Daddyboo Profile picture
suka nulis apa aja, sharing cerita? silahkan

Jul 6, 2022, 126 tweets

HANTU KARMAN

Dendam yang belum selesai..
-Horror Thread-

@bacahorror
@IDN_Horor
#bacahorror #idnhoror

Wonokromo, Juli 1999..

25 tahun yang lalu sejak program transmigrasi besar-besaran dilakukan oleh pemerintah di sebuah desa di pulau Sumatera, beberapa orang berbondong-bondong dari desa mengikuti perpindahan populasi dari satu tempat ke tempat lain,

dari perkumpulan kecil kemudian berkembang menjadi beberapa desa yang biasa disebut dengan “Kampung Jawa”. Wonokromo menjadi bagian dari beberapa desa itu.

Samidi, kepala keluarga yang ikut memboyong keluarganya pindah ke Sumatera untuk mengikuti jejak sang kakek, saat itu didesa nya di wilayah jawa tengah, akan diadakan rencana pembuatan bendungan/waduk,

sehingga 1 desa dipindahkan ketempat lain. Samidi mempunyai 1 istri dan 2 anak, anak pertama bernama Yati (12 tahun), dan yang masih kecil bernama Dinda (6 tahun)

Dengan di iming-imingi pekerjaan dan tanah, 1 desa berpindah tempat. Saat itu Samidi  mendapat kabar, jika disana sudah ada satu kampung sisa sisa dari program transmigrasi sebelumnya, sehingga ketika ia berpindah kesana, sudah ada hunian yang bisa ditempati

Topografi di wilayah Sumatra sangat berbeda dengan desa Samidi tinggal dulu. Jika di jawa dominan dengan batu kapur dan jati, di Wonokromo tempat tinggal sekarang lebih dominan perkebunan karet dan sawit.

Selain itu, listrik juga jarang, hanya hidup sampai jam 16.00. namun, dengan berani ia memboyong keluarga kecil nya untuk berpindah

Kesibukan didesa ini ialah berkebun, 1 KK mendapaktan 1 hektar kebun karet yang sudah ditanami, peninggalan program terdahulu sehingga kepala keluarga bisa memanfaatkannya untuk bertahan hidup.

entah kenapa saat itu banyak kebun tanpa tuan, mungkin pemiliknya lebih memilih untuk kembali lagi ke jawa, pikir bapak 2 orang anak itu.

Ketika orang tua pergi menyadap karet, biasanya anak-anak kecil dititipkan ditempat penitipan atau biasa disebut dengan “Pamong”, bangunannya seperti rumah dengan sekat dinding di masing-masing ruang,

dari jauh terlihat seperti sekolah, namun hanya anak-anak kecil dan 3 ibu ibu yang mengurus anak yang dititipkan oleh orang tuanya. Jika sudah sorenya maka anak tersebut akan dijemput lagi ketika selesai beraktifitas.

Untuk rumah yang ditinggali berbentuk rumah semi permanen, terdiri dari 2 kamar, 1 ruang tamu dan dapur, kemudian kamar mandi dibelakang, terpisah dengan bangunan utama. Kira-kira begini gambaran rumah yang diberikan oleh program pemerintah saat itu.

Karena di 1 desa tinggal bersama dengan suku yang sama. Samidi pun dengan mudah akrab dengan keluarga/tetangga lain yang tinggal terlebih dahulu disana.

Bahasanya sama, kebudayaan nya pun sama, Bahkan dihari-hari tertentu diadakan atraksi kuda lumping, pagelaran wayang, sampai sedekah bumi. sama seperti desa tempat Samidi tinggal dahulu.

**
2 tahun berjalan Sore itu Samidi dan istri selesai pulang dari aktifitas menyadap karet, ia masuk rumah, namun didapati Yati masih dikamar membaca buku.

“adekmu kemana nduk?” tanyanya

“ndak tau pak, tadi waktu yati mau pulang, adek masih main dipamong, jadi yati pulang dulu” jawab yati dilanjut dengan membaca buku

“sudah mau magrib ini, segera panggil adekmu nduk” Suruh pak Samidi.

Segera yati pergi meninggalkan rumah untuk memanggil adeknya

30 menit berlalu, Samidi berharap cemas dengan anak terakhirnya itu, waktu sudah magrib tapi belum pulang pulang, selang beberapa lama, Yati pulang namun tanpa dengan adiknya.

“kata ibuk pamong, dinda sudah pulang tadi lho pak” terang yati yang sedang ketakutan menahan tangis.

Bergegas orang tua itu pergi ke rumah pak RT mengabarkan jika anaknya belum pulang, sudah kesana kemari Samidi mencari, tapi tidak menemukan jua titik cerah sedikitpun.

Pak RT segera ke pos kamling untuk mengetuk kentongan menandakan kabar mendesak dan mengundang seluruh warga yang mendengar. Berbondong-bondong warga datang ke pos itu.

“pak Ridwan, segera siapkan obor atau senter, masig-masing juga siapkan peralatan dapur” ucap pak RT dan disambut warganya dengan sigap

Sudah berkumpul beberapa warga dengan membawa obor dan penerangan lain, tak lupa juga peralatan dapur, entah bagaimana izin dengan istrinya, yang pasti, warga sangat antusias.

Beberapa kepercayaan warga biasanya anak yang hilang bisa dicari dengan mengetuk peralatan dapur berirama, berharap sosok yang membawa anak itu menari, kemudian anak yang disembunyikan terlepas dari gendongannya.

Selang beberapa lama Sebagian warga berpencar untuk mencari anak yang hilang ke segala penjuru. Saut-saut terdengar bisikan warga “apa ini ulah hantu itu ya?” namun disambut tatapan sinis oleh pak RT

Dikegelapan malam hutan karet, sudah berpencar 2 orang, terlihat dari cahaya yang berpendar dari bayang bayang gelap jauh. Pak Ridwan ditemain dengan mas gepeng, panggilan ini tidak didapat semata-mata karena iseng, tapi memang pawakan dari mas gepeng ini yang terlihat kurus-

dengan sedikit (maaf) cacat dibagian bibir, sehingga perkataannya kurang jelas, lain halnya dengan pak Ridwan, pria berpawakan gemuk ini sangat susah untuk berjalan jauh, pasangan ini jika di sejajarkan akan terlihat seperti angka sepuluh. Ya sangat serasi,

Entah kenapa pak Ridwan dipasangkan dengan gepeng, membuatnya setiap berjalan selalu menggerutu.

Ditengah kebun karet, Pak Ridwan melihat sudut-sudut kegelapan, dibayang antara pohon-pohon karet.

“gimana peng? Keliatan sesuatu nggak?” tanya pak Ridwan

“eum, mu’in nik anaa” (belum, mungkin disana) sambil menunjuk sisi kebun yang semakin gelap

Gepeng berjalan didepan pak Ridwan kemudian berbalik mematung, melihat gerak gerik gepeng, membuat pak Ridwan mengerutkan dahi.

“ada apa peng? Ketemu?” tanya pak Ridwan,

namun gepeng masih diam mematung sambil memandanginya. Ia melihat wajah gepeng yang pucat, kemudian dengan suara patah-patah berucap.

“ui ing u’ri ana cong”

“Hahh? Oncom? , orang lagi nyari anak malah kepikiran makanan.” Sahut pak Ridwan kesal.

“uii ing uri a’a cong goblok” entah kenapa saat mengucap kata itu ia menjadi sangat fasih sekali.

Kemudian pak Ridwan menyadari sesuatu yang mengganggu dibelakangnya saat ia menoleh. Terlihat sosok pocong yang sudah berdiri dibawah pohon karet. Menatap kedua orang itu dengan kapas yang masih menutupi hidung dan mulut.

“aa’aa’’aaariiiii” teriak pak Ridwan tanpa sadar bicaranya seperti gepeng.

Terlihat dari jauh, 2 cahaya merah bergerak cepat tak beraturan.

***
Disisi lain di suatu tempat, terdengar suara “KETEMUUU!!” , kemudian berbondong warga menghampiri asal suara tersebut, terlihat anak kecil di bawah pohon karet sedang memeluk boneka tertawa cekikikan, seperti sedang bermain,

pak Samidi menghampirinya memeluk serta menangis “dindaa” tangis pak Samidi kemudian menggendongnya, ia melihat dinda membawa boneka yang terbuat dari karung,

namun yang membuat seram, boneka itu wajahnya seperti orang tua. Bergegas warga dan pak Samidi untuk pulang, dengan membawa dinda yang masih memegang boneka itu.

Esok paginya, pak Samidi pergi kerumah pak RT yang kita beri nama pak Dadang saja, penulis sudah capek memikirkan nama. Pak dadang menyambut tamunya itu dengan mempersilahkan masuk.

Diruang tamu pak dadang, terlihat ornament khas jawa, hiasan-hiasan dinding seperti kuda yang terbuat dari anyaman menempel diantara hiasan dinding yang lain.

“pak, saya kepikiran tentang masalah Dinda” terang pak Samidi

“kenapa dengan Dinda pak?” jawab pak dadang penasaran

“Dinda setiap malam tidak bisa tidur, sesekali ia melihat boneka yang kemarin ia bawa seperti mengajaknya berbicara, tapi ketika ia sudah tidur, dari luar kamar seperti ada suara orang tua yang berat, saya juga kepikiran tentang keresahan warga kemarin pak, hantu apa?”

Pak dadang memperbaiki posisi duduknya seraya menawarkan teh hangat kepada tamunya itu, kemudian menjelaskan

“kampung ini, Wonokromo, dahulu sebelum kita berpindah kesini. Sudah ada program trans sebelum kita, namun beberapa tidak betah karena ada gangguan sejak konflik itu.. konflik karena sifat iri melihat saudaranya sendiri yang berhasil,

program ini tidak selamanya berhasil kan, ada juga yang gagal, yang gagal kemudian menghasut beberapa warga untuk mengambil hak milik orang yang sudah berhasil, kemudian pamong di ujung desa kita itu, yang sudah tidak digunakan lagi,

menjadi saksi pembantaian sesama saudara sendiri, saya masih ingat waktu kecil saat terjadi konflik itu, saya di amankan oleh ayah pergi mengungsi kekampung sebelah. Ada 2 tempat pamong didesa ini, 1 di RT kita, satunya lagi di ujung desa.

Itu kenapa pamong ditempat kita selalu ramai, karena hampir 1 desa menitipkannya kesini” terang pak dadang yang sesekali menyeruput teh yang ada dimejanya.

“kita juga tahu.. orang yang datang kesini pasti bawa bekal yang tak terlihat kan? Mungkin dia dendam dengan kampung ini, entahlah.” Pak dadang mengakhiri cerita itu. Disusul pak Samidi yang berpamitan.

***
Di rumah, sore itu terlihat dinda yang sedang bermain dengan boneka barunya itu., sang ayah sedang berpamitan ke rumah pak RT, sedangkan ibu pergi ke pasar untuk berbelanja, Dinda hanya ditemani oleh Yati yang masih sibuk dengan buku-bukunya.

Sesekali ia mengintip Dinda yang sedang bermain didapur, memastikan adiknya tidak melakukan hal-hal yang membahayakan. Ditengah konsentrasi membaca buku, terdengar suara orang tua yang menyanyikan "gundul-gundul pacul" dengan suara yang serak didapur,

dibarengi dengan tawa cekikikan Dinda. Yati pun bergegas mengintip di mulut pintu yang mengarah ke dapur. Terlihat sosok orang tua berpakaian serba hitam membawa clurit, kepalanya botak namun menyisakan rambut terurai disamping kepalanya, yang membuat yati tidak bisa lupa ialah.

Sosok itu bernyanyi dengan leher yang hampir putus, kepalanya menggantung ke belakang, sehingga saat ia bernyanyi, darah keluar dari leher yang hampir putus itu. Naas saat Yati diam diam memperhatikan, sosok itu menoleh kepada Yati seraya tersenyum memperlihatkan gigi hitamnya.

Yati berteriak menutup telinga dan matanya, nyanyian itu semakin kencang terdengar seperti mendekat, diiringi suara besi yang bergesekan dengan dinding kayu.. srringg…sriiing.. suara itu semakin dekat

Sekejap Yati memberanikan diri membuka mata, yang terlihat hanya Dinda bermain dengan boneka yang terbuat dari karung itu.

Sore itu bapak dan ibuk datang berbarengan, ibuk membawa beberapa sayur dan beras hasil pergi dari pasar, sedangkan bapak, hanya pulang dengan diam entah apa yang yang ada dipikiran bapak saat itu. Yati hanya diam menyambut kedatangan mereka.

Malamnya hari Dinda tidak bisa tidur lagi, dia asik dengan boneka seramnya itu, sesekali bapak mengingatkan Yati untuk membujuk Dinda agar segera tidur, tapi ia hanya menyuruh adik kecilnya itu seadanya, di ruang tamu ibuk menghampiri bapak memberikan “bengle”

sejenis tanaman rempah yang ia dapatkan saat belanja dari pasar, bentuknya seperti jahe, dulu didesa para orang tua yang mempunyai anak kecil mengunyah tanaman rimpang ini agar sang anak cepat tidur.

Bergegas bapak membersihkan bengle dan mengunyahnya, sembari tidur ngeloni anak terakhirnya itu, 15 menit berselang, Dinda sekejap tidur disamping boneka yang entah ia dapat darimana. Disusul oleh ibuk membaringkan diri.

Dikamar Yati, ia hanya berguling-guling, matanya tidak segera memejam, sampai ia melihat jam yang ada di atas meja menunjukan pukul 01.00, lapar yang ia rasakan membuatnya seperti kegalauan yang abadi,

mata memejam, tapi perut memaksa untuk membuka matanya. ia menuju kamar bapak untuk membangunkan ibu, tapi tidak didapati ibuk dikamar itu

Bergegas ia menuju ke dapur untuk mencari makanan yang tersisa sebagai ganjal perut. Di pintu dapur terdapat tirai yang diikat agar memudahkan orang untuk lewat. Yanti menuju dapur melewati tirai itu menabraknya sedikit sehingga terlihat tirai itu bergoyang mengikuti yanti.

Segera ia mengambil nasi yang ada, kemudian mencari bahan makanan yang tersedia. Ada yang sedikit menganggu dipikirannya. Setelah ia melewati tirai, tirai itu masih bergoyang sampai detik ini.

Yanti segera berbalik menuju tirai yang menganggu, pikirnya dengan melepaskan ikat itu, tirai akan berhenti bergoyang. Namun ketika membuka simpul ikat, terdengar suara seperti seekor kucing yang dipegang lehernya… grrrrr grrrr.. ia tak sadar,

dibalik tirai itu sosok hitam dengan kepala botak memandang dirinya. Setiap sosok itu bersuara. Darah dari lehernya muncrat keluar.

… Dikamar mandi yang terpisah dari bangunan rumah, ibuk sedang buang air kecil ditemani senter dengan cahaya redup menggantung ditangan kirinya. Bak air yang tinggi membuatnya kesusahan saat ia berjongkok sehingga ia meraba raba untuk meraih gayung di bak,

tapi ada yang aneh, gagang gayung itu terasa seperti berambut, ketika ia menyenter gayung yang ia pegang, ia menyadari.. ia sedang memegang janggut dari sosok kepala tanpa tubuh kemudian kepala itu menyeringai melihatnya.

Teriakan demi teriakan terdengar dari 2 tempat, membangunkan bapak yang saat itu bersama Dinda, segera bapak menghampiri melihat ibuk dan Yanti dengan ekspresi ketakutan, malam itu mereka berkumpul bersama satu kamar dan tak ada yang berani keluar.

Ditempat lain di sisi desa, terlihat 2 orang yang sedang berjaga di pos ronda, yaa., siapa lagi jika bukan pak Ridwan dan Gepeng. Malam itu dingin tak seperti biasanya, embun malam yang datang membasahi rumput disekitaran pos ronda.

Radio yang digantung di tiang pos terdengar gemerisik, suaranya cempreng namun rasa sepi ini dapat terobati dengan barang elekronik yang sudah usang itu, terdengar dari radio, siaran berita nasional, menandakan sudah memasuki pukul 01.00 dini hari.

Pak Ridwan bergegas untuk melakukan patroli ke 2 yang sebelumnya dilakukan jam 9 dengan mengajak gepeng. “Rute kali ini akan sedikit menyeramkan peng..” ucap pak Ridwan yang sedari tadi melihat gepeng diam sembari mengangguk,

bukan menuntut untuk dijawab, tapi pak Ridwan tahu bagaimana kapasitas gepeng, harapan dia hanyalah setidaknya malam ini tidak sepi. Patroli ke dua ini akan melewati rute batas desa yang dimana disitu terdapat bangunan pamong-

bekas tragedy pembantaian yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Setelahnya mereka akan memutar kembali ke pos ronda. Mereka pun bergegas untuk mengambil senter dan beranjak untuk berpatroli.

Jalanan kampung terlihat sepi, jarak rumah yang berjauhan ini semakin membuat rasa merinding terasa nyata. Mereka berdua berjalan sambil sesekali menyorotkan senter ke rumah-rumah atau pohon-pohon.

Pak Ridwan menyadari gerak gering gepeng yang sesekali melihat kebelakang, sambil menepuk tengkuk lehernya.
“kenapa peng?” tanyanya
“aa’uu” (nyamuk) jawab gepeng sekenanya.
“ohh”
percakapan ini mulai terlihat canggung, ya sebenarnya penulis Cuma pengen memanjangkan cerita aja.

Sebentar lagi mereka sampai di bangunan kosong itu, terlihat samar dari jauh, bangunan itu seperti hidup, menyimpan misteri yang sudah lama dipendam, mereka terus berjalan mendekat. Terdengar lirih suara gemrisik tawa anak anak,

seperti sedang melakukan aktifitas belajar mengajar diruangan pamong itu. Semakin mendekat suara itu semakin terdengar jelas. Diikuti dengan bau amis di halaman bangunan kosong itu.

Pak Ridwan bergidik ngeri mempercepat Langkah kakinya, namun ia melihat gepeng yang sedang berdiam diri dibelakangnya, senter yang ia pegang jatuh, gepeng mematung dengan bola mata ke atas sembari tersenyum menyeringai menatap Ridwan.

Segera ia bergegas untuk berlari, kemudian mengetuk semua pintu rumah warga mengabarkan gepeng sedang kesurupan. Tak lama, warga berbondong untuk melihat gepeng yang masih berdiri di halaman bangunan kosong itu, ia menggelepar seperti ikan yang lepas dari kailnya,

memandangi semua warga yang berkerumun termasuk juga pak Ridwan. Ia menunduk, kedua kakinya menumpu badan sambil sesekali memegang leher dan berteriak, dengan lirih ia berucap..

“o’e udu inggal kene”
“aduh apa sih mbah ga jelas” pak jasto memotong
“iya mbah, kalo mau komunikasi masuk ke Ridwan aja” teriak salah satu warga yang di iyakan oleh yang lain
“lho kok saya?” jawab pak Ridwan heran

Selang beberapa lama, gepeng diam, badannya tersungkur jatuh lemas, warga segera menggotong gepeng, namun saat warga mulai mendekat, terdengar suara teriakan dari pak Ridwan sembari mempelantingkan diri jatuh ke tanah, gentian pak Ridwan yang kesurupan

“cek..cek 1..2..RUAARRGH” teriakan pak Ridwan semakin keras sambil sesekali tersenyum sosok itu melanjutkan pesannya yang terpotong tadi. “kalian.. harus.. meninggalkan desa ini.. sebentar lagi waktunya akan tiba..” kemudian pak ridwan terjatuh

warga bergegas untuk melaporkan kejadian ini ke pak RT

Pagi itu, warga mulai beranjak untuk memulai beraktifitas pergi ke kebun, berita tentang gepeng dan pak Ridwan yang kesurupan semalam segera cepat menyebar tanpa melalui aba-aba,

dijalan, dikebun, di warung, warga mulai membicarakan kejadian itu dan dikaitkan dengan tragedy pembantaian karman, “kenapa harus meninggalkan desa?” tanya pak Darmin kepada pengunjung warungnya.

Berbeda dengan yang lain, pak Darmin merupakan transmigran yang tidak melalui program pemerintah, jadi ia hanya merantau untuk berjualann makanan kecil dan kebutuhan pokok-

bagi warga desa Wonokromo, didepan warungnya terdapat kursi dan meja kecil dari kayu yang ia sediakan untuk warga yang ingin istirahat sebentar.

aku gak begitu tahu bagaimana kejadian itu pakde, kejadian itu terjadi waktu program transmigrasi pertama, sedangkan kita masuk sini di program ke 3” sahut jasto yang sedari tadi asik dengan kopi hitam dan pisang gorengnya.

“mungkin pak RT yang lebih tahu, karena kakeknya yang pertama kali ikut program transmigrasi, sama siapa itu yang punya kebun karet? Oh iya Samidi” lanjut jasto menerangkan penjelasannya

“oia pakde saya hutang dulu ya? Sekalian bungkus buat Ridwan dan gepeng, kasian katanya badannya seperti digebukin” “kebiasaaan” sahut pak Darmin ketus.

Matahari mulai menyisingkan matanya, menandakan waktu sudah beranjak sore, terlihat dari jauh warga yang sudah berbondong untuk bergegas pulang dari kebun termasuk pak Samidi.

Sore itu ia menyempatkan diri untuk berkunjung kerumah pak RT, kejadian yang ia lalui semalam menyimpan tanda tanya dari benaknya.

Didepan rumah berpagar kayu dengan tanaman rambat yang menghiasi, berdiri seorang pria yang menggunakan baju kaos partai ditangannya masih memegang pisau alat sadap karet,

terlihat pak RT yang sedari tadi menyirami tanaman dihalaman rumahnya sembari mempersilahkan pak Samidi yang baru datang untuk masuk kerumah. Tanpa sungkan pak Samidi bergegas masuk,

bercerita kejadian yang menimpa keluarganya semalam, dalam hatinya masih berpikir apakah ada hubungannya dengan boneka yang Dinda bawa kemarin?

Pak RT duduk sembari menjelaskan, diraut wajahnya juga terlihat kecemasan karena kejadian malam itu seperti membawa terror yang dirasakan oleh warga. Bibirnya terlihat seperti menyembunyikan kata yang akan diucap. Namun pak Samidi segera menceritakan masalahnya

“pak, kemarin keluarga saya diterror sosok itu lagi, pria berpakaian hitam seperti yang pak RT ceritakan kemarin” ucap pak Samidi, “tak salah lagi, itu juga sosok yang meneror warga semalam, diwaktu yang sama”

pak RT segera pergi kebelakang kemudian mengambil album foto yang nampaknya berdebu di lemari, dibukanya album itu terlihat foto 13 pria yang yang sedang berjejer menggunakan baju lurik-,

1 orang lagi menggunakan pakaian serba hitam dengan kancing bagian dada yang terbuka, dibawah foto bertuliskan “Program Transmigrasi pertama 1970”

“kakekmu juga teman ayahku dulu termasuk Karman, sore itu terjadi kegemparan di desa, entah tidak tahu yang pasti siapa yang menjadi provokator, tiba tiba terjadi keramaian di halaman pamong, aku bergegas untuk menuju pamong dengan sepeda yang kumiliki saat itu,

disana sudah ada kakekmu dan ayahku, sekilas aku melihat mayat yang tergeletak ditanah bersimbah darah, kemudian ayah menutup mata ku, samar dari celah jari ayahku, aku melihat mayat itu berdiri dengan kepala hampir terputus,

berjalan goyah terluntai menuju kebun karet perbatasan desa, warga yang melihat hanya terdiam tidak berani mendekat,

aku mendengar percakapan ayahku dan kakekmu tentang ilmu yang diamalkan Karman, ilmu yang membuat jasadnya tidak bisa mati jika tersentuh dengan tanah.

Tak ada yang tahu jika ilmu yang sudah punah itu bisa kita lihat dengan mata kepala sendiri, kau mungkin tidak percaya dengan cerita ku kan? Tapi itu kenyataanya” pak Dadang melanjutkan ceritanya sembari tangannya gemetar memandang foto itu.

“setelah kejadian itu, tidak ada yang tahu jasad Karman, warga desa mempercayai jika ada orang yang mati, jiwa nya akan mengisi benda yang menyerupai manusia, malam itu semua warga desa menutup hiasan foto serta hiasan patung atau boneka yang terdapat dirumahnya,

anak-anak kecil menangis sesenggukan melihat boneka nya dibungkus dengan kain jarik, aku melihatnya sendiri boneka adikku yang sudah ditutup kain jarik tiba tiba bergoyang sendiri, jarik yang menyelimuti foto juga bergerak tak beraturan”

“boneka?” potong Samidi “sebentar aku pulang dulu pak” Samidi bergegas untuk pulang, raut wajahnya panik, Langkah kakinya cepat.

Dirumah.. sore itu diruang depan yanti sedang membaca buku ditemani Dinda yang sedang asik bermain boneka seramnya itu.”ayo nak mandi dulu” teriak ibu dari dapur menyuruh Dinda untuk mandi, segera Dinda menghampiri ibuk meninggalkan boneka itu berdua dengan Yanti.

Yanti terlalu asik dengan bukunya, sesekali ia melihat boneka yang seperti memandanginya tergeletak duduk di dinding, karena tidak nyaman dengan pandangan boneka itu, ia membuangnya ke kamar dan kembali asik dengan bukunya,

ditengah membaca buku terdengar samar suara memanggil dirinya, suaranya berat seperti orang tua “Yanti…” bergegas ia menoleh kekamar,

namun saat ia menoleh lagi ke bukunya, dibalik sisi buku itu mengintip tangan keriput dengan kuku hitam yang Panjang menggenggam tangan yanti yang masih memegang buku.

Segera ia berteriak dan bergegas ke kamar mandi memanggil ibu yang sedang memandikan Dinda, namun yang terlihat ibu sedang membenamkan kepala dinda ke bak mandi sambil tersenyum melihat Yanti.

Yanti segera menarik rambut ibu dan melemparkannya ke belakang, terlihat Dinda yang sedang gelagapan dan menangis kemudian menggendongnya

Bergegas mereka keluar untuk mencari pertolongan namun dari jauh sudah terlihat bapak dengan lari yang tergopoh. Ia segera masuk kemudian melihat ibuk meraung sembari meracau tidak jelas dari mulutnya keluar kata “iki opo sing diperbuat karo leluhurmu karo aku”

"ini yang diperbuat leluhurmu kepadaku)  diiringi ketawa nyaring “aku iso ning endi endi, sampai kabeh keturunan sing mateni aku melu mati” (aku bisa dimana-mana, sampai semua keturunan yang membunuhku ikut mati). Ibuk memekik Panjang kemudian terhuyung jatuh

Bapak yang saat itu terdiam segera mengambil boneka “bonekanya! Bonekanya mana!” teriak bapak kepada yanti, yanti menunjuk kamar tempat ia melemparkan boneka itu.

Kemudian bapak mengambilnya, membungkusnya dengan kain jarik dan lalu membawanya ke pak RT (segera panggil warga buat tolong ibuk!) ucapan bapak seperti tergesa-gesa.

ia segera menghampiri pak rt yang saat itu sedang mengelap sepeda lama nya, terlihat wajah pak samidi yang panik dengan membawa buntalan kain jarik, "ini pak yang Dinda bawa kemarin, sepertinya ini penyebab semuanya" pak samidi mengehela nafasnya

"lalu apa yang kita lakukan?" tanya pak rt, segera ia mengambil jirigen berisikan minyak tanah, kemudian membakar boneka itu tepat didepan mata pak samidi. 15 menit berselang tapi boneka itu tidak tampak seperti terbakar, masih utuh

"ayok ikut aku" tegas pak RT, kembali ia membungkus boneka itu dengan kain jarik lalu mengambil sepeda yang tersandar didinding pak Samidi pun mengangguk untuk ikut. hari sudah sore, jalanan sudah mulai gelap, bergegas mereka berangkat menyelusuri jalan desa

menuju rimbunnya hutan karet, ditengah perjalanan, pak Samidi yang saat itu dibonceng Pak RT merasakan keanehan, buntalan jarik ini terus bergerak dipangkuannya, samar terdengar dari Pak RT memperingatkan, jika boneka ini pasti mengundang sesuatu yang tak terlihat

seiring berjalan, pak samidi menggenggam ikatan jarik itu dengan kuat, namun ia merasa seperti diikuti, saat ia menoleh kebelakang, terlihat sosok terbungkus kain putih sedang memandangi melompat mendekat "ayok pak cepet pak!" teriak pak Samidi

dengan kepayahan pak RT mengayuh sepeda itu dijalan menanjak, kecepatan sepeda mulai pelan, namun pocong itu semakin dekat dengan sepeda mereka, dan tiba tiba.. sosok itu sudah menyusul beridiri disamping Pak Samidi, menoleh dengan tatapan kosong

dengan ketakutan yang semakin menjadi, tak sadar pak Samidi membanting boneka itu, dan sosok pocong yang mengikuti mereka pun hilang.
ditengah gelap hutan karet, mereka menulusuri jalan yang semakin gelap, buntalan kain itu masih terus bergerak.

suara gerimicik air menandakan adanya sungai yang mengalir didekat mereka berdiri, disitulah mereka menuju. mereka bergegas mengikatnya dengan kain jarik lalu membuang boneka itu ke sungai perbatasan kebun.

***
7 tahun berlalu, Yanti anak pertama dari Pak samidi sudah beranjak dewasa, ia pergi ke kota untuk bersekolah, sesekali ia mengabari orang tuanya tentang keadaanya di kota, tanpa menyinggung kejadian yang menimpa desanya saat itu, namun ada sesuatu yang membuat

yanti gusar, saat sedang asik bermain sosial media, disuatu grup daerah, seseorang meng-upload gambar dengan caption "ini apa ya? ada yang bisa jelasin?" deg.. jantung Yanti berdetak tak beraturan, kemudian menelepon bapak "pak.. boneka itu kembali.."

boneka Karman...

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling