Terima kasih para ulama @MUIPusat yang sudah sangat mendengarkan fakta lapangan dan pendapat ahli kesehatan, untuk melindungi seluruh masyarakat Indonesia.
Betapa rindunya kami dapat kembali shalat berjamaah 5 waktu di masjid dan shalat Jum'at.
Tapi kami taat ulama
Ketika MUI mengeluarkan maklumat ini, kami kembali diingatkan ajaran Islam senantiasa menjaga keselamatan jiwa (hifzun nafs) seluruh umat manusia, sebagai bagian dari penjagaan terhadap agama (hifzud diin) ini, dan semuanya bagian dari maqashid syariah. Badan sehat, ibadah lancar
Kami sangat mengapresiasi MUI yang sangat memperhatikan fakta ilmiah berbasis epidemiologi, dengan pertimbangan "basic reproduction number" (R) yang belum menunjukkan angka di bawah satu, sehingga menekankan umat Islam agar tetap patuh beribadah di rumah.
Juga tempat-tempat pendidikan seperti pesantren tetap diliburkan melihat kasus baru di masyarakat yang masih terus bertambah. Umat Islam harus menjadi bagian dari solusi permasalahan yang ada. Maka jangan sampai masjid dan pesantren menjadi cluster-cluster baru penyebaran virus.
Ada satu penyakit yg tidak kunjung berakhir kasusnya dalam 6 bulan ini. ada kasus baru tiap hari. Sesuatu yang tdk saya jumpai dlm 21 tahunan karir sebagai dokter. Tiap bulan ada yg meninggal di RS kami. Tiap pekan ada yg dirawat di ICU anak dg ventilator/HFNC. Apakah itu?
Betul sekali: CAMPAK. Alias measles/rubeola/morbili. Penyakit dengan daya tular sangat tinggi. Komplikasinya berat. Bahkan saya khawatir 10 tahunan lagi, akan muncul kasus2 baru SSPE. Penyakit langka saat ini. Na"udzubillah.
Mayoritas kasus yang kami temui dan rawat adalah: yang tidak diimunisasi sama sekali, atau tidak lengkap imunisasinya. Inilah mengapa kami selalu mencoba memberikan edukasi berbasis bukti dan ilmu (data statistik terkini dan angka serta analisis menyusul).
Membaca kata “Vaksin Bill Gates”, apa yang ada dalam benak Anda?
Sebagai dokter anak yang menangani kasus tuberkulosis (TB) berbagai rupa, mulai dari TB sensitif obat sampai resisten obat, dan menjadi narasumber serta dilatih sebagai Coach TB di Jakarta Timur. Juga penulis buku "Pro Kontra Imunisasi" dan pernah jadi Champion Imunisasi IDAI…
Tanggapan saya adalah: Uji klinis vaksin adalah hal yang biasa-biasa saja.
Kasus terbanyak yang memenuhi ruang rawat anak:
- Pneumonia/bronkopneumonia
- Demam berdarah
Kenali kapan harus ke dokter/RS ketika anak dicurigai mengalami 2 kondisi ini
Pneumonia/bronkopneumonia (sama saja sebenarnya, beda terminologi yang digunakan) ditandai dengan sesak napas. Bukan sekedar batuk-pilek biasa (common cold/selesma, atau influenza/flu)
Ketika anak sesak, meskipun bisa saja bronkiolitis (<2 tahun) atau asma, bawalah ke dokter/RS
Penyebab pneumonia adalah virus/bakteri. Ketika dokter mendiagnosis pneumonia, banyak panduan menggunakan antibiotik sebagai tata laksana (dianggap karena infeksi bakteri). Diberikan juga cairan (infus) dan oksigen apabila anak dirawat.
Sering sekali kita meraba benjolan di leher anak, belakang telinga, sampai bagian belakang kepala. Jumlahnya bahkan lebih dari satu
Itulah kelenjar getah bening (KGB). SEMUA manusia pasti punya KGB di sekeliling leher dan sekitarnya, yang lebih mudah teraba pada balita.
Jadi: KGB bukanlah penyakit. Ketika KGB teraba (membesar), itu adalah TANDA, adakah infeksi/proses peradangan lain yang membuat KGB membesar? Inilah bentuk respon sistem imun tubuh. Lalu, kita evaluasi: apa penyebabnya? Kapan harus khawatir? Kapan curiga TB kelenjar? Keganasan?
Saya unggah ke Instagram, ternyata rame juga tanggapannya 😅
Kalau di sini rame ga ya?
Mari kita lanjutkan...
Nyamuk kan ada macam2 ya. Ingat pelajaran SD/SMP. Ada nyamuk Aedes, Culex, dll.
Wolbachia yang disebut di postingan sebelumnya adalah BAKTERI. Bukan nyamuk. Kalau bakteri Wolbachia dimasukkan ke dalam nyamuk Aedes, apakah lantas nyamuk Aedes berubah nama jadi nyamuk Wolbachia? 😁
Lalu terkait VIRUSnya. Yang dibawa si nyamuk dan buat sakit kan VIRUSnya ya, bukan nyamuk ataupun bakteri Wolbachia-nya. Adanya BAKTERI bernama Wolbachia di dalam tubuh nyamuk Aedes, membuat virus Dengue tidak mudah berpindah dari satu orang ke orang lainnya.
Pria berjubah merah ini ingin menyampaikan, tanpa trik, bahwa batuk-pilek yang dialami oleh mayoritas anak saat ini bisa sembuh tanpa perlu minum obat. Namanya common cold alias selesma. Nggak perlu obat batuk, obat pilek, apalagi antibiotik, termasuk nggak perlu "diuap".