semua berawal dari dm di twitter saya, seseorang ingin bertanya, perihal tentang ada gak sih seseorang yg ngilmu, entah hitam atau putih yg ada di dalam dirinya dipergunakan untuk melakukan sesuatu diluar logika, seperti mengambil saripatih kehidupan. jawaban saya?

Ada. ImageImage
kebetulan sekali pembahasan kali ini sedikit lebih serius, dan gelap tentu saja, karena seseorang yg akan diceritakan ini kekerabatannya sangat dekat dengan diri saya, so, saya sedang menimbang apakah akan menceritakan semua secara gamblang, lalu apa hubungannya dengan jarum?
saya akan ceritakan dengan tempo yg lambat ya, perihal ngilmu-ngilmu ini.
ada sebuah rumah di salah satu kota besar, sebut saja begitu, saya malas menyebut lokasi, karena kota ini cukup familiar bagi orang-orang.

rumah ini besar, besar sekali. anehnya, dari luar, rumah ini tampak seperti rumah biasa pada umumnya, bahkan cenderung kecil.
saya pun dulu begitu, setiap kali melintasi rumah tersebut tak terlihat tanda-tanda bahwa rumah ini luasnya nyaris 7 kali rumah orang pada umumnya, benar-benar tak terduga. pertama kali saya menginjakkan kaki di sana, tentu saja, tidak percaya, kaget, dan begitu kagum.
pasalnya tidak ada yg istimewa dari bangunannya, benar-benar seperti rumah orang pada umumnya, tapi, tapi, ini yg masih bikin nyali saya ciut, sekali saja masuk ke rumah itu, orang paling tidak sensitif sekali pun pasti merasakan terror ngeri yg masih tersisa di sana.
thread pertama saya yg pernah saya tulis di twitter (bisa dibaca kalau mau) menceritakan rumah teman saya yg dulu dipasang tumbal karena nenek moyang mereka orang yg kaya raya, penggunaan tumbal dilakukan untuk melindungi harta benda mereka, akibat dari pemasangan tumbal itu-
membuat aura rumah menjadi gelap, bila saya diajak ke rumah itu, maka saya bersumpah tidak akan pernah mau, rumah tempat nini towok tinggal sudah membikin saya trauma, lalu bagaimana dengan rumah yg akan kita ceritakan ini

rumah ini, sepuluh kali lipat lebih gelap dari rumah itu
saya tidak pernah melebih-lebihkan sesuatu terutama bila saya melihatnya langsung, lalu apa alasan rumah itu begitu gelap, jawabannya, karena penghuni sebelumnya yg sudah meninggal pernah ngilmu ditahap yg sudah tidak bisa diobati lagi, sentuh dia, dan nyawa menjadi bayarannya.
mungkin intronya sudah lebih dari cukup, kita mulai saja ceritanya. sejujurnya saya benar-benar akan membawa kalian masuk ke sisi lain dari manusia, kenapa manusia itu sangat unik, tidak ada yg bisa menebak jalan pikiran mau pun perbuatannya, bahkan orang yg kalian pandang-
-paling baik sekali pun, dimata orang lain bisa menjadi mimpi buruk terbesar yg bahkan tidak pernah kalian bayangkan sifatnya sebelumnya.

begitu pula dengan mbah Darsem. di mata tetangga, beliau adalah wanita tua yg sangat dihormati, disegani, begitu diagung-agungkan, namun, -
dibelakang semua orang, dia bisa menjadi mimpi buruk bagi orang lain. tak terhitung seberapa jauh dirinya menekuni seni ngilmu hitam yg paling tua hanya berbekal darah keturunan yg dimiliki, dia menenun, menerima sepenuh hati ajaran dari gurunya, sampai di titik tertingginya.
rumahnya selalu didatangi oleh tamu dari berbagai kota untuk meminta bantuan, mulai dari memperlancar rejeki, memuluskan usaha, sampai mencari wangsit untuk masa depan, suatu hari, ada seorang tamu yg guna meminta bantuan kepada beliau.
mereka datang dari tempat yg jauh, mbah Darsem menerima dengan senang hati, meski ngilmu hitam beliau masih gemar membantu para tamu-tamu yg datang, disinilah ada salah satu tamu yg entah kenapa tertuju pada kuku jari mbah Darsem yg hitam panjang.
semenjak pertama masuk, ia sudah terganggu, matanya tidak pernah bisa lepas dari pandangan kearah kuku jarinya, suatu waktu setelah pembicaraan mereka selesai, si tamu mempertanyakan kepada mbah Darsem, untuk apa beliau memelihara kuku jarinya, bukankah lebih baik bila dipotong.
mbah Darsem menanggapi si tamu dengan senyuman yg tulus, ia tak menjawab hanya sekedar mengangguk, lalu setelahnya, mbah Darsem berpesan kepada mereka, "hati-hati yo anakku nang dalan" (hati-hati ya anakku yg dijalan), para tamu pun pergi, kembali pulang.
ketika mereka melaju diatas jalan toll antar provinsi, mobil yg mereka kendarai digilas Truk fuso, anehnya, dengan keadaan mobil yg nyaris hancur lebur, semua penumpang masih diberi keselamatan, kecuali, sang sopir, salah satu tamu yg mempertanyakan kuku jari mbah Darsem,
beliau tewas, dengan kepala terpenggal.
hal yg mustahil terjadi, bagaimana kepala seseorang bisa terpenggal di dalam mobil, semenjak itu, tak ada lagi yg berani mempertanyakan apa pun kepada beliau.

di sini, sebutlah beliau bu Aini, beliau adalah pengantin dari anak mbah Darsem, menikah di usia muda-
karena perjodohan dengan kawan lama mbah Darsem, sebutlah pak Jainuri, bila mbah Darsem dikenal dengan ngilmu hitamnya, pak Jainuri adalah kebalikannya, ketaatan di dalam agama, membuat semua orang menghormati beliau dengan gelar haji tersemat di namanya.
sampai saat ini saya masih mencari korelasi bagaimana hubungan ini bisa terjadi, namun, yg saya tahu hanya mbah Darsem menemui pak Jainuri, lalu menawar anak perempuannya agar diperisteri oleh anak lelaki kesayangannya, konon, mbah Darsem sudah meramalkan nasib mereka kelak.
bila kedua anaknya ini dipersatukan dalam ikatan yg sah, kekayaan yg tak akan pernah habis akan mengiringi perjalanan hidup mereka, pak Jainuri meski memiliki pegangan agama yg kuat, beliau masih memiliki sifat manusia, ia tentu tergoda, meski beliau tahu,-
ada apa dibelakang wanita tua itu.

sebelumnya saya tegaskan ya, beliau-beliau di cerita ini tidak mengamalkan ilmu kejawen yg biasa saya angkat melainkan ilmu hitam keturunan dari negara yg ya, kalian tahu lah, negara mana yg paling tua peradabannya.
sempat terjadi penolakan dari bu Aini, siapa yg mau dinikahkan di usia yg masih muda apalagi ia tak mengenali siapa calon suaminya, namun, bagai kalap pak Jainuri sampai ingin menghabisi anaknya sendiri sehingga membuat semua keluarganya kaget, apa yg melatarbelakangi ambisi ini.
akhir cerita ini, mereka tetap dinikahkan meski penuh muslihat dan paksaan, lalu apa yg terjadi, entah bagaimana mbah Darsem meramalkan hal itu, karir anak kesayangannya melesat tinggi, bagaikan uang tak ada habis-habisnya singgah di rumah beliau. sinting.
namun, di sinilah semua bermula, Aini, menantu dari mbah Darsem mulai mengetahui segalanya. apa yg melatarbelakangi kenapa wanita itu begitu kuat.

suatu malam, saat suaminya belum pulang, Aini seorang diri di dalam rumah bersama dengan mbah Darsem.
rumah itu terlalu besar bagi mereka berdua, mbah Darsem memiliki kebiasaan aneh, setiap kali sorop datang, ia akan mengurung diri di dalam kamar, mengunci pintu tanpa ada satu pun orang yg tahu apa yg beliau lakukan di dalam kamar.

Aini selalu penasaran dengan hal ini.
mbah Darsem sendiri orang yg tertutup, tidak banyak bicara, sehingga membuat Aini merasa sungkan bila terjebak berdua di dalam rumah ini.

suatu ketika, setelah maghrib, Aini berjalan menuju ke dapur, di lorong yg panjang ia harus melewati kamar mbah Darsem.
hal yg sudah Aini ketahui sejak pertama menginjakkan kaki di rumah ini adalah, dari dalam kamar mbah Darsem selalu tercium aroma kemenyan yg dibakar, tetapi, aroma itu hanya tercium bila Aini berada di dekat pintu kamar beliau. hal ini membuat Aini semakin penasaran.
setiap hari, Aini terus menerus mencoba memastikan apakah yg dirinya cium benar-benar aroma kemenyan, ia selalu berjalan bolak balik ke dapur guna memastikan hal ini, rupanya firasatnya benar, ini adalah aroma kemenyan yg baru saja dibakar
tak hanya aroma kemenyan yg Aini curigai dari sifat misterius mbah Darsem, melainkan terkadang saat di dalam kamar beliau seperti sedang berbicara dengan orang lain, suaranya terdengar begitu jelas bahkan terkadang tertawa sendiri, padahal beliau hanya seorang diri di dalam kamar
semua rentetan kejadian ini semakin membuat Aini merasa takut, beberapa kali ia menceritakan hal ini kepada suaminya, anak dari mbah Darsem sendiri, namun, beliau selalu berkata untuk tidak ikut campur apa yg dilakukan oleh ibunya..
namun, dasar sifat Aini yg susah diatur, ia benar-benar penasaran dengan apa yg dilakukan oleh ibu mertuanya, suatu ketika, ada sesuatu yg sangat jarang terjadi, dimana, mbah Darsem tidak mengunci pintu kamarnya saat sorop sudah tiba, tentu saja hal ini membuat Ani tertegun,
ia terdiam sebentar melihat ke bilik pintu yg sedikit terbuka, sementar gema suara mbah Darsem terdengar dari dalam, beliau sedang berbicara dengan seseorang, beberapa kali juga memanggil sebuah nama, Aini mendekatkan diri, mencoba mencuri dengar pada siapa ibu mertuanya bicara,
terdengar jelas, beberapa kali mbah Darsem menyebut nama dari lawan bicaranya dengan panggilan "SITI", lalu ada kalimat lain mengikuti, mulai dari "dibikin susah", "dibikin mati", atau "dibikin tersiksa sampai mati", hal ini membuat Aini merinding, pasti ada sesuatu yg terjadi,
sesuatu yg melibatkan mertuanya, dari niat mencuri dengar terbesit pikiran untuk sekedar mengintip, Aini menepi melihat kearah belah bilik, di sana dia melihat isi kamar mbah Darsem yg umumnya diselimuti kegelapan, namun samar cahaya dari tempat Aini menelusup masuk,
membuat dirinya bisa melihat bayangan hitam sedang duduk di atas sebuah kursi kayu, mbah Darsem sedang duduk membelakangi Aini di sudut kamar yg paling gelap, beliau masih berbicara, sesekali tertawa terbahak-bahak, ia menyebut SITI, terus menerus..
jantung berdegup kencang, Aini memaksakan diri mencoba melihat lebih jauh isi di dalam kamar mbah Darsem, tiba-tiba, belum juga ia bergerak melangkah maju, mbah Darsem yg sedari tadi berbicara sendiri tiba-tiba saja berhenti, diam, membuat suasana menjadi sunyi, Aini ikut terdiam
tak lama kemudian, mbah Darsem tertawa, namun, nadanya terdengar berbeda dari biasanya, figur mengenakan pakaian putih dengan rambut keriting panjang terurai dipunggung terlihat oleh Aini, sejenak, beliau menoleh meski hanya sekelumit wajahnya melihat kearah pintu,
di sana lah Aini melihat bayangan samar mbah Darsem melihatnya dengan senyuman menyeringai, tak lama, pintu bilik yg sedikit terbuka, berderit sebelum menutup dengan sendirinya, Aini tak dapat berkata apa-apa, ia termangu merasakan ketakutan memenuhi dirinya, ia diperingatkan.
suatu sore, Aini baru saja pulang dari tempat pengajian, Ia terkejut melihat mobil suaminya sudah terparkir di garasi rumah, cepat-cepat Aini berlari masuk, suara ramai terdengar dari arah dapur, suaminya nampaknya sedang berbincang dengan ibunya, mbah Darsem,
senang melihat semua-orang berkumpul, Aini berniat bergabung, ia membawa oleh-oleh di dalam tas, sebuah bingkisan berisikan 30 tusuk sate yang ia beli sewaktu pulang, namun, wajah mbah Darsem berubah saat melihat tusuk sate yang tersaji di atas piring, ada ketakutan di sana..
rasanya Aini belum pernah melihat hal seperti ini, mbah Darsem lalu mendorong piring berisikan sate sampai terbanting jatuh di atas lantai, Aini terdiam sejenak, bingung, tak lama kemudian wanita tua itu pergi meninggalkan meja makan sebelum mengunci pintu kamarnya,
hal ini membuat Aini merasa tidak nyaman, ia terus memikirkan kejadian ini meski pun suaminya sudah mengatakan bila lebih baik Aini melupakan ini semua, sejak dulu, mbah Darsem memang tak pernah doyan dengan sate,
malam harinya, Aini yg masih merasa tidak enak hati dengan mbah Darsem berniat meminta maaf, ia keluar dari kamar melihat jam di dinding yg menunjukkan pukul 10 malam, Aini berjalan sendiri di lorong yg gelap menuju ke kamar wanita tua itu, tetapi, sesaat langkahnya terhenti..
langkahnya terhenti ketika sekilas ia melihat bayangan melintas dibelakangnya diikuti suara wanita yg sedang tertawa, Aini menoleh, melihat lorong tempatnya berdiri, tak ada siapa pun, hanya dirinya seorang diri, dengan jantung berdegup kencang Aini lalu melanjutkan langkahnya,
ruang tempat kamar mbah Darsem sudah gelap, Aini berhenti tepat di pintu, tangannya terangkat siap untuk mengetuk, tetapi, ada keraguan yg entah kenapa tiba-tiba muncul, sejenak Aini berpikir untuk mengurungkan niat, namun, kejadian sore tadi benar-benar menganggu pikirannya,
berkali-kali Aini sudah bersiap untuk mengetuk, namun hatinya seakan menolak keras, sebelum, tiba-tiba dari dalam kamar, mbah Darsem bersuara lembut kepada Aini, "melbuo nduk, aku eroh awakmu nang ngarep lawang" (masuk aja nak, aku tau kamu di depan pintu), Aini terdiam mematung.
tak lama, ia dorong pintu perlahan sampai menimbulkan suara berderit, kamar tempat mbah Darsem gelap namun masih ada cahaya selintas dari jendela yg dibiarkan terbuka, di atas ranjang terlihat mbah Darsem sedang menatap dirinya dibalik selimut yg membalut badannya. ia menyeringai
"mrene nduk," (kesini nak) katanya sembari melambai-lambaikan tangan, Aini mengangguk lalu berjalan mendekati wanita tua itu, ini adalah kali pertama bagi Aini melihat isi kamar dari wanita yg terasa asing kehadirannya meski mereka sudah terikat dalam ikatan keluarga.
dengan hati-hati Aini berjalan sembari matanya melihat kesana kemari, memperhatikan setiap detail yg ada di dalam kamar, entah kenapa, kamar ini memiliki sesuatu yg berbeda dengan kamar lain, terasa lembab dan dingin, selain itu ada perasaan tidak nyaman saat berada di dalamnya.
mbah Darsem tersenyum lebar, ia menepuk perlahan kasur miliknya meminta Aini untuk duduk disampingnya, Aini menurut, ia berjalan mendekat sembari matanya masih awas melihat sekeliling, sebelum, pandangan matanya terhenti pada sebuah meja, Aini terdiam melihat sesajen diatasnya.
bagi orang seperti mereka yg memiliki darah keturunan, menggunakan sesajen tentu adalah hal yg ganjil, benda ini memiliki keterikatan dengan budaya penduduk lokal yg mana tak dimiliki dari darah yg ada dikeluarganya atau dikeluarga suaminya, lalu, untuk apa semua ini.
tak hanya sesajen yg ada di atas meja, namun, tercium aroma kemenyan yg rupanya diletakkan disudut-sudut ruangan, Aini semakin tidak mengerti, ajaran apa yg dipakai oleh mertuanya, kenapa berbanding terbalik dengan abah-nya, saat itu mbah Darsem membelai rambut Aini..
Aini lalu menjelasakan bahwa ia tak bermaksud melukai perasaan mbah Darsem, ia tak diberitahu terlebih dahulu oleh suaminya tentang makanan yg tidak disukai oleh beliau, anehnya, mbah Darsem tak menjawab kata-kata Aini, ia hanya tertawa terus membelai rambut panjang hitamnya.
wanita tua itu benar-benar terlihat berbeda, ia seperti bukan mbah Darsem yg biasanya.

hal ini membuat Aini mulai tidak nyaman, ia merasa risih dengan bagaimana mbah Darsem memperlakukan dirinya, saat ia berniat untuk kembali ke kamarnya, wanita itu mengenggam tangannya, melotot
tak punya pilihan Aini menemani beliau, mbah Darsem mendekatkan dirinya pada tubuh Aini meletakkan kepalanya ke atas bahunya, tak lama wanita tua itu lalu tertawa, ketika itu lah Aini tetiba teringat dengan suara tertawa yg sebelumnya ia dengar saat dirinya berada di lorong rumah
sejujurnya, belum pernah Aini diperlakukan seperti ini sebagai menantu oleh mbah Darsem sehingga masuk akal bila dirinya merasa curiga, namun, bila beliau bukan mbah Darsem lantas siapa yg saat ini sedang bersamanya dirinya, menunjukkan wujud menyerupai wajah beliau.
"ra usah wedi nduk, gak bakal tak apak-apakno kowe" (gak usah takut nak, tidak akan ku apa-apakan kamu), begitu lah kata mbah Darsem , membuat Aini semakin tidak percaya, ditengah pikiran yg berkecambuk tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara berderit, seseorang melangkah masuk
itu adalah suami Aini, anak kandung dari mbah Darsem, ia berdiri di muka pintu lalu berjalan masuk, mendekati mereka sebelum menarik tangan Aini, isterinya. bersama-sama, mereka pergi meninggalkan ruangan itu, saat itu lah Aini bisa melihat kearah mbah Darsem yg masih menyeringai
tak ada sepatah kata pun yg keluar dari dalam mulut suaminya, ia seperti tak ingin membahas hal ini, sesampainya mereka di dalam kamar, pria itu melemparkan hape'nya keatas kasur, sebelum melemparkan diri melanjutkan tidurnya, Aini yg masih aneh mengambil handpone milik suaminya,
di sana, wanita itu mulai memeriksa apa yg bisa dia temukan di dalam handphone milik suaminya, sampai Aini terhenti pada sebuah pesan sms yg baru saja dikirim oleh ibunya, di sana, tertulis,

"ojok olehi Siti dulinan karo bojo'mu yo le, susulen sak iki nang kamar, cepetan!!"
(jangan biarkan siti bermain-main dengan isterimu ya nak, jemput dia sekarang di dalam kamarku, cepat!!), Aini tidak mengerti bagaimana penjelasan semua ini, bukankah mbah Darsem sedang bersama dirinya, lalu siapa yg mengabari suaminya agar menjemput dirinya.
semenjak saat itu secara tidak langsung Aini jadi mengerti bila mertuanya bukan sembarang orang, hal ini juga menjawab segala pertanyaan kenapa rumahnya sering sambang orang meminta tolong dengan berbagai bentuk yg ganjil seperti, ketika mbah Darsem memberikan lidah-
-kambing kepada tamunya, maka bisa dipastikan tamu yg datang kepada beliau sedang ingin membunuh seseorang dan mbah Darsem menyanggupinya, namun berbeda dengan jawaban bila mbah Darsem sobekan daun pohon jati, itu artinya, si tamu yg akan mati sebentar lagi.
dua tahun menjalani bahtera rumah tangga, Aini menyampaikan kepada suaminya bahwa dia baru saja dinyatakan positif hamil, mendengar hal ini, wajah suaminya tiba-tiba menjadi tegang, dan secara kebetulan juga tiba-tiba pandangan mata suaminya melihat kearah pintu kamar mbah Darsem
di sana, mereka melihat wajah mbah Darsem tersenyum menyeringai kepada mereka sebelum akhirnya menutup pintu kamarnya.

ada yg tidak beres akan menimpa mereka berdua.
suatu malam, saat kehamilan sudah berusia 7 bulan, Aini seorang diri di dalam rumah, suaminya sudah mengatakan kepada dirinya bahwa Jidah (nenek dalam bahasa arab) akan menjemput dirinya, ia hanya perlu menunggu sebentar lagi, sementara suaminya belum bisa pulang..
Aini menunggu di teras rumah, ia merasa tidak nyaman saat berada di dalam, seakan-akn ada yg sedang mengamati dirinya dari suatu tempat yg jauh, sementara, mbah Darsem pamit pergi sejak satu minggu yg lalu, entah pergi kemana, Aini tidak tahu, hanya dirinya seorang yg ada di sini
lelah dengan badan yg membawa beban sementara hari kian bertambah gelap, Aini memutuskan masuk ke dalam rumah, berniat untuk menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tengah namun tiba-tiba pendengarannya teralihkan pada suara berderit dari pintu kamar mbah Darsem yg dibuka.
Aini tahu kemungkinan bila itu adalah Siti, jin peliharaan yg dipelihara oleh mbah Darsem, Aini tahu setelah memaksa suaminya sendiri untuk menceritakan siapa yg selalu menemani wanita tua itu, pasalnya setiap malam, Aini seperti mendengar mbah Darsem berbicara dengan seseorang.
Aini berdiri dari tempatnya duduk berniat melangkah pergi keluar dari pintu, namun, secara tiba-tiba, pintu yg seharusnya tak pernah dirinya kunci tak dapat Aini buka, bahkan ketika ia menggedor-gedor pintu dengan keras, tak ada satu pun orang yg mendengarnya.
Aini terjebak, ia tersudut dibelakang pintu sembari melihat kearah lorong tempat sesuatu terlihat sedang merangkak mendekati dirinya, untuk pertama kali, wanita itu bisa melihat sesosok jin yg selama ini menjadi peliharaan mbah Darsem,
wujudnya tinggi dengan rambut yg panjang sampai menyentuh lantai, kuku jarinya hitam runcing sementara wajahnya seperti wanita tua dengan hidung yg panjang.. Aini diam pasrah, membiarkan sosok itu menjilati bagian perutnya..
malam sudah larut, jidah dan Abah baru saja tiba setelah mesin mobilnya mati, mereka langsung mencari Aini namun wanita itu tak juga ditemukan, sampai akhirnya terdengar suara wanita yg sedang bersenandung dari dalam kamar mbah Darsem, abah dan jidah mendekat, membuka pintu..
di sana, Aini sedang duduk bersenandung seorang diri sembari membelai lembut perutnya, Jidah bersiap berlari mendekati Aini, namun, abah segera menghentikannya, di bawah kaki Aini, Abah melihat ada sesosok makhluk yg sedang mengendus perut Aini dengan hidung panjangnya,
Malam itu, belum pernah Abah semarah ini, ada alasan yg tidak bisa dia jelaskan kepada semua orang, dasar pemicu dari kemarahan ini tentu saja, siapa yg menyangka seorang mertua bisa melakukan tindakan sekeji ini, memberi makan peliharaannya dengan sukma dari janin yg belum lahir
beliau meminta Jidah yg kebingungan untuk keluar sebentar, awalnya, Jidah tidak mengerti, kenapa Abah memintanya untuk keluar padahal jelas-jelas Aini ada di depan mereka sedang duduk melihat kearah mereka. Abah tak mengatakan apapun, ia masih meminta wanita itu keluar,
tanpa tahu apa yg terjadi, Jidah menurut, menutup pintu, tak lama kemudian Abah mendekat, ia berjalan menuju ke tempat anaknya yg sedang tersenyum membelai perutnya yg sudah membesar, sementara sosok berhidung panjang itu haya melotot menatap Abah.
di luar Jidah yg seorang diri berdiri di balik pintu tampak mulai sedikit was-was, ia tahu siapa suaminya, bila ia menunjukkan gelagat seperti ini itu berarti ada sesuatu yg tidak beres, namun, apa hubungannya dengan Aini, puterinya, sampai, ia merasa belum pernah semerinding ini
tiba-tiba, suasana di dalam rumah ini terasa benar-benar berbeda, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, rumah yg seharusnya sunyi, sepi ini, tiba-tiba terasa ramai, lalu, dari jauh terdengar suara orang-orang sedang berbicara satu sama lain, suara itu berasal dari taman belakang.
Jidah berhenti sebentar, niatnya ia mau mengetuk pintu bertanya apa yg sedang terjadi tapi ia urungkan, takut bila nanti Abah murka kepadanya, lalu dengan rasa penasaran, Jidah berniat menelusuri lorong yg gelap berjalan menuju ke taman belakang tempat dia mendengar suara
melangkah perlahan-lahan, Jidah benar-benar menuju kearah taman, sebenarnya sebelumnya ia pernah mendengar dari Aini bila rumah suaminya itu sangat besar dan panjang, nyaris hanya sepertiga saja yg berfungsi, dibelakang dapur masih terdapat lorong lagi dengan kamar-kamar kosong,
Jidah melewati area dapur, di sana dia menemukan pintu bertulis huruf arab, namun, terbaca seperti Rajah, karena mereka berasal dari bangsa yg sama dengan mbah Darsem, Jidah tahu apa itu, namun, tetap saja rasa penasaran suara siapa yg ia dengar membuat wanita itu nekat pergi
begitu pintu di buka, suara dari orang-orang yg ia dengar menghilang, lenyap begitu saja, dihadapannya terbentang lorong gelap yg panjang dengan banyak sekali pintu, Jidah merasa angin dingin berhembus dari sana, di situlah nyalinya perlahan menciut, Jidah berniat menutup pintu,
saat, tiba-tiba terdengar suara anak kecil tertawa.. Jidah mengurungkan niat pergi, ia harus memeriksa rumah ini..
setiap kamar di buka, Jidah menemukan ranjang kosong yg sudah menguning seakan menunjukkan tempat ini sudah lama ditinggalkan, aroma debu dengan sarang laba-laba terlihat di sana-sini, Jidah terus berjalan menyusuri lorong, bayangan wanita di jendela-jendela kamar kadang terlihat
hal itu tak dihiraukannya, ia hanya ingin tahu ujung dari rumah ini yg berhasil di beli oleh anaknya setelah menikahi Aini puterinya, pun alasan kenapa mbah Darsem dulu begitu menginginkannya, apa yg membuat wanita aneh itu begitu menginginkan rumah ini.
sampailah ia di persimpangan, terdapat dua lorong yg memisah, satu lorong dengan banyak pintu kamar sedangkan yg satunya terdapat taman dengan pohon jambu biji, terdapat tanah mengunduk di bawahnya, ada batu nisan tersemat dengan tulisan rajah lain, mbah Darsem mencoba membacanya
setiap kali ia baru membaca sebagian, ada selintas wanita melitas, diikuti bayangan anak-anak sedang tertawa, Jidah merasa seolah mereka menunjukkan ketidaksenangannya dengan kehadiran dirinya, tapi, ia masih begitu penasaran, apa yg sudah dilakukan oleh wanita itu,
Jidah nekat membaca Rajah yg tertulis di batu nisan, sebelum, seseorang menarik bajunya yg panjang, sembari mengerang, ia meminta Jidah untuk tidak melihatnya, karena tubuh dan wajahnya hancur seperti daging yg ditumbuk, dia memohon agar wanita itu segera pergi..
karena merasa iba mendengar suaranya, Jidah menurut, ia tak sekali pun menoleh melihatnya, Jidah hanya tahu anak kecil itu dibelakangnya, mengikuti sewaktu dirinya kembali ke tempat dirinya masuk, suaranya terdengar, Jidah merasa bulukuduknya berdiri.. diikuti terus menerus..
pintu dapur tempat Jidah tadi masuk sudah terlihat, Jidah terus berjalan dengan suara langkah kaki yg masih terdengar, saat itu lah tiba-tiba satu dari banyak pintu yg akan beliau lewati tiba-tiba terbuka, Jidah terdiam sebentar, ia merasa ada sesuatu di dalam kamar itu.
benar saja, sewaktu Jidah berdiri tepat di muka pintu, ia melihat seseorang sedang duduk di atas sebuah kursi kayu dengan pakaian yg familiar. tanpa sadar, Jidah berniat melangkah masuk ke dalam kamar memastikan apakah beliau sama dengan yg saat ini ia pikirkan..
postur tubuh yg sama, gaya rambut sama, pakaian yg sama, hanya saja kegelapan kamar menyamarkan rupanya, Jidah melewati pintu, dari semua Rajah yg ia lihat yg kebanyakan berbentuk binatang, Rajah yg di dalam kamar ini berbentuk seorang manusia dibungkus dengan kafan dominan hitam
Jidah berdiri dihadapan sosok itu, mencoba menelisik, rupanya seperti yg dia duga, sosok itu tak lain adalah mbah Darsem namun ada yg berbeda dengan dirinya, ia hanya diam menyeringai saja, tak mengatakan apapun, tahu ini bukan mbah Darsem melainkan jin yg menyerupainya,
wanita itu berniat untuk pergi, tetapi baru beberapa langkah, pintu kamar menutup dengan sendirinya, Jidah terperangkap, berdiri tepat dibelakang pintu. menatap mbah Darsem yg sosoknya mulai menghitam.
leher mbah Darsem seperti terpenggal, diikuti tangannya yg menyerupai boneka, bergerak maju mundur saat wanita itu berdiri dari kursinya, itu adalah kali pertama Jidah merasa tempat ini tak layak bagi dirinya, ia mulai membaca seruhan ayat yg sangat beliau kuasai,
namun, sosok yg mendekati beliau pun sama lihai dan fasihnya, tak ada satu ayat pun yg terlewat, Jidah memejamkan mata terus melantunkan, mereka berdua membaca bersama-sama hanya saja suara Jidah terdengar seperti suara orang yg hampir saja menangis.. terutama saat ia membelainya
tak lama, pintu lalu terbuka, wanita itu pergi berlari meninggalkan kamar diikuti suara tertawa makhluk itu yg seperti sedang menertawakan dirinya, Jidah tahu ia tak sekuat abah dalam menghadapi makhluk yg seperti ini, tanpa ragu, wanita itu membuka pintu kamar,
di sana, ia melihat Abah dengan berlumurkan darah di perutnya.

