Ini pas kami menginap di sebuah kebun karet di desa talanan, desa yang tidak ada di google. Sangat2 terpencil. Orang nya ramah dan baik2 sekali, dan ini sebenarnya kami sudah disuruh ke desa yang berjarak 1 setengah km dari kebun itu
Tapi om menolak karena ingin merasakan langsung suasana di sekitar situ. Kebun itu juga benar2 di kelilingi oleh hutan dan hanya ada jalan tanah setapak yang menjadi akses keluar masuk desa tersebut.
Konon menurut cerita teman om yang awalnya gak izinin nginap di kebun itu katanya disitu sering muncul sesuatu, suka mengganggu dan menampakan diri. Alhamdulillah nya, semalaman di sana kami aman2 saja. Karena om juga sebelum pergi itu benar2 lepas semuanya
Gak bawa2 apapun yang bisa menimbulkan gesekan buruk.
Selain ilmu bela diri yang pernah om pelajari dulu. Itupun tidak akan di pakai kecuali dalam keadaan benar2 terpaksa.
Kalau ini om sedang 'maluntuh danum' (masak air untuk merebus mie)
Nah kalau ini om sedang nyari akar2an/tumbuhan2 obat.
Dan yang ini namanya pucuk jawaw saluang, jenis singkong yang isi ya beracun, tapi pucuk daun nya sangat enak kalau di masak. Di kalsel jarang om lihat ini. Kalau di kalteng misalnya kalian baru masuk jalanan tamiyang layang sudah banyak sekali terdapat singkong jenis ini di sana
Om juga dapat beberapa cerita seram yang sangat menarik dari orang2 disana. Nanti akan om bikin thread.
Memang terniat sekali om ini nyari2 cerita sampai harus nginap di hutan dan kebun😂😂..
Terima kasih ya buat kalian yang sudah nyawer🙏🙏🙏🙏...
• • •
Missing some Tweet in this thread? You can try to
force a refresh
Salah satu orang bernama amang Mansah langsung menahan tubuh Aswadi, yang seperti kesetanan mencambuk anaknya itu.
“Buhen yu, ni. Cara ji maula-ula dengan muta tarus ulun tuh sining hajeu.. Dengan utuh te ulun dakawa lalu beh ji manyingut taluh ji babau, kilau karen bawang te.. Maka lamun jadi muta te sampai kapehe te pang balengkung..
(Kenapa ya, nek. Saya kok sering mual-mual dan muntah-muntah terus di pagi hari.. Dan lagi sekarang ini saya juga jadi sensitif terhadap bau-bauan, seperti bawang contohnya. Dan kalau sudah muntah itu, tenggorokan sampai sakit sekali rasanya..)” Kata wanita berusia 35 tahun itu.
Teriakan dan rintihan kesakitan terdengar dari rumah bu Lisda. Wanita paruh baya itu memang sedang sakit. Tapi sakitnya itu bukan seperti sakit pada umumnya, semacam demam atau yang lain2.
Sakit yang diderita bu Lisda ini malah seperti gangguan kejiwaan, ia selalu berteriak dan merintih kesakitan, padahal orang lain tidak melihat penyebab yang bisa membuatnya merasa kesakitan.
“Ikam suah lah makan bakso yang di sana tu? nah disitu nyaman banar kam baksonya. Kuahnya nyaman pada kuah bakso yang lain. Pentolnya gin, berasa banar dagingnya.
(Kamu pernah gak makan bakso yang di sana itu? Nah disitu baksonya enak banget. Kuahnya lebih enak dari kuah2 bakso yang lain. Pentolnya juga, berasa banget dagingnya.)” ujar perempuan bernama Evi pada kedua temannya.
(NIAT MENCARI KERJA UNTUK BANTU KELUARGA, MALAH DIJADIKAN TUMBAL OLEH MAJIKAN.)
@IDN_Horor
@ceritaht
@bacahorror
#ceritaseram
#basedontruestory
#threadhorror
#bacahorror
#omrasth
(Gambar Hanya Ilustrasi)
Arfin merupakan seorang pemuda berusia 16 tahun yang duduk di bangku kelas 1 SMA.
Ia merupakan anak pertama dari 3 bersaudara, Anak nomor dua masih berusia 14 tahun, sementara anak yang bungsu baru berusia 9 tahun.
Meski bukan dari keluarga berada, tapi ayah dan ibunya selalu berusaha untuk menyekolahkan ketiga anak laki-laki mereka tersebut hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Cu Ipau, adalah seorang janda yang tidak punya anak. Beberapa tahun lalu ia diceraikan oleh suaminya dengan alasan karena selama 8 tahun pernikahan, Cu Ipau tak juga kunjung hamil. Sementara mertua dan keluarga besar suaminya terus menerus mendesak
supaya Cu Ipau hamil dan punya anak. Begitulah, sekilas kisah hidup Cu Ipau yang Iwan ketahui.
Iwan, seorang pemuda berusia 25 tahun, ia bekerja di sebuah toko hp yang lumayan besar dengan 10 karyawan yang tugasnya berbeda-beda.