Perubahan iklim dan berbagai aktivitas lainnya di lautan mengancam kelangsungan hidup puluhan ribu spesies laut.
Sekelompok peneliti dari Universitas Queensland dan pakar kelautan dunia mengembangkan kerangka kerja dan mengategorikan berbagai ancaman yang dihadapi lebih dari 45.000 spesies laut. Bahaya ini mulai dari perubahan iklim, polusi lautan, hingga aktivitas penangkapan ikan.
Nathalie Butt dari UQ's School of Earth and Environmental Sciences, mengungkapkan sejumlah spesies yang paling rentan akibat perubahan ekosistem laut. Mulai dari jenis moluska, karang hingga spesies echinodermata (hewan laut berkulit keras atau berduri).
"Mereka terpengaruh oleh penangkapan ikan dan tangkapan lainnya, polusi, dan perubahan iklim. Selanjutnya, karang pot bunga yang banyak ditemukan di Samudra Pasifik dan Hindia, masuk kelompok yang bisa stres karena perubahan iklim," ujar Butt.
Penelitiannya juga menemukan bintang laut, siput laut, hingga ikan terbang, masuk biota yang juga rentan menghadapi perubahan iklim ini. Menurut Butt, perubahan lingkungan bisa berjalan sangat cepat karena berbagai aktivitas manusia yang berhubungan dengan laut.
Seperti penangkapan ikan berlebihan, menggunakan alat tangkap yang bising, hingga serampangan membuang sampah di laut.
Laut Menghasilkan hingga 80 Persen Oksigen di Dunia
Hutan kerap disebut sebagai paru-paru dunia lantaran jadi penghasil utama oksigen yang dihirup manusia. Nyatanya, laut juga memiliki sumbangsih cukup besar terhadap keberadaan oksigen.
Lautan diestimasikan menghasilkan 50-80 persen oksigen yang ada di bumi. Sebagian besar oksigen dari lautan dihasilkan oleh biota terkecil yakni plankton.
Cara plankton menghasilkan oksigen juga sama seperti pohon, berfotosintesis menggunakan klorofil dan cahaya matahari.
Para peneliti mengungkapkan bahwa kapasitas oksigen yang dihasilkan di tiap wilayah ini berbeda-beda. Tergantung pada berapa besar nutrisi yang terkandung di lautan yang bisa dikonsumsi plankton.
Tingginya kandungan protein dan vitamin bikin ikan yang mirip belut ini jadi primadona terutama di Jepang.
Sayangnya, eksploitasi hingga penyelundupan benih sidat (glass eel) bikin ikan yang satu ini semakin langka.
Bahkan beberapa jenisnya yang cuma ada di Indonesia, masuk kategori spesies rentan hingga terancam punah versi Internasional Union for Conservation of Nature (IUCN) pada tahun 2019.
European Eel dan Japanese Eel statusnya endangered dan critically endangered alias sudah terancam punah. Anguilla Borneensis, Indonesian Longfinned Eel dalam kondisi rentan.