Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer
Editor: Astuti Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun terbit: 2005
Edisi cetak: Cetakan ke-13 Mei 2008
#BacaBukuSejarahBareng
Sejak membacanya 10 tahun lalu, tak banyak lagi yang kuingat dari novel ini selain garis besarnya saja. Novel ini dibuka dengan ingatan Minke atas sejarah hidupnya dan sejak itulah cerita dimulai. Membaca melalui tokoh pertama, bikin cerita seperti dimulai dari kertas kosong.
Kehidupan Minke menjadi tak seperti biasanya dengan kehidupan di HBS yang penuh dengan impian-impian modernitas setelah diajak oleh Robert Suurhof, teman sekolahnya, ke rumah Robert Mellema, seorang indo yang juga sekolah di sekolah yang sama.
Saat itu, tak semua orang bisa sekolah di HBS. Hanya mereka yg berdarah Belanda totok/Indo serta para bangsawan pribumi yg bisa mengakses sekolah tersebut. Hal ini bikin lingkar pertemanan Minke relatif lebih luas dibandingkan kebanyakan orang yg hanya di Sekolah Rakyat (SR).
Kedatangan Minke di rumah Nyai Ontosoroh menjadi awal dari sejarah panjang hidupnya sebagai seorang pribumi. Pada hari pertama, saat makan malam digelar, Herman Mellema datang dan merusak suasana.
Pada saat itulah, status pribumi Minke dipersoalkan dan tetap dinilai rendah walaupun bisa berbahasa Belanda oleh Herman Mellema. Walaupun begitu, hal tersebut tidak membuat Minke getir. Demi gadis pujaannya, Annelis, juga daya magis Nyai Ontosoroh yang tak bisa ditolaknya.
Pertemuan malam itu ternyata bukan pertemuan terakhir. Beberapa waktu kemudian, Nyai Ontosoroh mengirimkan surat kepada Minke sekaligus permohonan untuk kembali mendatangi rumah tersebut. Rumah yang Minke anggap penuh misteri.
Sosok Nyai yang begitu cerdas dan bisa mengalahkan kualitas kecerdasan dan kepintaran wanita Eropa waktu itu.
Sementara sosok Annelis, gadis pujaannya yang penuh teka-teki. Kadang ia bisa menjadi seperti anak kecil yang sering merengek, tetapi pada saat mengurus perusahaan dan bersinggungan dg para pekerja, ia tampil seperti majikan yang cukup dewasa.
Minke akhirnya datang ke rumah Nyai Ontosoroh dan membawa satu koper untuk pakaiannya. Minke mau tak mau dan takluk untuk memenuhi permintaan Nyai. Sejak saat itulah, perlahan misteri keluarga Indo ini diketahuinya.
Namun, tak berselang lama di rumah tersebut, Minke dijemput paksa oleh seorang agen/Intel yang tak lain adalah suruhan ayahandanya. Saat itu, sang ayah baru saja resmi menjadi Bupati B dan mau menggelar prosesi pelantikan yang juga dihadiri oleh pejabat kolonial.
Dari babakan ini, kita akan tahu bahwa Minke merupakan bangsawan Jawa yang mesti merangkak saat menemui ayahnya walaupun sudah berpendidikan Eropa. Pram begitu tajam mengkritik budaya Jawa ini melalui perenungan Minke saat terpaksa melakukan hal tersebut.
Selain itu, kita tahu bagaimana pemerintahan kolonial Belanda bekerja dengan menunjuk bupati yang setara dengan Gubernur Jenderal/Asisten Residen. Karena itu, dengan ini pula, Belanda adalah kolaborator dari karisidenan/kesultanan yang ada dalam kekuasaan Belanda di Jawa.
Setelah acara pelantikan tersebut, Minke awalnya ingin langsung ke Wonokromo. Namun, saat dalam perjalanan bersama Darsam, ia dicegat oleh seorang tak dikenal yang diduga sebagai suruhan Robert Mellema.
Khawatir dg nasibnya, Minke pun dibawa Darsam untuk diungsikan ke tempat Mevrouw Tèlinga. Di rumah itu, Minke membaca banyak surat, termasuk surat dari Miriam de la Croix, anak Asisten Residen yg mengharapkan agar ia jd pemula untuk mengangkat harkat martabat Jawa sebagai bangsa.
Di rumah tersebut, awalnya, ia ingin sekali memutuskan hubungan dengan Nyai Ontosoroh dan Annelis. Namun, saat Darsam kembali datang dan membawa kabar bahwa Annelis sedang sakit, Minke seolah tak bisa menolak agar ia segera pergi ke Wonokromo, kembali ke rumah Nyai Ontosoroh.
Setelah mendengar dr dokter yg merawat Annelis, memperkuat dugaan Annelis pernah punya traumatis—pengalaman yg pernah diceritakan Annelis kpd Minke bahwa ia pernah diperkosa saudaranya, Robert Mellema. Sejak itu, Minke jadi "dokter pribadi" Annelis & mengurus segala keperluannya.
Tak lama kemudian, seorang mata-mata sedang mengawasi Minke dan hal itu terjadi secara berulang-ulang. Darsam yang menjaga rumah tak tahan melihat tingkah orang asing tersebut.
Ia pun segera melakukan pengejaran walaupun hal itu Minke larang karena akan membahayakan Nyai sebagai pemilik rumah. Kepalang tanggung, Darsam pun tak mengindahkan saran tersebut dan melakukan pengejaran. Minke pun mengejar Darsam agar tak berbuat lebih jauh.
Sementara itu, Annelis pun ternyata ikut berlari yang diikuti oleh Nyai Ontosoroh. Mereka pun sama-sama sampai di Plesiran Aba Ah Tjong untuk segera menangkap orang asing yang sejak tadi mengintai rumah Nyai.
Namun, belum juga menemukan orang asing tersebut, Darsam menemukan Herman Mellema tergeletak tak bernyawa lagi. Setelah diperiksa, Herman Mellema mati karena racun dengan dosis tinggi.Peristiwa tersebut ternyata bukan peristiwa biasa.
Tak lama berselang, polisi datang & segera memeriksa siapa yg terlibat. Sejak itu, Minke dan Nyai secara bergantian jadi topik pemberitaan di berbagai koran, baik milik Belanda, Melayu, maupun Tionghoa. Kasus ini pun dibawa ke persidangan dan berakhir dg dihukumnya Aba Ah Tjong.
Walaupun persidangan tersebut selesai, Minke belum bisa bernapas lega. Ia dipanggil oleh komite sekolah yang menyatakan berbagai keberatannya saat Minke dicecar Jaksa dan Hakim di persidangan. Di persidangan tersebut, Minke terbukti kumpul kebo dan itu dianggap asusila oleh HBS.
Tidak hanya itu, persidangan tempo hari tersebut merupakan sidang yang amat rasis. Hanya karena Minke seorang pribumi totok yang hidup serumah-sekamar dengan Annelis, seorang peranakan pribumi-eropa atau yang biasa disebut Indo, ia dianggap telah melanggar hukum asusila.
Hal ini kemudian mengusik Minke dan juga Nyai Ontosoroh. Nyai kemudian merasa keberatan dengan hal tersebut karena dirinya juga kumpul dengan Herman Mellema tanpa hubungan resmi alias menjadi gundik.
Namun, kumpul kebo tersebut tak pernah dipersoalkan oleh hukum kolonial hanya karena Herman Mellema adalah seorang Eropa. Kejadian tersebut kemudian membuat Minke menggugat hukum rasis tersebut dengan menuliskannya di koran saat itu.
Namanya ramai diperbincangkan dan membuatnya mendapatkan dukungan publik, termasuk dukungan orang Belanda di Surabaya. Hukum Eropa melarang untuk mengusik kehidupan pribadi seseorang dan juga melarang membeda-bedakan menusia hanya karena warna kulit dan rasnya.
Setelah namanya tenar dan reputasinya di sekolah membaik hingga bisa sekolah lagi sampai lulus, Minke dan Annelis pun memutuskan menikah tepat dengan perayaan kelulusan Minke dari HBS. Alangkah bahagianya hidup mereka.
Namun, enam bulan setelah pernikahan tersebut, keluarga Wonokromo ini mendapat surat dari Pengadilan Putih Amsterdam bak meteor yg meluluhlantakkan nasib semua penghuni.
Surat Pengadilan Putih itu berbunyi bahwa Istri sah Herman Mellema dan anaknya jadi ahli waris atas seluruh kekayaan Herman Mellema di Hindia Belanda.
Selain itu, keputusan pengadilan tersebut, Annelis hanya dianggap sebagai anak Herman Mellema dan tidak mengakui Nyai Ontosoroh sebagai ibunya karena statusnya sebagai seorang gundik dan hubungan tidak sah.
Tidak hanya itu, Annelis juga dianggap masih di bawah umur dan menggugurkan status pernikahannya dengan Minke karena dianggap tidak sah di hadapan hukum kolonial.Minke dan Nyai Ontosoroh sudah sekuat tenaga untuk melawan keputusan hukum tersebut.
Namun, semua usaha tumpul karena status mereka sebagai pribumi tidak dianggap dalam hukum kolonial. Hal ini membuat apa pun yang dilakukan oleh Nyai statusnya akan menjadi milik Herman Mellema dan karena itu menjadi hak milik ahli waris: istri dan anak sah Herman Mellema.
Dari sekian panjang novel dengan ketebalan 535 halaman ini, dua-tiga terakhir jadi kunci inti yang disampaikan Pram dalam novel ini: kisah sepasang anak muda dan perjuangan seorang Nyai di hadapan hukum kolonial.
Tak berlebihan kiranya, jika Hanung Bramantyo Bumi Manusia sebagai kisah cinta antara Minke dan Annelis.
Sekian.
#BacaBukuSelesai
@bacautas ping
@threadreaderapp unroll
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
