Budiman Sudjatmiko (IG: kelasinspirasibudiman) Profile picture
Few happiness can't be BOUGHT, has to be FOUGHT

Aug 2, 2021, 26 tweets

Kalau rejim otoriter negara berkembang agraris tak korup & hedonis gila2an, mereka fokus ngerjain ini & pemerintahan2 demokratis yg mengggantikannya fokus SDM (pendidikan, kesehatan, perumahan) & lingkungan. Pak @jokowi terpaksa ngerjain PR orang lain😥

Nah pembangunan infrastuktur fisik itu amanat atau PR Revolusi Industri 1.0 & Revolusi Industri 2.0. Cara ngerjain PR kedua revolusi industri tsb ada 2, yaitu jalan kapitalis atau jalan sosialis. Seluruh dunia memilih salah satunya. Bisa sukses jika tak korup

Selain tak korup, syarat lain spy sukses dlm revolusi industri 1.0 & 2.0 adalah didahului revolusi pertanian. Yg jalan kapitalis dgn revolusi hijau atau #ReformaAgraria moderat, yg jalan sosialis dgn #ReformaAgraria radikal & revolusi industri perdesaan

Tiap negara yg mau jd negara industri harus memenuhi syarat tsb. Saat kita gagal menjalankan revolusi industri 1.0 & 2.0 (di antaranya lewat infrastruktir fisik) o/ rejim otoriter, kita berdemokrasi saat revolusi industri 3.0 (yg butuh infrastruktur digital)

Sehingga pemerintahan2 demokratis padca 1998 harus merampungkan infrastruktur fisik SEKALIGUS saat bersamaan HARUS memulai infrastrutur digital sbg PR industri 3.0. Memang begitulah jalan ceritanya. Di lain pihak #ReformaAgraria juga gagal Mau gimana lagi?

Nah u/ ngobati kegagalan #ReformaAgraria, revolusi industri 1.0 (yg digerakkan mesin uap di pabrik2) & 2.0 (yg digerakkan listrik di pabrik2), maka dilahirkanlah @UUDesa sbg jembatan #ReformaAgraria dgn 3 revolusi industri PLUS #Revolusi40!
Mumet ora, son?!

Eh lagi sibuk2nya kita ngurusin PR peradaban yg terbengkalai (#ReformaAgraria, revolusi 1.0, revolusi 2.0, revolusi 3.0 & #Revolusi40), Indonesia (dan sedunia!) dihajar pandemi #Covid19.
Ora mung mumet tapi pecas ndahe wong Indonesia (lan sak donya)!

Dalam situasi ini kita lantas diingatkan o/ sejarah bahwa mesin pendorong peradaban itu bukan cuma #ReformaAgraria, revolusi2 industri & sosial (yg 300 tahun terakhir ini dipicu revolusi2 industri).
Sejarah mengajarkan apa?
PANDEMI JUGA PEMICU PERUBAHAN!

Jadi saya (sbg #ManusiaPolitik pun), mulai baca2 lagi buku sejarah (yg sdh lama gak saya lakukan😉) bahwa saat Pandemi Black Death di abad kegelapan, masyarakat Eropa membangkitkan lagi budaya nalar lewat filsafat, matematika, sains & seni.
#Renaisans lahir

Jg saat pandemi Spanish Flue awal Abad ke 20, manusia diperlihatkan bobroknya kapitalisme primitif & kolonialisme yg membuat puluhan juta orang mati krn tak punya akses pelayanan kesehatan. Sosialisme di negeri2 penjajah & kebangsaan di tanah2 jajahan bangkit

Pandemi Flu Spanyol & revolusi 2.0 (digerakkan listrik) mengubah peta dunia yg berujung Perang Dunia II, lahirnya negara2 baru & terbaginya dunia pd 2 JALAN: kapitalisme yg berwajah baru & sosialisme yg naik daun. Lahirlah revolusi 3.0 (digerakkan komputer)

Nah kelahiran revolusi industri 3.0 (digital & komputer) ini direspon dgn cara berbeda o/ jalan kapitalis (yg dipimpin AS) & jalan sosialis (yg dipimpin Uni Soviet). Sisa dunia lain nonton & diajak mendukung salah 1 kubu.
Begini beda responnya..

Jalan kapitalis berfokus memodernisasi digital ini dgn terus meningkatkan kecanggihan teknologinya hingga memuncak pd teknologi #KecerdasanBuatan. Ini dipakai u/ melayani & memuluskan transaksi pasar bebas. Teknologinya u/ memuluskan pasar bebas kapitalisme

Kalau jalan sosialis (dipelopori Nikita Khurschev di Soviet) fokus ke PEMANFAATAN FUNGSI SOSIAL teknologi digital u/ menopang manajemen pemerataan sosialis yg bergantung kecepatan & ketepatan data: Sibernetika Sosial (yg kemudian jd Blockchain/#RangkaiData)

Dari aspek teknologi, jalan sosialis lebih fokus teknologi eksplorasi ruang angkasa..
Kenapa?
Karena saat itu Khurschev yakin sosialisme akan menang di bumi 20 tahun lagi sehingga saatnya siap2 ngajak manusia ngurusi langit!
Nyatanya AS malah bisa ngejar!

Fokus jalan kapitalis mengawinkan teknologi digital dgn pasar bebas lebih cepat menghasilkan DUIT drpd jalan sosialis yg mengawinkan teknologi digital dgn pemerataan sosial. Apalagi Brezhnev (pasca Khurschev) fokus teknologi nuklir & antariksa yg buang2 duit

Mulai 1960 Indonesia condong ke jalan sosialis dgn UU Pokok Agaria, nasionalisasi perusahaan2 asing & mendekat Soviet. Ada 2 faktor: Bung Karno terganggu o/ AS dlm pemberontakan PRRI/Permesta & dalam rangka ndapetin senjata modern dr Soviet u/ ngerebut Irian

Nah dalam rangka mengelola pertanian pasca UU Pokok Agraria 1960, mengelola industri modern hasil nasionalisasi perusahaan2 asing2 & memodernisir tentara itulah, maka Bung Karno ngirim pemuda2 u/ belajar pertanian, baja, ruang angkasa & nuklir ke Soviet dkk.

Tp sejarah berkata lain. Bung Karno dijatuhkan. Ribuan pemuda yg belajar td dimusuhi Orde Baru yg mengambil jalan kapitalis: memberikan tambang emas ke Freeport, revolusi hijau, penanaman modal asing & tentara ngurusi politik (tak jd angkatan perang modern)

Pembangunan memakai jalan teknokratis kapitalis. Ekonomi urusannya orang2 pinter (yg kebanyakan belajar di AS yg tentunya beda mazhab dgn pemuda2 yg dikirim Bung Karno tadi), politik urusannya tentara & budaya berorientasi tradisionalisme Jawa Mataraman

Orde Baru adalah koalisi longgar anti sosialisme yg terdiri dr latar modernisme Barat, tradisionalisme & ketentaraan Mangkunegaran serta militerisme didikan Jepang. Ada pergulatan rasionalis, feodalis & militeris di dalamnya.
Yg menang? Korupsi & hedonisme

Akibatnya otoriterisme OrBa gagal meniru otoriterisme Park Chung-hee & Chun Doo-hwan di Korea (1966-1988) yg sukses menempatkan diri dalam revolusi 1.0, revolusi 2.0 & revolusi 3.0 (yg terakhir ini dirintis eks2 aktivis penentang mereka yg jd industrialis)

Orba yg gabungan rasionalis Barat, tradisionalis & militeris lama2 jd tradisionalis keluarga. Terakhir merangkul Islamis politik & mengambil jalan teknologi industri maju (pesawat). Tak disadari bhw Barat (jalan kapitalis pendukung awal mereka) gak suka ini

Karena korup & hedonnya kekuasaan tersebut, naiknya harga minyak sbg komoditi ekspor utama Indonesia gagal diubah jd infrastruktur fisik yg modern. Nilai2nya makin konservatif. Ini berbeda dgn Park Chung-hee & Chun Doo-hwan (yg tetap rasionalis ala Barat)

Kita kini harus membayar hutang2 sejarah kita. Membiarkan otoriterisme berkuasa lama (mahal sajennya) tp malas ngerjakan PR: membangun infrastruktur fisik, mendisiplinkan & memodernisir nilai2. Pak @jokowi sdg ngerjakan 1 soal PR tsb.
Tp juga ada PR-PR lain

Apa saja PR-PR yg lain?:
1. Infratruktur teknologi digital & biologi sbg mesin pemacu #Revolusi40
2. SDM (pendidikan nilai2 masyarakat maju)
3. #ReformaAgraria & lingkungan
..serta yg baru..
4. Kesehatan & keselamatan masyarakat yg terancam pandemi.

Merdeka!

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling