Heri Widianto Profile picture
Jul 8 803 tweets 88 min read
@bacahorror
@threadhororr
@IDN_Horor
#ceritahorror
#rumahtusuksate

Biar nggak terlalu panjang, sengaja aku potong di bab ini.
Dan yang belum baca bab 1 - 13, silakan:
Bab 14 : Seperti Menunggu Giliran
Cerita kepala dan badan terpisah dan gosong di toilet lantai dasar mal, berlanjut.
Ditemani televisi yang sedang menyiarkan berita gosip, Zainal melanjutkan kisah Ade yang didengarnya semalam dengan wajah tertekan, setelah berhasil menenangkan Restu.
Sampai-sampai, hari ini Zainal minta izin untuk tidak ikut pameran di hari pertama. Selain tidak enak badan, kejadian semalam cukup memukul mentalnya.
Hari ini, setelah koar-koar melalui WhatsApp group, tiga penghuni kos berkumpul di ruang tamu lantai dua, kecuali Dirga dan Ibnu. Ganda sempat kesal karena berkumpul hari ini adalah ide Ibnu, tetapi diusirnya cepat-cepat perasaan itu.
Mereka beralasan masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Jadi, keduanya minta pemakluman kalau sampai terlambat datang.
"Hantu gosong itu ternyata arwah penasaran?" buru Ganda yang pernah mendengar cerita yang sama dari Erna. Tengkuknya seketika meremang. Setelah menoleh, dia geser tempat duduknya supaya tidak membelakangi tangga menuju rumah induk.
Takut kalau ada yang tiba-tiba muncul dari bawah tangga.
"Menurut penelusuran Pak Ade, dulu sebelum adanya bangunan mal dan bangunan-bangunan lain sebelumnya, tempat tersebut jadi ladang pembantaian pribumi oleh penjajah. Banyak sekali arwah bergentayangan."
"Tapi badan sama kepalanya kok bisa pisah? Temenku nggak pernah cerita yang model beginian."

"Sebelum dibakar, ada juga yang dipenggal kepalanya."
Dia meneguk ludah. "Kejam sekali. Apa semua orang yang sudah mati akan seperti itu?" Ganda meralat perkataannya, "Maksudku, bukankah seseorang yang sudah mati akan terbebas dari segala rasa sakit?"
"Hanya yang masih punya urusan di dunia yang akan menuntut keadilan. Mereka akan gentayangan."

"Seharusnya mereka sudah tenang. Paling nggak, penjajah-penjajah itu tidak mungkin masih hidup sampai detik ini...." Mendadak wajah Ganda murung.
"Kata Pak Ade, tangisan mereka juga terdengar menyayat. Mulai dari anak kecil sampai kakek-kakek. Sampai-sampai Pak Ade nggak tega mau u―"
"Ini artis bukannya yang kemarin dilabrak terus direkam sama temannya itu, ya? Niat banget biar masuk berita gosip," potong Mario santai.

"―sir mereka," imbuh Zainal. Tercetak jelas kesal di wajah mereka saat meneleng berbarengan.
Keduanya menoleh kepada Mario yang sejak tadi tidak ikut nimbrung. Memicing. Mereka pikir, Mario mendengarkan cerita. Ternyata dia asyik menonton acara tivi.
"Dari dulu dia suka bikin ulah, sih," Mario melanjutkan kalimatnya. Tak sadar sedang diawasi dan yang mengawasi bersiap mengulitinya hidup-hidup.

"Cantik bener aslinya," timpal Zainal.
Kali ini Ganda memelototi keduanya. Tidak habis pikir Zainal juga semudah itu terdistraksi.
"Emang ya, dunia makin tua. Banyak yang nggak tahu malu dan bangga kalau aibnya tersebar se-Indonesia. Mereka apa nggak mikir kalau ada orang rumah yang tahu? Apa nggak ditanya waktu ada acara keluarga?
Nggak mungkin kan seliar itu? Nih kalau sampai kejadian sama aku, sudah pasti diusir dari rumah. Dicoret dari kartu keluarga!" gerutu Mario sok bijak.
"Menurutku, kamu nggak bakal laku kalau jadi artis beneran, Mario," sindir Ganda geram karena kena interupsi.

"E, kok bisa?" Mario membalas tidak terima.
"Ya, palingan sama juga kayak yang muncul di tivi. Jual sensasi biar dikenal orang, tapi nihil prestasi." Ganda berdecak sebal. "Cuma kalau ada prestasi ngibulin orang, kamu bisa jadi juaranya."
Zainal tergelak. Tangannya terangkat, beradu tos dengan tangan Ganda.

Alis tebal Mario saling bertaut. Dia dorong jidat Zainal dan Ganda, bergantian. "Brengsek!"

Bukannya marah, tawa keduanya malah melahar.
"Tapi aku kok suka, ya, sama ending-nya pas di restoran. Seru waktu si anak ninggalin yang didamprat sambil tetep ngomel, dan masih terekam. Tapi di tivi kok disensor, ya?" Mario mencoba menetralkan suasana setelah Zainal dan Ganda menipiskan tawanya.
"Namanya tivi nasional. Nayangin video ada omongan: pelacur, sudah pasti kena sensor sama KPI. Kasih surat peringatan, lama-lama bungkus acaranya. Apalagi kalau sampai polemik," urai Ganda.
"Mirip kerjaan HRD, ya?"
Ganda meletakkan telunjuknya di bibir. "Sssttt...." Dia sikut lengan Mario saat Ibnu melangkah dengan wajah memelas. Melewati mereka tanpa berkata-kata, apalagi menyapa. Kemudian Ibnu memutar kunci kamar dan bersiap masuk.
Sepanjang perjalanan Ibnu itulah, Mario mendengus saat Ganda menendang kakinya pelan.
"Palingan pas kerja ngitung duitnya kurang terus disuruh nombok sama atasannya." Zinal turut masuk ke pembahasan sambil mengangguk-angguk sendiri. "Apa yang bisa bikin mood dia jelek selain nggak punya duit sama kurang tidur?"
Sontak Ibnu berbalik badan. Yang lain pun ikut terkejut. Apalagi Ibnu langsung ikutan duduk dan mulai bicara kepada ketiga orang itu. Mereka takut dikepruk. "Beberapa hari yang lalu dan berjalan sampai sekarang, aku masih kepikiran.
Aku ngerasa ada yang aneh sama kos ini. Apalagi pas naik tangga tadi. Merinding. Kalian ngerasain juga, nggak?"
Ganda menggeleng. Mario meluruskan kakinya karena kesemutan. Zainal mengernyit.

"Aneh gimana?" Ganda yang dituakan dalam group, mewakili bertanya.
Tidak ada saran untuk mengecilkan suara, tetapi Ibnu melakukannya sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku rasa kos ini berhantu. Aku ada rencana pindah dari sini."
"Pindah kos?" balas Mario.

"Memangnya sudah dapat tempat kos baru?" timpal Zainal.

"Yakin?" Ganda ikut-ikutan.
Ibnu menggeleng seraya menarik napas panjang. Dia tatap layar tivi yang masih menayangkan berita sekuter (selebriti kurang terkenal) sedang memamerkan hartanya sebelum menjawab pertanyaan ketiganya, "Belum. Pokoknya aku mau pindah."
"Kamu tahu kan, kos di sini yang paling murah. Kita pernah keliling buat cek-cek harga, dan nggak ada kos seratus lima puluh ribu sebulan. Yang lain nyampek lima ratus ribuan sebulan. Belum lagi suasana di sini tenang, kecuali akhir-akhir ini.
Kalau telat bangun juga nggak bakal kena SP. Cuma butuh beberapa menit jalan, sudah sampek mal. Terus, apa uangmu cukup buat pindah kos? Kata kamu harus berhemat karena belum jadi pegawai tetap. Jangan lupa cicilan hp-mu belum lunas.
Kos sama kuliah adikmu juga siapa yang bayarin? Memangnya jatah bulanan ibumu sudah aman?" Ganda memaparkan kenyataan pahit tepat di muka Ibnu. Dia munculkan kembali ke permukaan curahan hati Ibnu.
Repetan Ganda seperti tamparan bagi Ibnu. Namun, dia juga tidak hilang akal, "Gimana kalau kita kontrak saja? Berlima? Kan lebih terjangkau."
"Kontrak rumah dengan lima kamar memang harganya berapa? Ada yang seharga kos ini? Atau, kamu mau sekamar berdua? Kalau aku sih ogah!" Zainal merespon sambil menatap Mario. Mario melengguh dan memelotot.
Sekian detik Ibnu merenung. Dia merasa tergencet dari segala sisi. "Aku takut kalau sampai diganggu hantu yang lain."
"Hantu yang lain? Memangnya ada banyak hantu? Kamu bisa lihat mereka semua? Jangan-jangan, kamu lagi banyak pikiran terus halusinasi, Nu?" balas Zainal jail.
"Heh, seumpama! Hantunya memang satu. Ya, tuyul itu. Waktu itu aku lihat di tangga situ, tuh!" Ibnu mengulurkan telunjuk dengan mata menerawang jauh.
"Sebenarnya nggak sengaja lihat. Dia ketawa-ketawa terus ketuk pintu kamar mandi sambil gangguin aku pas ada di dalam. Sampai mau pingsan rasanya."
"Banyak?" tanya Ganda dengan senyum jailnya. Sengaja memancing emosi temannya yang satu itu.

Ibnu memutar bola matanya. Dia berharap tidak mendengar kalimat seperti itu keluar dari mulut Ganda. "Cuma satu, ya. Memangnya di sini buka panti asuhan tuyul?!"
Tawa Ganda meledak mendengar perkataan Ibnu yang terkadang menyebalkan itu. Terlebih saat alisnya menyatu dan bibirnya ditarik ketat, bertolak belakang dengan wajahnya yang garang.
"Bohong! Hantunya itu kuntilanak," sanggah Mario cepat. Dia dapati pandangan aneh dari ketiga temannya. "Yang ganggu tidurku waktu itu tuh kuntilanak. Bukan tuyul."
Ibnu berdecak sebal. "Sumpah yang aku lihat waktu itu anak kecil mirip tuyul. Bibirnya aneh. Matanya aneh. Wajahnya pucat, terus kuping sama bibirnya aneh. Kayak sumbing. Susah pokoknya buat dijelasin. Sekarang saja aku masih merindung kalau ingat kejadian itu."
"Kalian berdua salah. Yang benar itu, di sini penunggunya genderuwo. Di halaman depan situ. Di pohon mangga persis ceritaku waktu itu."

Terjadi jeda di antara ketiganya. Hanya Zainal yang terlihat menguap karena tidak bisa ikut dalam pembahasan.
Mereka cerna informasi dari masing-masing mulut. Dan karena Ibnu termasuk yang paling penakut dan mungkin saja sesosok hantu karangan menampakkan diri padanya, jadi yang lain mencoba untuk mencari kelemahan pada cerita Ibnu supaya mereka tahu kalau Ibnu berbohong atau tidak.
"Oke, kalau katamu memang ada tuyul, aku mau periksa dompetku dulu di kamar. Siapa tahu ada uangku yang dicuri," tukas Ganda, berniat beranjak dari posisi duduknya.

"Memangnya apa yang mau diambil dari dompetmu? Bon utang? Tuyul itu pintar kali," cibir Ibnu.
"Sialan!" Ganda menjitak Ibnu pelan saat kembali duduk. Mario dan Zainal terkekeh.

"Serius dikit, kenapa! Ceritanya belum dimulai, tapi dipotong terus." Ibnu mutung.

"Oke, oke. Lanjut," Ganda mencoba menengahi.
"Waktu keluar dari kamar mandi sebelum berangkat kerja, aku dengar ada anak kecil ketawa dari luar kamar mandi, terus gedor-gedor pintu. Keganggu, aku buka pintu kamar mandi, tapi nggak ada siapa-siapa di luar sana." Ibnu menggosok-gosok lengannya. "Duh, jadi merinding kan."
Saat sedang seru-serunya mendengarkan dan akan melanjutkan cerita, tiba-tiba sebuah tas terjatuh di kursi di belakang Ganda. Brug....
Mereka terlonjak. Jantung mereka serasa jumpalitan.
"Setan alas!" umpat keempatnya kompak.
@bacahorror
@threadhororr
@IDN_Horor
#ceritahorror
#rumahtusuksate

Bab 15 : Serumpun Seirama
Jitak, tepak dan cubit beruntun mengenai kepala, bokong, paha, serta lengan Dirga. Kata keempat temannya, sebagai pembuat onar, Dirga pantas mendapatkannya.
Kata keempat temannya, sebagai pembuat onar, Dirga pantas mendapatkannya. Dia hanya meringis sambil sesekali membalas perlakuan teman-temannya itu sebelum kabur.
Namun apes, Mario berhasil mencegahnya. Dia piting Dirga supaya tetap tinggal. Mario sampai membulatkan matanya supaya Dirga tidak melawan. "Gabung sebentar sama anak-anak!" paksa Mario.
"Nggak! Aku mau istirahat." Dirga berusaha keras melepaskan pitingan Mario.
Tiga temannya yang lain sepertinya tidak mau berurusan dengan Mario ataupun Dirga. Mereka memilih tidak ingin terluka kalau sampai Dirga mengamuk, menendang apalagi mengepruk.
Karena tidak ada dukungan dari yang lain, Mario berbisik kepada Dirga untuk menyudahi perlawanannya itu, "Kalau nggak mau tenang juga, aku sebarkan fakta kalau kamu bisa lihat hantu, lho?" Mario mengakhirinya dengan kekehan.
Dirga mendengus dan perlahan mengendurkan perlawanannya. Dia pun menuruti keinginan Mario setelah melepas pitingannya. Duduk bersila dengan tenang. Diperhatikannya sekeliling, yang lain ikut bingung dengan pemandangan ganjil tersebut.
Mereka sampai pasang kuda-kuda, takut kalau sampai Dirga berbuat ngawur, meskipun selama ini mereka tidak pernah mendengar apalagi melihatnya bertindak kejam.
Setelah situasi dalam kendali, Mario memberi kode kepada Ibnu untuk melanjutkan obrolan yang sempat terpotong sebelumnya.
"Aku ulang tapi langsung ke intinya, ya. Aku baru berani cerita soal hantu di sini soalnya belakangan ini aku mulai parno. Sampai-sampai aku nggak bisa tidur cepat seperti biasanya, terus―"
"Bukannya kisi-kisi ceritamu ini sudah ada di WhatsApp group kapan hari itu, ya?" potong Ganda.

Zainal meletakkan jari telunjuknya di bibir supaya Ganda diam.

"Maaf," pungkas Ganda sambil mengangguk-angguk sungkan.
"Rasa-rasanya aku pengin pindah saja dari kos ini," lanjut Ibnu sambil menarik napas panjang. Pandangannya nanar, bergantian ke arah Dirga dan Mario.
"Tapi nggak mungkin juga kalau lihat kondisi keuanganku sekarang. Kalian tahu sendiri kan kalau ekonomi keluargaku masih dibawah... garis kemiskinan." Ibnu terkekeh. Suaranya sedikit tersendat dan terasa pahit di ujung.
"Skip buat hal yang satu itu," Ganda mencoba menengahi. "Kita cari cara supaya masalah ini bisa teratasi."

"Kita?" Zainal bersuara.

Semua mata langsung tertuju padanya.
"Begini maksudku," lanjut Zainal. "Intinya, aku kan nggak pernah ngalamin hal yang menakutkan di kos ini kayak yang dialami Ibnu. Aku cuma mengalaminya di tempat kerja. Di mal." Kemudian pandangan Zainal tertuju kepada Dirga. "Memangnya kamu juga mengalaminya di sini?"
"Hmmm, aku... nggak―"
"Maksudmu 'kita' tadi apa?" Ibnu mengambil alih kendali. Sesuatu yang mengganjal di dalam hati sebentar lagi akan menemukan muara. "Kan kamu juga ada di sini waktu itu? Yang aku gedor-gedor pintu kamarmu? Kenapa kamu selalu egois dan nggak pernah ngerti posisi orang lain, huh?!"
Alis Zainal bertaut. "Kapan itu?!"
Ibnu tengah mengembungkan dadanya. Suara tarikan napasnya bulat. Bola matanya mulai berair. Sepertinya hari ini kadar sensitifnya sedang berada di puncak.
"Sudah, sudah," Ganda mencoba menengahi dan menepuk-nepuk pelan punggung Ibnu.
"Intinya, kamu jadi pindah kos atau nggak? Mau kita bantu cari tempat kos baru, yang mungkin lebih murah dari tempat kita sekarang? Kalau aku sih, kemungkinan besar nggak pindah dulu. Bonusku habis buat beli hp baru."
Ganda memamerkan ponsel barunya sambil mengelap layarnya yang masih bening. "Mario juga nggak mungkin pindah kos soalnya bisnisnya lagi seret setelah awal tahun begini.
Dia pasti habis di modal." Ganda mewakili suara hati Mario sambil berdeham, dan terakhir menuju ke tempat pembuangan segala resah dan gelisah. "Mungkin, Dirga atau Zainal mau ikut pindah kos?"
Zainal menggeleng. Tinggal Dirga, dan semua mata tertuju padanya.
Karena ada hal yang harus dia urus di rumah kos tusuk sate tersebut dan Dirga merasa sudah dekat dengan petunjuk yang selama ini dia kejar, otomatis pindah kos akan menghalangi niatnya untuk menyibak misteri yang selama ini melingkupi kehidupannya dan juga kehidupan Mbah Putri.
Dengan berat hati, Dirga menggeleng.
"Atau, kalian mau dengar saranku dulu? Terutama buat Ibnu." Zainal tiba-tiba mengubah atensi kekecewaan Ibnu dan kesepakatan yang lain, berbalik padanya. "Ini mungkin terdengar aneh tapi mungkin saja bisa jadi jalan keluar untuk persoalan Ibnu ketemu hantu."
"Aku nggak mau pakai ritual-ritual aneh kayak di film-film horor itu, ya. Apalagi sampai mandi kembang tengah malam!"

"Kayak pernah dengar kalimatmu, Nu?" timpal Mario sembari berpikir keras.
"Itu lagu dangdut!" Zainal merasa harus menghentikan pembahasan semacam itu supaya tidak melebar. "Dan aku nggak lagi bercanda sekarang!" Zainal mendengus dan sengaja menunjukkannya tepat di muka Ibnu dan Mario.
"Maaf... memangnya, apa saranmu?" Wajah Ibnu tampak pasrah. Dia sepertinya belum tahu ke arah mana pikirannya akan berlabuh. Pindah kos atau menuruti saran Zainal.
Dengan gerakan telunjuk, Zainal meminta keempat temannya supaya mendekat. Dia berkata pelan, "Aku ada kenalan yang tahu soal beginian. Mungkin, orangnya bisa bantu kita."
Mario menatap Dirga tajam. Pelan, tangan Dirga menempel pada pipi Mario, dan mengembalikan tatapannya ke posisi semula. Dirga normalkan pula perangainya supaya yang lain tidak curiga.
"Paranormal yang tahu dunia lain, ya?" Ibnu memecah tanya yang sontak memenuhi kepalanya.

"Dukun?" tambah Ganda.
Dirga tidak berharap ada yang mengetahui kedoknya selain Mario, jadi dia pun memilih pertanyaan yang tidak akan berbalik menyerangnya, "Memangnya, siapa orangnya?"
Lagi-lagi, Mario menoleh dan tersenyum semringah seolah sedang menunggu kejuatan. Wajah harap-harap cemas Mario benar-benar membuat Dirga muak.
"Pak Ade," terang Zainal.

"Supervisor Cleaning Service itu?" tanya Ganda dan Dirga beruntun.

Sementara itu, Mario terlihat kecewa dengan jawaban itu. "Aku kira kalian lagi ngobrolin Dirga," tukas Mario.
"Apa? Dirga kenapa?" Ibnu sepertinya lebih tertarik untuk mendengarkan perkataan Mario barusan.

"Dia bisa lihat hantu juga," kata Mario akhirnya. "Kalian semua nggak tahu?"
Dirga menarik napas panjang sembari beranjak dari tempat duduknya. Dia sempat menginjak jempol kaki Mario untuk memberitahu keengganannya mengobrol lebih jauh.
Dalam hati, Dirga ingin menunjukkan kepada Mario kalau perempuan berambut panjang itu masih ada di ambang pintu, di depan kamarnya. Akan tetapi Dirga tahan niatan tersebut karena tidak ingin merepotkan diri sendiri.
Sambil mengaduh, Mario mengelus jempol kakinya yang terinjak. Dia ikuti langkah Dirga dengan terpincang, sampai mereka berhenti di depan kamar Dirga. Mario tatap Dirga yang risih ketika diikuti. Dia hentikan niatan Dirga memutar kunci kamarnya dengan cara mengambil kuncinya.
"Aku lupa kalau nggak boleh bicara soal kemampuanmu itu sama yang lain," bahas Mario pelan. "Aku pun tadi cuma konfirmasi ulang. Nggak ada maksud apa-apa."

"Sebenarnya malam itu aku malas nolongin kamu, Mario. Soalnya aku tahu ending-nya bakal seperti ini."
"Jangan gitulah sama teman sendiri. Anggap saja kalau nolong orang, kita bakal dapat pahala juga."
"Nggak ada yang namanya dapat pahala kalau Ibnu bisa lihat yang seharusnya nggak perlu dilihat. Habis itu, dia bakal tambah ketakutan kalau tahu soal ini. Iya kalau takutnya sebentar. Kalau seumur hidup? Akan mengganggu kehidupannya sendiri dan yang lain.
Dia pasti nggak berani ngelakuin apa-apa sendirian. Mulai dari kamar tidur sampai kamar mandi. Yang ada malah tambah dosa karena kita maki-maki terus!" cerocos Dirga kesal.
"Terus nasib Ibnu bagaimana?"
Dari ambang pintu kamar Dirga, Mario berbalik melihat Ibnu dan yang lain, yang seperti sedang menunggu tahap negosiasi final.
Dirga berpikir sebentar sambil melipat tangan di dada. "Kita coba saran Zainal."

"Ketemu Pak Ade maksudmu?"

