Putra Ramadhan Profile picture
Aug 8, 2020 242 tweets >60 min read Read on X
"Ingatlah.. Tidak ada perjanjian yang akan berakhir menyenangkan"

"Apapun akan kulakukan"

AKU SUDAH MEMPERINGATKANMU JANGAN PERNAH MENYESAL ATAS KEPUTUSANMU

-melanggar Larangan-
Seri ke 2
_Perjanjian Dengan Iblis Laknat_

@bacahorror #bacahorror Image
Akan di mulai besok pukul 09:00.
Sampai jumpa besok😊
Malam hari,
Terlihat sekitar 5 orang mondorong gerobak yang berisikan sound serta alat musik lainnya.
Di dalam 5 orang tersebut ada seorang wanita yang mengenakan pakaian layaknya biduan mengenakan baju serta rok mini.

"mau mangkal dimana ini bang"
Ucap laras berjalan
Dengan penuh hati-hati karena mengenakan sepatu hak tinggi.

"Di tempat semalam aja lar. Lumayan rame"
Ucap laki-laki yang kelihatannya pemimpin dari orkes koplo keliling itu.
Setelah sampai di lokasi, mereka pun bersiap mengeluarkan alat musik.
Para warga pun mulai berkumpul untuk menyaksikannya.

"selamat malam..
Malam ini.. Kita kembali di hiburrr.. Dengan salah satu kembang desa yang memiliki paras cantik dan bertubuh sintal."
Gelagat ucapan abang itu tak kalah dengan gelagat pembawa acara seperti pembaca acara pada konser koplo hingga membuat para warga semakin tertarik.

Warga pun semakin ramai memenuhi tanah lapang tempat laras dan kawan kawannya mangkal.
"Kita sambutt.. Biduan kita.. Larasss"

Laras pun maju mic dari abang tadi dia ambil.

Musik pun mulai di mainkan.
Kendang yang di pukul membuat irama seaakan ingin bergoyang.

Para warga pun banyak yang menonton.
Hingga sampai dua tiga lagu, ibu-ibu yang menonton perlahan
Mulai pulang dan hanya tersisa bapak-bapak yang masih bertahan.

bukan tanpa alasan mereka bertahan.
Apa lagi kalo bukan untuk mencolek tubuh biduan.
Suasana pun semakin memanas. Lagu yang di mainkan begitu memanggil para-para hidung belang untuk ikut bergoyang.
Terlebih goyangan laras yang begitu menggoda.
Hingga pada akhirnya.
Salah seorang laki-laki mulai maju bergoyang mendekat pada laras.
Dengan sejumlah uang yang di pegangnya laki-laki itu bergoyang mengikuti irama musik.
Sesekali laki-laki itu memasukan uang kedalam baju laras.
Hingga pada akhirnya bapak-bapak yang lain pun mengikuti.

Tubuh laras di colek sana sini tak sesekali orang orang itu bermain kasar
Seperti meremas bokongnya dan yang lain.

Setelah di rasa laras sudah tak cukup kuat, musik pun di berhentikan.
Bapak bapak yang menonton tadi mulai pulang satu persatu.
Baju laras pun penuh dengan uang.
Laras merasa lelah sekali, tubuhnya berkeringat.
"ini jatah kamu lar"
Ucap abang itu sambil memberikan uang 30ribu kepada laras.

Laras pun melirik uang itu.
"cuman segini bang?"
Ucap laras dengan lesu.

"ya mau gimana lagi lar. Kebutuhan yang lain kan juga ada. Kamu yang sebagai pemula sebenarnya sudah cukup banyak saya kasih
Segitu"
Ucap abang itu tadi.

"yaudah iya. Terima kasih bang."

Abang tadi hanya mengangguk dan mulai membagi-bagikan jatah uang kepada teman yang lain.

Laras pun pulang kerumah.
Tanpa mengetuk pintu, laras masuk begitu saja dan langsung menuju kamar. Dia merasa begitu lelah
Setiap malam dia merasakan itu semenjak dia memutuskan untuk menjadi biduan kampung.

Tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri kamarnya.

"ibuk kan udah bilang nak. Jangan lagi jadi biduan desa. Ibuk jadi kasian setiap pulang kamu lelah begini" ucap wanita itu.
"ya mau gimana lagi buk. Kalo laras gak kerja, kita mau makan apa buk. Malah ayah pergi meninggalkan banyak hutang. Gak papa kok buk laras kuat"

Terlihat berkaca mata ibunya laras pun memeluknya.
Keesokan paginya, laras pun pergi ke warung terdekat.
Dia ingin membeli beberapa belanjaan yang mampu ia beli untuk makan siang dan nanti malam.

Setelah sampai di warung dan selesai berbelanja, laras terhenti dan menonton televisi yang berada di warung.
Ia melihat berita seorang penyanyi yang sukses.
Di berita itu, penyanyi tersebut mengatakan. Jika karirnya di mulai ketika dia bernyayi dari desa ke desa.
Pilu serta pahit dia ia jalani.
Mendengar itu, laras menjadi termotivasi. Dia pun pulang dan memikirkan sesuatu.

"aku harus ke kota untuk memulai perjalananku"
"Pikirkan baik-baik nak.
Apa kamu yakin mau pergi ke kota"

"saya sangat yakin buk. Saya punya pengalaman benyanyi. Bukankah kita butuh uang untuk melunasi hutang hutang ayah?"

"pikirkan dirimu. Pikirkan apa yang akan terjadi padamu. Sungguh ibuk sangat menakutkan itu nak"
Ucap sang ibu mengiba.

Laras terdiam mendengar itu.
Namun di pikir-pikir menjadi penyayi kampung juga tidak ada bedanya. Tubuhnya sudah puas di colek colek hingga membuatnya terbiasa.

Laras pun mendekat
"ibuk doakan saja aku tidak apa-apa"
Ucap laras menatap ibunya.
Sang ibu tidak bisa lagi menahan anaknya itu. Matanya berkaca untuk mengizinkannya pergi.
Tanpa mengatakan apa-apa, sang ibu hanya memeluk laras dengan erat. Air mata pun tak terbendung membuat laras ikut menangis.
Keesokan harinya, laras pun berangkat, uang yang dia tabung di bagi dua, separuh untuk ibunya dan separuh untuk modal ia ke kota.

Dia pergi hanya seorang diri.
Untuk menuju kota, ia harus menaiki kereta.
Dan untuk mencapai stasiun, butuh waktu dua jam jika harus jalan kaki.
Karna rupanya yang cantik, ada saja orang yang menawarkannya tumpangan. Tentu, laras sangat membutuhkan itu.

Sesampainya dia di stasiun.
Dia pun membeli tiket untuk ke kota tujuannya.
Ia pun masuk ke dalam kereta.
Ketika terduduk di kereta, laras menajadi bingung sendiri.
Dia memikirkan kemana dia akan mencari pekerjaan di kota yang luas itu. Karna sewaktu ingin pergi dia belum memikirkan sejauh itu.
Disaat laras tengah melamun, tiba-tiba seorang laki-laki datang dan duduk di sebelahnya.
Bisa di katakan orang itu bukan sepenuhnya laki-laki. Karna dari gaya serta cara bicaranya tidak menunjukan sebagai laki-laki tulen.
"permisi ya neng numpang duduk"
Ucap laki-laki itu.
Suara khas bancinya membuat laras tertawa namun mulut di tahannya menggunakan tangan karna tidak ingin laki-laki itu tersinggung.
Tanpa memulai percakapan, laki-laki itu yang mulai ngajak laras berbicara.

"nama aku riko. Riko fernando. Panggil aja rika" ucap laki-laki itu.

Lagi-lagi laras tidak bisa menahan tawanya.
"aku laras" ucap laras yang masih tertawa.
"ihh kamu.. Ketawa mulu. Emang ada yang lucu"
Ucap laki-laki itu mencubit pelan perut laras.

"ahaha enggak.. Enggak kok ko."

"ehh.. Rika.." ucap riko dengan mata sambil melotot.

"hahaha iya iya. Rika maksudnya"
Entah bagaimana. Laras begitu akrab dengan laki-laki banci itu. Laras tak henti hentinya tertawa.
"aku bingung lar..
Biduan ku entah pergi kemana. Dan job manggung makin banyak.
Ini aku habis nyari dari desa ke desa. Tapi gak nemu. Hingga putus asa aku pulang lagi ke kota."
Ucap riko dengan lesu.

"wahh kebetulan nih" batin laras mendengar pernyataan riko tadi.
"Dan kamu kemana dan dari mana?" ucap riko pula.

"dari desa. Mau ke kota rik..
Cari kerja"

"emm kamu bisa nyanyi.?"

"didesa aku malah jadi biduan keliling rik"
Ucap laras.
"wahh kebetulan sekali. Gimana mau gak kerja sama aku aja lar?"
"emang biduan kamu itu pergi kemana? Siapa tau nanti dia kembali gimana?" ucap laras pula.

"yaa tenang aja. Dia gak akan kembali lagi kok"

"kok bisa gitu.?"

"emm ya pkoknya kamu maukan bekerja dengan aku lar?"
Karna memang laras belum ada tempat yang pasti untuk dia bekerja laras pun menyetujuinya.
Meski dia sedikit berfikir apa yang di maksud riko tadi jika biduannya yang dulu tidak akan pernah kembali lagi.

"memang apa yang terjadi dengannya?"
Kereta pun berhenti tepat di stasuin pemberhentian selanjutnya.

Disini riko pun membawa laras ketempatnya dengan menaiki taksi.

Di taksi, riko pun bercerita-cerita sedikit dengan laras.

"dalam dunia hiburan, saingan kita banyak lar. Kamu harus siap bersaing."
"iya sih..
Tapi bukanya orang akan mencari suara yang paling bagus?"
Tanya laras.

"kamu keliru.
Yang pertama itu adalah wajah. Semakin cantik akan semakin laris. Untuk itu kamu harus siap bersaing dengan siapapun juga dengan cara apapun?" jawab riko.
Laras hanya mengangguk, dia benar-benar tidak mengerti ucapan riko itu.
"bersaing dengan cara apapun?"
Batinnya terus bertanya-tenya tentang hal yang baru saja di dengarnya itu.

Hingga tak lama, mereka pun sampai di apartemen milik riko.
"ayo masuk lar"
Ucap riko.

Mereka pun menaiki lift dan menuju lantas paling atas.
Sesampainya disana, di kamar yang sudah di tentukan riko pun membuka pintu yang ternyata sudah ada satu wanita disana.

"lama bener sih kamu" gerutu wanita itu pada riko.
"nah. Untung kamu dapet."
Tambahnya.

"ihh mak enjel.. Gak sabaran banget sih" ucap riko sambil melentikan tangannya.

Laras menutup mulutnya mencoba menahan tawa.
"lar.. Ini angela desainer kamu nanti" ucap riko mengenalkan angela kepada laras.

"laras"
Ucapnya sambil
Mengulurkan tangan bibir laras pun tersenyum.

Angela menatap laras melihat dari atas ke bawah ketika sudah cukup lama baru angela menyabut tangan laras dan menyalaminya.

"selamat bergabung ya. Semoga kamu kuat" ucap angela sambil tersenyum.
Laras hanya tersenyum balik. Namun lagi-lagi dia di bingungkan dengan jawab yang tidak dari biasannya.
Karna setau dia orang orang mengatakan semoga betah disaat ada orang yang mau masuk kerja di tempatnya namun jawabannya berbeda hingga membuat dirinya bertanya-tanya.
Lalu angela pun berdiri dari kasur itu.
"ayo riko. Kita udah di tungguin mbah"
Ucap angela.
"ihh emak.. Bukan riko. Tapi rika."

"Halahh.. Ayo cepatan" ucap angela
"oh iya kamu istirahat saja dulu laras." tambah angela.

Laras hanya mengangguk tanpa mengantakan apa-apa
Karna memang kebetulan tubuhnya begitu lelah.
Angela pun pergi bersama riko keluar apartemen lalu menaiki mobil fortuner berwarna hitam.

"kamu nemuin dimana tu anak.
Masih muda pula"
Ucap angela di mobil yang sedang dalam perjalanan.
"bibitnya mantap kan mak."
"iya mantap sih. Kita ajak dulu dia. Siapa tau mau mengikuti jalan kita. Jadi tidak perlu lagi mencari-cari biduan dan dia tidak perlu menjadi tumbal" pungkas angela.

"kita ajari saja pelan-pelan mak."

"wahaha udah pasti"

Mobil pun melaju cukup jauh dari kota.
Hingga berhenti di sebuah rumah yang tidak terlalu besar
Dinding rumah masih terlihat clasic dengan papan tanpa di cat dan hanya berwarna coklat mengkilat.
*tok tok tok*

Suara pintu yang di ketok oleh angela.
Tidak ada terdengar suara apapun namun angela dan riko masuk seperti sudah kenal dekat dengan pemilik rumah.

Rumah tidak begitu luas namun memiliki banyak pintu yang pasti di setiap pintu di dalamnya pasti terdapat ruangan.
Kemudian angela menuju pintu kayu yang berada di dapur.
Ketika di buka, terdapat anak tangga yang mengarah ke bawah tepatnya ruang bawah tanah.

Angela pun masuk di ikut riko dari belakang.
Terlihat seseorang wanita tua berambut putih yang tengah merajut sebuah kain.
"mbah.. Maaf lancang sudah masuk kerumah mbah tanpa menunggu mbah membukakan pintu"
Ucap angela merunduk di hadapan wanita itu.

Wanita iu hanya tertawa. Tawanya begitu mengerikan.
Kemudian dia diam.

"duhh mak.. Cepetan.. Takut lama lama disini."
Bisik riko pelan kepada angela
"ssshhttt diamm.!!"
Bentak angela.

Wanita tua itu masih diam.
Dia fokus kepada setiap rajutan yang dia buat.
Hingga tak lama.
"heeh heeh.. Baju bajang sudah siap"
Ucap wanita tua itu.
Kemudian baju tadi di pakaikan kepada boneka
Yang bentuknya seperti tuyul namun
Boneka itu berwarna merah gelap dengan alis yang tebal dan memiliki tanduk.
Riko yang melihat itu sesekali menutup wajahnya di belakang angela.
"gimana bagus kan?"
Tanya mbah darna.

Angela hanya mengangguk. Sementara riko masih menutup wajahnya di belakang angela.
"kau..
Cepat minta maaf dengan cucuku. Karna telah menghinanya." ucap mbah darna sambil menunjuk riko.
Angela menyengol riko.

"taaakutt mbah.. Wajah cucu mbah mengerikan" ucap riko.
Tiba-tiba riko berteriak kesakitan yang kemudian memegangi pahanya.
"aduuduhh.. Iya iya maaf mbah.. Maaf ya bajang"
Ucap riko yang masih saja memegangi pahanya tadi.

"wahhaha baru di cubit anak kecil saja sudah kesakitan" ucap mbah darna sambil tertawa.

Riko hanya diam dan kelihatanya masih menahan sakit.
Tentu itu bisa sangat menyakitkan karna bukan manusia melainkan mahkluk lain yang mencubitnya.

Tak lama mbah darna pun melangkah naik ke atas meninggalkan ruang bawah di ikuti angela dan riko dari belakang.
Mereka duduk di sebuah ruangan dimana didalam ruangan itu hanya berpenerangan lilin yang ada di setiap dinding hingga menjadikan ruangan bisa terlihat seisinya meski masih samar-samar.

Kemudian mbah darna pun duduk di dan di hadapannya berbagai macam sesajen
Boneka jerami serta mangkuk yang berisi kemenyan yang di bakar sama halnya seperti dukun pada umumnya.

"gimana. Apa kau sudah temukan wanita penggantinya?"
Ucap mbah darna menatap angela.

"sudah mbah"
Ucap angela dengan singkat.
"wahaha.. Bagus kalo begitu.
Hmm aku sangat menyayangkan kenapa kau tumbalkan wanita yang dulu itu. Padahal dia menjalankan tugasku dengan baik. Sayang sekali.."

"khukhu.. Aku juga sangat menyayangkannya mbah. Namun sayang sekali dia mencintai orang yang seharusnya menjadi
Tumbal selanjutnya."

"wahaha sayang sekali. Pantas saja kau mengorbankan dia.
Cinta memang bisa membutakan segalanya"
Ucap mbah darna yang masih tertawa.

Selama ini, angela menjalankan bisnis di bantu penggunakan alam ghaib.
Karna persaingan dunia hiburan di luar sana semakin
Banyak dan meningkat. Semakin angela menikmatkan taraf kebutuhan konsumen maka di luar sana banyak juga orang yang melampauinya hingga dia berpikir satu-satunya cara adalah melalui jalan pertolongan dari jin. Hinga pada akhirnya dia bertemu dengan mbah darna.
"lantas siapa nama wanita yang baru ini?" ucap mbah darna.

"namanya laras mbah"

Mbah darna hanya mengangguk
Kemudian dia seperti mengambil mangkuk gerabah yang cukup besar di dalamnya terdapat air berserta kembang melati.
Mulutnya seperti merapal sesuatu.
"uluhh.. Ayu tenan bocahe"
Ucap mbah darna yang melihat ke dalam air tadi.

"kapan kau akan membawanya kesini.?" tambah mbah darna.

"mungkin dua atau tiga bulan mbah. Maklum masih anak baru mbah. Harus di kenalkan pelan-pelan
Biar dia bisa berinteraksi" ucap angela.

Seketika raut wajah mbah darna berubah.
"Kenapa begitu lama.? Si bagong sudah lama tidak menjamah wanita. Apa kau mau menggantikan menjelang anak itu siap?"

Seketika angela menelan ludah. Meski dia tau berhubungan badan dengan jin itu
Jauh lebih nikmat namun angela tidak akan pernah mau menerima itu terutama karna yang berhubungan dengannya itu bukanlah manusia tentu membuatnya merasa tabu.

"Ja.. Jangan mbah..
Nanti saya usahakan anak itu datang kesini secepatnya." ucap angela dengan gelagat ketakutan.
"wahaha..
Baiklah kalo begitu"

Lalu mereka pun pergi meninggalkan rumah mbah darna.

Di perjalanan, riko masih saja memegangi pahanya.
Kemudian, ketika dia menggulung celana pendeknya itu terlihat bekas cubitan yang berwarna biru.
"aduhh mak.. Liat ini.. Ulah bayi iblis sialan itu. Kan jadi biru" gerutu riko di dalam mobil.
Anglea hanya tertawa melihat riko yang merengek kesakitan.

Di samping itu, laras yang tengah beristirahat tertidur di apartemen.
Lalu dia di bangunkan salah satu pelayan
Yang ingin mengantarkan makanan.
*tok.. Tok.. Tok*
Terdengar suara ketukan di balik pintu.
Dengan mata yang masih berat laras pun melangkah menuju pintu.
Lalu di bukanya.
Dilihatnya pelayan yang membawa sejumlah makanan.
"emm.. Maaf mas saya tidak memesan ini"
Ucap laras.

"ohh iya mbak tadi mbak angela memesan semua ini katanya di antar kekamarnya" ucap pelayan itu.
Laras yang tidak tau hanya mengangguk.
Setelah selesai, pelayan itu pun pergi ke bawah.
Pintu kamar pun masih terbuka.
Laras pun kembali rebahan namun pintu kamar belum di tutupnya.
Seketika dia merasa ada sekelabat bayangan melitas di lorong depan pintu. Hingga membuat laras terduduk dan melihat ke arah pintu.
Laras pun melangkah menuju pintu. Dia pun melihat sekeliling lorong. Namun dia tidak menemukan kamar yang lain. Di lantai atas hanya ada dia kamar satu yang sekarang di tempat laras dan biasa di sebut kamarnya angela dan satu lagi terletak di paling ujung lorong.
Laras tidak tau itu kamar siapa atau mungkin itu hanyalah sebuah ruangan kosong.

"tadi itu siapa yang lewat." Batinnya bertanya sambil mengawasi lorong.

"ahh sudahlah. Mungkin tadi orang yang punya kamar itu lewat."
Setelah itu dia pun menutup pintu.
Laras hanya duduk di atas ranjang. Perutnya begitu lapar. Meski begitu, dia tidak ingin memakan makanan yang ada di hadapannya.
Dia menjunjung tinggi sopan santun yang di ajarkan ibunya. Meskipun orang banyak berprilaku tidak sopan kepadanya.
Dia menunggu sampai akhirnya terdengar suara ketukan di balik pintu yang mana itu adalah angela dan riko yang baru pulang dari entah kemana laras tidak tau.

"lohh kenapa gak di makan lar. Mbak sengaja pesanin makan buat kamu" ucap angela yang melihat laras hanya duduk di atas
Ranjang.

"ehh iya mbak. Kirain untuk mbak. Makanya saya gak mau makan lebih dulu."

Terlihat riko dengan wajah cemberut sambil mengusap pahanya.
Laras yanv melihat itu merasa heran.
"kamu kenapa rik.? Ngelus paha mulu"
Tanya laras.
"sakit lar.. Di cubit bayi sett.."

*takkk* hentakan kaki angela yang mengenai kaki riko membuatnya berteriak.
"aaaagghhh.. Aduhhh makk"

"hehe tuh kan riko ini memang suka begitu lar.
Udah ayo makan aja lagi."
Ucap anglea memotong pembicaraan.
Laras hanya tertawa melihat
Riko.
Tingkahnya yang kebanci-bancian membuatnya terlihat sangat lucu di mata laras.

Laras pun menyantap hidangan tadi. Angela berserta riko pun ikut makan.

Tak lama selesai makan, angela mengajak laras untuk pergi ke sebuah butik.
Membeli perlengkapanya.
Karna memang laras harus tampil menawan di setiap manggungnya.

Ketika laras di suruh memilih baju, dia selalu mencari baju gaun panjang sampai lutut. Namun angela tidak menyetujui itu. Angela mengatakan laras lebih cocok dengan gaun mini
Yang panjangnnya hanya sampai di atas paha.
Setelah selesai, mereka pun kembali ke apartemen.
Terlihat banyak sekali barang belanjaan yang di bawa.
Ketika sudah sampai di lantai atas, riko membawa belanjaan tadi ke kamar yang satunya.

"lah rik.. Kok di bawa kesitu." ucap laras
"ini kamarmu. Belanjaan ini kan punyamu." ucap riko sambil merogoh saku lalu mengeluarkan kunci.
Pintu pun di buka.
Terlihat kamar sangat cantik dengan rias dinding berwarna merah jambu.
Begitu cantik hingga laras melupakan hal yang sebelumnya tentang kamar itu.
"wahh.. Bagus sekali kamar ini rik."

"hehe ini kamar khusus biduan kita lar.. Biduan sebelum kamu juga tinggal di kamar ini." ucap riko.

"ohh jadi begitu. Kalo senyaman ini kenapa dia berhenti.?"
"emm.. Gak tau juga aku lar. Mungkin mau nikah dan pulang ke kampung." ucap riko dengan ragu.

"lah.. Kok mungkin rik?"
Tanya laras.
Namun riko tidak mengubris.
Dia hanya menyerahkan kunci kamar kepada laras dan bergegas pergi.
Laras menerima kunci itu dengan keadaan bingung.
Namun hal itu tidak dia pikirkan terlalu jauh,
Ruangan kamar pun laras kemas senyaman mungkin bagi dirinya. Barang-barang kembali dia tata sesuai desain yang dia suka.

Setelah itu, dia pun mandi yang merasa tubuhnya
Terlalu kotor sebab berkemas tadi membuat tubuhnya berkeringat.
Tak lama setelah dia selesai mandi, angela pun datang ke kamar laras.
Mengatakan jika malam ini dia akan manggung.
Mengisi sebuah acara konser dan dia ikut untuk memeriahkan.
Laras pun mengangguk sambil tersenyum.
Batinnya dia begitu senang. Karna kali ini dia menyanyi tidak akan mendapatkan pelecehan dari penoton karna berada di atas panggung. Tidak seperti dulu waktu dia di desa.
Selepas magrib, laras pun mengganti pakaiannya.
Dia mengunakan pakaian yang baru saja di beli tadi.
Ketika dia mengganti baju, dia merasa seperti di awas. Bekali-kali matanya awas mengawasi sekitar namun tidak melihat apa-apa.
Hingga ketukan di pintu mengkagetkannya.

"lar.. Ayo cepetan. Dandannya nanti aja di ruang tata rias. Udah di tungguin mbak angela tuh" ucap riko di balik pintu.

Laras pun bergegas.
Setelah di rasanya cukup cantik di hadapan cermin. Laras pun keluar kamar.
Tanpa laras sadari sesosok wanita dengan rambut terurai kedepan hingga menutup wajah tengah memperhatikannya Di balik pintu kamar mandi.
Acara malam itu begitu meriah.
Laras merasakan begitu lelah.
Ketika dia di ruang tata rias setelah selesai manggung. Angela datang dengan dengan seseorang bapak-bapak.
Wajahnya tidak begitu tua namun berumur kisaran 50 tahun.
Angela mendekat kepada laras.

"lar.. Ini pak harjo ingin berkenalan dengan kamu. Dia pemilik perusahaan pabrik roti di kota ini"
Ucap angela berbisik kepada laras.

Laras pun melihat pak harjo.
Mata pak harjo melirik tubuh laras dari atas hingga bawah.
Dengan terpaksa laras memandangnya dengan tersenyum.
Kemudian pak harjo mendekati laras.
Angela pun menyenggol laras spontan laras pun mengulurkan tangannya kepada pak harjo.

"laras om" ucapnya

Pak harjo pun menyambut tangannya dan memperkenalkan diri.
"harjo"
Dengan senyum yang tidak biasa,
Tangannya memainkan dagunya.

Laras menjadi gugup dia hanya bisa diam memalingkan wajahnya menatap lantai.

Kemudian harjo pun menjauh lalu memanggil angela. Dengan jarak yang tidak begitu dari laras sehingga dia bisa mendengar pembicaraan mereka
"Aku bawa malam ini ya mbak.?"

"hm gak bisa pak. Ini barang masih baru takutnya nanti sawan. Tunggu lah sampai satu minggu" ucap angela

"berapapun aku bayar. 200jt? 300? 500?"

Engela menatap laras. Dia merasa ragu mengambil keputusan.
"emm.. Maaf pak. Tidak bisa. Memang harus butuh waktu satu minggu lagi"

Pak harjo terdiam.
"ya sudah, kalo gitu saya yang pesan itu barang duluan.
Ini sebagai DP saja dulu."

Kemudian pak harjo mengambil tas koper dari bodyguardnya yang berada di belakangnya
"ini 50juta mbak. Sisanya nanti saya lunasi kalo sudah mendapatkan itu barang" ucapnya.

Angela pun menyanggupinya lalu menerima uang itu.

Sebelum pergi, lagi lagi pak harjo menatap laras dan kini dia mengedipkan satu mata dengan genit. Laras yang bingung dengan semua itu
Hanya tersenyum kecil.
Dia masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan angela dan pak harjo tadi.

Kemudian angela mendekat kepada laras.
"sudah selesai istirahatnya lar.?
Ayo kita pulang riko sudah menunggu di mobil"
Ucap angela.
Laras hanya mengangguk dan tidak berkata apa-apa. Dia juga tidak ingin tahu tentang uang yang di berikan pak harjo tadi.

Sesampainya di parkiran, benar saja riko menunggu di luar mobil dengan wajah gelisah sembari melihat-lihat jam tangannya.
Sesampainya angela dan laras di mobil.
"aduhh.. Mak enjel.. Lama bener ih."
Gerutu riko.

