Yang mau dengerin di youtube bisa mampir ke channel saya ya..
Kenalin namaku Nadia, Aku tinggal di kota Malang yang terletak di propinsi Jawa Timur. Sebagian dari cerita ini mungkin akan didominasi dengan masa kecilku yang sangat kental dengan hal ghaib.
Indigo?
Bukan , aku sendiri tidak bisa menilai mengenai ini.
Mungkin lebih bisa dikatakan kalau aku termasuk orang yang peka atau sensitif.
Semua kejadian yang ingin kuceritakan ini bermula ketika Mbahkungku meninggal. Yang kumaksud adalah Mbahkung dari almarhumah mamaku.
MBAHKUNG
Beliau meninggal kurang lebih Tahun 2010, aku sedikit lupa. Tapi aku selalu mengingat jelas tanggal dan bulan meninggalnya mbahkung karena itu juga mirip dengan tanggal lahirku.
Aku lahir di tanggal satu bulan tujuh. Sedangkan mbahkung lahir di tanggal satu bulan satu dan meninggal di tanggal tujuh bulan tujuh. Entah apa ada yang aneh dengan hal ini? mungkin kita akan tahu nanti.
Mbahkungku ini sebenarya orang yang sangat sabar dan sayang dengan anak dan cucunya. Tapi semua itu akan berubah pada saat ada Mbahti di dekatnya. Seketika Mbahkung akan semakin tegas dan keras dengan cucu-cucunya.
Sejak kecil hingga berumur lima tahun aku tinggal di rumah Mbahkung. Beliau termasuk salah satu tokoh yang dikenal banyak orang.
Yang aku tahu orang-orang sekitar menganggap mbahkung sebagai tukang nyembuhin orang.
Aku kurang mengerti secara jelas karena saat itu aku masih kecil. Namun yang aku ingat di hari-hari tertentu mbahkung kedatangan banyak tamu dari segala kalangan yang minta ‘tombo’ atau kesembuhan.
Saat kecil dulu aku termasuk anak yang usil. Aku sering mengintip saat mbahkung kedatangan tamu. Disana aku melihat mbahkung selalu duduk bersimpuh dan bersuara dengan suara yang tidak kukenal.
Mbahkung bersuara seperti seorang nenek – nenek tua dengan tubuhnya yang membungkuk sangat rendah. Di sebelahnya ada mbahti yang menjaga dan mempersiapkan kebutuhan mbahkung.
Selain itu aku juga sering melihat mereka membeli dupa dan kembang yang saat itu aku sama sekali tidak mengerti kegunaanya. Bahkan sesekali aku pernah iseng menyalakan dupa itu karena kukira dupa itu adalah kembang api.
Saat mulai beranjak besar aku tidak lagi tinggal serumah dengan mbahkung, namun sesekali aku tetap sering bermain ke sana. Menurut saudara-saudaraku aku adalah cucu kesayangan mbahkung dan anak kesayanganya kebetulan juga adalah mamaku.
Saat aku duduk di bangku sekolah dasar aku sering mengingat tentang teman masa kecilku dulu.
Aku sangat dekat denganya, namun saat bermain denganya aku hampir tidak pernah besama dengan teman yang lain. Dia hanya menghampiriku saat aku sedang sendirian.
Aku juga sering menceritakan hal ini ke mbahkung , tapi hanya tersenyum mendengar ceritaku.
Setelah cukup besar aku mulai tahu dari warg bahwa beliau ternyata dikenal sebagai keturunan Kyai sakti yang disegani di daerahnya.
Makanya orang-orang kampung dulu sering berobat ke mbah.
Aku sangat ingat kisah saat seorang ibu yang membawa anaknya dengan panik yang ternyata anak itu menjadi sakit karena dipukul oleh genderuwo.
Mbahkung berusaha semampunya untuk menolong namun karena terlambat ditangani akhirnya anak itu meninggal.
Hal inilah yang sedikit membuka mataku mengenai bahayanya makhluk-makhluk ghaib yang ada di sekitar kami.
Beliau juga pernah menolong dokter yang “diganggu” orang. Di situpun awalnya aku heran, bahkan seorang dokter yang seharusnya mengobati orang lain malah datang ke Mbahkung yang notabene pendidikanya tidak setinggi mereka untuk meminta bantuan.
Ternyata memang ada faktor lain yang tidak bisa ditangani secara medis dan hanya dapat dibantu oleh orang seperti Mbahkungku ini.
Hihi, satu lagi yang aku suka. saat aku mau ujian , Mbahkung pasti sering memberikan minuman yang telah dibacakan doa-doa. Entah fungsinya untuk apa, tapi setelahnya aku selalu bisa menyelesaikan ujianku dengan lancar.
RUMAH KETINTANG
Saat memasuki kelas empat sekolah dasar papa pindah kerja ke kota surabaya. Saat itu juga kami ikut pindah ke sana dan saat itu aku sudah memiliki seorang adik laki-laki.
Aku pindah di daerah ketintang pada tahun dua ribuan.
Rumahnya cukup tua namun sangat luas. Rumah ini hanya emiliki satu lantai damun ada empat kamar tidur , dua kamar mandi dan sebuah garasi yang cuup besar. Ada juga taman di dalam dan luar rumah. Yang di dalam rumah seperti bekas kolam ikan.
Langit-langitnya cukup tinggi dan los tanpa penutup hanya menggunakan ram-raman. Bagusnya kalau malam masih bisa melihat langit, tapi kalau hujan rumah kami bisa jadi air terjun.. haha.
Di dekat taman ada ruang tamu dan ruang keluarga.
Selain itu di dekat dapur ada sebuah sumur yang baunya sangat mengganggu pada saat itu.
“Ojo Pak… ojo tinggal ning kene. Hawane singup”
(Jangan pak, jangan tinggal di sini. Hawanya tidak enak)
Aku mendengar perbincangan ibu yang tidak setuju untuk tinggal dirumah ini. namun bapak merasa keadaan sudah mendesak dan kita harus segera pindah, jadi pendapat ibu harus mengalah.
Walaupun begitu mbahkung sudah memantau rumah ini dan memasang “pagar” untuk melindungi rumah ini.
Saat tinggal dirumah ini aku sering mendengar suara burung hantu dari atas,
pernah saat adiku bermain di atap bersama teman-temanya ternyata mereka menemukan burung-burung itu membuat sarang dia atas rumahku. Dan katanya ternyata mereka dan tetangga lain mengenal rumahku ini sebagai rumah yang angker.
Keangkeran rumah ini dipertegas dengan pengakuan dari anak pemilik rumah. Rumah ini adalah rumah warisan tapi anak-anak pemilik rumah tidak ada yang mau menempati rumah ini.
Walaupun mereka bercerita seperti itu, kami yang tinggal di rumah ini tidak pernah mendapat gangguan yang berarti bahkan hingga adiku keduaku lahir.
Adik pertamaku biasa dipangil Pindi dan adik keduaku biasa dipanggil Saka. Saat saka lahir aku sudah kelas enam sekolah dasar.
Dengan kelahiranya keluarga ini bertambah besar dan mama terlihat semakin sibuk hingga akhirnya kami memutuskan untuk mencari pembantu.
MBAK IDAH
Pembantu kami bernama Zubaidah yang berasal dari daerah Dampit kabupaten malang. Mbak Idah ini menempati kamar belakang yang memang lama tidak digunakan. Tidak ada yang aneh selama awal-awal bekerja.
Namun sejak kedatanganya kami mulai menyadari hal-hal aneh yang ada di rumah ini ketika kami sudah memiliki tenaga pembantu untuk benar-benar bersih-bersih seluruh bagian rumah yang selama ini kami hiraukan.
Kami akhirnya mengetahui mengenai kamar mandi belakang yang ternyata menjadi sarang kelabang. Hal itu baru diketahui saat mbak Idah membersihkanya. Ukuran kelabang di sana sangat besar. Malah kata ibu kalau banyak hewan seperti itu biasanya tempat itu ada penunggunya.
Dengan adanya pembantu kami mencoba untuk menguras sumur di dekat dapur. Sayangnya walaupun sudah beberapa kali di kuras sumur itu tetap mengeluarkan bau yang mengganggu.
Adalagi hal aneh di garasi. Lampu di garasi hampir tidak pernah awet. Setiap kami memasang lampu pasti selalu mati. Kami mencoba memeriksa kelistrikan dan bolak balik mengganti lampu tapi tidak ditemukan permasalahanya.
Akhirnya kami memutuskan tidak menggunakan lampu sama sekali di garasi.
Suatu ketika seorang teman bapak yang bisa melihat hal ghaib mampir ke rumah dan ia berkata di beberapa tempat dirumah kami ada yang menempati.
Yang cukup jelas ada di di sumur tapi teman bapak tidak bilang mengenai wujudnya. Ia hanya menyuruh memasukan ikan di sumur itu dan kami mengikuti saranya.
Entah apa alasanya Mbak Idah tidak pernah mau bila ditinggal sendirian di rumah, dia juga tidak pernah mau menggunakan kamar mandi belakang. Alasanya karena takut. Tapi dia tidak pernah mau menjelaskan ia takut karena apa.
Sampai akhirnya suatu saat mbak idah minta pulang dengan alasan kangen anaknya yang ada di desa. Kami berusaha mengerti keinginanya dan mengantarkanya kembali ke desanya di kabupaten Malang.
Jaman itu daerah rumah mbak idah masih sepi. Hanya hutan-hutan dan sawah sawah yang terlihat sepanjang perjalanan. Jarak dari satu rumah ke rumah lainpun saling berjauhan.
Kami sampai di rumah Mbak Idah sekitar jam tujuh malam. Sehingga kami memutuskan untuk tidak lama berada di sana dan segera kembali ke kota malang.
Karena sudah malam, aku yang saat itu masih kecil tertidur saat perjalanan pulang.
Namun samar-samar aku mendengar perbincangan diantara bapak dan ibu.
“Papa.. itu ada orang.. perempuan.. kok larinya kenceng, hampir nyamain mobil kita” Tanya ibu yang melihat sesuatu dari spion mobil di sisinya. Namun bapak hanya diam dan fokus menyetir.
“Pa.. tambah banter pa, kok tambah banter iku mlayu e.. ati-ati pa” (Pak tambah kenceng, kok tambah kenceng itu larinya) Ucap ibu yang mulai merasa aneh.
“Wis ma ojo diliat, doa wae” (Sudah ma , jangan dilihat.. doa saja) Ucap bapak yang juga seperti sedang membaca doa.
“Pa… Iku uwonge di sebelah kaca papa” (Pa itu orangnya di sebelah kaca papa)
Saat itu ibu melihat seorang wanita berkerudung putih dan berbaju putih tersenyum menyeringai di kaca sebelah bapak.
“Wis biarin” Bapak berusaha tidak merespon kemunculan orang itu.
Setelah itu wanita itu terlihat berlari lebih cepat dan masuk ke sebuah rumah besar sebelum akhirnya menghilang.
“kok ilangnya cepet banget pak” Tanya ibu heran.
“wis ma.. uwis, sudah.. nanti tak kasi tau” Balas bapak.
Sesampainya di kota saat keadaan sudah mulai ramai bapak mulai bercerita ke ibu.
“Ma.. yang tadi itu kuntilanak. Papa udah liat di spion. Orangnya jelek, wajahnya hancur berdarah-darah. “ cerita bapak.
“Itu tadi nggak ada rumah ma, tadi makhluk itu berlari ke arah pohon-pohon. Dia masuk ke situ lalu hillang”
Seketika wajah ibu menjadi pucat dan berkali-kali membaca istighfar.
Setelah itu kami memutuskan untuk mampir ke rumah mbahkung sebelum kembali ke surabaya.
Mbak Idah akhirnya memutuskan untuk tidak bekerja lagi di tempat kami dengan alasan tidak bisa jauh dari anak. Padahal kami sudah cocok dan mengijinkanya mengajak anaknya ke rumah kami tapi mbak idah tetap ga mau. Entah apa alasan yang sebenarnya ia sembunyikan.
Setelah Mbak Idah ada pembantu lagi yang bekerja di keluargaku, seorang janda. Ia tinggal di rumah kami dengan membawa seorang anaknya juga. Aku memanggilnya mbak Rom.
Berbeda dengan Mbak idah, Mbak Rom ini jauh lebih pemberani. Ia menempati kamar belakang di bawah tangga jemuran di samping kamar mandi.
Pernah aku menanyakan pada Mbak Rom apa dia tidak takut di tempat itu
“Sudah biasa , Yang penting dia tidak mengganggu saya juga berusaha tidak mengganggu” Jawabnya dengan santainya.
Sesekali aku penasaran dan bertanya kembali apa benar tidak pernah di ganggu sampai akhirnya Mbak Rom cerita.
“Kadang ada yang aneh, kayak ada orang merokok. Ada yang naik turun tangga pas rumah sedang kosong . ada juga yang lempar-lempar batu.
Tapi saya berusaha biasa saja”
Dia sungguh berani dan hampir tidak pernah mengeluh. Sayangnya Mbak Rom tidak lama tinggal di rumahku.
Mbak Rom ketahuan sering (maaf) ‘mencuri’ baju –baju adikku, mungkin karena anaknya sama-sama laki-laki.
Saat sudah ketahuan kami terpaksa memberhentikan dia. Padahal tidak jarang kami juga sering membelikan baju dan mainan juga untuk anaknya.
Singkat cerita kami sudah berganti pembantu sampai empat kali selain mbak idah dan mbak rom dua pembantu lainya masih muda.
Tapi mereka menghilang sendiri dan tidak kembali lagi ke rumah tanpa mau menceritakan sama sekali apa alasan kepergian mereka.
Untungnya saat itu Saka sudah cukup besar dan bisa disambi.
Jadi kami memutuskan untuk ridak sewa pembantu lagi dan aku yang lebih banyak membantu mama untuk beres-beres.
Sayangnya setelah itu sebuah permasalahan menimpa keluarga kami. Tepatnya pada saat aku menginjak kelas satu SMP.
Saat itu karir papa melejit diumurnya yang cukup muda. Sayangnya bukan hanya hal baik saja yang datang pada saat itu tapi sebuah musibah yang sama sekali tidak pernah kusangka.
Dengan karirnya yang sukses banyak wanita yang tertarik dengan papa dan akhirnya entah kenapa Papa bisa kepincut dengan seorang perempuan entah dari mana asalnya.
PELET
Di umurku yang masih belum mengerti dengan permasalahan keluarga aku menyaksikan tak jarang Papa dan Mama bertengkar dengan masalah yang tidak kuketahui sampai aku mendengar kabar mengenai papa yang dekat dengan seorang perempuan.
Itu adalah salah satu ujian terbesar untuk keluarga kami. Saat itu Pindi menginja kelas satu SD dan Saka berumur satu tahun.
Keadaan di rumah mulai tidak nyaman , apalagi Papa sempat tidak pernah pulang selama kurang lebih tiga bulan lamanya.
Papa yang selama ini aku kenal sebagai sosok panutan kini berubah drastis dan tega meninggalkan kami dan Saka yang masih berumur satu tahun.
Hampir tiap hari aku melihat mama menangis. Namun setiap aku mendekat mama selalu berusaha terlihat tegar di depan anak-anaknya.
“Ma… Papa kok nggak pulang-pulang?”
Seringkali aku menanyakan keberadaan papa ke mama.
“Papa lagi kerja Nadia..”
Hanya itu jawaban dari Mama, namun aku baru sadar bahwa setiap pertanyaanku waktu itu pasti semakin menambah luka di hati Mama.
Ketika sudah mulai tidak mampu menahan permasalahan ini akhirnya mama menghubungi keluarga Papa dan menceritakan semua masalah ini. Hal ini membuat mereka kaget hingga akhirnya memutuskan untuk mendatangi ke rumh kami.
Saat itu mama sangat sulit untuk bercerita seolah semua bebanya sudah menumpuk begitu besar hingga mama hanya bisa menangis. Melihat Mama menangis seketika juga kami anak-anaknya juga ikut menangis.
Sebenarnya Pakde dan Bude sempat blang, kalau mau cerai mereka tidak akan menghalangi karena memang sudah tiga bulan kami tidak diberi nafkah lahir dan batin. namun mereka akan tetap berusaha membantu masalah ini.
Saat itu yang banyak membantu kami adalah Almarhum Pakde Hardi. Beliau benar-benar orang yang sangat baik.
(Alfatihah..mohon doanya untuk beliau)
Banyak hal yang terjadi, dan selama itu Pakdelah yang membantu kami baik secara finansial hingga kebutuhan kami.
Dan ternyata mereka juga membantu untuk mencari keberadaan papa dengan bantuan dari seorang Kyai.
Berdasarkan petunjuk dari Kyai itu akhirnya keluarga Papa berhasil menemukan keberadaan perempuan itu di daerah Sepanjang, Sidoarjo.
Di sanalah rumah Lina, perempuan yang membuat papa tega meninggalkan keluarganya.
Menurut Kyai yang membatu kami, Perempuan bernama Lina itu menggunakan baju Papa untuk menarik perhatian Papa dengan menggunakan ilmu Pelet.
Ibunya Lina sendirilah yang melakukan ritual itu seolah memang sudah berniah jahat sejak awal.
keluarga papa datang ke rumah Lina dengan bantuan perangkat desa sekitar yang memang sudah curiga dan mendengarkan cerita dari keluarga Papa.
Mereka melakukan penggeledahan dan akhirnya menemukan barang-barang Papa di rumah perempuan itu.
Dengan bantuan dari Kyai tersebut dan beberapa orang yang memang mengerti, Akhirnya Papa kembali ke rumah dengan sendirinya.
Apakah masalah selesai?
Tidak,
masalah baru mulai bermunculan .
Entah ada hubunganya dengan perempuan bernama Lina itu atau tidak, akhirnya papa mendapat masalah dengan bossnya yang mengakibatkan Papa dipindah kerjakan ke Kota Makasar. Dan kami berempat tetap tinggal di Surabaya.
Setelah ditinggal oleh Papa rumah yang kami tinggali terasa berbeda.
Rumah yang sebelumnya nyaman kini mulai terasa menakutkan.
Hampir semua anggota keluarga merasakan kejadian-kejadian yang mengerikan.
Aku akan menceritakan semuanya kisah yang kami alami, teror-teror mengerikan yang kami dapat setelah kepergian Papa..
semua akan kuceritakan di catatan berikutnya..
(Bersambung…)
• • •
Missing some Tweet in this thread? You can try to
force a refresh
Danan dan yang lain melangkah masuk tanpa ragu. Di Kejauhan mereka melihat sebuah batang pohon yang begitu besar yang sebagian dedaunanya menembus langit Puri yang terang itu.
Sebuah pohon yang merupakan sumber kekuatan dari Puri Jagatsukma.
“Tak kusangka kalian bisa sampai secepat ini, Hahahaha..” Suara tawa Dewi Mretya menggema di tempat itu.
Sosok itu hanya duduk di sebuah tahta singgasana di sebuah batu yang tidak jauh dari pohon Jagatsukma itu.
Sementara itu Guntur dan yang lain masih bingung bagaimana tempat yang tak dimasuki cahaya matahari itu terasa seperti di siang hari.
Danan dan Cahyo maju mendekat. Simbol Mretya di matanya pun menyala. Jagad, Panji, dan Dirga menyusulnya. Merekalah pengemban simbol bencana itu.
“Kita tuntaskan urusan kita..” Ucap Danan.
Belum sempat mereka melangkah, sosok hitam legam itu tiba-tiba sudah berada diantara mereka.
“Tunjukkan bahwa kalian pantas…”
Brughh! Brugh! Brugh!!
Mereka bertiga berjatuhan. Keberadaan Sosok Dewi Mretya seolah melipatgandakan gravitasi di sekitar mereka hingga mereka kesulitan untuk berdiri.
“Ayo.. Wanasura!” Bisik Cahyo yang menggunakan kekuatan Wanasura untuk melawan tekanan itu. Ia melompat bersiap menghantam Wajah hitam Dewi Mretya itu, namun sosok itu melesat begitu saja bagai angin yang tak tersentuh.
Walau begitu, Roh danan sudah memisahkan dirinya dari raganya yang terkapar, ia menghadang Dewi Mretya dan menghujamkan keris Ragasukma tepat di hadapan wajahnya.
“Tidak buruk..” Lagi-lagi serangan itu tidak mengenai Dewi Mretya. Sosoknya bagai angin yang berhembus diantara mereka.
“Belum!” Kali ini Kabut putih jagad muncul di hadapan dewi mretya, Ajian watugeni menyala dan melesat dari kabut itu ke arah Dewi mretya.
Saat itu Dewi Mretya hanya menertawakan kekuatan yang meledak di telapak tangannya itu. “Hanya ini?”. Tapi Jagad tersenyum kecil.
Ingatan masa lalu yang kembali kepada Jagad membuatnya tak mampu berkata-kata. Ia tak pernah menyangka bahwa ayahnya melakukan sebuah ritual yang bahkan menjerumuskan warga desa.
Ingatan masa lalu yang kembali kepada Jagad membuatnya tak mampu berkata-kata. Ia tak pernah menyangka bahwa ayahnya melakukan sebuah ritual yang bahkan menjerumuskan warga desa. Orang-orang yang dulu ia sayangi, harus mati karena perbuatan orang tuanya.
”Mas Jagad, bukan aku yang seharusnya menghentikan mereka. Kalau bukan Mas Jagad sendiri yang menghadapi mereka, semua takkan benar-benar selesai,” Ucap Dirga berdiri membelakangi Jagad.
”Aku akan menghapi mereka, Sampai Mas Jagad kembali siap..”
Dirga mengencangkan perban yang menutupi luka-luka sisa pertarungan sebelumnya. Ia memecah keris Dasasukma, meletakkan salah satunya di hadapan Jagad. dua keris melayang, dan satu keris di tangannya.
”Pusaka Darmawijaya…” Geram Putri Lindri.
”Khekehe… takkan ada artinya di tangan anak kecil bodoh sepertinya!” Tambah Mbah Dugo.
Sraat!Keris itu melayang menyerang Mbah Dugo yang segera menghindari keris yang melayang tepat di sebelah wajahnya.
”Bocah Kurang ajar!!” Makhluk dua tubuh itu melangkah dengan aneh dengan suara komat-kamit dari mulut Mbah Dugo. Tak berapa lama, bau busuk semakin menyengat dan tangan-tangan hitam muncul dari ketiadaan mengincar Dirga.
Dirga tidak diam, ia membaca sebuah ajian hingga kerisnya menyala dan menebas satu persatu tangan gaib yang muncul dari mantra Mbah Dugo.
”Ternyata kau bisa bertarung,” ucap Dewi Kunir yang tiba-tiba muncul di dekat Dirga.
Deg!Seketika dirga merasa cemas. Tubuhnya kaku saat menyadari makhluk dengan dua wajah itu ada di dekatnya. Dirga Melompat menjauh tanpa tahu apa yang akan diperbuat sosok itu, namun jelas ia sadar Makhluk itu berbahaya.
”Kenapa kamu takut, nak? Aku belum melakukan apapun..” ucap Dewi Kunir.
Dirga menggerakkan tangannya hingga satu keris dasasukma yang melayang mengincar Dewi Kunir, namun sosok itu menghindarinya dengan tenang.
”Kau tak berpikir bisa mengalahkanku dengan ilmu seperti lalat ini, Kan?” Ucap Dewi Kunir.
Putri Lindri tak bergerak sama sekali. Ia tetap mengawasi Jagad, menikmati rasa putus asanya seolah menanti saatnya yang tepat untuk bergerak.
Di tengah mertarungan sengit itu, Dewi Kunir menggerakkan tangannya, dan…
Dug!Suara Lesung terdengar.. Saat itu tiba-tiba Dirga memuntahkan darah. Sesuatu yang menyakitkan seperti menghantam tubuhnya dari dalam.
”Sial!” Dirga menyadari waktunya tak banyak. Ia melesat ke Arah Dewi Kunir dan menghujamkan kerisnya.
Srat! Srat!!
Serangan Dirga mengenai tubuh Dewi kunir, sialnya wujud itu segera menghilang dan muncul di hadapannya.
“Hihi.. anak kecil bukan waktunya bermain-ma…” Jleb!!
Dua buah keris melayang menghujam punggung Dewi Kunir. Kali ini ia tidak menghilang, dua pecahan keris dasasukma itu dilapisi bilah cahaya merah.
”Bocah kurang ajar!” Dewi Kunir geram, namun tusukkan keris itu tidak cukup dalam untuk melumpuhkannya. Ia pun mengangkat tangannya sekali lagi, dan suara lesung kembali terdengar.
Dug!Dirga kembali terjatuh. Darah kembali keluar dari tubuhnya. Mbah Dugo memanfaatkan momen itu dengan membanting tubuhnya ke Dirga. Tangan-tangan hitam bermunculan mencengkeram tubuh Dirga.
”Khekhekeh! Waktu main sudah selesai!”
Dug! Dug!Suara lesung kembali terdengar, Dewi Kunir mengangkat tangannya sambil menari nari mengikuti irama lesung itu.
Rasa sakit menghantam tubuh Dirga, ia membaca ayat-ayat suci untuk melindungi dirinya dari serangan-serangan gaib yang menghantamnya.
“Habisi!” Satu kata dari Nyai Lindri jatuh layaknya sebuah penghakiman.
Begitu perintah itu meluncur, Mbah Dugo langsung menangkupkan kedua telapak tangannya. Bibirnya bergerak cepat melafalkan mantra tua, mantra yang sudah lama tak diperdengarkan pada dunia manusia.
DUG… DUG… DUG…
Suara lesung terdengar, berat dan berirama, seolah ada sesuatu yang ditumbuk di perut bumi.
Semakin lama, semakin cepat.
Dari tanah, dari udara, dari bayangan
tangan-tangan hitam muncul dan merayap ke tubuh Dirga.
Mereka mencengkeram lengan, dada, leher, dan kaki. Kekuatan itu menekan dari segala arah.
“Sa… sa—sakit…” Dirga memuntahkan darah. Dadanya terasa seperti diremas dari dalam.
Bukan sekadar rasa sakit, melainkan tekanan yang menunggu detik terakhir untuk meledak.
Setiap tumbukan lesung terasa seperti hitungan mundur menuju kematian.
Dirga tahu… tubuhnya tak akan sanggup menerima pukulan terakhir itu.
Dengan sisa tenaga, ia menoleh ke arah Jagad.
“Mas Jagad…” Suaranya serak, nyaris tak terdengar di tengah gemuruh.
“Apa pun yang terjadi setelah ini… bangkitlah.”
Jagad mengangkat kepala. Yang ia lihat bukan lagi sahabatnya yang ceroboh dan selalu bercanda, melainkan tubuh penuh luka, darah menetes dari mulut Dirga, matanya mulai kehilangan pandangan.
“Aku tahu Mas Jagad mampu menghadapi mereka…”
Dirga tersenyum tipis…senyum paling berat yang pernah ia berikan. “Pastikan… kematianku… bukan kekalahan.”
“Kita tidak punya banyak waktu, Danan.”
Mbah Widjan sudah menggenggam cambuk pusakanya, urat-urat di tangannya menegang.
“Kami hanya bisa membantumu mencegah petaka di tempat ini. Sisanya… tugas kalian.”
“Bapak!” Panji menghalangi langkah ayahnya. Suara Panji bergetar. “Apa… apa yang dikatakan Pundra itu benar?”
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada serangan musuh manapun.
Sementara itu, Pundra masih memaku pandangannya pada Paklek. Tangannya mengepal begitu keras hingga buku jarinya memutih.
Tatapannya bukan sekadar marah, itu adalah dendam masa lalu yang belum selesai.
“Jangan buang waktu lagi,”
Cahyo berkata tegas, menempatkan dirinya di sisi Paklek seolah menjadi tameng hidup.
Danan langkah demi langkah berdiri di sisi satunya.
Panji terpaku. “Ta… tapi… Paklek…?”
Pundra langsung memotong.
“JADI KALIAN MEMIHAK PEMBUNUH ITU?!”
Dua sayap asap hitam melesat dari punggungnya, asap itu menyatu dengan tangannya dan membentuk cakar raksasa yang memancarkan aura pembunuh.
Danan dan Cahyo maju ke depan paklek dan menghadang Pundra.
“Pundra..” Cahyo mendekat tanpa perlawanan. “Paklek, ayah kami..”
“TAPI DIA MEMBUNUH KIDUNG DAN JATI!!!”
Tubuh Pundra meledak dalam ledakan amarah.
DUARR!!
