Resi Reborn Profile picture
Jay Guru Deva Aum

Apr 29, 2023, 14 tweets

Mulan Van Jawa
Raden Ayu Tan Peng Nio

Di Pulau Jawa, pada 1740 ada kisah yg mirip film Mulan. Seorang gadis Tionghoa yang kelak menikah dengan bangsawan Jawa ikut berperang melawan VOC atau kompeni Belanda dalam Perang Geger Pacinan dg menyamar sbg pria.

Perempuan tersebut adalah Raden Ayu (RA) Tan Peng Nio, istri dari KRT Kolopaking III. Novelis Seno Gumira Aji Darma menyebut Tan Peng Nio sebagai ”Mulan van Java”.
Tan Peng Nio disebut sbg kerabat Kapitan Sepanjang,

Panglima Pasukan Tionghoa yg bertugas di bawah Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning dalam perang gerilya melawan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur semasa itu.

Keberadaan Tan Peng Nio sbg petempur perempuan memberi warna dalam historiografi Nusantara dan Jawa tentang hubungan antara masyarakat Jawa dan Tionghoa sebagai teman seperjuangan.

Sejarawan dari Pura Mangkunegara, KRMH Daradjadi Gondodiprodjo, yang menulis buku Geger Pacinan 1740-1743 Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC menjelaskan, Tan Peng Nio menjadi bagian dari pasukan Kapitan Sepanjang dan bertempur di garis depan dalam perang gerilya masa itu

Para prajurit Tionghoa yang bergerak bersama para prajurit Mataram (Jawa) mengenakan busana hitam dan bergerak lincah dari satu mandala pertempuran ke wilayah lainnya membuat pihak kompeni Belanda berikut pasukan bantuan yang didatangkan, terutama dari Sumenep, Madura, kewalahan.

Kisah tentang prajurit perempuan dan kepiawaian mereka dalam berperang diabadikan dalam beragam tari Bedhaya di Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai contoh tarian Retno Tinandhing, diilhami olah gerak prajurit perempuan Jawa, masih ditampilkan di Keraton Surakarta.

Sejarawan Ann Kumar buku Prajurit Perempuan Jawa mengutip utusan VOC Batavia, Rijklof van Goens pertengahan abad ke-17 di Keraton Mataram di Kartasura telah saksikan kepiawaian ”Prajurit Estri”, 150 serdadu perempuan dalam gunakan senjata, nyanyi, menari, dan mainkan alat musik.

Tan Peng Nio adalah anak dari Jenderal Tan Wan Swee yang berselisih pendapat dan melakukan pemberontakkan yang gagal terhadap Kaisar Kien Long dari Dinasti Qing, Manchuria . 
Jenderal Tan Wan Swee lalu menitipkan putrinya yang bernama Tan Peng Nio pada sahabatnya, Lia Beeng Goe,

seorang ahli pembuat peti mati dan ahli bela diri kungfu aliran shwio limpai yg mahir menggunakan 36 cabang senjata termasuk pedang, golok atau toya. Juga sangat piawai dengan jurus tangan sakti maupun tendangan tanpa bayangan yg diturunkan kepada murid tunggalnya Tan Peng Nio

Pada saat Geger Pecinan (pada tahun 1740) dimana terjadi pembantaian etnis Tionghoa oleh VOC, diceritakan bahwa Lia Beeng Goe dan Tang Peng Nio mengungsi ke arah Timur hingga tiba di Kutowinangun dan bertemu dengan Kiai Honggoyudho yang mahir membuat senjata.

Peperangan selama 16 tahun oleh Pangeran Garendi, yaitu dari tahun 1741 - 1757, maka Tan Peng Nio dikabarkan bergabung dalam 200 pasukan K.R.A.T. Kolopaking II yang dikirimkan untuk membantu pasukan Pangeran Garendi. 
Tan Peng Nio dikabarkan menyamar menjadi prajurit laki-laki

Perangan berakhir Giyanti 13 Februari 1755.
Putra K.R.A.T. Kolopaking II, yaitu Raden Sulaiman Kertowongso, yg tergabung dalam 200 pasukan Panjer Rinå (pasukan khusus) bergabung dg Pangeran Garendi,akhirnya menikahi Tang Peng Nio dan gantikan ayahnya jadi KRAT Kolopaking III.

RA. Tan Peng Nio jadi seorang istri dan abdi dalem yg selalu menghormati suaminya dengan semua keturunannya, hingga saat ini menjadi narasi sejarah yang selalu disimpan dengan rapat oleh keluarga besar Kolopaking.

Sumber
Kompasiana

targethukumindonesia.com
(Foto hanya ilustrasi)

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling