hembusan angin yg tidak menggoyangkan pohon.
semua itu diikuti suara dari roda kayu yg bergeladak saat menginjak tanah, di jawa tengah sendiri diikuti gelincing lonceng, terakhir, ketukan pintu dengan rupa yg berbeda-beda.
disinilah, bagi siapa pun yg mengetahui perihal tanda ini, untuk tidak membuka pintu.
karena itu, orang jawa jaman dulu sudah berpesan, dipunggung Lampor dia membawa penyakit, bila mereka datang ke rumah, tutup rapat-rapat pintunya, tidak ada yg mau mengundang penyakit masuk dan bersemayam di dalam rumahmu.
Yang saya ingat betul mengenai peristiwa ini adalah dulu, pernah kejadian semasa keadaaan mencekam seperti ini, almarhum si mbah saya mengumpulkan semua anak-anaknya termasuk cucu-cucunya untuk mengurung kami semua di dalam satu atap yg sama sewaktu Sorop akan tiba.
Waktu itu, saya masih anak-anak, belum begitu tahu alasan apa yang dilakukan oleh si mbah
saya sendiri saat itu sempat protes karena biasanya pukul 7 malam, anak-anak di desa kami biasanya bermain di pelataran desa. Tapi, terkhusus malam itu, seluruh rumah di desa serempak tutup
dari maghrib saya suka memperhatikan ke kaca yg disekat gorden putih, seingat saya dari sebelum gelap angin terkadang berhembus masuk ke rumah lewat anginan, anehnya, hembusan angin yg menurut saya lumayan ini tak menggerakkan sedikit pun daun panjang pohon pisang di depan rumah.
angin ini itu rasanya berbeda saja dengan hembusan angin yg biasa, rasanya ketika menyentuh badan itu terasa anyep (hambar) dan membuat badan seketika meriang.
angin ini pula, yg saat ini saya rasakan sering muncul.
pintu rumah kakek saya sendiri sudah dikunci sejak sore, semua sanak keluarga dari jauh dekat berkumpul menjadi satu.
saya dan sepupu-sepupu yg lain, diberikan olesan kunir tepat di kening, konon kata mereka hal itu bisa menolak balak bencana yang buruk.
Sepanjang malam, saya tidur tepat di lorong tengah rumah yang dipenuhi juga oleh sepupu-sepupu yg lain, sementara mereka yg sudah dewasa, berjaga di depan pintu, memandang tepat kearah jendela kaca yg ada di samping pintu.
disinilah saya ingat betul, pada pukul satu malam, saya mulai mendengar geladak roda yg seperti di dorong, suaranya benar-benar berisik, kakek saya yg duduk di kursi kayu belakang hanya mengangkat satu telunjuknya tepat dimuka bibir, seperti mengisyaratkan agar semua-nya diam.
Iya. semuanya diam.
Keadaan sangat mencekam, belum pernah rasanya saya merasakan perasaan yang teramat hambar, suara itu terus bergaung, gesekan roda dan tanah menimbulkan suara yg benar-benar berisik, singkatnya setelah cukup lama, suara itu akhirnya pelan-pelan menghilang,
disini indera pendengaran benar-benar satu-satunya yg harus dipergunakan, karena tidak boleh ada yg mengintip atau menampaki wujud mereka, pamali, makanya, indera pendengaran bener-bener penting, ada pesan lama tentang indera pendengaran dan Lampor ini, yaitu,
kalau kalian mendengar suara berisik yg berangsur-angsur menghilang, itu adalah pertanda yg bagus, karena itu artinya mereka bergerak menjauh, namun, bila suara itu tiba-tiba saja lenyap, menghilang begitu saja, itu artinya pertanda buruk, mereka sedang berhenti didepan rumahmu
setelah suara mereka berangsur lenyap sontak saya mengangkat kepala, waktu itu saya masih belum tahu perihal apa yg sedang terjadi, tiba-tiba saja tanpa ada penjelasan, orang-orang dewasa termasuk bapak saya yg tahu kalau saya masih terjaga, buru-buru mendekap kepala saya.
lalu, tanpa ada peringatan apa-apa, tiba-tiba saja, dari pintu kayu rumah yang di-cat warna hijau, saya dan semua orang yg masih terjaga mendengar sebuah suara ketukan.
Iya. Ketukan yg sama, intens, dan biasanya terdengar tiga kali berturut-turut tanpa ada jeda.
