Diosetta Profile picture
Sep 16, 2021 64 tweets 9 min read Read on X
IMAH LEUWEUNG
Part Epilog - Asrama Di bawah Pohon Beringin

Kita tutup rangkaian cerita ini dengan part epilog #imahleuweung ini ya.. apabila endingnya membekas tolong tinggalin kesan kalian dengan #diosetta supaya nanti saya gampang search komen2 kalian Image
IMAH LEUWEUNG
Asrama di bawah pohon beringin
Seorang anak berlari dengan tergesa-gesa menuju rumah Bu Ranti.

“Bu!! Itu bu!!! Di asrama” teriak anak kecil bernama Gio yang tinggal di rumah Bu Ranti.

“Apa lagi Gio…? Bocah-bocah itu lagi? “ Tanya Bu Ranti.
“I iya… “ Jawabnya yang terengah-engah.

“Ya udah.. sana masuk beres – beres dulu, terus cerita ke Mas Danan” Ucap Bu Ranti.

“Mas Danan sudah sampe? “ Tanya dio yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Bu Ranti.
Ya… sesuai rencana , hari ini aku kembali ke Desa Sukmaraya sebuah desa di daerah pegunungan dengan sebuah pohon beringin raksasa yang selalu dapat dilihat dari sisi manapun desa ini.

“Mas Danan! Sudah lama? ” Ucap Gio yang sepertinya sudah menunggu kedatanganku.
“lumayan.. udah sempet istirahat kok” Jawabku pada seorang bocah yang dulu kukenal sedikit pemalu.

“Mas Cahyo ga ikut?” Tanyanya sekali lagi yang membuatku segikit bingung untuk menjawab.

“Nanti Mas Cahyo nyusul kok” Jawabku seadanya.
“Gio mau cerita, di asrama ada penampakan.. temen-temenku ga ada yang percaya” Ucapnya tergesa-gesa.

“Udah.. ceritanya sambil jalan aja yuk” Aku langsung mengajak dio menuju asrama di belakang sekolahnya sekaligus mendengarkan ceritanya di perjalanan.
Sepanjang perjalanan Gio menceritakan cerita-cerita yang belum kudengar darinya, mulai dari saat ia bertemu hantu mirah, dikejar makhluk bernama lelepah hingga mengembalikan kalung titipan Pak Kuswara kepada hantu Mirah di pohon beringin.
Yang terakhir cukup membuatku cemas. Baru-baru ini ia melihat beberapa anak bermain di sekitar asrama, padahal anak-anak asrama tersebut masih sekolah.
Seorang temanya pernah ikut bermain bersama anak-anak itu dan akhirnya hilang , dan baru ditemukan setelah tiga hari di kolong kasur gudang asrama dengan kondisi lemas.
“Ini Asramanya Mas Danan… “ cerita Gio dengan menunjukan sekompleks bangunan tua di belakang sekolahnya.

Ternyata pohon beringin raksasa yang terlihat dari seluruh penjuru desa terletak tepat di sebelah komplek asrama ini.
Aku memperhatikan sekeliling, namun sama sekali tidak ada keanehan. Mungkin karena ini masih siang dan anak-anak asrama sudah kembali menempati kamarnya masing-masing.

“Gio , kamu nanti pulang duluan ya… Mas Danan mau nunggu di sini” Ucapku pada Gio.
“Mas Danan mau nunggu sampai malam ya? Ga papa, aku ikut…” bantah Gio yang terlihat semakin berani dibanding sebelumnya.

“Yakin… tapi kalau ada bahaya kamu nurut sama Mas Danan ya!” Peringatku pada Gio.

“Ok… “ Gio segera sepakat tanpa membantah.
Kami menunggu di sebuah bangunan tua, katanya di sini dulu Gio bertemu mirah dan setelahnya sempat melihat roh anak-anak asrama itu.
Ketika hari semakin malam, Lampu-lampu asrama mulai dinyalakan. Namun ternyata tidak seterang yang kubayangkan.


“main yuk… “
….
Mendadak terdengar suara anak kecil dari luar bangunan.
….
….
“Aku hitung sampe sepuluh ya… kamu ngumpet”

Suara anak lain terdengar lagi.
Aku keluar bangunan dan mencari suara itu, namun sama sekali tidak ditemukan sumber suara itu.
Gio mencoba melihatku dari jendela bangunan tua tempat kami menunggu, namun ia terjatuh ketika melihat sesosok wajah anak kecil pucat yang muncul dari jendela.

