Diosetta Profile picture
Jul 23, 2021 33 tweets 6 min read Read on X
Sumur Pemakan Tumbal

Satu-satunya sumber air di desa tak pernah berhenti meminta tumbal

@bacahorror @IDN_Horor @bagihorror @qwertyping @ceritaht @Penikmathorror

Disclaimer : Nama desa dan tokoh bukan nama sebenarnya Image
Kejadian ini terjadi di suatu desa perbatasan jawa tengah dan jawa timur , tepatnya di era 80an ketika pembangunan belum menyeluruh hingga ke kepelosok pelosok desa.
Sebuah desa , sebut saja namanya desa Jatialas merupakan sebuah desa yang dikenal dengan hasil kerajinan tangan yang menjadi komoditas desa.
Perkenalkan , aku Rani .. salah satu warga desa Jatialas yang hidup sangat berkecukupan di desa ini.
Mungkin dengan segala sesuatu yang kami punya, keluarga kami dianggap sebagai salah satu keluarga yang terpandang.
“ Rani.. belum ke sumur? “ tanya salah seorang warga yang lewat di depan rumahku.
“ini sebentar lagi bu… nanti saya nyusul “ jawabku.
Untuk memenuhi kebutuhan air di desa ini , kami harus menimba air dari sumur yang terdapat di ujung perbatasan desa , sebenarnya tidak jauh hanya saja untuk keperluan air di rumah , kami harus setidaknya 2 kali bolak balik sumur.
“ Eh.. Rani, katanya Bapakmu nambah karyawan lagi ya? “ Tanya seorang ibu yang sedang ikut mengantri menimba sumur.
“Iya bu… pesenan dari kota tambah banyak biar bisa diambil semua” Jawabku menjelaskan kepada mereka.
“Wah… makin kaya ya keluarga kamu , harusnya kamu ga usah nimba ke sumur ini lagi.. kan bisa nyuruh anak buah Bapakmu” lanjut ibu itu.
“ hihi… jangan bu, nanti aku jadi males… Bapak yang nyuruh, harus aku yang ke sumur” jawabku.
Giliranku datang, aku memenuhi jerigen dengan air , segera kembali ke rumah , dan kembali lagi ke sumur hingga bak di rumah terisi penuh. Rutinitas inilah yang terjadi di setiap pagi, Siangnya aku membantu untuk membuat kerajinan.
Semua berjalan seperti rutinitas desa lainya , namun malam ini terjadi hal yang tidak biasa… suara kentongan berbunyi , jumlah kentongan itu menandakan ada orang yang meninggal.. wargapun keluar dari rumah dan berkumpul..
“ mas… siapa yang meninggal? Kejadianya dimana?” tanyaku kepada mas anto yang lewat depan rumahku.
“ Itu , Pak Tardi… katanya jasadnya ditemukan di dalam sumur , ini saya mau ke sana” jawabnya dengan buru-buru.
Aku mengenakan sandalku dan menyusul ke sana.
Benar yang diceritakan mas anto , jasad Pak Tardi terlihat tebaring di sisi sumur dengan wajah yang sudah ditutup selembar kain, terlihat perangkat desa sedang sibuk memeriksa kondisi jasad dan lokasi.
Aku pulang dan menceritakan ke Bapak dan ibu , namun sepertinya mereka tidak terlalu pedulli. Padahal dulunya Pak Tardi pernah bekerja pada Bapak sebelum akhirnya mengundurkan diri.
Setelah kematian Pak Tardi warga takut menggunakan sumur tersebut mungkin karena merasa kurang bersih juga. Dengan kondisi itu , warga mendesak perangkat desa untuk membuat aliran air dari PDAM .
akhirnya dalam waktu sebulan semua itu terealisasi dan sumur itu jarang digunakan lagi.
Seluruh warga sudah bisa menikmati air bersih dari pam, namun entah mengapa Bapak masih menyuruhku untuk menimba dari sumur tersebut. Sebenarnya aku tidak masalah,
hanya saja terkadang aku merasa ada sesuatu mengawasiku dari suatu tempat.
Malam ini suara kentongan kembali terdengar, seorang anak kecil hilang seharian dan ternyata ditemukan lagi di dalam sumur.
Warga kembali heboh dan menuntut untuk menutup sumur itu , namun yang mengherankan.. Bapak tidak setuju , dengan alasan sumur sebagai cadangan air saat pdam bermasalah.
Karena Bapak adalah orang berpengaruh , warga dan perangkat desa tidak dapat berbuat apa-apa ,
namun warga sudah sama sekali tidak ada yang menggunakan sumur itu.

