Ismail Fahmi Profile picture
Jul 28, 2021 34 tweets 12 min read Read on X
KAMPANYE STOP BERITA COVID

Research questions:
• Bagaimana kronologi kampanye dengan poster “Stop Berita Covid”di berbagai kota sehingga viral?
• Siapa yang membuat kampanye ini?
• Bagaimana respons masyarakat/netizen?
• Apa motif kampanye ini?

Analisis Drone Emprit >>
METODOLOGI

• Keywords: covid, covid19, stopberitacovid19, stopberitacovid
• Filter (should contain): stopberitacovid19, stopberitacovid, stopberitacorona,
stop berita, stop upload
• Sumber data: berita online, Twitter, Facebook, Instagram, YouTube
INSTAGRAM

Pengumpulan data dari instagram menggunakan fitur search hanya dimungkinkan kalau postingan mengandung tagar.

Dari statistik jumlah post untuk tagar terkait #stopberitacovid*, ditemukan sedikit postingan (259). Postingan yg tak menggunakan tagar ini tak dihitung.
FACEBOOK, YOUTUBE, TWITTER

Dari tiga kanal ini, yang paling banyak adalah Facebook. Secara total Google mencatat setidaknya ada 6700 Fb post, 28 video YouTube, dan 150 postingan Twitter (tidak termasuk RT).
Jumlah ini sebenarnya sedikit untuk ukuran isu yang viral. Mungkin penyebaran di WA lebih masif, sehingga isunya meluas dan jadi perhatian banyak pihak, terutama media.
TWITTER

Pencarian tagar #StopBeritaCovid di Twitter menghasilkan data yang tidak terlalu banyak. Awal ditemukan setidaknya tanggal 24 Juli 2020, dan baru mulai ramai belakangan ini.
TREN "STOP BERITA COVID"

Drone Emprit menganalisis data dalam 2 bulan terakhir, khususnya 17 Juni-28 Juli 2021.

Sebelum 3 Juli 2021, percakapan di Twitter lumayan ada tapi belum banyak. Tanggal 27/28 Juni sudah ada poster dan tagar ini di Facebook dan Twitter.
Tanggal 5/6 Juli muncul laporan pertama adanya poster Stop Berita Covid di WAG masyarakat di Yogyakarta. Isinya mengajak warga Yogya dan sekitarnya kompak untuk tidak upload berita Covid, agar masyarakat aman dan damai.
Tak lama setelah itu, mulai muncul poster dengan narasi serupa tetapi dibuat templatenya untuk kota-kota lain, misal Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Gresik, dll. Puncaknya tanggal 15 Juli, karena mulai banyak diberitakan oleh media.
TREN FACEBOOK

Sebelum ramai di Twitter, kampanye ini sudah lebih dahulu dishare di Facebook. Tak tampak adanya upaya terkoordinir. Sepertinya random oleh netizen yang memiliki pandangan yang sama dengan narasi ini.
EVOLUSI POSTER DAN KLARIFIKASI

Bisa disimpulkan kronologi poster per kota sebagai berikut. Awal juli 2021 poster Stop Berita Covid muncul di Yogya. Pertengahan Juli versi template untuk kota-kota lain muncul. Lalu direplikasi oleh netizen untuk kota2 mereka.
Di berbagai group WA alumni SMP/SMA yang saya ikuti pun pada pertengahan Juli banyak menyebar poster serupa untuk daerah saya dulu.

Baru akhir Juli (22) klarifikasi dari Cek Fakta Mafindo untuk poster dari Gresik dibuat. Butuh beberapa lama untuk mendapatkan konfirmasi.
TOP SHARED IMAGES

Poster Stop Berita Covid yang dishare di Twitter kebanyakan adalah laporan poster yang ditemukan di kanal lain (FB, WA). Ada juga netizen yang ikut meramaikan, misal @arbi_irlan untuk poster versi Jakarta.
SNA "STOP BERITA COVID"

Percakapan di Twitter tidak banyak. Ada beberapa top influencers yang mengritik poster ini, antara lain @lantip, @cagubdij, @dickypusy, @fahrisalam, @anasanti_mila.

