Brii Profile picture
Jangan pernah membaca cerita di sini sendirian, kadang 'mereka' gak hanya sekadar hadir dalam cerita.| Business Inquiry: Rai +6281318820035

Aug 8, 2021, 23 tweets

Sering kali cerita hidup gak sesuai dengan skenario yang kita mau, malah berbelok ke tempat gak menyenangkan. Memaksa kita untuk menelan kesedihan, remuk redam.

Di hari minggu cerah ini, ijinkan gw bercerita pendek drama non horror.

Simak dengan hati, hanya di Briistory.

***

Sekitaran tahun 2008, pada suatu malam minggu gw mengantar Irwan (salah satu teman di Rumah Teteh) dari Bandung menuju Depok, untuk menemui seorang perempuan, namanya Indah.

Awal mula hubungan Irwan dan Indah adalah ketika mereka berkenalan secara gak sengaja di satu mall di Cihampelas, Bandung.

Pada hari perkenalan itu, mereka menyempatkan diri untuk makan dan jalan bareng, berkenalan lebih dari sekadar tahu nama.

Saat itulah Irwan tahu kalau Indah tinggal dan kuliah di Depok, selain itu Indah juga banyak cerita tentang hal-hal lain lagi. Pokoknya, hari itu sangat berkesan buat Irwan, Hari yang indah, bertemu dengan Indah.

***

Setelah perkenalan itu, dan Indah sudah kembali beraktivitas di Depok, selanjutnya mereka intens berkomunikasi lewat telpon atau SMS. Gw lihat sendiri kalau Irwan sering banget telponan dan SMS-an dengan Indah, setiap hari.

Irwan selalu cerita kepada gw dan teman di Rumah Teteh lainnya kalau indah ini cantik, menyenangkan, dan baik banget, karenanya Irwan jadi makin suka. Menurut Irwan juga, sepertinya dia gak bertepuk sebelah tangan, sangat yakin kalau Indah juga suka.

Hingga pada suatu hari, “Brii, anter gw ke Depok, Yuk. Ketemuan sama Indah.”

Irwan bilang begitu sambil dengan cengengesan khasnya.

Gw tentu saja gak bisa ngelak.

Ya sudah, singkat cerita, beberapa minggu setelah perkenalan mereka, akhirnya kami berangkat ke Depok.

Waktu itu dari Bandung jam lima sore, sampai Depok sekitar jam 8 malam.

Sesampainya di Depok, kami menunggu di satu resto di salah satu pusat perbelanjaan, gw lupa nama tempatnya, pokoknya rame banget.

Oh iya, sebelumnya, selama perjalanan dari Bandung Irwan keliatan gugup karena memang sangat menantikan pertemuan ini, deg-degan lah. Gw ngerti itu, namanya juga mau ketemu gebetan idaman, keliatan banget nervous-nya.

***

Sampai akhirnya, sekitar jam 9 lewat sedikit, wajah lelah Irwan berubah jadi berbinar. Pandangannya tiba-tiba menatap ke kejauhan. Melihat itu, gw jadi ikutan melihat ke arah yang sama.

Ternyata, ada ada perempuan cantik yang kelihatan seperti sedang mencari-cari seseorang.

“Indah..!” tiba-tiba Irwan berdiri dari duduknya lalu teriak begitu.

Si perempuan langsung menoleh, kemudian senyum rekah tergambar di wajahnya.

Irwan makin berbinar, senyum terus-terusan.

"Oh, ini yang namanya Indah" begitu pikir gw dalam hati.

Beneran deh, gw setuju kalau Indah memang cantik, wajarlah belakangan Irwan jadi kayak setengah gila.

Semakin kelihatan cantik lagi ketika jarak kami semakin dekat. Gw jadi ikut terpesona.

Tapi, sebentar, ternyata Indah gak sendirian..

“Halooo, Irwan. Hehe, pakabar?” Indah bilang begitu dengan sumringah, ketika sudah sampai di meja tempat gw dan Irwan menunggu.

“Hai, Ndah. Alhamdulillah, baik, hehe. Eh kenalin nih teman kost aku, Brii.” Jawab Irwan.

“Halo, Brii.”

Lalu gw dan Indah bersalaman.

Tapi ya itu tadi, ternyata Indah gak datang sendirian, ada yang menemani, laki-laki.

Beberapa saat kemudian, Indah akhirnya memperkenalkan laki-laki yang sedang berdiri di sebelahnya, “Oh, iya. Kenalin, ini cowokku..”

Damn, jangankan Irwan, gw aja langsung kaget mendengarnya.

“Kok, gini?” pikir gw, dan gw yakin Irwan juga punya pertanyaan yang sama.

Setelah itu, gw gak sanggup untuk semeja dengan mereka, lebih memilih untuk duduk terpisah.

Gw tahu Irwan, gw kenal banget, walaupun dalam hatinya sedih tapi dia akan memaksa diri untuk tetap kelihatan normal dan ramah, tetap berbincang baik dengan Indah dan cowoknya.

Tapi, gak sanggup lagi, beberapa menit menuju jam sepuluh akhirnya gw gak tahan.

“Indah, maaf ya, udah malam, kami harus balik ke Bandung, besok pagi ada acara.” Gw bilang begitu, karena gak tahan lihat penderitaan Irwan.

Singkatnya, gw dan Irwan akhirnya benar pamitan dan balik ke Bandung.

🙁

Begitulah.

Dalam perjalanan pulang, Irwan lebih banyak diam, melamun. Dia patah hati, gw tahu itu, makanya memberi ruang buat dia untuk merasakan proses luluh lantak.

Kemudian, ada satu kebetulan yang cukup mengiris hati, di satu rentang bagian Jalan tol Jakarta-Bandung, tiba-tiba salah satu station Radio memutar Pupus-nya Dewa19.
Reflek, gw langsung berniat untuk memindahkan frekwensi, tapi Irwan melarang, “Jangan, Brii. Biarin aja..”

Ya sudah, remuk redam hati bertemu sound track yang pas, tengah malam itu Pupus-nya Dewa19 memberikan makna pupus yang sebenar-benarnya buat Irwan..

“Baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan.
Kau buat remuk seluruh hatiku…”

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling