PERANG TANAH DANYANG
Part 12.1 - Babad Tanah Danyang
Ada alasan mengapa alam mereka dipisahkan dari manusia. Ada sesuatu yang dimiliki oleh manusia yang tidak dimiliki oleh para danyang...
@bacahorror @IDN_Horor
#bacahorror
Part Sebelumnya :
part 1 : x.com/diosetta/statu…
part 2 : x.com/diosetta/statu…
Part 3 : x.com/diosetta/statu…
part 4 : x.com/diosetta/statu…
Part 5 : x.com/diosetta/statu…
Part 6 : x.com/diosetta/statu…
Part 7 : x.com/diosetta/statu…
Part 8 : x.com/diosetta/statu…
Part 9 : x.com/diosetta/statu…
Part 10 :
x.com/diosetta/statu…
Part 11 :
x.com/diosetta/statu…
Panas membakar hutan dengan kecepatan yang mengerikan, melahap setiap dedaunan dan pohon yang berdiri di jalannya. Di tengah kobaran api, sosok Jagatbara berdiri angkuh, tubuhnya memancarkan aura tak terkalahkan. Jika bukan karena perlindungan sang Roro Mayit, Danan dan Cahyo mungkin sudah menjadi abu.
“Aku? Mengapa ada diriku yang lain?” Danan bertanya dengan nada bingung, matanya terpaku pada sosok di hadapannya.
“Kau masih ingat Bara, kan?” Cahyo bertanya, matanya tajam.
“Tidak mungkin aku melupakannya.”
“Dia adalah dirimu, tetapi dari semesta Bara—semesta yang dikendalikan oleh pusaka Mayit.”
Sosok Danan dari semesta Bara melangkah maju, menyodorkan keris ragasukma dengan tatapan penuh keyakinan. Danan menerima keris itu tanpa ragu.
“Tunjukkan pada kami, Danan yang selalu dibanggakan Cahyo,” tantang sosok itu.
“Tenang saja. Aku hanya meminjamnya sebentar,” ucap Danan sambil duduk bersila. Ia memisahkan sukma dari raganya dengan tenang, lalu mengambil keris itu dalam bentuk sukmanya.
Cahyo dan Danan dari semesta Bara hanya bisa saling bertukar pandang, bingung dengan tindakan tersebut. Tapi ketika keris itu berpindah ke tangan Danan dalam wujud sukmanya, semuanya menjadi jelas.
“Fisik keris Ragasukma milikku tidak ada padaku, tetapi sukma kerisnya tetap menyatu denganku,” ujar Danan dingin. “Ayo, bersiap!”
Cahyo memberi isyarat kepada Danan dari semesta Bara untuk memperhatikan. Mereka mengangguk paham. Danan melayang ke udara, tinggi di atas mereka, dan mengarahkan ujung kerisnya ke arah Jagatbara.
“Danyang adalah penjaga alam, tapi keberadaanmu hanya menghancurkan!” teriak Danan dengan nada tajam.
“Manusia sombong! Kau hanyalah roh lemah yang tak pantas berbicara denganku!” bentak Jagatbara, tapi—
Srat!!
Kilatan cahaya putih melesat, menembus udara dengan kecepatan yang mustahil, mengarah tepat ke mata Jagatbara. Sang danyang api tersentak, namun berhasil menghindar, meski kilatan itu tetap menggores pelipisnya.
Jagatbara menggeram, tapi—
Jleb!
Sebelum ia sadar, Danan sudah ada di belakangnya, keris ragasukma menancap dalam di tengkuknya. Energi putih bercahaya memancar dari keris itu, memaksa Jagatbara berlutut.
“Danan, jangan gegabah!” seru Roro Mayit yang segera melindungi sukma Danan dengan kabut hitamnya. Panas tubuh Jagatbara mulai melukai Danan.
Jagatbara meraung, tubuhnya memancarkan panas yang semakin dahsyat.
“Kurang ajar!” Api memancar liar, menjadikan suhu di sekitar mereka nyaris tak tertahankan.
“PANAS!!!” Cahyo berteriak, tubuhnya basah oleh keringat meski dilindungi kekuatan Wanasura.
“Selesaikan sebelum aku jadi monyet panggang!” Dengan tenaga terakhirnya, Cahyo melayangkan pukulan ke dahi Jagatbara, memaksa sang danyang kembali tersungkur.
“Berani-beraninya makhluk sepertimu menjatuhkan aku!” Jagatbara mengamuk, letupan-letupan api menyebar ke segala arah.
“AWAS!” Roro Mayit memperingatkan, suaranya penuh kecemasan. “Aku tak bisa menahan letupan itu!”
BLARR! Ledakan menghantam mereka berdua. Cahyo terpental, tubuhnya terluka parah. Danan, dalam wujud sukmanya, merasakan sakit yang merembes hingga ke raganya.
“BERHENTI!” teriak Roro Mayit.
Amarahnya memuncak. Melihat luka-luka pada Danan, ia tak lagi mampu menahan kekuatannya.
“JANGAN SAKITI DANAN!”
Suaranya menggema, memenuhi udara dengan aura mengerikan. Dalam sekejap, Roro Mayit berubah menjadi sosok dewi berambut putih, wajahnya menyeramkan, dan kabut hitam yang memancar darinya melingkupi seluruh medan pertempuran.
Asap hitam mengepul tebal saat tubuh roh Roro Mayit menerjang Jagatbara, merasuk langsung ke dalam tubuhnya. Raungan Jagatbara memenuhi udara, rasa sakit menyayatnya dari dalam.
“Pengkhianat!!” teriaknya, membalas serangan itu dengan kobaran api yang langsung membakar tubuh Roro Mayit.
Kekuatan besar mereka beradu dahsyat, menghancurkan sisa-sisa pepohonan yang telah kering terbakar. Jagatbara melangkah maju, suaranya menggema seperti dentuman halilintar.
“Pengkhianatanmu tak berarti, Roro Mayit! Tak ada manusia yang bisa bertahan dari apiku!”
Blar! Blar!
Ledakan demi ledakan menggetarkan bumi, menghantam Danan dan Cahyo tanpa ampun. Mereka terhempas, luka bakar menghanguskan tubuh mereka. Namun, dengan nafas yang tersisa, mereka berusaha tetap berdiri.
“Matilah kalian!” Jagatbara mengumpulkan kekuatan, meledakkan api yang begitu besar hingga mengguncang tanah.
“Tidakkk!!!” Roro Mayit menjerit, matanya penuh kepanikan. Emosi bercampur aduk dalam dirinya saat ia menyadari tak mampu melindungi Danan dan Cahyo.
“Hahaha!! Makhluk rendah seperti kalian tak pantas melawan aku!” Jagatbara tertawa puas, tetapi tawa itu terhenti saat ia melihat bayangan samar di balik asap ledakan. Dua sosok berdiri tegak, diselimuti api yang menyala dari kepulan asap yang perlahan memudar.
“Siapa yang kau sebut makhluk rendah?” Suara Cahyo terdengar tajam dari balik asap itu.
“Semua makhluk setara di mata Sang Pencipta, kecuali dalam keimanan dan ketakwaan.” Danan muncul dari sisi lain, tatapannya membara.
Api Sukmageni melingkupi mereka, memulihkan luka-luka Danan dan Cahyo hingga sempurna. Cahyo menyeringai.
“Tak kusangka kau bisa memanfaatkan kekuatan keris Sukmageni begitu cepat.”
“Biar kuberi tahu. Kau memang lebih hebat darinya,” Cahyo menambahkan dengan nada menantang. “Tapi Danan dari semesta Bara… dia lebih kuat darimu!”
Sebelum Cahyo selesai berbicara, roh Danan dari semesta Bara melesat cepat, menyerang Jagatbara tanpa ampun. Danan terpaku melihat kemampuan Danan dari Semesta Bara yang mampu mengendalikan kedua keris pusaka Sambara secara bersamaan.
“Takkan kubiarkan manusia kalah lagi selama aku masih bernapas!” teriak Danan semesta Bara. Dengan keris Ragasukma di satu tangan dan Sukmageni di tangan lainnya, ia menusuk tubuh Jagatbara dengan kilatan cahaya putih yang membakar.
Blarr!
Jagatbara tersentak, terhuyung ke belakang. “Sakit! Makhluk sialan!” Jagatbara meraung, tetapi luka-lukanya pulih begitu cepat.
“APA?!” Jagatbara memandang tak percaya. Kilatan keris Ragasukma berikutnya menghujam tepat ke matanya, menggoresnya dalam.
Cahyo tak menyia-nyiakan kesempatan. Dhuaaagg! Pukulannya menghantam Jagatbara dengan keras, memaksa sang danyang api terpukul mundur. Sementara itu, Danan mulai melantunkan mantra, keris Ragasukma bersinar terang di dadanya.
..
Jagad lelembut boten nduwe wujud
Kulo nimbali
Surga loka surga khayangan
Ketuh mulih sampun nampani
Tekan Asa Tekan Sedanten…
--
Awan hitam menggulung di langit. Hujan mulai turun, membasahi hutan yang hampir habis dilalap api. Tiba-tiba, suara lembut namun penuh wibawa terdengar di antara gemuruh hujan.
“Belum waktunya kau memanggilku, Danan!” Suara Nyi Sendang Rangu terdengar jelas.
“Tidak, Nyi. Aku hanya membutuhkan hujanmu!” jawab Danan dalam batinnya.
“Kalau begitu, gunakan sebanyak apapun yang kau butuhkan.”
Suara Nyi Sendang Rangu menghilang bersamaan dengan hujan yang semakin deras.
Jagatbara menyeringai meski tubuhnya kini diguyur derasnya hujan.
“Kau pikir bisa menghentikanku dengan ini?” Api di tubuhnya tetap menyala meski mulai meredup perlahan.
“Bukan hanya itu,” ujar Danan dengan senyum penuh keyakinan.
Cahyo mengangguk, paham maksudnya. Ia memanggil Wanasura, panglima kera raksasa dari Alas Wanamarta.
“WANASURAAA!!”
Dhaarrr!!!
Tubuh besar Wanasura muncul, wujudnya penuh amarah. Api Sukmageni dari Danan semesta Bara melingkupi tubuh sang panglima, menjadikannya senjata baru dalam pertempuran.
Kini Jagatbara berhadapan dengan Roro Mayit, Danan, Cahyo, Danan semesta Bara, dan Wanasura di bawah derasnya hujan.
Api Jagatbara semakin lemah, tubuhnya mulai terkikis oleh hujan Nyi Sendang Rangu.
Jagatbara gentar…
Ia tak lagi berkata sepatah katapun. Samar-samar apinya meredup, dan wujudnya pun menghilang di bawah derasnya hujan itu
“Ini belum selesai,” ucap Jagatbara dengan nada rendah sebelum tubuhnya menghilang di bawah derasnya hujan, memilih untuk mundur dari pertempuran itu.
***
MANJING MARCAPADA
Suara petir menggelegar, hujan turun dengan deras tanpa henti di puncak gunung yang menjadi paku tanah jawa. Kekuatan besar muncul di sana hingga keseimbangan alam manusia terganggu dan mengakibatkan keadaan alam yang aneh.
“Di sini saja ya, Mbah! Di depan hujannya deres banget! Jalannya nggak keliatan!” Seorang supir angkot tua memelas melihat keadaan jalan yang tak mungkin dilalui.
“Ealah! Piye to?! Wis tak bayar lho!” Nyai jambrong tidak terima dengan ucapan supir itu.
“Eyang.. udah. Kasian pak sopirnya,” Guntur mencoba menahan Nyai Jambrong untuk rewel sementara itu Dirga meminta supir untuk minggir sambil mempersiapkan payung.
“Kalau nggak bisa nganter nggak usah jadi supir angkot!” Protes nyai jambrong.
“Kalau mau cari mati naiknya jangan angkot! Naik kuda lumping!” Supir angkot itu pun melaju dengan kencang hingga cipratan genangan air membasahi nyai jambrong.
“SOPIR EDAN!!”
Guntur dan Dirga yang merasa malu dengan tingkah Nyai Jambrong itu pun buru-buru menariknya berteduh.
“Sudah, Eyang! Ada masalah yang lebih serius!” Guntur kesal, namun Nyai Jambrong masih menggumamkan kekesalannya. Namun ocehan itu berakhir tepat saat petir besar menyambar puncak gunung di hadapan mereka.
Blarrr!!!
Mereka terdiam dan memandangi keanehan yang ada di hadapan mereka.
“Jadi di sini.. tempat dimana sang ulama berhadapan dengan pemimpin danyang tanah jawa?” Dirga mengetahui dengan persis legenda tentang tempat di hadapannya.
“Benar.. entah legenda itu nyata atau tidak, tapi tempat ini tetap menyimpan daya tarik untuk makhluk-makhluk itu,” Balas Nyai Jambrong.
Saat memasuki jalur ke puncak, mereka pun menyadari sosok lain yang tengah bersemedi sambil berteduh di bahwa pohon besar. Walau air hujan tetap menembus, pohon itu sedikit menahan terpaan angin yang menerpa orang itu.
“Mbah Jiwo? Ternyata mbah jiwo sudah sampai lebih dulu!” Dirga menghampiri mbah jiwo, dan Mbah Jiwo pun menyelesaikan semedinya dan menyambut mereka.
“Bukan aku yang pertama..” Jawab Mbah Jiwo sambil menengadah ke salah satu pohon besar.
Di dahan pohon tinggi itu, Bli Waja terus berdiri menantang cuaca aneh itu sambil terus menatap ke arah puncak. Cawan kuningan di tangannya tak berhenti ia dentangkan walaupun suaranya sering kali kalah dengan petir yang menggelegar.
“Wajahnya terlihat begitu cemas,” Nyai Jambrong menyadari kegelisahan Bli Waja.
“Tak hanya dirinya, kita semua cemas..” Mbah Jiwo memindahkan padangannya ke arah puncak. Ada sebuah benda menyerupai tanduk besar di atas sana. Ada beberapa sosok lain di sekitar tanduk itu yang menjaga ritual di sana.
“Tanduk itu… Angkarasaka?” Nyai Jambrong menyadari kengerian dari tanduk itu.
“Benar.. kemunculan tanduknya saja sudah bisa membuat kekacauan seperti ini,” Mbah Jiwo menggeleng dengan penuh rasa cemas.
“Kalau begitu kita tak boleh berlama-lama di sini! Pasti ada alasan mengapa mereka memilih tempat ini!” Guntur mulai khawatir.
“Kita tidak menunggu Mas Danan dan yang lain?” Balas Dirga.
Nyai Jambrong menghela nafas di bawah hujan deras itu. Ia merasa harus mengambil keputusan.
“Bocah-bocah itu pasti berurusan dengan sesuatu yang berbahaya. Itu artinya, tugas kita saat ini adalah menahan kebangkitan itu, sampai mereka datang..” ucapnya.
“Aku mengerti…” Mbah Jiwo menoleh ke arah Bli Waja memberi isyarat pergerakan. Mereka pun melangkah dengan cepat menuju puncak gunung itu, puncak dari segala kekacauan di sana.
…
“Manusia?” Dirga menatap sosok wanita anggun di hadapannya dengan tatapan terkejut. Kanjeng Ratu Segrani berdiri di sana, auranya memancar seperti bayangan gelap yang memeluk seluruh ruangan. Dirga tidak percaya bahwa ada manusia lain di tempat sesuram ini.
“Dia tak lagi pantas disebut manusia,” suara Bli Waja memecah keheningan. “Ia telah melampaui itu… dan hidup sejak perang pertama meletus.”
