, 78 tweets, 13 min read Read on Twitter
-EKSPEDISI MALAM JUMAT KLIWON-

A THREAD SUPRANATURAL ACTIVITY

@bacahorror #bacahorror
sambil menunggu janji gw tentang "Tiang kembar yg menimpa neneknya temen gw" gak ada salahnya gw sekedar share pengalaman waktu pertama kali gw ikut mapala 2 tahun yg lalu.

bagi gw, ini salah satu malam yg paling menantang, karena, rupanya gw gak sendirian.
untuk mempersingkat malam kita, gak ada salahnya gw ingetin kembali, untuk melihat ke sekeliling, mungkin ada satu di antara kalian yg beruntung, dimana mereka ikut menemani sajian gw malam ini.
seperti yg gw bilang, kajadian ini terjadi 2 tahun lalu, waktu gw ikut kegiatan kampus yg bergabung dalam team Ekspedisi ke salah satu gunung yg kurang di kenal. kegiatanya sendiri bertujuan untuk menyambut mahasiswa baru yg bergabung di organisasi Mapala kampus.
singkatnya, gw adalah satu dari orang yg ikut.

well, siapa yg gak suka dengan gunung dan alamnya, jadi gw udah seneng aja bisa ikut kegiatan ini, namun, rasa seneng gw harus gw pikir ulang ketika jadwal keberangkatan rombongan adalah malam jumat kliwon.
gw sempet protes, kenapa harus jumat kliwon, dan dengan enteng mereka cuma bilang, "lu kan sering naik gunung, mau naik hari apa juga sama aja, lihatnya pohon doang"

salah satu dari pengurus memang kenal gw dan sepak terjang gw naik gunung, tapi, gw pikir ini bukan ide yg baik
tapi sudahlah.

akhirnya gw nurut apa kata mereka sebagai pengawas dalam perjalanan ini.

gunung yg gw maksud gk bisa gw sebutin, tapi gw bisa kasih gambaran sama kalian tentang gunung ini.
ini adalah gunung yg sebenarnya cukup di kenal di jawa timur, namun, kurang begitu populer untuk di gunakan sebagai jalur pendakian, karena, gunung ini lebih sering di gunakan untuk kamping atau sekedar jurit malam untuk sekolah dan kampus
jalurnya yg mudah di tempuh dengan mobil, sekaligus jalur yg paling penting, menghubungkan kota gw dengan salah satu kota wisata di jawatimur.

lanjut.

kami berangkat bersama rombongan jam 2 sore, kendaraan yg kami gunakan adalah bis yg sudah di sewa, karena cukup banyak yg ikut
di tengah perjalanan, para pengawas menjelaskan apa saja kegiatan kita disana nanti, karena tujuanya sendiri hanya pengenalan pada anak2 baru yg baru saja gabung ke Mapala.

gw gak begitu antusias dengernya, namun, semua berubah ketika mereka bilang, "nanti kita ada game dsana"
di tengah perjalanan, gw bisa lihat banyak anak2 dari fakultas yg berbeda2, sialnya, yg dari fakultas Desain, cuma gw sama temen satu2 nya, itu pun dia adalah salah satu pengawas yg akan bertugas.

akhirnya, gw cuma diem duduk di kursi paling belakang
jam 5, kami sampai di tanah lapang yg di tulis sebagai basecamp dengan logo Mapala kami. disana cuma ada rumah gazebo, yg gak terlalu besar, rupanya, ini bukanlah tujuan kita malam ini, karena tujuan kita, akan masuk jauh ke hutan.

gw akhirnya cuma cengo, sembari geleng2 kepala
maksud gw, ini jam 5 sore, dan bentar lagi, hari mulai petang, dan mereka nyuruh kita masuk hutan. gk masuk akal sama sekali.

tapi akhirnya, kami semua setuju, gw bisa lihat gk ada yg keberatan sama sekali, mungkin, ini adalah pengalaman pertama mereka di gunung.
dan mereka gk tau aja, apa yg tinggal di tempat seperti ini.

akhirnya, pembagian kelompok pun di mulai, dengan masing2 anggota per kelompok di isi oleh 4 orang.

gw dapat kelompok dengan 2 cewek dari fakultas Ekonomi, dan fakultas teknik.
sebut aja namanya, Ndira, Umil dan Bekti. gw gk keberatan sama sekali, siapapun kelompoknya toh ini cuma kegiatan Mapala biasa yg pasti cuma jalan2 nikmatin malam.

tapi rupanya, Ndira lebih sering curi pandang ke arah gw, sampe, dia akhirnya bilang waktu kita cuma berdua
"Masnya, bisa lihat ya?"

gw yg denger itu cuma ngerespon dengan bingung. "lihat apa ya mbak"

tapi dia gk ngelanjutin, lalu pergi begitu aja.

tepat setelah sholat isya, kami bersiap masuk ke hutan dengan jalur yg sudah di tandai. disini, semua di mulai.
kelompok gw jadi kelompok ke 3 yg yg berangkat, dimana masih ada 2 kelompok lain, di belakang. sepanjang perjalanan, gw cuma bisa lihat pohon pinus dan semak belukar, berbekal senter, gw jalan paling belakang.

di depan ada Bekti yg buka jalan plus lihat tanda.
ketika kami semakin menanjak, gw bisa lihat beberapa kali Ndira ngelirik gw, seolah ada yg mau dia bicarain, gw pun jadi gk nyaman, di lihat seolah2 gw bawa sesuatu.

20 menit perjalanan gw isi dengan nafas, karena gw punya masalah dengan pernafasan terutama ketika ada di suhu
dingin.

Bekti memutuskan berhenti waktu melihat Umil udah gk bisa lanjut. kami pun berhenti di salah satu pohon.

disini, Ndira ngedeketin gw.

"Lihat gak disana ada apa?"
Ndira nunjuk sesuatu di semak belukar.

"iya, gw lihat pocong" kata gw sebel.
Ndira cuma nyengir, kemudian pergi lagi. gw, masih lihat tempat itu, dan tiba2 gw jadi merinding setelah ngomong itu, padahal niat gw cuma bercanda. gw gk bisa lihat apa2,

semenjak kejadian itu, gw ngerasa ada yg ngikutin di belakang, leher belakang gw, jadi lebih dingin.
sampailah kita di tempat kumpul yaitu di sebuah lahan kosong, seperti lapangan, dan gw bisa lihat banyak orang yg mulai mendirikan tenda,, perjalananya sendiri memakan waktu cukup lama, 50 menit.

anehnya, 2 kelompok yg seharusnya di belakang gw, sudah pada sampe duluan.
"Bangs*t, lu kemana aja" Cholis, temen gw yg sefakultas nyamperin gw sambil marah.

"maksudnya?" gw bingung.

gw bisa lihat banyak pengawas lihat gw gak enak. akhirnya cholis bawa gw menjauh.

"jalan 15 menit dari basechamp aja sampe hampir 1 jam, gw udah panik sama yg lain"
"lah. gw lewat jalan yg lu pada kasih tanda" kata gw membela,

"ya tapi hampir 1 jam, lu muterin gunung apa gimana?"

Ndira ngedeketin gw dan cholis kemudian dia bilang. "sorry kak, gw tadi capek banget, jadi minta berhenti lama buat istirahat"

gw, bisa lihat Ndira bohong.
"ya udahlah, diriin tenda buat kelompok, habis ini, ada game malam" Cholis pergi balik ke tenda pengawas,

sebelum gw tanya, Ndira seolah tau dan langsung jawab. "mereka emang suka mas gangguin orang kaya kita"

kalimat itu bikin, gw makin gk enak.
gw dan Bekti mulai mendirikan 2 tenda sementara Umil dan Ndira, siapin tempat api di depan tenda, jarak antar tenda gak terlalu jauh, tapi masih lega.

gw masih mikirin ucapan Ndira, entah kayanya gw familiar dengan kalimatnya.

setelah semua beres, Cholis manggil gw
rupanya, gw di tunjuk sebagai kepala kelompok awalnya gw nolak tapi rupanya si Bekti yg ngajuin nama.

game malam sendiri adalah game dimana kita akan ngambilin sampah di beberapa titik, tujuanya sendiri untuk menghargai alam dengan membersihkan sampah yg di buang sembarangan
rupanya, gw baru tau. lapangan ini adalah lapangan yg biasa di gunain buat off road sepeda gunung, tapi karena malam jadi gw gak lihat jelas. bila ini tempat off road, artinya titik ini gak begitu jauh dari jalan utama.

kembali gw mikir, kok bisa sampe selama itu kami jalanya.
gw balik dan ngejelasin ke yg lain, sekaligus ngasih 2 kantong kresek, dimana yg paling cepet ngumpulin bisa langsung gabung ke api unggun utama untuk ikut jurit malam bareng kelompok lain.

disini, gw bisa lihat Ndira lihat sekeliling, ada kecemasan dalam wajahnya.
gw langsung kerahin begitu pengawas meniup peluit bahwa game sudah di mulai.

tanpa pikir panjang, gw ngajak yg lain ke jalur menuju jalan utama, karena setau gw disana pasti banyak sampah. rupanya, Ndira berdiri tepat di belakang gw.
Bekti akhirnya sama Umil, benar saja, gw bisa lihat kantong kresek dimana2, selagi gw mungutin, Ndira akhirnya ngomong.

"Pocong e usil ya mas"

gw cuma ngelihatin dia sambil tanya. "pocong apa sih mbak?"

"lha itu, yg tadi bikin kita muter2"
gw lirik, Bekti dan Umil cukup jauh buat denger obrolan kami. akhirnya gw tanya.

"Ndir, kamu bisa lihat begituan ta? apa cuma bikin gw jadi ketakutan"

"Loh" dia ngelihat gw curiga "Masnya bisa lihat juga kan?"

"gw gak bisa Mbak" akhirnya gw bilang
"Lha tapi kok tadi tau, kalau ada pocong yg tak tunjuk tadi"

gw akhirnya ngelihat dia serius "lu beneran? gak lagi bercanda kan?"

Ndira cuma menggeleng.

"ada berapa pocong disini?" kata gw, akhirnya nyerah.
"gak tau mas. gak tak hitung. 40 mungkin"

gw langsung lemes.

"tapi mas" kata Ndira, "mata kamu loh, bercahaya. masa gak bisa lihat?"

akhirnya gw tau alasanya. gw jadi inget, waktu peristiwa gw di bawa ke banyuwangi.

"iya, sudah di hilangkan kok"

akhirnya Ndira paham
dari situ, gw mulai tertarik, dan kemudian tanya. "disini, cuma lu doang yg bisa lihat ya?"

Ndira cuma menggeleng, "ada 5 yg bisa mas, terhitung kamu seharusnya, tapi sekarang jadi 3 orang"

gw coba tanya, siapa aja, tapi si Ndira gk mau ngasih tau.
"jadi, kalian sama2 bisa tau siapa aja yg bisa lihat"

Ndira cuma mengangguk kemudian bilang "gk semuanya bisa tau, tapi yg menonjol yg bisa lihat."

karena semakin penasaran, akhirnya gw tanya ke Ndira ada apa saja disini.

"disini banyak pocongnya mas, tapi ada juga mbak2nya"
"Mbak2 apa Ndir?"

"itu di atas pohon, ada mbak2 yg lagi lihatin kita"

gw ngelihat ke atas dan bener saja, leher gw tiba2 meremang dengan sendirinya.

"jadi mereka yg bikin kita muter2"

Ndira akhirnya mengangguk.

setelah kantong kami penuh, kami pun balik ke lapangan
tapi, rupanya, di lapangan gw ngelihat gelagat yg aneh.

salah satu tenda tampak di penuhin orang2 yg berkumpul memutari. gw pun ikut lihat apa yg terjadi.

rupanya, salah satu pengawas cewek, di pegangi oleh pengawas lain. matanya melotot melihat semua orang yg ada disini.
gw ngelirik ke Ndira kemudian ngomong pelan. "lu bilang ada 5 orang termasuk gw, seharusnya jadi 4 kan, kok bisa lu ngomong jadi 3"

Ndira akhirnya ngomong "yg satu lagi, udah di rasuki soalnya"

gw kaget. dengan jarak sejauh itu, bagaimana mungkin Ndira bisa tau akan hal ini.
bisa di bilang keadaan waktu itu udah gk terkendali, hampir semua pengawas sibuk buat nahan cewek yg gw tau kating gw dari fakultas Ekonomi, gw inget dia juga dulu yg jadi pengawas waktu ospek, yg buat gw bingung, badan cewek sekecil itu, bisa buat 5 cowok nahan bareng2
kemudian, sebegitu gk terkendalinya keadaan waktu itu, akhirnya gw inisiatif buat bantu, di situ, waktu pegang tanganya, gw kaget, badanya dingin banget, gk cuma itu, tatapan cewek itu ngelihatin gw seolah2 gw ini yg dia cari, dia nyengir dan bikin gw merinding
Ndira ngedeketin gw, "Mas, gw lupa. hari ini jumat kliwon bukan sih?"

"Lah" kata gw, "bukanya lu udah tau, kita kesini pas jumat kliwon"

wajah Ndira kaya nyembunyiin sesuatu, kemudian dia berujar. "ini tempat rame banget mas, udah kaya pasar"

gw yg denger itu langsung tau
disitu, cewek itu mulai ketawa, serem banget ketawanya sampe gw gk tau harus bereaksi gimana, sementara pengawas yg lain mulai baca2 ayat suci, sambil di siram air.

gw cuma ngebatin "lah, disini gk ada penanggung jawabnya atau gimana"
setelah ketawa, dia nangis, kenceng banget suaranya, dan terakhir, dia mengeram mirip suara macan. akhirnya setelah gantian pegangin dan gk bisa apa2, kami sepakat buat angkat dia, sementara satu orang mulai cari pertolongan.
disini, Ndira masih ngelihatin sekeliling, sementara anak2 yg lain, di suruh buat tetap kumpul dan jangan ada yg melamun.

gw ngedeketin Ndira.

"ada apa sih"

"lu gk kerasa apa gimana?" kata Ndira.

"makasudnya?"
"mereka ngincar kita," kata Ndira.

"kita, gimana maksudnya?"kata gw

"tuh tadi lihat gk sih mata tuh makhluk ngelihatin lu sambil nyengir?" Ndira akhirnya nunjuk tanah lapang di sekeliling
"disini itu udah kaya pasar!! rame banget, gw gk pernah lihat sebanyak ini ngumpul jadi satu"

"trus gimana?"

Ndira ngelihatin cewek itu yg juga ngelihatin kami. "lu tau berapa yg masuk ke tubuh tuh cewek?" kata Ndira

"berapa emang?"

"sekitar 14'an lah"
akhirnya gw tau apa yg terjadi, jadi gw tanya. "sekarang lu kasih tau, siapa, selain gw, lu dan tuh cewek yg bisa lihat beginian?"

Ndira tampak giring gw ngikut ke anak2 yg masih ngumpul kemudian nunjuk cowok yg duduk di sudut.

"Mas yg itu" katanya nunjuk.
gw pun mendekati mas itu, yg posisinya dia duduk di ujung, hanya saja kayanya dia diem, anteng, seolah gk panik sendiri, Ndira nahan gw, "dia jahat" kata Ndira.

gw gk paham maksudnya, tapi begitu gw udah deket banget, dia ngelihat gw, kemudian, nyinden
gw otomatis kaget sama anak2 yg ada di dekatnya, gimana gk kaget ketika melihat cowok nyinden dengan suara cewek.

gw semakin merinding total. gw akhirnya cuma bisa ngelihatin, pengawas yg lain, gk ada yg berani deketin nih cowok.

padahal Ndira sendiri bilang.
"cuma ada satu yg di dalam tubuhnya"

tapi seolah2 kita semua tau betapa negatif energi yg merasuki, semakin larut akhirnya gw denger suara motor, ternyata pengawas yg di tugasin buat nyari bantuan datang sama warga

disana akhirnya beliau bantu megangin, di belakangnya, ada mbah
mbahnya ini pake sarung doang, dimana dia gk pake baju, padahal waktu itu dingin banget.

"Walah2, iso2 ne ngadakno acara ngene malam jumat kliwon ngene to le le" (walah2, bisa2nya kalian mengacakan acara pada malam jumat keliwon begini sih nak nak) kata beliau
pertama, tuh mbah2 ngelihatin cowok yg nyinden sendiri, tapi kayanya beliau gk perduli, malah datangin cewek yg pertama kerasukan, cara nyambutnya pun gk masuk akal, karena yg dia lakuin, cuma megang jempol kakinya, tiba2 dia teriak, kaya kesakitan
"Rasakno" kata mbah itu. gw kagum ngelihatnya, karena setelah teriak keras tuh cewek jatuh pingsan, kemudian mbahnya bilang sudah selesai, yg kedua ini, mbahnya cuma megangin kepalanya, walaupun mata tuh cowok melototin mbah ini, tapi setelah entah nyabut apa di ubun2nya, pingsan
cowok itu jatuh pingsan begitu saja.

setelah itu, gw bisa lihat mbah itu ngobrol sama para pengawas, dan kemudian kami meninggalkan tempat itu, turun lebih ke bawah, disana ada surah kampung, gw dan yg lain akhirnya bermalam disana.

"apa sih yg lu lihat tadi?" kata gw
"yg mana?" katanya bingung.

"yg katanya jahat" jawab gw.

"Oh, yg itu. gw gk tau tiba2 dia datang entah darimana, karena sebelumnya gw gk lihat dia datang darimana?"

"maksudnya gimana?" gw bingung.

"ya, tuh makhluk datang gitu aja, dan hawanya itu bikin merinding"
"orang kaya lu bisa merinding juga" kata gw baru tau

""tak kasih tau, tuh cewek jadi rebutan 14 yg masuk ke tubuhnya, tapi nih makhluk, dia sendirian masuk dan gak ada yg ikutan masuk, jadi coba lu simpulin seberapa kuatnya dia sampe bikin yg lain gk berani, padahal itu rame lo"
"trus, darimana lu tau, kalau ada yg kerasukan"

Ndira diam cukup lama, kemudian dia bilang "ada yg ngasih tau gw"

"ngasih tau gimana?" tanya gw penuh selidik

"ya ada yg ngasih tau gw, mbah buyut" katanya.

"Mbah buyutmu?"

"nggih" jawab Ndira dengan wajah tidak tertarik
"maksudnya, mbah buyutmu disini, dia yg ngasih tau"

akhirnya setelah gw pojokin Ndira pun menceritakan semuanya.

"sebenarnya, gw di kasih ini, dan ini itu kaya turun temurun dari keluarga bapak, katanya, buat jaga gw dari kejadian kaya tadi, itulah kenapa gk ada yg deketin gw"
"mbah buyutmu yg jagain elu gitu?" kata gw

"nggih. mbah buyut gw yg jaga"

"dimana beliau sekarang"

Ndira ngelihatin gw, "dia di belakang lu, sedang ngendus bau badan lu"

gw cuma bisa bantah "bercandanya gk lucu sih ini"

"terserah"

tapi, gw emang ngerasa gk nyaman
"trus, lu bilang mata gw bercahaya, kok gw gk bisa lihat mata lu bercahaya" kata gw

"lu sendiri kan yg bilang, ada yg nutup mata batin lu" Ndira diem cukup lama, kemudian ngasih tau sesuatu yg baru gw tau "alasan sekuat apa coba yg bisa bikin mata batin lu di tutup paksa gini"
gk tau kenapa, pertanyaan Ndira kaya semacam kode tersirat yg bikin gw harus bertanya lebih jauh.

"maksudnya gimana?"

awalnya dia ragu, tapi akhirnya Ndira bicara sama gw.

"ada 2 manusia yg bisa lihat bangsa alus. memperdalam kebatinan dan pemberian langsung dari tuhan"
"masalahnya, lu masuk ketegori yg kedua" Ndira diem lagi, "dan gk butuh alasan untuk orang yg belajar kebatinan buat nutup mata batinya, tapi, untuk orang dengan kelebihan seperti ini, itu susah buat nutupnya, lu gk inget tahapan bagaimana pas mata batin lu di tutup"
tiba2 gw inget lagi kejadian waktu itu. waktu dimana gw di bawa ketemu sama orang yg bisa nutup, itu pun di lakukan setelah gw sembuh sehabis khitan.

gw diem lama, kemudian tanya. "gimana cara lu tau kalau gw dari lahir bisa lihat?"
Ndira ngelihat gw kaya penuh selidik. "Lu gk tau apa2 ya kayanya, apa sengaja gk di kasih tau ya?"

"gw gk tau apa2" kata gw pasrah

"pantes lu gk nangkap pesan gw dari tadi" katanya, gw akhirnya tanya apa maksud pesan itu tapi, Ndira menolak ngasih tau lebih jauh.
"lu pengen tau gimana gw bisa tau lu bisa lihat dari kecil" katanya "tau di belakang mata kamu, tepatnya di belakang kepala kamu, disana ada 2 mata lagi, meskipun lu bilang udah di tutup, tapi masih kelihatan bercahaya, gw asumsiin lu sama kaya gw" katanya.
"trus"

"cewek dan cowok tadi beda, mereka kayanya belajar kebatinan dulu, jadi mereka gk bisa lihat gw"

"satu lagi siapa yg bisa lihat?"

Ndira kayanya nahan diri, buat ngasih tau yg terakhir, jadi akhirnya gw gk maksain
Malam itu, gw pake buat tanya banyak hal, termasuk rupanya, sesama yg di kasih sejak lahir bisa lihat hanya dengan mata, pantes, kebanyakan tiap gw ketemu orang yg tau begituan, mereka selalu memandang gw tertarik, di antaranya, orang yg gw lupa namanya, yg nyuruh gw
nyuruh gw buat tiduran beralaskan daun pisang dan berbantal batang pohon pisang.

(lain kali gw bakal ceritain, karena ini bakal lama. gk sekarang dulu.)
disitu juga gw ngomongin makhluk apa aja yg ada disana, Ndira pun ngasih tau gw tentang kesalahan kaprah orang2, dimana sebenarnya pocong itu terbang, mereka gk loncat seperti di film.

"Pocong itu terbang, mereka gk lompat, dan kuntilanak sama sundel bolong itu berbeda"
"sundel bolong itu kakinya gk napak tanah, sedangkan kuntilanak, mereka gk terbang, tapi merangkak, lu bayangin, kalau lihat kuntilanak di atas pohon, di pikir mereka terbang, padahal, mereka merangkak ke atas pohon"

ngobrolin hal itu bikin gw merinding setelah tau banyak hal
keesokan paginya, Bis kami datang, kami kembali melanjutkan aktifitas Mapala, dan penerimaan anggota baru, sampai akhirnya balik ke Bis sebelum pulang, termasuk berkemas.

sementara cewek dan cowok yg sempet kerasukan, kami sepakat gk ngmongin itu sama sekali
yg gw tau, si cewek emang lagi ada masalah menurut kabar yg gw denger, sedangkan si cowok, dia lagi sial saja sempet kosong pikiranya, karena kaget mungkin atas apa yg ada disana. di dalam Bus, Ndira balik duduk sama Umil, saat itu, entah kenapa gw udah nebak siapa orang ke 5 itu
walaupun ini kejadian yg cukup menegangkan, gw dapat pelajaran banyak dari ini.

sekarang, gw masih sering sih lihat Ndira di kampus, tapi, gw udah gk lanjut ikut Mapala, karena sekarang, gw kerja sambil kuliah.
terakhir kali kami ngobrol, waktu gw ketemu dia di kantin, Ndira ngasih tau sesuatu.

"sebenarnya, lu juga ada loh yg jagain, hanya saja, dia jaganya cuma dari jauh" gw yg denger itu pun kaget awalnya, tapi Ndira ngelanjutin "gw rasa , nyokap lu tau sesuatu, coba tanyain beliau"
namun sampai saat ini, gw belum tanya sama sekali sama nyokap, lain kali mungkin gw bakal tanyain, toh sekarang gw udah nyaman dengan kehidupan gw yg sekarang.

terakhir : sebenarnya, di kamar gw udah di tanam sesuatu, yg bikin makhluk seperti itu gk bisa masuk.
makanya, gw paling nyaman ada di kamar, pernah gw usul buat di tanam di rumah, tapi rupanya penghuninya gak terima karena mereka disini lebih lama, akhirnya demi kebaikan bersama, cuma di tanam di kamar biar gw punya ruang privacy, kalau ada waktu gw bisa ceritain
intinya, gw cuma mau bilang. mungkin di antara kalian juga ada yg lagi merhatiin atau jagain, apapun itu, lebih baik kalau kita bisa bersikap bijak, dan kalau tidak menganggu, ya biarin aja, yg penting, jangan pernah jauh sama yg buat hidup,
kalau kata orang jawa.

"Sing Moho kuoso, sing Nentuno garis uripe menungso"
(Yang maha Kuasa, adalah yg menentukan garis hidup manusia)

gw tutup Thread ini. selamat malam.

@bacahorror #bacahorror
Missing some Tweet in this thread?
You can try to force a refresh.

Like this thread? Get email updates or save it to PDF!

Subscribe to SimpleMan
Profile picture

Get real-time email alerts when new unrolls are available from this author!

This content may be removed anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!