Kata ulang adalah bentuk kata yang diperoleh melalui proses reduplikasi atau pengulangan, baik secara keseluruhan, sebagian, maupun perubahan. Kata ulang dapat dibagi ke dalam beberapa jenis. Pembagian ini didasarkan pada bentuk kata dan makna yang terbentuk.
1. Kata Ulang Utuh
Kata ulang yang mengulang seluruh bentuk kata, baik kata dasar maupun kata berimbuhan. Disebut pula dwilingga.
Pengertian objek (O) dan pelengkap (Pel.) sering kali dicampuradukkan, padahal berbeda.
O adalah fungsi sintaktis yang kehadirannya ditentukan oleh predikat (P) yang berupa verba transitif pada kalimat aktif. Letaknya selalu langsung setelah P.
Bagaimana menentukan objek atau pelengkap?
Ikuti bagan berikut.
Predikat verba berimbuhan me-, memper- atau kombinasi afiks me-kan, me-i, memper-kan, dan memper-i bisa jadi diikuti objek.
Predikat verba berimbuhan ber-, di-, ter-, atau ke-an bisa jadi diikuti pelengkap.
Ya, bingung juga. Dikasih penjelasan yang akademis dan sistematis tidak diterima. Nanti kalau dijelaskan ala kadarnya dibilang sok tahu dan tidak berdasar. Saya sudah coba jelaskan secara runut, supaya paham dari A sampai Z. Namun, memang manusia itu makhluk yang kompleks.
Di sini, yang ditekankan adalah bahwa kata itu netral. Tafsir manusia membuatnya memihak. Anda merasa skor afrika itu buruk, itu adalah penafsiran (dan hak) Anda. Tidak ada yang larang. KBBI atau kamus, dalam hal ini, hanya mencatat ungkapan tersebut.
Bahwa ungkapa tersebut mau dimaknai sedemikian rupa, itu hak si penutur. Saya, misalnya, lebih senang menggunakan kata “perempuan” daripada “wanita”. Kedua kata itu tentu saja netral. Namun, karena saya paham etimologinya, saya menfasirkannya secara berbeda dan itu sah-sah saja.
Kebetulan saya mahasiswa Linguistik. Jadi, pertama-tama, kita harus memahami bahwa KBBI itu adalah kamus umum yang bersifat historis. Artinya, KBBI merekam semua fakta kebahasaan — ini yang perlu digarisbawahi — yang pernah/tengah hidup dalam masyarakat tutur bahasa Indonesia.
Selain sebagai kamus historis, KBBI juga merupakan kamus yang hidup (living dictionary). Setiap ada konsep atau makna baru muncul pada suatu masa, konsep dan makna itu dicatat dengan urutan kronologis.
Kata-kata dan makna tersebut disajikan berdasarkan urutan perkembangannya, mulai dari makna yang mula-mula muncul sampai dengan makna yang dipahami saat ini. Hal ini yang mungkin belum dipahami secara menyeluruh oleh masyarakat.
Kadang, suatu kata bisa memiliki lebih dari satu makna. Misalnya, tangan bisa bermakna ‘anggota badan dari siku sampai ke ujung jari atau dari pergelangan sampai ujung jari’ dan ‘kekuasaan; pengaruh; perintah’.
Meskipun kedua makna tersebut berbeda, arti yang pertama maupun kedua memiliki hubungan yang disebut polisemi.
Biasanya makna pertama yang tercantum di dalam kamus merupakan makna leksikal, denotatif, atau konseptual. Sementara itu, makna yang kedua adalah hasil dari pengembangan komponen makna.
2. Digunakan sebagai huruf pertama unsur nama orang, termasuk julukan (orang, kota, negara, dsb.)
▶️ Gelar Bapak Koperasi Indonesia diberikan kepada Mohammad Hatta.
▶️ Jepang dikenal sebagi Negeri Sakura.
▶️ Bogor terkenal dengan julukan Kota Hujan.
3. Digunakan pada nama orang seperti pada nama teori, hukum, dan rumus.
▶️ teori Darwin
▶️ hukum Archimedes
▶️ hukum Newton
▶️ rumus Phytagoras