..
Sudah sebulan bisnis Bapak tidak berjalan dengan baik, akhrinya Bapak memutuskan untuk memberhentikan beberapa karyawan.
Hal ini terus berlanjut , sesekali aku mendengar perbincangan Bapak dan ibu di kamar..
“ Jangan pak.. udah cukup apa yang kita punya” ucap ibu sayup-sayup dari dalam kamar.
“Nggak buk.. kita ga bisa jatuh miskin lagi , dari awal kita sudah siap akan resikonya” ucap Bapak dari dalam kamar.
Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan , namun setelahnyapun mereka masih berdebat.
Esoknya aku membantu membuat kerajinan bersama pekerja yang lain.
Terlihat dari jauh Bapak menghampiriku dengan membawa sebuah kendi.
“ Nduk… nanti malam kamu mampir ke sumur ya.. bawa kendi ini dan isi sampai penuh” ucap Bapak dengan menyerahkan sebuah kendi tua.
“u.. untuk apa pak?” tanyaku bingung.
“sudah , ga usah tanya-tanya… “ ucapnya dengan raut wajat yang serius.
Aku menuruti perintah Bapak , setelah langit mulai gelap , sebuah kendi tua kubawa menuju sumur. Walaupun sudah terbiasa tapi aku merasa ada yang aneh dari semua ini.
Sebuah sumur tua terlihat di hadapanku , tidak ada penerangan yang selain lampu minyak yang kubawa. Sedikit demi sedikit aku menimba sumur dan mengisi kendi tua pemberian Bapak, namun sebelum sempat penuh tali dan emberku tersangkut , sebuah benda ikut terbawa..
Aku menariknya sekuat tenaga hingga benda itu terangkat ke atas dan terjatuh di samping sumur. Lampu minyak kudekatkan ke benda itu dan yang terlihat sungguh mengerikan.
Jasad bayi yang sudah membusuk dengan bau menyengat tergeletak di pinggir sumur..
Aku menutup mulut dan hidung menahan bau busuk yang muncul dari jasad itu , segera kuangkat lampu minyak dan bersiap berlari meninggalkan sumur.
Belum sempat berdiri , badanku tertahan dengan sesosok makhluk yang muncul dari belakangku.
Makhluk perempuan dengan wajah yang membusuk dengan rambut putih yang disanggul berantakan berdiri tepat di depan wajahku.
“ mau kemana nduk… sekarang di sini tempatmu” ucap makhluk itu kepadaku.
“to.. tolong!!!” aku mencoba berteriak , namun sepertinya tidak ada yang mendengar.
“ Bapakmu sudah menyerahkanmu pada kami untuk ditukar dengan kekayaanya… sekarang kamu milik kami” ucap makhluk itu.
Beberapa makhluk lain mulai muncul dari semak-semak di sekitar sumur dan bersiap menghampiriku.
“nggak.. gak mungkin, Bapak ga mungkin ngelakuin itu! “ bantahku dengan air mata yang mulai menetes.
“ hihihi… disebelahmu itu adalah jasad adikmu , dan jasad ibumu sudah lenyap terlebih dulu” makhluk itu semakin mendekat dan mencengkramkan tanganya ke tubuhku.
Aku menghindarinya dengan kaki yang lemas.
“Ibu ada di rumah… ga mungkin aku percaya sama demit laknat seperti kamu” teriaku kepada makhluk itu.
“ Ibumu, adikmu, dan kamu adalah tumbal yang dijanjikan ayahmu untuk bisa menjadi kaya dan hidup bersama wanita sundal yang mengaku sebagai ibumu… khikhihi..” ucap demit itu.
Tanpa terasa , setan dari balik semak sudah mencapai tubuhku dan mencengkram dengan erat.
“Ba.. pak! Gak mungkin.. Bapak.. tolong Rani pak!” aku berteriak sambil meronta. Namun tenaga setan itu terlalu kuat.
Rasa sakit yang tak tertahankan mulai muncul , selama semalaman setan-setan itu mencabik-cabik tubuhku dan menjilati semua darah yang menetes dari lukaku. Setan-setan baru bermunculan melakukan hal yang sama hingga mereka puas dan mengangkatku.
Suara gemericik air terdengar, itu adalah darahku yang menetes ke dalam air di lubang sumur . suara itu terdengar beberapa kali hingga tubuhku menyusul tetesan darahku kedalam lubang itu sebagai tumbal perjanjian Bapak dengan setan-setan ini..

Tamat

#sumurpemakantumbal
Semoga cerita ini bisa cukup bikin merinding sambil menunggu #gendingalasmayit part6 di upload besok.

Terima kasih dan selamat membaca

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Diosetta

Diosetta Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @diosetta

Jan 8
PURI JAGATSUKMA
Part Akhir bag. 2 - Tamat

Danan dan yang lain melangkah masuk tanpa ragu. Di Kejauhan mereka melihat sebuah batang pohon yang begitu besar yang sebagian dedaunanya menembus langit Puri yang terang itu.

Sebuah pohon yang merupakan sumber kekuatan dari Puri Jagatsukma.

#bacahorror @bacahorror @bagihorror @IDN_Horor @ceritahtImage
“Tak kusangka kalian bisa sampai secepat ini, Hahahaha..” Suara tawa Dewi Mretya menggema di tempat itu.

Sosok itu hanya duduk di sebuah tahta singgasana di sebuah batu yang tidak jauh dari pohon Jagatsukma itu.

Sementara itu Guntur dan yang lain masih bingung bagaimana tempat yang tak dimasuki cahaya matahari itu terasa seperti di siang hari.

Danan dan Cahyo maju mendekat. Simbol Mretya di matanya pun menyala. Jagad, Panji, dan Dirga menyusulnya. Merekalah pengemban simbol bencana itu.

“Kita tuntaskan urusan kita..” Ucap Danan.
Belum sempat mereka melangkah, sosok hitam legam itu tiba-tiba sudah berada diantara mereka.

“Tunjukkan bahwa kalian pantas…”

Brughh! Brugh! Brugh!!

Mereka bertiga berjatuhan. Keberadaan Sosok Dewi Mretya seolah melipatgandakan gravitasi di sekitar mereka hingga mereka kesulitan untuk berdiri.

“Ayo.. Wanasura!” Bisik Cahyo yang menggunakan kekuatan Wanasura untuk melawan tekanan itu. Ia melompat bersiap menghantam Wajah hitam Dewi Mretya itu, namun sosok itu melesat begitu saja bagai angin yang tak tersentuh.

Walau begitu, Roh danan sudah memisahkan dirinya dari raganya yang terkapar, ia menghadang Dewi Mretya dan menghujamkan keris Ragasukma tepat di hadapan wajahnya.

“Tidak buruk..” Lagi-lagi serangan itu tidak mengenai Dewi Mretya. Sosoknya bagai angin yang berhembus diantara mereka.

“Belum!” Kali ini Kabut putih jagad muncul di hadapan dewi mretya, Ajian watugeni menyala dan melesat dari kabut itu ke arah Dewi mretya.

Saat itu Dewi Mretya hanya menertawakan kekuatan yang meledak di telapak tangannya itu. “Hanya ini?”. Tapi Jagad tersenyum kecil.Image
Read 20 tweets
Jan 2
PURI JAGATSUKMA
Part Akhir - Semesta Roh

Puri Jagatsukma sudah menentukan pilihan. Dia yang akan mewarisi hasrat dari jiwa Puri Jagatsukma

@bacahorror #bacahorro @IDN_Horor Image
--Part akhir ini 2,5x lebih panjang dari part-part biasanya. jadi akan saya pecah menjadi 2x post ya..--
Read 24 tweets
Dec 25, 2025
PURI JAGATSUKMA
Part 12 - Gerbang Sukma

Ingatan masa lalu yang kembali kepada Jagad membuatnya tak mampu berkata-kata. Ia tak pernah menyangka bahwa ayahnya melakukan sebuah ritual yang bahkan menjerumuskan warga desa.

#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht Image
GERBANG SUKMA

Ingatan masa lalu yang kembali kepada Jagad membuatnya tak mampu berkata-kata. Ia tak pernah menyangka bahwa ayahnya melakukan sebuah ritual yang bahkan menjerumuskan warga desa. Orang-orang yang dulu ia sayangi, harus mati karena perbuatan orang tuanya.

”Mas Jagad, bukan aku yang seharusnya menghentikan mereka. Kalau bukan Mas Jagad sendiri yang menghadapi mereka, semua takkan benar-benar selesai,” Ucap Dirga berdiri membelakangi Jagad.

”Aku akan menghapi mereka, Sampai Mas Jagad kembali siap..”

Dirga mengencangkan perban yang menutupi luka-luka sisa pertarungan sebelumnya. Ia memecah keris Dasasukma, meletakkan salah satunya di hadapan Jagad. dua keris melayang, dan satu keris di tangannya.

”Pusaka Darmawijaya…” Geram Putri Lindri.
”Khekehe… takkan ada artinya di tangan anak kecil bodoh sepertinya!” Tambah Mbah Dugo.

Sraat!Keris itu melayang menyerang Mbah Dugo yang segera menghindari keris yang melayang tepat di sebelah wajahnya.

”Bocah Kurang ajar!!” Makhluk dua tubuh itu melangkah dengan aneh dengan suara komat-kamit dari mulut Mbah Dugo. Tak berapa lama, bau busuk semakin menyengat dan tangan-tangan hitam muncul dari ketiadaan mengincar Dirga.

Dirga tidak diam, ia membaca sebuah ajian hingga kerisnya menyala dan menebas satu persatu tangan gaib yang muncul dari mantra Mbah Dugo.

”Ternyata kau bisa bertarung,” ucap Dewi Kunir yang tiba-tiba muncul di dekat Dirga.

Deg!Seketika dirga merasa cemas. Tubuhnya kaku saat menyadari makhluk dengan dua wajah itu ada di dekatnya. Dirga Melompat menjauh tanpa tahu apa yang akan diperbuat sosok itu, namun jelas ia sadar Makhluk itu berbahaya.

”Kenapa kamu takut, nak? Aku belum melakukan apapun..” ucap Dewi Kunir.

Dirga menggerakkan tangannya hingga satu keris dasasukma yang melayang mengincar Dewi Kunir, namun sosok itu menghindarinya dengan tenang.
”Kau tak berpikir bisa mengalahkanku dengan ilmu seperti lalat ini, Kan?” Ucap Dewi Kunir.

Putri Lindri tak bergerak sama sekali. Ia tetap mengawasi Jagad, menikmati rasa putus asanya seolah menanti saatnya yang tepat untuk bergerak.
Di tengah mertarungan sengit itu, Dewi Kunir menggerakkan tangannya, dan…

Dug!Suara Lesung terdengar.. Saat itu tiba-tiba Dirga memuntahkan darah. Sesuatu yang menyakitkan seperti menghantam tubuhnya dari dalam.
”Sial!” Dirga menyadari waktunya tak banyak. Ia melesat ke Arah Dewi Kunir dan menghujamkan kerisnya.

Srat! Srat!!

Serangan Dirga mengenai tubuh Dewi kunir, sialnya wujud itu segera menghilang dan muncul di hadapannya.

“Hihi.. anak kecil bukan waktunya bermain-ma…” Jleb!!

Dua buah keris melayang menghujam punggung Dewi Kunir. Kali ini ia tidak menghilang, dua pecahan keris dasasukma itu dilapisi bilah cahaya merah.

”Bocah kurang ajar!” Dewi Kunir geram, namun tusukkan keris itu tidak cukup dalam untuk melumpuhkannya. Ia pun mengangkat tangannya sekali lagi, dan suara lesung kembali terdengar.

Dug!Dirga kembali terjatuh. Darah kembali keluar dari tubuhnya. Mbah Dugo memanfaatkan momen itu dengan membanting tubuhnya ke Dirga. Tangan-tangan hitam bermunculan mencengkeram tubuh Dirga.

”Khekhekeh! Waktu main sudah selesai!”
Dug! Dug!Suara lesung kembali terdengar, Dewi Kunir mengangkat tangannya sambil menari nari mengikuti irama lesung itu.

Rasa sakit menghantam tubuh Dirga, ia membaca ayat-ayat suci untuk melindungi dirinya dari serangan-serangan gaib yang menghantamnya.

“Habisi!” Satu kata dari Nyai Lindri jatuh layaknya sebuah penghakiman.

Begitu perintah itu meluncur, Mbah Dugo langsung menangkupkan kedua telapak tangannya. Bibirnya bergerak cepat melafalkan mantra tua, mantra yang sudah lama tak diperdengarkan pada dunia manusia.

DUG… DUG… DUG…

Suara lesung terdengar, berat dan berirama, seolah ada sesuatu yang ditumbuk di perut bumi.
Semakin lama, semakin cepat.

Dari tanah, dari udara, dari bayangan
tangan-tangan hitam muncul dan merayap ke tubuh Dirga.

Mereka mencengkeram lengan, dada, leher, dan kaki. Kekuatan itu menekan dari segala arah.

“Sa… sa—sakit…” Dirga memuntahkan darah. Dadanya terasa seperti diremas dari dalam.
Bukan sekadar rasa sakit, melainkan tekanan yang menunggu detik terakhir untuk meledak.

Setiap tumbukan lesung terasa seperti hitungan mundur menuju kematian.

Dirga tahu… tubuhnya tak akan sanggup menerima pukulan terakhir itu.

Dengan sisa tenaga, ia menoleh ke arah Jagad.

“Mas Jagad…” Suaranya serak, nyaris tak terdengar di tengah gemuruh.

“Apa pun yang terjadi setelah ini… bangkitlah.”
Jagad mengangkat kepala. Yang ia lihat bukan lagi sahabatnya yang ceroboh dan selalu bercanda, melainkan tubuh penuh luka, darah menetes dari mulut Dirga, matanya mulai kehilangan pandangan.

“Aku tahu Mas Jagad mampu menghadapi mereka…”
Dirga tersenyum tipis…senyum paling berat yang pernah ia berikan. “Pastikan… kematianku… bukan kekalahan.”
Read 15 tweets
Dec 18, 2025
PURI JAGATSUKMA
Part 11 - Hati Manusia

Kedatangan paklek memecah kepercayaan mereka. Pundra takkan memaafkan segala dosa masa lalu yang ia perbuat di Puri ini.

#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht Image
PILIHAN

“Kita tidak punya banyak waktu, Danan.”
Mbah Widjan sudah menggenggam cambuk pusakanya, urat-urat di tangannya menegang.

“Kami hanya bisa membantumu mencegah petaka di tempat ini. Sisanya… tugas kalian.”

“Bapak!” Panji menghalangi langkah ayahnya. Suara Panji bergetar. “Apa… apa yang dikatakan Pundra itu benar?”

Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada serangan musuh manapun.

Sementara itu, Pundra masih memaku pandangannya pada Paklek. Tangannya mengepal begitu keras hingga buku jarinya memutih.

Tatapannya bukan sekadar marah, itu adalah dendam masa lalu yang belum selesai.

“Jangan buang waktu lagi,”

Cahyo berkata tegas, menempatkan dirinya di sisi Paklek seolah menjadi tameng hidup.

Danan langkah demi langkah berdiri di sisi satunya.
Panji terpaku. “Ta… tapi… Paklek…?”
Pundra langsung memotong.

“JADI KALIAN MEMIHAK PEMBUNUH ITU?!”
Dua sayap asap hitam melesat dari punggungnya, asap itu menyatu dengan tangannya dan membentuk cakar raksasa yang memancarkan aura pembunuh.

Danan dan Cahyo maju ke depan paklek dan menghadang Pundra.

“Pundra..” Cahyo mendekat tanpa perlawanan. “Paklek, ayah kami..”

“TAPI DIA MEMBUNUH KIDUNG DAN JATI!!!”
Tubuh Pundra meledak dalam ledakan amarah.

DUARR!!

Cakar hitam itu menghantam Cahyo langsung. Cahyo menahannyamtulang-tulang tangannya berderak. Darah mengalir dari jari hingga pipinya.
Read 17 tweets
Dec 11, 2025
PURI JAGATSUKMA
Part 10 - Dosa

Ada zaman dimana batas antara manusia dan gaib belum tercipta...

