Silvia Sn Profile picture
Jul 10 100 tweets 15 min read
𝐏𝐄𝐑𝐒𝐀𝐈𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐓𝐎𝐊𝐎 𝐌𝐀𝐍𝐈𝐒𝐀𝐍
-𝐓𝐡𝐫𝐞𝐚𝐝 𝐇𝐨𝐫𝐨𝐫-
manusia akn menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, seakan uang sudah menguasai dirinya. sepenggal kisah pengalaman pribadi keluarga saya.
@bacahorror @IDN_Horor #penikmathoror #bacahoror #TrueStory
nama disamarkan demi kebaikan masing masing.
jadi cerita ini adalah cerita nyata yang dialami oleh keluarga saya sendiri beberapa tahun lalu. maaf saya tidak bisa cerita secara mendetail karna memang pada saat keluarga saya mengalami hal ini saya masih kecil, tidak terlalu mengerti apa apa, jadi saya akan menceritakan hal
yg saya ketahui saja.
ibuk memiliki usaha toko manisan yang sangat laris, bahkan sehari saja ibuk bisa pergi 3x untuk mengisi barang ditoko karna habis. keuntungan yang didapat lumayan, bisa menghidupi 3 orang anak ibuk.
bapak pegawai kantoran yang pergi pagi lalu pulang sore, jadi aku biasanya menghabiskan waktu di rumah bersama ibuk, tidak jarang juga aku membantu ibuk melayani beberapa pembeli. warung ibuk langsung menyambung ke kamar ibuk dan bapak, jadi kalau mau ke warung harus melewati kmr
ibuk & bapak dulu. letak rumah yang strategis, dipinggir jalan, tak jauh dari rumah makan para supir truk pengantar barang, bahkan tak jauh dari rumah juga terdapat SMA hal itu membuat warung ibuk semakin ramai pembeli dari berbagai kalangan.
ibuk juga punya sahabat yang berjualan makanan di SMA skrg pindah berjualan didepan rumahnya, kebetulan rumah buk puput (sahabat ibuk) bertepatan sekali didepan SMA, tinggal nyebrang jalan doang. buk puput berlangganan pada ibuk untuk membeli bahan bahan.
kami juga bertetangga dengan satu keluarga yang kebetulan juga membuka toko manisan. tapi sayang, toko manisan mereka tak seramai toko manisan ibuk. aku terkadang membeli jajanan di toko manisan mbak yu, tetangga kami, kalo kata ibuk itung itung mbantu ramein toko mereka.
seingatku dulu sih toko mbak yu itu isinya sedikit, berbanding terbalik sama toko ibuk yang lengkap, isinya cuman mie, jajan, minuman. bisa dibilang keadaan ekonomi keluarga mbak yu juga kurang baik. rumah mereka masih berdinding kayu dulu, mbak yu dan suaminya juga harus
menghidupi mbah atik (ibuk mbak yu) dan mbak neneng (adik mbak yu), serta anak sulung lelaki mereka Doni.
ibuk sering bercerita dengan yuk lia (ayukku) kalau ibuk merasa iba dengan keadaan mereka. waktu terus berjalan, tahun silih berganti, sekarang kak dian (kakak sulungku) dan yuk lia sudah lulus kuliah. hanya tinggal aku sendiri yang menjadi tanggungan ibuk dan bapak.
jarak umurku dan kedua kakakku terpaut jauh, 14thn jaraknya. sekarang kak dian sudah bekerja di jakarta, sedangkan yuk lia bekerja di dearah sinilah, jadi masih serumah dengan kami. SMA tak seramai dulu lagi, bahkan muridnya pun tak sampai diangka 100 siswa, akibat banyaknya
bermunculan sekolah sekolah SMA lain yang jauh lebih modern. warung buk puput pembelinya juga tak seramai dulu, mungkin perhari pendapatan warung buk puput hanyalah 300rb. warung ibuk sendiri memang tak seramai dulu
kalau dulu bisa 3-4 kali mengisi barang toko, sekarang hanya 3 hari sekali, ya masih dalam jumlah banyak tapi. hingga warung ibuk benar benar sepi, tak ada pembeli satupun yang datang, semuanya dimulai dari..
bapak bertugas menyapu rumah setiap pagi dan setiap sore. pagi itu semuanya sibuk dengan kesibukan masing masing. hingga tibalah saat bapak menyapu kamar tamu yang ditempati ayukku, aneh bapak rajin menyapu rumah 2x sehari tapi kenapa ada sebongkahan tanah merah dibawah dipan.
bapak mengambil tanah itu dan menyapunya hingga ruang dapur, saat di dapur bapak bercerita kepada ibuk perihal tanah tersebut.
"buk, bapak nemuin bongkahan tanah merah dibawah dipan kamar tamu, siapa yang mainan tanah, kamu apa lia?"
"bapak aneh aneh, orang aku udah gede, udah kerja lagi, masa iya bawa bawa tanah merah begitu kedalam kamar, adek kali yang mainin"
"loh aneh banget, padahal rajin disapu, dek sini dulu" ibuk kebingungan dengan kedatangannya tanah merah tersebut, ibuk juga sepemikiran dengan lia
kemungkinan besar memang aku yang membawa tanah itu kedalam kamar.
"apa buk"
"kamu bukan yang narok tanah merah ini dibawah dipan kamar tamu, kamar ayukmu?"
"hah? gak kok pak, adek gasuka mainan tanah dalam rumah"
bapak, ibuk, yuk lia hanya saling menatap memberi tatapan kebingungan satu sama lain. tapi tidak mau ambil pusing bapak memilih untuk membuang tanah merah itu kehalaman belakang rumah. sejak kejadian tanah merah itu ayuk lia, yang memang bisa melihat "mereka" bercerita bahwa
akhir2 ini ia diganggu.
"buk, bbrp malam ini lia sering denger suara bayi nangis, apa disini ada yg baru ngelahirin?"
"hah? gaada tuh, cuman sebulan yang lalu mbak yu melahirkan, tapikan anaknya meninggal lia, kan kita yang mbantu anter jemput keluarga mereka ke bidan waktu itu."
loh? tapi memang pas lia cari cari suara bayi itu, suaranya berasal dari dalam kamar buk, lia juga sering ketindihan buk beberapa malam ini"
"astagfirullah hallazim, yasudah nanti ibuk ceritakan ke bapak, biar dibersihkan"
"iya buk, ohya buk, lia juga sempet lihat ada bayi diatas kasur, pas disamping kaki lia"
ibuk tidak membalas ucapan yuk lia, ia hanya menatap bingung ke arah lia.
lanjut nanti ya kalau sempat, atau besok.
malamnya ibuk menceritakan apa yang dirasakan oleh lia kepada bapak, bapak yang mendengar hal tersebut langsung merasa janggal dan curiga dengan tanah merah yg ia temukan beberapa hari lalu.
"buk, apa jangan jangan ada yg mau guna guna kita?"
"astagfirullah pak, gabole suudzon"
"tapi bisa ajakan? tanah merah itu tanah kuburan, kamu tau kan kalo tanah kuburan itu cara paling manjur untuk ngebuat usaha org gulung tikar"
ibuk tidak menjawab bapak
jika dipikir pikir ada benarnya, ah tapi mana mungkin.
matahari mulai bangkit pertanda bahwa sudah waktunya untuk memulai hari. sebelum berangkat bekerja bapak selalu menyapu rumah + halaman rumah. aneh kali ini bapak menemukan hamburan tanah di depan rumah, tidak seperti biasanya.
"buk, ibuk, sini"
"ada apa pak?"
"ini loh, kok ada hamburan tanah disini, biasanya gaada"
"halah paling anak anak belakang pak mainan"
"ah mana mungkin, mereka mana mungkin menghamburkan tanah disini, toh kemarin sore juga kita duduk duduk dihalaman gaada tuh tanah ini"
"mungkin pas mereka belanja semalam pak, kita gabole suudzon"
"ibuk selalu saja blg begitu, nanti jadi ibuk menanyakan hal itu sama pak haji?"
"iya nanti siang, sekalian jemput adek"
pak haji darman adlh tmpt langganan ibuk mengambil barng untk mengisi toko, pak haji darman memang memiliki kelebihan akan "hal" seperti itu. ibuk & pak haji darman sudah dkt sejak sekolah, tak jarang pak haji darman blg dgn ibuk akn menjodohkanku dengan salah satu anak lelakinya
"buk pia, saya tebak kedatangannya kesini pasti pengen belanja"
"haish, kamu ini darman, pasti belanja ngapain lagi toh"
tertawa geli ibuk dan pak haji darman. ibuk duduk dikursi yang berada tepat didepan meja kasir,
sejak aku kecil hingga sekarang tempat kursi itu tak pernah berubah. ibuk mengeluarkan secarik kertas, berisi barang barang yg ingin dibeli, ibuk memberikan kertas itu kepada pak haji darman. pak haji darman melihatnya sekilas lalu menyebutkan nama nama barang yg tertulis.
terkadang pak haji darman memberikan kertas itu kepada salah satu kariyawannya dan membiarkan mereka mengumpulkan sendiri barang barang yg tertulis.
"jadi gini darman, beberapa hari lalu suamiku nemuin bongkahan tanah merah dibawah dipan kamar tamu, biasanya gaperna ada,
tadi pagi juga kami nemuin hamburan tanah merah didepan rumah"
pak haji darman yg sedang melihat kertas seketika melihat ke arah ibuk, memandang ibuk dengan serius.
"lalu?"
"beberapa hari ini juga lia cerita kalau dia diganggu oleh anak bayi"
"jendela kamar tamu kalian buka ya waktu itu?"
"iya"
tak ada jawaban lagi, hanya riuh ramai suara orang orang dalam toko.
"jadi gini buk pia, ada yg gasuka sama keluargamu, tanah merah itu bukan sembarang tanah, itu tanah kuburan, dibelakang rumah kalian ada kuburan bayi kan?
"jd, maksud mereka apa dgn tanah itu darman?"
"tanah kuburan kalau dihamburkan depan toko, maka gak lama dari situ toko itu akan gulung tikar, tanah yang masuk kedlm rumah itu langsung dibuangkan atau masih berkeliling rumah dulu?"
"tanahnya disapu suamiku darman, disapu sampai dapur, lalu baru dibuangkan ke halaman belakang"
"salah, mestinya langsung dibuang"
"trs bagaimana darman?"
"tadah air wudhu orang rumahmu dalam satu ember, lalu siramkan air wudhu itu mengelilingi rumahmu"
"baik darman"
"buk pia, ini barangnya sudah siap" ucap karyo salah satu kariyawan pak haji darman.
"oh iya iya, langsung bawakan kedepan ya, yasudah kalau begitu pak haji darman, saya pamit pulang dulu"
"iya buk pia, jangan lupa"
"baik pak"
"ohya buk pia, kalau mau yang lebih simple, air dibacakan ayat kursi dan al-ikhlas saja, setelah itu dipercikkan mengelilingi luar rumah"
"oiya iya, terimakasih pak"
Ibuk pergi berjalan meninggalkan toko pak darman.
tak lupa ibuk menjemput anak bungsunya, aku, yang sudah menunggu kedatangan ibuk di depan sekolah.
malam harinya ibuk menceritakan obrolannya bersama pak darman tadi siang dengan bapak.
"hmm, begitu ya, yasudah kita langsung laksanakan malam ini juga buk"
"iya pak"
Ibuk & bapak langsung melakukan apa yg diperintahkan oleh pak haji darman malam itu juga.
setelah dilakukan penyiraman keliling rumah malam itu, yuk lia tidak pernah diganggu lagi. warung ibuk tetap ramai, tapi rupanya itu semua tak bertahan lama..
warung ibuk kian hari mulai sedikit pembeli, pendapatan perhari warung ibuk bisa dibilang masih dapetlah, seingatku dulu seharinya ibuk masih bisa dapat 300rb. ibuk & bapak masih rajin menyiram air bacaan keliling rumah, hampir setiap malam.
ibuk mulai jarang mengisi barang skrg, mungkin seminggu hanya 1x mengisi barang toko. ketika barang ditoko sdh ada bbrp yang kosong ibuk pergi ke toko pak haji darman.
"buk pia, jarang ke toko sekarang, gak serajin dulu, apa sudah ada langganan baru nih?"
