Posisi saya dari sejak awal tidak berubah: umat Islam memang diharuskan mengonsumsi makanan/minuman yg halal. Itu kewajiban moral-etis bagi setiap muslim.

Tp terlalu berlebihan mengorek2 kehalalan sesuatu yg mau kita konsumsi, itu sikap "ghuluw"/berlebihan dlm agama. Ndak baik.
Apalagi melekatkatkan status halal atau haram dlm hal2 di luar makanan/minuman, itu jelas tindakan berlebihan dlm agama. Misalnya, melabeli baju atau kulkas sebagai halal, ini jelas ndak tepat. Kalau baju, statusnya ya bersih atau kotor/najis, bukan halal-haram.
Over setifikasi halal ini, menurut saya, bukan sesuatu yg dikehendaki dlm Islam. Tajassus atau meneliti scr berlebihan halal tidaknya sesuatu yg mau kita makan, najis tidaknya sesuatu yg mau kita pakai, itu bukan ajaran agama.

وما جعل عليكم فى الدين من حرج.
Agama tidak menghendaki kesulitan bagi kalian, demikian ajaran yg termuat dlm Quran. Karena itu, jika pas di luar negeri, saya tidak pernah ngotot mau mencari restoran halal. Yg penting saya ndak pesan babi, titik.

Inilah yg dipraktekkan Gus Dur setiap ke luar negeri dulu.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Ulil Abshar-Abdalla

Ulil Abshar-Abdalla Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @ulil

24 Aug
Saya mau ngetwit sebentar soal sikap Banser yg dalam beberapa tahun terakhir ini sangat keras terhadap HTI. Banyak kritik diarahkan kepada Banser gara2 sikap seperti ini.

Saya mau meletakkan sikap Banser ini dalam sebuah perspektif yg lebih luas agak lebih fair.

A THREAD.
Kasus terakhir yg terjadi di Pasuruan di mana Banser mendatangi sebuah lembaga pendidikan yg ditengarai mengajarkan ajaran khilafah, mendapat sorotan kritis oleh pelbagai pihak.

Kenapa Banser bersikap keras terhadap HTI akhir2 ini?
Saya sendiri punya sikap sejak awal, pemerintah mestinya tak perlu membubarkan HTI. Kebijakan ini malah membawa ekses buruk: para pendukung khilafah makin mengeras, dan militansi mereka pun menjadi kian menebal.

Membubarkan HTI bukanlah solusi yg tepat. Itu sikap saya.
Read 19 tweets
19 Mar
Kadang2, jalan yg ditempuh agar suatu kelompok dikenal dg lebih baik sangat aneh, dan sekaligus tragis. Contohnya adalah kelompok Jamaah Tabligh ini.

Ini adalah kelompok Islam yg jarang diketahui publik. Skg kelompok ini mulai dikenal ttp gara2 wabah corona. Sayang sekali.
Kelompok ini berasal dari India. Cikal bakal gerakan ini muncul melalui sosok bernama Syekh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi (w. 1944). Sudah hadir di Asia Tenggara (termasuk di Indonesia) sejak tahun 50an.

Hadir di desa saya (Cebolek, Pati) pada awal 90an.
Gara2 anggota kelompok ini banyak memakai jubah dan memelihara jenggot, banyak yg mengira Jamaah Tabligh sama dg kelompok Salafi/Wahabi.

Mereka sama sekali tidak sama, bahkan tidak "akur" secara aqidah dan ideologi.
Read 20 tweets
15 Mar
Selamat pagi dan selamat akhir pekan, wanwakan.

Salah satu tugas ilmu adalah menghilangkan "prejudice" dan asumsi2 yg keliru di tengah2 masyarakat, serta membawa publik kepada pemahaman yg berimbang dan "less prejudiced".

Inilah yg mau saya bahas pagi ini. Sambil ngopi.
Jika ilmu justru melanggengkan prasangka yg penuh dg tendensi dan bias kebencian terhadap hal2 atau kelompok2 tertentu, maka itu jelas berbahaya. Ini bukan ilmu yg bermanfaat, tetapi ilmu yg destruktif.

Makin maju perdaban, mestiya makin maju pula perkembangan ilmu.
Dalam setiap masyarakat, selalu saja ada asumsi, anggapan, prasangka, bias, pandangan tertentu yg "keliru", "merendahkan", "rada ngenyek" kelompok lain.

Ini terjadi di semua kasus. Prejudice is a normal fact of life. Normal, but not to be given any legitimacy.
Read 36 tweets
12 Feb
1/ Pemerintah sudah mengetok palu: tak akan memulangkan WNI eks-ISIS di Suriah dan Turki. Jumlah mereka mencapai hampir 700 orang.

Saya menghormati keputusan pemerintah. Meski demikian, saya punya pendapat yg berbeda. Perkenankan saya menyampaikannya di sini.
2/ Baik yang setuju maupun menentang repatriasi/pemulangan WNI eks-ISIS, punya argumen masing2 yg cukup kuat. Salah satu argumen kuat untuk menentang repatriasi, dan ini dipakai pemerintah: mereka akan menularkan "virus" terorisme di Indonesia.

Benarkah?
3/ Penularan virus ideologi jihadisme di era digital ini, sebagaimana kita tahu, lebih banyak mengambil bentuk "kontak tak langsung" (meminjam bahasa medis). Penyebaran virus ideologi ini lebih banyak melalui ruang maya, dg cara tersembunyi, "slaman-slumun".
Read 15 tweets
16 Mar 19
Kalau anda pernah merasakan hidup sebagai Muslim minoritas di negeri Barat, anda akan merasakan betapa sakitnya menjadi obyek yg "dicurigai", di-lain-kan, menjadi sasaran fobia yg bisa berujung pada kekerasan spt di NZ kemaren.

Karena itu, hormatilah minoritas di manapun.
Di setiap negara pastilah selalu ada sekelompok orang yg kebetulan menjadi minoritas - - dalam level manapun: minoritas budaya, bahasa, etnik, agama, mazhab, sekte, ekonomi, dll.

Mari hormati perasaan kaum minoritas, dan lindungilah hak2 mereka.
Umat Islam bisa menjadi mayoritas di sebuah tempat, tetapi di tempat lain ia menjadi minoritas. Pengalaman minoritas Muslim sama dg pengalaman minoritas manapun.

Pengalaman minoritas selalu kurang lebih sama di mana2: mereka disepelekan, diliyankan, diabaikan, tak dihitung.
Read 9 tweets
2 Mar 19
Selamat pagi, wankawan. Saya akan "ngocol" sebentar. Apalagi kalau bukan soal keputusan Munas NU yg bikin geger kemaren. Mumpung masih hangat, dan mumpung hari Sabtu dan isteri sedang datang bulan.

😀😀😀
Tentu saya senang sekali dengan keputusan Munas NU yg menegaskan bhw status non-Muslim dlm negara nasional seperti Indonesia adalah bukan kafir dzimmi atau yg lain, tetapi adalah warga negara.

Ini keputusan yg fenomenal.
Sebetulnya, dari segi substansi, keputusan Munas NU ini bukan hal yg baru. Gagasan bhw non-Muslim dlm negara modern tak bisa disebut sbg kafir sudah dianut oleh banyak kalangan Islam, baik di Indonesia ataupun di negeri2 lain.
Read 15 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!