Salah satu pelajaran yg bisa diambil dari wabah virus corona ini adalah masyarakat jadi makin paham ilmu penyakit infeksi. Termasuk beda antara virus dan bakteri. Dan antibiotik bukanlah obat untuk infeksi virus. Semoga penggunaan antibiotik yg "membabi buta" berkurang.
Benar sekali. Mayoritas penyakit infeksi pada manusia disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Ketika mayoritas kunjungan karena penyakit infeksi berakhir dengan antibiotik, maka bertanyalah: benarkah diagnosisnya karena infeksi bakteri? Atau infeksi virus yg diobati antibiotik??
Infeksi virus: tidak perlu antibiotik.
Infeksi bakteri: obatnya antibiotik.
Terapi harus sesuai diagnosis.
Mayoritas infeksi virus pd saluran napas atas, termasuk yg disebabkan oleh kelompok coronavirus, adalah self-limited, alias sembuh sendiri seiring waktu, oleh sistem imun.
Wabah coronavirus ini juga membuat masyarakat paham bahwa mencegah adalah lebih baik daripada mengobati. Masyarakat jd paham pentingnya vaksin dan imunisasi dalam mencegah penyakit infeksi. Meskipun vaksin untuk COVID-19 belum selesai dibuat. Vaksinasi terbukti manfaatnya.
Ketahuan terhadap vaksinasi/imunisasi (vaccine hesitancy) adalah salah satu dari 10 ancaman (global threats) di bidang kesehatan thn 2019. Mengapa? Masyarakat mendapatkan informasi parsial alias tidak utuh. Jadi salah paham. Padahal faktanya vaksin aman dan efektif. Ini bukti.
Wabah coronavirus juga membuka pikiran masyarakat tentang konsep wabah/epidemi dan penyebaran infeksi. Semua bisa ditelusuri satu per satu sumber penular dengan konsep tracing/pelacakan. Isolasi menjadi upaya penting mencegah penyebaran meluas. Tiap orang harus peduli orang lain.
Maka apapun penyakitnya, ringan sekalipun, apabila menular, maka orang sakit harus "sadar diri" dan melakukan pencegahan agar tidak menular ke orang lain. Sesuai cara penyebarannya: udara, percikan dahak, lewat mulut lalu saluran cerna, cairan tubuh, kontak langsung, dll.
Pelajaran penting bagi dokter: sampaikan kepada pasien DIAGNOSIS utuh dalam bahasa MEDIS. Lalu dijelaskan lagi bahasa mudahnya. Agar pasien dapat mempelajari lebih detil penyakitnya. Browsing, Googling. Supaya tahu cara mencegahnya, mencegah penyebarannya, mengobati sampai tuntas
Tegas saja: Tuberkulosis, bukan "flek paru". Demam tifoid, bukan "gejala tipes". Strep throat, bukan "radang tenggorokan". Roseola atau rubella atau fifth disease, bukan "tampek". HFMD, bukan "flu Singapur". Dst.. Informasi parsial dapat berujung pengobatan tidak tuntas.
Saya ambil contoh tuberkulosis (TB/TBC). Kalau hanya dibilang "flek paru", berisiko pengobatan tidak tuntas minimal 6 bulan. Risiko kuman resisten/kebal. Belum lagi orang sakit tidak aware. Masih batuk/buang dahak sembarangan. Bakteri menyebar terus. Penderita TB terus bertambah.
Apalagi sebagai dokter anak, melihat anak-anak sakit meningitis TB, miris rasanya. Kecacatan yg ditimbulkan sesudahnya permanen. Anak-anak ini tertular orang dewasa yg tidak paham dirinya sakit & batuk tidak diobati. Atau mungkin pengobatannya tidak tuntas. Ini ada di depan mata.
Ralat typo: Keraguan terhadap vaksinasi/imunisasi (vaccine hesitancy) adalah salah satu dari 10 ancaman (global threats) di bidang kesehatan thn 2019. Mengapa? Masyarakat mendapatkan informasi parsial alias tidak utuh. Jadi salah paham. Padahal faktanya vaksin aman dan efektif.
Keraguan terhadap vaksinasi/imunisasi (vaccine hesitancy) adalah salah satu dari 10 ancaman (global threats) di bidang kesehatan thn 2019. Mengapa? Masyarakat mendapatkan informasi parsial alias tidak utuh. Jadi salah paham. Padahal faktanya vaksin aman dan efektif. Ini bukti.
• • •
Missing some Tweet in this thread? You can try to
force a refresh
Ada satu penyakit yg tidak kunjung berakhir kasusnya dalam 6 bulan ini. ada kasus baru tiap hari. Sesuatu yang tdk saya jumpai dlm 21 tahunan karir sebagai dokter. Tiap bulan ada yg meninggal di RS kami. Tiap pekan ada yg dirawat di ICU anak dg ventilator/HFNC. Apakah itu?
Betul sekali: CAMPAK. Alias measles/rubeola/morbili. Penyakit dengan daya tular sangat tinggi. Komplikasinya berat. Bahkan saya khawatir 10 tahunan lagi, akan muncul kasus2 baru SSPE. Penyakit langka saat ini. Na"udzubillah.
Mayoritas kasus yang kami temui dan rawat adalah: yang tidak diimunisasi sama sekali, atau tidak lengkap imunisasinya. Inilah mengapa kami selalu mencoba memberikan edukasi berbasis bukti dan ilmu (data statistik terkini dan angka serta analisis menyusul).
Membaca kata “Vaksin Bill Gates”, apa yang ada dalam benak Anda?
Sebagai dokter anak yang menangani kasus tuberkulosis (TB) berbagai rupa, mulai dari TB sensitif obat sampai resisten obat, dan menjadi narasumber serta dilatih sebagai Coach TB di Jakarta Timur. Juga penulis buku "Pro Kontra Imunisasi" dan pernah jadi Champion Imunisasi IDAI…
Tanggapan saya adalah: Uji klinis vaksin adalah hal yang biasa-biasa saja.
Kasus terbanyak yang memenuhi ruang rawat anak:
- Pneumonia/bronkopneumonia
- Demam berdarah
Kenali kapan harus ke dokter/RS ketika anak dicurigai mengalami 2 kondisi ini
Pneumonia/bronkopneumonia (sama saja sebenarnya, beda terminologi yang digunakan) ditandai dengan sesak napas. Bukan sekedar batuk-pilek biasa (common cold/selesma, atau influenza/flu)
Ketika anak sesak, meskipun bisa saja bronkiolitis (<2 tahun) atau asma, bawalah ke dokter/RS
Penyebab pneumonia adalah virus/bakteri. Ketika dokter mendiagnosis pneumonia, banyak panduan menggunakan antibiotik sebagai tata laksana (dianggap karena infeksi bakteri). Diberikan juga cairan (infus) dan oksigen apabila anak dirawat.
Sering sekali kita meraba benjolan di leher anak, belakang telinga, sampai bagian belakang kepala. Jumlahnya bahkan lebih dari satu
Itulah kelenjar getah bening (KGB). SEMUA manusia pasti punya KGB di sekeliling leher dan sekitarnya, yang lebih mudah teraba pada balita.
Jadi: KGB bukanlah penyakit. Ketika KGB teraba (membesar), itu adalah TANDA, adakah infeksi/proses peradangan lain yang membuat KGB membesar? Inilah bentuk respon sistem imun tubuh. Lalu, kita evaluasi: apa penyebabnya? Kapan harus khawatir? Kapan curiga TB kelenjar? Keganasan?
Saya unggah ke Instagram, ternyata rame juga tanggapannya 😅
Kalau di sini rame ga ya?
Mari kita lanjutkan...
Nyamuk kan ada macam2 ya. Ingat pelajaran SD/SMP. Ada nyamuk Aedes, Culex, dll.
Wolbachia yang disebut di postingan sebelumnya adalah BAKTERI. Bukan nyamuk. Kalau bakteri Wolbachia dimasukkan ke dalam nyamuk Aedes, apakah lantas nyamuk Aedes berubah nama jadi nyamuk Wolbachia? 😁
Lalu terkait VIRUSnya. Yang dibawa si nyamuk dan buat sakit kan VIRUSnya ya, bukan nyamuk ataupun bakteri Wolbachia-nya. Adanya BAKTERI bernama Wolbachia di dalam tubuh nyamuk Aedes, membuat virus Dengue tidak mudah berpindah dari satu orang ke orang lainnya.
Pria berjubah merah ini ingin menyampaikan, tanpa trik, bahwa batuk-pilek yang dialami oleh mayoritas anak saat ini bisa sembuh tanpa perlu minum obat. Namanya common cold alias selesma. Nggak perlu obat batuk, obat pilek, apalagi antibiotik, termasuk nggak perlu "diuap".