"ah mana mungkin, aku cuman beli dikamu darman. toko sekarang sepi, gak seramai dulu lagi, semenjak kejadian tanah merah itu"
"iyaiya. apa sudah lakukan penyiraman air?"
"sdh, mungkin hampir setiap malam, tp memang mungkin tak seramai dulu"
pak haji darman hanya menghela napas panjang, lalu berkata
"air bacaan itu hanya bisa mengusir jin penutup rezeki warungmu buk pia.."
"tetanggamu, tidak suka dengan keluargamu, dia berpikir kamu saingan toko manisannya, jadi dia berusaha menyingkirkan warungmu"
"jadi, mereka mau buat tokoku tutup total darman?"
"iya buk pia, mereka dukunkan tokomu, mereka kirim jin untuk menutupi rezeki tokomu"
"medianya tanah kuburan"
"astagfirullah hallazim, padahal aku gaperna menganggap mereka sainganku"
"namanya hati manusia buk, tak ada yang tahu, manusia bisa berubah kapan saja"
"jadi bagaimana ini darman?"
"saya coba bantu mengusir dari sini buk, perbanyak doa dan sholat buk, jangan lupa selalu penyiraman air"
"iya pak, terimakasih"
warung ibuk mulai kembali seperti semula, sedikit demi sedikit mulai ramai kembali, tapi sepertinya kembalinya pelanggan ibuk membuat mbak yu tidak suka, dia mulai mencari dukun lain lagi untuk menutup usaha ibuk.
warung ibuk mulai sepi kembali, bahkan lebih sepi dari sebelumnya, pendapatan perhari toko ibuk hanya berkisar 100-300rb saja, pendapatan 300rb sudah terbilang ramai waktu itu. ibuk kembali mendatangi pak haji darman untuk menanyakan perihal tokonya
dipagi hari ibuk pergi ke toko pak haji darman, untuk berbelanja sekaligus menanyakan tokonya.
"sudah lama buk pia gak berbelanja, bukannya toko sudah mulai ramai?"
"iya darman, ramainya hanya hitungan hari saja, sekarang sepi lagi, bahkan lebih sepi dari sebelumnya"
Pak Haji Darman hanya diam, menatap ibuk sebentar lalu memalingkan pandangannya, tak lama Pak Haji Darman mengembalikan pandangannya kearah ibuk dan berkata
"dia nyari dukun baru"
ibuk hanya diam, menatap Pak Haji Darman yang nampak serius.
"ini kayanya dukun bali, nanti
dia bakal ngasih makanan, makanan itu sudah dibacakan, makanannya bekerja saat masih panas, kalau diberi makanan langsung dibuangkan, jangan dimakan"
"baik,baik, tapi untuk dukunnya?"
"jujur buk pia, melawan dukun bali itu susah sekali, nanti coba saya usahakan untuk membantu"
"terimakasih Pak Haji Darman"
setelah barang belanjaan siap ibuk langsung bergegas pulang kerumah.
*ten, ten, ten
"LIAAA"
teriak ibuk memanggil yuk lia yang berada dalam rumah.
"iyaa, sebentar buk"
yuk lia membukakan pintu rumah dan membantu ibuk memasukkan barang2 kedalam toko
"tadi ada yang ngasih makanan gak?"
"gaada buk, gaada yang dateng"
"alhamdulillah"
"kenapa buk?"
"gpp, kalau ada yang kasih makanan jangan langsung dimakan, kasih tau ibuk dulu"
"iya buk"
setelah selesai merapihkan barang barang ditoko ibuk dan yuk lia masuk kedalam rumah
ibuk & yuk lia duduk berkumpul diruangan belakang, sedangkan aku hanya sibuk bermain boneka. tak lama terdengar suara orang memanggil dari arah depan rumah.
"assalamualaikum, yuk pia, yuk pia"
"nah, lia, siapa itu, coba cek"
"iya buk"
yuk lia berlari kecil dari ruang belakang ke
depan, jarak ruang belakang ke pintu depan lumayan, berkisar 14meter.
"oala mbak yu, kenapa mbak yu?"
"iya, ini lia, ada makanan berugo, masih hangat, langsung dihabiskan ya pas masih hangat biar lebih enak"
"oh iya mbak, terimakasih mbak, sebentar lia pindahkan berugonya dulu"
"ah gausa lia, orang bertetangga, nanti antarkan saja piring & mangkoknya, mbak pulang dulu ya"
"oala iya mbak, terimakasih ya mbak"
"sama sama lia"
yuk lia membawa mangkok & piring yang berisi berugo & kuah berugo itu ke dapur.
"siapa lia?"
"ini buk, berugo dari mbak yu"
ibuk yang tadinya duduk santai langsung beranjak dari tempat duduknya, menghampiri meja makan.
"apa katanya tadi?"
"kata mbak yu dihabiskan pas masih hangat, biar enak, gitu doang buk"
"langsung buang ke halaman samping"
"loh kenapa buk?"
"nanti ibuk ceritakan, buanglah cepat"
"iya buk"
yuk lia membuang kuah berugo itu kehalaman samping, dan memberikan berugo itu ke ayam peliharaan kak dian dihalaman belakang.
"kenapa dibuang yuk? sayang banget" kataku
"iya, kata ibuk gaboleh dimakan"
"oala"
"sudah kamu buang lia?"
teriak ibuk dari dalam rumah.
"sudah buk, kenapa dibuang buk?"
ibuk menceritakan apa yg Pak Haji Darman bicaran di tokonya tadi pagi, yuk lia sekarang mengerti kenapa ibuk menyuruh ia membuang makanan tersebut.
malam harinya ibuk menceritakan semuanya kepada bapak, bapak nampak marah ketika mendengar cerita ibuk, bapak tidak menyangka segala kebaikan keluarganya ternyata dibalas seperti ini oleh keluarga mbak yu.
ibuk berusaha menenangkan bapak, menjelaskan bahwa rezeki sudah ada yang atur, kalau memang sudah rezekinya yasudah. "tapi buk mereka udah keterlaluan, sampai menutup rezeki kita begini"
"yasudah pak, biarlah, mereka yang berdosa juga"
"selalu saja pasrah begitu"
bapak
meninggalkan ibuk diruang tengah, dan melipir masuk kedalam kamar.
ibuk hanya menghela napas panjang, ibuk juga nampak bingung apa yg harus mereka lakukan.
"kalo kata pak Haji Darman apa solusinya buk?" tanya ayukku lia yang keluar dari kamar tamu.
"perbanyak doa saja lia,
kalau memang rezeki kita pasti akan dibantu Allah"
"iya buk"
yuk lia hanya diam menatap kosong kearah depan, begitu juga dengan ibuk.
makin hari semakin sepi warung ibuk, bahkan untuk mendapatkan 200rb perhari saja sangat susah, bahkan tak jarang kejadian pembeli sudah berada dikasir tiba tiba saja pergi dan mengucapkan
"gajadi deh buk" lalu pergi berjalan ke arah toko mbak yu, yang tepat disamping rumah kami
pembeli warung ibuk bisa dihitung dengan jari, bahkan pelanggan langganan ibuk, sahabatnya buk puput juga perpindah tempat beli ke toko mbak yu. toko ibuk seperti benar benar binasa hilang ditelan bumi, tak terlihat dan tak dianggap oleh orang yang berlalu lalang.
ibuk merasa sedih, pendapatan perhari warung sudah tidak sampai 100rb lagi, barang barang di warung banyak tersusun, sudah 1bulan berlalu, barang barang itu tak bergerak dari tempatnya. bapak mengeluh kepada ibuk
"untuk duduk didepan rumah aja bapak malu buk"
warung kita seperti tak ada"
"iya pak, pendapatan juga gak terlihat sama sekali"
akhirnya ibuk memberanikan diri untuk menanyakan kepada sahabatnya, buk puput mengapa tak pernah berbelanja lagi di tokonya
siapa yang pernah menyangka kalau jawaban buk puput ternyata
"loh, aku selalu pengen belanja di tokomu, tapi tokomu selalu tutup rapat, gaperna buka lagi, malah aku yang pengen nanya kenapa kamu gaperna buka toko lagi"
"loh? aku selalu buka toko kok, gaerna tutup"
"ah bohong, aku ini hampir setiap hari lewat tokomu pia, kamu selalu tutup"
"astagfirullah, aku selalu buka put, gaperna tutup, aneh banget"
ibuk nampak bingung, ibuk gaperna absen buka toko, kenapa dibilang tutup, tiba tiba ibuk teringat tentang satu kejadian
"yaAllah put, apa jangan jangan orang orang lihat tokoku tutup terus ya?, memang sering sekali aku lihat para pembeli ingin beli tapi puter balik gajadi beli"
"astagfirullah pia, bisa jadi, aku selama ini liatnya kamu tutup trs"
ibuk hanya termenung diam, tak menjawab lagi.
"coba kamu tanyakan dengan pak Haji Darman pia, mungkin dia punya solusinya"
ibuk melihat buk puput, lalu berkata
"sudah pernah waktu itu put, katanya memang ada yang jahilin (dukunkan) tokoku put. sempat sepi lumayan lama juga put, tapi masih dapet, skrg bener2 gadpt samsek"
buk puput diam, wajahnya menunjukkan bahwa iya tak menyangka bahwa ada org setega itu.
"kamu sudah tau siapa pelakunya?"
"sudah put"
"siapa?"
"mbak yu"
buk puput tertegun ketika mendengar nama itu, ia tak menyangka bahwa tetangga ibuk sendirilah yang menutup rezeki ibuk.
"waktu itu masih sempet dapet 300rb perhari put, tapi sekarang dapat 100rb aja udah syukur banget"
buk puput tidak menjawab, ia turut prihatin dengan keadaan toko ibuk.
"kalo kata pak Haji Darman dia ganti dukun soalnya masih ada yang beli di tokoku"
"aku gatau put dia make dukun apa awalnya, warungku masih ada pendapatan, tp bbrp bulan lalu Pak Haji Darman bilang dia ganti dukun Bali"
"yaAllah pia, dukun bali itu susah dikalahkan"
"iya put, bener, tokoku skrg sepi banget, pasrah aku put, klo mmg msh rezeki pasti Allah bantu"
***
walau ibuk tak menceritakan kesedihannya akan toko manisan ia yg sepi, bahkan diambang kebangkrutan, aku tahu kalau ibuk nampak murung, bahkan sesekali aku melihat ibuk melamun.
semakin hari toko ibuk semakin sepi sekali, bahkan tak jarang dalam sehari tidak ada satupun pembeli yang datang. bapak mencoba menghibur ibuk, mendorong ibuk untuk menanyakan pd Pak H.Darman, mungkin saja ada solusinya, ibuk mengiyakan
ibuk pergi ke toko pak H.Darman untuk berbelanja, walau sebenarnya toko masih penuh, tapi tak enak rasanya jika pergi hanya untuk menanyakan saja tanpa ada yang dibeli.
"sudah lama gak datang buk pia? ada langganan baru pasti"
"haish, mana ada darman, tokoku makin sepi, barang
di toko gak berkurang sama sekali dari aku beli terakhir denganmu"
pak H.Darman diam, ia hanya melihat ibuk, lalu berkata
"ngelawan dukun bali memang susah buk" pak H.Darman diam beberapa saat lalu melanjutkan perkataanya
"dia (mbak yu) itu jahat, licik dia
waktu itu, sebelum kamu bercerita kalau tokomu mulai agak sepi dia sempat datang kesini, dia meminta penglaris kepadaku, aku tolak, aku bukan dukun yang bisa menglariskan dagangan orang"
Ibuk kaget mendengar cerita pak H.Darman, ibuk tak menyangka rupanya dia sempat dtg kesini
"kurasa karna gadapat penglaris dariku dia mencari dukun, tapi dukunnya masih dukun biasa, cuman ngirim jin buat nutupin doang, efeknya belum bisa buat org lain gulung tikar, jadi dia belum puas"
"jd makannya dia ganti ke dukun bali?"
"iya, buk pia tau kan toko manisan
yuk vivi?"
"ohiya, tahu, kenapa darman?"
"toko dia juga mulai sepi seperti tokomu, dia juga mendukunkan toko yuk vivi agar gulung tikar, dia ingin menyingkirkan segala saingan tokonya agar segala pembeli hanya beli ditoko dia"
ibuk kaget bukan kepalang, ternyata dia sampai
senekat itu untuk menyingkirkan segala saingannya.
"gak lama lagi toko yuk vivi gulung tikar" kata pak h.darman pada ibuk.
"dia senekat itu ya" ucap ibuk
"manusia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang buk pia..."
ibuk terdiam sejenak, lalu berkata
"yasudah darman, aku mau pulang dulu"
"oh iya iya buk pia, ini barangnya"
"terimakasih darman"
"sama sama buk pia"
ibuk pergi meninggalkan toko pak H.Darman dgn tatapan kosong, masih tak menyangka tentang apa yg ia dengar tadi.
malamnya ibuk menceritakan segalanya pada bapak, bapak kaget tak menyangka bahwa mbak yu bisa sejahat itu hanya demi uang.
"yasudahlah pak, mungkin memang sudah saatnya ibuk istirahat jualan"
bapak diam, menghela napas, lalu berkata
"tahankan ya buk, mungkin nanti hatinya di
bukakan Allah biar gak dukunkan kita lagi"
"iya pak"

waktu terus berlalu, tb tb toko mbak nina, salah satu toko manisan besar disini, bangkrut, bahkan hartanya tak bersisa untuk membayar hutang kalah judi suaminya.
sekarang hanya bersisa toko manisan ibuk dan mbak yu disekitar sini, toko mbak yu trs melaju pesat, menjadi lengkap, bahkan ia juga memperbaiki rumahnya + memperbesar rumahnya, kalau saya dengar cerita dulu mbak yu selain berjualan juga menganakkan duit.
banyak orang bercerita kalau mbak yu ganas kalau menagih hutang pada orang yang berhutang padanya, pernah saja ada yang berhutang 10juta beranak ranak sampai menjadi 100juta lebih hutangnya. banyak orang bilang sakit hati dengan mbak yu, tak sedikit yang blg kalau mbak yu manusia
yg tak berhati nurani. dulu ada satu orang yang berhutang dengannya, pak bayu, pak bayu berhutang 10jt, hutangnya berbunga sampailah diangka 50jt, pak bayu sudah membayar lunas hutangnya, tapi siapa sangka ketika pak bayu meninggal mbak yu masih menagih hutang pak bayu
katanya sih bunga hutangnya belum terbayar lunas. istri pak bayu tidak mau membayar sama sekali, karna pak bayu sudah membayar hutang serta bunganya waktu itu. semua berpikir masalahnya selesai, rupanya tidak, mbak yu merampas rumah milik pak sani (menantu pak bayu)
pak sani bisa dibilang bukan org berada, ia hanya punya rumah, pendapatannya dari hasil memulung. org org sampai tak habis pikir dengan laku mbak yu yg tak berhati nurani.
tahun tahun silih berganti. sudah 3thn warung ibuk sepi pembeli. akhirnya ibuk memilih untuk mengakhiri semuanya, ibuk akan menutup rapat rapat warungnya, ibuk tak mau berjualan lagi. kami sekeluarga juga mendukung pilihan ibuk, karna kami juga tidak tega melihat warung ibuk yg
sgt sepi, bahkan sehari saja sering tak ada pelanggan. setelah berbulan bulan menutup warungnya, ibuk membayar tukang untuk membongkar warungnya. kalo kata ibuk buat apa, gaada gunanya, lebih baik dihancurkan. jika ditanya org org "mengapa berhenti berjualan" Ibuk selalu menjawab
"disuruh anak anak berhenti, cape juga, sudah 20tahun berjualan, sudah saatnya pensiun"
aku tahu sebenernya ibuk belum terlalu ikhlas menutup tokonya, sebelum menutup toko ibuk sempat sedikit berselisih dgn bapak. ibuk ingin membuka warung makan setelah menutup toko manisan, tapi bapak menolak, bapak tidak setuju, bapak takut kalau nanti kejadian yg sama akan
terulang kembali.

TAMAT.

ambil baiknya, buang buruknya. mungkin disini kita bisa belajar bahwa kita tidak pernah tahu apa isi hati manusia yang sesungguhnya. musuh terbesar manusia ialah manusia sendiri. kami sekeluarga sudah memaafkan keluarga mbak yu & mbak yu.
karma itu ada, dan karma tahu jalannya sendiri.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Silvia Sn

Silvia Sn Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(