Bantal Mayit
@bacahorror @threadhorror #bacahorror
Cerita ini saya dapatkan ketika saya mendatangi acara Tahlil rutin tahunan alm. Mbah saya beberapa saat yg lalu
Sebut saja namanya Verdi. Ia adalah teman bermain saya saat berada dirumah mbah waktu masih kecil
Bekerja diluar pulau, membuatnya jarang sekali pulang ke kampung halamannya. Namun nasib kurang baik menimpanya, Ia diputus kerja oleh tempat kerjanya saat kasus C-19 masih ganas-ganasnya
Dan untungnya, tabungannya cukup untuk membuka sebuah usaha Roti bakar di dekat rumahnya
Obrolan kami tentu saja ngalor ngidul. Bertukar cerita mengenai pengalaman, pekerjaan, dan ujung-ujungnya soal hal gaib.
Verdi mengaku bahwa ketika masih SMP, ia pernah membuat ulah yang dari ulahnya tersebut satu dusun menjadi geger pada waktu itu.
"Kejadian iku waktu iku jenenge Bantal Mayit" (Kejadian waktu itu dinamai Bantal Mayit)
Verdi mengaku bahwa sudah cukup lama ia memendam cerita ini. Karena kisah dari kejadian itu adalah sebab dari kelakuan usil dan penasaran masa remajanya.
Untuk mempermudah dalam membaca, cerita akan saya tuliskan menurut sudut pandang dari Verdi.
Waktu masih siang. Aku dan teman teman baru pulang dari sekolah.
Seperti biasa, agenda kami setelah berganti baju adalah bermain Pathil Lele.
Lokasi kami bermain adalah berada di halaman rumah pak Joko, salah satu orang yg memiliki halaman rumah luas yg ada di dusun kami
Saat kami sudah berkumpul dan baru saja memulai permainan, tiba tiba ada sebuah pengumuman dari pengeras suara masjid
"Innalilahi wa innailaihi rooji'uun"
"Innalilahi wa innailaihi rooji'uun"
"Innalilahi wa innailaihi rooji'uun"
"Telah meninggal dunia, bapak Suraji atau cak Ji. . . Jenasah akan dikebumikan setelah sholat Ashar"
Aku dan ke empat temanku (Alif, Aldo, Ega dan Tio) kompak menghentikan permainan.
"He cak Ji gak ono, ayo melu nyekseni penguburane"(He cak Ji gak ada, ayo liat penguburannya)
Tuturku semangat
"Ayo wes"
"Gas"
"Budal tok" Saut teman-temanku.
Tanpa mereka sadari, ada satu niatan usil yang kusimpan sendiri untuk kulaksanakan ketika di makam nanti
Ashar telah selesai, kami sudah bersiap di depan masjid bersama warga yg lain.
Sambil menunggu jenasah selesai disholatkan, aku mulai membuka cerita :
"He kon percoyo gak, nek bantale mayit iku iso nekakno duit lho" (Kamu percaya ndak, kalau bantal mayat itu bisa datangin duit)
"Yo ndak lah, mitos tahun piro iku" (Ya ndaklah, mitos tahun berapa itu) ujar Ega.
Memang ega sendiri adalah orang yg mengedepankan logika daripada hal hal gaib
"Mbuh, aneh-aneh ae" (Tau, aneh-aneh saja) sambung Aldo
"Tapi emang ngunu iku tenanan?" (Tapi masak beneran?)
Tanya Tio penasaran. Ega dan Aldo melirik, sementara Alif hanya diam saja menyimak.
"Yo tenanan, ayo dicoba. Aku tak jupuk bantalane mayite. Ngko bengi dites bener ta gak e"
(Ya beneran, ayo dicoba. Nanti aku ambil bantal mayatnya. Nanti malam dites kebenarannya)
"Gendeng ta kon, ojo ngundang perkoro lah" (Gila ta kamu, jangan cari masalah lah) bantah Ega
"Lha iyo ngko nek ono opo-opo yo opo?" (Lha ya nanti kalau ada apa apa gimana?) Aldo ikut menyahuti
"Wes talah. Lanang ta gak. Nek ancen awakmu gak percoyo, yo wes meluo ngancani ae"
"Sudahlah, berani atau ndak. Kalo emang kamu ndak percaya, ya sudah ikut nemenin aja" balasku tak kalah semangat
Karena harga dirinya merasa direndahkan, akhirnya Ega dan Aldo menyanggupi untuk ikut menemani
"Dadi ngene, ngko bantalan lemah bunder sing dinggo bantale mayit tak jupuk e. La bengine jam 8 ayo kumpul ndek pos. Ngko aku tak nyobak ajarane guruku"
(Jadi begini, nanti gumpalan bulat tanah liat yg buat bantal mayatnya tak ambil. Malamnya jam 8 ayo kumpul di pos-
Aku mau nyoba ajaran dari guruku)
Mereka tidak menjawab, juga tidak membantah. Rupanya ada rasa penasaran sekaligus gengsi karena tidak ingin dicap penakut olehku.
Setelah itu, jenasah sudah selesai disholatkan dan diberangkatkan. Kami mengikuti iring-iringan menuju makam
Sebelum jenasah akan dimasukkan kedalam liang lahat, aku berpura pura membantu proses pemakaman. Mulai dari menurunkan jenasah ke liang lahat, sampai menguburkannya
Saat akan menutup jenasah dengan dinding bambu, aku mengambil buntalan tanah liat yg menjadi bantal mayitnya
Tanpa ada yg melihat keanehan, prosesi pemakaman pun berjalan seperti biasa.
Baru sepulang dari makam, kutunjukkan pada teman-temanku bahwa aku berhasil mengambil bantal dari jenasah cak Ji
"Wes saiki moleh ae, ngko ojo lali kumpul ndek pos jam 8 bengi yo"
(Sekarang mari pulang, nanti jangan lupa kumpul di pos jam 8 malam) tuturku
Kami menyanggupi kemudian berpencar menuju rumah masing*.
Sepanjang perjalanan pulang sebenarnya aku ragu akan niatanku ini.
"Kok malah wedi dewe ngene yo"
(Kok jadi takut sendiri gini ya) batinku dalam hati. Namun sungguh rasa gengsiku saat itu terlampau lebih besar daripada rasa takut yang membayangi
Sesampainya dirumah, kuletakkan bantal mayit tadi dibawah pohon nangka samping rumah agar tidak terlalu mencolok
Saat mandi sekalian nyuci baju bekas masuk kuburan tadi, aku mencium bau seperti pandan yang lumayan menyengat.
Padahal ibu dan ayah tidak pernah menanam tumbuhan pandan di sekitar pekarangan rumah
Disaat aku terdiam sejenak mencium bau pandan tersebut, mendadak pintu kamar mandi digedor dari luar.
"Nek adus ojo suwe suwe. Wes ate sorop iku lho. Ndang maghrib"
(Kalo mandi jangan lama-lama. Sudah mau surup itu lho. Segera sholat maghrib) suara ibu dari luar
"Buk, ojo ngaget ngageti ae talah" (Bu, jangan membuat terkejut gitu napa) balasku dengan nada agak tinggi
Namun tak ada balasan suara dari arah luar. Tanpa pikir panjang, akhirnya segera kuselesaikan mencuci baju dan mandiku
Adzan magrib berkumandang, saat itu aku lebih memilih untuk beribadah dirumah daripada di masjid, meskipun jarak antara rumah ke masjid cukup dekat.
Karena setelah selesai sholat, aku mempersiapkan barang barang yang akan kubawa ke pos nanti malam
Barang seperti dedupaan, minyak serimpi dan batok kelapa sudah tersiap dibawah tempat tidur.
Bagi yg penasaran mengapa aku memiliki barang-barang seperti itu, karena aku mengikuti salah satu perguruan bela diri di desa seberang.
Yang mana dalam proses pendewasaan diri nantinya, aku baru sadar bahwa hal yg kulakukan saat itu benar benar sudah menjadi perbuatan yg salah di mata agama dan norma
Setelah dirasa cukup, aku menuju dapur untuk makan malam. Disini aku kembali mencium bau aroma pandan
Kali ini lebih menyengat, namun kuyakinkan diri dengan prasangka mungkin saja tetangga sedang memasak pandan sehingga aromanya sampai ke rumahku
Sehabis makan, kulanjutkan dengan sholat isya. Setelah selesai dan sambil menunggu waktu, akupun membuat kopi
Ketika sudah mendekati jam 8, aku pamitan kepada kepada ibu akan pulang lebih larut karena akan ikut begadang di pos ronda
Ibu hanya berpesan jangan pulang terlalu larut. Karena ibu takut bila harus dirumah sendirian setelah ada tetangga yg meninggal.
Mengingat bapak juga pasti ikut tahlil dan juga begadang dirumah almarhum cak Ji
Agar ibuk tidak rewel, aku iyakan saja ucapan dari beliau. Setelah itu aku berjalan menuju ke pohon nangka tadi, kucek bantalan lemah mayit tadi.
Ada sedikit aroma pandan disekitarnya
Kuciumi gumpalan bulat dari tanah liat itu, tak berbau.
Sebenarnya ada perasaan sedikit merinding pada waktu itu namun karena ada misi yang harus kulakukan, maka hal hal tersebut aku sebut sebagai bebauan biasa saja
Saatnya menuju pos ronda.
Malam itu nampak berbeda. Hawanya dingin mencekam. Sangat jarang sekali ada aktivitas orang diluar rumah walaupun tahlilan cak Ji sudah selesai
Memang dusunku ini jarak rumah antar tetangga berbeda beda. Ada yg dekat satu rumah dengan yg lain, ada pula yg dipisahkan oleh kebon
Pos rondanya sendiri berada sedikit berdampingan dengan gapura dusun. Dibelakangnya terdapat deretan pohon bambu yg rindang
Sedangkan didepannya adalah kebun warga yg biasanya digarap oleh alm. Cak Ji
Alm. Memang selain menjadi tukang becak, beliau juga bekerja serabutan
Salah satunya adalah dengan menggarap kebun dan memperbaiki atap rumah yg bocor.
Alm. juga memiliki kepribadian yg baik dimataku dan masyarakat luas. Sayang kebaikan alm. tercoreng oleh ulah usilku dan kawan kawan.
Pos ronda sudah dekat, terlihat disana Ega, Aldo, Alif dan Tio sudah duduk bersilau di pos
"Tak kiro gasido" (Tak kira gak jadi)
"Lahyo, ketuane malah keri iki piye" (Lahya, ketuanya malah terlambat ini gimana) ucap Tio dan Alif bersahutan.
"Loh, disiapno sing mateng. Cek acarane lancar" (Loh, disiapkan sematang mungkin. Biar acaranya berjalan lancar) balasku
Ega dan Aldo yg sedari awal memang tidak setuju dengan hal yg aku lakukan hanya diam saja.
Mungkin mereka merasa ngeri bila terjadi hal yg tidak diinginkan
Untungnya untuk mengusir hawa dingin dan rasa tegang, teman temanku ini membawa beberapa camilan dan juga kartu remi.
Ya sekedar menghabiskan waktu biar nanti proses ritualnya dimulai agak malaman
"Ver, awakmu yakin ta opo sing ate mok lakoni"
(Ver, kamu yakin ta dengan apa yg akan kamu lakukan) tanya Ega memecah keheningan
"Yo yakin nek aku, wong Alif ambek Tio ae yakin. Nek awakmu gak wani, ndak usah melu gak opo. Ngko nek oleh mene bakal tak kek i"
(Ya yakin kalau aku, Alif dan Tio saja yakin. Kalo kamu takut, tidak usah ikut tidak apa. Nanti kalo dapat, besok tak kasih) tegasku
Sebenarnya Tio dan Alif dari awal tidak secara gamblang berkata setuju. Cuma agar memancing keberanian si Ega dan Aldo, mereka berdua kusebutin
Ega dan Aldo saling lirik. Ada semacam keraguan dari dalam diri mereka
"Wes talah, ndak ono opo-opo" (Sudahlah, tidak ada apa apa) tegasku lagi
Kubuka kresek yang aku bawa dari rumah. Kukeluarkan segala isinya
Aku menyalakan dupa
Semerbak wanginya benar benar membuat bulu kuduk berdiri. Lalu kubakar batok kelapa yang sudah kusirami minyak serimpi dan kubacakan mantra-mantra
Hening, angin seperti enggan untuk sekedar lewat berhembus dan jangkrik pun seperti tak berani bersuara.
Ketika api dari batok tiba tiba membesar, saat itulah aku lempar bantal mayit itu ketengahnya.
Percaya atau tidak, setelah api membakar gumpalan tanah liat tersebut, tiba tiba aromanya berubah menjadi bau pandan yang sangat menyengat
"Ver, wes ver lerenono"
"Ver, sudah hentikan" ucap Aldo sedikit panik
"Kate mari, nanggung" (Mau selesai, nanggung) balasku singkat
Kami berempat menyaksikan dimana kobaran api tadi tiba tiba langsung mati dan hanya menyisakan asap yang masih berbau pandan
"Wes mari, kari ngenteni"
(Sudah selesai, tinggal menunggu) ucapku lirih sambil melihat jam tangan yang menunjukkan pukul setengah 12 malam
Untuk mencairkan suasana, kami bermain kartu remi sambil memakan kacang dan gorengan yg dibawakan Tio dan Aldo
Saat sedang asik asiknya bermain, tiba tiba angin berhembus cukup kencang
Hembusan itu membuat pohon bambu yang ada di belakang pos menghasilkan suara decitan yang lumayan bikin merinding
Dan entah darimana datangnya tiba tiba ada suara burung dares yang memekakkan telinga
"Wes ate teko iki" (sudah mau datang ini) batinku
Aldo, Ega, Tio dan Alif hanya terdiam sambil sesekali kudengar mereka berdoa. Agar menenangkan hati mereka, aku menyuruh mereka bergandengan tangan sembari terus melafalkan doa doa
Puncaknya adalah ketika dari atap pos yang masih terbuat dari seng seperti ada barang besar yang jatuh menimpa tepat diatasnya
"Bruaakkkk"
Alif menjerit kaget, mungkun nyalinya juga sudah mulai luntur. Aku dengan cekatan lari dan menengok kearah atas pos
"Gaenek opo-opo"
Ega, Aldo Alif dan Tio juga ikut lompat keluar pos dan melihat kearah atas. Kami yg masih terkejut dan sedikit diliputi rasa takut juga terheran heran.
Barang sebesar apa yang barusan jatuh sehingga menimbulkan suara hingga sedemikian kerasnya
Kulihat samping kanan dan kiri pos juga tak ada apa-apa.
Agar suasana tidak terlalu tegang, akhirnya aku mengajak mereka main remi lagi. Sebenarnya mereka sudah ingin pulang karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 1 dinihari
Namun kularang
Aku beralasan bahwa sebentar lagi kita akan dapet duit. Itu tadi adalah proses ritual yg aku jalani tadi
Mereka sebenarnya mulai tidak percaya, namun karena sudah terlanjur ikut mereka sepertinya terpaksa ikut menunggu hasil yang aku janjikan.
Tanpa mereka sadari bahwa ritual yang kulakukan tadi bukan untuk mendatangkan uang tapi untuk mendatangkan arwah
Kami melanjutkan bermain remi, dan terlihat suasana juga sudah mulai cair.
Ketika salah satu dari kami kalah, maka leher pemain yg kalah harus mengganjal sebuah korek api sebagai hukumannya dan itu cukup membuat kami kembali tertawa lepas
Sampai ketika sedang asik asiknya, salah satu kartu Tio jatuh lewat sela sela lantai pos ronda.
Karena waktu itu dia bilang yang jatuh adalah kartu AS, maka ia pun turun dari pos untuk mencari kartu kemenangannya tersebut
Saat ia menyalakan senter dan hendak mencari kartu, ia melihat seperti ada kain putih yang membentuk seperti raga manusia
Berusaha meyakinkan penglihatannya, ia menyenteri kain itu dari kiri ke kanan. Saat menyorot ke kanan, Tio berhasil melihat wajah dari pemilik kain tersebut
"Cak. . Cak Jii"
Ucap Tio gemetaran
Wajah yang ia liat sebagai alm. cak Ji itupun tersenyum menyeringai sambil dari matanya mengeluarkan air mata
"Balekno bantalku le" (Kembalikan bantalku nak) ucap sosok tersebut lirih
"Rek, jancok,, pocong cooookk"
Teriak Tio histeris.
Kami semua yang ada diatas pos langsung turun dan memperhatikan bawah pos.
Dengan keadaan yang sama, kami semua dapat melihat sosok pocong yang menyerupai alm. cak ji
"Le, balekno bantalku" (Nak, kembalikan bantalku)
Kami semua berteriak histeris dan lari tunggang langgang meninggalkan pos
Kami semua lari, pulang menyebar kerumah masing-masing.
Sesampainya dirumah, aku langsung membasuh kaki dan tangan kemudian masuk menuju kamar ibuku
Ibuku yang tau biasanya aku tidur sendiri menanyakan kenapa aku tiba tiba tidur di kamarnya, aku jawab dengan gelengan kepala.
Dalam ketakutanku, aku menutupi wajahku dengan bantal. Bayangan wajah dari sosok tersebut sungguh benar benar diluar dugaanku
"Mene tak nang omahe guru ae. Aku kapok wes gak baleni" (Besok aku kerumah guru saja. Aku kapok tidak mau mengulanginya) gerutuku dari dalam hati
Sampai dalam keadaan antara takut dan ngantuk itulah akhirnya aku bisa benar benar tertidur
Esok paginya aku bangun dalam keadaan badan sakit semua. Mungkin ini efek dari ritual tadi malam, pikirku
Karena saat itu libur semester, jadi aku berniat pergi kerumah teman temanku.
Setelah sarapan, aku pergi kerumah Ega. Namun ketika sampai sana, rumahnya masih ditutup
Aku belok lah kerumahnya Aldo, ternyata kata bapaknya ia sedang mengantar ibunya ke pasar.
Lalu aku bertemu dengan Alif, ia berkata bahwa setelah melihat pocong yg mirip cak Ji itu ia tidak bisa tidur semalaman. Bahkan saking takutnya, ia pindah tidur di kamar kakaknya
"Halah gocik, ngunu ae pindah nggon turu" (Hala penakut, gitu aja pindah tempat tidur) pancingku
Aku sendiri memang suka ngompor ngompori teman temanku ini, biar aku kelihatan sedikit lebih jago dan laki dari mereka
Padahal mah, aslinya juga sama aja
"Yawes, ayo nang omahe Tio" (Yasudah, ayo kerumahnya Tio) ajak Alif. Aku mengiyakan
Sesampainya disana, ibunya bercerita bahwa Tio sedang sakit demam tinggi. Dalam waktu tertentu ia mengigau dengan memanggil manggil nama Cak ji dan teriak teriak ada pocong.
Ibunya Tio bertanya sebenarnya tadi malam itu ada apa kok bisa sampai Tio seperti itu
Aku dan Alif saling pandang, namun agar tak terkena omelan ibunya Tio akupun menjawab bahwa memang semalam kami di pos ronda hanya kumpul kumpul biasa
Cuman waktu Tio hendak mengambil kartunya yang jatuh dibawah pos, ia melihat sosok pocong yang wajahnya katanya mirip alm. cak Ji
Alif pun mengiyakan ceritaku
Ibunya menghela nafas panjang kemudian berkata
"Mene mben ati ati to le, mosok yo tali poconge lali diculno?"
(Besok-besok hati hati lah nak, masak ya tali pocongnya lupa dilepaskan?)
"Wah nek niku nggeh mboten ngertos buk, nggeh pun buk kulo kaleh alif pamit riyin. Ben Tio istirahat, ben ndang cepet waras" (Kalo itu saya juga tidak tahu buk, ya sudah kalau gitu saya dan Alif pamit-
Biar Tio istirahat, biar segera sembuh)
"Yawes, suwun yo le. Di ati ati awake" (Iya, makasih ya nak. Dijaga dirinya) ucap ibu Tio
Setelah itu aku pun juga pamit kepada Alif karena aku mau menuju kerumah guru bela diriku, kami berpisah di persimpangan dusun
Singkat cerita, aku sampai dirumah guruku. Aku menceritakan kejadian tadi malam beserta proses ritualnya
Raut muka guruku tampak merah padam, namun beliau tidak sampai emosi. Beliau hanya menghela nafas panjang, menyalakan sebatang rokok kemudian menghisapnya dalam dalam
"Iki ngunu aku yo katut salah, mergane aku sing nduduhi awakmu ilmune. Sing wes mari yo ben, dienteni sampek 7 dinane ae. Mariku ayo dimarikno kabehane"
(Ini juga salahku, karena aku yang memberitahu ilmunya. Yang sudah biarlah, kita tunggu sampai 7 harinya-
Setelah itu kita selesaikan semuanya)
Aku hanya menunduk, tanpa sadar air mataku juga menetes. Aku sadar aku telah salah
"Saiki moleho, kandanono keluargamu karo kancamu. Ojo nganti metu omah dukure jam 9 bengi"
(Sekarang pulanglah, beritahu keluarga dan teman temanmu-
Jangan sampai keluar rumah diatas jam 9 malam) pesan guruku
Aku mengangguk tanda paham apa yang beliau pesankan. Setelah salim, aku langsung pamit.
Tak lupa aku mampir kerumah teman temanku untuk menyampaikan pesan dari guruku.
Walaupun orang tua mereka nampak aneh dan heran namun aku meyakinkan mereka bahwa dalam 7 hari kedepan akan ada sesuatu yang buruk
Setelah itu aku pulang kerumah. Disana ibu dan ayah sudah menunggu
Setelah aku ceritakan semua runtutan kejadian semalam, sudah pasti aku mendapatkan amukan besar dari bapak dan ibuku
Bahkan satu tamparan keras ayah mendarat di pipiku
"Arek kok kurang ajar. Nek ngene iki terus yo opo dadine. Dusun lak maleh tambah dadi medeni"
(Anak kurang ajar. Kalau sudah begini terus bagaimana. Dusun malah jadi tambah menakutkan)
Aku menerima dan pantas mendapatkan tamparan atas kebodohanku. Aku hanya berkata bahwa guru akan membantu setelah lewat acara 7 hari tahlilnya almarhum
"Marikno opo sing mok mulai. Nek kabeh wes mari, metuo tekan perguruan iku" (Selesaikan apa yang sudah kamu mulai. Ketika semua sudaj selesai, keluarlah dari perguruanmu itu)
Aku mengangguk, memang aku juga sudah kelewat batas. Dan kejadian ini juga benar benar mengubah hidupku
Siang berganti sore, sore berganti malam. Hingga tiba saatnya acara tahlil di rumah alm. cak Ji
Aku ikut, sebagai salah satu cara penebusan dosaku untuk alm. karena sudah berbuat tidak benar
Disana juga ada ayah dari Ega, Aldo, Tio dan Alif. Mata mereka menatap tajam kearahku
Mungkin mereka sudah tau cerita yang sebenarnya kami lakukan pada malam itu.
Sepanjang tahlil aku banyak menunduk karena terus menerus dilihat oleh ayah dari teman temanku itu.
Setelah tahlil selesai, aku langsung pamit pulang duluan. Tak lupa pula aku geret bapakku
Setelah sampai rumah, aku menceritakan pesan guruku kepada bapakku bahwa jangan sampai ada yg keluar rumah diatas jam 9 malam.
Mula mula bapak tidak percaya, namun cerita yang berkembang di keesokan harinya merubah suasana dusunku dalam sekejap
Dua korban teror pertama adalah seorang pedagang tahu tek dan seorang warga yang jaga ronda. Kita mulai dari pedagang tahu tek dulu.
Di dusunku, memang ada penjual sate dan tahu tek yang kadang lewat pada malam hari. Jamnya pun tidak menentu, kadang jam 8, 9 bahkan pernah jam 11
Waktu itu sudah jam 11 malam, ia mendorong gerobaknya sambil memukulkan sendok ke wadah kerupuk yang terbuat dari seng, sehingga menimbulkan bunyi Tek. . Tek . . Tek. . Tek
Saat melewati pos ronda, ia melihat satu orang. Kemudian orang tersebut pesan 2 porsi tahu tek
Beliau membuatkannya dan orang tersebut berpesan bahwa tahu teknya dimakan disitu saja.
Selesai dibuat dan dihidangkan, orang tersebut pun makan tahu tersebut dengan pelan pelan.
Sambil menunggu orang tersebut selesai makan, pedagang tahu tek itupun memeriksa kompornya
Saat akan menutup kompornya, orang yang membeli tadi berucap
"Pak, sampun"
Ketika ia berdiri dan melihat kearah pos, ia melihat sosok pocong sedang membelakangi dirinya.
Didekat sosok itu ada dua piring yang sudah bersih dengan ada dua lembar uang 5 ribuan diatasnya
Orang tersebut pun dengan mata terpejam kemudian mendorong gerobaknya perlahan sambil berucap
"Mpun yutrone sampean beto mawon" (Uangnya sampean bawa saja)
Sambil terus mendorong gerobaknya menjauh dari pos ronda. Setelah agak jauh, baru ia berlari sambil mendorong gerobaknya
Itu dari sisi pedagang tahu tek, sekarang dari sisi orang yang mau jaga ronda yang kita sebut saja namanya mas kis
Mas kis ini sebetulnya dapat giliran jaga ronda bersama dengan ayah Tio.
Namun karena ayahnya Tio sudah aku beri tahu pesan dari guruku maka beliau memang sengaja tidak keluar rumah
Apesnya mas kis tidak diberitahu oleh ayahnya Tio sehingga ia dengan santainya berjalan kearah pos ronda
Mas kis sendiri sedari awal sudah curiga dengan keadaan dusun yang tidak seperti biasanya.
Samun (mencekam)
Padahal masih setengah 10 malam, dimana menurutnya belum terlalu larut untuk keadaan seperti itu
Sambil leyeh leyeh dan merokok di pos, tiba tiba ia mencium semerbak bau pandan yang menyengat.
Memang di kebun depan pos juga terdapat tanaman pandan, namun tentu baunya tidak sampai menyengat seperti saat itu.
Mas kis mulai merinding, ditambah lagi ayahnya Tio tak kunjung datang
Dalam kegelisahannya ia dikejutkan dengan suara benda jatuh dari atas pos ronda
"Bruaakkkk"
Mas kis bangkit, ia melihat dan mencari barang sebesar apakah yang jatuh itu
Sampai ketika ia melihat bawah pos, mas kis melihat sama persis apa yang Tio lihat pada waktu kemarin malam
Yaitu sosok pocong dengan wajah menyerupai cak Ji dengan seringai senyumnya dan air mata yang tumpah dari kedua bola matanya
"Kis, bantalku endi kis"
(Kis, bantalku mana kis) ucap sosok tersebut
Mas kis pun seketika pingsan. Dan saat sadar hari sudah pagi dan ia berada dirumah pak Joko. Orang yang rumahnya dekat dengan pos ronda
Setelah mas kis bercerita kepada pak Joko dan juga istrinya, maka gemparlah dusunku
Berita mengenai sosok pocong yang mirip alm. Cak Ji menyebar dimana mana. Bahkan sampai ke dusun sebelah
Yang lebih apes lagi adalah, sosok tersebut sudah mulai mengetuk ngetuk pintu rumah warga. Orang yang pertama kali membuka ketukan pintu itu ialah bu sum
Waktu itu jam 12 malam, ia terbangun karena haus. Ia dirumah sendiri karena suaminya yang kerja shift malam di pabrik memang biasanya pulang waktu setelah adzan subuh
Saat akan menuju dapur, ia mendengar pintu depan diketuk dengan nada ketukan yang berjeda
Tok. .
Tok. .
Tok. .
"Sinten?" (Siapa?) tanya bu sum
Tak ada jawaban. Namun ketukan itu terus ada
Mungkin tetangga, pikir bu sum.
Saat membuka pintu itulah, wajahnya berhadapan langsung dengan wajah pocong yang menyerupai wajah cak Ji
"Sum, bantalku endi sum" (Sum, bantalku mana sum)
Seketika pingsanlah bu sum saat itu juga.
Ketika suaminya pulang, ia heran kenapa pintu rumahnya terbuka. Dan begitu didekati, ia terkejut melihat istrinya tidur didepan pintu rumah
Saat berusaha untuk disadarkan, bu sum terbangun dan menjerit dengan keras serta memeluk suaminya erat erat
Setelah diberi air minum dan sedikit agak tenang, barulah bu sum cerita bahwa ia baru saja melihat sosok pocong yang wajahnya mirip alm. cak Ji
Sontak setelah beberapa kejadian penampakan tersebut, dusunku menjadi sangat hening dan mencekam setelah diadakannya tahlil dirumah alm. cak Ji
Bahkan beberapa rumah juga mendapat teror ketukan yang diyakini diketuk oleh sosok pocong tersebut
Hingga akhirnya warga yang pernah melihat sosok pocong itu menafsirkan kejadian diluar nalar tersebut.
Karena setiap kali sosok itu muncul, ia akan selalu mengucapkan hal yang sama :
"Endi bantalku" (Dimana bantalku)
Sehingga bisa diambil kesimpulan bahwa ada yang usil waktu penguburan jenasah alm. cak Ji
Warga pun mencari tahu dari mulut ke mulut mengenai siapa saja yang pertama kali melihat sosok ini
Dan sudah bisa diduga bahwa kami berlima lah yang menjadi kunci akan kehadiran sosok itu
Dan atas petunjuk dari ke empat temankulah akhirnya pak Kadus datang kerumah
Beliau menanyaiku perihal rangkaian kejadian teror pocong belakangan ini. Dan aku pun mengiyakan semua pertanyaan beliau
"Ngapunten ingkang kathah pak, kulo khilaf" (Mohon maaf yang sebesar-besarnya pak. Saya khilaf)
Pak Kadus tentu saja marah, bapak yang berada disampingku pun hanya diam saja. Kata bapak setelah itu, aku harus bertanggung jawab dengan perbuatan yang sudah aku lakukan
"Terus piye solusine? Wong-wong wes do wedi kabeh gara gara ulahmu" (Terus bagaimana solusinya? Orang-orang sudah takur semua karena ulahmu) tanya pak Kadus dengan nada tinggi
"Ngrantosi 7 dintene pak, mangke kulo kalehan guru kulo sg mariaken" (Menunggu 7 harinya pak-
Nanti saya sama guru yang akan menyelesaikan)
"Yawes tak titeni omonganmu, nek nganti gak tuntas, awakmu bakal tak laporno polisi" (Yasudah, saya pegang ucapanmu, kalau sampai tidak tuntas, kamu akan saya laporkan ke polisi) tegas pak Kadus
Setelah memarahi begitu, beliau langsung pamit undur diri kepada bapak dan ibu
Ibu sempat menangis, karena mengira aku akan dipenjara. Namun aku meyakinkan ibu dan bapak bahwa aku dan guruku bisa menyelesaikan ini semua
Hari berlalu, teror pocong yang menyerupai sosok cak Ji pun kian meresahkan.
Isu terbaru saat itu mengatakan bahwa sosok tersebut pulang kerumah almarhum. Dan menampakkan wujudnya didepan istri dan anaknya sambil menangis
Meminta bantalnya kembali
Aku ingat, hari itu adalah hari ke-6 acara tahlilan cak Ji. Aku tidak berani ikut tahlil semenjak pak Kadus memarahiku. Namun aku tetap mendoakan dan meminta maaf kepada alm. meski dari rumahq
Bapak sudah pulang dan seperti biasa setelah tahlil, suasana dusun menjadi sangat sepi
Aku sedang berada di kamar, dan entah mengapa aku belum juga mengantuk.
Padahal tadi sore aku masih sempat ikut bermain sepakbola di lapangan bersama teman teman yg lain. Harusnya dengan keadaan capek, aku mudah untuk tidur.
Tapi tidak dengan hari itu
Badanku sudah kurebahkan, namun mata juga masih enggan untuk terpejam. Sampai ketika aku melihat jam dinding ternyata sudah pukul setengah 1 dinihari
Sebenarnya aku haus, namun ada rasa enggan untuk keluar kamar. Sampai tiba tiba suasana kamar menjadi sangat hening
Hanya menyisakan suara detik dari jam dinding
Dan entah darimana datangnya muncul bau pandan yang sangat menyengat
Aku hafal betul bau ini
Bau kemunculan sosok pocong. .
Aku menutupi diri dengan selimut, sambil banyak banyak beristighfar
Namun tiba tiba aku mendengar jendela kamar seperti terbuka
"Braakk"
Aku kaget bukan main, saking kaget dan takutnya sampai sampai mataku mengeluarkan air mata
Aku memberanikan diri untuk melihat, apakah benar jendelaku terbuka
Dan memang benar saja. Jendelaku memang terbuka lebar
Namun bukan itu saja, melainkan ada hal lain yang sampai saat ini akan kuingat sepanjang hidupku
Ya, sosok pocong itu ada disana
Dia berdiri tegak, kainnya kotor kumal, baunya menyeruak aroma pandan yang kadang diselingi aroma bangkai
Wajahnya hitam, sorot matanya memerah seakan akan ada rasa amarah yang begitu besar terhadapku
"Balekno bantalku" (Kembalikan bantalku)
Ujar sosok itu. Namun kali ini dengan nada kasar dan serak
"i . . Inggih cak Ji. Mbinjing kulo wangsulaken" (I. . Iya cak Ji. Besok saya kembalikan) balasku dengan mata terpejam
Jujur kalau di ingat, aku masih sangat merinding
Setelah aku mengucapkan begitu, jendela seperti ditutup dalam keadaan dibanting
"Braak"
Aku menangis sejadi jadinya. Yang kemudian bapak datang masuk ke kamarku
Setelah menenangkanku, bapak bercerita bahwa sedari tadi ia juga merasakan hawa yang tidak enak. Kemudian bapak pergi untuk sholat tahajud
Disela sela sholat itulah, bapak mencium bau pandan yang sangat menyengat. Teringat bahwa itu suatu pertanda, bapak pergi ke kamarku
Namun ketika sampai di pintu kamar, bapak tidak bisa membukanya. Bahkan bapak sampai menggedor gedor pintuku agar aku mau membukakannya. Padahal pintu kamarku tidak dalam keadaan terkunci.
Bapak kemudian berdoa, yang kemudian tiba tiba pintu kamarku bisa dibuka
Mungkin karena bantuan dari doa bapak lah, sosok itu kemudian menghilang
"Yawes, bapak tak turu kene. Lanjuto turu" (Yasudah bapak akan tidur sini. Kamu lanjut tidur) kata bapak menenangkan
Akhirnya aku pun bisa tidur dengan tenang pada malam itu berkat bapakku
Esok paginya setelah sarapan, aku ijin kepada orang tuaku untuk pergi menemui guruku. Karena nanti malam, merupakan 7 hari kematian almarhum cak Ji
Sesampainya di tempat guruku, beliau rupanya sudah mempersiapkan segala hal untuk ritual nanti malam
"Awakmu wingi ngelakonine ndek ngendi?" (Kamu waktu itu melakukannya dimana?)
"Teng pos ronda bah" (Di pos ronda bah)
"Yawes mengko mari tahlilan ayo mrono. Iki kudu digarap mek aku ambek awakmu tok lho yo. Wong liyo gak oleh melu. Wes, saiki muliho"
(Yasudah nanti setelah tahlil ayo kesana. Dan ini harus dikerjakan oleh dua orang, aku dan kamu. Orang lain tidak boleh ikut. Sudah, sekarang pulanglah) ujar guruku
Aku pamit, tak lupa pula aku salim kepada beliau
Sampai rumah, bapak menyuruhku agar banyak banyak berdzikir dan menyiapkan mental untuk ritual nanti malam
"Bapak ambek ibuk bakalan melu dungakno tekan omah" (Bapak dan ibu bakal membantu berdoa dari rumah)
Aku menangis. Gara gara ulahku, mereka jadi ikut ikutan sengsara
"Nggeh pak, matur sembahnuwun. Verdi bakal marikno ngko bengi"(Iya pak, terimakasih banyak. Verdi bakal menyelesaikannya nanti malam)
Waktu berlalu, acara tahlil sudah selesai. Setelah pamitan, aku berangkat menuju ke pos ronda
Disana guruku sudah menunggu.
"Wes siap?"
"Inggih"
Guruku mengeluarkan barang-barangnya. Namun maaf, aku tidak berani mengatakan nama nama barang tersebut karena takut nanti akan disalah gunakan
Kemudian guruku menanyakan media apa saja yang kupakai waktu itu. Kemudian aku mengatakan semuanya ke beliau
Aku disuruh mencari batok kelapa yang aku gunakan waktu itu untuk membakar bantal mayitnya
Dan untungnya, batok itu masih berada disebelah pos
Setelah ketemu, guruku memulai ritualnya
Ia berdoa. Mulutnya berkomat kamit . Keringat bercucuran dari keningnya, padahal malam itu cukup dingin
Bukan dingin karena hawa, namun dingin karena seperti ada energi gaib yang cukup besar
Hingga tiba tiba tercium bau pandan yang menyengat. Aku memegang guruku, aku yang semalam habis melihat sosok tersebut hanya bisa gemetaran
"Dungo o saisomu. Nek wedi meremo ae" (Berdoa sebisamu. Kalau takut, pejamkan mata saja) pesan guruku
Aku berdoa sambil memejamkan mata. Sesekali aku juga melihat keluar, barangkali aku melihat fenomena ataupun sesuatu
Disela sela ritual itu, tiba tiba angin berhembus kencang. Bau pandan semakin menyengat. Aku tidak lagi berani untuk sekedar mengintip jalannya ritual
Sampai terdengar seperti suara ledakan dari depan pos. Guruku berhenti berdoa, dan kuberanikan diri untuk melihat
Ditempat guru melakukan ritual dan dari batok kelapa yang masih mengeluarkan asap, aku melihat seperti bayangan putih melesat naik kemudian menghilang
Guruku yang dari wajahnya nampak kecapekan dengan nafas seperti orang habis lari maraton berkata bahwa ritual telah selesai
Setelah minum, beliau berkata
"Alhamdulillah atas izin Allah akhire terore mari. Mene ayo nyekar ng kuburane cak Ji"
(Alhamdulillah atas izin Allah terornya selesai. Besok ayo ke makam cak Ji)
Aku mengucap syukur. Setelah kami membersihkan area pos, kami pulang dan aku diantar guruku sampai kerumah.
Sampai rumah beliau langsung berpamitan karena hari sudah mulai dinihari
Ketika tidur, aku bermimpi melihat sosok almarhum cak Ji. Namun kali ini beliau berwujud manusia biasa, buka seperti sosok pocong.
Beliau hanya diam, memandangku dari jauh. Aku menangis dan meminta maaf atas kelakuanku, beliau hanya diam kemudian perlahan lahan menghilang
Ketika bangun, tiba tiba bantal mayit itu ada di bawah kasurku.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung menuju rumah guruku. Dan bersamanya kami berdua pergi ke makam cak Ji
Disana kami berdoa, dan meminta maaf atas perbuatanku yang sangat tidak bermoral itu
Saat akan selesai berdoa, guruku menyuruhku untuk menyerahkan gumpalan tanah yang menjadi bantal mayat itu.
Dan diluar nalar, guruku mendorong buntalan tanah itu menembus makam, tepat di nisan yang menjadi tanda kepala dari jenasahnya. Tanpa menggali makam tersebut.
Aku yang menyaksikan peristiwa itu tercengang bukan main, namun guruku berkata bahwa semua itu atas izin dari Tuhan
Setelah itu guruku menyuruhku untuk pulang.
Sesampainya dirumah aku berkata kepada bapak dan ibu bahwa semua ini sudah selesai. Dan kami semua mengucap syukur alhamdulilah
Sore setelah sholat ashar, aku bersama ibu dan bapak pergi kerumah alm. Cak ji
Aku meminta maaf atas semua perlakuan dan perilaku terhadap jasad almarhum. Dimana dari perbuatanku itu, teror pocong yang menyerupai sosok cak Ji bergentayangan di dusun ini
Pihak keluarga tampak kecewa, karena semasa hidupnya cak Ji sangat baik kepadaku
Namun karena aku bilang bahwa semua ini sudah berakhir, pihak keluarga akhirnya mengikhlaskan.
Semenjak kejadian itu, hubunganku dengan keluarga almarhum terjalin semakin erat
Aku sering mengirimi mereka makanan, atau sekedar membelikan jajan untuk anak almarhum yang paling kecil. Itu semua kulakukan semata mata untuk penebusan dosaku kepada almarhum di masa lalu
Sedangkan hubunganku dengan teman temanku malah kebalikannya
Kami seperti acuh tak acuh selepas peristiwa itu. Bahkan Tio kini sudah tidak lagi menyapa atau membalas sapaanku ketika kami berpapasan atau sedang dalam acara yang sama
Bahkan setelah aku pergi bekerja merantau keluar pulau, dalam lamunanku kadang aku juga merindukan teman temanku
Namun aku juga sadar diri, mereka begini tentu karena ulahku pada waktu itu
Hingga akhirnya aku kembali ke dusun, hanya Alif yang sesekali mampir untuk membeli daganganku
Dan alhamdulilah berkat Alif, aku bisa sedikit mengobati rasa rindu pada teman temanku
Memang terkadang, rasa penasaran manusia melebihi batas kemampuan dari manusia itu sendiri
Sehingga dari rasa penasaran itu, timbul berbagai macam hal yg tidak terduga yang beberapa diantaranya bisa mengubah kehidupan seseorang
Demikian akhir cerita dari teman masa kecil saya.
Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada mas Verdi selaku narasumber yang mau berbagi kisahnya untuk diangkat di forum ini
Semoga ada hikmah yang bisa kalian ambil dari cerita ini
Saya kunamus, terima kasih karena sudah membaca.
Selamat malam.
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
