DUSUN MAYIT DI BIOSKOP! Profile picture
Mar 4, 2022 271 tweets >60 min read Read on X
Belasan Makhluk Gaib, Siluman, dan Penampakan Kakek Kepala Buntung yang menggelindingkan kepalanya masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.

-RUMAH SISIK-
[FULL THREAD]

@bacahorror #bacahorror
@diosetta @mwv_mystic @RestuPa71830152 @qwertyping @cerita_setann @karyakarsa_id Image
Utas ini akan menjadi utas yang panjang, karena serial“Rumah Sisik Full Ver” akan saya update secara berkala (cerita bersambung)

Untuk itu kalian bisa Markah, tandai, atau Retweet judul utas di atas agar tidak terlewatkan setiap update-nya.
PROLOG,

“Belasan makhluk ghaib alias setan, genderuwo setinggi atap, misteri siluman hingga petunjuk dari sosok 'kakek kepala buntung' meneror kerja kami di kantor baru.” Ucap Arif.
“Elisa, Rama, sebelum resign kasusnya sama—mereka tertusuk duri mirip sisik dulu, habis itu ujungnya kelar!" Lanjutnya .

Rentetan kalimat itulah yang dia sampaikan padaku melalui sambungan telepon sebelum akhirnya kami menyepakati sebuah pertemuan di Jakarta secara mendadak.
Sudah lama kami tak bertemu, namun kembali bersua disituasi seperti ini bukanlah hal yang kuinginkan.
Arif tampak lusuh dengan kemeja flannel kusut yang dia kenakan. Lingkaran hitam panda di kedua matanya mewakili keadaan fisiknya yang tengah letih.
“Udah berapa hari gak mandi?” Sindirku,

Dia hanya tersenyum kemudian memelukku, situasi ini membuatku mendadak haru.
Aku merasakan betul dirinya sedang memikul beban yang amat berat, ada emosional tak tertahan yang sepertinya sebentar lagi akan membuncah karena sudah tak mampu dia bending. Aku menepuk-nepuk punggungnya berharap dapat memberikannya sedikit tenang,
“Sabar, setiap masalah pasti ada solusinya.” Kata penenang mainstream itu harusnya sering dia dengar.

“Duduk dulu, cerita yang jelas, insya allah gue akan bantu semampu yang gue bisa” lanjutku.
Arif menceritakan tragedi terror makhluk astral yang tengah di hadapinya yang mana peristiwa tersebut terjadi di bangunan kantor baru yang belum lama mereka tempati.

Terror itu bahkan menyebabkan satu teman mereka meninggal dunia dan satu lagi
—mengalami ketempelan hingga sering kehilangan kendali sadar yang mana sampai saat ini masih belum sembuh meski telah melalui upaya berobat ke beberapa pengobatan alternatif hingga ‘orang pintar’ yang mereka percaya.
Namun sampai saat ini, tak ada hasil atau perkembangan apapun selain uang jutaan rupiah yang melayang.
“Namanya Elisa, Dia sekarang bahkan dikurung di kamarnya sendiri sama orang tuanya karena sering mengamuk.” Terang Arif.

“Minggu ini gue kosong, antar gue temui Elisa bisa ?” Ucapku.
“Bisa Jer, serius gapapa lu ke Bandung ?”

Aku mengangguk menjawabnya, kedua mata Arif tampak nanar seolah menemui harapan baru yang kemudian menjelma menjadi bebanku selanjutnya.
Aku tak ingin terburu-buru menyikapi peristiwa yang diceritakan Arif. Memeriksa semuanya secara langsung dan teliti ialah langkah awal menyikapi masalah ini sebelum mengambil tindakan apapun.
Kasus seperti ini, sedikit saja salah dalam mengambil langkah, akibatnya bisa berujung fatal dan malah membuat situasi menjadi semakin memburuk.
Kurang dari empat jam perjalanan, kendaraan roda empat yang membawa kami sudah melewati batas gerbang tol buah batu kemudian bertolak ke kanan menuju arah Bojongsoang tempat kediaman Elisa.
Arif merogoh ponsel disaku lalu menjawab dering panggilan masuk yang kutebak dari teman-temannya yang sudah menunggu menanti kedatangan kami.
Setelah melewati bidangan sawah, aku telah tiba di rumah sederhana namun tampak artistik karena sentuhan ornamen vintage pada arsitekturnya.
Berdiri dua orang laki-laki berusia sebayaku di teras halaman yang mana kemudian mereka menyalamiku seraya memperkenalkan diri,

“Oga, kang”

“Saya Arga”
Ada orang tua elisa juga yang sudah menungu. aku pun langsung mengarah ke poin utama dan meminta izin untuk menengok Elisa.
Ketika nama Elisa disebut, raut wajah dari masing-masing mereka seketika berubah menjadi penuh kecemasan. Aku mengerti, hal tersebut sangatlah wajar ketika menghadapi persoalan gaib yang mana belum menemui solusi pasti.
Kecemasan mereka bukan tanpa alasan, aku pun terkejut ketika melihat di balik wanita lugu yang terduduk lemah bersandar pada dipan kasur dengan tatapan kosong mengawang ke atas terdapat satu makhluk perempuan mengenakan kebaya hijau penuh sisik mirip ular.
Tidak hanya itu, makhluk tersebut mengeluarkan lendir basah yang berbau anyir menyengat. Aku mendenguskan napas spontan tatkala mendapati bau tak sedap menyergap.
Makhluk perempuan yang kutangkap basah wujudnya menatapku dengan sorot intimidasi.

Namun ada yang tak lazim bagiku, meski makhluk itu tampak siaga, akan tetapi dia tak memulai apa pun dan tak juga menunjukan tanda-tanda agresivitas.
Makhluk ini seperti bergerak dibawah komando perintah dari makhluk lain yang lebih kuat,
“Elisa benar ketempelan, sampai sekarang makhluk itu masih ada di raganya” ujarku, suasana mendadak hening. Seluruh mata tertuju padaku seraya menunggu penjelasan lanjutan.
“Tapi, makhluk yang menempel di Elisa, bukanlah pelaku yang sebenarnya. Melainkan dia adalah anggota dari salah satu entitas Jin yang bergerak dibawah komando” terangku.
Kemudian, aku menangkap satu luka di Elisa yang diselimuti energi negatif. Menurut keterangan dari Arif, luka itu ialah bekas tertusuk sisik mirip duri ikan. Akan tetapi sudah lebih dari tiga bulan, luka tersebut masih tak kunjung mengering—masih saja basah layaknya luka baru.
“Di mana Elisa tertusuk duri sisik itu?”

Selanjutnya, Arif, Oga, dan Arga merubah posisi berdiri mereka menjadi lebih rapat , lalu kemudian mulai menceritakan peristiwa tiga bulan silam—waktu dimana teror mengerikan itu terjadi.
———
Versi Thread Bagian 1 akan dilanjutkan mulai kamis depan.
Namun, buat kalian yg gak suka nunggu dan baca kepotong-potong,
Serial Rumah Sisik Bagian 1 sudah bisa kalian download di karyakarsa , link :

karyakarsa.com/jeropoint/ruma…
Terdiri dari 50 halaman, E-Book ini dilengkapi dengan gambar ilustrasi berdasarkan kejadian yang terekam—Serial Rumah Sisik terdiri dari 4 (empat) Bagian yang akan upload dalam waktu berdekatan. 

Gambar ilustrasi cuma bisa kalian dapatkan di versi E-Book ya. Image
Jadi sementara nangkring dulu di karyakarsa. Untuk versi thread akan tetap di upload secara berkala mulai minggu depan ya 🙏

Kalian tim gas download di karyakarsa atau tim sabar nunggu up di twitter ?
Cerita menggunakan Point Of View orang pertama (aku) berdasarkan kesaksiannya sendiri.