"ada perundingan sedikit tadi sama si pengusaha pabrik roti."
Ucap angela.

"ha. Harjo yang kasar itu?" tanya riko.

Angela hanya mengangguk.
"Terus gimana mak. Kamu terima?"

"ya tentu tidaklah rik. Tapi dia udah kasih DP 50juta. Dan ku bilang barang akan siap satu minggu lagi"
Jelas angela.

Riko pun mendengkus kesal.
"bagus deh mak. Selanjutnya dia yang harus jadi tumbal. Aku kesal sama orang tua itu
Kata wiwik dulu dia suka main kasar" ucap riko dengan nada marah.

Seketika angela pun mengacungkan telunjuknya ke arah mulut. Mengisyaratkan riko untuk tidak bercerita.
Riko pun mengerti kemudian dia diam sambil menatap laras
Laras hanya diam namun tidak berkemungkin dia tidak mendengar ucapan dari mereka berdua.

Yang dia pikirkan hanya nama wanita yang di sebut riko.
"wiwik.? Siapa dia" batin laras.
Mobil pun melaju kearah apartemen.
Jam sudah menjukan pukul 2 malam.
Laras yang begitu lelah berjalan tergopoh-gopoh menju lift.
Hingga mereka pun menuju kamar masing-masing. Dimana angela satu kamar dengan riko sementara laras pergi ke kamarnya sendiri.
Dia melepas pakaiannya.
Lalu mandi.
Dikamar mandi dia seperti sedang di awasi oleh sesuatu. Sesekali matanya mengawasi sekitar meski tidak ada apa-apa.
Selesai mandi, dia pun mengenakan piyama tidurnya lalu berbaring di atas ranjang.
Tak lama, dia pun tertidur.

Sementara di kamar angela, dia sedang berdebat dengan riko.
Agar laras segera di bawa kerumah mbah darna. Semakin cepat dia tau makan permaian mereka akan semakin lancar. Namun riko menolaknya.
Menurutnya laras masih terlalu dini mengetahui semua hal ini. Seorang anak polos dari desa yang tidak tau kerasnya kota.
Dan disini angela besikeras agar laras segera mengetahuinya.

Hingga ketika angela mengatakan sesuatu yang membuat riko terdiam.
"jika kita terlambat hanya ada dua kemungkinan. Pak harjo yang mati menjadi tumbal kita atau laras yang akan mati di siksanya"
*tok.. Tok..*

Suara ketukan pintu membangunkan laras dari tidurnya.

"siapa sih pagi-pagi gini aduhh" gerutunya yang masih setengah sadar.

Laras pun berjalan ke arah pintu dengan langkah tergopoh.

Yang ternyata itu adalah pelayan yang mengantarkan sarapan pagi.
"ini sarapanya mbak."

"ohh iya taruh aja di situ"
Ucap laras menganggukan kepala sambil menunjuk ke dalam kamar.
Pelayan tadi pun masuk.
Namun dari wajahnya seperti menahan takut dari sesuatu.
Entah apa yang membuatnya takut dengan kamar itu. Karna sebelum laras
Pelayan ini juga yang sering mengantarkan makanan ke kamar yang di tinggali laras sekarang.

Laras pun berjalan ke ranjangnya mencari dompetnya.
Niat hati ingin memberikan uang tip kepada pelayan itu.
Dan ternyata pelayan tadi langsung pergi meninggalkan kamar laras.
"lahh. Kok langsung pergi sih"
Ucap laras yang heran.
Laras hanya menggelengkan kepalanya.

Kemudian dia pun menyantap hidangan yang di bawakan oleh pelayan tadi.
Belum pernah laras makan sarapan selengkap ini.
Buah-buahan, roti bahkan segelas susu juga ada.
Biasanya dia di kampung hanya makan nasi goreng buatan ibunya ketika pagi hari.
Itu pun nasi yang malam tidak habis lalu paginya di goreng.

Laras pun terdiam sejenak ketika menyantap makanan itu.
Dia teringat akan ibunya.
"aku harus sukses. Untuk membahagiakan ibuk"
Batinnya.

"lar.. Kamu udah bangun.?"

Suara di balik pintu yang masih terbuka, laras pun menoleh yang mana itu adalah riko.

"udah. Ini juga rantaran di bangunin pelayan" jawab laras.
Riko pun masuk kekamar. Dan melihat laras dari atas sampai kebawah.
Riko tersenyum tertawa kecil.

"kenapa?" tanya laras.

"haha gak papa. Kok Kamu kaya gembel" ucap riko sambil tertawa.
"yah.. Namanya juga baru bangun tidur bangke" jawab laras dengan wajah merengut.

Riko tertawa dengan keras.

"yehh malah ketawa banci tanah abang ini" tambah laras.

"hahaha. Ya sudah. Slesai sarapan. Kita mau pergi.. Kamu gak usah mandi gitu aja"
Ucao riko sambil meledek.
"enak aja.. Habis ini aku mau mandi lah.
Emang mau kemana?"
Tanya laras.

"ikut aja.. Nanti juga kamu tau sendiri"
Jawab riko dengan singkat.
Kemudian riko pun pergi dari kamar laras
Tanpa merasa curiga. Laras hanya mengiyakannya.
Setelah selesai sarapan, laras pun mandi dan mengganti pakaiannya.

Cukup lama dia berdandan. Hingga membuat riko kembali menjemputnya.

"lar.. Udah siap belum?
Mak enjel udah nungguin"
Ucap riko.
Tanpa mengatakan apa-apa laras pun membuka pintu.

"hayuu.. Udah nih"
Ucap laras.

Mbak angela tersenyum melihat laras, laras hanya membalas senyuman mbak angela. dia menunggu di lift dan mereka segera turun kebawah langsung menuju mobil.
"kita mau kemana mbak?"
Tanya laras

"mau kerumah seseorang yang membantu kita dalam menjalankan bisnis lar" jawab angela.

Laras hanya mengangguk.
Namun batinnya bertanya apa maksud dari mbak angela.
Mobil pun melaju menuju rumah mbah darna.
Perjalanan yang cukup jauh. Terlihat mbak angela sibuk dengan ponselnya menelpon entah siapa.
Yang kelihatnya itu adalah job manggung yang baru.
Terdengar jika angela banyak membatalkan job tersebut untuk malam nanti.
"loh mbak. Kenapa? Kok banyak yang di batalin manggung malam nanti"
Tanya laras yang mendengar percakapan angela.

"iya.. Karna malam nanti spesial kamu akan berkencan"
Ucap angela sambil tertawa kecil diikuti riko.
Laras pun hanya ikut tertawa.
Jika benar dia berkencan dengan siapa dia akan berkencan pertanyaan itulah yang terus ada di pikiranya.

Hingga tak lama, mobil pun berhenti.

Laras melihat sekeliling. Dan dia melihat sebuah rumah kayu berwarna coklat.
"ayo lar. Kita udah sampai"
Ucap angela.
Angela pun turun dari mobil diikuti laras dan juga riko.
Angela menuju rumah kayu yang laras lihat tadi.
Angela pun mengetuk pintu. Lalu pintu terbuka dengan sendirinya

"ayo masuk aja." ucap angela mengajak laras.
Mereka pun masuk.

Laras masih memperhatikan sekeliling ruangan rumah.

Lalu mbak angela berjalan menuju ke sebuah ruangan.
Dimana ruangan itu minim pencahayaan karna hanya menggunakan lilin.
"wahh wahh.. Pantas saja bangong rusuh di kamarnya. Ternyata kau sudah membawa wanita itu ya".
Ucap seorang wanita tua yang duduk bersila di belakang meja yang penuh seperti dukun pada umumnya.
Laras pun bergidik ngeri melihat itu semua.
Namun riko berbisik padanya.
"jangan takut lar.. Dia adalah dukun yang membantu bisnis kita"

Laras hanya diam.
Dia terus saja melihat wanita tua itu.

"aduhh aduhh.. Anak manis.. Jangan takut.. Ayo sini mendekat sama mbah" ucapnya
Riko pun menyenggol laras agar laras mendekat kepada mbah darna.

Laras pun mendekat dengan ekpresi takut.

"jangan.. Jangan takut.."

"bisa aku lihat tanganmu?"
Ucapnya.
Laras pun mengulurkan tangannya kemudian mbah darna melihat-lihat telapak tangan laras.
"ohh jadi begitu.. Kamu berniat membantu ibu kamu,? Kamu mau jadi penyanyi terkenal?"
Ucap mbah darna.
Laras pun mengangguk.

"Wahaha. Kalo kamu mau cepat terkenal. Kamu harus membuat perjanjian dengan bagong".

"bagong? Ssiapa dia mbah?"
Ucap laras dengan gemetar.
Mbah darna tertawa semakin keras suara tawa dari nenek tua tentu membuat sesiapapun mendengar akan ketakutan.

Kemudian angela yang berada di sebelah laras pun berbisik padanya.
"iya kan saja lar. Pecayalah kamu akan cepat terkenal kok"

Dihatinya masih ragu. Namun di sisi lain. Dia membenarkan ucapan angela tersebut.

"emm saya sejutu mbah. Apa saja perjanjiannya asalkan saya cepat terkenal" ucap laras
"nahh gitu.. Anak pintar."
Ucap mbah darna. Kemudian mbah darna
Meraup kembang tujuh rupa yang telah ia kumpulkan di atas nampan. Lalu memasukannya kedalam mangkuk yang berisi air.

Kemudian dia seperti merapal sesuatu.
Setelah itu kembang tadi dia lemparkan
Kewajah laras dan air di dalam mangkuk tadi dia percikan ke wajah laras.

"wahaha. Akhirnya bagong dapat pengganti yang bahkan lebih cantik." ucap mbah darna.

Laras hanya diam. Dia tidak mengerti ucapan dari mbah darna tersebut.

"gimana mbah? Apa semuanya sudah?"
Tanya angela
"sudah..
Dan malam nanti. Anak ini tidur harus tidak mengenakan pakaian sehelai benang pun.
Pastikan lampu di kamarnya padam" ucap mbah darna.

"haa. Kenapa memangnya mbah?" ucap laras yang terkejut.

"malam nanti kamu akan melayani bagong. Whahaha" ucap mbah darna
Yang terus saja tertawa.

Angela berusaha meyakinkan laras jika tidak akan terjadi apa-apa.
Dan juga itu tidak akan di lakukan stiap malam. Hanya pada malam tertentu saja tepatnya jumat kliwon setiap satu bulan sekali.

"apa.. Apa yang sebenarnya di rencanakan mereka"
Malam pun semakin larut,
Laras duduk di atas ranjang kamarnya menunggu sambil melihat ke arah jam.
Dilihatnya sebentar lagi jam 12 tepat tengah malam.
Semua persiapan telah di siapkan sesuai perintah mbah darna di bantu oleh riko.
Hingga jam pun menunjukan pukul 12.
Laras melangkah menuju saklar lampu dan mematikannya. Dia kembali ke ranjang dan mulai melepas semua pakaiannya.
Kemudian dia berbaring dengan posisi telentang.
Lalu membaca mantra yang telah di ajarkan mbah darna.
Keadaan sangat gelap.
Laras tidak bisa melihat apa-apa
Begitu gelap, tak lama terlihat seperti ada bayang-bayang seseorang menghampirinya.
Postur bayangan itu terlihat tinggi dan tegap.

Laras hanya diam.
Meski dalam hatinya bertanya-tanya dengan semua yang ia lihat.
Bayangan itu tadi mulai membelai laras perlahan memainkannya.
Laras begitu menikmati,
Tanpa dia sadar jika ini baru pertama kalinya ia merasakan berhubungan.
Mahkluk itu terus melakukan berjam-jam membuat laras merasa sangat lelah.
Tanpa sadar, laras pun tertidur.

Pagi harinya riko mengetuk pintu kamar laras.
Namun tidak laras gubris dia masih saja tidur.
Berselang beberapa jam, riko kembali mengetuk pintu beserta angela.
Laras hanya menanggalkan handuk ke badannya lalu membukakan pintu.
"wahh keliatannya kamu begitu menikmati permainan bagong malam tadi ya"
Ucap riko.

Laras hanya terdiam.
"jadi malam tadi itu aku berhubungan dengan jin" gumamnya di dalam hati.

"udah udah. Mandi lagi lar. Nanti kamarmu di beresin sama riko" ucap angela.

Laras hanya mengangguk
Lalu menutup pintu kamar kembali.
Dia masih membayangkan kejadian tadi malam yang dia pikir itu hanyalah mimpi.
Sambil memikirkan, laras pun masuk menuju kamar mandi. Dan mulai mengguyur tubuhnya dengan shower.
Sambil memejamkan mata aliran shower pun di arahkannya ke muka
Lalu tiba-tiba kertas kecil bergumpal jatuh ke wajahnya.

Laras hanya membuka matanya tanpa menyadari kertas itu.
Dia pun kembali memejamkan matanya hingga mandinya pun selesai.
Selesai mandi,
Laras pun terlihat begitu cantik dengan gaun mini putih tersebut. Rambutnya terurai panjang yang menambah kecantikannya.

Laras pun keluar kamat dan melangkah ke kamar angela.
"mbak.. Riko dimana?"

"dia di bawah lar. Kamu mau kemana?" ucap angela.

"pergi perawatan dong mbak. Aku pergi dulu ya mbak. Oh iya pinjam riko sebentar mbak" ucap laras yang langsung pergi meninggalkan kamar angela.
Angela hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Laras pun menaiki lift.
Meski sendiri, namun kali ini dia seperti tidak merasa sendiri. Entah kenapa seperti ada sesuatu di sampingnnya yang mengikuti.
Sesampainya di bawah ia pun bertemu riko.
Siang itu laras menghabiskan waktu hanya itu ke salon dan berbelanja.
Laras yang awalnya tidak suka dengan baju seksi dan kali ini dia mulai menyukainya.
Sore harinya mereka pun pulang.
Dengan penuh semangat laras pun menuju lift dan menemui angela.
"gimana mbak. Malam ini ada manggung" ucapnya ketika sampai di pintu kamar angela.

"yahh sayang sekali lar. Malam ini masih kosong. Yang ada cuman acara kampung. Gk usah kamu lah yang ngisi masih banyak biduan murah
Yang ngisinya."
Ucap angela.
Wajah laras terlihat muram karna malam itu dia tidak mengisi acara apapun.
Laras pun menuju kamarnya.
Dia hanya rebahan sambil memainkan gadgetnya.

Hingga tanpa terasa sudah malam dia pun berniat untuk tidur lebih cepat.
Laras pun membersihkan dirinya setelah dia melepas pakaianya dan menggantinya dengan piyama tidur laras menuju kekamar mandi untuk sekedar mencuci kaki dan tangannya.

Selesai menggosok giginya, laras pun mulai menyirami kakinya.
Ketika menatap kebawah dia melihat sebuah kertas tergumpal.
Itu adalah kertas yang pagi itu jatuh kewajahnya.
Laras pun mengambil
Kertas itu dimana sudah basah.
Kemudian dia membuka perlahan
Karna takut sobek.
Dia melihat tulisan di dalamnya
Tulisan itu di tulis menggunakan tinta merah. Itu yang laras tau.
Meski tulisannya kurang jelas namun laras bisa membacannya.

"PERGI.. SEBELUM TERLAMBAT"
Laras tidak bisa tidur karena memikir tulisan yang baru saja ia temukan di kamar mandi itu.
Hatinya terus bertanya perihal itu semua.
Apa maksudnya itu semua?
Siapa yang menulis itu?
Lalu apa hubungan ini semua dengan dirinya.
Dalam lamunan di atas ranjang. Tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk dari luar.
Diliatnya sudah pukul 1
Laras berfikir jika itu adalah riko.
Dia pun membukakan pintu perlahan lalu tepat di hadapannya ada seorang wanita mengenakan pakaian layaknya biduan.
Rambutnya terurai kedepan menutupi wajahnya.
Wanita itu menangis merintih pelan.

"heyy.. Kamu kenapa?"

Wanita itu masih saja menangis
Dengan pelan dia mengucapkan.

"tolong.. Lepaskan aku"
Ucapnya pelan.
Laras tidak bisa mendengar jelas apa yang di ucapakn wanita
"Apa.?"

Membuat laras mendekatkan wajahnya sedikit kepada wanita itu. Lalu wanita itu menegakan kepalanya menatap laras.
Laras pun teperanjat melihat wajah wanita itu yang matanya di penuh belatung serta rongga hidungnya.
*deg*
Nafas laras terengah bangun dari tidurnya.
Dilihatnya jam menunjukan pukul 1 malam. Ternyata selepas mandi dia tertidur lebih awal.
Hingga dia mendengar suara ketukan pintu persis di mimpinya.

Laras yang tidak berani membuka pintu hanya bisa diam di ranjang
Sambil menutup wajahnya menggunakan selimut.
Tak lama dia mendengar suara di balik pintu.
"lar.. Laras.. Kamu udah tidur?"

Laras mengenali suara itu.
Dia tau jika di balik pintu itu adalah riko sebenarnya.
Laras pun bergegas menuju pintu yang mana di dapati riko dengan mata yang masih sembab.

"lar. Aku.. Boleh pintu selimut?
Malam ini dingin banget"
Tanpa mengantakam apa-apa laras pun melangkah ke dalam membuka lemari dan mengambil selimut tebal.
Selimut itu berada paling bawah sisi kamar bahkan sebelum laras menepati kamar ini selimut itu sudah ada di dalam lemari.
Laras pun menarik selimut itu.
*Tringg*
Sesuatu jatuh ke lantai ketika laras menarik selimut itu.
Dia pun melihat kebawah.
Sebuah sisir yang terbuat dari titanium dengan ujung sisir yang tajam.

Laras pun mengambil sisir itu.
"cantik sekali" batinnya
"lar.. Cepetan.." teriak riko dari luar kamar.
Laras pun meletakan sisir itu di atas ranjangnya lalu bergegas membawa selimut itu menuju riko di luar kamar.
"ini.. Pakai aja rik. Gak tau punya siapa"
Riko yang sudah kedinginan segera mengambil selimut itu lalu pergi.
Malam itu pun tiba.
Dimana laras harus melayani pak harjo sesuai kesepakatan.

Setelah selesai manggung, dia sempatkan berdandan sebentar karna bedak di wajahnya sedikit berantakan.
Ketika dia ingin merapikan rambutnya,
Dia mencari-cari sisir di meja rias.
Namun tidak dia temukan.
Dia teringat dengan sisir yang di temukan di dalam lemari kamar apartemen.
Yang ternyata sisir itu selalu dia bawa di dalam tasnya.

Dia pun menyisir rambutnya perlahan.
Sekelebat muncul siluet hitam di belakangnya.
*degg*
Kini laras terdiam sambil menundukan kepala.
Tanpa air matanya pun mengalir tanpa sebab. Tidak ada rintihan suara menangis.

Angela masuk kekamar rias.
Melihat laras sedang duduk di hadapan cermin dengan kepala merunduk.
"lar.. Sudah belum? Pak harjo sudah menunggu di luar."
Ucap angela
Laras hanya menganggukan kepalanya dan mengusap air matanya.
Angela tidak menyadari itu jika raga laras telah di rasuki sesuatu.
Laras pun keluar kamar dengan tatapan yang kosong.
Hingga di hadapan pak harjo.
Dia menguncit rambutnya dengan penuh gairah.
Lalu menusukan sisir tadi ke rambutnya seperti tusuk konde.
Tubuh laras yang molek pun terlihat begitu jelas membuat pak harjo tersenyum melihat itu.
Pak harjo pun menyerahkan koper berisi uang kepada angela.

"ini.. Sesuai kesepakan. Dan aku tambah karna yang satu ini sangat menggoda." ucap pak harjo yang matanya masih saja melihat laras.
Dengan genit laras pun mendekat duduk di paha pak harjo.
"mari kita bermain malam ini"
Ucap pak harjo dengan wajah menyeringai.
Laras hanya mengangguk.
Lalu dia di bawa kedalam mobil pak harjo.
Laras yang diam terus seja di jamah pak harjo di dalam mobil.
Hingga mobil pun melaju kesebuah vila yang jauh dari perkotaan.
Sampai di vila,
Pak harjo pun menarik laras lalu membawanya ke kamar.
Benar yang di katakan riko.
Laras di perlakukan begitu kasar oleh pak harjo. Meski begitu pak harjo terlihat begitu puas.
Hingga ketika pak harjo ingin menarik rambut laras dengan posisi ingin membelakanginya. Pak harjo pun melepaskan sisir yang tersemat di rambut laras.
Setelah selesai dengan posisi tersebut. Kini giliran pak harjo.
Laras pun berdiri mengambil seutas kain lalu menutup mata pak
Harjo.
Kemudian kedua tangannya di ikat ke sisi ranjang. Pak harjo hanya diam menurutnya mungkin ini permainan laras dan itu membuat pak harjo semakin bergairah.
Hingga laras yang tanpa sadar pun mengambil sisir yang ada di ranjang itu.
Lalu dengan pelan menggores dadanya pak
Harjo hingga mengeluarkan darah.
Pak harjo yang merasakan sakit
"apaa.. Apa yang kau lakukan bang*at?"
Teriak pak harjo.

Tak berhenti disitu, kini laras mengores seluruh tubuh pak harjo membuat tubuhnya di penuhi darah.
Teriakan pak harjo semakin kencang hingga
Bodyguardnya yang di luar pun mendengar.
Dua bodyguard tadi pun segera menuju kamar pak harjo beberapa kali menggedor kamar itu.
Hingga ketika ingin mendobrak.
Bayangan hitam besar mendekat ketika dua orang itu menghadap kebelakang.
Mereka telah tergeletak di lantai
Dengan luka bekas cakar yang cukup besar di bagian leher.

Laras pun melanjutkan menyiksa pak harjo.
Hingga pada akhirnya dia menusukan sisir itu ke leher pak harjo yang membuatnya mati.

Tak lama laras pun mengelinjang lalu tak sadarkan diri.
Menjelang subuh, ia pun terbangun.
Betapa terkejutnya dia ketika mendapati dirinya telah dalam keadaan telanjang. Dia pun sibuk mencari kain untuk mentupi tubuhnya. Ketika dia melihat di ataa ranjang telah terbujur seorang mayat yang membuatnya semakin syok.
Dengan cepat laras pun ponselnya lalu menelepon riko.
Lama menelepon riko pun mengangkatnya.
"rik.. Tolongg.. Cepetan jemput aku.. Aakuu takut rik" ucap laras tersedu-sedu sambil menangis.
"tenang.. Tenangkan dirimu lar.. Sekarang kamu dimana"
"gak tau aku rik.. Kelihatannya di sebuah vila tapi gak tau dimana.. Cepatan rik." ucap laras yang masih menangis ketakutan.

Telpon pun di matikan. Riko mengetahui kemana laras di bawa pak harjo. Karna sebelumnya riko pernah menjemput wiwik di vila pak harjo itu.
Dengan cepat laras pun mengenakan pakaiannya. Lalu keluar mencoba membuka pintu kamar.
Namun pintu itu seperti tertahan sesuatu.
Laras pun mendorongnya dengan kuat. Yang ternyata sudah ada dua mayat tergeletak di lantai dengan pintu kamar.
Itu membuat laras berterik kencang
Lalu menutup mulutnya.
Dia pun berlari menuju luar vila.
Dengan perasaan bercampur aduk.
Laras gemetar memikirkan apa yang terjadi padanya.
Karna dia benar-benar tidak ingat apa-apa.
Dia hanya ingat ketika dia terakhir ingin menyisir rambutnya.
Dia pun mencari sisir
Yang sebelum itu dia gunakan untuk menyisir rambutnya.
Dan sisir itu masih ada di tasnya.

Tak lama mobil riko pun sampai di vila itu.
Laras pun berlari menuju mobil dan langsung memeluk riko karna masih merasa syok dengan semua yang dia lihat malam itu.
"ayo.. Cepat kita tinggalkan tempat ini."
Ucap riko yang langsung masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan vila itu.

"apa.. Apa yang sebenarnya terjadi padaku rik"

Riko hanya diam ketika laras mengatakan itu.
Dia terus saja melaju.
Batin riko dia merasa kasian sama laras sebab semua ini juga salahnya karena dia membuat laras ikut terlibat.
"Rik... Jawab aku.."
Bentak laras sambil menangis.

Riko yang takut melihat laras membentaknya hampir saja membanting stirnya kearah pohon.
Kemudian dia berhenti dan mengehela nafas.
"Belum.. Belum saatnya aku kasih tau lar. Dan semua ini salahku"

Laras hanya diam mendengar itu.
Meski sambil menangis dia tidak mengerti ucapan riko tersebut.
Sesampainya di apartemen tempatnya tinggal, angela telah menunggunya di depan pintu lift. Hingga ketika laras naik ke lantai atas laras pun melihat angela.

Seolah tidak tau kejadian apapun angela menanyakan keadaan laras.
"kamu kenapa lar?"
Laras tidak mengubris ucapan angela, dia hanya berjalan dengan tergesa menuju kamarnya.

Angela pun diam dia hanya memperhatikan laras berjalan lalu *brakkk* pintu kamar laras di tutup begitu keras seperti sedang marah.
Angela memahami itu. Dia tidak mau marah kepada laras.
Tak lama, riko pun datang.
Riko mengelengkan kepalanya kepada angela.

"yah mau gimana lagi rik.. Aku juga sudah menduga pasti begini"

"hmm. Aku kasian sama dia mak. Kurasa lebih baik kita biarkan saja dia pergi"
"ada apa..?
Kau menyukainya?
Hahaha riko riko.. Sejak kepan kau menyukai wanita ha?"

Riko hanya diam di bentak angela.
"kita lihat saja. Jika dalam satu bulan ini dia tidak bisa seperti yang ku harapkan maka.."
Riko memandang tajam angela. Seperti ada amarah yang sedang ia tahan.
Lalu riko pun pergi kekamar meninggalkan angela.

Sementara itu, laras pun masih termenung di ranjang kamarnya.
Dia masih memikirkan apa yang terjadi dengannya.
Lalu dia pun mengambil sisir di dalam tasnya
Dia melihat sisir itu.
Ketika dia hampir menyisir rambutnya dia merasa seperti ada yang merasuki pikirannya.
Seolah dia senang dengan liarnya pergaulan, haus akan darah. Dia melakukan itu sambil memejamkan mata. hingga sekilas, sesosok memyeramkan terlihat
Yang membuatnya langsung membuang sisir itu.
Dengan ketakutan. Laras pun kini was-was dengan sisir itu.
Ia akhirnya sadar jika sisir itu bisa mengendalikan dirinya.
Lalu dia mengambil sapu tangan dan memegang sisir tu lalu memasukannya kembali ke dalam lemari tempat
Ia menemukan sisir itu.
Hingga untuk semetara waktu ia merasa sedikit aman.
Ia pun berbaring di ranjangnya tanpa mengganti pakaian Tanpa sadar, laras pun tertidur.
Laras membuka matanya, namun kali ini, dia tidak terbangun di atas tempat tidurnya.
Seperti berada di sebuah rumah yang begitu mewah.
Dia melihat begitu banyak wanita tidak mengenakan pakaian dimana para wanita itu seperti seperti sedang menjadi budak untuk rumah mewah itu.
Laras pun berjalan memasuki setiap tapak rumah itu. Hingga sampai dia melihat seorang lelaki yang begitu tampan yang tengah duduk di sebuah kursi.
Di samping lelaki itu ada dua wanita yang tengah melayaninya.
Lalu salah satu wanita itu menyadari kehadiran laras.
Ia menatap laras dengan mata berkaca seperti ingin menangis.
Laras tidak bisa mendengar ucapan wanita itu namun dari gerakan mulutnya laras tau apa yang wanita itu katakan.
"PERGI"
Secepat mungkin laras berlari keluar dari rumah itu. Sekuat tenaga ia berlari namun tetap saja tidak menemukan pintu keluar rumah itu.
Hingga membuatnya begitu lelah lalu duduk di lantai untuk beristirahat.
Dengan nafas yang tersengal laras pun sesekali memejamkan matanya
Ketika tangannya menyentuh lantai untuk menahan dirinya agar tidak terbaring ia memegang sesuatu.
"haa sisir ini.. Kenapa. Kenapa bisa ada disini"
Gumamnya dalam hati.
Tak lama,
Lelaki yang ia duduk tadi telah berada di hadapannya.
"kenapa kau berlari?
Kau ingin meninggalkan rumahmu sendiri?"

Suara lelaki itu membuat laras tercengang dengan mata melotot membuatnya menjadi takut.
Ketika lelaki itu ingin meraih tangan laras dan membawanya ke tempat dimana lelaki itu tadi duduk,
Wanita yang laras lihat tadi datang dan mondorongnya dengan kuat hingga kepalanya membentur lantai.

*deegg*

Laras pun terbangun dari tidurnya
Dengan kepala yang terasa pusing.
Ia sadar ternyata tadi itu hanyalah mimpi.
Ia melihat jam dan ternyata sudah siang.
Ia baru sadar, ternyata saat tidur ia lupa mengganti pakaiannya.

Karna merasa tubuhnya begitu kotor, laras pun memutuskan untuk mandi.
Tidak ada yang aneh selama laras mandi, namun ketika laras ingin keramas, laras kesulitan menemukan shampo yang biasa ia gunakan.
Laras pun mencari-cari membuka setiap lemari kecil yang ada di kamar mandi itu. Tangannya meraba-raba tanpa sengaja ia menemukan sebuah foto
Yang ukurannya sangat kecil.
Laras pun melihat foto itu. Foto seorang wanita dengan pose datar di belakang foto tertera sebuah tanda tangan yang berawalkan huruf W.
Laras pun memperhatikan foto itu dan wajah wanita itu seperti familiar baginya.
Laras mengingatnya. Wanita itu yang ia lihat di mimpinya tadi yang menyuruhnya untuk pergi.

Perlahan laras mulai mengerti.
Kini laras hanya butuh orang mengetahui semua ini untuk menanyakan semuanya.
Dan ia tau siapa orangnya.
"RIKO"
Ia pun kemudian menyimpan foto itu. Lalu bergegas menganti pakaiannya.

Laras pun mengambil gadget milikinya dan mengirim pesan kepada riko.
"rik.. Aku tunggu di parkiran"

Lalu laras pun pergi kebawah. ketika melewati pintu kamar miliki angela, ia melangkah dengan pelan
Hingga menuju lift ke lantai paling bawah.
Seperti janjinya laras pun menunggu di parkiran tepat di mobil yang biasa di bawa riko.
Ia menunggu begitu lama sampai akhirnya riko datang.
"ada apa lar?"
Ucap riko yang menghampiri laras.

"temenin aku makan di tempat yang biasa itu aku lapar rik"

Tanpa merasa curiga apapun, riko bersedia menemani laras.
Mereka pun pergi menuju rumah makan yang di maksud
Hingga setelah selesai makan, laras tidak mengajak riko untuk langsung pergi.
Laras membuka dompetnya dan mengeluarkan selembar foto kecil yang dia temukan.
Lalu menunjukan kepada riko.
"di.. Dimana kau temukan foto itu?"
Ucap riko dengan bibir sedikit gemetar.

"katakan.. Siapa dia.. Siapa?"
Bentak laras.
Seketika semua orang yang berada dirumah makan itu memandangi mereka berdua yang membuat riko sedikit malu.
"oke oke.. Aku akan kasih tau.. Tapi tolong jangan teriak-teriak lar.."

Kini laras pun diam dan sedikit tenang.
"dia wiwik lar.. Biduan mbak angela sebelum kamu. Sudah lama dia ikut dengan kami hampir tiga tahun.
Di tahun pertama acara manggung begitu laris. Wiwik begitu terkenal. Hingga dua tahun setelahnya job kami perlahan mulai sepi akibat banyaknya penyayi yang bermunculan
Saat itulah mbak angela tertarik, hingga ia bertemu dengan mbah darna."

Laras mendengarkan cerita itu.
Meski riko menceritakannya sedikit pelan agar tidak terdengar orang lain tapi laras mendengarnya begitu jelas.

"pada saat itu, mbah darna sudah mengatakan,
Jika perjanjian ini bersangkutan dengan iblis yang tentunya akan meminta tumbal. Mbak angela yang sudah kalap memikirkan bagaimana cara untuk mengembalikan modalnya akhirnya menyetujuinya. Hingga mbah darna mengatakan harus mengawinkan peliharaannya dengan wanita yang ingin
Meminta kekayaan. Tentu mbak angela tidak mau. Sampai akhirnya ia mengajukan wiwik dan wiwik pun di bawa ketempat mbah darna sama sepertimu waktu itu."

Mendengar hal itu laras terkejut bukan main. Dan sekali lagi dia ingin marah kepada riko di tempat itu. Lagi-lagi
Di tahan sama riko dengan cara dia tidak akan menceritakan semuanya jika laras terus marah.

Sekali lagi laras pun diam. Mencoba menahan emosinya.

"lalu setelah itu untuk mendapatkan tumbal mbak darna berinisiatif untuk memperjual belikan wiwik kepada para hidung belang
Lalu para pria hidung belang itu yang akan menjadi korbannya"

Laras tidak mampu berkata apa-apa lagi. Kali ini dia hanya diam dan tidak menyela pembicaraan riko.
"dan ternyata itu berhasil.. Hingga dua tahun lamanya mbak angela naik kembali. Kami pun mulai sering dapat job lagi. Namun semua beban itu di tanggungkan kepada wiwik. Dia sering bercerita kepadaku bagaimana dia melihat mayat tergeletak di depan matanya. Dan sehabis melakukan
Pembunuhan aku selalu menjemputnya setiap satu bulan sekali dia membunuh orang itu"
Tambah riko.
"lantas apa yang membuatnya berhenti rik? Apakah dia meninggal?"
Tanya laras.

Riko menganggukan pelan kepalanya.
"dia tidak berhenti, namun dia jatuh cinta."

"hah.. Bagaimana bisa?"
"malam dimana dia ingin membunuh tumbal selanjutnya, yang dimana ternyata orang itu adalah seorang pemuda yang cukup lama mengawasi wiwik.
Wiwik mengatakan jika pemuda itu tidak benar benar ingin melecehkannya justru ingin mengajaknya meninggalkan semua pekerjaannya
Dan memulai hidup lebih baik bersamanya. Dia bahkan tidak bertemu denganku dia hanya mengirimkan pesan malam itu yang mana pesannya masih kusimpan."
Ujar riko sambil mengeluarkan ponsel miliknya dan menunjukan pesan wiwik tiga tahun yang lalu yang belum riko hapus.
Laras pun melihatnya. Lalu dia membaca pesan itu kemudian dia diam seketika.

"dua hari setelah itu wiwik di kabarkan meninggal karena kecelakaan bersama pemuda itu bukti kuat menunjukan jika pengendara sedang mabuk. Namun aku rasa itu bukanlah akibat dari mereka"
Ucap riko.
"mbak angela menumbalkan mereka" tambah laras sambil menatap riko.
Riko hanya mengangguk membenarkan ucapan laras.

"lantas bagaimana menghentikan ini semua rik?"

"aku tidak tahu lar.. Mahkluk itu akan terus meminta tumbal selagi tuannya masih hidup" ucap riko.
Kini laras terdiam. Ia menatap foto wiwik yang ia pegang. Seperti sedang memikirkan sesuatu untuk mengambil suatu keputusan.

"sekarang kita pulang rik"
Ucap laras bergegas.
Dengan cepat ia pun keluat dari rumah makan itu setelah membayar dan langsung menuju mobil.
Riko hanya diam seraya mengikuti laras menuju mobilnya. Hingga sampai di apartemen.
Sebelum naik keatas laras berpesan untuk tidak menceritakan ini semua kepada mbak angela. Dan mengatakan jika malam nanti riko harus menemaninya lagi kesuatu tempat seperti saat tadi,
Laras akan menunggu di parkiran tempat mobil riko.
Riko hanya mengangguk.
Setibanya di kamar, laras mematikan lampu kamarnya hingga sampai malam tidak ada yang tahu apa yang di lakukan laras di dalam kamarnya.

Malam hari, ketika angela ingin memanggil laras di kamarnya untuk acara manggung yang telah ia terima. Angela pun menuju kamar laras
Pintu pun di ketuk berkali-kali namun tidak ada jawaban dari laras.
Kemudian angela memutar gagang pintu yang ternyata pintu itu tidak di kunci laras.
Begitu gelap tidak ada cahaya sedikit pun di kamarnya.
Angela pun masuk dan sesekali memanggil laras.
"lar.. Laras.." ucapnya sambil berjalan pelan.
Hingga ia mendengar suara erangan yang begitu menyeramkan.di tengah gelapnya kamar laras sekelebat bayangan hitam melewati angela dengan cepat. Hingga angela terjatuh
Tergeletak begitu saja dengan tangan yang memegangi lehernya.

"hahha mati kau..
Terimakasih kekasihku" ucap laras yang entah dengan siapa dia berbicara.
Kemudian laras kembali menghidupkan lampu kamarnya.
Kamarnya begitu berantakan dengan ranjang kamar yang penuh bunga macam-macam. Laras terlihat hanya mengenakan handuk sebagai penutup tubuhnya.
Lalu di lantai angela telah tergeletak dengan leher bagian pita suaranya yang tergorok oleh kuku mahkluk halus itu
Hingga di ambang kematiannya angela benar-benar tidak mampu berteriak.
"Selanjutnya nenek tua itu."
Ucapnya sambil memegang sisir yang waktu itu.

"apa.. Kenapa? Kau tidak setuju aku membunuhnya. Bukankah kau mencintaiku"
Laras berbicara sendiri. Entah apa yang membuatnya begitu.
Lalu laras pergi menuju parkiran.
Kemudian menelepon riko.

"emm kamu dimana? Cepetan aku nunggu di parkiran."
Ucap laras dan langsung mematikan telepon.
Tak lama mobil riko pun datang menuju parkiran apartemen
Tersebut.

"mana mbak angela?. Dia di tungguin sama bos besar di sana"
Ucap riko

Dengan santai laras menjawab.
"mbak angela pergi lebih dulu tadi pake taksi"

"ohh yaudah kalo gitu. Ayo cepat" ucap riko.
Laras pun naik kemobil dan mereka langsung pergi.

"rik.. Kita kerumah mbah darna dulu."
"hah.. Ngapain kesana lar.?"

"semua ini harus di selesaikan sekarang juga."

Riko menatap laras. Ia melihat tatapan laras yang begitu dingin mengarah kedepan.
Tangannya riko mulai gemetar mengemudikan mobil.
"kau tidak perlu takut. Dia tidak akan membunuhmu kok. Dia sekarang nurut perkataanku." ucap laras sambil menunjuk kaca mobil yang melihatkan bangku bagian belakang.
"lebih baik kau menuruti perkataanku untuk menuju rumah mbah darna. Atau mahkluk itu akan mematahkan lehermu seperti ranting pohon kecil"

*degg*
Mendengar itu riko begitu ketakutan. Keringatnya mulai mengucur di keningnya.
"ba.. baiklah lar.. Tapi tolong.. Jangn. Jangan bunuh aku" ucap riko.
Laras hanya tersenyum menyeringai.
Mobil pun melaju ke tempat mbah darna.
Hingga sesampainya disana terlihat pintu rumah telah terbuka namun keadaan rumah begitu gelap.

"aku tidak bisa ikut kedalam lar.. Aku.. Aku akan pergi."

Laras hanya diam.
Ia pun keluar melangkah dari mobil.
Berjalan pelan menaiki rumah
Tua tersebut.
Didalam hanya terdapat satu penerangan berupa lilin yang berada di atas meja.
Terlihat ada seseorang wanita tua yang duduk di kursi goyang tepat di sebelah meja itu.
Laras pun mulai merogoh tasnya untuk mencari sisir itu.
Ia berjalan pelan.
Hingga suara tepuk tangan di iringi tawa mbah darna membuat suasana rumah itu semakin mencekam.
*prokk.. Prok..*
"baguss.. Baguss sekali.. Kau berhasil mengendalikan mahkluk sialan itu. Hingga ia bersedia ajakanmu untuk membunuhku.. Wahaha bagus.. Bagus sekali."
Ucap mbah darna sambil berdiri dari kursi goyangnya.
"tapi.."

*deegg*
Seketika laras terhenti tidak bisa bergerak. Tubuhnya seperti ada yang menahannya untuk melangkah. Perlahan tubuhnya mulai terangkat.
Ia pun memegangi lehernya dimana ia merasa begitu sakit.
"untuk ingin membunuhku dengan benda dari yang kuberikan..
Itu kesalahan besar"
Laras tidak mampu berkata apa-apa. Tubuhnya terus saja terangkat dan menahan sakit di lehernya.

"pertama. Kau dulu mahkluk laknat kuangajar.. Berani beraninya kau berkhianat."
Kemudian mbah darna mengeluarkan sebuah botol kecik. Bebalut rambut hitam. Kemudian ia membuka tutupnya. Tak lama berselang kemudian ia menutup kembali botol itu.

Setelah selesai dengan mahkluk tadi,
Mbah darna kemudian mendekat kearah laras.
Menatapnya dengan menyeringai.
Kesadaran laras hampir hilang.
Hingga mbah darna membengkok kan lehernya sehingga leher laras terpilas dan patah lalu ia tergeletak di lantai..
***
Satu bulan setelah kejadian laras.
Terlihat sepasang suami istri menghampiri rumah itu yang lain itu adalah rumah mbah darna.

"permisi.."
*tokk.. Tok.. Tokk*

"masukk" suara yang entah dari mana asalnya diikuti pintu rumah berderit yang terbuka sendiri.
Sepasang suami istri tadi pun duduk tepat di hadapan meja kecil panjang yang terdapat banyak sekali barang-barang untuk ritual.

"apa hajat kemari?"
Ucap wanita tua yang duduk membelakangi sepasang suami istri tadi.
"emm.. Saya.. Saya pengen jadi kaya mbah"
Ucap sang suami sedikit gemetar..

Tawa khas wanita tua itu pun terdengar. Hingga ia berpaling muka dengan wajah menyeringai menyeramkan..
***

-tamat-

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Putra Ramadhan

Putra Ramadhan Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @Angah_Put

Mar 3, 2021
"40 HARI"

"Dia akan mati atau menjadi gila seumur hidup namun akan ada resikonya"
"Apa itu mbah?"
"jika dia berhasil menjinakannya maka semua itu akan BERBALIK PADAMU"
..

based on true story
@bacahorror
#bacahorror Image
Malam atau sore akan saya mulai.
Sebuah cerita kelam yang dialami oleh kakak teman saya yang satu kontrakan di tempat perantauan ini.
Read 127 tweets
Oct 27, 2020
-Sepenggal kisah andi dan alasan kenapa ia berhenti menjadi nahkoda kapal- Image
Suara nyaring mesin perahu ketek yang melaju dari pelabuhan menuju kapal tongkang untuk mengantakan nahkoda yang ingin berlayar.
Sebelum itu kapal itu berhenti di dermaga besar tempat biasa kapal -kapal memuat barang.
Dengan kecepatan penuh, abdur pun melaju membawa perahu ketek tersebut membawa seorang nahkoda yang biasa di sebut yudi.

Hingga sampai di dermaga, yudi pun naik. Dan yudi mengajak abdur dulu naik kekapal karna kebetulan kapal belum berangkat.
Read 14 tweets
Jul 29, 2020
APA YANG KAU LAKUKAN.?
"maafkan kami.."
TIDAK ADA KATA MAAF. KAU HARUS MEMPERTANGGUNG JAWABKAN SEMUA INI

-MELANGGAR LARANGAN-
_Horror Story_

@bacahorror #bacahorror
Baru pulang kerja..
Mandi dlu, sholat.
Dan langsung kita mulai wait bentar ya.😊
*srekkk.. Srekkk*

Langkah dari seorang remaja yang menginjak dedaunan kering yang berjalan memasuki hutan.
Bermodalkan ketapel serta beberapa batu di kantongnya,
Remaja itu berburu burung yang biasa dia lakukan di sore hari.
Read 178 tweets
Jul 3, 2020
"Apakah aku harus MENERIMA DAN MENERUSKAN DENDAM ORANG TUA?"
.
SUDAH SEHARUSNYA.. DAN INI SEMUA HARUS DI AKHIRI.

"Akhir Dari Garis Keturunan Terakhir"
_Palasik Kuduang_ PART III

@bacahorror #bacahorror
Sebelum itu..
Ada baiknya singga disini dulu.

Read 400 tweets
Jun 29, 2020
"Bekas Pabrik Limun"

Semua orang hanya tau apa yang di hasilkannya
Namun tidak tau kisah apa yang ada di balik itu semua.

_based on true story_
@bacahorror #bacahorror
Mood baik itu susah datang.
Akan saya mulai di 100 rt 😁 ahh dikit kok
Tahun 2000an minuman pabrik ini sangat terkenal di kota kuala tungkal. Dengan khas rasa sarsaparilla yang sangat menyegarkan bila di campur dengan es.
Read 99 tweets
Jun 27, 2020
"Dibalik Hotel Novita"

Sebuah bangunan megah yang berdiri tahun 1996.
menyimpan berbagai misteri yang tidak banyak orang tahu.

@bacahorror #bacahorror
Sebelum saya mulai.
Tujuan saya bercerita ini bukan ingin membuat kontroversi yang terjadi kembali memanas.
Hanya mengingat kembali sejarah kelam yang pernah terjadi semerta-merta hanya ingin menambah wawasan dan tidak bermaksud menyinggung atau pun menyudutkan pihak manapun.
Jam istirahat akan saya mulai.
Kerja dulu.
Karna ada tangan yang harus di pinang. 😄
Read 48 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(