“hihihi… kok kamu ga ngumpet?” …

Suara itu muncul dari kepala yang menakuti Gio.
Gio yang ketakutan segera berlari dan menghampiriku..
“Tenang.. jangan jauh jauh dari Mas Danan ya” Ucapku.
Aku menajamkan pendengaranku , samar-samar terdengar suara bocah-bocah tanpa wujud yang bermain di seluruh tempat ini.
Aku mengikuti suara itu hingga sampai di gudang tempat anak hilang itu ditemukan.

Belum sempat masuk ke dalam, dari atas pintu sesosok kepala anak kecil menggantung terbalik dengan darah yang mengucur di hidung menuju dahinya.
“ini persembunyianku…. Jangan di sini”
..Ucap anak itu.

Aku melompat mundur dan menghindarinya, belum sempat membacakan doa ataupun mantra , roh anak kecil itu sudah menghilang dari pandanganku.
Tangan Gio menggengamku gemetar, sepertinya kejadian tadi membuat nyalinya cukup ciut.
“Sabar ya… ternyata susah juga mencari mereka” Ucapku pada Gio.
“I iya… tapi ada satu yang ga pernah pindah-pindah” Balas Gio.
“Maksud kamu..?” Tanyaku yang penasaran dengan ucapnya.
“Itu di belakang sekolah ada anak perempuan rambut panjang yang selalu menunggu di sana” Jawabnya.
Aku segera mengajak Gio ke tempat itu, setidaknya aku bisa mencari petunjuk dari makhluk yang Gio Bilang.
Benar seperti ucapanya, Ada hantu anak perempuan berambut panjang menunggu di belakang sekolah hanya menatap hantu lain yang bermain.
“Gio , kamu bisa liat hantu itu?” Tanyaku.
“sekarang samar-samar bisa mas… tapi sering ga keliatan juga” Jawab Gio.
Rasanya aku mulai mengerti mengapa Gio sering berurusan dengan makhluk halus, sepertinya ia mempunya kelebihan yang tidak dimiliki anak lain.
“Kamu kenapa di sini? Ga diajak main?” Tanyaku yang mencoba ramah pada hantu anak wanita itu.
Hantu itu hanya menggelengkan kepalanya.
Gio? Gio hanya bersembunyi ketakutan di belakangku. Sungguh berbeda dengan nyalinya tadi. Namun setidaknya ia sudah berani mencoba.

“Terus kenapa kamu di sini terus?” Tanyaku penasaran.
“kalu aku pergi dari sini , mereka bisa main di tempat lain” Ucap makhluk itu.

Rupanya hantu ini adalah yang tertua diantara mereka, sepertinya memang semasa hidup ia ditugaskan untuk menjaga teman-temanya itu.
“Kenapa kalian main terus? Ga mau selesai aja… nanti mas bantu biar ketemu temen-temen yang lain?” tanyaku yang berusaha menenangkan mereka tanpa menggunakan kekerasan.
Sayangnya makhluk itu hanya menggeleng.
Mungkin di mata manusia biasa, hantu-hantu ini sangat menyeramkan dan mengganggu. Namun saat ini aku melihat mereka sebagai roh anak yang masih polos yang tidak tahu apa yang mereka lakukan.
“Memang kenapa ga mau selesai?” Tanyaku lagi.
..
Anak wanita itu menengoku dengan wajah pucatnya.

“ada satu yang belum ketemu…. “jawabnya dengan lirih.

Aku mengerti, rupanya hantu anak-anak ini merasa bertanggung jawab atas satu makhluk lain yang tidak ada di antara mereka.
“Si… siapa yang belum ketemu?” Tiba-diba Gio memberanikan diri untuk bertanya.
Hantu itu kembali menoleh ke arah Gio yang membuatnya ketakutan.
“Ibu…” Jawab hantu anak kecil itu.
Sekarang aku mengerti, rupanya mereka tidak bisa tenang karena kehilangan ibu mereka yang menghilang saat mereka bermain di tempat ini.

Aku mencoba menanyai makhluk itu, namun tidak ada jawaban lain yang kutemukan.
“Susah Gio.. tidak ada petunjuk untuk menemukan ibu mereka, mungkin Mas Danan harus memakai cara yang lebih keras untuk menenangkan mereka” Ucapku pada Gio.

Gio menggeleng seolah tidak setuju.

“Jangan Mas Danan… kasihan mereka” balas anak itu.
“Lah.. tapi katanya kamu takut? “
Aku heran sama anak ini, ia terlihat ketakutan.. namun ia tidak tega apabila hantu ini kutenangkan dengan ilmu tenaga dalamku.
“Dulu hantu di pohon beringin ini pernah cerita kalau pak kuswara dan dia pernah ditolong sesosok hantu perempuan di rumah kebun karet… apa mungkin hantu itu ibu mereka?” Tanya Gio padaku.
Sebuah cerita yang tidak kusangka terdengar dari seorang anak kecil yang berurusan dengan hantu.

“Kebun karet? Maksudnya di Imah leuweung?” tanyaku pada Gio.

Ia mengangguk.
Aku berfikir sejenak sebelum memutuskan untuk pergi ke tempat itu lagi. Sebenarnya aku berniat mengantarkan Gio kembali sebelum memeriksa Imah Leuweung namun ia tetap ngotot untuk ikut.
“Mas Danan.. Pokoknya aku ikut sampai selesai, saat besar nanti saya mau menjadi seperti Mas Danan dan Mas Cahyo yang bisa membantu orang lain”
Sekali lagi ucapan anak ini membuatku kagum.
Masa lalu yang kelam yang dialami olehku dan Cahyolah yang membuat kami membulatkan tekad untuk memperdalam ilmu batin untuk menolong orang lain. Tapi tidak dengan anak ini, ia memiliki motivasinya sendiri.
Sebuah rumah tua yang terlihat semakin lapuk terlihat di tengah hutan karet. Warga menyebut tempat ini dengan nama Imah Leuweung atau yang berarti Rumah Hutan.

Terlihat beberapa perkakas sederhana ada di sekitar sini, sepertinya ini sisa-sisa peninggalan mbah wira.
“Kalau memang masih ada hantu di sini, dia pasti sudah diurusin sama mbah wira “ ucapku pada Gio.

“tapi cerita dari mirah begitu mas” Bantah Gio.

Aku mencoba mengingat-ngingat selama dulu memasuki bangunan ini, aku tidak menemukan hantu lain selain anak buah Brakaraswana.
Namun ucapan Gio juga patut dibuktikan.

Kami melangkah masuk ke sebuah rumah tua yang gelap dengan bantuan senter yang kubawa.

Selangkah demi selangkah kami memperhatikan ruangan-ruangan yang sudah banyak dirusak oleh rayap.
Tidak ada hal mencurigakan di tempat ini, namun Gio terlihat merinding saat menatap kearahku.
“Gio… kamu kenapa?” Tanyaku yang ke heranan.

Kali ini tubuhnya benar-benar terlihat ketakutan, ia menunjuk ke arahku seolah melihat sesuatu.
Aku menoleh ke belakang ke arah tangan Gio menunjuk.

Dan ternyata di belakangku sudah terdapat Sesosok makhluk dengan rambut panjang menutupi seluruh tubuh, darah yang hampir tak berhenti mengalir dari matanya…
Gio yang ketakutan berlari sekuat tenaga ke sebuat ruangan yang pernah kumasuki, ruang penumbalan.

Aku mengejarnya, khawatir dengan apa yang masih tersisa di sana. Namun hantu itu lebih cepat memasuki ruangan itu.
“Pergi….”
Suara makhluk itu terdengar mengarah ke Gio yang meringkuk di pojok ruangan.

Melihat hal itu aku membacakan doa-doa penenang dan ayat suci untuk hantu yang mengejar Gio itu. Perlahan darah dari matanya menghilang dan wujudnya berubah menjadi seorang wanita tua.
Sebuah penglihatan muncul di kepalaku mengenai seorang ibu yang menemani anak-anaknya bermain petak umpet di sore hari.

Keluarga ini merupakan pemilik tanah sebenarnya yang digunakan untuk kebun karet.
Sebelum sempat menyelesaikan permainanya orang suruhan juragan kebun karet membakar rumah dan halaman keluarga itu dan menculik ibu dari anak-anak itu.

Sama seperti mirah, ibu ini ditumbalkan dandi kuburkan tepat dibawah tempat ini.
Ternyata rumah yang disebut imah leuweung ini memang dibangun untuk menyembunyikan kuburan sang ibu.

“Jadi benar.. hantu ibu itu Cuma muncul kalau ada anak kecil yang main ke sini” Ucap Gio.
Aku menoleh pada Gio.

“Jadi kamu sudah tau soal ini?” Tanyaku.
“Semua anak kecil juga tau Mas Danan… orang tua sering nakutin anak-anak supaya ga kesini, katanya kalo anak kecil main malem-malem ke Imah leuweung bisa diculik sama hantu nenek-nenek” Jawab Gio yang menjadi sok tau.
Aku menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
“Ibu.. ikut kami ya, anak-anak ibu udah nungguin “ Ucapku pada roh wanita itu.

Roh ibu itu hanya mengangguk dengan wajah yang tidak lagi menyeramkan.
“Berati ibu ini dan hantu anak-anak di asrama sudah bisa tenang ya Mas Danan” Tanya Gio yang terlihat cukup senang.
Aku hanya mengangguk.
Kami bersiap meninggalkan ruangan itu , namun tiba-tiba langkahku terhenti dengan suara benda yang terjatuh dari atas ruangan itu.
Senter kuarahkan ke tengah-tengah ruangan yang masih terdapat bekas coretan lingkaran ritual , di sana terlihat sebuah benda yang baru saja terjatuh.
Sebuah patahan kayu bertuliskan aksara jawa yang pecah menjadi dua. Aku mengenali dengan jelas benda ini dan mencari ke seluruh sudut ruangan.

Ruangan demi ruangan kuperiksa bahkan hingga keluar Imah leuweung namun yang kuharapkan tidak ada di tempat ini.
Di satu sisi aku teringat bagaimana cara kami meninggalkan alam ghaib saat melawan brakaraswana.

Pohon beringin.. ! Saat itu kami berlari ke arah pohon beringin tempat candramukti dimakamkan.

“Mas Danan kenapa?” Tanya Gio yang semakin bingung dengan tingkahku.
“Gapapa Gio, ayo kita selesaikan misi kita” jawabku yang segera bergegas kembali ke asrama , atau lebih tepatnya ke pohon beringin di sana.

“Mas Danan jangan cepet-cepet, tungguin” Keluh Gio yang melihatku terburu-buru.
“Gapapa, cepetan… kalau kemaleman bisa dimarahin Bu Ranti” Aku mencoba memberi alasan kepada Gio dan ternyata cukup manjur. Ia berjalan semakin cepat mengikutiku.
Tak butuh waktu lama, kami sudah sampai ke komplek sekolah yang jadi satu dengan asrama itu.

Aku mencari keberadaan hantu anak wanita berambut panjang tadi, namun tidak kutemukan sama sekali. Begitu juga dengan hantu anak-anak yang bermain petak umpet.
Aku mulai kebingungan, namun roh ibu tadi terlihat melayang ke arah pohon beringin.

“Hompimpa alaium gambreng… “

Sayup-sayup terdengar suara anak-anak bermain di tempat ini.

jelas itu bukan suara dari anak manusia.
Aku segera berlari menyusul hantu ibu itu dan melihat hantu-hantu anak kecil tadi sedang bermain bersama di bawah pohon beringin bersama satu orang dewasa..

“Mas Danan, itu Mas Cahyo kan?”
Tanya Gio sambil menunjuk seorang pria yang identik dengan sarung kebanggaanya yang terlilit di bahu.

Menyadari kehadiran kami makhluk bernama Cahyo alias Panjul dengan julukan ‘Bocah ketek’ itu segera berdiri dan berlari ke arah kami.
Aku tak mampu menahan air mata haru ketika melihat sahabat terbaiku telah kembali, namun ia pasti sudah menyiapkan ledekanya bila melihat wajahku penuh air mata.

“Iya Gio… Itu Mas Cahyo.. kan Mas Danan udah bilang dia bakal nyusul…”

TAMAT
Catatan :

[ 8 maret 2021 ] Imah Leuweung - Makhluk di pohon beringin Asrama

Semua cerita saya bermula di sini saat memberanikan mengirim cerita ke podcast @bagihorror di spotify dan diberi judul "Tanah Kuburan"

sampai sekarangpun cerita itu masih bisa di dengar
Namun karena itu tulisan pertama saya, jelas masih banyak kekurangan yang terus saya perbaiki hingga saat ini.

Semoga seluruh rangkaian cerita ini, bisa membekas dan berkesan untuk semua pembaca.

open.spotify.com/episode/3nj6As…
Apakah cerita ini sudah selesai?

Tenang saja, Setelah Avenger End Game masih ada film Spiderman,black widow,dr Strang dll..

Setelah perang shinobi ke 4 pun masih ada serial Boruto

dan pasti akan ada cerita - cerita lain yang semoga lebih seru dari ini semua
Namun sebelum itu mungkin akan ada jeda untuk beristirahat dan bertemu dengan narasumber-narasumber penunjang cerita berikutnya.
Terakhir dari saya,

seandainya boleh, minta tolong tinggalkan kesan mengenai cerita saya dengan #diosetta agar suatu saat saya bisa dengan mudah menemukan komen kalian untuk membangkitkan semangat.

Mohon maaf apabila ada salah kata , ambil positignya dan semoga menghibur.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Diosetta

Diosetta Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @diosetta

Jan 8
PURI JAGATSUKMA
Part Akhir bag. 2 - Tamat

Danan dan yang lain melangkah masuk tanpa ragu. Di Kejauhan mereka melihat sebuah batang pohon yang begitu besar yang sebagian dedaunanya menembus langit Puri yang terang itu.

Sebuah pohon yang merupakan sumber kekuatan dari Puri Jagatsukma.

#bacahorror @bacahorror @bagihorror @IDN_Horor @ceritahtImage
“Tak kusangka kalian bisa sampai secepat ini, Hahahaha..” Suara tawa Dewi Mretya menggema di tempat itu.

Sosok itu hanya duduk di sebuah tahta singgasana di sebuah batu yang tidak jauh dari pohon Jagatsukma itu.

Sementara itu Guntur dan yang lain masih bingung bagaimana tempat yang tak dimasuki cahaya matahari itu terasa seperti di siang hari.

Danan dan Cahyo maju mendekat. Simbol Mretya di matanya pun menyala. Jagad, Panji, dan Dirga menyusulnya. Merekalah pengemban simbol bencana itu.

“Kita tuntaskan urusan kita..” Ucap Danan.
Belum sempat mereka melangkah, sosok hitam legam itu tiba-tiba sudah berada diantara mereka.

“Tunjukkan bahwa kalian pantas…”

Brughh! Brugh! Brugh!!

Mereka bertiga berjatuhan. Keberadaan Sosok Dewi Mretya seolah melipatgandakan gravitasi di sekitar mereka hingga mereka kesulitan untuk berdiri.

“Ayo.. Wanasura!” Bisik Cahyo yang menggunakan kekuatan Wanasura untuk melawan tekanan itu. Ia melompat bersiap menghantam Wajah hitam Dewi Mretya itu, namun sosok itu melesat begitu saja bagai angin yang tak tersentuh.

Walau begitu, Roh danan sudah memisahkan dirinya dari raganya yang terkapar, ia menghadang Dewi Mretya dan menghujamkan keris Ragasukma tepat di hadapan wajahnya.

“Tidak buruk..” Lagi-lagi serangan itu tidak mengenai Dewi Mretya. Sosoknya bagai angin yang berhembus diantara mereka.

“Belum!” Kali ini Kabut putih jagad muncul di hadapan dewi mretya, Ajian watugeni menyala dan melesat dari kabut itu ke arah Dewi mretya.

Saat itu Dewi Mretya hanya menertawakan kekuatan yang meledak di telapak tangannya itu. “Hanya ini?”. Tapi Jagad tersenyum kecil.Image
Read 20 tweets
Jan 2
PURI JAGATSUKMA
Part Akhir - Semesta Roh

Puri Jagatsukma sudah menentukan pilihan. Dia yang akan mewarisi hasrat dari jiwa Puri Jagatsukma

@bacahorror #bacahorro @IDN_Horor Image
--Part akhir ini 2,5x lebih panjang dari part-part biasanya. jadi akan saya pecah menjadi 2x post ya..--
Read 24 tweets
Dec 25, 2025
PURI JAGATSUKMA
Part 12 - Gerbang Sukma

Ingatan masa lalu yang kembali kepada Jagad membuatnya tak mampu berkata-kata. Ia tak pernah menyangka bahwa ayahnya melakukan sebuah ritual yang bahkan menjerumuskan warga desa.

#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht Image
GERBANG SUKMA

Ingatan masa lalu yang kembali kepada Jagad membuatnya tak mampu berkata-kata. Ia tak pernah menyangka bahwa ayahnya melakukan sebuah ritual yang bahkan menjerumuskan warga desa. Orang-orang yang dulu ia sayangi, harus mati karena perbuatan orang tuanya.

”Mas Jagad, bukan aku yang seharusnya menghentikan mereka. Kalau bukan Mas Jagad sendiri yang menghadapi mereka, semua takkan benar-benar selesai,” Ucap Dirga berdiri membelakangi Jagad.

”Aku akan menghapi mereka, Sampai Mas Jagad kembali siap..”

Dirga mengencangkan perban yang menutupi luka-luka sisa pertarungan sebelumnya. Ia memecah keris Dasasukma, meletakkan salah satunya di hadapan Jagad. dua keris melayang, dan satu keris di tangannya.

”Pusaka Darmawijaya…” Geram Putri Lindri.
”Khekehe… takkan ada artinya di tangan anak kecil bodoh sepertinya!” Tambah Mbah Dugo.

Sraat!Keris itu melayang menyerang Mbah Dugo yang segera menghindari keris yang melayang tepat di sebelah wajahnya.

”Bocah Kurang ajar!!” Makhluk dua tubuh itu melangkah dengan aneh dengan suara komat-kamit dari mulut Mbah Dugo. Tak berapa lama, bau busuk semakin menyengat dan tangan-tangan hitam muncul dari ketiadaan mengincar Dirga.

Dirga tidak diam, ia membaca sebuah ajian hingga kerisnya menyala dan menebas satu persatu tangan gaib yang muncul dari mantra Mbah Dugo.

”Ternyata kau bisa bertarung,” ucap Dewi Kunir yang tiba-tiba muncul di dekat Dirga.

Deg!Seketika dirga merasa cemas. Tubuhnya kaku saat menyadari makhluk dengan dua wajah itu ada di dekatnya. Dirga Melompat menjauh tanpa tahu apa yang akan diperbuat sosok itu, namun jelas ia sadar Makhluk itu berbahaya.

”Kenapa kamu takut, nak? Aku belum melakukan apapun..” ucap Dewi Kunir.

Dirga menggerakkan tangannya hingga satu keris dasasukma yang melayang mengincar Dewi Kunir, namun sosok itu menghindarinya dengan tenang.
”Kau tak berpikir bisa mengalahkanku dengan ilmu seperti lalat ini, Kan?” Ucap Dewi Kunir.

Putri Lindri tak bergerak sama sekali. Ia tetap mengawasi Jagad, menikmati rasa putus asanya seolah menanti saatnya yang tepat untuk bergerak.
Di tengah mertarungan sengit itu, Dewi Kunir menggerakkan tangannya, dan…

Dug!Suara Lesung terdengar.. Saat itu tiba-tiba Dirga memuntahkan darah. Sesuatu yang menyakitkan seperti menghantam tubuhnya dari dalam.
”Sial!” Dirga menyadari waktunya tak banyak. Ia melesat ke Arah Dewi Kunir dan menghujamkan kerisnya.

Srat! Srat!!

Serangan Dirga mengenai tubuh Dewi kunir, sialnya wujud itu segera menghilang dan muncul di hadapannya.

“Hihi.. anak kecil bukan waktunya bermain-ma…” Jleb!!

Dua buah keris melayang menghujam punggung Dewi Kunir. Kali ini ia tidak menghilang, dua pecahan keris dasasukma itu dilapisi bilah cahaya merah.

”Bocah kurang ajar!” Dewi Kunir geram, namun tusukkan keris itu tidak cukup dalam untuk melumpuhkannya. Ia pun mengangkat tangannya sekali lagi, dan suara lesung kembali terdengar.

Dug!Dirga kembali terjatuh. Darah kembali keluar dari tubuhnya. Mbah Dugo memanfaatkan momen itu dengan membanting tubuhnya ke Dirga. Tangan-tangan hitam bermunculan mencengkeram tubuh Dirga.

”Khekhekeh! Waktu main sudah selesai!”
Dug! Dug!Suara lesung kembali terdengar, Dewi Kunir mengangkat tangannya sambil menari nari mengikuti irama lesung itu.

Rasa sakit menghantam tubuh Dirga, ia membaca ayat-ayat suci untuk melindungi dirinya dari serangan-serangan gaib yang menghantamnya.

“Habisi!” Satu kata dari Nyai Lindri jatuh layaknya sebuah penghakiman.

Begitu perintah itu meluncur, Mbah Dugo langsung menangkupkan kedua telapak tangannya. Bibirnya bergerak cepat melafalkan mantra tua, mantra yang sudah lama tak diperdengarkan pada dunia manusia.

DUG… DUG… DUG…

Suara lesung terdengar, berat dan berirama, seolah ada sesuatu yang ditumbuk di perut bumi.
Semakin lama, semakin cepat.

Dari tanah, dari udara, dari bayangan
tangan-tangan hitam muncul dan merayap ke tubuh Dirga.

Mereka mencengkeram lengan, dada, leher, dan kaki. Kekuatan itu menekan dari segala arah.

“Sa… sa—sakit…” Dirga memuntahkan darah. Dadanya terasa seperti diremas dari dalam.
Bukan sekadar rasa sakit, melainkan tekanan yang menunggu detik terakhir untuk meledak.

Setiap tumbukan lesung terasa seperti hitungan mundur menuju kematian.

Dirga tahu… tubuhnya tak akan sanggup menerima pukulan terakhir itu.

Dengan sisa tenaga, ia menoleh ke arah Jagad.

“Mas Jagad…” Suaranya serak, nyaris tak terdengar di tengah gemuruh.

“Apa pun yang terjadi setelah ini… bangkitlah.”
Jagad mengangkat kepala. Yang ia lihat bukan lagi sahabatnya yang ceroboh dan selalu bercanda, melainkan tubuh penuh luka, darah menetes dari mulut Dirga, matanya mulai kehilangan pandangan.

“Aku tahu Mas Jagad mampu menghadapi mereka…”
Dirga tersenyum tipis…senyum paling berat yang pernah ia berikan. “Pastikan… kematianku… bukan kekalahan.”
Read 15 tweets
Dec 18, 2025
PURI JAGATSUKMA
Part 11 - Hati Manusia

Kedatangan paklek memecah kepercayaan mereka. Pundra takkan memaafkan segala dosa masa lalu yang ia perbuat di Puri ini.

#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht Image
PILIHAN

“Kita tidak punya banyak waktu, Danan.”
Mbah Widjan sudah menggenggam cambuk pusakanya, urat-urat di tangannya menegang.

“Kami hanya bisa membantumu mencegah petaka di tempat ini. Sisanya… tugas kalian.”

“Bapak!” Panji menghalangi langkah ayahnya. Suara Panji bergetar. “Apa… apa yang dikatakan Pundra itu benar?”

Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada serangan musuh manapun.

Sementara itu, Pundra masih memaku pandangannya pada Paklek. Tangannya mengepal begitu keras hingga buku jarinya memutih.

Tatapannya bukan sekadar marah, itu adalah dendam masa lalu yang belum selesai.

“Jangan buang waktu lagi,”

Cahyo berkata tegas, menempatkan dirinya di sisi Paklek seolah menjadi tameng hidup.

Danan langkah demi langkah berdiri di sisi satunya.
Panji terpaku. “Ta… tapi… Paklek…?”
Pundra langsung memotong.

“JADI KALIAN MEMIHAK PEMBUNUH ITU?!”
Dua sayap asap hitam melesat dari punggungnya, asap itu menyatu dengan tangannya dan membentuk cakar raksasa yang memancarkan aura pembunuh.

Danan dan Cahyo maju ke depan paklek dan menghadang Pundra.

“Pundra..” Cahyo mendekat tanpa perlawanan. “Paklek, ayah kami..”

“TAPI DIA MEMBUNUH KIDUNG DAN JATI!!!”
Tubuh Pundra meledak dalam ledakan amarah.

DUARR!!

Cakar hitam itu menghantam Cahyo langsung. Cahyo menahannyamtulang-tulang tangannya berderak. Darah mengalir dari jari hingga pipinya.
Read 17 tweets
Dec 11, 2025
PURI JAGATSUKMA
Part 10 - Dosa

Ada zaman dimana batas antara manusia dan gaib belum tercipta...