Akun influensial yang mempromosikan poster ini lebih sedikit, seperti @arbi_irlan.
TOP INFLUENCERS

Berikut ini akun influensial yang membahas Stop Berita Covid di Twitter. Lebih banyak dari kalangan yang kontra terhadap poster.
MOST RETWEETED

Narasi yang paling banyak dishare di Twitter adalah yang kontra terhadap poster stop berita covid. Misal @dickypsy melihat ini sebagai "false positivity", melihat realitas tidak utuh, kenyamanan semu, sehingga bisa mengurangi kewaspadaan.
Sedangkan @lantip dan @cagubdij menyoroti poster stop upload berita covid yang dibuat dan menyebar di WAG masyarakat Yogyakarta.
MOTIF

Di antara netizen yang mendukung Stop Berita Covid, terdapat dua motif besar yang melatarbelakanginya. Paling besar adalah alasan kesehatan (70%) dan ekonomi (30%).
ALASAN KESEHATAN

Sebagian besar penolakan karena alasan ini:
• Pasien covid butuh tenang dan optimis, berita covid bikin khawatir dan panik.
• Berita covid membuat panik masyarakat.
• Percaya covid, tetapi berita covid bikin lelah masyarakat karena ditakut-takuti terus.
ALASAN EKONOMI

• Masyarakat tidak bisa bekerja karena covid, butuh makan.
• Berharap dengan tiadanya berita covid, kondisi seperti normal, bisa bekerja dan beraktivitas lagi.
Dua motif di atas tampaknya mendapat dukungan sebagian masyarakat, khususnya yang mengalami sendiri kesulitan dari sisi kesehatan (fisik dan mental) maupun ekonomi.

Bukan berarti semua yang mendukung poster ini tidak percaya adanya covid. Banyak yang menyatakan percaya.
TOPIK BERITA ONLINE

Beberapa topik yang diangkat:
- Herd stupidity, toxic positivity
- Gerakan anti-PPKM dan berita covid di berbagai kota
- Bahaya gerakan ini bagi penanganan covid
- Tanggapan Dinkes dan Polisi atas penyebaran poster
KESIMPULAN /1

1/ Postingan dengan narasi “Stop Berita Covid” sebenarnya sudah cukup lama disuarakan oleh sebagian kecil netizen di media sosial, sejak pandemi mulai naik kasusnya di Indonesia, sekitar Juli 2020. Namun narasi ini tidak kuat.
2/ Sekitar Januari 2021, poster Stop Berita Covid dengan motif ekonomi “Kami butuh penghasilan, pemasukan, makan” sudah ada yang membuat dan banyak disebarkan meski belum viral.
3/ Sekitar tanggal 3-4 Juli 2021, di Yogyakarta mulai beredar di group2 WA poster dengan narasi “Kami warga D.I.Y. kompak untuk tidak upload berita Covid. Kami ingin Jogja kembali aman dan damai.”
4/ Beberapa hari berikutnya muncul poster serupa dengan template yang sama, mengatasnamakan warga Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Gresik, Banjarnegara, Jakarta, Bojonegoro, dll, menyebar di WA dan media sosial.
5/ Puncak viral tgl 15 Juli, setelah poster ini jadi sorotan public dan media massa. Sebenarnya jumlah postingan yang mendukung poster Stop Berita Covid ini tidak terlalu banyak di media sosial. Tapi karena kontroversial, cenderung “toxic positivity” akibatnya jadi sorotan luas.
6/ Melihat kronologi di atas, sepertinya poster ajakan Stop Berita Covid ini dibuat oleh sebagian masyarakat sendiri secara natural. Poster dari D.I.Y itu sepertinya menjadi contoh dan inspirasi untuk membuat template poster bagi kota-kota lain.
7/ Template poster berdasarkan kota itu ternyata disukai oleh sebagian masyarakat dari kota- kota lain, sehingga mereka turut mereplikasi dengan mengubah nama kota dalam template menjadi kota mereka masing-masing.
8/ Dalam banyak postingan di Facebook, sebagian besar postingan poster ini mendapat sambutan positif dari komentator. Kolom komentar banyak diisi ungkapan dukungan untuk tidak membicarakan soal Covid.
9/ Motif utama yang ditangkap oleh Drone Emprit dari sebagian netizen yang menyuarakan narasi ini: motif kesehatan (70%) dan motif ekonomi (30%).
• Motif kesehatan: berita covid membuat masyarakat panik dan setres, masyarakat umum dan pasien butuh semangat dan ketenangan.
• Motif ekonomi: karena covid, masyarakat kehilangan pekerjaan, pendapatan, butuh makan, sehingga berharap dengan tiadanya berita covid, suasana seperti normal kembali, sehingga mereka bisa bekerja.
10/ Tak semua masyarakat atau netizen sepakat dengan narasi poster ini. Banyak yang melihat kampanye ini berbahaya, toxic positivity, membuat terlena padahal situasi pandemic Covid butuh kewaspadaan.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Ismail Fahmi

Ismail Fahmi Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @ismailfahmi

Jul 28, 2025
Analisis Isu dan Rekomendasi Terkait Klausul Transfer Data Pribadi dalam Perjanjian AS–Indonesia

Beberapa kali saya mau diwawancara media soal isu ini saat awal muncul. Karena saya seperti kebanyakan publik, belum tahu detail apa yg ditransaksikan, saya tolak.