Desclaimer:
Nama tokoh dan tempat disamarkan demi menjaga privasi narasumber. Bagi kalian yang mengetahui segala bentuk clue dalam cerita ini, harap menyimpannya untuk diri sendiri saja.
—————1—————-
“PENGAKUAN ARIF”

Mendapat bagian pertama dipembuka cerita sejujurnya menjadi beban tersendiri bagiku. Meski kami berada disatu waktu peristiwa yang sama, namun masing-masing dari kami mengalami teror yang berbeda dan berbeda pula sudut pandang dalam menyikapinya.
Keputusan Jero, menggulirkan cerita dari setiap sudut pandang dari kami kuharapkan mampu menyatukan seluruh pandangan menjadi satu kesatuan utuh perihal teka-teki mengenai rumah setan yang melahirkan trauma mendalam,
juga teror tak berujung yang mana sampai saat ini masih terus menghantui kami—ya, rumah setan, begitu kami menyebutnya.
Ketika hendak frustasi memutar otak mencari solusi, nama Jero seketika tersemat di kepalaku sebagai satu-satunya kenalan yang memiliki kedekatan dengan hal-hal berbau supranatural sebagaimana yang tengah kami hadapi.
Aku memberanikan diri bertolak dari Bandung ke Jakarta guna menemuinya. Semestinya, aku cukup tahu diri, karena hubunganku dengan Jero tak sedekat yang kalian bayangkan sebelumnya.
Hanya saja, kami parnah bekerja di satu proyek yang sama, namun disituasi genting seperti ini, kuharap Jero dapat memaklumi kelancanganku dan dirinya berkenan untuk membantu kami.
Aku tak tahu darimana memulai cerita agar kalian yang membaca dapat ikut terbawa. Perihal merangkai kata, aku tak selihai Jero. Namun akan kucoba semampu yang kubisa, semoga saja kalian turut memaklumi atas segala kurang.
Mari kita mulai dengan perkenalan. Namaku Arif, Aku bekerja di salah satu perusahan digital Marketing sekaligus percetakan (printing) di Bandung.
Semula, kantorku berdomisili di Kota Bandung, tempatnya di sekitaran daerah Lengkong, sebelum akhirnya baru-baru ini kami berpindah ke wilayah Bandung Timur.
Sepengetahuanku, perpindahan kantor kami dilakukan oleh karena habis masa sewa gedung dan atasan kami memilih berpindah ke lokasi yang sebetulnya cukup jauh dari tempat kantor sebelumnya di lengkong.
Sangat disayangkan, selain karena konsumen printing (percetakan) di tempat itu sudah ramai oleh pelanggan tetap, kami juga sudah merasa nyaman dengan tempat itu;
Tempat yang ramai dengan jejeran makanan kaki lima rasa bintang lima, sekaligus menjadi tempat dimana tersemai sejuta kenangan jika mengingatnya, hehe.
Berbeda dengan kantor kami sebelumnya yang notabene-nya berada di tengah pusat kota, kantor kami yang sekarang cenderung terletak di pelosok Bandung Timur, sepanjang jalan desa menuju kantor masih ditemui sawah lapang hingga kebun-kebun.

(Anak bantim pasti apal)
Kala malam, jalanannya masih gelap minim penerangan. Kantor baru kami berbentuk rumah bangunan lama dengan tembok-tembok kokoh namun langit-langit rumahnya kebanyakan sudah keropos.
Hari pertama berkantor, kami justru disuruh atasan kerja bakti. Tempat ini sangat kotor karena sudah bertahun-tahun dibiarkan kosong, bau ruangannya juga aneh, sulit dijelaskan. aromanya seperti bau rumah kosong bercampur aroma lapuk kayu dan karat.
Debu-debu yang tak kasat mata juga sangat menganggu pernapasan. Juga cat putih kusam yang menambah suasana terasa tidak enak.
Butuh tenaga ekstra dan waktu sampai tiga hari untuk membuat bangunan ini setidaknya layak untuk di gunakan sebagai tempat kerja. perihal nyaman, kami berpikir,

'ah, nanti lama-lama juga terbiasa'.
Tidak ada yang aneh saat hari-hari pertama kami bekerja bakti membersihkan tempat tersebut selain benda-benda tua mirip pusaka yang ditemui di satu ruangan terkunci
Ruangan itu didobrak paksa oleh Rama untuk kemudian digunakan sebagai gudang penyimpanan barang-barang tak terpakai yang masih terpajang di dalam bangunan tersebut, serta beberapa ajimat dan sisa-sisa sesaji yang didapati di hampir setiap sudut-sudut ruang bangunan ini.
Kami semua sepakat beres-beres hanya sampai jam kerja selesai (Pukul 17.00) selebihnya belum ada yang berani ditempat itu sampai malam.

Setiap pulang, pasti selalu serentak.
Sampai pada hari ke empat pekerjaan sudah sangat menumpuk setelah tiga hari tak tersentuh.

Khususnya untuk divisiku, minggu ini kami ada deadline propose strategi marketing plan ke client.
Jadi mau nggak mau , lembur adalah satu-satunya pilihan yang disepakti bersama oleh satu divisi.
Hari itu aku datang paling awal.
Aku bertugas standby sejak pagi buta menunggu Pak Junadi untuk mendapatkan approval dan menerima arahan yang mana kemudian diteruskan ke tim sebagai to do list pekerjaan.
Sekitar pukul 6 pagi aku sudah membuka gerbang kantor. Maklum saja, sejak kepindahan ke sini kami belum mendapatkan satpam baru pengganti Pak Nanang yang memutuskan berhenti bekerja dengan alasan jarak yang terlalu jauh membuat gajinya terasa tidak sepadan alias—habis diongkos.
Suasana pagi di sana sangat dingin dan sepi, jarak ke rumah penduduk dibatasi oleh bidangan sawah. Aku manaruh tas di ruang kerjaku yang terletak di bagian belakang rumah ini.
Ruang kerja divisiku berhadapan langsung dengan halaman taman belakang yang luas—sakin luasnya, terdapat empat pendopo (saung) di sana yang difungsikan sebagai ruang rapat outdoor sekaligus menjadi tempat mengambil jeda mencari inspirasi kerja.
Pagi itu, daripada sendirian di ruangan yang masih sepi, aku lebih memilih merokok di salah satu pendopo halaman belakang.
Merokok dan menikmati secangkir kopi adalah cara terbaik untuk menikmati pagi, akan tetapi tidak pada hari itu.

Baru tiga hisapan pertama, aku melihat kursi goyang di pendopo seberang bergerak.
Seksama aku perhatikan memang seperti ada yang duduk di sana.

Posisi kursi goyang itu membelakangiku jadi aku tak melihatnya cukup jelas.

Aku coba mendekat, dan benar saja, perempuan berambut panjang sedang duduk di kursi goyang itu.
Aku datang menghampiri, ternyata itu adalah Elisa, rekan satu divisiku.

"Sa, tumben amat datang pagi?" sapaku. Elisa masih santai duduk di kursi tersebut membelakangiku.

"Pak Junadi belum datang ni" lanjutku basa-basi. Elisa masih tak menjawab.
Aku melanjutkan hisapan rokokku, tak lama ponselku bergetar. Aku melihat pesan masuk dari Whatsapp Grup:

'Arga: Bukain gerbang, urang sama elisa di depan.'
Seketika aku melongo, melihat sosok di hadapanku semakin menggoyangkan kursi itu dengan tingkat kecepatan tak wajar.

Aku merinding hebat.
Kursi goyang dihadapanku megayun semakin cepat.
Aku teringat, tadi ketika aku masuk, memang aku mengunci lagi gerbang dan tidak mungkin ada yang bisa masuk lagi tanpa kunci dariku.

Logikaku menyentak, dan nyaliku menciut.

Lantas, siapa wanita mirip Elisa di hadapanku ini?!
Tanpa pikir panjang aku langsung berbalik arah dan lari ke depan.

Di depan sudah ada Arga dan Elisa yang berboncengan motor. Aku membukakan gerbang itu dengan tergesa.
"Pagi-pagi dingin gini, kok maneh keringatan, rif? Abis ngapain maneh? Col* ya?" celetukan Arga membuatku kesal.
"Jangan ke dalam dulu deh, mending kita ngopi di depan dulu yuk, udah dengerin urang, jangan nolak, nanti urang ceritakeun." ucapku memaksa. Mereka yang masih terheran-heran akhirnya menuruti.
Aku menceritakan kejadian barusan ke Arga dan Elisa tetapi mereka malah tak percaya.

Ceritaku malah dislewengkan menjadi 'jokes' yang menurutku sama sekali tak lucu.
"Percaya sama urang, tempat ini gak beres." ujarku.

"ya maklum lah rif, namanya juga rumah lama kosong, kita aja belum terbiasa." ucap Elisa.
Aku mencoba mengabaikan kejadian pagi tadi karena tidak ingin merusak mood kerja tim. Hari itu kami fokus mengejar deadline dan sebagaimana yang diprediksikan, pekerjaan kali ini membutuhkan waktu lembur.

Hari lembur pertama, siapa sangka juga menjadi awal mula petaka—
———Bersambung————
Lanjutannya akan di up kamis depan (malam jumat)

Buat kalian yang gakmau nunggu dan gak suka baca sepotong-potong, bisa langsung download aja serial Rumah Sisik di link ini :

karyakarsa.com/jeropoint/ruma…
SIAPA DIA ?!

Cari tau dan temui sosoknya di Serial Rumah Sisik Versi E-Book yang sudah dilengkapi dengan gambar ilustrasi berdasarkan kejadian yang terekam‼️

Link Download :
karyakarsa.com/jeropoint/ruma… Image
—————Lanjut————

Pukul 17.00 jam pulang kantor. Kami ambil jeda rehat sejenak. Pada jam pulang anak-anak selalu ramai dan riuh tak bedanya anak sekolah dengar suara bel pulang.
“Kalian serius pada lembur nginep di kantor?” ujar uzi.

“Ya gmna lagi” balasku.

“semangat deh, nanti ditunggu testimoninya ya, haha” Ledek uzi disambut oleh tawa anak-anak.
Mereka bubar kantor dengan cepat, aku pergi ke pendopo untuk merokok. Seketika aku teringat dengan kejadian pagi tadi yang rasanya sosok itu benar-benar nyata.
Arga menghampiriku, dia bertanya memastikan posisi dimana aku melihat sosok Wanita mirip elisa itu.

Aku menunjuk ke kursi goyang di pendopo sebrang yang posisinya tidak berubah sejak pagi tadi.
“Urang percaya sama maneh, Cuma urang gakmau anak-anak yang lain panik. Nanti malam ada 2 cewek (elisa sama hana) kalau bisa perhatiin mereka, apalagi si hana itu sensitif orangnya” ujar arga, dia merupakan tim leader divisi kami.
Oiya, total yang menginap lembur ada 5 orang: Aku, Arga, Oga, Elisa dan Hani. Kami semua sudah sedia persiapan lembur menginap, apalagi para cewek-cewek mereka seperti bawa banyak pakaian dan cemilan seperti orang mau camping.
Malam hari, kantor ini sudah sepi dan gelap. Beberapa spot ruangan belum dipasangkan lampu. Sensasi berada di rumah tua-nya sungguh terasa kala malam.

“Gila boy, ini sih lembur rasa uji nyali” Cetus Oga

“ssstt, udah ah jangan ngomong sembarangan!” ucap Arga.
Pukul 20.00 Oga tanpa segan-segan memutuskan untuk mandi karena merasa suntuk katanya.

Setelah mandi cukup lama hampir satu jam Oga baru balik ke ruangan dengan celotehan heboh dia menuduh kami mengerjai dia dengan mamainkan saklar lampu.
“gak lucu tau gak mainin lampu kamar mandi, nanti koslet tau rasa” oceh Oga.

Kami semua saling menoleh satu sama lain , kita menjelaskan bahwa sedari tadi kami ber-empat tidak keluar dari ruangan ini.
Oga tidak percaya karena dia merasa mendengar suara langkah kaki saat dia berteriak memanggil nama aku dan arga.
“Gak lucu sumpah becandanya, terus siapa tadi yang matiin air ane? Parah sih orang lagi sampo-an.” Lanjutnya.

“Ga, mesin air ada dimana aja kita gak tau, boro-boro mau ngerjain ente!” timpalku.
Kemudian suasana hening, Oga mulai melunak dan percaya setelah melihat ekspresi kami semua benar-benar serius.
Akhirnya Arga mengakhiri perdebatan dan mengalihkan ketegangan dengan mentraktir kami makan malam yang dipesan via Ojek Online.

Kami pun lanjut bekerja sembari menunggu makanan tiba.
Rasanya udara di sini terasa dingin menembus ke kulitku, tetapi sebaliknya, keringat menetes deras di kening Oga. Dia juga terus menggaruk-garuk kulitnya karena merasa gatal.
Oga yang mengeluh kegerahan memutuskan untuk bekerja di pendopo halaman belakang, biar dapat angin sekalian bisa udud (merokok) katanya.

Tak ada yang menahan, Oga pun keluar membawa laptopnya.
'BRAKKK!!' Suara ketikan keyboard dari tiap-tiap laptop terhenti begitu mendengar seperti suara kardus besar terjatuh dari ruang tengah.

“paling Oga, gak bisa diam.” Celetuk Hana.
Tak lama berselang, terdengar suara langkah kaki berlari-lari di ruang tengah. Kami menatap satu sama lain, sesungguhnya kami tak yakin kali ini ulah Oga karena suara langkah kaki itu cukup ramai, sperti suara anak-anak sedang bermain lari-larian lalu menjatuhkan beberapa barang.
Mendengar hal tersebut, kami hanya saling menatap. Tak ada satu pun dari kami yang berani berbicara membahas soal suara-suara tadi.

Hana dan Elisa merapatkan kursi mereka satu sama lain menjadi lebih berdempetan.
“udah, lanjut kerja aja” ucap Arga.
Suara langkah lari-lari itu kini berpadu dengan suara anak kecil tertawa riang .

“hahahaha , hihihihi” suara itu terdengar jelas menggema. Kami semua terdiam.
“mau urang periksa ?” tawarku.

“Jangan udah, semua disini aja lanjut fokus kerja.” Balas Arga.

Aku pun menyetujui, lagipula sebenarnya kalau pun harus memeriksa ke depan , aku tidak mungkin sendiri. Minimal memanggil Oga untuk ikut menemani.
Suasana malam itu benar-benar mendadak gak enak bgt. Hana pun mulai mengeluh merasa punggungnya berat.

Dia terus menerus mengusap tengkuk lehernya. Aku merasa dari sini, situasi makin tidak beres—
'TOK-TOK-TOK!' Pintu ruang kerja kami terketuk keras, semua menatap satu arah ke pintu.

"TOK-TOK-TOK-TOK-TOK!"

ketukan-nya semakin keras dan bertempo cepat. Arga bangun dari kursinya, dia berjalan perlahan ke arah pintu.
Sekali lagi Arga menoleh kepada kami yang menyaksikannya dengan wajah tegang dari kursi masing-masing.

Kulihat Arga menarik napas panjang, kemudian membuka pintu dalam sekali sentakan. Kita semua terbelalak melihat Oga bermandikan keringat dan tubuhnya gemetar—
"Oga!" kami semua kaget.
Nampak bentol-bentol memerah sangat banyak di kulit Oga, napasnya terengap-engap, Oga seperi orang yang ingin bersuara namun gagap dan tertahan,

"Air cepat air" teriak Arga,
Elisa dengan sigap memberikan satu gelas air mineral
Air itu diminum Oga dalam sekali tegukan, Napas Oga masih terengah-engah seperti orang habis lari marathon.

"Oga, maneh tenang, tarik napas..." Arga menenangkan.
Setelah napasnya lebih teratur, Arga menggiring Oga untuk duduk di kursi Kemudian satu pertanyaan dari mulut arga keluar mewakili semua kepala;

"Kenapa?" Oga menjulurkan tangan padaku isyarat meminta satu gelas air lagi.
Aku ambilkan , dia meminumnya lagi-lagi dalam satu kali teguk.

"Elisa, Jujur sama aku, tadi kamu ke belakang gak?" tanya Oga .

Elisa menjawab dengan menggeleng.
"Nggak ga, dari tadi kita semua gak ada yang keluar ruangan ini" timpal aku.
"Kan, sesuai dugaanku" Balas Oga, dia mengusap-usap dadanya sendiri. kami semua menatapnya tegang.

"Tadi urang ngeliat elisa di kursi goyang pendopo pojok. Urang panggil gak nyaut, urang deketin juga gak nengok. di ajak ngobrol diam aja..." Oga memulai cerita,

jadi begini --
karena penasaran Oga menghampiri Elisa yang terduduk di kursi goyang, namun Elisa tetap tidak menjawab ketika di sapa.

Posisi kursi itu membelakangi Oga tiba-tiba bergerak mengayun, lama-lama ayunannya semakin kencang tidak wajar.
Oga mundur beberapa langkah setelah mendengar Elisa yang terayun kecang dikursi justru malah ketawa aneh. Ketika berbalik badan ingin berlari, langkahnya terhenti dan tubuhnya mematung ketika melihat penampakan --
di lorong toilet yang terletak persis di hadapannya berdiri tegap makhluk hitam setinggi atap lorong sampai kepala makhluk itu agak merunduk karena terlalu tinggi , badannya besar berbulu lebat. Matanya merah, menatap tajam ke arah Oga—
Dirinya ingin berteriak namun lidahnya mendadak kelu dan lehernya menyempit seperti ada yang mencekik. sekujur tubuhnya semakin gatal dan mulai nampak jelas benjolan-benjolan merah menyebar di permukaan kulit Oga.

Wanita berwujud elisa di belakang Oga tertawa semakin keras.
Terdengar suara langkah menyeret dari arah belakang mendekatinya. Oga sulit menoleh, tubuhnya benar-benar mematung, namun bisa dia pastikan langkah itu bersumber dari wanita berwujud elisa yang mulai mendekatinya.

"Astagfirullahaladzim" dalam batin Oga menyebut kuat.
Dia mengumpulkan sisa-sisa keberanian dan tenaganya untuk menggerakan tubuh dan berlari sekencang-kencangnya menuju ke ruang kerja tempat rekan-rekannya berada--Sepanjang langkahnya menuju ruangan, Oga tidak bisa berteriak.
Lehernya terasa semakin menyempit bahkan dada Oga mulai terasa sesak.

Dia mengetuk keras pintu ruangan, setelah beberapa saat diabaikan, beruntung Arga segera membuka-kan pintu.
Satu tepukan dari Arga ke punggung Oga seolah membuka jalur napasnya hingga Oga terbatuk-batuk kemudian di beri Air.
"Urang udah mulai curiga kalau itu bukan Elisa pas dia mengayun kursinya cepet banget dan ketawanya pokoknya bukan elisa banget." Oga menutup ceritanya.

'Hi-hi-hi-hi'

Terdengar suara wanita tertawa menggema dari arah halaman belakang.
Kami semua sontak saling menatap tegang.

"Duh pasti si cewek yg nyamar jd elisa tadi tuh" celetuk Oga dengan suara gemetar.

Seketika bulu-buluku meremang, nampak Hana memegang erat lengan elisa Kami semua merinding hebat, Oga bahkan merapatkan Kursinya ke Arga.
"gimana ini gais" suara oga gemetar ketakutan.

Aku pun bingung, perasaan takut campur cemas seketika menyergap.

Suasana diruangan menjadi mencekam tak karuan.
Tak satupun dari kami (kecuali hana) yang pernah mengalami kejadian mistis seperti ini. Kalau Hana, jangan ditanya.

Dia termasuk orang sensitif, seringkali izin kantor sakit alasannya karena habis kerasukan.
Keberadaan hana justru salah satu yang paling mengkhawatirkan saat ini.

Wanita itu tak henti tertawa, kali ini suaranya terdengar semakin dekat berikut tertangkap telinga suara langkah kaki menyeret.
Kami semua menduga mahkhluk itu sepertinya mendekat ke ruangan kita dari arah halaman belakang—

Kami semua hening dalam ketakutan, sama-sama menyimak suara misterius yang menebar acaman itu.
Suasana ruangan menjadi panas, keringatku menetes deras dari kening.

"aduh gais, ini gak beres ni, aku udah lemes banget." hana mulai merengek ketakutan.

Suara tawa itu menjadi semakin nyaring, derap langkah menyeret pun terdengar semakin mendekat.
Jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya, cemas menanti apa yang berikutnya terjadi. Hana menangis ketakutan, Arga pun mematung seperti menemui jalan Buntu—

-- 'DAK!!'

Lampu Bohlam LED 15 Watt yang baru kemarin kupasang seketika meledak.
Ruangan kami gelap total.

Kami semua terkejut, dan Suara jeritan panik pun pecah.

"KELUAR!"
———BERSAMBUNG——-
Dilanjut hari kamis ya (malam jumat) Buat kalian yang gak sabar langsung aja download E-book lengkapnya, Link :

BAGIAN 1 FULL :
karyakarsa.com/jeropoint/ruma…

BAGIAN 2 :
karyakarsa.com/jeropoint/ruma…
Komando Arga disusul oleh lari seribu langkah menuju ruang tengah—satu-satunya ruangan yang menurut kami paling aman.

Selain arahnya menjauh dari halaman belakang, juga letaknya yang dekat dengan pintu utama.
Meskipun lari ke luar rumah juga belum tentu jadi solusi.

Suara wanita itu berhenti. Kami menghela napas lega. Badan kami melemas, kaki-kaki gemetar, tubuh kami semua bersandar ke sofa.

Hawa ruangan masih terasa panas, bajuku sudah lepek oleh keringat.
"aku shalat dulu" ucap Arga.

Dia menjadi orang pertama yang mengambil inisiatif.

Arga shalat di salah satu ruangan dekat ruang tengah yang memang dialihfungsikan sementara menjadi tempat shalat.
Sayangnya, sajadahnya baru ada satu, jadi kami harus shalat bergantian sampai tiba giliranku shalat.
Aku mengambil wudhu di kamar mandi dalam ruangan. Ruangan ini lampunya sudah redup, jadi agak remang-remang gitu.

Aku berupaya mengumpulkan sisa-sisa keberanian dan mengusir segala pikiran negatif yang menyelimutiku.
Baru saja takbir pertama, aku merasa dibelakangku ada sosok lain yang mengikuti gerakan shalatku.

Kala itu benar-benar menganggu konsentrasiku, aku berpikir kalau pun itu Oga yang memaksakan untuk shalat bareng harusnya dia menepuk pundakku untuk memulai jama'ah—
ketika sujud rakaat pertama, jemari kakiku merasa menyentuh sesuatu.

Aku mengeraskan suara takbir mencoba mengusai kendali berani dalam diri.
Sampai pada saat ketika aku bangun sujud rakaat kedua, betapa terkejutnya aku kala melihat di hadapanku sosok wanita berwajah gosong mengenakan mukena yang mengikut gerakan shalat di hadapanku.

Jadi kami shalat berhadap-hadapan, bisa dibayangkan?
tubuhku lemas gemetar, terduduk diantara dua sujud. Sosok itu persis sekitar 2-3 langkah di depanku. dia mengikuti gerakan shalatku namun membelakangi kiblat (menghadap ke arahku).
Nampak jelas wajah gosong tanpa bola mata hitam (putih semua), Aku kehilangan fokus--aku sempat mematung beberapa saat, dalam hati terus mengucap istighfar.
Pikiranku menemui jalan buntu, entah mengapa aku memutuskan untuk meneruskan shalat, Aku lanjutkan sujud, sosok itu juga sujud mengikutiku, kurasakan kini ujung kepala kami saling bersentuhan—
"Allahuakbar" Takbirku.

"Allahuakbar" sosok dihadapanku ikut mengucapkan takbir.

Sumpah! jika mengingat momen itu, aku masih merinding dan lemas sampai sekarang.
Kala itu rasanya bukan lagi ingin teriak, tapi ingin nangis. Aku coba lanjutkan shalat dengan mata terpejam—

Di rakaat terakhir aku merasa sosok itu sudah tidak ada, namun aku belum berani membuka mata.
Sampai pada mengucap salam, mataku terbelalak, refleksku berteriak begitu melihat wajah sosok itu muncul di sisi kiri ketika aku tengok salam.

“AAAA!!!”
Aku lari sekencang mungkin ke ruang tengah, Semua mata tertuju padaku.

“Ente kenapa?” tanya Oga mewakili

“itu ada...” aku menjawab dengan tergagap.
Mereka memprotes menganggap aku bercanda disituasi genting.

“Kalian pada lihat sendiri aja deh sana!” kesalku
Arga berjalan ke ruang shalat memeriksa, namun dia tidak menemukan apa pun.

Dengan napas yang tersengal-sengal aku menceritakan kepada mereka perihal apa yang aku alami barusan.
“Arif gak bohong, mereka ada. Meraka gak suka sama kita di sini.” Celetuk Hana.

Waktu terasa bergerak lebih lambat. Berhubung lampu di ruang kerja kami mati, maka kami memutuskan untuk bekerja di ruang tengah.
Entah mengapa, kami merasa lebih aman di sana. Secara bergerombol kami memindahkan perlengkapan kerja kami ke ruang tengah kemudian menyusun sekedarnya—asal nyaman.
Tidak ada gangguan berarti setelahnya, sampai aku memperhatikan bentolan di badan oga semakin besar dan menjalar merambat ke bagian kulit lainnya.
Sudah dipastikan itu rasanya gatal sekali karena sedari tadi Oga tak henti mengeluh dan menggaruk-garuk.

Satu botol minyak kayu putih milik Elisa sudah habis dipakainya namun bentolan itu justru nampak semakin menyerbak.
“Ok fix, ini ane mesti mandi lagi” ujar Oga, sejak tadi sebetulnya dia sudah mencetuskan ingin mandi lagi tapi tak kunjung dilakukan, sampai saat ini dia sudah tidak tahan lagi.
Oga meminta aku menemani, aku menoleh ke arah arga, tapi dia langsung menolak dengan alasan kalau para lelaki pergi semua, nggak ada yang jaga cewek-cewek—sebuah alasan yang tak bisa kubantah lagi.
Aku ingat kala itu sekitar pukul sebelas malam aku menemani Oga mandi lagi di toilet kantor yang terletak di pojok belakang sisi kanan bangunan.
Untuk menuju toilet, kami harus lebih dulu melewati lorong sempit yang gelap karena memang belum semua titik spot di bangunan ini sudah terpasang lampu.
Suasana melewati lorong terasa mencekam setelah kami mengalami beberapa kejadian mistis secara beruntun tadi.
Kedua kaki-kakiku seolah selalu siaga memasang kuda-kuda untuk lari bila terjadi hal yang tidak beres lagi.

“jangan kemana-mana, tunggu sini, ane mandi cepet.” Ucap Oga.

“Iyaudah, buruan!” balasku.
‘Elisa?’ pikirku begitu melihat sosok Elisa di ujung lorong.

“Sa! Kunaon?” teriaku menyapa.
Elisa tak menjawab tetapi tangannya melambai seraya memberi isyarat untukku menghampirinya.

Tanpa berpikir Panjang, aku pun menghampiri Elisa.
Elisa berjalan ke arah tangga, dia naik ke lantai dua.

“Sa, ngapain? Di atas kan masih kosong” ucapku.

Elisa menatapku tersenyum.
Penasaran, aku pun mengikutinya di belakang, tetapi Elisa tak mengatakan apa pun.

Setibanya di lantai dua , Elisa berjalan ke arah balkon yang menghadap ke halaman belakang.
Di lantai dua ini benar-benar gelap banget, karena memang tidak ada satu lampu pun yang terpasang.

Baunya pun sangat tidak enak, bahkan kala itu aku mengendus bau bangkai namun coba untuk tidak kuhiraukan.
Aku menyalakan flash ponsel untuk membantu penerangan.

“Sa, tungguin!” ucapku, Elisa terus berjalan tanpa menungguku.
Sedangkan aku berjalan pelan dengan penuh kehati-hatian, masih banyak barang rongsok yang tertimbun di sini, aku takut menginjak sesuatu yang berbahaya.
Elisa berdiri di ujung bibir balkon yang belum memiliki railing pembatas.

Berikutnya yang dilakukan elisa membuat mataku terbelalak. Aku sangat terkejut, Elisa menengok ke arahku, tersenyum, lalu –

MELOMPAT!.
“ELISA!” refleksku berteriak ketika melihat dia terjun bebas.

—BERSAMBUNG KE BAGIAN 2—-
Bagian 2 dilanjut mulai minggu depan yaa. Bagi kalian yang gak sabar langsung aja download E-book lengkapnya, Link :

BAGIAN 1 (+Gambar Ilustrasi) :
karyakarsa.com/jeropoint/ruma…

BAGIAN 2 (+ Gambar Ilustrasi):
karyakarsa.com/jeropoint/ruma…
Kalian Tim nunggu di twitter atau tim gak sabar nunggu sepotong-potong jadi Tim langsung download E-book di karyakarsa nih ? 😁

Btw kalian bisa langsung ambil paket akses Rumah Sisik Full (4 Bagian) langsung loh.
Tapi paket ini terbatas, gas!
Ini linknya:
karyakarsa.com/jeropoint/rewa… Image
-----BAGIAN 2-------

Elisa berdiri di ujung bibir balkon yang belum memiliki railing pembatas. Berikutnya yang dilakukan elisa membuat mataku terbelalak. Aku sangat terkejut, Elisa menengok ke arahku, tersenyum, lalu –

MELOMPAT!.
“ELISA!” refleksku berteriak ketika melihat dia terjun bebas.

Celling bangunan ini cukup tinggi, kemungkinan untuk mati tentu ada, apalagi bila dia membentur batu-batu alam yang ada di halaman belakang.
Aku mempercepat langkahku, kakiku lemas, tubuhku gemetar begitu dari atas melihat Elisa secara jelas telungkup tak sadarkan diri dengan kepala bersimbah darah.
Aku benar-benar syok kala itu—sekuat diri aku berupaya mengumpulkan sisa-sisa tenaga lalu bergerak secepatnya turun ke bawah.

Napasku tersengal-sengal—rasa takut dan panik menyergap hebat seketika membuat badanku basah bermandikan keringat.
Aku menuruni anak tangga yang melingkar, hingga sampai bawah langkahku terhenti oleh suara tak asing,

"Rif!"

“Rif? Maneh kenapa?” Dari ruang tengah Elisa berdiri tegak menyapaku.
Tubuhku mematung kaku, aku syok dan sekaligus juga bingung pada waktu bersamaan,

“Rif? Kenapa tadi teriak manggil?” ucap Elisa sekali lagi.
Aku berjalan ke ruang tengah masih dalam perasaan panik setengah mati, aku menjelaskan kejadian yang aku alami diatas dengan tergagap dan napas tersengal.
Arga memintaku untuk tenang, Hana memberikanku segelas air. Sedangkan Elisa, dia terdiam seribu tanya,

“kenapa aku?” Elisa menjatuhkan sandarannya ke sofa, “Aw!” refleks dia menjulurkan jari telunjuk kanannya— Berdarah.
“Ini bukan jarum, tapi kayak duri mirip sisik ikan” ucap hana.

Elisa tertusuk duri mirip sisik ikan yang tertancap di Sofa yang mana tak sengaja tertekan olehnya.

Darah dari jari telunjuknya tak henti mengalir deras berwarna merah pekat.
‘Dari mana sisik ikan bisa ada di sofa ini?’ pikirku

“BRAK!!!”

Terdengar suara orang terjatuh dari lorong. OGA!
Kami semua serentak menyusul Oga ke toilet. Semua mata terbelalak begitu melihat tubuh Oga terkapar pingsan di lorong depan pintu toilet.
Namun anehnya, sekujur tubuh Oga lepek basah oleh Air. Aku dan Arga menggotong Oga yang bobotnya cukup berat ke ruang tengah, lalu kami rebahkan di Sofa.
Tak lama, Oga tersadar, raut wajahnya langsung berubah panik, mulanya dia menyalahkanku yang meninggalkannya sendirian di toilet—kami berdebat singkat namun dilerai oleh Arga.

Kemudian, Oga menceritakan apa yang dialaminya barusan,

"Jadi begini—"
-
---KESAKSIAN OGA-------

Ketika mengingat kejadian itu, sejujurnya aku sangat dongkol dengan Arif yang meninggalkanku sendirian begitu saja—padahal dia tau, situasi kala itu sedang tidak baik-baik saja.
Namun ketika mendengar penjelasannya barusan, aku rasa, aku juga akan melakukan hal yang sama bila berada diposisinya—eh, tapi nggak juga deh, soalnya itu setan mirip Elisa ngajaknya ke lantai atas, dibawah saja sudah ngeri setengah mampus, apalagi di atas!
Terlebih, bagian itu belum sempat sama sekali kami jamah.
Sebelum aku lanjut menceritakan apa yang terjadi setelahnya, aku akan lebih dulu melengkapi apa yang telah Arif sampaikan—
mengenai sosok makhluk Om Wowo (genderuwo) yang sepertinya malam itu mengincarku sampai aku dicekik olehnya.

“Sateuacan-na, hapunten nya upami bagean abdi rada bodor caritana. Abdi mah teu aya maksad nyingsieunan tapi da emang leres pikasieuneun!”
Dari awal aku sudah memiliki firasat tidak enak dengan ide untuk lembur ini—secara, diawal kita bersih-bersih bangunan ini saja sudah ditemukan barang-barang klenik dan sisa-sisa bekas sajen di setiap sudut-sudut ruang,
---ditambah tempat ini sudah lama banget kosong sampai dinding-dindingnya pada lumutan!

Kalau kata Elisa mah, “Euuuhhh, jijay!”
Firasat nggak enak itu mulai terbukti ketika sehabis magrib, aku merasa suhu ruangan panas sekali, terasa pengap, bahkan angin yang berhembus saja rasanya seperti meniupkan hawa panas.
Entah hanya aku saja yang merasakannya, atau yang lain juga merasakan hal yang sama. Namun jika dilihat, mereka sepertinya biasa-biasa saja, tidak sepertiku yang gusar kegerahan.
Tapi yang pasti, bagiku ini adalah hal yang nggak biasa—mengingat seumur hidup aku tinggal di Bandung, tidak pernah merasakan hawa sepanas ini,
apalagi lokasi kantor baru kami terbilang berada di dataran tinggi Bandung Timur, daerah perbukitan yang mana seharusnya angin berhembus lebih dingin.
Baju yang aku kenakan sudah lepek oleh keringat. Sekujur tubuhku mulai merasakan gatal-gatal—
berpadu dengan keringat yang mengalir deras membuat rasa gatal itu menyerbak cepat ke hampir seluruh bagian badan sampai aku memutuskan untuk bekerja di pendopo halaman belakang guna mendapat semilir angin segar,
namun yang kudapat justru malah salam perkenalan paling buruk yang pernah kudapati selama menjomblo—eh maksudnya, selama hidup.
Setelah diganggu oleh setan mirip Elisa, suara mbak kunti kurang perhatian alian caper, serta derap langkah anak kecil berlari-lari seperti di kidzone  , hingga puncaknya kami dikejutkan oleh bohlam LED ruang kerja yang meledak.
Rentetan teror itu membawa berkumpul di ruang tengah—satu tempat di bangunan ini yang menurut kami paling aman.

Padahal sebenarnya nggak juga sih !
Satu botol minyak kayu putih milik Elisa sudah hampir habis kugunakan untuk melawan gatal, namun tetap saja terasa tak mempan—rasa gatal itu sekarnag telah menjelma menjadi bentol-bentol yang menjalar ke seluruh badan dan wajahku.
Aku pun memaksakan diri untuk mandi karena sudah benar-benar tidak tahan akan rasa gatal nan panas yang mana sensasinya mirip seperti terkena sengatan ulat bulu.
Seperti yang sudah kalian tahu, aku juga masih memiliki rasa takut dan was-was. Atas dasar itu, aku meminta Arif menemani.

Lorong gelap dan lembab adalah spot menantang yang harus dilalui sebagai rute satu-satunya menuju kamar mandi.
Sensasi bulu roma meremang sudah pasti menyelimuti dalam senyap ketika melintasi lorong tersebut.

“Rif , maneh tunggu sini yak, jangan ninggalin ane” Kukira permintaanku pada Arif sudah tersampaikan dalam kalimat yang cukup jelas.
Aku masuk ke dalam bilik kamar mandi yang lembabnya terasa sampai hidung, dinding-dindingnya dan plafon atasnya jangan ditanya, sudah pasti belumut dan kusam.
Bilik ruang mandi ini berukuran 1 x 1,5 Meter—terdapat satu kloset jongkok dan ember bekas cat yang digunakan sebagai penampung air.
Sensasi rasa gatal dan panas ini bersatu menyiksa, tanpa membuang waktu lama, aku menganyunkan gayung demi gayung.
Satu keanehan yang kusadari, rasa gatal ini hilang ketika diguyur air membuatku terus menerus membasahi tubuh tanpa henti.

“TOK-TOKK-TOK!!!” pintu kamar mandiku tergedur keras
“Kunaon Rif?” tanggapku, tapi tak ada jawaban.

“TOKKK-TOKK-TOKKK-TOOKK!!!”

Gedoran pintu itu semakin keras.
Aku pikir itu Arif, karena kesal aku membuka sedikit pintu, lalu melongok keluar,

Namun tak ada Arif atau siapa pun—kosong!
Bulu romaku seketika meremang, perasaan merinding dan cemas seketika menyelimuti.

Buru-buru kuayunkan gayung lebih cepat untuk menuntaskan mandi, namun tiba-tiba pintu kamar mandi tergedor lagi,
“TOKK!!!”
“TOOKK!!!”
“TOKK!!!"

Kali ini tergedur lebih keras seraya seperti orang ingin mendobrak paksa. Tentu aku ketakutan bukan main—aku berada disituasi mati kutu.
Nyaliku menciut, tak cukup berani untuk membuka pintu tersebut. Aku yang sejatinya telah selesai mandi hanya bisa terdiam karena ragu atau lebih tepatnya takut untuk melangkah keluar,

“Rif?”
“Arif? Gak lucu aii maneh” ucapku memanggil-manggil Arif berharap ini hanyalah keusilannya.

“Rif?” aku memanggil untuk yang kesekian kalinya namun masih tak ada jawaban.
Baru juga mandi, sialnya keningku sudah berkeringat lagi karena panik. Namun aku sedikit bernapas lega ketika kudengar suara Arif menyahut,

“iya?”

“Rif , ah gak lucu” sontak aku membuka pintu melangkah keluar,
Namun mataku terbelalak begitu melihat makhluk berbulu hitam lebat, bermata merah menyala dan memiliki bobot tinggi besar sampai sosoknya merunduk karena mentok dengan plafon lorong—makhluk itu menatapku tajam, nampak kulihat kuku-kukunya yang meruncing tajam,
lalu detik berikutnya sosok yang kutahu sebagai genderuwo itu berlari cepat ke arahku layaknya binatang buas yang ingin menerkam mangsanya!
Aku kaget ketakutan sampai jatuh ke belakang dan ketika makhluk itu sudah dekat, dia melompat menyergapku—dari situ seketika pandanganku gelap dan aku tak ingat apa-apa lagi.
Aku sendiri nggak tahu bagaimana bisa aku basah kuyup, padahal posisi ketika diterkam aku terjatuh di luar kamar mandi, ya walaupun masih di ujung pintunya sih.
Aku tersadar sudah berada diruang tengah, kupikir wajah yang pertama kali kulihat setelah sadar ialah malaikat yang menanyakan,

‘siapa nama tuhanmu?’.
Tapi untung saja, wajah orang yang paling ingin kucaci maki kala itu yang pertama kali kulihat—siapa lagi kalau bukan orang yang meninggalkan aku sendirian—Arif.

“Udah, mending kita pulang aja!” catusku, merasa semakin malam, situasi malah kian nggak beres.
“kalau kita pulang, gak ada jaminan kita selamat. Gimana kalau salah satu dari kita udah ketempelan?” ujar Hana.

“Dan yang ada kita malah tambah ancur!” timpal Arif.
“Kalian dengar ya, mereka gak akan melepas kita gitu aja, satu-satunya yang aman buat pergi ialah pas langit udah terang” pungkas Hana.

“Maksudnya?” pertanyaan Elisa mewakili setiap isi kepala kami.

“Kalian cuma bakal mikir aku halu kalau aku jelasin” ketus Hana.
Entah mengapa keadaan menjadi tegang dan rumit. Hana yang kita kenal sebagai orang sensitif yang sering kerasukan tiba-tiba berbicara hal yang penuh tanda tanya dengan nada serius.

Kami semua terdiam, terjebak di ruang pikiran bernama ‘bingung’—bagaimana harus menyikapinya.
“Udah, terlepas dari apa pun, kita semua sudah mengalami teror langsung yang mana harusnya kita sepakat kalau kita sekarang sedang diganggu. Ini bukan situasi yang aman. Di luar gelap, dan nggak ada satu pun dari kita yang hapal daerah sini, benar nggak?” Arga menengahi kami.
“Dibanding nanti malah makin ngaco, bisa jadi diluar akan lebih bahaya buat kita. Badan kita juga udah capek, jadi aku setuju sama Hana, terlepas apa pun alasannya, menunggu pagi lebih baik untuk meminimalisir kemungkinan resiko yang lebih besar—
--yang penting, kita tetap bareng-bareng” tegas Arga.

Kami semua tak ada yang membantah apa yang dibicarakan Arga—ada benarnya, berada di alam liar lebih berbahaya dibanding di satu bangunan, ya walaupun nggak ada yang bisa menjamin mana pilihan yang lebih aman.
Tapi setidaknya, kemungkinan terpisah atau terpencar akan lebih tinggi jika kita berada di luar—itu sejatinya yang paling aku pribadi khawatirkan.

“Hadeuh, mana nggak ada sinyal lagi ah!” keluh Arif, mengayunkan ponselnya seperti antena pemancar yang tengah mencari sinyal.
“Sejak awal mereka udah nggak suka sama keberadaan kita” kalimat misterius lagi-lagi dilontarkan oleh Hana.
“Hana, Maneh kunaon sih?!” ucapku frustasi, sambil menggaruk-garuk bentol yang membuatku serasa ingin buka baju lalu menari sambil menggesekan badan ke tiang seperti penari striptis!

Jangan senyum-senyum kalian, nggak baik tertawa diatas penderitaan orang tauk!
Kami merunut kembali kejadian demi kejadian aneh yang dialami, mulai dari pagi tadi Arif melihat sosok yang menyerupai Elisa di kursi goyang halaman belakang, hingga terakhir Arif juga masih melihat sosok yang sama—menjelma Elisa lalu melompat menjatuhkan diri dari lantai dua.
Arga menyimpulkan bahwa saat ini Elisa lah yang menjadi target sasaran dari ‘Mereka’—Arga meminta Aku dan Arif untuk perketat pengawasan dan tidak lengah terhadap Elisa selama sisa malam ini demi menghindari hal-hal buruk yang tidak diinginkan.
Berikutnya, untuk mengalihkan perhatian, kami lanjut bekerja meski tidak dapat dipungkiri bahwa pikiran masing-masing dari kami masih terjerembab di rentetan kejadian diluar nalar yang menimpa hari ini—
serta ragam kekhawatiran-khawatiran dan praduga atas kemungkinan terburuk berujung pada hadirnya rasa cemas menyelimuti kami atas apa yang akan terjadi selanjutnya.
Mencoba meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja itulah yang saat ini kami upayakan demi menjaga situasi tetap kondusif.

“TOK-TOK-TOK!” seketika pintu utama tergedor.
“TOK-TOK-TOK!” tergedor sekali lagi.
Kami semua hanya saling menatap satu sama lain. Setelah apa yang terjadi, bunyi suara pintu terketuk menjadi momok menakutkan saat ini bagi kami.

“TOK-TOK-TOK!” Ketukan berikutnya lebih keras.
Aku jelas sudah tidak berani untuk membuka pintu, aku masih memiliki trauma dengan suara ketukan pintu. Arif mengajak Arga untuk memeriksa bersama.
Pintu itu masih terus terketuk, nyaliku seketika menciut lagi. Dalam hati aku terus merapalkan ayat-ayat doa sembari berusaha sekuat tenaga mempersiapkan diri menyambut kemungkinan terburuk yang ada dipikiranku terjadi.
Arif berada satu langkah di belakang Arga, ada perasaan getir yang kulihat melintas di raut wajah mereka yang sesekali menoleh ke belakang.
Arga membuka pintu dengan cepat dalam satu tarikan napas, berikutnya kami semua ikut menghela napas lega begitu mengetahui ternyata itu adalah Ojek Online yang mengantarkan makanan yang sempat kami pesan sebelumnya—
tidak ada notifikasi diponsel karena memang tidak satu pun dari kami mendapatkan jaringan sinyal. Aku pun tak tahu bagaimana bisa pesanan itu sampai dan diterima mang ojol.
Namun, bukan kotak makanan yang penjadi perhatianku, melainkan keberadaan si mamang ojol yang baru saja motornya berbalik arah,

“GUYS! KEJAR IKUTIN MANG OJOL BUAT CABUT!” spontanku.
Sontak semua kepala menanggapi dengan bergegas bangun beranjak kecuali Hana yang harus ditarik paksa oleh Arif. Kami melangkah terburu-buru menuju parkiran untuk mengambil motor masing-masing tanpa memikirkan barang bawaan lainnya selain kunci motor—
Arga membonceng Elisa, Hana bersama Arif, dan aku satu-satunya motor tanpa penumpang belakang.
Geraman mesin motor kami saling beradu memacu kecepatan mengikuti deru mesin motor milik mang ojol yang suaranya sudah semakin menjauh.
Kami berkendara saling beriringan membelah jalanan gelap.

Namun sialnya, kami kehilangan jejak mang ojol tersebut dan malah terjebak di persimpangan jalan yang tak kami kenali,
“halaahh sia boyyy!!!!!” gerutuku, ingin sekali rasanya lidah ini menyambat kasar namun mendadak kelu ketika melihat pohon-pohon berakar merambat memenuhi sisi kiri dan kanan kami.
Tak ada yang tahu pasti persimpangan mana yang mengarah ke jalan keluar, kami hanya menerka berdasarkan intuisi arah angin dan posisi bulan yang menjadi mata kompas,
“berasa hidup di jaman purba aing, sinyal eweuh, jalanan gelap!” Aku terus mengutuk situasi yang amat menyebalkan ini.

“Cocok sama muka maneh—manusia purba” ledek Arif.

“udah ah , berisik!” lerai Elisa, aku yang ingin membalas jadi bungkam.
Pernah dengar peristiwa kesasar di labirin? Ya, itu yang terjadi pada kami! Sudah empat kali kami memutar di persimpangan berbeda namun selalu berujung kembali ke kantor dan bila diteruskan, kami tetap menemui jalan persimpangan yang sama lagi seperti sebelumnya.
Sudah bisa kalian tebak, disepanjang jalan kami terus berdebat yang mana tak ada satu pun dari kami yang menunjukan jalan yang benar, semua sama—arah mana pun yang kami ambil, selalu membawa kami kembali lagi ke kantor terkutuk itu.
Kali ini putaran ke lima, tiba-tiba entah dari mana asalnya, kabut tebal seketika turun menyelimuti menganggu jarak pandang kami yang menjadi hanya sebatas dua jengkal.
Jangankan melihat jalan, wajah anak-anak pun tak terlihat tertutup kabut—hanya lampu sorot motor yang nampak dipandangan,

“Ya Allah, apa lagi ini!”

“Hati-hati guys, fokus, jangan sampai ada yang misah” Teriak Arga.
Hawa dingin menusuk seketika mendekap kami,
“MA-TI”
Suara bisikan kuat terdengar di setiap telinga dari kami,

“Astagfirillah, pada dengar gak?” Arif berteriak panik.

“BALIK! CEPET!!” Sentak Hana. Kami pun menuruti karena pilihan satu-satunya untuk berlindung ialah dengan kembali ke kantor.
Dengan penuh was-was kami melintas menembus kabut, beruntung jarak ke kantor dari tempat kami berhenti tadi tidak lah jauh. Kami kembali memarkir motor, kemudian masuk ke dalam dan duduk berkumpul lagi di ruang tengah.
“aku bilang juga apa” gumam Hana seraya menyalahkan setiap dari kami yang mengabaikan ucapannya—tak ada yang menyahut, hanya suara deru napas cepat yang terdengar diantara hening dan putus asa.
Dua kotak roti bakar dan martabak yang tadi diantar mang ojol menjadi pengingat perut yang ternyata lapar.
Haduh, bagian selanjutnya ini biar Arif aja lagi ya yang menceritakan—paling ngeri kalau inget kejadian yang ini.

'Sok lah Rif, mangga diteruskeun.'
---Back To P.O.V (Sudut Pandang) Arif---

"Halah sia si Oga, emang dipikir maneh doang yang nge-down, habis kejadian itu seminggu lebih ya—aing nggak bisa tidur gara-gara kepikiran terus!
"
Kami menyantap bersama di ruang tengah, Oga mulai kembali dengan keahliannya memecah suasana yang hening.
Setelah itu, Arga mempersilahkan kami untuk tidur, tapi aku lihat dia terus melanjutkan menuntaskan kerjaan seorang diri, jadi aku yang merasa tidak bisa tidur memutuskan untuk menemani Arga bekerja.
Sekitar pukul setengah empat dini hari; Oga, Hana, dan Elisa sudah terlelap di Sofa. Sedangkan Aku dan Arga masih terjaga, sepanjang waktu berjalan kami mendengar suara derap langkah kaki seperti anak-anak sedang berlari-lari di lantai dua,
sesekali terdengar suara benda terjatuh, namun Aku dan Arga memutuskan untuk tidak memperdulikannya selagi mereka tidak menganggu kami secara langsung.
Elisa terbangun, dia membangunkan Hana untuk minta ditemani ke toilet. Begitu mereka beranjak bangun, Argak menyelak,

“Han, biar urang sama Arif aja yang nemenin. Maneh di sini aja gapapa sama Oga.”
Arga nampak khawatir membiarkan dua orang wanita ke toilet tanpa ditemani. Tanpa pikir panjang, aku pun mengangguk menyetujui maksud ucapan Arga.

Kami menemani Elisa ke toilet dan menunggu persis di depan pintu toilet.
Ditengah menunggu, imajiku membayangkan sosok makhluk genderuwo yang menyerang Oga di lorong ini—gila, gede juga! Pikirku sembari menengok mengukur tinggi dari lantai ke plafon lorong ,

Tak lama elisa keluar dengan raut wajah panik.

“Kenapa?” tanyaku
“Tadi ada suara cewek yang ketawa di samping telinga aku” Elisa gemetar ketakutan, napasnya berderu cepat.

“udah-udah, jangan lama-lama di sini, ayuk balik.” Potong Arga.
Sesampainya di ruang tengah, suasana lagi-lagi mulai terasa nggak enak. Aku memperhatikan Hana yang sedang duduk mendekap kedua kakinya sambil mendongak ke atas menatap satu arah ke arah lantai dua.
“Han, gapapa?” tanyaku, tetapi hana tak menjawab.

Dirinya tak bergeming, pandangannya menetap ke arah lantai dua seperti sedang menanti sesuatu yang akan datang dari sana.
“Han?” tegurku sekali lagi, namun hana tetap tak menjawab.

Aku menatap Arga memberikan isyarat, sungguh, saat itu aku sudah merasa ada yang tak beres dengan hana. Tetapi Arga justru merespon dengan mimik gerak mulut yang kubaca;

“Udah biarin aja.”
Namun hal yang kukhawatirkan pun terjadi—benar saja, tak selang berapa lama, Hana tertawa sendiri.

Suara tawanya terdengar aneh—terdengar asing ditelinga meski kutahu itu memang suara hana, akan tetapi cara tertawanya seperti bukan dirinya.
Hana menyeringai lebar, pandangannya masih menatap ke arah atas. Semakin lama, tawa hana semakin keras melengking sampai Oga terbangun, Elisa pun mulai ketakutan, dia menjauhi Hana dan menepi ke belakangku.

“Ya allah, ini kenapa lagi?” Oga mulai panik.
Hana tak henti tertawa melengking, aku bisa memastikan kala itu sudah bukan lagi Hana— Dia Kesurupan.