"Iya."

"Orangnya kita suruh ke sini?"
"Aku nggak nyaranin hal itu. Nanti nggak enak sama Pak Suyitno dan Bu Eti. Dikiranya kita main dukun."

Mario paham maksud Dirga. Kemudian untuk sesaat, senyum Mario merekah lalu berlanjut ke tepukan pelan di bahu Dirga.
"Jangan mikir yang aneh-aneh!" sergah Dirga.

"Tiba-tiba aku pengin jail," Mario berkata sambil tersenyum licik. "Menurutku Ibnu terlalu tenang hidupnya akhir-akhir ini."

"Eh!"
Mario kembali ke kerumunan, meninggalkan Dirga yang masih berpikir keras dengan kalimat Mario. Dia hanya akan menjitak kepala Mario kalau sampai melibatkan kembali dirinya dalam perseteruan.
#
Setelah Mario kembali duduk, yang lain tengah bersiap mendengar maksud perkataannya sebelumnya. Sementara Dirga menempelkan punggungnya di batas pintu kamar. Ikut mendengarkan.
"Dirga itu 11-12 sama Pak Ade. Mereka sama-sama sakti dan bisa lihat hantu. Betul kan, Nal?" tanya Mario mengarah langsung kepada Zainal.

"I-iya," balas Zainal gelagapan. "Kalau Pak Ade, iya. Tapi kalau Dirga aku nggak tahu."
"Aku jadi saksinya Dirga. Mereka berdua paham dunia lain dan makhluk yang menguasainya seperti apa." Mario mengedarkan pandangan sambil mengangguk-angguk supaya kepercayaan semua orang terbentuk.
"Jadi, melalui Dirga juga, aku akan jelaskan secara runut hal apa saja yang harus dilakukan supaya Ibnu selamat. Itu pun kalau dia masih mau tinggal di sini."
"Aku aja, nih?" balas Ibnu.

Mario mengangguk.

"Terus yang lain?"

"Menurutmu yang butuh ketenangan batin di sini siapa?"
"Tapi yang lain kan juga ketemu sama hantu?" Ibnu menjawil Ganda supaya membantunya menyanggah.

"Aku nggak ada masalah sama kos ini. Mungkin, mereka cuma mau kenalan," balas Ganda santai. Sepertinya dia enggan terlibat lebih jauh urusan Ibnu.
"Kan!" Mario setengah jalan memainkan perannya.
Dengan wajah serius, Mario memberi instruksi kepada Ibnu untuk melakukan beberapa hal sebelum menemui Ade buat mendapat pencerahan. Kata Mario, pertama-tama Ibnu harus melakukan ritual mandi kembang tujuh rupa saat tengah malam.
Hal tersebut ditolak Ibnu mentah-mentah sembari memicing. Dia coba walk out seperti niatan Dirga sebelumnya, tetapi Mario juga berhasil mencegahnya.
"Mandinya di kamar saja, boleh?" tanya Ibnu serius.

Mario berdecak sebal, "Pertanyaanmu masih perlu dijawab?"
"Ya, menurutmu otakmu ajalah, Mario. Aku ini kan lagi menghindari kamar mandi. Masa sendirian tengah malam disuruh mandi pakai kembang tujuh rupa? Masuk akal, nggak, syaratnya?"

"Cerewet!"
Ganda terbahak menyaksikan pertengkaran kedua temannya itu. Tersadar mendapat pandangan lekat, dia langsung menutup rapat mulutnya supaya tidak kena bala. Sepertinya Ibnu dan Mario sama-sama ingin menelan Ganda bulat-bulat.
"Kamu nggak mau ngelakuinnya?" cecar Mario.
Ibnu menggeleng. "Mending tidur, Mario. Lebih berfaedah dan aman! Nggak perlu kedinginan. Nggak perlu ketemu hantu.
Daripada nanti sudah mandi malam-malam, kedinginan, dan nggak ada jaminan buat nggak ketemu sama hantu itu lagi. Memangnya kamu mau tanggung jawab kalau aku sampai semaput?"
Kali ini Mario membesarkan volume matanya. "Jaminannya biar nggak ketemu hantu, ya, mandi kembang tujuh rupa, terus―"
"Bohong. Aku nggak ada ngomong itu!" potong Dirga. Hal itu langsung menghentikan perdebatan dan melebarkan pandangan Mario. Dia mengerling, memohon kepada Dirga supaya undur diri dari pandangannya. Bagi Mario, menjaili Ibnu sepertinya belum menemui akhir.
"Tuh, kan! Makanya dari dulu aku nggak percaya sama mulut Mario," Ganda berkata seolah mengolesi luka baru dengan air garam.

Ibnu tatap iba Dirga yang berdiri sambil melipat tangannya di dada. "Terus, apa saranmu?"
"Nggak ada. Ini yang terpenting, ya. Persis kata Ganda tadi. Sebenarnya hantu itu nggak ada maksud buat ganggu kamu. Mereka cuma mau kenalan."

"Amit-amit jabang baby. Bilang sama makhluk-makhluk itu, aku nggak mau kenalan."
Ganda menimpali, "Atau, mereka sengaja pengin pe-de-ka-te sama kamu, terus nggak mau dipisahkan?"
Kaki Ibnu menepak telapak kaki Ganda. Dia berhasil membungkam mulut Ganda karena melihat Ibnu sedang bersungut. Dia sungguh-sungguh ketakutan karena kejadian pagi itu dan masih menggelayuti pikirannya sampai sekarang, membuat Ganda tidak tega untuk membalas.
"Besok kita ke rumah Pak Ade. Kita tanya, bagaimana cara mengatasinya," pangkas Zainal seperti sedang menggantikan peran Ganda sebagai yang dituakan di kos.
Pandangan Ibnu seperti pisau yang menghunus siapa saja yang berani mempermainkannya. Terlebih saat memperhatikan Mario yang salah tingkah di depannya.
Tidak ingin mendapat masalah, Mario menunduk. Dia tidak ingin masuk ke lingkaran setan meskipun gatal ingin melanjutkan menjaili Ibnu.
"Makanya, Nu, jangan gampang percaya sama mulut Mario. Dia, kan, seringnya bohong," saran Dirga.

"Betul, Nu!" tambah Ganda sambil mengangguk-angguk kecil.
"Kalau begitu, sekian dulu informasinya. Aku mau mandi!" Dirga pamit memasuki kamarnya dengan langkah ringan.

Saat Dirga menghilang di balik pintu, terdengar kalimat kasar keluar secara beruntun dari mulut Ibnu yang tidak terlalu jelas.
Sambil geleng-geleng kepala, Dirga sempat menoleh ke arah tangga utama sebelum menutup pintu kamar. Dia melihat jelas sosok anak kecil sedang duduk dengan senyum lebar sampai bibirnya hampir menyentuh telinga, kalau saja tidak menghentikan cengirannya.
Sepertinya dia sedang mendengar atau menunggu seseorang berjalan ke arah tangga, melaluinya, dan berniat mencelakai saat turun tangga. Apalagi, pandangannya tidak lepas kepada Zainal.
Samar, sosok itu akhirnya menghilang dari pandangan Dirga. Ia sadar tengah diawasi. Dan sebelum menghilang, Dirga merasa sosok tersebut memasang wajah cemberut kepadanya karena memintanya enyah.
@bacahorror
@threadhororr
@IDN_Horor
#ceritahorror
#rumahtusuksate

Bab 16 : Menjemput Pertolongan
Matahari hampir tenggelam saat semburat jingga berpendar dari sisi-sisi luar mengelilingi kesempurnaan senja.
Beberapa menit terlarut, malam akhirnya turun menjuntai menyentuh kolong langit. Kemudian gelap menjangkiti lampu-lampu jalan yang serentak menyala untuk mengusir kelam. Untuk beberapa saat lamanya, bising mendadak sirna ketika azan berkumandang.
Jalanan cukup lengang saat mereka keluarkan sepeda motor dari parkir kos yang tidak terlalu luas itu. Sembari menuntun sepeda motor melewati gang, mereka sedikit membungkuk setiap kali menemui orang-orang yang berjalan menembus remang.
Mereka-mereka yang baru pulang dari masjid atau yang sedang menunggu penjual sate langganan. Ganda sempat mengumpat lirih menyadari lampu di depan gang mati lagi. Ingatan mengenai penunggu pohon mangga kembali.
Andai Ibnu tidak menyuruhnya diam, kemungkinan umpatan tersebut bersambung di sepanjang jalan.
Atas informasi Erna, yang Erna dapat pula dari teman satu kampungnya yang bekerja sebagai cleaning service, Ganda bertugas menjadi penunjuk jalan.
Mereka lalu memacu kendaraan dengan kecepatan sedang begitu tiba di jalan utama. Mungkin karena bukan akhir pekan, jadi perjalanan menuju rumah Ade tidak terlalu butuh banyak waktu.
Setelah melalui jalanan yang di kiri kanannya tumbuh pohon palem dan bugenvil, serta bercokol apotek terlengkap di pojok pertigaan jalan, sepeda motor mereka pun berbelok.
Selepas menapaki hutan kota dengan penerangan redup dan di ujung jalannya terpasang drum bekas bensin, mereka kurangi kecepatan sepeda motor. Sebab setelah pertigaan itu, mereka tiba di satu rumah dengan halaman luas, berpagar ulir dengan rambatan tanaman hias.
Pintu pagarnya dalam keadaan terbuka lebar. Meski malam menyelimuti tiap jengkal runcing bagian atas pagar, tampak bahwa rumah tersebut bukanlah rumah yang ditempati sembarang orang.
Begitu laju kendaraan berhenti, mereka masih ragu untuk bertamu atau kembali pulang.

"Ngeri ya rumahnya," celetuk Ibnu.

"Kelihatannya sih orang kaya tujuh turunan, tapi rumahnya kok mirip rumah hantu. Mana gelap lagi," Mario menggenapi celetukan Ibnu.
"Itu yang ada di depan rumah, pohon ketapang, bukan? Kok ada orang tanam pohon ketapang di pekarangan rumah. Orang aneh. Memangnya pohon ketapang bisa berbuah emas kalau ditanam di situ? Iya kalau pohon mangga atau jambu, aku bisa ngerti soalnya buahnya bisa dipanen atau dijual.
Fix, ini rumah dukun," balas Ibnu.
Begitu pantat Ibnu melungsur dari boncengan sepeda motor Zainal, dia melangkah paling belakang. Zainal menimpali kalimat Ibnu lirih, "Jangan sembarangan ngomong. Nanti kalau yang punya rumah dengar kan nggak enak. Kalaupun tuduhanmu benar, bisa-bisa kita disantet buat uji coba."
"Nggak bakalan dengar juga yang punya rumah. Orang rumah segini gedenya."

Sesosok bayangan tiba-tiba muncul dari kegelapan sembari membawa sesuatu seperti gunting besar di tangan. Bayangan itu bertanya dengan suara kasar, "Siapa itu?"

Aaarrrggghhh, Ibnu menjerit.
Kalau saja Ibnu tidak sanggup menyeimbangkan langkahnya, kemungkinan besar dia akan terjengkang.
Sebelumnya saat melewati rumput hias yang ditanam memanjang di bagian kiri dan kanan titian berkerikil dan rata, jantung mereka tengah berdetak tak keruan.
Apalagi saat seseorang tiba-tiba hadir di pojok pekarangan dengan suara dan langkah yang tidak terdeteksi sebelumnya.
"P-Pak Ade?" tanya Dirga ketika sosok itu masih terpaku. Kegelapan yang menyelimuti pekarangan rumah menjadikan perasaan waswas mereka menyeruak. Menunggu jawaban dari pemilik langkah pun sama seperti ketika menunggu giliran maju untuk mengerjakan soal dadakan dari guru.
"Pak Dirga, ya?" balas sosok itu. Masih belum bergerak dari tempatnya mematung. Namun, Dirga hapal dengan suara itu.

Dirga mengangguk cepat begitu wajah Ade mulai terlihat.

Ibnu tergerak untuk membuka mulutnya, "maaf, Pak. Tidak sengaja menjerit."
"Tidak apa-apa. Saya juga minta maaf tiba-tiba muncul. Mungkin karena tidak sedang menunggu tamu, jadi pertanyaan saya sedikit keterlaluan tadi. Tapi saya senang sekali karena tidak menyangka akan kedatangan tamu spesial malam ini." Pandangan Ade tertuju kepada Dirga.
"Maaf kalau mengganggu waktu istirahat Pak Ade," tukas Ganda.

"Tidak apa-apa. Untung saja saya sedang tidak sibuk." Ade akhirnya melangkah mendekat. "Maaf, beberapa lampu taman tiba-tiba saja mati dan saya belum sempat beli."
Mereka kompak mengangguk dan menelan ludah.
"Kami benar-benar minta maaf karena tiba-tiba datang ke rumah Pak Ade tanpa janjian dulu," lagi-lagi Ganda yang merasa dituakan dalam grup, menjadi juru bicara dadakan.

"Saya sama sekali tidak terganggu. Mari masuk."
Air muka Dirga dan yang lain tampak lebih tenang sekarang. Mereka tuntun kembali sepeda motor di belakang langkah Ade.
"Sepeda motornya diparkir di sini saja, Mas, Pak Dirga. Pasti aman soalnya ada yang jaga. Kalau tidak percaya, boleh coba bawa yang bukan sepeda motornya sendiri, pasti bakal ada kejadian aneh sebelum keluar dari pekarangan saya."
Ade berkata dengan senyum terkembang sempurna di bibirnya yang hitam karena rokok kelobot. Rambutnya juga mulai menipis dimakan usia. Sembari memandangi pohon ketapang yang tiba-tiba bergerak seolah menyetujui perkataan Ade, mereka pun akhirnya menurut.
Tengkuk mereka serasa meremang membayangkan hal-hal di luar nalar kalau sampai nekat menggasak sepeda motor kawan. Cepat-cepat mereka cabut kunci sepeda motor setelah memarkir rapi sepeda motor, dan berjalan mengikuti langkah Ade.
Sekilas Zainal merasa bersalah telah membuat rombongan menunggu selarut ini untuk bertamu ke rumah Ade. Mereka harus menunggu Zainal pulang dari menonton film di bioskop karena kebetulan Restu yang jaga pameran hari ini.
Ade menggiring mereka menuju bangunan tak kalah luasnya dengan kayu-kayu hasil pahatan menyelubungi hampir seluruh bangunan.
Sementara memanjang di tengah jalan, terdapat jalanan kecil lain, berkerikil, yang membagi sama rata antara wilayah kanan dan kiri, lalu berakhir di depan pintu kayu berbentuk kupu tarung yang terbilang besar dan hampir menyentuh langit-langit luar.
Tidak jauh berbeda dengan penampakan pagar dan juga pekarangannya, konsep rumah Ade adalah cahaya lampu harus seminim mungkin.
Karena sedari mereka masuk pekarangan sampai langkah terhenti di pintu masuk dengan kaca kecil untuk memantau bagian luar rumah ketika tamu datang.
Mereka menarik kesimpulan bahwa PLN kemungkinan besar pelit memberi daya listrik untuk rumah Ade atau sang pemilik rumah berhitung dengan cermat, cenderung pelit.
Ade lantas memutar kunci pintu rumahnya dengan tenang.
Setelah kunci terputar, Dirga tiba-tiba merasa tak enak hati. Suasana janggal menyeruak ketika lampu berwarna kuning pucat berpendar di hadapan mereka, menambah nuansa mistis rumah kayu milik Ade. Hawa dingin pun membelai tengkuk mereka.
"Silakan masuk," Ade menoleh dan berkata pelan. Di sebelahnya, Dirga berhasil menangkap wajah Ade yang sedang menautkan alisnya selama beberapa detik sebelum menormalkannya kembali. "Anggap saja rumah sendiri."
Pandangan Ibnu yang sebelumnya kaku saat berjalan beriringan mengikuti langkah Ade, sedikit menyamarkan ketat wajahnya saat memasuki lambung rumah.
Wajah kecutnya tersamarkan dengan baik ketika ruang makan terlihat olehnya. Terhidang banyak makanan di meja makan dan sepertinya belum tersentuh sama sekali.
"Mau ada acara, Pak?" tanya Mario basa-basi.
"Tidak. Karena banyak bahan makanan yang belum sempat dimasak di kulkas dan rencananya besok waktunya belanja di warung jadi saya masak semua. Sayang sekali kalau sayur-sayuran yang masih segar ini dibuang.
Kebetulan, ada kalian di sini. Jadi bisa bantu saya menghabiskannya." Ade mengedarkan pandangan sambil tertawa kecil. "Dan tidak boleh menolak rezeki."
"Bapak masak semuanya sendiri?" timpal Zainal tidak percaya. Dia terpaku dan menghapus liurnya yang hampir menetes.
Ade menarik satu kursi makan dan memberi kode kepada Dirga supaya duduk. "Anggap saja rumah sendiri. Dan anggap saja makanan ini adalah traktiran saya buat kalian semua kalau memang sungkan.
Jarang-jarang ada yang bertamu ke rumah saya. Tapi, ada satu pantangan yang tidak boleh dilanggar dan ditawar di rumah saya!"
"Apa itu, Pak?" tanya Zainal sembari menautkan alisnya. Dia dorong kursi makan di sebelah Dirga pelan. Teman-temannya yang lain mengekor.

"Dilarang ada kalimat: kita sudah makan sebelum ke sini, atau masih kenyang!"
"Sebagai anak kos, kalimat itu haram diucapkan, Pak," kelakar Mario.

Ade kembali tersenyum ramah.
Tanpa perlu komando, yang lain mengangguk dan mengamini perkataan Mario, kecuali Ibnu yang masih memandangi Ade dengan tatapan tajam. Namun segera dia alihkan ke yang lain saat tatapan mereka sejurus.
Sebenarnya beberapa kali Ade berhasil menangkap pandangan aneh dari Ibnu. Bahkan saat dia baru tiba di depan rumah. Akhirnya, Ade memberanikan diri bertanya, "Mas yang tampan ini, namanya siapa? Kok saya belum pernah ketemu."
Muka Ibnu langsung memerah karena malu. Segera dia pasang tampang seramah mungkin. "Nama saya Ibnu, Pak."

"Mas Ibnu jangan diam saja. Kalau ada yang mau ditanyakan ke saya, boleh."

"Sementara ini belum ada, Pak."
Tengkuk Ibnu serasa ditiup kala Ade menggeser posisi berdirinya supaya dekat, dan sedikit membungkuk. Dia berkata pelan, "Mas Ibnu sedang ada masalah dengan anak kecil jadi-jadian?"
Ade kembali menegak. Ibnu terpaku saat menelaah kalimat yang keluar dari mulut Ade barusan.

"Kalau begitu, saya ke belakang dulu untuk cuci tangan dan taruh gunting rumput ini," pamit Ade.
Rasa-rasanya ada yang mengganjal di hati Ibnu.
Saat dia coba menepis segala prasangka, wajah Dirga yang duduk di sebelahnya terlihat kaku. Dirga mendekat dan berbisik tanpa diminta, "Bagaimana Pak Ade tahu masalahmu? Apa kamu sempat menceritakannya?"
@bacahorror
@threadhororr
@IDN_Horor
#ceritahorror
#rumahtusuksate

Bab 17 : Jawaban Di Pelupuk Mata
Setelah Ade kembali dari mencuci tangan dan mempersilakan para tamunya mencicipi masakan, sendok dan garpu bergantian berdenting dan melayang masuk ke mulut.
Tidak ada suara lain selain kecap. Senyum simpul menikmati makanan malam ini bagai mendapat durian runtuh. Namun dibalik kenikmatan itu, sesekali pandangan Dirga menyasar sekitar.
Dia temukan sosok janggal dalam sekelebat bayangan, terutama di pojok-pojok ruang minim penerangan. Hal tersebut membuatnya berjaga sepanjang perjamuan.
Di depan meja makan berbentuk persegi panjang dengan jumlah kursi tak lebih dari sepuluh, mereka mulai buka suara setelah sekian menit hanya kecap terdengar. Bahasan kali ini cenderung sederhana. Perkenalan diri. Kemudian Ade mulai menjamah latar belakang tamunya satu persatu.
Dimulai dari Ganda yang menerangkan bahwa dia menjadi kepala toko di usianya yang baru menginjak dua puluh empat.
Sementara Zainal setelah lulus SMA, dipercaya sang kakak untuk mengelola jasa cuci sepatu, sekaligus ikut pameran pakaian di mal jika memperoleh jadwal yang bagus dari pihak penyelenggara atau event organizer.
Prang....
Sesi perkenalan pun terjeda begitu terdengar benda terjatuh dari arah belakang. Mereka menoleh bersamaan ke pintu yang menghubungkan ruang makan dengan dapur, sementara Dirga sudah lebih dulu memicing ke tempat tersebut.
"Tenang semuanya... kalau bukan kucing yang jatuhkan perkakas saya di dapur, kemungkinan besar ya, tikus," terang Ade sambil terkekeh kecil.
"Pak Ade pelihara kucing juga?" tanya Ibnu antusias. "Jangan-jangan, kucing Pak Ade warnanya hitam, ya?" Persis kucing penyihir, batinnya melanjutkan.
Zainal mengembalikan pandangannya. Karena obrolan sebelumnya belum berakhir, jadi dia merasa sedikit tak enak hati ketika bahasan teman-temannya akan merembet ke tema yang seharusnya belum dimulai. Horor.
"Kucing tetangga yang sering main ke sini," balas Ade. "Seingat saya warnanya bukan hitam, tapi abu-abu."

Tetangga? Bukannya rumah Pak Ade ada di pojok jalan? Rumah tetangga juga cukup jauh dari sini. Ganda tidak mau kalah menebak-nebak dalam hati.
"Oh," serempak mereka membalas perkataan Ade supaya pembahasan mengenai kucing usai.
Itu bukan kucing, Dirga mengelak dalam hati saat menangkap sepasang mata awas mengintip dari dalam dapur sebelum sosok itu muncul dalam posisi penuh. Tidak salah lagi. Itu memang... Irul. Buat apa dia ada di sini? Bukannya dia sudah ada di alam lain? Sudah tenang?
"Bukan Irul," celetuk Ade. Pandangan Dirga spontan tertaut padanya. "Irul sudah tenang di alam sana. Jadi, tidak mungkin dia ada di rumah saya."

Dirga sedikit kesusahan saat menelan makanannya sambil mengangguk pelan.
Obrolan pun berlanjut dengan keraguan menyelimuti diri Ibnu dan Dirga. Banyak pertanyaan tertuju kepada Ade. Namun, mereka enggan memulainya.
Duduk di depan Zainal, Mario bercerita mengenai usaha sepatu kecil-kecilan yang dirintisnya melalui toko online dan sekarang telah memiliki toko offline di mal, sementara Dirga tidak bercerita apa-apa.
Sebab Ade telah mengenalnya lebih dulu. Ade menyebut Dirga sebagai orang manajemen. Kala itu, Ade yang bekerja sebagai supervisor cleaning service, pernah dimintai tolong orang manajemen untuk mengamankan penjaga toilet yang kesurupan ketika membersihkan toilet lantai dua mal.
Kebetulan, Dirga juga ada di tempat. Dia singgah di lantai dua setelah selesai berkeliling mal. Terakhir, Ibnu bercerita mengenai pekerjaannya sebagai kasir supermarket. Dia juga memperkenalkan diri sebagai yang paling muda. Usianya baru sembilan belas.
"Sayang sekali mukanya boros," Mario berkata jail.
Ibnu tidak menanggapi gurauan Mario. Tidak pula ada picingan apalagi rahang mengetat. Padahal, teman-temannya tengah bersiap mencari tempat perlindungan kalau sampai ada gencatan senjata.
Ibnu paling sensitif menyangkut usia, pun terkadang dia lupa dengan bangganya memamerkan usia mudanya. Akan tetapi, seringnya blunder.
Saat Ibnu akhirnya buka suara, denting sendok dan piring terhenti. Ibnu lemparkan kalimat di tengah-tengah percakapan yang mulai terbentuk, "Kedatangan kami ke sini adalah untuk tanya-tanya ke Pak Ade mengenai dunia lain. Karena dari info yang kami dapat, Pak Ade itu paham soal―"
"Soal kenapa Mas Ibnu bisa lihat hantu?" potong Ade dengan suara ramahnya yang sedikit mengganggu.

"Zainal yang cerita ke Bapak?" Ibnu arahkan pandangannya kepada Dirga supaya sekalian memberi klarifikasi atas pertanyaannya sebelumnya.
Karena tiba-tiba menjadi tertuduh, Zainal tidak sempat berpikir saat membalas perkataan Ibnu selain dengan kata: Hah?

"Kata Zainal, kemarin dia ketemu Pak Ade di mal. Kebetulan ada masalah sama anak buahnya―"
"Tapi aku nggak cerita soal kamu ke Pak Ade, Nu," tukas Zainal.

"Kamu kan biasanya ember?"

"Heh, ngaca!"
Wajah mereka berubah ketat. Punggung Ibnu menegak, mendengar sanggahan Zainal. Sementara Dirga menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut Ade. Ketika wajah Zainal tampak tidak meragukan atau sedang berbohong, berganti tatapan menyelidik yang lainnya, terarah kepada Ibnu.
"Aku belum cerita apa-apa ke Pak Ade. Sumpah," sanggah Ibnu. Kecuali Dirga, teman-temannya yang lain hanya geleng-geleng kecil.

"Belum ada yang cerita apa-apa ke saya." Ade berinisiatif mengambil alih semua perhatian.
"Kok Pak Ade bisa tahu niatan kami?" Ganda yang merasa dituakan dalam grup, ingin menunjukkan tajinya.
"Tenang... bukan hal penting saya tahu dari mana." Ade berdeham supaya semua orang mendengarkan. "Mas Ibnu pasti dapat jawabannya segera, asal percaya kalau di dunia ini semua yang tak terlihat, datang dengan alasan. Kenapa mereka menunjukkan diri sekarang, ada alasannya.
Tidak ada persoalan tanpa jawaban. Mungkin pula ada jawaban, tetapi kaitan eratnya dengan persoalan lain."
"Misalnya, Pak?" tanya Ganda, bingung. Yang lain tampak terkesan, atau sebenarnya sama bingungnya dengan seseorang yang dituakan dalam grup itu.

"Rumah tusuk sate selalu menyimpan misterinya sendiri."
Rahang semua orang serasa susah untuk mengatup, terlebih Dirga.
"Yang pasti, tidak ada yang benar-benar luput dari yang namanya rahasia," tambah Ade. "Di dunia ini, kalau sudah tidak ada rahasia, manusianya pasti sudah musnah.
Kita yang hanya bisa tahu secuil rahasia dari alam lain, terkadang masih saja salah menebak. Tapi ada beberapa orang yang memang bisa mengintip rahasia itu."
"Mas Ibnu mungkin jadi salah satu yang terpilih itu. Atau mungkin ada hal besar yang sedang menunggu Mas Ibnu. Makanya, mereka memberi tahu Mas Ibnu melalui sebuah penampakan. Mungkin kalau bertemu lagi dengan mereka, Mas Ibnu akan peroleh jawabannya."
"Mohon maaf Pak, saya tidak mau. Amit-amit ketemu sama tuyul itu lagi," tolak Ibnu.

"Saya bilang mungkin, Mas Ibnu. Itu hanya dugaan awal."
Ibnu mengangguk ragu. Makanan yang tinggal separuh di piringnya, sudah tidak menarik lagi. Namun karena sungkan, dia lanjutkkan menyendok sementara tatapannya masih tertuju kepada Ade.
"Kalau boleh pilih, saya benar-benar tidak mau jadi yang terpilih itu. Kalau bisa menemukan cara supaya bisa lepas dari kemungkinan itu, saya pasti akan mengambilnya. Saya tidak sanggup hidup dalam ketakutan, Pak Ade."
"Saya paham." Ade tersenyum lalu mempersilakan mereka meminum limun buatannya. Dia lanjutkan kalimatnya dengan suara pelan, "Bukannya di sini juga ada yang bisa lihat hantu? Bukan seperti Mas Ibnu yang apes bisa lihat mereka, tetapi orang ini benar-benar bisa melihat hantu."
Mario spontan mengarahkan telunjuknya kepada Dirga. Sambil menarik napas panjang, Dirga ingin memaki Mario. Namun dia paham, kalau Ade pun sebenarnya tahu kemampuannya itu. Jadi, buat apa dia bertanya?
"Pak Dirga juga bisa lihat mereka?" tanya Ade, pura-pura terkejut.

Dirga mengangguk, sementara semua mata masih tertuju padanya.
"Pak Dirga bantuin Mas Ibnu, ya," lanjut Ade. Kelembutan pada tiap penggalan kalimatnya seperti seorang bapak menanyakan kabar anaknya. Bersamaan dengan itu, Dirga juga jengah mendengarnya.
"Tolong dibantu, ya," pinta Ibnu dengan wajah memelas seolah ingin menyudutkan Dirga yang berusaha menjawab pertanyaan Ade dengan penolakan.

"Bisa, kan, Pak Dirga?" mohon Ade, setengah memaksa.
"Saya tidak paham dengan maksud Pak Ade. Lagipula saya bukan dukun," jawab Dirga datar.

"Pak Dirga pasti tahu jawabannya. Saya yakin itu."

"Saya benar-benar tidak tahu."
"Ini semua menyangkut...." Ade memberi jeda pada kalimatnya dengan cara mengerjap. "Wojogeni, mungkin?"
Kasak-kusuk terdengar dari peserta makan malam di rumah Ade setelah mendengar nama asing itu disebut. Hantukah, atau manusia? Sementara Dirga tidak pernah merasa bingung atau curiga dengan keberadaan Ade melebihi malam ini.
Karena lebih dari ratusan nama berpeluang dia sebutkan untuk mengundang kembali satu nama yang dengan mudah Ade lafalkan itu.
Selain kelegaan yang tersemat di wajah Dirga, kecurigaan pun sama besarnya terhadap sosok Ade. Dia akan lebih berhati-hati dalam bertindak. Bahkan ratu dedemit sekalipun tidak mau buka suara ketika Dirga bertanya.
Mereka hanya memberi petunjuk kasar. Tidak lebih. Sementara Ade? Mudah sekali menamparnya telak dengan kenyataan bahwa dia memiliki pengetahuan melebihi dirinya.
Kemungkinan besar Pak Ade nggak bohong. Akhiran Geni terdengar pantas bersanding dengan nama Wojo. Persis perkataan Mbah Putri sebelum wafat.
"Tenang saja semuanya, terutama Pak Dirga. Saya pasti bantu. Sebenarnya saya sudah curiga sejak lama mengenai rumah kos yang kalian tempati itu. Rasa-rasanya memang ada yang tidak beres."
Bukannya tenang, Dirga semakin gelisah memikirkan bantuan seperti apa yang akan Ade tawarkan kepada mereka. Apalagi, semua ini menyangkut tempat tinggal sementara mereka. Atau mungkin, pemiliknya?
@bacahorror
@threadhororr
@IDN_Horor
#ceritahorror
#rumahtusuksate

Bab 18 : Cerita Penampakan
Sementara di rumah kos tusuk sate....
Tangga kayu lantai dua berderit saat Suyitno menapakinya. Dia terdiam sejenak setelah sampai tangga teratas, sigap memeriksa ruang tivi yang kosong.
Sebab tidak biasanya ruang tivi lengang pada pukul enam sore. Terkadang dia sampai harus naik tangga dengan rahang mengetat. Sekadar berdeham supaya anak-anak kos yang sedang menonton tivi mengecilkan suaranya. Apalagi saat hampir tengah malam.
Suyitno lekas duduk di kursi panjang setengah tertatih, lalu memejam setelah memandangi jam dinding. Tangannya terlipat di dada, bibirnya komat-kamit. Saat matanya kembali terbuka, seorang bocah tengah berdiri di hadapannya dengan wajah kaku. Bibirnya sumbing. Ia memicing.
"Terima kasih sudah mau menampakkan diri." Suyitno menarik napas lega. "Tolong beri saya petunjuk... saya janji tidak akan mengganggumu lagi," Suyitno buka suara setelah meletakkan kedua tangannya di tangkai kursi. Dia lemah. Entah kenapa tenaganya seperti terkuras habis.
Sebelum hari ini, Suyitno pernah mengundang bocah itu agar hadir di selasar lantai dua. Namun, tidak membuahkan hasil. Dan kini setelah ia muncul di sepanjang detik berjalan, belum juga ada jawaban dari bocah itu.
"Rumahmu menarik." Bocah itu akhirnya bersuara. "Tapi sial... aku tidak tahu caranya pergi dari sini. Sepertinya ada yang sengaja membelengguku."
Mungkinkah ini ulahnya?
"Apa kau mengenalnya? Maksud saya, apa kau pernah bertemu dengannya? Saya khawatir ia tersesat dan tidak tahu jalan pulang," tutur Suyitno.
Bocah itu menggeleng pelan. Lama-lama, penampakannya memudar lalu hilang. Suyitno harus menelan pil pahit sekali lagi karena untuk menemukan jejak sosok itu, nyatanya tidak mudah.
Suyitno bangkit dari tempat duduk dengan pandangan nyaris kelelahan. "Ada apa dengan rumah ini? Kenapa mereka mudah datang dan pergi. Kuntilanak muncul di teras depan, masuk ke rumah lalu hilang. Muncul si tuyul yang tidak bisa diharapkan. Dasar aneh."
Dia melengguh panjang saat menuruni tangga samping dengan bibir komat-kamit dan kepala menggeleng pelan. Suyitno coba mengurai informasi yang terkesan sepotong-sepotong itu, selayaknya benang kusut yang tidak dapat dipisahkan lagi.
Bahkan dia tidak sadar ketika istrinya memanggil supaya bergabung bersamanya menonton tivi.
#
Kembali ke rumah Ade....
Selesai menandaskan jamuan makan malam, Ade menggiring tamunya menyusuri ruang tengah yang lebih lega, dengan kursi rotan berhadapan, dan di tengah-tengahnya diletakkan dua meja berukir dan bersepuh warna cokelat tua, berpadu manis dengan lampu ulir tergantung sebagai hiasan.
Lagi-lagi, keluaran cahayanya minimalis atau bisa dikata temaram.
Ade mempersilakan mereka duduk. Dia tawarkan rokok kretek yang tergeletak di meja, dan hanya Zainal yang mengambil sebatang. Kemudian mereka sama-sama memantik, mengisap dan mengepulkan asapnya sembarangan.
"Maaf, karena saya kurang suka membahas masalah serius di meja makan, jadi sekarang adalah waktu yang tepat untuk membahas persoalan Mas Ibnu."
Ganda memajukan posisi duduknya saat menatap Ibnu yang akan buka mulut. Karena merasa bisa terwakilkan dengan adanya Ibnu, otomatis Ganda telan kembali kalimat yang bersesakan di dalam kepalanya.
Dia pikir, Ibnu mampu mewakilinya bercerita tentang kejadian yang juga menimpanya. Ganda hanya perlu mengoreksi atau menambahkan kalau sampai cerita Ibnu melenceng.
"Tempat kos kami akhir-akhir ini mulai angker. Mereka yang tidak kelihatan itu, cukup mengganggu. Persis tebakan Pak Ade," kata Ibnu, memberi jeda.
Ade mendengarkan. "Boleh dilanjut ceritanya."
"Beberapa hari yang lalu saya ketemu tuyul. Sampai sekarang saya masih takut kalau ia muncul  kembali. Waktu ke kamar mandi, naik tangga atau sewaktu sendirian di kamar, saya selalu terbayang-bayang," ungkap Ibnu.
Ade mengangguk-angguk sambil sesekali mengisap rokok kreteknya. Dia alihkan perhatiannya seperti uluran tongkat estafet. Dan Mario yang mengambil tongkat estafet itu.
"I-Iya, Pak. Kejadiannya persis seperti yang dialami Ibnu. Bedanya, saya ketemu sama... kuntilanak. Saya juga ketakutan waktu itu. Ada saksinya. Dirga."
Mau tidak mau Dirga mengangguk pelan.
"Baru itu saya ketemu hantu." Mario menambahkan sambil mengusap wajahnya. Sepertinya memori itu tersimpan rapi di dalam kepalanya. Padahal, Dirga mengira Mario sudah tidak masalah dengan hal-hal klenik semacam itu. "Ganda juga pernah mengalami. Iya, kan?" Pandangan Mario teralih.
Tanpa buang waktu, Ganda mengamini. "Kalau saya... ketemu genderuwo."
"Kalian ingat sejak kapan kejadiannya?" tukas Ade sewaktu meyakini informasi dari mereka telah usai. "Lalu, siapa di antara kalian yang paling lama tinggal di kos itu?"
Ganda mengangkat telunjuknya ragu. "Saya memang yang paling lama tinggal di situ. Sejak saya kos, sepertinya tidak pernah ada kejadian seperti ini."
Ade lemparkan pandangannya kepada Dirga. Gelagapan, Dirga memilih untuk memandang ke arah lain. "Pak Dirga mungkin tahu sebabnya?"
Dirga terpaku saat menoleh dan mendapati pertanyaan Ade.
"Apa mungkin Pak Dirga yang menyuruhnya pergi?" lanjut Ade, seperti sedang bermain tebak-tebakan dan yang kalah harus ditampar. Sengatan pertanyaan tersebut menyadarkan Dirga, kalau Ade bukan orang sembarangan. "Maksud saya, mengusirnya?"
"Saya tidak mengerti maksud Pak Ade."

"Mungkin perkataan saya ini bisa merangkum perihal gangguan yang akhir-akhir ini muncul di kos kalian."
Serentak mereka memasang telinga untuk mendengarkan penjelasan Ade, kecuali Dirga. Dia kurang paham harus menggunakan reaksi semacam apa untuk mengikat pikiran buruknya yang saling berbenturan di dalam kepala.
"Ada seseorang berhasil mengusir yang terkuat di antara mereka. Kemungkinan, tidak sengaja. Sosok itu pun marah besar! Dia perintahkan anak buahnya untuk menggangu." Ade menjentikkan abu rokoknya.
"Berita buruknya adalah, untuk memanggil kembali sosok tersebut dan bernegosiasi dengannya dan anak buahnya supaya tidak mengganggu, sungguhlah sulit."
"Terus bagaimana caranya supaya kami tidak diganggu?"

"Pak Dirga tahu caranya," Ade membalas.
Tarikan napas panjang Dirga sontak memancing pandangan teman-temannya. Mereka saling bersitatap dengan wajah takut-takut terlihat tidak dibuat-buat.
"Panggil ia balik, Pak Dirga." Ade mematikan rokoknya dan beranjak dari tempat duduk. "Mohon maaf, karena sudah malam dan saya ingin istirahat karena besok shift pagi, jadi pembahasan sampai di sini dulu. Terima kasih banyak karena sudah main-main ke sini."
Licik, umpat Dirga dalam hati.
#
"Kamu bisa usir hantu? Bisa panggil mereka juga?" Pertanyaan Ibnu berulang seperti kaset rusak.

Dirga diam saja sambil memasukkan kunci sepeda motornya, bersiap menuntun sampai depan gerbang rumah Ade.
"Sejak kapan? Kok nggak pernah cerita? Kok nggak pernah praktik juga waktu kita ngobrol ngalor-ngidul di ruang tamu?" tanya Ibnu lagi.

"Ya, begitulah," jawab Dirga datar.

"Kapan?!"
Dirga hanya menggeleng dan mulai menuntun sepeda motornya. Tiba-tiba, angin berisik. Pandangan Dirga tertuju kepada pohon ketapang yang sedang menggerak-gerakkan daun dan dahannya. Tengkuknya serasa ditiup. Langkahnya sedikit berat.
"Sejak kapan?!" Suara Ibnu mulai meninggi.
Dirga mendengus sebal sebelum menjawab, "Sejak dulu. Aku lupa kapannya. Yang pasti, sejak aku bisa tahu di mana genderuwo atau di mana pocong biasa tinggal, aku mulai tahu kalau kadang-kadang mereka muncul untuk memberitahu kita bahwa itu wilayah mereka.
Seperti kucing menunjukkan daerah kekuasaannya dengan cara mengencinginya. Awalnya aku juga susah buat lupa. Takut kalau sampai keterusan. Jadi, pelan-pelan aku coba cari cara buat usir mereka kalau tiba-tiba muncul. Nggak selalu berhasil, tapi lumayanlah."
"Ada doanya?"

"Tentu saja ada."

"Bisa ajari aku, nggak?"
"Kamu mau diajari? Buat apa? Sebaiknya eggak usah. Aku saja ingin menghilangkannya. Mereka terlalu menakutkan untuk dipandangi terus-terusan. Dan cenderung merepotkan."
Ibnu meneguk ludahnya susah payah.
"Tiba-tiba aku jadi penasaran," Zainal yang sebelumnya hanya mendengarkan karena bersebelahan dengan Dirga saat menuntun sepeda motor, akhirnya bertanya. "Kira-kira, di rumah Pak Ade tadi ada penunggungnya, nggak? Soalnya begitu masuk rumah, agak nggak enak hawanya.
Apalagi di ruang tamu. Tapi begitu di ruang makan, hawanya jadi agak lain...."
"Jadi agak lain gimana?" timpa Ibnu tiba-tiba karena Zainal menghentikan perkataannya di saat yang tidak tepat.

"... hawa-hawa lapar."

Ibnu menggeplak helm Zainal sambil memaki, sementara korbannya hanya bisa terkekeh.
"Banyak!" balas Dirga tanpa aba-aba.

Keduanya langsung diam. Beberapa pasang mata lain menatap Dirga. Namun, hanya Zainal yang berani menimpali. Niatan sebelumnya untuk melucu, sirna. "Masa, sih?"

"Hmmm...."

"Apa?"
"Di pojok ruangan yang ada guci-gucinya, ada penunggunya, di belakang pintu, nangkring di atas lemari, pokoknya macam-macam. Termasuk satu arwah yang entah kenapa ada di rumah Pak Ade. Tapi yang paling banyak itu, yang tinggal di pohon ketapang."
Mereka sontak memperhatikan pohon ketapang dari balik punggung, yang berisik sedari tadi.
"Mereka bergelantungan di dahan sambil terus ngelihatin kita. Nggak kehitung jumlahnya." Dirga mengangkat sebelah alisnya. Namun karena terkendala suasana remang pekarangan rumah Ade, yang lain pun tidak mengetahui usaha Dirga.
"Rupa mereka juga aneh. Mirip monyet, tapi kakinya panjang sementara tangannya pendek. Ada satu yang sepertinya bertindak seperti bos, di tengah-tengah di antara mereka itu―"
"Kalau bosnya?" potong Zainal. "Bagaimana bentuknya?"
"Taringnya panjang, hampir menyentuh tanah. Tangannya banyak. Beberapa seperti memegangi pohon ketapang, sementara yang lain terjulur ke anak buahnya seperti tali kekang. Matanya yang merah mirip penjahat kelas kakap."
Suasana hening meliputi mereka berlima saat kembali menekuri jalanan. Mereka kembali ke tempat kos tanpa mampir-mampir ke tempat lain.
Bahkan Mario yang biasanya cerewet di sepanjang perjalanan, mendadak alim. Hingga sepeda motor mereka berhasil menembus pekatnya malam dan terparkir rapi di samping dapur.
Ganda baru berani mengumpat setelah sampai kos. Dia kesal lampu depan gang masih mati, sementara yang lain sedang memikirkan apakah malam ini mereka aman.
Setiap langkah mereka menjejak tangga samping kos, Dirga masih memikirkan perkataan Ade saat mereka berpamitan. Bukan cuma soal Wojogeni. Namun, ada sesuatu yang gelap melingkupi keberadaan Ade.
"Saya penasaran sekali dengan tempat kos kalian." Ade mengulum senyum. "Lain kali saya mampir ke kos kalian untuk lihat-lihat. Siapa tahu ada yang bisa saya bawa pulang."
@bacahorror
@threadhororr
@IDN_Horor
#ceritahorror
#rumahtusuksate

Bab 19 : Pilihan Pertama
Malam ini tidak ada acara kumpul-kumpul di depan ruang tivi lantai dua.
Setelah memarkir sepeda motor, mereka langsung menerobos masuk kamar masing-masing. Dan kembali menuruni tangga dengan membawa peralatan mandi, lalu mengantre di depan kamar mandi.
Tentu saja hal tersebut mendapat pertanyaan dan pandangan curiga dari Suyitno.
Saat ini ia sedang menyeduh kopi di dapur yang berbatasan langsung dengan ruang tunggu kamar mandi, berupa dudukan dari semen memanjang. Separuh dari tempat tersebut diletakkan kompor gas dan berbagi tempat dengan peralatan memasak lainnya.
"Sejak kapan kalian mandi malam-malam begini? Biasanya tidak mau mandi kalau sudah gelap. Alasannya banyak! Sekarang kok semangat? Jangan-jangan...." Suyitno berpikir sejenak. "Kalian habis berbuat dosa, ya?" kata Suyitno dengan wajah serius.
"Nggak, Pak," protes Ibnu. "Daripada nanti kita nggak bisa tidur soalnya gatal-gatal, mending mandi tengah malam. Asal nggak mandi kembang, apalagi mandiin kembang desa. Bahaya! Bisa-bisa diarak keliling kampung."
Ibnu coba melucu, tapi hanya mendapat balasan ekspresi datar dari Suyitno yang sedang mengaduk kopi.
Suyitno mendongak dari kegiatan mengaduk kopinya. "Yang penting jangan ngerepotin kalau masuk angin. Biaya rumah sakit mahal, apalagi kalau sakitnya cuma masuk angin. Mending mandinya besok saja. Anginnya dingin!"
Tiba-tiba tengkuk Ibnu meremang seperti ditiup. Menggigil, tetapi coba dia sembunyikan supaya Suyitno tidak menyadarinya. Padahal, bukan cuma angin yang membuatnya menggigil.
Mendapat urutan masuk kamar mandi nomor tiga setelah Dirga adalah perkara lain yang ditakutinya. Hal itu membuatnya gusar. Padahal, Ibnu sudah menggunakan kecepatan tinggi untuk mengambil peralatan mandi di kamarnya.
Karena sejak hari sial itu, sebenarnya Ibnu tidak ingin masuk kamar mandi lagi. Namun, dia lebih takut melanggar saran dari Ade untuk membersihkan diri setelah seharian di luar rumah.
Katanya, setidaknya supaya tidak mendapat gangguan dari yang tidak terlihat, seperti yang pernah menimpa Mario tempo hari.
Sepuluh menit duduk berbaris di dudukan semen memanjang, seolah berlangsung setahun bagi mereka yang sedang menunggu giliran masuk kamar mandi. Apalagi, Zainal mendapat giliran terakhir.
Kretek....
Terdengar derap langkah mendekat.
"Tunggu dulu...." Dirga menghentikan langkahnya sejenak saat Ibnu mau masuk ke kamar mandi. "Kamu kemarin pas diketuk pintunya dari luar, iseng ketuk pintu dari dalam duluan, nggak?" Dirga merevisi ucapannya dengan menggeleng-geleng kecil.
"Maksudku, sebelum anak itu mengetuk pintu kamar mandimu?"
Keraguan muncul di wajah Ibnu sebelum membalas, "Aku cuma iseng ketuk-ketuk pintu sambil nyanyi...." Kalimat Ibnu menggantung saat Dirga dan yang lain serius mendengarkan. "Kenapa, memangnya?"
"Nggak apa-apa," balas Dirga santai, lalu menyisip pergi.
"Terus, kenapa bahas ketuk-ketuk pintu kalau memang jawabannya 'nggak apa-apa'?" tanya Ibnu ketus, berusaha terus mengejar penjelasan karena tidak ingin kehilangan informasi menyangkut ketenangan batinnya ketika berada di kamar mandi nantinya.
"Nggak aneh kalau kamu diganggu sama bocah itu," aku Dirga. "Kamu duluan yang undang mereka buat datang."
Kepala Ibnu mendadak pusing sementara Dirga langsung membuang pandangannya menjauh. Sengaja menutupi sesuatu yang baru saja terungkap.
"Aku nggak ngerti sama 'nggak aneh kalau diganggu sama bocah itu'?" Wajah Ibnu berubah serius. Dia tidak lagi menghiraukan teman-temannya yang pasang badan untuk menggantikannya masuk ke kamar mandi lebih dulu.
Namun, mereka mundur teratur ketika pandangan Ibnu memicing. Tidak lagi keramahan.
"Kamu nggak tahu kalau mereka bisa diundang dengan cara ketuk pintu dari dalam? Apa pun itu bendanya. Entah pintu, entah jendela." Dirga berdecak. "Mereka bisa hadir di tengah-tengah kita dengan cara seperti itu."
Ibnu tepekur. Pintu kamar mandi yang terbuka seperti jebakan buatnya. Dia melangkah penuh keragu-raguan.
Sebelum menutup pintu kamar mandi, Ibnu memberi kode kepada yang sedang antre di dudukan memanjang supaya salah satu dari mereka ikut masuk. Jawaban serempak dari yang lain berupa gelengan membuat wajah memelas Ibnu semakin kentara.
"Jangan ketuk dari dalam, Nu. Bahaya!" Ganda terkekeh. "Jangan nekat atau risiko tanggung penumpang," Dia memperingatkan Ibnu supaya segera menutup pintu kamar mandi dengan mengebaskan kedua tangannya cepat, antre kembali dengan tertib sembari tersenyum puas.
"Sialan!"
Tawa pun pecah saat Ibnu membanting pintu kamar mandi sedikit kasar. Kemudian kembali senyap ketika Suyitno muncul dari dalam rumah, berdeham karena terganggu dengan tawa mereka. "Jangan berisik!"
"Maaf, Pak," Zainal membalas, mewakili yang lain.
"Yang jadi soal sekarang adalah kamu bener-benar mau mandi urutan terakhir, Nal?" tukas Ganda iseng, bertanya saat Zainal kembali menatap pintu kamar mandi yang telah menutup dengan sempurna, menyesali keputusannya untuk tidak ikut mandi bersama Ibnu.
#
Embusan angin malam dari jendela berteralis dan bertirai tipis, seketika membuat Zainal terbangun. Singkapan angin melalui celah yang terbuka itu serta gatal di sekujur tubuh, lantas membuatnya terjaga.
Padahal, untuk menuju alam mimpi, Zainal harus menghitung domba yang melompati kandang di dalam kepalanya.
Dia merutuk kebodohannya sendiri karena tidak jadi mandi, lupa menutup jendela, dan kini harus memeluk erat guling karena keinginan buang air kecil yang sudah tidak terbendung lagi. Dia ingat minum terlalu banyak limun saat di rumah Ade.
Diliriknya ponsel yang tergeletak di meja dengan kesadaran mencapai tujuh puluh lima persen, sesaat sebelum meraih stop kontak lalu menyalakan lampu kamarnya.
Zainal mendengus saat tahu jarum jam tengah menunjuk pukul dua belas kurang lima menit. Dia buka pintu kamar yang berderit, dan dengan langkah menjepit di antara pahanya, Zainal ingin memelesat.
Tiba-tiba dia ragu. Kepala Zainal melongok lebih dulu dari celah pintu, lalu menangkap remang di ujung tangga. Dia yakin remang tersebut berasal dari penerangan di bawah loteng yang menyatu dengan rumah utama.
Dipaksalah kaki Zainal melangkah cepat ke kamar Ibnu. Dia toleh kanan kiri sambil mengetuk pintu dan menunggu jawaban dari dalam. Tidak juga ada jawaban selain dengkuran halus Ibnu saat Zainal mendekatkan telinganya ke pintu.
Diliriknya sekilas kamar Dirga dan berniat mengetuknya pula. Namun, karena pertahanan terakhirnya hampir jebol, Zainal memutuskan setengah berlari menuju tangga samping. Air kencingnya sudah ada di ujung, dan sebentar lagi mengucur deras kalau ditahannya beberapa detik saja.
Selang beberapa menit, Zainal menarik napas lega. Dia merasa selamat sampai kamar mandi. Tidak tercecer setetes pun air kencing selama perjalanan menyiksa itu.
Zainal segera membetulkan celana pendeknya saat tangkapan matanya berbalik ke arah pintu. Dia mulai merancang pelariannya menuju tangga dan berakhir di kamar. Dalam benak, dia sadar kengerian ketika nantinya harus menatap tangga kayu dan sumur tua.
Untuk menuju ke sana, Zainal harus memandang ruang kosong temaram dan seringnya terendus bau aneh dari sana, mirip kembang kenanga.
Dia akan menaiki tangga perlahan setelah berhasil melewati ruang kosong itu untuk mencapai koridor kamar kos yang menakutkan ketika menjejak tangga teratas.
Tengkuk Zainal mendadak meremang mengingat kejadian di kamar mandi yang menimpa Ibnu.
Dan berlama-lama di kamar mandi pun tidak akan membantu banyak menenangkan detak jantungnya supaya tidak berlompatan, karena kemungkinan ketukan dari luar akan segera mengganggunya. Zainal menggeleng cepat. Dengan berat hati, Zainal membuka pintu kamar mandi dan melangkah cepat.
Begitu pandangan Zainal berhasil menangkap temaram rumah induk dan pintu yang masih tertutup rapat, otomatis suasana mencekam tersebut memperlihatkan padanya bahwa tidak akan ada pertolongan untuknya kalau sampai terjadi apa-apa dengannya.
Zainal segera meniti tangga.
Tepat saat menjejak tangga paling atas, Zainal memelotot mendapati tempat jemuran di lantai dua tampak mengerikan ketika tertiup angin. Sebuah bayangan semakin lama tampak semakin jelas, seolah menantinya sedari tadi.
Hantu jemuran? Otaknya mengurai sekaligus bertanya. Namun, tidak ada jawaban.
Zainal mengklasifikasikan sosok asing berkaki jenjang dan pucat, sementara tubuh bagian atasnya tersembunyi di balik seprai yang berkibar. Zainal membayangkan kegerian makhluk yang sebentar lagi akan menampakkan dirinya itu, sepenuhnya, kalau sampai seprei tersibak.
Kaki Zainal seperti terpaku saat seprai tersingkap lebih banyak ketika embusan angin terarah dari selasar. Tempat seterika baju berada.
Sosok itu sengaja menampakkan diri.
Dalam diam dan gemeratak giginya, Zainal dilanda kepanikan. Keringat dingin mulai menghiasi kening dan punggungnya saat hantu jemuran benar-benar tergambar sempurna. Aroma anyir menguar hebat begitu Zainal berusaha menggerakkan kakinya. Lagi-lagi, susah. Seperti terpatri.
Wajah yang tertampil di hadapan Zainal kini menyerupai mayat. Pucat pasi. Kelopak mata Zainal sepertinya susah mengatup. Mengetat. Dia pandangi sosok itu dengan kesadaran tingkat tinggi. Hantu jemuran benar-benar tampak nyata di hadapannya.
Zainal menebak, hantu jemuran itu berkelamin perempuan. Rambutnya tergerai panjang hampir menyentuh lantai. Kulitnya kisut. Dada telanjangnya membusung kala rambutnya diterpa angin. Zainal pastikan bola mata hantu jemuran itu berwarna merah darah, melotot sampai hampir keluar.
Dia bingung memilih untuk tetap sadar atau pingsan kalau sampai sosok itu mendekat. Maka, yang terpikir olehnya sekarang adalah tetap sadar dan berusaha memancing suaranya keluar. Memanggil nama Ibnu, Dirga, atau keduanya sekaligus.
Namun, sepertinya ada yang mengganjal di tenggorokannya. Dia seperti sekarat.
Kala hantu jemuran itu benar-benar berdiri di hadapannya dan sedikit menundukkan kepala, memperhatikan Zainal yang ketakutan karena posisi berdiri hantu jemuran itu lebih tinggi dari Zainal. Dia hanya sanggup menarik napas dalam-dalam.
Wajah mereka kini hanya berjarak tidak lebih semeter.
Ketakutan menjalari benaknya. Dia hanya mampu menarik napas panjang, seakan bersiap meninggalkan dunia fana ini.
Ketika jari-jari panjang hantu jemuran menyentuh dada Zainal, dia hanya ingat panas yang ditimbulkan sebelum terpejam. Kepala bagian belakang Zainal sontak membentur dudukan panjang dari semen di bagian ujung, yang dipergunakan sebagai ruang tunggu sebelum masuk kamar mandi.
Otot-otot yang melekat pada tubuh Zainal serasa melemah setelah terjatuh dari tangga kayu dengan gedebuk sekali, dan tidak pula membangunkan penghuni kos. Zainal memejam setelah menarik napas panjang sekali.
@bacahorror
@threadhororr
@IDN_Horor
#ceritahorror
#rumahtusuksate

Bab 20 : Sesi Pemanggilan
Satu jam sebelum Zainal terjatuh dari tangga....
Mimpi itu datang lagi. Bengawan, rumpun bambu, keriut antara daun, ranting serta dahan, lalu terdengar suara parau sesosok astral, kemudian terpampang wajah bocah perempuan yang tidak sedang baik-baik saja suasana hatinya.
Dorong saja, Dirah. Dorong selagi tidak ada orang!
Sesekali nyalang di mata Ngadirah tertuju kepada Sami. Tangan kecilnya gemetar saat mecabuti kembang di pinggir bengawan. Gerakannya terlalu liar.
"Kau pasti diajak ke pasar malam, Dirah. Tenang saja," hibur Sami. "Mungkin Bapakmu lupa bilang padamu. Kalau perlu, nanti aku tanyakan, ya."
"Diam!" Ngadirah membatin, mencoba sekuat tenaga untuk tidak mendengarkan ocehan sepupunya itu. Rahangnya masih mengeras. Dicabutinya kembang-kembang pinggir bengawan dengan gerakan makin liar.
"Kalau Bapakku bukan hanya lupa, Dirah. Pasti Bapakku tidak punya waktu untuk mengajakku ke pasar malam." Sami memandang ke kejauhan riak bengawan. Mata jernihnya mengerjap. Pelupuknya mendung. "Bahkan Bapakku mungkin sudah lupa kalau punya anak."
Rahang keras Ngadirah berangsur melunak setelah mendengar ucapan sepupunya itu. Hatinya menghangat. Tangan mungilnya tertahan di udara. Beberapa kembang jatuh ke tanah.
Meskipun ia tidak paham dengan masalah orang dewasa dan apa yang menimpa keluarga Sami, tetapi ia tahu ada yang tidak beres dengan kelakuan bapak Sami. Selentingan kabar berembus kalau bapak Sami kepincut perempuan gatal penjual kopi di warung, di desa seberang.
"Coba saja kau ada di posisiku. Pasti kau paham betapa bahagianya punya keluarga sempurna sepertimu. Yang selalu ada untukmu. Yang tidak akan melupakanmu. Kalau saja hidup mau berpihak padaku, aku ingin sekali menukar nasibku...."
"Maksudmu, kau mau menukar nasibmu denganku?" Ngadirah membatin sebal. Kepalan tangan Ngadirah kembali mengencang. Dia tidak habis pikir mendengar kalimat konyol semacam itu keluar dari mulut Sami. Keterlaluan.
Dia memang tidak tahu diri, Dirah. Kalau sudah seperti ini, siapa yang bisa menjamin suatu saat Sami tidak mengambil bapakmu juga? Orang yang paling kau sayangi di dunia?
Bisikan tersebut mengencangkan niatan Ngadirah untuk berjalan berjingkat-jingkat menuju tempat Sami yang mematung, memandangi riak bengawan. Kedua tangan Ngadirah terangkat sedada, pandangannya mendadak kosong. Bukan nyalang seperti kesetanan. Namun, senyum sinisnya terbentuk.
Dalam hitungan detik, suara benda terjatuh terdengar di riak bengawan terdengar. Kepala dan tangan Sami hanya beberapa kali terlihat saat mencoba menggapai udara. Ketika pandangan kosong Ngadirah terusir dan kesadarannya kembali pulih, barulah dia menyadari kesalahannya.
"Tolooong!" lolongan Ngadirah keluar bersamaan dengan dengkulnya yang lemas. Dia terduduk dan mengulangi seruannya sampai seseorang mendengar, dan menghampirinya karena Sami tidak muncul-muncul lagi ke permukaan.
#
Dirga terkesiap, terengah-engah sambil menekan detak jantungnya yang seperti mau melompat keluar. Dia ingin sekali tidak percaya dengan mimpinya itu, tetapi merinding juga membayangkan hal semacam itu apakah benar-benar terjadi di kehidupan Mbah Putri.
Kini, kesadarannya timpang sebelah. Mimpi yang sebelumnya terhenti dan cerita yang kemungkinan besar Mbah Putri tidak selesaikan, berkelindan.
Ah, tidak mungkin. Ini pasti tipuan. Mbah Putri tidak mungkin senekat itu. Mbah Putri sayang sekali dengan Mbah Sami.
"Mbah Putri tidak mungkin tega melakukannya. Aku yakin itu...." Dirga menggeleng, berusaha menepis keraguan di dalam hatinya. "Aku harus menyelidikinya."
Dirga manggut-manggut sendiri. "Apalagi aku sudah tahu namannya. Wojogeni. Sekarang, aku harus memastikan kalau cerita Mbah Putri itu benar. Makhluk itu yang salah."
Selesai mengelap bulir keringat yang menghiasi keningnya, Dirga segera duduk bersila di atas kasur. Dia lalu membersihkan isi kepalanya dari segala prasangka. Memejam, menajamkan mata batin.
Setelah teman-temannya selesai mandi dan masuk ke kamar masing-masing, sunyi terasa mencekam. Anehnya, hal tersebut malah membantu Dirga memusatkan pikiran.
Salamun jagad aki, nini, danyang.

Terap-terap danyang sabuwono, siro podho tumeko.
Terap-terap danyang kang mbau rekso Gunung Kawi, siro podho ewang-ewangono aku iki turune prabu Aji Soko.
Buka'no plawangan Wojogeni.
Kulo undang panjenengan amargi kalepatan. Mugi-mugi, panjenengan purun dugi. Bumi, langit, wetan, kulon, pancer bumi lan angin-angin, supados sedoyonipun aki, nini, danyang, kawulo nyuwun pitulung pakundang panjenengan Wojogeni.
Dirga mengulang bacaan tersebut berkali-kali, persis yang diajarkan Mbah Putri ketika masih sugeng (sehat). Kecuali bagian Wojogeni, karena keduanya dulu belum sempat mempraktikannya.
Mbah Putri keduluan jatuh sakit, koma, lalu terbangun sebentar untuk memberitahu Dirga sesosok nama yang tidak ia sebut secara sempurna itu, kemudian Mbah Putri pamit pergi selama-lamanya.
Dirga tahu, bacaan tersebut dapat digunakan untuk mengundang makhluk tak kasat mata dengan cara sehalus mungkin. Membujuknya keluar dari persembunyian, tanpa harus membuatnya tersinggung. Kali ini, dia berharap bacaan tersebut berlaku sama untuk memanggil Wojogeni.
Beberapa menit berselang dalam keputusasaan, akhirnya Wojogeni hadir di hadapannya. Dirga sama sekali tidak terkejut karena penampakan Wojogeni sama seperti sebelumnya.
Sosok itu kini sedang berdiri di atas kasur, dengan kepala menunduk dan punggung menembus langit-langit kamar. Rambutnya menjuntai kusut, menutupi buah dadanya yang membusung.
"Opo nyeluk aku (ada apa memanggilku)?" ujar Wojogeni. Keluaran suaranya terdengar seperti tercekik. Pandangannya tajam seperti ingin menguliti Dirga hidup-hidup. Jari tangannya yang panjang nan runcing, siap menggaruk apa dan siapa saja yang ada di hadapannya.
"Apa kamu makhluk yang sama, yang tahu cerita Mbah Ngadirah dan Mbah Sami-ku?"
Tawa Wojogeni tidak lebih baik dari suaranya yang seperti orang tercekik ketika berucap. Mirip orang terkena asma. "Aku suka sekali berbagi pesan dengan manusia-manusia macam kalian. Sayangnya, kamu tidak perlu tahu pesan tersebut. Kenyataan pahit itu," balas Wojogeni, sombong.
Namun, Wojogeni mampu membaca pikiran Dirga. Dan sepertinya ia ingin mengambil alih kendali sebelum Dirga mutung dan niatan sebelumnya tak tersampaikan. "Tapi, terima kasih banyak sudah mengundangku kemari. Auramu sungguh memikat. Kamu pun tidak perlu puasa untuk memanggilku.
Aku ingin sekali menghirup auramu sampai tidak berbekas."
"Kenapa kamu ada di sini?" Dirga ubah arah pertanyaannya.
Perlahan-lahan, Wojogeni merosot dari posisi berdirinya. Ia meniru duduk bersila Dirga, dengan melayang setelah mencondongkan tubuhnya sejenak, sambil mengamati Dirga.
Meskipun Wojogeni hadir dengan rambut kusut menutupi bagian dada dan bagian bawah tubuhnya yang telanjang, ia tampak tangguh dengan sorot mata bening, semerah darah.
Saat itulah, Dirga menyadari bahwa Wojogeni memang memiliki sisi yang mampu menarik perhatian siapa pun untuk mengenalnya. Di balik keseramannya, tersimpan rahasia besar yang tidak mungkin sembarangan disimpannya sendiri. Termasuk, rahasia leluhurnya.
"Ini rumahku," balas Wojogeni setelah duduk bersilanya nyaman.

"Rumah ini bukan rumahmu. Kamu hanya peliharaan di sini. Sebenarnya dari mana asalmu?"
Nyalang terlihat dari matanya yang terlalu banyak bulatan hitam. Bagian putihnya berganti warna merah darah. Wojogeni kembali membuka mulutnya,
"Aku sudah ada di dunia ini sesaat setelah kalian beranak pinak, sebelum kalian mampu menghitung tahun berapa di kalendermu itu. Tidak ada yang memeliharaku. Aku ini makhluk bebas. Bebas menentukan apa, siapa, dan di mana aku tinggal." Wojogeni mengakhirinya dengan kekehan.
"Kamu tahu, merekalah sebenarnya yang kupelihara. Aura mereka adalah makananku sehari-hari." Tawa Wojogeni seperti tak habis-habis.
"Kamu mau uang banyak? Kebal dengan benda tajam? Atau, kamu mau apa? Akan aku beri selama kamu tidak meminta untuk menghidupkan orang mati. Tapi sabaliknya, kalau kamu mau mematikan orang yang hidup, aku bisa membantumu."
Dirga menggeleng cepat. Sebaris kecanggungan terbentuk saat Dirga menelan ludah. Dia tidak nyaman mendengar penawaran Wojogeni. Terdengar dan terasa menakutkan.
"Aku bisa mengabulkan permintaanmu. Syaratnya bisa saja mudah, bisa saja susah. Semuanya tergantung padamu. Auramu sungguh menggoda, Anak Muda.
Karena aku menyukai orang yang bisa memanggil atau mengusirku semaunya atau semaumu, jadi aku bisa pastikan akan berada di dekatmu, seumur hidupmu.
Akan kupermudah syaratnya. Beri aku makanan saat butuh. Darah segar. Boleh binatang, boleh manusia. Mungkin, sesekali aku ingin darah manusia. Buktinya, Suyitno tidak menyesal menjadi peliharaanku."
"Tapi Pak Suyitno tidak kaya raya?" tantang Dirga.

"Tidak semua orang butuh harta, Anak Muda."

Nyalang di mata Wojogeni berangsur memudar. Ia mengulum senyum meski lebar mulutnya bisa sampai telinga.
"Penawaran menarik. Tapi sayangnya aku tidak tertarik," tolak Dirga.
Wojogeni menarik senyuman itu di bibirnya. Dirga melihat kengerian saat Wojogeni menatapnya balik. "Kalau begitu, aku sendiri yang akan mencari korban berikutnya. Kamu akan menyesal telah menolak tawaranku!"
Belum sempat Dirga mengusir Wojogeni, ia sudah lebih dulu menghilang.

Lamat-lamat, Dirga mampu mendengar suara seperti bisikan.
"Aku tahu bagaimana masa lalu Nenekmu dengan saudaranya yang menghilang itu. Kamu ditipunya selama ini. Ha-ha-ha...."
Dalam sekejap, perkataan Wojogeni menimbulkan geram di hatinya. Mengingat cerita Mbah Putri yang diketahuinya, ada dendam yang seharusnya ditagih. Dan Wojogeni sebagai pelaku tunggalnya. Lalu, dengan cara apa menagihnya? Menjadi sekutunya?
#
Tak berapa lama setelah Dirga dan Wojogeni mengobrol serius, Dirga terperanjat dari tidur ayamnya. Dia mendengar suara nyaring Ibnu. Raungan yang mampu membangunkan seisi kos yang sedang terlelap.
Ibnu masih berusaha meminta tolong ketika satu persatu anak-anak kos mulai mendekat.
Pemandangan selanjutnya yang Dirga dapat, Zainal terjatuh dengan kepala tidak terlihat di bawah tangga. Seperti terperosok. Kengerian itu mengingatkannya akan keberadaan Wojogeni yang tidak main-main dengan omongannya barusan.
Dirga tahu, Wojogeni bukanlah makhluk bodoh yang akan masuk perangkap untuk kedua kalinya. Jadi, tidak mungkin ia akan muncul di hadapannya sekarang seterang matahari, meski dipanggil berkali-kali.
Tumbal?
Darah segar?
Dirga kesusahan meneguk ludah. Bibirnya kelu. Dia tidak paham apa yang akan dilakukan sosok itu berikutnya kalau sampai dia salah langkah atau tujuan.
@bacahorror
@threadhororr
@IDN_Horor
#ceritahorror
#rumahtusuksate

Bab 21 : Menyambung Doa
Persis di seberang sungai beraliran sedang, sebuah rumah sakit rujukan tampak menjulang.
Dan sebelum ambulans putar balik karena jalan searah, Ganda pandangi Zainal yang sedang memejam. Lehernya berpelindung. Dalam diamnya, Ganda tidak menyukai suasana yang terekam. Persis suasana duka, pikir Ganda sambil berkaca-kaca.
Dalam sekelebat, silau akibat lampu mobil lain menjangkiti penglihatan Ganda saat ambulans sedang putar haluan. Kesedihan tak tertahankan. Sekuat tenaga dia bungkam rasa pahitnya.
Sejak mendengar Ibnu meraung di tangga teratas kos, Ganda tidak mampu menitikan air mata. Dia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian ingatan mengenai almarhum ayahnya mengampiri. Tumpang tindih. Tangan dan kakinya gemetar.
Dia ingat, kala itu seharusnya ayah Ganda bisa dilarikan ke rumah sakit kalau saja ada pinjaman mobil dari tetangga, atau setidaknya ada yang tergerak menghubungi pihak rumah sakit.
Entah dengan telepon rumah atau telepon umum. Makanya, dari semua penghuni kos yang kebingungan malam itu, Ganda terlihat yang paling ribut. Bahkan Ganda mengomeli Mario yang hanya terduduk, linglung.
Dan saat ini, duduk di sebelah Ganda, Mario juga berkelakuan sama. Dia terpaku memandangi Zainal yang terbaring lemah. Zainal dalam keadaan tak sadarkan diri sewaktu dipindahkan dari tempat kos ke dalam mobil ambulans.
Selama hampir satu jam, kepanikan melanda penghuni kos setelah mendengar raungan Ibnu meminta tolong dari arah luar kamar. Dialah orang kedua yang menemukan Zainal terjatuh dari tangga.
Waktu itu, Ibnu hanya memandang jauh ke bawah tangga sebelum akhirnya Mario berhasil menenangkan kepanikannya, setelah mendapat omelan Ganda. Tidak ada darah keluar dari lubang hidung atau mulut Zainal, tetapi semua yakin Zainal tidak sedang baik-baik saja.
Kepalanya terperosok di bagian baduk sementara kakinya di atas. Ibnu terduduk lemas ketika menemukan sosok yang dikiranya sudah tidak bernapas itu. Beruntung, niatan dalam pikirannya untuk pingsan tak diturutinya. Ibnu memilih berteriak sekencang-kencangnya.
Deru ambulans terpacu kian dekat dari arah pintu masuk instalasi gawat darurat, yang berada di sisi timur rumah sakit.
Setelah seorang satpam tergerak dari balik pos jaga dengan gerakan tangkas, mengarahkan mobil yang ditumpangi oleh rombongan dengan tongkat menyala agar segera menuju tempat parkir yang disediakan bagi kasus-kasus darurat.
Dua orang perawat berlari dari instalasi gawat darurat. Setelah petugas dari dalam ambulans membuka pintu dan mengeluarkan brankar, mereka lantas menyeret brankar pasien dengan gerakan sama cepatnya.
Sementara Sang Dokter menyusul dengan wajah kuyu. Kemungkinan besar baru terbangun dari tidur ayamnya.
Cuma Ganda yang ikut masuk instalasi gawat darurat mengiringi brankar dan derap langkah para perawat, sementara Mario duduk di ruang tunggu, memandangi pintu yang tertutup rapat setelahnya. Sambil komat-kamit membaca doa, dia berharap Zainal bisa diselamatkan.
"Kenapa dengan saudaranya, Pak?" tanya Sang Dokter saat brankar terparkir secara sempurna di ruang pemeriksaan darurat.
"Teman saya pingsan, Pak Dokter. Dan dia bukan saudara saya," terang Ganda tenang. "Dari tadi kami tidak berhasil membangunkannya. Akhirnya, kami putuskan untuk membawanya ke sini. Kami takut kalau sampai terjadi apa-apa dengan teman kami."
Kini keringat tercetak jelas di dahi Ganda ketika menjelaskannya. Ganda terdengar grogi saat memegangi lengan Zainal. Terlebih, baru kali ini dia masuk instalasi gawat darurat lagi, sepeninggal ayahnya.
Sang Dokter berjalan mendekat. Ia mulai memeriksa denyut jantung Zainal. Keningnya mengerut, berlipat.

"Dia baik-baik saja kan, Dok?" tanya Ganda kembali dengan muka waswas. Dia berkata pelan sambil mencengkeram bahu Zainal.
"Jangan khawatir, Pak. Saya periksa dulu teman Bapak―"
Sang Dokter belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat Zainal sontak terbangun. Dia terduduk. Pekikan Ganda terdengar. Ganda dan Sang Dokter sama-sama terkejut.
Namun, sebisa mungkin mereka bersikap wajar karena sungkan, meskipun dengan lonjakan pada detak jantung, tanpa kata, tanpa irama berarti.
"Bahaya!" ungkap Zainal dengan dada naik-turun. Dia memelotot, mengiringi pandangan lurus menembus pintu instalasi gawat darurat.
Ganda pegangi pundak Zainal erat, memundurkannya sedikit. Dia bergumam, "Bahaya apa? Kamu yang bikin kita dalam bahaya kalau tadi sampai kena serangan jantung!"
"Hantu jemuran itu... berbahaya, Ganda!"
Rahang Ganda seolah ringan. Dia kesusahan mengatupkannya. Ingin rasanya dia menempeleng teman satu kosnya itu. Bahkan Zainal tidak memandangnya sama sekali.
"Ia datang ke kos kita sebagai pertanda. Sesuatu yang nggak boleh diganggu. Sesuatu yang seharusnya ditidurkan dan tidak pernah dibangunkan lagi, apalagi diundang buat datang!" imbuh Zainal.
Racauan Zainal membuat dahi mereka berlipat. Sambil beradu pandang dengan Zainal yang masih mengomel sendiri, Sang Dokter dan Ganda hanya sanggup mengangguk pelan.
Dia mulai bertindak. Dirabanya kening Zainal, memeriksa sekali lagi kemudian tersenyum simpul. "Paling tidak, teman Bapak sudah siuman sekarang. Jadi, Bapak tidak perlu khawatir. Denyut jantungnya juga tidak ada masalah, selain agak cepat karena siuman."
"Benar itu, Dok?"
"Kemungkinan besar teman Bapak kecapekan dan butuh istirahat. Saran saya, biar istirahat di sini dulu. Sekarang, yang saya butuhkan adalah keterangan dari Bapak sebagai wali dan mohon maaf sebelumnya, administrasinya bisa diselesaikan lebih dulu. Mari, ikut saya," pungkas Dokter.
"Tapi, Dok. Teman saya tadi habis jatuh dari tangga. Lehernya juga berpelindung. Saya takut kalau sampai ada apa-apa dengan...." Tunjuk Ganda ke kepala Zainal yang masih tampak sedang membaca situasi sekitar.
"Kalau memang diperlukan, kami akan lakukan observasi. Tapi untuk sekarang, mari ikut saya sebentar." Sang Dokter menggiring Ganda supaya mengekor.
"Saya pulang saja, Dok." Kalimat Zainal menghentikan niatan pergi sebentar keduanya. "Saya nggak mau tidur di rumah sakit!" lanjut Zainal, berkata dengan suara lantang.
"Memangnya kamu mau pulang ke mana? Kos? Apa kamu tidak takut?" urai Ganda tenang.

Tidak ada jawaban dari Zainal selain dengusan.
Akhirnya, Ganda kembali bersitatap dengan Sang Dokter. Dia mengucap maaf berkali-kali supaya tidak mendengarkan temannya yang sedang meracau itu. Mereka pun melanjutkan niatan sebelumnya, mengurusi administrasi perawatan Zainal.
#
Setelah ambulans pergi dari gang Taman Bunga membawa serta Zainal, Ganda dan Mario, Eti dan Suyitno berniat pamit pulang duluan.
Beberapa menit kemudian, Dirga menyusul pulang sang pemilik kos karena teringat Ibnu sendirian di rumah. Saat Dirga sampai dan setelah membuka pintu samping kos, terdengar Suyitno membuka pula pintu rumahnya. Sepertinya Suyitno sengaja menunggu Dirga datang.
"Selamat pagi, Pak. Saya pamit istirahat dulu," izin Dirga begitu melihat Suyitno berdiri di ambang pintu. "Soalnya besok pagi saya harus sudah ada di kantor. Ada meeting dadakan."
"Iya. Selamat istirahat," kata Suyitno ramah. "Nanti kabari Bapak kalau ada perkembangan dari rumah sakit."
Dirga mengangguk dan berniat undur diri secepatnya dari hadapan Suyitno. Belum sampai tangan Dirga menutup kembali pintu samping kos, Suyitno sedang melangkah mendekat.
"Saya cuma mau bilang terima kasih ke Mas Dirga. Karena sudah repot-repot bawa ia pulang. Sekali lagi, terima kasih banyak atas bantuannya." Tak lupa Suyitno memulas senyum.
Selain keterkejutan, Dirga juga bingung memberi tanggapan. Akhirnya, dia hanya mengangguk kecil.
"Ya, sudah. Kalau begitu Mas Dirga segera istirahat. Sudah hampir pagi juga," lanjut Suyitno mengakhiri obrolan.
Dirga bergidik ngeri membayangkan apa yang telah dia perbuat. Kalau benar mahkluk tersebut masuk dalam katagori berbahaya untuk diundang kembali di dunia ini, maka Ade atau Suyitno adalah orang yang juga sama-sama berbahayanya.
Dan bodohnya lagi, dia tidak tahu apa yang barusan dia lakukan. Apalagi, ketika Dirga sampai terperdaya dengan bujukan makhluk tersebut untuk bisa kembali pulang, kemudian mencelakai salah satu teman kosnya.
#
"Bicara sama siapa sih, Pak?" Kepala Eti terjulur dari bukaan pintu saat Dirga selesai menggerendel pintu samping kos.

Suyitno menoleh. Senyumnya merekah. Ekor matanya jernih. "Anak kos. Ada hal yang harus aku pastikan."
"Cepat masuk! Di luar dingin" omel Eti. "Nanti kalau masuk angin malah merepotkan semua orang. Mbok ya dijaga kesehatannya. Istirahat yang cukup. Kita ini wis tuwek (sudah tua)."
"Ia sudah pulang, Bu. Sekarang, aku bisa merasakan kehadirannya. Ia ada di sini. Kembali ke rumah kita. Sama kita. Aku akan membujuknya sekali lagi supaya tidak pergi-pergi lagi. Aku akan menuruti apa pun permintaannya," urai Suyitno panjang lebar.
Wajah Eti terlihat bingung. "Memangnya siapa yang pulang, Pak?"
"Siapa lagi memangnya yang kita tunggu-tunggu selama ini, kalau bukan yang itu?"

"Oh, maksud Bapak... Wojogeni?"
Suyitno mengangguk dan menggiring Eti kembali ke kamar dengan langkah ringan. Rasa-rasanya, dia tidak perlu khawatir kalau sampai bola api kedua hadir. Wojogeni akan tetap melaksanakan tugasnya untuk melindunginya.
#
Sedikit jauh dari gang tusuk sate, Ade masih terpaku memandangi rumah Suyitno. Dia juga tidak ketinggalan menyaksikan kegaduhan dan orang-orang yang berkumpul di mulut gang setelah mengetahui ambulans datang.
Sejak Ade mengirim bola api pertama dan mengenai atap rumah Suyitno, hampir setiap malam dia datangi dan amati rumah kos tersebut. Memastikan bahwa dia bisa menyusup di antara pertanda.
Kali ini, Ade merasa berada di jalur yang tepat dengan menggunakan bayang-bayang Dirga. Dia yakin tidak akan ada yang curiga berkenaan dengan keberadaannya, sekalipun bola api kedua akan diluncurkannya dalam waktu dekat, dengan perhitungan cermat.
Dalam diam, Ade paham betul bahwa dia terlalu dekat dengan kematian. Ada resiko tinggi karena bertindak sejauh itu. Namun, tidak ada jalan berputar apalagi jalan keluar lain. Ade hanya ingin mengambil hak leluhurnya kembali. Wojogeni adalah warisan satu-satunya. Kebanggaannya.
"Waktunya sebentar lagi tiba," Ade bergumam sambil berlalu dari gang Taman Bunga. "Cukup sekali leluhurku dipermalukan. Kali ini aku tidak akan membiarkannya. Aku tidak akan mudah melepas apa yang menjadi hak-ku. Kalau perlu, nyawaku yang akan jadi taruhannya."
@bacahorror
@threadhororr
@IDN_Horor
#ceritahorror
#rumahtusuksate

Bab 22 : Ketidaksengajaan Berbuntut Panjang
Keadaan yang gelap di dalam kamar biasanya membantu Dirga untuk cepat lelap, tetapi sepertinya tidak dengan malam ini.
Pikirannya terus mengelana, padahal fisiknya minta diistirahatkan. Saat Dirga mencoba mengumpulkan keping demi keping petunjuk yang berserakan, saat itulah pening menyerangnya kembali secara bertubi-tubi. Berputaran.
Setelah pulang dan memeriksa Ibnu yang terlelap di kamarnya yang terbuka separuh, Dirga kembali ke kamarnya sendiri dengan pikiran bercabang ke mana-mana. Rasa-rasanya dia sedikit paham kenapa makhluk tersebut tidak seharusnya diusik, diusir, apalagi diundang untuk berkunjung.
Dan yang terburuk, sampai sekarang Dirga belum bisa mendeteksi keberadaanya, selain sedikit informasi bahwa Zainal masuk rumah sakit karena dirinya.
Ditambah, mengingat kalimat yang didengarnya dari Suyitno mengenai sesuatu yang pernah bersinggungan dengannya. Semuanya berkelindan, tetapi tak juga memperoleh jawaban pasti.
Sambil menerka-nerka, penampakan Wojogeni yang terlihat berumur ribuan tahun terus mengikat perhatiannya. Dirga hanya peroleh aroma Wojogeni saat menampakkan diri. Aroma kesturi.
Pernah sekali Dirga menghidu aroma tersebut di kebun neneknya dan di rumah sakit. Termasuk matanya yang semerah darah dan rambutnya yang hampir menyapu tanah. Dia terus ingat semua itu.
Sekarang pertanyaannya adalah, untuk apa Mbah Putri ngotot menyuruhnya memelihara Wojogeni? Sehebat itukah Wojogeni sampai-sampai jadi rebutan? Dan bodohnya lagi, Dirga menurut saja.
#
Kala itu, Dirga berjumpa dengan Wojogeni untuk kedua kalinya di depan pintu pagar rumah kos. Karena Dirga tidak berminat berurusan dengan makhluk tak kasat mata yang terus mengikutinya dari rumah sakit, jadi cepat-cepat dia membaca mantra dari Mbah Putri yang dia hafal.
Kulhu durhah.
Sato moro sato mati, janma moro janma mati, setan moro setan mati, buta moro buta mati, antu mara antu mati, iblis mara iblis mati. Ngaliho sing adoh nek kelakuanmu olo. Ojo ganggu aku, ojo ganggu konco-koncoku. Nek awakmu ora iso nulungi uripku, mending mangkato.
Nyingkriho sing adoh, rupamu olo. Ngaliho sing adoh, kelakuanmu olo.
Sekali berucap, Dirga berhasil mengusirnya.
Ketika itu, jarak makhluk tersebut hanya sejengkal, dengan wajah menyeramkan karena bola matanya yang merah seperti hampir terlepas,
rambut tergerai hampir menyentuh tanah, serta tungkai panjang tak sempurna ketika berjalan, dan gerakan tangan patah-patah seperti ingin menggaruk apa pun yang ada di hadapannya.
Semuanya terasa menakutkan ketika diingat-ingat. Dirga merasa ngeri hanya dengan menatap, apalagi harus berlama-lama berada satu napas dengan makhluk tersebut. Dia tegas menolak keberadaannya.
#
Mundur ke beberapa jam sebelum Wojogeni mengikuti Dirga sampai rumah kos tusuk sate....
Malam itu, Dirga pulang larut. Dia besuk Sander, teman sekantornya yang sedang dirawat di Rumah Sakit Mardi Waluya, bersama Agus. Mereka berangkat bersama-sama menggunakan sepeda motor Agus.
Untuk menuju rumah sakit, mereka harus melewati bagian bawah jalan layang dengan rel kereta api di lajur yang sama. Beberapa kali Agus sampai mengerem sepeda motornya karena polisi tidur atau pengendara lain yang tidak mengenal haluan. Dasar udik!
Sesampainya mereka di rumah sakit, Dirga merasa ada yang aneh. Rumah sakit terlihat terlalu remang, bahkan dari tempat parkir. Melalui koridor rumah sakit yang temaram, awalnya Dirga merasa ada yang aneh dengan instalasi gawat darurat yang tergabung dengan bangunan utama.
Tiba-tiba, sepasang mata melongok dari balik pintu kaca yang tertutup, sampai-sampai Dirga harus meneleng ke arah yang lain karena saking terkejutnya. Hal tersebut disadari oleh Agus. Dia bertanya dengan nada curiga. Dirga membalas dengan gelengan.
"Rumah sakitnya angker, ya?" tanya Agus setelah beberapa kali menangkap basah pandangan aneh Dirga. "Kamu tadi ngapain balik ke kantor segala? Kan nggak terlalu ngeri kalau kita bareng-bareng sama yang lain datangnya?"
Dirga menyerah. Dia mengangguk pelan. Memandangi Agus yang segera menelan ludah. Sepersekian detik sepertinya dia menyesal telah bertanya hal tersebut kepada Dirga. Untuk menetralisir keadaan, dia percepat langkah mengikuti Dirga yang juga menambah kecepatan berjalannya.
"Ada yang mengikuti kita dari masuk rumah sakit sampai sekarang," terang Dirga, pelan.
Agus semakin merapatkan jarak, seiring dengan langkah Dirga. Dia lalu mengarahkan pandangannya ke kanan dan kiri dengan manik mata awas. Agus coba menggerakkan lidahnya yang tiba-tiba kelu. "Ini nggak lucu sama sekali kalau kamu niatnya mau nakut-nakutin aku."
"Kamu yang tanya ke aku duluan?" balas Dirga tak mau disalahkan.
Selesai berkata seperti itu, tengkuk Agus serasa ditiup oleh angin yang datang entah dari mana. Selain celingukan, tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan. Dirga sepertinya enggan menyimpan ketakutannya sendiri.
Berkali-kali Agus mengumpat di dalam hati karena tidak ingin menantang sesuatu yang tidak terlihat itu. Berkali-kali pula Agus menyipitkan arah pandangnya kepada Dirga.
Namun, berkali-kali pula Dirga jail, memberi jarak kepada Agus dengan cara mengibas-kibaskan tangannya. Tak lupa, dia pasang wajah galak supaya Agus tidak merapatkan jaraknya lagi.
"Jancuk," umpat Agus lirih.
"Jangan ngomong sembarangan. Apalagi mengumpat di tempat yang tidak kita kenal." Dirga tiba-tiba deg-degan setelah mendengar ucapan Agus.
Tanpa komando, Agus menutup mulutnya dengan kedua tangan sebelum membalas, "Kenapa sama tanganmu, Dirga?! Jalan biasa saja. Nggak usah kebas-kebas segala!" Agus sepertinya tidak menghiraukan perkataan Dirga sebelumnya, dan kini semakin merapatkan jaraknya.
"Bukan aku nggak mau kamu nempel terus ke lenganku!" Dirga sebenarnya ingin tertawa keras atas kejailannya, tetapi ditahannya sedapat mungkin.
"Maksudku... dia, yang nggak terlihat itu, nempel terus di dekatku. Dan sekarang kamu malah nempel terus di sebelahnya. Aku kebas-kebas tangan itu buat dia, bukan buat kamu. Kamu tahu, sekarang ini kalian kelihatannya―"
Dirga memotong ucapannya sendiri dengan menarik napas panjang. "Lebih mirip dikatakan pipi ketemu sama pipi. Dempet."
Kalau saja Agus tidak ingat sedang berada di rumah sakit, mungkin dia akan mengumpat kembali ketika melewati koridor rumah sakit yang seperti tak ada ujungnya itu, sambil menjauh sejauh mungkin dari pundak Dirga.
Dirga tergelak mendapati semua itu sampai gedikan dari Agus di bahunya, menghentikan tawanya.
Setelah pintu kamar nomor 20A terlihat, ketenangan dalam hati mereka, terutama Agus, susah untuk dijabarkan dengan kata-kata. Apalagi ketika menangkap samar-samar suara yang mereka kenal.
Dari balik pintu, teman-temannya sedang tertawa-tawa dengan yang sakit, yang jelas terdengar paling kencang tawanya. Mungkin, mereka sedang menghibur Sander yang tergolek di rumah sakit karena tekanan darah tingginya kumat.
Saat Agus membuka pintu kamar, Dirga mendadak kaku di ambang pintu. Keningnya berlipat selama sekian detik untuk memastikan yang dilihatnya itu nyata atau tidak. Terlebih, begitu hidungnya menangkap aroma kesturi.
Makhluk cantik yang berada di sebelah Dirga yang sedari masuk rumah sakit ikut, mendadak raib. Besar kemungkinan karena makhluk yang ada di hadapannya kini sedang memasang picingan tak bersahabat.
Dengan mata semerah darah, rambut hitam menjuntai, serta taring di kedua sudut bibirnya, makhluk tersebut berhasil memancarkan aroma pertikaian.
Namun anehnya, hal tersebut berlangsung hanya sampai makhluk cantik yang ada di sebelah Dirga raib. Setelahnya, keramahan muncul tak terduga, dan tak dapat Dirga tampik. Kengerian yang terbentuk di balik senyum lebar makhluk tersebut begitu mengganggu.
Makhluk tak kasat mata itu memilih posisi berdiri di atas kepala Sander yang sedang menegakkan punggungnya.

"Selamat malam, Mas," sapa Dirga ramah, mewakili Agus setelah melangkah masuk.

"Kalian lama banget sampainya?" cecar Sander seketika.
"Gara-gara kelupaan bawa keranjang buah nih, sama nyelesein kerjaan kantor dulu, jadi ditinggal sama yang lain. Maaf, ya." Agus menyodorkan bungkusan berisi buah-buahan, yang langsung disambut hangat istri Sander dengan sigap.
"Kok repot-repot bawa bingkisan segala," aku Sander basa-basi.

"Ya, kalau nggak mau, boleh aku bawa pulang, nggak?" timpal Agus, sama-sama basa-basi.

"Hmmm... tega, ya?"
Yang lain ikut tertawa mendengarnya, setelah Agus membalas dengan mengangguk.
"Tapi, terima kasih banyak kalian sudah mau mampir," kata Sander sambil mempersilakan mereka duduk. Sander pun melanjutkan ceritanya mengenai penyakit darah tingginya yang sedang kumat dan minta perhatian lebih dari orang-orang di sekitarnya.
Sampai-sampai dia harus menginap di rumah sakit selama dua malam. Seperti biasa, penjelasan itu keluar dari mulut Sander secara berlebihan.
Sementara itu, Dirga melangkah pelan menuju tempat duduk yang ada di samping tempat tidur Sander dengan perasaan waswas. Dia takut kalau sampai makhluk tersebut berulah.
"Semalam seperti ada yang cekik sampai aku susah napas. Untung saja bisa baca doa, terus yang cekik kayak hilang gitu. Seingatku, ini antara mimpi atau bukan ya, yang cekik aku matanya merah. Pokoknya ngeri!"
"Mas, jangan cerita yang seram begitu. Aku lagi sendirian di rumah―" sambar Lia dengan wajah takut-takut. Operator kantor itu berkata dengan wajah memelas supaya Sander menghentikan ceritanya.
"Apa Mas pernah bersentuhan dengan dunia lain?" potong Dirga tiba-tiba, lalu mendapat pandangan menusuk dari Lia yang duduk paling dekat dengan istri Sander.
Kening Sander berkerut, mendengar pertanyaan Dirga. Yang lain pun ikut terdiam mendengarkan, terutama Agus yang seperti menggeleng, sama seperti Lia, berharap Sander atau Dirga tidak melanjutkan ceritanya.
"Memangnya kenapa Mas Dirga?" Sander balik tanya.

"Tidak apa-apa. Kalau iya, mungkin ada hubungannya dengan cekikan semalam itu," ulang Dirga sembari mempertajam pendengarannya.
Makhluk itu tersenyum miring. Dirga sudah tidak mungkin menutup-tutupi hal-hal apa saja yang tidak diketahuinya.
Sander mengangguk. Tidak ada tawa apalagi senyum di bibirnya, kecuali pandangan nanar tertuju kepada Dirga. "Dulu sekali, waktu di Gunung Kawi. Waktu itu aku sama teman-teman iseng pengin ketemu sama yang nggak bisa kita lihat dengan mata telanjang. Harus dengan mata batin."
Dirga tidak percaya kalau Sander begitu percaya diri mengakui. Padahal dia hapal betul kalau Sander bukan tipe orang yang gampang mengumbar rahasianya sendiri. Terutama hal klenik semacam itu.
"Terus, ketemu?"

"Iya. Ketemu."

"Maaf, Mas. Satu lagi. Kalau boleh tahu, dulu Mas minta apa?"
Orang-orang sepertinya mengobrol sendiri-sendiri sebab tidak ingin terlarut dalam cerita Dirga dan Sander, terutama Lia dan Agus. Jadi, Sander meminta kepada Dirga supaya mendekat. Berbisik. "Aku minta tahan bacok. Dan seingatku berhasil."
@bacahorror
@threadhororr
@IDN_Horor
#ceritahorror
#rumahtusuksate

Bab 23 : Kekhawatiran Memikat
Jam di ponsel Dirga tengah menunjukkan pukul tiga dini hari. Namun sejak masuk kamar dan mematikan lampu, dia belum juga terpejam.
Ketidaknyamanan menggelayuti benaknya. Badan dan hatinya mendadak rapuh. Kemudian rasa bersalah terus menggerogoti dari dalam. Bahkan Dirga tidak terganggu dengan penampakan dari balik pintu kamar.
Sekalipun nantinya makhluk tak kasat mata itu mampu menerobos masuk, Dirga tidak lagi peduli. Dia tidak akan mengusirnya.
Tak... ctak... kreeek....
Terkesiap, Dirga buru-buru turun dari kasur setelah mendengar pintu depan digeser. Karena sepi, Dirga mampu mendengar obrolan lirih antara Ganda dan Mario dari balik tembok kamarnya. Perasaannya campur aduk.
Cepat-cepat dia buka pintu samping kos dan mendapati tiga orang temannya sedang memasuki halaman depan. Dan anehnya, bapak atau ibu kosnya tidak juga muncul untuk memeriksa. Lagi-lagi, Dirga tidak peduli.
Disambut senyuman tipis dan wajah lelah Ganda serta Mario, Dirga merasakan kelegaan luar biasa. Apalagi ketika melihat Zainal, yang meskipun berpelindung leher, terlihat utuh dan baik-baik saja. Hal tersebut begitu saja menenangkan hatinya.
Tanpa menunggu teman-temannya buka suara, Dirga sudah lebih dulu memberondong mereka dengan tiga pertanyaan sekaligus. "Kok cepat pulang dari rumah sakitnya? Kok kamu bisa jatuh, Nal? Apa ada yang mendorongmu dari tangga?"
Zainal menghela napas panjang. Sepertinya dia tidak berniat menjawab pertanyaan Dirga yang cukup mengganggunya itu.

"Sebentar jawab pertanyaannya," balas Ganda, mewakili kelelahan semua pihak. "Yang paling penting sekarang, kita masuk dulu. Di luar dingin."
Ganda dan Mario cekatan memapah Zainal masuk ke kosan. Dirga mengikuti mereka dengan kening berkerut. Meskipun dengan langkah tertatih dan hati-hati dan sempat berhenti ketika memandangi tangga kos, mereka sampai juga di ruang tivi lantai dua.
Tampaknya Dirga urung menanyakan kembali pertanyaan sebelumnya ketika melihat Zainal duduk lemah sambil menegakkan punggungnya di kursi panjang.
"Kalau sudah begini, sebaiknya kita panggil Pak Ade saja buat ke sini. Supaya bisa bantu kita keluar dari masalah ini. Supaya semuanya cepat selesai," saran Ganda tanpa diminta.

"Kenapa tidak kita complain saja yang punya rumah?" balas Dirga.
"Jawabannya pasti template: nggak ada apa-apa di kos ini. Kalian jangan nyebarin berita yang enggak-enggak." Ganda menirukan suara Suyitno saat mengatakannya.
Bibir Dirga mengerucut. Dia setuju dengan perkataan Ganda, walaupun rasanya sedikit tidak terima dengan kenyataan semacam itu. Pemilik kos selalu benar.
"Menurutku, kos ini sudah tidak aman. Kalau aku punya uang lebih, aku pasti sudah pindah dari sini. Kalau perlu malam ini juga." Mario menarik napas panjang. Mata pandanya mulai tampak.
"Kalau nanti aku sudah kaya raya, aku juga nggak mau nyari tempat kos yang murah banget. Pasti ada apa-apanya." Kali ini menambahkannya dengan dengusan. "Tapi semurah-murahnya tempat kos ini, seingatku dulu nggak pernah horor begini. Ya, kan?"
Mario mencari validasi dengan mengedarkan pandangannya.
Yang lain bergerak cepat, mengangguk.
"Bukannya nanti malah mencurigakan kalau bawa Pak Ade ke sini buat lihat-lihat rumah kos ini?" Dirga berkata dengan keraguan terlihat jelas di wajahnya. Sepertinya dia belum mempercayai sepenuhnya keberadaan Ade, apalagi pertolongannya.
Ganda fokuskan pandangan ke anak tangga rumah induk sambil menaruh jari telunjuk di bibir. Dia berharap tidak ada yang muncul dari sana seperti sebelum-sebelumnya. Seseorang yang tidak diinginkannya menguping.
Kali ini, dia tidak ingin gagal membawa Ade ke rumah kos tersebut sebelum mencobanya.
"Pelan-pelan ngomongnya," pinta Ganda. "Aku bakal urus semuanya besok. Gampang itu." Dia berinisiatif memecahkan masalah ini, secepat-cepatnya.

"Caranya?" Mario turut serta menebalkan keraguan di wajah Dirga.
"Bilang saja kalau Pak Ade mau cari tempat kos. Mumpung ada kamar yang kosong juga. Pokoknya, aku bakal bawa Pak Ade ke sini buat lihat-lihat dulu. Dan yang terpenting lagi, pas nanti orangnya ke sini kita semua harus kelihatan nggak mencurigakan.
Kalian juga bantu pura-pura nggak kenal sama Pak Ade. Nanti aku urus juga Ibnu," balas Ganda mencoba menenangkan semua orang. "Eh, Ibnu mana?" Ganda baru sadar mengenai keberadaan temannya yang satu itu setelah menyebut namanya.
Kepala Dirga menyentak ke arah kamar Ibnu yang terbuka separuh. "Dia tidur."
"Bisa?"
"Ya bisalah. Kebo dilawan," Mario menimpali pertanyaan Ganda dengan cara melawak. Karena tidak ada yang tertawa apalagi tersenyum, menyadarkannya bahwa bercanda di situasi genting seperti ini tidaklah sopan. Mario langsung menunduk. "Maaf."
"Tapi aku sepertinya nggak bisa ikut," tutur Dirga sedini mungkin.

"Sama," Mario bersepakat. Mendongak dengan harap-harap cemas.
"Tenang, aku yang akan menemui Pak Ade di mal." Ganda seperti ingin menyudahi pembahasan mengenai Ade.
"Setuju. Kalau ada pilihan nggak harus ke rumah Pak Ade, aku pilih jalan itu. Seratus persen dukung soalnya ngeri kalau ke rumah Pak Ade lagi. Takut."
"Iya. Aku juga mikirnya begitu," tutur Ganda.
Dari posisi duduknya, Zainal hanya bisa tersenyum sembari meneliti keadaan sekitar. Sekian detik bersitatap, Zainal merasakan kejanggalan pada diri Dirga. Keraguan. Zainal bersiap menepis segala prasangka.
Namun, seketika niatan itu raib saat dia melihat pantulan sesosok makhluk astral di kaca pembatas antara koridor dan ruang tivi lantai dua.
#
Matahari seolah datang telat ketika ditunggu. Sampai cerita Zainal menemui babak akhir, tetap saja di luar terlihat masih gelap.
Ganda dan kawan-kawannya seperti skeptis menjalani hari-hari berikutnya di rumah kos tusuk sate. Hanya Ade harapan mereka satu-satunya. Dan untuk memulai kegiatan yang tak bisa lagi ditunda dengan kemungkinan lain, apalagi kalau bukan kesialan.
Ganda merasa masalah yang mereka bahas sebelumnya segera mendapat solusi.
Sejak Zainal pulang dari rumah sakit petang tadi, hanya Ibnu yang masih terlelap di kamarnya. Tidak ada satupun dari mereka yang ingin mengganggu tidur Ibnu, sampai satu persatu akhirnya menyerah dan pergi ke kamar masing-masing untuk mendaratkan kepala mereka barang sejenak.
Kantuk sepertinya tidak dapat mereka kompromi lagi. Kini, tinggal Dirga dan Zainal yang masih tertinggal dengan suara samar tivi yang dinyalakan hanya sebagai hiasan.
Dirga yang sebelumnya merasa letih, mencoba mengalihkan perhatiannya saat memandangi Zainal yang tampak berbeda malam ini. Sesuatu telah mengubahnya dalam waktu singkat. Sesuatu yang sepertinya akan memburuk seiring berjalannya waktu.
"Aku tahu namanya Wojogeni. Dia salah satu penunggu kos ini. Yang nggak bisa diprediksi kedatangannya. Anehnya, aku bisa merasakan kehadiran mereka sekarang."

"Mereka?"

"Kuntilanak yang menemui Mario, Genderuwo Ganda, dan Si Tuyul kamar mandi."
Dirga menerawang jauh ke acara tivi yang entah sedang menyiarkan apa.
Sepertinya Dirga terlalu menegakkan lehernya, sampai-sampai Zainal sadar dan mengelus pundaknya pelan, mencoba menenangkan Dirga dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya. "Dia sendiri yang memperkenalkan diri. Dari hati ke hati. Aneh, ya?"
"Bukannya kamu bilang kamu mengantuk terus jatuh dari tangga soalnya belum sempat injak tangga teratas, terus kepeleset? Aku belum tuli dengan cerita panjang lebarmu tadi, Nal."
Zainal tergelak.
"Memangnya kamu nggak takut sama dia?" tanya Dirga kembali dengan wajah kesal.

"Sekarang aku sama sekali nggak takut."
Dirga terdiam, menunggu perkataan Zainal selanjutnya. Dia alihkan pandangannya kembali ke layar tivi. Dirga sadar, sepertinya benak Zainal sedang melayang jauh.
Dia merasa ada hal penting yang akan diketahuinya sebentar lagi kalau mau bersabar menunggu Zainal membuka diri atas apa yang diketahuinya.
"Dia sepertinya mau mencelakaiku. Sepertinya aku mau dijadikan tumbal kalau sampai kelewat sepuluh senti saja sewaktu aku jatuh. Apalagi kalau sampai kena ujung cor, pasti sudah bocor kepalaku," terang Zainal dengan tawa kecil yang sepertinya salah alamat.
"Jangan ngomong begitu." Rasa bersalah Dirga semakin terasa menusuk hatinya. Namun dia enggan bercerita kepada Zainal. "Memangnya dia ngomong apa pas ketemu kamu tadi? Mereka, kan, jarang mau berkomunikasi."
Zainal mengangguk pelan. "Ya itu tadi. Aku mau dijadikan tumbal."

"Beneran?"

"Serius."

"Kalau begitu, kita harus segera pindah dari sini."

"Sepertinya sudah terlambat."

"Kok bisa?"
"Mereka, terutama yang bernama Wojogeni itu, tidak akan melepaskan dengan mudah target yang sudah dikunci. Aku."

Dirga kesusahan meneguk ludahnya. "Aku masih sanksi dengan hal-hal semacam itu. Kamu pasti salah dengar, Nal."
"Mereka nggak bisu. Dia bisa bicara. Aku ngeri waktu lihat matanya. Kayak macan lihat kambing yang mau diterkam. Dipepet di pojok jurang, terus pilihannya cuma mati tertangkap atau jatuh ke jurang."
Zainal menurunkan, menyibak kaosnya dan memperlihatkan dadanya kepada Dirga. Satu tanda berwarna kebiruan terlihat. "Ini bekasnya tadi sebelum aku jatuh dari tangga. Dari sentuhannya aku bisa tahu niatannya. Saat itu, aku kira bakalan mati―"
"Sepertinya besok kamu harus periksakan lagi kepalamu itu, Nal," potong Dirga supaya Zainal tak lagi meneruskan kalimatnya yang terdengar mengerikan. Dia kembalikan posisi kaosnya.
"Kenapa?"

"Takut ada benturan di kepalamu terus otakmu jadi nggak beres." Dirga tertawa kecil. Zainal tepak lengan temannya itu.

"Semprul." Zainal mengembuskan napas panjang sambil tertawa geli. "Tumben-tumbenan kamu becanda garing begitu. Mulai ketularan Mario, ya?"
"Kamu beneran nggak mau tidur?" tanya Dirga, mengalihkan topik pembicaraan setelah menyelesaikan tawanya. "Mataku tiba-tiba berat nih, Nal. Kayaknya minta merem."
Zainal menggeleng pelan dan memandang jauh ke depan. "Nanti saja aku tidurnya. Kalau kamu mau ke kamar duluan, silakan."
"Ho oh."
Saat Dirga beranjak dari kursi panjang, Mario juga beranjak dari kegiatan mengupingnya dari balik pintu kamar. Dia yakin ada yang tidak beres dengan Zainal. Untuk ukuran seseorang yang baru saja dekat dengan kematian, Zainal terlalu tenang menanggapinya.
@bacahorror
@threadhororr
@IDN_Horor
#ceritahorror
#rumahtusuksate

Bab 24 : Tiupan Terkembang
Tangga kos rumah tusuk sate tidak akan sama lagi bagi penghuninya, terlebih bagi Mario. Dia sampai harus berhati-hati sekali saat meniti, turun.
Sampai-sampai dia terkesiap dan kuapnya hilang ketika menemukan Suyitno mengintip dari dapur utama, saat kakinya tengah menjejak tangga paling bawah. Dia elus-elus dadanya untuk mengusir kejut.
"Selamat pagi, Pak," sapa Mario.

"Iya. Pagi," balas Suyitno ramah. Sepersekian detik Mario merasakan keanehan pada bapak kosnya itu. Tidak biasanya dia membalas sapanya seramah itu. Mana masih pagi lagi. Biasanya Mario cuma mendapat balasan: hmmm.
"Mau berangkat kerja, ya?" Suyitno menambahkan balasannya. Suara alas cangkir tergeletak di meja keramik dapur tercipta. Berikutnya, suara sendok terangkut dari wadah pun terdengar. Anehnya, Suyitno masih memamerkan senyumnya.
"I-iya, Pak. Kebetulan hari ini barang datangnya pagi sekali. Jadi saya harus sudah buka toko sepagi ini." Mario mengangguk sungkan. "Permisi, Pak."

Saat Mario akan melangkah, Suyitno menghentikannya dengan cara berdeham. Ia bertanya lagi, "Bagaimana kabar Nak Zainal?"
"Nak?" Mario membatin. "Kabar baik, Pak. Tadi pagi sudah pulang. Sepertinya sekarang masih istirahat di... kursi di ruang tivi atas."

"Datangnya jam berapa?"

"Tadi pagi," ulang Mario.

"Kenapa tidak dirawat di rumah sakit saja? Biar sehat dulu."
"Zainal-nya yang tidak mau. Katanya sudah baik-baik saja," balas Mario cepat, lalu mencoba pamit kembali. "Pak, saya berangkat kerja dulu, ya."

"Iya, hati-hati di jalan."
Sambil mengaduk kopi pagi yang harumnya mengisi udara, senyum Suyitno tidak juga raib saat Mario menoleh dari sisi samping pintu dapur, sebelum dia benar-benar beranjak pergi. Mario merinding sebadan-badan.
#
Melalui satu-satunya jalan menuju jalur utama, sebelumnya Mario dibuat merinding saat membuka pintu pagar depan dan menutupnya dengan cepat.
Selain perangai Suyitno yang mencurigakan, gesekan antara daun mangga dan ranting serta dahan terkena angin pagi, mengingatkannya akan malam nahas Ganda bertemu dengan penunggunya.
Jangan ganggu saya, Mbah. Saya cuma numpang lewat, batin Mario. Dia kunci cepat pintu pagar dan sedikit menunduk. Tidak berani menatap lama-lama dan tergerak meninggalkan tempat tersebut cepat-cepat.
"Hei!" seru Sri dari balik kaca warung sambil menggelung rambutnya yang tergerai, lepas. Mario berhenti melangkah, menautkan alisnya.
"Mampir dulu ke warungku. Ngapain pagi bener berangkat kerjanya? Belum sarapan juga, kan? Sini dulu Mario," lanjutnya setelah berdiri di ambang pintu. Lirih, lagu Goyang Dombret terdengar dari tempat Mario berdiri.
Keraguan sempat mengisi benak Mario. Selain dia bohong kepada Suyitno supaya bisa secepatnya pergi dan tidak perlu mengobrol lama-lama dengannya, Mario juga malas mengulang cerita yang sama tentang Zainal kepada siapa pun, termasuk Sri.
"Kebetulan hari ini barang datangnya pagi banget, Bu Sri. Jadi saya harus buka toko cepat untuk pameran di mal nanti."
Sri melangkah menuruni tangga warungnya yang berjumlah tiga dengan cepat, lalu menggandeng tangan Mario supaya ikut bersamanya. Sebenarnya, lebih ke pemaksaan. Dan Mario tidak berkutik. Dia menurut saja.
"Duduk dulu," Sri berkata ramah seperti biasanya. "Kamu mau teh atau kopi?" tawar Sri setelah berhasil membawa Mario masuk warung.
"Teh hangat saja. Jangan panas," balas Mario cepat dan tertawa kemudian. Dia tidak menyangka untuk mendapatkan perhatiannya bisa semurah itu.

"Mau dibuatkan mi?"

Mario mengangguk. "Mi kuah ya, Bu Sri."
"Eh, maaf. Belum bisa. Gas-ku kebetulan habis, Mario." Sri meralat tawarannya. "Tapi tenang saja. Sebentar lagi tukang gasnya datang kok."

"Terus kalau nggak ada gas, tehnya bagaimana?"
Terdengar kursi bergeser di dekat Mario. Sri tergelak sambil menempelkan pantatnya, duduk di kursi yang tersedia. "Ya, itu juga nunggu. Kan lagi nggak ada gas. Gimana, sih?"

Mario mencureng. "Tahu gitu―"

"Temanmu apa kabar?" potong Sri, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Bisa ditebak, pembahasan akan merembet ke kejadian dini hari tadi. Sri sengaja menunggu siapa pun penghuni kos tusuk sate yang lebih dulu terlihat olehnya untuk dimintai keterangan.
Karena Mario tidak bisa tidur setelah menguping obrolan Dirga dan Zainal, dan karena ingin segera menyegarkan pikirannya dengan bekerja, jadi dia sengaja menghirup udara pagi, menghindari obrolan dengan Suyitno, tetapi sial ketika bertemu dengan Sri.
"Zainal sudah sehat, Bu Sri. Anaknya sekarang ada di kos. Lagi istirahat, tuh. Tapi sepertinya belum bisa dijenguk dan belum bisa ke mana-mana juga soalnya masih pakai pelindung leher. Masih di-observasi juga sama pihak rumah sakit. Untuk sekarang, pokoknya dia aman."
Sri manggut-manggut, dan tidak menyela sekecap pun penjelasan Mario.
"Assalamualaikum."
Mendengar salam seseorang dari luar warung, keduanya melongok melalui kaca. Mereka saling menatap wajah untuk beberapa detik lamanya setelah tahu siapa yang mengunjungi warung Bu Sri sepagi itu.
"Alaikum salam," balas Sri sambil beranjak dari kursi. Saat Mario berniat beranjak pula dari tempat duduknya, Sri sudah lebih dulu memelotot. Alhasil, Mario tempelkan kembali pantatnya. Nyalinya mengkeret.
"Sri, Sri... delogok jaran. Koen iku ancene gak genah (kamu itu memang tidak patut)!" omel tamu Sri saat mereka bersitatap.

"Opo seh (apa sih), Djum?" kata Sri sambil mengumbar tawanya. "Isuk-isuk kok wis ngilokne wong gak genah (pagi-pagi kok sudah memaki orang tidak patut)."
Djum―penjual isi ulang tabung gas―berdiri di depan pintu warung Bu Sri sambil mencangking gas melon pesanannya. "Gara-gara kamu, pagi-pagi aku wis padu ambek bojoku (sudah bertengkar sama istriku)."
"Lha kok iso (kok bisa) gara-gara aku tho, Djum?" Sri tergelak.
Tangan Djum merogoh ponsel dari dalam saku bajunya dan menunjukkannya kepada Sri. Sri terkekeh, lagi, saat mengingat pesan yang dikirimkannya subuh tadi. Padahal, menurut Sri pesannya biasa saja.
Dia hanya mengirim pesan untuk isi ulang tabung gasnya yang habis dan menambahkan emoticon cap bibir di akhir ketikan. Mana tahu Sri kalau pesan tersebut dibaca istri Djum dan jadi masalah rumah tangga sahabatnya itu.
"Kalau dicium beneran sih aku nggak apa-apa tiap hari bertengkar sama istriku." Djum mendekatkan layar ponselnya ke muka Sri lagi. Wajahnya masam. "Lha ini cuma gambar thok!"
"Lambemu (mulutmu)!"
Mereka kompak tertawa. Sri mempersilakan Djum masuk dan langsung menuju dapur yang menyatu dengan warung, meja makan, dan hanya dibatasi multipleks. Djum langsung bertindak setelah Sri mengambil tempat duduk di sebelahnya, dan mengawasinya.
Saat Djum duduk di lantai supaya mempermudah pekerjaannya, dia baru sadar ada orang lain selain Sri di warung. Mario mengangguk dan tersenyum kecil sewaktu wajah mereka saling bertemu.
"Kamu juga ditawari Sri buat diopeni (rawat) ?" tanya Djum dengan mimik muka jail.

"Heh!" Sri menepuk pundak liat Djum. Saking kerasnya sampai Djum mengaduh. "Ngawur koen iku (sembarangan kamu)."
"Canda, Sri. Kamu ini ya, kalau bercanda ke orang lain nggak pernah dipikir, kalau dibercandain sendiri nggak bisa. Iya kan, Mas? Eh, Mas namanya siapa? Kayak pemain bola."
Mau tidak mau Mario mengangguk dan tersenyum kecut. "Saya Mario, Pak Djum. Dan saya bukan pemain bola. Cuma jual sepatu bola."

"Panggil Lik Djum saja seperti yang lain."

"Iya, Lik Djum."
"Mario ini yang kos di depan situ lho, Djum." Tunjuk Sri ke gang tusuk sate. "Di rumah Bu Eti dan Pak Suyitno. Yang biasanya langganan ganti tabung gas di kamu juga."

"Oh, yang kos angker itu?"

Mario melongo. Susah payah dia telan ludahnya. Sementara Sri mengangguk-angguk.
"Seingatku, kamu tahu ceritanya juga, kan? Yang bikin geger sekampung dulu itu?" tanya Sri.
Djum melepas selang tabung gas lalu mengambil karet serta pisau untuk memperlancar pekerjaannya. Dia berhenti sebentar dan menoleh kepada Mario yang sepertinya menunggu kelanjutkan cerita darinya.

"Yang mati bunuh diri itu?"

"Ho oh."
"Bu Sri pernah cerita ke saya juga, kan?" Mario memutar kembali ingatannya. Sri mengangguk-angguk.

"Iya... yang kamar pojok itu? Tapi aku lupa kamar yang mana." Sri menepuk lagi pundak Djum. "Kamu mungkin ingat kamar yang mana? Waktu itu kamu ikutan nolongin, tho."
Tiba-tiba Mario merinding. Tebersit enggan di benak Mario. Dia ingin menghentikan pembahasan tersebut. Namun, mendapat informasi dari Djum atau Sri, bisa jadi petunjuk untuk langkah selanjutnya kawan-kawannya.
Siapa tahu Ade juga butuh informasi mengenai kamar pojok dan kamar kosong yang ada di rumah kos tusuk sate. Jadi, terpaksa Mario mempertajam pendengarannya.
Kernyit di kening Djum terbentuk. Dia arahkan pandangannya kepada Sri dengan wajah memelas. "Tapi nanti aku dimarahi sama Bu Eti sama Pak Yit kalau sampai anak kosnya kabur semua, Sri." Kemudian Djum menoleh kepada Mario. "Lupakan saja, Mas."
"Tidak apa-apa, Lik Djum. Kami tidak mungkin kabur. Tenang saja."
"Mereka ini anak-anak miskin, Djum," seloroh Sri seperti motor tanpa rem. "Nggak mungkin kabur. Lha sudah aku suruh pindah dari dulu juga nggak ada yang mau. Harga kosnya Bu Eti kan memang di bawah rata-rata. Seperempat dari kos lain."
Mendengar penjelasan Bu Sri barusan kenapa buat telinga jadi panas, ya? Mario memasang wajah masam. Sri membentuk kata maaf di bibir tanpa perlu mengutarakannya.

"Jadi, aman?" Djum seperti meminta persetujuan dari semua pihak. Mario mengangguk cepat.
"Aku lupa kapan tepatnya. Sepertinya nggak terlalu lama kejadiannya. Tiga atau empat tahun yang lalu. Iya kan, Sri?"

"Ho oh."

Sri dan Mario memasang wajah serius.
"Sayangnya aku nggak terlalu kenal sama yang kos di rumah Bu Eti dan Pak Yit. Jadi, nggak paham juga keseharian mereka seperti apa." Djum melanjutkan pekerjaannya.
Tanpa memandang kedua pendengar setianya, dia buka kembali omongan. "Tapi yang aku dengar, keduanya memang pendiam dan lagi ada masalah keluarga."
Djum berdiri dari lantai, lalu mencoba menyalakan api kompor setelah menarik otot-otot pinggangnya. Bunyinya sedikit meriah. Encok tak tertahankan.
Setelah memastikan semuanya aman dan menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu, Sri menawarkan teh hangat. Sri membuatkan dua gelas teh sambil meminta Djum untuk melanjutkan ceritanya.
Selagi mengiakan, Djum memantik rokoknya lagi. Dia embuskan asapnya sembarangan, bertumpuk-tumpuk. Dia tawarkan pula sebatang rokok kepada Mario, tetapi ditolaknya secara halus. Sepertinya Mario berkonsentrasi penuh mendengarkan cerita Djum.
"Waktu itu hujan deras selama seharian penuh. Kejadiannya sore hari, hampir magrib. Dua kamar, yang satu ada di pojok―"
"Kamar pojok yang mana, Lik Djum?" potong Mario cepat karena letak kamar tersebut adalah bagian paling penting dari informasi yang akan didapatkannya.
"Kamu tahu ruang tivi? Nah, kamar anak yang bunuh diri ada di sebelah ruang tamu, sementara kamar anak yang hampir gila atau mungkin sekarang sudah gila, ada di tengah."
Sri menyodorkan gelas teh ke masing-masing pengunjung warungnya. Mario menyeruput cepat-cepat teh hangat pemberian Sri, seperti kehausan. Belum lagi dia teguk ludahnya setelah itu sambil memandangi Djum dan Sri lekat.
Terutama Sri, karena informasi sebelumnya darinya tidak valid. Kamar pojok-pojok yang diutarakannya keliru, sementara Djum berkata kamar pojok dan tengah.
Ya, Tuhan. Kamar tengah itu kan ada kamarku dan kamar Dirga? gumam Mario dalam hati sambil memegangi bagian belakang lehernya.

"Ada apa?" tanya Sri saat kembali duduk di sebelah Mario.
"Sri!" Seseorang memanggil nama pemilik warung. Mereka bertiga menengok ke arah yang sama yaitu pintu. Ketiganya hapal betul pemilik suara itu.
"Iya, Pak Suyitno. Sebentar," balas Sri. Diikuti Mario yang beranjak dari tempat duduknya setelah menghabiskan teh hangat miliknya. Dia tidak ingin sampai bapak kos curiga dengan permainannya. Atau, ada bahasan mengenai dirinya yang menghindarinya sejak tadi.
Djum mengamati kedua orang itu dengan wajah datar. Dia pantik lagi sebatang rokok, lalu mengembuskan asapnya dengan mata terpejam. "Nikmat mana yang kau dustakan, Djum," gumamnya sambil tersenyum.
Mengenai informasi yang didapatnya barusan, Mario cepat-cepat mengirim pesan kepada Ganda setelah pamit undur diri kepada Sri dan juga Suyitno.
[Aku nanti ikut kalau kamu mau ketemu sama Pak Ade. Ada info penting yang harus kamu tahu. Sepertinya Pak Ade juga perlu tahu info penting ini].
@bacahorror
@threadhororr
@IDN_Horor
#ceritahorror
#rumahtusuksate

Bab 25 : Mendamba Asa
[Iya. Nanti aku kabari kalau sudah dapat balasan pesan dari Pak Ade. Soalnya hari ini orangnya libur kerja]
Alis Mario bertaut. Sejak kapan Ganda punya nomer hp Pak Ade? Oh, mungkin waktu ke rumahnya Pak Ade dulu, dia sekalian minta nomernya. Tumben pintar. Mario manggut-manggut. Dia tanya-tanya sendiri dalam hati, dijawab-jawab sendiri pula.
Dia baru sempat membaca pesan Ganda agak siangan setelah menyelesaikan bersih-bersih tempat kerjanya dan menata kiriman sepatu dari kakaknya untuk pameran.
Sengaja Mario mengirim pesan melalui jalur pribadi, bukannya WhatsApp group. Sebab dia tidak ingin membuat Zainal khawatir. Terlebih Ibnu yang mendamba drama itu. Lalu, tiba-tiba dia sadar. Benaknya menjadi tak keruan.
Informasi dari Sri dan Djum mengingatkannya kembali bahwa nasibnya tidak lebih beruntung dari Zainal ataupun Ibnu. Nasibnya seperti telur di ujung tanduk.
"Mas, jangan melamun terus!" bentak Restu karena Mario tidak juga menanggapi pertanyaannya.

Gelagapan, Mario membalas seruan Restu dengan memasang wajah galak. "Ta-tanya apa lagi?!"
"Sepatunya yang mahal di tumpuk di atas atau di taruh di bagian bawah lemari saja?" ulang Restu.

"Atas!"

"Iya."
Sejak tadi, Mario menerima keluhan Restu saat pandangannya mendadak kosong, membayangkan hal-hal yang menakutkan. Terkadang Mario tiba-tiba memekik dan Restu terkaget-kaget dibuatnya.
Untungnya, Mario tidak sedang sendirian di gudang. Hari ini Restu libur dari tempat kerjanya, jadi Mario bisa meminta tolong kepadanya untuk membantunya membereskan gudang. Kalau tidak, mungkin pekerjaan tersebut tidak akan selesai karena melamun lebih banyak mendominasi.
Tiga puluh menit sebelum jam istirahat, Ganda mengirimi Mario pesan. Tempat janjian dengan Ade telah dia tentukan. Di kantin basement.
Setelah menitipkan tokonya sebentar kepada Restu, Mario turun melalui tangga di samping bilik atm. Berjalan lurus melalui parkir mobil.
Sesampainya di kantin basement, Mario celingukan memeriksa beberapa kepala dan mendengar dengung pembicaraan yang memenuhi ruangan berbentuk persegi panjang tersebut.
Tipis, uap mi ayam seperti terpilin dengan aroma gorengan lalapan mujaer dan asap rokok, menepak penciuman Mario. Perutnya seketika keroncongan. Mulutnya kecut karena seharian belum merokok.
Dia pun baru ingat tidak jadi makan di Warung Bu Sri karena gas habis. Jadi, Mario berniat membalas dendam dengan memberi banyak-banyak makanan untuk cacing-cacing dalam perutnya yang sedang berteriak-teriak.
Tampak satu tangan melambai dari sisi dalam kantin, ke arah Mario. Lambaian tangan milik Ganda. Cepat-cepat dia melangkah setelah tahu bahwa Dirga juga ikut serta dalam rombongan.
"Katanya tadi nggak mau ikut?" cecar Mario sembari menepuk bahu Dirga. Mario memilih duduk di sebelahnya.

"Aku yang paksa Dirga supaya ikut," balas Ganda.
"Oh... gitu." Mario terkekeh. "Eh, aku pesan makan dulu ya. Lapar." Mario menoleh kepada Ade. "Pak Ade sudah pesan makan?"
Ade yang sedang berpakaian bebas karena hari ini libur, menggeleng pelan atas tawaran Mario. Ia tunjukkan rokoknya sebagai kode.
Begitu pesanan makanan mulai berdatangan dan mereka nikmati sembari mengobrol basa-basi, Ade juga melanjutkan menyeruput kopi hitamnya dan menikmati sesi merokok.
Ganda memulai bercerita. Menceritakan kembali kejadian yang menimpa Zainal, petang tadi, sepengetahuannya. Mario bertugas menambahkan detail, sementara Dirga menimpali dengan iya atau tidak tahu saja.
"Apakah ada yang aneh dengan Zainal setelah kejadian tadi?" Ade bertanya hati-hati.

Mario mempercepat kunyahan makanannya sebelum membalas pertanyaan Ade. "Ada...."
Dirga menggeleng pelan, memberi tanda kepada Mario supaya diam. Sementara Ganda dan Ade setia menunggu kelanjutan omongan Mario. Mereka terlihat tidak sabar saat Mario menggantung perkataannya.
Dalam hening, Mario menatap curiga Dirga sambil membuka mulutnya kembali seolah ingin menjailinya. "Menanggapi cerita Ganda barusan, menurut saya...."

Dirga menyerah. Dia biarkan Mario berkata semaunya.
Senyum Mario terkesan licik saat merasa menang atas perhatian Dirga. "Menurut saya...," ulang Mario serius. "Zainal terlalu santai untuk ukuran seseorang yang baru saja ketemu hantu yang menakutkan." Keraguan singgah di wajah Mario sebelum menyelesaikan omongannya. "Wojogeni."
Spontan, Ade menggeleng. Wajahnya sedikit ketat, dan Mario menyadari ada kesalahan dalam ucapannya. Dia memberi kode melalui tendangan kaki ringan kepada Ganda di bawah meja agar membantunya.
"Seperti ketemu hantu beneran, tapi bukan Wojogeni yang pernah diceritakan Pak Ade." Ganda menambahkan.

"Kalian salah!" Ade sedikit meninggikan suaranya. Dia pandangi satu persatu pendengarnya. "Wojogeni itu... menarik, bukan menakutkan."
Dirga sepakat.

"Apakah kalian tahu asal-usulnya?" tanya Ade setelah melandaikan emosinya.

Ketiganya menggeleng pelan.
"Memang, tidak ada yang tahu asal usulnya. Tapi di sini saya bisa memastikan, kalau makhluk tersebut berasal dari masa lampau. Sakti mandraguna. Sifat dan sikapnya bebas. Keras kepala. Belum ada yang bisa menguncinya. Dan yang paling penting, bisa mengabulkan segala permintaan!"
"Makhluk menyeramkan itu... maaf, maksud saya makhluk menarik itu bisa mengabulkan permintaan apapun?" tanya Ganda. Lebih ke arah takut daripada kagum.
Ade manggut-manggut.
Mengingat usia Ade belum setua Suyitno, besar kemungkinan dia juga belum pernah bertemu dengan Wojogeni. Atau, sudah? Dirga membatin.

Karena penasaran, Dirga akhirnya mau buka suara. "Bapak sepertinya tahu banyak soal Wojogeni. Apa pernah bertemu dengannya?"
Senyum tipis terbit di bibir Ade. Dia luruskan punggungnya pada sandaran kursi dan menggaruk tengkuknya. Seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu. "Sekali," balasnya datar. Tidak sesuai ekspektasi semua orang. Mereka mengharapkan jawaban lebih dari sekadar penyebutan angka.
Lantas, mereka saling pandang. Terlarut dalam pikiran masing-masing.

"Biasanya, Wojogeni mau bersekutu. Tapi tidak sembarangan," Ade berceletuk, menambahkan informasi yang tidak pernah Dirga duga.
"Seperti pengantin siluman, begitu? Sepasang?"

"Lebih ke kaki tangan."
Kemudian Dirga seperti mengais apapun yang tertinggal di dalam otak abu-abunya. Lipatan di keningnya terbentuk, lalu mengendur ketika memori itu muncul kembali. Ingatannya tertuju kepada sang penunggu pohon mangga yang menguarkan bau ketela bakar. "Semacam genderuwo, Pak Ade?"
"Lebih dari itu. Tidak mungkin setan gembel seperti mereka naik kelas."

"Kuntilanak?" Ganda menambahkan.

Lagi-lagi Ade menggeleng.

"Jangan bilang kalau yang masuk hitungan di kepala Pak Ade adalah pocong?" timpal Zainal.
"Apa kalian pernah bertemu dengan pocong?" Ade membalik pertanyaannya.

Kali ini ketiganya menggeleng.
"Kalau pernah, kemungkinan besar pocong di urutan teratas. Makhluk tak kasat mata itu sungguh sulit ditebak, persis Wojogeni." Ade berdeham.
"Kita tidak pernah tahu apa mau mereka, sampai kita hanya bisa membaca jejak-jejak yang ditinggalkan. Tidak banyak, tetapi kebanyakan membingungkan.
"Terus?" tanya Dirga.

"Kalau memang tidak ada jejak, berarti kita yang harus mencarinya," tutur Ade.

"Jangan gila deh, Pak. Amit-amit kalau disuruh cari-cari keberadaan mereka!" protes Mario.
"Memangnya Pak Dirga belum pernah bertemu dengan sekutunya di rumah atau di halaman rumah? Remah-remahnya, mungkin? Saya tidak percaya mereka mampu sembunyi lama-lama."
Dirga menggeleng, berkata pelan, "Kalau sampai saya tidak tahu, berarti mereka sengaja membaurkan auranya. Kalau dipikir-pikir, aneh juga."

"Nah, itu maksud saya. Ada yang aneh dengan semua ini."

"Pak, kalaupun pernah ketemu, memangnya kenapa?" tanya Ganda, penasaran.
"Bahaya, kalau sampai kaki tangannya muncul, berarti eksekusi akan segera dilancarkan.

"Eksekusi apa?" Rasa penasaran Ganda sudah mencapai puncaknya."

"Mati―"
Ade memandangi ketiganya dengan tatapan prihatin.

"Aduh, hampir saja saya lupa," timpal Mario sambil menepuk pelan keningnya. "Pak Ade apa pernah dengar ada kejadian mengerikan di kos kami dulunya?"
"Ada penghuni yang bunuh diri dan gila maksud Mas Mario?" balas Ade cepat seolah sudah tahu ke arah mana tujuan pertanyaan Mario.

Keraguan muncul di wajah Mario setelah dia mengangguk-angguk pelan. "Kira-kira di kamar mana, apa Pak Ade juga tahu?"
"Seingat saya, di kamar tengah dan kamar ujung."

Glek....

Mario menunduk. Baginya, mi ayam yang ada di hadapannya kini tidak lagi menarik untuk dikunyah. Rasanya, segalanya mendadak hambar. Termasuk, hidupnya.
"Maksudmu apa, Mar?" tanya Ganda tidak paham dengan pembahasan barusan.

Mario menggeleng, belum berniat menceritakan pengalamannya di warung Bu Sri pagi tadi. Dan dia belum sanggup mempercayai pendengarannya barusan.
Karena ingin secepatnya membereskan perkara hantu-hantuan tersebut, Ganda mengarahkan pandangannya kepada Ade. Percuma menunggu Mario memberi keterangan. "Kira-kira, Pak Ade apakah bisa bantu kami mengusirnya?" tanya Ganda dengan wajah kaku.
Ade menatap lekat Dirga. "Kecuali Mas Dirga juga mau membantu saya."

"Membantu apa?" tanya Dirga, sedikit terganggu karena namanya dibawa-bawa.

"Berkenalan lebih jauh dengan Wojogeni," ceplos Ade diselingi tawa kecilnya yang mengganggu.
Ganda dan Mario bingung harus menanggapi dengan cara apa selain menatap Dirga yang terlihat sedang berpikir keras.

Karena merasa serba salah, akhirnya Dirga mendengus sebal. "Demi Zainal dan Ibnu, saya usahakan buat bantu bapak."
"Bagus, saya akan berkunjung ke rumah kos tusuk sate untuk memeriksa."

"Terima kasih atas bantuannya, Pak," balas Ganda dan Mario kompak. Sementara Dirga masih mencurigai senyum tipis Ade yang terarah kepadanya.
"Saya berjanji akan meringkus Pak Suyitno," beber Ade di akhir kalimatnya.

"Meringkus?" Dirga membatin. "Kata tersebut kenapa begitu menakutkan saat disebut?"
#
Suara tangga samping terinjak memenuhi ruang tivi sewaktu pemilik kos menyeret langkahnya pelan, mendekati Zainal yang sedang termangu. Bersamaan dengan kemunculan Suyitno di tangga teratas, Ibnu juga keluar dari kamarnya.
Dia sempat mengerjap, memperhatikan Zainal yang tersenyum kepadanya.
Pelan, keduanya melangkah mendekati kursi Zainal. Ibnu duduk di sebelahnya, terperangah, sementara Suyitno memilih duduk di kursi lain paling dekat dengan posisi duduk keduanya.

"Ka-kamu nggak apa-apa?" tanya Ibnu dengan suara bergetar.

"Aku sehat. Tenang saja."
Ibnu mengangguk ragu sambil menyentuh pelindung leher Zainal. "Ini yang kamu bilang sudah sehat?" Mereka tergelak, kecuali Suyitno. Biasanya, seseorang yang sudah bisa mentertawakan tragedi sejatinya mempertegas bahwa semuanya sudah baik-baik saja.
"Mana yang lain? Tumben sepi?" tanya Suyitno setelah tawa keduanya reda.

"Kerja, Pak. Kebetulan jam kerjanya bareng. Sementara saya masih pemulihan, jadi hari ini tidak kerja. Nggak tahu kalau Ibnu." Zainal meneleng ke arah Ibnu supaya menjawab pertanyaan bapak kosnya itu.
"Saya masuk siang Pak," balas Ibnu, kaku.

"Begitu, ya."

Entah angin dari mana yang merasuk, Suyitno yang tidak pernah bicara panjang lebar, tiba-tiba menawarkan senuah obrolan. "Boleh Bapak cerita sedikit mengenai tempat kos ini?"
"Bo-boleh, Pak," balas keduanya kompak.

"Kalian tahu kenapa rumah ini terasa sepi?" Suyitno mengeluarkan prolog-nya.
Tengkuk Ibnu meremang. Kalau saja yang sekarang bercerita Mario, sudah pasti dibungkamnya supaya diam. Ibnu menyesal mengizinkannya. Sementara Zainal menjawab dengan menggeleng, dan bersiap mencerna perkataan Suyitno yang sepenggal-sepenggal itu.
"Karena rumah ini berada di ujung pertigaan jalan kecil, jadi hawa yang ditimbulkan terasa sangat berbeda. Apalagi malam hari. Tapi tidak ada hal menakutkan di sini, kecuali beberapa penampakan. Saya akui itu."
Sejak kapan pemilik kos menceritakan ke-horor-an tempatnya sendiri? Dasar aneh. Ibnu menggumam dalam hati.

"Maksud Bapak, rumah tusuk sate?" tanya Ibnu. Bukan ke antusias, tetapi lebih ke ketakutan dan ingin cerita tersebut berakhir secepatnya.
Selayaknya tongkat estafet, informasi itu berpindah tangan secara cepat. Memaksa Suyitno mengangguk dalam. "Kalian juga percaya dengan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh logika?"
"Sebenarnya tidak terlalu percaya Pak," balas Zainal. "Saya pernah dengar dan baca kalau rumah di pojok seperti rumah bapak ini rawan sama kecelakaan dan tidak terlalu baik untuk kesehatan, karena lalu lalang mobil buat udara tidak bagus.
Untung rumah ini tidak berada di jalan utama walaupun letaknya persis di depan pertigaan dan langsung menembus jalanan utama di depan gang. Untungnya lagi, tidak terlalu bikin polusi udara karena tidak banyak kendaraan lewat. Kalau untuk yang mistis-mistis, saya kurang paham."
"Memang yang saya maksud sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat itu ya yang mistis."
Alis Zainal bertaut. Ibnu menelan ludahnya susah puyah. Mereka berpikir, "Untuk apa sih cerita yang seram-seram di tempat kosnya sendiri? Mau kalau kita kabur?"
@bacahorror
@threadhororr
@IDN_Horor
#ceritahorror
#rumahtusuksate

Bab 26 : Melangkah Dalam Diam
Kengerian tergambar jelas di wajah Zainal. Dia tidak mengira sesuatu yang disimpannya selama ini, tercium juga oleh bapak kosnya.
Sesuatu yang ingin dibuangnya jauh-jauh, bahkan sebelum Ganda bercerita mengenai penampakan genderuwo di pohon mangga di halaman depan kos. Zainal telah memulai cerita horornya sendiri, tepat di kamar kosong di sebelah kamar Mario.
Secara tidak sengaja, pintu kamar kosong yang biasanya terkunci, sedikit terbuka. Dari dalam kamar tercium aroma busuk, tepat malam jumat kliwon saat anak-anak lain belum pulang ke kos. Zainal yang tidak berpikir panjang, berjalan mendekati celah pintu.
Semakin dekat, aroma busuk semakin menusuk hidung. Ketika Zainal menyurutkan niatnya untuk mengintip dan memilih melaporkan bau busuk tersebut kepada pemilik kos, tetapi hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya, terjadi. Tepat saat Zainal berbalik, pintu menjeblak terbuka.
Spontan Zainal menoleh ke belakang, dan menemukan sosok itu sedang berdiri di ambang pintu. Bola matanya menghitam. Bau busuk beriringan dengan aroma anyir, menusuk-nusuk hidung Zainal. Karena takut, Zainal pingsan.
Entah berapa lama Zainal tergeletak di lantai di depan kamar kosong, sampai-sampai dia terbangun sendiri dengan kepala keliyengan dan kembali merinding saat pintu kamar itu masih terbuka lebar.
"Apa maksud Pak Suyitno bicara begitu tadi?" bisik Ibnu, berhasil membuyarkan lamunan Zainal mengenai ketakutan yang tidak pernah dibukanya kepada siapa pun. Dia ingat pesan orangtuanya dulu. Kata mereka, pamali. Bisa ketempelan seumur hidup.
Zainal membalas dengan menggeleng. Padahal, mulutnya hampir terbuka. Sekian detik, dia berniat menceritakan pengalamannya untuk mengurangi beban di hati. Akan tetapi, ditelannya kembali kata-kata yang sudah ada di ujung lidah.
Dia tidak ingin bertemu lagi dengan makhluk halus setelah bercerita. Cukup Wojogeni dan pocong. Yang lain, no way.
"Menurutku sebaiknya kita pindah dari sini," lanjut Ibnu dengan wajah khawatir yang tidak dapat disembunyikannya.
"Memangnya masalah ini akan beres kalau kita pindah kos? Aku yakin nggak semudah itu, Ibnu."

"Paling nggak, kita bisa mulai hidup dengan tenang di tempat baru."
Zainal tergelak, mendengar dialog Ibnu yang mirip-mirip dialog di sinetron azab, yang mereka sering tonton dan komentari macam-macam, sama-sama. Kemudian, Zainal berhenti tertawa setelah merasakan nyeri di tenggorokannya yang cukup mengganggu.
Kali ini, Zainal berpikir bahwa dialah yang sedang kena azab.
"Kenapa ketawa?" Ibnu tidak terima meski Zainal sudah berhenti tertawa dan sedang meringis menahan sakit. "Memangnya ada yang lucu?"

"Bukan apa-apa. Cuma ingat sama kejadian lucu saja."

"Terus, gimana solusiku yang tadi?" repet Ibnu.
"Anak-anak yang lain sekarang juga lagi cari solusi. Kita tunggu saja kabar dari mereka."

"Gimana caranya?"

"Ya, nggak tahu. Mungkin dengan menemui Pak Ade masalah ini bisa selesai?"
Ibnu tempelkan punggungnya di kursi panjang. Dia tatap langit-langit kos sambil mendengus, lalu terdiam. Sejenak berpikir, kesimpulan terbayang. "Kalau nggak ada yang mau pindah kos, aku akan pindah sendiri. Aku nggak mau jadi gila gara-gara lama tinggal di sini."
Tepat saat itulah, ponsel di kamar Ibnu meraung. Dia melangkah dengan malas untuk meraihnya, dan kembali duduk di sebelah Zainal sebelum deringnya selesai, lalu mengangkatnya. Nama bapak Ibnu, Khodir, terpampang di layar ponsel saat Zainal melirik.
"Halo, iya Pak. Hari ini aku masuk siang... ada apa telepon? Tumben... hmmm, itu, yang nangis siapa? Ibu, ya?"
Beberapa menit berkomunikasi lewat sambungan telepon, Ibnu hanya menjawab dengan "iya", "nggak tahu" dan "hmmm". Nada suaranya semakin lama semakin melemah. Wajahnya pun mendadak kuyu setelah membalas salam dari penelepon di ujung sambungan.
Sembari meletakkan ponselnya di kursi panjang, Ibnu sempat memejam kembali sambil menarik napas panjang. Lalu meneleng ke arah Zainal. Pandangan mereka terkunci. Zainal hanya bisa menerka-nerka, ke mana pembahasan Ibnu akan bermuara.
"Ada apa?" tanya Zainal lebih dulu, mencoba mengurangi beban pikiran teman kosnya itu.

"Bener omonganmu tadi, Nal."

"Yang mana?"

"Kalau kita nggak mungkin bisa menghindar dari semua kehororan ini. Kayaknya dunia sedang berkonspirasi bikin pasungan buat kita di sini."
Awalnya, Zainal ingin tertawa mendengar ocehan Ibnu, tetapi dia tahan. Sebab perkataan Ibnu ada benarnya. Tanpa mereka sadari, keduanya kompak membuang napas, memandang jauh ke depan. Pasrah. "Kalau begitu, kita tunggu kabar baik dari anak-anak. Semoga Pak Ade bisa bantu kita."
"Amin."
Mereka mengakhiri pembahasan hari ini dengan dengusan yang entah sudah berapa kali mereka lakukan.
#
Selesai mengobrol bersama Dirga dan kawan-kawannya, Ade bergegas pulang ke rumah. Ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikannya dalam waktu singkat. Apalagi, dia ingat, hari ini adalah hari Selasa Legi. Hari baik untuk menjajal kesaktiannya.
Kemudian, di dalam kamar persembahan berpenerangan temaram, Ade mulai menyusun satu persatu keperluan. Mulai dari kembang setaman sampai air japa, dan juga darah ayam hitam dalam bejana kecil.
Kegiatan tersebut tergolong menyita banyak waktu. Ade baru selesai mempersiapkan segala sesuatunya tepat saat garis cahaya di ufuk barat hampir tandas.
Malam ini, tepat pukul dua belas nanti, Ade berniat melancarkan serangan keduanya di rumah kos tusuk sate milik Suyitno.
Bola apinya telah siap dibuat.
Berbeda seperti sebelumnya, kali ini Ade akan melakukannya dengan hati-hati karena tidak ingin serangan tersebut berbalik arah, dan mengenainya. Memang, ada banyak resiko besar yang menyertai. Sebab Ade belum bisa memastikan apakah tameng Suyitno masih sekuat dulu.
Namun setelah membaca situasi terakhir, sepertinya tidak cukup waktu untuk menunggu lagi. Apalagi Dirga belum menunjukkan memilih berdiri di sisi siapa. Akan tetapi dalam hal ini, Ade hanya bisa memastikan jika Dirga tidak sedang berdiri di sebelah Suyitno.
Dirga cenderung menuju padanya. Dan untuk mendapatkan segala sesuatunya yang besar, apa pun itu, resikonya juga pastilah sama besarnya.
Tepat saat Ade memeriksa kemenyan dalam wadah yang sudah disiapkan, ketenangan yang mencurigakan seperti menyelimuti seisi rumah. Tidak biasanya makhluk-makhluk penunggu pohon ketapang berlaku tenang di pergantian hari. Teriakan nyaring yang biasa mereka lakukan, seolah lenyap.
Ade bangkit untuk memeriksa, dan keluar dari ruang pemujaan dengan perasaan was-was.

Baru saja menutup pintu ruang pemujaan, benaknya memperingatkan bahwa ada yang tidak beres di luar rumah.
Dia melangkah mendekati jendela kaca yang dibatasi gorden. Menyingkapnya sedikit supaya ekor matanya bisa memeriksa dari ujung ke ujung halaman depan rumah. Karena rumah Ade masih gelap, jadi dia bisa leluasa memeriksa apa pun yang terjadi di luar.
Diperhatikannya sesosok bayangan kelam yang sedang berdiri di seberang pintu pagar, menatap ke dalam rumahnya. Meski Ade mimicing, tetap saja dia tidak bisa mengenali, siapa gerangan tersebut.
Ketukan di pintu tiba-tiba menjebol pertahanan jantung Ade. Seketika debarannya mengejutkan, sampai Ade misuh-misuh dibuatnya. Sekelebat, saat mengembalikan pandangan ke satu titik sebelumnya, bayangan tersebut menghilang.
Namun anehnya, tidak ada suara-suara memekakkan telinga dari makhluk-makhluk yang bertengger di pohon ketapang di depan rumah. Mereka semua alim, seolah mengenal sosok itu, tetapi tetap saja tidak ada yang meneruskannya ke telinga Ade bahwa siapa yang mampu menenangkan mereka.
"Siapa di luar?" tanya Ade, hati-hati.

"Saya, Pak. Dirga...."

Segera Ade kendurkan otot-otot pada wajahnya. Dia pasang senyum selebar mungkin sebelum membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, pertanyaan Ade terbentuk, sambil celingukan. "Mas Dirga datang ke sini sama siapa?"

Dirga ikut memandang ke arah mata Ade. Ke pagar depan rumah, tanpa berkedip. "Sendirian saja. Sengaja tidak ajak teman-teman yang lain. Kira-kira, ada apa ya, Pak?"
"Oh, nggak...." Ade geleng-geleng dan membidik senyuman Dirga, tetapi nyaris gagal saat mereka bersitatap. Ade tahu ada yang disembunyikan tamunya tersebut. "Nggak ada apa-apa, Mas. Dan kalau boleh tahu, ada perlu apa ke sini?"
"Ada hal penting yang mau saya tanyakan ke Pak Ade."

"Kok nggak tanya waktu kita ketemu di kantin tadi?"

"Nggak enak sama yang lain, Pak. Saya mau tanya langsung ke Pak Ade, tapi yang lain jangan sampai tahu."

"Masalah apa ya, Mas?"
"Boleh saya masuk ke rumah Pak Ade dulu supaya enak ceritanya?"

"O, iya. Silakan." Ade menggeser posisi berdirinya di ambang pintu supaya Dirga bisa masuk.
Yang tidak Ade ketahui saat menyuruh tamunya masuk adalah, Dirga baru saja mendapat wejangan dari seseorang yang mengenal Ade. Seseorang yang berselisih jalan dengan Dirga di depan pagar rumah Ade, dan dia yakini sedang mengawasi rumah serta kegiatan Ade.
Beruntungnya, orang tersebut mampu menenangkan makhluk-makhluk penunggu pohon ketapang yang tidak terlalu Dirga sukai. Dirga mengira dia adalah empunya, meski Dirga tidak mungkin menanyakan hal tersebut.
Setelah mengobrol sebentar dengan orang itu, sesaat di dalam hati, Dirga berjanji. Mulai malam ini dia akan lebih berhati-hati dengan siapa pun, dalam setiap langkahnya. Termasuk untuk yang berhubungan dengan hal-hal klenik.
Dan untuk memastikannya, Dirga harus memeriksa sesuatu di rumah Ade. Untuk mempertebal keyakinannya memilih berdiri di pihak siapa. Dan tentu saja, untuk menyelamatkan teman-teman kosnya.
Hi, pembaca setia Rumah Tusuk Sate.
Karena besok menginjak chapter baru, jadi mulai Bab. 27 akan aku buat thread baru. Jadi, jangan sampai ketinggalan, ya.

Eh, sejauh ini masih minat kan sama lanjutan ceritanya? Please, comment atau retweet biar tambah semangat. Matuw nuwun.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Heri Widianto

Heri Widianto Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @heriwidianto

Jun 30
@Mansek_Mangat @RaniKancana__ @AntoniusCDN @DetaLewar @Satria7108 @panjianom102 @bazzabeth @Cupidlucky2 @Pra__93 @KiranaAntaresia @abangGionih @srikandi239 @SonyaAmriani @ampyanina ----- Surup -----

[Thread]

Disclaimer: cerita ini adalah kisah nyata dari anggota keluarga saya sendiri.
.
Sekitar tahun 1980-an, Mamat tinggal di Teken Gelagahan, Jawa Timur. Keluarganya termasuk keluarga besar. Jadi, satu rumah diisi banyak anggota keluarga.
@Mansek_Mangat @RaniKancana__ @AntoniusCDN @DetaLewar @Satria7108 @panjianom102 @bazzabeth @Cupidlucky2 @Pra__93 @KiranaAntaresia @abangGionih @srikandi239 @SonyaAmriani @ampyanina Ada bapak, ibu, kakak perempuan yang sudah janda dan anak-anaknya, adik perempuan kelas 3 SD, dan satu adik perempuan lagi belum sekolah. Sementara Mamat kelas 6 SD.
@Mansek_Mangat @RaniKancana__ @AntoniusCDN @DetaLewar @Satria7108 @panjianom102 @bazzabeth @Cupidlucky2 @Pra__93 @KiranaAntaresia @abangGionih @srikandi239 @SonyaAmriani @ampyanina Sebagai anak cowok satu-satunya, tugas Mamat cukup banyak. Mulai dari bantu-bantu bapak di sawah, dan sesekali disuruh ibu. Terutama belanja.
Read 31 tweets
Jun 30
@bacahorror
@threadhororr
@IDN_Horor
#ceritahorror
#rumahtusuksate
#sobatmalamjumatkliwon

Hi,
Mau bikin selipan dikit, nih. Mumpung malam jumat. Jadi, aku mau cerita pendek horor. Judulnya:

---- Surup ----
[Thread]

Disclaimer: cerita ini adalah kisah nyata dari anggota keluarga sendiri.
.
.
Aku mulai, ya....
.
.
Sekitar tahun 1980-an, Mamat tinggal di sebuah desa Teken Gelagahan, di Jawa Timur. Keluarganya termasuk keluarga besar. Jadi, satu rumah diisi banyak anggota keluarga.
Read 30 tweets
Jun 28
"Jangan beli rumah di ujung jalan. Rumah Tusuk Sate banyak bawa sial."
Lalu, apa jadinya kalau nggak ada pilihan buat yang telanjur tinggal di Rumah Tusuk Sate?

RUMAH TUSUK SATE
Karya: Heri Widianto

---- A Thread ----

@IDN_Horor
@bacahorror
#ceritahorror
#rumahtusuksate Image
Disclaimer:
- Cerita ini berisi 25% pengalaman pribadi dan teman-teman semasa kos dulu, dan sisanya adalah untuk pengembangan cerita.
- Tokoh & tempat sengaja disamarkan untuk melindungi privasi.
- Karya sendiri.
Bab 1 : Mangga Depan Rumah

Andai Ganda tidak ikut stock opname dan men-display product, kemungkinan besar dia tidak akan berjumpa penunggu pohon mangga di halaman depan kos. Ganda sempat berang mengingat jabatannya sebagai kepala toko.
Read 855 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(