Kanjeng Ratu Segrani menyeringai lebar, mata hitamnya perlahan berubah menjadi merah darah, berkilauan di tengah kegelapan. Tawanya memecah udara, menggema di setiap sudut tempat itu, seolah-olah dinding-dindingnya juga ikut tertawa bersamanya. “Selamat datang di kerajaanku! Hahahaha!”
Dengan gerakan tangan yang anggun namun mencekam, ia mulai melukis udara dengan pola-pola misterius. Setiap goresan tangannya seperti mengubah atmosfer. Udara menjadi berat, dan suara-suara samar mulai terdengar.
“Apa itu?” Dirga memegang kepalanya. Suara sayup-sayup terdengar semakin jelas—teriakan, denting senjata, dan jerit pilu dari medan perang.
Bli Waja tampak pucat, sementara Mbah Jiwo hanya berdiri mematung, wajahnya dipenuhi kengerian. “Tidak… ini tidak mungkin.”
Dari balik kabut, sebuah keraton tua perlahan muncul. Bangunan itu terlihat usang, namun memancarkan aura mencekam. Di sekitar mereka, arwah-arwah bermunculan, wajah-wajah mereka penuh luka dan penderitaan.
“Mereka… mereka prajurit setiamu?” suara Mbah Jiwo hampir tak terdengar, getarannya dipenuhi ketakutan.
Kanjeng Ratu Segrani tersenyum dingin.
Ia melambaikan tangannya, menarik satu roh yang terikat dalam penderitaan abadi. Roh itu mendekat dengan tubuh bergetar, wajahnya menyiratkan rasa sakit, namun tidak ada perlawanan. Ia tunduk, patuh, tanpa daya.
“Mereka adalah pengikutku,” katanya sambil mengelus kepala roh tersebut. “Aku tidak menumbalkan mereka. Aku hanya menjaga mereka… agar tetap setia padaku… hingga akhir zaman.”
Senyumnya semakin lebar, dan tawa melengkingnya membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
“Gila!” Nyai Jambrong berteriak, suaranya penuh kemarahan.
Kanjeng Ratu Segrani menghentikan tawanya. Dengan satu gerakan tangan, ia memutus siklus penderitaan para roh. Semua arwah itu berhenti sejenak, menoleh, lalu memusatkan perhatian mereka pada Guntur dan kelompoknya.
“Ini buruk… sangat buruk,” bisik Dirga, suaranya gemetar.
“Mereka… ada ratusan!” Guntur meraih senjatanya, wajahnya serius, namun jelas terlihat kebingungan. “Bagaimana kita melawan mereka?”
Kanjeng Ratu Segrani tersenyum tipis. “Bersihkan tempat suci ini,” perintahnya dengan nada penuh kebencian.
Dengan satu kalimat itu, ratusan roh menyerang serempak. Wajah-wajah bengis mereka bergerak liar, tubuh mereka melayang atau berlari di tengah hujan yang kini turun deras. Suara jerit dan lolongan bergabung dengan derai hujan, menciptakan simfoni ketakutan yang menggema di udara.
“Hentikan! Kalian tidak seharusnya berakhir seperti ini!” teriak Nyai Jambrong sambil menghadapi arwah-arwah itu satu per satu.
Dengan gerakan bela diri dan ilmu kanuragannya, ia menyapu roh-roh yang mendekat, menghantam mereka hingga tubuh-tubuh rapuh itu terlempar.
Namun, itu tidak cukup. Setiap roh yang hancur kembali menyatu, lebih bengis daripada sebelumnya.
“Mereka tidak bisa mati!” Guntur berteriak, memukul mundur satu roh yang mencoba menerkamnya. Ia berdiri membelakangi Nyai Jambrong, mengayunkan senjata dengan liar. “Ini seperti melawan asap!”
“Asap bisa melukai kita, Guntur!” Dirga menyahut, memperlihatkan luka menganga di lengannya yang terus mengucurkan darah.
Di tengah kekacauan, suara denting terdengar.
“Tiiing!!!”
Cawan suci Bli Waja bergema, menciptakan vibrasi yang menghentikan pergerakan roh-roh itu. Seketika mereka terdiam, tetapi hanya untuk beberapa saat.
Arwah-arwah itu kembali mengamuk. Kali ini lebih liar, lebih buas, membabi buta menyerang di bawah hujan yang semakin deras.
“Tidak ada akhirnya!” teriak Dirga, suaranya tenggelam dalam gemuruh pertempuran. Wajahnya menunjukkan kepanikan, namun ia tetap berdiri tegak.
Kanjeng Ratu Segrani hanya berdiri di kejauhan, menikmati kekacauan yang diciptakannya. Matanya merah menyala, penuh dengan rasa puas. “Kalian akan mati di sini. Semua milik kalian akan menjadi milikku… seperti mereka.”
Tawa jahatnya bergema lagi, mengisi setiap celah ruang yang penuh teror.
Denting cawan Bli Waja terus terdengar, memantul di tengah hujan deras yang tak kunjung reda. Mbah Jiwo, yang menyadari makna di balik bunyi itu, mengerti bahwa Bli Waja sedang mempersiapkan sesuatu yang besar. Ia tahu, waktu adalah kunci untuk memastikan keberhasilan ritual itu.
“Ki Maesa Ombo!” Mbah Jiwo menyerukan nama itu sembari melemparkan sebuah bola hitam ke udara. Dengan mantra yang meluncur dari bibirnya, udara di sekitar mereka berubah berat, dan dari bola hitam itu muncul sosok raksasa. Ki Maesa Ombo berdiri tegap, tubuhnya hitam pekat, nafasnya terdengar berat, seperti gunung yang hampir meletus.
“Penguasa lembah?” Dewi Naganingrum menyipitkan matanya, memandang makhluk itu dengan rasa heran. “Rendah sekali kau mau tunduk pada manusia!”
Mbah Jiwo membalas tajam, “Ki Maesa Ombo tidak tunduk padaku! Kami hanya memiliki tujuan yang sama—menghentikan kalian dan melindungi alam kami dari kehancuran!”
Namun sebelum Ki Maesa Ombo bisa menyerang, sosok ular raksasa muncul dari balik kegelapan. Dewi Naganingrum, yang telah kehilangan kesabarannya, melesat maju, tubuh ularnya melilit Ki Maesa Ombo dan Mbah Jiwo dalam cengkeraman yang mematikan.
“GRAAARRR!!!”
Ki Maesa Ombo mengamuk. Dengan kekuatan luar biasa, ia meraih tubuh ular Dewi Naganingrum dan mencoba merobek lilitannya. Tubuhnya bergetar hebat, dan dari pori-porinya mulai keluar cairan panas yang melelehkan tanah di sekitarnya.
“Tidak mungkin!” Dewi Naganingrum tertegun. “Penguasa lembah ini tidak mungkin memiliki kekuatan sebesar ini!”
BLARRR!!!
Tubuh Ki Maesa Ombo semakin membesar, memerah seperti bara yang baru tersulut. Keringat dan liurnya berubah menjadi lahar panas, mengalir deras dari tubuhnya yang terus berkembang.
“Waktu kita tidak banyak! Hancurkan ular itu!” teriak Mbah Jiwo sambil melilitkan tali merah pada kedua tangannya. Ia terus melantunkan mantra yang menjadi sumber kekuatan Ki Maesa Ombo.
“AARRGGHH!!!”
Kapak raksasa Ki Maesa Ombo bergerak cepat, menghantam dan memotong ekor ular Dewi Naganingrum. Darah hijau pekat menyembur dari luka itu, menciptakan genangan beracun yang mematikan.
“Tidak! Tidak mungkin kekuatan kalian bisa melukaiku!” jerit Dewi Naganingrum.
Namun, meski terluka, Dewi Naganingrum melayang mundur, matanya memancarkan kebencian. Asap beracun keluar dari tubuhnya, menyelimuti Ki Maesa Ombo. Racun itu begitu pekat, hingga bahkan udara di sekitar mereka menjadi mematikan.
Namun Ki Maesa Ombo tidak mundur. Dengan amarah yang membara, ia melawan tanpa henti, serangannya semakin brutal.
“Ini bukan kekuatan biasa…” Dewi Naganingrum menyadari sesuatu. “Ini kekuatan dari Merapi!?”
Mbah Jiwo tersenyum tipis. “Kau akhirnya mengenalnya… Dan kau juga tahu, kekuatan ini tidak akan berhenti sebelum menenggelamkanmu!”
Merasa terpojok, Dewi Naganingrum mengerahkan seluruh kekuatannya. Tubuh ularnya yang raksasa melayang tinggi ke langit, dan asap hitam yang lebih pekat mulai mengepul darinya. Langit menjadi gelap, hujan deras berubah menjadi hujan asam yang menyiksa.
“Gawat…” bisik Mbah Jiwo. “Dia mulai menunjukkan wujud aslinya.”
“Selesai!”
TIIINNGG!!!
Suara denting cawan Bli Waja menggema. Bersamaan dengan itu, roh-roh yang sebelumnya dipanggil oleh Kanjeng Ratu Segrani tiba-tiba terdiam. Dalam sekejap, mereka lenyap, meninggalkan keheningan yang mencekam.
“Tidak mungkin!” Kanjeng Ratu Segrani menatap sekeliling dengan panik. Ia tidak menyangka bahwa kekuatannya dapat dipatahkan begitu saja.
Di sisi lain, Bli Waja tidak membuang waktu. Ia melihat sosok ular Dewi Naganingrum yang mengancam dari langit. Dengan tenang, ia melangkah maju. “Hanya aku yang bisa menghadapinya! Mundurlah!”
Tubuh Bli Waja mulai berubah. Dengan mantra yang mengalir dari batinnya, ia memanggil kekuatan aksara yang telah ia pelajari dari seratus kehidupan.
Tubuhnya perlahan bertransformasi, menjadi sosok Rangda, makhluk mistis yang penuh daya magis.
BLARRR!!!
Tubuh Rangda dan ular raksasa itu bertemu di udara, menciptakan ledakan energi yang mengguncang bumi. Petir menyambar tanpa henti, membelah langit yang telah pekat. Pertarungan sengit terjadi di atas sana, antara dua kekuatan yang saling menghancurkan.
Kanjeng Ratu Segrani menatap penuh keterkejutan.
“Tak mungkin… tak mungkin ada manusia yang mendapatkan kekuatan Danyang selain diriku!”
Nyai Jambrong, yang berdiri tidak jauh dari Ratu Segrani, tertawa sinis. “Kau terlalu sombong, Segrani! Bli Waja telah hidup dan mati seratus kali untuk mempelajari ilmunya. Kau? Kau hanyalah mainan para Danyang yang haus kuasa!”
Ratu Segrani tidak menjawab. Ia hanya menggertakkan gigi, menatap penuh amarah saat pertarungan di atas langit semakin memuncak, memanggil kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Aku tahu kekuatan Angkarasaka jauh lebih besar dari ini," suara Kanjeng Ratu Segrani bergema, penuh kesombongan dan ambisi.
Dalam sekejap, kekuatan dahsyat mengalir dari tanduk Angkarasaka, menjalari tubuhnya. Tubuh manusiawi Ratu Segrani mulai menunjukkan batasnya. Darah memuncrat dari pori-pori, matanya, bahkan dari mulut dan hidungnya. Namun, bukannya kesakitan, ia justru tertawa terbahak-bahak, menikmati energi yang semakin menguasainya.
"Lagi! Berikan aku lebih banyak!!" serunya di antara tawa liar.
Tubuhnya kini berubah menjadi sesuatu yang mengerikan—hampir tak menyerupai manusia. Kulitnya koyak, darah terus mengalir, menciptakan genangan merah di bawah kakinya. Namun ia tampak semakin kuat, semakin mematikan.
"Ah… aku dan pasukanku semakin tak terkalahkan dengan kekuatan ini!"
SRAKKKK!!!
Dari balik kegelapan, sosok-sosok menyerupai prajurit kerajaan zaman dulu bermunculan di sekitar Nyai Jambrong dan yang lainnya. Mereka adalah pasukan Ratu Segrani, tetapi kini wujud mereka serupa dengannya—dipenuhi luka menganga dan darah yang tak berhenti mengalir.
"Sial! Dari mana manusia laknat itu mendapatkan pengikut sebanyak ini?!" Guntur berteriak frustrasi, menggenggam tangannya dengan erat.
Dirga menatap para makhluk itu, tubuhnya tegang. Ia bisa merasakan aura mereka yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya. "Jangan gegabah, Guntur! Kita tak tahu seberapa besar kekuatan mereka!"
Namun, sebelum Kanjeng Ratu Segrani sempat memberikan perintah kepada pasukannya, sebuah cahaya putih muncul di kejauhan, menerangi puncak gunung yang gelap.
"A—apa itu?" Guntur terpana, matanya menatap ke arah sumber cahaya.
Mbah Jiwo tampak terkejut. "Ini… kekuatan pusaka Danyang Putih! Bagaimana mungkin benda itu ada di sini?!"
Di tengah kebingungan, suara Dewi Naganingrum bergema.
"HENTIKAN, SEGRANI! Manjing Marcapada telah pulih! Tugas kita selesai!"
Ratu Segrani tidak mengabaikan seruan itu. Matanya tertuju pada bola cahaya yang memancar kekuatan besar. Sementara itu, Bli Waja yang menyadari pentingnya benda tersebut bergerak cepat, berusaha meraihnya.
Namun wujud ular raksasa Dewi Naganingrum bergerak lebih gesit, melingkar di udara dan menelan pusaka itu dalam sekali lahap.
"HAHAHA! Takkan ada lagi yang bisa menggagalkan kebangkitan Angkarasaka!" teriak Ratu Segrani sambil tertawa liar. Tubuhnya berputar, mengikuti jejak Dewi Naganingrum yang menghilang dalam kegelapan.
"SIAL!!" Mbah Jiwo meninju tanah dengan kemarahan yang tertahan. Ia bergegas menuju tempat di mana bola cahaya itu sebelumnya berada. Namun, yang tersisa hanyalah energi tanduk Angkarasaka yang terus menyebarkan aura bencana.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Guntur bertanya dengan napas berat, rasa putus asa mulai menyelimuti dirinya.
Bli Waja menghela napas, mencoba mengendalikan emosinya. "Aku akan mencari keberadaan mereka. Ritual itu harus digagalkan!"
Bli Waja segera mengambil posisi, duduk bersila dan mulai bersemedi untuk melacak keberadaan pusaka yang telah dirampas. Sementara itu, Nyai Jambrong merasakan sesuatu yang aneh. Matanya menangkap sosok samar yang berdiri diam di tempat pusaka itu sebelumnya bersinar.
"Siapa itu?" tanya Nyai Jambrong, mendekati sosok tersebut. Anehnya, ia tidak merasakan ancaman sedikit pun dari keberadaannya.
Dirga mendekat, memperhatikan sosok itu dengan saksama. "Eyang… wajahnya tidak asing…" gumamnya.
Mbah Jiwo menghampiri sosok itu, tatapannya dipenuhi rasa ingin tahu yang mendalam. Setelah mengamati lebih dekat, ia berseru, "Ini… pecahan sukma."
Mbah Jiwo mengelus janggutnya, mencoba memahami kehadiran roh tersebut.
“Ini pecahan sukma..” Jelas Mbah Jiwo. “Sukma yang selama ini menggantikan tugas Manjing Martjapada setelah pusaka itu dihancurkan.”
Nyai Jambrong menatap roh itu dengan rasa haru yang mendalam. Perlahan, ingatannya kembali.
"Tunggu… aku mengenalnya." Ia bergumam, suaranya bergetar. “kita mengenal pecahan sukma ini..”
Tangan Nyai Jambrong gemetar mengingat pertemuan pertama mereka. Pertempuan yang dimulai dengan pertarungan sengit.
"Dia adalah orang yang membebaskanku dari kutukan Ajian Segoro Demit."
Air mata Nyai Jambrong jatuh tanpa ia sadari, menciptakan aura duka di tengah ketegangan yang belum usai.
"Dia adalah pecahan sukma dari leluhur Danan. Daryana Putra Sambara…"
Pecahan sukma itu menghilang begitu saja, namun mereka yakin suatu saat mereka akan bertemu lagi dengan pecahan sukma itu saat ditakdirkan.
***
TANAH MATI
Ada tempat keramat yang tersembunyi di kedalaman hutan belantara. Semakin ke dalam, semakin banyak tanaman yang kering, hingga hanya tersisa hamparan tanah yang luas tanpa satupun makhluk hidup yang bisa tinggal di sana. Tanah di sana telah menghitam, sesuatu yang terkutuk sudah merubahnya menjadi tanah mati.
Ada seorang perempuan berdiri di tengah-tengah tanah mati itu mengenakan pakaian yang tak biasa ia gunakan. Mbok Sar… Ia mengenakan pakai adat yang aneh dengan beberapa bulu unggas yang besar diselipkan di kepalanya.
“Kanjeng Sarwinah… apa panjenengan harus melakukan ini semua? Kami tak pernah merasaka kengerian seperti di tempat ini sebelumnya!”
Ada tiga orang dari Trah Biryasono kepercayaan Mbok Sar yang ikut berada di sana. Mereka memegang alan musik pukul dan tiup seolah bersiap mengiringi apa yang dilakukan Mbok Sar. Tapi, mereka ragu…
“Ada raksasa yang akan bangkit di sebuah bukit dimana ada desa-desa berdiri di atasnya…
Ada api yang menyala begitu besar yang hidup mengancam manusia…
Ada kekuatan kematian yang bisa mencabut nyawa siapa saja yang bertatapan dengannya..
Jika perang para danyang terjadi di alam manusia, kalian pikir ada berapa nyawa yang akan menjadi korban?” Mbok Sar menjelaskan sambil mempersiapkan ritualnya dengan membakar kemenyan di beberapa sisi.
“Apa ritual ini bisa menangani itu semua? Kenapa harus Kanjeng Sarwinah yang melakukan?” Mereka masih ragu.
“Setiap kemampuan yang dimiliki manusia, datang bersama tanggung jawab yang dipikulnya. Jika nyawaku cukup berharga untuk memindahkan pertarungan itu ke Tanah Danyang. Itu sudah cukup.
Aku yakin, mereka bisa menuntaskan sisanya..” Ucap mboh sar sambil menengadah ke langit. Ia mengingat tentang orang-orang yang selama ini berjuang bersamanya mempertahankan alam manusia.
“Kita mulai ritual kita!” Perintah Mbok Sar tegas.
Tak ada pertanyaan lagi dari ketiga pengikutnya. Alunan suara gendang , alat musik tiup, dan tembang mantra terdengar kecil di tanah tanpa kehidupan itu.
Mereka menyebut tempat itu sebagai tanah mati. Bagian hutan tanah jawa yang diambil dan dipindahkan ke alam lain.
Di masa lalu, keberadaan para Danyang mengakibatkan ketidakseimbangan alam di bumi. Para Batara yang menyadari hal ini mengambil satu bagian dari hutan yang subur dan menjadikannya sebuah alam yang terpisah dengan alam manusia.
Tanah itu ditinggali oleh para danyang yang menjalankan perannya di alam manusia. Dan bagian hutan itu, kini menjadi tempat tanpa nyawa yang dikenal sebagai tanah mati. Namun tempat itu juga yang menjadi salah satu tempat yang mampu menghubungkan kedua alam itu.
Mbok Sar tiba-tiba terjatuh di tengah tarian ritualnya. Nafasnya terengah-engah seolah ada sesuatu yang menggerogoti jiwanya.
“Danan.. Cahyo.. Aku tak pernah menyangka takdir kalian sebesar ini. Tapi tenanglah, kalian tidak akan bertarung sendiri….” Gumam Mbok Sar.
Ia pun kembali menarikan ritualnya, dan secara perlahan sesuatu seperti benang hitam muncul dari dalam tanah dan melilit Mbok Sar. Ia pun menari-nari dan berputar mengumpulkan benang-benang hitam itu, namun di saat bersamaan benang-benang itu menghisap kekuatan hidupnya.
“Sekali saja! Biarkan aku menyelesaikan ritual ini!” Mbok Sar menyemangati dirinya yang mulai kewalahan.
Saat tiba-tiba setiap benang yang tergulung di tubuhnya menunjukkan penglihatan makhluk-makhluk yang begitu digdaya. Jagatbara, Nyai Durgati, Dewi Naganingrum, Kalabuto.. seolah benang benang itu menghubungkan tanah itu dengan mereka.
“Kita akan berhasil…” Senyum Mbok Sar. Namun ketiga pengikutnya khawatir. Mereka mengetahui Mbok Sar tengah berlomba mana yang akan terjadi lebih dulu. Ritual itu, atau kematiannya…
***
TANAH PERJANJIAN
“Apa kalian akan ikut dalam pertarungan ini?” Cahyo yang baru saja pulih sepenuhnya dengan bantuan Danan dari semesta bara memastikan niat Candramukti dan Danan itu.
“Tidak, Cahyo. Bencana yang mengerikan juga terjadi di semestaku. Di alam ini ada sesuatu yang bisa menahan pusaka mayit yang telah berkuasa di semestaku. Tujuanku adalah menemukannya..” Jelas Danan dari semesta bara.
“Benar, aku pun yakin jika kami terlalu banyak ikut campur dalam kejadian besar semesta ini, pasti akan ada hal buruk yang terjadi,” Tambah Candramukti.
“Aku mengerti, semoga kalian menemukan apa yang kalian cari,” Balas Cahyo.
Danan menghampiri sosok dirinya yang berasal dari semesta lain itu. “Apapun kesulitan yang terjadi, percayalah satu hal. Kau tidak sendiri..”
Danan dari semesta Bara mengangguk. Kali ini ia benar-benar mengerti akan keadaan itu. Tidak seperti masa lalunya yang menjeratnya dalam kesendirian, kedatangan Cahyo menyadarkan dirinya bahwa ada orang-orang lain yang juga masih belum menyerah untuk berjuang.
“Bawalah, kau membutuhkannya..” ucap Danan dari semesta bara menyodorkan keris ragasukma pada Danan, namun Danan menolaknya.
“Tenang saja, aku yakin Jagad dan yang lain pasti akan kembali..”
“Baiklah kalau begitu..”
Mereka pun berpisah menuju dua gerbang gaib yang berbeda. Gerbang yang dibuat oleh Candramukti, dan gerbang hitam yang dibuat oleh Roro Mayit.
“Perlu kukatakan, bahkan jika tadi kita semua bertarung dengan Jagatbara… kita tetap akan kalah,” Jelas Roro Mayit.
“Aku sangat mengerti itu,” Balas Danan.
“Dan kalian masih yakin?”
“Tak ada sedikitpun di pikiran kami untuk ragu,” Jawab Cahyo.
“Aku mengerti..” Roro Mayit kembali membawa menuntun mereka menuju gerbang terakhir. Danan dan Cahyo sadar, pertarungan dengan Jagatbara yang sesaat itu cukup menguras kekuatan Roro Mayit.
Mereka pun memilih untuk mendahului Roro Mayit menuju tempat yang disebut dengan Tanah Perjanjian itu.
Sunyi.. seolah angin enggan berhembus di sana. Namun saat menjejakkan kaki di tanah itu, Danan dan Cahyo hampir tak mampu mempertahankan kesadarannya.
Di hadapannya berjejer makhluk-makhluk dengan kekuatan yang tak terbayangkan.
“Akhirnya mereka tiba!” Ucap sosok dewi yang tubuhnya berkobar dengan api hitam. “Cepat! Manjing Marcapada sudah bangkit! Segel pusaka itu lebih dahulu, jangan sampai kesalahan di masa lalu terjadi lagi!”
Dewi Agni. Ia sudah menyadari kemunculan Pusaka Ratu Ular itu namun lebih memilih untuk menahan danyang hitam lainnya di sana.
“Hahaha! Bagus Roro Mayit! Kau berhasil membawa mereka ke sini! Rebut pusaka itu dan bawa kepadaku!” Ucap Nyai Durgati yang menatap penuh kemenangan pada Roro mayit yang berada di belakang Danan dan Cahyo.
Mendengar perkataan itu, Danan dan Cahyo pun menoleh. Ia tidak menyangka akan mendapat sambutan seperti itu.
“Ti—tidak!!” Cahyo menoleh ke belakang dan memperhatikan Roro Mayit yang terlihat merunduk dengan senyuman liciknya.
“Hahahahaha!” Roromayi tertawa puas seolah merasa berhasil melakukan rencananya.
Danan tidak ingin gegabah. Ia menatap tajam ke arah Roro Mayit, mempertanyakan maksud dari tawa itu. “Apa itu benar?” Ia menggenggam erat mahkota pusaka itu dan menyembunyikan di belakang tubuhnya.
Dengan senyumnya yang licik, Roro Mayit berjalan perlahan dengan kekuatan hitamnya yang meledak-ledak. Dengan mudah Danan dan Cahyo merasa gemetar dengan sosok yang sedari tadi berusaha melindungi mereka itu. Roro Mayit sama sekali tak menghentikan langkahnya menuju Danan.
“Kami memang percaya padamu, namun bukan berarti kami tidak memikirkan kemungkinan ini…” Cahyo tak menahan dirinya. Kekuatan wanasura telah merasuk sepenuhnya ke tubuhnya.
“Tak kusangka, ternyata tetap akan berakhir seperti ini…” Wajah Danan benar-benar kecewa.
Tepat saat Roro Mayit tiba di hadapan Danan, ia tak menoleh. Ia terus berjalan melewati mereka berdua dan tak melakukan apapun pada mereka.
“Takkan kubiarkan kalian menyentuh mereka tanpa melangkahiku!” ucap Roro Mayit.
Kalimat itu seketika memancing kebingungan diantara Para Danyang. Danan dan Cahyo pun semakin tak paham dengan apa yang terjadi.
“Ro—Roro Mayit?” Danan mempertanyakan maksud Danyang hitam itu.
“Aku akan sangat senang jika kalian mau memanggilku dengan nama Jayanti..” Ucap Roro Mayit tiba-tiba.
“Ja—jayanti?” Cahyo semakin bingung.
“Nyi Sendang Rangu sudah mengatakan bahwa kalian tidak akan bertahan saat berhadapan dengan kekuatan mengerikan ini. Untuk itulah aku ada bersama kalian…”
“Ta—tapi, kenapa?” Danan masih tidak mengerti, dan sepertinya Roro Mayit terlihat enggan untuk menjawab.
“Jadi kau memilih untuk berkhianat?!” Nyai Durgati yang kesal mengibaskan tangannya dan sebuah gumpalan kekuatan hitam melayang ke arah Roro Mayit.
Dharrr!!!
Serangan itu tak menyentuh Roro Mayit, seketika sebuah pohon besar muncul menahan kekuatan terkutuk itu.
“Niatnya untuk melindungi kedua manusia itu sudah menjadi alasan yang cukup untukku menjaganya. Takkan kubiarkan apa yang terjadi pada Wisangkala terjadi lagi!” Ratu Puspa Cempaka muncul menghadang Nyai Durgati.
Sementara itu Jagatbara pun tiba. Ia sudah memandang langsung musuh bebuyutannya Dewi Agni yang tengah menjaga bagian terpenting di reruntuhan tanah itu. Hawa panas mereka beradu memperkeruh rapuhnya batas alam disana.
“Gila! Kita tidak seharusnya ada di tempat ini…” Danan benar-benar gentar.
“Benar, aku kangen masa-masa kita hanya menghadapi pocong dan orang kesurupan saja,” Ucap Cahyo.
“Kalau kau mau aku bisa memanggil pocong sebanyak apapun yak kamu mau,” Balas Roro Mayit yang dengan seketika membuat wajah Cahyo kecut.
“Nggak gitu konsepnya, Mbak Jayanti!!!” Teriakan Cahyo saat itu memunculkan tawa kecil di bibir Roro Mayit.
Danan dan Cahyo bersiap menghampiri Dewi Agni. Mereka berlari secepat mungkin menghindari reruntuhan-reruntuhan dan kobaran api yang meledak-ledak di sekitar mereka.
“Dewi Agni, Ratu Puspa Cempaka, Buto Cayaloka.. mereka semua di pihak kalian. Jangan berada jauh dari mereka!” Perintah Roro Mayit.
“Kami mengerti!”
Pergerakan mereka memicu amarah Nyai Durgati dan Jagatbara. Namun sebelum serangan mereka saling beradu, sesuatu mendekat dengan cepat. Sosok ular besar melayang di langit dan menerjang ke arah mereka.
“Ular itu! Aku pernah melihatnya!” Ucap Cahyo mengenali sosok Dewi Naganingrum.
“Bagus Naganingrum! Manjing Marcapada ada di tangan kita! Kita pastikan Angkarasaka akan bangkit!! Hahahaha!” Nyai Durgati tertawa melihat kedatangan Dewi Naganingrum dan Ratu Segrani.
Melihat keadaan itu, keadaan menjadi semakin kacau.
“Jaga Pusaka Ratu ular! Rebut Manjing Marcapada!” Ratu Puspa Cempaka memberi tahu apa yang harus mereka lakukan.
Cahyo dan Danan semakin paham pentingnya kedua pusaka danyang itu. Danyang hitam membutuhkan kedua pusaka itu untuk tetap ada agar ritual bisa terus berjalan, sedangkan mereka bersama danyang putih berniat menyegel kedua pusaka itu agar tak ada lagi kelahiran Danyang setelah kedua pusaka itu disegel. Itu artinya Angkarasaka pun tak bisa dipanggil ke alam ini.
“Jangan pikir kalian manusia mampu mengimbangi kekuatan kami!” Nyai Durgati mengincar Danan dan Cahyo sementara Jagatbara dan danyang hitam lain menahan Dewi Agni dan Danyang putih lain.
Menghadapi Nyai Durgati, Roro Mayit tidak lagi bisa mempertahankan wujud manusianya. Kekuatan hitam mereka berdua begitu pekat hingga Danan dan Cahyo tak mampu mengukur kekuatan mereka.
“Kau tidak sadar diri Roro mayit! Kaulah yang terlemah diantara kami para danyang hitam!” Nyai Durgati meremehkan Roro Mayit, namun itu bukan gertakan semata.
Saat itu juga Nyai Durgati berubah menjadi sosok yang begitu hitam dan jahat. Wujud mengerikan itu melayang-layang memamerkan taringnya yang begitu panjang.
“Rangda?” Cahyo menyadari sosok yang menakutkan itu. Ia sadar dalam wujud itu, Roro Mayit tak mungkin mengimbanginya.
“Jangan takut, Jayanti! Kita hadapi bertiga!” Ujar Danan.
“Dalam wujud itu, ia tak lebih lemah dari Jagatbara..” Roro Mayit cemas. Rangda itu jauh lebih hitam dan lebih besar dari perubahan yang pernah dilakukan Bli Waja.
Saat kekuatan mereka hampir berbenturan, sebuah bola api melesat di langit dengan begitu cepat. Seperti meteor yang jatuh ke bumi, bola api itu menghantam wujud Rangda Nyai Durgati.
DHARRR!!!
Danan dan Cahyo tersapu begitu saja dengan ledakkan itu, namun dari bola api itu muncul satu sosok yang mereka kenal.
“Bli Waja?” Danan tersenyum mendapati kedatangan teman terkuatnya itu.
Bli Waja tak menoleh ia terus menatap Rangda Nyai Durgati dengan tatapan serius.
“Pergilah! Pertarungan ini tanggung jawabku!” Ucap Bli Waja.
“Tapi…” Danan cemas, namun Roro Mayit menahannya untuk ikut campur.
“Dia mampu… mungkin hanya dia satu-satunya manusia yang mampu mengimbangi kekuatan Danyang disini,” Ucap Roro Mayit
Kekuatan Bli Waja meluap-luap dengan membabi buta. Ada kesamaan rasa dalam kekuatan Nyai Durgati dan Bli Waja, kekuatan yang berasal dari tempat yang sama.
“Kau memilih untuk berada diantara makhluk fana itu? Kau pantas bersanding dengan kami dibanding makhluk menjijikkan seperti manusia!” Nyai Durgati memastikan niat Bli Waja.
“Jawabanku tetap sama. Seharusnya ilmu kita membimbing kita kepada moksa, bukan pada kenistaan ini!” Balas Bli Waja.
Saat itu juga sosok Bli Waja berubah menjadi sosok Rangda bertubuh putih, berbeda dari wujud perubahan yang pernah ia lakukan sebelumnya. Ia tak sebesar Nyai Durgati, namun kekuatannya tak lebih lemah dari sosok besar di hadapannya itu.
“Bli Waja.. kumohon, jangan ada yang mati!” Ucap Cahyo yang tak dibalas dengan reaksi apapun oleh Rangda Bli Waja.
Mereka pun berlari menuju Dewi Agni, walau Nyai Durgati mencoba mencari celah untuk menyerang mereka bertiga. Rangda Bli Waja dengan sigap mencengkeram dahi Nyai Durgati dan membawa mereka berdua pada pertarungan yang tak dapat ditebak ujungnya.
“Perjuangan kalian takkan berarti apa-apa! Kalabuto akan menghabisi manusia sebanyak mungkin dengan kebangkitannya!”
Kini Kanjeng Ratu Segrani yang menghadang mereka bertiga.
“Kebangkitan Kalabuto sudah diramalkan oleh trah keramat Rojobedes! Yang terkuat bukan berarti tak terkalahkan!” Balas Cahyo.
***
Bersambung part 12.2 (Part akhir)
Terima kasih sudah membaca part ini hingga selesai, mohon maaf apabila ada kesalahan kata atau bagian cerita yang menyinggung.
Buat yang mau baca duluan, atau sekedar support traktiran akhir tahun 😄 Part akhir yang lengkap sudah bisa dibaca duluan di karyakarsa ya..
karyakarsa.com/diosetta69/per…
Perang Tanah Danyang
Part 12.2 - TAMAT
Kita tuntaskan sekarang ya!
#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor
BABAD TANAH DANYANG
Jauh di Desa Kandimaya, Ki Daru Baya sudah mengurung dirinya selama tujuh hari tujuh malam di sebuah ruangan.
“Sudah waktunya, Ki..” Nyai Kirana menjemput dalang yang sudah sangat sepuh itu saat lelaku puasanya sudah selesai.
Pintu ruangan itu terbuka. Ki Daru Baya muncul dengan tubuh rentanya yang semakin kurus dengan tatapan yang kosong. Ia berjalan ke sebuah tempayan air dan membasuh wajahnya.
Dua orang pemuda pemain gamelan mengantarkan jarik, blangkon, dan pakaian kepada ki daru baya.
“Semua sudah dipersiapkan, Ki..” ucap mereka.
Ki Daru Baya mengenakan pakaian dalangnya dengan bantuan kedua pemuda itu. Nyai Kirana lebih dulu meninggalkan tempat itu menuju sebuah panggung pementasan kecil yang tak ditonton oleh siapapun.
Naya sudah menanti di sana bersama para pemain gamelan yang bersiap mengiringi sebuah pertunjukan. Aroma kemenyan tercium pekat, cahaya obor menerangi luas wilayah yang tak seberapa itu.
Menyambut kedatangan Ki Daru Baya, Naya menembangkan sebuah tembang beriringan dengan gamelan yang mulai dimainkan. Arsa menatap dengan sedih keadaan dalang panutannya yang semakin menua itu.
Ki Daru Baya pun tiba di hadapan orang-orang yang selama ini mendukung setiap pementasannya. Ia menatap satu-persatu wajah itu dengan senyum bangga.
“Ini adalah pementasan terakhir seorang Ki Daru Baya..” ucapnya yang dibalas dengan tatapan mata yang berkaca-kaca dari semua orang di sana.
Ki Arsa membantu Ki Daru baya duduk di tempatnya dan mendampinginya dengan benar-benar.
Pementasan kali ini terlalu sakral untuk dinikmati oleh manusia. Apapun bisa terjadi di pementasan ini.
Dari atas bukit, sosok raksasa dengan tawa yang aneh sudah tak sabar menanti dimulainya pementasan itu. Buto kendil mengerti dengan maksud adanya pementasan itu, gending gamelan itu menjadi pertanda pergerakannya.
“Kita mulai.. Pementasan suci ini..” Ki Daru Baya mulai membunyikan dodoganya “Sebuah pagelaran untuk mereka, penjaga alam yang berdampingan dengan kita. Sebuah pementasan dengan lakon : Babad Tanah Danyang”
Riuh suara pementasan itu terdengar dengan aneh. Tak ada warga yang terusik ataupun penasaran, walau suara itu sayup-sayup terdengar ke seluruh penjuru Desa Kandimaya.
Tepat saat pementasan itu dimulai, bayangan sosok raksasa muncul menutupi sang buto kendil. “Peran kita sudah dimulai..” Sosok raksasa itu menjemput Buto Kendil yang semakin semangat saat mendengar pementasan itu seolah ia adalah bagian dari lakon yang dimainkan.
“Gik…gik.. gik…” Tawa itu membat sang raksasa kuno, Buto Cayaloka tersenyum. Wujud mereka pun menghilang begitu saja. Mereka pergi untuk menghadapi lawan mereka yang kebangkitannya membahayakan makhluk hidup di sekitarnya.
…
Getaran tanah tak berhenti selama beberapa hari di desa Trah rojobedes. Sebagian warga sudah mengungsi, namun ada dua orang manusia yang masih dengan bodohnya berdiam di sana menanti sesuatu yang tak pasti.
“Sepertinya Mas Cahyo tidak akan kembali..” Darmojo menatap ke puncak bukit yang terus mengeluarkan suara mengerikan itu dengan gelas kopi di tangannya.
“Kembali atau tidak, Mas Cahyo tetap pahlawan kita. Jika kekuatannya tak mampu menghentikan bencana ini, maka tidak ada lagi yang bisa..” Dumadi masih terus menguatkan mentalnya mengharapkan kembalinya Cahyo di desa mereka.
Bebatuan berjatuhan menimpa rumah-rumah di desa Trah Rojobedes. Hewan-hewan sudah habis berhamburan, namun suara tawa cekikikan dari makhluk yang tak kasat mata terdengar menyambut sesuatu yang bangkit dari bukit itu.
“Jika wajahnya sebesar itu, apa itu artinya bukit ini akan hancur dengan kebangkitan Kalabuto?” Dumadi gemetar.
“Kita lari saja seperti yang lain, Mad… Nggak usah sok keren nungguin Mas Cahyo..” Ajak Darmojo.
Tangan mereka yang membawa gelas kopi gemetar. Mereka tak mampu menahan rasa takut saat sebuah tangan yang begitu besar muncul dari salah satu sisi bukit.
Besar… begitu besar hingga mata mereka berdua tak mampu melihatnya tangan itu seutuhnya.
Dhummm!!Suara dentuman terdengar membuat gempa di desa itu semakin besar. Pohon-pohon tumbang, tapi Dumadi dan Darmojo sadar suara dentuman itu bukan berasal dari kebangkitan kalabuto.
Anehnya, mereka berdua samar-samar mendengar suara gamelan dan pementasan wayang yang menarasikan kemunculan pahlawan.
Dua sosok raksasa muncul di bukit itu dan menahan bagian tubuh Kalabuto yang mulai muncul menghancurkan bukit itu.
“Bu—buto?! Ada dua buto lagi?” Dumadi semakin ketakutan. Ia hampir tak biasa menahan diri untuk membasahi celananya, namun ditengah ketakutan itu tiba-tiba seekor kera berbulu putih melompat melintasi mereka berdua.
Kera putih itu kembali berlari menaiki bukit, dan muncul di bahu salah satu raksasa itu.
“Kera putih mendampingi mereka?” Dumadi bingung.
“Apa itu artinya, mereka utusan Mas Cahyo?” Darmojo kembali dengan persepesinya.
Buto Kendil dan Buto Cayaloka pun tiba di bukit Trah Rojobedes. Sebuah bukit dimana reruntuhan kuno tersembunyi di puncaknya.
“Cayaloka! Kau munafik!!” Suara Kalabuto menggema di bukit itu. “Nyawa manusia tak ada harganya untuk kalian lindungi! Mereka hanya akan mati dan menghilang begitu saja! Hidup mereka tak ada artinya!”
Kalabuto sangat tahu, dengan keberadaan Buto Cayaloka dan Buto Kendil ia akan kesulitan untuk membangkitkan tubuhnya yang begitu besar.
“Gik… gik… gik…” Buto kendil tak mempedulikan perkataan itu. Ia masih terus memukuli bagian tubuh Kalabuto untuk kembali ke tanah sambil menikmati alunan gamelan dan tembang yang masih terdengar di telinganya.
“Hahaha! Tak berarti katamu?!” Buto Cayaloka menertawakan Buto Kendil. “Tanpa adanya manusia, takkan ada tontonan semenyenangkan ini!!!”
Raksasa itu pun menduduki kepala Kalabuto yang mulai terlihat di puncak itu. Ia menutup matanya sambil menyaksikan pementasan Ki Daru Baya melalui penglihatan batinnya. Pementasan yang hanya dapat dinikmati oleh Para Danyang dimanapun mereka berada.
“Menyingkirr!!” Teriak Kalabuto.
“Diamlah! Lakon utamanya sudah akan muncul!” Perintah Buto Cayaloka.
***
Suara pementasan Ki Daru Baya mengusik pertarungan di Tanah Perjanjian. Gending yang sakral itu terdengar hingga memancing senyum diantara Danyang-danyang putih.
“Pantas saja, kau tak tergoda olehku..” ucap Roro Mayit tiba-tiba.
Danan bingung dengan pembicaraan tiba-tiba Roro Mayit saat itu. Sambil terus melayang, Roro mayit menutup matanya menikmati suara merdu dari seorang sinden yang mengiringi Ki Daru Baya.
“Siapa namanya? Naya?” Ucapnya sambil masih menutup mata.
Danan memelankan langkahnya, ia kaget mendengar nama itu disebut oleh Roro Mayit.
“Jangan sentu…”
“Ssst!” Roro Mayit tak membiarkan Danan berbicara.
“Jaga dia baik-baik, ya. Hanya dia yang pantas mendampingimu.”
Danan tak mengerti harus bersikap apa saat mendengar kalimat itu dari Roro Mayit. Namun setelah mengucapkan kalimat itu, Roro Mayit membuka matanya dan berfokus pada sosok lawan yang ada di hadapannya.
Tanpa disadari sosok makhluk-makhluk berwujud prajurit kerajaan yang berlumuran darah sudah mengepung mereka bertiga. Kanjeng Ratu Segrani yang sudah dirasuki kekuatan Angkarasaka memimpin makhluk-makhluk itu untuk menghabisi Danan dan Cahyo.
“Kau masih mau berkhianat? Kuberi kau satu lagi kesempatan untuk mengambil pusaka itu dari manusia itu!” Ucap Ratu Segrani pada Roro Mayit.
“Apa yang membuatmu merasa pantas berkata seperti itu padaku?!” Balas Roro Mayit.
“Lihatlah sendiri! Kekuatan Angkarasaka telah memilihku! Membangkitkan mayat seperti yang kau lakukan, itu hanyalah perkara kecil untukku sekarang!” Ucap Ratu segrani dengan sombong.
Puluhan prajurit dari masa lalu yang kesetanan segera saja mengincar Danan dan Cahyo. Tak tinggal diam, suara raungan wanasura menggema disusul dengan tubuh-tubuh prajurit-prajurit itu yang terpental.
Sayatan-sayatan angin dari Gambuh Rumekso menembus tubuh-tubuh terkutuk itu.
“Percuma! Mereka tak mengenal kematian!” Ratu Segrani menertawakan serangan Cahyo.
Roro Mayit tak menghiraukan pertarungan Danan dan Cahyo. Ia berjalan mendekat ke arah Ratu Segrani yang terus meremehkan mereka.
“Aku iri..” Ucap Roro mayit.
Ratu Segrani tertawa mendengar ucapan Roro Mayit saat itu. “HAHAHA!! Sudah sepantasnya! Kekuatanmu tak ada artinya dihadapan kekuatanku saat ini!”
“Bukan itu…”
Ratu Segrani menghentikan tawanya melihat tatapan serius sang Roro Mayit.
“Aku itu pada kalian, manusia. Aku selalu berharap untuk bisa hidup seperti manusia..”
“DUSTA!” Bantah Ratu Segrani. “Kau?! Kau lupa berapa ratus nyawa sudah ditumbalkan untukmu? Kau lupa berapa senangnya kau menari-nari diantara mayat-mayat yang dipersembahkan untukmu?!”
“Benar! Itulah aku.. itu semua karena aku iri dengan kehidupan kalian manusia! Aku benci saat melihat kalian tertawa, tersenyum, saling membahagiakan satu sama lain! AKU IRI! LEBIH BAIK KALIAN MATI!!” Teriak Roro Mayit dengan kekuatannya yang meledak-ledak di hadapan Ratu segrani.
Ratu Segrani yang telah membuang kemanusiaanya itu tidak terima dengan pernyataan Roro Mayit.
“Tapi jika kau ingat apa yang bisa kulakukan pada manusia, seharusnya kau juga sadar apa yang bisa kulakukan padamu!” Senyum licik Roro Mayit kembali muncul dihadapan Ratu segrani.
Drakkk!!!
Tiba-tiba penglihatan Ratu Segrani menjadi gelap. Tak ada apapun yang terlihat, namun teriakan, rintihan, umpatan terdengar riuh ditelinganya. Tubuhnya sulit bergerak dari tangan-tangan yang terus mencengkeram dan mengerubunginya.
“Menyingkir!!!” Kekuatannya meledak-ledak, namun ratusan tangan, wajah, dan bagian tubuh terus mengincar tubuhnya.
“Hidup! Kami mau hidup!!” Suara itu terdengar dari bagian tubuh yang menenggelamkan Ratu Segrani. “Sakit! Keluarkan kami dari sini…”
Kanjeng Ratu Segrani tak mempedulikan semua itu. Ia menghancurkan, melumat, dan menghabisi semua yang mendekat kepadanya. Teriakan kesakitan semakin terdengar, namun semua itu tak ada habisnya. Tubuh-tubuh itu perlahan menyatu kembali.
