Semua untuk Hindia - Iksaka Banu
Penerbit: @penerbitkpg
Tahun terbit: Mei 2014
Pengantar: Nirwan Dewanto
#BacaBukuSejarahBareng
Semua untuk Hindia merupakan kompilasi cerpen pertama Iksaka Banu dalam belantika sastra Indonesia dan langsung disambut baik dengan berhasil meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2014.
Dalam cerpen "Selamat Tinggal Hindia", tokoh aku tampi sebagai Mertinus Witkerk, seorang wartawan De Telegraaf yang sengaja datang ke untuk melaporkan berita huru-hara di Batavia setelah kejatuhan Jepang.
Cerita ini hadir dengan sudut pandang Belanda yang memuat hingga kemudian di masa ini bisa saja disebut sebagai bias apa yang disebut sebagai "masa bersiap" atau revolusi sosial.
Walaupun begitu, potret Iksaka Banu dalam cerpen ini tampil lebih halus dibandingkan dibandingkan dg apa yg pernah disebut Idrus dalam cerpen "Surabaya" kalau orang² sedang mabuk kemenangan. Atau pula masih lebih halus dari yg Pramoedya Ananta Toer hadirkan dlm cerpen "Dendam".
Nuansa yang sama hadir kembali dalam cerita "Keringat dan Susu". Hadir dengan tokoh aku sebagai seorang Belanda yang menyaksikan kejatuhan Jepang dan disambut munculnya para tentara revolusi.
Dalam sebuah dialog, Joris Zonderboots, kopral Indo-Belanda menceritakan ayahnya yang sudah meninggal dan ibunya sebagai seorang gundik. Sejak kematian ayahnya, tak ada seorang Belanda pun yang mau mengambil ibunya.
Hingga suatu ketika, sang ibu menitipkan Joris & 4 saudara lainya di panti asuhan. Tak ada pilihan. Sang ibu pun meninggalkan mereka dan kembali ke orangtuanya di kampung. Namun, naas, saat Joris dewasa dan mengerti banyak hal, ibunya juga meninggal dunia karena dirajam penduduk.
Sang ibu dianggap pelacur, pengkhianat, dan seorang yang pernah hidup bersama kafir Belanda. Joris merasa tak garis hidupnya seperti tak punya tempat, baik dg orang Belanda maupun pribumi.
Sementara itu, si tokoh aku tampak lebih beruntung. Saat masa kecil, ibunya meninggal dunia dan ia diasuh dan menjadi anak susu perempuan pribumi sampai umur 5 THN. Walaupun ia kemudian menjadi bagian dari tentara Belanda, memori ibu susunya tersebut tak pernah ia lupakan.
Selain menampilkan pergolakan seorang Belanda yang berada di huru-hara perang, Iksaka Banu juga menampilkan cerita tentang gundik para pembesar Belanda. Cerita dalam "Stambul Dua Pedang", dihadirkan narasi yang cukup berbeda.
Sosok nyai dalam cerita ini hadir dengan pengetahuan musik Stambul yang cukup baik dan sebab itulah, ia diambil oleh seorang Belanda yang juga menyukai dan punya selera tontonan serupa.
Namun, suatu ketika, sang nyai ketahuan berkencan dengan pria lain yang barangkali punya perasaan kepadanya. Hingga akhir cerita, kencan tersebut kemudian diketahui oleh tuannya dan mengajak duel pria tersebut.
Tak tau apakah ini atas nama berkorban atas nama cinta atau hanya sebatas menyelamatkan harga diri seorang Belanda yang telah tercoreng oleh cinta seorang pribumi.
Cerita ini punya napas berbeda jika dibandingkan cerita selanjutnya. Dalam cerita "Racun dan Tuan", seperti umumnya nasib nyai, ia terusir setelah sang tuan sudah menemukan dambaan hatinya dan akan dibawa ke Hindia Belanda. Tak mungkin dalam satu rumah ada dua cinta.
Nuansa dengan suasana yang cukup mencekam hadir dalam cerita "Semua Untuk Hindia". Cerita tersebut berlatar Perang Puputan yang menjadi momen penting dalam sejarah perlawanan di Bali.
Selain cerita itu, hadir pula cerita "Tangan Ratu Adil" yang berlatar Cilegon yang penuh bergolakan sosial yg penuh dendam dan amarah rakyat. Amarah itu juga hadir dalam cerita "Di Ujung Belati" yg diakhir cerita menampilkan seorang pribumi yang akhirnya membunuh tuannya sendiri.
Jika cerita-cerita tersebut dilepaskan dari konteks kolonial, maka tindakan tersebut menjadi tindakan yang amat menyakitkan. Cerita-cerita yang menampilkan amarah "orang kecil" tersebut merupakan bagian dari akumulasi dari perasaan bangsa-bangsa terjajah.
Di cerita lain, pemberontakan tak melulu dilakukan pribumi. Dlm "Pollux", seorang Belanda yg sdg mengalami proses pengadilan & dianggap sbg bagian dr pemberontakan. Saat dibawa ke Manado & berada di atas kapal, ia bertemu dg sosok pangeran yg tak lain adl Pangeran Diponegoro.
Cerita yg cukup unik dalam kumpulan ini hadir dalam cerita "Penunjuk Jalan". Diceritakan seorang dokter tersesat di sebuah hutan belantara Cirebon & bertemu dg gerombolan para bandit yang ternyata adalah sosok pangeran. Sang dokter tersebut bersama seorang teman dg kaki terkilir.
Sang Pangeran pun segera membawa mereka ke sebuah kampung dan bertemu dengan seorang tabib bernama Kyai Ebun. Sang dokter pun protes saat sang tabib mengurut kaki temannya. Ia beranggapan hal tersebut tidak sesuai dengan ilmu kedokteran modern yang dipelajarinya.
Dari sekian banyak cerita yang dihadirkan, cerita "Penunjuk Jalan" inilah yang cukup memberikan kesan selain "Keringat dan Susu". Selain itu, semua cerita yang dihadirkan dalam kumpulan ini ditulis dari sudut pandang orang Belanda atau tentara Belanda.
Dari satu sudut inilah, kita akan menemukan berbagai karakter Belanda yang tidak tunggal.
Tak hanya itu, selain Belanda, kebangsaan Belgia dan Prancis hadir pula dalam kumpulan ini dengan stereotipe khas zaman tersebut yang bahkan sampai terawat sampai hari ini.
Stereotip atas orang Belgia ini seperti juga yang dihadirkan dalam novel "Desersi" karya Michael Theophile Hubert Perelaer. Sementara untuk orang Prancis yang tidak mau berbahasa selain bahasa bangsanya tersebut seperti sudah menjadi pengetahuan umum.
Ada dua cerita yang menurutku kurang menarik. "Cerita Bintang Jatuh" dan "Penabur Benih".
Selesai.
#BacaBukuSelesai
#BacaBukuSejarahBareng
#BertemudiBuku
@bacautas ping
@threadreaderapp unroll
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