#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht Image
SEBELUM ZAMAN

Sebelum manusia berkuasa di tanah Jawa,
Sebelum batas antara alam manusia dan makhluk gaib tercipta, Sebelum perjanjian pertama dengan penguasa gaib terjadi…

Dua manusia berjalan menembus hutan terdalam. Nafas mereka terengah, namun langkah mereka terus maju, seolah ada panggilan tak kasat mata yang menuntun mereka masuk ke wilayah terlarang itu.

“Aku tidak yakin kita harus meneruskan perjalanan ini, Kurna,” bisik salah satunya, Purwa, dengan suara bergetar.

“Aku juga merasakan hal yang sama, Purwa,” jawab Kurna lirih. “Tapi ada yang mendorong jantung ini… Sebuah kehendak yang memaksa kita untuk sampai ke sana. Kita harus mengetahui apa yang menunggu.”

Sudah lama mereka meninggalkan suku mereka, mengejar sebuah tempat yang hanya hadir dalam mimpi, tempat yang sebelumnya tak pernah mereka ketahui namanya, atau wujudnya. Namun panggilan itu terlalu kuat untuk diabaikan.

Dan akhirnya, mereka tiba.

Di tengah hutan berdiri sebuah pohon beringin raksasa, menjulang angkuh seperti penjaga. Dari dahan-dahannya tergantung kepala-kepala manusia… ada yang telah mengering, ada yang membusuk, dan ada pula yang masih meneteskan darah segar ke tanah.

Di bawahnya, sosok hitam setinggi tiga meter tengah bersila, bermeditasi dalam kekhusyukan yang mengerikan. Rambutnya panjang tak terurus menutupi sebagian wajahnya yang bengis. Tetesan darah dari kepala-kepala itu terus membasahi tubuhnya.

“I—ini… tempat apa?” Purwa terhuyung, seluruh tubuhnya gemetar.

Tanpa menjawab, Kurna mengambil tali hitam dari tas kulitnya. Ia melantunkan mantra kuno, lalu melilitkan tali itu pada tubuh mereka berdua.

“Dengan ini, mereka tidak akan merasakan keberadaan kita,” bisiknya tajam.

Saat mereka semakin mendekat, keduanya tersentak. Makhluk itu tidak sendiri.

Di sekelilingnya berdiri makhluk-makhluk hutan yang bentuknya tidak lagi menyerupai manusia, para setan penguasa belantara, siap memburu manusia kapan saja.

Namun yang lebih memuakkan…
Di antara mereka berdiri manusia-manusia sakti yang telah bersekutu dengan kegelapan. Mata mereka kosong, jiwa telah ditukar dengan kekuasaan.
Read 15 tweets
Dec 4, 2025
PURI JAGATSUKMA
Part 9 - Alam Tanpa Batas

Setiap wilayah di Puri Jagatsukma memiliki penguasanya sendiri. Sosok yang takkan membiarkan siapapun lolos dari cengkeramannya..

@bacahorror @ceritaht @IDN_Horor
#bacahorror Image
“Kenapa?” Wajah Panji terlihat panik. “Kenapa Dirga dan Guntur? Ki Gutayar bukan lawan yang bisa mereka kalahkan!”

Cahyo mengepalkan tangannya, Ia pun merasa seharusnya dirinya atau Danan yang menolong Nyai Jambrong.

”Pundra? Apa kau bisa memindahkanku juga?” Teriak Danan.

Pundra mendekat ke pertarungan dengan sebagian tubuhnya berubah menjadi asap hitam.

”Di Puri ini setiap penguasa memiliki wilayah kekuasaannya sendiri, saat ini aku tak sekuat saat berada di wilayahku. Sedangkan dia…” Pundra menunjuk pada sosok patung setan bertaring yang begitu besar di tengah ruangan itu.

”Ini adalah wilayahnya, tempat terkuatnya..”
Cahyo memperhatikan sosok patung setan yang membawa berbagai pusaka itu di tangannya yang banyak. “Berarti pelataran ini adalah wilayah kekuasaan patung itu?”

”Benar..”

Cahyo mendekat ke sisi pertarungan. Lebih dekat. Ia pun hanya duduk dan melipat kedua tangannya sambil memperhatikan pertarungan itu.

”Mas Danan, harusnya ada yang bisa kita lakukan, kan?” Tanya Panji,

Danan hanya menoleh ke arah Cahyo. “Untuk saat ini kita hanya bisa percaya pada Guntur dan Dirga.

***
Read 14 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(