Aini masih duduk di tempatnya, sementara Abah berada di sudut ruang, menatap Jidah dengan wajah mengiba.
saat itu lah, Abah mendekati Aini menarik tangannya, membawa mereka berdua keluar dari dalam kamar, Jidah tidak mengerti apa yg baru saja terjadi namun sesaat sebelum pintu tertutup, ada suara melengking tertawa, Jidah tak bertanya kepada Abah ia tak mau harga diri pria itu jatuh
semenjak saat itu Aini tak diijinkan kembali ke rumah itu, meski suaminya sudah menjelaskan kali ini ia akan turut menjaganya, Abah menolak keras, mengutuk agar mbah Darsem yg menemui dirinya bila ingin melihat Aini kembali ke rumah itu, saat itu lah, wanita itu akhirnya datang..
Abah dan mbah Darsem sudah lama berteman, mereka sudah tahu sama tahu, namun, kejadian malam itu tak dapat di maafkan, berkali-kali Abah menasehati mbah Darsem agar tak mengikuti jejak gurunya, tapi tak ada yg lebih keras dari kepala wanita itu, bahkan saat wanita itu kehilangan-
kesabaran, di depan Abah, mbah Darsem berkata, "kowe iki jek bocah cilik, ra usah ngelaruhi maneh yen ra pengen gulumu tugel nang kene" (kamu ini masih anak kecil, gak usah menasehati lagi bila tidak mau lehermu putus di sini),

Abah, tertawa.
Abah lalu menjelaskan apa yg sudah dilakukan oleh Siti, namun, mbah Darsem beralasan peliharaannya hanya menjaga Aini dan kandungannya, tidak ada keinginan bagi dirinya untuk menghabisi keturunanannya, Abah tetap saja tidak percaya, saat itu lah, mbah Darsem akhirnya benar-
-benar merasa tersinggung, ia berkata kepada Abah bahwa anak yg nanti dikandung oleh Aini akan berjeniskelamin perempuan, dan wajahnya akan menyerupai dirinya saat ini, untuk itu setiap selepas maghrib, ia akan mengirim peliharaannya untuk menjaga janin dalam kandungan Aini.
apa yg dikatakan oleh mbah Darsem membuat Abah benar-benar was-was, setiap selepas maghrib pintu rumah sudah dikunci, sementara Abah mengaji di ruang tengah, Jidah bersama Aini di dalam kamar, seperti yg dikatakan oleh mbah Darsem tiba-tiba suasana rumah ini menjadi berbeda,
lebih dingin, lebih mencekam, beberapa kali Aini seperti mendengar suara tanah yg digesek oleh sapu lidi, suara itu berasal dari luar jendela kamar, anehnya, Jidah tak merasa mendengar suara itu, Aini ingin bertanya namun ia urungkan, semakin malam, suara itu semakin intens,
Aini pun berdiri melangkah mendekat ke jendela, Jidah yg melihat gelagat Aini yg aneh, mencoba mencegahnya, namun, dasar Aini yg keras kepala, ia menyibak gorden melihat keluar, hanya jalanan yg sepi tanpa ada satu pun orang melewatinya, lantas darimana suara itu berasal,
Aini bersiap membuka jendela, karena rasa penasaran sudah tak dapat ia tahan lagi, saat itu lah Aini melihatnya, sebentuk binatang melata dengan bulu hitam merayap pergi meninggalkan rumah Aini, wanita itu sontak menjerit sebelum kembali menutup pintu, saat itu lah Abah muncul,
ia menjelaskan bila mbah Darsem benar-benar mengirim peliharaannya, entah dengan tujuan apa sebenarnya, wanita itu seperti tak ingin melepaskan Aini barang sedetik saja, esok, ia akan kirim lebih banyak, Aini hanya perlu mengurung diri di dalam kamar..
selama sisa waktu kandungan, Abah berhasil menjaga Aini bersama dengan Jidah, tak ada terorr berarti, mbah Darsem benar-benar hanya ingin menjaga Aini, mungkin saja beliau khawatir mengingat ia sendiri memiliki musuh dimana-mana, tetapi, malam kelahiran cucunya,
ada satu makhluk yg tidak pernah Abah lihat datang berkunjung, melihat Aini yg sedang dibantu oleh dokter di sebuah rumah sakit, makhluk itu hanya berdiri di sudut ruangan, Abah meminta dokter agar diijinkan tidak jauh dari puterinya namun dokter menolak, sehingga, Abah hanya-
-pasrah, melihat makhluk yg setinggi tiga meter itu melihat Aini dengan lidah menjulur panjang.

di luar Abah bersama Jidah dan suami Aini, wajah mereka terlihat gelisah, tak ada kehadiran mbah Darsem karena konon beliau takut dengan tempat seperti rumah sakit.
hanya beberapa menit saja, lalu terlihat dokter keluar mengabarkan bila Aini berhasil melewati persalinannya, bahkan wajah dokter terlihat bingung, karena belum pernah ia membantu persalinan secepat dan semudah ini, cepat-cepat mereka masuk, Abah melihat makhluk itu menyeringai..
ditangannya berlumurkan darah, Abah berusaha tak memperhatikan, mereka fokus dengan jabang bayi yg rupanya benar-benar perempuan seperti apa yg dibilang mbah Darsem, saat melihat wajahnya, semua orang terdiam, mata, hidung, bibirnya yg mungil benar-benar menyerupai beliau
semenjak kelahiran anak pertama Aini, mbah Darsem sedikit berubah dalam memperlakukan dirinya, ia lebih sering tertawa dan berbicara dengannya, rasa sayangnya kepada anak itu benar-benar begitu besar, tetapi, ini semua masih awal, karena pokok masalah cerita ini akan kita mulai,
suatu malam, Aini sedang tidur bersama dengan suaminya, tiba-tiba, ia terbangun setelah bermimpi buruk tentang darah yg ada di mulut seorang wanita setinggi tiga meter, di tangan wanita itu ada tubuh Azizah, bayi yg baru saja dia lahirkan, kepala Azizah sedang dikunyah.
Aini begitu terguncang, ia sontak melihat ketempat dimana Azizah seharusnya berada, namun, bayi mungilnya menghilang hanya menyisahkan sosok suaminya sedang terlelap dalam tidurnya, tiba-tiba dari luar ruangan terdengar suara seorang lelaki sedang bersenandung..
suara lelaki tengah bersenandung seperti sedang menidurkan, Aini menggoyang tubuh suaminya, namun, pria itu tak menggubris, wanita itu tak menyerah, ia terus mendorong tubuh suaminya, tapi tak ada keinginan sedikit pun pria itu untuk terjaga, terdesak, terpaksa Aini pergi sendiri
Aini melangkah ditengah kegelapan kamar, menuju ke pintu, di sana suara senandung semakin terdengar jelas, aneh, di sini selain suaminya tak ada lagi pria satu pun yg tinggal, lantas suara siapa yg saat ini Aini sedang dengar..

apakah Azizah berada di-sana..
pintu berderit terbuka, Aini mencoba mengintip, sebuah bayangan hitam terlihat bergerak maju mundur menyerupai seseorang yg sedang menimang-nimang bayi, figur yg membuat Aini merinding saat melihat bayangannya.

ia masih bersenandung, tak menghiraukan kehadiran Aini yg frustasi,
Aini pun memutuskan untuk mengambil resiko apapun, ia melangkah keluar menuju kearah bayangan yg masih sedang menimang-nimang, di-sana lah Aini melihat seorang figur pria mengenakan baju putih dengan sarung, berdiri membelakangi dirinya, Aini terdiam sejenak saat melihatnya.
figur pria yg Aini lihat pun ikut berhenti, sepertinya ia sudah menyadari kehadiran Aini dibelakangnya, sehingga, dengan perlahan, pria itu berbalik sembari masih menggendong Azizah, ia tersenyum, memandang Aini dengan sorot mata melotot, "wes tanggi nduk hehe" (sudah bangun nak)
Aini terkejut, ia mengenal siapa pria ini, bagaimana bisa pria ini ada di dalam rumah ini, sembari berpikir keras Aini sontak merebut Azizah dari tangan pria misterius itu, menjaga jarak sejauh mungkin, sementara pria itu masih tertawa canggung sembari menggaruk pantatnya..
tak lama, lampu menyala, dari arah kamar, suami Aini melangkah keluar memandang kearah pria itu sembari bergumam canggung, "bapak, kok isok? kapan muleh?" (bapak, kok bisa? kapan pulang?)

pria tua itu tertawa lagi, sembari menggaruk pantat ia berjalan pergi masuk ke kamar Darsem
Aini kembali masuk ke kamar, di sana mereka berbincang bagaimana pak Zainal, yg biasa dikenal dengan pak Zain bisa pulang, setelah nyaris dua tahunan dijebloskan di dalam rumah sakit jiwa,

banyak desas-desus yg dulu tersebar mengenai pria ini, Aini merinding setiap mengingatnya
karena prilakunya yg semakin lama semakin menyimpang, meski berat suami Aini bersama dengan mbah Darsem akhirnya menjebloskan beliau ke dalam rumah sakit jiwa, tetapi, abah yg mendengar berita ini sempat tak percaya, mengingat Abah sangat dekat dengan pak Zain ini.
ada kejadian yg menarik dimana meski sudah pulang prilaku pak Zain terkadang masih ganjil, ia sering melotot ke beberapa sudut rumah, terkadang menuju ke tempat-tempat dalam hanya mengenakan sarung bertelanjang dada sembari membawa tasbih, ia akan kembali saat maghrib tiba,
tidak hanya itu saja, ketika malam tiba, Aini akan mendengar dari arah kamar mbah Darsem, Abah berteriak-teriak layaknya orang gila, hal ini membuat Aini menjadi semakin kewalahan karena Azizah juga terus menerus menangis, sementara, mbah Darsem tak lagi pernah pulang ke rumah.
sampai suatu hari, pak Zain tak lagi terlihat pulang ke rumah, suami Aini menjelaskan bila ayahnya sedang pergi menunaikan sebuah tugas yg ia sendiri tidak tahu, namun, kepergian pak Zain, diikuti kedatangan mbah Darsem, wajahnya tampak begitu murka.
rasanya belum pernah bagi Aini melihat mbah Darsem seperti ini, ia sering tertawa sendirian sembari duduk menenggak minuman-minuman keras, wanita itu benar-benar terlihat menakutkan, namun, ketika di depan Azizah wajahnya kembali ceria, tampak bahagia..
tetapi, saat malam sudah tiba, rumah ini dipenuhi oleh sesuatu yg mengerikan, Azizah sering terjaga diikuti tawa sembari menunjuk-nunjuk sesuatu di atas dengan tangannya yg mungil, setiap kali Aini menoleh melihat apa yg dilihat oleh bayi mungilnya, Aini tak melihat apapun
diwaktu yg bersamaan, Aini merasa bila mereka sedang diperhatikan oleh sesuatu yg tak bisa dirinya lihat, beberapa kali juga di dalam kamar Aini melihat sekelibat bayangan berwarna putih melintas begitu saja, Azizah terus tertawa cekikikan melihat itu membuat Aini menjadi was-was
tak lama, tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara mengetuk, Aini terhenyak sejenak sebelum akhirnya mendekat, ia membuka pintu perlahan sembari menggendong Azizah, namun, aneh, tak dilihatnya siapa pun di depan pintu, sebelum Aini melihat bayangan mbah Darsem menuju ke dapur
Azizah menggerakkan tangannya seakan ingin menjangkau beliau, melihat itu, Aini pun menuruti Azizah, mereka berdua pergi menyusul mbah Darsem, tetapi saat mereka sampai di dapur, tak ada siapa pun kecuali pintu dapur yg dalam keadaan terbuka di sana Azizah menunjuk sambil tertawa
terdiam sejenak, Aini tak berniat untuk pergi ke sana namun sialnya saat ia berjalan menjauh Azizah tiba-tiba saja menangis histeris, sedangkan bila Aini mendekat, bayi mungil itu tertawa menepuk-nepuk tangannya..

Aini terdiam menatap ke lorong, gelap sekali..
tak ada pilihan lain, Aini pun nekat dengan harapan di sana ia bisa bertemu dengan mbah Darsem, entah apa yg dilakukan oleh wanita tua itu, namun, Azizah seperti tak mau pergi meninggalkan tempat ini..

ia menelusuri setapak demi setapak, lorong semakin lama semakin gelap,
tak lama terlihat banyak pintu tua, Aini masih sabar menelusuri lorong dengan langkah yg kian melambat, beberapa kali, Azizah jg menoleh kesana-kemari dengan kepala mungilnya, seperti melihat sesuatu yg melintas dibelakang Aini tapi anehnya tak ada siapa pun disini kecuali mereka
sampailah di persimpangan antara sudut lorong atau bagian lain menuju ke taman belakang, di sana lah Azizah menepuk tangannya, Aini pun merasa ada sesuatu di sana, terlihat ada secercah cahaya dari lilin disudut kamar, maka berjalanlah Aini menuju ke sana, tetapi, ada yg aneh
di lorong yg tak terlalu panjang ini, tembok-temboknya dipenuhi oleh kertas-kertas bertuliskan Rajah dengan berbagai bentuk, menempel satu sama lain, bahkan terkadang kertas-kertas itu menumpuk, seakan lorong ini tak boleh untuk didekati.. anehnya, Azizah bertambah senang..
Aini tertuju pada salah satu Rajah yg terbentuk dari seorang lelaki telanjang dengan tanduk dan taring, Aini dapat membaca dengan jelas Rajah tersebut, ada sebentuk kalimat tentang nama Jin yg dulu pernah dirinya dengar dari Abah, bulukuduk wanita itu berdiri..
Aini berniat untuk kembali, anehnya, Azizah seperti tahu apa yg akan dilakukan oleh ibunya, ia mulai berteriak, merengek, menangis bahkan sampai hati menjerit serta meronta membuat ibu nya tak punya pilihan lain selain berjalan sampai ke sudut pintu dan membukanya..
sampailah ia disudut lorong, Aini berdiri di-depan pintu melihat satu Rajah yg tertulis dengan jalas untuk tidak pernah membuka pintu ini, Aini melihat Azizah yg tertawa cekikikan, wanita itu mendorong perlahan, lantas derit suara pintu terdengar diikuti suara tertawa parau..
Aini melihat sebuah ruangan kosong dengan sebatang lilin yg diletakkan ditengah-tengah ruang, tak ada apapun lagi kecuali satu ranjang tua yg berada disudut tembok, di atasnya terlihat sesuatu yg menggumpal tertutupi oleh selembar kain berwarna putih.

Aini tidak tahu apa itu.
dasar sudah sejauh ini, Aini yg awalnya ragu berada di tempat ini tiba-tiba saja tubuhnya bergerak dengan sendirinya, ia begitu penasaran, kenapa tak ada yg pernah sampai ke tempat ini, apa yg sedang disembunyikan oleh mbah Darsem.

Aini berdiri di depan selembar kain putih,
sembari menggendong Azizah, satu tangan Aini menarik selembar kain, terlihat sesuatu yg familiar mulai terlihat jelas, ketika kain sudah tersibak, Aini melangkah mundur, jantungnya berdebar-debar dengan kencang, ia tak percaya mbah Darsem menyembunyikan hal sinting seperti ini
Aini melihat seorang anak muda yg kemungkinan berusia 16 tahun, terbujur kaku dengan wajah pucat, sialnya, anak muda itu dalam kondisi mata terbuka lebar, Aini menjerit, namun, Azizah tertawa, sebelum dibalik pintu berdiri sosok yg dirinya kenal..

mbah Darsem.. ia menatap Aini,
Azizah nampak sumringah melihat mbah Darsem, tapi, Aini menyadari sesuatu, memang, mbah Darsem sangat menyayangi Azizah melebihi siapa pun tetapi Azizah tak pernah menunjukkan respon yg sama pada neneknya ini, kecuali, yg di depan pintu bukan lah mbah Darsem yg sebenarnya..
seperti sadar dengan gelagat Aini, sosok yg menyerupai mbah Darsem itu tertawa, lalu menundukkan wajah, saat itu kedua tangannya lalu mulai merobek kulit wajahnya sendiri sembari punuknya terbungkuk, ia berdiri setinggi tiga meter sampai wajahnya tak nampak terhalang kusen pintu.
itu lah kali terakhir Aini melihat wujud yg menyerupai mbah Darsem karena setelahnya, ia dicengkram dari belakang oleh anak muda itu, ia menahan tubuh Aini, Azizah yg tersungkur jatuh ke lantai lalu diseret keluar dari pintu sebelum akhirnya pintu tertutup, cahaya dari lilin mati
sebelum wanita itu kehilangan kesadarannya, ia sempat mendengar suara Azizah sedang tertawa terpingkal-pingkal dari balik pintu diikuti senandung nyanyian yg pernah ia dengar dari mulut pak Zainal.

senandung mereka terdengar sama persis. pelan-pelan, semua menjadi gelap.
Aini terbangun diatas ranjang kamar miliknya, kepalanya terasa seperti dihantam oleh benda yg keras, tak lama terlihat sosok suaminya sedang duduk disamping, melihatnya dengan sorot mata khawatir, tak lama wanita itu mencoba mengingat kembali, apa yg baru saja terjadi dgn dirinya
ketika ingatan Aini mulai kembali, tiba-tiba dengan wajah panik, ia berteriak kepada suaminya, ia melihat jasad anak laki-laki di kamar belakang, lalu, anak mereka!! anak mereka, Azizah, diambil, diambil oleh makhluk yg menyerupai mbah Darsem, Aini tampak seperti orang kesetanan!
suaminya hanya menatap Aini dengan sorot mata bingung, seperti tidak mengerti kata-kata yg keluar dari mulut isterinya, ia mencoba menenangkan Aini dengan menyuruhnya agar kembali istirahat, mungkin saja, Aini lelah karena beberapa hari ini Azizah juga tampak rewel.
tapi Aini tidak menyerah, Ia masih mencoba meyakinkan suaminya bahwa ia melihat sesuatu yg sinting dibelakang rumah ini, tetapi, tetap saja, suami Aini tampak tidak percaya, dengan nada putus asa, lantas Aini lalu bertanya dengan nada suara yg keras, "neng ndi Azizah lek ngunu?"
tak lama kemudian, dari arah pintu terlihat seseorang melangkah masuk, ditangannya ia sedang menggendong Azizah yg sedang terlelap dlm tidur, ia menatap Aini sembari mengatakan, "opo to, jek isuk kok wes rame-rame" (ada apa sih, masih pagi sudah ramai), Aini melihat mbah Darsem,
melihat mbah Darsem, Aini langsung tersentak, ia segera berdiri lalu merebut Azizah dari tangan wanita tua itu, tak lama, Azizah terbangun sebelum mulai menangis, Aini tak lagi perduli, di dalam kepalanya, semua sudah kacau, namun, satu yg Aini yakini, semalam ia tidak bermimpi.
sembari menenangkan Azizah, Aini menjauhi mbah Darsem, suaminya tampak bingung dengan sikap isterinya yg tiba-tiba saja seperti ini, disitulah, Aini mengatakan bahwa di kamar belakang, ia melihat seorang anak lelaki, terbujur kaku di kamar belakang tempat mbah Darsem biasa berada
mbah Darsem hanya diam saja sewaktu Aini mengatakan semua itu, sudut bibirnya juga tersungging beberapa kali menyerupai seseorang yg sedang meremehkan orang lain.

suaminya berdiri, mencoba menenangkan, namun, Aini menolak, tak lama kemudian seorang melangkah masuk ke dalam kamar
Aini terhenyak dalam diam, ketika melihat seseorang yg melangkah masuk adalah anak lelaki yg Aini lihat terbujur kaku di kamar belakang, ia tampak biasa saja, tak ada yg aneh dengan tubuhnya.

mbah Darsem lalu menjelaskan, bila anak ini adalah pasien biasa yg datang kepadanya.
meski mbah Darsem kemudian menjelaskan setiap detail apa yg ada di sana, sampai siapa anak ini, Aini masih merasa janggal dengan ceritanya, banyak pertanyaan di dalam benaknya.

suatu hari, pak Zain pulang, untuk pertama kali, pak Zain dan mbah Darsem saling berhadapan.
suasana di dalam rumah menjadi semakin tidak nyaman.
kamar tempat mbah Darsem biasanya tak lagi ditinggali, wanita tua itu kini memilih pindah ke kamar belakang, sementara pak Zain tetap ada di dalam kamar miliknya

sesuatu seperti akan sambang ke rumah mereka Aini bisa merasakan
disuatu malam, Aini tak kunjung bisa tidur karena Azizah anaknya juga tengah terjaga, matanya terbuka lebar, sementara disampingnya, suami Aini sudah terlelap tidur, tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara-suara ramai langkah kaki berlalu-lalang, membuat Aini tampak penasaran,
wanita itu ingin sekali melihat apa yg sedang terjadi, sejak kehadiran pak Zain di rumah ini, Aini selalu merasa dirinya tak lagi bisa tenang, ditambah mbah Darsem juga terlihat semakin aneh, ia sering datang membawa anak-anak muda, berusia kisaran 15 sampai 18 tahun,
kejanggalan lain yg Aini lihat juga perihal penampilan mbah Darsem. ia tak lagi pernah mengikat rambutnya, melainkan dibiarkan terurai dengan panjang rambutnya yg nyaris menyentuh lantai, mbah Darsem membiarkan rambutnya begitu saja, mata-nya seperti orang yg tak pernah tidur.
berbeda dengan mbah Darsem, pak Zain, tampak lebih segar, ia sering tertawa sendiri sambil mengangkat kakinya di ruang tengah, seperti ada yg membuatnya senang, tetapi baik mbah Darsem dan pak Zain tak ada yg saling berinteraksi mesipun mereka suami isteri..
mbah Darsem selama berminggu-minggu, terus membawa anak-anak muda, mereka dibawa masuk sebelum malam, pargi keluar saat fajar datang, Aini tidak pernah tahu apa yg sebenarnya mbah Darsem lakukan,

anak-anak muda ini didapat dari rumah orang yg pernah menjadi pasien mbah Darsem,
mungkin memang tak ada yg aneh dengan anak-anak muda ini bila melihat kali pertama mbah Darsem membawanya, namun, Aini pernah melihat dalam kurun waktu satu minggu terdapat satu anak yg sudah pernah tiga kali dibawa oleh mbah Darsem, penampilannya tampak kuyuh, pucat, letih,
yg paling menakutkan dari ini semua adalah sudut mata mereka terkadang mengalirkan darah, ia menutup wajahnya saat Aini tak sengaja memperhatikan, mbah Darsem hanya tersenyum menyeringai kepada dirinya saat melihat wanita tua itu sedang mengantarkan bocah-bocah itu pergi..
ada satu kejanggalan lain yg Aini sadari tentang mbah Darsem, saat ini beliau lebih sering lapar, pernah mbah Darsem murka mendorong meja atau membanting piring di dapur hanya karena tidak ada makanan padahal pagi tadi mbah Darsem sudah menghabiskan ayam utuh seorang diri,
Aini benar-benar kebingungan dengan perubahan sikap wanita tua itu, terkadang saat Aini tak lagi punya opsi memasak makanan untuk beliau karena membutuhkan waktu yg tidak sebentar, tiba-tiba pandangan wanita tua itu teralihkan pada kucing-kucing liar yg biasa lewat depan rumah,
wanita tua itu akan memungutnya lalu membawa masuk binatang itu ke kamar belakang, Aini tidak pernah tahu apa yg diinginkan mbah Darsem dengan binatang itu, namun, firasatnya mengatakan ini bukan hal bagus, karena sepanjang perjalanan wanita itu bergumam sembari tertawa gila..
yg jelas, perubahan sikap mbah Darsem benar-benar berbanding terbalik dengan perubahan sikap pak Zain yg semakin lama terlihat semakin baik, ia tak lagi bertelanjang dada, melainkan mengenakan pakaian-pakaian bagus dan harum, bersih tak seperti pak Zain yg pertama Aini lihat,
Aini mulai membuka pintu, ia mencoba melihat dikegelapan ruang tengah, terlihat bayangan sosok wanita sedang duduk di atas sofa, membelakangi dirinya, tak hanya satu sosok saja yg Aini lihat, melainkan beberapa lagi di sudut-sudut, wajah mereka tak dapat Aini lihat dengan jelas,
saat itu lah, suaminya menarik lengan Aini, ia berkata bahwa lebih baik tidak ikut campur pertempuran antara bapak sama ibunya, bila tak mau terseret dalam pertikaian mereka berdua,

Aini mengangguk, untuk kali ini, dia menurut, sebelum mereka menutup pintu, sosok dibalik sofa-
menoleh melihat kearah mereka, wajahnya sama persis dengan sosok berhidung panjang yg menjilati kandungannya dulu, SITI,

untuk apa makhluk itu di sana,
semenjak perkataan suaminya, Aini tak lagi perduli dengan apa pun yg terjadi di rumah ini, berbulan-bulan ia lewati sampai Azizah bertambah dewasa dan mampu mengatakan sesuatu sebagai ucapan pertamanya, sebagai anak pertama tentu kalimat pertama yg keluar dari mulutnya menjadi-
-bagian yg paling dinantikan, ia menyebut "Siti" sebagai kalimat pertama sembari memandang sosok yg ada di belakang Aini, bocah itu tersenyum sembari menepuk-nepukkan tangannya..
Aini berusaha tak memperdulikan lagi kehadiran makhluk yg bersemayam di dalam rumah ini, sampai terjadi sesuatu yg mengegerkan, semenjak kehadiran pak Zain di rumah ini, ia terus melarang pasien-pasien mbah Darsem untuk datang, mengancam serta mengusir mereka dengan keras,
perbuatan pak Zain ini membuat mbah Darsem murka, suatu siang, mbah Darsem menjerit histeris di dalam kamar, Aini dan suaminya yg terkejut lantas mendatangi mereka, di sana, pak Zain sedang tidur dengan posisi bersantai, sementara mbah Darsem melotot dengan wajah letih,
entah apa yg sedang mereka bicarakan, mbah Darsem terlihat lebih jauh berbeda dari kali terakhir Aini melihatnya, kulitnya putih sampai urat-ototnya terlihat, matanya merah seakan pembuluh darahnya pecah, dari sela kuku jarinya meneteskan darah yg mengotori lantai rumah,
pak Zain tampak tenang, ia hanya tertawa sambil berkata, "kate nyapo kowe, ra usah nekat ngelawan bojomu iki, wes tobat o ae, wes tuwek awakmu" (mau apa kamu, gak usah nekat melawan suamimu ini, sudah bertobat saja, sudah tua kamu),

mendengar itu, mbah Darsem lalu pergi, tetapi
entah pak Zain sadar atau tidak, mbah Darsem sempat tersenyum mengerikan ketika ia berbalik, berjalan dengan langkah kaki tertatih sewaktu meninggalkan ruangan ini, wanita itu sepertinya sedang mempersiapkan sesuatu..
Aini merasa tidak tenang, ia berkata kepada suaminya untuk membawa Azizah pergi saja ke rumah abah, namun, sang suami berkata bila tidak ada yg perlu dikhawatirkan, apa yg Aini lihat sudah sering terjadi, pertengkaran biasa antara suami isteri, namun, tetap saja, Aini gelisah
firasatnya berkata bila akan terjadi sesuatu yg gawat, Aini mondar mandir sembari menenangkan Azizah, belum pernah anak ini menangis selama ini, saat itu, suaminya berkata bila nanti sore dia pergi, katanya ibunya ingin dia bertemu seseorang, mendengar itu Aini sontak murka,
Aini langsung melangkah pergi, ia melewati suaminya yg masih mencoba menghentikannya, sewaktu melewati ruang tengah, Aini terhenyak melihat mbah Darsem sedang duduk, matanya terlihat letih, nafasnya tersenggal, sambil tersenyum ia berkata kepada Aini, "jangan pergi ya"
Aini tidak bisa menjawab, mbah Darsem lalu berusaha berdiri meski terlihat susah payah, belum pernah Aini melihat wanita tua itu semenderita ini, di bibirnya ada luka borok, ia mendekati Azizah, membelai kepala anak itu yg menangis semakin kencang, "nanti si mbah datang ya nduk"
suaminya benar-benar pergi, selama matahari tenggelam, Aini mengurung diri di dalam kamar, mengunci pintu, ia berusaha menenangkan Azizah yg masih menangis, Aini benar-benar frustasi, sebelum dari arah pintu, tiba-tiba terdengar suara pak Zain memanggil-manggil nama Aini..
"nduk, nyopo lawange dikunci too, bapak kepingin ngomong, penting iki kanggo anakmu sisan, kulo nangis terus" (nak, kenapa pintunya dikunci, bapak ingin bicara sesuatu, penting ini buat anakmu juga, lihat dia menangis terus), Aini hanya diam saja dibalik pintu, ia benar2 bingung,
lama tak digubris oleh Aini, pak Zain hanya berpesan kepada Aini, "nek kowe butuh, bapak nang kamar yo nduk, bapak keroso gak enak ae karo jijah, yo wes, lek ngunu nduk" (kalau butuh sesuatu, bapak ada di kamar ya nak, bapak merasa gak enak saja sama zizah, yasudah kalau begitu)
suara langkah kaki pak Zain pergi terdengar, berjam-jam kemudian, Azizah sudah mulai tenang, Aini menidurkan bayinya di atas ranjang, sementara dirinya mondar-mandir merasa ada yg membuat dirinya tidak tenang, sebelum dari arah pintu terdengar suara handle pintu sedang dibuka,
tak lama pintu berderit terbuka padahal Aini sudah yakin bahwa pintu dalam kondisi terkunci, dibalik sana, mbah Darsem berjalan masuk dengan nafas tersenggal, wajahnya tertutup oleh rambutnya yg beruban keriting panjang, ia melihat Aini sebelum menoleh kearah Azizah, ia mendekat,
sembari melangkah tertatih-tatih, wanita tua itu menuju ke tempat Azizah yg tidur, Aini berniat mendahului, namun saat wanita itu menunjukkan wajahnya, bagai tersambar petir, tubuh Aini tersirep, kulit mbah Darsem menggelambir dengan mata merah, nyaris seperti menangis darah,
mbah Darsem seperti orang pesakitan, bahkan untuk mengangkat tubuh Azizah saja, mbah Darsem harus menelungkupkan sikunya seperti membawa benda berharga, beberapa kali wanita itu menjerit saat membawa Azizah, gigi-mbah Darsem kuning sementara disela gusinya darah mengalir keluar,
tanpa Aini sadari wanita tua itu sudah pergi keluar, meninggalkan Aini seorang diri di dalam kamar, saat itu Aini baru terjaga, wanita tua itu seperti baru saja menghipnotis dirinya, ketika Aini mencoba membuka pintu, ia terjebak dalam kondisi pintu dikunci dari luar,
tak mau berdiam diri, Aini menghantam-hantamkan pintu dengan apapun yg dia temui di dalam kamar, sewaktu pintu sudah terbuka, Aini melihat tetesan darah di lantai sepanjang jalan menuju kearah dapur, Aini berlari sekuat mungkin sampai langkahnya terhenti saat melihat pintu dapur,
di sana ada sebuah kertas dengan Rajah manusia berkepala dua, Aini membaca Rajah itu yg tertulis "Khaifrit", baru saja Aini menyentuh pintu itu, suara mengerang terdengar mengancam dirinya, Aini belum pernah seciut ini nyalinya dibandingkan saat melihat makhluk di kamar belakang,
Aini lantas mencoba berbicara menggunakan bahasa ibu-dengan sosok dibalik pintu, dan suara tinggi itu menjawab dengan bahasa yg sama dengan dirinya, ia lantas mengerti bahwa mbah Darsem benar-benar sedang tidak dalam kondisi baik sampai harus memanggil makhluk seperti ini,
makhluk itu mengingatkan bila ini tak ada sangkut pautnya dengan Aini sama sekali, lebih baik ia urungkan niat untuk masuk lebih dari ini, karena bila dia memaksa dengan melihat wujudnya saja, Aini dapat menjadi sinting sampai gila, baginya Aini tak lebih seperti nyamuk kecil,
mendengar kata sinting, Aini lantas teringat dengan pak Zain, mungkin ini sudah gila, namun, Aini tak memiliki pilihan lain, ia berlari menuju ke kamar pria tua itu berniat untuk meminta tolong, tetapi, sesampainya di sana Aini terkejut, melihat pak Zain bersila bermandikan darah
ditangan pak Zain, beliau terus memutar tasbih, tak menghiraukan kehadiran Aini, namun, pakaian putih yg ia kenakan sudah dipenuhi oleh darah yg terus dimuntahkan dari dalam mulutnya, ia masih membaca dalam khusuk, Aini tak mengerti apa yg sedang terjadi, pak Zain kesakitan,
wajahnya benar-benar seperti orang menahan kesakitan yg luar biasa, beberapa kali beliau berhenti, nafasnya tersenggal-senggal, Aini duduk dihadapannya, melihat keringat di keningnya, sampai akhirnya pria tua itu memuntahkan darah tepat di wajah Aini, setelahnya, ia tersungkur,
Aini menjerit, wajahnya berlumuran darah, ia lantas keluar dari dalam rumah, meminta bantuan tetangga, namun, anehnya malam itu tak satu pun pintu yg mau membuka bahkan saat ada cahaya rumah yg didekati tiba-tiba saja si pemilik mematikan lampunya, menolak permintaan Aini,
Aini kembali ke dalam rumah, di sana, di sofa tengah, Aini terdiam, termangu, melihat mbah Darsem sedang duduk menimang Azizah, bersenandung dengan merdu, ia menoleh melihat Aini, wajah mbah Darsem tak lagi seperti sebelumnya, ia terlihat lebih segar sembari tersenyum kepada Aini
"anakmu mene bakal dadi wong gede nduk"(anakmu besok akan menjadi orang hebat) katanya sembari menyerahkan Zizah kembali ke tangan ibunya, tak lama, mbah Darsem pergi sembari menghela nafas lega, wajahnya sumringah menju ke lorong belkang, seakan beban yg ada dipunggungnya lenyap
sepanjang malam, Aini merawat pak Zain, untungnya beliau masih dapat berbicara, hanya saja ia tak bisa melihat lagi, entah bagaimana bisa terjadi pak Zain menjadi buta.

keesokan paginya, Abah datang bersama Jidah, mereka tampak lesuh melihat kawan baik Abah diperlakukan begini,
Aini dapat melihat pak Zain membisikkan sesuatu ditelinga Abah, wajah Abah tampak murka namun ia tak bisa berbuat apa-apa, setelah selesai, Abah duduk disamping mbah Darsem yg menunggunya,

"kok isok tego ngene, sampe mok ajorno sukma ne ngene to"
(kok bisa kamu setaga ini sampai sukmanya kau bikin hancur)

mbah Darsem hanya tertawa sembari mengadahkan kepalanya seakan-akan apa yg dilakukannya sudah benar,
"sopo dilek sing nyandak, aku wes cukup sabar digawe guyonan mbek wong iku" (siapa dulu yg memulai, aku sudah sabar-
dipermainkan oleh orang itu)

Aini yg mendengar hanya dapat diam seribu bahasa, ia tahu, bila manusia memiliki 7 sukma, bila 7 sukma itu bercerai, maka tak ada lagi kesempatan bagi manusia untuk hidup, yg terjadi dengan pak Zain, ketujuh sukmanya sudah lebur dihantam mbah Darsem
Abah lantas berdiri, ia sudah tak mau melanjutkan dialog dengan kawan lamanya ini, pak Zain dan mbah Darsem dulu seperti sepasang kekasih yg saling mengisi, siapa sangka setelah ilmu itu menurun kepadanya, ia berubah menjelma menjadi sosok yg tak lagi bisa dirinya jangkau..
tetapi, sebelum, Abah pergi, mbah Darsem tiba-tiba mengingatkan, "mas, tak peringatno, ojok nekat koyo bojoku yo, gok dunia nyoto, ireng bakal kalah ambek putih, aku wedine kelangan kowe pisan maringene" (mas, saya ingatkan, jangan nekat seperti suamiku, jangan kesana ya,-
di dunia nyata, yg hitam tidak selamanya akan kalah sama yg putih, takutnya aku harus kehilangan kamu juga setelah ini)

Abah tak berkomentar, ia lantas pergi meninggalkan rumah itu, karena sebentar lagi ia harus mengikhlaskan pak Zain pergi selama-lamanya,
seperti yg sudah diduga, satu minggu berselang pak Zain meninggal dunia.

mbah Darsem tak datang ke pemakamannya, ia memilih mengurung diri di dalam kamarnya, di-sana, Aini sering mendengar suara wanita sedang menangis, keras sekali, suara itu tak lain dari suara mbah Darsem.
setelah kejadian itu, mbah Darsem lebih sering sendiri, ia juga tak lagi mau menerima siapa pun yg meminta tolong kepadanya, tubuhnya bertambah kurus, namun, ia tetap merawat, serta memberi makan peliharaannya, karena Aini menjadi saksi, mbah Darsem tak akan bisa lepas dari ilmuy
tahun demi tahun berlalu, sewaktu Aini mengantarkan makanan ke kamar mbah Darsem, tiba-tiba wanita itu sekonyong-konyong meminta maaf kepadanya, Aini tampak bingung, ia tak mengerti apa yg terjadi kepadanya sebelum Aini mendapat kabar, Abah meninggal di dalam kecelakaan mobil
Aini tak bisa menuduh mbah Darsem, bisa saja memang sudah waktunya, lantas ia mencoba mengikhlaskan meski rasa sakitnya saat melihat mbah Darsem akan timbul kembali, kondisi tubuh mbah Darsem sendiri semakin memperihatinkan, tapi anehnya, setiap kali diajak ke rumah sakit-
beliau akan menolak keras, bahkan bila dipanggilkan dokter mbah Darsem berteriak, mengancam akan membuat masalah kalau sampai ada dokter yg berani menginjakk kaki di rumahny, lelah dengan segala perlakuan mbah Darsem, keluarga akhirnya menyerah. ia membiarkan wanita itu pesakitan
waktu berselang, suatu hari saat Aini pergi bersama sekeluarga, mereka terkejut melihat mbah Darsem dalam kondisi jatuh di kamar mandi, melihat kondisinya yg sangat parah, mereka membawa mbah Darsem ke rumah sakit. selang jarum infus terpasang di kedua tangannya,
saat dirinya tersadar, mbah Darsem benar-benar terkejut melihat jarum yg terpasang di kedua tangannya, ia sangat murka, ia terus menerus menjarit, seluruh keluarga berusaha menenangkan beliau, namun, mbah Darsem terus mengatakan kata-kata kasar, keluarga pun akhirnya membiarkan
Aini merasa iba, ia belum pernah melihat mbah Darsem selemah ini, suatu pagi, ia menjemput Azizah di sekolahnya, sudah lama sekali mbah Darsem tak bertemu dengan Azizah, di kamar rumah sakit saja, mbah Darsem terus memanggil-manggil nama cucu kesayangannya,
namun saat itu, tidak ada angin, tidak ada hujan, Azizah tiba-tiba mengatakan sesuatu yg membuat Aini terdiam, "mari ngene si mbah mati kok, gawe opo diparani" (sebentar lagi nenek juga meninggal kok, untuk apa dijenguk) katanya dengan ekspresi datar,
benar saja, selang waktu, Aini mendapat kabar dari suaminya, bila mbah Darsem sudah menghembuskan nafas terakhirnya, Aini terdiam melihat anaknya yg masih menatapnya dengan ekpresi datar, ia tidak tahu apakah yg baru saja di ucapkan oleh Azizah kebetulan semata, tidak ada yg tau
disuatu malam, saat Aini menemui seorang habib untuk memintakan doa bagi Azizah agar ia diterima di universitas negeri kotanya, habib itu bertanya, siapa gerangan jin hebat yg mengikuti puterinya, Aini hanya diam tak berani menjawab, setelahnya, habib itu berkata,
"jangan sampai kau biarkan anakmu berbelok imannya, apa yg dia katakan bisa langsung terjadi, untuk itu jaga dia dalam kebaikan, karena jin yg mengikutinya benar-benar akan menuruti apa yg diperintahkan"
kini, Azizah baru saja menyelesaikan pendidikannya, ngomong-ngomong sejak tadi beliau menyimak thread ini, untuk itu, bolehkah saya meminta doa untuk almarhumah serta almarhum siapa pun, termasuk tokoh nyata dibalik nama mbah Darsem, semoga dosanya diampuni, begitu juga abah dan-
pak Zainal. maturnuwun, dengan ini thread ini saya akhiri. Image

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with SimpleMan

SimpleMan Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @SimpleM81378523

6 Apr
HAHAHA, baru sempat buka twitter trus baca komentar ini, ini akun saya berasa jasa titip, mana ada yg komentar besoknya saya itu waktu kutub utara, tapi gak papa, memang saya yg kebacut, untuk itu saya minta maaf, maklum lagi senengnya jualan ayam geprek, jadi gak bisa ditinggal.
Malam ini, yuk kita coba semoga bisa selesai ya. tapi jangan berharap sama saya, karena begitu punggung kumat saya langsung tidur biasanya.
jangan salah, masih sering dibikin onar sama orang, mulai dari yg gak ada urusan sampai warung sebelah, namanya juga usaha, pasti yg bikin masalah ada saja, tapi masih bisa diatasi, sampai dipasangin kembang warung. biar gak ada yg gangguin.
Read 4 tweets
18 Mar
-Ngunduh Artha

Horror story

@bacahorror #bacahorror Image
thread ini ditulis beradasarkan pengalaman saya pribadi, menjadi saksi seseorang yg melakukan pesugihan, berhasil menjadi orang yg begitu kaya raya, namun, semua lenyap ketika dia mulai tidak dapat menepati janjinya pada sosok yg dia permintai.
karena saya juga sedang bekerja malam, jadi saya akan tulis sewaktu-waktu ya. namun, yg pasti dalam waktu dua hari ini thread ini akan selesai, jadi buat yg tidak sabar menunggu bisa dibaca dua hari lagi.
Read 142 tweets
18 Mar
Ngomongin uang dari pesugihan tidak bisa dinalar dengan logika, bahkan untuk beberapa orang hal ini masih sulit diterima, karena kasusnya memang ghoib, kecuali mereka dilihatkan didepan mata kepala sendiri.

saya sendiri pernah menjadi saksi orang yg kekayaannya tak mungkin habis
-sampai tujuh keturunan bila kita menggunakan hitung-hitungan matematika, namun, apa yg terjadi, dalam hitungan kurang dari tiga tahun setelah si pelakon mengingkari janji, harta yg melimpah ruah seolah menguap begitu saja. sekarang. keluarga yg tidak tahu menahu menanggung-
-kesalahannya. hidup terlunta-lunta, depresi, kemalangan seperti tidak ada habisnya datang. bahkan keluarga jauh yg dulu datang untuk menikmati harta mulai menyingkir satu persatu, meninggalkan si keturunannya ini.
Read 4 tweets
24 Feb
Ketika lelakon pesugihan digabung dengan penglaris jadinya tumbal yg bisa makan korban yg tidak bersalah.. Semoga malam ini saya ada luang untuk menuliskan ceritanya.. ImageImage
Tebet lagi hujan. suasananya enak buat mulai cerita.

saya juga nulisnya mungkin tipis-tipis. buat yg gak suka nunggu, bisa dibaca besok pagi atau kalau ada waktu luang.
Disclaimer dulu ya. sebenarnya ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama dan kepercayaan, perihal ada yg menghubung-hubungkan dengan hal ini karena baca screnshot hp diatas, murni kesalahan saya, seharusnya saya sensor kalimat itu, kita fokus saja dengan inti masalahnya.
Read 62 tweets
13 Feb
HALO..
Sesuai dengan janji saya tempo hari, saya akan memperkenalkan kelahiran dari buku saya yg terbaru, sebuah buku tersimpang tragedi setelah terjadinya “Sewu Dino”, sebuah kepingan dari tiga ranjat yg tumbuh menjalar berpusatkan pada sekuntum bunga Wijayakusuma merah. Image
RANJAT KEMBANG
Sebuah buku yg akan menceritakan bagaimana Dela Atmojo bertahan hidup setelah sebelumnya selama dua tahun terpungkur terjebak dalam santet kuno yg dimiliki oleh keluarganya sendiri, ia harus mencari tahu misteri yg tersembunyi dibalik gelar yg tersemat pd namanya.
Sebuah persekutuan yg menuntun pada sisi tergelap yg ada di dalam hati manusia. Semakin jauh mencari, rupanya, Dela menemukan rahasia-rahasia gelap yg pernah dilakukan oleh pendahulunya, membawanya terseret dalam pusaran perang santet antar keluarga besar.
Read 5 tweets
2 Feb
Ada yg masih melek gak nih??
Karena saya belum ada waktu buat lanjutin thread panjang saya, jadi selama bulan-bulan ini, saya Tweet thread pendek-pendek dulu ya..

Kemarin juga saya sudah ngetweet thread pendek-pendek, tapi tergolong ringan.. Nah, gimana kalau mulai ke thread pendek lagi tapi lebih serius..
Di thread pendek berikutnya kita akan lagi-lagi membahas tentang ilmu Hitam, ada sedikit pengetahuan yg mungkin tidak banyak orang tahu tentang hal ini..

Sadar atau tidak, bila kebanyakan orang yg ngilmu terutama yg mempelajari ilmu hitam itu rata-rata takut dengan jarum?
Read 6 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(