✨ Widas ✨ Profile picture
Dengan menulis, kamu akan banyak membaca. Dengan membaca, kamu akan irit bicara. Dengan irit bicara, lisanmu terjaga dari perkara yg sia-sia. #AyoMenulis 📖🖊

Sep 15, 2021, 16 tweets

DONGENG SEBELUM TIDUR

“You Did Well Enough”

Di twitter space Jumat kemarin, aku mendengar banyak cerita tentang kita yg pernah mengalami kegagalan.

At some points, we all experienced a failure in our life. Dalam tulisan kali ini, cuman pengen bilang kalo – you did well enough.

Kita sekarang hidup di era yg memandang kehidupan sbg kompetisi. Terlebih sejak adanya social media yg semakin masif.

Jika ada orang yg bisa punya rumah pada usia 25 tahun, maka itu dipandang sebagai target yang harus bisa kita capai juga. Kalo dia bisa, mestinya kita jg dong.

Lalu kita yg saat itu masih di usia muda, berusaha sekuat tenaga untuk bisa mencapai target yg kita sudah tetapkan tadi.

Mengorbankan banyak hal, termasuk waktu untuk rileks, demi bisa fokus mengejar ambisi.

The reality is…. some of them make it, and some others don’t.

Bagi yg terbiasa dididik untuk selalu menang dan kompetitif sejak kecil, menerima kekalahan bukan suatu hal yg mudah.

Apalagi dulunya punya beragam prestasi yg membanggakan. Sebagian orang melihat kalah dan gagal ini sbg kemunduran. They think that they’ve progressed backwards..

Padahal kekalahan ini menurutku sesuatu yg gak bisa kita hindarkan.

Ndak semua hal bisa kita dapatkan dengan mulus. Some things are just didn’t work out.

Kadang kita udah berusaha maksimal mungkin, namun ada aja hal yg bikin kita gak bisa mendapatkan target yg kita inginkan.

Lantas apakah itu menjadi hal yg buruk buat progress kita? Belum tentu juga.

Bagi orang yg sudah terbiasa mendapat banyak kemudahan dalam hidupnya, begitu merasakan pahitnya kekalahan, (hopefully) they will understand not to take everything for granted.

Dengan demikian, kita akan lebih bersyukur dengan apa yg kita miliki saat ini.

Orang yang udah lama nganggur dan mengalami banyak penolakan dimana-mana, idealnya akan berusaha untuk bisa kerja dan perform dengan baik saat ada perusahaan yg mau memberinya kesempatan.

Dalam melihat kekalahan, seringkali kita menghakimi diri sendiri terlalu keras.

Kita berpikir usaha kita kurang maksimal. Kita meyakini kalo kita ambil keputusan yg salah. Kita terus menyalahkan diri atas keadaan yg gak berpihak pada kita.

I’ve failed and it’s all my fault.

Namun yang kita lupa, kadang ada faktor eksternal yang ikut berpengaruh terhadap output usaha kita.

Dan biasanya, faktor eksternal ini yg justru ada diluar kendali kita. Pandemi covid seperti sekarang, misalnya.

We already tried hard enough, but the circumstances messed it up.

Dan dari kekalahan itu kita sebetulnya belajar untuk berdamai dengan keadaan. Kita belajar untuk menerima itu dengan lapang dada.

It hurts. It sucks. But that’s the way it is.

Menurutku, itu adalah bagian dari dinamika hidup yg gak bisa kita hindari.

Inilah yg kemudian membuatku berpikir kalo hidup gak hanya soal menang kalah.

Bukan soal siapa lebih cepat dari siapa. Bukan soal siapa lebih sukses dari siapa.

Namun, aku melihat hidup sebagai sebuah perjalanan panjang. Tempat singgah sampai kita kelak menutup mata.

Ada yg bilang kalo kita tuh punya timeline hidup masing-masing. Everyone has their own pace.

Sebab kondisi tiap orang tidak pernah sama. Dan memang itu bukan suatu hal yg perlu kita banding-bandingkan.

Target atau standar orang lain belum tentu sesuai dengan kondisi kita.

Apalagi buat yg muslim - kita tau kalo apa yg kita inginkan, belum tentu baik menurut Allah. Dan apa yg ndak kita inginkan, mungkin malah baik menurut Allah.

Biasanya, kita akan paham ini setelah beberapa tahun kemudian. Bahwa ada alasan kenapa saat itu kita kalah.

Dalam space kemarin, aku menekankan untuk “try to embrace your L”.

Kekalahan bukan sebuah aib. Kekalahan mengingatkan kalo kita hanya manusia biasa. Kekalahan akan membuat kita lebih bersyukur saat kita dilimpahi banyak kenikmatan.

You’d never take things for granted again.

Kekalahan akan terus kita temui sepanjang kita menghembuskan nafas.

Kita mungkin akan sering menangis atau bahkan merasa putus asa.

Namun yg terpenting dari tiap kekalahan itu semua adalah gimana kita tetep berusaha berdiri.

We know it’s hard but we keep trying our best.

Semoga kita bisa lebih mudah untuk berdamai dengan keadaan. Semoga kita gak terlalu menyalahkan diri ketika bertemu dengan kekalahan.

Mungkin Allah memang punya rencana lain dibalik itu semua.

Please know that you did well enough.

Panjang umur perjuangan. 🔥

Selamat malam.

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling