butoable Profile picture
Pekerja Teks Komersial & Aktivis Perecehan Tekstual ||

Jun 10, 2022, 27 tweets

Kisah ini cukup klasik karena terjadi di rumah, ya meskipun terkesan klasik, inilah kisah nyata yang aku alami bertahun-tahun di rumah dan keseharianku. Ini lah #Mysthread Episode. Singid

Horror Story
#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @mwv_mystic

BABAK 1 – PENGANTAR
Halo, Semuanya.
Berhubung di sini sudah banyak yang menceritakan kisah horrornya, ada yang karangan belaka maupun kisah nyata, disini aku mencoba berbagi cerita tentang kisah nyata yang aku alami.

Bisa dibilang kisah ini cukup klasik karena terjadi di rumah, ya meskipun terkesan klasik, inilah kisah nyata yang aku alami bertahun-tahun di rumah dan keseharian aku. Karena kalau dipikir-pikir, kenapa sutradara film horror sering menjadikan rumah sebagai seting utama,

karena memang benar, kisah horror seringkali bermula dari rumah. Dan juga aku di sini akan sedikit lepas dari stigma bahwa kisah horor sering terjadi dengan latar pedesaan atau hutan belantara, kali ini tidak,

aku benar-benar mengalami kisah ini di kota, sebuah peradaban yang futuristik. Cerita ini akan aku pisah-pisah menjadi beberapa bagian dan aku akan berupaya untuk mengingat sedetail mungkin dan menceritakannya secara kronologis.

Tujuanku menceritakan ini, bukan untuk menakut-nakuti siapapun. Aku hanya ingin berbagi dengan teman-teman semua, dan mendapatkan masukan dari teman-teman dan dapat mengambil pelajaran maupun hikmah dari apa yang terjadi.

Kisah ini dimulai sejak kami pindah ke rumah baru pada tahun awal tahun 2009. Ya, rumah ini setahu aku dibangun dari tanah kosong, maka kami lah orang pertama yang menghuni rumah ini.

Sebelumnya alasan kami pindah karena orang tua membutuhkan rumah yang lebih besar dan tidak kontrak, bukan karena alasan horror apapun.

Pertama kali aku melihat kompleks perumahan ini, aku merasa sangat asri dan nyaman, berada di pinggiran kota, dengan udara yang bersih, dikelilingi pepohonan bahkan terdapat hutan di area perumahan, ya hutan asli, bukan hutan buatan.

Pada tahun 2009, sebenarnya rumah kami belum benar-benar selesai dibangun, namun karena kontrak pada rumah yang lama sudah habis, kami memutuskan untuk pindah ke rumah baru ini. Saat itu umur aku masih 18 tahun.

Awal kami pindah, lantai dua masih dalam tahap konstruksi, sekitar 85%, maka kami hanya tinggal di lantai bawah dengan satu kamar, ruang tamu, ruang keluarga, taman belakang, dua ruang makan, dan dua dapur.

Awalnya aku heran kenapa ibu yang merancang rumah ini, membuat dua dapur, padahal dapur yang satu lagi sudah cukup besar. Pada saat itu dapur yang lebih kecil di belakang, belum bisa diakses karena masih terhalangi beberapa bekisting untuk menyangga struktur bangunan.

Malam pertama kami tinggal di rumah tersebut, semuanya terasa sangat normal dan bahagia; aroma cat yang belum kering, tangga yang masih dilapisi semen, debu yang menyesakkan, ruang-ruang yang dipenuhi barang-barang, dan pencahayaan seadanya.

Saat itu, bagian belakang rumah kami masih rawa-rawa dengan beberapa pepohonan.

Keanehan baru mulai terasa pada sore hari kedua, aku masih ingat, pada saat itu sekitar jam 5 sore, aku baru selesai sepedaan bersama kakak, aku pulang ke rumah dan ibu menyuruhku untuk meletakkan sepeda di dapur belakang agar aman.

Pada saat aku sedang meletakkan sepeda, aku mendengar bunyi “duk-duk” pada bagian dapur yang belum bisa diakses. Pada saat itu aku berpikir mungkin itu tukang tukang di tanah sebelah.

Namun karena penasaran, aku mencoba mengecek ada siapa di tanah kosong sebelah rumah kami, dan, tidak ada siapa-siapa, bahkan disitu aku mengetahui bahwa ternyata ada tangga yang menempel ke rumah kami, namun tangga itu tidak termasuk pada kavling rumah ini.

Pada saat makan malam, aku bertanya pada ibu, kenapa ada tangga yang menempel diluar bangunan kami. Ibu menjawab bahwa tangga itu terbagi dua, setengah pada kavling sebelah, kemudian setengah lagi terdapat pada rumah kami.

Ternyata tangga itu sudah ada sebelum rumah kami dibangun. Pada saat itu aku merasa dugaan aku salah, jika sebelumnya sudah ada tangga disitu, berarti sebelumnya sudah ada rumah disini.

Kemudian aku tanya, kenapa tangga itu tidak dihancurkan saja? Ibu mengatakan bahwa tukang-tukang bangunan menyarankan sebaiknya tangga tersebut dimanfaatkan saja.

Ibu sempat menolak, namun entah kenapa para tukang bangunan tetap bersikeras bahwa tangga tersebut sebaiknya dipertahankan agar mempercepat proses pengerjaan konstruksi, dan alasan lain-lainnya,

maka dari itu ibu akhirnya memutuskan untuk membuat dapur kotor kecil di bagian bawah tangga tersebut. Tetapi, kisah tangga itu meninggalkan misteri di benakku. Jika ada tangga disitu sebelumnya, sudah pasti dulunya ada bangunan disini, apakah itu rumah? Aku tidak tahu.

Kenapa para tukang tersebut bersikukuh untuk mempertahankan tangga tersebut? Apakah mereka tahu siapa yang dulu menempati tempat ini? Aku terus bertanya-tanya dalam benakku.

Apalagi, suara yang aku dengar sebelumnya sungguh aneh.
Sejak saat itu, aku mulai merasa kehadiran.....

BERSAMBUNG…

Singid akan kembali di babak 2 - Suara Asing

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling