Bu Ratna mengaku mendengar suara rintihan dan melihat sosok Ibu di halaman rumahnya, dan rupa bapak yang kulitnya seketika menghitam seperti gosong.

"Ibu bilang mau menjemput kami"

Setelah Kematian Ibu - PART II

[A THREAD]

@bacahorror @mwv_mystic
#bacahorror Image
Halo, terima kasih atas antusiasme kalian. Karena ramainya permintaan, maka saya akan up part II atau lanjutan dari utas "Setelah Kematian Ibu" .

Bagi kalian yg belum membaca Part I , silahkan baca terlebih dahulu di sini: 👇
Thread ini akan saya up setelah magrib, jadi mari share, ramaikan dan tinggalkan jejak.

Sembari menunggu, dengarkan dulu nih lagu klasik favorit Ibu, yang kasetnya sering terputar sendiri :)
-----PART II------

Pagi itu, aku tidak berangkat ke sekolah, badanku seketika demam dan menggigil, serta ingatan mengerikan mengenai sosok yang kutemui tadi malam masih terbayang jelas menari-nari di kepalaku.
Hari ini bapak pulang, pesawatnya mendarat pukul sembilan pagi. Seharusnya dia sudah sampai,

Tokk-Tok-Tok!

“Assalamualaikum” Salam suara yang kurindukan ---
Benar saja, sosok yang dinanti telah tiba. Sudah hampir dua tahun tidak bertemu bapak, rasanya banyak sekali hal yang ingin kutumpahkan melalui satu pelukan pertama yang mengaliri air mata berarti sejuta makna—Rindu sekali.
“Pak, ibu ...” ucapku terputus, tubuhku langsung didekap erat oleh bapak yang juga kutahu menahan tangisnya demi terlihat tegar, agar kami anak-anaknya juga mencontohnya untuk menjadi kuat atas peristiwa ini.
“Tak apa ris, ibu sudah tenang, dia tersenyum melihat kita.” bisik bapak di telingaku. Pandangan bapak menyorot tajam ke arah pintu kamar Ibu.
Pakaian bapak tampak lusuh, kedua matanya sembab lengkap dengan lingkaran hitam panda. Di balik kokoh raganya, ada lemah yang menyentuh ruang paling inti dalam batin yang coba dia tutupi.
Bahkan bapak masih sempat membawakan mainan yang baru dia beli untuk menghibur adik. Senyuman hangat yang dia tampilan mewakili citra yang ingin digapai— seolah semua baik-baik saja.
Bapak beranjak ke kamar Kak Intan untuk memeriksanya,

“Kak, bapak pulang.” Sapa bapak.
Kak Intan tak menjawab barang sepatah kata, bahkan menoleh saja tidak. Pandangan mata Kak Intan kosong menatap ke sudut dinding kamar.
Kian hari kondisi Kak Intan justru semakin mengkhawatirkan; wajahnya pucat, bibirnya pun sudah berubah warna kebiruan.
Bapak menghampiri ranjang Kak Intan, bola matanya basah oleh genangan air mata yang sekuat tenaga dia tahan.
“Kak, mau makan apa?”

Tanya bapak dengan suara bergetar sembari mengusap kening Kak Intan.
Aku berdiri di pintu memperhatikan mereka, entah mengapa kala itu, aku tak memiliki keberanian untuk mendekat, bagiku Kak Intan menjadi asing dan terlihat menakutkan.
“sudah beberapa hari ini, Intan gak mau makan kalau nggak mbah suapi paksa” Terang Mbah

“Ngomong juga nggak, kadang dia ketawa sama nangis sendiri.” Tambah mbah menjelaskan kondisi Kak Intan.
“mungkin Intan sangat terpukul mbah, selama ini kan dia anak perempuan satu-satunya dan yang paling dekat juga ke ibu” tanggap bapak menampik dengan nalar.
Mbah tertegun seperti tidak puas dengan respon bapak terhadap situasi ini. Bapak mengalihkan perhatian dengan mengajak Aku dan Adik belanja ke warung besar di ujung jalan.
Adik tersenyum lebar menyambut ajakan bapak, alih-alih naik kendaraan roda dua, kami bertiga memilih berjalan kaki.
Perjalanan kami beberapa kali terhenti karena beberapa warga bertegur sapa dengan bapak layaknya kawan lama yang tak jumpa.
Namun satu hal yang membuatku tak nyaman ialah, sepanjang jalan banyak pasang mata yang memperhatikan kami dengan tatapan intimidasi, serta desas-desus suara dari belakang yang seolah membicarakan kami.
Bapak sangat ramah kepada setiap orang yang ditemuinya berpapasan, kami tiba di warung besar yang menjual aneka kebutuhan pokok dan jajanan paling lengkap di kampung ini.

Warung tersebut adalah milik Pak RT,
“wah pak tanto, kapan sampai?” sapa Pak RT yang kebetulan melayani kami.

“baru saja pak sampai” jawab bapak tersenyum.
“Pak tanto, bisa bicara sebentar di dalam?” Ajak Pak RT.

Sebagai seorang warga, tentu bapak menyetujui ajakan Pak RT.
Kami masuk ke dalam rumah Pak RT, duduk berjejer di sofa ruang tamu,
Secangkir kopi yang di seruput Pak RT membuka percakapan,
“Sebelumnya saya turut berduka cita atas kepergian Ibu Siti ya pak” jeda Pak RT--
“tanpa mengurangi rasa belasungkawa, saya perlu menyampaikan hal ini, karena menyangkut dengan kenyamanan warga dan saya juga tidak mau ada salah satu warga saya yang tersudutkan oleh tudingan yang belum tentu benar adanya”

Pak RT menghela napas panjang untuk mengusir ragu.
“kami semua tahu, bahwa Ibu Siti telah berpulang dan jenazahnya juga sudah dimakamkan, namun beberapa warga mengaku masih melihat Bu Siti,” Pak RT berbicara terbata,

“Jadi begini ceritanya....”-
***

Setelah hari pemakaman Ibu Siti Marsiah, Fenomena mistis tidak hanya terjadi di malam nyusur Tanah atau pun di rumah mereka saja—sebagaimana yang dialami oleh Haris dan Intan, melainkan juga terjadi di lingkungan sekitar (kampung) mereka.
Bagian ini merangkum rentetan peristiwa berdasarkan kesaksian warga yang melapor ke Pak RT setempat.
Suatu malam, Ibu Ratna salah satu tetangga Ibu Siti sedang tertidur bersama satu anaknya yang masih balita, malam itu Sang Suami (Pak Dindin) pulang terlambat karena suatu urusan pekerjaan yang menuntutnya untuk lembur.
Rumah Ibu Ratna memiliki halaman yang cukup luas, tertanam beberapa tanaman hias, satu pohon mangga besar, dan empat pohon pisang yang tumbuh subur di pekarangan depan rumahnya.
Letak Rumah Ibu Ratna tepat di depan atau berhadap-hadapan dengan rumah Ibu Siti.
Tengah malam, cuaca mendadak mendung, lebih gelap dari biasanya tanpa kehadiran bias cahaya bulan.

Angin berhembus dingin menelisik masuk lewat celah-celah jendela.
Dari dalam salah satu kamar terdengar kencang suara tangis seorang anak, Ibu Ratna sibuk bergegas ke dapur untuk membuatkan sebotol susu, kemudian sang anak didekapnya untuk diminumkan susu.
Namun anak itu terus menangis tak henti, mulutnya tertutup rapat seakan menolak susu yang diberikan.
Ibu Ratna tampak kebingungan, tak biasanya sang anak menangis menjerit seperti ini.

Di luar rumah, angin berhembus kencang hingga mampu meruntuhkan beberapa ranting pohon mangga miliknya.
Ibu Ratna meraih ponsel untuk menghubungi Pak Dindin namun panggilan tersebut dijawab oleh operator seluler yang menyatakan nomor Pak Dindin tidak dapat dihubungi.
"KREEKKK"

Ibu Ratna dikejutkan oleh jendela kamarnya yang terbuka sendiri, Image
Semakin terasa hembusan angin begitu kencang menyingkap gorden. Sembari menggendong Sang Anak,

Ibu Ratna menutup jendela dengan satu tangannya.
Beberapa menit menimang, akhirnya anak tersebut sudah lebih tenang.

Bu Ratna membaringkannya diranjang.
Dia merasakan kepalanya berat, keningnya basah oleh keringat dingin, perasaan resah dan gelisah tak menentu menyelimuti batin Bu Ratna.
Pikiran dan Hatinya sibuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Namun dengan sigap naluri nalarnya menepis segala praduga-praduga atas kemungkinan terburuk—segera Bu Ratna merapal doa kepada yang kuasa agar dilindungi dari segala marabahaya.
Kini pikirannya dipenuhi oleh kekhawatiran kepada Pak Dindin, suaminya, yang mana sampai pukul satu dini hari masih belum juga pulang, bahkan tak biasanya tanpa kabar seperti ini.
Setelah lelah meladeni gejolak di perasaannya sendiri, akhirnya Bu Ratna menemukan titik nyaman untuk terlelap.
Namun, baru beberapa saat matanya terpejam, suara tangisan perempuan merintih terdengar dari arah pekarangan depan rumahnya.

Suara rintihan itu kian jelas ketika Bu Ratna manajamkan telinganya untuk memastikan
Suara itu terdengar tak asing baginya. Darah Bu Ratna berdesir seketika, sekujur bulu romanya meremang—merinding kuat.
Rasa getir ketakutan mulai menyerangnya bersama rasa cemas tak beralasan.

Bu Ratna mencoba mengatur tempo detak jantungnya yang berdegup lebih cepat.
Perlahan dia melangkah ke arah jendela untuk memastikan.

Dalam satu helaan napas tangannya menyingkap gorden jendela,
Kedua bola mata Bu Ratna terbelalak dan lututnya melemas begitu melihat sosok yang berdiri di tengah perkarangannya
— tepat di bawah pohon pisang berdiri sosok Ibu Siti Marsiah mengenakan baju serba putih dengan rambut kusut tergerai melotot tajam ke arahnya. Image
Sontak dengan refleks Bu Ratna menutup kembali gorden lalu segera beranjak ke ranjang untuk memeluk anaknya.
Malam itu terasa lebih panjang, waktu berdetak lebih lambat. Ibu Ratna terus gelisah, cemas bercamput takut yang membuatnya sulit tidur di sisa malam.
Hingga di waktu menjelang subuh, Pak Dindin tiba di rumah. Ibu Ratna masih tak berani menceritakan apa pun ke suaminya sampai keesokan pagi, dia membicarakannya bersama para tetangga lain di warung Pak RT ketika sedang belanja bahan-bahan masak.
Di luar dugaan, beberapa warga lain juga mengaku mendengar suara rintihan serupa yang disinyalir sebagai suara dari Ibu Siti Marsiah.
Tak butuh waktu lama, kejadian yang dialami oleh Bu Ratna ditambah pengakuan warga lain itu tersebar dari mulut ke mulut kemudian menggaung di satu kampung lengkap dengan bumbu-bumbu gosip yang belum bisa dipastikan kebenarannya.
Tak hanya sampai di situ, hanya berselang satu hari, Mang Atmo seorang penjual Nasi Goreng langganan mengaku melihat wujud Ibu Siti Marsiah sedang duduk di kursi teras rumahnya,
“Bu, Nasi Goreng Bu” tawar Mang Atmo ke sosok Ibu Siti yang menurut pengakuannya berwajah pucat pasi seperti orang sakit.
Sosok Ibu Siti Marsiah itu tak menjawab tawaran Mang Atmo, dia hanya terduduk kaku dengan wajah tertunduk.
Kemudian, Mang Atmo tanpa sengaja melihat bendera kuning yang sama terpasang di halaman rumah Ibu Siti, spontan dia membaca nama yang tertulis di bendera kuning tersebut,

“Siti Marsiah Binti Suyanto”
Sudah bisa ditebak yang terjadi selanjutnya, kaki-kaki gemetar Mang Atmo dipaksa melangkah cepat menjauh dari rumah tersebut.