Hana berhenti tertawa, dia menoleh ke arah kami yang dibelakangnya. Aku melihat dimatanya sudah tidak ada bola mata hitam—putih semua!
“MATI!” sentak Hana,

Kemudian raga Hana berlari dan melompat-lompat seperti kera (monyet) menuju ke halaman belakang, sontak kami semua menyusul mengejar Hana.
---Bersambung Ke Bagian 3---

Bagian 3 dan 4 kalian bisa lanjut baca di versi e-boook karyakarsa ya, karena dua bagian berikutnya akan terlalu panjang bila di up ke format thread Twitter.
Di versi E-Book kalian dapat lebih nyaman membaca dengan cerita yang lebih rinci dan telah dilengkapi dengan gambar ilustrasi berdasarkan kejadian yang terekam.
BLURB BAGIAN 3:

Hana kerasukan siluman kera (monyet) hingga membuat dia tidak terkendali. Malam itu semakin brutal ketika diwaktu bersamaan, Oga dicekik oleh Genderuwo--
--Bahkan solusi melakukan upacara ruwatan atau ritual agama juga berujung pada kesurupan masal hingga memakan korban pertama—meninggal dunia!

Link download Bagian 3 :
karyakarsa.com/jeropoint/ruma…
RUMAH SISIK - BAGIAN 4 (TAMAT)

Satu teka-teki mengenai asal usul rumah tersebut terkuak, namun proses residual energi yang dilakukan di rumah sisik malah membawa petaka yang mana membuat mereka terjebak di dua frekuensi dimensi berbeda.

Link download: karyakarsa.com/jeropoint/ruma… Image
Rumah Sisik merupakan tulisan yang telah melalui proses panjang, saya pastikan kalian akan mendapatkan pengalaman sensasi membaca horor berbeda di E-Book Rumah Sisik.

Terima kasih buat teman-teman yang telah mengapresiasi karya saya, sampai bertemu di cerita selanjutnya!
Guys, kalian bisa membaca versi E-Book Rumah Sisik- bagian 4 untuk dapat info akses dukomenter Rumah Sisik - Reveal Story .

Thank you
Finally!

Live Streaming Exclusive!

”Penelusuran Rumah Sisik”

Bersama Jeropoint dan Narasumber : Arif, Oga, Arga, Elisa dan Hana! 

Limited user only!
Get Your Ticket to watch Now!

Klik link : karyakarsa.com/jeropoint/live… Image
Dan juga akan bergabung 5 orang pembaca terpilih yang akan mengikuti penelusuran ini bersama kami.
Belasan Makhluk Gaib, Siluman, dan Penampakan Kakek Kepala Buntung yang menggelindingkan kepalanya menjadi misteri yang menanggalkan banyak kisah kelam.

Exclusive! Penelusuran Rumah Sisik disiarkan langsung dari tempat kejadian!

14 Mei 2022, mulai pukul 20.00 (Durasi 6 jam+)
Live Streaming ini memiliki kouta terbatas hanya dapat ditonton 1000 User demi memberikan pengalaman menonton terbaik dan dilengkapi dengan fitur live chat, jadi kamu bisa terhubung berinteraksi secara langsung dengan saya dan para narasumber.
Jadi saksi dari perjalanan penelusuran ke Rumah Sisik, temui para narasumber yang akan memberikan kesaksiannya melalui sajian audio visual secara langsung!
Ambil akses menonton sekarang sebelum kehabisan!
Sampai bertemu dilayar, siapa tahu kamu melihat apa yang tidak kami lihat.
Get Your Ticket Now!

Link : karyakarsa.com/jeropoint/live…

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with DUSUN MAYIT DI BIOSKOP!

DUSUN MAYIT DI BIOSKOP! Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @JeroPoint

Apr 4, 2024
Di rawa besar yang menjadi hilir dari tempat ditemukannya mayat-mayat hanyut yg hilang.
Seorang pengemudi perahu (nelayan) mengatakan bahwa ia ketemu seorang bapak yg mau pesugihan menumbalkan anaknya sendiri.
"Bapak itu minta di antar ketemu kuncen desa."

A Thread.
#CeritaSerem
Waktu itu gak sengaja singgah ke sebuah rawa besar yang tersohor di Jawa Tengah. Sejatinya tempat itu sangat indah, saya memutuskan naik perahu mengelilingi rawa yang lebih pantas disebut danau.
Saya gak sebut nama rawanya yah, karena kalian orang sekitar pasti tau betul sama rawa ini.  

Sudah bisa tebak dimana? ..

Pas di dermaga sebelum naik perahu, ngobrol sama pemancing, dia bilang--
Read 29 tweets
Feb 12, 2024
“Mereka me-ruqyahku, tapi aku tidak melihat mereka mengeluarkan sesuatu dari dalam diriku, tapi justru malah memasukan ‘jin’ lain ke dalam tubuhku.”

Utas singkat dari balik ‘Pondok’
- A Thread-
#CeritaSerem Image
Mungkin judul utas di atas menyisakan pertanyaan “Loh, kok bisa? Bukannya ruqyah membersihkan diri? kenapa jadi sebaliknya?” ...

Betul, sejatinya Ruqyah ialah salah satu bentuk ruwatan diri yang memiliki segudang manfaat--
Namun sayangnya, banyak ‘oknum’ yang memanfaatkan label ruqyah tersebut untuk kepentingan pribadi. Kisah singkat ini menjadi satu dari sekian banyak contoh kasusnya.

Silahkan tandai, RT, tinggalkan jejak atau markah judul thread teratas agar tidak terlewat update-nya.
Read 44 tweets
Jan 25, 2024
“Aku yakin betul naik kereta malam itu, tapi orang-orang melihat aku jalan kaki di atas rel.”

KERETA MALAM
-PEMBERANGKATAN TERAKHIR-
A THREAD

#CeritaSerem Image
Kisah ini terjadi pada 2006 silam, kala itu santer rumor beredar mengenai 'pemberangkatan terakhir ialah kereta gaib'.

Sila tinggalkan jejak, RT, like atau tandai dulu judul utas di atas agar thread tidak hilang atau ketinggalan update.
Maleman kita mulai.
Ini sepenggal kisah yang sampai sekarang membuatku parno naik kereta di jam malam. Peristiwa itu amat melekat diingatan bagaimana aku menempuh perjalanan tanpa sadar JKT-YK dalam waktu hampir 5 hari tapi rasanya waktu berhenti di satu malam pertama--
Read 45 tweets
Jan 18, 2024
Tau info mengenai Pasar Setan di gunung salak? …

Satu dari ke-lima pendaki ini seketika kejang-kejang. Saat mereka berupaya turun, mereka malah terjebak masuk ke pasar yg sebelumnya tak pernah mereka lihat.

"KAMI DITERIAKI SURUH PULANG.”

A Thread
#ceritaserem Image
Tinggalkan jejak atau tandai judul utas di atas agar tidak hilang.
Kalian yang suka mendaki ada pengalaman ganjil selama nanjak?
Sambil nunggu cerita ini up, boleh cerita di reply ya.

Maleman kita mulai …
-- Mari Kita Mulai--

2012,
Waktu itu, aku baru lulus SMA. Lagi masa tenang setelah UN. Salah satu juniorku minta diantar untuk 'nanjak' ke gunung salak.

Rombongan mereka tak banyak, hanya 4 orang : 2 perempuan, 2 laki-laki.
Read 38 tweets
Jan 16, 2024
Dalang ditemukan tewas saat mencoba memp*rkosa sindennya.

“SINDEN BUKANLAH PELACUR YANG BISA KALIAN ‘PAKAI’ SEENAKNYA!”, ucap Rinjani sebelum pingsan di samping jasad si dalang yang kepalanya sudah melintir dengan tusuk konde yang menancap di telinga.

#SindenGaib #KisahNyata Image
Di pedalaman Trenggalek, ada sebuah urban legend tentang sosok arwah sinden yg gemar mendatangi dan merasuki sinden-sinden cantik dgn suara yg indah.

Namun, dalam satu pagelaran, akan ada korban yg hilang.

Mengapa?
Sila tandai, Like atau tinggalkan jejak, nnti malam kita mulai
Cerita tentang sinden ini bukanlah rahasia umum lagi, terutama di dunia kesenian tradisional
tanah Jawa, yaitu pewayangan. Sinden merupakan kunci utama untuk menampilkan eloknya
iringan lagu dengan nyanyian yang terdengar menyayat meski merdu.
Read 80 tweets
Jan 10, 2024
Hati-hati buat kalian yang rambutnya suka rontok.

“Keluargaku meninggal satu orang, setiap tahun”

-A THREAD-
#CeritaSerem Image
Foto di atas dikirim oleh narasumber yg menemukan gumpalan rambut tertamam di halaman rumahnya.

Silahkan tandai, RT atau like judul utas di atas agar tidak hilang. Nanti malam kita lanjut.
--Mari kita mulai--

Panggil saja aku Yuli, Sudah tiga tahun ini, keluargaku satu per satu meninggal secara tidak wajar. Anggota keluarga kami terdiri dari 5 orang, dan sekarang hanya tersisa 2 (Aku dan Ibu).
Read 31 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(