Cakar hitam itu menghantam Cahyo langsung. Cahyo menahannyamtulang-tulang tangannya berderak. Darah mengalir dari jari hingga pipinya.
Sebelum manusia berkuasa di tanah Jawa,
Sebelum batas antara alam manusia dan makhluk gaib tercipta, Sebelum perjanjian pertama dengan penguasa gaib terjadi…
Dua manusia berjalan menembus hutan terdalam. Nafas mereka terengah, namun langkah mereka terus maju, seolah ada panggilan tak kasat mata yang menuntun mereka masuk ke wilayah terlarang itu.
“Aku tidak yakin kita harus meneruskan perjalanan ini, Kurna,” bisik salah satunya, Purwa, dengan suara bergetar.
“Aku juga merasakan hal yang sama, Purwa,” jawab Kurna lirih. “Tapi ada yang mendorong jantung ini… Sebuah kehendak yang memaksa kita untuk sampai ke sana. Kita harus mengetahui apa yang menunggu.”
Sudah lama mereka meninggalkan suku mereka, mengejar sebuah tempat yang hanya hadir dalam mimpi, tempat yang sebelumnya tak pernah mereka ketahui namanya, atau wujudnya. Namun panggilan itu terlalu kuat untuk diabaikan.
Dan akhirnya, mereka tiba.
Di tengah hutan berdiri sebuah pohon beringin raksasa, menjulang angkuh seperti penjaga. Dari dahan-dahannya tergantung kepala-kepala manusia… ada yang telah mengering, ada yang membusuk, dan ada pula yang masih meneteskan darah segar ke tanah.
Di bawahnya, sosok hitam setinggi tiga meter tengah bersila, bermeditasi dalam kekhusyukan yang mengerikan. Rambutnya panjang tak terurus menutupi sebagian wajahnya yang bengis. Tetesan darah dari kepala-kepala itu terus membasahi tubuhnya.
“I—ini… tempat apa?” Purwa terhuyung, seluruh tubuhnya gemetar.
Tanpa menjawab, Kurna mengambil tali hitam dari tas kulitnya. Ia melantunkan mantra kuno, lalu melilitkan tali itu pada tubuh mereka berdua.
“Dengan ini, mereka tidak akan merasakan keberadaan kita,” bisiknya tajam.
Saat mereka semakin mendekat, keduanya tersentak. Makhluk itu tidak sendiri.
Di sekelilingnya berdiri makhluk-makhluk hutan yang bentuknya tidak lagi menyerupai manusia, para setan penguasa belantara, siap memburu manusia kapan saja.
Namun yang lebih memuakkan…
Di antara mereka berdiri manusia-manusia sakti yang telah bersekutu dengan kegelapan. Mata mereka kosong, jiwa telah ditukar dengan kekuasaan.
“Kenapa?” Wajah Panji terlihat panik. “Kenapa Dirga dan Guntur? Ki Gutayar bukan lawan yang bisa mereka kalahkan!”
Cahyo mengepalkan tangannya, Ia pun merasa seharusnya dirinya atau Danan yang menolong Nyai Jambrong.
”Pundra? Apa kau bisa memindahkanku juga?” Teriak Danan.
Pundra mendekat ke pertarungan dengan sebagian tubuhnya berubah menjadi asap hitam.
”Di Puri ini setiap penguasa memiliki wilayah kekuasaannya sendiri, saat ini aku tak sekuat saat berada di wilayahku. Sedangkan dia…” Pundra menunjuk pada sosok patung setan bertaring yang begitu besar di tengah ruangan itu.
”Ini adalah wilayahnya, tempat terkuatnya..”
Cahyo memperhatikan sosok patung setan yang membawa berbagai pusaka itu di tangannya yang banyak. “Berarti pelataran ini adalah wilayah kekuasaan patung itu?”
”Benar..”
Cahyo mendekat ke sisi pertarungan. Lebih dekat. Ia pun hanya duduk dan melipat kedua tangannya sambil memperhatikan pertarungan itu.
”Mas Danan, harusnya ada yang bisa kita lakukan, kan?” Tanya Panji,
Danan hanya menoleh ke arah Cahyo. “Untuk saat ini kita hanya bisa percaya pada Guntur dan Dirga.