“cerita ini juga tersebar ke satu kampung, pak” ujar Pak RT
“Tanpa bermaksud apa pun, maaf kalau saya lancang , saya menyarankan kita adakan lagi pengajian tahlil di rumah bapak, mengundang para warga untuk mendoakan Alm Bu Siti agar terhindar dari fitnah” tutup Pak RT.
“Baik pak, terima kasih informasi dan sarannya, pak” balas Pak Tanto sembari tersenyum kemudian berpamitan.
Dalam langkahnya kembali ke rumah, tampak jelas pikiran Pak Tanto mengawang jauh bersama banyaknya pertanyaan di kepala.
Apa yang sebenarnya terjadi?

*****
Sejak perbincangan terakhir dengan Pak RT, hari ini Pak ganti menjadi lebih banyak diam dan menyendiri di kamar almarhumah istrinya
Entah apa yang dilakukannya di sana, tapi yang pasti, haris dan adiknya dilarang untuk mengikuti atau pun menyusulnya masuk ke dalam ruang kamar tersebut.
Kisi-kisi atau rangkuman cerita yang terjadi berikutnya ialah teror semakin menjadi-jadi. Satu-per-satu alasan dibalik peristiwa terungkap hingga dikaitkannya dengan sekte sesat
Intan kehilangan kendali sadarnya, Dia bertingkah laku layaknya hewan buas yang kerap kali mengamuk, setelah itu kejadian haris menemukan banyaknya penampakan-- dan yang paling mengerikan ialah ketika dia melihat segerombolan pria berpakaian serba hitam dan berkulit gosong-
Sedang berdiri mengitari kasur almarhum ibunya yang sedang berbaring diatasnya-- termasuk pak tanto (bapaknya) ada diantara mereka.
Hingga teror puncak ketika Sosok makhluk bengis berwujud Ibu itu mengejar haris dan adiknya untuk memaksa mereka ikut (Mati) .
Kelanjutan Kisah "Setelah Kematian Ibu" sudah ditulis dalam versi e-book secara rinci dan lengkap dengan gambar ilustrasi berdasarkan kejadian yang terekam.
Terdiri dari total 48 halaman, E-Book (Mini Novel) bergambar ilustrasi bisa kalian dapatkan di @karyakarsa_id melalui link berikut :

karyakarsa.com/jeropoint/sete…

Dapatkan diskon 60%-- menjadi hanya 10K dengan menggunakan Kode Voucher : untukibu

*Voucher Terbatas ImageImage
Saksikan kilas cerita "Setelah Kematian Ibu" versi video di YouTube saya (Jero Portal) lewat link berikut :

Sebagai penutup Thread ini, saya sampaikan terima kasih kepada kalian yang telah mengikuti dan membaca versi Thread kisah "Setelah Kematian Ibu" dari Part I.
Selamat Tahun Baru 2022!

Jangan lupa baca versi E-Book "Setelah Kematian Ibu" yang merupakan karya pembuka saya di tahun 2022.

Hanya Rp. 10.000-
Menggunakan kode voucher : untukibu

Check out Now 👇
karyakarsa.com/jeropoint/sete…

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with JeroPoint

JeroPoint Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @JeroPoint

22 Dec 21
Setelah Kematiannya, Ibu datang lagi dan meminta kami ikut!

"Hari ke tiga setelah dimakamkan, ibu masih mengeloni adikku tidur. Tukang nasi goreng langganan juga mengaku melihat ibu di depan rumah."

[A THREAD]
@bacahorror #bacahorror
Kisah ini akan dituliskan dalam sudut pandang orang pertama (aku) karena berdasarkan kesaksian narasumber tunggal.

Segala bentu nama tokoh dan tempat disamarkan demi menjaga privacy yang bersangkutan.
-------
Siapa yang tak terkejut, juga hati mana yang tak ciut begitu melihat bendera kuning berkibar tepat di depan rumah?

“Siti Marsiah Binti Suyanto”
Read 88 tweets
17 Nov 21
[A Thread]

Nama dia, Sari.
Wanita lugu yg menjadi korban perdagangan manusia kemudian mati setelah diperkosa oleh 17 Pria di rumah bordil.
Dendam Sari membuatnya menjelma "Kuntilanak Hitam" setelah bersekutu dgn dukun yg menjanjikannya 'Hari Pembalasan'.

@bacahorror #bacahorror Image
Sejak kematiannya pada tahun 1969 silam, amarah dendamnya membuat Sari semula menjelma kuntilanak merah yang kemudian menjadi hitam setelah bersekutu dengan dukun kejam bernama Kasno.
Setelah perjalanan panjangnya- terakhir sehabis dia merasuki raga seorang Anak Wanita selama 14 tahun, kini sari bersemayam di sebuah pohon besar yang terdapat di salah satu leuweung (Hutan) tersohor yg Syarat akan mistisnya di Wilayah Garut.
Read 118 tweets
6 Nov 21
[A THREAD]

Dia di-penggal, kepala dan badan-nya dibuang terpisah, namun di perjalanan, mobil yang membawa kepala-nya melaporkan bahwa kepala yang dibawa telah hilang!

"Kepala itu menjemput kembali badan-nya yang terpisah" - Pak Mantri

Palasik #2
@bacahorror #bacahorror Image
Setelah mendapat izin dari Pak Mantri (Narasumber), kisah Palasik #2 ini ialah pelengkap (pre-quel) dari bagian penting nan sensitif yang belum diceritakan di bagian #1 .
Ada urgensi mengapa kisah ini menarik untuk diangkat dan saya berupaya membujuk pak mantri agar diizinkan
untuk kalian yang belum membaca bagian #1 , silahkan baca dulu melalui link di bawah, karena saya tidak akan menceritakan ulang apa yang sudah diceritakan di bagian #1.

Thread Palasik #1:
Read 60 tweets
12 Sep 21
-A Thread-

Belasan makhluk ghaib, Genderuwo setinggi atap, misteri siluman hingga petunjuk dari sosok 'kakek kepala buntung' meneror kerja kami di kantor baru.

"Elisa, Rama, sblm resign kasusnya sama; mereka tertusuk sisik dulu, ujungnya kelar!" -Arif

@bacahorror #bacahorror Image
-RUMAH SISIK-

Sebuah judul yg mewakili kisah dari kawanan kerja Arif.
Semalaman kami berbincang di telepon, saya putuskan angkat kisah ini karena ini merupakan pengalaman mistis yg luar biasa!

Saya bagikan kisahnya malam ini.
Apakah saya akan melakukan ritual atau sekedar residual energi untuk mengulik kisah ini?

Semua tergantung kalian yang ikut menyimak nanti malam, bila setuju maka akan saya lakukan.
Read 175 tweets
15 Aug 21
[A THREAD]

"Tolong anak saya sudah mau satu Minggu panas tinggi, nangis terus, badannya semakin kecil (menciut)" keluh Bu Ana kepada Pak Mantri

" Ini bukan sakit biasa, ini penyakit 'Ain" spontan Pak Mantri gemetar.

'Palasik (Palesit) itu kembali' .

@bacahorror #bacahorror Image
Kali ini, sebuah kisah datang dari tanah minang (narasumber) tentang sosok yg melegenda dan menjadi momok menakutkan bagi setiap ibu yang baru saja melahirkan.

Memutuskan kepalanya ketika mencari mangsa, makhluk bengis ini dipanggil ' PALASIK ' (Palesit).
Pak Mantri (nama samaran) seorang tokoh spiritual dari tanah minang berkenan membagikan kisah 'Nuri' ; seorang gadis lugu yg harus menjalani takdir hidup sebagai Palasik (turunan ke enam) akibat Ilmu Hitam Palasik yg dilakukan oleh leluhurnya.
Read 85 tweets
4 Aug 21
[A THREAD]

"Mas ngapain jalan malam² di tengah Rel? Dari mana ?" Tegur Pak iting

"Hah? Sy naik kereta ko pak, dari cikini tadi turun di stasiun Depok" jwb hakim.

" Apaan, orang mas saya lihatin dari ujung jalan kaki sepanjang rel."

---
'KERETA GHAIB'

@bacahorror #bacahorror Image
Thread ini menceritakan 'pengalaman mistis' yang di alami langsung oleh Om saya sendiri pada masa sekolah sekitar tahun 2002.

Fenomena seperti ini saya ketahui pada masa itu telah beberapa kali terjadi. Mungkin, salah satunya orang sekitar kalian.
Malam ini akan saya update ya.
Malam,
Malam banget pokoknya, biar seru.

Yuk ngumpul, ramein dulu!
Read 56 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(