“Kami sudah mati.. kami tidak bisa mati lagi…” Tubuh-tubuh itu berbicara. Mereka hancur, namun mereka kembali menyatu lagi menyambut siksaan mereka kembali.
“Apa?? Apa yang kau lakukan padaku Roro Mayit!!” Teriak Ratu Segrani, namun sama sekali tak ada jawaban. Sebaliknya udara tiba-tiba semakin panas seolah ia dan tubuh-tubuh itu terendam di kolam lahar.
“Kurang ajar! Hentikan!!” Ratu Segrani menggunakan segala cara. Ia mencari cara untuk meninggalkan tempat itu. Namun tempat yang berbeda membuat dirinya membeku dengan rasa yang menusuk-nusuk tubuhnya.
“ARRRRAGHH!! HENTIKAN!!”
BRUKK!!!
Tiba-tiba tubuh Kanjeng Ratu Segrani kembali ke tempatnya dengan wujud yang mengenaskan. Tubuhnya hangus dengan luka bakar yang mengerikan dan darah yang terus mengalir dari setiap lubang ditubuhnya.
“Selamat datang di rumahku, alam kematian…” Senyum Roro Mayit.
“Ku—kurang ajar! Habisi! Habisi mereka!” Dengan tubuh yang lemah Ratu Segrani memerintahkan pengikutnya untuk menyerang, namun sama sekali tak ada pergerakan di sana.
“Dimana? Dimana pengikutku!” Ratu Segrani panik. Ia mencari tumbal-tumbal yang ia kumpulkan selama ratusan tahun untuk menjadi pengikutnya.
“Mereka sudah pergi dengan tenang ke tempat seharusnya mereka berada,” Danan berdiri setelah membacakan doa terakhirnya untuk jasad yang terjebak dalam kutukan Ratu Segrani itu.
“Tenang?! Tidak! Tidak mungkin?!! Mereka tidak bisa mati!!”
Cahyo menghadang Ratu Segrani yang hendak mengincar Danan. Danan masih kelelahan setelah setelah mengangkat kutukan dari ratusan pengikut Ratu segrani itu.
“Aku saja..” Roro Mayit memberi isyarat pada Cahyo.
“Benar yang kau katakan, Segrani. Akulah yang terlemah diantara para danyang. Bukan karena aku tidak memiliki kekuatan, namun kemampuanku hanya berlaku pada manusia, makhluk yang mengenal kematian…” Bisik Roro Mayit.
Bisikan Roro Mayit saat itu membuat Segrani gemetar.
“Tidak! Angkarasaka memberkatiku! Kekuatannya meluap di tubuhku!!”
Benar ucapan Ratu Segrani, kekuatan Angkarasaka kembali merasuk ke tubuhnya, namun rasa sakit yang dirasakan Ratu Segrani tidak berkurang sedikitpun.
“Hahaha! Ingatlah.. Sebanyak apapun kekuatan yang kau terima, kau tetaplah manusia!” Tawa Roro Mayit saat itu terdengar begitu mengerikan. “Kita kembali lagi?”
“Tidak!! Tidak!! Jangan bawa aku kesana lagi! Tidak!!” Kini wajah Ratu Segrani benar-benar pucat.
“Sayangnya, aku mempunyai kuasa penuh atas manusia yang sudah membuang Tuhannya sepertimu.. HAHAHAHA”
Darah semakin bermuncratan dari lubang hidung, telinga, mata Ratu Segrani. Siksaan di alam itu terus ia rasakan. “Sakit!! Hentikan!! Sakitt!” Rintihan itu terdengar bersamaan wajah putus asa Ratu Segrani.
“Bunuh! Bunuh saja aku! Buat aku mati..” Rasa sakit yang diterima Ratu Segrani tak bisa membuatnya bertahan, namun Roro Mayit enggan memberikan kematian kepadanya.
“Manusia yang berani-beraninya mencoba menyentuh matahari, harus merasakan panasnya hingga hangus terbakar..” Bisik Roro Mayit. “Semua siksaan itu hanya akan berakhir saat kita menjemput akhir zaman.. HAHAHAHA”
Mendengar perkataan itu, mata Ratu Segrani terbelalak. Namun siksaan yang semakin menyiksa bahkan membuatnya tak mampu lagi berbicara. Ia menatap ke sekitarnya, ia mengulurkan tangannya ke arah Dewi Naganingrum, namun tak ada satupun danyang hitam yang berniat menolongnya.
Mereka hanya melirik sekilas pada Ratu Segrani yang sudah tidak berdaya itu seolah tak menganggapnya ada. Ia pun harus pasrah menerima siksaan alam kematian itu sebagai bayaran sumpahnya membuang Tuhannya.
“I—itu terlalu mengerikan,” ucap Danan.
“Awas kalau kamu sampai menyinggung perasaan Jayanti ya, Nan!” Bisik Cahyo.
“Lah! Kan kamu yang katanya mau ngelindungin aku dari cewe gatel itu!” Protes Danan.
“Gak Jadi!”
Roro Mayit menoleh ke arah Danan dan Cahyo dalam wujud danyangnya. Saat itu tubuh mereka berdua gemetar membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka menyinggung perempuan itu.
“Dewi Agni!!” Cahyo berteriak dengan keras menunjukkan keberadaan mereka yang mencapai dirinya. Danan melambaikan pusaka ratu ular itu mempertanyakan apa yang harus dilakukan pada benda itu.
“Lindungi Pusaka Ratu ular sampai kami merebut Manjing Marcapada! Tetaplah di pusat reruntuhan itu!” Perintah Dewi Agni.
Saat itu kobaran api Dewi Agni melingkar melindungi mereka bertiga. Pohon-pohon besar tumbuh di sana menjadi tempat Danan dan Cahyo menyembunyikan diri mereka dari penglihatan danyang hitam.
Danan melihat bentuk-bentuk formasi aneh di bekas reruntuhan itu. Ia merasa formasi itu berhubungan dengan cara mereka akan menyegel pusaka itu.
Dharr!! Dharrr!!!
Kekuatan besar meluap-luap. Seluruh Danyang terhenti sesaat menyadari bagian tubuh Angkarasaka kembali muncul di satu tempat.
“Kekuatan ini… Angkarasaka…” Roro Mayit mengguman.
Cahyo menatap Danan, mereka memikirkan hal yang sama saat itu.
“Kita tidak bisa diam disini saja kan?” Tanya Cahyo.
“Kita cari cara untuk merebut Manjing Marcapada!” Balas Danan.
Niat mereka berdua bersambut dengan sebuah pusaka yang melesat menghantam wajah Dewi Naganingrum.
“I—itu! Tombak Lembu warok!” Danan menoleh ke asal arah lemparan itu. Ia mendapati kedatangan Panji dan Mbah Wijan ke tempat itu.
“Kalian? Di sini terlalu berbahaya! Tak ada manusia yang bisa bertahan tanpa perlindungan!” Cahyo cemas dengan kemunculan mereka. Namun Mbah Wijan dan Panji mengarahkan wajahnya ke sekumpulan pengikutnya yang menjalankan ritual.
“Kami mengerti, Mas Cahyo. Kami takkan bertahan tanpa sosok itu..” Panji menunjuk ke arah tombaknya yang kembali, dan saat itu juga samar-samar terlihat bayangan sosok pendekar besar bertubuh seperti lembu.
“Kami bertempur bersama Lembu Warok..” jelas Panji.
GRAAOORRR!!! Sebuah pukulan mengandung ajian mementalkan, raksasa yang berselimutkan api.
Jagatbara terpukul mundur dengan serangan Guntur yang datang tiba-tiba dengan pukulan berwujud harimau itu.
“Bli Waja! Kau curang!!” Protes Guntur yang tertinggal oleh Bli Waja dari tempat mereka bertemu sebelumnya.
“Lakukan bagian kalian! Jangan ganggu pertempuranku!” Perintah Bli Waja yang terlihat hampir kewalahan, namun keadaan itu juga terlihat di wujud Nyai Durgati.
“Manusia lagi!! Menjijikkan!!” Teriak Nyai Durgati.
Teriakkan itu terputus saat sebuah keris melayang melesat ke seluruh penjuru arah di tempat itu. Dirga terlihat duduk bersila dalam perlindungan Nyai Jambrong. Sukmanya menyatu dengan keris dasasukma yang melayang mencari celah yang mungkin bisa mereka dapatkan.
“Tenang saja… Kami bertempur bersama Radeng Singogaluh!” Nyai Jambrong menoleh ke arah Danan menjelaskan apa yang terjadi.
Danan pun menoleh ke arah Guntur, dan sosok yang dimaksud itu sedang melesat berdampingan dengan Guntur tak membiarkan tubuh manusia mereka bertiga terintimidasi denga kekutaan Para Danyang.
“Beri aku ruang.. semua harus kusiapkan di tempat ini,” Tiba-tiba Mbah Jiwo dan Ki Maesa Ombo muncul di dekat mereka.
“Mbah Jiwo?” Danan senang melihat Mbah Jiwo yang dilindungi oleh Ki Maesa Ombo itu.
“Paklek pasti akan kembali kan? Kalau begitu aku harus memastikan keris sukmageni kembali dapat ia gunakan saat ia kembali,” Jelas Mbah Jiwo yang memulai ritualnya mempersiapkan bilah keris untuk Paklek.
“Hahaha! Pertempuran dulu pun bahkan tidak seramai ini!” Tawa Dewi Agni yang semakin Berkobar melihat keberadaan manusia-manusia yang ikut ke dalam pertarungan.
“Dan di pertempuran dulu kau tak banyak bicara seperti saat ini!” Balas Ratu Puspa Cempaka.
“Ini terlalu menarik! Aku tak bisa diam saja!”
Sayangnya sekali lagi kobaran api Jagatbara membakar seluruh wilayah tanah itu. Tanpa perlindungan para danyang, tak akan ada manusia yang bisa bertahan di tanah itu.
“Jangan berpikir untuk mengalahkan mereka, tujuan kita hanya Majing Marcapada!” Ucap Raden Singogaluh yang membuka jalur untuk Dirga dan Guntur.
Kobaran api Jagatbara beradu dengan api dewi Agni. Saat itu Dewi Naganingrum mulai merasa cemas dengan kemunculan danyang-danyang yang mengikat diri mereka pada manusia itu.
“Cih! Dimana Kalabuto saat kita membutuhkannya?!” Keluh Dewi Naganingrum. Namun sosok yang ia tunggu-tunggu tak kunjung muncul.
Di langit, benturan kekuatan besar beradu mengakibatkan gemuruh dan gelombang yang menyapu api Jagatbara. Kedua Rangda beradu tanpa memberi celah.
“Kita sedang di atas angin! Selesaikan!”
Suara Roro Mayit menggelegar, memerintah dengan tegas. Guntur, Dirga, dan Panji segera berlari, mata mereka terpaku pada sosok ular raksasa yang melayang di langit, mencengkeram erat Manjing Marcapada.
“Sekarang!” seru Panji.
Tombak Lembu Warok diayunkan sosok besar, menghantam kepala Dewi Naganingrum dengan kekuatan penuh. Di saat yang sama, empat keris Dasasukma memancarkan cahaya menyala-nyala, menusuk leher ular itu dari empat penjuru.
“Lepaskan pusaka itu!!”
Dengan kekuatan Raden Singogaluh yang mengalir di tubuhnya, Guntur melesat lincah, melompati pohon demi pohon. Lompatannya berakhir dengan hantaman telak ke wajah Dewi Naganingrum, menggunakan ilmu dari Nyai Jambrong yang berpadu dengan kekuatan Raden Singogaluh.
DHAARRR!!!
Dentuman dahsyat mengguncang udara, membuat Dewi Naganingrum terjatuh ke tanah.
“Rasakan itu!” teriak Guntur, napasnya memburu.
Namun, senyum tipis muncul di wajah Dewi Naganingrum, membuat darah mereka membeku.
“Menyingkir!”
Nyai Jambrong menarik Guntur mundur dengan cepat, sementara Panji dan Dirga sudah lebih dulu menjauh.
Dari ketiadaan, pusaran ombak raksasa muncul, menggulung dengan kekuatan dahsyat, siap menyapu segalanya.
“Kalian pikir serangan seperti itu bisa menumbangkanku?!”
Guntur berlari sekuat tenaga, namun ombak besar itu terasa tak terhindarkan.
“Tak kusangka kekuatan Angkarasaka sudah merasuk ke Naganingrum!” seru Nyai Jambrong.
Raden Singogaluh, dalam wujud raksasanya, mengaum lantang, berusaha melawan pusaran itu.
“GRRRAAAAAARRRR!!!”
Benturan kekuatan menciptakan getaran hebat, tapi pusaran Dewi Naganingrum terlalu kuat. Energinya tak ada habisnya, mengalir dari sosok Angkarasaka yang hampir dibangkitkan.
“Percuma…” gumam Dewi Naganingrum, melayang semakin tinggi. Di kepalanya, tujuh tanduk menjulang, wujud kekuatan baru yang diberikan Angkarasaka.
“Roro Mayit! Kita harus membantu Raden Singogaluh!” teriak Danan.
“Tidak ada gunanya! Kalian hanya akan tersapu mati!” balas Roro Mayit, matanya tetap tajam mengamati.
Cahyo, dipenuhi kecemasan, memanggil kekuatan Wanasura dan melesat ke arah Dirga. Namun, langkahnya dihentikan oleh tangan Danan yang menariknya dengan paksa.
“Tunggu…”
“Ada apa?! Kau berubah pikiran?” Cahyo menatapnya bingung.
Danan tak menjawab langsung. Matanya terfokus pada sesuatu yang jauh di depan mereka. “Ada kekuatan besar… kekuatan yang berbeda,” ujarnya.
Perkataan itu segera terbukti. Sebuah pusaran serupa muncul di kejauhan, melawan kekuatan Dewi Naganingrum dengan intensitas yang sama dahsyatnya.
“Siapa?!”
Dewi Naganingrum menatap terkejut. Di balik pusaran itu muncul sosok manusia bertubuh kekar, kulitnya tertutup sisik baja yang memantulkan cahaya.
“Ayah memerintahkanku untuk menghentikan semua kebodohan ini!” suaranya menggema, dipenuhi energi besar yang meluap.
Jagatbara menyipitkan mata, mengenali sosok itu.
“Kekuatan ini… Nogo Banyuwening? Tidak mungkin! Dia terlalu lemah untuk memiliki kekuatan sebesar ini!”
Makhluk bersisik baja itu tak mempedulikan ucapan Jagatbara. Dengan kecepatan luar biasa, ia menghantam Dewi Naganingrum bertubi-tubi.
Serangan-serangannya menghujam seperti badai, membuat Naganingrum kewalahan.
Di tengah kekacauan itu, Nyai Jambrong melesat, langkahnya cepat dan terarah. Semua orang seketika menyadari maksudnya.
Manjing Marcapada telah terlepas dari cengkeraman Dewi Naganingrum.
“Takkan kubiarkan!”
Dewi Naganingrum melesat, mencengkeram Bola Cahaya dengan kekuatan penuh. Namun, sebelum ia berhasil mempertahankannya, tombak Lembu Warok menghantam keras tubuhnya, membuat pusaka itu terpental jauh ke udara.
“Bagus!”Mbah Wijan tersenyum puas melihat kecekatan anaknya. Dengan cepat, ia memutar tubuh dan melesat mendekati pusaka tersebut. Cemetinya sudah siap menangkap Bola Cahaya yang melayang di udara.
“Manusia tak berhak mempermalukan kami!!!” Suara Rangda Nyai Durgati menggema, penuh amarah.
DHARR!!! DHARR!!! DHARR!!!
Tubuh Rangda membesar, energinya meledak-ledak seperti gunung berapi yang siap menghancurkan segalanya. Ledakan kekuatannya membuat Manjing Marcapada terpental lebih jauh lagi, terlempar dari jangkauan semua orang.
“Sial!!”
Semua Danyang segera menerjang ke arah yang sama, tanpa ada yang mau mengalah. Api, asap, air, udara, dan petir beradu di udara, menciptakan kekacauan besar yang mengguncang alam.
“Tidak!! Aku tidak kuat!!”
Guntur berteriak, napasnya terengah-engah. Walau kekuatan Raden Singogaluh sudah mengalir dalam tubuhnya, ia tidak mampu lagi melangkah. Tubuhnya terjatuh, darah memuncrat dari mulutnya. Tekanan energi para Danyang itu terlalu besar baginya.
“Keris Dasasukma tak mampu lagi melindungi sukmaku!” Dirga pun mulai kehilangan kekuatannya. Dalam wujud keris Dasasukma, ia terjatuh, tak lagi sanggup mengejar Manjing Marcapada.
DHUMMM!!! Manjing Marcapada akhirnya terjatuh, tertangkap oleh sebuah sosok misterius. Keheningan sesaat menyelimuti medan pertempuran, hingga angin kencang menyapu asap hitam yang menutupi pandangan.
“I—itu…” Danan terpaku, matanya membelalak tidak percaya.
“Bli Waja?! Manjing Marcapada ada pada Bli Waja!” seru Cahyo, suaranya bergetar. Namun kenyataan itu membawa bahaya yang tak terduga.
“Jayanti! Kita tidak bisa membiarkan seorang manusia sendirian di tengah para Danyang! Pertarungan itu bisa membunuhnya!” Kecemasan memenuhi wajah Danan. Ia gemetar, tak lagi mampu mempertahankan posisinya.
Roro Mayit berdiri diam, tangannya mengepal erat. Wajahnya memancarkan keraguan, namun matanya tetap tajam.
Setelah keheningan singkat, ia akhirnya berbicara dengan nada berat. “Baiklah... Pertaruhkan semuanya saat ini...”
Keputusan itu menggema, menjadi awal dari pertarungan terakhir yang menentukan segalanya.
Danan dan Cahyo mengangguk.
Di tengah kericuhan itu Danan mengenakan selendang Nyi Sendang Rangu di lehernya, sementara Cahyo mengangkat satu tangannya ke samping seolah memberi isyarat.
Isyarat itu disadari dan seekor kera berlari menembus kekacauan itu. “Kliwon, merasuklah!”
Kliwon menghilang tepat saat mencapai pundak Cahyo. Dua sosok roh monyet kembar alas wetan merasuk pada satu tubuh Cahyo yang sudah mempersiapkan kekuatannya itu untuk saat-saat terdesak.
“Wanatunggal…”
Kekuatan Wanasura dan Wanasudra bergabung dalam satu tubuh. Simbol-simbol aksara muncul di tubuh Cahyo bersama bulu-bulu halus yang menyelimuti lengannya.
Sementara itu Danan menggenggam selendang yang mengalung di lehernya.
“Semoga ini waktu yang tepat, Nyi…” Ucap Danan sambil menggambar dengan jarinya sebuah simbol keris yang masih ia simpan di sukmanya.
Wujud sukma keris Ragasukma melayang-layang di hadapannya.
..
Jagad lelembut boten nduwe wujud
Kulo nimbali
Surga loka surga khayangan
Ketuh mulih sampun nampani
Tekan Asa Tekan Sedanten
…
Hujan deras muncul di pertarungan itu, begitu deras beradu dengan wujud kekuatan danyang disana. Namun Danan tak menghentikan mantranya.
...
Sambungke rong alam kasebut
Rina malam dadi siji
Raga lan jiwo iso nyawiji
…
Mendengar sambungan mantra itu, Cahyo menoleh. Ia sadar tak ada roh Eyang Widarpa yang akan menyatu dengan Danan.
Dari derasnya hujan itu perlahan muncul sosok roh perempuan yang berjalan dengan anggun. Namun tawa dari sosok kakek tua mengiringi kedatangannya.
“Khekhekhe… “
“Suara itu? Tidak mungkin itu…” Cahyo sangat mengingat suara itu.
“Eyang Widarpa?” Danan penasaran menoleh ke segala arah, namun Nyi Sendang Rangu menggeleng.
“Aku sudah menemukan pecahan sukma Widarpa, namun pecahan sukma saja tak cukup untuk menyatu denganmu…” Jelas Nyi Sendang Rangu yang telah kembali dan berhadapan dengan Danan.
“Aku mengerti…” Danan menggenggam erat Selendang Nyi sendang Rangu dan tepat saat itu juga sosok nyi sendang rangu menghilang menyatu dengan wujud Danan yang melayang-layang di udara.
Di telinga Danan muncul perhiasan berwujud sumping emas seperti yang dikenakan nyi sendang rangu, dan di lehernya terkalungkan perhiasan yang mengunci selendang nyi sendang rangu.
Cahyo terpaku melihat penampilan Danan saat itu..
“Sial” Umpat Cahyo kesal. “Kupikir aku sudah paling keren dengan kekuatan Wanatunggal!”
Danan menoleh dengan sedikit tersenyum pada Cahyo. “Coba lagi lain kali!” Ucapnya yang segera melesat ke tempat Bli Waja.
Saat tiba di sana, Rangda Bli Waja sudah berkobar dengan api yang membakarnya. Danyang putih berusaha melindungi Bli Waja, namun kekuatan Danyang hitam begitu besar dengan kekuatan Angkarasaka yang terus menopangnya.
“Tidak perlu bersusah payah, dia hanya manusia. Tubuhnya akan hancur bila terus berada diantara danyang sebanyak ini..” Jagatbara mengerti kondisinya.
“Sayang sekali, seharusnya kita bisa membanggakan diri di depan guru kita jika kau di pihak kami,” ucap nyai durgati.
“Sial… Bawa pergi manusia itu!” Dewi Agni memerintahkan Ratu Puspa cempaka yang paling mampu melindungi manusia.
Tapi.. Rangda Bli Waja telah melemah. Kekuatan yang tak seharusnya berada disekitarnya itu menghancurkan tubuhnya.
“Takkan kulepaskan…” Bli Waja memaksakan dirinya. Ia kembali pada wujud manusianya. Wajahnya begitu pucat, namun ia terus memeluk bola cahaya itu tanpa berniat untuk melepaskannya.
“Musnahlah!” Jagat bara yang tahu Bli Waja semakin melemah melontarkan apinya untuk memusnahakan Bli Waja.
Blarrr!!!
Letupan itu meledak di hadapan Bli Waja, tapi tak sedikitpun serangan itu melukainya.
“Cukup Bli Waja..” Serahkan sisanya pada kami.
Bli Waja menatap ke depan dan mendapati serangan Jagatbara ditahan oleh Cahyo yang dirasuki Wanatunggal. Sementara Danan menjulurkan tangannya pada Bli Waja.
“Aku hanya sampai di sini…” Ucap Bli Waja menyerahkan Majing Marcapada pada Danan.
Saat itu Ratu Puspa cempaka segera menyelimuti tubuh Bli Waja dengan dedaunan yang muncul dari kekuatannya. “Istirahatlah.. kau aman bersamaku..”
Di belakang Danan dan Cahyo berkumpul danyang danyang putih. Di tangan Danan, Manjing Marcapada semakin menyala terang, sedangkan di Pusaka Ratu ular aman di genggaman Cahyo.
“Menyerahlah, kami akan menyegel pusaka ini..” ucap Danan.
Jagatbara tak mampu menahan rasa kesalnya. Ia meledakkan apinya yang semakin panas. “Aku tak terima dipermainkan oleh manusia!”
Melihat hal itu Danan tak gentar. Kekuatan Nyi Sendang Rangu di dalam dirinya membuatnya mampu bertahan dari tekanan makhluk-makhluk di sekitarnya.
Keseluruh Danyang hitam menarik begitu banyak kekuatan Angkarasaka, hingga tanah di sekitar mereka bergetar.
“Hati-hati.. pertarungan berikutnya adalah pertarungan hidup dan mati,” ucap Roro Mayit.
“Kami mengerti” balas Cahyo.
Kekuatan yang begitu besar merasuki ketiga danyang hitam itu. Tapi belum sempat mereka menggunakannya tiba-tiba hal yang aneh terjadi.
Sebuah petir menyambar tepat di tengah-tengah para danyang itu. bongkahan-bongkahan batu hitam muncul dari petir yang menyambar tempat itu.
“Sepertinya aku tak bisa lagi mengharapkan kalian..” Suara yang begitu berat dan menakutkan terdengar dari bongkahan batu yang membentuk wujud manusia. Kebangkitan sosok itu sekaligus menyerap keuatan dari seluruh danyang yang ada di sana.
“Ti—tidak mungkin!” Roro Mayit mengenali sosok itu. Ia terjatuh mencoba menahan kekuatannya untuk terhisap, namun ia tak mampu.
“Angkarasaka?! Tidak mungkin?!!” Dewi agni kehilangan kekuatan apinya.
Seluruh Danyang putih maupun hitam tak berdaya dengan perwujudan kesadaran Angkarasaka. Sebagian dirinya sudah terpanggil di alam manusia dan mengambil wujud itu untuk menyelesaikan sendiri ritual kebangkitannya.
Tekanan kekuatan yang dirasakan di tanah perjanjian menghilang sesaat sebelum meledak dengan berpusat di Angkarasaka.
“Tidak! Tidak bisa!! Kekuatan seluruh danyang menyatu di Angkarasaka!” Mbah Wijan menyadari apa yang terjadi.
“Kekuatan ini.. jika dibiarkan kekuatan ini bisa membelah pulau jawa menjadi dua!” Cemas Nyai Jambrong.
“Takkan kubiarkan kesalahan ratusan tahun lalu terjadi lagi..” ucap Angkarasaka yang menerima kekuatan dari seluruh Danyang itu.
Kekuatan itu terus meluap-luap. Gejolak gunung-gunung berapi terjadi di seluruh pulau. Gempa terjadi di tempat-tempat yang tak terduga.
“Apa yang harus kita lakukan?” Danan benar-benar tak mengerti apa yang harus ia lakukan. Ia menatap danyang-danyang putih yang lain yang kini tak berdaya.
“Tak ada… kami tak menyangka ini akan terjadi..”
Keputus asaan terpampang di wajah mereka, namun Danan dan Cahyo masih tak sudi untuk menyerah.
Namun sebuah keanehan terjadi di saat itu. Awan hitam di langit tiba-tiba tersapu membentuk sebuah lingkaran. Sebuah suara yang tidak asing terdengar di telinga mereka.
“Danan.. Cahyo…” Suara Mbok Sar terdengar bersama gema gendang dan alat musik tiup.
“Mbok Sar?” Cahyo mulai merasa ada harapan.
“Ada harapan terakhir, namun tak ada jaminan akan berakhir dengan baik..” suara lain terdengar di sana.
“Eyang Purbawengi?” Danan menyadari ada Purbawengi yang telah kembali ke alam ini menemani Mbok Sar di ritualnya. “Katakan! Saat ini apapun pantas untuk dipertaruhkan!”
“Cahyo.. Segel pusaka ratu ular di tubuhmu. Kekuatan Wanatunggal mampu menahannya. Dan Danan, Manjing Marcapada yang ada di tanganmu saat ini terbentuk dari empat sukma sambara. Seharusnya tubuhmu mampu menerimanya,” Jelas Purbawengi.
Danan dan Cahyo mencoba mencerna ucapan itu, mereka bertatapan sesaat dan memandang kedua pusaka itu.
“Sepertinya tak ada pilihan lain..” ucap Danan.
“Benar. Ini satu-satunya harapan..” Cahyo mengenakan Pusaka ratu ular itu di kepalanya tanpa ragu. Kekuatan hitam merasuk ke dalam dirinya dengan brutal, bagian relied dari mahkota itu bergerak dan mencengkeram kepala Cahyo dengan kuat.
“Arrrrgggghhh!!!!”
Danan tak menunggu. Ia menyatukan Manjing Marcapada pada sukmanya. Perasaan aneh yang meledak-ledak merasuki tubuhnya.
“Pulau ini takkan mampu menahan kekuatan ini!” Ratu Puspa Cempaka cemas.
“Untuk itulah ritual ini kulakukan…” Suara Mbok Sar terdengar dari langit yang terbuka itu. “Kutitipkan takdir alam ini pada kalian…”
Seketika benang-benang hitam muncul dari dalam tanah mengikat Angkarasaka, Danan, dan Cahyo. Dalam satu kedipan mata tiba-tiba mereka bertiga muncul di sebuah alam dengan energi yang meluap-luap.
“Ini…” Danan bingung dengan keberadaan dirinya ddan Cahyo saat ini.
“Tanah Para Danyang.. Tuntaskan pertempuran kalian disini,” ucap Eyang Kertasukmo yang berada di sana seolah sudah menanti mereka berdua.
“Jangan lengah. Seluruh kekuatan danyang kini menjadi kekuatan makhluk terkutuk itu.” Eyang bumi duduk di sisi lain sambil mengawasi Angkarasaka yang masih berusaha mengendalikan kekuatan para danyang yang ia ambil.
“Jika eyang semua disini berarti Paklek dan Mas Jagad..” Tanya Cahyo.
“Mereka sedang menjalankan bagiannya..” Balas Eyang kertasukmo.
Tanpa ritual yang sempurna, Angkarasaka tak bisa bangkit. Ia hanya memanfaatkan kesadaran, dan bagian tubuhnya yang telah muncul di alam manusia untuk membentuk wujud itu.
“Berani-beraninya kalian menyegel pusaka para danyang di tubuh makhluk rendah seperti kalian!” Angkarasaka semakin kesal.
Seperti Angkarasaka yang sudah menguasai kekuatan para danyang di dalam dirinya, Cahyo dan Danan pun sudah mengerti kekuatan kedua pusaka yang tersegel di dirinya.
Tubuh Angkarasaka membesar. Ia menghempaskan tangannya pada Danan dan Cahyo. Danan melayang membara dengan api yang menyelimuti tubuhnya, sementara Cahyo menahan tangan besar Angkarasaka dengan tangan kosong.
“Tidak mungkin..” Angkarasaka tak mengerti dengan apa yang terjadi.
Kebingungan Angkarasaka dibalas dengan lontaran api merah dan hitam dari Danan dan Cahyo. Kekuatan itu mereka dapatkan dari pusaka yang merasuk di tubuhnya.
“Ini kekuatan Jagatbara…” Guman Cahyo.
“Ini kekuatan Dewi Agni..” Danan menyadarinya.
“Tersegelnya Manjing marcapada di tubuh mu membuatmu mampu menggunakan kekuatan Danyang putih, sedangkan Pusaka ratu ular membuat Cahyo dapat menggunakan kekuatan danyang hitam..” Suara Nyi Sendang Rangu terdengar dari dalam dirinya.
“Jadi begitu..” Cahyo paham apa yang terjadi.
“Tapi kekuatan ini hanya sementara, kedua pusaka itu hanya menyerap kekuatan dari para danyang selama ribuan tahun.. kalian harus menghentikan Angkarasaka sebelum kekuatan itu menghilang, atau kekuatan itu memakan kesadaran kalian..” Jelas Nyi Sendang Rangu.
Mendengar penjelasan itu Danan dan Cahyo tersenyum.