#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht Image
SEBELUM ZAMAN

Sebelum manusia berkuasa di tanah Jawa,
Sebelum batas antara alam manusia dan makhluk gaib tercipta, Sebelum perjanjian pertama dengan penguasa gaib terjadi…

Dua manusia berjalan menembus hutan terdalam. Nafas mereka terengah, namun langkah mereka terus maju, seolah ada panggilan tak kasat mata yang menuntun mereka masuk ke wilayah terlarang itu.

“Aku tidak yakin kita harus meneruskan perjalanan ini, Kurna,” bisik salah satunya, Purwa, dengan suara bergetar.

“Aku juga merasakan hal yang sama, Purwa,” jawab Kurna lirih. “Tapi ada yang mendorong jantung ini… Sebuah kehendak yang memaksa kita untuk sampai ke sana. Kita harus mengetahui apa yang menunggu.”

Sudah lama mereka meninggalkan suku mereka, mengejar sebuah tempat yang hanya hadir dalam mimpi, tempat yang sebelumnya tak pernah mereka ketahui namanya, atau wujudnya. Namun panggilan itu terlalu kuat untuk diabaikan.

Dan akhirnya, mereka tiba.

Di tengah hutan berdiri sebuah pohon beringin raksasa, menjulang angkuh seperti penjaga. Dari dahan-dahannya tergantung kepala-kepala manusia… ada yang telah mengering, ada yang membusuk, dan ada pula yang masih meneteskan darah segar ke tanah.

Di bawahnya, sosok hitam setinggi tiga meter tengah bersila, bermeditasi dalam kekhusyukan yang mengerikan. Rambutnya panjang tak terurus menutupi sebagian wajahnya yang bengis. Tetesan darah dari kepala-kepala itu terus membasahi tubuhnya.

“I—ini… tempat apa?” Purwa terhuyung, seluruh tubuhnya gemetar.

Tanpa menjawab, Kurna mengambil tali hitam dari tas kulitnya. Ia melantunkan mantra kuno, lalu melilitkan tali itu pada tubuh mereka berdua.

“Dengan ini, mereka tidak akan merasakan keberadaan kita,” bisiknya tajam.

Saat mereka semakin mendekat, keduanya tersentak. Makhluk itu tidak sendiri.

Di sekelilingnya berdiri makhluk-makhluk hutan yang bentuknya tidak lagi menyerupai manusia, para setan penguasa belantara, siap memburu manusia kapan saja.

Namun yang lebih memuakkan…
Di antara mereka berdiri manusia-manusia sakti yang telah bersekutu dengan kegelapan. Mata mereka kosong, jiwa telah ditukar dengan kekuasaan.
Read 15 tweets
Dec 4, 2025
PURI JAGATSUKMA
Part 9 - Alam Tanpa Batas

Setiap wilayah di Puri Jagatsukma memiliki penguasanya sendiri. Sosok yang takkan membiarkan siapapun lolos dari cengkeramannya..

@bacahorror @ceritaht @IDN_Horor
#bacahorror Image
“Kenapa?” Wajah Panji terlihat panik. “Kenapa Dirga dan Guntur? Ki Gutayar bukan lawan yang bisa mereka kalahkan!”

Cahyo mengepalkan tangannya, Ia pun merasa seharusnya dirinya atau Danan yang menolong Nyai Jambrong.

”Pundra? Apa kau bisa memindahkanku juga?” Teriak Danan.

Pundra mendekat ke pertarungan dengan sebagian tubuhnya berubah menjadi asap hitam.

”Di Puri ini setiap penguasa memiliki wilayah kekuasaannya sendiri, saat ini aku tak sekuat saat berada di wilayahku. Sedangkan dia…” Pundra menunjuk pada sosok patung setan bertaring yang begitu besar di tengah ruangan itu.

”Ini adalah wilayahnya, tempat terkuatnya..”
Cahyo memperhatikan sosok patung setan yang membawa berbagai pusaka itu di tangannya yang banyak. “Berarti pelataran ini adalah wilayah kekuasaan patung itu?”

”Benar..”

Cahyo mendekat ke sisi pertarungan. Lebih dekat. Ia pun hanya duduk dan melipat kedua tangannya sambil memperhatikan pertarungan itu.

”Mas Danan, harusnya ada yang bisa kita lakukan, kan?” Tanya Panji,

Danan hanya menoleh ke arah Cahyo. “Untuk saat ini kita hanya bisa percaya pada Guntur dan Dirga.

***
Read 14 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(