Sekarang sudah banyak yang berbicara. Jadinya saya bisa buat tulisan 22 halaman, yang komprehensif, biar ndak sepotong-sepotong. Mulai dari pertanyaan umum kita, situasi global, analisis pakar, respon netizen, dan rekomendasi.

Yang ingin baca versi PDF, bisa download di bagian akhir thread ini.

Ok, buat yang ndak punya banyak waktu buat baca, ini kita mulai dengan key points.Image
Image
Pendahuluan

Kesepakatan dagang bersejarah antara Amerika Serikat dan Indonesia yang diumumkan pada Juli 2025 menjadi tonggak penting dalam hubungan bilateral kedua negara. Poin-poin seperti penurunan tarif ekspor, pembukaan akses pasar, dan pembelian puluhan unit pesawat Boeing mendominasi pemberitaan media. Namun, terselip satu klausul yang jauh dari sorotan utama, tetapi justru menyulut percakapan publik yang paling emosional dan penuh pertanyaan adalah transfer data pribadi lintas negara.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “transfer data pribadi”?
Apakah ini berarti data KTP, SIM, dan informasi BPJS kita akan dikirim ke Amerika?
Mengapa pemerintah Indonesia mengakui bahwa Amerika Serikat memiliki perlindungan data yang “memadai”?
Apakah AS benar-benar dapat dipercaya, mengingat sejarah panjang penyadapan dan kebocoran data oleh lembaga intelijennya?
Dan yang lebih penting, siapa yang akan mengawasi semua ini?
Apakah kita, sebagai warga negara, punya hak tahu dan hak menolak?

Pertanyaan-pertanyaan itu menggelinding cepat di media sosial dan ruang-ruang percakapan digital. Bagi sebagian orang, isu ini terdengar teknis, bahkan terlalu teknis, dan terasa jauh dari kehidupan sehari- hari. Tapi bagi mereka yang memahami ekosistem digital, atau yang pernah mengalami datanya bocor, ini bukan sekadar soal infrastruktur internet. Ini soal kedaulatan, transparansi, dan hak asasi manusia dalam era yang dikendalikan oleh aliran informasi.

Di sinilah letak pentingnya membedah secara jernih.

Apa yang sebenarnya disepakati oleh Indonesia dan AS?
Sejauh mana data pribadi kita terdampak?
Apakah ini sebuah peluang atau ancaman?
Dan bagaimana publik meresponsnya?

Artikel ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut berdasarkan analisis publikasi resmi pemerintah, kajian hukum, dan lebih dari 24.000 percakapan warga di media sosial yang dihimpun oleh Drone Emprit.Image
Apa yang Disepakati AS dan Indonesia?

Dalam Fact Sheet resmi Gedung Putih (22 Juli 2025), disebutkan bahwa Indonesia sepakat untuk memberikan kepastian hukum bagi perusahaan AS dalam memindahkan data pribadi dari wilayah Indonesia ke Amerika Serikat. Pemerintah Indonesia mengakui bahwa AS memiliki tingkat perlindungan yang "memadai" untuk memproses data warga negara Indonesia, sebuah pengakuan yang strategis namun juga kontroversial.

Menurut Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, pengaturan ini tidak berarti menyerahkan data warga negara secara bebas, melainkan dilakukan dalam kerangka “trusted, secure, and measurable governance.” Artinya, hanya data dalam konteks digital services seperti e-commerce, cloud, dan riset, yang dapat dipindahkan lintas negara.Image
Read 11 tweets
Feb 9, 2025
Tagar #KaburAjaDulu ini awal mulanya oleh siapa sih? Kenapa viral? Dan siapa top-top influencer yang meramaikannya?

Image
Ini saya agak telat ngumpulin datanya, baru tadi malam. Jadinya yang ketangkap baru ini.

Terlacak oleh Drone Emprit, paling awal oleh akun @amouraXexa pada 8/Jan/25 , namun kecil sekali engagementnya.

Baru viral setelah diangkat @hrdbacot 14/Jan, lalu dr @berlianidris 6/Feb. Image
@amouraXexa @hrdbacot @berlianidris Tagar #KaburAjaDulu ini sebagai reaksi frustasi atas situasi di Indonesia yang dirasakan sebagian netizen. Mereka mencari informasi lowongan kerja, tip persiapan berangkat, resiko yang harus dipertimbangkan, dan perbandingan tinggal di Indonesia vs LN. Image
Read 29 tweets
Nov 14, 2024
Coding dan AI untuk SD (Pelajaran Pilihan)

Saya minta ke ChatGPT dengan prompt ini: Buatkan kurikulum Coding dan AI untuk siswa SD di Indonesia. Pelajari kurikulum tentang ini yang sudah ada di berbagai negara, gunakan best practice mereka.

Berikut adalah draft kurikulum Coding dan AI untuk siswa SD di Indonesia, yang mengadopsi best practices dari berbagai negara.Image
Image
Coding, Game, dan Buang Sampah

Buatkan tugas membuat Game untuk anak SD kelas 3, agar mereka bisa menjadi rajin membuang sampah pada tempatnya. Image
Image
Coding, Game, dan Adab kepada Orang Tua dan Guru

Buatkan tugas membuat Game untuk anak SD kelas 3, agar mereka bisa menjadi anak yang hormat pada guru dan orang tua. Image
Image
Read 4 tweets
Sep 24, 2024
Ini yang saya suka juga. Tidak baperan. 👍

Dulu ada foto Gibran yang bikin kesel, malah diprint besar2, dipigura dan dipasang di dinding. Bikin makin kesel 😂

Lalu sekarang ada "Putra Mulyono". Counter berkelass😃

Penasaran, kalau Fufufafa ntar respon uniknya gimana ya. 🤔
Ini kenapa topik "Fufufafa" sudah hampir 1 bulan belum ada tanda-tanda akan reda juga. Malah hari ini naik lagi. Image
Saya ambil pemberitaan di online news dalam 2 hari terakhir, lalu minta AI untuk merangkum pendapat tokoh yang diquote oleh berita.

Refly Harun: Pakar hukum tata negara ini menegaskan bahwa akun Kaskus Fufufafa tidak berhubungan dengan Prabowo Subianto, meskipun Prabowo memiliki pengaruh untuk menghentikan potensi impeachment terhadap Gibran. Refly juga menyatakan bahwa Fufufafa semakin menguatkan pandangan bahwa Gibran tidak layak menjadi wakil presiden.

Jhon Sitorus: Pegiat media sosial ini sangat yakin bahwa akun Fufufafa adalah milik Gibran Rakabuming Raka, dengan menyebutkan bukti-bukti yang mengarah ke keterkaitan antara nomor ponsel Gibran dan akun tersebut. Ia menegaskan bahwa bukti-bukti ini menunjukkan kepemilikan Gibran secara jelas.

Jimly Asshiddiqie: Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini mengungkapkan bahwa efek dari isu Fufufafa sangat luar biasa, menimbulkan kemarahan yang meluas di masyarakat. Ia juga meminta agar publik melupakan isu ini, meskipun ia menyadari bahwa hal tersebut sulit dilakukan.

Muslim Arbi: Direktur Gerakan Perubahan ini menilai bahwa Gibran tidak bisa mengelak dari tuduhan sebagai pemilik akun Fufufafa, dan ia mengaitkan isu ini dengan karakter Gibran yang dianggap tidak pantas untuk posisi wakil presiden.

Feri Amsari: Hukum Universitas Andalas ini menekankan pentingnya klarifikasi mengenai keterkaitan Gibran dengan akun Fufufafa, dan ia menganggap bahwa isu ini perlu ditangani secara serius.

Henri Subiakto: Pengamat politik ini mengkritik perilaku komunikasi Gibran dan Kaesang, yang dianggap menunjukkan karakter yang tidak bermoral. Ia menekankan bahwa jika ada kesalahan, sebaiknya Gibran meminta maaf.

Dr. Tifa: Seorang dokter yang juga aktif di media sosial, berharap agar Prabowo mengambil tindakan terkait polemik akun Fufufafa, yang dianggap merugikan citra Gibran.

Kesimpulannya, isu mengenai akun Fufufafa yang diduga milik Gibran Rakabuming Raka telah memicu berbagai pendapat dari tokoh-tokoh publik. Banyak yang menilai bahwa Gibran tidak layak untuk menjabat sebagai wakil presiden, sementara yang lain menekankan pentingnya klarifikasi dan tindakan dari pihak terkait untuk menyelesaikan polemik ini. Isu ini juga menunjukkan dampak besar terhadap citra politik Gibran dan hubungan antara tokoh-tokoh politik di Indonesia.Image
Read 11 tweets
Sep 10, 2024
Sedang ramai soal kritikan JK kepada Nadiem Makarim yang dinilai jarang berkunjung ke daerah.

Saya coba gunakan fitur baru di Drone Emprit yang memanfaatkan LLM, untuk membuat tabel kegiatan kunjungan yang dilakukan oleh Nadiem dalam periode tertentu secara otomatis.

Saya gunakan sumber data Online News, untuk periode April-Juni 2023, yang mengandung kata kunci "Nadiem" dan filter "kunjungan, mengunjungi, mendatangi, dll".

Promptnya: Buat tabel tempat yang dikunjungi Nadiem: no, tanggal, Lokasi, kota, tujuan kunjungan, website. Jangan masukkan "jakarta", berdasarkan data yang diberikan saja.

Hasilnya seperti ini. Ada yang missed, "Kuningan" dianggap nama "kota" wkwk.Image
Saya minta AI buat membaca lagi, mosok hanya sedikit tempat yang dikunjungi, dan kebanyakan di luar negeri. Saya koreksi juga soal Kuningan.

Fix, hasilnya tetap tidak berubah. Image
Sekarang saya coba ganti periodenya dari Juli-Oktober 2023. Awalnya cuma dua, lalu saya marahin itu AI. Tambah dua entry lagi. Tapi sebenarnya 3 entri itu kunjungan ke lokasi yang sama. Image
Read 8 tweets
Feb 16, 2024
Quick Count vs Real Count

Kenapa saya percaya Quick Count? Lihat ilustrasi ini.

Kita ingin menghitung Populasi yang di dalamnya ada kelompok A, B, dan C. Jumlah dan persentasenya seperti dalam kotak nomor #1, A=25%, B=50%, C=25%.

Saat melakukan Real Count seperti dalam kontak #2, butuh waktu lama karena jumlah populasinya banyak, sehingga baru sebagian yang terhitung. Saat menghitung, tidak dipilih-pilih secara proporsional dari A,B, atau C. First come first. Hasilnya, yang A terhitung semua, B baru sebagian, C paliing sedikit.

Akibatnya persentase A=43%, B=43%, C=14%. Si A seneng banget karena banyak presentasenya. Tapi kan ini tidak sesuai Populasi sebenarnya di kotak #1?

Kemudian ada Quick Count seperti dalam kotak #3. Yang dihitung lebih sedikit dari yang sudah dihitung di Real Count. Tapi yang dihitung sudah dipilih-pilih secara proporsional, dari A=1, B=2, dan C=1. Kalau diprosentase, hasilnya A=25%, B=50%, C=25%. Lho kok sama seperti prosentasi populasi?

Nah pertanyaan di kotak #4, mana yang lebih mendekati "Populasi sebenarnya"? Real Count yang belum selesai, atau Quick Count yang sudah kelar?

I love Statistics. 🩷🩷🩷
🔥🔥🔥Image
Bagaimana dengan Quick Count pada Pilpres 2024 ini?

Ini yang saya tahu ya, dari beberapa lembaga QC, ada yang deket ke 01, 02, atau 03.

Kedai Kopi, Om Hensat deket ke 01, hasilnya:
01=24.2%
02=58.96%
03=16.84%

LSI Denny JA, deket ke 02, hasilnya:
01=25.21%
02=58%
03=16.73%

Charta Politika, deket ke 03, hasilnya:
01=25.52%
02=57.30%
03=17.31%

Semua mirip. Selama metode multistage random sampling yang digunakan sudah benar, hasilnya juga ndak jauh beda.Image
Image
Image
Terus, masalahnya ada di mana?

Masalahnya bukan pada saat pencoblosan, Quick Count, atau Real Count. Tapi ada pada proses-proses sebelum itu, yang membuat rakyat akhirnya menghasilkan output seperti dalam QC dan RC ini.

QC dan RC ini memvalidasi hasil kerja keras dari proses, prakondisi, pengkodisian, kampanye, dll sebelum pencoblosan.

Apa saja proses-proses itu? Nah ini saya yo ndak tahu. Mungkin bisa dicek di film yang sempat viral sebelum hari H pencoblosan itu.
Read 4 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(