“Apa yang kalian tunggu?!” Tanya Nyi Sendang Rangu.
“Nyi..” Danan berkata saat Cahyo menepuk bahunya. “Selamat datang kembali..”
Danan dan Cahyo merasa tenang saat merasakan keberadaan Nyi Sendang Rangu di dekat mereka. Kini tak ada kesempatan bagi mereka untuk ragu.
“Panjul!” Danan melayang ke arah Cahyo dan berbalik arah. Dengan sigap Cahyo menangkap kaki Danan dan menghempaskannya sekuat tenaga.
Kekuatan Dewi agni membuat tubuh Danan terselimuti api hitam dan cahaya putih dari pusaka ragasukma.
Srattt!!!
Layaknya sebuah anak panah, serangan itu mendorong mendorong Angkarasaka hingga sebuah luka tercipta di bahunya.
“Belum selesai!” di belakang Danan, Bayangan Kera raksasa muncul dengan keberadaan Cahyo di hadapannya.
Brak!! Bruakk!!!
Adu pukulan terjadi antara Angkarasaka dan bayangan Wanasura dan Wanasudra yang bangkit dengan kekuatan Kalabuto.
Danan melilit tubuh Angkarasaka dengan kekuatan Ratu Puspa Cempaka. Sayangnya, serangan itu hanya mampu menahannya sesaat dan adu kekuatan besar kembali terjadi.
“Kalian tidak pantas menggunakan kekuatan itu!” Angkarasaka kesal.
“itu masalahmu!” Balas Danan yang bergegas membalas serangan lagi dengan pusaran kekuatan besar. Tapi Danan menyadari ada yang salah..
Cahyo terdiam dengan tatapan kosong. Sementara kepulan kekuatan hitam sudah melesat menuju Cahyo.
“Panjul!!” Teriak Danan, namun mata Cahyo tetap kosong dengan kekuatannya yang terus meluap.
“GRAAAROOORR”Raungan Wanasura terdengar, saat itulah Cahyo baru tersadar. Dan di hadapannya Danan sudah setengah mati menahan serangan Angkarasaka itu.
“Danan!!” Cahyo yang menyadari keanehan pada dirinya turut membantu Danan menahan serangan itu.
Ledakan besar pun terjadi dan tanah di bawah mereka hancur menyisakan lubang yang begitu besar.
“Sial..” Cahyo kelelahan, Danan tak mampu mengendalikan kekuatan pada dirinya. Mereka terengah-engah menghadapi kekuatan Angkarasaka yang begitu gila.
“Kebangkitannya yang tidak sempurna saja sudah semengerikan ini! Apa yang terjadi jika ia benar-benar bangkit seutuhnya..” Cahyo gemetar.
“Kiamat untuk umat manusia… itu yang akan terjadi..” Balas Danan.
Walau pertarungan terjadi diantara mereka, Angkarasaka tetap tidak menganggap Danan dan Cahyo. Angkarasaka percaya diri dengan kekuatan seluruh Danyang yang ada padanya saat ini.
“Mengurungku di sini? Kalian makhluk rendah memang tak pernah mengerti!” Angkarasaka tertawa.
Angkarasaka menyempurnakan wujudnya. Sosok yang terbentuk dari batuan hitam itu kini memebentuk wujud perkasanya layaknya dewa penghancur dari alam bawah.
Dharrr!!! Tiba-tiba sebuah hutan menghilang begitu saja. Danan dan Cahyo menyadari itu adalah ulah Angkarasaka.
Dharr!! Dharr!! Ledakan demi ledakan terjadi berawal dari kekuatan-kekuatan hitam yang berasal dari Angkarasaka.
“Gila! Dia berniat menghancurkan Tanah Para Danyang!” Cahyo kesal dan kembali menyerang.
Bayangan Wanasura dan Wanasudra yang terbakar api Jagatbara menyerang Angkarasaka bergantian, namun itu tak cukup menghalangi Angkarasaka menghancurkan Tanah danyang.
Serangan bertubi-tubi terjadi, namun serangan susulan yang diharapkan Cahyo tak muncul. Danan tak bergerak…
Ia diam dengan tatapan kosong melayang di langit begitu saja.
“A—apa itu juga yang terjadi padaku tadi?” Cahyo menyadari keanehan itu.
“Teruskan pertarunganmu!” Eyang Kertasukmo berteriak dan rohnya melayang merasuki Danan.
Tatapan Danan pun kembali, namun kali ini bukan Danan yang mengendalikan tubuh itu.
“Maaf Danan, tubuhmu akan sangat terbebani karna ini!” Ucap Eyang Kertasukmo yang berada di tubuh Danan.
Kobaran api hitam, hembusan angin, pusaran gelombang air, dan bebatuan padat terpanggil menyatu dalam sebuah gumpalan kekuatan besar.
Perlahan darah bermuncratan dari lengan Danan yang tak mampu menahan perpaduan kekuatan Danyang itu.
“Apa yang kau lakukan, eyang?!” Cahyo khawatir.
Alih-alih menjawab, Kertasukmo memilih untuk terus mengumpulkan kekuatan itu.
“Takkan kubiarkan..” Angkarasaka menghampiri tubuh Danan dan hendak menghabisinya. Cahyo yang sadar akan itu pun menyambut Angkarasaka bersama dua bayangan Wanasura dan Wanasudra yang membawa kekuatan danyang hitam.
Pertarungan sengit terjadi. Berkali-kali Cahyo memuntahkan darah, namun ia enggan untuk berhenti. Hingga saat Angkarasaka ingin melakukan serangan untuk menghancurkan tanah yang mereka pijak, Danan muncul melontarkan gumpalan kekuatan itu pada Angkarasaka.
“Manusia rendah!!”
Dharrr!! Ledakan besar terjadi mementalkan mereka semua. Lubang yang tercipta di tanah sebelumnya menjadi kian membesar.
Danan terjatuh dengan tubuh berlumuran darah, Kertasukmo terlempar dari tubuh Danan dengan cidera yang fatal.
“Aku hanya sampai di sini…” ucap Kertasukmo.
“Danan… bangun, Danan!” Suara Nyi sendang Rangu terdengar jelas di telinga Danan. Kesadarannya pulih, namun tubuhnya sulit untuk bergerak.
“Eyang!” Danan mengkhawatirkan roh eyangnya itu, namun saat mengetahui Kertasukmo dalam posisi semedi memulihkan dirinya. Ia pun kembali memfokuskan dirinya pada Angkarasaka.
“Berhasil.. serangan itu membuat luka parah pada makhluk itu,” ucap Cahyo.
“Tubuhku hancur jika harus melakukan hal itu, hanya eyang yang bisa memadatkan kekuatan semengerikan itu..” Jelas Danan.
Saat itu Danan menoleh ke arah Wirabumi. Ia sadar, eyangnya itu tak bergerak dari posisinya karena sebuah alasan. Keris Jagat angkoro tertancap di sebuah lempengan batu yang menyatu dengan tanah Danyang.
“Tenanglah, Wirabumi punya rencana..” Nyi Sendang Rangu berkata menenangkan mereka. .
“Lukaku tak separah kamu, Nan! Berhati-hatilah! Kekuatan danyang ini mulai memakan jiwa kita..” Jelas Cahyo.
“Aku mengerti..”
Dengan tubuh yang hampir mencapai batasnya. Mereka berdua melontarkan kekuatan dengan brutal kepada Angkarasaka yang mulai kewalahan. Satu tangannya hancur, tubuhnya mulai terkoyak dengan serangan brutal itu.
“Kubalas! Akan kubalas kalian!!” Angkarasaka mengamuk. Ia menciptakan asap hitam yang begitu panas dan menyiksa tubuh Danan dan Cahyo.
Cahyo dan Danan berusaha bertahan.. tapi, kekuatan yang bukan milik mereka pun akhirnya habis tak bersisa. Manjing Marcapada dan Pusaka Ratu ular telah kosong.
Angkarasaka terpojok di bukit batu. Ia menahan semua serangan itu hingga kewalahan. Tapi ia tidak mati..
Sebaliknya.. Danan dan Cahyo kembali menjadi manusia biasa. Kliwon dan Nyi Sendang Rangu muncul dari raga mereka.
“Jadi ini batas kita..” Cahyo berusaha berdiri.
“Sial… sedikit lagi…” Danan masih berharap.
Saat itu Nyi Sendang Rangu memeluk Danan dan Cahyo bersamaan.
“Sudah.. cukup!” Kalian tak lagi memiliki kekuatan para danyang. Nyi Sendang Rangu tak tega melihat Danan dan Cahyo terluka lebih dalam lagi.
“Haha… sejak kapan kami mengandalkan kekuatan Para Danyang, Nyi?” Ucap Danan.
“Benar.. kalau kita dekat dengan Yang Maha Perkasa, sudah sewajarnya kita yakin kita akan berhasil kan, Nyi?” Cahyo memperjelas perkataan Danan.
Walau dalam keadaan terdesak seperti itu, Danan dan Cahyo masih bergantung pada Iman yang selama ini menyelamatkan mereka dari segala kesulitan.
“Jadi ini akhir kalian..” Ucap Angkarasaka.
Kepalan tangan Danan sudah dipenuhi kekuatan ajian lebur saketi, sedangkan roh wanasura merasuk pada Cahyo. Sayangnya, kekuatan yang selama ini menolong mereka dalam berbagai pertarungan itu tak lagi bisa menyelamatkan mereka.
“Kuhabisi kalian terlebih dahulu…”
Walau sebagian tubuhnya sudah hancur, tubuhnya masih bisa bergerak dan di tangannya sudah menyala api hitam yang begitu kuat yang siap menghanguskan Danan dan Cahyo.
Nyi Sendang Rangu sudah bersiap melindungi mereka berdua, namun tiba-tiba terdengar suara teriakkan.
“SEKARANG!!!”
Suara Wirabumi menggema, dan sesaat kemudian tali-tali hitam kembali muncul menjerat mereka dan memindahkan mereka dari tanah danyang.
“KUBUNUH KALIAN!” Angkarasaka merasa di permainkan. Saat itu seketika mereka kembali berpindah ke alam manusia.
Seluruh manusia, danyang yang sedari tadi masih berada di tanah perjanjian kaget dengan kemunculan Angkarasaka dan Danan Cahyo yang babak belur.
Tak memberikan celah, Angkarasaka tetap melontarkan api hitam untuk membakar Danan dan Cahyo.
“Eyang! Jangan pedulikan kami! Lakukan!” Danan tak mau rencana Eyang Wirabumi gagal. Ia pun mencoba menerima serangan itu bersama Cahyo dan Nyi Sendang Rangu, walaupun mereka tau. Kekuatan Angkarasaka tak bisa ditahan walaupun mereka bertiga bertarung dengan kekuatan penuh.
Wirabumi cemas, namun ia memiliki tanggung jawab yang lebih besar. “Jagad! Sekarang!” Teriaknya
Sebuah keris melayang dari tangan Wirabumi dan ditangkap dengan cepat oleh Jagad yang muncul secara tiba-tiba di tempat keris itu melayang.
Sebuah ajian dibacakan dan kekuatan keris Jagat Angkoro meluap tak terkendalikan. “Kekuatan yang mengerikan,” Gumam Jagad.
Keris yang telah menyerap kekuatan para danyang dari pertarungan Angkarasaka melawan Danan Cahyo itu kini melakukan tugas terakhirnya.
“Takkan kubiarkan!!” Nyai Durgati yang kekuatannya berbeda dari danyang lainnya memaksa dirinya untuk menyerang Jagad dalam wujud rangda. Tapi setiap ia menyerang Jagad, luka jagad menutup begitu saja. Ada api putih yang membakar tubuh Jagad, Api Sukmageni.
Dari reruntuhan tanah itu, Paklek mendapatkan kembali kekuatan keris sukmageni dari Mbah Jiwo.
“Tuntaskan, Jagad!” Perintah Paklek.
Ia pun menggunakan kekuatan Ajian watu geni pada Keris Jagat Angkoro. Kekuatan keris itu menjadi berlipat-lipat meningkat hingga batasnya. Ia pun melemparkan keris yang menampung kekuatan danyang itu pada Angkarasaka dengan sekuat tenaga.
“Tidak! Jangan biarkan kesadaranku sirna di alam ini!” Perintah Angkarasaka pada nyai Durgati,.
Sosok itu pun menahan lengan Jagad sekuat tenaga. Jagat hampir tak berkutik dengan kekuatan danyang hitam itu, tapi dari asap hitam yang mengepul dua manusia muncul.
“Wanasuraa!!!”
Raungan keras terdengar bersama sebuah tendangan yang menguir Nyai Durgati dari tubuh Jagad. Kilatan cahaya melesat bertubi-tubi dari ajian lebur saketi Danan.
Danyang itu terpental, dan seketika geni baraloka paklek memulihkan kekuatan Danan dan Cahyo secara bersamaan.
“Kita tuntaskan,Mas Jagad!” ucap Danan.
Jagad mengangguk.
Cahyo membacakan ajian penguat raga pada Jagad, sementara Danan memperkuat pusaka Keris Jagat angkoro itu dengan mantra yang sama yang menyalakan kilatan cahaya pada keris Ragasukma.
Angkarasaka gentar dengan luapan kekuatan dari keris itu. Ia sadar, jika kesadarannya musnah, maka tubuhnya yang masih terjebak di alam bawah hanya akan menjadi cangkang kosong dan tak dapat dibangkitkan.
“Cukup! Kalian makhluk rendah tak pantas melawanku!!” Teriak Angkarasaka.
“Musnahlah! Kebangkitanmu takkan pernah terjadi!!!” Teriak Jagad.
“Makhluk terkutuk!!” Angkarasaka tak bisa menghindari serangan keris yang dikendalikan oleh Danan, Jagad, dan Cahyo itu. Ia berusaha melawan dengan sisa kekuatannya, namun semua itu sia-sia.
DHAARRRRR!!!!
Ledakkan besar menghancurkan sebagian wilayah tanah perjanjian. Kekuatan dari para danyang yang diserap dilipatgandakan dan diperkuat itu memusnahkan wujud Angkarasaka itu tanpa sisa.
“Ba—bagaimana bisa? Seharusnya serangan Angkarasaka itu menghabisi kalian berdua.” Wirabumi bersyukur melihat Danan dan Cahyo selamat dari serangan Angkarasaka, namun ia tak mengerti caranya.
Rasa penasaran itu terjawab saat Danan dan Cahyo tak mengindahkan rasa lelahnya dan buru-buru bangkit menghampiri tempat mereka beradu serangan tadi.
Terlihat sosok Nyi Sendang rangu sedang berlutut memegangi kepala seseorang yang tengah sekarat.
“Tidak.. Jayanti! Jangan!” Danan setengah tak percaya dengan apa yang terjadi.
Ketika Danan, Cahyo, dan Nyi Sendang Rangu bersiap menerima serangan Angkarasaka itu, tiba-tiba Roro Mayit muncul dan menerima serangan itu dengan sisa kekuatannya.
“Pergi! Tak ada manusia yang bisa selamat dari serangan ini!” Perintah Roro Mayit.
Nyi Sendang Rangu membawa Danan dan Cahyo menuju Jagad, Roro Mayit menerima serangan itu seorang diri.
“Tak disangka, Roro Mayit yang kekuatannya dirampas oleh Angkarasaka pun tak mampu bertahan. Walau telah meyadari hal itu, ia tetap memilih untuk menyelamatkan kita,” ucap Nyi Sendang Rangu.
Suasana di tanah itu hening seketika. Kematian Angkarasaka mengembalikan kekuatan para Danyang ke pemiliknya masing-masing. Tapi kekuatan Roro Mayit sirna.
“Kenapa? Kenapa kau melakukan ini, Jayanti? Kami ini bukan siapa-siapa!”
Danan berlutut di samping tubuh Roro Mayit, air matanya jatuh tanpa henti.
Dengan suara lemah, Roro Mayit tersenyum samar.
“Kalau bukan siapa-siapa, kenapa ada air mata untukku?”
Kata-katanya menyayat hati Danan. Ia menyeka air matanya, tapi penyesalan telah menyelimuti hatinya.
“Seharusnya kisahnya tidak seperti ini!” seru Cahyo dengan nada tinggi. “Seharusnya kau berkhianat, dan kami mengalahkanmu! Itu akan jauh lebih baik!”
Roro Mayit tertawa pelan, suaranya semakin melemah.
“Katanya kau takkan tertipu olehku… ternyata aku berhasil menipumu. Aku menang...”
Tawa kecil itu justru membuat tangisan Cahyo pecah, menggema di antara keheningan.
“Jangan tangisi aku. Aku ini makhluk jahat. Gelar Roro Mayit membuatku menikmati kematian manusia, menari di antara teriakan siksaan dan darah. Sudah banyak nyawa kaum kalian yang mati karenaku...” ucapnya lirih.
“Benar! Kau makhluk terkutuk!”Danan menyahut dengan penuh emosi. “Tapi kenapa aku tak bisa menahan air mataku!”
Roro Mayit tersenyum lembut mendengar jawaban itu, senyuman terakhirnya sebelum keheningan abadi menyelimuti tubuhnya.
…
“Nyi.. apa yang terjadi jika Danyang mati?” Tanya Danan yang berusaha mengendalikan air matanya.
Nyi Sendang Rangu melangkah sambil menatap langit yang mulai tenang. Apa akan yang ia katakan seolah mencerminkan dirinya sendiri.
“Kami ini hanyalah kekuatan alam yang memiliki kesadaran, Danan. Ada yang kesadaranya tumbuh, Ada yang merasuk pada makhluk atau roh manusia, atau ada yang mempelajari dari gerak gerik makhluk lain..
Seperti aku yang menyatu pada roh Rahayu, Roro Mayit menyatu para roh Jayanti. Lagipula Roro Mayit dan Nyi Sendang Rangu itu hanya gelar. Kelak bisa saja ada yang menggantikannya.
Saat kami musnah, kami hanya akan kembali menjadi bagian dari alam..”
Danan mengernyit. “Apa tak ada surga dan neraka untuk kalian?” tanyanya penuh penasaran.
Nyi Sendang Rangu tersenyum memahami kekhawatiran Danan.
“Kami hidup bukan untuk surga dan neraka, Danan. Berbeda dengan kalian. Jika kamu rasa keberadaan kami memiliki arti, maka percaya saja bahwa Tuhan itu Maha Adil dan takkan memberikan tempat yang buruk untuk makhluk yang baik..”
Danan menatap Nyi Sendang Rangu dengan sedikit kagum. Ia berajar banyak dari sosok yang selama ini terus menolongnya itu.
“Terima kasih, Nyi…”
***
Hancurnya kesadaran Angkarasaka membuat mustahil membangkitkan kembali makhluk terkutuk itu. Para Danyang hitam pun menyerah dan memilih mengucilkan diri.
Sayangnya Danan dan Cahyo harus menghadapi kenyataan bahwa tubuh mereka saat ini menjadi wadah bagi pusaka para danyang itu. yang artinya tak menutup kemungkinan mereka akan diincar oleh kekuatan-kekuatan besar setelah ini.
“Kitab leluhurku menceritakan tentang kedua pusaka itu. Aku akan mencari cara untuk melepaskan pusaka itu dari tubuh kalian..” Janji Mbah Jiwo.
“Kami benar-benar bergantung padamu, Mbah,” Balas Danan.
“Tapi sebuah ramalan juga tertulis di kitab itu..” Mbah Jiwo melanjutkan ucapannya sementara Cahyo dan Danan memperhatikannya dengan cemas.
“Ketika pusaka para danyang berada di alam manusia, maka rentetan peristiwa sakral akan terjadi.
Kebangkitan pusaka, peperangan antar pengguna pusaka yang melibatkan manusia-manusia yang menghamba pada pusakanya. Rentetan peristiwa yang berakhir dengan kejadian yang disebut dengan
‘Pusakayana’”
Mendengar penjelasan itu, Danan dan Cahyo berdiri meninggalkan tempat mereka.
“Mbah.. saya titip apa namanya itu, ‘Pusakayana’ pada mbah Jiwo ya! Saya nggak mau ikut-ikutan,” ucap Cahyo yang tak mau tahu semakin jauh.
“Benar, Mbah! Saya mau ngabisin kopi dulu sama jajan bakso! Nggka ikut-ikutan saya!” Danan buru-buru meninggalkan Mbah Jiwo.
Saat ini yang mereka butuhkan hanyalah segelas kopi, gorengan hangat dan makanan yang bisa menghangatkan perut mereka.
Mereka pun menikmati sajian itu di halaman luar sambil menatap langit yang mulai cerah. Dalam hati mereka membayangkan bahwa kadang mereka tak pernah sadar bahwa ada sosok-sosok besar yang memiliki andil dalam kejadian alam yang terjadi di sekitar mereka.
Mereka adalah makhluk-makhluk yang lahir dari kekuatan alam. Seharusnya mereka ada untuk menjaga alam agar tumbuh dan mengalir sebagaimana mestinya. Merekalah yang dikenal oleh orang zaman dulu denga sebutan, Danyang.
***
SELESAI
EPILOG
Di Kediaman Trah Biryasono
Suasana duka menyelimuti kediaman besar keluarga Biryasono. Bangunan kayu megah itu dipenuhi pelayat yang ingin memberikan penghormatan terakhir pada sosok yang begitu berpengaruh.
"Nggak... nggak mungkin!" Guntur dan Dirga tertegun, tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Bersama Nyai Jambrong, mereka menerobos kerumunan, berusaha mendekati jenazah yang tengah menjalani prosesi ritual keluarga. Namun, langkah mereka tertahan.
“Ritual itu memang selalu memakan korban,” ujar Nyai Jambrong dengan suara parau.
“Tapi... Mbok Sar? Nggak mungkin, Mbok Sar!” Air mata Dirga jatuh tanpa disadari.
“Mbok Sar itu sakti! Kok bisa meninggal begitu saja?” protesnya, suaranya bergetar.
Ketiganya duduk di sudut ruangan, terdiam dalam duka. Nyai Jambrong mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. “Kenapa kamu pergi duluan, Sar?” isaknya. “Padahal aku mau ngasih jarik yang aku janjikan dulu. Biar kita kembar…”
Namun, duka mereka tiba-tiba terganggu oleh suara berat dari arah belakang.
“Owalah… ternyata bener buatku! Kok cuma ditenteng-tenteng aja nggak langsung dikasih?”
Ketiganya menoleh cepat. Seorang nenek tua duduk di kursi roda, didorong seorang kerabat.
“Mbok… Mbok Sar?” Dirga tertegun.
“Kalau Mbok Sar masih hidup, itu jenazah siapa?” Guntur bingung.
“ENAK AJA NGATAIN SAYA SUDAH MATI! Bocah-bocah kurang ajar!” protes Mbok Sar sambil mengetuk lantai dengan tongkatnya.
Tawa pecah di ruangan itu. Nyai Jambrong memeluk sahabatnya sambil memastikan keadaannya.
“Yang meninggal itu kerabat mantu saya, gara-gara TBC, bukan gara-gara demit!” jelas Mbok Sar dengan tegas.
Meski suasana kembali cair, Mbok Sar menjelaskan bahwa ritual terakhirnya telah menghilangkan seluruh kesaktiannya. Kini, ia hanyalah seorang nenek biasa.
“Saya nggak menyesal,” ucapnya. “Sekarang, saya bisa lebih dekat dengan cucu-cucu saya daripada demit-demit.”
Nyai Jambrong terkekeh. “Nggak sakti pun, aku tetap bakal main ke sini. Siapa lagi yang bisa aku pamerin jarik-jarikku?”
“Sering-seringlah main ke tempat ini. Berikutnya bukan untuk masalah klenik, tapi untuk beristirahat sejenak dan menikmati ciptaan Tuhan, sebuah pemandangan sederhana di tempat ini..”
ucap Mbok Sar sambil menunjukkan halaman belakangnya yang berbatasan langsung dengan sungai dan pemandangan gunung yang berdiri megah dari jauh.
“Sepertinya.. aku akan lebih banyak ketemu
Arum. Memandangi ciptaan Tuhan yang paling indah..” ucap Guntur yang segera disusul dengan pukulan Dirga di kepala Guntur.
“Ngawur kamu!” Tegur Dirga.
“Pura-pura nggak tahu ya kalau neneknya denger?” Tambah Nyai Jambrong.
Guntur pun hanya membalas dengan cenngegesan teguran dari Dirga dan Nyai Jambrong itu. Dalam hatinya ia bersyukur bahwa Mbok Sar masih ada bersama mereka.
***
Di Desa Kandimaya
Seorang dalang yang sudah sangat sepuh lebih banyak menghabiskan waktunya duduk di teras rumahnya menikmati matahari pagi dan menyapa warga yang lewat.
Tak ada warga biasa yang menyadari pementasan terakhirnya. Sebuah pementasan yang hanya dapat dinikmati oleh para Danyang. Walau begitu, terkadang Ki Daru Baya masih sering tersenyum sendiri saat mengingat pementasan terakhirnya itu.
“Ki, ada titipan masakan dari Nyai Kirana,” Naya datang sambil membawa rantang.
“Ealah, Nduk. Bilangin Nyai Kirana, nggak harus masakin tiap hari kok..”
“Ndak papa, Ki. Emang masaknya banyak aja..”
“Yowis, Matur nurun yo, Nduk..”
Naya meminta ijin untuk masuk dan menyusun masakan itu di meja makan. Ia membawa kembali rantangnya dan berpamitan untuk kembali.
“Nduk…” Ki Daru Baya memanggil Naya sebelum ia pergi.
“Pripun, Ki?” (Bagaimana Ki)
“Siap-siap ya..” ucap Ki Daru Baya.
“Siap-siap apa, ki?” Naya Bingung, namun Ki Daru Baya membalasnya dengan senyum misterius.
“Siap-siap saja. Danan sudah meminta persetujuan saya. Dan sepertinya Nyai Kirana ibunya juga sudah setuju..”
“Eh!”
Naya menerka-nerka maksud Ki Daru Baya. Seketika wajahnya memerah dan tingkahnya menjadi canggung.
“Ya—yang bener, Ki?” Walau malu, Naya memastikan.
“Kenapa? Nggak mau sama Danan?”
“Nggak… nggak..! Jelas mau.. tapi Naya kan malu..”
Ki Daru Baya berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan mendekati Naya. Ia mengelus kepala gadis itu sambil tersenyum senang.
“Mbah ikut bahagia, Nduk. Kalian sama-sama orang baik. Restu Mbah selalu bersama kalian..”
“Matur nuwun yo, Ki.. Naya pamit, keburu muka Naya kayak kepiting rebus nanti..”
Ki Daru baya tersenyum sambil memandang perempuan yang pulang dengan tersipu-sipu itu. Ia tak menyangka, di usia senjanya masih bisa ikut merasakan kebahagiaan dari hubungan tulus sepasang kekasih itu.
***
Di Pulau Dewata…
“Nan, aku masih belum ngerti kenapa Roro Mayit sampai mau mengorbankan nyawa buat ngelindungin kita. Nggak mungkin Cuma gara-gara bucin kan?” Tanya Cahyo sambil berjalan menuju sebuah rumah adat yang tak jauh dari sebuah Pura.
“Aku juga nggak yakin, tapi aku berniat menanyakannya pada Nyi Sendang Rangu..” Balas Danan.
Mereka menghampiri seseorang yang sudah menanti mereka di pendopo, Bli Waja. Mengetahui kedatangan Danan dan Cahyo, ia segera berdiri menyambut mereka berdua dan mengajak masuk ke dalam.
“Tak disangka-sangka, kalian benar-benar datang ke sini..” Sambut Bli Waja.
“Ada sahabat di pulau ini, rasanya berdosa jika saya tidak pernah mampir ke sini,” Balas Danan.
Cahyo menyikut Danan sambi tertawa, “Bisa aja kamu basa-basinya, Nan. Ajarin napa?”
“Nggak usah diajarin kamu juga lebih pinter.”
Perbincangan singkat itu terhenti saat Bli Waja mengajak Danan dan Cahyo untuk masuk ke kediamannya. Suasana yang tenang dengan suara air dan aroma kemenyan terasa di dalam bangunan itu.
Danan dan Cahyo mengutarakan maksud kedatangan mereka dimana saat ini, mereka mencari cara untuk memisahkan pusaka para danyang yang tersegel di diri mereka. Menurut nasihat paklek, seharusnya pusaka itu tak akan terdeteksi saat mereka berada di luar pulau jawa.
Pulau Dewata seharusnya menjadi tempat yang aman untuk mereka. Bukan hanya karena terpisah dari pulau Jawa, tapi juga karena di Pulah Dewata ada seorang yang paling kuat diantara mereka semua.
“Ada beberapa ritual yang mungkin bisa kalian coba. Walau tidak berhasil, setidaknya kalian bisa merasakan manfaatnya,” jelas Bli Waja.
“Kami mengerti, Bli. Kami percaya, Bli Waja pasti akan mengarahkan kemi ke jalur yang baik,” Balas Danan.
Perbincangan cukup panjang terjadi diantara mereka. Namun di tengah obrolan itu, Cahyo terusik dengan sebuah kejadian yang menurutnya aneh.
Rumah Bli Waja tiba-tiba dikerumuni kera-kera yang tak sedikit. Diantara mereka ada seekor kera putih yang memimpin. Cahyo pun meninggalkan tempatnya duduk dan memperhatikan kera itu. Seketika, kera-kera itu pun terfokus pada Cahyo seorang.
“Danan! Sepertinya kita perjalanan kita di pulau ini tidak akan biasa-biasa saja,” Ucap Cahyo yang berusaha mengerti isyarat dari kera-kera yang menghampirinya.
“Jika mereka sampai meninggalkan habitatnya, mungkin saja kalian memang sudah dinanti di pulau ini..” Ucap Bli Waja.
***
(PERANG TANAH DANYANG -TAMAT )
TERIMA KASIHH!!!!
Akhirnya cerita ini bisa selesai di Twitter. makasi banget atas semua dukunganya baik yang di Karyakarsa, WA, Youtube, ataupun berupa komen, retweet dan likenya.
Mungkin ini bukan cerita terbaik, namun ini adalah cerita terpanjang dan terberat yang saya tulis selama ini. Semoga cukup untuk menghibur teman-teman semua ya..
Seperti biasa. Minta tolong tinggalin komen ya biar saya semangat buat tulisan berikutnya. Bantu retweet juga supaya JSD makin menjangkau banyak pembaca.
Pokoknya Terima kasih sudah mendukung hingga sejauh ini!!!
Saat ini belum ada cerita baru di Karyakarsa. rencananya akan ada spesial chapter lagi tentang roro mayit tapi tunggu dulu ya... yang belum baca spesial chapter tentang widarpa dan Nyi sendang Rangu bisa mampir ke sini :
karyakarsa.com/diosetta69/per…
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