“tok-tok-tok”
Bapak saya lalu mendekap badan saya lebih erat, satu tangannya membungkam mulut, sedangkan saudara yg lain tak ada satu pun dari mereka yang bersuara, untuk bernafas saja mereka melambat.
dari gorden putih yg menutup kaca hitam rumah, ada bayangan seperti seseorang sedang mencoba mengintip, si mbah, masih duduk, ia memberi geestur agar semua-nya tenang, diam, dan tidak berisik, tak lama, suara ketukan itu berangsur-angur lenyap, apakah semua sudah selesai?
belum
Dari balik pintu tersebut, ada suara nenek-nenek yg memanggil-manggil dengan aksen suara yg sangat sopan, “kulo nuwun” (permisi)
“kulo nuwun” (permisi), "kulo nuwun" (permisi) begitu, panggilan ini terus menerus berangsur-angsur, semakin lama semakin membuat bulukuduk merinding.
Semakin lama, semakin memelas, sampai akhirnya, senyap, tiba-tiba saja hening, namun, dari balik kaca hitam yg tertutup gorden putih masih samar terlihat bayangan hitam yg sedang berdiri di-sana, wujudnya menyerupai nenek-nenek yg memilik pungguk.
tak lama baru-lah bayangan itu pergi tanpa menimbulkan suara langkah kaki sedikit pun, lalu meninggalkan suara tertawa yg melengking.
ini lah akhir dari bergeraknya mereka menuju ke timur.
mereka selalu berjalan menuju ke titik gunung.
Keesokan harinya, saya mencuri dengar kalau yg lewat semalam adalah Lampor. rute bergeraknya mereka kebetulan melewati desa saya ini.
Lalu, apa yg mendasari kakek saya sampai harus mengumpulkan semua anak-anak dan cucu-cucunya dibawah satu atap yg sama?
konon, satu minggu sebelumnya, sudah ada pertanda, dimulai dari dalam tiga hari ada satu sampai dua kematian warga desa tetangga, ada yg mengatakan wabah sedang meraja di wilayah ini.
tapi si mbah yg menganut kejawen kental sudah diperingatkan terlebih dulu, beliau melihat dengan mata kepala sendiri kalau semalam ada dua tiga ekor dares (burung hantu) terbang mengitari rumah, lalu bertengger di atas genting rumahnya, kebetulan mbah yut saya juga sedang sakit.
burung dares ini yg menjadi penanda kalau akan tiba masa pagebluk, Lampor akan datang melewati desa ini, semua orang lalu diperingatkan agar tidak keluar rumah dulu setelah sorop.
mereka datang untuk menjemput ajal dari orang-orang yg sudah sakit sebelumnya. mereka yg didatangi rumahnya ini lah yg aromanya pekat sehingga mengundang mereka dengan berbagai wujud dan rupa.
mereka bisa menjelma menjadi anak-anak, ada pula yg menjelma menjadi wanita muda, wanita tua, namun yg paling sering dijumpai oleh orang adalah wujud dari selendang berwarna hitam yg terbang seperti tertiup angin namun memiliki suara dan nafas yg berat.
mereka datang bergerombol
pada baris paling belakang ada penduso (peti mati) yg diangkut menggunakan gerobak beroda kayu, mereka akan melewati jalur beberapa desa, mengetuk satu pintu ke pintu yg lain, bila ada seseorang mendengar suara yg mereka timbulkan, lebih baik untuk membiarkannya saja,
karena bila-mana seseorang menjawab salam atau ulah berisik yg mereka timbulkan, yg menjawab itu sudah memberikan wewenang bagi mereka untuk datang bertamu. tamu tidak boleh diusir. Di sinilah Lampor memberi wabah penyakit, dan tidak semua orang bisa menanggungnya.
Lampor pada dasarnya tinggal jauh diatas gunung, mereka jarang sekali turun, apalagi untuk menjemput dari satu desa ke desa yg lain, mereka turun bila sedang terjadi huru-hara, pagebluk atau wabah yg melanda karena pada dasarnya Lampor menyukai aroma kematian itu sendiri.
untuk itulah, dimasa yg sulit ini, semoga kita semua bisa melewatinya, tetap jaga kesehatan, dan semoga jenengan-jenengan juga senantiasa dilimpahkan rejeki, sebelumnya saya haturkan doa untuk mereka yg sudah mendahului kita. semoga saja wabah ini segera diangkat.
maturnuwun yg sudah mau membaca sepenggal pengalaman saya, untuk yg mau bertanya secara spesifik tentang Lampor ini, dm saja, kalau ada waktu pasti saya jawab. selamat malam.
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
